Because I Love You

Because I Love U

Author : Cho Haneul

Judul Cerita : Because I Love You

Tag (tokoh/cast) : Choi Haneul (OC), Lee Donghae, Cho Kyuhyun, Han Yura (OC), Henry Lau, Lee Mijoo

Genre : Romance, Drama

Rating : PG-15

Length : Oneshot

Catatan Author (bila perlu): FF ini pernah dipublish di blog pribadi author chohaneul88.wordpress.com dengan cast yang berbeda.

 

Satu jam lamanya ia telah menghabiskan waktunya didalam café berdesain klasik tersebut. Haneul melirik kearah ponselnya yang tidak menunjukkan notifikasi apapun selain notifikasi email masuk. Dan tidak perlu repot-repot untuk memeriksa, Haneul sudah dapat menebak bahwa email masuk itu berasal dari transaksi barang-barang online yang ia lakukan. Mungkin ingin mengabarkan bahwa kemeja imut yang dipesannya telah dikirim dan akan tiba lusa.

Merasa bosan, Haneul kembali menyeruput lemon tea yang dipesannya serta menyuapkan sesendok cheese cake kedalam mulutnya. Helaan napas kembali terdengar. Dalam hati Haneul tak henti-hentinya merutuki Cho Kyuhyun, pria yang dengan seenaknya telah membuat dirinya menunggu seperti orang bodoh selama satu jam. Padahal jika dirinya yang terlambat, Kyuhyun pasti akan langsung kesal dan memarahi dirinya, mengatakan betapa tidak disiplinnya ia terhadap waktu. Tapi sekarang?

“Lima menit lagi kau tidak datang, aku akan benar-benar pergi!” Ujar Haneul kesal.

“Jangan marah-marah, sayang. Wajahmu jadi terlihat menyeramkan.” Kyuhyun mengusap pipi Haneul dari belakang, membuat gadis cantik itu kaget bukan main. Dengan wajah masam, Haneul membalikkan tubuhnya, lalu menatap Kyuhyun kesal. Bukannya merasa bersalah, pria yang ada dihadapannya itu justru tertawa kecil sambil lagi-lagi mencubit pipi Haneul. “Manis sekali.” Ucap Kyuhyun.

“Manis kepalamu! Oppa tidak lihat ini sudah jam berapa? Filmnya bahkan sudah diputar 45 menit yang lalu. Lebih baik kita pulang saja sekarang.” Ujar Haneul kesal. Kyuhyun menarik kursi didepan yang terletak didepan Haneul dan kemudian duduk disana. Wajah pria itu masih tampak tersenyum. Ia kemudian mengeluarkan dua lembar tiket dari balik mantelnya. “Ini tiket yang baru. Filmnya akan diputar setengah jam lagi. Jadi jangan khawatir, sebab kita masih bisa melihat Mr Tom Cruise idolamu itu.”

Wajah Haneul sudah tidak sekesal tadi. Yah, setidaknya ia masih bisa menonton film yang begitu ia idam-idamkan itu yaitu Mission Impossible 5. Sebenarnya Haneul sudah akan menonton film itu sejak hari pertama film itu diputar di bioskop. Ia bahkan sudah membuat rencana dengan teman-teman kampusnya. Akan tetapi salahkan tuan egois yang ada dihadapannya itu. Pria itu menyuruh Haneul membatalkan rencananya, sebab Kyuhyun ingin agar Haneul menonton bersama dirinya. Dan yang membuat Haneul sebal, pria itu baru bisa mengajaknya menonton seminggu kemudian, tepatnya hari ini. Telat pula! Tidak salah kan jika ia kesal?

“Ku dengar Yura akan kembali ke Korea bersama calon suaminya. Kapan dia akan kesini?”

Haneul berusaha mengingat-ingat tanggal kedatangan sepupu tercintanya itu. “Hmm, kalau tidak salah tanggal 23.” Jawab Haneul.”

“Oh ya? Kalau begitu berarti besok dia akan datang kesini.”

Haneul mengernyit bingung, yang sumpah demi apapun terlihat sangat imut dan menggemaskan dimata Kyuhyun. “Besok? Kenapa besok? Kan aku bilang dia akan datang tanggal 23.”

Kyuhyun mengisyaratkan agar Haneul mendekat dengan menggunakan jari telunjuknya. Begitu Haneul mencondongkan tubuhnya kedepan, memperdekat jaraknya dengan Kyuhyun, pria itu malah menjitak dahinya pelan. “Kau ini babo sekali. Tentu saja besok. Hari ini kan tanggal 22. Kau ini bagaimana. Tanggal saja bisa lupa. Wajar jika nilai statistikmu C.” Ejek Kyuhyun. Haneul mengerucutkan bibirnya kesal. Topik statistik memang begitu sensitif ditelinga gadis berusia dua puluh satu tahun itu. “Tidak ada hubungannya! Oppa menyebalkan sekali!”

Kyuhyun malah tertawa geli dan dengan seenaknya mengambil alih lemon tea milik Haneul dan meminumnya hingga tandas. “Apa calon suaminya itu benar-benar orang Cina, eo? Apa pria itu bisa berbahasa Korea?”

“Bukan orang Cina. Pria itu orang Korea kok, tapi memang lahir dan dibesarkan di Cina. Dan yang kutahu dari Yura, kekasihnya itu pernah tinggal di Korea selama kurang lebih empat tahun. Jadi kuyakin bahasa Koreanya lancar.”

“Siapa namanya?”

“Aku tidak tahu nama lengkapnya siapa, tapi Yura selalu menyebutnya Hae.” Jawab Haneul.

Dahi Kyuhyun agak berkerut. “Hae? Nama yang aneh.” Ucapnya. Pria itu kembali bertanya. “Kau pernah melihat pria itu? Fotonya, mungkin?”

Haneul menggeleng. “Tidak pernah. Yura bahkan tidak pernah memposting fotonya bersama kekasihnya itu. Biar menjadi kejutan katanya. Sok rahasia sekali gadis itu.” Ujar Haneul sembari menggelengkan kepala, merasa tak habis pikir dengan kelakuan sepupunya itu. Padahal biasanya Yura sangat suka mempamerkan kekasihnya di sosial media, tapi untuk pria bernama Hae ini, Yura sama sekali tidak pernah menunjukkannya. Bahkan untuk bercerita saja, ia harus dipancing terlebih dahulu. Haneul kemudian menatap Kyuhyun. “Kenapa oppa penasaran sekali dengan namja itu?”

Kyuhyun menyandarkan punggungnya ke kursi. “Hanya ingin melihat seperti apa pria yang telah sukses membuat Yura jatuh cinta. Sepupumu itu kan pemilih sekali. Ia selalu berkata jika kriteria namjanya yang seperti Hyun Bin atau Won Bin. Cih, dia pikir hidup ini seperti drama yang bisa dengan mudahnya mendapatkan namja-namja tampan seperti itu.” Cibir Kyuhyun yang tak ayal membuat Haneul tersenyum geli begitu mengingat sepupunya itu. Han Yura itu memang gadis yang agak aneh dan ajaib. Untung saja ia begitu cantik.

“Ja, kita pergi sekarang.” Haneul mendongak dan mendapati tangan Kyuhyun terjulur kearahnya. Gadis itu mengambil tas dan ponselnya, lalu menerima uluran tangan Kyuhyun. Kyuhyun langsung mengenggam erat tangan gadis yang sudah diklaim sebagai miliknya itu sejak empat bulan yang lalu itu.

 

 

*****

 

“Omo, neomu yeppeoyo. Lama tak bertemu sekarang kau jadi tambah cantik ya.” Puji bibi Song, adik dari ayah Haneul.”

“Dan juga kurus.” Timbal bibi Haneul yang lainnya. Haneul tersenyum sumringah mendapat pujian bertubi-tubi yang dilontarkan oleh keluarganya. Bibinya memang tidak membual. Tiga tahun lalu Haneul tidaklah seperti sekarang. Ia dulu agak gendut, rambutnya hanya sebahu dan itupun tidak sehat. Gadis itu juga cenderung pendiam hingga mendapati julukan anti sosial dari sepupu-sepupunya. Maka wajar saja jika melihat Haneul yang sekarang dengan tubuh langsing meskipun tidak terlalu tinggi, rambut sepunggung yang lurus berkilau, serta kulit wajah yang putih merona dan terbebas dari jerawat, tentunya membuat mereka semua pangling. Terlebih mendapati sifat Haneul yang sekarang menjadi sangat supel serta ramah.

“Ah, neo wasseo.” Ibu Haneul datang menghampiri putrinya sembari tersenyum. Wanita itu kemudian melirik kesekitar Haneul. “Mana Kyuhyun?” Tanya wanita cantik itu bingung, sebab seingatnya ia sudah menyuruh sang putri untuk mengundang kekasihnya menghadiri acara keluarga mereka hari ini.

“Kyuhyun oppa akan menyusul nanti. Ia sedang ada sedikit urusan bersama ayahnya.” Jawab Haneul.

“Oh begitu. Ah, kau sudah bertemu Yura? Dia sudah sampai disini.”

“Jinjja?! Aku belum bertemu dengannya. Dimana dia? Dia bersama calon suaminya itu? Aku penasaran sekali ingin bertemu dengan pria itu. Eomma sudah melihatnya?”

“Dia ada ditaman. Dan ya, eomma sudah melihat pria itu.”

“Apakah tampan?”

“Sangat!” Seru ibunya heboh. “Ja, kau temui dia sekarang. Sejak tadi ia sudah menanyakan dirimu.” Ujar sang ibu.

Setelah berpamitan sejenak dengan para bibi serta pamannya yang berada disana, Haneul melangkahkan kakinya menuju taman belakang milik rumah kakek dan neneknya yang begitu luas dan rimbun oleh berbagai macam tumbuhan itu. Gadis itu tersenyum kala melihat sosok sepupu yang sudah dua tahun tidak ia temui itu. Ada seorang pria juga disana, yang dapat Haneul tebak bahwa pria itu adalah calon suami Yura. Haneul tidak dapat melihat wajah pria itu dengan jelas karena posisi pria itu memunggungi dirinya. Langkah kaki Haneul semakin cepat begitu Yura melihat dirinya dan melambaikan tangan dengan begitu semangatnya.

“Kyaaa! Aku merindukanmu!” Seru Yura sembari memeluk tubuh Haneul dan menggoyang-goyangkannya kekiri dan kanan. Haneul tertawa. “Aku juga merindukanmu. Kau sombong sekali sudah 2 tahun ini tidak pernah pulang ke Korea. Paman dan bibi saja pulang kesini setahun yang lalu.”

Yura melepaskan pelukannya. “Mian. Aku sangat-sangat sibuk disana. Apalagi sekarang kan aku sudah bekerja. Ah, kenalkan kekasihku, Lee Donghae tapi biasa dipanggil Hae.” Yura menarik laki-laki yang mengenakan kemeja kotak-kotak biru itu kesisinya. Sekarang Haneul bisa melihat jelas wajah pria itu. Wajah yang begitu familiar untuknya, meskipun sudah bertahun-tahun ia tidak melihat wajah tampan dan lembut itu.

Seketika napas Haneul tercekat. “Donghae sunbae…” Suara Haneul terdengar begitu lirih. Gadis itu bahkan nyaris jatuh terduduk lemas saking kagetnya dengan kejadian ini. Tak jauh berbeda dengan Haneul, Donghae pun menatap gadis itu kaget. “Choi Haneul.” Suara yang dirindukan itu mengalun indah ditelinga Haneul.

Melihat sosok Donghae yang begitu nyata tengah berdiri dihadapannya serta menatapnya dengan kedua mata teduh nan menenangkan itu, tak ayal membuat pikiran Haneul terseret ke beberapa tahun silam. Tepatnya saat ia masih duduk dibangku kelas dua sekolah menengah atas, dan pria yang hadapannya ini berada di kelas tiga.

 

<<<Flashback>>>

“Donghae Donghae Donghae Donghae!”

“Kyaaaa~ Donghae sunbae hwaiting!”

Pria itu bergerak gesit sembari men-dribble bola oranye yang ada ditangannya. Beberapa detik kemudian bola basket itu telah melambung tinggi diudara sebelum kemudian dengan mulus masuk kedalam ring. Teriakan membahana kembali terdengar dari para penonton yang sejak tadi mengikuti jalannya pertandingan, ataupun hanya sekedar ingin menatap para pemain basket yang nyaris semuanya berparas tampan. Mungkin pria-pria itu lebih cocok untuk membentuk sebuah boyband daripada berlarian dilapangan dengan bola oranye ditangan.

Good job!” Siwon menepuk bahu Donghae senang. Donghae tersenyum sebagai balasan dan kemudian kembali berlari menuju posisi yang strategis. Pria itu menoleh sekilas kearah bangku penonton, membuat gadis-gadis yang ada disana berteriak histeris sembari menyerukan namanya. Donghae melambaikan tangan sebentar sebelum kembali fokus pada permainan yang tengah berlangsung. Gadis-gadis itu tentunya semakin histeris. Donghae memang selalu ramah pada fans-fansnya, bahkan pada hoobae sekalipun. Itulah yang membuat pria pindahan dari Cina itu begitu popular dan sangat disenangi di segala penjuru Jeguk.

“Ya Tuhan, kenapa ada pria sesempurna Donghae sunbae sih.”

Haneul tertawa kecil mendengar penuturan Mijoo. Tapi ia setuju dengan sobatnya itu. Lee Donghae memang sosok yang nyaris sempurna. Pintar, ramah, berprestasi dan tampan. Seperti paket lengkap, bukan? Bahkan guru-guru juga sangat menyayangi pria itu. Kedua mata Haneul mengikuti setiap jengkal pergerakan Donghae. Sebenarnya Haneul sama sekali tidak tertarik dengan basket ataupun olah raga lainnya. Ia lebih memilih untuk berdiri berdesak-desakan selama tiga jam penuh untuk menonton konser daripada harus duduk diam menonton basket meski hanya 1 jam. Namun kehadiran Donghae mengubah itu semua. Mijoo sendiri sampai heran begitu Haneul mengajak dirinya untuk menonton pertandingan basket sekolahnya yang melawan sekolah lain. Tujuan Haneul bukan untuk menjadi supporter sekolahnya, ia datang khusus untuk Donghae.

Ia menyukai sunbaenya itu…

 

*****

 

 

Kemenangan diraih oleh Jeguk High School, membuat para supporter dari sekolah bertaraf Internasional itu semakin heboh dalam euphoria, terutama para gadis-gadisnya. Apalagi poin terakhir dipersembahkan oleh Donghae. Pria itu langsung dikerubungi oleh teman-teman se-timnya. Bahkan pelatih Jung yang biasanya pelit senyum itu kini malah tertawa dengan kerasnya seraya mengacak rambut Donghae dengan penuh rasa bangga.

Haneul mengamati semuanya dengan hati yang bahagia. Melihat senyuman Donghae merupakan suatu kebahagian tersendiri baginya. Betapa ingin ia menghampiri pria itu dan mengucapkan selamat secara langsung, tapi sayangnya ia tidak memiliki keberanian sebesar itu. Haneul dan Mijoo berjalan keluar dari gedung olahraga sekolah mereka. Jeguk High School memang menjadi tuan rumah untuk pertandingan kali ini. Mijoo masih mengoceh soal betapa kerennya Siwon saat melakukan lemparan 3 poin, Donghae sunbae yang berhasil memberikan piala kemenangan bagi sekolah, hingga betapa keren dan tampannya Hyukjae saat menyeka keringatnya.

“Eh, itu Donghae sunbae!” Ujar Mijoo. Haneul menoleh kearah telunjuk Mijoo tertuju. Benar saja, disana ia mendapati Donghae yang tengah bercengkrama dengan teman-temannya. Pria itu masih memakai seragam basket kebanggaannya itu, namun kali ini ditambah dengan jaket putih yang melapisi luar tubuhnya. Baru saja Haneul ingin mengajak Mijoo untuk pergi menjauh, namun sobatnya itu malah memanggil nama Donghae dengan begitu lantangnya, membuat Haneul panik bukan main.

“Ya! Apa yang kau lakukan?!” Seru Haneul panik sembari menarik tangan Mijoo. Gadis itu dapat melihat dari ujung matanya jika Donghae dan dua orang temannya itu tengah menatap mereka. Oh tidak! Ini buruk!

“Ayo kita ucapkan selamat secara langsung.”

“Andwae!”

“Wae? Kita kan bukannya sedang berusaha untuk sok kenal dan akrab. Lagipula, kita memang kenal dengan Donghae sunbae, kan. Ayolah!” Mijoo menarik tangan Haneul dengan paksa. Enggan terlihat aneh didepan Donghae, akhirnya Haneul mengalah dan mengikuti Mijoo. Gadis berambut sebahu dengan bando putih menghiasi kepala itu, berjalan dengan langkah yang terseok. Sungguh, ia berharap dapat menghilang saat ini juga.

“Hei Mijoo, Haneul.” Sapa Donghae begitu ramah.

“Annyeong sunbae. Chukkae atas kemenangannya. Lemparan yang terakhir keren sekali.” Ujar Mijoo. Donghae tersenyum lembut, yang sungguh semakin membuatnya terlihat begitu tampan.

Seharusnya ini menjadi kesempatan baik untuk Haneul membuka pembicaraan dengan Donghae, tapi bodohnya Haneul, ia hanya diam berdiri disebelah Mijoo, menjadi pendengar diantara perbincangan sobatnya dengan namja yang ditaksirnya itu. Untuk menatap Donghae saja Haneul tidak berani. Alih-alih, gadis itu memilih untuk menatap tanah tempatnya berpijak, seakan ada yang begitu menarik disana. Dalam hati Haneul mengeluhkan sifat pemalu dan pengecutnya itu. Seandainya saja ia memiliki 30 persen keberanian serta kepercayaan diri yang dimiliki oleh Mijoo. Oh, pasti dirinya saat itu juga turut ikut dalam percakapan mereka.

Dan seperti yang sudah-sudah, Haneul hanya bisa diam pasrah begitu melihat pria yang disukainya itu perlahan menjauh. Gadis itu menatap punggung Donghae dengan pandangan sendu. Mijoo hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat Haneul. Padahal ia sengaja menyapa Donghae dengan harapan agar sahabatnya itu bisa memanfaatkan momen itu dengan baik.

*****

 

 

Haneul menatap hampa ruangan OSIS tempatnya berada sekarang. Semenjak Donghae sudah tidak menjabat sebagai wakil OSIS, jujur Haneul telah kehilangan semangatnya untuk terus berada didalam organisasi bergengsi di sekolahnya itu. Lagipula sekarang sudah tidak ada Donghae yang biasanya selalu ia perhatikan diam-diam dari pantulan kaca jendela tempat meja sekretaris berada. Gadis itu menghela napas perlahan. Hatinya sesak membayangkan bahwa waktunya untuk melihat Donghae semakin menipis. Ujian akhir sekolah akan segera tiba, dan itu berarti Donghae akan segera lulus meninggalkan sekolah. Dan yang Haneul dengar, Donghae berniat untuk melanjutkan pendidikannya di negara asalnya, Cina.

“Sendirian saja?”

Haneul tersentak dari lamunannya dan langsung membalikkan tubuhnya menatap kearah pintu masuk. Disana ia mendapati Donghae yang tengah tersenyum manis sembari berjalan perlahan kearahnya. Jantung Haneul berdegub kencang.

“Sunbae… em… apa kau mencari Yesung?” Haneul menyebut nama ketua OSIS Jeguk yang baru. Donghae menggeleng pelan. Pria itu berdiri disebelah meja Haneul, menatap jauh kearah lapangan melalui jendela. Haneul juga melakukan hal yang sama. Ada jeda beberapa menit sebelum Donghae kembali membuka suara. “Aku hanya merindukan suasana ruangan ini. Banyak menghabiskan waktu disini menjadikan ini tempat favoritku selain kantin.” Ucapnya sembari tertawa kecil. Haneul menatap wajah tampan itu.

“Ku dengar sunbae akan kembali ke Cina dan meneruskan pendidikan disana.”

“Ah, kau tahu? Cepat sekali menyebarnya.” Donghae membalikkan tubuhnya dan menyandar dijendela sembari menatap Haneul. “Ne, aku memang akan pindah kembali ke Cina. Seharusnya sih saat ini aku juga sudah pindah. Tugas orang tuaku disini sudah selesai. Tapi berhubung ini tahun terakhirku, maka aku memutuskan untuk tetap tinggal disini sampai ujian akhir. Lagipula, ada suatu hal yang membuatku sulit untuk meninggalkan Korea.” Donghae menatap ubin dengan pandangan menerawang.

Haneul penasaran. “Apa itu?” Tanyanya pelan.

Donghae mendongak. Kedua manik mata mereka bertemu. “Aku…” Donghae menggigit bibir bawahnya. Ia tampak gugup. Haneul menanti lanjutan perkataan namja itu dengan tidak sabar. “Aku suka makanan Korea haha…”

“Ah, geure… Makanan Korea memang yang terbaik.” Haneul tertawa kecil, berusaha untuk menutupi rasa kecewanya.

‘Babo! Memangnya alasan apa yang kuharapkan? Sunbae tidak bisa pergi karena diriku? Cih, mimpi saja!’

 

 

****

 

Hujan deras mengguyur Seoul sejak satu jam yang lalu. Suasana Jeguk High School sudah terlihat sepi karena jam pulang memang sudah lewat sekitar dua jam yang lalu. Haneul terdiam didepan teras gedung sekolahnya. Seharusnya ia bisa pulang jika saja payung miliknya tidak ketinggalan di bus. Dalam hati merutuki kesialannya hari ini. Dimulai dari terlambat bangun yang otomatis membuatnya terlambat sekolah, lalu mendapati dirinya lupa mengerjakan PR fisika, hingga ia terpaksa harus menyusun arsip-arsip penting OSIS seorang diri lantaran Jiae, sekretaris kedua OSIS, tidak masuk karena sakit. Dan sekarang, hujan membuat niatnya untuk segera pulang dan bergelung diranjang kesayangannya terpaksa harus tertunda.

Gadis itu memeluk tubuhnya kala hembusan angin membuat air hujan sedikit membasahi tubuhnya. ‘Lapar.’ Haneul mengelus perutnya. Ia baru sadar jika ia melewatkan waktu makan siangnya, sedangkan pagi tadi perutnya hanya terisi oleh sepotong roti dan segelas susu. Jam segini pasti kantin sekolah sudah ditutup. Satu-satunya pilihan tersisa hanya mesin makanan ringan otomatis yang ada didekat tangga. Dengan malas Haneul melangkahkan kakinya kembali masuk kedalam gedung sekolah.

Gadis itu memilih sekotak susu coklat dan tiga buah bungkus roti. Satu tidak akan cukup untuknya. Saat akan kembali ketempatnya tadi, Haneul mendengar alunan petikan gitar yang sangat indah. Gadis itu mengernyit. Setahunya sedang tidak ada latihan paduan suara ataupun band hari ini. Penasaran, Haneul mengikuti arah datangnya suara tersebut. Haneul seperti pernah mendengar alunan melody ini sebelumnya. Yah, terasa begitu familiar.

“Donghae sunbae…” Gumam Haneul. Gadis itu semakin mempercepat langkahnya menuju kearah salah satu kelas yang kosong. Dan benar saja, petikan gitar yang lembut dan merdu itu berasal dari jari-jari Donghae. Haneul terdiam bagai patung didepan pintu yang tidak ditutup rapat itu, merasa begitu terpesona melihat sosok pria yang ada dihadapannya ini. Donghae dengan gitar dipangkuannya tengah duduk didepan jendela kelas. Pria itu tampak begitu larut dalam permainan gitarnya sendiri. Terasa ada sesuatu yang menggelitik perut Haneul. Hatinya menghangat. Ia akan mengingat pemandangan ini baik-baik. Merekam dan menyimpannya ditempat yang spesial di otaknya.

“Haneul?”

“Ah, sunbae. Maaf menggangumu. Aku hanya… permainan gitarmu sangat bagus.”

Donghae tersenyum. “Terima kasih. Tidak membawa payung juga?” Tanyanya.

Haneul mengangguk. “Sunbae juga?”

“Eo.” Donghae menatap langit yang masih menjatuhkan berliter-liter air. “Sepertinya kita masih harus menunggu untuk beberapa saat ini. Kemarilah!” Donghae menyuruh Haneul untuk menempati kursi kosong yang ada didepannya. Dengan canggung Haneul berjalan memasuki kelas dan mendudukkan tubuhnya di kursi yang ditunjuk Donghae tadi. Donghae kembali memetik senar-senar gitarnya yang kembali menghasilkan alunan nada yang indah.

“Kau tahu lagu ini?”

Haneul mendengarkan alunan nada itu dengan seksama. “Because I Love You dari Red Velvet’s Wendy?”

“Eo. Aku suka lagu ini. Menggambarkan perasaan hatiku.” Ucap Donghae dengan suara pelan. Haneul menatap pria itu lekat. Gadis itu tahu benar bahwa lagu tersebut bukanlah lagu yang menggambarkan suasana hati penuh cinta yang berbunga-bunga. Justru lagu itu menggambarkan kepedihan karena mencintai seseorang yang tidak bisa dicintai dan harus rela melepaskan cinta tersebut. Haneul mengira-ngira apakah sunbaenya sedang patah hati? Oleh siapa? Apa siswi Jeguk juga?

Ada terlalu banyak pertanyaan dikepala Haneul hingga akhirnya tak ada satupun yang ia ungkapkan. Lagipula, ia cukup tahu diri untuk tidak bertanya lebih lanjut. Memangnya siapa dirinya? Gadis itu menatap Donghae dalam diam kala pria itu menyanyikan sedikit bait dalam lagu tersebut dengan suara pelan. Suara Donghae memang tidak sebagus suara Yesung, tapi entah mengapa hati Haneul tersentuh mendengar nyanyian Donghae. Donghae begitu menjiwai lagu itu. Sepertinya Donghae benar, lagu itu benar-benar menggambarkan bagaimana perasaan namja itu saat ini. Haneul bisa merasakan sebuah ketulusan disetiap bait kata yang dilantunkan.

 

bogo sipjiman gakkai gal su eopseo ijen geudae gyeoteul tteonagaya hae
(aku merindukanmu, tapi aku tidak bisa mendekatimu, kita harus berpisah sekarang)

oerowosseodeon naui memareun geu du nune keugo ttatteuthan sarangeul jueodeon
(kau yang membawakanku sebuah cinta yang luar biasa hangat  untuk hidupku yang sepi dan mengeringkan tangisku)

geudae gyeoteul ije tteonaneun geoseul huhoehaljido moreujiman geudael saranghagi ttaemuniya
(meski aku menyesal meninggalkanmu, aku melakukannya karena aku mencintaimu)

geudaemaneul saranghaneun geol ijeul suneun eopsjiman seulpeum soge geudael jiwoyaman hae
(aku tak bisa melupakan cintaku padamu, tapi aku harus menyingkirkanmu dan kesedihanku)

geudaemaneul saranghaneun geol ijeul suneun eopsjiman saranghaneun geudaeyeo annyeong
(aku tak bisa melupakan bahwa kaulah satu-satunya yang ku cinta, tapi, sayang, selamat tinggal)

(Because I Love You – Son Wendy)

 

 

*****

 

 

“Jangan hanya melihatnya diam-diam. Tunjukkan perasaanmu!” Mijoo berkata sembari melingkari tangannya dipundak Haneul. Haneul hanya diam tidak merespon. Perhatian gadis itu tetap sepenuhnya fokus kearah Donghae yang sejak beberapa saat lalu duduk dibangku taman. Jendela kelasnya ini persis menghadap kearah taman dimana Donghae dan Henry sedang duduk mengobrol. Mijoo melepaskan rangkulannya dan beralih melipat kedua tangannya dikusen jendela sembari turut mengamati kedua sunbae keren nan popular itu. “Satu bulan lagi. Waktumu hanya sesingkat itu.” Ucapnya.

Hati Haneul berdenyut sakit harus membayangkan bahwa ia takkan bisa melihat sunbaenya itu lagi. Jarak yang jauh akan memisahkan mereka. “Mungkin… kami memang tidak ditakdirkan bersama.”

“Tapi setidaknya kau pernah berusaha untuk mengungkapkan perasaanmu, jadi takkan ada penyesalan di masa yang akan datang.”

“Aku tidak seberani kau, Mijoo.”

Tiba-tiba saja Donghae menoleh kearah jendela dimana Haneul dan Mijoo berada, membuat Haneul memekik kaget dan spontan gadis itu berjongkok untuk menyembunyikan dirinya. Mijoo tertawa geli melihat reaksi konyol Haneul. Bukankah jika bertindak seperti itu akan terlihat sekali bahwa mereka tertangkap basah tengah mengamati sunbae tampan itu?

“Apa yang kau lakukan, babo?” Mijoo bertanya disela-sela tawanya.

Haneul bersungut kesal. “Tentu saja bersembunyi!”

“Dan secara tidak langsung menunjukkan bahwa kau tertangkap basah sedang mengamati Donghae sunbae? Tindakanmu itu konyol sekali. Sunbae pasti akan menganggapmu yeoja aneh.”

Pandangan mata Haneul kosong, dan sedetik kemudian gadis itu menarik ujung jas sekolah Mijoo dengan wajah panik. “Ya Tuhan! Bagaimana ini?! Aku telah melakukan hal aneh. Sunbae pasti akan berpikir jika aku stalker aneh. Ya Tuhan, aku harus bagaimana? Aku tidak punya muka untuk bertemu dengan sunbae lagi! Aku mau pindah sekolah saja!” Racau Haneul.

“Yak yak! Tenanglah. Jangan panik! Jika bertemu dengan sunbae maka kau harus bersikap normal, oke?! Sekarang berdiri dan temani aku ke kantin.”

 

 

*****

 

 

Minggu ujian, pengumuman dan pesta akhir. Waktu sebulan berlalu dengan cepat, nyaris tak terasa persis seperti apa yang pernah Mijoo katakan. Haneul menatap sekeliling gedung serba guna sekolahnya yang khusus sore hingga malam hari ini akan menjadi tempat perayaan pesta kelulusan para sunbae kelas 3. Haneul yang merupakan bagian OSIS, bertugas menjadi panitia di acara tersebut. Suasana gedung sudah disulap sedemikian rupa selayaknya ballroom hotel berbintang. Murid-murid kelas tiga yang sekarang sudah resmi lulus dan menyandang predikat alumni tampak begitu semangat menghadiri pesta. Terlihat dari mereka yang berbondong-bondong memakai gaun atau jas terbaik mereka, berdandan ke salon untuk membuat orang-orang kagum, hingga ada yang memanfaatkan momen ini untuk mengungkapkan cinta pada orang yang disukai. Toh mereka sudah lulus dan tidak satu sekolah lagi, jadi sekalipun ditolak takkan terlalu menjadi hal yang memalukan.

Haneul mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Tentu saja ia mencari sosok sunbaenya itu. Tidak gadis itu harus menelan kekecewaan karena tidak menemukan sosok berparas tampan tersebut. ‘Apa Donghae sunbae tidak datang?’ Sempat terbesit pemikiran seperti itu, namun langsung ditepisnya. ‘Ini acara penting. Takkan mungkin ia melewatkannya.’ Batin Haneul.

Beberapa saat kemudian Haneul sudah disibukkan dengan berbagai macam tetek bengek tugas selaku panitia acara. Ia dan beberapa orang temannya harus terus berkeliling memastikan bahwa semua berjalan dengan lancar. Satu jam kemudian Haneul melihat sosok itu, Donghae yang tengah dikerumuni oleh para sunbae perempuan. Haneul tersenyum kecil, merasa begitu senang karena dia dapat melihat wajah itu untuk yang terakhir kalinya. Yah, setelah malam ini maka para murid senior itu resmi bebas dari segala macam hal yang berhubungan dengan Jeguk High School. Tidak ada alasan lagi bagi mereka untuk berada di sekolah yang sudah menaungi mereka selama 3 tahun lamanya. Apalagi seingat Haneul, Donghae bilang segera setelah pengambilan ijazah, maka namja itu akan bertolak ke Cina untuk menyusul kedua orangtuanya dan tinggal disana.

“Haneul-ssi, Seo Young membutuhkan bantuanmu.” Jinri menepuk bahu Haneul, membuat gadis itu menoleh. “Arasseo. Aku akan kesana sekarang.” Jawabnya lesu. Haneul melirik kearah Donghae yang malam ini tampak begitu tampan dengan kemeja putih, jas hitam serta celana bahan hitamnya. Pria itu masih dikerumuni oleh para yeoja yang semakin lama malah semakin banyak. Tepat saat Haneul membalikkan tubuhnya dan beranjak pergi, Donghae menoleh kearah gadis itu, namun tak lama karena beberapa detik kemudian pria itu kembali disibukkan dengan para yeojadeul yang berebut ingin mengobrol, meminta tanda tangan untuk buku tahunan, bahkan sampai berselfie ria.

Haneul baru saja selesai membenahi karangan bunga yang beberapa saat lalu jatuh tersenggol. Gadis itu mengelap peluh yang membasahi dahinya. Ia cukup merasa gerah meskipun ruang serba guna yang mereka gunakan sekarang dipasangi beberapa AC. Berlari kesana kemari untuk memeriksa kelengkapan acara ataupun hanya sekedar memeriksa keadaan sekitar ternyata cukup menguras energy gadis itu. Beruntung Haneul memilih untuk menggunakan flat shoes hitam kesayangannya daripada high heels atau wedges seperti panitia perempuan lainnya. Dari sudut matanya Haneul dapat melihat teman sepanitianya, Kang Seulgi, yang tampak sudah kesulitan berjalan. Terima kasih pada wedges 7 senti yang melekat dikakinya.

“Haneul-ya!” Panggil Yerin sembari tersenyum sumringah.

“Waeyo?”

“Ada sunbae tampan yang mencarimu.” Ucapnya.

Haneul mengernyit bingung. “Sunbae tampan? Siapa?”

“Sudah, tidak usah banyak tanya. Ayo cepat pergi ke taman sekolah sekarang. Dia sudah menunggu.” Yerin mendorong tubuh Haneul pelan sembari mengedipkan sebelah matanya.

Sunbae tampan? Lee Donghae?

Jantung Haneul berdegub kencang. Jika sunbae yang dimaksud memang Donghae, untuk apa pria itu meminta bertemu dengannya? Di taman pula. Apa jangan-jangan Donghae ingin mengungkapkan perasaannya? Haneul tak kuasa untuk tak tersenyum sumringah. Gadis itu jadi ingat dengan salah satu adegan di novel roman yang baru-baru ini dibacanya. Tokoh utama prianya mengajak sang gadis untuk bertemu di taman, dan yah, pria itu mengungkapkan perasaannya dan meminta si gadis untuk menjadi kekasihnya. Haneul semakin sumringah kala membayangkan kemungkinan itu. Gadis bertubuh gempal itu semakin mempercepat langkah kakinya. Dari kejauhan ia dapat melihat punggung tegap seorang namja. Dilihat dari tingginya sepertinya itu memang Donghae.

“Em… sunbae?” Haneul memanggil pria itu dengan suara pelan. Pria itu membalikkan tubuhnya perlahan, dan seketika senyum sumringah Haneul pudar. “Henry sunbae?” lirihnya.

<<<Flashback End>>>

 

 

“Ah, jadi kalian ini duluan sunbae dan hoobae? Kebetulan sekali ya.” Yura tersenyum sumringah, sama sekali tidak menyadari kecanggungan yang terjadi diantara sepupu dan calon suaminya itu.

Mereka bertiga tengah duduk dimeja bundar yang ada di taman. Ada beraneka macam makanan diatas meja tersebut, tapi tak ada satupun yang menggugah selera Haneul. Situasi seperti ini jelas tak memungkinkannya untuk menyantap hidangan dengan berselera. Situasi dimana selama bertahun-tahun lamanya kau berhasil bertemu kembali dengan cinta pertamamu, tapi ternyata cinta pertamamu adalah calon suami sepupumu sendiri. Sungguh ironis.

Haneul melirik kearah lengan Yura yang bergelayut manja dilengan Donghae. Tak begitu banyak yang berubah dari Donghae. Hanya potongan rambut dan badannya yang menjadi lebih kekar dibandingkan saat masih sekolah dulu. Sedari tadi hanya Yura yang bolak balik membuat percakapan, sedangkan Haneul dan Donghae akan sesekali menanggapi dan menjawab jika diminta. Selebihnya mereka hanya diam.

“Aku dan Donghae akan menikah bulan depan di Korea.”

Haneul menatap Yura dan Donghae secara bergantian. Hatinya sakit. Sakit sekali. Jujur, perasaannya pada Donghae masih sama seperti dulu. Ia masih menyukai pria yang sebentar lagi resmi akan menjadi milik sepupunya itu. Bertahun-tahun ia berusaha untuk mengenyahkan perasaannya pada Donghae, apalagi setelah namja itu pergi tanpa pamit. Malam itu memang merupakan terakhir kalinya Haneul melihat Donghae. Ia bahkan tidak sempat mengobrol sedikitpun dengan pria itu. Malam itu Henry mengatakan perasaannya pada Haneul, yang sumpah membuat Haneul nyaris pingsan. Tidak pernah terlintas dipikirannya bahwa Henry yang selama ini terlihat cuek pada dirinya ternyata malah menyimpan perasaan suka. Namun dengan penuh penyesalan Haneul menolak pria itu, karena jelas, pria yang disukainya adalah Donghae.

Lalu bagaimana dengan Kyuhyun? Bukankah pria itu kekasih Haneul?

Semuanya bermula sekitar satu tahun yang lalu. Kyuhyun adalah senior Haneul di kampus, namun Haneul tidak terlalu mengenalnya karena pria itu tergolong mahasiswa tingkat akhir yang sudah tidak terlalu sering wara wiri di kampus kecuali untuk keperluan skripsi. Teman Haneul di kampus yang mengenalkan mereka berdua, membuat mereka dekat hingga akhirnya berpacaran. Semuanya bukannya tanpa proses dan berjalan dengan mulus. Butuh waktu setahun lebih bagi Kyuhyun untuk meyakinkan, atau lebih tepatnya memaksa, agar Haneul menerima cintanya. Bermacam cara pria itu lakukan semata-mata hanya agar cintanya diterima. Dan Haneul bukanlah gadis kejam tak memiliki hati. Melihat perjuangan dan kesabaran Kyuhyun, akhirnya gadis itu memutuskan untuk menerima Kyuhyun dan mencoba untuk mencintai pria itu. Toh, cinta bisa tumbuh karena terbiasa, kan? Itu yang sering Haneul dengar dari orang sekitarnya. Haneul bisa membenarkan ungkapan itu sebab selama waktu empat bulan gadis itu sudah mulai merasa nyaman dengan kehadiran serta perhatian yang Kyuhyun curahkan padanya. Haneul bahkan sudah tak risih kala Kyuhyun menggenggam tangannya, memeluknya dan bahkan menciumnya.

Tapi, kedatangan Donghae jelas kembali membuat hati gadis itu goyah.

“Hei.”

Cubitan lembut dipipinya membuat Haneul sontak menoleh. Gadis itu mendapati Kyuhyun yang sedang tersenyum manis padanya. Pria itu menyapa Yura dan berkenalan dengan Donghae, setelah itu Kyuhyun mengambil tempat tepat disisi Haneul. Oh, semuanya bahkan semakin sempurna!

“Wah, kau memang akan menikah, eo?” Kyuhyun memainkan alisnya, berniat untuk menggoda Yura. Yura mengangguk bangga. “Tentu saja. Kau pikir aku akan jadi perawan tua, apa?” dengus Yura. Dulu Kyuhyun memang sering mengejeknya jika Yura akan berakhir menjadi perawan tua karena sikap galak serta pemilihnya.

“Donghae-ssi, ngomong-ngomong bahasa Korea mu sangat bagus.” Puji Kyuhyun. Donghae tersenyum kecil. “Ah, terima kasih. Itu karena aku pernah tinggal dan bersekolah disini beberapa tahun yang lalu. Lagipula, aku sering berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Korea dengan orang tuaku.” Jawabnya.

“Ah, geure. Memangnya kau bersekolah dimana dulu?”

“Jeguk High School.”

Kyuhyun menoleh sekilas kearah Haneul. “Bukankah kau juga di Jeguk dulu?” tanyanya yang dibalas anggukan oleh Haneul.

“Haneul adalah hoobaeku di sekolah.” Donghae memperjelas.

Kedua pasangan itu berbincang-bincang hingga jam makan siang. Kyuhyun dan Donghae tampak akrab. Yah, tidak perlu heran, kedua pria itu sama-sama jenius. Jadi pastinya topik pembicaraan mereka akan cocok. Terlebih keduanya sama-sama sedang merintis karir dalam bisnis. Kyuhyun yang menjalankan bisnis property milik keluarganya, dan Donghae yang baru membuka perusahaan periklanan. Tentunya ada hal menarik yang bisa mereka perbincangkan. Sedangkan Haneul, sejak tadi tak henti-hentinya gadis itu merutuki kebimbangan hatinya. Ia sudah memiliki Kyuhyun. Gadis-gadis diluaran sana bahkan rela melakukan hal diluar masuk akal demi berada diposisinya sekarang. Lagipula, bagaimana dengan isi hati Donghae sebenarnya? Pria itu tidak pernah menunjukkan ketertarikan padanya. Haneul tidak ingin kembali terjatuh dilubang yang sama.

 

 

*****

 

Donghae merebahkan tubuhnya keatas tempat tidur hotel yang empuk. Kejadian hari benar-benar diluar perkiraannya. Ia tidak pernah menyangka bahwa sepupu kesayangan yang dimaksud oleh Yura selama ini adalah Choi Haneul, gadis yang disukainya saat SMA. Ah, mungkin hingga sekarang perasaan itu masih berbekas?

Donghae mendengus frustasi sembari mengusap wajahnya. Pria itu tidak pernah merasa sebimbang ini sebelumnya. Disaat ia sudah berhasil melupakan gadis itu dan mulai membuka hati untuk Yura, gadis yang selama masa kuliah dihabiskan untuk mengejar-ngejar dirinya, dengan seenaknya justru Haneul kembali muncul. Terlambat. Yah, semuanya sudah terlambat. Ia dan Yura akan menikah sebulan lagi. Persiapan sudah hampir seratus persen. Undangan tinggal menunggu untuk disebar. Apalagi yang bisa ia lakukan sekarang?

 

<<<Flashback>>>

Donghae suka memandang senyuman itu. Terasa begitu menenangkan sekaligus menyejukkan. Haneul memang bukan gadis tercantik disekolahnya ataupun dikelasnya. Masih ada Kim Jiyeon dan Ryu Sujeong yang jauh lebih cantik. Tapi bagi Donghae Haneul lebih menarik dibandingkan dua orang hoobae yang popular itu. Haneul baik, ramah, tulus dan punya selera humor yang bagus. Yah, walaupun itu hanya ia tunjukkan kepada orang yang sudah dekat dengan saja. Maklum Haneul tipe gadis pemalu.

Donghae tidak bodoh. Ia tahu jika Haneul juga memiliki ketertarikan yang sama dengannya. Beberapa kali ia pernah memergoki Haneul tengah mencuri-curi pandang kearahnya. Bahkan sampai beberapa orang temannya dekatnya sadar dan sempat menggoda dirinya dan Haneul, sebelum akhirnya Donghae meminta mereka untuk berhenti. Ia kasihan pada Haneul dan takut jika gadis itu malah menjauh.

Cuaca cukup cerah dan sejuk, membuat Donghae memutuskan untuk menghabiskan waktu istirahatnya di taman. Pria itu duduk disalah satu bangku taman yang langsung menghadap ke gedung sekolahnya, tepatnya ke jendela kelas Haneul. Pria itu berharap bisa melihat gadis itu sebentar saja. Ia hanya ingin melihat senyuman itu dan merekamnya baik-baik dalam otak karena waktunya untuk melihat Haneul tidak akan lama lagi. Ujian kelulusan sudah didepan mata. Begitu ujian selesai, pria itu akan kembali ke Cina. Sebenarnya orang tuanya sudah sejak lama menginginkan ia kembali ke negeri tirai bambu itu, namun Donghae menolak dengan alasan ia sudah kelas tiga dan akan rumit jika harus pindah ke sekolah yang baru. Tapi sebenarnya alasan utama pria itu adalah… karena ia ingin melihat Haneul lebih lama lagi.

Donghae menoleh begitu melihat Henry duduk disebelahnya. “Ada apa dengan wajah jelekmu itu?” Canda Donghae kala melihat ekspresi Henry yang begitu datar dan terkesan lesu. Henry menyandarkan tubuhnya sehingga kakinya semakin terjulur kedepan. Pria itu menghela napas pelan. “Ia menyukaimu.” Ucapnya pelan, nyaris seperti bisikan. Ekspresi Donghae menegang. Pria itu duduk tegak sembari menatap Henry. “Dia tidak—“

“Dia menyukaimu. Anak-anak yang lain bilang seperti itu dan mereka benar. Haneul selalu mencuri pandang kearahmu. Lihat kesana!”

Donghae menoleh kearah jendela kelas yang dimaksud oleh Henry. Jantungnya berdegup kencang kala matanya melakukan eye contact dengan Haneul, namun sedetik kemudian gadis itu sudah menghilang. Sepertinya ia bersembunyi. Donghae dapat melihat Mijoo yang tertawa cekikikan menertawakan kekonyolan Haneul. Gadis bertubuh tinggi itu kemudian menatap kearah Donghae dan tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. Donghae melambaikan tangan kearah hoobaenya itu.

“Kau tidak menyukainya, kan? Maksudku Haneul… kau sudah berjanji padaku untuk tidak menyukai gadis itu.” Ucap Henry yang seketika menampar Donghae dengan realita bahwa ia menyukai gadis itu, namun tidak bisa memilikinya. Ia sudah berjanji pada Henry. Dan menurutnya Henry lebih berhak karena pria itu sudah terlebih dahulu menyukai Haneul. Donghae tidak ingin bersahabatan yang sudah terjalin diantara mereka rusak begitu saja hanya karena seorang gadis. Walaupun pada kenyataannya ia sangat menyukai gadis itu.

Kedua tangan mengepal. Tatapan matanya menerawang kearah jendela kelas Haneul. Sebuah senyuman miris tersungging dibibirnya. “Ya, aku tidak menyukainya. Tidak sama sekali.”

 

 

*****

 

 

Donghae bersusah payah untuk bisa pergi dari gadis-gadis yang tengah mengerumuninya. Ada hal penting yang harus ia lakukan malam. Sekarang atau tidak sama sekali. Setelah berbasa-basi dengan Joohyun dan Bora, Donghae pamit pergi. Pria itu sempat melihat jika Haneul pergi kearah taman sekolah. Dengan langkah kaki cepat, Donghae berusaha untuk mengejar gadis itu. Mengejar cintanya.

Namun langkah Donghae berhenti begitu melihat Haneul dan Henry. Mereka tampak sedang terlibat dalam perbincangan serius. Donghae seharusnya pergi, tapi pria itu malah bersembunyi dan menguping pembicaraan teman dekatnya dan gadis yang disukainya itu. Dugaan Donghae benar. Henry memang tengah mengungkapkan cintanya. Donghae nyaris menahan napasnya kala menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut Haneul.

Sebuah penolakan.

Seharusnya Donghae senang karena itu berarti ia memiliki peluang yang sangat besar. Tapi bodohnya, pria itu justru melepaskan kesempatan itu. Donghae tidak mungkin bisa memanfaatkan kesengsaraan Henry demi kepentingannya sendiri. Ia tidak mungkin bisa bersenang-senang diatas penderitaan sahabatnya itu. Pada akhirnya Donghae kembali menjadi pengecut. Dengan langkah gontai ia beranjak pergi. Ia tidak kembali ke dalam gedung, melainkan langsung pulang ke rumahnya. Acara meriah itu sudah tidak menarik minatnya sama sekali.

Yah, mungkin ini memang yang terbaik. Tidak ada satupun yang mendapatkan Haneul. Jadi tidak ada hati yang tersakiti semakin dalam.

 

<<<Flashback End>>>

 

*****

 

 

“Haneul-ah, kau bisa kan membantuku? Aku benar-benar butuh bantuanmu. Hae oppa sudah lama tidak datang ke Korea, jadi ingatannya agak buruk. Aku takut ia tersesat nanti. Kali ini saja. Otte?” Suara Yura disana terdengar sangat memelas sehingga Haneul tidak sampai hati untuk menolak permintaan sepupunya itu. Dengan terpaksa Haneul mengiyakan permintaan Yura untuk menemani Donghae melihat gedung tempat acara pernikahan mereka akan digelar.

“Baiklah.”

“Kyaaaa! Gomawo chagiya~ Saranghaeyo…”

Haneul tertawa kecil mendengar celotehan sepupunya itu.

“Hae oppa akan menjemputmu jam 12 siang nanti. See you soon, babe. Muaaaaach.”

Telepon ditutup, meninggalkan Haneul yang masih terpaku ditempatnya. Kurang dari tiga jam lagi Donghae akan menjemputnya. Suatu hal yang sangat ia idam-idamkan sedari dulu, namun sayangnya Donghae menjemputnya bukan untuk ajakan kencan, tapi untuk menemani pria itu melihat gedung acara pernikahannya bersama Yura nanti. Haneul mendesah seraya membanting dirinya keatas ranjang. “Ini akan menjadi hari yang paling canggung sedunia.” Gumamnya.

Jam 12 lewat 5 Donghae sudah berdiri didepan pintu rumah Haneul. “Hai.” Sapa Donghae seraya tersenyum.

“Hai.” Balas Haneul. Suasana canggung begitu terasa diantara mereka. Mati-matian Haneul berusaha memutar otaknya untuk mencari bahan obrolan ringan yang bisa menghangatkan situasi canggung mereka. Namun pada akhirnya gadis itu menyerah. Tidak ada satupun topik menarik yang terlintas dikepalanya. Ia tak mungkin kan bertanya, ‘Kenapa Sunbae pergi tanpa berpamitan?’ memangnya ia siapa? Atau ‘Kenapa kau memilih Yura daripada aku?’ Wow, itu jelas pertanyaan gila.

“Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk menemaniku. Yura sedang sibuk mengurus undangan, dan aku tidak begitu tahu jalanan Seoul.”

“Gwenchana. Aku senang bisa membantu. Toh, aku juga sedang tidak sibuk.” Haneul tersenyum tipis sembari menatap Donghae. “Memangnya sunbae belum pernah kesana?”

“Ke gedung itu? Belum. Aku dan Yura melihatnya dari internet, tapi Yura pernah kesana satu kali. Ia bilang tempatnya memang sangat bagus. Cocok dengan konsep wedding garden kami.” Jawab Donghae. Pria itu melirik Haneul sekilas sebelum fokusnya kembali kearah jalanan. “Apa tidak apa-apa jika kau menemaniku? Hmm, maksudku, apa namjachingumu tidak akan marah?”

Haneul tertawa kecil. “Tidak apa-apa. Kyuhyun bukan namja pencemburu kok. Lagipula sunbae kan calon suami Yura, sepupuku. Tidak ada alasan bagi Kyuhyun untuk cemburu.”

Bohong! Jelas-jelas Kyuhyun adalah tipe namja pencemburu. Bahkan mungkin jika distadiumkan, pria itu akan digolongkan dalam stadium empat, alias sudah parah. Kyuhyun bahkan cemburu melihat Haneul dekat dengan asisten dosen. Padahal jelas-jelas itu semua demi keperluan project yang tengah dikerjakan Haneul. Gadis itu tidak bilang pada Kyuhyun bahwa dirinya tengah menemani Donghae melihat gedung. Kyuhyun hanya tahu jika dirinya pergi ke salon untuk perawatan seperti niat awal Haneul sebelum Yura menelponnya.

“Kau sudah lama berpacaran dengannya?” Tanya Donghae.

“Sekitar 4 bulan.” Haneul menggigit bibir bawahnya sembari melirik ragu kearah Donghae. “Bagaimana dengan sunbae? Apakah sunbae dan Yura sudah lama berpacaran? Kalian kenal dimana?”

Mobil berhenti didepan lampu lalu lintas. Beberapa orang melintas di zebra cross, tepat didepan mobil yang dikendarai oleh Donghae. Pria itu mengamati orang-orang yang berlalu lalang itu. Pandangannya menerawang, tampak sedang mengingat-ingat kepingan kenangan awal pertemuannya dengan Yura.

“Bulan depan akan menjadi tiga tahun. Salah seorang teman mengenalkan kami berdua. Dan setelah itu aku kembali bertemu dengan Yura di sebuah pameran lukisan. Kami mudah akrab karena sama-sama menyukai lukisan. Kami bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk membahas soal lukisan yang kami lihat di pameran. Disamping itu, Yura juga memiliki sifat yang supel dan ramah.” Ujar Donghae. Haneul mengangguk membenarkan ucapan Donghae. Sepupunya itu memang sangat mudah bergaul, periang, humoris dan juga sangat ramah. Tidak ada kata canggung didalam kamus hidup Yura. Haneul menghela napas pelan. Dalam hati ia begitu merutuki dirinya yang merasa begitu iri pada Yura. Seumur hidup Haneul tidak pernah merasa seiri ini dengan seseorang. Bahkan tidak dengan Ye Eun, sepupunya yang pernah mendapatkan hadiah kencan bersama Kim Woo Bin yang notaben adalah actor favoritnya.

Setengah jam kemudian mereka telah sampai di gedung acara. Dan ternyata Yura tidak membual. Taman yang akan digunakan untuk pesta pernikahan mereka memang sangat indah. Haneul dan Donghae bahkan serempak berdecak kagum. “Lebih indah dari yang di foto.” Ujar Donghae.

Haneul berjalan mengelilingi taman tersebut. Tamannya begitu rimbun dengan ditanami berbagai macam pohon dan tumbuhan. Bunga-bunga berwarna-warna cerah semakin menyemarakkan suasana taman tersebut. Ada pula danau kecil yang dilengkapi dengan bunga teratai diatasnya, serta ada beberapa hiasan patung yunani yang ditempatkan dibawah pohon-pohon rindang. Sempurna. Yah, taman ini memang pilihan yang pas untuk pesta pernikahan. Dan sekali lagi ia merasa iri pada sepupunya itu.

“Kau suka tamannya?” Tanya Donghae yang sudah entah kapan berada disebelah Haneul, membuat gadis itu agak tersentak kaget. Haneul mengangguk. “Neomu joha. Pilihan tempat yang bagus.”

Donghae tersenyum lembut. “Suasananya mengingatkanku pada taman sekolah dulu.”

Haneul terdiam mendengar ucapan Donghae. Kilasan memori saat dirinya yang secara diam-diam suka mengamati Donghae yang tengah duduk di taman datang silih berganti bagaikan film yang diputar. Dulu Donghae suka menghabiskan waktu istirahat atau jam pelajaran yang kosong dengan bersantai di taman. Biasanya pria itu berada disana dengan ditemani oleh gitar coklat kesayangannya. Atau terkadang Donghae hanya akan duduk tenang dengan ditemani oleh lagu-lagu favoritnya yang diputar dari mp3 player miliknya. Haneul ingat itu semua. Ia ingat bagaimana Donghae akan memejamkan matanya seraya mengangguk-anggukkan kepalanya mengikuti hentakan musik dari headsetnya. Bagaimana wajah tenangnya kala pria itu tengah menikmati kesendiriannya tanpa ada yang mengusik. Haneul hafal itu semua karena diam-diam ia ada disana, mengamati Donghae dari jauh atau dari jendela kelasnya.

“Hujan!” Seru Donghae seraya menarik tangan Haneul untuk mencari tempat berteduh. Karena hujan yang turun tanpa ampun secara tiba-tiba, mereka terpaksa berteduh dibawah salah satu pohon yang begitu rimbun sambil menunggu hujan agak reda.

“Huft, kenapa harus hujan sekarang sih?” Gerutu Haneul sembari membersihkan rambut dan bajunya yang terkena tetesan air hujan. Donghae menoleh kearah Haneul dan seketika terdiam. Keadaan seperti ini… ia pernah mengalami hal seperti ini bersama Haneul beberapa tahun silam. Seperti De Javu.

Gerakan tangan Haneul berhenti diudara. Napas gadis itu tercekat. Manik matanya membesar kala menatap tangan Donghae yang tengah berada diwajahnya, menghapus titik hujan. Manik mata pria itu menatap lurus kearah manik mata Haneul. Tatapan sulit untuk diartikan, namun sejenak Haneul dapat melihat kepedihan disana. Tapi kenapa? Batin Haneul bingung. Kedua hati itu bergemuruh, tak kalah dengan gemuruh hujan yang terdengar begitu keras. Kedua tangan Donghae masih menangkup pipi Haneul. Mata pria itu berkaca-kaca. Dan Haneul yakin itu bukan karena air hujan atau kelilipan.

“Haneul-ah… maafkan aku…” Suara Donghae terdengar begitu lirih, hingga tanpa sadar membuat air mata Haneul menetes. “Aku mencintaimu…” Pria itu memejamkan matanya setengah mengucapkan dua kata yang selama ini selalu Haneul nantikan.

Kali ini Haneul terisak. Isakannya terdengar begitu pilu karena ia menyadari bahwa segalanya telah terlambat…

 

 

*****

 

 

Kedua mata Haneul perlahan terbuka kala ia merasakan sepasang lengan memeluk tubuhnya dari belakang. “Terima kasih sudah membantuku hari ini.” Ucap Yura dengan suaranya yang riang. Haneul membalikkan tubuhnya, menatap Yura yang tengah berbaring disebelahnya. Wajah Yura tampak sumringah sehingga mau tak mau membuat Haneul turut tersenyum, meskipun hanya seulas senyum kecil. “Sama-sama. Aku senang bisa membantu.” Jawab Haneul.

Yura agak mengernyit begitu mendengar suara Haneul yang parau. Terlebih ia baru menyadari jika mata sepupunya itu agak sembab. “Kau baik-baik saja?” Wajah Yura tampak agak cemas. Haneul tidak langsung menjawab. Ia mengubah posisi berbaringnya menjadi terlentang. Kedua matanya memandang kearah langit-langit kamar yang ditempeli tempelan-tempelan neon yang selalu bersinar kala gelap. “Sepertinya aku terserang flu.” Jawabnya setelah sekian detik terdiam.

“Sudah minum obat?”

“Eo.”

“Ah, bagaimana taman itu? Indah sekali, bukan?” Yura bertanya dengan suara yang begitu bersemangat. Haneul tertawa kecil, lebih tepatnya tertawa miris. “Hm, kau benar. Tamannya indah sekali. Lokasi yang sempurna untuk pesta pernikahan.”

Yura tampak puas dengan jawaban Haneul. Ia merasa bangga karena taman itu merupakan pilihannya sendiri. Tidak sia-sia ia menghabiskan waktu berjam-jam demi mencari tempat yang cocok untuk pergelaran pesta pernikahannya bulan depan. Yura turut mengubah posisinya menjadi terlentang. “Kau tahu, rasanya aku masih sulit untuk percaya bahwa sebentar lagi aku akan menikah dengan Donghae. Aku tidak pernah merasakan perasaan seperti ini terhadap pria lain selain Donghae. Bisa dibilang jika ia adalah cinta pertamaku. Kau tahu sendiri kan jika aku ini tipe yeoja pemilih dan cepat bosan. Tapi dengan Donghae semuanya berbeda. Terkadang aku bertanya pada diriku sendiri, apakah Donghae mencintaiku seperti aku yang sangat mencintainya? Selama ini aku adalah pihak yang paling agresif dalam hubungan ini. Dua tahun lamanya aku mengejar-ngejar cinta Donghae, mengabaikan harga diriku yang selama ini begitu kujaga hingga akhirnya ia menerima cintaku. Entah karena luluh, atau malah karena ia merasa kasihan padaku. Kau pasti tahu kan jika Donghae adalah namja yang sangat baik dan lembut. Dan… pernikahan ini… aku yang memintanya untuk menikahiku…”

Haneul melirik kearah Yura. Meskipun tak terlalu tampak, namun Haneul bisa melihat raut wajah Yura yang mendadak muram. Haneul menjadi serba salah.

“Kau— “

“Apa menurutmu aku dan Donghae serasi?” Yura menatap Haneul, menanti jawaban dari mulut sepupunya itu. Haneul balas menatap wajah sepupunya yang tampak harap-harap cemas itu. “Eo, kalian tampak serasi.”

Wajah Yura langsung berubah cerah. Dengan gembira ia memeluk tubuh Haneul. “Gomawo. Kau memang sepupu terbaikku!” Ujar Yura riang tanpa sadar bahwa perasaan sepupu yang berada dipelukannya itu berbanding terbalik dengan dirinya.

 

 

*****

 

 

Double date. Ini memang bukan pertama kalinya Haneul melakukan hal seperti ini. Sebelumnya ia sudah pernah double date dengan sahabatnya Mijoo serta kekasih Mijoo yang bernama Sungmin, yang ternyata adalah teman dekat Kyuhyun saat SMA. Tapi double date kali ini berbeda karena yang menjadi teman kencan ganda ia dan Kyuhyun adalah Yura dan Donghae. Sesekali Haneul mencuri pandang kearah Donghae, begitu pula namja berwajah lembut itu. Tak ada hal spesial yang terjadi setelah pengakuan perasaan itu. Ini adalah pertama kalinya mereka bertemu kembali setelah kejadian di taman tersebut. Jujur, Haneul merasa canggung bertatapan dengan Donghae.

“Kesukaanmu.”

Haneul menoleh kearah Kyuhyun dan kemudian kearah piringnya yang ada dihadapannya. Kyuhyun baru saja meletakkan beberapa brokoli yang digoreng tepung kedalam piringnya. Haneul tersenyum manis kearah kekasihya itu. “Gomawo.” Ucapnya dengan suara kecil namun cukup terdengar oleh Kyuhyun.

Perbincangan malam ini didominasi oleh Kyuhyun dan Yura. Donghae akan menambahkan sedikit-sedikit. Dipenglihatan Haneul, Donghae sama sekali tidak bersikap canggung. Bahkan terhadap dirinya. Dan itu tentu saja membuat Haneul agak merasa kesal.

‘Apa baginya pernyataan kemarin itu hanya sekedar pernyataan tak berarti?’

Tanpa sadar Haneul berdengus agak kencang, membuat Kyuhyun yang duduk disebelahnya sontak langsung menoleh kearah gadis itu. “Wae geure?” tanyanya. Haneul tersentak, namun cepat-cepat menoleh sembari menggeleng pelan. “Tidak apa. Hanya… pudingnya lama sekali datang.” Bohongnya.

“Mungkin sebentar lagi. Apa perlu ku panggil kembali peHaeannya?”

“Tidak perlu. Mungkin akan datang sebentar lagi.” Haneul tersenyum kecil.

“Pokoknya setelah aku dan Donghae, kalian berdua harus segera menyusul kami, eo. Nikah muda itu asyik kok. Teman-temanku banyak yang seperti itu.” Ujar Yura dengan sumringah. Kyuhyun terkekeh kecil. “Aku sih sangat mau, tapi masalahnya bocah kecil disebelahku ini. Dia baru mau menikah di umur 30 katanya.”

Haneul mencubit lengan Kyuhyun. “Yak, bukan 30 tapi 25!” Ralatnya dengan wajah kesal.

Yura manggut-manggut. “Hm, 25 tidak buruk. Yang penting jangan lewat dari 25 ya. Nanti kau lama-lama jadi perawan tua.” Ejek Yura.

“Sialan kau!” Sungut Haneul karena sempat-sempatnya sepupu tercintanya itu menggoda dirinya didepan Kyuhyun dan Donghae. Menjatuhkan image-nya saja.

Haneul memilih untuk fokus pada makanannya saja. Tapi itu tidak bertahan lama. Pemandangan dihadapannya cukup mengganggu mata gadis berambut panjang itu. Yura yang membersihkan ujung bibir Donghae, Donghae yang mengikat rambut Yura karena menggangu kegiatan makan gadis itu, serta bisikan-bisikan mesra penuh tawa yang diberikan Yura pada Donghae. Sepupunya itu benar-benar terjatuh dalam pesona Lee Donghae. “Aku ke toilet dulu.” Pamit Haneul. Ia merasa harus segera menyegarkan pikirannya sebelum ia bertindak konyol, seperti membanting piring atau menjambak rambut Yura, mungkin?

Kyuhyun memandang punggung kekasihnya yang perlahan menjauh dengan pandangan yang begitu tajam, kemudian ia menoleh kearah Donghae dan Yura yang tengah entah mengobrolkan hal apa. Mereka terlihat mesra. Atau lebih tepatnya Yura yang selalu berusaha untuk membangun kemesraan dengan Donghae. Dahi Kyuhyun berkerut, hal yang kerap ia lakukan jika tengah memikirkan sesuatu. Helaan napas terdengar dari mulutnya sebelum ia kembali menyuapkan steak kedalam mulutnya.

 

 

*****

 

Acara pameran seni ataupun pameran science Jeguk High School selalu diadakan setahun sekali, tepatnya pada hari ulang tahun sekolah itu. Seperti hari sabtu yang cerah ini, Jeguk High School tampak ramai dengan kedatangan orang-orang yang ingin melihat pameran seni maupun science. Orang-orang yang datang kebanyakan adalah alumni dari sekolah bertaraf internasional itu, seperti Haneul dan Mijoo yang sekarang tengah berjalan-jalan melihat stand demi stand yang ada disana.

“Apa Donghae sunbae akan datang?” Tanya Mijoo.

Haneul mengedikkan bahunya. “Entahlah. Mungkin tidak. Ia sedang sibuk menyiapkan pernikahannya dengan Yura.”

Mijoo menarik Haneul untuk duduk disalah satu stand café mini agar mereka lebih mudah untuk mengobrol. Setelah memesan dua gelas milkshake coklat dan sepotong tiramisu, Mijoo kembali membuka obrolan yang sempat terhenti dengan Haneul. Gadis itu menatap Haneul intens, menelisik setiap guratan ekspresi yang terpatri diwajah cantik temannya itu. Dan satu hal yang Mijoo temui, ekspresi sedih yang tampak samar. “Kau tampak sedih.” Ucapnya.

“Donghae sunbae bilang kalau dia menyukaiku…”

“Mwo? Kapan dia mengatakan hal itu?!” Tanya Mijoo kaget.

“Beberapa hari yang lalu saat aku menemaninya melihat lokasi pesta pernikahannya nanti. Aku takkan segalau ini jika ia tidak pernah mengatakan hal itu. Kenapa ia baru mengatakannya sekarang setelah semuanya terlambat seperti ini? Disaat ia akan menikah dengan sepupuku dan aku sudah memiliki Kyuhyun disisiku. Kenapa takdir mempermainkanku seperti ini?”

Mijoo menatap Haneul iba. “Mungkin… karena kalian tidak ditakdirkan bersama…” Meski berat, namun Mijoo harus menyadarkan Haneul bahwa ia tidak bisa bersama Donghae. Akan ada banyak pihak yang terluka jika itu sampai terjadi. Mata Haneul berkaca-kaca. Hatinya menjadi semakin sakit kala harus mendengar perkataan itu langsung dari mulut sahabatnya, satu-satunya orang yang tahu sebesar apa rasa cintanya pada Donghae. “Kalau memang seperti itu… kenapa kami harus bertemu lagi? Kenapa Tuhan tidak menghapus perasaan ini. Rasanya sakit… Tanpa bisa ku kendalikan, aku merasa iri dan marah pada sepupuku sendiri. Pada Yura yang tidak tahu apapun mengenai perasaanku pada Donghae. Dan terkadang sisi jahatku berharap jika pernikahan mereka batal.” Haneul berusaha untuk menahan air matanya yang sebentar lagi akan jatuh. “Aku… orang yang jahat, bukan?” suaranya terdengar begitu parau dan gemetar.

 

 

*****

 

 

“Benar tidak apa-apa jika aku pulang duluan? Apa Kyuhyun oppa masih lama?” Tanya Mijoo.

“Gwenchana. Duluan saja. Kyuhyun bilang ia sudah dekat. Mungkin sepuluh menit lagi akan sampai.”

“Baiklah kalau begitu. Aku duluan ya.” Mijoo menyalakan mesin motornya. “Hati-hati.” Ujar Haneul. Tak lama motor Mijoo meninggalkan parkiran Jeguk High School dengan kecepatan sedang, meninggalkan Haneul yang tengah menatap kepergian temannya itu. Haneul memeriksa ponselnya, tidak ada pesan ataupun telepon dari Kyuhyun. “Mungkin telat lagi.” Gumamnya. Suasana Jeguk sudah tidak terlalu ramai sebab satu jam lagi acara pameran ini akan selesai. Beberapa stand bahkan sudah tutup. Bosan menunggu Kyuhyun, Haneul pun berjalan masuk kembali kearea sekolah. Langkahnya menuju kearah taman sekolah. Gadis itu duduk disalah satu bangku. Dari sini ia bisa melihat jendela kelasnya dulu dengan sangat jelas. Yah, ia tengah duduk dibangku taman yang biasa ditempati Donghae untuk menghabiskan waktu.

“Dari sini bisa terlihat jelas.”

Haneul tersentak kaget dan langsung menoleh kearah kanannya. Ia mendapati Donghae yang tengah berdiri tak jauh darinya dan dengan santai duduk disebelahnya. Pria itu tersenyum manis mendapati wajah kaget Haneul. “Kau… ada disini sunbae…”

“Jahat sekali tidak memberi tahuku bahwa ada acara seperti ini. Untung saja aku tahu dari Henry.”

“Ma…maaf, aku pikir sunbae terlalu sibuk untuk hadir disini.”

“Mana Mijoo? Tadi aku sempat melihat kalian berdua.”

“Dia baru saja pulang.” Jawab Haneul.

“Oh begitu.” Jawab Donghae singkat seraya menatap fokus kesatu titik. Haneul mengikuti arah pandang pria itu, dan ternyata Donghae tengah menatap jendela kelasnya dulu. Seketika Haneul jadi mengerti apa maksud perkataan Donghae tadi. Yah, dari sini jendela kelasnya memang terlihat jelas. Bahkan ia bisa melihat posisi bangkunya dulu yang memang dekat dengan jendela. Itu berarti selama ini… apa jangan-jangan Donghae juga suka diam-diam melihatnya?! Haneul kaget dengan pemikirannya sendiri. Gadis itu menoleh kearah Donghae dan mendapati namja itu tengah tersenyum lembut kepadanya, membuat hati Haneul semakin tak menentu. Perlahan namun pasti wajah Donghae mendekati wajahnya, dan beberapa detik kemudian Haneul bisa merasakan material lembut dan agak lembab menempel disudut bibirnya.

Donghae menciumnya…

 

 

*****

 

 

“Eo. Aku sedang bersama Mijoo sekarang. Iya, tidak apa-apa. Kita masih bisa nonton lain kali. Ya, sampai ketemu besok.” Panggilan tersebut berakhir. Haneul menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong. Kyuhyun baru saja menelponnya, sekedar ingin memastikan bahwa Haneul tidak marah gara-gara acara kencan mereka batal lantaran Kyuhyun ada tugas dadakan dari ayahnya di kantor. Haneul berjalan menuju sebuah sebuah meja, kemudian ia duduk dikursi kosong yang ada di meja.

“Makanannya sudah datang. Mari makan!” Donghae berkata sambil tersenyum sumringah. Haneul tak kuasa untuk tak membalas senyuman itu. “Wah, sepertinya ini sangat enak.” Decak kagum tak dapat disembunyikan Haneul kala menatap berbagai macam makanan laut yang telah dimasak menjadi beberapa macam masakan khas Korea. Donghae mengangguk setuju. “Pasti enak. Harumnya saja sudah menggungah selera. Ja, ayo kita makan. Jalmokgae seumnida!”

Haneul berbohong. Ia tidak berada di mall. Ia tidak bersama dengan Mijoo. Saat ini ia sedang berada pantai, menyantap hidangan seafood, bersama Donghae.

“Wah, neomu mashita!” Seruan Donghae mengalihkan Haneul dari secercah rasa bersalahnya pada Kyuhyun. Melihat Donghae yang sekarang nyata berada dihadapannya, tengah tersenyum manis sembari menyantap makanan favorit mereka. Ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan bagi Haneul. Ia menyukai ini, dan ia tidak menyesal meski telah membohongi kekasihnya.

Dan seperti yang orang-orang bilang bahwa satu kebohongan akan menghadirkan kebohongan yang lainnya. Haneul membuktikan bahwa perkataan itu memang benar. Kebohongan seakan telah menjadi teman baiknya selama beberapa hari belakangan ini. Yah, kebohongan hadir karena terbiasa.

“Aku tidak pernah tahu jika disini ada museum seni.” Ujar Haneul. Donghae terkekeh geli sembari menggelengkan kepalanya. “Keterlaluan sekali. Aku yang tinggal di negara lain saja tahu. Makanya, jangan selalu pergi ke mall. Sekali-kali kunjungilah tempat-tempat wisata seperti ini. Selain bagus juga bisa menambah wawasan.”

“Siap sajangnim!” Haneul memberi hormat sembari tersenyum sumringah.

Donghae menjalankan mobilnya meninggalkan daerah Petite France. Haneul membuka jendela mobil lebar-lebar, membiarkan angin sejuk pegunungan membelai lembut wajahnya. Donghae menoleh sekilas dan tak ayal ikut tersenyum senang melihat Haneul yang tampak bahagia saat sedang bersamanya. Sudah beberapa hari ini mereka selalu menghabiskan waktu bersama. Entah hanya untuk sekedar makan, nonton, ke toko buku, hingga berjalan-jalan menikmati tempat wisata di Seoul atau berolah raga malam disekitar sungai Han. Tentunya mereka melakukan hal tersebut tanpa sepengetahuan pasangan masing-masing. Haneul selalu beralasan bahwa dirinya sedang disibukkan dengan tugas kuliah sehingga sulit untuk menghabiskan waktu bersama Kyuhyun. Bisa dibilang pertemuan dirinya dengan Donghae telah menutup mata Haneul akan Kyuhyun. Padahal gadis itu sendiri tak tahu akan dibawa kearah mana hubungannya dan Donghae saat ini. Baik Haneul maupun Donghae hanya membiarkan semuanya berjalan bak air yang mengalir. Mereka hanya akan mengikuti arus.

Ponsel Haneul berbunyi. Haneul meronggoh tas tangannya guna mengambil ponselnya. Ekspresi gadis itu berubah tegang begitu mendapati nama Kyuhyun tertera disana. Haneul hanya diam, sama sekali tidak punya niatan untuk menjawab panggilan tersebut. Hal tersebut membuat Donghae bingung. “Kenapa tidak dijawab? Memangnya itu siapa?”

“Ini… nomor yang tidak kukenal. Paling-paling hanya ingin menawarkan asuransi seperti yang sudah-sudah.” Jawab Haneul. Begitu panggilan tersebut berhenti, buru-buru Haneul mengubah setting-an ponselnya menjadi silent. Dan tak berapa lama satu panggilan kembali datang dari Kyuhyun. Sama seperti tadi, Haneul tidak menjawab panggilan tersebut. Ia justru kembali memasukkan ponselnya kedalam tas. ‘Maafkan aku… Tapi biarkan aku menikmati momen ini bersama Donghae.’

*****

 

 

“Undangannya bagus, kan? Besok akan mulai disebarkan.” Yura menunjukkan undangan pernikahan mereka yang telah selesai dicetak. Undangan itu berwarna putih gading dengan pita berwarna emas yang mengikatnya. Didalamnya tercantum foto pre-wedding mereka serta denah lokasi acara diadakan. Donghae tersenyum tipis seraya membolak-balikkan undangannya, melihat tampak depan, belakang serta dalam undangan tersebut. “Bagus.” Ucapnya singkat. Yura menyandarkan kepalanya dibahu pria yang seminggu lagi akan menjadi suaminya itu. “Aku benar-benar tidak menyangka bahwa aku bisa menikah denganmu, mengingat bagaimana dulu aku mati-matian mengejarmu sedangkan kau secara halus selalu menolakku. Terkadang aku berpikir jika kau menerimaku karena sudah lelah karena selalu kukejar-kejar.” Yura tertawa kecil seraya mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Donghae. Donghae hanya diam, tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Tatapan pria itu tampak sayu.

“Aku sangat mencintaimu oppa. Jeongmal manhi.” Ucap Yura malu-malu, lalu ia membenamkan wajahnya kepundak Donghae. Gadis itu bisa merasakan pipinya memanas. Masa bodoh jika ia harus selalu menjadi yang pertama mengucapkan kata cinta itu. Yang terpenting Donghae tahu betapa ia mencintai pria itu.

Yura akhirnya tertidur dipundak Donghae. Setelah pernyataan cinta tadi mereka hanya duduk diam selama satu jam, sebelum akhirnya Yura tertidur karena bosan. Gadis itu sebenarnya memang tidak pernah betah dengan suasana hening, kebalikan dari Donghae. Pria itu menolehkan kepalanya menatap wajah damai Yura yang tengah tidur dengan begitu tenang. Mungkin memang awalnya Donghae menerima Yura karena ia merasa kasihan dan tidak enak dengan gadis itu. Namun lama kelamaan Donghae mulai merasa terbiasa serta nyaman berada disisi Yura. Hal itu juga yang membuatnya yakin untuk menerima ajakan Yura untuk menikah. Toh ia tak pernah dekat dengan gadis lain selain dengan kekasihnya itu. Tapi pertemuannya dengan Haneul secara perlahan membuat perasaannya menjadi abu-abu. Dulu ia tidak bisa bersama gadis itu karena ia tidak ingin menyakiti Henry, tapi bagaimana dengan sekarang?

Jemari Donghae mengelus wajah Yura. “Terima kasih untuk cintamu, geurigo jeongmal mianhe…” Ucapnya lirih dan kemudian mengecup puncak kepala Yura dengan lembut.

 

 

*****

 

 

Dua pasang kaki itu melangkah dengan begitu serasi menyusuri taman di dekat sungai Han. Meskipun hari sudah malam, namun suasana taman itu masih tetap ramai dengan orang-orang yang berolah raga ataupun hanya duduk atau berjalan santai menghabiskan waktu seraya menikmati udara malam yang segar. Senyuman manis tak luput dari wajah Haneul. “Seharusnya kita memakai baju olah raga jadi kita bisa adu lari lagi seperti waktu itu. Aku masih belum bisa menerima kekalahanku.” Ujar Haneul. Donghae tersenyum kecil. Haneul menoleh dan seketika senyuman sumringah gadis itu memudar. Donghae tampak berbeda. Pria itu tidak seceria biasanya. “Ada apa?” Tanya Haneul. Donghae menghentikan langkahnya dan kemudian menatap Haneul tepat dimanik mata gadis itu. “Kita tidak bisa seperti ini. Ini salah.”

Jantung Haneul mencelos. “Salah?” Gumamnya lirih. Sorot mata gadis itu meredup, seakan kebahagian yang tadi dirasakannya hanyalah sebuah mimpi belaka. Perasaan Donghae tidak kalah hancur. Mata pria itu berkaca-kaca. Dengan lembut diusapnya kedua pipi Haneul yang ternyata tanpa disadari gadis itu telah dialiri oleh air mata. Donghae memegang kedua bahu Haneul, mengisyaratkan gadis itu agar menatapnya. “Kita tidak bisa seperti ini terus. Akan ada banyak pihak yang tersakiti jika kita tetap melanjutkan ini. Dua hari lagi aku akan menikah dengan Yura, dan kau telah memiliki Kyuhyun disisimu. Akan sangat egois jika kita tetap bersikeras untuk bersama tanpa memikirkan perasaan mereka. Aku juga tidak mungkin membatalkan pernikahan ini. Undangan telah disebar, dan yang lebih penting dari itu, aku tidak bisa menyakiti Yura semakin jauh. Ia terlalu baik untuk kusakiti. Selama ini Yura begitu sabar berada disisiku meskipun ia tahu bahwa hatiku tidak sepenuhnya ia miliki. Apa yang terjadi diantara kita, perasaan kita… semuanya telah terlambat.”

“Mengapa Tuhan kembali mempertemukan kita jika semuanya telah terlambat? Kenapa?! Kenapa kau harus datang disaat aku sudah bisa melupakanmu? Kenapa kau harus menjadi calon suami sepupuku?! Dan kenapa kau tidak pernah mengungkapkan perasaanmu dulu sebelum Kyuhyun dan Yura masuk kedalam kehidupan kita?! Kenapa kau harus menunggu waktu selama ini hanya untuk mengatakan bahwa kau mencintaiku? Kenapa?!” Haneul menangis terisak sembari memukul dada Donghae. Gadis itu menyesali takdir yang kembali mempertemukan mereka. “Seandainya kau mengatakan perasaanmu dulu. Semuanya pasti akan berbeda…” Haneul menatap Donghae dengan pandangan penuh luka.

“Maafkan aku yang begitu pengecut. Sesungguhnya aku sangat ingin mengungkapkan perasaan ini. Perasaan yang selama bertahun-tahun terasa begitu menyesakkan dihatiku. Beberapa kali aku berencana untuk mengatakannya padamu, tapi aku tidak bisa. Henry ternyata juga menyukaimu. Apa yang bisa kulakukan dengan itu? Dia adalah sahabatku. Teman pertama yang kumiliki di Korea. Orang yang telah mengajariku banyak hal tentang Korea. Apa kau pikir aku setega itu untuk tetap egois menyatakan perasaanku padamu? Seandainya kau tahu betapa sakitnya hati ini saat aku harus menyembunyikan perasaanku dan berpura-pura bahwa kau tidak ada dihatiku disaat aku tahu bahwa kau juga menyukaiku. Apa kau tahu seberapa besar usahaku untuk tidak menyatakan perasaanku setiap kali aku memiliki kesempatan untuk itu? Apa kau juga tahu seberapa besar aku ingin memelukmu dan menjadikanmu milikku? Apa kau tahu itu? Aku juga sangat mencintaimu sampai saat ini.” Donghae menangis. Rasa sakit yang mendera hatinya membuat ego pria itu kalah. Tangisan Haneul semakin menjadi. Beruntung mereka tengah berada dibagian taman yang sepi. Donghae menarik Haneul kedalam pelukannya. Ia memeluk gadis itu erat, tahu bahwa ini adalah kesempatan terakhirnya.

“Kenapa takdir mempermainkan kita?” Isak Haneul.

“Tidak. Takdir tidak mempermainkan kita. Justru takdir ingin memberikan kita kesempatan untuk mengungkapkan perasaan yang selama bertahun-tahun tak pernah terucap.” Donghae melepaskan pelukannya. Kedua tangannya menangkup pipi Haneul yang basah. “Karena aku mencintaimu, maka aku harus melepaskanmu. Berbahagialah dengan Kyuhyun. Dia namja yang baik dan yang terpenting ia sangat mencintaimu. Ia takkan membiarkanmu menunggu bertahun-tahun lamanya hanya untuk sebuah pengakuan cinta. Ia bukan namja pengecut. Kau layak mendapatkannya.”

“Tapi aku mencintaimu…”

“Aku juga. Tapi ini tidak benar. Kita sudah memiliki jalan kita masing-masing yang harus dijalani. Semua ini harus segera dihentikan sebelum akan ada banyak hati yang terluka. Aku mencintaimu, tapi aku harus melupakanmu. Begitu pula dengan dirimu. Kau harus bisa melupakanku. Perasaan ini, kenangan ini… anggaplah sebagai bagian masa lalu kita yang indah…

Dan untuk kedua kalinya dua hati yang saling mencintai itu harus kembali berpisah mengikuti alur takdir yang memutuskan bahwa mereka takkan bisa bersama.

 

 

*****

 

Langkah kaki Haneul begitu gontai. Dengan langkah diseret, gadis itu masuk ke perkarangan rumahnya. Haneul berdiri mematung mendapati Kyuhyun yang tengah berdiri didepan pintu rumahnya. Melihat Kyuhyun membuat air mata Haneul kembali jatuh kala ia mengingat kebohongan-kebohongan yang telah ia lakukan pada Kyuhyun. Donghae benar. Kyuhyun namja yang baik dan pria itu sangat mencintainya. Tidak seharusnya ia menyakiti hati pria sebaik ini.

“Hei, kau kena—“

Haneul menubruk tubuh Kyuhyun dan memeluk tubuh tinggi itu dengan begitu erat. Tangisnya kembali pecah. Kyuhyun membalas pelukan itu tak kalah erat. Ia memilih diam dan tidak bertanya apapun pada gadisnya. Ia sengaja membiarkan Haneul untuk mengekpsresikan perasaannya. “Apapun yang terjadi, aku hanya ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu.” Ucap Kyuhyun.

 

I love you but I have to leave you,
This is so hard
It was dark but I knew that tears
Were flowing from your eyes

I am only giving you scars but some day,
You will understand my heart

I may regret leaving you
But it’s because I love you
I can’t forget that I love only you
But I need to erase you and my sadness

I may regret leaving you
But it’s because I love you
I can’t forget that I love only you
But my love, goodbye

(Because I Love You – Red Velvet’s Wendy)

 

 

The End

 

 

 

 

8 Comments (+add yours?)

  1. Laili
    Nov 13, 2015 @ 01:12:15

    Takdir yang mempermainkan kisah mereka. Dunia emang terkadang kejam ya…. Nice story. Keep writing 😀

    Reply

  2. iChoca
    Nov 14, 2015 @ 00:01:45

    duh nyesek banget itu pasti kalo jadi haneul >< tapi entah kenapa kalo keadaannya gitu emang ga setuju haneul sama donghae, kasian yura kyuhyun hahaha /plak

    nice ff thor! keep writing ya ^^

    Reply

  3. inggarkichulsung
    Nov 14, 2015 @ 11:45:50

    Sedih bgt ceritanya tp benar kata Donghae oppa mgk takdir mempertemukan mrk u diberikan kesempatan mengungkapkan perasaan msg2, meskipun akhirnya hrs berpisah dan kembali pd pasangan msg2, setidaknya tdk ada org lain yg tersakiti saat mrk berdua benar2 rela melepas dan melupakan cinta mrk yg tdk sempat bersatu

    Reply

  4. Elva
    Nov 16, 2015 @ 09:44:53

    nyesek bgt bacanya. pada akhirnya semua kembali ke pasangan masing2 ..
    dan itu yg terbaik ..😀

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: