[Eunhyuk’s Day] BABO, CHUKKAE

large

BABO, CHUKKAE

Hyerin POV’s

 

“kurang 2 hari Hyuk oppa berulang tahun. Aishh, aku bingung mau memberikan apa. Kau punya saran? Eotteokeh?” tanyaku kepada onnieku, Shim Hyuni.

“terserah, belikan saja benda yang dia suka pakai.” Katanya. Aish onnieku ini. Aku ingin sesuatu yang lebih. Lebih berkesan untuknya. Terdiam cukup lama, akhirnya aku memutuskan untuk menayakannya kepada Donghae oppa. Ku tekan nomornya,

Tuuutttt…tuuutttt

“yeoboseo, Hyerin? Ada apa kau menelpon si ikan nemo, HAH?” kata orang diseberang sana. Aish mati aku!, Runtukku dalam hati.

“ani oppa, aku tadi mencoba menghubungimu. Tapi tidak bisa dan aku ingin menayakannya kepada Donghae oppa.” Jawabku berbohong. Sedikit gugup.

“jinja? Sebentar aku cek ponselku dulu, sudah matikan telponmu! Aku tunggu kau di dorm sekarang, arasseo?” katanya cepat. Huaahh, aku sangat gugup jika bertemu dengannya. Meskipun kita sudah berpacaran selama hamper satu tahun, tapi teteap saja masih ada rasa gugup jika bertemu dengannya. Ku tutup ponsel flipku kesal.

“wae saeng?” Tanya onnieku.

“gwenchana onnie, Hyuk oppa menyuruhku menemuinya di dorm. Onnie aku tinggal tidak apa-apa kah?” tanyaku.

“gwenchana saeng, sebentar lagi aku akan pergi dengan Yoon oppa.” Jawabnya.

“baiklah onnie, aku berangkat dulu ya? Hati-hati dan have fun.” Kataku sambil melambaikan tangan.

 

Eunhyuk POV’s

Pagi ini rasanya tidak bersemangat. Bagaimana bisa menjelang hari kelahiranku hyung dan dongsaengku tidak ada yang memeperhatikanku. Apalagi gadisku, hyerin. Arrgghhh! Sial!

Ku langkahkan kakiku ke kamar Donghae. Ku lihat dia sedang memainkan laptop barunya. Ku rebahkan tubuhku disampingnya.

“yak! Kau mengangguku saja Hyukkie! Pergi sana.” Katanya ketus.

“yak! Bagaimana bisa kau bersikap ketus kepadaku Donghae-ah.” Rajukku memasang tampang sedih.

“mian Hyukkie, tapi aku sibuk.” Jawabnya tanpa menoleh kepadaku. Tiba-tiba ponsel Donghae bergetar. Ku raih ponselnya, Hyerin? Aku mengerutkan keningku. Mengapa dia menelpon Donghae? Segera ku angkat panggilan tersebut.

“yeoboseo, Hyerin? Ada apa kau menelpon si ikan nemo, HAH?” kataku keras. Donghae menoleh dan membiarkanku memakai ponselnya.

“ani oppa, aku tadi mencoba menghubungimu. Tapi tidak bisa dan aku ingin menayakannya kepada Donghae oppa.” Jawabnya, Sedikit gugup kurasa. Masih saja seperti yang dulu. Gadisku tidak pernah berubah sejak awal kita bertemu.

“jinja? Sebentar aku cek ponselku dulu, sudah matikan telponmu! Aku tunggu kau di dorm sekarang, arasseo?” kataku cepat. Aku ingin bertemu dengannya. Rinduku sudah tak tertahan. Ku berikan ponsel Donghae dan berlalu meninggalkannya. Donghae berteriak-teriak, entah apa yang dia katakan.

Hyerin POV’s

Aku sudah tepat berada di depan pintu apartemen Hyuk Oppa, tapi antara ragu dan tidak. Aku gugup.  Tiba-tiba pintu terbuka dengan cepat, aku jadi salah tingkah. Degup jantungku berdetak lebih cepat. Omo~ Tuhan tolong aku. Aku meremas-remas tanganku sendiri.

“yak kenapa kau mematung di depan pintu, Hyerin?” Tanya Teuki oppa.

“kau mau menjadi satpam buat kami?” goda heechul oppa.

“ah ani..ani oppa, aku tadi hendak menekan bell, tapi keburu kalian membukakan pintu.” Jawaku gugup. Aish, eotteokeh?

“aigoo, lucu sekali wajahmu Hyerin.” Kata teuki oppa memcubit kecil pipiku. Aku yakin pipiku sekrang apsti memerah seperti kepiting rebus. Aigoooo, aku butuh oksigen sekarang!

Tiba-tiba sebuah suara mengejutkan kami,

“yak HYUNG! SIAPA YANG MEMPERBOLEHKANMU MEMEGANG PIPI GADISKU, HAH??”

Suara yang sangat aku kenal, aku hanya tersenyum kecil. Sedangkan Teuki dan Heechul oppa hanya tertawa terbahak-bahak.

“yak! Kenapa kalian malah tertawa? Kalian pikir ini lucu??” katanya cepat sambil menarik tanganku kasar memasuki kamarnya.

“oppa jangan marah-marah terus, kenapa hal sepele saja di buat masalah? Tadi aku hanya bercanda sedikit dengan Teuki dan Heechul oppa.” Belaku.

“APA KAU BILANG SHIM HYERIN? SEDIKIT BERCANDA? Dengan mencubit-cubit pipimu HAH? Kau lupa? Kau ini yeojachinguku!! Dan hanya aku saja yang boleh melakukan itu padamu!” katanya penuh emosi. Aku hanya menahan tawaku. Dia ini kenapa? Kesambet setan mana. Tiba-tiba marah tidak jelas.

“oppa, kenapa kau ini hah? Kesambet setan mana? Atau kau dalam masa diapet?” tanyaku mengodanya. Aku pun tertawa. Tiba-tiba dia mencium bibirku kasar. Mendekap tubuhku dalam pelukannya.

“op..paa..” kataku disela ciumannya.

Eunhyuk POV’s

Aku mendengar suara ribut di luar. Aku melangkahkan kakiku menuju pintu depan. Kulihat hyungku mencubit mesra pipi gadisku. Amarahku memburu, rasa cemburu mengalahkan akal sehatku.

“yak HYUNG! SIAPA YANG MEMPERBOLEHKANMU MEMEGANG PIPI GADISKU, HAH??” Teriakku kencang. Kulihat mereka malah tertawa dan gadisku tersenyum. Apa-apain ini!

“yak! Kenapa kalian malah tertawa? Kalian pikir ini lucu??” kataku cepat dan aku menarik tangan Hyerin kasar memasuki kamarku.

Setibanya di kamar dia berbicara,

“oppa jangan marah-marah terus, kenapa hal sepele saja di buat masalah? Tadi aku hanya bercanda sedikit dengan Teuki dan Heechul oppa.” Belanya.

“APA KAU BILANG SHIM HYERIN? SEDIKIT BERCANDA? Dengan mencubit-cubit pipimu HAH? Kau lupa? Kau ini yeojachinguku!! Dan hanya aku saja yang boleh melakukan itu padamu!” kataku penuh emosi. Dia terlihat menahan tawanya. Aish, bagaimana aku bisa jatuh cinta pada gadis seperti dia! Aku mengacak-acak rambutku frustasi.

“oppa, kenapa kau ini hah? Kesambet setan mana? Atau kau dalam masa diapet?” tanyanya mengoda. Dia pun tertawa. Tanpa menjawab aku pun mencium bibirnya kasar. Mendekap tubuhnya dalam pelukanku. Mengapa dia tidak menegrti? Aku sangat takut kehilangannya, apalagi akhir-akhir ini dia terlihat lebih sering berbica dengan Hyung atau dongsaengku. Aku rasa ulang tahunku kali ini akan berkelabu.

“op..paa..” katanya disela ciuman kami.

Aku tidak menjawab, makin memperdalam ciuman kami meraih pinggangnya semakin dalam agar posisi wajah kami sejajar. Ciumanku kali ini penuh nafsu. dia hanya terdiam. Mencoba Mengikuti setiap gerakan bibirku. Merasakan setiap inci bibir kecilnya. Aku menelusupkan tanganku ke punggungnya. Dia tidak memberontak. Hal yang tidak biasa ia lakukan ketika aku mulai mengajaknya untuk memperdalam hubungan kami. Aku membopongnya, membawanya ke kasur. Posisi kami masih tetap seperti tadi. Aku mulai menciumi lehernya, entah setan apa yang sedang merasuki tubuhku dan mengalahkan akala sehatku.

“opa..paa.. hen..tikann..” katanya parau.

Aku tersadar. Aku mulai menyakitinya. Aku tidak boleh melakukannya. Aku harus tahu batas-batasannya. Setelah itu aku melepaskan ciuman kami. Aku merebahkan tubuhku disampingnya. Aku memeluknya. Mendekapnya lebih erat.

Hyerin POV’s

Dia makin memperdalam ciuman kami meraih pinggangku semakin dalam. Ciuman penuh nafsu. Aku hanya terdiam. Mengikuti setiap gerakan bibirnya. Kurasakan ada yang berbeda dari ciuman kami. Dia mulai menelusupkan tanagnnya ke punggungku. Entah kenapa mengapa aku tidak memberontak. Tapi jujur ada rasa takut di dalam pikiranku. Dia membopongku, membawa ciuman kita ke kasur. Masih daalm posisi tadi. Dia mulai menciumi leherku. Aku semakin takut.

““opa..paa.. hen..tikann..” kataku parau.

Dia menghentikan ciuman kami. Merebahkan tubuhnya disampingku lalu mendekap tubuhku erat. Dekapan yang berbeda dari sebelumnya. Aku membelai pipinya dan mengecup pelan.

“kenapa oppa? Ada apa denganmu?” tanyaku lembut.

“ani, gwenchana. Akhir-akhir ini aku hanya sedikit cemburu bila kau berada disamping namja lain selain aku.” Jawabnya jujur.

“aigoo, oppa tenang saja. Meskipun ragaku ada bersama namja lain, tapi hatiku tetap akan menjadi milikmu.” Jawabku menyakinkannya.

“ne, arasseo.” Katanya parau. Aku tahu mengkin dia merasakan perbedaan pada diriku. Tapi semua ini aku lakukan untuk memeberikan kejutan untukmu oppa, batinku. Aku pun tersenyum kecil dan mulai terlelap di pelukannya.

Author POV’s

Hari ini Hyerin sedang berada di pusat perbelanjaan di suatu mall. Dia bersama onnienya. Kali ini dia akan membelikan sesuatu untuk kekasihnya. Setelah meminta pendapat pada onnie dan para member Super Junior, dia memutuskan untuk memebeli saja. Karena dia tidak memiliki keahlian lebih. Dia merasa tidak ahli dalam membuat syal atau semacamnya. Jadi dia memutuskan untuk membelikan kekasihnya sebuat topi.

Hyerin POV’s

Ahh, kelar juga kerjaan hari ini. Aku segera menata buku-buku kuliahku. Semua tugas telah selesai. Saatnya mandi lalu makan. Perutku sudah demo dari tadi. Huh.

Seusai mandi, aku menuruni tangga rumahku. Melihat sekeliling. Sepi. Pada kemana semua orang di rumah ini, batinku. Aku menuju ruang makan. Terlihat ajumma sedang membereskan beberapa piring.

“memang semua sudah makan bi?” tanyaku.

“sudah nona, tinggal nona saja yang belum. Oia Tuan dan Nyonya sedang pergi ke Busan, mengunjungi haraboji. Sedangkan Nona Hyuni sedang berada di taman belakang rumah dengan Tuan Yoon.” Katanya menjelaskan.

“ah, ne ne ara bi.”jawabku. segera aku mengambil makanku.

Setelah usai, aku menikmati waktu luangku untuk menonton televisi. Saat itu aku teringat pada ajummah yang beberapa hari lalu menawarkan bantuan untuk membantuki belajar menjahit. Aku segera mematikan televisiku dan menuju ke kamar ajummah.

 

Author POV’s

Setelah menemui ajummah, Hyerin berniat memberikan sedikit hiasan pada topi yang akan diberikan pada kekasihnya itu. Memberikan tulisan EunRin. Semalaman dia belajar menjahit nama tersebut, banyak sekali kesalahan yang dia lakukan hingga tangannya penuh dengan tusukan jarum tapi dia tidak putus asa, dia ingin memberikan yang terbaik untuk kekasihnya itu. Hingga akhirnya dia tertidur di kamar ajummah. Saat pagi menjelang Hyerin baru tersadar dari tidurnya. Di genggamnya topi berwarna putih itu. Lalu beranjak pergi ke kamarnya dan membungkusnya.

 

Eunhyuk POV’s

Semalaman aku tidur hanya menunggu telpon atau sms dari Hyerin, tapi sampai pagi ini pun tidak ada telepon bahklan satu sms saja dari dia. Aku mendengus kesal. Ku lemparkan ponselku ke tembok ruang tamu. Semua mata tertuju padaku,

“YAK! Monyet apa yang kau lakukan hah? Kau mau menyaingi Donghae jika sedang marah hah?” Tanya Leeteuk hyung.

“ani hyung aku hanya kesal padanya, sampai sekarang dia tidak menelponku bahkan mengirim sms satu saja.” Ucapku menjelaskan.

“mungkin dia terlalu sibuk dengan tugasnya hyukkie, bersabarlah.” Tambah Yesung hyung.

“mana bisa begitu IKAN! Kau tidak pernah tahu rasanya dilupakan.” Belaku.

“sudah-sudah sekarang kau coba menghubunginya, tanya apa yang sedang dia lakukan hari ini.” Kata Teuki hyung.

Tiba-tiba bel berbunyi,

Aku dengan malas membukanya dan ternyata Manager hyung datang dan memberitahukan bahwa hari ini aka ada pemotretan majalah. Aku mendengarnya langsung mendesah pelan. Tidak ada liburkah buat hari kelahiranku? Tanyaku dalam hati. Meskipun hyung dan dongsaengku telah memebrikan kejutan tapi tetap saja aku menunggu dia megingat hari ulang tahunku, runtukku dalam hati.

Seusai pemotretan hari telah menunjukan sore hari, aku mengecek kembali ponselku. Nihil. Tidak ada satupun panggilan atau sms darinya. Aku segera melajukan mobilku ke dorm, aku hanya ingin tidur. Aku ingin hari ini cepat berlalu.

Hyerin POV’s

Ahh, kuliah hari ini sangat melelahkan. Kulihat jam tanganku. Pukul 15.00. aku mengirim sms kepada Donghae oppa,

To : nemo oppa

Oppa, bagaimana keadaanya hari ini? Kalian berada dimana?

Ku tekan tombol sent. Lama setelah itu, ponselku bergetar.

From : nemo oppa

Kau tahu? Dia terlihat uring-uringan dari tadi. Sekarang kami berada di kantor W.Korea, sedang melakukan pemotretat. 10 menit lagi selesai. Kau mau memberikan kejutan kapan?

Ku balas smsnya,

To : nemo oppa

Jinja? Aku ingin sekali melihatnya oppa. Baiklah, pukul 7 nanti aku pergi ke dro. Aku sudah mempersiapkan segalanya oppa.

Donghae oppa membalas,

From : nemo oppa

Baiklah Hyerin, sampai bertemu nanti.

Aku menuju halte bis, aku harus pulang cepat. Aku akan mempersiapkan malam ini.

Jam sudah menunjukan pukul 18.45, aku memasuki lift apartemen mereka. Ketika sampai di depan pintu, kulihat Donghae oppa menungguku tepat di depan pintu.

“kau datang laebih awal Hyerin.” Katanya.

“ne oppa aku sudah tidak tahan menahan rinduku pada monyetku itu, aku merasa sangat bersalah sekali.” Jelasku.

“hahah, apakah kau begitu mencntainya Hyerin?” tanyanya.

“ne oppa, aku sangat mencintainya.” Jawabku malu.

“hahah, aku tahu. Beruntung sekali monyet mendapatkanmu. Aku harap kau bisa menyanyanginya dan jangan pernah sia-siakan dia Hyerin.” Jelasnya.

“pasti oppa.” Jawabku mantap. Dia mengacak lembut rambutku.

Tiba-tiba ada suara gelas terjatuh,

Pyaaarrrrrr!!

Seketika itu juga aku menoloh, ku lihat Eunhuk oppa. Tatapan nanar. Aku segera mengejarnya,

“oppa tunggu dulu, aku bisa menjelaskan semua ini.” Kataku menarik lengan tangannya.

“tidak ada yang perlu dijelaskan Hyerin, lepaskan tanganmu.” Katanya dingin. Aku mulai meneteskan air mataku.

“dengar dulu oppa! Jebal! Jangan bersikap seperti itu padaku..” kataku sambil menangis terisak.

Dia hanya menatapku dingin,

“sikapku memang seperti ini, sedari dulu, saat aku belum mengenalmu aku pun memang dingin terhadap wanita. Ternyata semua wanita sama saja. Tidak ada yang berbeda. Sebaiknya kau pulang. Atau kau ingin berduaan dengan Donghae? Silakan. Aku ingin istirahat.” Katanya panjang lebar.

Aku hanya terpaku mendengar perkataanya, rasanya mata ini memanas.

“sebelum itu, aku ingin memberikan ini.” Kataku sambil menyodorkan sebuah kotak. Air mataku jatuh begitu deras. Aku melangkahkan kakiku dengan cepat meninggalkan apartemen mereka. Hatiku hancur. Setelah sekian lama kita ersama, ternyata aku tidak bisa menjadi yang terindah di hatinya. Dia sangat kejam! Aku bukan wanita yang suka berselingkuh seperti mantannya dahulu. Aku mengusap air mataku kasar. Tak memperdulikan teriak-teriakan Donghae dan Teuki oppa. Aku hanya ingin pulang. Aku ingin menenangkan diriku.

Eunhyuk POV’s

Ketika aku kembali dari dapur aku  melihat pandangan yang sangat memanaskan mataku. Kulihat Hyerin tertawa dengan Donghae, sedangkan tanagn Donghae mengacak lembut rambutnya, tanpa ada penolakan. Aku tidak sengaja menjatuhkan gelasku, membuat mereka menatapku cepat.

“oppa tunggu dulu, aku bisa menjelaskan semua ini.” Katanya menarik lengan tanganku.

“tidak ada yang perlu dijelaskan Hyerin, lepaskan tanganmu.” Kataku dingin. Ku lihat dia  mulai meneteskan air mata.

“dengar dulu oppa! Jebal! Jangan bersikap seperti itu padaku..” katanya sambil menangis terisak.

Aku hanya menatapnya dingin,

“sikapku memang seperti ini, sedari dulu, saat aku belum mengenalmu aku pun memang dingin terhadap wanita. Ternyata semua wanita sama saja. Tidak ada yang berbeda. Sebaiknya kau pulang. Atau kau ingin berduaan dengan Donghae? Silakan. Aku ingin istirahat.” Kataku.

Dia hanya mematung, mian jeongmal mianhe Hyerin.

“sebelum itu, aku ingin memberikan ini.” Katanya sambil menyodorkan sebuah kotak ke arahku. Air matanya jatuh begitu deras. Dia melangkahkan kaki dengan cepat meninggalkan apartemenku. Aku hanya memandangnya dingin. Lalu sebuah tonjokan keras melayang mengenai pipi kananku.

“APA YANG KAU KATAKAN LEE HYUKJAE!!” Donghae berteriak kepadaku. Aku hanya tersenyum miris.

“bukankah itu yang kau inginkan Lee Donghae??” tanyaku balik. Aku tahu, Donghae memang menyukai gadisku. Itu jauh sebelum aku mengenal Shim Hyerin.

“APA YANG KAU PIKIRKAN HAH?? Dia kemari ingin memberikanmu kejutan kecil.bahkan dia rela tangannya tertusuk beberapa kali dengan jarum demi memberikanmu ini.  Ini semua rencanaku dengannya. Tapi kau apa hah? Kau malah menghancurkan hatinya LEE HYUKJAE!!” katanya keras sambil menyodorkan kotak yang diberikan Hyerin padaku. Hyung dan dongsaengku mulai meredamkan amarah kami berdua. Aku mulai membuka kotak, sebuah topi dengan tulisan EunRin di sampingnya. Aku menahan tangisku.

“jika kau tidak bisa menjaganya, aku yang akan merebutnya darimu LEE HYUKJAE!” tambanya. Aku rasa air mukaku mengeras. Segera ku layangkan tinjuku tepat di perut Donghae.

“jika kau menginginkannya. LANGKAHI DULU MAYATKU LEE DONGHAE!!” seruakku keras. Segera aku mengambil kunci mobilku. Aku harus meminta maaf kepadanya. Aku telah berpikiran salah tentangnya.

Sepanjang perjalanan aku mengitarkan pandanganku kesegala jalanan. Hujan turun dengan deras. Aku mulai kesulitan mencarinya. Ku tekan momornya, berharap dia mau mengangkatnya. Tapi nihil. Ponselnya mati. Tepat di sebuah taman aku melihanya, duduk sendiri di tengah hujan deras. Aku segera memarkirkn mobilku. Tanpa berpikir panjang, aku berlari kearahnya. Langsung mnedekap erat tubuh kecilnya. Awalnya dia memeberontak, tapi karena tenagaku yang lebih besar di terdiam. Aku memeluknya erat.

“mian jeongmal mianhe chagi..” ucapku menahan tangisku.

Dia hanya terisak. Semakin keras terisak.

“aku khilaf, aku terlalu cemburu melihatmu dengan Donghae, mian chagiya. Maafkan keslahanku. Aku tidak benar-bear berkata seperti itu. Aku tidak ada niatan untuk membuatmu sakit hati.” Ucapku menjelaskannya. Kurasakan tubuhnya melemas. Terunduk jatuh. Sontak aku terkejut. Dia pingsan. Ku lihat biirnya yang sudah membiru. Aku segera membopongnya memasuki mobilku. Melajukan mobilku ke rumah sakit terdekat. Aku mengutuk diriku sendiri.

Sesampai di rumah sakit, Hyerin segera di periksa. Setelah itu dia di pindahkan ke ruang rawat. Aku menghubungi semua hyung da dongsaengku dan menghubungin Hyuni.pasti aku kena damprat dari mereka semua. Ku lihat dokter menghampiriku. Dia mengatakan bahwa Hyerin aik-aik saja. Hanya kelelahan dan butuh istirahat cukup. Setelah itu dokter meninggalkanku. Aku melangkahkan kakiku, seketika itu para hyung dan dongsaengku datang. Tak lama kemudian Hyuni datang. Aku masih membiarkan mereka menemui Hyerin. Aku meruntuk diriku sendiri. Aku merasa tidak berguna. Aku tidak pantas dengannya. Aku tidak baik untuknya. Ku rasakan seseorang mendekatiku. Aku menengadahkan kepalaku,

“jika kau tidak bisa menjaganya dan menyanyanginya, lepaskan dia. Biar aku saja yang menjaganya. Aku tidak main-main dengan ucapanku Lee Hyukjae.” Ucapnya penuh penekanan.

Amarahku kembali memburu. Aku harus mengontrol amarahku. Aku harus bisa.

“aku tidak akan melepaskannya begitu saja Lee Donghae!” ucapku geram.

“ku rasa kau tidak pantas dengannya, kau selalu menyakitinya. Apa ini yang disebut cinta, HAH?” ucapnya setengah berteriak.

Ku rasakan raut mukaku memanas.

“jika aku tidak pantas untuknya, maka tidak aka nada yang lebih pantas lagi selain aku.” Ucapku mencengkram lengan kemejanya. Aku tidak peduli akan semua pandangan yang menatap kearah kami. Dia tidak memberontak.

“beginikah caramu menjaganya? Cuih, laki-laki macam apa kau Lee Hyukjae.” Tambahnya. Tanpa berpikir lagi aku melayangkan tanganku tepat di perutnya.

Bruukkk! Dia tersungkur jatuh. Bersamaan itu Hyerin berteriak,

“HENTIKAN SEMUA INI OPPA!! AKU SUNGGUH SANGAT MEMBENCIMU!!” katanya keras. Dia membopong Donghae, aku mendekati mereka.

“jangan mendekat, aku benci oppa!!” katanya terisak. Sedangkan aku mematung, tidak kusangka gadisku terluka amat dalam oleh perkataanku. Semua hyung dan donsaengku menenangkan Hyerin dan Donghae. Teuki hyung menghampiriku,

“sudahlah, mungkin Hyerin hanya emosi sesaat Hyukki.” Katanya. Tapi aku merasakan hal yang berbeda. Sepertinya hari ulang tahunku akan berakhir dengan kesedihan lagi. Aku mulai meneteskan air mataku. Semakin deras. Sedangkan Hyerin hanya menatapku dingin. Tak peduli dengan sekelilingku aku menari tangan Hyerin untuk pergi ke suatu tempat.

Hyerin POV’s

Aku melangkahkan kakiku berat. Hujan turun begitu deras. Pandanganku mulai kabur. Aku terlalu lelah. Aku menduduki kursi di subuah taman. Ku rasa pening yang amat berat di kepalaku. Aku mulai mengigil kedinginan. Tak lama setelah itu, aku merasa seseorang tiba-tiba mendekap erat tubuhku. Dekapan yang selalu aku rindukan.

“mian jeongmal mianhe chagi..” ucapnya. Suara ini. Suara seseorang yang sangat aku sayangi tapi hanya dalam sekejap saja dia mampu membuatku patah hati. Aku tidak menjawanya. Aku semakin terisak dalam tangisku.

“aku khilaf, aku terlalu cemburu melihatmu dengan Donghae, mian chagiya. Maafkan keslahanku. Aku tidak benar-bear berkata seperti itu. Aku tidak ada niatan untuk membuatmu sakit hati.” Ucapnya menjelaskannya. Aku menangis terus dan terus. Hingga ku rasakan pandanganku kabur. Hilang. Hanya gelap yang aku lihat sekarang.

Aku mulai mengerjapkan pelan mataku. Pening sekali kepalaku. Saat aku membuka mataku, kulihta Hyuni onnie berada disampingku dan semua member suju, tapi dimana Hyukkie dan Donghae oppa?, pikirku.

“kau tidak apa-apa Rin-ah?” tanya onnieku.

“gwenchana onnie, kalian tidak usah kuatir. Ku lihat mereka semua menghela nafas panjang. Aku hanya tersenyum miris. Tiba-tiba terdengar suara orang berteriak. Aku mengenal suara itu, suara Donghae oppa. Aku mengerakkan tubuhku, menuruni temapt tidurku.

“kau lebih baik istirahat Hyerin, biar kami yang menyelesaikan itu semua.”  bujuk Leeteuk oppa.

“ani, oppa. Aku harus menyelesaikan masalahku sendiri.”  jawabku tegas. Mereka hanya terdiam. Saat aku mulai membuka pintu, terdengar suara,

Bruuukkk. Donghae oppa tersungkur tepat dihadapanku. Aku tercengang. Ku arahkan pandangan ke depan, dia melakukan lagi. Tidak puaskah dia menyakiti hatiku? Sekarang Donghae oppa.

“HENTIKAN SEMUA INI OPPA!! AKU SUNGGUH SANGAT MEMBENCIMU!!” kataku keras. Aku membantu Donghae oppa berdiri, kulihat dia mulai menghampiri kami.

“jangan mendekat, aku benci oppa!!” kataku terisak.sungguh seketika itu terasa sesak di dadaku. Mian oppa, kataku dalam hati.  Sedangkan aku melihatnya mematung. Kulihat Teuki oppa mulai mendekatinya dan yang lainnya membentu aku dan Donghae oppa. Kami semua tidak mau sampai ada netizen mengetahui keberadaan kami semua, terutama Super Junior. Aku hanya menatapnya dingin. Ku lihat dia mulai meneteskan air matanya. Ketika aku hendak membuka pintu kurasakan sebuah tangan mencengkram dan menarikku dengan paksa. Dia memawaku pergi meninggalkan rumah sakit. Mealjukan mobilnya ke sesuatu tempat. Dalam perjalanan dia pun hanya terdiam. Aku sedikit gugup. Aku mencoba meminta penjelasan, tapi dia hanya diam. Hingga mobilnya terhenti tepa di sebuah sungai, Sungai Han. Tempat pertama kali dia mengucapkan perasaanya padaku. Dia mengajakku untuk menduduki sebuah kursi panjang yang berasa di dekat sungai ini.

“untuk apa kita kemari?” tanyaku dingin, aku mencoba menahan tangisku.

“tidak ingatah akan tempat ini chagi?” tanyanya balik.

“berhenti memanggilku seperti itu Lee Hyukjae.” Kataku tanpa menatapnya. Kurasa tubuhnya menegang.

“mian jeongmal mianhe chagi, maafkanlah aku. Aku tidak bermaksut seperti itu. Aku mohon. Jebal. Janagn seperti ini.” Katanya mulai terisak.

“gwencahana oppa, aku sudah memaafkanmu. Tapi sebaiknya kita akhiri saja semua ini, Aku rasa aku sudah terlalu letih dengan hubungan kita.” Kataku dingin. Sekilas teringat kata-katanya saat berada di sorm, bahwa semua wanita sama saja. Suka berselingkuh. Aku meremas kasar tanganku. Keputusanku sudah bulat. Kurasa ini jalan terbaik bagi kami.

“andwae! Aku tidak ingin berpisah denganmu Hyerin! Aku sungguh menyesal. Aku berjanji aku tidak akn berbuat konyol seperti ini lagi. Aku hanya terlalu cemburu kepada Donghae.” Ucapnya terisak. Dia memelukku erat.

“aku akan mengatakan yang sebelumnya adalah sebuah rahasia terbesarku, aku tidak akan bisa hidup tanpa Shim Hyerin, dia adalah oksigenku. Dia adalah duniaku dan dia adalah tujuanku untuk bertahan hidup. jika tujuan hidupku itu tidak menginginkanku, untuk apa aku bertahan hidup.” tambahnya, melonggarkan pelukan kami. Bersamaan itu air mataku turun tanpa terkontrol. Aku memeluknya lebih erat. Dia pun membalasnya.

“mian oppa, aku terlalu emosi tadi. Aku hanya ingin kau tahu, meskipun ragaku bersama namja lain tapi hatiku akan tetap bersamamu, menjadi milikmu.” Ucapku terisak keras.

“aku hanya terlalu cemburu Hyerin, maafkan aku.”  Ucapnya. Setelah itu dia mulai mengecup pelan biirku. Lebih lembut dari sebelumnya. Ciuman yang sangat aku rindukan. Dia melumat pelan bibirku, aku pun membalanya. Merasakan setiap inci bibirnya, merasakan sederetan gigi dan gusinya(?) *author gila

“saranghae oppa.” Kataku.

“nado saranghae, chagi.” Balasnya

Aku beranjak dan berjalan ke arah tepi sungai,

“SARANGHAE LEE HYUKJAE, SAENGIL CHUKKAHAMIDA.” Teriakku kencang. Kulihat dia hanay tertawa manis, memperlihatkan gusinya. Tawa yang sangat aku rindukan dari seorang Lee Hyukjae. Dia menghampiriku, memelukku dari belakang dan menopangkan dagunya tepat di bahuku.

“nado saranghae Lee Hyerin, gomawo kau telah memebrikan kehidupan yang berarti buatku.” Balasnya lembut.

Eunhyuk POV’s 

Malam ini adalah malam terindah yang pernah kami miliki. Hari ini juga memberikan kami sebuah pelajaran yang amat sangat berharga untuk kehidupan kami kelak. Shim Hyerin, berhentilah menatap laki-laki selain aku. Kau adalah duniaku, juga tujuan hidupku. Kau seperti oksigen bagiku. Tidak ada satupun wanita yang aku inginkan selain kau. Hanya kau. Saranghae Shim Hyerin, meomchwoitdeon naui gaseume huhoe eomneun sarangeul…

THE END~

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: