[Siwon’s Day] When The Christmas Time

siwon smile to

Nama               : Grace Amalia Sinukaban

Judul Cerita     : When The Christmas Time (Oneshoot)

Cast                 : Choi Siwon (SuperJunior), Che Ri, Donghae(SuperJunior)

Other Cast      : Guru Lee, Hin Ah.

Genre              : Christmas, Comedy, Happy.

Rating              : Teenagers

Lenght             : OneShoot

***

Seoul Days News :

“La-Olive Chuseok kembali mengepakkan sayapnya”

Berita mengembirakan datang untuk para pecinta musik klasik di Korea Selatan. Seoul. Kabarnya, studio musik klasik ternama di Korea Selatan, La-Olive Chuseok akan kembali menggelar konser simfoni mereka pada malam tanggal 25 Desember 2012. Mengejutkannya, La-Olive Chuseok akan menampilkan orkestra yang beda dari biasanya, tidak tanggung-tanggung konser simfoni yang bertajuk The Christmas Eve ini akan diiringi oleh orkestra simfoni handalan mereka dan sekaligus oleh pianis ternama mereka, Choi Siwon. Konser ini akan menjadi konser musik klasik terbesar sepanjang masa di Korea Selatan.

Aku menghela nafas dan menutup Koran yang ku baca barusan. Aku menutup mata sejenak dan membuka kembali mataku perlahan dan menghembuskan nafas pelan-pelan. “Sangat indah” kataku sambil tersenyum. Lihatlah salju-salju turun menutupi dedaunan pohon cemara yang sudah di hiasi lampu-lampu Natal. Jalanan sangat ramai dengan pernak-pernik dan sangat penuh dengan hiasan Natal disana-sini.

Malam-malam seperti ini akan sangat sering terdengar lagu-lagu Natal di nyanyikan baik di Gereja-gereja, di rumah-rumah, maupun dari orang-orang yang berlintasan. Mataku berhenti pada sebuah patung boneka di tengah jalan kota Seoul yang indah ini. “Itu Santa Harajee” lirihku sambil mengingat masa kecil ku dulu. Ketika masih anak-anak aku sangat sering menanti-nanti Santa Claus untuk mengisi kaos kaki gantung yang ku gantung di dekat pohon Natal kamarku.

Aku sangat suka Natal. Bahkan sangat suka dengan semuanya saat Natal. “Ah!..disini kau rupanya, apa yang sedang kau lakukan siwon-ah?” tiba-tiba seorang laki-laki paruh baya masuk. “Kau harusnya juga ikut latihan malam ini. Semua orang sedang bekerja keras sekarang, aku tidak mau kau membuang-buang waktu mu. Tiga hari lagi kita akan konser” Kata laki-laki itu memakai jaket tebalnya. “Ne..guru Lee, aku hanya saja..” “kau hanya apa?” katanya memotong perkataanku. “Cepatlah turun dan berlatihlah dengan yang lainnya!” sahutnya lagi kemudian pergi meninggalkanku.

“Aku hanya saja merindukan appa dan rumahku” kataku melanjutkan perkataanku yang terpotong olehnya sambil menatap lekat-lekat jalan kota Seoul yang sangat indah ini. “Tepat dua belas tahun yang lalu….,ah! sudahlah lupakan saja” kataku dan bergegas menuju ruang latihan.

“ Aisshh…Kenapa kau baru datang?” sahut Donghae saat aku turun ke ruang latihan. “Mianhae..” sahut ku singkat sambil menunduk. “Kau tidak mau mengatakan sesuatu?” kata nya menatap wajahku penuh arti. “Anieyo..” jawabku menggeleng.“Yasudah.. lupakan saja, kajja kita harus latihan!” sahut Donghae mengajakku.

“Baik! perhatian semuanya…! aku mengambil alih” kata guru Lee sambil memegang microphone. Guru Lee adalah dirigen dari orkhestra ini. Dan selalu memandu kami semua. “Dengarkan aba-aba yang ku berikan” katanya lagi sambil menaiki vodium latihan. “Kalian pasti sudah tau bahwa kali ini kita akan mengadakan konser Orkestra Simfoni, yang mana didalam Orkestra ini terdiri dari 35 orang. Jadi aku mohon kerja sama dari kalian semua. Mengerti?” kata guru Lee pada kami semua. “Ne..” sahut kami bersamaan.

“Pertama, lagu yang akan kita mainkan kali ini adalah lagu yang sangat popular pada zaman 70-an, Red Rose and Dead Rose.”senyum guru Lee pada kami semua. “Mungkin sebagian dari kalian sudah ada yang pernah dengar lagu ini?” tanya guru Lee pada kami semua. “Saya!” sahut Donghae tiba-tiba mengacungkan tangannya yang sontak membuat kami semua memandang kearahnya. “Kau jangan bercanda Donghae” sahutku membisikkan ke telinganya. “Tenang saja, aku sudah tau persis lagu ini Siwon” balas Donghae pada ku. “Yak… Doanghae, coba ceritakan pada kami semua, bagaimana letak keistimewaan dari lagu ini.” Kata guru Lee lagi. “Eeehh… aku tidak tau dimana letak keistimewaan lagu ini”sahut Donghae terbata-bata. “Hahaha…hahaha……” satu ruangan menertawakan Donghae.

“Tapi aku bisa memberitahu apa isi dari lagu ini, kata Donghae mengepalkan tangannya. “Lagu ini berasal dari Italia, diciptakan oleh Johannes Brahms.” Katanya kini mulai serius. “Lagu ini menggambarkan suasana hati seorang pria yang sedang menanti-nantikan kekasihnya yang telah lama pergi. Ia selalu berkata bahwa di dalam diri kekasihnya itu, ada hatinya yang selalu berdetak, It’s my heart that’s beating there”. Jelas Donghae pada kami semua.

Semua orang terlihat diam terpukau dan menghayati perkataan Donghae. “Gomawo Donghae” kata guru Lee. “Bagus sekali, kau bahkan menghapal lirik lagunya Donghae. Benar sekali apa yang di katakan oleh Donghae, lagu ini mangandung makna kepiluan seorang laki-laki yang di tinggalkan oleh sang kekasihnya dan masih mengharapkan kekasihnya itu datang kembali. Kita akan memainkan lagu itu dengan membuatnya dengan gaya kita sendiri. Arasso?” sahutnya.

“Guru Lee, apa kau yakin kita semua dapat berlatih dalam waktu 3 hari?” lagu ini memiliki seni klasik yang sangat tinggi.” Sahut Hin Ah perempuan terpandai dalam mengharmonisasikan nada dalam studio ini. “Tak peduli lagu apa yang kita bawakan, sesusah apa lagu tersebut, Yang terpenting adalah saat dimana kalian memainkan musik kalian masing-masing dengan penghayatan yang tepat dan dapat di nikmati oleh orang nantinya, ini bukan studio artis sehingga kalian harus bersandiwara. Keluarkanlah penghayatan yang ada didalam diri kalian, dan kalian akan lihat bagaimana musik akan mengalun dan menjadi teman kalian.” Jelasnya lagi sambil memetik satu senar gitar, dan meletakkan gitar itu kembali. “Baiklah kalian semua harus beristirahat malam ini, besok pagi kita akan mulai latihan.” katanya sambil turun dari atas vodium dan meniggalkan ruangan latihan ini.

“Siwon? Apa kau melamun lagi?” Tanya Donghae tiba-tiba membuyarkan pikiranku. “kajja.. kita tidur, aku tidak membawa kunci kamar kita?” sahutnya sambil tertawa. “Dasar kau ini, bukankah kau selalu meninggalkan kuncimu di dalam laciku?” balas Siwon. “Heh enak saja kau” pukul Donghae padaku.

***

“Baiklah semuanya bangun!!!!!!!! , cepat munuju ruang latihan, sekaraaaaaaang jugaaaaa!!” suara microphone sudah terdengar di setiap rungan kamar.“Ah siwon-ah, kenapa kau pasang alarm begitu cepat?”kata Donghae sambil masih setengah sadar. “Ah kau ini babo sekali, itu bukan alaram, tapi bel peringatan.” Jelas ku sambil mengganti pakaian tidur ku. “Donghae, bangun!” kata ku sambil mengoyang-goyangkan tubuh Donghae beberapa kali. “Ini studio atau asrama sekolah sih?” protes Donghae saat menuruni tangga keruang latihan.

“Kertas lagu sudah di bagikan sejak tadi.” Kata Hin Ah. “Kalian bisa mengambilnya di meja latihan kalian masing-masing.” Tambahnya lagi. Semua tampak sedang latihan pemanasan dengan alat musiknya masing-masing. “Heh Donghae, lihat baju mu, kau masih menggunakan baju tidur lengkap” tawa beberapa anak laki-laki. “Ah diam kau” bentak Donghae lalu mengambil biolanya, dan mencoba memainkan beberapa nada.

Semua terlihat sangat serius berlatih. Aku mulai memainkan nada-nada klasik ku yang indah. Setiap nada yang terlantun dari pianoku selalu terkesan seperti memiliki makna tersendiri. Sehinggga membuat yang lain yang sedang berlatih terdiam saat mendengarkan musik yang kumainkan. “Ah dia memang sangat berbakat ya” Sahut Hin Ah memainkan biolanya. “Berbakat apanya?” gerutu Donghae mengikuti gaya bermain biola Hin Ah. “Berlatihlah yang serius, konser yang tinggal beberapa hari lagi.” Kata Hin Ah sambil memanyunkan bibirnya.

“Anyeong haseyo” tiba-tiba seorang gadis masuk keruang latihan. “Maaf aku terlambat ya” senyumnya sambil menunduk. Semua yang sedang latihan tampak kebingungan dengan kedatangan gadis itu. “Ah kau sudah datang rupanya” sahut guru Lee juga bersamaan datang dengan gadis itu. “Baiklah semua, perkenalkan ini nona Abela Che Ri” sahut guru Lee. “Mulai sekarang dia akan bergabung bersama dengan kita, dan mengambil posisinya sebagai pemain harpa tunggal.” “Wow….”orang-orang bertepuk tangan. “Ah tidak usah seperti itu” sahutnya sambil tersenyum. “Aku masih perlu bimbingan dari kalian semua” tambahnya lagi sambil menunduk sopan. “Baiklah mungkin kau bisa bergabung dengan mereka nona Che Ri” sahut guru Lee.

 

“Lihatlah Siwon-ah bukankah dia sangat cantik?” sahut Donghae sambil mengelus-elus biolanya. “Ah kau ini kampungan sekali, gadis mana yang kau maksud?” sahut ku yang masih fokus memainkan piano ku. “Jadi dari tadi kau sedang apa hah?” gerutu Donghae sambil menjitak kepalaku. “Auuuu… sakit!” teriakku sambil memukul lengan Donghae. “Putar kepala mu” kata Donghae memaksa memutar kepalaku saat itu. “Itu, gadis yang itu.” Sahut Donghae lagi. “oh itu, nona Che ri?” sahut ku sambil berbalik dan memainkan nada-nada piano kembali. “Kau ini, yang serius sedikit dong.” Kata Donghae cemberut. “Lihat dia begitu tenang dan terlihat sangat ramah. Cocok dengan mu” sahutnya lagi lalu mengambil kamera ku yang ku letakkan di atas meja dan berlari. “Awas kau Donghae” sahutku mengejarnya.

“Hey nona Che Ri” sahut Donghae. “Ne..” sahut perempuan ini sambil tersenyum. “Ambil ini” kata Donghae melempar kamera milik ku pada Che Ri. “Sial kau” sahutku dan tiba-tiba berhenti mengejar Donghae. “Selamat berjuang kawan” kata Donghae sambil cekikian lalu meninggalkan ku, sambil tertawa. “Siwon, apa yang sedang kau lakukan disitu?” tiba-tiba guru Lee melihatku. “Cepat kembali latihan” tambahnya lagi. “Ne….” jawab ku singkat sambil sedikit kesal dengan perlakuan Donghae. “Awas saja kau Donghae” ucapku dalam hati.

“Baiklah semua berkumpul” sahut guru Lee memberika pengarahan. “Seperti yang tertulis di sana, nada yang masuk pertama adalah nada dari alunan biola, mainkan setengah oktaf lalu kemudian masuk alunan saksofon. Ingat kalian harus bekerja sama untuk mengharmonisasikan nada yang setengah oktaf, arraso?” Jelas guru Lee. “Ne..” jawaban serentak terdengar bersamaan. “Baiklah, setiap lirik lagu yang ada tanda mutiaranya disini masukkan tempo Grench, selebih itu lakukan sesuai dengan yang tertulis disana. “Nah.. Siwon kau hanya perlu memainkan nada-nada klasikmu dan iringin kami semua, bagaimana kau siap?” Tanya guru Lee “Ne…guru” sahutku singkat sambil mengangguk.

Semua kini berlatih dengan serius. Guru Lee juga. Setiap nada yang keluar dari alat musik yang kami mainkan terasa bagitu memenuhi ruangan latihan yang luas ini. Benar yang di katakan guru Lee lagu Red Rose and Dead Rose ini benar-benar lagu yang mengandung makna yang sangat memilukan. Aku memainkan nada-nada klasik dari pianoku. Dan melihat seorang gadis memetik harpanya disana. Lagi ini benar-benar membuatku kembali teringat pada appa ku. “Aku sangat merindukannya” lirihku dalam hati.

***

“Dasar kurang ajar” sahut ku pada Donghae sambil menjitak kepalanya, saat jam latihan sudah selesai. “Apa-apaan kau, waeyo?” gerutu Donghae membetulkan poninya ke samping. “Maksud mu apa memberikan kamera ku pada Che Ri?” tanyaku pada Donghae lagi. “Hahaha, kau ini marah-marah saja” kata Donghae. “Jelas aku marah, dasar babo” kata ku kesal padanya. “Apa kau bilang?” tanya Donghae lagi. “Harusnya kau berterimakasih padaku, karna dengan tak-tik ini kau bisa menemuinya lagi di luar jam latihan.” Jelas Donghae pada ku sambil tidur-tiduran. “Sudah sana datang saja kekamarnya, eh…. maksudku ke taman samping, dia sedang disana sekarang.” Kata Donghae sambil memainkan ponselnya. “Awas saja kau” kataku sambil pergi meninggalkan kamar.

“Ah permisi nona..”sahut ku sopan menghampiri Che Ri. “Ne.. kau Choi Siwon bukan?” tanya Che Ri dengan senyuman khasnya. “Benar kata Donghae matanya tangan cantik dan indah.” Sahutku dalam hati. “Ne.. dari mana kau tau namaku?” jawabku agak gugup. “Tadi temanmu Donghae memberitahuku.” Katanya sambil membuka tasnya. “Ini kamera mu” tambahnya lagi sambil menyodorkan kamera digital milik ku. “Gomawo” kataku sambil tersenyum. “Kau mau duduk? duduk saja” tawar Che Ri padaku, sedikit menggeser posisi duduknya. “Apa yang kau lakukan disini” aku bertanya penasaran pada nya. Che Ri terdiam sesaat, ia melihat ke langit. “Aku sering melihat bintang saat malam begini”ujar Che Ri padaku sambil melihat wajah ku yang membuat ku sedikit resah, lalu melihat ke langit lagi. “Hah? Bintang? Apa kau tidak salah, aku tak satupun melihat bintang di sini” sahut ku pada Che Ri

Che Ri hanya tersenyum pada ku dan menutup matanya. “Tak perlu tahu dimana bintang itu berada, aku sudah sangat hapal dengan mereka” katanya Che Ri seolah-olah memiliki telepati dengan keberadaan bintang-bintang. Aku semakin bingung. “Tutup matamu” kata Che Ri padaku. “Mwo…?” sahutku bingung. “Iya tutup saja matamu”. Katanya lagi. Aku mengikuti apa yang dikatakan oleh Che Ri. “Bayangkan kau sedang melihat bintang di langit, siapa yang sedang ingin kau lihat saat ini?” kata Che ri padaku sejenak. Aku terdiam dan mulai mengikuti apa yang dikatakan oleh Che Ri. “Appa ku” sahut ku tidak sanggup sambil membuka matanya.

Che Ri tersenyum manis padaku. “Ceritankalah, aku memperhatikanmu sepertinya kau sangat tertekan.” Kata Che Ri yang kini menatap mata mataku. Aku terdiam, dan masih enggan unutk bicara. “Aku tidak tahu bagaimana persis kejadian itu, yang kuingat waktu kejadian itu tepat malam Natal dua belas tahun yang lalu, aku tinggal hanya bersama appaku. Dan waktu itu aku tidak tahu kenapa appaku di bawa oleh rombongan polisi dan meninggalkanku sendirian di pinggiran jalan, aku sudah berusaha menangis dan meminta tolong tapi… seperti nya aku masih sangat kecil waktu itu dan sampai akhirnya aku dibawa oleh seorang laki-laki yang tidak kukenal kesini. Ke studio ini. Itulah sebabnya mengapa aku sangat suka saat-saat Natal, karna hanya saat itu ingatan ku tentang keluargaku yang sesungguhnya, bahkan tentang hidupku yang bisa ku ingat. Saat Natal.” Jelas ku menatap lekat-lekat jalanan.

Che Ri hanye terdiam, dia hanya menepuk pundak ku beberapa kali. “Jadi selama ini kau tinggal di studio ini ya?” sahut Che Ri. “Ne…” jawab ku singkat sambil menanggukkan kepala ku. Sebenarnya banyak yang ingin Che Ri tanyakan seputar kehidupan Siwon namun ia masih memberikan waktu kepada Siwon untuk menenangkan diri. “Tenang saja, aku tahu pasti apppa mu juga sangat merindukanmu disana” kata Che Ri mencoba menghibur ku. Aku lalu memeluk erat Che Ri. “Bersabarlah, Tuhan pasti punya rencana yang baik untukmu dan appamu” kata Che Ri lagi. “Maafkan ku” sahutku karna tidak sengaja memeluknya, sambil melepaskan pelukannya. “Ah tidak apa-apa, saat-saat seperti ini kau memang butuh teman bicara”. Kata Che Ri sambil tersenyum.

Aku kini merasa sedikit lega. Disamping ku sedang duduk seorang gadis yang mampu membuatku lebih kuat dan tenang. “Lihat sangat indah bukan?”sahut Che Ri menunjukkan jalanan kota Seoul yang indah ini. “Benar aku juga sangat suka melihatnya” kata ku tersenyum memandang Che Ri. “Apa yang ada dipikiranku, apakah aku suka pada Che Ri?” tanyaku dalam hati. “Ini malam Natal bukan?” antusias Che ri pada Siwon. “Iya sebentar lagi pukul 24:01” senyum ku. “Tunggu apa lagi?” kata Che Ri padaku.

“Kajja…” kata Che Ri sambil menarik tangan ku dan mengajak ku pergi. “Kau mau membawa ku kemana?” Tanya ku pada Che Ri kebingungan. “Sudah cepat, nanti kita ketinggalan” katanya lagi. Kami berlari di jalanan yang indah ini. Jalanan masih ramai karna ini malam Natal. Restaurant pun sepertinya kebanjiran pengunjung, bahkan anak-anak kecil masih bermain di toko mainan. Kami berhenti tepat di depan patung boneka besar ini. Patung santa Claus. Tapi aku masih tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Che Ri. “Ayo kita mulai” sahut Che Ri yang sudah siap memegang gumpalan salju di tanganya dan melemparkan ke wajahku. “Ah kau ini” kataku sambil tertawa. “Hahaha…Bukankah dulu waktu kecil kau juga suka bermain ini?” Tanya Che Ri pada ku. Aku terdiam sepertinya kenangan hidup masalalu ku kini ada yang teringat. “Plak!” lemparan salju Che Ri tepat mengenai muka ku lagi. “Heh kau ini” aku juga ikut-ikutan melempar dan bersenyembunyi di balik patung boneka itu.

Aku dan Che Ri saling lempar-melempar. Beberapa kali salju lemparan ku mengenai wajah Che Ri begitu juga sebaliknya. “Merry Chistmas Siwon” ucap Che Ri pelan saat ia membentuk gumpalan-gumpalan salju di tangannya. “Merry Christmas Che Ri” kataku lembut dan tersenyum padanya. Lonceng-lonceng dari Gereje pun berdencingan berdampingan menandakan bahwa hari Natal telah tiba.

****

Ruang utama La-Olive Cheseok. 25th December 2012. 18:45.

Konser sebentar lagi akan mulai. Tampak penonton sudah sangat padat didalam dan mengambil tempat duduk. “Baik semua bersiap-siap, oke” sahut guru Lee. Aku menatap Che Ri yang sedang berada disana sedang menyiapkan harpanya. “Ee… Siwon” panggil guru Lee. “Selamat Natal” kata guru Lee sambil memelukku. “Selamat Natal juga guru” balas ku lagi. “Terimakaish atas dukunganmu selama ini semenjak aku berumur empat tahun” tambah ku lagi meneteskan air matanya. “Kaulah satu-satunya keluargaku” ujar ku melepaskan pelukannya. “Aku yakin pasti appa mu sangat bangga memiliki anak sehebat kau” tambah guru Lee sambil melepaskan pelukannya. “Sukses untuk konser mu anak muda” kata guru Lee sambil tertawa. “Kau juga, sukses untuk dirigennya” kata ku lagi bersemangat.

“Baiklah marilah kita sambut ini dia, orkestra La-Olive Cheseok” kata mc di sambut tepuk tangan yang sangat meriah dari penonton. Guru Lee sudah mengambil bagiannya di depan kami semua dan bersiap-siap memberi aba-aba pada kami. Perlahan musik mengalun begitu indah, penonton terdiam dan terhenyak menyaksikan pertunjukan. Aku memainkan musik klasikku dengan sangat tenang. Musik demi musik yang keluar dari setiap alat musik kami memenuhi ruangan yang megah ini. Nada demi nada yang kami lantunkan, bahkan lagu Red Rose And Dead Rose berhasil membuat penonton terdiam dan sangat terpukau. Sampai akhirnya aku mendengar tepukan yang sangat meriah dari penonton di akhir konser kami.

***

“Selamat natal, bro” tiba-tiba Donghae datang memeberi selamat padaku. “Ah dari mana saja kau” aku langsung memeluk Donghae. “Selamat Natal Donghae, sahabatku paling bawel” kataku sambil tertawa. “Ah kau ini” sahut Donghae lagi. “Aku harus menemui seseorang dulu ya” kata Donghae tiba-tiba pergi. “Dada…..” katanya sambil melambaikan tangan. “Yah Donghae! pergi meninggalkanku, padahal aku ingin menghabiskan malam hari Natal ini bersamanya” Sahut ku dalam hati sambil kesal dengan perlakuannya.

“Che Ri” panggilku pada Che Ri yang saat itu sedang duduk didekat pohon Natal. “Selamat…” sapa ku sambil menjulurkan tangan. “Permainan musik mu sangat indah” kata ku. “Ah kau ini, kau rajanya” kata Che Ri menggoda. “Apa yang sedang kau lakukan disini?” Tanya ku pada Che Ri. “Aku sedang menunggu seseorang” kata Che Ri singkat sambil memandang ke sekeliling ruangan. Namun Che Ri tampak gelisah. “Oh… siapa yang sedang kau tunggu? Apa keluargamu?” Tanyaku lagi. “Ah.. bukan, sesorang. Tadi dia menonton pertunjukkan, aku takut dia kesasar.” Kata Che Ri cemas. “Kau tunggu disini sebentar ya.” pinta Che Ri. “Aku mau memastikan dia dulu, ingat jangan pergi-pergi” kata Che Ri padaku

“Siapa dia? apa dia sepenting itu untuk Che Ri?”cemas ku dalam hati. “Ah kenapa aku ini” kata ku sambil mengacak-acakkan rambutku. “Apa aku cemburu pada orang itu? ah dasar payah” ujar ku lagi. “Siwon…” panggil Che Ri tiba-tiba. “Loh mana orangnya?” tanyaku penasaran. “Sabarlah ia akan datang, Tapi sebelumnya aku punya hadiah untukmu?” kata Che Ri sambil senyum-senyum. “Mwo?” hadiah ? hadiah Natal maksudmu?” Tanya ku sambil kebingungan. “Ne.. sudah tutup matamu” “Tapi aku” sudah diam saja kata Che Ri memotong pembicaraanku. “Dasar cewek aneh” pikir ku dalam hati.

Aku menutup mataku. “Jika aku bilang buka, kau harus membukanya” kata Che Ri berbisik di telingaku. Aku menganggukkan kepala. “Buka!” kata Che Ri pelan. Aku membuka mataku perlahan dan melihat ke sekeliling, “Tidak ada apa-apa” sahut ku. Dan melihat sosok laki-laki sedang berjalan dari ujung pintu, memakai baju rapi dan terlihat masih sangat muda. Aku berfikir sejenak “siap dia?” tanyaku dalam hati.

 

“Apa maksud mu?” Sahut ku bertanya pada Che Ri. “Lihatlah dia” bisik Che Ri pada ku lagi. Aku terus-menerus terdiam. Semakin lama laki-laki itu semakin dekat dengan kami. Aku terdiam dan mulai mengeluarkan air matanya. “Appa?” panggilku lirih. Dan air mata ku mengalir sangat deras. “Appa?” panggil ku lagi. “Siwon? itukah kau Siwon anakku?” kata laki-laki itu. Aku berlari menghampiri appa ku dan memeluknya erat-erat. “Ohh…anakku” sahut laki-laki itu bahagia pada ku. Tak henti-hentinya aku mengeluarkan airmata.

“Selamat Natal anakku” sahut laki-laki itu pada ku saat melepaskan pelukannya. Aku masih tidak percaya dengan apa yang lihat saat ini. “Selamat Natal appa” kata ku lagi. “Liahatlah kau sudah besar dan sudah sukses sekarang, appa sangat bangga padamu” kata laki-laki mengahapus air mata ku. “Maafkan appa nak, karna waktu itu appa…” “sudahlah appa, tidak apa-apa, yang penting sekarang aku bisa kembali lagi kerumah kita” senyumku melihatkan kegembiraannya dan kembali memeluk erat appa ku ini.

Che Ri hanya berdiri dan mengahpus airmatanya yang sudah terjatuh.”Gomawo Che Ri” kata laki-laki itu pada Che Ri. Che Ri hanya tersenyum.”tanpa kau aku tidak akan pernah bertemu dengan anakku ini” tambahnya lagi. Aku melihat kearah Che Ri dan berharap Che Ri menjelaskan sesuatu. “Ya ini aku Siwon, Abela.. teman kecil mu dulu” senyum Che Ri singkat sambil menyanyikan sebuah lagu masa kecil dia dan Siwon dulu.

“Hai kelinci kecil kau hendak mau kemana..” sahut Che Ri sambil bernyanyi. “kalau kau hendak ke rumahmu, aku akan ikut bersamamu” sahutku sambil bernyanyi melanjutkan nyanyian kecil mereka dulu. Aku menghampiri Che Ri dan memelukknya. “Jadi selama ini kau?” sahut ku sambil mengelus lembut kepala Che Ri. “Apa kau masih menyimpannya oppa?” sahut Che Ri sambil melepaskan pelukan ku. “Tentu..” jawab ku dengan mantap. Dan saat itu kami saling mengeluarkan lonceng Natal kecil dari kantong kami. Dan kemudian menggerak-gerakkan lonceng kecil itu secara bersamaan. Lalu aku memeluk erat tubuh Che Ri dan berbisik.

“Gomawo nae Che Ri…kau tetap yang terbaik bagiku sampai sekarang” kataku penuh kebehagiaan.

 

 

-THE END-

1 Comment (+add yours?)

  1. i'm2IP
    Nov 22, 2015 @ 14:33:36

    Mwooo?… ceritanya gak ketebakkkk.. keren thor.. aku suka pas bagian yg ada lagu2nyaaa.. hihihihi😀

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: