MISERABLE HEART

kyuh

MISERABLE HEART

 

By:

Arum Primandari (Arsvio)

Cast:

Kyuhyun, Cho (Super Junior)

Adelynn, Lee (OC)

Jayden, Cho (Super Junior – Kyuhyun, Cho)

Genre:

Romantic, Guardian Angel, Happy Ending

Rating:

PG – 13

 

“I don’t want to lose him” –Adelynn, Lee

Seorang perempuan berdiri menantang dinginnya angin malam Seoul. Kedua tangannya menyilang di depan dada dan mencengkeram erat lengan atasnya secara bersilangan karena cuaca malam hari yang hampir mendekati 20 ⁰C. Meski awal Agustus cuaca Korea tergolong summer, tapi musim panas di negara Asia Timur ini berbeda dengan negara beriklim equatorial seperti Indonesia. Temperatur sebesar itu ditambah deru angin malam yang bertiup, masih cukup untuk membuat badanmu mengigil, apalagi perempuan tersebut hanya menggunakan atasan hem kerjanya yang berbahan tipis. Kedua telapak tangannya bergerak naik turun agar memberikan gesekan yang akan menimbulkan panas untuk sekedar mereda dingin.

Mata indah sang perempuan memejam. Menunjukkan lentiknya bulu mata yang tertanam di batas kelopak mata. Samar-samar, terlihat warna ruby red[1] yang terulas di kelopak matanya dan soft pink[2] di pipinya yang hampir memudar. Dia semakin mengatupkan rahangnya saat dingin angin membelai wajahnya. Mengakibatkan poni menyampingnya sedikit berantakan. Tetap mempertahankan posisinya selama hampir 20 menit. Berusaha menyesapi eksistensi di mana dirinya sekarang berada.

“Sayang, merangkaklah keluar,” wanita yang duduk di sebelah bangku kemudi berusaha menggapai-gapai pintu yang terletak tepat di samping belakangnya. Suaranya menjadi parau, entah karena air mata atau linangan darah segar di wajahnya. Sekuat sisa tenaga, dia mendorong pintu tersebut agar terjeplak. Bangku tempatnya duduk bergeser sedikit ke belakang hingga sedikit mempermudahkannya. Hanya beberapa detik, wanita itu mampu membukanya. Tidak. Bukan tenaganya yang besar karena mampu membuka pintu mobil yang macet tersebut, tapi karena dorongan kuat seorang ibu untuk putri kecilnya.

“Mommy…” sang putri hanya sanggup menangis. Tubuh kecilnya bergetar. Gaun yang dipakainya tidak lagi indah seperti semula. Beberapa robekan di lengan, badan, dan ruffles-nya membuatnya terlihat berantakan.

Get out from car, Honey. Hurry up.” Tangan sang wanita mengibas-ngibas di udara. Menunjukkan jalan keluar untuk sang tercinta.

I can’t…I can’t…” komplain sang gadis kecil sembari menggeleng. Jok yang ditumpangi sang ibu, yang tergeser ke belakang, dan keadaan pintu yang sudah tak utuh menyulitkannya.

You can do it, My Dear.” Kini giliran suara bass yang terdengar parau. Kepala sang pemilik menoleh sedikit ke samping untuk ikut menyemangati.

“Dad…” sang putri menatap sang ayah dengan pandangan berlinang.

My lil girls is strong, right?”

I’ll tly[3],” dia mengulurkan tangan kecilnya. Tidak seperti tadi yang merangkak, kini dia mencoba bertiarap. Bergerak beringsut sedikit demi sedikit dengan tumpuan kedua sikunya. Dia menaruh siku kanannya agak kedepan kemudian menarik badannya. Seperti itu berulang-ulang hingga tubuhnya sepenuhnya keluar dari mobil yang dikendarainya bersama kedua orang tuanya. Dia dapat keluar dengan mudah tanpa terjatuh karena atap mobil yang menyentuh tanah. Mobilnya terbalik.

Further, Honey. Further!” teriak sang ibu dari dalam. Wanita ini hanya mampu berteriak tanpa bisa melakukan apapun. Kakinya terjepit dashboard. Jangankan bergerak, bahkan sekarang sudah mati rasa. Dan keadaan yang tidak lebih baik dialami pria di sampingnya. Meski air bag di kemudinya dapat menghindarkan kepala dari benturan, tapi mobil yang terguling membentur tubuhnya beberapa kali.

Sang gadis mengikuti perintah ibunya. Dia mengusap air matanya dengan punggung tangan kecilnya. Terus berusaha merangkak karena luka-luka di kakinya mengakibatkannya kesemutan. Dia membalik badannya hingga terduduk. “Mom…Dad…” rintihnya. “Get out fom thel[4]” cadelnya, memerintah agar kedua orang tuanya juga keluar dari mobil.

Tapi, kuasaNya berbicara lain. Ledakan dasyat menggema setelahnya. Mobil itu terbakar, tepat di depan mata sang gadis. “Mom…Dad…” teriakknya lebih keras. Kedua tangan mungilnya menggapai-gapai. Tubuhnya bahkan bisa merasakan radiasi panas dari kobaran tersebut.

“Hentikan!” bentakkan itu membuat sang perempuan membuka perlahan kelopak matanya. “Hentikan, Lynn. Kau telah berjanji.” Pria di depannya menatap penuh harap pada perempuan yang ia panggil Lynn. Adelynn Lee.

“Tidak…” lirih Lynn dengan tatapan nanar. “Aku tidak bisa berhenti, Jay.”

Jay, Jayden, bergerak maju selangkah mendekati Lynn. Dia menyaku kedua tangannya. “Kau bukan tidak bisa berhenti, tapi kau tidak mau.” Terlihat dada Jay sedikit membusung seperti menarik nafas panjang. “Kau sendiri yang menggerakkan pikiranmu untuk selalu mengingat kejadian itu.”

Lynn mengerutkan bibirnya, kemudian menggeleng. “Kenangan itu masih tercetak jelas, walau sudah hampir 19 tahun berlalu.” Mata Lynn menatap dengan mantap ke arah Jayden. “Darah itu, kobaran itu, panas itu, bau asap itu—“

Stop it!” Jayden berteriak membuat Lynn sedikit berjengit. Ini pertama kalinya pria tersebut mengeraskan nada bicaranya. Kedua tangannya, yang telah keluar dari saku, tergantung mengepal di sisi tubuh. Dia tidak marah, dia hanya lelah. Lelah dengan kesengsaraan batin sang perempuan.

Kepala Lynn kembali menggeleng. Melawan perintah Jayden untuk tidak mengingat kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. “Kau tidak tahu rasa ini,” rintihnya dengan nada rendah dan penuh tekanan.

Tangan kanan Jayden secara naluriah terangkat, seperti biasa, untuk mengusap kepala Lynn. Tapi kali ini tertahan di kekosongan udara. Ditekuk semua jarinya, sebelum dia menarik kembali tangannya. “Maaf,” sesalnya saat menangkap sorot nanar dari mata Lynn.

“Di sini, kehilangan itu tidak akan pernah pergi,” Lynn meletakkan telunjuk di dadanya. “Sakit, dan selalu seperti itu.”

Jayden kembali menggerakkan kakinya mendekat hingga jaraknya dengan perempuan itu tak lebih dari satu meter. “Lynn, dengar aku,” kedua tangannya tertekuk ke atas tepat di samping tubuh Lynn. Rasanya ingin mengguncang tubuh perempuan tersebut. “Sakitmu, kehilanganmu, aku tahu dengan jelas. Tapi, tidak bisakah kau membiarkan sesuatu yang lain juga muncul?”

What’s that?”

“Kau menyangkalnya?”

Lynn tertegun sejenak. Menatap dalam ke iris bewarna coklat gelap milik Jayden. Tidak akan pernah bosan menyelami pandangan teduh itu. “Tidak…tidak…” mata Lynn bergerak random. Tangannya terangkat meremas kemeja depannya, tepat di mana rasa yang dimaksud Jayden tumbuh.

Jayden menurunkan tangannya dan tersenyum. Menyadari kekeraskepalaan Lynn. Dia hanya ingin agar perempuan di depannya menyadari perasaannya. “You’ve denied it.” Kekehan ringan keluar dari mulut Jayden untuk menertawakan dirinya sendiri.

Why are you laughing?” ekspresi bingung tergambar di wajah gadis keturunan Korea-German itu.

Jayden menghembuskan nafas pendek dengan hembusan cepat. Lidahnya terasa kelu untuk mengatakan bahwa tempatnya di hati gadis tersebut sudah tergeser. Dia memejamkan mata ketika mengetahui bahwa eksistensinya sudah tidak lagi diperlukan oleh Lynn. Kejamkah dirinya jika menuruti egonya untuk tetap berada di sisi Lynn?

“Index KOSPI[5] dibuka di level 249.50 pagi ini. Aku yakin KOSPI akan menguat kembali hari ini. Meski kemarin sempat melemah 2.46 poin, kita tidak bisa mengabaikan pergerakan lima hari ini hingga mengalami bullish[6] di level 253.87.” Jemari lelaki itu mengetuk-ngetuk di meja. Dia dengan cermat mengamati perubahan keadaan pasar saham Korea yang tercermin dari index KOSPI 200. Bursa saham yang terdiri dari 200 saham terbaik Korea.

“Pergerakan saham kita juga cukup menggairahkan. Terbukti volatilitas return kita mencapai poin 0.564.” Lelaki tersebut men-swap layar tablet miliknya. Dia mengusap dagunya saat membuka grafik pergerakan harga saham perusahaan di salah satu website penyedia layanan finance, yahoo finance. “Bagaimana perkembangan penjualan produk terbaru kita?”

“Angka penjualan Galaxy S III terus merangkak naik. Survey menunjukkan, pengguna operating system Android[7] meningkat tajam bulan ini.” Seorang karyawan yang ikut serta dalam meeting pagi ini angkat bicara.

“Tapi, keadaan ini tidak serta merta membawa kita di atas angin, Sajangnim[8]. Apple mengeluarkan dua sekaligus varian baru mereka. Generasi terbaru iphone 5 juga ipad mini diperkirakan diluncurkan di pasaran September mendatang,” seorang karyawati keturunan Korea-German ikut memberikan analisisnya. Siapa lagi jika bukan Lynn.

“Bisa kau tampilkan analisismu, Adelynn-ssi?”

Lynn men-display notes miliknya di lcd berukuran besar yang terletak di depan ruangan. Membuat peserta rapat menolehkan kepalanya ke samping atau sekedar memutar kursi mereka karena posisi duduk mereka yang melingkar. Beberapa coretan tentang analisisnya mengenai pergerakan saham Samsung, keadaan pasar, juga faktor-faktor pesaing terpampang jelas. “Ini beberapa kondisi yang aku perkirakan untuk bulan depan.” Lynn menjelaskan detailnya di hadapan sepuluh orang yang hadir di sana. “Meski Android mulai merajai pasaran, namun perlu diingat bahwa OS ini juga merupakan surga bagi para pembajak karena sifatnya yang terbuka. Bukan tidak mungkin nantinya para developer aplikasi enggan untuk menggunakannya,” jemari lentik Lynn menggeser slide presentasinya. “Salah satu kasus nyatanya adalah game Dead Trigger oleh pengembang games Madfinger. Game yang sedianya dijual dengan kisaran US $ 0,99, akhirnya dilepas di pasaran secara gratis karena tingginya angka pembajakan.” Adelynn menguraikan isu-isu terkait produk perusahaan tempatnya bekerja. Beberapa kasus berpengaruh yang kemungkinan menjadi pertimbangan untuk membatasi atau mungkin malah menambah produktifitas seri terbaru perusahaan tersebut.

Tatapan gadis tersebut bergerak menyapu ruangan dan tiba-tiba terhenti pada tatapan sendu seseorang. Tangannya yang tengah memegang pointer tergantung begitu saja di udara. Sejenak kekuatan dan pikirannya tersedot untuk jatuh di gravitasi sang pria. Jantungnya merespon dengan sangat baik pada pandangan lembut tersebut. Lynn berdeham dan memutus kontak mata mereka.

Sang pria, yang dipanggil ‘sajangnim’ oleh yang hadir di sana, menunduk sembari mengulum senyumnya kemudian menyibukkan diri dengan tablet di tangannya. Dia menyurung tengah frame kaca mata yang dipakainya dengan jari telunjuk. Kepalanya menggeleng sekali, mengingat ketidakprofesionalannya beberapa menit terakhir. Seharusnya dia memerhatikan konten yang disampaikan sang gadis, tapi dia malah memerhatikan segala gerak-gerik gadis tersebut. Semestinya tatapan tegas yang dia berikan, namun malah tatapan lunak bak orang sedang jatuh hati. Pria ini mengangkat kepalanya dan tersenyum tipis saat dia melihat Lynn menjadi sedikit salah tingkah.

“Cho Kyuhyun,” nada rendah Jayden. “Tanpa kau sadari, dia telah mengisi kekosonganmu, Lynn,” mata Jayden melirik Lynn. Menunggu reaksi gadis di depannya. Tidak. Dia tidak bisa dan tidak boleh mementingkan egonya.

Lynn terhenyak, entah untuk alasan apa. Bukankah seharusnya nama tersebut sudah sangat familiar di telinganya? Mengingat Cho Kyuhyun adalah atasannya di Samsung Electronics. Atau bahkan kedudukan pria itu melebihi dari sekedar boss bagi Lynn. “Tidak…tidak…” Lynn menggeleng untuk menyangkal perkataan Jayden untuk kesekian kali.

“Kau tidak pernah berbohong, tapi malam ini mengapa melakukannya, Sayang?”

“Aku tidak mengerti arah pembicaraanmu, Jay,” intonasi datar Lynn. “Harus berapa kali kukatakan bahwa hatiku hanya terisi seorang saja. Dan kau tahu dengan pasti siapa penggenggam hatiku.” Dia meraba dadanya. Tempat tersimpan sebongkah rasa teruntuk seseorang yang selalu membuatnya menghangat.

Jayden tersenyum tipis. Lidahnya kelu untuk mengartikulasikan kata. Dia terdiam sejenak, menyusun sebuah kalimat. “Benarkah bahwa kau tidak jatuh pada pesona lelaki itu? Ataukah hanya perkiraanku yang salah?”

Lynn meletakkan luggage miliknya. Dia memeriksa tiket, passport, visa, dan identitas diri. Diputar pergelangan tangan kirinya hingga bisa melihat dengan jelas waktu yang ditunjukkan arlojinya. Lynn mengedarkan pandangannya. Mencari sosok yang ditunggunya. Dia tersenyum saat menemukannya, lalu menganggukkan kepala sebagai salam.

“Maaf membuatmu menunggu lama.”

“Bukan masalah, Sajangnim.” Mata Lynn menelisik sosok di depannya. Ada suatu tarikan gaya hingga matanya tidak bisa lepas dari sosok tersebut. Atasan kemeja kotak-kotak casual biru dengan kaos putih dipadu dengan bawahan jeans. Meski simple tetap menjadi daya tarik sendiri. Ditambah sun glasses yang mempertegas bentuk hidung mancung pria itu. Kelopak mata Lynn mengerjap pelan saat berkonsentrasi menatapi atasannya, Cho Kyuhyun. Dia semakin tenggelam pada pesona pria tersebut saat Kyuhyun memusatkan perhatian untuk mengecek segala surat-surat perjalanannya. Bibir penuh yang tertarik secara horisontal, juga dagu dengan shape tegas.

“Pukul berapa kita meeting dengan Tuan Xian, Lynn?” pertanyaan Kyuhyun membuyarkan lamunan gadis tersebut.

“Ah, itu,” Lynn mengeratkan pegangannya pada tali tas ketika gugup. Dia merogoh smartphone miliknya untuk melihat schedule perjalanan mereka. “Menurut jadwal, kita akan landing di Taiwan pukul 02.00 p.m, dan meeting dimulai pukul 03.00 p.m. Pagi hari pukul 08.00 a.m kita sudah harus kembali ke Korea untuk menemui investor dari UK di Jinan.”

Kyuhyun mengangguk paham. “Ok. It’ll be tiring weekend, right?”

“Hemm,” angguk Lynn untuk mengiyakan. “Time to chek in, Sajangnim.”

Kyuhyun menaikkan sebelah alisnya. Dia baru menyadari bahwa dari tadi gadis yang bersamanya kini memanggil dengan sapaan formal. Bukan risih, hanya saja Kyuhyun ingin mengikis jarak antara mereka. “Just call my name, Lynn,” Kyuhyun berbisik tepat di telinga Lynn saat melalui gadis tersebut.

“I..itu, karena dia terlalu mirip denganmu,” Lynn menyangkal dengan terbata. “Wajah kalian berdua sungguh tidak berbeda.” Dia menatap ke arah lain untuk menghindari tatapan Jayden.

“Tapi kami pribadi berbeda, dan kau tahu itu.” Jayden melihat dengan seksama kegugupan dan keraguan Lynn.

“Tentu, hanya saja kalian terlalu mirip.”

Jayden menyunggingkan senyum. “Karna aku adalah representasinya.” Kakinya melangkah menjauhi Lynn beberapa jengkal. Ada rasa sesak saat satu persatu tanda itu muncul. Kenapa harus ada rasa tidak sudi untuk melepas gadis ini? Jayden menggeleng pelan ketika batinnya meragu. “Seberapa pentingkah dia bagimu?” Jayden menatap Lynn. Ada sorot ketidakrelaan saat gadis kecilnya mulai memikirkan pria lain selain dirinya.

“Dia hanya atasanku,” jawab Lynn dengan raut datar. “Percayalah, hubungan kami hanya sebatas—“

“Aku percaya,” potong Jayden cepat. “Aku selalu percaya padamu. Kepercayaanku tidak akan pernah berubah sepersen pun. Tidak akan pernah, Lynn.” Dia memandang Lynn dengan senyum terbaiknya. Membuat gadis itu sedikit lega karena dapat melihat senyum kesayangannya. “Tapi, pernahkah kau sendiri percaya pada hatimu?”

“Jangan bermain kata denganku, Jay,” senyum Lynn menghilang seketika. “Ada apa dengan dirimu? Kau tidak pernah menuntut seperti ini!”

Nothing changes on me, but you.”

No, I’m not.”

Yes, you are, my Dear.” Jayden menengadah, memandang jauh bintang-bintang yang terlihat samar di langit Seoul. Menetapkan hatinya bahwa keputusannya adalah yang terbaik. Dia menegakkan kepalanya, kemudian menoleh pada Lynn. “Sadarkah, jika pria itu mengubahmu sedikit demi sedikit menjadi pribadi yang lebih baik? Sesuatu yang tidak bisa aku lakukan selama belasan tahun di sisimu.”

“Apakah sesuatu terjadi padamu, nona Lee?” tanpa mengalihkan kesibukkannya dari kertas-kertas di pangkuannya, Kyuhyun membuka pembicaraan. Beberapa berkas perjanjian yang baru saja ditandatanganinya dengan salah satu investor asing harus ia periksa ulang. Memastikan tidak ada kesalahan.

Lynn tersentak dengan pertanyaan tiba-tiba Kyuhyun. Dia menoleh ke arah lelaki itu dengan tatapan penuh tanya. “Apa maksud Sajangnim?”

Kyuhyun menegakkan punggungnya kemudian bersandar di jok. “Biasanya wanita akan terpesona dengan keindahan cherry blossom[9] di sepanjang jalan ini,” Kyuhyun menunjuk ke luar jendela dengan pulpen yang masih dipegangganya. “Tapi kau malah tenggelam dengan gadget-mu. Padahal keindahan sakura tidak bisa dinikmati sepanjang tahun.”

Lynn melengos dan tersenyum kecut. Memandang kembali gadget-nya yang menampilkan grafik analisis saham Samsung. Jemarinya menyentuh option Bolliger bands[10] hingga memunculkan gambar semacam sabuk pembatas terhadap pergerakkan harga saham.

Kyuhyun menatap lekat ekspresi gadis di sampingnya. Mulai dari ketidakacuhan Lynn hingga getaran tangan kanan Lynn yang sedang mengutak-atik tablet. “Semua orang bahkan yang berhati dingin pun akan terpesona dengan keindahan cherry blossom. Hanya satu kemungkinan seseorang tidak menyukainya,” Kyuhyun memiringkan tubuhnya menghadap Lynn, membuat gadis tersebut melakukan hal yang sama. “Kenangan buruk.”

Dua patah kata yang praktis membuat Lynn menegang seketika. Benar, dia memiliki kenangan terburuk dengan sakura yang berbunga di musim semi di daerah Jinan. Di kawasan inilah dirinya kehilangan dua orang yang paling berharga dalam sebuah kecelakaan mobil. Jika bukan karena urusan bisnis, dia pasti menghindari untuk pergi ke tempat ini. Lynn kembali menunduk seraya menarik tangannya ke sisi tubuh. “Bisakah berhenti dengan pembicaraan ini, Sajangnim,” nada bergetar Lynn.

Kyuhyun tersenyum tipis. Bukan karena tebakkannya benar, namun karena dia menemukan satu hal lagi mengenai gadis di sampingnya. “Bukankah kita sepakat untuk tidak menggunakan panggilan formal ketika di luar pekerjaan,” tangannya terulur menepuk ringan puncak kepala Lynn.

Lynn menoleh seketika itu juga saat merasakan sentuhan yang mampu menggetarkan hatinya. Lagi-lagi rangsang sentuh dari lelaki itu terasa begitu kuat untuknya. “Maaf, tapi ini masih dalam situasi perjalanan bisnis,” sangkalnya.

Kyuhyun terkekeh ringan ketika melihat mimik wajah Lynn. Antara ketakutan bercampur keraguan. Dia menutupi kekehannya dengan punggung tangan.

“Adakah sesuatu yang menurut Anda lucu?”

Kyuhyun berdeham, mengusir ganjalan di kerongkongannya. “Kau menggemaskan.”

Ucapan yang serta merta membuat pipi Lynn memanas. Dia menggembungkan pipi, kemudian mengeluarkan udara yang tertampung di dalamnya dengan hembusan cepat hingga poninya sedikit terangkat. Sebelah tangannya tanpa sadar sudah mengibas-ngibas wajahnya.

Jemari Kyuhyun menekuk kemudian terulur hingga punggung jemarinya menempel di pipi Lynn. “Jangan berekspresi seperti ini di depan lelaki lain. Juga, panggil aku dengan sebutan ‘oppa’ jika diluar situasi formal atau kita sedang berdua.”

Lynn hanya mampu menjauhkan wajahnya sedikit ketika dinginnya tangan Kyuhyun terasa di pipinya. Bukannya mereda, namun malah membuatnya semakin memanas. “Tapi, kita masih dalam situasi formal. Juga di sini ada orang lain,” telunjuk Lynn menunjuk depan ke arah sopir yang duduk di belakang kemudi.

Kyuhyun mengerutkan bibir. Dia mencondongkan tubuhnya hingga Lynn mundur dan punggungnya menabrak pintu mobil. “Jangan hiraukan dia, arachi[11]?” salah satu ujung bibirnya tertarik keluar. Kyuhyun mengerling sebelum menarik kembali tubuhnya.

“Itu tidak benar!” bantah Lynn keras.

“Kenapa kau selalu menghindari perasaanmu, Lynn?”

Lynn berjalan mendekati Jayden. “Kumohon jangan seperti ini.” Dia memberikan tatapan melas agar Jayden menghentikan interogasinya. “Aku hanya menginginkanmu, bukan yang lain.” Jemarinya saling meremas sebagai bentuk kegelisahan.

Jayden menarik nafas dengan ritme teratur yang panjang. Berusaha menenangkan diri dan mempertahankan keteguhan keputusannya. “Tidak bisakah kau melihat bahwa pria itu menaruh hati padamu?”

“Jay…” rintih Lynn. Lapisan bening air mata terbentuk menutup permukaan bola mata indahnya. Samudera dalam samudera. Mungkin itu perumpamaan untuk menggambarkannya. Air mata yang kemudian meleleh seperti bersumber dari dalamnya laut di iris biru Lynn.

Berkali-kali Lynn mencoba menetralkan rasa tidak tenangnya. Dia mengulum dan menggigit bibir atasnya. Juga menekuk erat jemarinya untuk menyembunyikan gemetarannya. Bagaimana pun sudah menjadi tugasnya untuk turut menjamu tamu investor mereka. Namun, jika tempat yang dipilih adalah sesuatu yang mengingatkannya pada kenangan kelabu, bagaimana dia bisa tenang?

Nothing should be worried, Lynn.”

Lynn menoleh ketika dirasakan sebuah tangan melingkar di pinggangnya dan mendapati Kyuhyun di sampingnya. Sedikit memperoleh penyejuk saat pria tersebut tersenyum. “Aku—“

Kyuhyun meletakkan telunjuk tangan kanannya di bibir Lynn dengan tanpa tekanan supaya tidak merusak dandanan gadis itu. “Aku tahu.” Dia bukan tipe penyabar yang akan menunggu gadis di sampingnya menceritakan sendiri kisah suramnya. Melalui orang kepercayaannya, Kyuhyun diam-diam menyelidiki latar belakang Lynn. Dan seperti itulah dia menunjukkan perhatiannya. “Percaya padaku, kau akan baik-baik saja,” ucap Kyuhyun mantap.

Maisan mount known as married couple mountain. It is formed of sedimentary rock and consist of two peaks, Ammaisan the female Mai Peak and Sutmaisan the male Peak. Since the Joseon era, it was called ‘Maisan’ because of the peaks look like the ears of a horse[12],” Kyuhyun menjelaskan pemandangan yang terlihat dari restoran tempat mereka makan pada kedua tamunya. Sebuah pemandangan menakjubkan dari gunung Maisan.

Mr. Andrew, sang tamu, ikut memandang lepas melewati jendela kaca besar di samping meja mereka. “And this view is more magnificent because of cherry blossoms.”

Yes of course. In this month, when cherry blossom reach their peaks, a festival will be held to introduce some events. It has known Jinan Maisan Cherry Blossom Festival[13]. You can join it later, Sir,” Kyuhyun mengenalkan salah satu budayanya.

And it is held every April, 13th , isn’t it?”

“Not always, Sir. As it is held when the cheryy blossoms bloom, the date changes every year, but still around on April,“ Lynn angkat bicara meski dia tidak menyukainya. Menunjukkan profesionalitasnya.

Kyuhyun melirik kilas gadis di sampingnya. Tersenyum ringan ketika mengetahui gadis tersebut mencoba bertahan. Walaupun sempat sedikit cemas di awal, toh pada akhirnya dia yakin Lynn mampu melewatinya.

Telinga Lynn terasa memanas mendengar percakapan mereka. Festival Sakura Maisan di Jinan merupakan alasan keluarga kecilnya, dulu, pergi berwisata ke daerah tersebut. Tangannya mengepal di atas paha. Hatinya memberontak agar dirinya meninggalkan jamuan tersebut.

Kyuhyun kembali melirik Lynn. Memerhatikan ketidaknyamanan gadis tersebut. Dia dapat menangkap kecemasan di raut wajah Lynn. Pandangannya turun pada kedua tangan Lynn yang terkepal. Dia menganjurkan tangannya untuk menggenggam kepalan tangan Lynn, kemudian membawanya ke pahanya sendiri. Tanpa menghentikan obrolannya dengan Mr. Andrew, Kyuhyun meremas jemari dingin Lynn untuk menyemangati gadis tersebut.

Lynn hanya mampu terperanggah dengan tindakan lelaki tersebut. Dia menatap tak percaya pada Kyuhyun. Ingin menarik tangannya, tapi kehangatan yang coba disalurkan Kyuhyun tidak bisa diabaikan. Dia merasa lebih tenang dengan hal tersebut. Hanya sebuah tindakan sederhana Kyuhyun, namun mampu mengatasi kegundahannya.

“Aku bahkan tidak bisa marah ketika dia menyentuhmu,” Jayden menghembuskan nafas pasrah. “Karena aku tahu, kau tenang dengan sentuhannya.”

“Hentikan! Aku tidak ingin mendengarmu!” Lynn mengangkat kedua tangannya untuk menutup telinga. “Itu tidak benar…” ucapnya dengan nada yang tersendat karena air mata menyumbat kerongkongannya. “Tidak, Jay…”

“Kau memang tidak harus mendengarkanku, Sayang. Yang perlu kau lakukan hanyalah mendengar hatimu,” tangan Jayden terangkat untuk membelai punggung tangan Lynn.

Mata Lynn yang memerah membuat paduan menyedihkan dengan iris birunya. Menatap Jayden saat merasakan kesejukan udara menyapu punggung tangannya. “Kumohon, aku akan menjauhinya jika itu bisa membuatmu tenang. Aku bisa meninggalkannya jika—“

“Tidak ada yang patut ditinggalkan dan meninggalkan. Keduanya membawa luka yang sama, Lynn. Aku hanya ingin kau memperoleh kebahagiaanmu tanpa bayang-bayang masa lalumu.” Jayden menyakinkan Lynn dengan tatapan matanya. Dia memeluk tubuh gadis tersebut untuk menenangkannya.

Lynn memasuki kamarnya di Pan Pacific Singapore Hotel. Dia berjalan gontai setelah tenaganya terkuras habis untuk menyelesaikan pekerjaannya, kali ini di Singapure. Dia bersama staf lainnya mengurus perluasan kerja sama Samsung di negara tersebut. Dipijit keningnya untuk mengurangi penat. Tubuhnya terlonjak ketika mendapati seseorang di kamarnya. “Kyuhyun Oppa, apa yang kau lakukan di sini?” Pantaslah jika Lynn terkejut mendapati pria tersebut di kamar hotelnya karena semestinya Kyuhyun tetap berada di Korea untuk mengurus beberapa tender.

Kyuhyun duduk di salah satu sofa sembari bersedekap. Dia mengeraskan ekspresinya sebagai cara untuk menunjukkan bahwa dirinya sedang dalam mood yang buruk. Tangannya mengurai dan menyurung tablet di meja hadapnya agar Lynn memeriksanya. “Ini yang kau lakukan?” retoriknya dengan intonasi dingin.

Lynn berjalan mendekat, mengambil tablet yang diangsurkan Kyuhyun. Dahinya berkerut mendapati beberapa foto dirinya dengan salah satu investor di sebuah party. “Apa ini? Kau memataiku?”

Kyuhyun menyeringai, kali ini dengan mimik tegang hingga orang bisa bergidik jika melihatnya. “Seharusnya aku yang bertanya, Lynn.” Dia bangun dari duduknya. “Apa yang kau lakukan di sini?” retoris Kyuhyun sambil mengangkat dagunya. “Demi apa pun, aku hanya menugaskanmu mengurusi investasi Samsung, dan bukan untuk yang lain,” kata Kyuhyun dengan lambat dan penuh penekanan.

Lynn memasok oksigen ke dalam paru-paru dengan tarikan nafas panjang. “Itu hanya sebuah pesta untuk merayakan kesuksesan kerja sama ini. Dan bukan hanya aku saja yang hadir, semua staff juga berada di sana.” Jika bukan karena Kyuhyun yang bertanya, Lynn memilih menghindar dan melemparkan tubuhnya di ranjang saking lelahnya.

“Aku tahu!” Kyuhyun menaikkan nada bicaranya. “Tapi bukan berarti kau bisa berdansa dengan mesra dengan pria itu!”

“What?” Lynn memiringkan kepalanya. “Aku hanya menerima tawarannya untuk berdansa, dan kami tidak melakukan lebih dari itu!” Lynn terpancing juga emosinya.

Kyuhyun berjalan cepat mencapai Lynn. Kedua tangannya mencengeram lengan atas Lynn hingga tubuh gadis tersebut sedikit terangkat. Dia marah sampai-sampai dirinya langsung mengambil penerbangan ke Singapure hanya untuk mengklarifikasi berita yang diperolehnya. “Apa pun jenis skinship itu, meski ringan, aku tetap tidak mengizinkan,” tekannya dengan lambat.

Lynn mendongak sehingga matanya bertemu langsung dengan mata Kyuhyun. “Dan apa hakmu untuk melarangku, Kyuhyun-ssi?” Dia mengubah panggilan menjadi formal sebagai penegasan jarak antara mereka.

Kyuhyun semakin memapas jarak mereka. “Aku sudah menegaskannya beberapa kali, Lynn,” tandasnya dengan emosi yang terselip di setiap katanya.

“Tapi aku tidak pernah mengiyakan.”

“Dan juga tidak pernah menolaknya.” Kyuhyun menggelutukkan giginya.

“Lalu apa yang kau inginkan?” Lynn balik menantang. Tidak mengertikah gadis ini bahwa Kyuhyun mati-matian menekan gejolak emosinya?

“Kau masih menanyakan apa mauku?” Kyuhyun menurunkan kekuatan cengkeramannya. “Aku ingin kau berada di sisiku, hanya melihatku. Memberikan seluruh hatimu untukku. Tidak berhubungan dekat dengan pria manapun!” Dia menyentakkan kalimat terakhir, membuat Lynn bergidik.

“Kau egois.”

“Aku tak peduli jika itu menyangkutmu. Dan lagi seharusnya kata itu tertuju padamu!”

“Aku tak mengerti.”

“Kaulah yang egois. Membiarkanku jatuh dalam pesonamu, tapi tidak pernah membalasku. Menerimaku hadir di hidupmu, tapi tidak pernah menganggapku!”

Perlahan kabut tipis itu pun terbentuk di bola mata Lynn. Tak habis pikir bahwa asumsi tentang dirinya terdengar begitu menyakitnya ketika terucap dari bibir pria ini. Dia mengakui hubungan mereka dekat, tapi sampai saat ini dia masih bimbang dengan hubungan mereka. Lynn menatap Kyuhyun dengan bibir yang bergetar. Dia takut jika pria ini lebih meledak lagi. “Lepaskan, kau tidak mempunyai hak apa pun atasku,” nadanya merendah seraya menepis kedua tangan Kyuhyun. Dia berlari menghindari lelaki itu, dan duduk di sudut ranjang.

Lynn mengusap air matanya kasar. Kenapa dengan hatinya? Bukankah seutuhnya tempat itu dihuni oleh satu nama? Jayden. Tapi saat ini ketika melihat kemarahan Kyuhyun, mengapa dia merasa sangat sakit? Dia menunduk, tubuhnya bergetar. Dia bimbang. Kedua sosok itu terlalu sulit untuk dibedakan. Lynn bisa melihat refleksi seorang Jayden pada diri Cho Kyuhyun, juga sebaliknya. Dia mengangkat tangan untuk menangkup wajahnya. “Hentikan…cukup…” rintihnya.

Perlahan temperamen Kyuhyun menyusut ketika melihat kondisi Lynn. Kemarahannya mereda saat matanya menangkap getaran tubuh Lynn. Diurut dadanya yang tadi bergemuruh. Dia tahu, dia salah. Seharusnya menanyakan kebenaran foto itu lebih hati-hati. Namun, apa daya jika sedang terbakar cemburu.

Kyuhyun berjalan mendekat dan duduk di sudut ranjang yang berseberangan dengan Lynn. Dia mengambil satu bantal dan meletakkan di atas pangkuannya. Tangannya terangkat dan menyentuh lengan Lynn kemudian sedikit menarik gadis tersebut ke arahnya. “Kumohon, Sayang,” intonasinya melembut saat mendapati penolakan Lynn.

Lynn menurunkan kedua telapak tangan yang menghalangi wajahnya. Dia menoleh dan menatap Kyuhyun ragu dengan wajahnya yang sudah memerah karena menangis. Lambat laun, keraguannya pupus dan tubuhnya mengikuti perintah Kyuhyun untuk mendekat kemudian berbaring di pangkuan pria tersebut.

Jemari Kyuhyun menelusup di rambut Lynn. Membelai gadis tersebut dengan lembut. “I’m sorry. I was jelaous. Mind to give me your apology?”

Lynn sedikit mendongak menatap kedamaian dalam wajah rupawan Kyuhyun. Dia mengangguk sebab dirinya mulai tenang. Lagi-lagi karena sentuhan lelaki tersebut, meski dirinya sendiri belum mengakui.

Kyuhyun mengembangkan senyumnya. Dia menekuk punggungnya untuk memberikan ciuman di kening Lynn. “Jadi kau dengan pria itu hanya sebatas rekan kerja?”

Lynn mengerutkan kening dan bibirnya. “Kau masih tidak percaya?”

“Tidak, aku percaya,” Kyuhyun menggeleng. “Istirahatlah.”

“Bagaimana denganmu?”

“Maksudmu?”

“Mengapa masih di sini?”

Kyuhyun terkekeh dan mengusap kepala Lynn. “Aku ingin menemani calon istriku hingga tertidur.”

“Eh? Tapi aku—“ ucapan Lynn terpotong saat Kyuhyun mengecup kilas bibirnya. Membuat syaraf-syarafnya lumpuh karena sengatan listrik yang terhantar dari persinggungan tersebut.

Do you want me to sing a lullaby?”

Lynn memandang dengan wajah tak percaya. Dia sama sekali belum pernah mendengar atasannya tersebut bernyanyi.

“Hei, suaraku cukup merdu,” percaya Kyuhyun pada dirinya. “You are my song, playing so softly in my heart. I reach for you, so seem so near yet so far. I hope and I pray, you’ll be with me someday. I know down inside, you are mine and I’m your true love…”

Lynn mulai memejamkan mata ketika buaian suara itu membuatnya rileks. Dia tersenyum menyesapi makna di lirik lagu You are My Song[14] yang dinyanyikan Kyuhyun. Benarkah bahwa situasi mereka seperti yang tercermin dalam lagu tersebut? Entahlah. Yang ia rasakan adalah jantungnya yang berdetak berlebih ketika berada di dekat Kyuhyun, seperti saat ini. Namun, di saat bersamaan, dia juga merasa tenang.

Perlahan, Kyuhyun menggeser bantal dari pangkuannya ke bed. Dia melakukan dengan hati-hati agar tidak membangunkan Lynn. Tubuhnya merosot dan terduduk di lantai dengan sebelah lengannya masih melingkari kepala Lynn. Tangan yang lain membelai lembut pipi gadis tersebut. “Jangan membuatku memiliki hasrat yang semakin besar untuk segera memilikimu, Sayang.”

Tergugu dalam tangisnya, Lynn mencoba meresapi kehangatan yang berhembus untuk melingkupi tubuhnya. “Jangan pergi. Aku membutuhkanmu.”

Jayden tersenyum, kali ini tulus. “Tidak, Sayang. Kau sudah tidak membutuhkanku. Kau kuat.” Dia mengeratkan kekangan tangannya di punggung Lynn, walau akan berimbas sama pada gadis tersebut.

“Aku akan tetap menyanding kenangan burukku jika itu berarti mempertahankanmu!”

“Jangan keras kepala, Lynn.” Jayden merenggangkan pelukkannya. “Lihat aku, Sayang,” ucapnya lembut. “Kau akan baik-baik saja. Percayalah padaku.” Suatu perkataan yang pernah didengarnya dari mulut yang berbeda.

“Tidak, aku tidak akan baik-baik saja jika kau pergi.”

“Mengapa?” Jayden mengagumi iris biru samudera milik Lynn untuk yang terakhir kali. “Mengapa kaku bersikeras mengingat masa lalumu hanya untuk mempertahankanku?”

“Karna aku—“

“Menyayangiku?”

Lynn mengangguk.

“Jika begitu, hiduplah dengan baik, dengan begitu aku tahu kau menyayangiku.”

Mata Lynn membulat ketika dia dapat menangkap sayap yang terentang dari punggung Jayden. Putih dan terlihat kokoh. “Please, don’t go…

“Dengarkan aku, pria itu, Cho Kyuhyun, aku mempercayakanmu padanya. Itu mengapa, jauh sebelum kau bertemu dengannya, aku mengambil representasi wajahnya. Semuanya hanya agar kau mengerti bahwa ini adalah takdirmu.”

“Tidak, kau tidak bisa pergi dariku!” Lynn mengayunkan tangannya ke udara untuk mencekal lengan Jayden, tapi mustahil. Dia lebih tahu dari siapa pun bahwa usahanya akan sia-sia saja. Tubuh Jayden layaknya sebuah hologram, tembus. Dan selalu seperti itu semenjak pertama kali mereka bertemu. Atau tepatnya, sejak Jayden ditugaskan untuk menjaga gadis tersebut. “Kumohon…kembali…” rengek Lynn ketika Jayden merenggangkan sayapnya.

“Aku menyayangimu.” Dia menggerakkan ujung sayapnya dan perlahan melepaskan tangannya dari Lynn. Dengan gerakan secepat kilat, Jayden bergerak mengangkasa. Bukan karena dia ingin secepatnya meninggalkan Lynn, tapi ingin meminimalisir perih di hati.

“Kumohon,” Lynn mengeraskan tangisnya ketika bayangan malaikat penjaganya lenyap. Dia memeluk tubuhnya dengan kedua tangan yang bersilangan. Ditundukkan kepalanya sehingga air mata bisa jatuh bebas setiap tetesnya. Menyelami rasa kehilangan atas guardian angel-nya.

Lynn merapatkan kelopak matanya untuk menutup ketika kehangatan memeluknya. Mencoba meredam suara tangisnya di dada orang yang memeluknya. Mungkinkah Jayden kembali? Tidak. Kehangatan ini terlalu nyata untuk terhantar ke tubuhnya. Dia mendongak untuk menatap orang tersebut. “Oppa…”

“Aku di sini, tenanglah.” Kyuhyun mengusap kepala Lynn dengan lembut. “Everything gonna be ok, my Dear,” Dia mengecup kening gadis tersebut, lalu mengeratkan pelukannya. Tangannya menepuk-nepuk pelan punggung Lynn untuk menenangkan. Beberapa saat bertahan dengan posisi memeluk, Kyuhyun merenggangkan pelukkannya. Dengan sebelah tangannya, dia menangkup wajah Lynn, lalu menarik nafas panjang. “Adelynn, would you please be my only one in rest of your life?”

***

Kyuhyun menurunkan telapak tangannya yang tadi digunakan untuk menghalangi pandangan Lynn. Menyiapkan sebuah kejutan untuk gadis tersebut. “Hope you’ll like it, my Dear.”

Lynn membuka matanya perlahan. Nafasnya tercekat dalam satu tarikan. Tubuhnya menegang. Kejutan ini sungguh membuatnya mati rasa untuk sejenak. bukan karena keindahannya, sebab dia tidak meragukan selera Kyuhyun. Tapi ini…

Puluhan pohon sakura dengan bunga yang sedang bermekaran menaungi tempat seluas hampir 450 m2. Beberapa kelopak berguguran ketika sang bayu meniup nakal. Ratusan kursi tertata rapi dengan pita berwarna magenta. Dan di depan sana, sebuah altar sudah berdiri.

Lynn membalik tubuhnya. “Ayo pergi dari sini, Oppa,” rintihnya sembari mengguncang lengan Kyuhyun pelan. Kenangan itu masih membayanginya. Dia takut berjalan sendiri untuk menghadapinya, sebab sekarang malaikatnya sudah pergi.

“Tidak, Sayang. Menataplah ke depan,” Kyuhyun memutar tubuh Lynn. Menghadapkan ke arah altar. Dilingkarkan tangannya di pinggang Lynn. Menuntun gadis tersebut menuju ke depan.

Lynn tak mampu memandang ke depan. Dia terus memusatkan pandangannya pada pria di sampingnya sebagai upaya membuat dirinya teralih dari ketakukan masa lalunya. Sekaligus, mengagumi setiap guratan di wajah Kyuhyun.

Am I that gorgeous?”

Yes, you are,” ucap Lynn datar. Batinnya mencoba tegar di setiap langkah yang ditapaki. Percaya bahwa masa lalunya adalah sebuah bagian yang harus dilalui untuk mencapai hari ini. Menguatkan hati untuk tak lagi menghindar. Sebab dia tahu, Kyuhyun akan ada di sisinya. Menangkapnya jika terjatuh.

Tanpa terasa mereka sudah berhenti tepat di depan altar. Kyuhyun memutar badannya hingga berhadapan dengan Lynn. Memandang ke dalam mata Lynn. Merasakan takjub pada samudra di dalamnya. Dia mendesah saat menyadari dirinya sudah terperosok terlalu dalam pada sepasang blue eyes milik Lynn. “Bagaimana kau bisa mendapatkan sepasang mata biru?”

Senyum terkembang di bibir Lynn. “ Hampir 75% bangsa German memiliki mata biru.”

But you just have half blood.”

Then I must be lucky.”

“Maka aku tidak sabar melihat malaikat-malaikat kecil bermata biru kita nanti.”

But I wish they have your caramel eyes.”

Sure,” Kyuhyun merengkuh Lynn dalam dekapannya. “Hanya masalah waktu hingga besok kau menjadi milikku sepenuhnya, Adelynn Lee.”

***

Janji terucap. Mengikat dengan kuat dua insan untuk menjadi satu bagian. Untuk saling memiliki dan mempertahankan, melindungi dan menghargai, serta mengasihi dan mencintai. Mengarungi kehidupan dalam jemari yang terjalin. Merajut harapan dan asa membangun sebuah maghligai yang direstui.

Bagaimana menggambarkan perasaan membuncah kedua keturunan adam tersebut? Hingga kalian mengerti bahwa mereka bahagia dengan awal yang mereka ciptakan. Menyimpan kenangan buruk di sudut kalbu. Dan menatap dengan keyakinan pada masa yang akan dilewati.

“Lihatlah, mereka menyaksikanmu dengan bahagia di bawah naungan cherry blossom. Mengatakan padaku bahwa aku harus menjaga putri mereka satu-satunya,” Kyuhyun mengusap pipi Lynn dan mengangkat wajah gadis itu utntuk menghadapnya. “Dan aku sepakat mengucap janji untuk menjagamu dengan segenap jiwa ragaku.”

“Kalau begitu jangan meninggalkanku.”

“Tidak. Bahkan Tuhan telah mengikat hatiku padamu dengan erat.” Kyuhyun meletakkan tangan kirinya di dadanya kemudian berpindah di dada Lynn. “Di sini, ikatan itu tidak akan terlepas. Kita akan berbahagia bersama,” tangan kiri Kyuhyun melingkar di pinggang Lynn. Menarik gadis tersebut merapat padanya. “I do love you, Adelynn Cho,” bisiknya sebelum mendaratkan sebuah kecupan lembut di kening Lynn.

Setetes air mata membuat garis tunggal di pipi Lynn sebagai tanda luapan kebahagiaan. “I do love you, too, Kyuhyun Cho.”

END*

 

“Kenangan akan tetap tertinggal bersama kita. Menjadi suatu bagian dalam lembar kehidupan yang kita jalani. Tidak bisa terhapus, bagaimana pun caranya kau menghindari bagian terburuknya. Namun, sejarah itulah yang harus kita lalui untuk menjadi pribadi sekarang. Menoleh ke belakang, di masa lalumu, jika itu membuatmu mengerti perjuanganmu melampauinya. Dan setelahnya, menataplah ke depan dengan harapanmu” –Arsvio

 

 

[1] Merah gelap
[2] Merah muda yang terang
[3] I’ll try
[4] Get out from there
[5] KOSPI (Korea Composite Stock Price Index) atau sering disebut KOSPI 200 merupakan indeks utama di Korea yang terdiri dari 200 perusahaan besar yang mewakili kurang lebih 70% dari keseluruhan nilai kapitalisasi pasar saham yang terdaftar di Korea Stock Exchange (KSE). (Kospi Indeks, belajar-index.blogspot.com dan www.en.wikipedia.org)
[6] Trend Bullish digunakan untuk menggambarkan pergerakan harga yang naik, lawannya adalah trend Bearish.
[7] Operating system Android adalah system operasi yang berbasis Linux untuk telepon seluler seperti smartphone dan tablet. Android menyediakan platform terbuka bagi para pengembang untuk menciptakan aplikasi mereka sendiri untuk digunakan oleh bermacam piranti bergerak. (Android, www.id.wikipedia.org)
[8] Sajangnim atau persiden direktur (dalam bahasa Indonesia) adalah sebutan untuk orang di posisi tertinggi sebuah perusahaan.
[9] Cherry Blossom = bunga sakura
[10] Bollinger bands diciptakan oleh John Bollinger pada awal 1980 untuk membantu membandingkan volatilitas dan harga relative dalam suatu periode analisis pergerakan harga saham. (Bollinger bands, www.belajarforex.com)
[11] Arachi = mengerti
[12] Gunung Maisan atau dikenal dengan gunung pengantin terdiri dari dua puncak yaitu Ammaisan (puncak wanita, 667 m) dan Sutmaisan (puncak pria, 667m). Sejak di masa Joseon dikenal dengan ‘Maisan’ karena terlihat seperti telinga kuda. (Mt. Mai/Maisan, www.invil.org)
[13] Jinan Maisan Cherry Blossom festival diadakan pada bulan April ketika sakura berkembang. (Maisan Festival, www.invil.org)
[14] You Are My Song merupakan salah satu lagu di album Forevermore milik David Archuleta.

9 Comments (+add yours?)

  1. Laili
    Nov 10, 2015 @ 17:31:32

    Wah…. gila so sweet….
    Keren bgt pokoknya. Love this story so much. Keep writing….

    Reply

  2. Monika sbr
    Nov 13, 2015 @ 20:58:11

    So sweet banget!!!
    Akhirnya jay bisa menyakinkan Lyn bahwa lyn sebenarnya mencintai kyuhyun, hingga akhirnya mereka menikah.

    Reply

  3. inggarkichulsung
    Nov 14, 2015 @ 13:18:40

    Finally bs baca ff karya Arum lg selain di purpleonact, kangen banget ff Lynn dan Kyu oppa, finally Lyn bs menatap ke depan dan berusaha melepaskan trauma nya terhadap masa lalu yg mnrt ia suram krn org2 yg ia cintai meninggalkannya, Kyu oppa dtg u membuat Lyn mjd lbh baik lagi dan menerima cinta yg baru lg, so sweet

    Reply

  4. kyukyu
    Nov 15, 2015 @ 11:09:10

    Di awal cerita agak bingung jay itu siapa. ngiranya sich sahabatnya. Tapi diakhir cerita baru tahu dia seorang guardian angel…:)

    Reply

  5. Rrin'sLove
    Nov 16, 2015 @ 14:57:50

    Aaaaaaaaaaaaak
    author-nim
    kamu disini jugaaaa
    kyaaaaaaaaaaaa
    aku kehilangan kalian di blog pribadi kalian
    kenapa dengan blog itu ??
    kemaren aku minta pw MLC tapi uda gak ingat pw lagi katanya

    aaaaaah
    ya ampuuuuun
    aku selalu suka sama Adelynn – Kyuhyun
    mereka ini keren kali disetiap ff kalian
    daaaaaaan aku selalu suka dengan apa yg ditulis
    itu
    seperti segala sesuatu yg berbau perusahaan itu
    aaah berasa kali aura rapatnya
    karena benar2 menampilakn laju pergerakan sahamnya

    segala2nya lah aku sukaaaaa

    fighting ya ^^~!

    Reply

  6. ayu diyah
    Nov 26, 2015 @ 08:49:45

    ahhhh… author-nim, aku suka ff kmu
    aduuhhh,, bahasanya keren bngt
    aku suka deh,,, ceritanya juga keren.. hihi

    jayden itu guardian angel toh,,, awalnya aku kira pacarnya lynn,,

    Reply

  7. ElvaZavier
    Nov 26, 2015 @ 14:29:07

    wuahh .. ffnya daebakk .. bahasanya daebakk …
    Jayden ternyata malaikat yaa .. awalnya aku kira cowok dalam mimpi Lynn. pacar khayalan gitu .. 😀
    Sukses buat ffnya eonnie .. 🙂

    Reply

  8. kimmayurinerays
    Dec 05, 2015 @ 07:54:16

    Cerita bgus,, sdikit mmbingungkan dgn tokoh jayden..but ttp ok koq critanya.. bnyk pnjlasan yg detail shingga mnbah nilai plus untuk cerita nya…
    Ttp smngat yah, fighting : )

    Reply

  9. ika yulianti
    May 15, 2016 @ 02:24:52

    Omoooo omooo omoo jinjja jinjja daebak.
    Ini ff paling keren and paling berkesan yg pernah aku baca.👍👍👏💞💞💝😊😊

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: