Promise

10f3meu

Promise

Author:                                     Park Kyu Ra (siannesiann)

Cast        :

  • Kim Ki Bum
  • Ryu Hyun Ki

Length  :                 Oneshoot

Genre    :                 Romance

PG            :                 All ages

 

~~

 

“Apa kau bahagia?”

“Eum! Aku bahagia selama bersamamu.”

“Baiklah. Kalau begitu, aku akan selamanya bersamamu.”

~~

 

Author POV

 

Seorang gadis mungil yang cukup cantik tengah menutup matanya, mencoba meresapi suara yang didengarnya melalui headset. Suara yang dirindukannya. Dia terus menutup matanya sambil mengayunkan kakinya di ayunan taman.

 

“Masih sama seperti dulu, kekanakan.” Cela seorang pria, yang sudah pasti tidak didengar gadis manis itu. Pria itu menurunkan headset gadis itu ke ke lehernya, membuat gadis itu sontak membuka matanya dengan tidak senang. Sesaat, gadis itu hanya bisa memandangi pria di depannya tanpa kedip. Takjub. Niatnya untuk mengomel, seketika hilang entah kemana melihat sosok pria dihadapannnya.

 

“Ki-ya, masih mengenalku?” Suara itu menghentak Hyun Ki ke alam nyata, memandangi pria yang ternyata bukan sosok hayalannya. Dia memamerkan senyum malu – malu, khasnya, dan menunduk.

 

“S… Siapa yang tidak mengenalmu sekarang?” Ujar Hyun Ki, dan semburat merah di wajahnya, membuat pria itu tertawa lepas.

“Apa aku sudah seterkenal itu? Buktinya, tetanggamu tidak ada yang mengenaliku. Super Junior Kim Ki Bum, tak ada yang mengenali ku. Kau percaya?” Gadis itu ikut tertawa lepas, dan mengangguk.

 

“Aku tau. Aku yakin itu, kebanyakan yang tinggal disini memang para orang tua. Kau lupa?” Ki Bum menggeleng sambil masih tertawa sebagai jawabannya, “Lagipula, jika ada yang seusia kita, itupun pasti temanmu. Jadi tidak akan ada acara menjerit – jerit ala fans disini, untukmu.” Kekeh Hyun Ki.

 

“Temanku? Hanya temanku?” Hyun Ki mengangguk polos sebagai jawaban pertanyaan Ki Bum.

 

“Ya. Satu – satunya temanku kan hanya kau.” Ki Bum meringis, sedikit merasa tidak enak menyinggung hal itu. Dia tau sifat Hyun Ki yang tertutup dan pemalu. Apalagi, dulu waktu mereka kecil, hanya Ki Bum yang bersifat dewasa, tidak mirip dengan umurnya. Itulah mengapa mereka bisa cocok.

 

“Oh, dimana orangtuamu?”

 

“Mereka sedang melakukan hal biasa. Bisnis.” Nada suara Hyun Ki berubah menjadi dingin, membuat Ki Bum lagi – lagi meringis. Dia benar – benar salah memilih topik.

 

“Ki-ya, kau tau, aku mengajak teman kesini. Karena dia adalah gadis, kuharap kau bisa menerimanya untuk tinggal bersamamu.” Hyun Ki mengernyit heran, bertanya – tanya, ada hubungan apa antara gadis itu dengan Ki Bum-nya. Tapi rasanya, memanggil Ki Bum seperti itu terlalu berani. Ki Bum sama sekali bukan miliknya.

 

“Aku lapar. Ayo, kita makan. Akan kuperkenalkan gadis itu padamu.” Ki Bum berjalan duluan, meninggalkan Hyun Ki yang seketika gugup, yang masih terduduk di ayunan.

~~

 

Hyun Ki memasuki rumah milik Ki Bum yang terkadang dia kunjungi, dan menunduk hormat begitu menyapa Nyonya Kim, Ibu Ki Bum.

 

“Kau masih saja sungkan, Hyun Ki-ya. Duduklah.” Hyun Ki tersenyum menanggapi ucapan Nyonya Kim, dan duduk di seberang seorang gadis yang sangat cantik, yang seketika membuat rasa percaya dirinya hilang entah kemana. Gadis yang duduk berhadapan dengannya ini sangat luar biasa. Memiliki kulit seputih susu, ramping, mungil, rambutnya berombak dan berwarna coklat kemerahan. Sangat mencolok. Ki Bum menaruh beberapa makanan yang semuanya terlihat lezat, dan segera duduk di sebelah gadis itu. Membuat setengah hati Hyun Ki merasa tidak rela dan ingin menarik pria itu untuk duduk di sebelahnya. Tapi, siapa dia? Memangnya dia pantas untuk melakukan hal itu?

 

Ki Bum langsung menyunggingkan senyum lebar dan menatap gadis itu, mereka berbisik sejenak dan tertawa. Entah apa yang mereka tertawakan, mungkin mereka menertawakan dirinya yang terlihat begitu kampung di depan gadis cantik itu. Diam – diam, Hyun Ki memperhatikan dirinya sendiri. Baju berlengan panjang putih yang memang agak panjang tanpa motif, dan legging hitam panjang. Sederhana. Dan, Hyun Ki mulai memerhatikan gadis itu yang memakai terusan berwarna hijau muda polos yang terlihat elegan. Dengan beberapa accesoris yang mempermanis penampilannya.

 

Hyun Ki menarik nafas panjang, merasa semakin tidak nyaman setelah membandingkan dirinya sendiri dengan gadis di hadapannya. Tak lama, Nyonya Kim duduk dan mempersilahkan mereka makan.

 

“Makanlah yang banyak, Hyun Ki-ya. Kau sudah sangat kurus. Jika hanya makan segitu, nutrisi tubuhmu nanti tidak tercukupi.” Ucap Nyonya Kim tulus, sembari menyendokkan beberapa sayuran ke piring Hyun Ki. Hyun Ki hanya tersipu dan menunduk terimakasih, masih belum terlalu nyaman bersama Nyonya Kim tapi sangat menghargai perhatian itu.

 

“Uwah, anda sangat perhatian sekali Ahjumma.” Pujian gadis itu terasa sangat spontan dan tulus. Hyun Ki tambah merasa malu dengan keadaan. Gadis itu sangat cepat beradaptasi. Harusnya mungkin Hyun Ki yang terlihat akrab dengan Nyonya Kim, berhubung mereka telah lama mengenal. Tapi sekarang, Nyonya Kim dan gadis itu tampak sangat asik mengobrol. Gadis itu luar biasa.

 

“Oh ya, Hyun Ki-ya, kau pasti belum mengenalnya. Dia adalah Han Ye Jin, salah satu artis baru yang sangat berbakat.” Gadis itu tersenyum manis ke arah Hyun Ki.

 

“Han Ye Jin imnida. Kau tau, aku sebelumnya sudah banyak mendengar cerita tentang dirimu, Ryu Hyun Ki-ssi. Kukira sebelumnya kau adalah pria, tapi ternyata kau adalah gadis yang sangat cantik.” Hyun Ki meringis, tidak tau harus bereaksi apa. Dikira pria, itu sudah biasa meskipun tetap melukai harga dirinya sebagai seorang gadis.

 

“Kau mengira dia pria?” Ye Jin mengangguk polos, “Kau hanya bilang dia sahabatmu, pendiam, dan lainnya. Tanpa menyebutkan salah satu sifat gadis. Yah, bukan salahku. Salahkan saja sahabatmu ini Hyun Ki-ssi.” Ujar gadis itu seraya menoleh lagi ke arah Hyun Ki dan tersenyum.

 

“Eomma, Ki-ya, aku belum menjelaskan siapa Ye Jin. Dia adalah yeojachinguku.”

 

Pernyataan Ki Bum cukup menghempaskan hati Hyun Ki. Rasa sakit itu langsung menjalar begitu cepat dalam hatinya. Dugaan Hyun Ki sebelumnya ternyata sangat tepat, kegugupan dan ketakutannya tadi sangat beralasan. Gadis itu adalah kekasih Ki Bum. Lalu kenapa selama ini dia begitu naïf dan bodoh? Menganggap perasaan Ki Bum sama sepertinya. Menganggap Ki Bum miliknya, hanya karena mereka bersahabat dari kecil. Bodoh. Dia benar – benar merasa sangat bodoh sekarang. Hyun Ki merasa lebih baik dirinya menghilang saja dari hadapan mereka.

 

“Hyun Ki-ya, kenapa sekarang kau sangat pendiam? Bukankah kau sudah menantikan kedatangan Ki Bum saat liburan ini, karena… Tugas apa waktu itu?” Kalimat Nyonya Kim membuat Ki Bum melongo.

 

“Kau menantikanku hanya karena tugas? Ki-ya, aku jadi merasa buruk sekarang. Aku merindukanmu. Kukira kau juga merindukanku.” Hyun Ki melirik cemas gadis di sebelah Ki Bum karena kalimat Ki Bum yang menurutnya kelewat mesra, tapi ternyata gadis di sebelah Ki Bum malah tertawa. Apa dia kelewat sensitif sehingga menganggap kalimat Ki Bum yang di tujukan untuknya adalah kalimat mesra?

 

“Aku merindukanmu.” Ucap Hyun Ki pelan, dan berusaha terlihat santai meski kekikukan gerakannya menjelaskan bahwa dia gugup. “Tapi tugas matematikaku juga perlu di khawatirkan bukan?”

 

“Ye Jin-ya, kau bisa berkeliling sendiri kan? Aku harus mengajari Hyun Ki pelajaran tersulit di dunia. Oh, itu bukan kalimatku sebenarnya. Hanya mengutip kata – kata seorang gadis.” Ye Jin tertawa.

 

“Matematika memang sulit.” Responnya membuat Hyun Ki menatap gadis itu senang.

“Matematika memang sangat sulit. Mengesalkan, terlalu dipenuhi oleh rumus – rumus yang membuat sakit kepala.” Sahut Hyun Ki sembari menatap Ye Jin senang, meminta bantuan. Tapi Ye Jin malah tergelak.

 

“Matematika tidak sesulit itu Hyun Ki-ah.” Cela Ye Jin sembari memasang wajah persekongkolan bersama Ki Bum. Hyun Ki memanyunkan bibirnya, sebal. Dan semuanya tertawa melihat hal itu.

~~

 

 

Ye Jin merasa sedikit bosan hanya tiduran di kamar tamu di rumah Hyun Ki tanpa melakukan apapun. Dia dari awal menolak ide berkeliling sendirian. Ye Jin memutuskan untuk mengintip atau merecoki kegiatan belajar Hyun Ki, di kamar Hyun Ki.

 

Ye Jin baru membuka pintu kamar Hyun Ki, saat mendengar teriakan Ki Bum, “Yak! Ki-ya, kau menyebalkan sekali.” Ye Jin mengintip dari balik pintu dengan heran. Seorang Kim Ki Bum yang pendiam, dan agak dingin bisa berteriak dengan nada kekanakan pada Hyun Ki. Sedangkan Hyun Ki hanya meringis dan beringsut menjauhi Ki Bum.

 

“Bukan salahku kalau penjelasanmu terlalu membosankan dan membuatku tertidur…” Ye Jin menahan tawa, dia membayangkan keadaan saat Ki Bum dengan serius menjelaskan, tapi Hyun Ki malah tidak peduli dan tertidur. Astaga, ada juga gadis yang bisa tidak memerdulikan Kim Ki Bum?

 

“Dasar menyebalkan!! Bukan berarti dengan aku menjelaskan sembari mengerjakan beberapa soal, aku akan mengerjakan seluruh tugasmu!” Kini mereka berlarian di dalam kamar tanpa menyadari muka Ye Jin yang jelas – jelas mengintip. Ki Bum menangkap gadis itu dari belakang dan memeluknya. Seketika hati Ye Jin agak panas melihatnya. Ki Bum membalikkan tubuh Hyun Ki dan mencubit gemas kedua pipi Hyun Ki.

 

“Sekali lagi kau berani tertidur mendengar penjelasanku, aku akan menculik ponselmu.” Hyun Ki memasang wajah ngeri yang tampak sangat nyata.

 

“Andwae.” Lirih gadis itu pasrah, dan membiarkan dirinya ditarik Ki Bum kembali ke meja yang penuh dengan lembaran tugas matematikanya. Dan Ye Jin memilih untuk tidur saja, daripada melihat adegan – adegan yang kembali membuat hatinya panas.

~~

 

 

Sorenya, Ki Bum memutuskan untuk menyudahi les dadakan yang diberikannya dan mengajak Ye Jin berkeliling daerah tempat tinggalnya. Ki Bum kembali ke rumahnya dan menemukan Ye Jin tengah memperhatikan album fotonya yang berada di kamar pria itu. Ye Jin tersenyum riang dan dengan senang hati mengiyakan tawaran Ki Bum. Saat mereka keluar dari rumah Ki Bum, mereka melihat Hyun Ki tengah menyiram tanaman. Ye Jin bersikap biasa dan tetap tersenyum pada Hyun Ki meskipun hatinya tengah kesal pada Hyun Ki.

 

“Ki-ya, kami ingin jalan – jalan. Ayo, ikut saja.” Tentu saja kalimat itu bukan berasal dari mulut Ye Jin.

 

“Bolehkah?” Tanya Hyun Ki polos dan memandangi Ye Jin. Ye Jin memaksakan senyum yang tentu saja di sadari oleh Hyun Ki.

 

“Kalau kau mau, tentu saja boleh.” Sahut Ye Jin setengah hati. Hyun Ki menggeleng, menyadari Ye Jin tidak mengharapkan kehadirannya. Dan pastinya, hati Hyun Ki akan kembali sakit jika melihat kemesraan mereka lagi.

 

“Ikut saja.” Putus Ki Bum seenaknya dan menarik lengan Hyun Ki untuk ikut. Ye Jin tampak kesal dan mengekor dari belakang. Tak lama, Ye Jin mengaitkan tangannya dengan tangan Ki Bum. Membuat Ki Bum tersadar dan melepaskan pegangannya pada Hyun Ki. Hati Hyun Ki terasa sakit, tapi mau bagaimana lagi? Kekasih Ki Bum itu Ye Jin. Bukan dirinya. Mereka menuju pasar, dan memilih jajanan.

 

Selama mereka berkeliling, Ki Bum lebih banyak mengobrol dengan Ye Jin yang mengungkit hal – hal tentang perkerjaan Ki Bum selama ini. Tentu saja, Hyun Ki tidak tau apa – apa dengan keadaan Ki Bum disana. Meskipun sesekali, Ki Bum juga berusaha mengajak Hyun Ki mengobrol agar Hyun Ki tidak merasa diabaikan, dan tetap saja, Ye Jin yang mengambil alih pembicaraan mereka. Membuat Hyun Ki semakin merasa tidak nyaman.

 

Saat melewati tukang permen kapas, Ki Bum reflek berhenti. “Kau mau permen kapas Ki-ya?” Ye Jin mendengus kesal. Kenapa sepertinya Ki Bum lebih perhatian dengan gadis itu? Hyun Ki belum menjawab, dan Ki Bum sudah membelikan satu untuk Hyun Ki.

 

“Aku tau kau menyukainya. Nah, Ye Jin-ya, kau juga mau?” Ye Jin menggeleng kesal dan menarik Ki Bum yang tampak bingung.

 

“Waeyo?”

~~

 

 

“Kau tau? Ye Jin cemburu padamu.” Bisik Ki Bum sembari tertawa pelan. “Dia ingin, aku sedikit menjaga jarak denganmu. Karena, bagaimanapun, kau tetap seorang gadis yang mungkin terpesona padaku. Oh, itu bukan kata – kataku, kau tau.”

 

Hyun Ki menunduk di ayunan taman rumahnya. Ye Jin cemburu, dan ingin dia menjauh. Sepertinya, dia memang harus melakukan hal itu. Ye Jin benar, dia juga gadis, yang bisa terpesona pada Ki Bum, dan memang itulah yang terjadi.

 

“Kau ingat janji yang pernah kau ucapkan dulu?” Tanya Hyun Ki, balas berbisik seperti yang dilakukan Ki Bum. Kening Ki Bum mengernyit, menatap Hyun Ki yang duduk di ayunan sebelahnya yang masih saja menunduk.

 

“Janji?”

 

“Saat itu kau bertanya padaku, apa aku bahagia?” Ki Bum kini tersenyum, mengingat jelas kenangan manis yang diungkit Hyun Ki.

 

“Ya. Kau bahagia. Selama bersamaku, kau bahagia.” Ucap Ki Bum sembari tertawa pelan. Tak lama, dia terdiam. Menyadari suatu kemungkinan yang…. Mungkin kah?

 

“Ye Jin benar. A… Aku…” Hyun Ki menarik nafas dalam, dan mengangkat wajahnya yang kini sudah sangat memerah, dan menatap Ki Bum. “Aku, menyukaimu.” Ki Bum mengerang pelan. Bodohnya dia.

 

“Aku akan selamanya bersamamu.” Ulang Ki Bum, pelan. Tidak tau harus merespon ucapan Hyun Ki dengan jawaban apa. Dia tidak marah pada Hyun Ki, dia merasa menyesal. Dia tau perasaannya dengan jelas. Dia menyukai Han Ye Jin. Tapi bagaimanapun, dia menghargai perasaan sahabatnya. Dia yakin, tidak gampang bagi Hyun Ki yang pendiam untuk mengutarakan perasaannya yang sesungguhnya. Hening sesaat. Mereka sama – sama terdiam.

 

“Kau tau, aku mengingatkan hal itu, bukan untuk memaksamu menepati janjimu… Tapi…” Suara Hyun Ki mulai tersendat. Gadis itu mencoba mengontrol perasaannya yang meledak – ledak dan rasa malu yang mulai memenuhi hatinya. Mencoba mengendalikan bulir bening yang sudah siap jatuh dari kelopak matanya.

 

“Aku minta maaf.” Sambar Ki Bum cepat. Untuk beberapa detik yang terasa lama, mereka kembali terdiam. “Aku tau, kau bukan tipe gadis yang memaksakan kehendakmu atau bersikap egois. Aku sangat mengenalmu, dan aku sangat… Menyesal.” Ki Bum memberanikan diri menggenggam tangan Hyun Ki. Entah kenapa, kali ini terasa sangat canggung untuk melakukannya. Padahal sebelumnya, dia sudah sering menggenggam tangan gadis itu untuk sekedar menyemangatinya.

 

Hyun Ki hanya melirik tangan Ki Bum tanpa menepis atau menolaknya. Sejujurnya, dia sangat menikmati genggaman tangan Ki Bum yang selalu terasa hangat dibandingkan suhu tubuhnya yang selalu dingin.

 

“Terimakasih, karena sudah menyukaiku. Aku tau, sulit bagimu untuk memercayai orang lain. Dan sekarang rasanya seperti…”

 

“Kau menghianati kepercayaanku karena mengingkari janjimu.” Kekeh Hyun Ki pelan. Tidak mencoba menghibur Ki Bum, tapi dia tau, ini sama sekali bukan kesalahan pria itu. Bukan salah Ki Bum jika dia mencintai gadis lain yang bukan dirinya.

 

“Maaf.” Ujar Ki Bum lagi, tapi kali ini dengan tawa pelan. “Kau tau? Aku bisa mengenalkanmu pada pria lain yang menyukai gadis pendiam yang wajahnya melebihi apa itu kata tampan. Oh, dan aku memujinya bukan karena aku juga terpesona oleh ketampanannya. Haha. Yang benar saja.”

 

Tawa Hyun Ki semakin kencang, rasanya bebannya lepas setelah berhasil mengutarakan perasaannya dan pria itu menghargai perasaannya, meskipun yah, dia ditolak. “Tidak perlu, aku…–”

 

“Dan juga jago matematika.” Sambung Ki Bum membuat gadis itu makin tergelak, dan mereka tertawa bersama.

 

“Padahal, harusnya hari ini aku menangis karena orang yang kusukai jelas – jelas menolakku. Tapi aku malah tertawa sekencang ini.”

 

“Kau tidak harus menangis karena aku. Aku akan merasa semakin bersalah.” Hyun Ki tersenyum meskipun hatinya terasa sakit.

 

“Kau harus merasa bersalah Ki Bum-ya.”

~~

 

 

“Hyun Ki-ya! Ryu Hyun Ki!” Teriak Ki Bum seraya mengetuk pintu Hyun Ki dengan tidak sabar. Tak lama, pintu itu dibuka oleh Hyun Ki yang sedang bercelemek.

 

“Ada apa? Katakan dengan cepat. Aku sedang memasak.” Ki Bum mengamati mata Hyun Ki yang terlihat bengkak.

 

“Semalam kau menangis?” Hyun Ki memutar matanya malas, dan menunduk malu.

 

“Jika kau hanya ingin menanyakan itu, maka aku harus buru – buru masuk. Aku sedang memasak.” Ki Bum menggeleng pelan, menanggapi sikap Hyun Ki padanya, pagi ini. Tapi dia memilih pura – pura tidak tau.

 

“Benar – benar calon istri idaman.” Kalimat itu membuat pipi Hyun Ki merona. Kenapa Ki Bum harus mengucapkan kalimat seperti itu? Harusnya dia tau bagaimana perasaan Hyun Ki. “Oh, kepulanganku dipercepat. Ada sesuatu, dan aku akan pulang hari ini.” Pernyataan itu membuat Hyun Ki melongo.

 

“Tapi… Ini… Kau bahkan baru sehari berada di sini…” Hyun Ki menunduk lagi, dan kali ini ekspresinya tampak sangat sedih. Ki Bum berpura – pura tidak menyadarinya lagi. Dia sadar, dia harus menjaga sedikit jarak agar Hyun Ki tidak terus menyukainya.

 

“Tenang saja, aku punya guru matematika baru untukmu.” Ki Bum menolehkan kepalanya ke samping, membuat Hyun Ki melongokkan kepalanya ke samping. Seorang pria tinggi yang tampan tampak bersandar di dinding rumahnya dengan wajah kesal.

 

“Wajahnya familiar.” Komentar Hyun Ki membuat Ki Bum tertawa pelan. Wajah pria disamping Ki Bum tampak semakin menyeramkan.

 

“Wajahku familiar? Kau bercanda? Kau tidak tau siapa aku?” Rentetan pertanyaan dari pria itu semakin membuat Ki Bum tertawa, dan membuat Hyun Ki bingung. Dia menggeleng takut – takut.

 

“Hyung, kau membangunkanku pagi – pagi, mengatakan ada hal yang darurat padahal tidak, membuatku tak sempat membawa apapun selain ponsel, dompet, dan mobil. Dan menyuruhku mengajar les privat matematika pada gadis ini secara gratis sampai masa liburan kita selesai. Dan gadis ini sangat, LUAR BIASA.” Ki Bum makin tergelak. Dan Hyun Ki makin terlihat bingung. Luar biasa apanya?
“Kau memang tidak membutuhkan apapun selain ketiga hal itu. Untuk makan, kau bisa meminta pada gadis ini sebagai bayaran les matematika. Untuk pakaian, kurasa, kau bisa meminjam milikku.” Pria itu memasang wajah ngeri menatap wajah Ki Bum. “Dan, Ki-ya, kurasa kau berbohong saat kau bilang kau penggemar dari grupku. Dia adalah Super Junior Cho Kyu Hyun. Selamat bersenang – senang untuk kalian. Aku pergi dulu.” Ki Bum melambaikan tangannya dan menjauh. Meninggalkan Hyun Ki yang kini tampak takut dan segan pada Kyu Hyun.

 

“Maaf.” Lirih Hyun Ki pelan, membuat Kyu Hyun menarik nafas. Tidak tega terlalu lama kesal pada gadis manis di depannya.

 

“Baiklah, aku lapar. Kata Ki Bum Hyung, aku bisa meminta jatah makan padamu sebagai bayaran, bagaimana? Oh, dan siapa namamu?”

 

“Aku Hyun Ki. Ryu Hyun Ki. Dan makanan… Astaga!” Pekik Hyun Ki dengan wajah horror begitu mencium bau gosong dari dalam rumah. Dia langsung lari ke dalam rumah dan meninggalkan Kyu Hyun di depan pintu, yang langsung mengacak rambutnya frustasi. Tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupannya selanjutnya, bersama Hyun Ki.

 

“Arh! Gadis itu!”

 

~~

End..?

 

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: