Between You, And Him.

unnamed

Between You, And Him

Author            :           Park Kyura

Cast    :

  • Cho Kyu Hyun
  • Kim Jong Woon
  • Park Kyu Ra

Genre :           Romance

Length            :           Oneshoot

PG       :           PG-11

~~

 

Aku meniup kopi panas yang entah sudah keberapa, yang sengaja kupesan untuk menunggunya. Dia sudah sangat terlambat dan, aku juga tidak tau kenapa, aku masih menunggunya. Padahal, dia bukan siapa – siapa untukku. Atau setidaknya, sekarang, dia bukan siapa – siapa untukku. Lalu aku meneguk kopi itu sampai habis, lalu sedikit mengernyit karena rasa pahitnya.

 

Terdengar suara lonceng yang agak mengganggu, menandakan, ada orang yang memasuki café ini. Aku menatap lurus ke arah pintu, tepat dengan matanya yang menemukan keberadaanku di café ini. Ya, orang yang ku tunggu telah datang.

 

Dia mendatangi mejaku, dan duduk diseberangku. Dia melirik beberapa cup kopi yang telah kosong dan segera berkata dengan suaranya yang baritone, “Maaf.” Aku hanya mengangguk seraya mengangkat tanganku, memanggil pelayan. Tak lama, seorang pelayan mendatangi meja kami.

 

“Pesan Americano, 2.” Kata – kataku langsung disela oleh namja tidak sopan yang baru saja datang.

 

“Kau sudah meminum banyak kopi, dan kau masih ingin satu? Kau mau mati? Satu Americano, dan segelas susu putih.”

 

“Kau pikir aku anak kecil? Kau juga meminum kopi kan? Kenapa aku tidak boleh?”

 

“Baiklah. Dua gelas susu putih.” Putus namja itu seenaknya, dan mengusir pelayan itu untuk segera pergi. Setelah pelayan itu pergi, kondisi kami sangat hening. Tidak ada yang mau membuka pembicaraan.

Aku menunduk, setelah sekian lama tidak bertemu dengannya, ada rasa canggung yang sangat terasa muncul, bersama dengan perasaan yang sudah lama terpendam. Kini semuanya memenuhi hatiku. Menyesakkan ku lagi.

 

“Maaf karena aku terlambat datang.” Aku mengangkat muka ku, dan memaksakan senyum untuk kuperlihatkan padanya, “Tidak apa.”

 

“Tapi, kurasa kau tidak perlu meminum kopi sebegitu banyak untuk menungguku. Kurasa kau harusnya tidak perlu menungguku, kita bisa membuat janji temu, lain kali.” Ujarnya, dengan nada suara yang entah kenapa terasa dingin untukku.

 

“Aku tidak menunggumu.” Dia menyeringai menatapku, seolah menyangsikan kebenaran kata – kata yang baru saja kuucapkan.

 

“Kau tidak menungguku? Benarkah? Lalu untuk apa kau masih disini? Setelah aku bahkan terlambat 2 jam? Kau ingin bilang, kau bosan? Atau tidak ada yang harus kau lakukan? Makanya kau masih berada disini, begitu? Kau harap aku percaya?”

 

“Itu harusnya bukan kalimat dari seseorang yang terlambat dua jam.” Kecam ku, dan dia malah tersenyum sinis. “Dan, untuk alasan apapun yang tetap membuatku berada disini, itu adalah urusanku. Apa yang kau mau aku untuk katakan memangnya, Tuan Kim?”

 

“Aku sudah sekaya apa memangnya, hingga menyebut namaku pun sulit? Panggil saja aku seperti dulu kau memanggilku, Jong Woon. Dan, baiklah. Untuk alasan apapun yang tetap membuatmu berada disini,…” Cih, namja itu, dia sengaja menggunakan kalimatku untuk menyindir. Dasar tidak kreatif.

 

“Alasan apa yang membuatmu meminum semua kopi ini? Kau mau mati, hm? Kau tau sendiri bagaimana keadaan lambungmu.” Aku tersenyum sinis, menanggapi kalimatnya. Aku membiarkan pelayan yang baru datang untuk menaruh pesanan milik namja didepanku. Dua gelas susu, dan baru berniat bicara setelah pelayan itu pergi. Tentu saja, aku tidak ingin pelayan itu mendengar sepatahpun dari pembicaraan kami yang bahkan tidak ada penting – pentingnya.

 

“Aku mati atau tidak, itu urusanku.” Balasku, mencoba tidak mengindahkan kata – katanya yang terakhir, yang seolah perduli padaku.

 

“Itu bukan hanya urusanmu.” Namja itu terdiam sesaat. Membuatku mengharapkan kata – kata yang sepertinya mustahil, keluar dari mulutnya. “Itu bukan hanya urusanmu. Ayolah, model internasional, Park Kyu Ra meninggal dunia. Akan ada banyak orang yang bersedih.”

 

Kata – katanya seperti menikam hatiku. Dia bahkan tidak ingin, untuk sekedar mengucapkan, kalau dia perduli dengan hidupku. Aku mati atau tidak, mungkin selamanya dia tidak akan menjadi bagian dari ‘urusanku’ itu.

 

“Untuk apa? Toh ada banyak orang yang tidak perduli.” Termasuk dirimu, Kim Jong Woon! Terutama dirimu. Ah, kenapa menyebutkan namanya saja terasa menyakitkan? Aku merasakan sedikit air mulai menggenangi mataku. Namja itu tampak mengalihkan pandangannya kearah jendela.

 

“Sudahlah. Sudah cukup bertele – telenya. Aku ingin berkerja sama denganmu. Desainer ku yang sangat berbakat ternyata mengagumimu. Dan berniat menggunakan imagemu untuk desain dan model dalam pameran yang akan kami lakukan beberapa bulan lagi. Kau tertarik?” Tanyanya sembari tetap memandang ke arah jendela.

 

“Akan kupertimbangkan.” Sahutku sembari bangkit dari kursiku. Aku tidak bisa berlama – lama bersamanya. Bersamanya menyakitkan. Bersamanya mengingatkanku dengan memori – memori yang menyakitkan. Ah, ternyata perasaan ini masih tinggal dan bersemayam dalam hatiku.

**

 

Aku memejamkan mataku kuat – kuat. Berusaha untuk tertidur di tempat tidur mewahku. Tapi tetap saja, aku tidak bisa menyingkirkan rasa sakit di perutku. Ternyata perbuatan sepele namun nekatku membawa dampak yang cukup besar. Lambungku lemah. Aku harusnya tidak boleh meminum kopi. Kukira, setelah cukup lama tidak meminumnya, minuman itu tidak akan berdampak banyak pada diriku.

 

Tanganku mencari ponselku dengan agak panik. Aku mencengkram ponselku kuat, lalu menekan tombol 2 dengan kuat.

 

“Yoboseyo?”

 

“Tolong aku…” Bisikku seraya mempertahankan kesadaran yang rasanya mulai melayang meninggalkan tubuhku. Suara di seberang sana tampak panik, dan rupanya aku tetap gagal mempertahankan kesadaranku yang tinggal melayang ini.

**

 

 

“Kau sadar.” Suara berbisik itu segera mengembalikan kesadaranku dengan cepat. Aku menatap pria yang duduk di dekat tempat tidurku di… Ah, aku ada di rumah sakit sepertinya. Tapi yang berada di sebelahku, kenapa itu dia? Kenapa bisa Kim Jong Woon yang berada disini?

 

“Dimana dia?” Pertanyaanku sepertinya tidak aneh, tapi dia mengerutkan keningnya dan menatapku tidak suka.

 

“Siapa yang kau maksud?”

 

“Managerku, Cho Kyu Hyun.” Setelah aku menyebutkan namanya, pintu ruanganku terbuka dan Kyu Hyun muncul.

 

“Kyu Hyun-ah!” Panggilku lega. Ternyata memang Kyu Hyun yang membawaku ke sini. Bagaimana mungkin tadi aku sempat berharap kalau Jong Woon lah yang membawaku?

 

“Sepertinya kau sama sekali tidak penasaran dan bahkan tidak peduli kalau aku ada disini.” Ucapan sinis dari Jong Woon sedikit menghentakku. Tidak mungkin kan dia cemburu? Oh tidak, tidak. Jangan lagi, Kyu Ra. Jangan terlalu berharap banyak padanya.

 

“Tolong sopanlah sedikit, dia sedang sakit.” Sahut Kyu Hyun dengan nada tidak suka, tapi tetap sopan. Entah untuk beberapa detik yang lama, aku merasakan atmosfir permusuhan yang memenuhi lingkup ruanganku. Menyesakkan.

 

“Sesak sekali.” Ucapanku yang, ehm, memecahkan keheningan segera membuat kedua pria itu menoleh.

 

“Masih sakit?” Tanya Jong Woon dengan raut wajah khawatir. Ya ampun, bisakah aku kembali berharap?

 

“Perlu kupanggilkan dokter?” Kali ini Kyu Hyun yang memasang wajah cemas dengan tubuh yang siaga, sepertinya dia siap berlari jika aku mengangguk sedikit saja.

 

“Tidak perlu, hanya sedikit sesak.” Sahutku sembari memamerkan senyum, agar dia percaya kalau aku baik – baik saja. Kyu Hyun menghela nafas lega dan menghampiriku seraya tersenyum.

 

“Baguslah, Kyu Ra-ya.”

 

“Maaf mengganggu.” Suara dingin itu menghentikanku yang sudah ingin membuka mulut untuk membalas ucapan Kyu Hyun. “Aku disini, hanya untuk memastikan calon rekan kerjaku baik – baik saja, dan untuk meminta kepastianmu Kyu Ra-ssi secepatnya. Kau sudah sadar dan baik – baik saja bukan? Kalau begitu, aku pergi dulu.” Jong Woon segera berlalu dari hadapanku dan Kyu Hyun.

 

Menyakitkan sekali dia memanggilku dengan sebutan asing begitu. Tapi… Kami memang tidak ada hubungan apapun lagi kan? Kami sudah saling berjanji untuk bersikap seperti tidak pernah saling mengenal dengan dekat, dulu. Aku tau dan paham, otakku paham akan hal itu. Tapi hatiku sepertinya tidak bisa ikut mengerti hal itu. Bodohnya.

 

“Jangan menangisinya lagi.” Ucapan Kyu Hyun menyadarkanku, bahwa aku tengah menangis. Aku buru – buru mengusap air yang mengalir di pipiku, tapi tangan Kyu Hyun menahanku.

 

“Pucat sekali. Jelek.” Aku memelototi Kyu Hyun kesal. Aku model internasional yang bahkan sudah diakui dunia karena, bukannya sombong, kecantikan dan keprofessionalanku. Jelek katanya?! Kyu Hyun tiba – tiba mendekatkan kepalanya, dan mengecup pipiku yang sedikit basah oleh airmata.

 

Badanku seolah membatu karena serangan tiba – tiba darinya. Pipi ku terasa panas, ah bukan. Bukan hanya pipiku, tapi seluruh wajahku terasa panas.

 

“Begitu lebih enak dilihat. Pipimu memerah.” Kyu Hyun menyeringai seraya tertawa pelan. Entah ekspresi wajahku sudah jadi seperti apa.

 

“Yak! Aku tidak memperbolehkanmu untuk menyentuhku sembarangan apalagi menciumku dalam kontrak!!” Kyu Hyun mendengus, lalu duduk di sofa dan mengambil koran untuk dibaca. Tidak memerdulikanku. Manager sialan.

 

“Yak!!” Teriakku lebih keras, agar Kyu Hyun bisa sekedar menoleh ke arahku.

 

“Lalu apa? Kau mau memecatku?” Ucap Kyu Hyun tiba – tiba dan menoleh ke arahku dengan tatapan tajam, membuatku mengkeret seketika. “Aku bahkan sudah memeluk dan menggendongmu ala putri tadi malam tak lama setelah kau menelponku. Hanya saja, kau tidak sadar.” Sahutnya acuh lalu kembali membaca koran begitu aku tidak lagi membalas ucapannya. Lagi – lagi, dia menang. Lagipula, jika hanya sekedar mencium pipi, itu sudah sangat sering sebenarnya. Tapi aku merasa risih karena ada Jong Woon tadi, dan siapa tahu masih ada. Dan, tebakanku sepertinya tidak begitu salah melihat ada sekelebat bayangkan yang pergi dari balik jendela.

**

 

“Ah segar sekali Kyu Hyun-ah! Hihi. Terimakasih telah membawaku ke sini!” Teriakku sembari merentangkan tanganku lebar – lebar sembari menikmati pemandangan taman. Sesaat rasanya menyenangkan sekali merasakan sensasi yang menjalar hangat ke tubuhku dan udara dingin yang benar – benar segar mengaliriku. Sebelum rasa sesak itu kembali datang.

 

“Kau memang harus sering – sering menghirup udara segar Kyu Ra-ya. Dan juga memakan sayuran dan buah – buahan. Kau harus menjaga kesehatanmu.” Aku memertahankan ekspresiku senormal mungkin, menyembunyikan rasa sakit yang kembali menjalar. Aku tidak ingin dia terus melihatku sebagai “yeoja lemah penyakitan” dan terus – terusan merepotkannya, jadi aku menyunggingkan senyumku sebisa mungkin dan menatap tepat pada bola matanya, “Bisa – bisanya kau menyuruhku memakan sayur padahal kau sendiri juga tidak menyukainya.”

 

Kyu Hyun sejenak terdiam sambil menatap wajahku, “Aku dan kau berbeda. Aku hanya managermu. Dan kau adalah artisku. Kegiatanmu jauh lebih banyak daripada diriku.” Kyu Hyun semakin mendekat dengan tatapan ala Kyu Hyun yang membuatku sedikit ketar ketir, mau apalagi dia? Ini tempat umum! Dia semakin mendekatkan wajahnya padaku dan membuatku semakin panik, akhirnya aku memilih menutup mataku paksa, dan merasakan sesuatu yang lumayan keras menyentuh keningku dengan lembut. Aku membuka mataku, dan Kyu Hyun ternyata menempelkan keningnya dengan keningku, “Kau sakit… Lagi.” Bisik Kyu Hyun lembut dan menatap mataku intens. Entah kenapa aku malah merinding diperlakukan begini. Wajahku terasa panas seperti gadis remaja naïf yang baru mengenal cinta. Aish sudah gilakah diriku?

 

“Ani.” Bisikku pelan juga. Tidak lucu kalau nafasku tiba – tiba bau dan merusak momen ini. Kyu Hyun menempelkan bibirnya diatas bibirku, memposisikan hidungnya berada tepat diatas hidungku, dan menghembuskan nafasnya. Dan aku buru – buru menarik nafas saat dia menghembuskan nafasnya keluar. Entah kenapa aku selalu sangat menyukai hembusan nafasnya yang keluar.

 

“Baikan?” tanyanya, dan aku hanya mengangguk sembari tersenyum dan memeluknya, “Aku merasa beruntung memilikimu sebagai manajerku. Aku senang sekali bersamamu.” Lanjutku. Kyu Hyun tertawa kecil, “Mungkin kau harus mempertimbangkanku lebih dari manajermu. Aku sudah melakukan hal ini, yang biasanya dilakukan oleh sepasang kekasih, bertahun – tahun. Aku sudah sangat mengenalmu lebih dari orang lain. Mungkin seharusnya kita menikah saja.”

 

“Mungkin.” Aku ikutan tertawa kecil dalam dekapannya, “Akan kupertimbangkan nanti kalau saja aku sudah tidak laku lagi.”

 

“Mustahil.”

**

 

 

Hari – hari berlalu begitu cepat. Tau tau saja aku sudah menyetujui pagelaran itu. Membahas masalah – masalah dan konsep tentang pagelaran itu. Beberapa baju didesain khusus untukku dan aku boleh memilikinya secara gratis. Dan tau tau saja aku sudah berdiskusi bersama Kyu Hyun, Jessica Jung serta managernya, Desainer Tuan Kim, dan si Jong Woon itu sendiri, sekarang di Hotel Eclaire. Eits, jangan berpikir yang aneh – aneh dulu, di hotel ini menyediakan tempat santai untuk rapat dan pertemuan semacam tanpa bed. Jadi tidak akan ada acara aneh atau menyimpang sedikitpun. Karena meski itu ruang tertutup, ruang tertutup itu mengarah pula pada balkon yang besar, semacam taman agar kami nyaman dan bahkan nyaris lupa bahwa tempat ini termasuk, hotel. Aku bosan. Sebenarnya acara diskusi ini sudah rampung untuk saat ini, konsepnya adalah sesuai musim, Autumn. Dengan warna – warna cerah yang dipadukan dengan warna kesukaanku, Putih. Dan hitam untuk Jessica.

 

Yup. Model utama untuk pagelaran ini hanya dua. Aku dan Jessica. Gila bukan, kami akan sangat berkerja keras kali ini. Memakai baju secepat kilat dan tampil dengan anggun kembali tanpa keringat. Model untuk pakaian Pria bahkan hanya Jong Woon sendiri karna desain untuk pria tidak terlalu banyak. Jadi wanita, wanita, pria. Begitulah seterusnya urutan tampil. Pokoknya topik harusnya sudah rampung tapi kami masih disini, membicarakan hal – hal tidak jelas dan saling beramah tamah. Aku bosan, jelas. Dan lapar.

 

“Maaf mengganggu, tapi saya ingin permisi sebentar.” Ucapan Kyu Hyun membuatku iri, aku juga mau keluar mencari makanan. Yang lain menanggapi dengan kata – kata basa basi dan selebihnya dengan senyuman. Pandanganku tidak sengaja tertuju pada namja itu. Dan dia sedang memandangku dengan tatapan tajamnya. Oh. Tidak lagi. Aku tidak ingin terpengaruh pada tatapan itu lagi, jadi aku segera mencari objek lain untuk kulihat – lihat, dan pandanganku tertuju pada Jessica. Gadis itu sangat cantik. Kalau bisa aku ingin jadi dia saja.

 

“Permisi.” Aku melihat Kyu Hyun kembali sembari membawa segelas besar coklat hangat.

 

“Wah, Kyu Hyun-ssi ternyata menyukai coklat hangat juga ya? Aku juga sangat menyukainya.” Kata Jessica dengan raut iri, jelas jelas ingin coklat itu. Kyu Hyun tertawa, “Ini bukan untukku.”

 

Lalu sambil menghampiriku, dia menaruh begitu saja didepanku. “Untukmu, Ra-ya.” Sepertinya Kyu Hyun sedang pamer kemesraan? Entahlah dia memang memperhatikanku tapi dia tidak pernah bersikap berlebihan seperti ini.

 

“Thanks, Hyun-ah.” Aku bisa merasakan perubahan atsmotsfir di sekitarku.

 

“Wah, apa ini? Kalian berkencan? Manager dan artisnya sendiri? Aku tidak bisa membayangkannya.” Jessica tertawa, dan tawa itu menular kepada yang lain. Terkecuali namja ‘itu’. Yeah, Jong Woon.

 

“Memang mustahil, malaikat anggun seperti kalian, tersedia untuk umum.” Ujar Tuan Kim, desainer kami sembari tertawa kecil, mendengar itu Jessica sedikit tersipu. Mungkin mengingat hubungannya dengan Tyler Kwon, pengusaha tampan yang memang menggiurkan itu.

 

Aku sambil tertawa kecil, mencoba menepis anggapan mereka, “Ani. Aku dan Kyu Hyun tidak berkencan. He deserve a better girl than me,” Kekeh ku, dan Kyu Hyun malah tergelak kencang.

 

“Jangan menangisi jawabanmu sendiri nanti malam, Ra-ya.” Aku mendelik menatap Cho Kyu Hyun, berharap itu bisa membungkam mulutnya. Demi apapun, kami tidak sedang berdua saja disini. Jessica masih sambil tertawa kecil, dia berdiri dan menggeser kursinya.

 

“Maaf tidak sopan, tapi aku memiliki jadwal lain. Boleh aku undur diri?” Ijin Jessica sopan seraya mengerling kepadaku saat sudah memiliki ijin untuk pulang. “Senang berkenalan dengan kalian, kuharap kita bisa berkerja sama dengan baik.” Ujar Jessica sembari mem- bow kearah kami. Lalu berjalan dengan anggun meninggalkan kami bersama managernya.

 

Setelah itu, tak lama, Desainer Kim pun ikut mengundurkan diri, hingga tinggal aku, Kyu Hyun dan Jong Woon. Namja itu sedikit sekali berbicara daritadi. Membuatku canggung. Tak lama pria itu berdiri, dan menundukkan badan sedikit, “Aku undur diri.” Aku hanya mengangguk acuh, lalu menuju balkon, menatap langit luas. Kyu Hyun mengikuti ku, dan berdiri di sebelahku, menatap KU. Bukan langit.

 

Aku tidak melihat Jong Woon keluar, atau mungkin namja itu memang belum keluar, tapi…–

 

“Kyu Ra,” Kyu Hyun membalikkan badanku dengan paksa, membuatku menatapnya kesal. “Dengar dulu,” Kyu Hyun melihat tatapan protesku. “Sebentar.” Balasnya dengan tatapan, aku-tidak-ingin-dibantah, membuatku terpaksa menganggukkan kepala.

 

“Sebenarnya apa alasanmu berkerja semakin keras belakangan ini?” Aku menunduk, bingung. “Apa karena namja itu mulai berada semakin dekat dengan lingkar hidupmu lagi?” Aku mendongakkan kepalaku, menatap matanya.

 

“Molla. Akhir – akhir ini aku terus gelisah. Susah tidur di malam hari, membuatku gerah dan ingin melarikan diri dengan berkerja. Tapi, aku tidak tahu kenapa. Sepertinya aku memiliki banyak beban, padahal, hm, seperti yang kau tahu, yang lebih mungkin terkena stress ya kau, bukan aku.” Jawabku, sejujur – jujurnya.

 

“Apa ada yang kau sembunyikan?” Aku menatapnya sambil berfikir keras, aku stress, aku merasa gelisah, tapi aku tidah tahu apa beban apa yang kutanggung, yang membuatku gelisah. Sebutlah aku gila, dan memang.

 

“Menikahlah denganku.” Dan sekarang, Cho Kyu Hyun yang gila.

 

“Mwo?” Aku tertawa garing, “Lelucon?” Kyu Hyun memeluk tubuhku, dan aku membalas pelukannya, apapun yang dia lakukan, aku selalu merasa nyaman bersamanya. Ini aneh, ini gila, tapi aku tidak mau perduli, aku hanya terlalu malas berfikir dan menganalisis. Dan aku melihat, Jong Woon belum undur diri seperti yang dikatakannya. Aku melihatnya. Dan Kyu Hyun sepertinya tidak sadar. Kyu Hyun merenggangkan pelukannya membuatku kembali menatapnya, lalu berbisik, “Saranghae.”

 

Kata – kata itu seolah membiusku, melupakan dunia di sekitarku, dan melupakan rotasi tempat ku berpijak. Kyu Hyun tak lama mendekatkan wajahnya, menaruh bibirnya diatas bibirku, dan membuatku menghirup nafasnya lagi. Aku menyukainya, menyukai hembusan nafasnya, “Joha.” Bisikku seraya terus menyedot udara yang dihembuskannya, entah oksigen entah karbondioksida, aku tidak perduli. Kyu Hyun menurunkan bibirnya, bibir kami saling bertemu.

 

Pertama kalinya, dia memelencengkan kesukaanku untuk mencium bibirku.

 

Dan, aku tidak sanggup menolak.

~~

 

END

Oke, author kesambet apaan bikin ff gajelas awal akhirnya gini (bahkan judulnya pun gajelas! Masih mending deh ada judul, tadinya noname. Emang part paling sulit dari bikin ff itu bikin ending dan mikir judulnya. Okesip makin kaga jelas so skip this or this will full with my curcol). Mianhae, ini ff lama kesimpen di draft dan dilanjut seadanya gini deh. Seadanya dan ini duabelas halaman 2683 words okesip. Yang mau kenalan, silahkan mampir di twitter @sianne_siann atau instagram @sianne_devz.

Salam kenal ^^

3 Comments (+add yours?)

  1. changtaeupy
    Nov 14, 2015 @ 16:25:10

    Hahaha gg gaje kq .. Bgus bgus2

    Reply

  2. auliatarzia
    Nov 25, 2015 @ 20:30:23

    suka bagian kyura ngehirup hembusan nafas kyuhyun🙂

    Reply

  3. aini__kim
    Jan 20, 2016 @ 21:38:28

    author ff ini bukan sequel dr ff sbelumnya ya? ngarep bgt sblum ff ini ada ff yg saling berkaitan, penasaran sm masa lalu yesung sm kyuraa ><

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: