[Donghae’s Day] Part Of Me

11578_donghae

Part Of Me

 

Author            : Lutfi Faizal (Moy Ji won) aka Amoy

Cast                : Super Junior DongHae dan LeeTeuk

Aku ( Readers )

Rate                : T

Genre             : Romance

Disclaimer      : Saya hanya meminjam nama tokohnya saja. buat readers yang baik, saya sangat mengharapkan komentar,saran,kritik,pujian,cacian,dan makian dari readers semua. Semoga ff ini menarik untuk reader semua.

Selamat menikmati ^_^

Suara gemuruh penonton membuatku semakin bersemangat, terdengar mereka semua meneriakkan nama bandku dari seluruh area show. Keringat tidak membuat mereka berhenti teriak dan bergoyang yang membuatku semakin bersemangat pula menyanyi dan menari – nari diatas panggung agar tidak mengecewakan para fansku. Namun disinilah aku melihat seorang pria yang terdiam mendengar alunan musik dengan distorsi yang keras. Namun terlihat di wajahnya kekaguman yang berbeda dari pandangan para fansku. Diwajahnya terlukiskan kesendirian, kesepian namun tersirat kebahagiaan tersendiri setiap mendengar lantunan – lantunan lagu yang kubawakan.

Aku bisa merasakan kelembutan dan kehangatan jiwanya menusuk dihatiku. Terasa seperti ada yang menekan ke dalam dadaku. Wajahnya yang lembut tidak mencerminkan seseorang yang bermain di tempat seperti ini. Matanya tidak pernah terlepas kemanapun aku bergerak. Tatapannya tajam namun terasa hangat dan menenangkan jiwaku. Rambutnya yang terurai rapi seleher terlihat semu blonde dan juga menggunakan kemeja biru bergaris yang ditutupi blazer berwarna hitam membuatnya terlihat sangat berbeda dengan penonton yang lainnya yang menggunakan kaos berwarna hitam dan celana jeans ketat.

Aku akan tampil di kota Seoul, angin musim dingin disini sangat menusuk hingga tulangku, terutama untuk malam ini. Aku sedang menyiapkan hal – hal yang diperlukan saat nanti tampil di atas tempat tidur kamar hotelku. Tak berapa lama terdengar suara ketukan dari arah pintu kamarku, akupun langsung meloncat dari tempat tidur dan menuju ke arah pintu. aku membuka pintu kamarku yang ternyata adalah Leeteuk. Dia merupakan anggota bandku dan juga sahabat dekatku dan aku selalu menceritakan apapun pada Leeteuk termasuk sosok pria yang selalu hadir di setiap band kita tampil.

“Bagaimana persiapannya?” Tanya Leeteuk sambil mengacak – acak kepalaku yang merupakan kebiasaanya jika bertemu denganku.

sedikit lagi ko…” Jawabku dengan nada yang sedikit manja.

“Ok kalo gitu…semua sudah menunggu di mobil..cepat sedikit yahhh.” Dengan nada tegas namun tetap lembut.

“Oke siap” Jawabku dengan sigap.

“Kita tunggu dimobil yah. “ Sahut Leeteuk sambil meninggalkan kamarku

Akupun bergegas mengambil barang – barang yang diperlukan dan langsung menuju ke tempat parkir hotel tempat anggota yang lain menungguku. Akhirnya kita berangkat ke tempat show di kota seoul. Jalanan sangat ramai, banyak orang ber lalu – lalang meskipun waktu sudah menunjukkan jam 10 malam. Tak terasa kita sudah sampai ke lokasi show karena aku terkagum melihat keindahan kota seoul di malam hari. Dari luar sudah terdengar gemuruh para penonton yang sedang memanggil – manggil nama band kita.

Semakin bersemangat kita langsung memasuki tempat persiapan dan tak lama berselang kita langsung naik keatas panggung dan meneriakkan lagu yang akan kita bawakan. Semua orang langsung bergoyang sambil menyanyikan lagu yang kita bawakan. Hingga tanpa terasa kita akan membawakan lagu terakhir yang berjudul “perih”. Lagu yang mengalun membuat semua orang terdiam sambil menyalakan “lighting stick” yang diangkat keatas oleh tangannya.

Saat aku bernyanyi aku melihat ke sekitar dan mataku terhenti pada pria yang selalu datang kemanapun aku show. Dia terdiam namun matanya terus memandang wajahku dengan tulus yang selalu menekan dadaku. Aku terus memandangi wajahnya sambil bernyanyi namun terlihat dia membuka mulutnya sambil menyanyikan lirik lagu yang sedang kunyanyikan yang bunyi liriknya “ Namun ada saat kita harus berpisah karena cinta tak harus memiliki ”. Setelah menyanyikan lirik tersebut dia langsung berbalik dan keluar meninggalkan tempat ini.

Sesaat setelah selesai akupun langsung meloncat turun dari arah panggung dan menuju pintu dimana dia keluar. Aku langsung membuka dan mencari – cari kemana pria itu pergi. Namun ternyata pria tersebut sudah tidak ada di sekitar. Aku kembali masuk dan menuju tempat berkumpulnya bandku. Ternyata disana ada Leeteuk yang langsung menanyakanku.

“Kemana kamu pergi, buru – buru amat..” Tangkas Leeteuk yang melihat aku langsung berlari seusai lagu terakhir kami.

“Pria itu datang lagi, Leeteuk…” Jawabku dengan nada yang manja.

“pria yang mana?” Tanya Leeteuk yang masih terlihat bingung apa yang sedang aku bicarakan.

“Itu lho…yang aku selalu ceritakan..pria berpenampilan rapi yang selalu ada kalau band kita show.” Jawabku dengan nada kesal saat Leeteuk tidak mengerti apa yang sedang kubicarakan.

“Ohhh…pria yang itu…iya kenapa dengan dia?dia dateng lagi untuk nonton penampilan kita?kamu ketemu dengan dia?” Secara spontan Leeteuk langsung meluncurkan beberapa pertanyaan.

“Iya dia datang lagi,,,tadi aku sempat mencarinya tapi sepertinya dia sudah pergi..” Jawabku dengan nada lemas.

“ Ya sudah mungkin dia akan dateng lagi besok..kan kita tampil 2 hari di seoul..” Sahut Leeteuk seraya menenangkanku.

“ Oh iya…aku sempat lupa kalau kita tampil 2 hari disini.” Dengan nada sedikit senang karena kemungkinan besok aku akan melihat lagi pria tersebut.

Aku bergumam dalam hatiku pokoknya besok jika aku melihat dia lagi, aku tidak akan membiarkan dia lolos. Karena aku sangat penasaran sekali dengan pria tersebut. Padahal kita tidak saling kenal dan baru beberapa kali melihat itupun tidak ngobrol sedikitpun. Tetapi kenapa dadaku selalu merasa sesak saat melihat dia, ketenangannya mencerminkan kelembutan hatinya membuatku tidak bisa tenang bila memikirkannya. Hingga tanpa sadar aku mengepalkan seluruh jariku dan mengangkat keatas dengan cepat sambil berkata.

“Apapun yang terjadi aku harus menemukannya besok!!!!”

Semua anggota band melihatku dengan aneh hingga membuatku malu dan langsung berlari ke arah mobil yang sudah terparkir didepan gedung.

“Huffffttt…apa yang sebenarnya terjadi padaku.” Pikirku

Aku belum pernah merasakan hal seperti ini selama hidupku. Terdengar dari jauh anggota bandku sedang berjalan ke arah mobil. Leeteuk berjalan lebih cepat daripada yang lainnya dan langsung mengacak – acak kepalaku seperti biasa dengan wajah yang seakan mengerti apa yang sedang kufikirkan.

“Sudah jangan terlalu di fikirkan mungkin besok dia akan datang lagi dan menonton show kita” Kata Leeteuk seraya menenangkan hatiku yang sedang kacau.

“Iya..” jawabku sambil menunduk lemas.

Akhirnya semua personil sudah masuk kedalam mobil dan kitapun kembali ke arah hotel tempat kita menginap. Sepanjang perjalanan aku melihat kota yang sudah terlihat sepi dan membiarkan angin mendinginkan wajahku. sesaat aku melihat teman – temanku sudah tertidur karena mungkin kecapean setelah beres show. Tak lama kemudian kita sampai di hotel tempat kita menginap. Aku langsung bergegas membawa barang – barangku dan kembali ke kamar hotel setelah berpamitan satu sama lain.

Sesampainya di kamar hotel aku langsung merebahkan diri ke tempat tidur dan tanpa sadar aku langsung terlelap karena tubuhku sudah terasa lemas setelah show tadi.

Aku terkaget mendengar suara ketukan yang berulang – ulang dari arah pintu kamarku. Dengan mata masih berat aku mencoba berjalan menuju pintu dan membukanya. Ternyata Leeteuk yang datang kekamarku. Dia langsung mengacak –acak rambutku dan menggoyang – goyangkan badanku karena mataku masih sedikit berat untuk dibuka. Aku langsung membuka mata karena Leeteuk pasti terus menjahiliku kalau aku tidak bangun. Aku melihat jam dikamarku ternyata baru menunjukkan jam 8 pagi. Leeteuk berjalan menuju jendela kamarku dan membuka lebar tirainya yang membuat matahari pagi kota Seoul seperti seluruhnya masuk menyinari kamarku.

Ayo kita cari makan pagi….” ajak Leeteuk padaku

“Iya sebentar….” sahutku sambil melihat pakaianku yang ternyata masih mengenakan pakaian yang kupakai show kemarin malam.

“Ayo cepat…aku sudah lapar nihhh…” Tangkas Leeteuk sambil membawa tubuhku ke kamar mandi agar aku cepat membasuh wajahku dan mengganti pakaianku.

Setelah selesai membasuh wajah kita langsung berjalan keluar untuk mencari makan pagi. Sesampainya di depan hotel tiba – tiba Leeteuk menghentikan langkahku sambil menghitung 1,2,3. Tiba- tiba Leeteuk berlari dengan cepat sambil meneriakkan bahwa yang kalah harus mentraktir makan. Akupun dengan sigap langsung berlari dengan cepat karena tidak mau tertinggal jauh apalagi harus mentraktir Leeteuk makan. Memang sejak dulu kita selalu melakukan ritual seperti ini dimanapun kita berada. Meskipun aku selalu menang, dia selalu mencari cara apapun agar bisa menang dariku. Aku menyusul dia berlari namun Leeteuk memegang pundakku karena tidak mau kalah lagi dariku. Aku dengan cepat melepaskan genggaman tangannya dan mencoba berlari lebih cepat darinya hingga akhirnya sampai ke tempat makan yang dituju. Aku melihat Leeteuk yang sudah terengah – engah mendekatiku sambil mengatakan bahwa kenapa aku bisa berlari begitu cepat. Akupun hanya tertawa mendengarkan leeteuk bicara karena yang terpenting aku tidak harus membayar makan di pagi hari ini.

“Kenapa sih kamu ga pernah nyerah mengajakku adu lari?” tanyaku yang masih bingung karena sejak dulu meskipun dia selalu kalah dan akhirnya mentraktirku makan atau apapun, dia tidak pernah berhenti mengajakku adu lari.

“hehehe…..” Leeteuk hanya tertawa mendengar pertanyaanku.

“kenapa malah tertawa…?” Tanyaku yang makin bingung dengan apa yang dia fikirkan.

“Oia nanti malam kamu mau bawain lagu apa?” tanya Leeteuk sambil mengubah topik pembicaraan.

“Pokonya aku mau bawain lagu perih..” Sahutku dengan sigap karena kemarin aku melihat pria itu hanya bernyanyi di lagu perih saja.

“Ok..ok… nanti kita obrolin aja bareng anggota yang lain setelah beres makan” jawab Leeteuk sambil memakan suapan terakhir makanannya.

Setelah selesai makan kamipun kembali ke hotel dan bertemu anggota lainnya untuk menyiapkan lagu yang akan dibawakan nanti malam. merekapun setuju untuk menyanyikan lagi lagu “perih” untuk show malam nanti. Kami berencana untuk berjalan – jalan melihat indahnya kota seoul siang ini. Siapa yang tidak mau berkeliling sambil melihat indahnya “Seoul National Capital Area” yang merupakan daerah kedua metropolitan terbesar di dunia dengan lebih dari 24,5 juta penduduk, yang meliputi kota metropolitan Incheon dan sebagian besar Provinsi Gyeonggi. Apalagi ini peralihan musim dingin ke musim semi, ibu kota Korea Selatan terlihat lebih cantik lagi.

Tak terasa matahari mulai turun dan terlihat indahnya merah matahari senja di seoul. Kami kembali ke hotel untuk bersiap – siap untuk show malam ini. Aku kembali ke kamar hotel dan mempersiapkan setiap hal agar konser malam ini berjalan lancar. Terdengar suara ketukan dari pintu kamarku yang ternyata Leeteuk yang mau mengecek kesiapanku untuk konser malam ini. Leeteuk mengatakan bahwa malam ini kita harus total dan memberikan yang terbaik untuk fans kita di seoul.

Setelah selesai mempersiapkan perlengakapan, akupun langsung menuju mobil yang ternyata semua orang sudah berada disana. Akupun menaiki mobil dan tak lama kemudian kita berangkat ke lokasi show. Dari kejauhan terlihat antrian tiket para fans yang ingin menonton konser kita. Akupun langsung mengeluarkan setengah tubuhku untuk melambai kepada mereka. Tanpa diduga mereka langsung meneriaki namaku dan mengejar mobil yang kita kendarai. Akupun terkaget karena kebodohanku, dan langsung menyuruh supir untuk menambah kecepatan mobilnya agar tidak terkejar oleh para fans.

Leeteuk hanya tertawa melihat kebodohan yang aku lakukan sambil mengacak – acak rambutku. Setelah terlihat aman kita kembali ke tempat show dan memasuki jalur belakang agar tidak terlihat oleh para fans. Kamipun melakukan persiapan sebentar dan langsung menuju panggung sambil mulai menyanyikan lagu demi lagu dari album band kita. Hingga akhirnya aku menyanyikan lagu terakhir yang berjudul “perih”. Hingga lagu selesai aku belum menemukan pria yang membuat dadaku berdegup kencang. Mataku masih terus mencari dimana pria itu berada. Aku tersentak saat melihat sosok pria yang aku cari hendak keluar dari tempat show. Tanpa fikir panjang aku langsung meloncat ke depan podium dan mengejar pria tersebut. Sesampainya di luar aku mencari – cari kemana pria itu pergi. Aku yang bertekat tidak mau kehilangan jejak lagi langsung berlari mengitari tempat show. Akupun berlari dan terus berlari tanpa ada tujuan pasti, diotakku hanya ada keyakinan bahwa aku harus menemukan pria tersebut. “BRAKKK….” ternyata aku menabrak seseorang di persimpangan jalan karena tak melihat ada orang yang melintas disana.

“Kalau jalan liat – liat donk..!” kataku dengan kesal kepada orang yang aku tabrak

“Maaf…” jawabnya dengan nada mendesah sambil membalikan badannya yang kalau kufikir – fikir dia terjatuh lebih parah dariku karena badannya tersungkur dengan posisi tengkurap.

Aku memegang tangannya untuk membantu dia berdiri yang ternyata tangannya lembut dan hangat membuatku kaget dan langsung melepasnya. Aku semakin terkaget saat melihat wajahnya yang ternyata dia adalah orang yang kucari – cari selama ini. Aku tak bisa berkata – kata karena dadaku berdegup sangat kencang seolah otakku tidak bisa memikirkan apa yang harus pertama aku katakan dan kakiku terasa lemas sampai mata kaki membuat tubuhku tiba – tiba melunglai hampir terjatuh kembali namun tangan yang hangat dengan sigap mengambil tubuhku yang hampir terjatuh dan memeluk erat tubuhku agar tidak terlepas. Aku memejamkan mata selama beberapa detik untuk merasakan wangi dan kehangatan tubuhnya. Dia yang juga terkaget tiba – tiba langsung melepas tubuhku dan membuatku terjatuh dengan sangat keras.

“Ouch…..” Teriaku kesakitan.

“Maaf…maaf…” kembali dia minta maaf sambil menundukkan kepalanya berulang – ulang

“Kamu kan vokalis band yang tadi bernyanyi di tempat konser itu kan?” dengan nada kaget yang ternyata baru menyadari identitasku.

“Iya…” Jawabku sambil mengangkat tubuhku dengan nafas yang terengah – engah karena kecapean setelah berlari – lari.

“Apa yang kamu lakukan disini?” Tanyanya spontan dan langsung membuatku bingung harus menjawab apa…

“Aku ber…… olah raga..” kataku sambil memukulkan tanganku kekepala karena kebohongan bodoh yang kukatakan.

Olah raga….?” dengan nada bingung dia mengulang kata – kataku lagi.

“Iya aku biasanya berlari setelah melakukan konser” Jawabku menutupi kebohongan bodohku.

“Ok…kalau begitu hati –hati jangan sampai nabrak orang lain lagi yaa…” Tangkasnya sambil tersenyum dan beranjak pergi.

“Tunggu….” sahutku

“Ada apa lagi?” tanyanya sambil memberikan senyuman hangat.

“Boleh aku menanyakan namamu dan nomor yang bisa kuhubungi?” Tanyaku tanpa basa – basi.

“Oh iya namaku Donghae, suatu saat bila memang waktu dan takdir kembali mempertemukan kita. Kita tidak memerlukan suatu hal seperti itu karena berarti kita ditakdirkan untuk bertemu kembali.. sampai nanti.” Jawabnya dengan tenang sambil memberikan senyuman yang hangat yang membuat detak jantung didadaku kembali normal.

“Donghae oppa….” kataku dengan nada manja namun perlahan.

“Hmm?” dengan nada penuh tanya karena tidak jelas mendengar apa yang kukatakan.

“Bolehkah aku memanggilmu Donghae oppa?” tanyaku dengan manja.

“Kau boleh memanggilku dengan panggilan apa saja, kalau begitu sampai nanti..” jawabnya dengan lembut.

“oh iya… sampai nanti..” jawabku menjawab salam perpisahan darinya.

Akupun melihat punggung dari Donghae oppa yang terlihat gagah. Aku tak mengerti apa yang sedang kufikirkan. Sambil mencoba menghapus khayalanku aku mencoba mengikuti jalur yang tadi kulewati untuk menuju ke tempat konser dan ternyata aku tersadar bahwa aku tidak bisa menemukan jalan kembali kesana. Aku memeriksa kantong celanaku yang ternyata handphoneku juga tertinggal di tempat konser. jalanan sudah sangat sepi karena waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. aku mencoba bertanya kepada setiap orang yang aku temui dijalan namun tidak ada seorangpun yang mengetahui tempat yang aku tanyakan.

Aku yang sudah tidak menyadari berapa lama aku berjalan mulai menitikan air mata. Aku terduduk lemas dipinggiran jalan karena sudah merasakan sakit dan pegal – pegal dikaki. aku menundukkan kepala sambil menangis hingga aku merasakan pundakku di sentuh oleh seseorang. Aku mencoba mengangkat kepalaku untuk melihat orang yang menyentuh pundakku. Akupun langsung terperanjak dan memeluk dengan erat karena ternyata Leeteuk yang menyentuhku. Akupun menangis makin keras dipelukan Leeteuk karena tak bisa mengatakan apa – apa.

“Leeteukkkk………..” teriakku sambil menghupus air mataku. Leeteuk menambah erat pelukannya sambil menenangkan diriku dan mengatakan

“Apa yang kau lakukan disini sendirian?, suatu saat nanti jangan pernah berlari tanpa ada aku dibelakangmu yahhh….” katanya dengan nada yang lembut.

“Iya…maafkan aku..” jawabku sambil melepaskan pelukanku. Diapun langsung mengangkat tubuhku dengan punggungnya dan berjalan kembali ke tempat konser dimana teman – teman yang lain menungguku.

Tak lama kemudian kami sampai di halaman parkir dimana teman – teman kami sudah menunggu didalam mobil. Aku merasakan dinginnya kota seoul untuk yang terakhir kali. Di perjalanan pulang aku melihat teman- temanku sudah tertidur pulas di bangku belakang, aku merasa seluruh tubuhku sangat lemas hingga akhirnya aku tertidur sambil bergumam selamat tinggal kota seoul Donghae oppa.

Tak terasa mobil sudah berhenti di depan rumahku yang tenyata sudah pagi. Aku beranjak turun dari mobil sambil membawa barang – barangku dari bangku belakang terlihat Leeteuk menuruni mobil dan mengacak – acak rambutku.

“Istirahat yah….” dengan lembut Leeteuk mengisyaratkan padaku untuk segera masuk.

“Iya..Terima kasih..sampai nanti” Jawabku dengan senyuman hingga tiba – tiba Leeteuk mencium dahiku meskipun aku tersentak kaget namun aku hanya terdiam bingung dengan apa yang Leeteuk lakukan.

“Sampai nanti…” jawab Leeteuk sambil masuk kembali kedalam mobil.

Akupun masuk kedalam rumah dimana orang tuaku sudah menungguku sambil menanyakan dengan cerewet tentang kota seoul dan bagaimana tentang konsernya. Setelah menjelaskan kepada mereka aku langsung masuk kedalam kamar dan merebahkan diri ke ranjang sambil memikirkan Donghae oppa. Namun ditengah lamunan tentang Donghae oppa terbersit Leeteuk yang selalu ada saat aku butuhkan dan saat Leeteuk mencium keningku tadi. Aku langsung menghapus lamunan tentang mereka sambil mengatakan pada diriku sendiri apa sih yang sedang aku lakukan.

Aku langsung bergegas mandi lalu terdengar suara ibuku memanggilku agar ke ruang tamu karena ada seseorang yang menungguku. Aku langsung mengenakan pakaianku dan bergegas ke ruang tamu namun aku melihat seorang pria dan wanita setengah baya yang terlihat dari pakaiannya bukan dari keluarga biasa. Terlihat dari cara minum yang sopan tidak seperti teman keluargaku yang jauh dari seperti ini aku fikir.

Aku langsung duduk dan memberi salam kepada mereka. Mereka mengatakan bahwa maksud kedatangannya kesini untuk mengajakku kembali ke seoul karena ada seseorang yang ingin bertemu denganku disana. aku sempat berfikir sejak kapan aku memiliki teman di seoul dan apa mereka akan menculikku dan menjualku, namun orang tuaku tiba – tiba sudah mengizinkanku untuk ikut bersama mereka ke seoul. Orang tuaku menyuruhku menyiapkan segala hal dan berangkat bersama mereka. Akupun beranjak ke kamar sambil mengintip ke arah ruang tamu karena terlihat pembicaraan mereka sangat serius dan terlihat ibu dari pasangan tersebut menitikan air mata.

Aku semakin bingung apa yang sebenarnya terjadi, apakah aku akan dijual pada mereka karena orang tuaku sudah kehabisan akal merawatku karena melihat pembicaraan mereka yang begitu serius dan menyedihkan. Setelah menyiapkan semua hal aku kembali keruang tamu yang ternyata mereka sudah siap – siap untuk berangkat. Aku melihat pada ibuku yang mengisyaratkan aku untuk ikut mereka dan tidak usah banyak bertanya. Akhirnya mau tidak mau aku ikut bersama mereka ke seoul. Sepanjang perjalanan kami berdiam tanpa sepatah katapun keluar dari mulut kami. Aku hanya pasrah saja karena wajah mereka tidak mencerminkan ada niat jahat padaku.

Sesampainya di seoul aku semakin bingung karena ternyata kita berhenti di Rumah Sakit Santa Maria Seoul yang merupakan rumah sakit terbesar di kota seoul. Ibu tersebut tiba – tiba memeluk tubuhku dan berbisik padaku agar aku bisa memberikan semangat padanya untuk hidup. Kami berjalan di tengah koridor rumah sakit hingga tiba di ruangan yang besar dengan wangi aroma therapy yang khas. Terdengar dari dalam suara sayup – sayup seorang pria yang sedang menyanyikan lirik lagu “perih” dari bandku.

Ribuan hari kita lewati

Tak pernah ada sesal di hati

Meski senang

Meski sedih

Namun kuyakin ada saat kita harus berpisah

karena cinta tak harus memiliki

Ibu tersebut menyuruhku untuk masuk. Aku melihat sosok pria yang sedang duduk di kursi roda sedang menatap keluar jendela hingga matahari menyinari seluruh tubuhnya. Semakin dekat aku melihat sosok yang aku kenal dan ternyata benar dia Donghae oppa. Aku langsung menepuk pundaknya dan dia sangat kaget saat melihatku.

“Apa yang sedang kau lakukan disini?” Tanya Donghae oppa sambil menundukkan wajahnya untuk menutupi wajahnya yang pucat.

“Aku dijemput oleh orang tuamu dan membawanya kesini.” Jawabku dengan cepat.

“Kenapa kau mau ikut,, padahal kan kau tidak kenal dengan mereka?” Tanyanya lagi dengan nada yang ketus.

“Aku juga tidak mengerti kenapa aku bisa ikut mereka kesini.” Jawabku dengan ketus juga.

“kalau kau tidak mau ikut mereka kenapa datang kemari?” tanyanya lagi dengan nada yang semakin mengesalkan.

“Ya sudah kalau kau tidak mau aku disini aku akan pergi.” Jawabku dengan kesal karena Donghae oppa tidak seperti terakhir kita bertemu yang penuh kehangatan dan senyuman yang menyejukkan hati.

Dengan perasaan kesal aku langsung membalikkan tubuhku dan beranjak pergi namun aku merasakan tangan yang hangat menyentuh pergelangan tanganku. Aku langsung terpaku sesaat tangannya turun dan menggenggam tanganku.

“Maafkan aku…” terdengar suara lirih dari Donghae oppa.

“kamu kenapa ada disini?kemarin kan masih sehat – sehat aja?” Tanyaku sambil membalikkan badanku menghadap Donghae oppa.

“Nggak apa – apa cuma sakit biasa bentar lagi juga dah gapapa kok.” Jawabnya penuh semangat dengan nada yang di buat – buat.

“Ohhh…bener kata kamu, nggak perlu pake apapun kalau memang takdir kita pasti bertemu lagi, ternyata yang menentukan takdir sekarang orang tua kamu.” Sahutku mengejek kata – kata dari Donghae oppa kemarin.

hihihi…itulah mamaku kalau dia menginginkan sesuatu pasti harus terpenuhi.” Jawab Donghae oppa sambil tertawa kecil.

Aku melihat wajah Donghae oppa yang pucat membuat aku khawatir dengan keadaan Donghae oppa. Tak berapa lama tiba – tiba Donghae oppa beranjak bangun dari kursi rodanya dan mengajakku pergi ke suatu tempat. Donghae oppa langsung menggenggam tanganku dan membawaku tanpa mengatakan apa – apa. Aku melihat orang tua Donghae oppa sedang menangis tersedu di depan kamar. Tak berapa lama kita berjalan tampak keindahan bunga matahari didepan kita. Mereka tersebar dimana – mana seraya tersenyum dan memberikan kenyamanan kepada setiap orang di sekitarnya. Donghae oppa mengangkat tangannya keatas dan menarik nafas dengan mantap dan lalu membuangnya. Dia menyuruhku untuk mengikutinya karena kita akan merasakan ketenangan dan kehangatan bunga matahari ini. Aku langsung mengikuti gerakan yang dilakukan oleh Donghae oppa dan ternyata benar aku merasakan kenyamanan dan tubuhku terasa ringan saat melakukan gerakan tersebut dikelilingi banyaknya bunga matahari disekitar kita.

“Kamu tau saat yang paling indah dalam hidupku?” Tanya Donghae oppa

“Tidak..memangnya apa?” tanyaku penasaran.

“Bisa berada di tempat yang sangat indah bersama seseorang yang memberikan kenyamanan dan ketenangan di sekitarnya.” Jawabnya dengan nada yang lembut.

memangnya siapa?” Tanyaku yang penasaran dengan penjelasan Donghae oppa

 

Namun Donghae oppa hanya tersenyum saat aku mengajukan pertanyaan tersebut. Kamipun duduk disana menghabiskan siang bersama. Aku tidak mau kehilangan moment ini. Karena ini merupakan moment yang paling bahagia dalam hidupku. Tanpa sadar waktu cepat berlalu dan Donghae oppa mengajakku kembali kerumah sakit. Sesampainya di rumah sakit dia langsung kembali kekamar dan membaringkan tubuhnya ke ranjang. Tak berapa lama dokter dan beberapa suster memasuki kamarnya dan memeriksanya. Akupun pergi keluar dan ke kantin rumah sakit untuk mencari makanan. Saat aku sedang makan terlihat dari kejauhan sosok Leeteuk yang menuju ke arahku. Aku terkaget dan bertanya – tanya apa yang sedang dilakukan Leeteuk disini. dia kemudian mendatangiku sambil tersenyum dan langsung mengacak – acak rambutku seperti biasa.

“Kenapa kau bisa ada disini?” Tanyaku pada Leeteuk yang merasa aneh apa yang dia dilakukan disini.

“Aku mengkhawatirkanmu…Kau tak apa – apa?” Sanggah Leeteuk sambil langsung memberi pertanyaan kepadaku.

“Tidak…aku tidak apa – apa..memangnya kenapa?” Tanyaku lagi padanya.

“Aku cuma khawatir…karena ibumu mengatakan bahwa kamu kembali ke seoul untuk menemui Donghae. Siapa dia?” Tanya Leeteuk yang penasaran denganku karena aku belum sempat menceritakan tentang Donghae oppa kepadanya.

Akupun akhirnya menceritakan dari awal pertemuanku dengan Donghae oppa kepadanya. Tiba – tiba dia sedikit aneh dan mengatakan padaku kenapa kau bisa begitu dekat dengan seseorang yang baru kau kenal. Akupun menjawabnya bahwa memang aku baru mengenalnya tapi aku tidak merasa aku baru mengenalnya. Aku sudah merasa dekat dengannya dari pertama kita bertemu. Namun tiba – tiba dia marah dan meninggalkanku. Aku semakin bingung kenapa dia tiba – tiba seperti itu. Aku kembali ke kamar Donghae oppa untuk mengecek apakah dokter sudah selesai memeriksanya. Saat aku kembali aku melihat Donghae oopa sedang tertidur di kamarnya. Tiba – tiba ada seseorang yang memanggilku yang ternyata ibu dari Donghae oppa. Dia mengatakan bahwa dia sudah menyiapkan hotel tempatku menginap malam ini. Aku berusaha menolaknya karena aku berencana untuk pulang malam ini ke rumah. Namun aku tidak bisa menolak permohonan dari ibu dari Donghae oppa. Akhirnya aku memutuskan untuk menginap di hotel yang sudah disiapkan oleh ibu dari Donghae oppa.

Akhirnya aku tiba di hotel yang sudah disiapkan dan aku terkaget karena ternyata ini bukan hotel biasa. Ini hotel Palace seoul yang merupakan salah satu hotel yang sangat besar di seoul. Saat tiba aku langsung disambut oleh seorang pria yang memakai seragam berwarna merah dan mengantarku ke arah kamar yang sudah dipesan.

“Waw kamar ini besar sekali…” ekspresiku terkaget saat melihat kamar hotel yang sangat besar. Aku tidak bisa mengira berapa harga menginap disini. Petugas hotel tersebut mengatakan pesan dari ibu dari Donghae oppa bahwa semoga nyaman menginap disini dan jangan lupa istirahat. Setelah menyampaikan pesan, petugas hotel tersebut meninggalkan kamarku. Tak lama kemudian datang petugas yang mengantar makanan kekamarku dan menyajikannya di meja kamarku. Dia mengatakan bahwa ini makanan yang dipesan untuk kamar ini.

Lagi – lagi makanan ini sangat banyak dan tampak lezat. Dengan cepat aku memakan makanan yang telah disediakan. Setelah kenyang akupun langsung ke ranjang dan tertidur lelap. Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 7 pagi. Aku bergegas mandi dan kembali kerumah sakit untuk bertemu dengan Donghae oppa dan ibunya untuk berterima kasih. Aku berencana untuk pulang hari ini karena aku tak mau membuat orang tuaku khawatir aku terlalu lama berada di seoul. Sesampainya di rumah sakit ternyata Donghae oppa tidak berada di kamarnya. Aku menanyakan kepada suster yang berada disana ternyata Donghae oppa sedang menjalankan operasi. Saking khawatirnya aku langsung menuju tempat yang ditunjukkan oleh suster tersebut. Ternyata disana terlihat orang tua Donghae oppa yang sedang menangis menunggu kabar dari dokter yang menangani Donghae oppa.

Tak berapa lama dokter yang menangani Donghae oppa keluar dan memberi kabar kepada orang tua Donghae oppa. Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan namun terlihat dari ekspresinya kondisi Donghae oppa sangat tidak baik. Akupun mendekati ibu dari Donghae oppa dan menanyakan kabarnya. Namun mereka tidak menceritakan kepadaku apa yang sebenarnya terjadi pada Donghae oppa. Dia hanya memintaku untuk menginap selama 3 hari disini dan menemani Donghae. Asalnya aku mau menolak tapi ternyata mereka sudah mengabarkan orang tuaku dan mereka mengizinkanku untuk menginap disini selama 3 hari. Dia juga memintaku untuk menemani Donghae selama aku disini. Aku menyanggupi hal yang diminta oleh ibu dari Donghae oppa semoga saja aku bisa membantu mempercepat kesembuhan dari Donghae oppa.

Donghae oppa sudah keluar dari ruang operasi dan kembali kekamarnya. Aku terus menemani Donghae oppa yang masih tertidur setelah operasi. Wajahnya kini semakin pucat aku mencoba menggenggam tangannya yang saat itu sangat dingin. Aku terus menggenggam tangannya agar bisa memberikan kehangatan untuk tubuhnya. Aku tidak mau Donghae oppa terus menerus seperti ini. Tanpa sadar aku tertidur saat menunggu Donghae oppa. Aku merasakan tangan dari Donghae oppa mulai bergerak, aku langsung bergegas memanggil suster untuk mengecek keadaan Donghae oppa. Akupun lega melihat Donghae oppa akhirnya terbangun. Setelah diizinkan oleh suster aku langsung mendekatinya dan memberikan senyuman hangat untuknya.

Aku pasti tampak sangat jelek yah sekarang..” Canda Donghae oppa kepadaku

Hihihi dasar kau masih bisa bercanda walaupun keadaan Donghae oppa lagi seperti ini.” Membalas candaan dari Donghae oppa.

Dia hanya tersenyum mendengar kata – kataku yang seperti itu. Tanpa sadar kita mengobrol hingga waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Dari arah pintu seorang dokter datang untuk memeriksa keadaan dari Donghae oppa. Setelah selesai memeriksa dokter tersebut menganjurkan Donghae oppa untuk beristirahat. Akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke hotel untuk beristirahat juga.

Keesokan harinya aku kembali ke rumah sakit dan melihat Donghae oppa sudah berpakaian rapih dan mengajakku bermain ke taman bermain di seoul. Tanpa menunggu jawaban dariku dia langsung mengambil tanganku dan membawaku ke arah mobil yang sudah menunggu di luar rumah sakit. hari itu kami bermain hingga puas setiap wahana permainan kita coba. itu pertama kalinya aku melihat wajah bahagia dari Donghae oppa. Aku pasti tidak mungkin bisa melupakan moment ini. Karena ini juga merupakan moment bahagia dalam hidupku.

Kami berjalan mengitari pancuran yang indah, airnya sedikit demi sedikit membasahi tubuh kita. Terkadang dia jahil dengan menyipratkan air ketubuhku dan akupun membalasnya. Setelah puas bermain kita kembali ke rumah sakit untuk mengganti baju yang sudah membasahi tubuh kita. Kebahagiaan Donghae oppa sedikit menutupi kesedihan dan sakit yang sedang dialaminya. Dia kembali merebahkan diri ke atas ranjang untuk beristirahat. Aku berencana kembali ke hotel untuk beristirahat juga namun Donghae oppa memintaku menemaninya mengobrol sebentar saja.

“Apakah kamu bahagia hari ini?” Tanya Donghae oppa.

“Iya, aku sangat bahagia sekali hari ini bisa menemani Donghae oppa seharian.” Jawabku

“kamu nggak nyesel menemani orang sakit sepertiku disini?” Tanyanya dengan berwajah sedih.

“ya enggak lah…Aku malah seneng bisa nemenin Donghae oppa disini.” jawabku sambil memberi semangat kepadanya.

“terima kasih sudah mau menemaniku…kamu pasti sudah capek istirahat sana..” canda Donghae oppa sambil tersenyum.

Akupun berencana kembali ke hotel untuk beristirahat namun aku bertemu dengan Leeteuk dengan memasang wajah masam yang tenyata daritadi menunggu di depan rumah sakit.

“Kenapa kamu terus berada disini?Ngapain sih kamu ngurusin orang yang baru kamu kenal?” Tanya dia yang tidak terima karena aku terus berada di seoul untuk menjaga Donghae oppa.

“Aku sepertinya 2 hari lagi berada disini untuk menemani Donghae, iya memang dia orang yang baru aku kenal tapi aku sudah merasa dekat dengan dia.” Jawabku dengan tegas pada Leeteuk.

“Kamu kan punya tanggung jawab, kamu punya band yang bergantung sama kamu, kamu juga punya keluarga yang menunggu kamu.” Tegas Leeteuk karena tidak terima dengan alasanku.

“Orang tuaku sudah mengizinkanku untuk berada disini, kalau band kan bisa menunggu selama 2 hari, itu kan ga terlalu lama, dan juga kenapa sih kamu jadi cerewet kaya gini ga kya biasanya…” Bantahku karena merasa aneh dengan perubahan sifat Leeteuk.

“Aku kaya gini karena aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu, aku ga mau kehilangan kamu dan kamu harus mengetahui itu. Semenjak dulu aku sebenarnya memendam perasaan ini dari kamu. Aku sebenarnya bisa berlari menyusul kamu tapi aku ingin menjadi seseorang yang selalu menjaga dibelakang kamu agar aku bisa tahu kalau suatu saat terjadi apa – apa pada kamu.” Teriak Leeteuk.

Aku terpaku tidak bisa mengucapkan sepatah katapun mendengar pengakuan Leeteuk. Diapun memegang kedua pundakku dengan erat dan mengatakan bahwa kamu harus tahu itu dan aku takkan pernah mencintai orang lain selain kamu sepanjang hidupku. Aku menundukkan kepalaku dan memejamkan mataku yang masih tidak percaya kenapa Leeteuk tiba – tiba seperti ini. Dia melepaskan genggamannya dan pergi meninggalkanku. Aku kembali ke hotel dan langsung membantingkan tubuhku ke ranjang dan tidak mau memikirkan apa yang baru saja terjadi.

Keesokan harinya aku masih teringat kejadian kemarin dimana Leeteuk tiba – tiba menyatakan perasaanya kepadaku. Setibanya di rumah sakit aku bertemu dengan ibunya Donghae oppa yang berwajah pucat pasi karena mungkin kelelahan dan banyak mengeluarkan air mata. sampai saat ini aku tidak mengetahui sebenarnya penyakit apa yang diderita Donghae oppa karena aku tidak berani menanyakannya. Aku hanya bisa menjaganya dan membuat Donghae oppa merasa bahagia. Ibu Donghae oppa langsung memelukku sambil mengatakan bahwa mereka minta maaf karena sangat merepotkanku namun aku menenangkannya sambil mengatakan Donghae oppa akan sehat kembali aku akan menjaganya selama dibutuhkan. Aku melihat dia tersenyum melihat ketulusanku sambil mengucapkan terima kasih dia membalikkan badannya dan menuju kearah suaminya yang menunggu di tempat duduk lobby rumah sakit. Aku melihat ayahnya mengisyaratkan padaku untuk ke kamar Donghae oppa karena dia sudah menungguku sejak tadi.

Aku melihat Donghae oppa sudah menggunakan setelan yang sangat rapih dengan kemeja garis biru dan blazer hitam serta kain katun berwarna hitam hendak mengajakku pergi lagi. Donghae oppa tidak mengadahkanku yang menyuruhnya untuk istirahat. Dia malah meraih tanganku dan membawaku ketempat favoritnya yaitu lautan bunga matahari. Seperti biasanya dia mengajakku melakukan ritual yang sama dengan mengangkat tangan ke atas dan menarik nafas lalu menurunkan tangannya sambil menghembuskan nafasnya. Setelah beberapa kali melakukan hal tersebut Donghae oppa membaringkan badannya di tempat yang teduh dibawah pohon besar yang berada disana. Akupun mengikutinya dengan duduk disampingnya.

“ Kita tidak bisa menyalahkan takdir atas apa yang terjadi hingga sekarang ini

Dia pasti memberikan kebahagiaan kepada setiap manusia di sela – sela kepedihannya

Dia memberikan kebahagiaan padaku yang tidak terkira sebelum aku harus kembali padaNya

Aku hanya bisa berterima kasih karena bisa bertemu denganmu dan memiliki keluarga yang baik seperti mereka

Aku tak pernah menyesal berada di dunia ini.” Dengan nada yang lembut Donghae oppa mengatakannya.

“ Kenapa tiba – tiba Donghae oppa berbicara seperti itu?” Tanyaku karena tiba – tiba Donghae oppa tidak seperti biasanya

“ Suatu saat kau pasti akan mengerti.” Jawab Donghae oppa singkat.

Saat aku mau menanyakannya lagi Donghae oppa sudah terlelap disampingku. Aku hanya terduduk menjaga Donghae oppa sambil melihat kehalusan dan kepolosan wajahnya ketika sedang tertidur. Aku juga bahagia bisa menemani Donghae oppa disini kataku dalam hati. Tanpa sadar matahari sudah mulai turun dan ketika melihat Donghae oppa terbangun aku langsung mengajaknya kembali ke rumah sakit. Saat kembali, orang tua Donghae oppa yang berada di depan kamar hanya tersenyum kepada kami. Sesaat kemudian aku diminta keluar karena dokter akan memeriksa keadaan Donghae oppa. Tak berapa saat dokter menyuruhku untuk kembali masuk kedalam karena Donghae oppa memintaku untuk masuk. Ternyata Donghae oppa membujukku agar aku tidak pulang dan menemaninya malam ini di rumah sakit. akupun menyanggupi permintaan Donghae oppa lagipula ini hari terakhirku berada disini karena mungkin besok aku harus pulang karena pasti orang tuaku khawatir pada keadaanku.

Tak terasa kitapun mengobrol sampai malam hingga waktunya suster memberi obat dan menganjurkan Donghae oppa untuk beristirahat. Setelah meminum obat dia berusaha untuk tertidur. Aku menunggunya terlelap dengan berada disampingnya. Aku melihat Donghae oppa sudah terlelap dan aku mulai merasakan kantuk langsung beranjak ke sofa yang ada di kamar untuk tertidur. Aku yang sedang terlelap tiba – tiba mendengar suara Donghae memanggil namaku, aku bergegas menghampirinya dan ternyata badan Donghae oppa penuh keringat serta wajahnya pucat pasi menggigil di depanku. Saat aku akan memanggil suster, tangan Donghae menggenggam tanganku mengisyaratkan bahwa aku tidak perlu memanggil siapapun. Aku berinisiatif mendekatinya dan memberikan pelukan agar Donghae oppa mendapatkan kehangatan tubuhku. Tak berapa lama getaran tubuh Donghae oppa melambat dan diapun kembali tertidur. Aku yang masih mengantuk kembali tertidur sambil memberikan pelukan terhadap Donghae oppa.

Aku merasa ada seseorang yang menyentuhku yang ternyata ibu Donghae yang membangunkanku sambil tersenyum dan menyuruhku kembali kehotel untuk istirahat. Aku membuka tirai kamar Donghae oppa yang ternyata sudah pagi dan jalanan sudah ramai terlihat dari arah kamar Donghae oppa. Aku memutuskan kembali ke hotel untuk melanjutkan istirahat. Aku mendengar suara ketukan dipintu kamarku yang ternyata petugas hotel yang mengantarkan kiriman paket untukku. Aku segera membuka paket tersebut yang ternyata berisi gaun yang sangat indah berwarna putih panjang dengan aksen tali yang semakin terlihat cantik serta anting – anting yang membuat terlihat semakin indah saat kukenakan tak ketinggalan sepatu strap affairs yang matching dengan gaunnya. Aku sendiri terkagum melihat didepan cermin yang ternyata aku tidak jelek – jelek amat fikirku. Aku melihat ada surat yang berada di dalam kotak tersebut yang ternyata ini kiriman dari orang tua Donghae oppa dan menyuruhku untuk mengenakan ini saat kembali ke rumah sakit. aku yang sudah terlanjur mengenakannya bergegas berangkat ke rumah sakit yang mengerti maksud orang tua Donghae oppa ingin memperlihatkan kecantikanku didepan Donghae oppa. Ternyata saat aku hendak menyebrang aku melihat Leeteuk dengan cepat mendekatiku dengan wajah yang memelas.

“ Apa yang kau lakukan..?” tanyanya padaku melihat aku memakai gaun tersebut.

“Aku hanya ingin tanpak cantik didepan Donghae oppa, lagipula hari ini terakhir bertemu dengannya karena aku akan pulang ke rumah setelah ini.” Jawabku dengan cepat pada Leeteuk.

“Kamu tahu, mereka hanya memanfaatkanmu tidak seperti aku yang benar – benar tulus mencintaimu” tangkas Leeteuk yang lagi – lagi membahas tentang itu.

“Iya aku mengerti, tapi aku tidak mencintaimu. Aku hanya menganggapmu sebagai sahabat yang paling dekat denganku tidak lebih..” jawabku pada Leeteuk.

“Tidak,, aku tahu kamu merasakan hal yang sama denganku hanya saja perasaan kamu tertutup oleh pria itu..” Bantah leeteuk

“Tidak seperti itu….Aku benar – benar tidak memiliki perasaan apapun terhadapmu..”Tegasku lagi

Tiba – tiba Leeteuk berjalan mundur sambil terus membicarakan bahwa dia sangat mencintaiku dan tidak berguna dia hidup bila aku tidak bisa mencintainya. Satu persatu mobil menghindari Leeteuk yang semakin berada di tengah jalan.

“Apa yang kau lakukan Leeteuk,,jangan seperti ini,,kamu hanya terbawa emosi” teriakku karena posisi Leeteuk yang semakin jauh dariku dan suara klakson mobil yang sangat nyaring.

“Kamu tidak mengerti perasaanku…Aku benar – benar tulus mencintaimu dan kamu harus sadari itu…” Tangkasnya lagi agar aku bisa benar – benar mengerti perasaannya.

“Baiklah…tapi kau jangan berbuat seperti ini..” Jawabku untuk menenangkan Leeteuk.

Sesaat sebelum mau mendekati Leeteuk terdengar suara klakson truk besar yang melewat di depanku. Aku sempat terkaget karena aku tidak menyadari truk itu akan melintas didepanku. Namun bersamaan dengan itu aku mendengar suara tabrakan yang sangat keras dan terdengar suara tubuh seseorang yang bertubrukan dengan atap mobil dan berguling hingga menyentuh tanah. Aku masih terhalang oleh truk yang membuatku tidak bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi hingga akhirnya aku melihat ternyata yang terbaring di jalanan bukan Leeteuk melainkan Donghae oppa. Ternyata sesaat sebelum mobil tersebut menabrak leeteuk, Donghae oppa menarik tubuh Leeteuk kebelakang dan membuat Donghae oppa yang tertabrak oleh mobil tersebut. Aku langsung menghampiri Donghae oppa yang sudah diangkat ke pinggir jalan dan tidak melihat Leeteuk dimanapun, kemungkinan dia sudah pergi dari sini.

Aku mengangkat kepala Donghae oppa dan menyandarkannya di pahaku. Donghae oppa masih membuka matanya meskipun darah sudah banyak keluar dari kepalanya dan di beberapa bagian tubuhnya.

“ Kau sangat cantik hari ini…” Kata Donghae oppa dengan lembut kepadaku.

“ Kau tidak akan apa – apa…” Sahutku berulang – ulang sambil menangis karena tidak tahu harus berbuat apa – apa.

“ Tidak apa – apa, kau tidak usah menangis, kau terlihat jelek saat menangis, jangan merusak keindahan wajahmu dengan tangisan.” Jawab Donghae oppa dengan suara yang semakin pelan.

“Tidak…tidak begini… aku memang berencana akan pulang hari ini tapi bukan seperti ini..harusnya tidak seperti ini..kau tidak akan kemana – mana..kau tidak akan meninggalkanku..” Tangkasku kepada Donghae oppa karena dia terus berbicara tidak jelas seperti itu.

“Kau tidak mengerti…” Tangkas Donghae oppa.

“Apa yang aku tidak mengerti?..” balasku dengan cepat..

“Kau tidak mengerti,, sebenarnya orang tuaku memintamu berada disini selama 3 hari karena memang waktuku hanya tinggal 3 hari lagi. Penyakitku sudah tidak bisa disembuhkan dan paling lama hidupku hanya tinggal 3 hari lagi, dan aku sangat beruntung kamu bisa menemaniku selama ini karena membuatku mendapatkan waktu yang paling lama untuk hidup.” Jawabnya semakin lirih karena kesadarannya sudah mulai hilang.

“ Apa yang kau bicarakan…kau berbicara melantur kan?” Tanyaku sambil terus menangis hingga meneteskan air mataku ke wajahnya.

“Tidak.. aku berbicara jujur padamu…sebagai permintaan terakhir aku hanya ingin mendengarkan kau menyanyikan lagu “perih” khusus untukku…” Katanya sambil memberikan senyuman terakhirnya.

Akupun menyanyikan lagu perih hingga bait

Ribuan hari kita lewati

Tak pernah ada sesal di hati

Meski senang

Meski sedih

Namun kuyakin ada saat kita harus berpisah

karena cinta tak harus memiliki

Akhirnya dia memejamkan matanya dan kurasakan detak jantungnya berhenti. Diapun pergi tepat dipangkuanku. Aku mendengar suara ambulans mendekatiku dan kulihat banyak orang melihat di sekelilingku. Aku hanya bisa menangis dan tak bisa berbuat apa – apa.

 

Takdir tak pernah membuat orang menderita

Selalu ada kebahagiaan di sela – sela kepedihan

Cinta tidak perlu dikatakan

Tapi harus dirasakan

Cinta tidak bisa memilih

Karena setiap manusia sudah memiliki belahan hidupnya

Dan Donghae oppa you’re part of me.

 

-THE END-

Thankss for reading~

Merci de votre attention

 

 

.

Admin’s Note: Dengan berakhirnya post-an ini, maka event eunhae telah berakhir! Ini adalah post-an terakhir dari [Donghae’s Day] maupun [Eunhyuk’s Day]. Setelah ini akan ada event writing contest untuk [Siwon’s Day]. Terimakasih banyak untuk semua yang telah berpartisipasi di event ini🙂 -IJaggys

1 Comment (+add yours?)

  1. Meidevi
    Nov 08, 2015 @ 20:55:51

    Huaaa.. ff nya keren, ngena bgt. 😭

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: