Your Voice

dsc03038

Your Voice

Title : Your Voice

Cast : Cho Kyu Hyun, OC, and others

Genre : Romance

Length : Oneshot

Author : Aira

Author’s note : Cerita ini hanya fiktif belaka. Maaf jika banyak typo dan beberapa kesalahan lainnya yang kurang sesuai.

Melalui mata, aku dapat mendengar

Lewat hati, aku dapat berbicara

Dan musik adalah hatiku selama ini—


17 March 2013

Alunan biola terdengar begitu lembut di antara hembusan angin yang bertiup di daerah taman kota Cheong Ju. Cho Kyu Hyun mempertajam indera pendengarannya. Buku yang sedari tadi asyik ia baca, perlahan ia tutup. Kembali memasukkan buku itu ke dalam tas punggungnya.

Kedua bola mata cokelatnya berpendar ke sekitar taman. Mencari sumber suara biola yang lembut itu. Di sana. Tak jauh dari posisi Kyu Hyun saat ini. Kursi di samping pohon rindang yang teduh. Seorang gadis tengah memainkan biola.

“Huaa…”

Suara biola itu tergantikan oleh suara tangis anak kecil. Kyu Hyun menoleh ke arah anak kecil tersebut. Lututnya berdarah. “Ya! Tae Sung!” Kyu Hyun segera menghampiri bocah kecil itu. “Samcheon…” bocah itu meringis kesakitan. Kyu Hyun mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh keponakannya, Choi Tae Sung. Perlahan Kyu Hyun mencoba menyentuh luka Tae Sung. Tapi Tae Sung semakin menjerit.

“Tenang, tenang! Samcheon akan carikan plester dan obat luka dulu.”

“Uljima!” pinta Kyu Hyun. Sebab, semua mata di sekitar Kyu Hyun dan Tae Sung tengah menatap mereka. Ada yang iba, ada yang bersikap biasa saja, dan ada yang hanya melihatnya. Tanpa membantu Kyu Hyun sama sekali. Kyu Hyun berdecak.

“Tae Sung~a…”

Bersamaan dengan panggilan lembut Kyu Hyun, tiba-tiba sebuah tangan terulur memberikan dua buah plester dan obat luka beserta sebungkus tissue kecil. Kyu Hyun mendongak. Sebuah senyuman menyambut tatapannya. Senyuman yang terbingkai dalam wajah bulat seorang gadis yang berhiaskan rambut gelombang sepunggung yang dibiarkan tergerai olehnya.

Gadis itu menunjuk dengan kedua matanya ke arah benda-benda yang ada di genggamannya. Kyu Hyun mengikuti arah kedua matanya. Dengan segera Kyu Hyun mengambil ketiga benda tersebut dengan senyuman.

“Kamsahamnida,” ucap Kyu Hyun sembari menunduk kecil. Gadis itu kembali tersenyum. Dan kemudian, ia segera berlalu menuju sebuah kursi yang menjadi objek pandangan Kyu Hyun tadi. Gadis itu segera memasukkan biolanya ke dalam case –tempat biola-. Dan dengan langkah cepat, gadis itu menghilang dari area taman.

Kyu Hyun kembali fokus pada luka Tae Sung. “Tahan ya. Jangan menjerit atau apapun itu.” Perlahan, Kyu Hyun mulai menyapukan tissue yang ia basahi dengan air mineral yang ia bawa ke lutut Tae Sung yang berdarah. Sembari meniup luka tersebut. Setelah dirasa tak terlalu basah, Kyu Hyun mulai meneteskan sedikit demi sedikit obat luka dan kemudian menutupnya dengan plester.

“Gomawo, samcheon,” ucap Tae Sung dengan senyum khas anak kecil. Kyu Hyun mengangguk. “Lain kali berhati-hatilah,” ucap Kyu Hyun sambil mengacak pelan rambut Tae Sung. Dengan patuhnya Tae Sung mengangguk.

Cheong Ju Hospital, 18 March 2013

Di sinilah Kyu Hyun berdiri sekarang. Di lobby bawah rumah sakit. Kyu Hyun berdiri di dekat pintu utama sambil menyenderkan punggungnya ke tembok rumah sakit. Kyu Hyun yang merupakan mahasiswa semester akhir jurusan kedokteran di Seoul University tengah menjalani tugas praktek lapangan yang terakhir di Rumah sakit Cheongju di kota Cheongju, provinsi Chung Cheong utara bersama 3 orang mahasiswa Seoul University fakultas kedokteran lainnya dan 4 orang dosen pendamping selama 14 hari. Dan ini adalah hari kesembilan –yang berarti tinggal 5 hari lagi mereka menyelesaikan tugasnya-.

Dan saat ini, Kyu Hyun sedang menunggu teman baiknya –Kim Ki Bum, yang juga jurusan kedokteran- untuk pulang bersama. Selama 14 hari menjalankan tugas akhir ini, Kyu Hyun, Ki Bum dan 2 mahasiswa lainnya beserta dosen pendamping dari universitas mereka menetap bersama di sebuah rumah yang mereka sewa. Letaknya tidak jauh dari rumah sakit yang menjadi tempat pelatihan mereka. Walaupun di daerah ini Kyu Hyun memiliki sepupu –Choi Si Won- yang tinggal di sini, ia memilih tinggal di rumah sewanya. Tentu karena Kyu Hyun tak ingin merepotkan Si Won yang sudah berkeluarga.

DRRTT….DRRT…

Dengan sigap, tangan kanan Kyu Hyun segera mengambil handphonenya dari dalam saku celananya.

From : Kibum

Kyu, mianhae aku harus memberikan hasil cek seorang pasien ke dokter Park. Kau duluan saja.

Begitu membaca pesan dari Ki Bum, Kyu Hyun segera memasukkan kembali ponselnya ke saku celananya. Dengan langkah panjangnya, Kyu Hyun mengarahkan kakinya keluar dari rumah sakit ini.

Taman itu terlihat sepi. Mengingat hari sudah semakin petang. Kedua matanya hanya menangkap dua orang –pria dan wanita- yang tengah berbincang di salah satu kursi taman. Tunggu. Ada seseorang lagi. Seorang gadis yang duduk di kursi dekat pohon rindang. Kursi yang kemarin Kyu Hyun perhatikan. Perlahan, kakinya membawa dirinya untuk mendekat ke arah kursi yang diduduki gadis itu. Mungkinkah itu gadis yang kemarin? Matanya belum terlalu jelas menangkap siapa sosok gadis itu.

Jika benar itu adalah gadis yang kemarin, Kyu Hyun akan senang dan mungkin sedikit membalas budi?

Gadis itu mendongak begitu merasakan kehadiran seseorang yang tengah berdiri di sampingnya. Kyu Hyun hanya tersenyum singkat kepada gadis itu sebelum akhirnya ia duduk di samping gadis itu.

Untuk sepersekian detik, Kyu Hyun kembali menatap wajah gadis di sampingnya. Gadis itu hanya menunduk diam.

Meski matanya minus, untuk kali ini ia benar. Gadis di sampingnya kini merupakan gadis yang kemarin memberinya plester luka.

Betapa terkejutnya Kyu Hyun ketika gadis itu memiringkan kepalanya, membuat mata mereka saling menatap dengan tiba-tiba. Gadis itu menggerakkan jari-jarinya seakan merangkai kata. Namun Kyu Hyun tak mengerti.

“Apa ada yang ingin kau sampaikan?” tanya Kyu Hyun ramah. Gadis itu kembali menunduk. Kyu Hyun masih tetap memperhatikan wajah gadis itu. Betapa terkejutnya ia mendapati air mata yang baru saja menetes dari sudut mata gadis itu.

“Aah… M-mianhae.” Kyu Hyun mengusap tengkuknya, kikuk, bingung. Gadis itu segera menyeka cepat air matanya. Kyu Hyun segera mengeluarkan sapu tangan birunya dari dalam saku kemejanya. “Ini pakailah.” Kyu Hyun menyerahkan sapu tangan itu kepada gadis di sampingnya. Bola mata cokelat milik gadis itu hanya menatap heran kedua bola mata milik Kyu Hyun. Kyu Hyun terdiam.

Bola mata itu jernih namun sarat akan berbagai macam gejolak di dalamnya.

“Agasshi?” Kyu Hyun berusaha menghentikan eye contact nya dengan gadis di sampingnya. Semakin lama menatapnya, semakin banyak gejolak yang terlihat. “Pakai sapu tangan ini. Setidaknya bisa menghapus jejak air matamu.” Kyu Hyun masih mengulurkan sapu tangannya kepada gadis itu. Dan akhirnya, gadis itu menerimanya. Walaupun terlihat keraguan di matanya.

“Agasshi benar tidak apa-apa?” tanya Kyu Hyun khawatir. Dan butuh beberapa detik bagi gadis itu untuk menjawab pertanyaan Kyu Hyun. Itu pun hanya sebuah anggukan yang Kyu Hyun dapatkan darinya.

Kamsahamnida.

Gadis itu merapalkan sebuah kata dari bibirnya. Tanpa suara. Hanya gerakan bibir tipisnya saja. Seolah mengerti, Kyu Hyun mengangguk. Dan lagi, dengan gerakan cepat, gadis itu mulai bangkit dan berjalan meninggalkan area taman. Kyu Hyun hanya menatap bingung punggung gadis tadi yang perlahan sudah tak terlihat oleh kedua matanya.

Dan sekarang, taman benar-benar sepi. Hanya ada dirinya seorang. Kyu Hyun mengamati tempat yang tadi diduduki oleh gadis itu. Dan pengamatannya membuahkan hasil. Sebuah buku bersampul biru dengan gambar biola di covernya. Kyu Hyun mengambil buku tersebut. Dengan lancangnya, Kyu Hyun membuka lembar demi lembar buku tersebut. Buku tersebut berisikan tulisan-tulisan tangan. Tulisannya rapih. Pikir Kyu Hyun. Kyu Hyun hanya melihat sekilas saja. Tak membaca sepenuhnya. Tapi sebelum ia benar-benar menutup buku itu, bola matanya menangkap sebaris kalimat yang membuatnya menaikkan sebelah alisnya.

Apakah dunia ini masih indah ketika kamu tidak lagi berada di tengah-tengah keindahannya?

19 March 2013

“Kyu, Chamkanman!” Ki Bum tiba-tiba menghentikan langkahnya membuat Kyu Hyun mengernyit, “Waeyo?”

“Aku haus. Sebentar, aku ingin beli minum dulu di café itu.” Ki Bum menunjuk pada sebuah café yang berjarak beberapa langkah dari mereka berdua. “Baiklah. Aku tunggu di taman itu ya? Nanti kau ke sana saja.” Kyu Hyun mengarahkan kepalanya ke arah taman yang ia maksud. Letaknya di sebrang jalan yang tengah Kyu Hyun dan Ki Bum lalui. “Eoh? Baiklah.” Meskipun bingung, Ki Bum tetap mengangguk dan berjalan menuju café yang ia maksudkan. Sementara Kyu Hyun, kakinya sudah melangkah menyebrangi jalanan dan pada akhirnya masuk ke area taman itu.

Kyu Hyun mengedarkan pandangannya ke penjuru taman. Berharap gadis kemarin ada di sana. Dan harapannya terkabul. Detik itu juga, Kyu Hyun hanya memfokuskan kedua bola matanya kepada sesosok gadis berambut ikal se-punggung yang tengah bermain biola. Gadis itu berdiri di sisi kursi yang kemarin ia duduki.

Tapi tidak seperti kemarin lusa. Permainannya saat ini terbilang kacau. Beberapa kali gadis itu menghentikan secara tiba-tiba permainannya. Dan tak jarang, ekspresi sedih bercampur kecewa terpasang di wajahnya.

Kyu Hyun tersenyum melihat gadis itu. Dengan langkah pelan tapi pasti, Kyu Hyun berjalan mendekati gadis itu. Saat berada di dekat gadis itu, lantunan musik kembali tercipta dari gesekan dawai biola miliknya.

Kyu Hyun menutup kedua matanya perlahan. Menikmati irama musik yang dihasilkan. Dan dengan langkah ringan, Kyu Hyun melangkah mendekati gadis yang bermain biola itu. Belum sampai Kyu Hyun kepada gadis itu, alunan biola itu berhenti. Menyisakan hembusan angin yang bertiup pelan.

Kyu Hyun ikut menghentikan langkahnya. Memperhatikan punggung gadis itu dalam jarak kurang dari 5 meter. Saat itu juga, gadis itu membalikkan badannya. Keterkejutan tercetak jelas di wajahnya. Kyu Hyun hanya tersenyum canggung dan kemudian ia segera membungkukkan badannya.

“Maaf jika aku mengganggumu,” ucap Kyu Hyun disertai senyum tanpa dosa miliknya. Gadis itu balas tersenyum. Kyu Hyun segera melangkah lebih dekat dengan gadis itu.

“Apa ini buku milikmu?” Kyu Hyun menyodorkan buku yang kemarin ia temukan di taman ini. Tepat sesaat setelah si gadis berlalu meninggalkan area taman. Tatapan penuh tanya ia tujukan kepada Kyu Hyun. Sementara Kyu Hyun hanya tersenyum simpul. “Aku menemukan buku ini di bawah sini.” Kyu Hyun mengarahkan jarinya ke sisi kaki kursi. Gadis itu mengamati Kyu Hyun dengan simak. Wajahnya terlihat tengah memikirkan sesuatu. Barulah sesaat kemudian, gadis itu tersenyum cerah dan segera mengambil buku yang disodorkan oleh Kyu Hyun.

Kamsahamnida.

Gadis itu lagi-lagi hanya menggerakkan bibirnya tanpa adanya suara yang dikeluarkan. Kyu Hyun tetap tersenyum, meskipun ia tak mengerti akan kebiasaan gadis itu yang hanya menggerakkan bibirnya untuk merangkai kata ‘kamsahamnida’.

Suasana di antara mereka tetap hening. Gadis itu menerawang langit kota Cheong Ju yang perlahan menghitam. Sementara Kyu Hyun hanya terdiam mengamati wajah gadis di sampingnya.

Kedua mata yang kecil, hidung mancung, dan bibir tipis. Membentuk satu kata ‘indah’ dalam benak Kyu Hyun. Hingga akhirnya Kyu Hyun tersadar dan mulai membuka suaranya, “Chogiyo, apa agasshi tidak ingin melanjutkan permainan biolanya lagi?”

Gadis itu tetap diam dengan posisi kepalanya yang masih mendongak menatap langit. Kyu Hyun menghela nafas. “Agasshi?” panggil Kyu Hyun lagi. Namun tetap, gadis itu dengan kegiatannya menatap langit. Kyu Hyun menggaruk kepalanya pelan, diiringi dengan suara batuknya. Berharap gadis itu menoleh kepadanya.

Dan benar saja, gadis itu menoleh ke arah Kyu Hyun. Melihat Kyu Hyun yang terbatuk seperti itu, membuat gadis itu menatapnya khawatir. Sementara Kyu Hyun hanya menyunggingkan senyum. Dan senyum Kyu Hyun membuat gadis itu menghembuskan nafas lega.

“Agasshi, tidak melanjutkan permainan biolanya lagi?” tanya Kyu Hyun lagi. Lagi-lagi, ekspresi berpikir yang dikeluarkan oleh gadis itu. Dan ekspresi itu perlahan tergantikan oleh ekspresi sedih.

“Agasshi?” panggil Kyu Hyun yang dengan refleksnya menyentuh bahu kanan si gadis. Gadis itu menatap Kyu Hyun. Keduanya kembali terlibat eye contact. Jantung laki-laki itu kian berdebar.

“A-agasshi, tidak ingin melanjutkan permainan biolanya.. lagi?” Mengapa aku menjadi.. gugup? Batin Kyu Hyun.

Gadis itu tak memperdulikan suara Kyu Hyun yang terdengar gugup. Ia justru menulis sederet kalimat di selembar kertas kosong dari notes yang baru saja ia keluarkan dari dalam saku kardigannya. Tanpa Kyu Hyun duga, gadis itu memperlihatkan kalimat yang dituliskan gadis itu kepada Kyu Hyun. Dengan ragu, Kyu Hyun membacanya.

Maukah ahjussi membantuku untuk mendengarnya?

Sebuah senyuman tercetak begitu jelas di bibir Kyu Hyun setelah gadis di sampingnya menghentikan permainan biolanya. Gadis itu menatap Kyu Hyun penuh tanya sembari menghilangkan kegugupannya, gadis itu menggigit bibir bawahnya.

“Bagaimana menurutmu?” tanya Kyu Hyun. Kerutan di kening gadis itu tampak bermunculan. Harusnya, ia yang bertanya seperti itu. “Bagaimana? Apa agasshi menyukainya?”

Perlahan, kerutan itu memudar. Digantikan oleh gelengan kecil dari gadis itu. “Aku juga merasa agasshi melakukan kesalahan di pertengahan. Meskipun aku tidak terlalu mengerti musik.,” ucap Kyu Hyun. Gadis itu menatap serius kedua bola mata Kyu Hyun.

Gadis itu melebarkan matanya. Seolah mengerti arti tatapan gadis itu, Kyu Hyun mengangguk. “Apa agasshi tidak merasakannya? Ah.. kalau begitu, mungkin aku yang terlalu bodoh dalam hal ini.” Kyu Hyun meralat kembali penilaiannya. Gadis itu menggeleng cepat. Dengan cepat pula, gadis itu kembali menuliskan sebaris kalimat di selembar kertas notesnya. Gadis itu mengarahkan notesnya kepada Kyu Hyun.

Aku juga merasakannya. Terima kasih karena ahjusshi sudah mau mendengarkan dan menilai permainanku.

Kyu Hyun tersenyum. “Hanya perlu latihan dan menambah kepercayaan diri, aku pikir agasshi bisa menjadi pemain hebat.” Kyu Hyun berujar dengan tulus. Membuat gadis itu menggeleng sedih.

“Kyu Hyun!”

Kyu Hyun menoleh. Ternyata Ki Bum. Sejak kapan dia berada di sini? Tanya Kyu Hyun dalam hati. Kyu Hyun memberikan isyarat kepada Ki Bum untuk menunggu sebentar lagi. Ki Bum hanya mengendikkan kedua bahunya.

Kyu Hyun kembali menatap gadis di sampingnya. Gadis itu hanya menampilkan senyumnya. Berusaha menyembunyikan ekspresi sedihnya tadi.

“Apa Agasshi tidak ingin pulang? Langit semakin gelap,” kata Kyu Hyun. Gadis itu hanya tersenyum sembari menggeleng. “Benarkah?” tanya Kyu Hyun tak percaya. Gadis itu mengangguk yakin. Kyu Hyun mengusap tengkuknya. “Baiklah. Aku pergi dulu. Annyeong…” Kyu Hyun membungkukkan badannya sedikit. Gadis itu membalasnya. Kyu Hyun tersenyum. Dengan langkah ragu, kedua kakinya berbalik menuju Ki Bum yang sudah menunggunya.

Kyu Hyun sudah meninggalkan taman bersama Ki Bum. Menyisakan gadis itu yang hanya terdiam memandang tempat kosong di sampingnya.

Nafasnya tercekat. Ia berusaha menggerakkan bibirnya.

Kamsahamnida…

20 March 2013, 19:50 KST

Gadis itu masih tetap diam dengan posisi duduknya yang tengah memeluk sebuah biola yang biasa ia bawa. Sementara kedua bola matanya terpaku pada sebuah sapu tangan berwarna biru tua yang sedari tadi ia letakkan di atas pangkuannya.

Masih sama di kursi kemarin yang ia duduki. Dengan langit yang sudah menghitam berhiaskan bintang-bintang yang tak terhitung jumlahnya. Hanya saat ini, pria itu tak ada di sampingnya. Walau hanya sekedar hitungan menit. Pria itu tak juga datang.

Terhitung sudah sekitar 1 jam gadis itu menunggu. Menunggu sebuah kebetulan yang akan menjawab kebodohan yang ia buat selama 1 jam ini.

Gadis itu melirik biola yang ada dalam dekapannya. Sambil sesekali berharap. Gadis itu menghela nafas. Kedua bola matanya kembali bergerak mengamati setiap sudut taman. Berharap dapat melihat pria itu. Kepalanya pun saat ini sudah tertoleh ke belakang. Berharap pria itu datang.

Hingga ia menyadari kebodohannya. Kebodohannya yang tetap menunggu di tengah kesepian taman. Gadis itu tersenyum kecut. Mengapa seorang pria yang bahkan tak ia ketahui namanya itu mampu membuat dirinya melakukan hal bodoh seperti ini?

Agasshi bisa menjadi pemain yang hebat.

Segelintir kalimat yang ia ingat. Kalimat yang terucap dari bibir pria yang tak ia ketahui namanya. Namun mampu menciptakan reaksi tak terduga dari tubuhnya. Seperti saat ini. Kedua sudut bibirnya tertarik begitu saja. Melengkung sempurna membentuk senyuman.

Getaran hebat dari dalam saku celananya membuat senyum di bibirnya memudar. Segera ia rogoh saku celananya. Mendapati ponselnya kini menampilkan sebuah pesan dari seseorang yang sangat ia kenal.

From : Eun Jung

Malam ini, di depan coffee shop milik kakak Henry, kita diperbolehkan bermain. Kau tahu tempatnya kan? Aku baru akan ke sana. Sampai bertemu nanti…

Gadis itu kembali menarik kedua sudut bibirnya. Gadis itu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya. Kemudian sapu tangan itu segera ia masukkan ke dalam tas selempang yang ia bawa. Setelah itu, ia memasukkan biola yang sedari tadi tak ia mainkan ke dalam casenya yang ia letakkan di bawah kursi. Gadis itu perlahan bangkit dari duduknya. Dengan ragu, gadis itu mulai melangkah menjauhi kursi yang ia duduki.

Sebelum ia benar-benar beranjak dari taman, gadis itu kembali memutar kepalanya ke belakang.

Tetap tak ada yang datang.

Gadis itu membenarkan terlebih dahulu letak tas selempangnya, sebelum kakinya kembali melanjutkan perjalanan hingga akhirnya ia keluar dari area taman.

20:00 KST

Kyu Hyun langsung berjalan cepat begitu ia memasuki area taman. Ia mendesah kecewa melihat suasana taman yang benar-benar sepi tak ada orang. Bahkan kursi yang kemarin ia duduki pun terlihat kosong. Tak ada gadis itu di sana. Walaupun tidak ada gadis itu di sana, kaki Kyu Hyun tetap membawanya menuju kursi itu.

Kyu Hyun baru saja membantu dokter Lee melakukan operasi pergantian kornea mata salah seorang pasien di Rumah sakit Cheong Ju.

Kyu Hyun memutuskan untuk duduk di kursi itu. Dengan pandangan menerawang jauh ke arah langit malam kota Cheong Ju. Salah satu kebiasaan gadis itu. Kyu Hyun tersenyum tanpa sadar mengingat gadis itu. Dan… hatinya seolah menjerit memanggil gadis itu untuk datang kemari dan memainkan sebuah lagu dengan biolanya.

Seperti kemarin.

Suara alunan biolanya masih terngiang jelas dalam ingatan Kyu Hyun. Kebiasaan gadis itu yang senang menuliskan kalimat dari pada mengatakannya secara langsung. Gadis dengan tatapan mata yang menyiratkan berbagai macam emosi.

Kyu Hyun menghembuskan nafas. “Ada apa denganku sebenarnya?” tanya Kyu Hyun kepada dirinya sendiri. Kyu Hyun melihat jam tangan yang tersemat di pergelangan tangan kirinya. Jam 8 lewat 10 menit. Kyu Hyun harus kembali ke rumah sewanya.

Sebelum bangkit dari duduknya, Kyu Hyun menoleh ke samping kirinya. Tempat yang biasanya diduduki oleh gadis itu.

Bukan gadis itu yang Kyu Hyun dapati, melainkan sebuah buku berjilid spiral dengan cover berwarna putih. Tanpa berpikir lagi, Kyu Hyun mengambil buku itu. Di covernya, terdapat sebuah gambar love berwara pink disertai stiker-stiker lucu di dalam love tersebut. Kyu Hyun mengamati cover depan dan belakang buku itu.

“Apa ini punya gadis itu?” Kyu Hyun bertanya pelan. Berbagai pertanyaan muncul begitu saja dari otak Kyu Hyun.

Jika buku ini milik gadis itu.. apa tadi ia sempat ke taman ini? Sudah berapa lama gadis itu berada di sini? Apa aku terlalu terlambat?

Kyu Hyun mendesah kecewa. Ia segera berdiri dan mulai melangkah keluar dari taman bersama buku yang baru saja ia temukan.

Hanya butuh 15 menit menggunakan bus, Kyu Hyun sudah berada di halte dekat rumah sewanya. Kyu Hyun berjalan pelan sambil menikmati angin malam yang berhembus sambil sesekali meneliti kembali buku di tangan kanannya.

Langkahnya terhenti seketika saat telinganya menangkap alunan biola. Bahkan kali ini, bukan hanya alunan biola saja, melainkan juga suara petikan gitar dan suara nyanyian lembut seseorang –yang ia yakini, sebagai suara wanita-. Dengan kacamata yang masih terpasang, Kyu Hyun mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempatnya berada sekarang. Ia menoleh ke sebrang jalan, dan ternyata benar. Di depan sebuah coffee shop, suara musik itu berasal. Ada seorang laki-laki yang memainkan gitar, seorang gadis yang memainkan biola, dan seorang gadis lagi yang bernyayi.

Kyu Hyun menyipitkan kedua matanya ke arah ketiga orang di sebrang jalan sana. Lebih tepatnya, fokusnya saat ini ialah seorang gadis berambut gelombang sepunggung yang memainkan biola.

Aku tidak salah lihat bukan? Kyu Hyun bertanya dalam hati.

Niat awal yang ingin segera kembali ke rumah sewanya, kini langkahnya berbelok ke kiri, menyebrang jalan raya yang tidak terlalu besar. Seharusnya Kyu Hyun tetap berjalan lurus untuk bisa sampai ke rumah sewanya. Namun, kakinya berkhianat dan memilih untuk menghampiri ketiga orang yang masih memainkan musik di sebrang sana.

Setelah sampai di sebrang jalan, Kyu Hyun menghentikan langkahnya dan sekali lagi ia mencoba memaksimalkan penglihatannya. Gadis yang bermain biola di sana bermain biola sambil memejamkan matanya, dan sesekali terbuka untuk membungkuk sopan kepada para pejalan kaki yang sudah menaruh uang di dalam case gitar milik laki-laki di sampingnya.

Sedang apa dia di sini? Apa dia pengamen jalanan?

Pertanyaan-pertanyaan itu muncul begitu saja di dalam pikiran Kyu Hyun. Kyu Hyun masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia terus mengamati ketiga orang yang bermain musik di sana bergantian. Tak ada beban yang terlihat, tak ada paksaan yang terpancar, mereka bermain dengan senyum tulus yang selalu terpatri di wajah masing-masing. Lebih tepatnya, mereka bertiga tidak seperti orang yang kekurangan. Style mereka seperti mahasiswa biasa –seperti kyuhyun- yang tidak mengalami kesulitan ekonomi.

Senyuman terus terpatri di bibir ketiga orang itu. Bahkan kini ada beberapa pejalan kaki yang menghentikan langkahnya untuk bernyanyi bersama di antara ketiga orang itu. Mereka yang bermain musik itu, menerima respon mereka dengan senang. Sepertinya para pejalan kaki itu terpana dengan musik yang mereka bawakan. Begitu pun dengan Kyu Hyun, dia masih terus menatap kagum ketiga orang yang berjarak 4 meter di depannya.

Perlahan, Kyu Hyun memutuskan untuk berjalan mendekati ketiga orang tersebut. Begitu sampai di depan mereka, Kyu Hyun mulai merogoh saku jaketnya berharap menemukan beberapa lembar uang dari sana. Senyumnya mengembang begitu mendapati dua lembar 1000 won dari saku jaketnya. Tanpa ragu, Kyu Hyun memasukkan dua lembar uang 1000 won itu ke dalam case gitar yang ada di dekat kakinya.

Saat Kyu Hyun sudah dalam posisi tegap kembali, Kyu Hyun disambut oleh senyuman manis dari gadis berambut pendek sebahu yang sedang menyanyi, kemudian disusul dengan senyum ramah dari si laki-laki yang memetik gitar. Kyu Hyun balas tersenyum. Kemudian, ia mengalihkan pandangannya ke arah gadis yang bermain biola di samping laki-laki yang bermain gitar itu. Gadis itu tengah tersenyum kepada pejalan kaki yang baru saja lewat, walaupun si pejalan kaki itu tidak memberikan sebagian uangnya.

Mata gadis itu kembali beralih ke depan, dan cukup kaget saat melihat Kyu Hyun tengah berdiri di depan laki-laki yang bermain gitar. Kyu Hyun tersenyum canggung. Gadis itu mengingat kembali kegiatannya beberapa jam lalu di taman, menunggu hampir 1 jam hanya untuk melihat laki-laki yang belum ia kenal baik?

Mungkinkah Tuhan mengabulkan doanya untuk dapat bertemu laki-laki itu? Gadis itu tersenyum geli mengingatnya.

Kyu Hyun menaikkan sebelah alisnya. Apa ada yang lucu?

Hanya beberapa detik saja, gadis itu sudah kembali menyunggingkan senyum manisnya. Sambil menggumamkan sesuatu –yang tidak Kyu Hyun dengar- dengan membungkukkan tubuhnya, Kyu Hyun tahu ia sedang berterima kasih. Kyu Hyun membalasnya dengan senyum tipis yang tulus dan akhirnya ia berbalik arah kembali.

Gadis itu terus memainkan biolanya dan tanpa ia sadari matanya masih mengamati punggung Kyu Hyun yang semakin menghilang di tengah-tengah pejalan kaki lainnya. Dan seketika bibirnya tertarik menciptakan senyum bahagia.

Tapi beberapa detik kemudian, senyuman itu berganti dengan ekspresi panik. Teringat akan satu hal.

Sapu tangan laki-laki itu.

Laki-laki itu sudah menghilang dari jarak pandangnya. Gadis itu mendesah kecewa.

Ya.. kurasa sapu tangan ini harus kusimpan lagi hingga esok. Batin gadis itu sembari tersenyum penuh harap.

Rumah Sewa, 22 March 2013

Kyu Hyun terdiam mengamati halaman buku yang baru ia buka secara acak. Buku bercover putih yang dua hari lalu ia temukan di taman. Penasaran, Kyu Hyun akhirnya membaca kalimat demi kalimat yang tertulis di sana.

4 February 2012

Terlahir sebagai tunawicara tak terlalu menyenangkan. Tak dapat menyuarakan keinginanmu, tak dapat berteriak saat kau kesal.

Tak bebas berekspresi. Meskipun hanya untuk tertawa.

Satu alat komunikasi yang selama ini ku gunakan.

Musik.

Bahasa universal yang dapat dimengerti semua orang. Semua orang dengan segala kesempurnaannya, atau bahkan untuk orang yang tak sempurna.

Setiap orang dapat menikmati musik dengan caranya sendiri.

Kyu Hyun tercengang. Tunawicara? Gadis itu…

Kyu Hyun kembali membuka asal halaman buku itu.

18 February 2012

Jika seperti ini, lebih baik aku ikut tertidur selamanya bersama kedua orangtuaku. Mengapa Tuhan membiarkan aku bangun sementara kedua orangtuaku tertidur untuk selamanya? Mengapa Tuhan membiarkanku terbangun setelah 5 hari kecelakaan itu?!

Seharusnya aku menolak jika aku harus kembali terbangun tanpa bisa lagi mendengar terlebih tanpa kalian…

Eomma, Appa, Mianhae…

Kyu Hyun membaca lembaran berikutnya.

27 February 2012

Hari pertama aku kembali masuk kuliah setelah kecelakaan mobil itu… haruskah aku kembali?

Aku yakin, mereka akan semakin mencemoohku. Mereka akan semakin menghinaku. Tanpa ada satu kata pun yang dapat kudengar, tanpa ada satu kata pun yang dapat kuucapkan, duniaku semakin sepi.

Kyu Hyun membuka secara acak lembaran buku itu. Sebuah kertas tiba-tiba mencuat keluar di antara selipan lembaran buku itu.

Seperti inikah rasanya tak dapat berbicara dan mendengar?

Bagaimana jika kalian mengalami hal sepertiku? Apa yang akan kalian rasakan?

Aku senang karena aku tak perlu mendengar cemoohan mereka. Aku senang karena aku tak perlu membalas makian mereka. Aku senang karena hidupku sejauh ini begitu tenang.

Tapi… kesedihan itu tetap ada. Lebih tepatnya kesepian, kehampaan. Semuanya terasa sunyi. Sepi. Tak ada lagi suara kedua sahabatku. Tak ada lagi suara biola.

Meskipun alat pendengar itu dapat membantuku. Tapi aku tak mau dan aku terlalu… takut. Aku tak mau mendengar hinaan lagi. Aku tak mau kembali mendengar suara benturan keras yang mengharuskan kedua orangtuaku pergi. Aku tak mau mendengar suara tangisku yang memilukan.

Dan aku takut…

Aku takut suara yang selama ini menghilang, terdengar begitu menakutkan di kedua telingaku. Aku belum siap.

Aku tak mau bermain biola kembali. Tapi mengapa Henry dan Eun Jung tetap membantuku?

Mustahil jika aku menjadi pemain biola. Karena aku bahkan tak dapat mendengar permainanku sendiri.

Tapi hanya inilah yang ku punya saat ini. Biola. Musik. Sahabat.

Sahabat yang membantuku memahami arti musik secara luas.

Musik itu universal. Bisa dilakukan dan dinikmati oleh semua orang, bahkan oleh orang bisu dan tuli sepertiku.

Seharusnya aku tetap bersyukur dengan keadaanku. Setidaknya, Tuhan tidak mengambil kedua sahabatku dan indera penglihatanku.

Mata yang hanya digunakan untuk melihat oleh orang-orang, ku gunakan sebagai penglihatan dan pendengaran.

Musik yang bagi orang-orang hanya sebagai sarana hiburan, ku manfaatkan sebagai media berekspresi.

Aku berharap orang-orang dapat mendengarkan suara hatiku ini, dan aku berharap suara musik yang kami –Aku, Eun Jung, dan Henry- ciptakan, dapat didengar dan diresapi oleh semua orang.

Music is Universal. Isn’t it?

~Han Na Rin~

Kyu Hyun terdiam. Matanya menerawang jauh dinding kamarnya yang bercat putih. Berbagai macam spekulasi muncul dalam benaknya.

Han Na Rin. Jadi, nama gadis itu Han Na Rin? Gadis pemain biola yang selalu menuliskan kalimat yang ingin diucapkan. Gadis yang bermain musik di jalan bersama kedua temannya. Gadis yang membuat pertanyaan-pertanyaan dalam otak Kyu Hyun. Gadis yang entah sejak kapan, mulai menempati ruang tersendiri dalam hati dan pikirannya.

Kyu Hyun menggeleng cepat mengingat tulisan-tulisan yang baru saja ia baca.

Tunawicara, tunarungu?

Gadis itu tidak terlihat seperti itu. Gadis itu memang selalu menuliskan kalimat yang ingin diucapkan. Tapi bukan berarti gadis itu bisu. Gadis itu bisa saja hanya mengalami masalah sementara dengan tenggorokannya. Gadis itu memang tak mendengar panggilan Kyu Hyun saat itu. Tapi bukan berarti gadis itu tuli.

Kyu Hyun mencoba menepis semuanya. Ia mengacak rambutnya frustasi.

“Kau… bisakah kita bertemu lagi?”

Kyu Hyun menatap nanar kalender yang tergantung di dekatnya. Tak ada waktu lagi. Jam sudah menunjukkan jam 09:30 malam. Mustahil gadis itu masih berkeliaran di luar. Besok pun ia harus segera kembali ke Seoul. Sementara hari-hari berikutnya, Kyu Hyun pasti akan kembali fokus pada kesibukannya mengurus skripsi dan lainnya menjelang sidang penentuan kelulusan.

Dan mungkin setelah itu Kyu Hyun akan tenggelam dengan aktivitasnya di Seoul, kota kelahiran dan tempat tinggalnya selama 25 tahun ini. Seoul-Cheong Ju, sulit rasanya jika berharap bisa bertemu gadis itu kelak.

Kyu Hyun menutup buku itu dengan gerakan cepat. Ia mengusap wajahnya kasar. “Argh…” Kyu Hyun memukul pelan meja yang menjadi tempat diletakkannya buku putih milik gadis itu.

“Bisakah aku kembali mendengar suaramu suatu saat? Ani! Lebih tepatnya suara musikmu. Suara biolamu.” Gumam Kyu Hyun lirih.

23 March 2013, 06:10 KST

Kyu Hyun berlari secepat yang ia bisa. Waktunya hanya 50 menit sebelum ia kembali ke Seoul. Dalam hati, ia terus berharap agar gadis itu ada di sana sekarang. Meskipun jam masih menunjukkan jam 6 pagi. Tapi inilah pilihannya. Pilihan yang membuat ia akhirnya memutuskan untuk berlari seperti ini sehabis ia turun di halte yang berjarak kurang lebih 2 km dari taman yang sering ia kunjungi.

Ia ingin menemui gadis itu. Itulah pilihannya. Dan ia harap gadis itu ada di sana.

Kyu Hyun berusaha mengontrol irama pernapasannya. Sedikit lagi. Kyu Hyun menaikkan salah satu sudut bibirnya.

Tak ada salahnya olahraga di pagi hari di hari sabtu ini. Meskipun dengan pakaian yang tak bisa disebut cocok untuk berolahraga seperti ini.

Kyu Hyun menyeka bulir-bulir keringat yang mengalir dari pelipisnya. Dia tersenyum senang.

Akhirnya…

Kakinya dengan segera menuju ke kursi yang selalu ia duduki bersama gadis itu. Kursi yang berada di samping pohon rindang yang teduh. Kursi tempat di mana pertama kalinya gadis itu terlihat oleh Kyu Hyun tengah memainkan biolanya.

Kyu Hyun tersenyum walaupun tak ia dapati seorang pun di taman. Terlebih di kursi itu.

Kyu Hyun memutuskan untuk duduk di kursi kayu berwarna cokelat itu. Ya. Kyu Hyun akan menunggu gadis itu selama kurang lebih 30 menit ke depan.

Sembari menunggu, Kyu Hyun terlihat menulis di selembar kertas putih yang baru saja ia keluarkan dari selipan lembaran buku milik gadis pemain biola itu. Dengan hati bahagia, perlahan namun pasti, kata demi kata terangkai menjadi kalimat.

Sambil sesekali, ia mengangkat kepalanya. Mengedarkan pandangannya. Berharap mendapati gadis itu sudah berada di sana. Bodoh memang dirinya yang menunggu seseorang yang tak ia kenal. Bahkan orang yang ditunggu pun tak tahu jika sebenarnya ia sedang ditunggu oleh seseorang.

Kyu Hyun menertawai dirinya sendri. Tak apalah. Meskipun otaknya terus merutuki kebodohannya, tapi hatinya tak bisa berhenti memintanya untuk melakukan hal ini.

15 menit sudah akhirnya Kyu Hyun menuliskan kalimat demi kalimat yang ingin diutarakan kepada sang gadis. Sepucuk surat untuk sang gadis. Meskipun gadis yang ditunggunya tak kunjung datang.

Perputaran waktu seakan mencekik Kyu Hyun perlahan. Membuat Kyu Hyun sadar jika gadis itu tak akan datang. Kyu Hyun melihat jam tangannya.

06:43

Hembusan nafas berat lolos begitu saja. Perlahan ia bangkit dari duduknya. Ia selipkan sepucuk surat yang ia tuliskan tadi ke bagian depan buku gadis itu. Tangannya terulur untuk meletakkan buku itu di bawah kursi. Lebih tepatnya, di dekat kaki kursi sebelah kiri.

“Kembalilah ke pemilikmu.” Kyu Hyun berkata dengan senyum tulusnya. Kemudian ia segera menegakkan tubuhnya. Sebelum kembali, Kyu Hyun ingin merekam setiap detail taman ini. Taman yang memberikan kedamaian tersendiri bagi dirinya.

Kyu Hyun akhirnya membalikkan tubuhnya.

Satu langkah. Kyu Hyun menghembuskan nafas pelan.

Dua langkah. Kyu Hyun memutar kepalanya kembali melihat kursi yang ia duduki tadi.

Tiga langkah. Kyu Hyun mendongak menatap langit disertai senyuman.

Empat langkah. Kyu Hyun bergumam, ‘Semoga kita bisa bertemu kembali dan aku bisa mendengar suara musikmu lagi.’

Lima langkah.

“Terima kasih karena kau telah menorehkan kenangan akan hariku di Cheong Ju.” Kyu Hyun tersenyum dan kembali melangkah dengan pasti.

Ia tidak menyesal meskipun di hari terakhirnya di Cheong Ju, ia tak dapat melihat gadis itu. Ia bahagia karena ia mendapat sebuah kenangan yang bermakna dari sini.

—Epilog—

Gadis itu datang meskipun pada jam yang tak Kyu Hyun harapkan. Gadis itu melangkah diiringi tatapan lembut ke arah langit. Membiarkan kedua kakinya melangkah secara otomatis ke arah kursi yang biasa ia duduki.

Hari sabtu. Hari di mana ia dapat merasakan kedamaian pagi hari sebelum nanti siang ia harus pergi untuk menuntut ilmu di Universitas Cheong Ju.

Gadis itu terdiam mengamati kursi yang tinggal berjarak satu langkah lagi dengan dirinya. Kedua bola mata gadis itu bertumbukan dengan sebuah buku yang terdapat di dekat kaki kursi sebelah kiri. Gadis itu langsung mengambil buku tersebut. Bola matanya membesar ketika melihat sampul buku yang sekarang ada di tangannya.

Ia kenal dan hafal betul buku itu. Karena memang buku itu miliknya. Dia menertawai kebiasaanya. Lupa dan ceroboh. Sering meninggalkan benda tanpa sadar. Dan sesampainya di rumah, ia tak sadar jika ia kehilangan sebuah benda.

Gadis itu tersenyum sambil mengelus lembut cover buku di tangannya. Jemari tangannya tergerak membuka buku tersebut. Senyumnya memudar terganti dengan ekspresi penuh tanya. Selembar kertas?

Ia membuka lipatan kertas tersebut. Rangkaian tulisan. Tapi bukan tulisan tangannya. Tulisan orang lain.

Annyeong, Han Na Rin-ssi

Bolehkah aku menyampaikan beberapa baris kalimat yang ingin ku utarakan padamu?

Apa kau akan berhenti bermain biola hanya karena kalimat-kalimat remeh yang ditujukan padamu? Apa kau akan berhenti bermain biola karena keadaan dirimu yang tidak berpihak padamu saat ini?

Aku yakin kau tidak akan membiarkan hal itu. Aku yakin kau tidak akan membiarkan mereka menghinamu lagi. Aku yakin kau tidak akan membiarkan itu semua menghentikan impian dan keyakinanmu.

Meskipun masih terlihat keraguan dan ketakutan dalam dirimu, tapi kau harus mencoba melawan semua ketakutanmu itu.

Apa salahnya pemain biola yang tak bisa mendengar dan berbicara menjadi pemain yang dikagumi banyak orang?

Permainan biolamu sungguh indah. Aku tidak bohong. Pertama kali mendengarnya, kedamaian dan ketenangan menyelimuti diriku saat itu.

Mungkin kau tidak bisa menjadi pemain biola yang hebat. Tapi kau bisa menjadi kedamaian bagi orang lain. Suara hatimu, musikmu… lanjutkanlah!

Ekspresikan apa yang ingin kau sampaikan pada mereka. Bantu mereka untuk menyadari jika di sekitar mereka ada orang lain yang tak seharusnya mereka acuhkan atau bahkan mereka hina.

Di mata Tuhan semua sama. Tak ada yang berbeda.

Jika Tuhan menghendaki, aku ingin tetap mendengar suaramu. Suara musikmu, suara biolamu. Hingga seterusnya dan selamanya, aku ingin tetap bisa merasakan kedamaian akan makna yang kau sampaikan lewat permainan biolamu.

Gadis itu membalikkan kertas di hadapannya. Dan ternyata masih ada beberapa baris kalimat di sana.

Aku baru mengetahuimu lewat buku ini. Maaf jika aku sudah lancang membuka bukumu, Han Na Rin. Hehe.

Memang tidak pantas rasanya mengatakan semua hal ini lewat sepucuk surat. Terlebih jika kita masihlah dikatakan sebagai orang asing. Tapi pagi ini kau belum datang ternyata.

Dan sebelum aku kembali ke Seoul dengan rasa menyesal, aku ingin mengatakan, ‘Senang bertemu denganmu selama beberapa hari ini. Terimakasih kau sudah mengizinkanku untuk mendengarkan permainan biolamu. Dan aku harap kita bisa berjumpa lagi di lain waktu, dan saat kita bertemu, semoga kau masih bersedia mengizinkanku untuk mendengarkan permainan biolamu hehe… Oh iya, bolehkah jika aku menganggapmu sebagai teman baru?’

Dan satu lagi.

Maukah kamu menyimpan sapu tanganku yang waktu itu?

 

Salam kenal,

Cho Kyu Hyun.

Gadis itu tak berkutik. Fokusnya terkunci pada selembar kertas yang ada di genggamannya. Hanya selembar kertas. Namun mampu membuat sistem sarafnya seakan mati. Menjadikan dirinya terdiam membeku tak berkutik. Pun dengan jantungnya yang terus menerus bekerja lebih cepat dari biasanya.

Laki-laki itu… tadi menunggunya?

Memorinya tertuju pada seorang laki-laki yang beberapa hari ini sering bertemu dengannya di taman ini.

Gadis itu tidak menangkap kecurigaan selama beberapa hari ini bertemu dengan laki-laki itu. Bahkan gadis itu juga tidak menangkap rasa kasihan dan menyesal atau bahkan rasa bersalah dari laki-laki itu. Gadis itu hanya merasakan keramahan dan ketulusan dari seorang Cho Kyu Hyun selama ini.

Rasa persahabatan yang mendorong dirinya untuk tetap bertahan.

Jadi, kau yang selama ini membuat jantungku bekerja lebih cepat dari biasanya. Kau yang saat itu mendengarku bermain biola pada pagi hari di hari minggu lalu. Dan kau… yang mengatakan bahwa aku bisa menjadi pemain biola hebat.

Kau… Cho Kyu Hyun yang membuatku menunggumu saat itu.. dan bahkan kali ini kau semakin membuatku ingin tetap menunggumu.

Na Rin bergumam dengan perasaan bahagia yang menyelimutinya. Meskipun harus kembali menunggu entah untuk berapa lama, tapi ia berharap –sama seperti Cho Kyu Hyun- suatu saat bisa kembali bertemu dengannya. Tak hanya bertemu, ia juga berharap dapat mendengar suaranya dan akhirnya dapat mengatakan…

‘Annyeong, Cho Kyu Hyun… senang bertemu denganmu juga.’

—END—

Terimakasih untuk semuanya yang sudah menyempatkan waktu buat membaca tulisan ini. Maaf kalau membosankan atau bahkan membuat bingung.😄

 

5 Comments (+add yours?)

  1. cici
    Nov 17, 2015 @ 14:06:32

    aahh syang sekali kyu gk bertemi

    Reply

  2. Afni Kuswara Putri
    Nov 17, 2015 @ 14:20:10

    Annyeong thor aku readers baru. aku sukaaaa banget sama ff nya aku ga nyangka ternyata gadis itu bisu dan juga tuli tapi aku salut sama dia tetep banhkit bahkan banyak cobaan yg menimpanya dan sampai bertemu dengan kyuhyun aku bahkan iri dengan Han narin bisa bertemu dengan pria yg tulus selalu ngasih semangat buat dia. aku kira kyu bakalan stay disana mengingat kayanya dia suka deh dama narin tapi ternyat ga udah gitu narin terlambat ke tamanya aku kira bakal happy ending bisa ketemu lagi tapi ternyata juga ga. aku rada masing gantung thor pada akhirnya gimana cerita tentang mereka butuh sequel bisa kali taa thor😉

    Reply

  3. iChoca
    Nov 19, 2015 @ 00:03:15

    Salut deh sama Na Rin yang dengan segala kekurangannya bisa tetep main biola. Kalo bisa bikinin sekuelnya ya thor, gregetan nih sama Kyu-Na Rin yang endingnya cuma gantung gitu wkwkwk

    Reply

  4. Laili
    Nov 21, 2015 @ 03:19:42

    Keren ff nya.. alan lebih baik klo isi surat dan suara batin dicetak miring supaya gk bingung. Tadi pas baca sempet bingung bedainnya. Tapi gpp… semoga bisa lebih baik lagi ke depannya.
    Keep writing… 😀

    Reply

  5. tary sa
    Dec 07, 2015 @ 18:35:24

    Keren banget…. Beneran gak boong.
    Ini ga ada sequal lanjutannya ya? keren bgt kalo mau dlanjutin

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: