OUR UNIVERSE [4/?]

OUR UNIVERSE

#4 : Can’t Blame the Gravity

Author :

Arleen Han

 

[Cho Kyuhyun – Han Jira]

 

 

“Oh Sehun!” pekik Jira keras-keras menemukan kamarnya yang berantakan. “Sehun-ah! Sehun-ah!” teriaknya sambil bergegas mencari adik jangkungnya itu. Dan dia berhenti di ruang keluarga dengan hidung kembang kempis karena sedang berusaha meredam amarahnya. Adik jangkungnya itu sedang menonton film, kakinya berselonjor di atas meja dan semangkuk besar popcorn di pangkuannya. “Apa yang kau lakukan dengan kamarku, huh? Kenapa jadi aneh?”

 

Ya. Aneh. Kamarnya yang pada awalnya berdinding polos berwarna krem, kini berlapiskan wallpaper bermotif berwarna dasar peach. Dan Jira tidak ingin menyebutkan hal-hal aneh yang terjadi pada kamarnya, satu kata yang paling mewakili adalah feminim.

 

“Aku hanya membantu Eomma merapikan kamarmu, Nuna” Sehun menyahut kalem, walaupun dalam hati dia bersorak melihat reaksi Jira yang wajahnya mulai beralih warna. “Nuna mau nonton denganku? Popcornnya enak lho” tawar Sehun sambil memamerkan popcorn berlapis coklat. Kalau saja dia tidak sedang kesal, tentu saja Jira akan mengangguk dan melompat ke sofa tempat Sehun duduk. Tapi, dia tidak sedang berminat.

 

“Bagus ‘kan kamarmu? Jirim yang memilihkan wallpapernya” ibunya datang dengan gelas-gelas berisi jus buah beri di atas nampan. “Kenapa wajahmu seram begitu?”

 

Eomma!” dia ingin sekali protes, tapi hanya pekikan tidak terima singkat itu saja yang keluar. Wajahnya bertambah kesal saat ibunya mendecak dan melotot padanya seakan mengatakan jangan-membuatnya-berantakan-atau-kukirim-ke-kandang-singa. Dan pada akhirnya dia hanya menghentakkan kakinya sebelum berlalu dengan kesal. Dan rasanya dia benar-benar akan meledak saat mendengar tawa cekikikan ibunya dan adik jangkungnya

 

—oo00oo—

 

“Ouch!” Kyuhyun melenguh pelan saat satu pukulan agak keras mengenai kakiya. Matanya terbuka dan dia menemukan ibunya berdiri di dekat tempat tidurnya sambil berkacak pinggang, agaknya sedang marah tapi kemudian dia menutup matanya lagi. “Lima menit lagi, Eomma” katanya dengan suara mengantuk. Tangannya melambai dengan lemas menolak gagasan ibunya untuk segera bangun.

 

“Apa yang lima menit lagi?” marah ibunya kemudian dengan tanpa belas kasihan membuka tirai lebar-lebar, membuat kamar Kyuhyun menjadi terlalu terang tiba-tiba. “Kau tidak ingat kau harus bekerja hari ini?”

 

“Ke kantor?” tanya Kyuhyun dengan suara serak. Rambutnya berantakan dan matanya belum bisa terbuka.

 

Eomma sudah siapkan bajumu, jadi cepat bersiap dan kami semua menunggumu di meja makan” perintahnya sebelum keluar dari kamar putra bungsunya. Kyuhyun hanya mendengus kesal, ibunya itu sangat sadis ketika membangunkannya. Apakah ibunya tidak bisa membangunkannya dengan halus, seperti ‘Kyuhyun-ah, bangunlah. Eomma buatkan susu hangat untukmu

 

Bukannya cepat bangun, Kyuhyun justru menarik kembali selimutnya, kali ini hingga menutupi kepala. Dia tidak peduli lagi. Dia mengantuk. Demi apapun, dia baru tidur jam setengah empat pagi setelah menyelesaikan gamenya yang baru. “Oh, ya Tuhanku! Cepat bangun! Sepertinya aku harus cepat-cepat mendapatkan istri untukmu. Aku tidak mau mati cepat hanya karena anak bengal sepertimu. Ayo bangun!”

 

Kyuhyun membuka selimutnya dengan berat hati. Meski masih sedikit pucat, tapi ekspresi di wajahnya menunjukkan ketidaksukaannya dengan rentetan kalimat ibunya barusan. “Eomma! Lain kali jangan bangunkan aku hanya demi topik istri atau apapun itu. Sarapan itu sangat tidak mengenyangkan”

 

Ibunya menatapnya dengan mata melebar. “Oh, aku tidak percaya ini. Ekspresimu!” Kim Hanna memekik seperti gadis yang baru saja dipeluk idolanya. “Aku sudah putuskan untuk membahas topik seperti ini denganmu sesering mungkin. Sekarang bersiaplah, ayahmu sudah menunggu di bawah”

 

—oo00oo—

 

Han Jira keluar dari mobilnya dengan wajah tertekuk, atau lebih tepatnya kesal. Semalam, tidurnya tidak senyenyak malam-malam sebelumnya. Atmosfer kamarnya terasa berbeda, hingga dirinya berpikir sedang tidur di kamar orang lain. Ibunya sedang pergi bersama teman-temannya, Jirim harus ke kliniknya dan Sehun bilang dia akan hang out dan baru akan pulang saat makan malam. Well, itu bagus. Jadi mungkin dia bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk mengembalikan kamarnya seperti semula.

 

Tiba-tiba seseorang menarik pergelangan tangannya dan membuatnya ikut berlari, atau lebih tepatnya terseret. “Young Haneul!”

 

“Apa sih yang Unni lakukan disini? Siarannya lima menit lagi dan aku belum baca naskahnya sama sekali!” balas Haneul kesal sambil terus menyeret Jira bersamanya. Oh Tuhan, tidak bisakah Haneul melihat Jira sedang berusaha untuk tampil sedikit feminim, seharusnya dia tidak berlari karena dia ingin terlihat anggun.

 

“Aku sudah kirimkan naskahnya semalam ke Jonghyun Oppa” sahutnya. Dia malu sekali saat setiap mahasiswa yang mereka jumpai di lorong menatap mereka penuh minat. “Oh, astaga, maaf. Aku lupa Jonghyun Oppa absen hari ini”

 

Mereka berhenti di depan ruang siaran dan Haneul membuka pintunya sambil menggerutu, entah apa Jira tidak mendengarkannya, dia sedang sibuk mengaduk-aduk isi tasnya. “Hari ini Unni harus menemaniku siaran sampai selesai dan mentraktirku macaron!” tuntut Haneul setelah mendorong Jira masuk dan menutup pintu.

 

Jira hanya bisa menghembuskan napas kasar kemudian duduk di ruang kendali, dia menyebutnya begitu, dan memulai persiapan sesuai dengan petunjuk yang diberikan Lee Jonghyun. Dia sedang fokus mencari lagu sesuai request saat suara Haneul mengalihkan perhatiannya.

 

“This is the first mail for this warm day. Dear listeners, do you any chance remember Mr. Marc who sent us mail a few days ago? Today we got one from him. Will it be the sequel of the guess-it-is-love-at-the-first-sight story? Let’s find out together”

 

Marc? Jira mengangkat alisnya penasaran. Dia menyandarkan punggungnya dan mulai mendengarkan.

 

I saw her yesterday. Okay, this surprisingly is the sequel! It was nice to see her in that warm morning. She looked beautiful; breath-taking in a simple white blouse and a wave of rosy pink on her cheeks. She’s simply gorgeorus. I didn’t even know the reason why I was in her faculty building that morning, well, kinda missed her? Today, I can’t make going to campus, but can you please play a nice and warm song to start her day? Send her my morning greeting to her, please. Thank you”

 

“Oh, Mr. Marc this is so short compared with the one you sent us few days ago” Haneul bercerocos, tampak sedikit kecewa. “Oh, there is something below his message!” pekiknya layaknya gadis sekolahan.

 

Tanpa Jira ketahui, badannya sedikit condong ke depan. Rasa penasaran menguasainya dan dia tak dapat menahannya.

 

P.S : Hello there, hope to see you around soon”

 

Jira menghempaskan tubuhnya kembali, sedikit tak puas dengan akhir email yang dikirimkan Marc. Dia berharap Marc-atau-siapapun-itu mengatakan sesuatu seperti ­kencan-denganku-malam-ini atau ­makan-siang-denganmu-akan-menyenangkan. Yang lebih aneh lagi, sebenarnya apa yang diharapkannya?

 

—oo00oo—

 

Cho Kyuhyun hanya melirik setumpuk map warna-warni di atas mejanya, tak memiliki niat sedikitpun untuk sekedar melongok apa isinya. Dia tidak bisa berkonsentrasi, pikirannya bercabang. Dia hanya penasaran. Apakah gadis itu mendengarkan radio?

 

Sedikit aneh memang, tapi dia merasa ada sesuatu yang familiar dalam diri gadis itu. Entah apa, dia sendiripun tak mengerti. Ada gelenyar aneh dalam dirinya tiap kali mengingat gadis itu. Wajah itu… terasa begitu familiar, tapi itu tidak mungkin. Mereka belum pernah bertemu sebelumnya. Dia yakin itu. Tapi kenapa rasa aneh sekali rasanya?

 

Dia hanya ingat pertemuan pertama mereka di dalam bus, jam delapan lewat dua puluh dua menit, pagi hari. Dia terengah-engah dan hampir menandaskan minumannya.

 

Dia menggigit daging pipinya dan menggeleng tak percaya. Apa sih yang dilakukan gadis itu hingga dia seperti ini? Demi apapun, sekarang dia duduk di kantor dengan tumpukan pekerjaan di mejanya, dan masih sempat-sempatnya dia dibuat linglung oleh seorang gadis yang baru saja dia kenal!

 

Gadis itu pasti memantrainya.

 

Salah!

 

Dia sendirilah yang gila.

—oo00oo—

 

Cho Kyuhyun menutup kembali map berwarna biru berisi laporan perjalanan kerja salah satu manajernya, kemudian bersandar dengan malasnya ke kursi kemudian berputar-putar layaknya anak kecil. Dia bosan. Tidak ada agenda berarti di kantornya, tidak ada kuliah dan jika dia tidak salah hitung, radio universitasnya tidak siaran hari ini.

 

Dia membuka matanya yang terpejam saat mendengar suara pintu ruangannya terbuka. “Oppa, brunch with me?” seorang gadis yang dia kenal dengan baik berlari kecil ke arahnya dan sebelum dia bisa mengatakan apapun, gadis itu duduk di pangkuannya. Ugh! Dia tidak suka ini.

 

Gadis dalam balutan pakaian kerja itu mengalungkan tangannya ke leher Kyuhyun dan mengecup pipinya, sama sekali tak terlintas di benaknya bahwa apa yang dilakukannya sekarang sama sekali tak patut. “Nona Dan, apakah-“

 

Let’s go out for brunch, I haven’t had my breakfast and now I’m starving to death

 

Dan Soohyang. Putri satu-satunya Dan Byungchul, pria yang sudah mengabdi di perusahaan itu sejak kakeknya masih sehat. Gadis itu setahun lebih muda darinya. Dengan modal wajah yang memikat dan otak yang cerdas, dia bisa memikat semua pria di Daewoo Corp.

 

I’m still full, Hyangie. Kau akan kuberi ijin keluar jika kau benar-benar lapar” katanya menanggapi rengekan Soohyang sembari beranjak berdiri dan melangkah menjauhi mejanya, memberi tanda bahwa dia tak menyukai perilaku gadis itu namun sepertinya gadis itu terlalu tebal muka.

 

“Tidak bisakah kita pergi berdua, Oppa?” begitu Soohyang melontarkan pertanyaannya, Cho Kyuhyun telah berada di pintu.

 

“Aku ada janji dengan teman lamaku. I’ll make it up to you next time. I’m leaving first

 

—oo00oo—

 

Cho Kyuhyun menepikan mobilnya setelah menemukan tempat parkir yang lebih leluasa. Dia hanya memberikan alasan pada Soohyang. Awalnya, dia tidak tahu harus pergi kemana setelah keluar kantor tapi kemudian dia ingat kemarin ibunya mengomel, lebih tepatnya mengatainya tidak up-to-date setelah membuka closetnya. Jadi, dia menelpon seorang kenalannya, seorang designer office outfit, dan membuat janji akan ke butiknya di Garosu-gil. Setelah mengambil ukuran dan memilih bahan, dia kembali bingung. Tak kembali ke mobilnya, dia memutuskan untuk jalan-jalan sebentar.

 

Jalanan Garosu-gil tidak terlalu ramai, tentu saja karena ini masih jam kerja. Dia mengedarkan pandangannya, menikmati kebebasannya sendiri tak peduli beberapa pasang mata wanita muda yang terus mengikutinya dan berbisik-bisik—yang menurutnya terlalu keras genit seolah baru saja melihat seorang idola.

 

—oo00oo—

 

Dia sedang suntuk dan tidak punya pekerjaan yang harus diselesaikan, Jira bagaikan orang bingung di jalan Garosu-gil. Ini jam kerja, sekolah pun mungkin baru dimulai dua jam lalu, tapi dia bosan setengah mati, terlebih dia tidak ada kuliah ataupun siaran hari ini. Dia berniat pergi berkencan dengan adik jangkungnya, tapi sepertinya oh-so-called-the-almighty-Oh Sehun punya banyak teman di Seoul. Dia sendirian di rumah setelah sarapan selesai karena Choi Jirim harus bekerja.

 

Dia sedang melihat summer dress yang dipasang di display sebuah butik saat hidungnya mencium bau harum kopi. Oh, alangkah menyenangkannya jika kau jalan-jalan dengan satu cup es kopi. Jira menghentikan langkahnya dan mencari uang kecil di tasnya. Dia merogoh kantong-kantong di tasnya, celananya, tapi tak menemukan selembarpun. Oh, dia lupa menarik uang tunai dari ATM. Dia memang bukan tipe orang yang suka membawa uang tunai kemana-mana.

 

Dia ingat dia melewati ATM tadi, jadi dia berbalik, berniat segera mengambil uang agar bisa minum es kopi secepatnya. Tapi..

 

“Aw!” kepalanya membentur sesuatu, tidak terlalu keras, tapi cukup untuk membuatnya setengah memekik antara rasa sakit di kepalanya yang berdenyut dan kaget. Saat dia berniat untuk kembali menegakkan tubuhnya dan meminta maaf, sesuatu kembali membuatnya memekik kesakitan. “Aish, benar-benar. Apalagi ini?” gerutunya.

 

“Rambutmu, Nona” satu suara merespon gerutuannya. Rambutnya tersangkut, Jira menarik kepalanya, tapi dia kembali meringis kesakitan. “Kubantu menguraikannya, kau tampak kesakitan”. Han Jira mengangguk pelan. Jika ditilik dari suaranya, sepertinya laki-laki ini belum terlalu tua.

 

“Terima kasih” kata Jira pelan sebelum merasakan jari-jari itu menguraikan rambutnya perlahan, seolah tak ingin memberikannya rasa sakit tambahan.

 

“Nah, sudah selesai”

 

Jira menegakkan tubuhnya, mengangguk sembari mengucapkan terima kasih, tapi dia bahkan belum menyelesaikan kalimatnya saat berseru dengan telunjuknya menunjuk wajah itu dengan tidak sopan, “Oh!”

 

—oo00oo—

 

Dia hanya diam, tanpa sadar menahan napasnya sedangkan matanya dengan sembarangan memandangi gadis di hadapannya. “Aku tidak tahu dunia ini sempit sekali.” gadis itu akhirnya bersuara, “Maksudku, senang bertemu denganmu kembali, err.. Cho Kyuhyun?”

 

“Senang rasanya kau masih ingat namaku, Han Jira-yang” ucapnya dengan nada yang menurutnya terlalu antusias. Mungkin tidak, mungkin di telinga gadis itu ucapannya terdengar dingin menilik dari tangan Jira yang memutar-mutar gelas kopinya, terlihat sedikit bingung bagaimana menanggapi perkataan Kyuhyun tapi akhirnya dia tersenyum kecil.

 

Dia tak melewatkan lirikan di ujung mata Jira, kemudian ekspresinya berubah menjadi seperti orang yang akan mengajukan pertanyaan, tapi sedetik kemudian berusaha menelannya kembali. Dia menjadi ikut penasaran dengan pertanyaan apa yang menyelimuti pikiran gadis itu, hingga suara itu terdengar kembali “Kau bekerja?”

 

Maybe yes, maybe no” Kyuhyun memainkan sedotan warna hitam di gelasnya. Gadis itu memandanginya tak mengerti, dia hanya tersenyum kemudian memutuskan untuk menjelaskan, “Part-time

 

“Tapi itu..” Jira berseru, seperti akan menyanggah, dengan terlalu cepat. “Nevermind. Lalu kenapa kau disini saat jam kerja? Jam makan siang masih dua jam sepuluh menit lagi”

 

“Oh ya?” Kyuhyun melirik jam tangannya. “Kau benar. Aku bosan, jadi aku minta free time pada bossku” Kyuhyun menyandarkan punggungnya, menangkap ekspresi tak puas dari Jira. “Hmm, katakanlah aku ini pegawai kesayangan”

 

“Kau ini sedang pamer ya? Lagipula, pegawai teladanpun tidak akan mungkin minta free time dan juga tidak ada boss yang dengan begitu mudahnya mengabulkan permintaan free time di dunia ini. Kupikir bossmu adalah pengecualian”

 

Kyuhyun mengeluarkan tawa kecil, membuat dirinya sendiri tak percaya atas apa yang baru saja dia lakukan. Kyuhyun pun berpikir itu tadi adalah kalimat-kalimat terpanjang yang diucapkannya. Gadis itu juga membuatnya tersenyum dan tertawa kecil.

 

What on earth did she do to him?

 

Dering ponsel membuatnya terbangun dari fantasinya dan mendapati Jira tersenyum-senyum sebelum melantunkan, “Hi, puppy, where are you?…Oh ya? Aku sedang keluar…Tidak juga, es kopi adalah yang terbaik” Kyuhyun tidak tahu Jira sedang berbicara dengan siapa tapi sepertinya cukup…akrab. “Ayolah, boo, aku bukanlah orang tua yang pikun…Oh! Ini gratis” gadis itu mengucapkan dua kata terakhirnya sambil berbisik, menambah rasa ingin tahunya.

 

Getar dari saku jasnya mengalihkan perhatian Kyuhyun. “Ya?..Yes, I’ll be there in fifteen minutes, Sir

 

“Ayolah, love.. Tidak, tidak, bukan begitu.. Ya, dia memang laki-laki, tapi..Boo? Honey?” Dia melirik Jira sambil mengantongi ponselnya kembali, tanpa melewatkan bagaimana gadis itu memandangi layar ponselnya dengan tidak percaya dan mendengus kesal. “Apa-apaan itu tadi? Lihat saja nanti kalau kau mau menciumku, Oh Sehun!”

 

Cho Kyuhyun berdeham, membuat Han Jira kembali membagi perhatian padanya. “Tampaknya sangat pencemburu”

 

“Aku pikir aku sudah terbiasa tapi dia semakin menjadi-jadi”

 

“Aku harus segera kembali ke kantor. Senang mengobrol denganmu” Dia berdiri dan merogoh kunci mobilnya. “Ah, aku saja yang bayar kopinya. See you

 

—oo00oo—

 

“Pokoknya tidak boleh!” Oh Sehun memekik tidak jelas, membuat Han Jira dan Choi Jirim memutar bola mata mereka jengah. “Tidak boleh ada yang berkencan!” pekiknya sekali lagi, kemudian membaringkan badannya di sofa, berbantalkan paha Jirim sedangkan kakinya ditumpangkan ke paha Jira, tangannya bersedekap dan ekspresinya menunjukkan aku-tidak-mendengarkan-apapun-alasan-kalian-berkencan.

 

“Kau membuatku tampak bodoh, kau tahu? Memangnya apa yang terjadi? Kenapa aku harus disambut dengan kau marah-marah?” tanya Jira yang clueless dengan kemarahan adik jangkungnya.

 

“Jirim Nuna bercakap di telepon dengan seorang laki-laki,” jelas Sehun dengan nada jengkel anak kecil. “dan kedengarannya begitu mesra. Jira Nuna juga bersama laki-laki ‘kan tadi? Aku tahu kenapa rasanya berat sekali meninggalkan rumah tadi”

 

“Oh Sehun,” Jirim membuka suara dengan hati-hati. “apa kau mengingat umur kami?”

 

“Tentu saja! Jirim Nuna 24, Jira Nuna 23”

 

“Tidakkah kau merasa sudah saatnya kami bertemu dengan seseorang yang-“

 

NO! NOT YET!” pekik Sehun yang terduduk begitu mengerti arah pembicaraan Jirim. “Just… don’t

 

“Sehun-“

 

NO IS NO!!

 

—oo00oo—

 

Dua gadis dengan raut muka hampir sama, memelas, keluar dari taksi. Mereka mendesah hampir bersamaan, terutama Han Jira. Dia tidak bisa membayangkan hidupnya hari-hari mendatang hanya dengan Choi Jirim dan Oh Sehun di rumahnya. Jam makan akan sangat kacau, Choi Jirim akan berada di kliniknya hingga malam, dia tidak begitu pintar memasak, dan dia tidak mengharapkan Sehun untuk masuk dapur.

 

“Aku sudah mencatatkan beberapa resep sederhana untukmu jika itu yang kau khawatirkan” sahut Jirim seolah mengerti apa yang dipikirkannya. “Kita bisa membayar seseorang untuk membersihkan rumah dua kali seminggu”

 

“Kita bisa mengatasinya dengan cepat, tapi Oh Sehun yang marah tidak akan membiarkanmu tidur dengan nyenyak”

 

“Aku akan berusaha mengerti jika alasannya marah sejelas alasannya sering keluar saat sore hari, tapi kali ini..” Jirim mendesah, benar-benar tak mengerti kenapa Oh Sehun meledak kemarin sore. Dia bahkan cemberut seharian.

 

“Aku hanya berharap apapun alasan puppy marah tidak akan meledakkan logikaku” Jira menempelkan ibu jarinya di kotak kecil dekat intercom, membuat alisnya hampir bertaut saat tidak ada bunyi klik. “Uh huh? Apa-apaan ini?”

 

Let me try” Jirim melakukan hal yang sama dan tetap tidak ada bunyi klik yang mereka tunggu. “We’re no longer user” Jirim menyimpulakan dengan wajah skeptis.

 

Jira langsung saja menelfon adik sepupunya itu. “OH SEHUN! Get your ass here! Right now!”

 

—oo00oo—

 

Jira sedang memeluk bantalnya, senyumnya lebar dan ponsel menempel di telinga kanannya. “Aku sedang di rumah, tidak ada jadwal kuliah” jawabnya. “Entahlah, aku sedang bosan, puppy mengunciku”

 

Tidak tertarik untuk makan siang denganku?” tawar suara maskulin di seberang. “Tapi saying sekali kau terkunci. Sudah berapa hari?”

 

“Tiga” ya, dia dan Jirim sudah tidak bebas lagi keluar masuk rumahnya sendiri gara-gara Oh Sehun tengil itu. Awas saja nanti, Jira sudah siap untuk membuat wajah tampannya itu mencium aspal. “Dan sebetulnya, aku sedang ingin makan di luar, mungkin pasta carbonara enak”

 

Jira mendengar seseorang di seberang sana mendesah. “Aku akan makan aglio oglio saja kalau begitu”

 

“Kau mau membuatku iri ya? Dasar menyebalkan” Jira tertawa geli, senyum bodoh tak terhapus dari bibirnya. “Sudahlah, kau ini bukannya harus bekerja ya? Aku tutup telefonnya. Sampai bertemu saat aku bebas nanti, Tuan Cho”

 

Ya, sampai jumpa lagi. Jangan lupa makan siangmu

 

Jira menggumam dengan sedikit centil –dia tidak peduli. Jira terkikik sendiri. Oh astaga, dia bahkan hamper tidak mengenali dirinya sendiri sekarang. Bertelefon dengan seorang pria, terkikik bahkan tertawa ketika bicara di telefon, senyum-senyum sendiri dan apa lagi ini? Mukanya merah sekali saat dia tak sengaja melihat cermin.

 

Apa yang terjadi padanya?

 

 

-TBC-

Note : it’s been forever, rite? Hampir dua tahun lebih deh rasanya. Maafkan.. semoga saya nggak lupa lagi yah kalo ada tanggungan. Soalnya saya udah nggak kuliah di sastra lagi jadi agak kelimpungan kalo suruh nulis lagi. Semoga suka yaa ^^

2 Comments (+add yours?)

  1. setia
    Nov 14, 2015 @ 20:02:33

    lama lebih baik drpd tidak lanjut sama sekali.hehehe
    ya ampun sehun kau pencemburu sekali dg kakak sepupumu..

    Reply

  2. lieyabunda
    Nov 15, 2015 @ 04:10:14

    sehun cemburuan amat sih,,,,,
    lanjut

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: