[Siwon’s Day] The Love One

siw

 

Author                    : Natya Priliananda a.k.a @dark_smoothie

Title                          : The Love One

Cast                          : Park Mari (OC), Choi Siwon, Lee Sungmin, Zhou Mi, Lee Donghae, Park Jungsoo, Shin Donghee

Theme                    : Police-FBI-Secret Agent, The Reunion

Genre                      : Thriller

Rating                     : PG-13

Summary              : This is my way to express my love…

 ***

Lelaki yang sedang duduk di depan iMac itu menyeruput kopinya perlahan, memaksa dirinya untuk tetap terjaga. Menunggu data yang rencananya akan dikirimkan ke e-mail nya tepat pukul sebelas malam ini. Terkadang menguap, ia memukul-mukul pipinya, mencoba membuat dirinya tetap segar dan fokus.

Tampan, lajang, kaya. Gadis mana yang tidak akan mengincar seorang Choi Siwon, pemuda yang kini berhasil membangun perusahaannya sendiri? Dari luar ia terlihat seakan playboy kelas kakap, kencan dengan jutaan gadis, kian hari kian berganti. Kenyataannya? Tak ada yang cocok baginya. Berbondong-bondong gadis berlomba menjadi yang terbaik agar bisa berada tepat disampingnya, mengincar hartanya, statusnya, tapi Siwon tidak peduli akan itu. Nyaris tidak peduli pada mereka malah.

Yang ia inginkan sudah tidak disampingnya lagi, sudah hidup bahagia, menikah dengan entah siapa, tinggal entah di mana, karena karma.

Kembali ke malam ini. Siwon berkali-kali menguap, terkadang tanpa sengaja terpejam, kemudian ia menyentak dirinya sendiri, memaksa matanya melek total. Memandang ke arah layar iMac-nya lagi.

“Sinting,” gumamnya menunggu. Menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi, menghela napas. Kembali duduk tegak, tak sengaja matanya menangkap jarum jam di dinding. Pukul 11.03! Ke mana data yang katanya dijanjikan? batinnya.

Tring!

“Sudah datang rupanya,” sambut Siwon. Ia membuka e-mail dari rekan kerjanya itu, membaca sebuah kalimat yang tertera di sana.

‘Maaf terlambat.’

Hanya itu?

Tanpa kalimat lain, tanpa kata lain. Tanpa attachment apapun. Tanpa data yang sudah ia tunggu.

Sebelum Siwon menggeram frustasi, telinganya menangkap sebuah suara, suara jauh di sana.

Tap, tap, tap.

Suara langkah kaki yang semakin mendekat. Langkah seorang lelaki yang melenggang masuk ke ruangannya. Main duduk ke kursi di hadapannya. Sebelum Siwon bertanya siapa dia dan bagaimana ia bisa masuk ke rumahnya yang pintu depannya sudah dikunci, lelaki berponi panjang itu melempar amplop cokelat besar ke hadapannya. Membungkam Siwon sejenak.

Siwon membuka amplop itu, mengeluarkan kertas-kertas bertuliskan data yang ia tunggu, membacanya dengan seksama, sesekali memandang pemuda di depannya. Pemuda itu memandang tajam dirinya.

“Bukankah data ini dijanjikan akan dikirim kepadaku lewat e-mail? Kenapa jadinya di antarkan langsung print out-nya?” tanya Siwon sambil membaca.

Si pemuda yang ditanya tidak menjawab, masih memandang Siwon tajam. Merasa kurang nyaman dipandangi seperti itu, Siwon kembali berkutat pada data yang sedang ia pegang.

“Anda suruhan Tuan Kim?” tanya Siwon lagi selesai membaca data yang kini sudah ia simpan di laci meja kerjanya. “Terima kasih, tuan …?”

Siwon berharap lelaki itu akan menjawabnya dengan menyebutkan namanya, namun?

Pemuda itu malah terkekeh, telunjuknya menyapu rusuk prisma segitiga dari kaca bening yang terukirkan nama Siwon yang terletak di meja.

“Choi Siwon, Choi Siwon,” katanya pelan sambil tertawa. “Bahkan anda tidak ingat padaku,” lanjutnya sambil meraih kaca itu kemudian menimangnya. Melihat mata Siwon yang bingung melalui kaca bening di tangannya.

“Ah, anda pakai sarung tangan rupanya,” ceplos Siwon basa-basi. Si pemuda melihat ke arah Siwon lagi. Kembali tersenyum.

“Tentu saja. Saya orang yang bersih,” katanya sambil bangkit dan berjalan ke pojok ruangan. Mengelus-ngelus koleksi guci dengan ujung telunjuknya.

“Anda ingat tentang itu?” tanya si pemuda, melihat Siwon yang mulai merasa aneh.

PRANGGG!!!

“Ah, maaf,” kata si pemuda yang sebenarnya sengaja menjatuhkan guci yang ia sentuh. Ini… tidak beres, batin Siwon.

“Tapi tenang. Sidik jari saya tidak akan menempel pada pecahan guci anda. Anda lihat sendiri, saya pakai sarung tangan. Saya tidak suka jika sidik jari saya menempel pada benda-benda. Jadi kotor,” katanya lagi sambil tertawa. “Terlebih pada kaca preparat.”

PRANGGG!!!

Sebuah pecahan guci tadi dilempar kencang oleh si pemuda menghantam bahu Siwon kemudian pecah lagi. Siwon reflex memegang bahunya yang sakit, sementara si pemuda semakin mendekat padanya.

“Apa yang anda lakukan?!” tanya Siwon, marah dan takut bercampur dalam dirinya.

Si pemuda tersenyum.

“Mengekspresikan rasa cintaku.”

BUAKKK!!!

Si pemuda memukul wajah Siwon dengan prisma kaca yang masih ia genggam. Melukai daerah sekitar mata Siwon dan pipinya. Mungkin membuat tulang pipi kirinya retak. Siwon meringis, memandang pemuda itu tajam. Berusaha mencari celah untuk melawan.

“Kau…” geram Siwon.

“Apa?” tanya si pemuda, membungkuk.

PRANGGG!!!

Ia memukul lantai dengan prisma kaca di tangannya, sangat kencang, membuatnya pecah jadi dua dan sisinya jadi tajam, tidak rata.

“Dia sudah tidak bersamaku!” teriak Siwon.

CROTTT!!!

Prisma kaca itu ditusukkannya ke perut Siwon, menancap sempurna, memuncratkan darah deras dan segar. Siwon roboh terduduk, kemudian dadanya ditendang keras si pemuda hingga kepalanya terantuk dan Siwon terkapar. Kedua pipi dan dagu Siwon dicengkramnya sekaligus.

“Karena itulah aku ke sini, Choi Siwon yang malang,” kata si pemuda dengan tenang sambil membuat wajah Siwon semakin dekat dengan wajahnya, kemudian ia lepas cengkramannya hingga kepala Siwon yang semakin lemah terpentok ke lantai. Si pemuda meraih pecahan kaca terbesar, tertajam, dan terdekat dengannya.

“Kau tampan,” kata si pemuda sambil menekan kaca tajam itu ke kening Siwon agak pelan. “Tapi sayangnya, ia meninggalkanmu, kan? Hahaha. Bahkah ia meninggalkanmu, seseorang yang tampan. Kau pasti pikir kalau itu karma, kan? Iya kan?!”

“AAAARGHHHHH!!!!”

Dengan perlahan, kening Siwon disayat dengan pecahan kaca tadi dari kiri ke kanan.

“Namun,” katanya sambil mengarahkan pecahan kaca turun ke pipi kanan Siwon, menyayatnya sama pelan. “Karmamu belum usai. Sayang sekali, ya?”

Satu gerakan singkat namun cepat berhasil menyayat leher Siwon, membuat satu nyawa melayang malam ini.

“Oh iya. Data yang kuberikan tadi asli. I hacked the sender’s e-mail. Dan, oh! Aku lupa mengucapkan terima kasih padamu. Berkat kau…” katanya sambil melempar pecahan kaca itu entah ke mana. “… Aku bisa seperti ini. Terima kasih.”

Kemudian ia mengarahkan telapak tangan kiri jasad menghadap ke atas, meletakan kaca preparat dari sakunya di tangan Siwon, dan berjalan pergi.

 

ooOoo

 

“Korban bernama Choi Siwon, 27 tahun, pemilik Jeongjang Real Estate.”

“Haah? Masih muda sekali…”

“Ya. Korban ditemukan oleh asistennya tadi pukul enam lewat tujuh belas dalam keadaan mengenaskan, Inspektur Park.”

“Hmm.”

Inspektur muda Park Jungsoo membungkuk, memperhatikan jasad di depannya.

“Keningnya disayat… pipinya juga, lehernya digorok, ada sedikir lebam di pipi kiri… perutnya dit…” Jungsoo menelan ludahnya. Terlalu mengenaskan untuk diungkapkan. “Yah, intinya pembunuhnya kejam.”

“Ini sama kejamnya dengan pembunuhan seminggu lalu, inspektur,” sahut detektif polisi berbadan agak tambun itu.

“Benarkah? … Adakah hubungan antara pembunuhan yang kau maksud dengan yang sekarang ini, Detektif Shin?” duga Jungsoo.

“Sebentar,” kata detektif bernama Donghee, membalik halaman catatannya. “… Bulan lalu, Lee Sungmin, 28 tahun, pelatih kelas teater Seoul University, tewas karena tusukan di dada dan leher, lalu di bibir korban terdapat banyak sayatan, wajahnya juga sedikit lebam.”

“Alat pembunuhannya?”

“Untuk kasus Tuan Lee, di perutnya menancap gagang sapu yang dipatahkan jadi dua, sementara untuk kasus yang sekarang, di perut Tuan Choi menancap prisma kaca yang dipecahkan. Jauh berbeda, Inspektur. Tapi sepertinya pelaku memanfaatkan barang-barang yang ada di TKP.”

Jungsoo menggaruk-garuk kepalanya. “Kukira ini pelakunya sama! Adakah kesamaan antara kedua korban?”

“Hmm, kami belum menyelediki hal itu. Tapi… ada satu barang yang sepertinya bisa jadi petunjuk.”

“Benarkah?” tanya Jungsoo semangat.

“Ya, inspektur. Benda itu diamankan oleh … Detektif Park! Mana tadi barang yang kau ambil?”

Yang ditanya tidak menjawab.

“Detektif Park?”

Yang dipanggil menatap kosong korban yang kini jasadnya sudah ditutupi, tak percaya.

“MARI!”

“Eh?” gumam Park Mari, menoleh ke arah orang yang memanggilnya, yang kini berjalan mendekatinya.

“Fokuslah di TKP, cinta,” bisik Jungsoo sambil mencubit pipi Detektif Park alias istrinya. Sesuai dugaan, banyak yang berdeham. Tanda iri.

“Apa sih, Jungsoo? Aish!” gerutu Mari, menarik kedua tangan Jungsoo dari pipinya.

“Yak! Aku atasanmu! Panggil aku inspektur!” perintah Jungsoo.

“Ah, sialan kau,” erang Mari sambil tertawa, mendorong pelan bahu suaminya. Jungsoo membalasnya dengan memeluknya erat.

“EHEM. Detektif Park, bisakah kau menunjukan barang yang kau temukan pada kami?” sela Donghee, mengganggu kemesraan dua seniornya itu agar kembali fokus ke pekerjaan.

“Ah. Eumm… ini,” gumam Mari sambil mengeluarkan bungkusan plastik dari saku dalam blazer-nya. Menunjukan pada Jungsoo dan Donghee.

“Kaca preparat. Sama seperti kasus Tuan Lee. Keduanya tanpa sidik jari. Pembunuhannya begitu rapi.”

Keduanya mengangguk. Sepertinya secercah harapan muncul.

“Kemungkinan besar pelakunya sama. Sekarang kita tinggal cari tahu apakah kedua korban punya hubungan atau tidak. Detektif Shin, carilah inform…”

“Inspektur,” sela Mari nekat, meskipun ia tahu bahwa suaminya benci sekali jika omongannya dipotong.

“Ada apa?” tanya Jungsoo, setengah sebal.

“… Keduanya bersahabat dan alumni Cheongdam High School. Itu hubungan mereka.”

“… Bagaimana kau tahu? … Ah iya, kau alumni sekolah itu juga, bukankah begitu Mari?”

“… Begitulah…”

 

ooOoo

 

“…Siwon sudah pergi ya?”

“…Ya…”

“Astaga.”

“Dan kau tahu apa? … Perutnya ditusuk.”

“Hah? … Sama seperti Sungmin?”

“… Ya. Hanya saja alatnya beda. Siwon per…”

“JANGAN SEBUT! Mengerikan!”

“… Bahkan kau saja tak mau dengar.”

“Aku tak mau membayangkannya!”

“Apalagi melihatnya langsung. Huh, kau tak tahu seberapa shock-nya aku saat melihat tubuhnya terkapar mengenaskan seperti itu DI DEPAN MATAKU! Masih terbayang di otakku, tahu!”

“…”

“… Kenapa diam?”

Si penanya kebingungan menatap mimik wajah orang yang ia pandangi.

“… tidak…”

“… Kau takut?”

“Menurutmu?!” teriak yang ditanya frustasi.

“Kenapa harus takut?”

“Kau gila? MUNGKIN SAJA IA MENGINCARKU!”

Ingatlah ini; terdesak membuat seseorang melepaskan kata-kata yang seharusnya tak perlu untuk diucapkan.

“… Kenapa kau… Menduga seperti itu?” tanyanya bingung, sedikit curiga.

“…”

Yang ditanya hanya menunduk, menyembunyikan mimik takutnya.

“Jangan bungkam saat kutanya! Jawab!”

Dengan berat, yang ditanya mengangkat kepalanya perlahan.

“… Apakah si pelaku meninggalkan kaca preparat di tangan Siwon, sama seperti saat Sungmin ditemukan?”

Orang yang sedari tadi mendesak memandang takjub orang yang duduk di sampingnya.

“Bagaimana kau…”

“Sudah kuduga. Dia.”

“Eum? Maksudmu?”

“…”

Yang ditanya membisu lagi.

“‘Dia’ siapa?”

Yang ditanya menjawab hanya dengan menatapnya. Berharap dengan seperti itu yang bertanya tahu sendiri jawabannya.

“Yak! ‘Dia’ siapa?!” tanyanya setengah kesal. Jika ia tahu siapa, ia bisa mencari pelaku dan menangkapnya, kan?

“Harusnya kau tahu sendiri.”

“Bagaimana aku bisa tahu kalau tidak tahu petunjuknya?!”

“Kau sudah tahu dari dulu.”

“Apa, sih?! Jangan sok main teka-teki! Aku benc…”

“Kaca preparat,” potongnya. “Itu petunjuknya.”

Si penanya terkesiap. Sadar.

“Jangan-jangan…”

“Ya…”

“… Kau pasti bercanda,” katanya, mencoba untuk tidak percaya. “Kau pasti bercanda! Ini cuma leluconmu, kan? Atau kau main tuduh saja!”

“Terimalah kenyataan…”

“BELUM TENTU DIA!” raungnya, tidak percaya.

Tapi … kemungkinan ada saja, kan?

“… Tapi kalau benar itu dia… kenapa?” lanjutnya. “… Kenapa … Kenapa ia membunuh?! Kalian semua kan sahabat!” jeritnya. Matanya agak basah.

“… Mari…” lirih orang di sampingnya. Park Mari tidak merespon, terjebak dalam lautan pemikiran dan kebingungannya sendiri.

“Mari… Jika nanti ia menjemput ajalku, itu artinya aku mendapat karma.”

Mari bingung.

“Yak! Jangan bicara seolah kau akan mati saja!”

“Aku pasti mati. Cepat atau lambat ia akan mempertemukanku dengan karma yang harus kuterima.”

“Karma apa?”

Lagi-lagi yang ditanya membungkam diri.

“Yak! Jangan merahasiakan sesuatu dariku! Memangnya apa yang kau lakukan dulu?”

“Sudahlah, Mari Jangan mendesakku. Kuminta jika aku mati relakanlah aku.”

“Jangan seperti itu! Kau tak akan mati jika aku lindungi! Aku ini polisi, ingat? Aku akan melindungimu!”

“Untuk apa? Aku pantas mendapat karma.”

“Sudah kubilang jangan seperti itu! Jangan hanya meratapi nas…”

Mari tak berhasil menyelesaikan kata-katanya. Bibirnya dibungkam dengan ciuman lembut darinya.

“M-m-maaf,” katanya gelagapan usai mencium Mari. “Itu ekspresi rasa cintaku. A-a-aku tahu kau sudah menikah, tapi…”

“… Kau masih…?”

“Bagaimana tidak? … Karena itu … Maaf…”

“…”

“Itu yang terakhir… Saranghae.”

Kemudian dengan berat ia tinggalkan Park Mari sendiri di sana, di bangku taman yang dikelilingi pepohonan gundul dan dedaunan yang telah rontok, dengan berhembusnya angin yang menerpa wajahnya dan Mari yang jauh dibelakangnya, siap menjumpai karma.

 

ooOoo

 

Ia mencuci mangkuk bekas makannya sambil berpikir bahwa ia telah menghabiskan waktu satu jam hanya untuk makan semangkuk kecil bimbimbap. Inilah pertama kalinya ia makan terlalu perlahan. Satu suapan ia kunyah kemudian telan sambil melamun. Beberapa lama kemudian ia baru ingat kalau ia sedang makan.

Ia melamun seperti pengidap kanker yang sadar bahwa usianya tinggal menghitung waktu. Pasrah. Berpikir bahwa ia akan meninggalkan dunia tak lama lagi. Tapi ia sehat walafiat. Namun ia begitu yakin bahwa cepat atau lambat karma akan menjemput nyawanya.

Mengapa ia bisa seyakin itu?

Kedua sahabat lamanya, Lee Sungmin dan Choi Siwon kini telah tiada. Tinggal ia yang tersisa, otomatis ialah sasaran selanjutnya.

Tap, tap, tap.

Langkah kaki dibelakangnya membuatnya tersenyum, teringat bahwa ia telah mengunci semua pintu rumahnya.

Karma does exist, eh?” sahutnya membelakangi orang yang mendekatinya.

“… Atas dasar apa kau berkata seperti itu?” tanya sebuah suara jauh dibelakangnya, semakin mendekat.

“… Kau. Ada di sini,” jawabnya sambil mengeringkan tangannya.

“Kurang menjawab pertanyaan.”

“Kau ada di sini untuk menjemputku,” jawabnya sambil berbalik. Memandang sang penjemput dengan tegar. Sang penjemput balas memandang sambil melipat tangan di dada.

“Kau sudah tahu bahwa aku akan datang?” tanya sang penjemput.

“Kau pasti datang mengantarkan karma padaku,” jawabnya.

“Kenapa kau bisa seyakin itu?” tanya sang penjemput dengan intonasi penasaran yang dibuat-buat.

“Lee Sungmin dan Choi Siwon.”

“… Siapa?”

“Astaga,” katanya malas. “Mereka kan sahabatmu juga.”

“’Sahabatmu juga’? Bah! Rasanya aku bahkan tidak punya sahabat,” cibir sang penjemput.

“Orang yang kau bunuh dua minggu dan seminggu yang lalu,” jawabnya lagi.

“… Ooh… iya… aku ingat…,” sahut sang penjemput pelan. “… Dari mana kau tahu bahwa aku yang membunuh mereka?”

“Kaca preparat tanpa sidik jari di tangan korban.”

Sang penjemput mengangkat sebelah alisnya.

“Orang yang identik dengan kaca preparat yang kami kenal hanyalah kau. Kaca preparat identik dengan biologi. Siapa lagi maniak biologi semasa SMA dulu yang kami kenal dan pasti punya dendam pada kami bertiga? Lagipula hanya kau seorang yang mau repot-repot memegang kaca preparat dengan sapu tangan jika lupa bawa sarung tangan karena sifat dasarmu yang terlalu menyukai kebersihan. Kau ingin semua benda bersih bahkan bersih dari sidik jari jika kau sentuh,” jawabnya tenang, sambil melirik kedua tangan si penjemput yang sudah terbungkus sarung tangan.

“… Puhahahahaha!” tawanya. “Hanya saja jika kau mengungkapkan analisismu ini pada polisi lalu aku ditangkap, aku bisa menuntutmu atas pencemaran nama baik karena buktimu kurang kuat.”

“Tapi memang kau yang membunuh mereka, bukan?” tanyanya, berusaha memastikan bahwa dugaannya tidak salah.

“Apakah aku menyangkal analisismu? Lagipula aku meninggalkan bukti yang mengarah pada diriku sendiri, kan? Agar kau sadar bahwa yang membunuh mereka adalah ak…”

“Bukan hanya aku yang sadar,” potongnya pelan.

“Eung?… Ah… Mari juga sadar,” jawab sang penjemput, menjawab sendiri kebingungan yang melandanya sejenak. “Kenapa ia tidak menangkapku?”

“Ia tidak bisa menerima bahwa kau pelakunya. Ia baru sadar setelah kuberi tahu.”

“Harusnya ia menangkapku. Ia bisa mencegah kematianmu.”

“Kau sendiri yang bilang bahwa bukti di TKP kurang kuat, kan? Ia bisa dikira asal tangkap dan asal tuduh jika ia menangkapmu. Kami juga tidak tahu di mana keberadaanmu. Setelah lulus kami tak pernah dapat kabar tentangmu lagi. Lagipula Mari tak akan bisa mencegah kematianku. Mari tidak pernah tahu di mana rumahku, beberapa hari belakangan aku me-reject panggilannya dan tidak membalas pesan darinya.”

“Kenapa?”

Lee Donghae menarik napas panjang dan menghembuskannya. Mencari keyakinan.

“Agar ia tidak mencegahku menjumpai karma yang sudah seharusnya kudapat.”

Sang penjemput berjalan dan semakin mendekati sasarannya. Penasaran.

“… Di antara kau, Sungmin, dan Siwon, orang yang berkepribadian paling tidak tenang dalam menghadapi sesuatu adalah kau. Tapi anehnya, untuk urusan ini, kau malah paling tenang di antara mereka. Yah… awalnya ketika aku menemui mereka untuk menjemput ajal mereka lupa siapa aku, orang yang telah kalian khianati, huh!” kata sang penjemput geram. “Tapi begitu mereka tahu siapa aku, mereka takut. Mereka takut karma. Hah! Seharusnya mereka siap menanggungnya!” serunya sambil menarik kursi ke hadapan Donghae kemudian duduk.

“Tapi kau,” lanjut sang penjemput sambil menunjuk Donghae. “Kau berbeda. Kau tenang. Kenapa kau bisa seperti ini?”

Donghae tersenyum tipis, bersandar pada wastafel dapur.

“Aku sadar bahwa aku dan yang lain bersalah di masa lalu. Wajar saja kalau kau dendam, dahulu kami keterlaluan.”

Sang penjemput terdiam. Memandang Donghae sambil melipat tangan di dadanya. Takjub.

Pukul delapan lewat tujuh. Malam ini suasana sangat tenang, begitu hening, sehingga ketika dua orang yang sedang berhadapan itu terdiam, mereka bisa dengan jelas mendengar hembusan nafas orang di hadapan mereka.

“Maaf,” kata keduanya bersamaan. Mereka berdua tertawa pelan.

“Mewakili diriku sendiri dan yang sudah pergi aku ingin minta maaf atas perbuatan kami di masa lalu,” ucap Donghae tulus.

“Maaf karena aku telah membunuh mereka berdua dan berniat membunuhmu malam ini,” kata sang penjemput tulus. “Tadinya aku berniat membunuhmu sama seperti saat aku membunuh Sungmin dan Siwon.”

“… Artinya… kau ingin membunuhku dengan cara yang lebih halus? Mengapa?”

“Hei, kau mau terkapar kesakitan kusiksa kemudian kehabisan darah dan berakhir tak bernyawa? Kau yang saat praktek membedah kodok saja ketakutan dan merasa sakit seolah kau yang dibedah, bagaimana kalau kau yang merasakannya? Kau mau?” gertak sang penjemput, memasukan unsur jahil, sama seperti dulu saat mereka bergurau.

“Sialan kau,” sahut Donghae terkekeh. “Kalau begitu… kenapa kau membunuh yang lain dengan sadis?”

Sang penjemput menatap Donghae lekat.

“Mereka tidak mengakui kesalahan mereka dan tidak meminta maaf kepadaku. Kalian mengkhianatiku. Tapi karena kau telah meminta maaf, aku tidak akan berlaku sadis. Aku jamin kau tak akan kesakitan.”

Sang penjemput bangkit dari kursinya, mendorong kursi itu hingga bersender ke tembok, kemudian mempersilahkan Donghae duduk di sana.

“Aku akan membiusmu. Maaf,” katanya sambil mengeluarkan sebotol kecil chloroform berdosis tinggi dari saku jaketnya dan menuangkan semuanya ke sapu tangan miliknya.

“Hei,” sahut Donghae tenang. “Aku ingin berterima kasih padamu.”

PRANGGG!!!

Sang penjemput kaget dan tak sengaja melepaskan botol kecil beling itu dari tangannya.

“Untuk apa? Karena aku akan membunuhmu?” tanya sang penjemput, menyingkirkan pecahan botol dengan kakinya.

“… Karena kau memberikanku waktu untuk berpikir jernih sejak aku tahu tentang kematian Siwon sampai dengan beberapa jam yang lalu sehingga aku siap dan tenang seperti saat ini.”

“Benarkah?” tanya si penjemput. “Aku bahkan tak sadar kalau secara tak langsung aku memberimu waktu. Sama-sama kalau begitu.”

“Dan aku memanfaatkan waktu itu juga untuk mengekspresikan rasa cintaku pada Mari untuk terakhir kalinya.”

Si penjemput memandang Donghae yang tersenyum mendamba, merasa sedikit iri. Sedikit meremas sapu tangan digenggamannya.

“Kalau begitu … ijinkan aku mengekspresikan rasa cintaku.”

 

ooOoo

 

Inspektur Park Jungsoo mengetuk-ngetuk meja makan dengan jemarinya. Pusing karena kasus berantai yang tak kunjung ditemukan mana ujungnya. Ditemani secangkir teh manis panas, malam ini ia berdiam diri, berpikir.

Dua kasus pembunuhan sadis yang berantai kurang cukup bagi pelakunya mungkin. Sang pembunuh menambah satu korban lagi. Kemarin malam Lee Donghae, 27 tahun, guru renang Saint Louis High School ditemukan tewas di ruang makannya, terduduk kaku di kursi. Terdapat satu hingga dua sayatan di kedua pergelangan tangannya, diduga tangan korban disayat dengan pecahan botol yang terdapat di sekitar korban, tapi hal ini masih dalam tahap penyelidikan. Sama seperti kasus lainnya, pelaku meninggalkan kaca preparat tanpa sidik jari di telapak tangan korban.

Tak ada bukti apapun yang menunjukan identitas pelaku. Bagaimana bisa ia menemukan pelakunya kalau begini? Satu-satunya hal yang menghubungkan para korban adalah ketiganya sahabat dan alumni Cheongdam High School. Tapi itu saja tidak cukup, kan? Setidaknya kepolisian Seoul bisa sedikit bernafas lega karena si pelaku menulis ‘This is the last’ di lantai TKP menggunakan darah korban.

Park Mari menemukan jenazah di kediaman korban ketika ia sedang kebingungan mencari rumah si korban, namun si korban sudah tewas satu jam sebelum ditemukan. Mari langsung menelpon Jungsoo dan beberapa petugas kepolisian langsung meluncur dan menyelidiki TKP.

“… Mari bilang ia kalang kabut mencari Lee Donghae karena punya dugaan kuat kalau Lee `Donghae korban selanjutnya…” gumam Jungsoo pelan.

Namun ada satu hal yang membuat Jungsoo gundah dan khawatir.

Mari kunjung menangis sejak menemukan korban terakhir. Di depan Jungsoo, Mari menunjukan senyuman paksa disertai mata merah yang kacau.

“Tapi, kenapa Mari menangis?” gumamnya bingung. Mari belum mau bicara tentang hal ini.

Tap, tap, tap.

Jungsoo menyeruput tehnya pelan ketika ia mendengar derap langkah ke arah ruang makan. Ia melirik ponselnya. Pukul sebelas tepat. Sesampainya di rumah tadi Mari langsung tidur, enggan bicara.

“Mari?” panggil Jungsoo lembut, berharap panggilannya dijawab. Namun tak ada jawaban apapun dari yang sedang melangkah. Bahkan Jungsoo terkejut begitu mendapati bahwa yang datang bukanlah Mari.

Pemuda tinggi itu diam di ambang pintu, memandangi Jungsoo yang bingung. Tersenyum tipis kemudian perlahan berjalan ke meja makan, hendak duduk.

“Siapa kau?” tanya Jungsoo tegas, perlahan meraba pistol yang masih tergantung di sabuknya.

“Ssstt…” Si pemuda meletakan telunjuk di bibirnya. “Jangan terlalu kencang. Istri anda bisa terbangun nantinya,” jawab si pemuda itu kemudian menarik kursi dan duduk di hadapan Jungsoo.

“Apa?! Kau apakan istriku?!” geram Jungsoo.

“Tenanglah inspektur. Saya tidak menyentuh istri anda sedikitpun. Bertemu saja sudah lama sekali,” jawab si pemuda santai.

“Kau sudah masuk ke rumah keluarga polisi tanpa ijin. Kau sadar?”

Si pemuda mengangguk. “Saya berniat membantu and…”

“Mau apa kau? Seenaknya saja berada di sini!”

“Inspektur Park Jungsoo, sudah saya katakan, kan? Saya berniat membantu anda. Saya tak mau merampok anda atau melakukan tindakan kriminal lainnya,” jawab si pemuda.

Jungsoo memandangi pemuda dihadapannya. Entah mengapa gejolak dalam dirinya untuk mengusir pemuda itu hilang. Entah mengapa ia sepertinya mau begitu saja untuk mempercayai orang yang tak ia kenal ini. Perlahan pistol yang dicengkram ia lepaskan. Padahal bisa saja orang di depannya adalah orang yang berbahaya!

“Park Jungsoo… Seorang inspektur muda. Suami dari Jang Mari…”

“Park Mari,” ralat Jungsoo sambil agak melotot.

“Ah maaf,” sahut si pemuda santai. “Saya terbiasa memanggilnya Jang Mari. Saya lupa kalau namanya sudah berubah sekarang.”

“Terbiasa? Anda mengenalnya?” tanya Jungsoo agak datar, mencoba menyembunyikan rasa penasarannya.

“… Saya cukup mengenalnya. Istri anda orang yang menyenangkan. Tahukah anda bahwa ia terkenal karena kecantikannya semasa masih bersekolah di Cheongdam?”

“Kecantikan Mari tidak hanya dikenal di sana,” jawab Jungsoo bangga.

“Tahukah anda bahwa istri anda juga jadi rebutan…”

“Mari memang pantas diperbutkan,” sela Jungsoo.

“… Oleh para korban dan pelaku kasus yang sedang anda tangani?” lanjut si pemuda.

Jungsoo terkejut. Si pemuda tersenyum tipis melihat reaksi orang di hadapannya, makin memajukan kursinya.

“Saya mengetahui kenyataan di balik kasus ini, inspektur.”

“Lanjutkan,” sahut Jungsoo tertarik. “Saya mendengarkan.”

Si pemuda menarik napasnya, hendak memulai.

“… Awalnya ketiga korban dan pelaku bersahabat. Kemudian mereka semua mengenal istri anda. Lama-kelamaan si pelaku berkata pada ketiga sahabatnya bahwa ia menyukai istri anda. Ia meminta dukungan dari para korban. Oh iya, kaca preparat itu identik dengan si pelaku. Si pelaku maniak biologi.”

“Lalu? Apa yang membuat si pelaku membunuh para korban?”

“Pelaku dendam pada korban,” jawab si pemuda dengan tenang. “Para korban berkhianat, nyaris membuat si pelaku mati. Mereka malah menjauhkan istri anda dari si pelaku.”

“… Kalau yang anda katakan ini benar, bagaimana anda bisa tahu masa lalu istri saya, si pelaku, dan para korban?” tanya Jungsoo, berharap bahwa yang dikatakan pemuda di depannya bukan bualan belaka.

“Dulu saya bersekolah di Cheongdam juga.”

Jungsoo memperhatikan mimik si pemuda. Orang ini jujur.

“Apakah anda tahu kira-kira siapa pelaku tiga kasus pembunuhan ini?”

Sorot mata yang kaya akan keyakinan tiba-tiba berubah jadi agak sayu.

“Zhou Mi?”

Jungsoo menoleh ke sumber suara, melihat Mari sedang terpaku di ambang pintu.

“Zhou Mi? Apakah itu kau?” tanya Mari pelan, perlahan mendekat.

Si pemuda menoleh ke arah Park Mari yang sedang mendekat, kemudian tersenyum kecut pada orang yang ia cintai.

“Inspektur Park Jungsoo, saya ingin menyerahkan diri sebagai pelaku atas kasus pembunuhan Lee Sungmin, Choi Siwon, dan Lee Donghae.”

 

ooOoo

 

BRAKKK!!!

“Apa sih maunya?!” geram Donghee menggebrak meja.

“Yak! Ada apa Detektif Shin?” tanya Jungsoo yang kebetulan baru memasuki ruangan.

“Inspektur! Tersangka Zhou Mi menyerahkan dirinya sendiri pada anda, bukan? Kenapa pada saat kami menginterogasi, tersangka malah tak mau mengucapkan sepatah kata pun?!”

“… Apakah tersangka punya permintaan agar mau buka suara?” tanya Jungsoo.

“Tidak ada satu pun! Tersangka membisu!” jawab Donghee gusar.

Semua polisi di dalam ruangan kini memandang tersangka melalui kaca yang berdiam diri di ruang interogasi. Ia diborgol dan dikurung di sana untuk sementara karena bungkam, meskipun sejak awal dia bilang kalau ia tidak akan melarikan diri.

“Keterangan yang tersangka berikan pada anda kurang cukup, inspektur! Kita butuh seseorang yang mampu membuatnya bicara!” seru Donghee. Semua orang terdiam, bingung memilih orang yang mampu.

“… Aku saja yang menginterogasi.”

Semua orang menoleh pada suara lembut itu. Park Mari kemudian berjalan ke pintu ruang interogasi tanpa perintah dari siapa pun.

“Tidak boleh!”

Jungsoo mencengkram pergelangan tangan Mari, mencegahnya.

“… Kenapa tidak boleh, inspektur?” tanya Mari sambil berbalik melihat Jungsoo.

“… Kau belum bilang kepadaku apa alasanmu nyaris menghabiskan seluruh air matamu,” tegas Jungsoo dengan suara pelan.

Mari tersenyum tipis, memandang kedua mata suaminya lekat-lekat.

“Percayalah. Aku tak akan menangis di dalam.”

“Yak! Aku tidak berkata bahwa aku yakin bahwa kau akan menangis di dal…”

“Nanti kuberi tahu mengapa aku menangis. Aku janji.”

 

ooOoo

 

“Apa kabar?”

Zhou Mi mengangkat kepalanya, memandang orang yang sedang menutup pintu di hadapannya.

“Kenapa jadi kau yang menginterogasiku?” tanya Zhou Mi.

“Kita sudah saling kenal,” jawab Mari sambil duduk. “Aku tahu kau lebih mudah bicara dengan orang yang sudah kau kenal.”

“Terserah kau lah, Nona Jang…”

“Nyonya Park, maksudmu?” ralat Mari.

“Ah! Maaf, aku lupa kau sudah menikah…”

“Kau sengaja pura-pura lupa, kan? Huh…”

Dua kenalan lama itu kini saling berpandangan, memandang tajam satu sama lain. Membisu.

“Aku ingin dengar semuanya darimu. Sekarang,” kata Mari memecah sunyi. Muka Zhou Mi berubah jadi datar.

“Kau siap mendengarnya?” tanya Zhou Mi, memajukan badannya.

“Ya. Aku hanya ingin mendengarmu. Aku tidak pakai earphone yang membuatku bisa mendengar perintah dari inspektur di luar sana… Aku mengambil semua kartu akses khusus yang digunakan untuk membuka ruangan ini… Dan ruangan ini kedap suara, orang yang di dalam tak bisa mendengar suara yang ada di luar. Anggap saja kita hanya berdua sekarang,” papar Mari sambil melirik licik pada suaminya yang sekarang sedang melotot padanya.

“Dengan begitu rasanya lebih leluasa untuk berbicara, bukan?” lanjut Mari kemudian menoleh ke arah kaca.

“Jadi Inspektur Park, tolong dengarkan kami berdua yang ada di dalam sini dengan seksama,” pinta Mari dengan suara yang keras. Membuat Jungsoo mendengus kesal sambil duduk. Yang di luar sana membuka kuping mereka lebar-lebar.

“Baiklah… Mau mulai dari mana?” tanya Zhou Mi.

“Mulai dari mengapa kau membunuh Sungmin, Siwon, dan Donghae.”

“Aku dendam pada mereka karena mereka membuatku nyaris mati,” jawab Zhou Mi.

“Nyaris mati? Dengan cara?”

“Mereka memaksaku berenang dan berada di dalam air dengan lama. Aku yang tidak pernah kuat berenang lama bisa dipastikan langsung pilek parah dan mereka menyuruhku minum obat. Kemudian mereka semua naik ke mobilku dan memintaku mengantarkan mereka ke rumah Sungmin, rumahnya berjarak sangat jauh dengan rumahku. Mereka semua pasti sudah memperhitungkan kapan aku tertidur, dan ketika aku sedang dalam perjalanan ke rumah, benar saja. Aku tertidur saat mengemudi.”

“Ah… Itukah yang menyebabkanmu kecelakaan dan diopname tiga bulan saat SMA dulu?”

“Ya…” jawab Zhou Mi terkekeh. “Lucu ya, aku nyaris mati karena obat yang dosis obat tidur yang rendah. Kau boleh tertaw…”

“Ini tidak lucu, Mi! Kecelakaan bisa merenggut nyawa orang dan itu tidak pantas ditertawakan!” sambar Mari.

“Kalau begitu… apakah menurutmu mereka bertiga pantas disebut orang jahat?”

“Tidak! Bisa saja mereka tidak tahu kalau kau tidak kuat minum obat! Jangan menuduh or…”

“Kau tahu apa yang mereka katakan saat aku lewat di samping mereka begitu aku sudah sembuh?” potong Zhou Mi. “‘Masih belum mati juga, ya?’… huh. Kalimat yang hanya akan diucapkan kepada orang yang mereka benci dan orang yang mereka coba bunuh,” cibir Zhou Mi

“Dari mana kau mengira bahwa mereka membencimu?”

“Aku tahu mereka membenciku karena mereka iri padaku.”

“Hah? Hanya begitu saja sudah mencoba membunuh orang? Haah… Tak mung…”

“Mereka tidak terima kalau kau jadi milikku,” potongnya lagi.

“… Maksudmu?” tanya Mari terkejut.

Zhou Mi memandang mata Mari dalam. Memajukan kursinya.

“Kami bersahabat. Dulu. Tapi aku tahu mereka iri akan kejeniusanku juga harta warisan dari almarhum kedua orang tuaku. Saat aku beri tahu mereka bahwa aku menyukaimu, mereka tidak terima kalau nanti kau jadi milikku. Kau tak tahu kan kalau sebenarnya aku kecelakaan dalam perjalanan ke rumahmu untuk menyatakan perasaanku? Mereka tahu rencanaku dan mereka menggagalkannya. Mencelakaiku dan menjebakku dalam mobilku yang ringsek karena hantaman, kesakitan karena terjepit, menunggu pertolongan. Aku sempat koma 2 hari. Kau tak tahu itu, kan?

“Begitu aku sembuh, secara langsung dan tak langsung mereka berusaha membuatmu jauh dariku, menyulitkanku untuk menyatakan perasaanku. Tapi ternyata… hahaha! Mereka saling berkhianat juga!”

Mari membelalak, ingin tahu kenyataan. Jungsoo menarik kursinya makin ke depan, fokus memperhatikan.

“Sungmin sempat jadi kekasihmu, kan? Ia mengkhianati yang lain, duluan ‘menyerangmu’ sebelum waktu yang sudah mereka tetapkan. Namun, beberapa bulan kemudian, kau putus dari dia, kan? Karena gosip yang mengabarkan bahwa ia mencium gadis lain? Mungkin kau tak tahu kalau itu adalah fitnah yang disebar Siwon dan Donghae.

“Kemudian kau jadian dengan Siwon. Siwon mengkhianati Donghae, melanggar perjanjian yang sudah mereka buat. Kau putus dengan Siwon juga karena gosip miring tentangnya, kan? Itu fitnah yang disebar Donghae. Lalu kau jadian dengan Donghae, tapi kalian putus baik-baik karena kau ingin masuk ke kepolisian sementara ia ingin jadi atlet, kan? Aku yakin ketika menemukan Donghae tak bernyawa, kau menangis karena hanya ialah yang masih dekat sebagai teman denganmu,” papar Zhou Mi lancar.

Mari menelan ludahnya.

… Itukah yang membuat Mari menangis?, batin Jungsoo.

“Dari mana aku tahu itu semua? Hahahaha… Aku stalker yang baik, kan? Menguntit dan mengorek informasi tentang orang yang kusayangi diam-di…”

DOK DOK DOK DOK DOK!!!

Mari dan Zhou Mi menoleh melihat Jungsoo yang gusar menggedor kaca, melantunkan kata ‘BUKA PINTUNYA!’ dari bibirnya meski suaranya tak terdengar. Mari mengabaikannya.

“Kau terkesan pilih kasih saat kau membunuh Donghae. Kenapa hanya dia yang tidak kau bunuh dengan sadis seperti Sungmin dan Siwon?” tanya Mari. Suaranya mulai bergetar.

“Donghae mengakui kesalahannya dan meminta maaf padaku,” jawab Zhou Mi pelan.

“Dan kau tetap membunuhnya…”

“… Ya. Aku mem…”

“KAU TETAP MEMBUNUHNYA!! KENAPA?!!” jerit Mari, mengejutkan semua orang yang melihatnya. Jungsoo terlonjak kemudian makin keras mengedor kaca, namun sia-sia. Apa yang bisa ia perbuat?

“Hei! Cari kartu akses lain dari ruangan ini! Tidak mungkin Mari berhasil mengambil semua kartunya! Cepat!” perintah Jungsoo frustasi, membuat polisi yang lain kalang-kabut bergerak.

“PERMINTAAN MAAFNYA TIDAK CUKUP TULUS BAGIMU, HAH?!!” raung Mari, mencengkram kerah baju Zhou Mi kasar. Mata Mari mulai basah.

“…”

“KAU KEJAM!!”

“Memang…” sahut Zhou Mi pelan.

“MENGHABISI SATU NYAWA SAJA BAHKAN BELUM CUKUP, YA?!! GILA!! KAU PSIKOPAT!! HARUSNYA KAU SAJA YANG MAT….”

“AKU MENGEKSPRESIKAN RASA CINTAKU PADAMU, TAHU!!!”

Mari tersentak, tak mengira kalau orang setenang Zhou Mi membentaknya balik.

“APA? DENGAN APA KAU MENGEKSPRESIKANNYA?! MEMBUNUH SEMUA MANTANKU?!!” jerit Mari, emosinya meluap.

“YA!!! KAU TAK TAHU RASANYA DIJEBAK OLEH ORANG YANG KAU PERCAYAI! KAU TAK TAHU SEBERAPA BESAR DENDAMKU PADA MEREKA! MEREKA MEMBUATKU MENAHAN SAKIT SAAT AKU NYARIS MATI! DAN ITU SEMUA TERJADI KARENA AKU MENCINTAIMU!! AKU TAK BISA BERHENTI MENCINTAIMU SAMPAI KAPANPUN, DAN AKU IRI PADA MEREKA YANG PERNAH MENCIUMMU, MEMELUKMU, ATAU MELAKUKAN HAL YANG LAIN!! AKU IRI PADA MEREKA YANG PERNAH MENGEKSPRESIKAN RASA CINTA MEREKA PADAMU SECARA LANGSUNG!! PERSETAN KAU MAU BILANG AKU INI APA, TAPI ITULAH YANG MAMPU KULAKUKAN!!”

Merasa lututnya lemas karena serasa ditikam oleh teriakan Zhou Mi, Mari mengendurkan cengkramannya sambil bertumpu pada pinggir meja. Sukses membuat setetes air meluncur dari mata cantiknya.

Interogasi ini menguras habis semua stok emosi yang mereka punya.

 

ooOoo

 

Tok, tok, tok.

“Masuk,” perintah seseorang dari dalam.

Mari membuka pintu perlahan, lesu melangkah masuk. Kepalanya terangkat, kemudian ia mematung begitu melihat orang yang sedang duduk di sana.

“Ah, Mari? Tunggu sebentar, ya,” kata Jungsoo, kalang kabut membereskan file-file kasus pembunuhan yang telah terpecahkan.

“…”

“Kau sudah beres-beres? Sebentar lagi kita pulang, ya.”

Mari tak merespon. Memandang Jungsoo dengan tatapan kosong.

“Mari? Ada apa?” tanya Jungsoo, menghentikan aktivitasnya. Merasa ada yang tidak beres dengan istrinya.

“… Kenapa…”

“Eung?”

“… Kenapa aku bisa di sini?” tanyanya bingung. “Duh! Sepertinya aku berjalan ke sini tanpa sadar. Hahaha! Bodoh! Mari bodoh!” rutuk Mari, memukul-mukul pipinya sendiri.

Jungsoo hanya memandang istrinya, tahu kalau ada yang aneh.

“Ya sudah! Kau beres-beres saja dulu. Aku belum beres-beres juga, kok … sepertinya… Sudahlah! Sepertinya aku mengganggumu hahaha! Nanti kau jemput aku di cubicle-ku ya! Dah!” kata Mari terkesan terburu-buru, mundur dan menutup pintu.

“Mari,” cegah Jungsoo sebelum istrinya menutup pintu sepenuhnya.

“… Ya?” tanya Mari dari balik pintu, mencoba menghindari tatapan Jungsoo.

“Masuk.”

Mari memandang ke atas, menghela napas.

“Ada apa?” tanya Mari sambil menjulurkan kepalanya.

“Masuk. Dan duduk.”

Dengan berat Mari masuk lagi ke ruangan Jungsoo, menutup pintunya, kemudian duduk di hadapan suaminya.

“Ada apa?”

“Lho? Kau yang menyuruhku masuk kan tadi? Kenapa malah kau yang bertanya?” tanya Mari bingung kemudian tertawa. Tertawa terpaksa.

“Baik. Kuganti pertanyaanku. Apa yang sedang kau pikirkan sehingga membuatmu kacau begini?”

“… Apa sih? Hahaha…”

“Mari…” panggil Jungsoo lembut.

Menyentuh dan berhasil pertahanan Mari runtuh. Setetes air mata turun.

“Ini semua salahku…” ratap Mari.

“Mari,” kata Jungsoo sambil meraba tangan Mari. “Zhou Mi pergi karena ia memang memilih untuk dihukum mati. Kematiannya bukan salahmu, cinta.”

Perkataan Jungsoo membuat Mari meningat adegan kemarin siang. Meningat senyuman terakhir Zhou Mi yang ditujukan untuknya sesaat sebelum dihukum gantung. Senyuman yang membuat Mari runtuh dan tak kuasa menahan tangis di pelukan Jungsoo ketika Zhou Mi dinyatakan telah pergi selamanya. Dan kini sukses membuat air mata turun lebih deras.

“Coba kau pikir, Jungsoo!” kata Mari disela tangisannya. “Zhou Mi pergi… Aaah! Ia pergi karena ia dihukum mati! Ia dihukum mati karena membunuh … oh Tuhan! Ia membunuh Sungmin! Ia membunuh Siwon! Ia membunuh Donghae! Astaga! Donghae! Mi membunuh … semuanya karena … karena dendam pada mereka! Mi dendam karena … mereka nyaris membuatnya … aaah! Dan mereka melakukan semua itu … karena aku! Mereka mencintaiku, Jungsoo! Lihat awal dan akhirnya, Jungsoo! Mereka semua pergi karena aku!! Karena mereka mencintaiku!!” jerit Mari.

Tangisannya mungkin membuat kuping Jungsoo pengang. Air matanya mungkin menghancurkan jas favorit Jungsoo. Tapi apa lagi yang bisa Jungsoo lakukan kini pada Mari selain menariknya berdiri kemudian memberikan pelukan hangat? Yah… mungkin Jungsoo juga bisa memberikan kata-kata penenang.

“Mari… kau tidak salah jika mereka mencintaimu… kau memang patut untuk dicintai…”

“Tidak!! Kalau mereka tidak mencintaiku, mereka tidak akan pergi!!” jerit Mari di dada Jungsoo.

“… Mereka pergi karena cara mereka mengekspresikan cinta mereka padamu salah.”

Kalimat itu berhasil membuat Mari sedikit tenang. Merasa berhasil, Jungsoo melanjutkan kata-katanya lagi.

“Kita susun dari awal,” kata Jungsoo sambil mengusap pipi Mari yang basah kemudian merengkuh wajah cantiknya.

“Lee Sungmin, Choi Siwon, dan Lee Donghae mengkhianati, menjebak, dan menjauhkan Zhou Mi darimu karena mereka semua sama-sama mencintaimu. Kemudian Lee Sungmin mengkhianati Choi Siwon dan Lee Donghae karena ia mencintaimu. Choi Siwon dan Lee Donghae memfitnahnya karena mereka mencintaimu. Choi Siwon mengkhianati Lee Donghae karena ia mencintaimu. Lee Donghae memfitnah Choi Siwon karena ia mencintaimu. Zhou Mi membunuh mereka semua karena ia dendam. Ia dendam karena mereka mengkhianatinya dan nyaris membuatnya mati. Kenapa mereka begitu? Kembali lagi ke awal. Intinya mereka semua mencintaimu. Mereka melakukan itu karena ingin mengekspresikan rasa cinta mereka padamu. Tapi cara mereka mengekspresikan cinta mereka padamu salah. Itulah yang membuat mereka gugur satu per satu.”

“… Benarkah?”

Jungsoo mengangguk, mengelus kepala Mari.

“Lalu,” kata Mari sambil mengusap tangisnya. “Cara mengekspresikan cinta yang benar seharusnya bagaimana?”

Jungsoo memutar bola matanya, berpikir sambil berkacak pinggang.

“Bersaing untuk mendapatkan cinta secara adil, tidak membuat pertumpahan darah setetespun.”

“… Apakah ada lagi caranya?” tanya Mari setelah tangisnya reda.

Apakah Jungsoo menjawab pertanyaan Mari dengan rangkaian kata?

Tidak. Ia menjawabnya dengan ciuman lembut. Ciuman yang mengekspresikan rasa cintanya yang mendalam. Ditambah pelukan yang semakin erat, enggan untuk melepaskan Mari dari hidupnya.

 

Lima orang mencintai satu orang yang sama hingga akhir hayat mereka. Satu orang yang dicintai. Tapi berapakah yang berhasil mendapatkan cinta dari satu orang itu?

Hanya satu. Hanya satu yang mendapatkannya. Hanya satu yang berhasil mendapatkannya karena berhasil mengekspresikan cintanya dengan benar.

Have you expressed your love to your love one in the right way?

END

3 Comments (+add yours?)

  1. i'm2IP
    Nov 22, 2015 @ 16:32:46

    Huwahhh.. tragis ceritanya hehehe.. jungsoo nya keren.. siwonnya mati mengenaskan T.T… Zhou Mi ada apa dengan mu? Huwahh..

    Reply

  2. HaeMyeon21
    Dec 08, 2015 @ 17:09:52

    Ceritanya menegangkan >< Zhoumi nya mah sadis banget, sampai-sampai Hae T.T. FF-nya bagus pokoknya, good luck buat author-nya ^^

    Reply

  3. Angelica SparKyu Sakurada
    Dec 22, 2015 @ 21:14:37

    sebelumnya maaf y inikan ff even siwon’s day tp knp saya ngrasa si daddy wonnie gk jd main cast ???

    tp terlepas dari itu saya suka kok ffnya seru😀

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: