[Donghae’s Day] Puppy Love

600417188

“Kaingg.. Kaingg..”

Ki Ra mengarahkan telinga nya ke arah sumber suara. Telinganya terganggu oleh sebuah suara memilukan saat dalam perjalanan ke rumah bersama temannya, Park Sunmi dan adiknya, Park Yeon Rin.

“Eh? Kalian dengar suara tadi gak?”

“Unnie? Suara apa?” sahut Yeon Rin, adik tingkatnya.

“Kaingg.. Kaingg..”

                “Tuh. Dengar tidak? Kurasa suara itu berasal dari sini.” Shin Ki Ra mendekati tumpukan kardus di tempat pembuangan sampah.

“Ki Raaaaaa, jangan gila. Itu sampah, kotor tauuuu! Eww!” Sunmi bergidik ngeri membayangkan rombongan lalat yang siap mengerubungi mereka kapan saja, terlebih lalat-lalat itu baru saja menghinggapi tumpukan sampah yang membusuk.

Dengan hati-hati, Ki Ra mencari datangnya suara tersebut dan membuka salah satu kardus. Dan tiba-tibaaa, hap!

“Gyaaaaaaaaaaaaa! Apa ini???” Sesuatu -atau mungkin seekor makhluk- melompat ke wajahnya sambil mengonggong lemah. Sepasang adik kakak yang tadi merutuki perbuatan nekat Ki Ra yang mendekati sampah sekarang malah berteriak kegirangan.

“Hoaaaa. Neomu neomu kyeopta. Unnie, anjing itu lucu sekaliiiiiiiiiii.” Yeon Rin lompat-lompat heboh sambil tepuk tangan di tempat.

Mata seorang Ki Ra berbinar. Di depannya berdiri seekor anjing jenis Yorkshire Terrier yang rambut kepalanya dikuncir ke atas dan dijepit pita. Ekornya bergoyang-goyang menandakan kebahagiaan yang tak terkira. Anjing ini sama sekali tidak memberontak dan melarikan diri malah menunggu respon seorang Ki Ra, minta digendong.

“Hup. Aigoooo, kau lucu sekali sih. Kenapa ada disini? Kau dibuang yaa? Hoaa, kasian sekali.”

“Ki Ra, ini ambil roti sisa makan siangku tadi. Mungkin ia kelaparan.” Sunmi menyodorkan sepotong roti dari dalam kotak makan siangnya. “Gomawo.” Ki Ra tersenyum simpul dan memberikan roti tersebut pada anjing yang melingkar di pergelangan kakinya saat ini.

“Aduuuuh, aku sih mau-mau aja pelihara anjing ini. Tapi kaaann ..” Sunmi menghentikan kalimatnya. “Iya unn, kami berdua kan tinggal di apartemen.”, sekarang giliran Yeon Rin yang angkat bicara.

“Iya, aku tau kalo pengelola apartemen gaakan ngebolehin penghuninya melihara anjing. Tapi aku juga tinggal di perumahan dengan aturan yang sama. Hoaaa, ottohke?” Ki Ra menghentikan kalimatnya dengan bibir yang ditekuk dalam.

“Shin Ki Ra, sekali lagi aku minta maaf. Aku dan Yeon Rin harus segera kembali ke rumah. Jam empat nanti aku harus mengikuti kursus biola, Yeon Rin juga harus kursus gitar. Mianhaee Ki Raaaa, kumohon jangan marah.” Ki Ra tersenyum simpul, dan mengangguk. Sejurus kemudian Sunmi dan Yeon Rin sudah berada jauh dari jangkauan pandangan Ki Ra.

“Baiklah anjing manis, nikmatilah makananmu, kemudian carilah majikan yang dapat menjagamu, mianhae aku tidak bisa.”, bisik Ki Ra, ia memperhatikan seekor anjing kecil di depannya yang sedang menjilati rotinya. “Aku pergi.”, ucap Ki Ra lirih.

“Aigoo. Aku jadi membawamu pulang kan. Aish jinjja, kau terlalu lucu untuk dibuang, tau?” Shin Ki Ra ngomel-ngomel sendiri saat dalam perjalanannya pulang ke rumahnya. Di dalam gendongannya, seekor anjing kecil yang tadi tak sengaja Ia temukan.

“Naneun babo-gateun. Orang tuaku pasti akan marah, tau? Tapi aku tidak tega membiarkanmu sendirian disana. Tempat sampah itu tidak seharusnya jadi rumah tinggalmu.” Shin Ki Ra terus saja mengomel seakan anjing kecil itu mengerti apa yang baru saja Ia bicarakan.

TENGTOONGTEEENG~

Pukul empat sore. Shin Ki Ra yang beridri tidak jauh dari sekolah tentu saja dapat mendengar lonceng yang berbunyi, menandakan ekskul atau kegiatan sore hari telah usai. Tiba-tiba Shin Ki Ra mendapat ide yang -menurutnya- cemerlang. “Ahaa! Aku akan memeliharamu di halaman belakang sekolah, geutji?” Shin Ki Ra mengusap puncak kepala anjing kecil itu.

“Baiklah. Itu ide yang cemerlang dan yang paling penting aku harus mencari bahan untuk membangun rumahmu.” Ki Ra tampak berpikir sejenak dengan jari telunjuk di pojok kanan dagunya. “Hei, ayo ikut aku ke gudang sekolah. Aku yakin disana aku akan menemukan banyak kardus yang akan membuatmu hangat di malam hari. Khajja!” Shin Ki Ra menurunkan anjing itu dari gendongannya, dan masuk ke area sekolah, sementara anjing kecilnya mengikuti dari belakang sambil mengibas-ngibaskan ekornya. Ki Ra benar-benar memutuskan untuk menuju ke gudang sekolah, mencari beberapa lembar kardus yang masih dalam kondisi baik.

“Astaga! Ekskul sepak bola belum usai. Aish, ottohke?” Shin Ki Ra sesaat menjadi panik saat melihat kapten team sepak bola sekolah, Lee Donghae sunbae, sedang berjalan sambil berkacak pinggang di depan hall olahraga. “Aigoo, aku harus bisa melewati hall ini dengan selamat. SHIN KI RA HWAITIIIIING!!”, Shin Ki Ra memotivasi dirinya sendiri.

Saat ini Shin Ki Ra sedang dalam perjuangannya melewati hall olahraga. Ia berjalan dengan berjongkok, berharap Lee Donghae sunbae atau siapapun juga sama sekali tidak melihatnya masih berada di area sekolah, apalagi tujuannya saat ini adalah halaman belakang sekolah. Seorang anak perempuan, saat sore hari, masih berada di sekolah, dengan tujuan halaman belakang sekolah pula, ada apa? Tentu saja orang-orang akan merasa curiga.

“Hup! Aku selamat! Yeaaaayyy!”, seru Ki Ra saat berhasil melewati hall olahraga dengan -menurutnya- tanpa diketahui siapapun. Padahal, di dalam hall olahraga .. “Cih! Anak itu mau apa?”, desis sang kapten team sepak bola dengan frekuensi infrasonik.

Senyum Ki Ra mengembang saat melihat anjing yang baru saja Ia temukan itu berlari kecil, menikmati halaman belakang sekolah yang memang cukup luas. Anjing itu melompat dan berlari mengejar kupu-kupu, kemudian kembali lagi dan bermain dengan botol plastik yang terjatuh di rumput, dan kemudian bergulingan di atas rumput yang hijau.

“Hei. Bodohnya aku tidak memberinya nama daritadi. Hm, nama apa yang cocok untuknya ya? Huaaa, bagaimana dengan Joko? Eeeeeh jangan, itu nama supir sekolah. Hm, Shane? Jangaaaan, nanti dia bisa bernyanyi Swear It Again di hadapan semua orang. Oke, heemm .. namamu adalah Bruno mulai dari sekarang, arraseo?” Anjing yang sudah diberi nama ‘Bruno’ itu tentu saja tidak mengerti dan tidak berhenti mengibaskan ekornya sedari tadi.

Blak! Shin Ki Ra menjatuhkan beberapa lembar kardus yang Ia temukan di dalam gudang yang tidak terkunci di samping hall olahraga. Tanpa ragu-ragu Ia duduk di tanah dan mulai menyusun kardus tersebut dengan rapi.

“Hey Bruno. Untunglah tadi Lee Dong Hae sunbae tidak memergokiku. Kau tau, selain kapten team sepak bola sekolahku, Ia juga merupakan ketua OSIS. IQ nya yang di atas rata-rata membuat dia diperlakukan istimewa. Kalau dia tau aku berniat memeliharamu disini, maka bisa ..”

“Bisa apa, haa?” Suara berat seorang laki-laki mengejutkan Ki Ra. Begitu Ia menolekan kepalanya ke belakang ..

“Ddddoong .. Donghae sunbae .. Jwaesonghamnida, aku tidaaak ber ..”

“YA! KAU ITU MAU APA? MEMELIHARA ANJING DI SEKOLAH? YANG BENAR SAJA!!”

“Ta – taa pii .. tapi aanjiing ..”

“SUDAHLAH! DENGARKAN KATAKU! ANJING ITU MAKHLUK HIDUP! JANGAN KAU PERMAINKAN MEREKA SEPERTI BONEKAAA! KAU ANAK KECIL, PASTI AKAN CEPAT BOSAN! HARI INI KAU MENYAYANGI DIAA, TAPI BESOK KAU PASTI TIDAK AKAN MEMERDULIKANNYA!!”

Mata Shin Ki Ra kini berlinang air mata, dibentak oleh seorang kakak kelas merupakan hal yang belum pernah terjadi di catatan riwayat hidupnya. Sejujurnya Ia  tak terima dibentak seperti ini, karena niatnya itu baik, ingin memelihara Bruno, bukan menelantarkannya di tempat sampah.

“KAAAUU, JANGAN MEMBANTAH! LEEBI –“

“SUNBAE! DENGARKAN AKU DULU!” Shin Ki Ra membentak Donghae dengan lelehan gletser yang tadi bersarang di pelupuk matanya. “Aku tidak berniat mencelakainya. Aku hanya ingin memeliharanya!!”

“Kalau begitu peliharalah di rumah, jangan di tempat umum!” Suara Donghae memelan melihat aliran air yang berubah deras dari sepasang mata milik hoobae di depannya ini.

“Aku tinggal di perumahan dengan aturan yang ketat. Residents dilarang memelihara hewan!”

“Kembalikanlah Ia ke ..”

“Ia kutemukan dibuang di tempat sampah. Kau mau bilang apa, sunbae? Aku? Mengembalikannya? Ke tempat sampah? Tidak akan pernah!” Shin Ki Ra kini sedang berjuang mempertahankan nyawa Bruno.

“…” Donghae tidak bisa berkata apapun mendengar kalimat Ki Ra barusan. “Yaa! Sesukamu lah!” Kemudia Ia segera berlalu, seakan tidak memerdulikan Shin Ki Ra yang sedang menangis tersedu-sedu di hadapannya.

“Tolong jangan beri tahu siapapun tentang hal ini. Aku tak ingin ada yang mencelakai Bruno.” Shin Ki Ra sedikit berteriak ke arah punggung Donghae yang terlihat menjauh. Kemudian Ia mengambil selembar tissue di tasnya dan mengelap air matanya. “Dasar sunbae kejam! Ia membuatku menangis sore ini. Tanpa kata maaf pula! Aish, jinjja shireo!!”

Ki Ra menatap Bruno yang berdiri di samping kakinya. “Ya! Bruno, jangan ditiru ya. Dia itu sunbae jahat. Pokoknya kau harus tetap tinggal disini, arraseo? Nanti malam jangan kemana-mana. Tetaplah berada dalam kandang yang baru saja akan kubuat. Oke?” Bruno seakan-akan mengerti dan mengangguk. “Good boy!”, Shin Ki Ra kemudian tersenyum tipis.

Cekleek.

“Eomma, aku pulaaaang.”, ujar Ki Ra lemas.

“Aigooo, kau kemana saja, dear? Jam segini baru pulang?”, tanya ibu nya.

“Tadi ada urusan, ma. Aku mengerjakan tugas bersama Sunmi. Jwaesonghamnida tidak memberi tahumu lebih dulu.” Shin Ki Ra membungkuk dalam di depan ibunya.

“Ne. Kau lebih baik naik ke atas, kau terlihat lelah.” Shin Ki Ra mengangguk dan langsung menuju tangga ruang keluarga menuju kamar tidurnya di lantai dua.

Dua jam pun berlalu, sekarang pukul delapan malam. Ternyata Ki Ra tertidur sebentar. Ia sadar belum sikat gigi, dan Ia pun segera turun ke bawah untuk menyikat gigi nya sebentar sebelum melanjutkan tidurnya lagi. Ya, Ki Ra terlalu lelah saat membuatkan kandang untuk Bruno tadi sore. Tentu saja, seorang Ki Ra yang merupakan anak semata wayang belum pernah kerja berat. Walaupun hanya membuat kandang dari kardus, tapi kan tetap saja itu menyusahkan. Ia harus memastikan bahwa Bruno benar-benar aman di dalamnya.

Shin Ki Ra melangkah gontai ke arah wastafel dan meraih sikat dan pasta gigi favoritnya. Ia menampung air keran dalam sebuah gelas kaca dan meletakkannya di rak wastafel. Ia menyikat giginya sebentar, kemudian berkumur. Dan; SELESAI! Ia meraih handuk kecil yang digantung di samping wastafel dan mengelap mulutnya sambil melangkah ke ruang tengah. Dilihatnya ayahnya sedang menonton headline news tentang Kota Seoul malam ini.

“Baiklah, pemirsa di rumah. Kami laporkan bahwa salju pertama akan turun malam ini di kawasan Seoul. Dimohon untuk berjaga-jaga dan tetap waspada. Sampai jumpa.” Kira-kira begitulah ucapan reporter dari siaran berita yang ayahnya saksikan.

“Oh, jadi salju pertama turun malam ini.”, batin Ki Ra.

“ASTAGAAAA! BRUNO! OTTOHKE? SALJU PERTAMA TURUN MALAM INI? DIA PASTI KEDINGINAN! AKU TAK MAU TERJADI APA-APA DENGAN BRUNO. GYAAAAA, OTTOHKE?” Hati Ki Ra menjerit-jerit, bimbang. Jika dia tak ke halaman sekolah sekarang juga, maka sesuatu yang buruk akan terjadi pada Bruno, dan itu artinya ia harus ke halaman belakang sekolah sekarang, tanpa pembantahan. Tapi .. kedua orangtua nya.. daridulu memang tak bisa diajak kompromi.

“Aku harus nekat. Bruno dalam bahaya!”, tekad Ki Ra. Ia ke gudang belakang dan mencari beberapa lembar kain perca untuk menghangatkan Bruno. Ia membuka pintu kulkas dan mengamil beberapa kaleng susu dan makanan siap saji untuk Bruno. Ia masukkan semuanya dalam sebuah tas. Kemudian Ia naik ke lantai dua dan mengambil mantel dan senter sembarangan.

“Eomma, aku pergi!” Shin Ki Ra pamit -atau berteriak, lebih tepatnya- pada kedua orang tuanya yang berada di ruang keluarga.

“Aigooo, Shin Ki Ra! Kau mau kemana? Malam ini salju pertama, kau akan menggigil kedinginan.” Ibunya berteriak heboh. Ayahnya juga tak mau kalah. “Sayaaaaang, biar appa antar kalau kau ada perlu.” Tapi NIHIL! Shin Ki Ra sudah berada jauh dari perumahan itu.

Ia berlari, berusaha sekuat tenaga untuk tiba di sekolah dengan tepat waktu, sebelum salju turun lebih banyak lagi. Ia abaikan semua rasa dingin yang menghujam tulangnya, tak peduli. “Entahlah sejak kapan aku menjadi gadis yang gila seperti ini, yang jelas aku harus menyelamatkan Bruno. Walaupun hanya seekor anjing, tapi ia juga sebuah nyawa yang tak boleh melayang sia-sia.”, pikir Ki Ra.

“Hosh hosh! Akhirnya aku tiba. Tapi … Bagaimana dengan ini? Huaaaaa!” Ki Ra menatap gerbang besi yang menjulang tinggi di hadapannya. Gerbang Seoul High School, yang tergembok rapat. Bruno ada di dalam dan salju semakin turun dengan intensitas yang meningkat.

“Bruno! Tenang saja, aku akan menyelamatkanmu. Aku akan memanjat pagar ini untukmu. SHIN KI RA HWAITIIIIIING!” Kepulan asap putih terlihat keluar dari mulutnya, menandakan temperature yang terus merangkak turun. Sejurus kemudian, Ia sudah memanjat setengah pagar dengan tas ransel di punggung dan senter kecil dalam gigitannya. Dan HUP! Ia tiba di pagar paling atas. Kini Ia harus berjuang lagi untuk menuruni pagar besi ini. “Aku lelah.”, keluh Ki Ra. “Aigooooo, nyawa Bruno lebih penting!”, ingat Ki Ra pada dirinya sendiri.

Tiba-tiba ..

“Perlu bantuan?” Sebuah suara mengagetkan Ki Ra. Ki Ra tak peduli suara siapa itu. Yang jelas Ia sekarang memang sedang perlu bantuan. Disambutnya tangan yang mengulur ke atas itu dan Ia berhasil turun. Ia membersihkan celana piyama dan mantelnya terlebih dulu sebelum mendongakkan kepalanya ke orang yang sedang beridiri di sampingnya.

Siluet itu di malam segelap ini. Sosok yang Ki Ra kenal, tapi ia tidak yakin seratus persen mengingat perkataan sosok ini tadi sore yang menyayat hatinya. “Donghae sunbae?” Ki Ra memberanikan diri bertanya dan mengarahkan senternya ke wajah Donghae.

“Aigooo, silau!” Donghae menampik tangan Ki Ra yang terus saja menyoroti wajahnya dengan cahaya senter.

“Hoaaa, aku kira Bruno dalam bahaya.” Ki Ra menghela nafas lega setelah melihat kandang kardus Bruno yang kini berubah menjadi kandang yang lebih baik, kandang kayu ._. Di dalam kandang itu, ada Bruno dalam balutan berlapis-lapis kain bekas yang kelihatan cukup menghangantkan Bruno. Di tepi kandang, terlihat termos yang mungkin berisi air panas untuk menjaga temperatur kandang. Semuanya .. dipersiapkan oleh Lee Donghae.

“Gomawo.” Shin Ki Ra membuka topic pembicaraan setelah Ia dan Donghae duduk dalam kesunyian beberapa menit yang lalu.

“Untuk?” Donghae menautkan alisnya.

“Untuk semuanya. Kandang kayu, selimut, termos air panas, semua yang kau berikan untuk Bruno membuatku bernapas lega, sunbae.”, jawab Ki Ra.

“Oh, itu pertanda baik.”, balas Donghae. Sunyi kembali menyelubungi mereka untuk beberapa saat. “Igee.. sepertinya aku harus menarik kata-kataku tadi sore. Sekarang aku yakin bahwa kau serius berniat memelihara Bruno. Kau hanya tak punyaa .. yaah sarana.”, sambungnya

“Tentu saja aku serius. Lihat, aku sudah mempersiapkan semuanya. Selimut, susu, dan makanan untuk Bruno.” Donghae kemudian tersenyum kecil. “Yaah, walaupun tak terlintas di pikiranku untuk membawa termos berisi air panas.”

“Ye, aku tau kau serius. Apalagi saat melihatmu berlari dari ujung jalan menuju sekolah ini. Aku jadi iba. Dan kau gadis yang hebaaat, hmm ..” Donghae menggantung kalimatnya.

“Ki Ra! Namaku Shin Ki Ra.”

“Yes, Shin Ki Ra-shi!”, tambah Donghae.

“Tapi kau lebih hebat, sunbae! Kau bahkan berinsiatif untuk membawa termos berisi air panas!” Ki Ra mengacungkan kedua jempolnya. “Kau.. Dulu pernah memelihara anjing di rumah ya, sunbae?”, tanya Ki Ra.

“Tidak. Aku tidak pernah memelihara anjing di rumah.”

“Lalu? Apa kauu …”

“Aku memeliharanya di taman kota.”

“Jinjjayo? Berarti kasusnya sama dong sepertiku. Aku memelihara di halaman sekolah, dan kau memeliharanya di taman kota. Lalu, sekarang? Pasti dia sud—”

“Mati.” Omongan Ki Ra dipotong Donghae. Ki Ra tercekat. “Namanya Bada. Iya, dia mati dua tahun lalu saat salju pertama turun. Saat itu tak terpikirkan sama sekali olehku untuk membawakan selimut untuk Bada. Keesokan harinya, aku menemukan Ia mati di dalam kandang kardus dalam keadaan meringkuk kedinginan. Aku menangis berhari-hari menyesali kebodohanku saat itu. Makanya tadi sore aku menentang keinginan kerasmu, hmm Ki Ra! Aku tak mau hal yang sama terjadi pada Bruno.”

Ki Ra terdiam seribu bahasa. Ternyata Donghae bukan orang yang jahat, bahkan bisa dibilang terlalu peka, dan juga sensitive. Ki Ra jadi menyesal telah salah menilai Donghae.

“Jadi sunbae, kau kesini supa—”

“Iya, aku mempersiapkan semuanya dari tadi sore. Kandang kayu, selimut, termos air panas, semuanya agar Bruno bisa tidur nyenyak disini tanpa menggigil kedinginan. Kau keberatan?”

“Aniya, aku malah senang. Aku senang kalo tidak hanya aku seorang yang menyayangi Bruno. Sekarang aku jadi merasa lega, sunbae. Gamsahamnidaaa.” Luapak kegembiraan Ki Ra tak sengaja ia ekspresika dengan gerakan reflek, yang tak lagi Ia proses dengan otak, yaitu memeluk seorang Donghae. Awalnya Donghae kaget, tapi Ia mengerti perasaan Shin Ki Ra. Temperatur yang rendah tak sedang dirasakan Ki Ra karena Ia berada dalam dekapan Donghae, dan dimana tangan Donghae mengusap kepalanya pelan.

“Ki Ra. Ayo pulang, orang tuamu pasti cemas ketika anak gadisnya pulang larut malam! Kau pulang bersamaku ya, aku bawa sepeda.” Ki Ra melonggarkan pelukannya.

“Tapiii ..”

“Sudahlah, khajja!” Donghae menggenggam tangan Ki Ra dan mengajaknya ke halaman depan sekolah, tempat Ia memarkirkan sepeda kayuhnya. Ki Ra tersenyum tipis, hatinya senang bukan main. Ia menoleh ke arah Bruno, Ia sudah tidur. Ki Ra melambaikan tangannya ke arah Bruno dan melangkah menjauh.

“Pegang pinggangku dengan erat, Ki Ra.”, titah Donghae setelah Ki Ra berada di dudukan jok sepeda dengan benar.

“Ne!” Ki Ra mengangguk dan melingarkan lengannya di pinggang Donghae. Satu kata yang ia rasakan saat ini; hatinya hangat luar biasa!

Shin Ki Ra kini berada di atas tempat tidurnya yang empuk. Sedang bersiap-siap tidur setelah mengunjungi Bruno di halaman belakang sekolah sebelumnya. Tentu saja Ia dimarahi habis-habisan oleh kedua orang tua yang khawatir padanya, tapi malam ini ia sangat senang sekali. Ia baru saja merasakan rasa yang belum pernah Ia rasakan sebelumnya. Dan rasa itu berlangsung ketika Ia memeluk Donghae di halaman belakang dan ketika Ia melingkarkan lengannya ke pinggang Donghae.

Matanya minta ditutup sekarang, dan memang Ia benar-benar sudah mengantuk luar biasa.

“Selamat malam Bruno. Selamat malam … ” Bisikan Ki Ra terhenti, Ia sedikit ragu-ragu untuk mengucapkan sebuah nama yang menghangatkan hatinya saat ini. “Selamat malam, Donghae sunbae.”

Kemudian Ia tertawa kecil dan membenamkan dirinya dalam balutan bedcover yang semakin menghangatkannya.

-the end-

1 Comment (+add yours?)

  1. olaf03
    Nov 08, 2015 @ 21:52:15

    So sweet, hehe
    jadi pengen punya anjing.

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: