[Siwon’s Day] The Day You Went Away

031343500_1423802349-1329836833_201202220007130196201001_0

Author : Rizki Amalia

Setelah kemarin ikut meramaikan Eunhyuk’s Day dengan The Day. Sekarang aku ikutan meramaikan Siwon’s Day. Semoga bisa jadi alternatif isi waktu luang dan semoga pada suka. Kalo sudah pernah baca FFku sebelumnya, pasti ngerti sama cerita ini.

Enjoy!!!

****

 

“Kemanapun ia pergi, ia akan selalu dicintai.”

Entah siapa yang pertama kali mengatakannya, tapi aku setuju dengan pendapat itu. Donghae akan baik-baik saja. Tidak ada alasan untuk mengkhawatirkannya. Mungkin mulanya ia akan sedikit sulit beradaptasi. Tapi dalam dua atau tiga hari ia akan menjelma jadi dongsaeng favorit semua orang. Ia takkan merasa kesepian seperti apa yang kupikirkan sebelumnya, mengingat bahwa sekarang justru ada banyak orang yang tidur bersamanya dan pasti juga menjaganya. Ah, bukankah ia yang tertua dalam kelompok kemarin? Apapun itu, aku yakin ia akan melakukan yang terbaik disana. Jadi…jika bukan Donghae, apa yang sebenarnya kukhawatirkan? Eunhyuk?

Tidak juga. Sejak awal aku yakin ia pasti bisa melaluinya dengan mudah bahkan jauh lebih mudah dibanding semua member yang sudah menjalani wajib militer. Minggu lalu bahkan kudengar ia menjadi yang terbaik dalam sebuah latihan. Jadi, dari segimana aku bisa meragukan kemampuannya? Kecuali wajah, semua aspek dalam dirinya bernilai sembilan. Lalu…jika ini bukan soal Eunhyuk, apalagi yang menggangguku?

Beberapa hari belakangan aku merasa tak tenang. Syuting episode terakhir “She Was Pretty” tak terasa cukup menyenangkan meski semua staff bersuka cita dalam perayaannya. Aku memang bergabung dengan mereka. Ikut makan ayam panggang hasil karya sang produser lalu minum-minum sampai mabuk dan kami tertidur hingga pagi. Esoknya yang aku dapatkan hanyalah kenyataan bahwa kepalaku benar-benar pusing, selebihnya…aku tak mendapatkan apapun.

Saat aku menceritakannya pada Teuki hyung melalui telepon, ia berkata mungkin aku hanya merasa agak gugup menghadapi pelatihan militer minggu depan. Sedang Heechul hyung berkata bahwa aku hanya terlalu khawatir akan penampilan sempurnaku yang akan berkurang karena kepalaku botak. Ketika aku ingin bertanya pada Kyuhyun, ia sudah menolakku sebelum aku menjelaskannya.

“Hyung, kau tahu aku sangat sibuk akhir-akhir ini? Biarkan aku tidur dulu.”

Dilihat dari jawaban Teuki hyung, aku hampir mempercayainya. Mungkin aku hanya terbawa suasana kepergianku yang tinggal menghitung hari. Tapi…rasanya itu juga tidak benar dilain sisi. Kalau dari pendapat Heechul hyung, aku berani jamin seratus persen bahwa aku tak pernah mempermasalahkan penampilanku. Aku sudah mencukur habis rambutku kemarin dan aku masih merasa sebagai member paling tampan di super junior.

Sekarang….hari dimana aku menjalani pelatihan militer semakin dekat. Waktu berjalan semakin cepat seakan semua hanya berlalu dalam sekejab mata. Dan berita buruknya, aku masih merasakan ada sesuatu yang mengganjal dalam diriku. Sebenarnya apa yang salah disini? Aku sudah menemui semua orang yang akrab denganku untuk berpamitan dan memohon doa mereka. Aku bersama kawan-kawanku melakukan beberapa hal yang sebelumnya tak pernah dilakukan seperti berlomba makan ramen. Bahkan aku mengunjungi rumah keluarga Donghae di Mokpo meski aku tahu ibunya sedang berada di Seoul. Aku juga pergi ke makam nenekku dan aku menghabiskan waktu satu jam disana untuk ‘bicara’ dengan beliau. Yang paling aneh mungkin saat aku mengunjungi rumah istri Sungmin hyung untuk meminta maaf serta memberinya hadiah kecil. Pembicaraan kaku kami berlangsung hanya sekitar sepuluh menit dan akhirnya aku pamit pulang dengan membungkuk berkali-kali. Terakhir, aku mengunjungi Lee Soo Man. Kami makan malam berdua dan berbincang banyak hal seolah kami adalah teman sebaya yang sedang melakukan reuni. Aku pikir setelahnya aku akan merasa lebih baik, tapi kenyataannya…ketika aku memutuskan untuk pulang, aku masih merasa tak tenang.

Aku berjalan di sepanjang koridor menuju pintu dorm. Malam ini adalah malam terakhirku sebelum pergi. Seperti member lainnya yang akan menjalani wajib militer, aku pun memutuskan untuk bermalam di dorm.

Sambil berjalan, aku terus memikirkan hal-hal yang kiranya terlupa dan harus kulakukan. Aku benar-benar tak bisa pergi jika perasaanku belum tenang. Maka terus kuputar ingatanku dan tiba-tiba saja sekelebat kejadian tahun lalu berputar cepat saat aku mendorong pintu.

BRAKKKK

“Jangan hanya jadi penonton!!”

Aku terdiam lama. Kejadian itu…..

“Ini semua karena kau, hyung! Kenapa kau masih bisa tertawa disaat dua orang dongsaengmu terluka? Kemarin Donghae dan sekarang aku. Siapa lagi setelah ini yang akan mengalaminya? Pernah kau berpikir dampaknya akan seperti ini?”

Tanganku meremas gagang pintu. Langkahku menjadi lebih cepat dan aku langsung masuk ke dalam kamarku di ujung sana yang sudah lama sekali tak kupakai. Sempat kudengar ada yang menegurku tapi aku tak sempat menoleh padanya.

Di dalam kamar aku segera membongkar laci di dalam lemari pakaian. Dan akhirnya aku menemukan selembar kertas yang mungkin merupakan jawaban atas kegelisahanku belakangan ini.

Aku terduduk dilantai sambil memandangnya. Bentuknya sudah tidak karuan dan tulisannya nyaris tak terbaca. Namun, aku berusaha merapikannya lantas menelisik huruf demi huruf disana. Dan beberapa menit kemudian aku tahu inilah yang kucari selama ini.

Aku benar-benar buruk. Meski aku melarangmu untuk marah padaku, pada akhirnya kau pasti akan marah dan benci. Tapi aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan sejak dulu.

Aku pergi ke suatu tempat untuk mewujudkan impianku.

Bukankah kau pernah bilang bahwa aku harus berani melangkah untuk mengejarnya? Tawaran ini tidak akan datang dua kali dan aku sudah memilih.

Aku memang pengecut karena tak punya nyali untuk berhadapan denganmu. Semalam adalah malam yang luar biasa. Aku akan mengingatnya.

Saat kau membaca surat ini, mungkin aku sudah pergi. Sebaiknya kau tidak usah mengejarku, karena aku takkan kembali. Maafkan aku.

Hiduplah dengan baik.

Aku tersenyum. Mau tak mau kejadian itu berulang lagi dihadapanku seolah-olah aku menjadi penontonnya hingga aku bisa melihat lagi wajahnya saat itu. Ia yang bermanja-manja padaku malam itu, ia yang mengajakku bertingkah seperti pasangan normal, ia yang meminta agar aku memaafkannya meski saat itu aku yakin tak ada yang perlu dimaafkan, dan ia yang menciumku dengan lembut hingga melambaikan tangan saat aku pulang. Sekarang….aku baru bisa memahami bahwa saat itu ia sudah berusaha keras untuk mengatakannya.

Nyaris setahun sejak kejadian itu dan aku takkan munafik dengan mengatakan bahwa aku sudah melupakannya. Aku memang melakukan semua pekerjaan dan kegiatan dengan normal tanpa adanya keanehan. Karirku bahkan menanjak pesat dari sebelumnya. Film terbaruku yang diproduksi di China diikut sertakan ke festival film internasional. Drama terbaruku mendapat respon positif dan mendapatkan rating paling tinggi hingga akhir episode. Bukankah semua kedengaran sangat sempurna? Namun, tak banyak yang tahu bagaimana aku menjalaninya. Apakah ada yang pernah melihatku menangis seorang diri di dalam mobil? Pernahkah ada yang menyaksikanku mabuk dan meracau tidak karuan sampai memecahkan perabotan dapur?

Tak hanya didunia hiburan, dalam duniakupun aku adalah aktor yang hebat. Hanya beberapa orang yang sadar dan berani mengatakan bahwa aktingku sangat buruk. Heechul hyung pernah menamparku saat aku menyalahkan Sungmin hyung atas kepergiannya. Sedang Donghae memelukku saat aku tak bisa mengendalikan diri. Aku benar-benar merasa hancur saat itu.

Sekarang aku paham apa yang menggangguku belakangan ini. Ialah yang membuatku ragu. Ialah yang membuatku merasa ada sesuatu yang terlupakan. Ketidakhadirannyalah yang membuatku merasa ada yang salah dalam situasi ini. Lantas setelah mengetahuinya, apa yang bisa kulakukan?

“Kurasa aku tahu apa yang bisa kau lakukan.”

Aku menoleh. Teuki hyung muncul sambil tersenyum tenang. Tak begitu kupedulikan dirinya dan berusaha berdiri sambil meletakkan kembali kertas kusam itu. Namun, tiba-tiba saja tangannya sudah menahan gerakanku. Ia mengambil pelan kertas itu lalu melipatnya dengan rapi, bukan membacanya.

“Hyung…”

Lidahku mendadak beku. Kulihat ia masih saja tersenyum lalu menghela nafas.

“Apa kau tahu apa sebenarnya niatku kemari? Aku tahu kau akan kesini malam ini.”

Aku menggeleng meski ia tak sedang menatapku dan pasti tak tahu apa jawabanku. Tapi ia nampak tak peduli.

“Kau mungkin tidak tahu, tapi aku selalu ingin sesekali kita kembali seperti dulu. Maksudku…………………………seperti dulu.”

Jari-jarinya masih bergerak melipat kertas itu meski aku yakin ia tak perlu mengulangnya. Ia terdiam beberapa saat lalu melanjutkan, “Untuk itu aku selalu mengecek semua kamar akhir-akhir ini dengan harapan kalian semua ada disini. Sayangnya aku terlalu polos karena berharap seperti itu. Kalian sudah terlalu dewasa untuk kuperlakukan seperti anak kecil.”

Ia diam sejenak.

“Tapi sebenarnya aku tak pernah benar-benar gagal.”

Belum begitu kupahami kemana muara dari semua perkataannya. Tapi perlahan-lahan perasaanku membaik hanya setelah mendengar suaranya.

“Pada member yang sebelumnya pergi melaksanakan tugasnya, aku selalu bersama mereka dimalam sebelum mereka pergi. Dan sekarang….akupun akan melakukan hal yang sama padamu, yakni melakukan tugasku.”

Dahiku mengernyit. Tugas apa yang ia maksud? Dan belum sempat aku bertanya secara langsung, ia sudah menyerahkan kertas itu padaku. Kedua tangannya lalu berada di atas bahuku. Ia mendiamkannya selama hampir satu menit dan aku berani bersumpah bahwa sentuhannya benar-benar memiliki efek yang luar biasa kali ini. Aku merasa………..bahwa aku akan mendengar sesuatu yang kutunggu.

Ia pun menepuk bahuku, memandangku dengan seutas senyum favoritku lalu berkata, “turunlah. Seseorang sudah menunggumu dan kau tidak punya wewenang untuk menolaknya.”

Aku semakin bingung. Seseorang? Siapa?

“Tugasku adalah memastikan bahwa kau turun. Selebihnya, terserah padamu. Maka sekarang kau harus menuruti perintahku.”

“Tapi…”

“Apa kau akan terus hidup dalam rasa penasaran? Apa kau akan membela negara dengan setengah hati?”

Aku menelan ludah. Mulai kupahami maksudnya. Tapi….apakah…….

“Maka sekarang kau harus menuntaskan apa yang memang belum selesai itu. Turunlah.”

Aku tersenyum. Dengan cepat aku memeluknya lalu berlari keluar. Sempat aku bertubrukan dengan Yesung hyung. Namun aku sedang sangat sibuk dan permintaan maafku akan kutunda dulu. Aku melesat cepat ke dalam lift, menekan angka satu dan berlari lagi setelahnya. Begitu berada di basement, aku terus berlari lalu berputar-putar. Dan ketika aku mulai kehabisan nafas, aku menemukan seseorang berdiri beberapa meter di depanku.

Ia membelakangiku. Aku sama sekali tak melihat wajahnya. Tapi entah kenapa aku merasa aku sedang tersenyum sambil menangis sekarang. Melihat siluetnya, melihat rambut serta punggungnya………….aku pikir………….

“Kau?” ujarku pelan. Aku merasa tenggorokanku tercekat. Susah payah aku menenangkan diri sampai akhirnya ia benar-benar berbalik dan memperlihatkan diri.

Seketika itu juga aku kembali menangis. Kedua lututku terasa memisahkan diri dari tubuhku hingga keseimbanganku berkurang. Sebelum aku jatuh, aku mengambil tindakan cepat dengan menariknya dalam pelukanku.

Aku tidak bermimpi. Ia memang ada disini, dipelukanku. Ia bersandar didadaku. Ia membalas pelukanku dan menyebut namaku.

“Siwon…”

Masih sama. Cara ia memanggilku tak berbeda. Suaranyapun tak mungkin tak kukenali. Ini benar-benar dirinya. Ia yang setahun lalu pergi begitu saja. Ia yang pergi hanya dengan selembar kertas kusam. Dan ia yang pergi tanpa memberiku kesempatan untuk menahannya.

Aku sungguh merindukannya. Bahkan setelah memeluknya dengan begitu erat seperti ini, aku baru sadar bahwa rasa rindu itu jauh lebih besar dari yang aku pikirkan sendiri.

“Terima kasih.”

Aku mengernyit. Dengan pelan kulepas pelukanku lalu menatap matanya.

“Kenapa kau perlu berterima kasih?”

“Karena kau tidak menamparku.”

Kami sama-sama tersenyum. Aku tak punya alasan untuk melakukan itu dan bahkan aku tak pernah punya pikiran akan melakukannya. Aku tidak sekonyol itu . Meski aku kecewa, tapi aku takkan menggunakan tanganku untuk menghukumnya. Tanganku malah sudah berada dipuncak kepalanya, mengelusnya dengan lembut.

“Aku rasa…banyak hal yang harus kita bicarakan.”

Ia mengangguk. Dan setengah jam berikutnya kami sudah berada di pinggir taman Ichon. Ia berdiri di sampingku sambil memejamkan mata. Sedang aku sibuk menatapnya. Menatap sosok yang masih sulit kupercaya ada disini. Ini mustahil. Bagaimana bisa? Kapan? Kenapa? Apa ini sungguhan? Apa aku sedang berhalusinasi dan orang-orang akan mengataiku gila karena bicara sendiri? Terlalu banyak pertanyaan dikepalaku melebihi jawabannya sendiri. Karena ia hanya mengatakan satu kalimat setelahnya.

“Maafkan aku.”

Ia membuka mata, lalu menoleh padaku sebentar. “Maafkan aku karena sudah pergi begitu saja.”

“Kau memang perlu minta maaf atas hal itu,” kataku dengan sangat pelan. Aku pun mengikuti arah pandangnya, dimana hanya ada langit dan bentangan sungai Han yang seolah menyatu.

“Kau memilih cara yang salah untuk berpamitan. Ah, maksudku kau bahkan tak pernah benar-benar berpamitan.”

Dapat kudengar helaan nafasnya. Ia menunduk, memandang kedua kakinya sebentar yang aku yakini baik-baik saja. Lalu ia menatapku, membuatku berpikir sekali lagi bahwa aku adalah Hiro Nakamura yang bisa mengendalikan ruang dan waktu. Sayangnya aku hanya manusia biasa yang sedang berusaha untuk menikmati tiap detik bersamanya.

“Saat itu aku tidak punya cukup keberanian untuk mengatakannya secara langsung. Meski aku yakin kau akan mendukungku jika aku bicara dengan jujur, tapi aku tak bisa melakukannya ketika melihat ke dalam matamu. Kau terlalu baik untuk seorang pengecut sepertiku.”

Aku tersenyum, berusaha meyakinkannya bahwa apa yang ia katakan tidak benar. Aku mulai paham posisinya saat itu. Bahkan jikalau aku tak bisa memahaminya, aku tetap percaya padanya.

“Aku pergi untuk mengerjar impianku. Dan aku berpikir untuk tak pernah kembali kesini.”

“Tapi sekarang kau disini.”

Giliran ia yang tersenyum. Tangannya meraih tanganku yang berhasil membuat kinerja jantungku naik sepuluh kali lipat. Seluruh tubuhku menghangat dan entah kenapa aku merasa ada sebuah bom nuklir yang siap meledak dalam diriku jika ia tak mengendalikanku. Apakah dari Hiro Nakamura aku berubah menjadi Peter Petrelli?

“Aku memang melakukan tugasku dengan baik disana. Tapi masih ada sesuatu yang kurang. Untuk itu aku kesini untuk melengkapinya dan membuatnya jadi sempurna.”

Senyumku makin lebar. Tanpa ada yang bisa menahanku, langsung kukecup bibirnya, kusalurkan segala perasaan rindu dan ribuan perasaan lain yang bergumul dalam diriku selama hampir setahun ini. Dan hanya dengan seperti ini, kami bisa mengerti apa yang selama ini tertahan dan tak tersampaikan. Mungkin juga ini cara yang paling tepat untuk menjinakkan bom dalam tubuhku. Aku pun sudah tak punya pertanyaan lagi untuknya. Sekarang, aku hanya punya satu kalimat.

“Aku mencintaimu.”

Setelahnya kami memutuskan untuk menghabiskan malam ini bersama-sama. Meski aku harus banyak istirahat dan besok harus bangun pagi, aku sama sekali belum berniat untuk pulang. Kami melakukan banyak hal meski kami tetap harus berhati-hati agar tak dikenali. Ia memberiku masker dan aku segera mengenakan penutup kepalaku. Dan selama satu jam pertama, kurasa usaha kami berhasil. Kami bisa makan dipinggir jalan dengan tenang. Kami bisa tertawa terbahak-bahak seperti orang bodoh. Kami bisa berjalan kaki dari taman Ichon ke pusat kota tanpa ada yang menunjukku dan berkata bahwa ada seorang artis berkeliaran di jalanan. Yang paling konyol, kami berhasil menggagalkan usaha pencopetan oleh seorang pria kepada seorang wanita tua.

Mulanya kami hanya membeli minuman kaleng di sebuah mini market. Tapi tak sengaja ia melihat seorang pria berkumis hendak mengambil dompet seseorang dari tasnya yang terbuka. Awalnya aku tak mau ambil pusing. Namun, ia tahu-tahu mendorongku hingga aku menubruk pria itu. Pria itu pun gagal melancarkan aksinya lalu pergi begitu saja.

“Jadi sekarang siapa sebenarnya yang pengecut? Kau bahkan tak berani menangkap pria itu,” ujarnya dengan nada mengejek sambil menghirup jusnya yang tadi kami beli.

Aku mendengus kesal. “Aku hanya tak mau ikut campur. Lagipula dari penampilan wanita itu, nampaknya ia tidak akan tiba-tiba jadi merana hanya karena kehilangan satu dompet.”

“Tapi itu adalah tindakan kriminal. Harusnya tadi kita menangkapnya saja. Kita bawa ke kantor polisi.”

“Aku tidak setuju. Aku yakin ia tak bermaksud untuk berbuat jahat. Kebanyakan dari orang-orang seperti itu, mereka hanya kehilangan sedikit akal sehat dan sedang kebingungan. Bagaimana jika di rumah sedang ada seorang anak dan istri yang menunggunya?”

“Kau kasihan dengan cara yang salah.”

“Tapi bagaimana jika aku benar?”

Ia nampak putus asa beradu argument denganku. Ia pun diam, menutup pembicaraan itu dengan menghabiskan minumannya. Aku pun tak berusaha mengajaknya bicara lagi. Tiba-tiba saja aku merasa bahwa keheningan seperti ini sangat kubutuhkan sekarang. Maksudku…duduk di puncak gedung SME bukan pilihan kami berdua. Hanya terlintas begitu saja dikepalaku dan sekarang aku merasa tenang. Rasanya semua beban yang menindih bahuku akhir-akhir ini jatuh begitu saja.

Suasanapun berubah benar-benar hening. Kami masih duduk dipinggiran gedung ini dengan kedua kaki menjuntai ke bawah. Jika aku sedang gila dan ingin bunuh diri, sekaranglah waktu yang tepat. Tapi jika ada hal yang ingin aku lakukan sekarang, maka itu adalah menyentuh tangannya.

“Siwon..”

Aku tersenyum. “Hm?”

“Aku akan kembali besok.”

Senyumku memudar perlahan. Aku menoleh padanya dan ia nampak sedang berusaha keras menahan air matanya.

“Aku harus kembali besok,” tegasnya dan itu membuat segala perasaan bahagia yang terbangun selama beberapa jam ini runtuh seketika. Selama bersamanya, aku melupakan fakta bahwa besok semuanya takkan lagi sama. Aku berusaha menikmatinya seakan takkan ada yang terjadi besok pagi. Tapi yang kumaksud disini adalah kepergianku, bukan dirinya.

“Maaf karena aku tak mengatakannya lebih awal. Tapi seperti yang kau tahu, aku adalah pengecut yang cukup professional.”

Peganganku ditangannya kupererat. Sebenarnya tak ada bedanya apapun yang ia lakukan esok pagi jika kenyataannya akulah yang akan pergi lebih dulu. Aku hanya takut mendengar kelanjutannya. Aku takut kali ini benar-benar pergi dan…

“Tapi aku akan kembali,” ujarnya cepat dan itu berhasil membuat nafasku berhembus kencang.

“Dua tahun ke depan, ketika kau juga kembali sebagai seorang Choi Siwon yang baru, aku pastikan aku akan berdiri disini, dititik ini.”

Air matanya jatuh. Ku usap dengan hati-hati pipinya lalu mengecup dahinya cukup lama.

“Ketika hari itu tiba, kau tidak akan menemukan Choi Siwon yang lain.”

Aku berusaha tersenyum. Ia pun ikut tersenyum meski air matanya belum mau berhenti. Maka aku berdiri. Kutuntun tangannya hingga kami saling berhadapan. Ku rapatkan tubuh kami. Ku arahkan kedua tangannya agar memeluk pinggangku. Dan setelahnya aku pun mulai mengajaknya berdansa.

Tak ada yang mampu mendengar musik yang mengiringi gerakan kami. Tak ada yang mampu membuat kami berhenti. Tak ada pula yang mampu menghentikan tangisnya, dan tak ada yang bisa menahanku untuk memeluknya lebih erat. Dalam waktu yang singkat ini, kami membagi tangis dan tawa itu bersamaan.

Besok aku akan pergi, dan aku sudah tak menemukan alasan lagi untuk merasa ragu, takut, cemas ataupun gelisah. Semuanya sudah menemukan jawaban. Tak ada lagi yang tertinggal ataupun terlupa. Ia sudah disini, dipelukanku. Dan itu cukup untuk melengkapi kekuatanku.

Aku pergi.

*THE END*

 

 

3 Comments (+add yours?)

  1. rizzzkiii
    Nov 23, 2015 @ 12:45:03

    Yeay, udah dipost. Tengkiuuu mimin. .

    Reply

  2. YeKyu
    Nov 25, 2015 @ 19:47:48

    so sweet, keren keren

    Reply

  3. i'm2IP
    Nov 25, 2015 @ 20:22:48

    Huwaahhh.. baper bacanya thorrr… jadi ngebayangin abang siwon bakalan wamil.. hikss :”.. 2 tahun kemudian aku akan setia menunggu kok (ngebanyangi jadi peran utama yeoja nya)^^ #ditimpuk_siwonest_lainnya Xp

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: