For The First Time

kyuhyun

 

Title : For the First Time

Cast : Cho Kyu Hyun, Choi Min Hee (OC) and others

Genre : School life, Romance, AU

Length : Oneshot

Author            : Aira

 

Author’s note : Ini ff kedua yang kukirim. Cerita ini hanya fiktif belaka, meski ada sedikit kesamaan sama real life hehehehe. Maaf jika banyak typo dan kesalahan lainnya yang kurang sesuai.

^

^

^

Memikirkannya membuat senyumku terukir sempurna.

Menatapmu layaknya menatap sebuah mentari di langit biru.

Berada jauh di atasku namun sinarnya menembus begitu dalam,

menerangi sudut jiwaku yang remang.

***

—There is something beautiful in everyday. You just have to find and feel it…—

***

Penjelasan Kwon seosaengnim mengenai rumus-rumus fisika yang tak terlalu kusukai membuatku merasa jenuh. Tulisan-tulisan rumus dan angka di papan tulis yang terpajang di depan kelas membuatku mengantuk. Belum sempurna mataku menutup, kedua bola mata hitamku menatap lekat punggung seorang laki-laki yang duduk berjarak satu bangku di depanku. Bibirku tersenyum begitu saja.

Cho Kyu Hyun.

Sebuah nama yang mampu membuatku mengukir senyuman. Sebuah nama yang mampu membuat detak jantungku berdetak lebih cepat. Sebuah nama yang selama kurang lebih 6 bulan sudah terukir di dalam sudut hatiku.

Aku memutuskan untuk tidak menutup kedua mataku. Kutegakkan kembali posisi dudukku.

Setidaknya, masih ada objek yang lebih menyegarkan dibandingkan dengan tulisan-tulisan rumus di papan tulis sana yang membuatku mengantuk melihatnya. Ya, meskipun hanya punggungnya saja yang dapat kulihat saat ini.

***

Pelajaran sudah berganti. Kwon seosaengnim keluar kelas sementara Yoon seosaengnim masuk dan mulai mengajar pelajaran biologi.

Dan kini, 15 menit menjelang istirahat, aku dan teman-teman sekelasku diberi waktu untuk mendiskusikan tugas yang baru saja diberikan oleh Yoon saem. Tugas kelompok yang harus dipresentasikan minggu depan.

“Bisa kan jika hari sabtu datang ke rumahku, Min Hee-ssi?”

Aku terkejut. Fokusku kembali pada ketiga orang di sekitarku. Teman sekelompokku. Aku tersenyum gugup. “Bisa kan?” tanya orang itu untuk kedua kalinya. Ia tengah menatapku. Cho Kyu Hyun menatapku dan berbicara kepadaku.

“YA! Choi Min Hee!” Panggil Yoon Hae.

“Ah… Ne? Y-ya, aku bisa,” jawabku gugup. Bodoh! Choi Min Hee bodoh! Harusnya aku lebih bisa mengontrol diri. “Baiklah kalau begitu jam 10 di rumahku. Jangan telat.” Kulihat Kyu Hyun menatapku dengan tatapan yang… tak ku mengerti.

“Kau kenapa?” tanya Yoon Hae pelan setelah Kyu Hyun berkata. Aku hanya menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan Yoon Hae –teman semeja sekaligus teman sekelompokku-. Yoon Hae tak bertanya lagi. Ia mulai asyik mengutak-atik handphonenya. Aku melempar pandanganku ke arah Kyu Hyun yang duduk di depanku. Dia kini tengah berbincang dengan Choi Si Won –sahabatnya yang juga sekelompok denganku-.

Harus kuakui aku merasa senang meskipun terkadang gugup dengan anggota kelompok biologiku. Aku, Yoon Hae, Si Won, dan Kyu Hyun. Kami disatukan dalam kelompok belajar mata pelajaran biologi.

Kyu Hyun mengalihkan kedua matanya ke arahku. Detak jantungku mulai berdetak cepat. Suhu di sekitarku mulai meningkat. Wajahku memanas. Dengan cepat, aku membuang tatapanku darinya. Mengalihkannya kemana pun. Asalkan tidak terlalu lama menatap kedua matanya. Tak ingin terlalu lama jatuh dalam pesonanya.

Dia, Cho Kyu Hyun. Laki-laki bertubuh tinggi sekitar 180 cm, kulit putih pucat, hidung mancung, dan kedua mata cokelatnya yang terkesan tajam namun mampu membuatku luluh. Berotak cerdas, namun tak membuatnya sombong. Kyu Hyun justru lebih memilih bersikap tenang dalam mengerjakan sesuatu. Sering menghabiskan waktu istirahat dan pelajaran kosong dengan bermain PSP yang selalu ia bawa di kursinya. Itulah salah satu kebiasaannya.

Terkesan acuh tak acuh padahal ia jauh lebih peduli dan bertanggung jawab terhadap sekitarnya. Salah satu sifat Kyu Hyun yang membuatku terkesima.

Bagaimana aku mengetahui hal itu?

Aku hanya seorang gadis yang kebetulan sekelas dengannya di tahun kedua SMA ini. Bukan. Aku bukan siapa-siapa baginya. Hanya teman sekelas. Tapi bagiku, dia adalah seorang yang cukup berarti keberadaannya. Membuatku tersenyum hanya dengan memikirkannya, membuat detak jantungku bekerja lebih cepat ketika menatapnya meskipun sekilas.

Aku hanya seorang gadis biasa yang lebih banyak diam di kelas. Memperhatikannya dalam diam. Dengan jarak yang memisahkan meskipun kami berada di dalam ruang kelas yang sama.

Entah dia menyadari atau tidak akan kebiasanku yang sering memperhatikannya. Menurut kalian, bodohkah diriku yang sedari dulu hanya memperhatikannya dalam diam?

Tak ada kalimat yang dapat meluncur bebas saat aku berbicara dengannya. Kegugupan selalu mengiriku saat berada di dekatnya. Terlebih berbicara dengannya.

***

Keesokan harinya…

‘Belum selesai kegiatan klubnya?’

‘Belum. Mungkin selesainya jam setengah 11. Mianhae…’

Send.

Aku baru saja membalas sebuah pesan singkat dari Yoon Hae. Aku menatap takut handphone yang berada di genggamanku. Berharap, Yoon Hae dan dua orang namja itu tidak terlalu marah akibat diriku yang tidak bisa datang tepat waktu.

‘Tapi kau datang ‘kan?’

‘Iya.’

‘Baiklah, kami tunggu.’

Aku tersenyum ketika membaca balasan dari Yoon Hae. Semoga Yoon Hae dan yang lainnya tidak terlalu marah.

Jangan sampai telat.” Kata-kata Kyu Hyun kembali bermain di pikiranku. Dan tatapannya saat itu…

Aish..!

Aku kembali tersenyum mengingatnya.

“Kau kenapa?” lagi-lagi pertanyaan itu yang terdengar. Namun kali ini yang bertanya bukanlah Yoon Hae. Melainkan Ha Min Ra. Siswi berparas cantik kelas XI-C yang merupakan teman sekelasku sewaktu kami kelas X.

“Aniya,” jawabku singkat disertai senyuman. “Min Ra-ya, kapan kira-kira kita selesai kegiatan klub?” tanyaku tanpa mengalihkan pandangan ke arahnya. “Mm.. mungkin sekitar jam setengah sebelas. Aku berharap cepat selesai,” jawab Min Ra santai. Aku menoleh ke arahnya dan terkekeh kecil.

Kulirik jam yang tersemat di pergelangan tangan kiriku. 10 menit lagi menuju jam setengah 11. Ayo… cepatlah…

Saat ini aku benar-benar tidak fokus akan apa yang diutarakan oleh Dong Hae –teman sekelasku sekaligus ketua klub jurnalistik-. Aku mengikuti klub jurnalistik di SMA ini. Sementara Kyu Hyun, aku tidak tahu. Aku jarang melihatnya ketika hari sabtu dimana beberapa klub mengadakan kegiatan.

Mugkin dia mengikuti klub sains. Karena yang kutahu, dia menyukai bidang pelajaran tersebut dan sangat berbakat dengan hal-hal berbau angka.

***

Aku tersenyum senang begitu Dong Hae menutup kegiatan klub hari ini. Aku segera berjalan cepat keluar dari ruang kelas yang sejak jam 9 tadi digunakan untuk kegiatan klub jurnalistik hari ini.

“Min Hee, tunggu!” kudengar suara panggilan dari Min Ra. Aku hanya menoleh sekilas dan mengisyaratkannya agar berjalan lebih cepat. “Kenapa buru-buru?” tanya Min Ra begitu dirinya sudah berjalan sejajar di sampingku.

“Aku ingin kerja kelompok,” jawabku sambil mengetik sebuah pesan singkat kepada Yoon Hae.

‘Aku sudah selesai. Maaf lama. Tapi, aku tidak tahu dimana rumah Kyu Hyun.’

Send.

Semilir angin musim dingin yang berhembus membuatku bergidik seketika. Mengapa perasaanku menjadi tak karuan?

“Yah… pulang sendiri.” Kudengar helaan nafas lemah dari Min Ra. “Tidak pulang bersama Dong Hae?” tanyaku disertai dengan kekehan pelan. Min Ra menepuk –atau lebih tepatnya memukul- bahu kananku. Aku mendengus sebal sementara Min Ra hanya tersenyum tanpa dosa dan ia dengan santainya berjalan mendahuluiku. Dasar!

Drrt.. Drrt…

Sebelum aku mengumpat lebih panjang, handphone yang masih berada dalam genggamanku terasa bergetar beberapa kali. Membuatku dengan segera memeriksanya.

Telepon masuk. Nomor yang tidak kukenal. Dengan ragu, kujawab sambungan telepon itu.

“Yeoboseyo, dengan Choi Min Hee?”

Pendengaranku seakan berdengung. Aku mengenal suara ini. Tapi aku sedikit ragu. Apakah ini Cho Kyu Hyun yang selama ini kuperhatikan diam-diam? “Min Hee-ssi, apa kau sudah selesai?” satu-satunya siswa di kelas yang memanggilku dengan embel-embel ‘ssi’. Tapi, apa iya?

Aku mengerjap pelan.

“Yeoboseyo, Min Hee-ssi?”

“Eh? N-ne. Ini aku. Maaf ini… siapa?” tanyaku berbasa-basi. Aku hanya ingin memastikan bahwa telingaku masih berfungsi dengan baik. Orang yang menelponku terkekeh pelan. Ya Tuhan!

Mian. Ini aku Cho Kyu Hyun. Apa kegiatan klubmu sudah selesai?” laki-laki itu melontarkan pertanyaan yang sama dengan sebelumnya. Aku tidak langsung menjawabnya. Suhu di sekitarku saat ini benar-benar meningkat. Padahal bulan ini masih terbilang musim dingin namun suhu di luar tubuhku mendadak panas.

“Min Hee-ssi?” panggilnya. Aku menggelengkan kepala, berusaha menyadarkan kembali pikiranku yang sudah mulai berimajinasi. “N-ne, sudah selesai.” Hanya itu yang bisa kujawab. Itu pun dengan usaha yang keras agar lidahku kembali bisa bergerak. “Berarti, kau masih di sekolah?” tanyanya lagi. Aku bertanya-tanya, kapan sambungan ini akan berakhir? Tapi, sungguh aku tak ingin sambungan ini berakhir dengan cepat. Mungkin diamku ini dapat mengulurnya.

“Ne, a-aku masih di sekolah.” Aku yakin suaraku ini terdengar bodoh di telinganya. Tapi aku tak dapat menepisnya. Setiap kali berbincang dengannya membuat ucapanku tersendat begitu saja.

“Aku akan menjemputmu. Tunggu aku di sana.”

Sambungan terputus. Membuatku termangu dengan wajah tak percaya. Apa katanya tadi? Aku disuruh menunggunya?

“Ya..! Min Hee-ya, kau ini kenapa?” Teriakan Min Ra membuyarkan lamunanku. “Kau mau ke halte tidak?” tanyanya yang kini sudah berada di dekat gerbang sekolah, mendahuluiku. Sementara aku? Masih terdiam beberapa meter di belakangnya.

“Oh iya… Kau mau kerja kelompok ya? Yasudah, aku pulang duluan ya. Sampai jumpa.” Min Ra mulai berjalan menjauh sebelum awalnya berjalan mendekat ke padaku untuk memastikan apakah aku baik-baik saja.

Adakah yang salah denganku hari ini?

Sepertinya ada.

Meskipun telepon singkatnya 3 menit lalu telah usai, namun debaran hebat jantungku tak kunjung mereda.

***

Tin.

Bunyi klakson yang tak bising, membuatku mendongakkan kepala. Sebuah motor besar berwarna hitam dengan garis merah kecil, berhenti tepat di depan tubuhku yang saat ini tengah berdiri di dekat gerbang sekolah.

Si pengendara motor itu membuka kaca helmnya dan… lagi jantungku bekerja dua kali lebih cepat begitu wajah itu terlihat oleh kedua mataku.

“Kajja,” ajaknya.

Dengan ragu, aku menaiki motor tersebut. Aku benar-benar tidak menyangka. Dia sungguh-sungguh datang menjemputku. Dan saat ini, aku terduduk tepat di belakang punggungnya. “Pakai ini.” Dia menyerahkan sebuah helm berwarna biru muda kepadaku. Aku segera memakainya.

Seiring dengan detak jantungku yang masih berdebar tak karuan, motor ini perlahan melaju meninggalkan sekolah.

***

Begitu masuk, dominasi warna cokelat begitu terlihat di sekitar ruang tamu rumah Kyu Hyun. Tidak terlalu mewah, namun terlihat nyaman. Aku tersenyum ketika bola mataku mendapati sebuah pigura besar yang tergantung di dekat sebuah pintu yang kuyakini sebagai pintu kamar. Sebuah pigura yang memajang sebuah foto keluarga Kyu Hyun. Namun mataku memicing memastikan laki-laki yang kira-kira berusia 8 tahun di foto itu adalah Kyu Hyun.

Dia terlihat lucu. Pipinya yang gembul dengan senyum serta ekspresi cerianya.

“Masih banyak?” Suara Kyu Hyun membuatku menoleh menatapnya yang baru saja masuk setelah ia memasukkan motornya ke dalam garasi rumahnya.

“Lumayan,” jawab Si Won singkat tanpa mengalihkan fokusnya dari laptop miliknya yang ada di hadapannya. Kyu Hyun hanya mengangguk-anggukan kepalanya sebentar kemudian ia melanjutkan langkahnya memasuki sebuah pintu kamar yang di dekatnya terdapat pigura besar yang memajang foto keluarga yang tadi ku lihat.

“Apa yang bisa kukerjakan?” tanyaku yang kini sudah duduk di sebelah Yoon Hae. Sofa panjang berwarna cokelat tua yang baru ku duduki ini begitu empuk. Yoon Hae melirikku sekilas. “Kau… katanya hanya sebentar.” Yoon Hae berucap tetap dengan fokusnya ke laptop merah milik Kyu Hyun. Ada nada kesal di sana. “Mianhae,” jawabku. “Biasanya hanya satu jam. Tapi karena akan ada lomba sabtu depan jadi… kami membasahnya tadi,” lanjutku.

“Baiklah.” Aku tersenyum mendengar respon Yoon Hae.

“Biar aku lanjutkan?” tawarku. Dengan senyum –teramat- senangnya, Yoon Hae segera meletakkan laptop merah milik Kyu Hyun ke atas pangkuanku.

“Datanya sudah ada semua di Microsoft word. Kau hanya perlu menyalinnya ke power point dan mengeditnya.” Yoon Hae berkata sambil menunjukkan kepadaku data yang mana saja yang harus kubuat dalam bentuk power point.

“Nah, kita buat sampai sini. Sisanya dikerjakan oleh Si Won dan Kyu Hyun.” Hembusan nafas lega Yoon Hae keluar disertai senyumnya. Yoon Hae segera menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Aku hanya tersenyum kecil. Sebelum mataku fokus ke layar laptop di pangkuanku ini, aku mencoba memandang pintu yang tadi dimasuki Kyu Hyun.

Mengapa dia belum keluar juga?

Cklek.

Pintu itu terbuka diiringi dengan Kyu Hyun yang berpakaian sama saat ia menjemputku ke rumahnya. Hanya jaket hitamnya sudah terlepas dari tubuhnya.

Ia tidak berjalan menuju ruang tamunya. Kulihat ia berjalan beberapa langkah kemudian berbelok sedikit ke kiri dimana terlihat sebuah kulkas di sana. Setelah itu ia kembali terlihat dengan sebuah nampan dengan empat gelas air. Ia mulai melangkah mendekat ke ruang tamu.

Kedua matanya melihatku sejenak. Aku menelan ludahku paksa.

Fokus!

Aku segera menatap layar laptop dan mulai tenggelam dalam tulisan-tulisan di Microsoft word untuk bahan presentasi kami.

***

“Kyu, kau sudah tahu belum?” pertanyaan Yoon Hae memecah keheningan yang menyelimuti kami berempat semenjak kedatanganku 30 menit lalu. “Hm?” Kyu Hyun merespon seadanya. Dirinya terlihat fokus menulis data-data penting yang kami butuhkan untuk penunjang presentasi kami.

“Sae Ra.”

Jari-jariku yang sedari tadi asyik menari di atas keyboard seketika terhenti. Aku mencuri pandang ke arah Kyu Hyun yang –beruntungnya- masih sibuk menatap kertas yang sudah ditulisi dengan tulisan tangannya. Tapi tangannya saat ini berhenti menulis. Mungkin dia juga terkejut akan ucapan Yoon Hae.

“Ada apa dengan Sae Ra?” tanya Kyu Hyun menatap Yoon Hae. Hanya menatap sebentar kemudian ia mulai membulak-balikkan buku paket yang ia gunakan sebagai pedoman menulisnya.

“Min Sae Ra sekarang menjadi kekasih Jong Woon sunbae bukan?” tanya Yoon Hae dengan memberikan tatapan tak percaya kepada Kyu Hyun. “Aku tahu itu,” respon Kyu Hyun dengan nada tenang. “Lalu bagaimana?” Yoon Hae masih menerjang Kyu Hyun dengan rasa ingin tahunya. “Itu bagus.”

Yoon Hae melebarkan kedua matanya. “Jinja? Mantan kekasihmu sudah memiliki kekasih lagi dalam waktu 2 bulan setelah kalian putus, dan… itu bagus?”

“Tentu,” jawab Kyu Hyun singkat. “Lalu bagaimana dengan kau sendiri? Kau sudah melupakannya?” tanya Yoon Hae dengan mimik wajah serius.

Ahn Yoon Hae, Tidak bisakah kau tidak membicarakan hal ini?

“Yoon Hae~ya, kau bisa membuat Kyu Hyun patah hati lagi. Sudah jangan dibahas.” Si Won berbicara dengan nada santai. Sementara Kyu Hyun hanya menatap Si Won singkat.

“Jika melupakan benar-benar menghilangkannya dari otakku, aku rasa belum.” Kyu Hyun berganti menatap Yoon Hae.

Apakah Kyu Hyun masih berharap?

“Masih berharap bisa bersatu kembali?”

Good job, Ahn Yoon Hae.

“Tidak. Tapi jika takdir kembali mempersatukan kami, kupikir aku…”

“Wah, wah jadi masih ada keinginan bisa bersatu…” cibir Si Won sembari menepuk pelan bahu sahabatnya itu. “Hey! Tidak ada yang tahu dengan siapa kita berjodoh. Cinta saat ini belum tentu menjadi milik kita selamanya.” Kyu Hyun dengan santainya berkata. Kedua bola mata cokelat itu kini mengarah padaku. Aku terpekur. Sorot matanya begitu meneduhkan. Aku kembali terperosok ke dalam pesonanya. Kedua bola mata hitamku tak berkutik. Dan tak ada niatan dalam diriku untuk menyudahi eye contact terlama antara aku dan Kyu Hyun selama ini.

Aku mencoba menahan nafasku dan membuangnya perlahan. Hingga dirinya kembali melanjutkan tulisannya yang sempat terhenti.

Hatiku bergetar. Tersirat setitik perasaan hampa dari sorot bola mata cokelatnya tadi. Apakah ia benar-benar masih berharap kepada Sae Ra?

Min Sae Ra. Aku yakin seluruh murid kelas XI di sekolahku mengetahui dirinya. Parasnya yang cantik, tubuhnya yang tinggi langsing, rambut ombaknya tergerai indah, otaknya pun tidak terlalu mengecewakan, dan… friendly. Gadis aktif, periang yang sering mengikuti lomba pidato berbahasa inggris.

Hatiku menjerit. Sosoknya begitu sempurna, ditambah jika Kyu Hyun menjadi pasangannya. Perfect couple!

Aku tersenyum kecut.

Mengapa aku tidak bisa mengontrol hati dan perasaanku ini? Aku ingin melupakan perasaan ini tapi mengapa sulit? Jika aku tetap meneruskannya, hatiku terasa sakit seketika. Sosok Kyu Hyun begitu sempurna. Sementara diriku tak se-sempurna seperti ‘perempuan ideal’ bagi Cho Kyu Hyun.

Rambut panjang, kaki jenjang, tubuh proporsional.

Seperi itulah kiranya tipe ideal seorang Cho Kyu Hyun.

Aku merasakan mataku memanas. Sial! Aku menyeka cepat dan sebisa mungkin tak ingin orang lain menyadari keanehanku.

Rambut ikal yang hanya sebahu. Tubuh yang hanya sekitar 160 cm, dan tidak dapat dikatakan langsing, tapi tidak terlalu gemuk seperti yang kalian bayangkan.

Bodoh jika aku terus membandingkan diriku dengan tipe ideal Kyu Hyun. Seperti Min Sae Ra, mantan kekasihnya yang menjalin hubungan selama 6 bulan dengan Kyu Hyun.

***

Aku terus mengetik tanpa mengalihkan fokusku kepada Kyu Hyun yang duduk di serong kiriku. Aku harus tetap fokus meskipun pembicaraan mengenai Min Sae Ra masih berlanjut. Aku mendengus pelan. Sudah sekitar 40 menit kami –kecuali diriku- membicarakan tentang sosok Min Sae Ra. Lebih tepatnya mengenai beberapa jalinan kisah selama 6 bulan antara Kyu Hyun dengan Min Sae Ra.

Haruskah Yoon Hae dan Si Won bertanya se-detail itu? Dan mengapa Kyu Hyun senantiasa merespon setiap pertanyaan Yoon Hae dan Si Won? Dengan sikap tenangnya, ia menjawab pertanyaan Yoon Hae dan Si Won.

“Lalu, bagaimana kalian bisa putus?” tanya Yoon Hae penasaran. Pertanyaan yang –aku yakin- membuka kembali kenangan dalam suatu sudut hati Kyu Hyun.

“Kami sudah jarang bertemu karena ia sibuk dengan berbagai lomba, sementara aku sibuk berdiam diri di kelas,” katanya diakhiri dengan kekehan kecilnya. Aku tidak tahan mendengar ini semua. “Kau yang memutuskannya?” Yoon Hae bahkan sudah menggeser tubuhnya mendekat ke arah Kyu Hyun.

Aku segera berdiri. “Aku ingin ke toilet,” seruku membuat mereka bertiga mendongak menatapku. “Kau jalan lurus saja, kamar mandinya ada di pojok kanan.” Aku hanya mengangguk seadanya dan kemudian segera menuju kamar mandi yang Kyu Hyun maksudkan.

Tapi sebelum aku melangkah lebih jauh, Kyu Hyun berkata, “Menjalin hubungan sesuai dengan standar yang diinginkan ternyata tidak terlalu menyenangkan.”

Hatiku entah mengapa berdesir lembut.

***

“Yoon Hae, nanti pulang bersama ya?” ajakku. Jujur saja aku tidak terlalu mengetahui daerah di sekitar sini. Dan, rumahku dengan rumah Yoon Hae searah. Tidak ada salahnya bukan pulang bersama?

“Eh iya, jam berapa sekarang?” Yoon Hae menyambar begitu saja pergelangan tangan kiriku. “Jam 12:10?” tanyanya kepadaku. Aku mengangguk. “Aku harus pergi.” Yoon Hae memasukkan beberapa buku miliknya yang sedari tadi ia keluarkan untuk kelompok kami mencari bahan materi. Kami semua menatapnya. Ia menghentikan kegiatan beres-beresnya.

“Aku ingin pergi. Orangtuaku akan menunggu di sekolah untuk menjemputku dan kami ingin pergi mengunjungi nenek. Bolehkan?” pintanya dengan wajah memohon. “Bagaimana dengan pekerjaanmu?” tanya Si Won menyelidik. “Sudah selesai. Tinggal bagian Min Hee, iya kan, Min Hee?” Kini semuanya tengah menatapku. Aku memutar bola mataku tak karuan. “Iya,” jawabku singkat. Memang benar tugasnya telah selesai tapi bagaimana denganku nanti? Aku tidak tahu daerah sekitar sini. Pulang sendiri? Menyebalkan.

“Lalu bagaimana…”

“Aku duluan. Min Hee-ya, maaf aku tidak bisa pulang bersamamu. Nanti kau tanyakan saja arah ke sekolah kepada Kyu Hyun. Aku harus pergi. Sampai jumpa.” Yoon Hae membungkuk kepada kami semua. Aku menghela nafas pelan.

Bagaimana aku pulang?

***

“Cha, akhirnya selesai.” Aku mendongak mendapati Si Won yang tersenyum senang menatap layar laptop miliknya. “Hei, aku pulang ya?” Si Won menatapku dengan tatapan berharap. Aish…

“Andwe. Sebentar lagi aku selesai,” jawabku setengah panik. Sebenarnya masih lumayan yang harus kuselesaikan. “Aish. Ini sudah jam 1:15. Aku sudah ada janji jam setengah 2. Jebal…” Tak kupedulikan nada suara Si Won yang mulai memelas. Aku berusaha tetap fokus dengan tugasku. Aku harus cepat. “Janji kencan dengan Soo Jung?” celetuk Kyu Hyun. Kini, ia sedang sibuk menatap layar handphonenya. Mungkin masih mencari data penting untuk penunjang materi ini.

Si Won menatap Kyu Hyun dengan cengiran tak bersalahnya. “Hanya menemaninya membeli kado untuk adik laki-lakinya,” jawab Si Won polos.

“Bagaimana aku bisa melanjutkan ketikanku jika tidak ada laptop?” sepertinya Kyu Hyun tidak menginginkan Si Won pergi sekarang. Sama halnya denganku. Jika Si Won pergi, tinggallah diriku dengan Kyu Hyun berdua di rumahnya yang tak ada orang. Kedua orangtuanya sedang pergi mengunjungi kakak perempuannya yang saat ini menetap di Cheong Ju untuk melanjutkan kuliah.

“Kau bisa mengerjakannya di komputermu bukan? Atau kalian bisa bekerja bergantian. Ini semua data yang sudah kau kerjakan, dan ada juga dataku di sana. Jebal… aku sudah ada janji dengannya.” Si Won masih memelas sembari mengulurkan flashdisk kepada Kyu Hyun. Aku semakin panik. Kerjaanku masih lumayan banyak dan aku tidak ingin berdua saja berada di sini dengan Kyu Hyun. Setidaknya, jika tugasku sudah selesai saat ini aku bisa meminta Si Won untuk mengantarku kembali ke sekolah.

Kulirik sekilas, Kyu Hyun belum menerima flashdisk yang diberikan Si Won.

“Kau ingin pulang sekarang, Min Hee?” tanya Si Won kepadaku. Kali ini aku benar-benar berhenti mengerjakan tugasku, sialnya Kyu Hyun juga tengah menatapku. “A-aku… masih lumayan banyak,” jawabku gugup. Tolong alihkan tatapan matamu, Cho Kyu Hyun.

“Yasudah jangan dipaksakan. Kerjakan saja dulu di sini,” jawab Kyu Hyun yang kini sudah menyambar flashdisk yang ada di tangan Si Won. Aku melebarkan kedua mataku. “Jadi, bolehkah aku pergi sekarang?” Si Won menatap kami bergantian. Dan entah bagaimana, aku dan Kyu Hyun saling melempar tatapan. Memberikan jawaban yang dinantikan Si Won.

“Baiklah.” Jawaban Kyu Hyun membuatku mendengus tak percaya.

***

Suasana begitu hening. Tak ada satu pun yang membuka percakapan. Baik diriku maupun dirinya. Aku terlalu gugup untuk memulai komunikasi dengannya. Terbilang sudah 25 menit selepas Si Won pergi, kami masih saling diam. Hanya terdengar suara antara jari-jariku yang menari di atas papan keyboard dan suara pergerakan jam dinding di ruang tamu ini.

Aku melirik jam yang ada di sudut kanan bawah laptop di hadapanku. Sudah jam setengah 2 lewat. Aku melirik Kyu Hyun. Detak jantungku kembali berpacu tak seirama. Dia mendongak, melihat jam dinding. Dan tanpa kusadari, dengan cepatnya kedua bola matanya sudah menatap kedua bola mataku yang masih memperhatikannya.

“Masih banyak tidak?” tanyanya tanpa mengalihkan tatapannya. Kegugupan kembali menderaku. “Mm.. tidak. Ha-hanya tinggal ini saja,” jawabku tak karuan sambil menghadapkan layar laptop kepadanya dan menunjukkan kertas yang menjadi bagian materiku untuk presentasi nanti. “Sudah hampir jam 2,” ucapnya pelan. Aku mengangguk menanggapi sembari melanjutkan kegiatan mengetik, “Iya sebentar lagi aku selesai,” jawabku gugup.

Kulirik wajahnya yang terlihat lesu.

“Apa kau tidak lapar?” suaranya terdengar pelan. Jadi dia sedari tadi menahan lapar? Aku harus lebih cepat kalau begitu. “Aku tidak lapar. Yasudah makan saja,” responku. Dia mengeleng. “Sebentar lagi kan? Akan aku tunggu.”

Aku menatapnya bingung.

“Memang kau tidak lapar? Sudahlah lebih baik cepat menyelesaikannya dan kita bisa makan siang,” jawabnya dengan nada santai.

Kita? Tidak tahukah dirinya jika aku mati-matian mengontrol detak jantungku ini? Terlalu banyak hal-hal bermakna konotasi yang kutangkap darinya hari ini.

Hah… Cho Kyu Hyun! Aku benar-benar bisa sesak nafas jika seperti ini.

***

Kedai sederhana namun suasanya begitu nyaman. Tiga orang pelayan sibuk mencatat pesanan pelanggan. Dan pelanggan yang terlihat sibuk mencari bangku kosong untuk ditempati. Begitu pun kami. Ya, aku dan Kyu Hyun saat ini sedang berada di salah satu kedai makanan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah Kyu Hyun. Dia mengajakku begitu aku selesai mengerjakan tugasku. Dan tanpa bisa menolaknya, aku menurutinya. Katanya, di rumahnya saat ini sedang tidak ada bahan makanan yang bisa dimasak olehnya. Lebih tepatnya, Kyu Hyun mengatakan jika ia tidak bisa memasak. Ya, aku tau fakta itu.

“Kajja.” Dia mengajakku ke dua buah kursi kosong yang tak jauh dari tempat kami berdiri saat ini. Aku menurutinya.

“Annyeong Kyu Hyun-a, pesan yang seperti biasanya?” tanya seorang pelayan wanita paruh baya dengan senyum ramah. “Annyeong, ahjumma. Ne, seperti biasa. Jjajangmyeon,” jawab Kyu Hyun membalas senyum wanita di depannya. “Baiklah. Dua porsi?” tanya wanita itu sembari mencatat pesanan Kyu Hyun. Kyu Hyun menoleh ke arahku. “Kau juga mau jjajangmyeon? Atau yang lain?” tanya Kyu Hyun.

“Aku.. y-ya sama saja denganmu,” jawabku ragu sambil memainkan jemariku di ujung cardigan yang kukenakan. “Jjajangmyeon dua porsi dan air mineral dua, Ahjumma.” Kyu Hyun mengulang pesanannya.

“Arraseo. Silahkan ditunggu.” Ahjumma itu pergi meninggalkan kami yang kembali sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku terlampau sibuk menetralkan detak jantungku. Sementara dia entahlah. Pandangannya menembus kosong ke arahku, meskipun aku tidak tau apa yang dia lihat sebenarnya. Mungkin ada yang menarik perhatiannya di belakangku. Aku berusaha tidak peduli, meskipun sebenarnya tak bisa.

“Min Hee-ssi, apa nanti kau ada waktu?” tiba-tiba dia bertanya. Aku mengerjap pelan. “U-untuk?” aku berusaha meredam kegugupanku. Dia terlihat berpikir. Mungkin ragu akan jawaban yang ingin ia katakan.

“Mau menemaniku ke festival manga?”

Aku menatap jam tanganku. “Ta-tapi, aku harus pulang.” Tak enak hati rasanya menolak ajakannya. Tunggu? Ajakan? Benarkah Kyu Hyun mengajakku?

“Arraseo.” Entah tatapan apa itu, tapi aku merasakan sebesit rasa kecewa dari kedua bola matanya. “Jika kau ingin ke sana tak apa. Biar aku kembali ke sekolah naik bus saja. Bukankah bus yang melewati halte di sebrang kedai ini akan berhenti di halte dekat sekolah?” tanyaku. Sungguh hari ini aku benar-benar merasa tidak enak kepadanya.

Sudah datang terlambat, dijemput pula dari sekolah. Membuat Cho Kyu Hyun menahan lapar karena aku yang masih sibuk mengerjakan tugas. Hingga baru pada pukul 14:15, pekerjaanku selesai dan dia segera mengajakku makan terlebih dahulu sebelum pulang.

“Tidak tidak. Aku akan mengantarmu sampai rumah sekalian. Lagi pula, lebih cepat naik motor bukan?” Kyu Hyun bertanya balik. Aku hanya diam. Aku kembali merasa bersalah. Dia tidak jadi ke festival manga karena dia ingin mengantarku pulang.

“Mianhae,” tuturku pelan. “Eh? Untuk apa meminta maaf?” Sebelah alisnya kini ia naikkan. “Karena aku, kau tidak jadi ke festival itu.” jawabku. Dia tersenyum. “Gwaenchana. Sebenarnya aku bisa pergi nanti malam. Tapi… tidak ada siapapun.” Kyu Hyun mengecilkan volume suaranya.

“Bukankah kau bisa mengajak kakak perempuanmu? Ah iya, aku lupa jika kakakmu menetap di Cheong Ju. Maaf,” ucapku dengan nada menyesal. Bodoh! Tapi kulihat dia tersenyum. “Tidak apa-apa.” Dia mengambil jeda sesaat, “ya, jika dia ada di rumah, aku pasti akan mengajaknya. Karena dia juga suka manga.” Kyu Hyun menjelaskan.

Aku membulatkan kedua mataku. “Kakakmu senang membaca komik juga?” tanyaku tak percaya. Dia mengangguk. “Hm. Kau juga suka membaca komik kan?”

Bagaimana dia mengetahuinya?

“Saat istirahat, aku sering melihatmu sedang membacanya di kelas.”

Aku mengangguk dan senyum tipis itu mulai terukir di bibirku.

“Ini pesanan kalian.” Ahjumma tadi tiba-tiba saja sudah meletakkan sebuah nampan dengan dua buah mangkuk jjajangmyeon dan dua air mineral. “Silahkan dinikmati.” Ahjumma itu tersenyum.

“Gomawo ahjumma,” ucap Kyu Hyun yang membalas dengan senyum tipisnya. Aku terdiam menatap Kyu Hyun. Dia terlihat semakin mempesona dengan senyumnya.

“Jjajangmyeon di sini benar-benar enak lho.” Kyu Hyun tiba-tiba bersuara setelah Ahjumma tadi pergi. Aku segera menarik kembali pandanganku dari wajahnya. Kyu Hyun menatapku dan aku hanya tersenyum kikuk.

“Bukan karena kau menyukai jjajangmyeon?” tanyaku berusaha menanggapinya dengan sikap yang wajar. Dia memang suka jjajangmyeon. Salah satu list makanan favoritenya. “Dari jjajangmyeon yang pernah kucoba selama ini, jjajangmyeon Kim Ahjumma selalu enak.” Aku terkekeh mendengarnya.

“Hei, aku tidak berbohong! Coba saja buktikan.”

Akhirnya, aku mulai memasukkan satu sendok makan jjajangmyeon ke dalam mulutku setelah aku berdoa. “Eotthoke?” tanya Kyu Hyun dengan wajah tak sabar. Aku mengangguk, “Mashitta!”

Kyu Hyun tersenyum senang.

***

Entah siapa yang memulai, tapi suasana di antara kami mulai menyenangkan. Perasaan bersalah yang sempat hinggap, kini menguap begitu saja.

Walaupun hanya obrolan kecil yang terkesan tak penting, tapi aku tetap menikmatinya. Namun bukan Kyu Hyun namanya jika ia tidak bermain PSP dimana pun. Karena saat ini, Kyu Hyun sedang asyik memainkan PSP nya setelah 5 menit lalu ia menghabiskan jjajangmyeonnya. Sementara aku masih menikmati jjajangmyeon yang sebentar lagi habis. Tapi perutku rasanya benar-benar kenyang.

“Mm… Kyu, aku sudah kenyang,” ucapku ragu. “Mwo? Hei. Ayolah habiskan saja. Bukankah kau bilang jjajangmyeon ini enak? Sembari makan, aku harus mengalahkan musuh jelek ini.” Dia masih fokus dengan PSPnya. Aku hanya mendesah pasrah. “Dasar maniak.” cibirku pelan.

“Bermain game itu juga bermanfaat tau.” Dia mendengar cibiranku ternyata. “Sepertinya orang-orang itu salah jika berkata, ‘game itu dapat menghilangkan stress’,” ujarku. Dan ku lihat dia melirikku sekilas dari balik PSPnya.

“Waeyo?”

“Karena jika kita kalah, rasa stress itu semakin bertambah.”

Entah karena apa, tawanya meledak begitu saja. Aku terkejut. Hampir saja aku tersedak jjajangmyeon yang baru saja masuk ke mulutku. “Hei.” Aku berusaha menenangkan tawanya. Tapi dia tidak mendengar. Dia tetap tertawa meskipun volumenya mulai mengecil.

Aku memperhatikan wajahnya seksama. Baru kali ini aku melihat dirinya yang tertawa sepuas ini. Tanpa ku sadari, aku tersenyum.

“Choi Min Hee. Kau sering kalah ya jika bermain game?”

Senyumku langsung pudar ketika mendengar pertanyaan meremehkannya. Ditambah dengan senyum menyeringainya yang jarang ia perlihatkan. Tapi kedua hal itu justru membuat detak jantungku semakin berpacu tak karuan. Dan tatapan mata itu. Benar-benar membuat bola mataku berkutik untuk bergerak barang sesenti pun.

“A-ani! Hanya beberapa kali. Tapi tidak se-sering yang kau bayangkan.” Aku berusaha menjawab senormal mungkin. Tak ingin dia merasakan kegugupan aneh yang selalu menderaku ketika dia berada di dekatku. “Benarkah? Kupikir kau justru tidak suka bermain game.”

“Karena oppa dan adikku, aku jadi suka bermain game,” balasku dengan sedikit tersenyum. Sementara tanganku sibuk memainkan botol air mineral milikku. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk meminum isinya, berharap rasa gugup itu memudar.

“Bagaimana jika suatu saat kita bermain bersama?” tanyanya yang sukses membuatku tersedak air yang baru saja kuminum. Dia mengambilkan sehelai tissue dari kota tissue yang ada di tengah-tengah meja. Dia segera duduk di sampingku. Tidak taukah kau jika aku semakin bisa tersedak?

“Pelan-pelan,” bisiknya dan memberikan sehelai tissue itu. Sementara aku sibuk membersihkan bibirku, kurasakan sebuah tangan yang tengah memijit pelan tengkukku. Aku menoleh ke samping mendapati Kyu Hyun tengah menatapku… khawatir?

“Eotthokae?” tanyanya. Aku tersenyum kikuk. “Sudah lebih baik.” Dia menghela nafas lega. “Gomawo,” ucapku sembari menunduk. Tak berani menatapnya. “Hm.” Dia hanya menjawab seadanya dan segera kembali duduk di kursinya. Suasana di antara kami kembali hening. Kyu Hyun kembali asyik dengan PSPnya.

“Aku sudah selesai, kyu,” kataku begitu aku meminum sisa air mineral di botolku. Dia menghentikan permainannya. “Sudah selesai? Baiklah.” Dia mulai bangkit dari posisi duduknya. “Kajja,” ajaknya. Dan aku hanya menurut.

***

Kyu Hyun keluar dari kedai setelah membayar makanan yang tadi kami makan. Dia mentraktirku. Begitu katanya. Sepertinya hari ini aku sudah membuat berantakan hari libur Cho Kyu Hyun.

“Ini pakai.” Dia memberikanku helm dan masih dengan perasaan canggung, aku menaiki motornya. “Hati-hati ya di belakang sana.” Kyu Hyun berucap setelah ia memakai helmnya.

“Ya! Mwo?” tanyaku setengah panik. Justru yang kudengar hanyalah kekehannya. “Aish…” gerutuku. “Hahaha… pegangan jika dirasa mau jatuh,” katanya dan mesin motor pun akhirnya hidup.

“Apa kau berniat terlibat kecelakaan?” tanyaku sinis. “Bodoh. Aku hanya menyuruhmu berpegangan tau,” jawabnya. Dan motor itu pun langsung melaju. Aku tersentak. Dan tanpa sadar, jemariku sudah menyentuh pinggangnya. Hanya meneyentuh, dan aku segera melepasnya.

***

“Ini dia.” Perlahan laju motornya melambat dan akhirnya berhenti di depan rumah bercat abu-abu. Rumahku. “Jadi di sini rumahmu?” tanyanya sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumahku. “Ne. Wae?” tanyaku. “Temanku juga tinggal di sekitar sini,” jawabnya.

“Min Sae Ra juga tinggal di dekat sini,” kataku pelan. Aku tidak mengerti mengapa aku mengatakan itu. “Iya. Kau pernah bertemu dengannya?” sial. Mengapa dia dapat mendengarnya? Dan mengapa dia malah bertanya sesantai itu?

“Aku pernah satu bus dengannya,” jawabku berusaha menatap matanya. Dan dia hanya mengangguk. “Mau mampir?” tawarku. “Mm… sepertinya lain kali saja,” tolaknya disertai senyuman ramah. Aku balas tersenyum. “Baiklah. Hati-hati,” ucapku. “Mm… Min Hee-ssi, apa helm itu mau kau bawa juga?” tanyanya sembari menunjuk helm yang ada di genggamanku.

“N-ne? A-aniya. Maaf… ini.” Aku segera mengembalikan helm miliknya. Dia tersenyum lagi. Entah keberapa kalinya ia membuat detak jantungku berdebar tak karuan. Tapi dengan bodohnya, aku menikmatinya. Menikmati setiap irama yang diciptakan.

“Gomawo. Kalau begitu aku pulang dulu.” Dia mulai menyalakan kembali mesin motornya. “K-Kyu Hyun!” panggilku cepat. Dia kembali membuka kaca helmnya. Detak jantungku semakin berpacu cepat. “Maaf… jika hari ini aku banyak merepotkanmu,” ucapku akhirnya. Tak tahan akan tatapannya membuatku hanya menunduk dan menyembunyikan raut wajahku.

“Kau merasa telah merepotkanku?” tanyanya. Aku mengangguk dan mencoba mendongak menatap sebagian wajahnya yang terlihat. “Kalau begitu, apa kau tidak keberatan jika minggu depan aku yang merepotkanmu?” tanyanya lagi. Tatapan matanya benar-benar berbeda. Bukan tatapan nakal atau negatif lainnya. Tatapan mata yang ramah dan mengajak lembut.

Aku terperangah. Tak percaya atas pertanyaan yang baru saja dilontarkan.

“M-maksudmu?” tanyaku gugup. Menelan ludah paksa berharap kegugupan ini ikut tertelan.

“Aku ingin mengajakmu bermain game,” ajaknya. Bola matanya masih menatapku. Kupikir ajakannya ini hanya celetukan asal seperti di kedai tadi. Apa tidak apa-apa menerima ajakannya ini?

“Minggu depan kakakku datang dari Cheong Ju, jadi di rumah aku tidak sendirian lagi,” lanjutnya. Aku mengangguk mengerti akan maksud ucapannya. “Min Hee-ssi.” Panggilannya menyadarkanku dari imajinasi yang sempat terlintas dalam benak.

“Ne? Minggu depan ya? Aku belum bisa memastikannya,” jawabku mencoba jujur. Aku tidak bisa langsung menerima ajakannya. Bagaimana detak jantungku nanti jika aku kembali menghabiskan waktu bersamanya?

“Baik. Kalau begitu akan kutunggu jawaban pastimu,” sahutnya. Aku hanya tersenyum tipis. Tak tahu lagi harus membalasnya dengan ucapan seperti apa. “Aku pulang dulu.”

“Hati-hati,” kataku sebelum motornya melaju. Dia tersenyum sekilas dan mulai melajukan kembali motornya. Aku sama sekali belum beranjak masuk. Menunggu hingga motornya berbelok ke kanan. Setelah motornya benar-benar hilang dari pandanganku, saat itu pula kedua sudut bibirku tertarik membentuk senyuman penuh ketulusan dan kebahagiaan. Aku mendongak menatap awan-awan tipis yang terhampar luas di atas langit sana. Hembusan angin musim dingin kembali meyapaku. Tapi tetap tak membuatku masuk ke dalam rumah.

Terlalu banyak hal indah yang kualami hari ini.

Hari ini pertama kalinya aku dapat mencium dengan jelas wangi tubuhnya.

Hari ini pertama kalinya aku dapat melihat berbagai macam ekspresi orang itu. Mulai dari berbagai senyumnya, sorot matanya, seringai mengejek yang justru membuatku terpesona, sampai ekspresi tawa yang terdengar menyebalkan tapi membuatku ikut tersenyum.

Hari ini pertama kalinya aku dapat merasakan dirinya begitu dekat denganku. Tidak seperti biasanya, meskipun kami berada di ruang kelas yang sama, tapi aku merasa seolah-olah berada di ruang yang berbeda.

Dan hari ini pertama kalinya aku mendengar ucapan-ucapan Kyu Hyun yang sukses membuatku terperangah tak percaya.

Aku memilih masuk ke rumah dengan langkah ringan. Senyumku senantiasa menghiasi langkah demi langkah.

Setiap orang memiliki waktu terindahnya masing-masing. Dan waktu terindahku adalah saat aku dapat melihatnya dan mengaguminya.

—END—

Terimakasih untuk semuanya yang sudah menyempatkan waktu buat membaca tulisan ini. Maaf kalau ceritanya membosankan.😄

8 Comments (+add yours?)

  1. cici
    Nov 16, 2015 @ 15:45:10

    aaakhhhhh gantung
    .tp lumayan kedekatn main hee dan kyuhyun
    owh kyuhyun baik banget

    Reply

  2. tabiyan
    Nov 16, 2015 @ 19:09:01

    Ada sequelnya kah? Gimana kelanjutan hubungan minhee dan kyu?

    Reply

  3. olaf03
    Nov 16, 2015 @ 20:40:09

    Sequel ….
    plisss

    Reply

  4. uchie vitria
    Nov 17, 2015 @ 17:44:43

    jadi udah nich hanya sampai sini aja
    perasaan min hee ama kyuhyun seperti apa masih abu abu

    Reply

  5. inggarkichulsung
    Nov 17, 2015 @ 22:00:35

    So sweet bgt Min Hee hr ini sgt bahagia krn org yg ia sukai satu kelompok dalam kerja kelompok di kelas, mengantarnya ke rmh Kyu oppa sendiri sbg tuan rumah pengerjaan tugas kelompok dan diantar plg kembali ke rumah Min Hee, smg saja Kyu oppa jg menyukai Min Hee

    Reply

  6. iChoca
    Nov 17, 2015 @ 23:26:56

    aduuh kyu so sweet banget disini. Pasti Minhee seneng setengah mati bisa sekelompok sama Kyu wkwkwk

    nice ff thor, keep writing yaa

    Reply

  7. Laili
    Nov 21, 2015 @ 03:19:06

    Keren… enak dibaca. Udah rapih tulisannya. Konfliknya gk terlalu besar ya? Kirain di awal, endingnya gk bakal kek gini. Tapi tetep bagus kok…
    Sequel boleh juga. Haha ً:D
    Keep writing…..

    Reply

  8. tary sa
    Dec 08, 2015 @ 12:57:15

    Ini ada squalnya ga ya??
    duuh gantung bgt critanya… Bgus bgt keren ff nya

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: