[Siwon’s Day] It Has To Be You

c3fe28fd04fa00424039c54b1f912ed6

[SIWON’S DAY]

Title            : It Has To Be You

Author         : JUNG

Cast            : Choi Siwon; Jung Eunwook (OC)

Genre                  : Romance, Angst

Rating                  : PG-13

Length         : Oneshoot

Ps               : This story is originally written by me. Do not copy. Please respect. ^_^

 

It’s okay whether I will hurt

Because I only fall in love with you

And I promise to love for the rest in my life

 

Langit biru menyambutmu saat kau keluar dari rumah itu. Rumah minimalis berwarna putih dengan halaman yang luas. Rumah dengan desain yang kau impikan dengannya. Kau dan dia memang menginginkan rumah dengan halaman yang luas karena kau ingin anak-anakmu nanti tidak perlu bermain jauh-jauh karena mereka bisa bermain di halaman rumah. Sudut bibirmu terangkat membentuk sebuah senyuman membayangkan anak-anakmu berlarian di halaman. Saling berkejaran, tertawa bahkan menangis bersama. Sedangkan kau hanya duduk di teras mengawasi mereka dengannya.

 

Imajinasimu tentang anak-anak yang bermain di halaman rumah berakhir saat sebuah suara mengiuterupsinya. Kau mengalihkan matamu ke arah langit biru nan cerah itu. Matamu menyipit saat melihat sebuah objek terbang di atas langit. Sebuah pesawat melintas di langit. Rumahmu yang berada di kawasan Incheon membuatmu terbiasa dengan suara desingan pesawat saat take off. Matamu semakin menyipit saat kau juga mengulas senyum saat melihat pesawat itu. Sebuah pintu yang ada di ruang memori tentangnya terbuka. Kau kembali bernostalgia dengan kenangan bersamanya.

***

Ladies and gentlemen, the plane will be landing about ten minutes again. Please wear your seat belt. Thanks for your attention,”

 

Kau menurunkan buku yang sejak tadi kau baca untuk mengurangi kebosananmu berada di pesawat. Buku yang sudah menemanimu selama penerbangan dari Bali menuju Seoul kau masukkan ke dalam tas. Seperti yang pramugari katakan tadi kau memakai seat belt karena pesawat yang kau naiki sejak delapan jam yang lalu akan mendarat sebentar lagi. Sudut bibirmu perlahan terangkat melihat bandara Incheon yang sudah ada di depan mata. Kau tidak bisa menahan kebagaiaanmu karena kau bisa kembali ke tanah kelahiranmu dengan selamat setelah berlibur ke Bali selama empat hari.

 

“Tolong! Tolong!”

 

Suara teriakan seorang pria mengacaukan fokusmu yang berbahagia karena kembali ke tanah kelahiranmu dengan selamat. Seorang pria yang duduk di seberangmu berteriak meminta tolong. Ternyata wanita yang duduk di sebelah pria itu tengah merintih kesakitan sambil memegangi dada bagian kirinya. Dahimu berkerut melihat wanita itu juga tersenggal nafasnya. Seluruh kabin menjadi riuh saat wanita itu kehilangan kesadarannya.

 

“Tolong! Tolong!” pria yang duduk di sebelah wanita yang tidak sadarkan diri itu terus berteriak meminta tolong.

 

Kau yang merupakan seorang dokter tergugah. Tanganmu mulai melepaskan seat belt dan bersiap memberikan pertolongan pada wanita yang menurut diagnosanya terkena serangah jantung.

 

“Ada apa, Ahjussi?”

 

Sebelum kau beranjak dari dudukmu, wanita yang duduk di sebelahmu sudah terlebih dulu beranjak dari duduknya. Wanita yang bahkan sejak pesawat take off tidak menatapmu itu melepaskan seat belt wanita itu dan membaringkannya di koridor pesawat. Masih dengan seat belt yang sudah kau lepas kau melipat kedua kakimu dan melihat apa yang akan dilakukan wanita itu.

 

“Aku tidak tahu. Istriku kesakitan dan pingsan,”

 

“Biar aku periksa. Aku seorang dokter,”

 

Sudut bibirmu sedikit terangkat mengetahui wanita yang duduk di sampingmu itu juga memiliki profesi yang sama denganmu. Wanita yang tampak lebih muda darimu itu menempelkan jarinya ke nadi dan juga hidung wanita yang terkena serangan jantung itu. Kau bisa melihat kerutan di dahinya. Pasti dia tidak bisa merasakan denyut nadi dan nafas, ucapmu dalam hati.

 

Ahjussi, sepertinya istrimu terkena serangan jantung,”

 

Kau berdecih saat wanita itu mengucapkan kata sepertinya dalam mengatakan diagnosa. Bagaimana bisa seorang dokter memberikan diagnosa dengan mengucapkan kata sepertinya? Kau hanya bisa menggelengkan kepalamu melihat wanita itu kini mulai memberikan CPR pada wanita yang tidak sadarkan diri.

 

Hana.. Dul.. Set..”

 

Kau bisa mendengar wanita itu tengah menghitung sambil melakukan kompresi dada. Kau kembali berdecih untuk kedua kalinya. Kali ini bukan karena diagnosa yang berisi probability dari wanita yang mengaku dokter itu. Tetapi karena kau tidak tahan dengan wanita yang melakukan kompresi dada namun tanpa tenaga itu.

 

“Minggir!”

 

Kau beranjak dari tempat dudukmu dan menyingkirkan tangan wanita itu. Kau melanjutkan kompresi dada yang dilakukan wanita itu.

 

Mwoya?” tanya wanita itu yang tidak terima jika kau mengambil alih pekerjaannya.

 

“CPR,” jawabmu singkat.

 

“Biar aku yang melakukannya. Aku seorang dokter,” wanita itu bersikeras ingin melakukan CPR. Bahkan wanita itu berusaha menyingkirkan tanganmu dari tubuh wanita itu.

 

“Tsk!” kau berdecak. Kau mendongakkan kepalamu hingga bisa melihat dengan jelas wajah wanita yang mengaku sebagai dokter itu.

 

“Kau seorang dokter? Bagaimana seorang dokter memberikan diagnosa dengan menggunakan kata sepertinya? Bagaimana bisa kau yang seorang dokter melakukan CPR tanpa tenaga seperti tadi? Bagaimana jantungnya bisa memompa darah ke seluruh tubuh jika kau melakukan CPR seperti orang depresi seperti itu?!” sentakmu.

 

“Kau-“

 

“Beri nafas buatan,” selamu.

 

“Oh,” wanita itu mengangguk dan memberikan nafas buatan sementara kau melanjutkan kompresi dada.

 

“Nadinya sudah teraba,” ucap wanita itu setelah memeriksan denyut nadi.

 

Matamu melirik wanita itu dengan tatapan tidak percaya. Lantas kau membuktikan sendiri untuk memastikan bahwa nadi wanita yang terkena serangan jantung itu sudah teraba. Dalam hati kau sependapat dengan diagnosa wanita itu.

 

“Denyut-“

 

“Denyut nadinya sudah teraba. Segera hubungi 119 setelah pesawat landing,”

 

Kedua matamu membulat saat wanita itu menyela perkataanmu yang akan memberikan diagnosa. Melihat ekspresi kesalmu wanita itu mengulas senyum. Kau hanya bisa menggertakkan gigimu. Kau tidak tahu siapa aku, ucapmu dalam hati.

 

“Syukurlah. Terimakasih, Euisa-nim,” pria itu berterimakasih padamu dan wanita itu yang sudah memberikan pertolongan pada istrinya.

 

YA!” wanita itu berseru saat pesawat mengalami sedikit goncangan saat landing. Wanita itu kehilangan keseimbangannya dan nyaris membentur kursi. Dengan cepat kau mengulurkan tanganmu untuk menahan kepala wanita itu agar tidak membentur kursi.

 

“Singkirkan tanganmu,” wanita itu menyingkirkan tanganmu yang masih berada di kepalanya.

 

Paramedis segera masuk ke dalam pesawat untuk mengevakuasi wanita yang terkena serangan jantung tadi.

 

“Wanita itu terkena serangan jantung. Aku sudah melakukan CPR. Tinggal lakukan observasi,” ucapmu pada paramedis sebelum wanita itu bersuara.

 

Arraseo,” ucap paramedis sebelum berlalu menuju ambulans.

 

Heol! Kau pintar sekali mencari muka,” wanita itu bersuara.

 

“Memangnya mukaku kemana sampai aku harus mencarinya?” tanyamu dengan nada mempermainkan.

 

Wanita itu hanya menatapmu tajam. Giginya menggertak pertanda dia kesal sama sepertimu tadi.

 

“Itu lebih baik jika aku pintar mencari muka daripada kau yang tidak tahu berterimakasih, bodoh dan-“ kau menatap wanita itu dari ujung kaki hingga ujung kepala. Penampilan wanita yang mengaku sebagi dokter itu membuatnya berpikir ulang. Apakah benar dia benar-benar seorang dokter? Rambut ikal panjang berwarna mahogany yang diikat secara asal-asalan, kaos putih kebesaran dengan hot pants berwarna biru serta sneaker bermerek.

 

“-depresi,” kau melanjutkan ucapanmu setelah menyimpulkan wanita itu melalui penampilan.

 

Kedua mata wanita itu membulat begitu kau mengatakan bahwa dia depresi. Sudut bibirmu terangkat melihat wanita itu semakin kesal. Bahkan bisa jadi tekanan darah wanita itu sudah naik.

 

Mwo? Depresi?” dia menyentakmu tidak terima dikatakan depresi.

 

“Uhm. Kau harus rajin berkunjung di psikiater untuk menyembuhkan depresi dan gangguan kepribadianmu. See ya!”

 

Kau melambaikan tanganmu sambil berjalan keluar dari pesawat. Senyummu mengembang mendengar seruan tidak terima dari wanita yang kau vonis depresi dan memiliki gangguan kepribadian.

***

“Pertemuan pertama kita,” gumammu setelah mengenang bagaimana kau bertemu dengannya untuk pertama kali. Pertemuan yang menjadi awal benang merah yang menyatukan hatimu dan juga hatinya. Kau tidak pernah bisa melupakan kenangan tentang pertemuan pertama itu.

 

Kau kini beranjak untuk melakukan aktivitasmu yang selanjutnya. Kau sudah mengenakan kemeja berwarna prussion blue dengan celana putih. Mobil Hyundai-mu juga sudah dipanaskan. Kau akan memulai aktivitas rutinmu yang sudah kau jalani sepuluh tahun belakangan. Pergi ke rumah sakit untuk melakukan pekerjaanmu sebagai seorang dokter anestesi.

 

Akhirnya kau sampai juga di gedung bertingkat dengan tulisan ‘Inha Medical Center’, rumah sakit tempatmu bekerja. Senyum dan sapaan menyambutmu yang baru saja melangkahkan kaki ke gedung itu. Kau yang ramah juga membalasnya dengan senyum manis. Kau memang senang tersenyum karena senyummu adalah sesuatu yang paling dia sukai. Sesuatu yang membuat dia jatuh cinta padamu.

 

YA! Berhenti disana! Tangkap dia!”

 

Kau tersentak kaget saat melihat beberapa dokter, perawat dan security berlarian keluar dari gedung rumah sakit. Tatapan matamu mengikuti langkah lari mereka untuk mengetahui apa yang membuat keributan di rumah sakit pagi hari.

 

“Biasa. Pasien Departemen Psikiatri kabur,” ucap sebuah suara yang kembali mengalihkan fokusmu. Seorang pria kini berdiri di sampingmu yang tengah melihat pengejaran pasien gangguan jiwa dari Departemen Psikiatri.

 

“Kau tidak ikut mengejar, Kim Euisanim?” kau bertanya pada pria yang berdiri di sampingmu. Pria bernama lengkap Kim Jongwoon, dia seorang psikiater.

 

“Biar dokter magang saja yang mengejar. Kita tinggal mengawasi dan memarahi mereka,” jawab Jongwoon santai.

 

Tsk! Kau memang sadis,” ucapmu bercanda.

 

Tatapan matamu kembali terfokus pada pengejaran pasien dari Departemen Psikiatri setelah kau berbasa-basi dengan Jongwoon. Tanpa disadari bibirmu mengulas senyum melihat pengejaran pasien Departemen Psikiatri yang melibatkan banyak pihak.

 

“Teringat seseorang, hmm?” Jongwoon kembali bersuara saat mendapatimu tengah mengulas senyum.

 

“Uhm,” gumammu sambil membuka pintu dari salah satu ruang di otakmu yang berisi kenanganmu dan dia.

***

YA! Stop!”

 

Kau yang sedang meregangkan tubuhmu pasca melakukan operasi selama berjam-jam tersentak kaget oleh sebuah suara. Seorang pria dengan pakaian pasien berlari cepat sambil berteriak. Di belakangnya seorang wanita dengan jas putih berlari mengejar pasien tersebut. Pasien sakit jiwa, batinmu yang sudah tahu jika pasien yang melarikan diri itu pasien dari Departemen Psikiatri. Departemen yang menurutmu sangat rusuh karena berisi pasien dengan gangguan jiwa.

 

“Aku ingin pulang!” teriak pasien itu sambil berlari keluar dari lobi rumah sakit.

 

YA! Kau belum bisa pulang! Kau masih butuh perawatan!”

 

Matamu menyipit saat sosok dokter wanita yang mengejar pasien itu melintas di hadapannya. Seperti pernah melihat, ucapmu dalam hati. Saat itu pula kau mengajak otakmu untuk mengingat kejadian yang sudah berlalu yang membuatnya teringat pada dokter yang mengejar pasien tadi.

 

“Ahh,” kau menjentikkan jarimu dan menganggguk. Kau akhirnya menemukan kejadian apa yang membuatmu mengingat dokter tadi.

 

Pesawat.

 

Ya, dokter yang tengah berlari mengejar pasien adalah wanita yang duduk di sebelahmu dalam penerbangan dari Bali kembali ke Seoul. Wanita yang mengaku sebagai seorang dokter. Wanita yang melakukan CPR tanpa tenaga seperti orang depresi. Ya, wanita yang mengatai dirimu pintar mencari muka. Wanita yang menurutmu tidak tahu berterimakasih, bodoh dan depresi. Wanita yang menurutmu harus berkunjung ke psikiater.

 

Ya, dia.

 

Heol!” gumammu saat menyadari bahwa wanita itu memang dokter yang bekerja di rumah sakit yang sama dengannya.

 

Ganhosa-nim (perawat), siapkan ambulans. Gyeongbi-nim (satpam), kepung dari arah sana! Aku yang akan mengejar!” dia kembali berseru pada perawat dan security untuk menangkap pasien gangguan jiwa tersebut.

 

Entah mengapa sudut bibirmu terangkat saat melihatnya sudah berlari jauh hingga tidak terjangkau oleh pandanganmu. Bahkan kau tidak memikirkan lagi rasa lelah yang mendera tubuhmu pasca melakukan operasi berjam-jam. Kau berlari dengan cepat mengikuti kemana dia berlari.

 

Kakimu yang panjang sangat membantumu dalam berpartisipasi dalam pengejaran pasien dari Departemen Psikiatri itu. Dia yang semula tidak tampak dalam pandanganmu kini mulai terlihat. Kau tersenyum kagum padanya karena bisa memperpendek jarak antara dirinya dan pasien gangguan jiwa.

 

Pasien gangguan jiwa itu menyadari bahwa dia semakin dekat. Bahkan dia melihatmu yang ikut mengejar. Tersisa tiga meter jarak antara dirinya dengan pasien itu. Pasien itu memilik menyeberang jalan untuk menghindari kejaran. Dia juga tidak menyerah mengejar pasien yang melarikan diri. Kau? Kau tidak bisa berbohong kalau kau mulai kehilangan glukosamin di kakimu. Langkah larimu melambat. Kau terengah-engah melihat jarak antara dirimu dan dia itu semakin panjang.

 

“Awas!”

 

Tetapi kau tidak kehilangan tenaga untuk berteriak saat sebuah mobil melaju dan hampir menabrak pasien gangguan jiwa. Kedua matamu refleks terpejam karena tidak sanggup dengan apa yang terjadi selanjutnya. Kau hanya mendengar suara decitan ban yang kemudian disusul suara teriakan. Kau membuka matamu secara perlahan. Walau kau sudah biasa berhadapan dengan darah saat di ruang operasi, tetapi kau belum terbiasa dengan melihat orang kecelakaan tetap di hadapanmu.

 

Oh my God!” ucapmu setelah matamu menangkap apa yang terjadi.

 

Kau melihat dua orang terkapar di jalan. Pasien gangguan jiwa dan dia. Matamu membulat melihat dia itu turut terkapar di jalan. Kakimu yang sudah kehilangan glukosamin langsung berlari menuju tempat kejadian. Pasien gangguan jiwa itu tengah mengaduh merasakan lengannya yang terkilir dan segera dievakuasi perawat yang mengejar dengan ambulans. Sementara dia yang menjadi alasanmu ikut dalam pengejaran itu terkapar tidak sadarkan diri.

 

YA! Jung Euisa-nim!” serumu setelah membaca ID card di jas putihnya. Kau meraih tubuhnya dan mengguncangnya untuk memastikan bahwa dia masih tersadar.

 

“Jung Eunwook!” kau terus memanggilnya saat kau melihat pergerakan dari kelopak matanya yang baru kau ketahui namanya. Kini dia membuka mata dan langsung menatapmu yang ada di hadapannya. Bibirnya bergetar untuk mengatakan sesuatu.

 

“Pasien-“

 

“Sudah tertangkap dan dibawa ke rumah sakit,” selamu yang sudah tahu apa yang akan dia katakan. Kau salut padanya yang masih memikirkan pasien disaat dia terluka seperti ini.

 

Sudut bibir wanita itu terangkat mengetahui pasien yang dikejar dengan susah payah sudah tertangkap. Kekhawatiran menyergapmu melihat tanganmu yang kini ternodai darah yang berasal dari kepalanya. Kekhawatiranmu kini berubah kepanikan karena dia sudah tidak sadarkan diri di lenganmu.

 

YA! Jung Eunwook!” kau kembali memanggil namanya saat dia kini kembali kehilangan kesadarannya.

***

“Choi Euisa-nim,”

 

Suara Jongwoon yang memanggilmu membuatmu mengakhiri aktivitasmu bernostalgia dengan kenanganmu dan dia. Kau masih mengulas senyum walau kau sudah kembali pada kenyataan. Tetapi kenangan yang baru saja kau pikirkan membuatmu tidak berhenti tersenyum.

 

“ER sedang ramai. Ingin ikut membantu?” ajak Jongwoon.

 

“Uhm,”

 

Kau menganggukkan kepalamu tanda setuju pada ajakan Jongwoon. Setidaknya ini bukan ide yang buruk membantu pekerjaan di ER karena kau tidak mempunyai pekerjaan pagi ini. Kau hanya memiliki jadwal operasi jam satu siang.

 

Euisa-nim, tolong anakku,” ucap seorang wanita yang membawa seorang balita padamu.

 

“Uhm. Sebelah sana, Eommonim,” ucapmu sambil menunjuk pada ranjang kosong yang ada di ER.

 

Sudut bibirmu terangkat melihat ranjang kosong dengan selimut biru yang ada di sudut ER. Hanya sebuh objek seperti itu sudah membuat pintu ruang memorimu terketuk. Kau tidak bisa menolak untuk membuka pintu itu dan melihat isi dari ruang memori yang baru saja terbuka.

***

Sudut bibirmu terangkat membentuk senyum melihat dia mulai menggerakkan kelopak matanya. Kau terus menatapnya tanpa ingin melewatkan setiap detik dari proses dia mengumpulkan kesadarannya setelah kecelakaan tadi.

 

“Arrggh!”

 

Kau mendengar suara rintihannya saat dia siuman. Dia merintih karena efek anestesi yang sudah berakhir. Membuatnya merasakan sakit akibat luka yang dia derita.

 

“Kau sudah siuman?” tanyamu. Kau tidak menyembunyikan kebahagiaanmu melihat dia yang sudah siuman. Kekhawatiran yang menyergapmu saat dia tidak sadarkan diri sirna sudah.

 

Mwohae?” tanyanya saat kesadarannya kembali.

 

Kau tersenyum geli melihatnya meraba setiap bagian tubuhnya untuk menemukan luka yang dia derita. Ringisan kembali keluar dari bibirnya saat dia menemukan luka tersebut. Ada dua luka yang membuatnya kesakitan, di kepala dan di tangan kanannya.

 

Mwohae?” dia kembali bertanya padamu yang tengah mengamati tingkahnya.

 

Kau tersadar bahwa kau harus menjawab pertanyannya. Kau memperbaiki posisi dudukmu untuk menunjukkan wibawamu sebagai seorang dokter senior. Ya, selain kau mengetahui namanya kau juga mengetahui bahwa dia adalah seorang dokter magang di Departemen Psikiatri.

 

“Kepalamu terluka akibat benturan tadi. Kau juga meretakkan tangan kananmu,”

 

“Oh,” gumamnya singkat.

 

“Oh?” ucapmu tidak percaya bahwa dia akan bereaksi seperti itu. Oh? Kau tercengang dengan reaksinya yang sesimpel itu.

 

YA!”

 

YA?” dia membulatkan matanya saat kau berseru padanya.

 

Sudut bibirmu terangkat membentuk sebuah seringaian. Kau menegakkan posisi dudukmu dan letak dasimu. Kesombongan dan arogansi menguasai dirimu sembari menunjukkan ID card yang menggantung di saku jas putihmu.

 

CHOI SIWON

Dokter Spesialis Anestesi

 

Dia segera mengalihkan tatapannya darimu. Dia menyadari karena telah melakukan kesalahan karena tidak menghormatimu yang notabene seniornya. Kau? Ekspresi penuh kemenangan tercetak di wajahmu melihat ekspresi bersalah di wajahnya.

 

YA!”

 

Kau kembali berseru padanya. Dia tidak melawan dan membuatmu tersenyum bangga. Inilah kekuatan dari stratifikasi, batinmu.

 

“Kepalamu-“ kau menggunakan jarimu untuk menunjuk kepalanya.

 

“-satu sentimeter lagi terluka kau akan berakhir di meja operasi karena cedera kepala. Tanganmu-“ kali ini kau menunjuk tangan kanannya yang disangga.

 

“-satu sentimeter lagi orthopedist akan memasang pen di tanganmu. Dan ‘oh’? Kau harusnya bersyukur, Jung Euisa-nim,” ucapmu tanpa ada kelembutan di setiap perkataanmu. Itulah dirimu saat berhadapan dengan dokter magang. Kau memang murah senyum tetapi kau adalah dokter senior yang begitu mengerikan untuk dokter magang.

 

Mianhae,” ucapnya tanpa menatapmu. Dia justru tengah menyentuh luka di bagian kepalanya, tepatnya di sebelah kanan. Dia merasakan da perban disana.

 

Euisa-nim,” dia kini memanggilmu dan menatapmu.

 

“Kau yang menjahitnya?” dia menunjuk perban yang menutupi luka di belakang kepalanya.

 

Anggukan kepala menjadi jawabanmu atas pertanyaannya. Kau bisa mendengar dia berdecak dan menghembuskan nafas.

 

“Kau memotong rambutku juga?” dia bertanya lagi dan kau menjawabnya dengan anggukan kepala.

 

“Rambut ikalmu membuatku sulit menemukan lukamu jadi aku memotongnya. Waeyo?” kau balik bertanya padanya. Bahkan kau menunjukkan sebuah plastik transparan yang berisi rambut yang dihiasi bercak darah. Kali ini kau tidak mendengar decakan atau hembusan nafas darinya. Tetapi kau mendengar jeritan. Dia menjerit melihat potongan rambutnya sendiri.

 

Euisa-nim, aku akan memiliki pitak jika kau memotong rambutku tanpa tahu aturan. Tsk! Jinjja!” keluhnya yang begitu kecewa karena kau memotong rambutnya tanpa tahu aturan.

 

Kau menggaruk kepalamu yang tidak gatal. Kau tidak menyangka bahwa dia akan lebih mengkhawatirkan rambut ikalnya daripada luka di kepalanya. Kau juga merasa bersalah karena sudah merusak keindahan rambut ikalnya. Tetapi saat itu kau tidak mempunyai pilihan selain memotong rambutnya untuk menjahit luka itu agar tertutup.

 

“Tanganku? Bagaimana dengan magangku jika lenganku seperti ini, Euisa-nim?” kali ini dia mengeluhkan keadaan tangan kanannya yang retak dan harus menggunakan penyangga.

 

“Aku sudah melapor pada Kim Euisa-nim. Kau diberi ijin tiga hari untuk pemulihan,” jawabmu.

 

“Oh, gamshahabnida,” ucapnya. Dia kembali mengabaikanmu. Kau bisa melihat bibirnya maju beberapa milimeter. Tentu saja kau apa yang membuatnya seperti itu. Ingat! Kau sudah merusak keindahan rambut ikalnya.

 

Tak! Tak!

 

YA!” dia kembali berseru saat kau mengetuk kepalanya sebanyak dua kali. Bahkan dia sudah melupakan kenyataan bahwa kau adalah seniornya.

 

“Tempurung kepalamu keras juga. Aku tidak perlu khawatir dengan benturan tadi,” ucapmu yang sebenarnya bermaksud menggodanya.

 

“Tidak lucu,” ucapnya, ketus.

 

Mwoya?” kau heran dengan perubahan suasana hatinya.

 

“Bisakah Euisa-nim pergi? Euisa-nim mengganggu istirahat pasien,” dia kembali mengabaikanmu. Bahkan menaikkan selimut biru muda itu hingga menutupi dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dia benar-benar tidak mengharapkanmu ada disini.

 

Geurae. Selamat beristirahat,”

 

Pada akhirnya kau beranjak dari sisinya. Walau kau merasa sedikit kecewa karena dia kesal padamu. Tetapi kau tersenyum bahagia karena kau mulai mengenalnya sedikit demi sedikit.

 

Dia benar-benar wanita yang ceroboh yang sedang depresi karena rambutnya. Tetapi dia bisa membuatmu tersenyum.

***

“Penyebab anak Anda demam tinggi disertai keluhan sakit telinga karena anak Anda terkena radang tenggorokan,” kau memberikan diagnosamu setelah memeriksa seorang pasien di ER.

 

“Ini resepnya. Perbanyak minum air putih dan istirahat,” kau menyerahkan selembar kertas berisi resep obat.

 

“Terimakasih, Euisa-nim,”

 

Kau membalas ucapan terimakasih itu dengan sebuah senyum tulus. Wajahmu juga menunjukkan kelegaan karena kau bisa menggunakan ilmu yang kau miliki untuk menolong orang lain.

 

Andwae! Andwae!”

 

Andwae! Kau tidak boleh mati!

 

Suara isak tangis yang begitu histeris menyapa gendang telingamu. Suara isak tangis itu berasal dari salah satu ranjang di ER. Dimana beberapa orang menangis histeris di hadapan tubuh yang terbujur kaku dan ditutup kain putih. Bahkan salah satu dari mereka jatuh pingsan.

 

Kematian.

 

Sesuatu yang pasti akan menghampiri setiap makhluk hidup di dunia ini. Sesuatu yang datang tanpa tahu kapan waktunya itu tiba. Sesuatu yang tidak bisa dihindari. Sesuatu yang membuat siapa saja harus menerima jika kematian menghampiri seseorang.

 

Kau merasakan pintu ruang memorimu terketuk saat kau memikirkan kematian. Dan pintu itu kini terbuka begitu saja hingga kau kembali menyelami kenangan tentangmu dan dia.

***

TING!

 

Lift yang membawamu dari ruang kerjamu di lantai tujuh menuju lobi terbuka. Kau melangkahkan kakimu dengan gontai. Gurat kelelahan begitu kentara di wajahmu. Sepanjang langkah kakimu sesekali meregangkan tubuhmu yang terasa begitu kaku usai berkutat di ruang operasi selama lima jam. Kau bahkan menguap begitu saja tanpa menutup mulutmu. Beruntung lobi sudah sepi karena sekarang waktu menunjukkan jam satu malam.

 

Oh my God!”

 

Kau langsung menutup mulutmu yang terbuka seperti kuda nil. Matamu menangkap seseorang yang tengah duduk di deretan kursi tunggu yang ada di lobi. Dahimu berkerut melihat sosok yang duduk di kursi itu adalah dia. Bahkan kau mengerutkan dahimu bingung melihatnya duduk sambil membekap mulutnya. Kau melihat air mata yang berlomba-lomba keluar dari dua bola matanya.

 

Kau tidak bisa menahan dirimu untuk berdiam diri melihatnya menangis seorang diri. Kau melangkahkan kakimu hingga kau mendudukkan dirimu di sampingnya.

 

“Jung Euisa-nim,” kau memanggil namanya.

 

Dia mendongak. Matanya yang memerah dan basah dengan air mata menatapmu sendu. Tangannya tidak lagi membekap mulutnya untuk meredam isak tangis. Tangannya dengan cepat menghapus air mata yang berdesakan di pelupuk matanya. Dia malu berhadapan denganmu dalam keadaan seperti ini.

 

Waeyo? Mengapa menangis? Kau membuat kesalahan? Kim Euisa-nim memarahimu?” tanyamu yang sejujurnya khawatir padanya.

 

Euisa-nim, di ER.. di ER-“

 

Kau menatap lekat wajahnya. Dengan sabar kau menunggu apa yang akan dia katakan padamu. Dia tengah mengendalikan isak tangis yang menginterupsi setiap kata yang akan diucapkan.

 

“-ada anak kecil, hiks, yang meninggal di ER, hiks,-“ dia menyelesaikan ucapannya dengan susah payah karena isak tangis yang selalu saja menginterupsi. Dia kembali membekap mulutnya untuk meredam isak tangis yang mengeras.

 

Kau terhenyak. Akhirnya kau memahami apa yang terjadi padanya hingga dia menangis tersedu-sedu. Tanganmu yang terayun bebas terangkat. Kau meletakkan tanganmu di bahunya dan menarik tubuhnya ke dalam pelukanmu. Kau merasa lega kareka dia tidak menolak pelukanmu. Bahkan dia menangis semakin keras dalam pelukanmu. Kau melingkarkan kedua tanganmu di tubunya. Dengan lembut kau menepuk punggungnya yang bergetar karena tangis. Untuk beberapa detik matamu terfokus pada bekas luka di bagian belakang kepalanya. Kau akhirnya mengerti mengapa saat itu dia begitu kesal padamu yang telah memotong rambutnya.

 

“Lalu? Mengapa kau menangis?” tanyamu, retoris. Kau sudah tahu bahwa dia menangis karena seorang pasien baru saja meninggal.

 

“Anak itu, hiks, anak itu masih kecil, hiks, masa depannya masih panjang, hiks, tetapi, hiks, tetapi-“ dia tidak sanggup melanjutkan ucapannya karena isak tangisnya pecah.

 

Kau mendekap tubuhnya semakin erat. Tanganmu terus menepuk punggungnya. Kau berusaha menenangkannya yang sedang terguncang karena kematian pasien. Kau memahami perasaannya karena ini pengalaman pertama baginya menghadapi kematian pasien.

 

Kau terus menepuk punggungnya yang bergetar karena tangis. Hingga kau tidak merasakan lagi getaran punggungnya karena isak tangis. Begitu pun dengan suara isak tangisnya yang begitu tersedu-sedu di telingamu. Kau hanya merasakan air matanya yang mengalir dan merembes di bahumu.

 

“Kau pasti sangat shock. Ini pengalaman pertamamu-“

 

Kau merasakan anggukan kepalanya yang bersandar di bahumu.

 

“-bagi dokter kematian pasien adalah skenario terburuk. Tetapi bagi pasien itu sendiri kematian bisa menjadi jalan terbaik. Mereka tidak ingin merasakan sakit lagi. Mereka tidak ingin merepotkan orang lagi,” ucapmu.

 

Kau merasakan pergerakan tubuhnya yang ada di pelukanmu. Dia bergerak melepaskan diri dari pelukanmu. Kau pun dengan terpaksa melepaskan tanganmu yang melingkar di tubuhnya. Kau bisa melihat wajahnya memerah dengan mata yang sembab. Dia menundukkan kepalanya untuk menghindari tatapan matamu yang begitu intens padanya.

 

“Sudah merasa lebih baik?”

 

Dia menganggukkan kepalanya sebaga jawaban atas pertanyaanmu.

 

“Sebagai dokter kita pasti ingin menyelamatkan semua pasien kita. Tetapi kita bukan Tuhan, Hoobae-nim. Kita bisa menyelamatkannya karena izin dari Tuhan. Tetapi kita tidak bisa menolak jika kematian menghampiri pasien kita. Fighting, Hoobae-nim. Jalanmu masih panjang. Fighting!” kau menepuk bahunya untuk memberikan kekuatan agar dia tetap bertahan menjalani harinya yang berat sebagai seorang dokter.

 

Sunbae-nim-“ dia kini memanggilmu ‘sunbae-nim’ karena kau terlebih dulu memanggilnya ‘hoobae-nim’.

 

“-gomawo. Geurigo, mianhanda. Kemejamu basah dan perjalanan pulangmu tertunda. Mianhanda, Sunbaenim,” dia membungkukkan badannya sebelum meninggalkanmu.

 

Kau tidak bergerak dari tempatmu. Matamu terus mengikuti kemana dia melangkah. Sampai matamu tidak bisa menjangkau lagi dirinya.

 

Fighting, Jung Eunwook!” ucapmu.

***

Kau memarkirkan mobilmu di halaman rumah yang kau huni. Pertanda kau sudah menyelesaikan aktivitasmu hari ini. Kau menghembuskan nafasmu melihat rumahmu gelap. Tidak ada satu lampu pun yang menyala.

 

“Aku pulang,” ucapmu sambil memasuki rumah. Tidak lupa kau menyalakan setiap lampu yang ada di dalam rumahmu.

 

Pigonhae (Lelahnya),” keluhmu yang merasa kelelahan hari ini.

 

Tanpa melepas kaos kaki dan mengganti bajumu kau merebahkan diri di ranjang. Dirimu yang sekarang sangat bertolak belakan dengan dirimu saat di rumah sakit. Kau kehilangan sorot mata yang penuh semangat. Sorot matamu sekarang begitu sendu. Tetapi ada satu hal yang tidak berubah darimu. Kau tetap tersenyum walau matamu begitu sendu. Ada awan yang bergelayut di bola matamu.

 

“Aku lelah,” ucapmu lagi. Matamu kini menatap pada tempat yang ada di sampingmu dan ranjang bayi yang ada di samping ranjang tempatmu berbaring.

 

“Harusnya kau dan anak kita menyambutku. Apa harimu menyenangkan? Bagaimana dengan anak kita?” tanyamu sebelum kau jatuh tertidur.

 

Awan yang bergelayut di bola matamu kini menetes menjadi air mata yang menetes dari sudut matamu. Namun kau tidak menyadarinya. Kau sudah terlelap dan memasuki sebuh ruangan yang menyimpan kenanganmu tentang dia.

***

Hal pertama yang selalu kau lihat setelah melakukan operasi adalah ponselmu. Kau selalu melakukan itu hingga itu menjadi bagian dari kebiasaanmu. Gurat kelelahan tertera dengan jelas di wajahmu setelah berkutat di ruang operasi selama lima jam. Selama lima jam pula kau mengabaikan ponselmu. Senyum mengembang di wajah lelahmu melihat wallpaper ponsel. Kau dan dia, yang sudah menjadi istrimu, tersenyum bahagia. Tanganmu melingkar di pinggangnya dan juga di perutnya. Kau dan dia tengah menanti kelahiran anak pertamamu.

 

Dahimu berkerut melihat banyak panggilan tidak terjawab di ponselmu. Tanda tanya ada tercipta di kepalamu karena semua panggilan itu berasal darinya yang kini menjadi istrimu.

 

“Siwon-ah,”

 

Kau semakin mengerutkan dahimu panggilan teleponmun dijawab oleh suara yang bukan suaranya. Bibirmu terbuka untuk mengatakan sepatah kata. Namun suara di seberang sana menginterupsi. Serentetan kalimat yang diucapkan suara di seberang sana membuat seluruh persendianmu lemas. Tetapi kau dengan cepat bertumpu pada meja kerjamu. Kau juga mengabaikan ponselmu yang terlepas dari genggaman tangan.

 

Kau menundukkan kepalamu. Kau melihat pantulan dirimu pada kaca yang melapisi meja kerjamu. Kau bisa melihat refleksi seorang pria yang meneteskan air mata dalam diam. Pria itu adalah dirimu. Setiap tetes air matamu mengalir menuruni pipimu hingga menetes di atas meja. Kau berusaha menghentikan air mata yang mengalir dari kedua matamu. Namun sia-sia. Air matamu terus berlomba-lomba menuruni pipimu. Bibirmu bergetar ingin mengucapkan sesuatu.

 

“Eunwook-ah, andwae! Andwae!”

 

“Siwon-ah, hiks, ini Eomma. Siwon-ah, Eunwook, hiks, Eunwook meninggal,”

 

“Dia meninggal dalam operasi caesar saat melahirkan anakmu,”

 

“Siwon-ah, anakmu perempuan, hiks, tetapi, hiks, dia ikut meninggal bersama Eunwook, hiks,”

 

“Siwon-ah, hiks, Siwon-ah,”

***

Kau kembali membuka matamu. Ada air mata di sudut matamu yang jatuh perlahan dan merembes di seprai. Tanganmu mengusap tempat kosong yang ada di sampingmu.

 

“Apa harimu menyenangkan?” tanyamu sambil mengusap tempat kosong yang ada di sampingmu. Tempat yang seharusnya ada dia yang menemanimu yang tengah kelelahan.

 

Tatapan matamu kini beralih ke ranjang bayi kosong yang ada di sebelah ranjang tempatmu berbaring.

 

“Bagaimana dengan anak kita? Dia susah berusia empat tahun bukan? Apakah kita perlu memasukkannya ke playgroup? Dia pasti anak perempuan yang cantik sepertimu,”

 

Kau tertawa membayangkan anak perempuanmu yang harusnya berusia empat tahun. Anak perempuan yang cantik seperti dirinya, kau selalu berpikir seperti itu.

 

Kau masih tertawa walau air mata menuruni pipimu. Tawamu itu bukan tawa bahagia. Tawamu itu tawa ungkapan kesedihan dan kesendirian selama ini. Kau tertawa dan terus tertawa. Bahkan kau terus tertawa hingga kau tidak menyadari kalau tawamu itu sudah berubah menjadi isak tangis. Isak tangis yang menjadi ungkapan luka yang sangat dalam di hatimu.

 

Bagimu tawa dan tangis itu tidak ada bedanya. Kau tertawa pun dia dan anakmu tidak ada di sampingmu. Kau menangis pun dia dan anakmu tidak bisa kembali ke sisimu. Tetapi dalam tawa dan tangismu selalu terselip cinta yang sangat mendalam untuk dia dan anakmu. Cinta yang selamanya hanya kau berikan padanya. Karena kau sudah berjanji bahwa kau akan mencintainya selama sisa hidupmu.

 

Itu tidak akan berubah.

 

Selamanya kau, Choi Siwon, hanya mencintai dia, Jung Eunwook.

 

END

3 Comments (+add yours?)

  1. Laili
    Nov 25, 2015 @ 02:07:46

    Keren….. tapi ini pke sudut pandangnya sapa ya? Asli ini nyesek…. huhu T_T
    Keep writing… 😀

    Reply

    • JUNG
      Nov 29, 2015 @ 20:34:46

      Cerita ini memakai sudut pandang orang kedua. Sudut pandang orang kedua memang jarang digunakan. Sekilas sudut pandang orang kedua mirip sudut pandang orang ketiga omniscient(serba tahu) tetapi sudut pandang orang kedua lebih fleksibel karena narrator seakan-akan berbicara pada tokoh utama.

      Reply

    • JUNG
      Nov 29, 2015 @ 20:38:35

      Cerita ini memakai sudut pandang orang kedua dan sudut pandang ini jarang digunakan. Karena sudut pandang orang kedua sekilas mirip dengan sudut pandang orang ketiga omniscient (serba tahu), hanya saja sudut pandang orang kedua lebih fleksibel karena narrator seakan-akan berbicara pada tokoh.

      Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: