If You Ever Come Back

90-2

Author : Azizashi_You

Tittle : If You Ever Come Back
Cast : Cho Kyuhyun, Kim So-Eun (OC) and other
Genre : Romance
Rating : PG-16
Length : One-Shot

Blog : http://theskystale.wordpress.com/

 

Jika kau sedang berdiri membawa kopermu

Tapi kau tak bisa naik kereta

“Maaf, Nona.”

So-Eun mengangkat kepalanya. Menengadah ke atas untuk melihat siapa yang memantaunya. Kemudian tersenyum canggung, tidak benar-benar tersenyum sebenarnya. Hanya melebarkan bibir.

“Ya, ada apa…”

“Ini sudah empat kali pemberhentian. Tapi Nona masih duduk di sini.” Mengerti, tapi So-Eun tak menjawab apa-apa. Hanya bisa menunduk meminta maaf dan mengatakan bahwa dia akan menunggu pemberhentian kereta selanjutnya.

Dua jam lebih ia terduduk di sana tanpa melakukan apa-apa. Jadi jelas jika petugas tadi bertanya padanya. Bahkan setelah ada beberapa kereta yang berhenti di depannya. Membuat semua orang berbondong-bondong masuk ke dalam kereta tersebut. Berjalan, berlalu-lalang. Berlomba untuk bisa sampai di dalam kereta tanpa terlambat.

Tapi So-Eun tidak. Berapapun kereta yang berhenti di depannya. Ia tetap merasa kaku dan aneh. Semua badannya rasanya terasa sakit jika digunakan untuk bangkit dari bangku tempatnya duduk, dan berjalan masuk ke dalam kereta. Dia tahu tujuannya kemana, dia tahu kereta apa yang seharusnya ia gunakan. Tapi dia tidak tahu, kapan dia sanggup masuk ke dalam kereta yang tepat.

Masih dengan punggung yang bersandar di kursi panjang tempat para penumpang duduk menunggu kereta berikutnya. So-Eun menatap kosong ke depan. Tak perduli dengan apapun yang terjadi di sekelilingnya. Bahkan pada Koper besar berwarna hitam, yang ia bawa terjatuh di samping kakinya karena tersenggol orang lain yang sedang berlari terburu-buru.

Karena… pikirannya. Melayang lagi.

Segalanya masih seperti saat kau tinggalkan

aku masih tak bisa tidur

“Astaga, apa kau melihat PresDir? Dia tampak mengerikan.”

“Benar. Kau tidak lihat tatapannya yang mengintimidasi itu? Dia seperti singa yang siap mengamuk kapan saja.”

“Kudengar, hari ini saja dia sudah memecat enam orang hanya karena melakukan beberapa kesalahan percetakan dalam laporan.”

“Apa? Enam orang? Kenapa dia sesadis itu? Ya Tuhan…”

“Hey, apa kau tidak tahu, akhir-akhir ini dia sedang terguncang.”

“Maksudmu?”

“Aku dengar dari beberapa karyawan divisi lainnya. Dia baru saja bertengkar dengan Istrinya. Lalu istrinya pergi dari rumah. Karena itu dia jadi berubah drastis.”

“Apa? Pantas saja dia jadi lebih kejam. Ternyata sedang ada masalah dengan rumah tangganya?”

Kyu-Hyun mendengar semuanya. Apapun yang dikatakan dua gadis di depannya yang asik bergosip daripada berkutat dengan setumpuk berkas. Sama sekali tidak menyadari bahwa bahan gosipan mereka tepat ada di belakang. Tapi, daripada menghentak keduanya karena sudah berlaku tidak sopan—terutama ini jam kerja. Kyu-Hyun memundurkan niatnya untuk menegur dua wanita di depannya itu karena Dae-Hyun—sang sekertaris—sudah lebih dulu melakukannya. Menegur dua wanita itu lalu mengusirnya cepat dari sana.

Setelah dua wanita tadi lenyap. Kyu-Hyun dan Dae-Hyun kembali berjalan. Kali ini menuju lift yang ada di ujung lorong dan menekan tombol yang ada di papan digital pada sisi lift.

Menghembuskan napas sejenak, Kyu-Hyun lalu berujar. “Siapa mereka tadi?”

“Karyawan divisi pemasaran. Mereka itu—“

“Pecat keduanya.” Kata Kyu-Hyun datar. “Aku tidak sudi menggaji orang-orang yang sibuk menggosip daripada bekerja seperti mereka.”

“Tapi PresDir. Mereka itu hanya—“ lagi-lagi ucapan Dae-Hyun terpotong. Bertepatan dengan dentingan lift dan pintu kacanya yang terbuka. Kyu-Hyun serta-merta melangkah masuk. Dua detik setelahnya Dae-Hyun mengikuti dan pintu lift kembali tertutup.

Baru pada saat itu Dae-Hyun menghela napasnya keras sambil meletakkan kedua tangannya di sisi pinggang. Menatap Kyu-Hyun tajam dan jengah. “Demi Tuhan, Kyu-Hyun. Aku sudah mendengar enam kali perintah pemecatan hari ini. Dan aku tidak mau jika perusahaan kita masuk hot-news Korea karena melakukan pemecatan massal dalam sehari.”

Kyu-Hyun diam. Tanpa menaggapi dan hanya bersandar pada dinding lift.

Membuat Dae-Hyun kesal. Melepas semua tata-kramanya sebagai seorang sekertaris pada atasannya. Yang seharusnya saat ini ia lakukan adalah sikap seorang adik, pada kakaknya yang mulai tidak waras.

“Sebenarnya ada apa denganmu?!” teriak Dae-Hyun emosi. ”Hari ini kau lebih parah dari sebelumnya. Kau tidak perduli peninjauan profit. Mengabaikan rapat dewan direksi. Memecat pegawai. Kalau begini terus saham kita bisa turun drastis.”

“Memangnya aku peduli?”

Mendengar itu, Dae-Hyun menunduk. Memang, seharusnya Kyu-Hyun tak perduli. Perusahaan sebesar Hyun’s Group dan dipimpin oleh orang genius macam Kyu-Hyun. Mungkin seluruh dunia tidak akan pernah percaya bahwa perusahaannya bisa bangkrut. Tapi tetap saja Dae-Hyun merasa kesal. Kepalanya ia sengaja tundukkan untuk menatap ujung sepatunya. Kelakuan kecil demi meredam amarah yang tiba-tiba melunjak.

“Kenapa? Kau bilang profesional itu penting. Tapi sekarang mana kata profesionalmu itu? Karena So-Eun pergi dari rumah, kau juga berniat membuat pegawaimu juga ikut pergi dari perusahaan?”

Meski tak ada sahutan apapun dari Kakaknya. Tapi Dae-Hyun bisa mendengar deruan napas Kyu-Hyun yang semakin berat.

Masih menunduk, dan tatapan yang mulai menerawang. Dae-Hyun melanjutkan. “Aku tahu pasti rasanya berat. Tapi kau tetap harus hidup normal, Kyu-Hyun. Meski kau menolak. Kau tidak boleh egois. So-Eun tetap butuh waktu, jadi biarkan semuanya berjalan. Biarkan dia tenang, sementara kau menata dirimu lebih baik. Setelah itu, bicaralah dengannya dan mulai kembali.”

Perlahan, satu helaan napas Dae-Hyun lakukan. Sebelum ia mendongak. Mendapati Kyu-Hyun yang masih bersandar di dinding lift. Memejamkan mata, yakin bahwa Kakaknya itu mengambil sela waktu tidurnya. Ya, waktu tidurnya yang direnggut paksa karena urusan pikiran rumah tangga. Bukan urusan pikiran pekerjaan—meski dulunya seperti itu.

Menghela lagi, tatapan Dae-Hyun kian sayu. Sedikit iba dengan kondisi Kakakknya yang aut-autan sejak sehari kemarin. Diluar Kyu-Hyun tetap disegani semua klien dan ditunduki semua karyawan. Tapi jika seperti ini. Jika hanya tinggal mereka berdua. Kyu-Hyun langsung bertransformasi menjadi pria lemah yang menderita penyakit kronis.

Rapuh.

Jadi, karena tidak mau mengganggu Kyu-Hyun yang sedang memejamkan mata itu. Dae-Hyun ikut menyandarkan dirinya di dinding lift. Tepat di samping Kyu-Hyun. Menatap angka digital di sisi atas pintu lift yang terus berubah-ubah. 21… 22… 23…

Masih ada tujuh lantai lagi.

Dan ketika angka kian bertambah, sadar bahwa mereka hampir sampai di lantai terpuncak tempat ruangan Kyu-Hyun berada. Dae-Hyun menegakkan badan. Berbalik ke samping dan hendak memantau Kyu-Hyun.

Jika saja…

Ia tidak melihat pria itu meneteskan satu air matanya yang turun dari kelopak mata yang terpejam.

Dan jika kini kau sedang tutupi wajahmu

Tapi kau tak bisa sembunyikan lukamu

Akhirnya So-Eun berhasil. Masuk ke dalam kereta dan duduk di salah satu bangku yang ada di sudut kereta. Menyandarkan kopernya di samping kaki, lalu kepala yang ia sandarkan di samping jendela kereta. Menatap ke luar dengan helaan napas berkali-kali. Merasa berat.

“Selamat siang.”

So-Eun sedikit menoleh ke samping. Lagi-lagi melebarkan bibir agar terlihat sopan saat menyambut seorang wanita cantik yang mendudukkan diri di sampingnya.

“Anda ingin pergi ke Busan juga?”

So-Eun mengangguk pelan. Ditanggapi dengan senyuman tipis milik wanita di sampingnya. “Aku juga ingin ke Busan.”

Tentu saja, So-Eun tahu itu. Karena mereka menggunakan kereta yang sama. Jurusan Busan.

Tapi setelahnya, So-Eun menolehkan lagi kepala ke samping. Menatap keluar jendela. Tepat jatuh pada haparan jalanan yang diberi dinding-dinding kusam. Tidak ada yang menarik pada pemandangan itu, tapi rasanya So-Eun lebih baik begitu saja. Untuk beberapa menit ke depan. Sampai wanita di sampingnya kembali berbicara.

“Ng… salam kenal, Nona. Namaku Yu-Ra.”

Lagi. So-Eun menoleh, tanpa menolak menyambut uluran tangan Yu-Ra yang terasa begitu lembut.

“So-Eun.”

“So-Eun? Nama yang bagus.”

“Terima kasih.”

Baiklah, sudah cukup basa-basinya. Meskipun Yu-Ra terlihat seperti wanita yang sangat baik dan ramah. Tapi So-Eun sedang tidak mau bersapa-ria. Suasana hatinya sedang porak-poranda, membuat semua yang ia lakukan, atau yang akan ia lakukan nyaris kacau. Karena itu lebih baik ia terdiam. Tidak mau melakukan apa-apa daripada menanggapi Yu-Ra dan akhirnya malah membuat wanita itu risih karena mendapati dirinya yang sedang kacau.

“So-Eun ssi untuk apa pergi ke Busan?”

Mendengar Yu-Ra yang gencar menanyainya, So-Eun tak punya hak untuk marah. Dia tahu Yu-Ra hanya sedang mengajaknya mengobrol. Mengakrabkan diri untuk tiga jam perjalanan ke depan.

Tapi dengan semua perasaan yang sedang ia tanggung, So-Eun hanya menjawab singkat. “Ada urusan penting.”

“Urusan penting seperti apa?” tanya Yu-Ra lagi. Kamudian langsung tersadar kalau ia begitu lancang. “Ah, maaf. Aku terlalu banyak bicara, ya?”

Setelah So-Eun melebarkan bibirnya seolah mengatakan ‘tidak apa-apa’, ia lalu menyandarkan dirinya ke punggung kursi. Mencoba memejamkan mata.

“Kalau aku ingin ke Busan ingin menemui Anakku.”

Masih terdiam, So-Eun tak bereaksi apa-apa, walau telinganya tetap mendengar apapun yang Yu-Ra katakan.

“Akhir pekan ini, dia bilang liburannya sangat panjang. Dia bilang dia ingin liburan di Busan. Maka dari itu sekarang aku menyusulnya.”

Satu helaan So-Eun lakukan. Dia menyerah. Mengambil keputusan singkat. Daripada menenggelamkan diri pada pikiran dan perasaannya yang tak berujung. Lebih baik ia melampiaskannya pada hal lain. Membuka mata dan ikut mengobrol dengan Yu-Ra juga sepertinya tidak buruk. Semoga saja dia bisa melepas pikirannya sejenak.

Jadi yang So-Eun lakukan selanjutnya adalah memiringkan tubuhnya sedikit ke samping. Menatap Yu-Ra sedikit penasaran.

“Anakmu tinggal di Busan?”

“Tidak. Dia tinggal di Seoul bersamaku, tapi dia pergi ke Busan lebih dulu bersama Ayahnya.”

“Ayah…”

“Iya, Suamiku.”

Tuhan…

Suamiku…

Kenapa bukannya merasa lebih reda. So-Eun merasa pelupuk matanya semakin berat?

“So-Eun ssi, kau tidak apa-apa?”

So-Eun menggeleng. Tapi sekuat apapun gelengannya. Tetap tidak ada yang bisa ia lakukan ketika air matanya jatuh, setetes.

Mendadak.

Mendengar kata suami.

Ia juga merindukan seseorang…

Suaminya.

Yang dia harap bisa semudah cara Yu-Ra mengucapkannya.

Suamiku…

Masih kutata dua piring di meja

Tapi makan tanpamu

Hari sudah menjelang malam ketika Kyu-Hyun sampai di rumah. Asal-asalan ia melepas sepatunya. Melempar jasnya ke sandaran sofa, lalu pergi ke dapur. Terkesan tergesa-gesa, namun ketika ia sampai di dapur. Kyu-Hyun mecelos, terpaku dengan kedua kakinya yang sulit digerakkan, serta matanya yang melebar kosong.

Benar.

Tidak mungkin dia ada di sini.

Akhirnya Kyu-Hyun melangkah gontai. Langsung mendudukkan dirinya pada kursi meja makan, menarik gelas yang ada di sana lalu menuangkannya dengan air. Setelah menenggaknya setengah, Kyu-Hyun terdiam. Perlahan mengangkat kepala untuk melihat ke arah jam dinding yang ada di atas lemari kaca pembatas dapur dan ruang tengah.

Jam setengah tujuh malam.

Biasanya, ketika jam itu, ia sampai di rumah. Akan ada seseorang yang menyambutnya, sedang berkutat di belakang meja makan sambil menata sesuatu. Lalu mengomelinya karena melempar jas sembarangan.

Biasanya.

Menolak otaknya berputar semakin lama, Kyu-Hyun cepat-cepat bangkit dari kursinya. Mendekat ke arah lemari kecil yang ada di sisi dinding, lalu mengeluarkan beberapa makanan dari sana. Memanaskannya sejenak—dengan usaha penuh karena ia tidak terbiasa dengan hal itu—kemudian menghidangkannya di atas meja makan.

Lagi-lagi terdiam. Kyu-Hyun tidak tahu apa yang salah dengan dirinya, tapi ia begitu sendu menatapi dua piring yang ia letakkan di atas meja. Kenapa pula tangannya harus menyiapkan dua porsi? Sementara yang ada di sana hanya dia. Sendiri.

lagi-lagi menolak otaknya agar berpikir lebih jauh, Kyu-Hyun menghela napas pelan. Berdalih bahwa ia sedang kelaparan dan butuh makan. Karena itu satu porsi saja mungkin tidak cukup. Jadi yang ia lakukan selanjutnya adalah menarik kursi meja makan. Mendudukinya, lalu meletakkan kedua tangan di atas meja, siap memegang sendok dan garpu lalu makan.

Itadakimasu.”

Sekali Kyu-Hyun menggerakkan tangannya untuk memasukkan makanan ke dalam mulutnya, sekali itu juga gerakannya terhenti di udara. Bersamaan dengan suaranya barusan, yang terlantun ringan.

Baru sadar, bahwa sahutan selamat makannya itu, bukanlah sahutan yang seharusnya ia ucapkan saat sendirian.

Biasanya, ketika makan malam, akan ada seseorang yang mengucapkan ‘itadakimasu’ sebelum menyuapkan makanan ke dalam mulut dan ia akan menyahut dengan ucapan yang sama. Lalu tersenyum dan bertanya apa makanannya enak.

Kyu-Hyun memejamkan mata lelah.

Biasanya.

Dengan terpaksa, sebelum dirinya semakin tidak waras, Kyu-Hyun kembali menggerakkan tangannya. Memasukkan makanan ke dalam mulutnya, lantas mengunyahnya pelan. Untuk pertama kali, Kyu-Hyun berujar lain saat di meja makan. Hari ini, jika ada seseorang yang bertanya padanya apa makanannya enak, dia akan menjawab.

Tidak.

Dan malam itu Kyu-Hyun hanya berhasil memasukkan dua suap makanan ke dalam mulutnya.

Jika yang kau ingat adalah pertengkaran

Dan yang kau rindu adalah hal-hal kecil

“Oh,” respon So-Eun seadanya. Tanpa tahu harus tersenyum atau bagaimana. Karena wajahnya tiba-tiba saja terasa kaku. Tapi sepertinya Yu-Ra tidak menyadarinya. Karena gadis itu kini sedang memegang ponsel dan menempelkannya di samping telinga. Sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon. Beberpa kali So-Eun mendengar Yu-Ra memanggil dengan panggilan manja, tersenyu sendiri, lalu akhirnya terkekeh.

Setelah akhirnya panggilan tersebut selesai dan Yu-Ra kembali fokus padanya. Gadis itu tersenyum lebar. “Maaf, tadi ada telepon dari Suamiku.”

So-Eun berdeham sejenak. Tiba-tiba merasa tenggorokannya semakin serak. “Apa ada masalah?”

“Tidak,” sahut Yu-Ra cepat. ”Dia hanya bertanya kapan aku sampai di Busan, karena dia dan Zashi akan menjemput.”

“Zashi…”

“Dia nama Anakku. Puteri ku yang sangat manis.” Yu-Ra tersenyum saat mengatakannya. Seolah membayangkan wajah Puteri kecilnya yang sangat imut dan menggemaskan.

“Namanya terdengar bukan dari Korea.”

“Memang, karena Suamiku orang Swiss, jadi kucampur namanya dengan nama Korea dan Swiss.”

So-Eun mengangguk pelan. Melihat wajah Yu-Ra yang begitu cerah. Gadis itu pasti sedang sangat bahagia, dan keadaan itu seratus delapan puluh derajat berbanding terbalik dengannya.

“Oh, ya. So-Eun ssi apa kau tahu dimana toko kue paling enak di Busan?”

“Apa?”

“Ng, sebenarnya aku ingin membelikan kejutan untuk Suami dan Anakku dengan membelikan kue. Mereka berdua hampir punya selera yang sama. Terlalu tergila-gila dengan kue. Tapi aku tidak tahu dimana toko kue paling enak di Busan. Mungkin So-Eun ssi tahu?”

So-Eun mengerjap dua kali. Sejenak memiringkan kepala. “Ada, di dekat persimpangan stasiun kereta. Di sana ada toko kue yang sangat enak. Aku juga sering membelinya.”

“So-Eun ssi juga suka kue?”

“Ya, selain itu Suamiku juga…”

Apa.

Yu-Ra terbelalak. “So-Eun ssi sudah punya suami? Ya ampun. Apa kita berjodoh? Kita sama-sama wanita muda yang sudah menikah. Aku senang sekali.”

Membalas singkat senyuman Yu-Ra padanya. Diam-diam So-Eun menunduk. Menatap tautan tangannya yang ada di atas pangkuan. Apa yang baru saja ia katakan? Kenapa ia semudah itu mengatakannya? Kenapa semudah itu ia mengingatnya?

Kenapa semudah itu ia mengingat bahwa pria itu. Juga menyukai kue.

Dan uang.

Seketika So-Eun memejamkan matanya rapat-rapat.

Dan dengan biarkan pintu terbuka

Ku bahayakan segala yang kupunya

Karena Tak ada yang bisa hilang dariku

Dalam kehancuran yang belum kau ambil

Kyu-Hyun terbangun. Meski matanya terasa berat dan punggungnya nyaris remuk. Ia tidak meringis ketika harus mendudukkan diri dan mengusap wajahnya sebentar. Sebelum melirik ponsel canggihnya dan melihat jam digital yang ada di sana.

02.26

Dan kalau Kyu-Hyun tidak salah ingat, ia baru saja berhasil memejamkan matanya sekitar satu jam yang lalu.

Serta-merta ia meletakkan ponselnya kembali ke atas meja. Lalu membaringkan tubuhnya di atas sofa yang menjadi alas tidurnya sedari tadi. Meski gerakannya itu membuat perutnya sedikit terasa sakit dan panas, Kyu-Hyun tetap tak meringis. Ia tetap merebahkan kepalanya pada bantalan kecil yang ada di sana. Lalu membiarkan kakinya terjulur melewati lengan sofa yang lain. Karena kakinya yang terlalu panjang. Bersempit-sempit di sofa. Dianggapnya lebih baik, daripada harus menikmati empuknya ranjang mahal yang sudah tersedia di dalam kamar.

Pagi menjelang, Kyu-Hyun menyerah. Malam itu ia lewati tanpa terlelap. Hanya memejamkan mata lalu bergerak kesana-kemari. Yang berakibat pada matanya yang terasa berat dan pasti menghitam.

Ia hendak bangkit menuju kamar. Bersiap untuk mandi dan mengganti pakaiannya lalu berangkat lagi ke kantor. Sebelum sudut matanya menangkap sesuatu. Tepat ke arah ambang pintu utama rumah yang masih menjeblak terbuka. Untuk beberapa saat Kyu-Hyun terdiam. Mengingat-mengingat apa saja yang sudah ia lakukan semalam. Setelah pulang ke rumah. Melempar jas. Makan malam yang hanya dua suap. Lalu berusaha tertidur di atas sofa yang sama sekali tidak nyaman.

Benar, dari semua yang ia lakukan, Kyu-Hyun tidak ingat kalau ia sempat menutup pintu kembali.

Jadi sepanjang malam pintu itu terbuka?

Seharusnya Kyu-Hyun menolehkan kepalanya ke segala arah. Memindai tanpa cela setiap sisi rumahnya. Lantas memastikan bahwa tidak ada satu barangpun yang lepas, atau enyah dari tempatnya. Tidak menutup kemungkinan bukan. Jika dengan pintu yang semalaman menjeblak terbuka akan mengundang seseorang yang berniat jahat merebut harta-bendanya?

Seharusnya ia berlari kesetanan lalu mengecek apa beberapa tumpukan uangnya yang ia simpan di dalam brangkas masih utuh atau tidak.

Seharusnya ia bergerak. Memastikan bahwa empat mobil mahalnya di garasi masih terparkir atau tidak.

Seharusnya.

Ia melakukan sesuatu.

Demi mengetahui apa ada kekayaannya yang berkurang atau menghilang.

Tapi tidak.

Ia diam.

Alih-alih bergerak, Kyu-Hyun lebih memilih untuk membuka langkah. Berjalan menuju kamar dan melakukan rencana awalnya. Mandi. Berganti pakaian, tanpa sarapan lantas merampas tasnya yang tergeletak sembarangan di lantai. Hendak pergi ke kantor. Lagi.

Ketika ia sampai di ambang pintu, Kyu-Hyun berhenti. Berbalik ke belakang lalu menatap sekeliling rumahnya. Sebelum ia kembali bergerak, meraih sesuatu di dalam tas kerjanya. Lalu meletakkannya di dalam pot bunga mawar yang ada tepat di samping pintu. Kemudian ia bergerak lagi menuju sisi dinding. Menyalakan sakelar lampu hingga seluruh ruangan semakin terang.

Setelah itu, Kyu-Hyun baru melangkah kembali ke arah ambang pintu. Menutupnya. Tanpa menguncinya. Lalu berbalik. Masuk ke dalam salah satu mobilnya—yang ternyata masih utuh di dalam garasi—lalu pergi dari sana.

Peduli amat tentang kekayaan.

Peduli amat tentang harta.

Jika dia kembali. Maka rumah akan terbuka lebar untuknya.

Peduli amat jika rumahnya dibobol habis-habisan.

Kyu-Hyun hanya mau…

Dia kembali.

Meski seharunya.

Ia peduli

Setengah mati.

Dan jika kau di sana berusaha untuk lanjutkan hidup

Tapi ada sesuatu yang menarikmu kembali

So-Eun tidak tahu berapa lama ia tertidur dengan posisi tidak nyaman. Tapi ketika ia membuka mata. Kereta masih berjalan. Dan hari di luar sana sudah cerah. Pagi menyapa.

Dahi So-Eun berkerut. “Bukankah kita hanya tiga jam perjalanan?” katanya ditujukan pada Yu-Ra yang kini sibuk menyisir rambutnya dengan sisir, sambil sebelah tangannya memegang cermin kecil.

“Benar, tapi selama kau tidur. Ada pemberitahuan dari pihak petugas kalau ada beberapa hal sehingga kecepatan kereta harus dikurangi. Katanya sedang ada kepulan asap yang sangat tebal di jalan sehingga kereta ini tidak bisa melaju cepat.”

“Itu kenapa kita lebih lambat sampai?”

Yu-Ra mengangguk. Lantas memasukkan cermin dan sisirnya ke dalam tas. Beralih menatap So-Eun dengan mata berbinar. Selalu begitu. “Ayo siap-siap. Setengah jam lagi kita sampai di stasiun Busan.”

So-Eun mengangguk. Kemudian hendak mencari-cari tasnya ketika sudut matanya melihat tulisan kecil yang ada di ujung tas, yang ada di atas pangkuan Yu-Ra. Matanya sedikit menyipit. “Channel?”

Yu-Ra tersentak. Ikut memandang tas yang ada di pangkuannya lalu tersenyum aneh. “Ya, aku memiliki beberapa di rumah.”

“Wah,” So-Eun tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Berpikiran bahwa Yu-Ra, pasti benar-benar kaya. Mempunya merek tas paling mahal di dunia. Beberapa lagi.

So-Eun saja tidak punya. Satupun. Meski ia bisa saja meminta Suaminya untuk membelikannya, beberapa.

Tidak, jangan mengingat pria itu lagi.

Tiba-tiba ada dorongan aneh dari dalam diri So-Eun untuk bertanya. “Suamimu yang membelikannya?”

“Apa? Tidak. Aku membelinya dengan uangku sendiri.”

“Uangmu?”

“Ya, aku memang bekerja. Dan penghasilanku kugunakan beberapa untuk membeli keperluanku.”

So-Eun baru tahu itu. Ia kira, dengan tampang menyenangkan dan suara lembut. Yu-Ra lebih terlihat seperti Ibu rumah tangga yang menyukai Anak-anak daripada kaum wanita karir-sosialita.

“Kau bekerja?”

Yu-Ra mengangguk. “General Manager di Hyundai Store.”

So-Eun tahu tidak ada satupun selipan nada pamer dari cara Yu-Ra berbicara. Tapi tetap saja ia menganga tak percaya. “Jadi kau seorang… GM?”

“Bisa dibilang begitu.”

“Senang sekali bisa sesukses dirimu.”

Yu-Ra terkekeh pelan. “Kadang-kadang.” Yang itu, baru terselip nada lain yang membuat So-Eun tertarik.

“Kadang-kadang?”

“Kau tahu,” Yu-Ra mengangkat bahunya asal. “Kadang pekerjaan itu membuatku lelah. Membagi waktu sana-sini antara rumah dan kantor.”

Karena So-Eun tak menanggapi apa-apa, jadi Yu-Ra melanjutkan. “Seluruh hariku nyaris habis dengan berkutat di balik komputer. Menghitung ini dan itu. Memperkirakan ini dan itu. Berangkat saat Zashi belum bangun, dan pulang ketika Zashi sudah tidur.” Katanya lemah. “Terkadang aku merasa lelah dan ingin berhenti, tapi GM adalah impianku sejak dulu, dan aku tak mungkin melepaskannya begitu saja.”

“Bagaimana dengan suamimu?” lagi-lagi mulut So-Eun bergerak tanpa kendali.

Yu-Ra menolehkan tatapannya ke luar jendela kereta. Menatap hamparan kota yang mulai padat dengan beberapa kendaraan yang berhenti serentak.

“Dia juga bekerja. Dan aku bersyukur sekali bisa memiliknya.”

So-Eun melihat Yu-Ra mengangkat bibirnya sedikit. Sambil menerawang ke arah lain. Seperti mengingat-ingat sesuatu. “Dia bekerja sebagai pegawai pabrik biasa di Seoul. Jam kerjanya lebih sedikit dariku. Dia berangkat jam delapan pagi, setelah menyiapkan sarapan untuk kami, dan mengantar Zashi ke sekolah. Lalu pulang jam lima sore, setelah menjemput Zashi dan sama-sama pulang ke rumah.”

Tidak bisa menolak. So-Eun merasa tersentuh dengan cerita itu. Keterbandingan yang terbalik. Posisi yang biasanya ia tahu mutlak, kini harus ia dengar lagi dengan arah yang berbeda.

“Setiap hari, suamiku yang menyiapkan semua keperluan rumah. Memasak, membersihkan rumah, mengurus Zashi. Bahkan beberapa kali dia juga yang mencuci baju-baju kami. Untuk itu aku merasa jahat sebagai seorang Istri.” Karena melihat wajah Yu-Ra yang sedikit murung. Tidak tahu mengapa So-Eun ingin sekali menggerakan tangannya lalu meletakkannya di atas lutut Yu-Ra.

“Tapi untungnya ia mengerti. Dia selalu ada dan bersikap seperti suami yang sempurna.”

“Yu-Ra,” pantau So-Eun serak. Yu-Ra menoleh padanya.

“Apa kau merasa bahwa kau dan suamimu timpang?”

Tanpa disangka, Yu-Ra terkekeh pelan padanya. “Sudah banyak sekali orang yang mengatakan itu padaku. Mereka selalu bilang kalau suamiku sungguh tidak pantas. Mana ada istri yang mencari nafkah utama. Sementara sang suami hanya bekerja sebagai pegawai pabrik.”

“Tapi aku selalu membantahnya.” Kata Yu-Ra lagi. “Mereka boleh membanding-bandingkan pekerjaanku dengan suami. Atau posisiku dengan suamiku yang terbalik. Tapi bagaimanapun, ia tetap seorang suami bagiku. Satu-satunya.”

“Kau tidak pernah keberatan dengan hal itu?” lagi-lagi So-Eun bertanya. Kali ini agak mendesak.

“Tidak,” jawab Yu-Ra tegas. “Aku tidak perduli dengan pekerjaanku. Karena bagiku dia tetap seorang suami.”

“Apa kau pernah bertanya bagaimana perasaan suamimu?”

“Dia pernah bilang kalau dia merasa bersalah. Dan akan berusaha untuk menjadi suami yang lebih baik agar aku tidak harus menghabiskan waktu menjadi GM demi untuk menopang ekonomi keluarga agar tetap baik-baik saja. Tapi aku mengatakan bahwa tidak seharusnya ia merasa bersalah. Karena menjadi GM, bagiku bukanlah sebuah tuntutan. Tapi kemauan.”

“Yu-Ra,” So-Eun memanggil lagi. Dan kali ini mendapatkan fokus penuh dari gadis itu. Meski alisnya sedikit berkerut ketika menemukan ekspresi So-Eun yang begitu serius.

“Kau bilang, GM adalah impianmu. Dan suamimu adalah satu-satunya.” Yu-Ra terdiam. Ia membenarkan apa yang So-Eun katakan, meski tak mengerti apa maksudnya.

“Jika kau diberi pilihan.” So-Eun merasa suaranya semakin tercekat di tenggorokan. Sedikit kesusahan saat harus melanjutkan kalimatnya. “Mana yang akan kau pilih?”

“Maksudmu?”

“GM. Atau… suamimu?”

“Hey hey hey.” Yu-Ra memundurkan tubuhnya, memandang So-Eun terkejut. “Apa yang kau bicarakan? Kenapa aku harus memilih seperti itu?”

So-Eun menggeleng cepat. “Bagaimana… jika kau harus memilih?” Desaknya lagi. “Bertahan menjadi GM. Atau bertahan menjadi Istri dari suamimu?”

Hening untuk beberapa saat. Dan selama itu So-Eun memasang fokus penuh pada Yu-Ra. Tak melepaskan kontak mata mereka. Dengan jantung berdebar. Dan hati yang terus harap-harap cemas. So-Eun tak bisa menahan tangannya untuk tidak meremas lutut Yu-Ra.

Hingga detik berikutnya, Yu-Ra berujar. Datar. Tanpa beban. Yang nyaris berbuat So-Eun tertohok.

“GM.”

Benar.

Ternyata memang benar.

Semua orang kaya seperti itu.

Dengan gerakan lemas, So-Eun melepas tangannya dari lutut Yu-Ra lalu menunduk. Siap dengan kedua matanya yang ingin mengeluarkan air mata.

“Aku akan melepaskannya.”

Seketika So-Eun mendongak. Matanya yang basah menatap ke arah Yu-Ra yang sedang tersenyum kecil. “Aku malah selalu berharap pilihan itu pernah ada. Jadi aku punya alasan untuk melepas jabatanku dan berdiam di rumah. Mengasuh Anakku dan menyambut Suamiku pulang kerja. Membersihkan rumah, memasak, dan bercengkrama dengan tetangga.”

“Itu pasti lebih menyenangkan daripada harus berdiam diri di kantor dengan tumpukan berkas yang tidak pernah habis.” Lanjutnya kemudian.

Mata So-Eun berbinar. Dan satu tetesan air mata meluncur dari sudut matanya. Ia mendekat. kembali mengulurkan tangannya. Kali ini untuk menyentuh tangan Yu-Ra hingga tatapan mereka bertemu.

“Kau… akan memilih suamimu?”

“Tentu saja.”

“Kenapa? Bukankah GM impianmu sejak kecil?”

Yu-Ra tersenyum. Balas menggenggam tangan So-Eun, kemudian berujar. “Karena aku rela melepas apapun yang kupunya. Kecuali suamiku.”

Detik itu juga tangis So-Eun pecah. Tak bisa menahan diri untuk tidak menunduk lalu terisak. Membuat Yu-Ra kebingungan lalu serta-merta menarik So-Eun dan memeluknya. Membiarkan gadis itu menangis dengan alasan yang Yu-Ra tidak ketahui sama sekali. Tapi samar-samar ia bisa mendengar sesuatu dari sela isakan So-Eun.

“Kuharap… suamiku juga begitu.”

Dan andai aku masih bisa berharap ini telah usai

Tapi meskipun berharap hanya buang-buang waktu

“PresDir yakin tidak mau datang?”

Dae-Hyun menatap Kyu-Hyun lamat-lamat. Tidak percaya dengan penolakan yang baru saja Kyu-Hyun katakan.

“Dia klien terbesar untuk tender di Polandia. Bukankah PresDir ingin sekali memenangkan tender di sana?”

Daripada menanggapi ocehan Dae-Hyun, Kyu-Hyun lebih memilih untuk melepas kacamatanya. Menyandarkan punggung pada sandaran kursi. Sambil memijat pangkal hidungnya beberapa kali. Terasa lelah.

“Pres—“

“Tidak.” Sela Kyu-Hyun pelan. Datar. Dan tegas. Membuat Dae-Hyun terkejut dan serta-merta menaikkan kedua alisnya ke atas. Menatap sang PresDir dengan tatapan tidak percaya.

“PresDir yakin?” katanya lagi. “Dia benar-benar bisa menjadi peluang kita untuk memenangkan tender di—“

“Aku lelah.” Lagi-lagi Kyu-Hyun menghela. “Dan jangan mendesakku seolah aku gila tender.”

Tanpa bisa dicegah, mulut Dae-Hyun bergerak. “Kau memang begitu.”

Ketika tak mendapatkan repon apa-apa lagi dari PresDir-nya. Dae-Hyun tahu bahwa keputusan pria itu benar-benar bulat dan tak teragukan. Jadi ia berbalik. Menarik kembali proposal yang ia letakkan di atas meja Kyu-Hyun—yang sama sekali belum pria itu sentuh—lalu hendak berjalan menuju pintu keluar dari ruangan Kyu-Hyun.

Sebelum suara pria itu terdengar serak dan tertekan.

“Apa—aku memang terlihat seperti pria gila tender?”

Dae-Hyun tahu. Ada nada kesakitan yang terdengar begitu jelas dari cara pria itu berbicara. Kakaknya itu jelas-jelas merasa tertekan dengan apa yang dialami sekarang. Tapi Dae-Hyun tak bisa melakukan apa-apa untuk membantu.

Kakak Iparnya pergi, karena kelakuan Kyu-Hyun sendiri. Karena kebodohannya sendiri. Yang tidak bisa memilih, dari pilihan yang Kakak Iparnya berikan. Kakaknya itu begitu bodoh. Terlalu bodoh. Sampai tidak bisa mengungkapkan apa yang sebenarnya. Dan malah mengulur-ulur waktu hingga diri sendiri tersiksa.

Jadi Dae-Hyun berbalik. Menatap Kyu-Hyun tajam. Lalu berujar, “Aku punya koneksi luas dengan semua orang. Rumah sakit, kantor kejaksaan, pemerintah, pembunuh bayaranpun ada.”

Karena tak mengerti dengan arah bicara Dae-Hyun. Kyu-Hyun hanya diam sambil balas menatap pria itu.

“Jadi katakan.” Kata Dae-Hyun lagi. “Kau lebih memilih untuk menyuruhku menghubungi orang-orang besar demi tender menggiurkan. Atau bodyguard suruhan untuk menjaga Istrimu?”

“Itu bukan pilihan.”

“Tapi itu yang diminta Istrimu!” Dae-Hyun akhirnya meledak. Tidak bisa menahan diri dari sikap Kyu-Hyun yang berusaha datar, tapi gemetar. “Kau tahu pasti dia memintamu memilih. Dia hanya memintamu mengatakan. Dan kau belum menjawabnya sama sekali! Itu yang membuatnya sakit hati dan pergi meninggalkanmu!!”

“Dae-Hyun, kau—“

“Kyu-Hyun, harusnya kau katakan itu. Jangan jadi pengecut dan berdiam diri. Kau mau sampai kapan seperti ini, huh?! Sampai Istrimu mengirim surat gugatan cerai padamu?”

Seketika tatapan Kyu-Hyun menggelap. Rahangnya mengeras tapi ia tak mengatakan apa-apa.

“Dia terlalu tertekan dengan waktumu yang berbanding drastis dengannya. Tahukah kau bahwa dia sering sekali mengeluh padaku, dan meminta agar aku mengatur ulang semua jadwalmu sehingga kau bisa pulang ke rumah tepat waktu. Dan beristirahat dengan cukup di rumah. Tahukah kau bahwa setiap hari dia selalu menghubungiku dan bertanya apa kau sudah makan atau belum. Tahukan kau bahwa ada saat-saat dimana dia merengek padaku demi bisa membuatmu meluangkan waktu sedikit untuk menemuinya yang sedang sakit?!”

Tanpa menunggu jawaban Kyu-Hyun. Dae-Hyun kembali berteriak. “Tidak!! Kau tidak pernah tahu!! Karena kau selalu sibuk dengan tendermu yang berharga itu. Kau tidak pernah perduli dengan siapapun kecuali tendermu.”

“Dae—“

“Kalau kau terus diam tanpa mengatakan apapun.” napas Dae-Hyun memburu. Lepas sudah semua sikap sopan-santunnya. Dia terlalu tak tahan melihat Kakaknya yang memasang topeng begitu baik. Atau memang benar-benar asli. Dae-Hyun tidak tahu. Yang jelas. Hubungan rumah tangga Kakaknya harus diperbaiki. “Bersiap-siaplah menduda.”

Setelahnya Dae-Hyun keluar. Tak mengatakan apa-apa lagi setelah membanting pintu rungan Kyu-Hyun cukup kasar.

Sementara pria yang sedari tadi duduk di kursi kebesarannya itu terdiam. Tatapan matanya kosong dan punggungnya menegak sempurna. Tangannya yang ada di bawah meja terkepal. Meremas ujung jasnya hingga buku-buku jarinya memutih.

Lalu menunduk. Merasa kepalanya mulai pening dan berat. Kyu-Hyun tambah menunduk. Hingga dahinya menyentuh pinggiran meja.

Benar.

Dia harus mengatakannya.

Dia harus menjawab pilihan yang diberikan untuknya.

Rumah tangga.

Atau uang.

Tender perusahaan.

Atau…

Istrinya.

If you ever come back

Akan ada senyum di wajahku

Dan seakan kau tak pernah pergi

Akan ada cahaya di ruangan dan kunci di dalam pot

If you ever come back

If you ever come back

 

Kyu-Hyun kesetanan. Memicu mobilnya semaksimal mungkin. Membelah jalanan kota tanpa ampun. Mengabaikan lampu merah, peraturan jalanan. Masa bodo dengan itu semua. Karena tujuannya sekarang adalah. Pulang ke rumah.

Ia meninggalkan rapatnya di perusahaan. Ia meninggalkan laporannya yang belum di periksa. Ia meninggalkan berkas-berkasnya yang membutuhkan tanda tangannya. Ia meninggalkan semua itu dan tanpa ragu menginjak pedal gas semakin dalam. Terobsesi habis-habisan untuk bisa sampai ke rumah.

Tujuannya satu. Pulang ke rumah. Temukan nomor ponsel mertuanya. Lalu memastikan apakah istrinya ada di sana atau tidak.

Pikirannya berkecamuk. Kepalanya nyaris saja meledak karena terlalu banyak hal yang berseliweran di sana. Memaksanya untuk membagi fokus antara pikirannya sendiri atau jalanan yang sedang ia lewati. Sekuat tenaga Kyu-Hyun mengerahkan kemampuannya. Menyetir seperti pembalap ulung. Menyelip sana-sini. Bahkan tanpa ragu mengambil resiko saat nekat mengambil celah kecil di antara bus dan truk di depannya.

Dae-Hyun benar. Seharusnya ia menjawab pilihan itu dengan cepat. Seharusnya ia tidak perlu mengulur-ulur waktu. Hingga menyiksa diri sendiri. Seharunya ia hanya perlu mengatakan yang sebenarnya. Dan semua selesai.

Ya, selesai.

Jika saja dirinya bukan pria pengecut brengsek.

Setelah sampai di depan gerbang. Kyu-Hyun lantas mematikan mesin mobi. Secepat kilat membuka pintu mobil dan keluar dari sana tanpa menutupnya lagi. Ketika ia sadar bahwa pintu gerbang terbuka. Langkah Kyu-Hyun agak memelan. Apalagi ketika ia masuk ke dalam pelataran rumah. Lurus pada pintu rumahnya yang terbuka lebar. Dengan lampu yang masih menyala, beradu dengan sinar matahari.

Hanya ada dua kemungkinan.

Rumahnya di rampas.

Atau.

Istrinya kembali.

Demi menenangkan detak jantungnya yang menggila. Kyu-Hyun membuka langkahnya lebar-lebar, namun pelan. Pasti menuju pintu yang menjeblak terbuka dengan tatapan tajam. Tanpa lepas sedetikpun.

Saat sampai di sana. Ia menunduk. Melihat ada sepasang sepatu di dekat pintu. Bergerak lagi, mata Kyu-Hyun mencari-cari sandal rumah berbentu ice cream yang selalu ada di sisi pintu yang lain. Tapi tidak ada.

Tidak ada.

Mata Kyu-Hyun melebar. Perlahan ia membungkuk. Meraih sepatu yang ada di dekat kakinya lalu melangkah masuk dengan kaki bergetar.

“Kyu-Hyun?”

Detik itu, yang terasa begitu lama bagi Kyu-Hyun. Ia menengadah pelan-pelan. Berserobok dengan seseorang di seberangnya yang berdiri. Dengan sandal rumahan berbentuk ice cream.

Seketika Kyu-Hyun menjatuhkan sepatu yang ia pegang. Nyaris terbanting ke lantai karena gerakannya yang begitu cepat. Ia berlari, sekuat tenaga dan menubruk tubuh mungil yang ada di depannya. Merengkuhnya erat-erat.

“Kau kembali.” Kyu-Hyun menekan tubuhnya lagi. Lebih dekat. Tanpa peduli apa yang ia lakukan bisa membuat sesak napas atau tidak. Dia hanya ingin menyentuh tubuh mungil itu tanpa jarak. “Kau kembali. So-Eun.”

So-Eun tak langsung membalas pelukan Kyu-Hyun. Ia malah menekan samping lengan pria itu, dan memaksa melepaskan pelukan mereka.

Kyu-Hyun mencelos. Mendapat tatapan sedingin itu dari So-Eun. Matanya memerah. Menggeleng dua kali.

“Kau tidak menjawab.”

Kyu-Hyun menggeleng semakin cepat.

“Sudah kuputuskan kita berpisah—“

“Tidak!!” Bentaknya marah. Kalap ketika menyentak tubuh So-Eun ke dinding. Menghujam gadis itu dengan ciumannya. Membabi-buta menghisap dan menggigit bibir So-Eun. Melakukan apapun yang bisa ia lakukan. Bahkan ketika satu tangannya menahan tangan So-Eun yang terus meronta, dan sebelah tangannya lagi bergerak bebas. Seperti iblis merobek pakaian So-Eun. Lalu meremas kasar dada So-Eun. Hingga gadis itu merintih kesakitan.

“Kyu—mmph.”

Kyu-Hyun tak mau berhenti. Bahkan gerakannya semakin brutal. Ketika ia berpindah. Ke dagu So-Eun dan menghisap bagian itu. Lalu ke rahang, dan ke pipi gadis itu. Menghidupnya dalam-dalam.

Dan detik berikutnya. So-Eun merasa pipinya basah.

“Jangan katakan itu.” ujar Kyu-Hyun serak. Masih menggesekkan hidungnya di pipi So-Eun tapi tangannya sudah berhenti di dada gadis itu. Kini terkulai lemah memeluk pinggang So-Eun. “Jangan katakan yang seperti itu.”

“Kau, kau yang kupilih.” Kyu-Hyun seperti orang kesetanan terus menghidup seluruh permukaan pipi So-Eun. Menghirup dalam-dalam aroma khas yang lembut milik Istrinya. Tangannya yang gemetar juga meremas sisi baju yang So-Eun kenakan. “Kau. Kau. Hanya kau.” Katanya lagi. Mulai menangis.

“Kau. Kau jawabannya.” Setelah satu isakan pria itu lolos, Kyu-Hyun berhenti. Menyerah lalu membiarkan tubuhnya ambruk di dalam pelukan So-Eun. Membiarkan kepalanya terkulai lemah di bahu gadis itu.

“Kau.” Katanya di sela isakannya. “Aku memilihmu.”

Tak tahan. So-Eun akhirnya menggerakkan tangan untuk memeluk pinggang Kyu-Hyun, Serta mengusap punggung lebar pria itu demi menenangkan tangisannya.

Setelah Kyu-Hyun mereda, So-Eun secara paksa menarik kepala pria itu dari bahunya. Lalu saling berpandangan.

“Kau memilihku?”

Kyu-Hyun mengangguk cepat.

“Dibanding uang-uangmu?”

Kyu-Hyun memejamkan matanya erat. “Demi Tuhan, aku memilihmu di atas segalanya.”

“Kenapa?” tantang So-Eun dengan suaranya yang lembut. Juga sentuhannya di wajah Kyu-Hyun untuk menghapus sisa-sisa air mata di wajah pria itu.

“Karena aku berani jatuh miskin. Tapi tidak dengan hidup tanpamu.”

Senyum So-Eun terbit. Senyum pertamanya setelah waktu yang melelahkan. Ia balas menatap Kyu-Hyun dengan mata berbinar. “Aku mencintaimu.”

Kyu-Hyun tak langsung membalas. Ia mencium gadis itu lama. Menggiringnya dengan langkah tersendat menuju ruangan lagi. Lalu mendorongnya pelan ke atas ranjang.

Setelah ada di atas tubuh So-Eun dan sekarang menghidu bahu dan sampinng leher gadis itu. Kyu-Hyun berbisik serak.

“Aku juga mencintaimu.”

Lalu ia kecup bahu So-Eun dua kali.

“Dan juga merindukanmu.

If you ever come back

If you ever come back

Now

–Fin^^–

RCL Please…

Tengkyu ^^

8 Comments (+add yours?)

  1. acyi2512
    Nov 12, 2015 @ 03:23:03

    Aaaakkkk
    Sukak sekaliii sma lagu iniiii!!
    The script!!!
    *maap salah fokus*

    Ceritanya bagus..
    But i thought endingnya bklan sma kayak lagunya..
    There’ll be a smile in my face and the kettle on and it will be just like you were never gone.. ak pkir so eun bklan brsikap biasa aja like nothing happen dan bru trakhirnya kyuhyun blg klo dy mlih so eun.. cuman ini doang sih tapi hehehe

    But overall ceritanya bagus kok..
    Good job author

    Reply

  2. XiaoHera
    Nov 12, 2015 @ 20:36:22

    Omooo…sempet dag dig dug kalo mereka ga bersatu..soalnya sm udh mulai tersakiti..goog..suka sm FF ini..

    Reply

  3. savacalosa
    Nov 13, 2015 @ 00:19:27

    kereeeen untung akhirnya mereka balikan wkwkwk suka banget sama pemilihan bahasanya thor, jadi enak dibaca sama dapet feelnya. Cuma mungkin perhatiin lagi penggunaan tanda bacanya hehe mian bukan bermaksud menggurui ><

    keep writing yaa ditunggu ff selanjutnya

    Reply

  4. Laili
    Nov 13, 2015 @ 01:32:21

    Bagus sekali…. Nangis bacanya. Apalagi pas Kyuhyun nangis di pelukannya So Eun. Itu bikin baper…. Pokoknya keren deh.
    Good job. Keep writing… 😀

    Reply

  5. Monika sbr
    Nov 13, 2015 @ 20:19:57

    Terharu……
    Sampe nangis2 bacanya. Dan untunglah kyuhyun sadar hingga akhirnya mereka bisa balikan lg.

    Reply

  6. liyahseull
    Nov 14, 2015 @ 01:17:21

    T____T sungguh penggalan yg begitu menyentuh hati

    Reply

  7. choi sena
    Nov 14, 2015 @ 22:56:06

    night romance……
    ngefly ngebayangin ending nya
    seandainya dalam nyata itu terjadi, betapa bahagia diriku

    Reply

  8. andradnf
    Nov 23, 2015 @ 18:08:26

    AUTHOORR FF NYA JJANG!!!!
    pas awal baca g nyangka kalo ceritanya seru..keep writing yaa!!

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: