[Siwon’s Day] If We Still The Same

IMG_0028

Author: iChoca

***

 

Choi Siwon meneguk kembali cangkir kecil berisi cairan coklat pekat itu. Entah sudah berapa lama ia habiskan dengan duduk menunggu di salah satu pojok coffee shop langganannya ini, tapi sosok yang ditunggunya belum juga tiba. Diliriknya sebuah arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanan. Sudah hampir setengah jam gadis itu terlambat dari waktu yang dijanjikan. Tidak biasanya sosok ini datang terlambat. Menurut sepengetahuannya, Kang Soohwa adalah seorang gadis yang amat menghargai waktu.

Ditangannya kini tergenggam sebuah amplop berwarna coklat muda. Tujuannya kemari menemui gadis itu sebenarnya sederhana, hanya untuk mengantarkan amplop tersebut. Well, mungkin juga bisa sekedar bertegur sapa mengingat mereka sudah tidak bertemu untuk waktu lama dan ia kebetulan memiliki kelebihan waktu luang hari ini.

Ia kembali mengangkat cangkir kopinya dan meneguk minuman tersebut hingga tandas. Sebelah tangannya diangkat, bermaksud memanggil salah seorang pelayan dan memesan secangkir kopi lagi. Sepertinya gadis itu sedang amat sibuk dan ia harus menunggu lebih lama. Terbukti dari pesannya yang belum diberi jawaban.

Beruntung rintik hujan yang mengalir menuruni jendela bisa memberi sedikit hiburan untuk mengurangi kejenuhannya. Manik coklat pekatnya kembali menekuni layar ponsel pintar miliknya yang sedaritadi tergeletak di meja. Kalau gadis itu tidak bisa kemari karena terjebak hujan, harusnya gadis itu bisa menghubunginya dan memintanya menjemput di tempat gadis itu sedang berada kini. Siwon menghembuskan nafas panjang. Hal yang melintas di pikirannya itu sebenarnya agak mustahil. Khas seorang Kang Soohwa. Gadis sok kuat dan sok mandiri itu mana mungkin menghubunginya duluan dan minta dijemput kecuali untuk hal yang benar-benar mendesak.

“Sudah menunggu lama, Mr?” Sebuah suara feminim terdengar dari arah belakangnya. Suara yang sudah amat akrab di gendang telinganya dan tanpa sadar ia rindukan. Seulas senyum tanpa diperintah terukir begitu saja di wajah sempurna sang pria. Saat menolehkan kepala, memang benar suara tersebut adalah milik sosok yang sudah ditunggunya selama setengah jam terakhir.

Bersikap seenaknya saja dan bersikap tidak ada apa-apa saat membuat seseorang sudah menunggunya selama berpuluh-puluh menit. Gaya khas seorang Kang Soohwa. Tidak ada yang berubah sama sekali darinya, adalah hal yang terlintas di kepala Choi Siwon.

Hal tersebut segera berubah saat pandangannya menangkap penampilan sang gadis. Sudah berapa lama ia tidak bertemu gadis itu? Setahun? Dua tahun? Kemana kekasih ‘bocah’nya? Yang ia lihat sekarang adalah seorang wanita dewasa berpenampilan chic dan stunning. Sepatu boot dengan hak tinggi hitam dipadu dengan mantel modis berwarna senada. Rambut hitam Soohwa yang biasa tergerai hingga bahu kini dipangkas sedikit lebih pendek, terlihat begitu indah membingkai wajah sang gadis. Memberikan kesan tegas dan angkuh seperti first impression banyak orang terhadap gadis tersebut yang seiring kau mengenal seorang Kang Soohwa, kau akan tahu kalau gadis tersebut jauh dari dua kata tersebut. Wajah putih pucatnya yang biasa bersih, kini mulai tersapu make up. Yah, setidaknya terdapat sapuan bedak tipis, blush on yang membuat kedua pipinya nampak bersemu kemerahan, eyeliner yang menegaskan kedua mata kecilnya, dan lipstick yang menambah warna merah muda di bibirnya.

“Kau culik kemana kekasih bocahku?” Pertanyaan tersebut lolos begitu saja dari sela bibir Siwon tanpa diperintah. Jujur saja, ia tidak menyangka dua tahun bisa memberikan perubahan begitu besar pada gadis tersebut. Oh ya, tolong jangan bilang sifat gadis itu juga sudah berubah. Karena kalau iya, Choi Siwon benar-benar tidak bisa mengenali sosok di hadapannya kini.

Soohwa tersenyum singkat sebelum berjalan dan mengambil tempat duduk di seberang Siwon. Senyum jahil yang Siwon hapal kerap muncul di wajah gadis tersebut. Baiklah, sepertinya selain perubahan penampilan, Kang Soohwa yang ini masih tetap sama dengan Kang Soohwa yang dulu dikenalnya.

“Kau belum menjawab pertanyaanku, Mr. Oh ya, soal kekasih bocahmu, aku hanya melakukan perubahan kecil padanya. Well, teman-temannya yang memaksanya begitu. Ngomong-ngomong, kau semakin terlihat tua saja.” Soohwa mengatakan serangkaian kalimat tersebut hanya dalam satu tarikan nafas.

Ia masih saja cerewet.’ Siwon langsung mengusap rambut halus yang tumbuh di area dagu dan atas bibirnya. Tahu persis maksud perkataan gadis itu tentang terlihat tua. Daridulu, Soohwa memang tidak pernah setuju dirinya membiarkan rambut-rambut tersebut tumbuh.

“Terlihat tua?” Siwon mengangkat kedua alisnya dan melemparkan pandangan jenaka ke arah gadis tersebut. “Banyak yang mengatakan aku terlihat lebih sexy dengan tampilan seperti ini.”

Soohwa mengangkat bahu. “Bagiku, kau terlihat tua, Mr. Kalau ada salah seorang teman yang melihatku sedang berkencan denganmu, mereka pasti mengira aku sedang mengencani om-om tua berhidung belang.”

“Kenyataannya, kau jatuh pada pesona pria tua berhidung belang ini, Ms,” ujar Siwon tidak mau kalah. Rasanya sudah lama sekali sejak kali terakhir mereka berdebat tentang masalah sepele seperti ini.

Soohwa tertawa kecil mendengar apa yang diucapkan Siwon barusan. Bagaimanapun, apa yang dikatakan pria tersebut memang benar adanya dan ia harus mengakuinya. “Harusnya kau malu pada dirimu sendiri karena mengencani gadis di bawah umur.”

“Di bawah umur?” Siwon diam sesaat. Otaknya mencoba mengingat-ingat berapa usia Soohwa sekarang. Lagi, sesuatu seakan menghimpit paru-parunya saat ia teringat ulang tahun gadis itu yang terpaksa ia lewatkan beberapa kali. “Sadarlah, Ms. Kau sudah berkepala dua. Apanya yang dibawah umur?”

Percakapan mereka harus berhenti sejenak saat seorang pelayan datang dan mengantarkan secangkir kopi pesanan Siwon ke atas meja. Beruntung coffee shop ini milik salah seorang temannya, ia jadi tidak perlu repot-repot menyembunyikan identitasnya acap kali menyambangi tempat ini. Pelayan disini juga sepertinya sudah terbiasa dengan kehadiran seorang Choi Siwon sehingga reaksi mereka tidak seantusias saat pertama ia menginjakkan kaki kemari. Soal Soohwa, tidak ada yang akan pernah menyangka gadis kekanakan tersebut adalah kekasihnya. Lagipula, mereka juga tidak pernah melakukan hal-hal yang mengindikasikan status mereka sebenarnya di depan umum. Mungkin para pekerja di tempat itu mengira Soohwa adalah adik sepunya atau apapun yang sejenis dengan itu. Agak menyedihkan memang.

“Kau tidak mau memesan sesuatu? Jangan bilang kau juga sudah tidak menyukai cappuccino,” kata Siwon sesaat sebelum menyesap kafeinnya.

“Hanya sedang tidak ingin minum kopi. Oh ya, berhentilah bersikap seolah aku berubah banyak, Mr. Kang Soohwa yang duduk di hadapanmu ini adalah gadis yang sama dengan Kang Soohwa dua tahun lalu.”

Siwon tersenyum kecut. Gadis yang sama memang. Walau hanya sedikit, tetap saja ada yang berubah. Everything changes. Tidak akan ada yang selalu sama di dunia ini. Bumi berputar, waktu berjalan, dan segala yang ada di bumi berubah. Termasuk perasaan seseorang. Hal yang terakhir itulah yang membuatnya kadang tidak bisa menerima perubahan yang terjadi.

“Masih ada pekerjaan untuk hari ini?” tanya Soohwa dengan nada sambil-lalu. Namun, Siwon yang sudah mengenal gadis ini selama bertahun-tahun tahu jelas maksud tersembunyi dalam pertanyaannya.

“Tidak ada. Bagaimana denganmu?” Siwon balik bertanya. Walaupun enggan mengakui, ia pun sadar ada yang berubah dalam dirinya. Caranya yang malah membalikkan pertanyaan si gadis alih-alih langsung mengajak gadis itu untuk berkencan seperti yang selalu dilakukannya dua tahun lalu. Perubahan memang tidak terhindarkan. Walau ia menolak untuk berubah, terkadang keadaanlah yang memaksa.

“Mungkin kita bisa jalan-jalan sebentar dan berkencan layaknya pasangan normal. Kebetulan hujannya sudah berhenti. Ah, aku jadi ingat kau pernah berjanji akan berkencan normal denganku. Aku lelah harus selalu melakukan segalanya secara sembunyi-sembunyi denganmu. Berhubung kencan kali ini akan menjadi kencan terakhir kita, kupikir kau harus melunasi janjimu, Mr,” oceh Soohwa, lagi-lagi tanpa jeda dalam kalimatnya. Gadis itu menaik-turunkan kedua alisnya dan menarik-narik tangan Siwon. Matanya yang menatap Siwon dengan tatapan layaknya seorang anak anjing membuat pria itu merasa tidak perlu lagi memikirkan apa yang akan menjadi jawabannya.

“Biarkan aku membayar kopi ini dulu.”

Seperti yang sudah bisa diduga, respon yang diberikan Kang Soohwa satu detik setelah mendengar ujaran Siwon adalah sebuah pekikan dan ekspresi puas seolah telah memenangkan sebuah lotre.

***

“Sepertinya inilah batas maksimal kencan normal yang bisa kudapat,” gumam Soohwa ketika ia melangkahkan kaki keluar dari gedung bioskop. Lagipula, apa yang diharapkannya adalah sesuatu yang mustahil. Choi Siwon-nya tidak mungkin bisa benar-benar berkeliaran di luar tanpa melakukan penyamaran. Lihat saja, pria disampingnya kini sedang sibuk memasang topi dan jaket longgar agar tidak ada yang bisa mengenalinya.

“Setidaknya di dalam studio tadi aku membuka seluruh penyamaranku.” Well, karena pencahayaan di dalam studio yang benar-benar minim, pria itu memang berani mengambil resiko dengan melepas topi dan syalnya.

Soohwa hanya diam dan meneruskan langkah. Lagipula di otaknya memang sedang tidak terlintas kalimat apapun yang sekiranya bisa dijadikan balasan untuk perkataan Siwon. Kalau diingat-ingat, pikiran kekanakannya yang sering mempermasalahkan hal sepele macam inilah yang menyebabkan perpisahannya dulu dengan pria itu. Menjalani waktu selama kurang lebih 730 hari tanpa pria itu membuatnya sedikit banyak sadar akan kesalahannya. Sesuatu yang sudah amat terlambat.

Ya! Kau masih marah? Apa yang harus kulakukan? Kalau aku membuka penyamaranku, akan terjadi fanmeeting dadakan disini.” Suara berat yang hanya samar-samar terdengar karena syal yang menutupi mulut pria tersebut membuat Soohwa menghentikan langkahnya.

“Aku tidak marah,” jawab gadis itu singkat. “Bisa kita lanjutkan kencan kita sekarang?”

Siwon hanya mengangguk dan menyembunyikan senyum. Walau dulu ia agak sebal dengan segala rengekan gadis itu, entah mengapa sekarang ia merindukannya. Terdengar aneh mungkin, tapi menurutnya akan lebih menyenangkan jika gadis itu mulai menggerutu dan merengek ketimbang berjalan dalam diam seperti sekarang. Mungkin setelah melewatkan beberapa waktu dengan gadis yang lebih dewasa ketimbang Soohwa ia malah merindukan sikap manja gadis itu.

“Kenapa kau diam saja? Aku sudah merelakan waktuku dan kau hanya diam? Kau tahu, aku merindukan tingkahmu. Seluruh tingkah menyebalkanmu.” Ia menunduk dan menatap wajah gadis itu, ekspresinya terlihat lucu, memendam gerutuan yang hampir meledak. “Luapkan saja kekesalanmu, Ms.”

Soohwa menghela nafas panjang, kepalanya mendongak menatap pria yang lebih tinggi dua puluh centimeter dibanding dirinya itu. “Aku harus mengatakan apa? Memang benar kalau kau membuka penyamaranmu sekarang akan ada banyak orang yang mengerubungi kita dan aku membenci hal itu. Kencan batal. Kau sibuk melayani penggemarmu. Aku terlupakan. Puas?” Pada akhirnya, kalimat demi kalimat tersebut meluncur dengan lancar lewat sela bibirnya.

Sebuah balok berwarna merah muda nampak berdiri di ujung jalan. Tanpa pikir panjang, gadis itu langsung menggenggam tangan Siwon dan dengan sekuat tenaga, menarik pria bertubuh besar tersebut mendekati apa yang menarik perhatiannya.

Photobox? Sepertinya kau sudah membuat list tentang semua janji yang tidak pernah sempat aku tepati ya? Lagipula aku kira hal seperti ini sudah tidak ada lagi.” Siwon mengangkat tangannya yang bebas, mengusap-usap dagu.

“Tidak ada penolakan, okay?” pinta Soohwa seraya menarik tangan Siwon masuk ke dalam balok tersebut. Jemari gadis itu langsung sibuk menekan-nekan tombol yang ada disana, memilih frame yang akan digunakan.

“Biarkan aku berdiri di belakangmu,” gumam Siwon sambil memposisikan tubuh besarnya di balok kecil itu. Jangan lupakan juga bagaimana repotnya ia harus membuka topi serta syalnya dan menyingkirkan benda itu dari layar agar tidak merusak hasil foto nanti.

Tidak sampai sepuluh menit, Soohwa sudah berlari keluar balok dan menunggu dengan tidak sabar hasil fotonya keluar. “AKHIRNYA!” Ia memekik pelan saat akhirnya selembar kertas dengan perlahan meluncur keluar dari salah satu sisi box.

“Coba lihat ini, Mr!” katanya sambil mengulurkan lembaran yang berisi empat foto tersebut. Siwon yang masih berada di dalam balok sibuk dengan perlengkapan menyamarnya, hanya bisa bergumam mengiyakan. Pada akhirnya, Soohwa yang sudah tidak sabar lagi menunggu, ikut masuk dan membantu melilitkan syal yang merupakan salah satu alat penyamaran pria itu ke lehernya. “Kenapa gerakanmu lambat sekali, sih? Seperti pria tua betulan saja!”

Lagi-lagi hanya senyuman yang bisa dihasilkan bilah bibir Siwon. Dulu, ia menikmati saat-saat menggoda dan berdebat dengan Soohwa. Melihat gadis itu cemberut merupakan hiburan tersendiri untuknya. Mendapati syal yang kini sudah terpasang rapi, ia akhirnya melangkah keluar balok dan mengambil lembaran foto yang tadi dijulurkan Soohwa ke arahnya.

“Bagaimana? Hasilnya lucu sekali kan? Sepertinya otot-otot wajahmu amat lentur ya, sampai-sampai bisa menghasilkan berbagai macam ekspresi konyol seperti itu,” kata Soohwa ketika akhirnya Siwon melihat ke arah foto-foto tersebut seperti yang dimintanya. Sesekali ia menjinjitkan kakinya dan mengintip dari balik bahu pria jangkung tersebut, walau ia sudah melihatnya berulang kali tadi, tetap saja ia tidak bosan melihat hasil foto tersebut. “Lihat, apalagi di foto pertama. Tidak akan ada yang menyangka pria di foto tersebut adalah visual Super Junior.” Soohwa tertawa, jarinya menunjuk-nunjuk foto di bagian kiri atas.

“Aku lebih suka foto terakhir. Coba lihat ini.” Siwon mengembalikan foto tersebut ke arah si gadis dan menunjuk foto di bagian kanan bawah. “Aku bahkan tidak pernah membayangkan kita bisa terlihat begitu mesra.”

Dengusan pelan yang diberikan Soohwa sebagai jawaban. Saat akan mengambil foto itu, terjadi sedikit kekacauan di dalam balok. Ia dan Siwon sudah bingung hendak bergaya apa. Ia yang hendak menoleh dan menanyakan gaya apa yang sebaiknya dilakukan untuk foto terakhir itu, tidak sadar kalau posisi kepala pria tersebut kini sejajar dengannya. Lebih mengejutkan, pria itu juga sedang menoleh ke arahnya. Hasilnya? Voila! Jadilah foto dengan menampakkan mereka berdua yang sedang saling bertatapan, lengkap dengan dahi yang saling bertemu.

“Sebaiknya aku pulang sekarang.” Soohwa melihat ke layar ponselnya. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul delapan malam. “Terimakasih untuk kencan hari…”

“Biar kuantar dan aku tidak menerima penolakan, Ms.

***

Dengan berat hati, akhirnya ia menyerahkan sebuah amplop coklat muda yang sedaritadi disimpannya kepada gadis itu. Ada ganjalan tak kasat mata di dadanya yang membuatnya sesak dan merasa begitu berat memberikan benda tersebut. Tapi bagaimanapun, tujuannya menemui gadis itu adalah untuk menyerahkan amplop itu, bukan?

Sesuatu yang pertama ia lihat di wajah gadis tersebut saat menerimanya adalah kedua mata kecilnya yang membulat.

Hal itu tidak berlangsung lama. Sekon berikutnya sebuah senyum terulas di bibir si gadis. Senyum yang ia tahu jelas senyum palsu. Kemampuan berakting Kang Soohwa begitu payah. Semua pelajaran akting yang kadang ia berikan pada gadis itu di sela kencan mereka rasanya sia-sia.

Kilasan ingatan tentang waktu-waktu selama empat tahun yang pernah ia habiskan bersama gadis itu menyeruak memenuhi kepalanya. Ia ingat bagaimana dirinya pertama bertemu dengan Kang Soohwa di tempat yang sama dengan tempat mereka pertama bertemu hari ini. Pertemuan pertama yang tidak diingat oleh si gadis. Gadis itu bersikeras mereka pertama kali bertemu di salah satu konser Super Junior beberapa tahun silam. Hal lain yang diingatnya adalah bagaimana ia dengan bodohnya mengungkapkan perasaannya begitu saja dan meminta Soohwa menjadi kekasihnya. Tanpa persiapan dan tanpa hal romantis yang biasa disukai para gadis. Beruntung, gadis itu menerimanya.

Dan ia ingat, kencan pertama mereka yang sudah ia rancang sedemikian rupa terpaksa hancur begitu saja karena Soohwa yang bersikeras ingin menonton penampilan U-Kiss. Boyband yang dimana salah satu membernya adalah sahabat dekat yang sudah gadis itu anggap sebagai kakak sendiri. Bayangkan bagaimana perasaannya melihat sang kekasih sibuk berteriak dan memuja muji pria lain sementara baginya, mendengarkan pujian dari gadis itu adalah sesuatu yang amat sangat langka.

Tangannya terangkat secara otomatis untuk menepuk puncak kepala gadis itu beberapa kali. “Aku menepati janjiku, kan? Mengantarkannya padamu secara pribadi.”

Entah keputusannya dulu berpisah dengan gadis itu adalah sesuatu yang bodoh atau tidak. Di pikirannya, kalau mereka masih bersama sekarang, apakah semua akan berjalan dengan baik? Atau malah membawa mereka ke arah yang lebih buruk?

Harusnya sejak memutuskan bersama Soohwa, ia bisa memaklumi tingkah kekanakan dan tingkat keegoisan gadis itu yang terkadang bisa melampaui gadis normal. Bagaimanapun, kesabarannya ada batasnya pula. Ia kadang terlalu lelah memahami dan mencoba memperjuangkan hubungan mereka. Sementara dulu, Kang Soohwa-nya tidak nampak begitu mempedulikan hubungan mereka.

Mencoba untuk mengembalikan akal sehatnya, Siwon mengalihkan pandangan ke area taman di luar kaca jendela mobil. Besok ia akan menikah dan tidak seharusnya ia terbawa perasaan pada seseorang yang harusnya hanya menjadi masa lalunya. Tapi bahkan hanya dengan begitu saja ingatan tentang bagaimana mereka sering menghabiskan waktu di tempat tersebut tiba-tiba saja muncul.

Taman tersebut terletak hanya beberapa blok dari kediaman keluarga Kang. Seringnya, ia dan Soohwa menghabiskan beberapa waktu di malam hari hanya untuk sekedar mengobrol singkat dan melepas rindu di tengah kesibukan masing-masing. Sebuah ayunan yang terletak di bagian kanan taman, mengingatkannya pada momen saat ia mendorong gadis itu terlalu kuat dan membuatnya berteriak amat nyaring. Teguran dari salah seorang penghuni rumah di dekat situ menjadi hadiah bagi mereka. Di seberang ayunan tersebut, terdapat sebuah perosotan kecil. Soohwa dengan seenaknya acap kali meluncur disana padahal dengan jelas tertera tulisan ‘Hanya boleh dinaiki anak berusia lima tahun ke bawah’.

Apa-apaan ini, Choi Siwon?

Baru saja kalimat tersebut melintas di benaknya, sudut matanya menangkap sosok yang sedari tadi berkutat di kepalanya. Gadis itu nampak memperhatikan beberapa foto pra wedding dirinya dengan sang calon istri yang memang terpampang di beberapa halaman undangan.

“Soohwa-ya, Kevin benar-benar akan menjemputmu disini?” Siwon berusaha mencairkan keheningan diantara mereka. Lagipula, entah mengapa ada perasaan tidak enak saat ia mendapati gadis itu memelototi fotonya dengan gadis lain. Ia baru saja akan mengambil undangan pernikahannya dari tangan Soohwa ketika gadis itu dengan cepat langsung menyimpan undangan tersebut ke dalam tasnya.

“Kenapa mau kau ambil lagi?” tanya Soohwa lengkap dengan mata yang melirik tajam. Dari dalam tasnya, gadis itu mengambil sebuah benda persegi panjang berwarna keemasan dengan lambang apel tergigit di belakangnya. “Dia bilang akan tiba beberapa menit lagi dan bersikeras agar aku menunggu. Katanya jangan sampai aku pulang sendiri ke rumah selarut ini.” Gadis itu menyimpan kembali ponsel pintarnya ke dalam tas.

Satu hal yang tidak dimengerti oleh seorang Choi Siwon. Ia tentu bisa saja mengantarkan gadis itu langsung ke rumahnya alih-alih menemaninya menunggu di taman ini, Kevin tidak usah repot-repot menjemput. Tapi gadis itu terus menolak saat ia hendak mengantarnya sampai rumah dan meminta hanya diantar sampai disini saja. Saat ditanya kenapa, Soohwa hanya diam. Benar-benar membingungkan.

Siwon melepas sabuk pengaman yang melilit tubuh bagian atasnya dan membuat posisi tubuhnya mengarah langsung ke gadis itu. “Adakah penjelasan logis terkait penolakanmu kuantar langsung sampai rumah?” Siwon bertanya dengan wajah yang jelas mengekspresikan keheranan. Kini gadis itu ikut memutar tubuhnya menghadap Siwon. Ekspresi wajahnya datar, tidak dapat terbaca.

Appa tidak akan suka melihatmu, Mr.” Gadis itu akhirnya buka suara. “Saat kita akhirnya berpisah, percaya atau tidak, aku menangis semalaman. Entah bagaimana Appa bisa tahu soal itu. Padahal, saat keesokan harinya bertemu Appa, aku yakin sudah memastikan wajahku tampak baik-baik saja. Walau berulangkali aku menjelaskan kau tidak memiliki salah apapun, Appa tetap tidak percaya. Mungkin sesuatu yang sulit dipercaya seorang Kang Soohwa bisa menangis hanya karena putus cinta. Kau tahu, aku adalah gadis kuat dan semua orang tahu itu.”

Siwon tertawa getir, otaknya sama sekali tidak bisa menerima kenyataan kalau Soohwa menangis saat berpisah dengan dirinya. “Kupikir, kau tidak begitu peduli padaku. Maksudku, dulu aku bahkan sempat berpikir kau tidak benar-benar menyayangiku. Mungkin karena kau terlihat begitu… tidak acuh?”

Soohwa hanya mengedikkan bahu dan mengangkat sebelah ujung bibirnya. “Um, aku juga tidak menyangka bisa menangisi seseorang sepertimu. Mungkin saat itu emosiku memang sedang tidak stabil. Entahlah. Walau begitu harus kuakui, aku benar-benar menyesal saat membiarkanmu lepas dariku dulu. Tidak satu haripun aku lewatkan tanpa merindukanmu, Mr.”

Siwon tidak tahu harus mengatakan hal apa untuk menanggapi hal tersebut. Kang Soohwa tidak biasa mengutarakan perasaannya segamblang ini. Tapi kini, terang-terangan gadis itu mengatakan merindukannya? Ada sesuatu yang salah dengan gadis itu dan ia tidak tahu apakah perpisahan mereka merupakan salah satu penyebabnya.

“Aku juga merindukanmu. Hanya ada satu gadis di dunia ini yang memiliki kepribadian menakjubkan seperti dirimu, Ms,” ujar Siwon pada akhirnya. Kenyataan memang, dari seluruh gadis yang pernah dekat dengannya, termasuk gadis yang akan menjadi istrinya besok, ia belum menemukan seseorang yang egois, menyebalkan, kekanakan, tidak peka, cuek, namun di satu sisi selalu berhasil membuatnya rindu dan menebak-nebak tingkahnya.

“Hanya ada satu Kang Soohwa di dunia ini. Kau beruntung bisa memiliki kesempatan mengenalnya amat dekat,” pekik Soohwa penuh percaya diri, selama ini ia mengira Siwon terlalu bahagia dan merasa amat bersyukur dapat berpisah dengannya. Meski ia mencoba tidak peduli, tetapi hari-harinya selalu dipenuhi bayangan apakah pria itu merindukannya atau tidak.

Siwon menghela nafasnya. “Jadi, apa kabar?”

“Aku? Baik-baik saja tentunya. Kehidupanku berjalan dengan normal. Tidak ada hal buruk yang terjadi selama dua tahun terakhir,” jawab Soohwa dengan lancar walaupun awalnya ia terkejut dengan perubahan drastis topik pembicaraan mereka. “Kau bisa lihat sendiri kan? Penampilanku sedikit berubah. Teman-temanku memaksa untuk mulai berdandan. Apa aku memang terlihat makin cantik dengan penampilan seperti ini?”

Mendengar jawaban Soohwa, Siwon hanya mengangguk-angguk dan memalingkan pandangan. “Baguslah kalau begitu. Apa kau tidak ingin balik bertanya bagaimana keadaanku?” Ia sengaja menghindari pertanyaan terakhir gadis tersebut.

“Untuk apa? Kau itu artis besar. Mudah mencari tahu tentangmu di berbagai portal berita. Aku tahu kau baik-baik saja, Mr.” Soohwa mengerling kearah Siwon.

Sebuah tarikan nafas panjang diambil Siwon. Butuh beberapa waktu baginya berpikir sebelum akhirnya memutuskan untuk mengatakan apa yang ada di benaknya. Lagipula, gadis di sampingnya ini sudah mengutarakan seluruh perasaannya, akan sedikit curang bila ia terus menyimpan perasaannya seorang diri, bukan? Ia kembali mengarahkan wajah ke arah si gadis, sementara gadis itu nampaknya sudah siap mendengarkan apa pun yang akan keluar dari mulutnya. “Well, keadaanku tidak sebaik itu.”

“Benarkah?”

Siwon menggaruk kepalanya. “Bagaimana mengatakannya? Aku memang menjalani hidupku dengan normal. Segalanya tampak tidak ada yang salah.”

“Sepertinya aku mengerti maksudmu,” sahut Soohwa. Walau begitu ia memberi isyarat agar pria itu melanjutkan kalimatnya.

“Namun begitu aku merasa seperti ada yang hilang. Ada sesuatu yang tidak berjalan dengan benar walau semuanya tampak normal. Aku juga tidak mengerti kenapa berpisah denganmu bisa memberikan efek yang begitu besar untukku. Maksudku, aku-lah yang meminta perpisahan itu. Aku kira dengan begitu tidak akan ada akibat apapun yang ditimbulkan bagiku. Paling tidak, tidak untuk waktu lama. Kenyataannya, aku tidak baik-baik saja dengan perpisahan itu, Ms.” Siwon berhenti, mencoba merangkai kata-kata yang sekiranya bisa mengungkapkan perasaannya dengan lebih jelas. “Sepertinya perpisahan itu malah mengubah hatiku menjadi kompas yang selalu mengarahkan aku kembali padamu.”

Soohwa mengangkat kedua sudut bibirnya membentuk senyum kecut. “Konyol juga mendapati ternyata kita merasakan hal yang sama selama dua tahun ini.”

“Tapi karena sejak malam itu kau tidak pernah menghubungiku lagi, kupikir kau memang sudah benar-benar tidak peduli padaku.” Tawa hampa dipaksakan untuk diciptakan pita suaranya. Tanpa jeda, Siwon melanjutkan perkataannya. “Harusnya aku tahu ego besar yang dimiliki seorang Kang Soohwa tidak akan membiarkannya menghubungiku terlebih dahulu. Harusnya aku yakin pada perasaanmu dan tidak menghabiskan hampir setiap waktu untuk meragukannya. Kau tahu, kalau saat itu kau bisa memberitahuku tentang perasaanmu dengan jelas seperti ini, dan kalau aku tidak terus-terusan berpikiran buruk, mungkin kita masih bersama sekarang.”

“Mungkin saja iya.” Soohwa mengangguk, turut menyetujui apa yang dikatakan Siwon. Ia mengutuk dirinya yang sulit mengekspresikan perasaan baik dalam bentuk lisan maupun perbuatan. Malam ini, ia sendiri tidak mengerti kenapa dirinya, untuk pertama kali dalam seumur hidup, mampu mengeluarkan seluruh isi hatinya. “Tapi kenyataannya kita sudah berpisah. Dan besok, kau akan resmi menjadi milik orang lain, Mr.”

“Aku tahu mungkin aku tidak bisa dibilang pria baik-baik mengingat besok adalah hari pernikahanku tapi sekarang aku malah membicarakan keadaan kita jika masih bersama. Tapi pikiran semacam ini jujur saja terus ada di kepalaku. Misalnya seperti jika aku dulu melakukan ini, apa yang sekarang akan kita berdua lakukan. Hal-hal konyol semacam itu.”

Soohwa memberanikan dirinya menarik ujung kemeja Siwon, meminta perhatian pria tersebut untuk sesaat. “Aku tahu persis apa maksudmu, Mr. Tapi seperti apa yang kau bilang barusan, tidak seharusnya kita membicarakan hal seperti itu. Apa yang sudah terjadi, biar saja tetap tertinggal di masa lalu.” Gadis itu tersenyum, kali ini bukan yang senyum dipaksakan. “Lagipula, kalau kita masih bersama sekarang, tidak ada yang menjamin semuanya akan baik-baik saja seperti bayangan kita. Bagaimana kalau kita malah saling menghancurkan?”

Siwon terhenyak untuk sesaat sementara Soohwa melepaskan pegangannya. Gadis itu kini sudah kembali pada posisinya semula, duduk bersandar di jok empuk mobil mahal seorang Choi Siwon. Soohwa mengedikkan bahu. “Bisa saja kan, kalau kita masih bersama, aku tidak akan terang-terangan mengutarakan perasaanku begini dan terus bersikap tak acuh padamu. Kau tetap tersiksa dengan sikapku yang begitu, aku hanya bisa terus berpura-pura tidak peduli padahal dalam hati terus memikirkanmu. Sungguh tidak mengenakkan.”

Siwon melihat gadis itu mengetikkan sesuatu di layar sentuh ponselnya, mungkin pesan untuk Kevin. Saat ini, ia hanya bisa bertanya-tanya, bagaimana ekspresi gadis tersebut bisa tetap datar dan bersikap seolah tidak ada apa-apa padahal sesuatu yang sangat luar biasa dan sangat bukan Kang Soohwa baru saja terlontar dari bibirnya. “Kau tahu, kau berubah banyak, Ms.”

“Berubah banyak? Benarkah?” tanya Soohwa, lagi-lagi dengan ekspresi datar.

“Ya,” jawab Siwon singkat. “Kau mungkin tidak menyadarinya.”

Soohwa menghela nafasnya lalu membuka bungkus permen coklat yang ada di kantung jaket. Sekedar mencari sesuatu yang bisa dilakukan daripada harus melanjutkan pembicaraan semacam ini sementara menunggu Kevin datang. ‘Kenapa lama sekali, sih?’ pikirnya mendapati sudah hampir setengah jam ia menunggu dan orang yang ditunggunya tak kunjung datang.

“Jadi, coba ceritakan tentang calon istrimu.” Soohwa menyenggol siku Siwon beberapa kali. “Shin Jiyoung,” katanya mengingat-ingat nama yang tertera di undangan. “Dia cantik sekali.”

Siwon sempat berpikir apakah Soohwa hanya berniat menggodanya. Tapi raut wajah gadis itu sama sekali tidak menunjukkan hal tersebut. Gadis itu mengatakan yang sebenarnya, memintanya mendeskripsikan seorang Shin Jiyoung.

“Dia memang cantik,” sahut Siwon, memiringkan kepala ke satu sisi dan mencoba membayangkan sosok calon istrinya itu. Mulai dari penampilan fisik dan perilakunya, gadis itu memang benar-benar deskripsi sempurna akan kata sifat ‘cantik’. Ia lalu beralih menatap Soohwa dan mulai membandingkan tingkah laku gadis itu dengan Jiyoung. Dari segi manapun, tidak ada satu pun kesamaan diantara mereka berdua.

Soohwa tertawa, dari wajah Siwon, ia bisa menerka kalau calon istri pria tersebut pasti seratus delapan puluh derajat berbanding terbalik dengannya. Memang seharusnya seperti itu kan? Justru akan lebih menyedihkan kalau pria itu bersanding dengan seseorang yang lebih buruk darinya. Ugh, membayangkannya saja ia tidak mampu. Seluruh gadis di dunia ini pun pasti begitu. Jika sampai mantan kekasih mereka akhirnya menemukan pasangan baru yang lebih buruk, bisa dipastikan mereka akan menganggap ada dua kemungkinan yang terjadi pada para mantan tersebut. Pertama, selera mereka ternyata memang buruk hingga jatuh ke pelukan gadis lain yang tidak sebanding. Kedua, mantan kekasih mereka terlalu putus asa dengan statusnya yang single.

Sinar lampu sorot yang berasal dari mobil yang baru saja datang membuat Siwon dan Soohwa secara bersamaan memicingkan mata dan menghalau cahaya menyilaukan tersebut dari pandangan mereka. Sepertinya sosok yang sedaritadi ditunggu Soohwa akhirnya datang juga.

“Jadi… akhirnya kita benar-benar berpisah. Kau akan datang besok?” tanya Siwon, memastikan kehadiran Soohwa di acara pentingnya besok. Kalau boleh jujur, ia tidak terlalu mengharapkan kedatangan gadis tersebut. Perasaannya pasti akan campur aduk saat melihat Soohwa duduk di barisan tamu undangan sementara ia bersanding dengan gadis lain di altar.

Sebagai jawaban, Soohwa hanya mengangguk. Ia melepaskan sabuk pengaman yang melilit tubuhnya dan meraih gagang pintu mobil. Ada sesuatu dalam dirinya yang memerintahkan untuk menghindari kontak mata dengan Siwon.

Hanya sepersekian detik saat Siwon tiba-tiba saja menarik tangan Soohwa dan membuat gadis itu membalikkan wajah menatapnya. Tanpa aba-aba, ia menyapukan sebuah kecupan ringan di bibir gadis tersebut. Ciuman pertama dan terakhir mereka.

Tiiin… Tiin….

Soohwa memegang tangan Siwon yang masih mencengkram pergelangan tangannya dan melepaskan cengkraman tersebut pelan. Dengan sebuah senyum kecil, ia berbalik dan keluar dari mobil, meninggalkan Siwon tanpa mengucap sepatah katapun. Buru-buru gadis itu menghapus setetes air mata yang tiba-tiba saja mengalir melewati pipinya.

***

“Kau baik-baik saja?” tanya Kevin saat Soohwa membuka pintu mobil dan mengambil tempat disampingnya. “Kau menangis lagi? Apa kalian tadi bertengkar?”

I’m okay. Apa jalanan tadi macet? Kau tahu, aku menunggumu setengah jam!” sahut Soohwa yang sayangnya tidak mendapat respon apapun dari Kevin. Pria itu masih menatapnya seolah menuntut jawaban. “Aku baik-baik saja. Sungguh. Kau tidak percaya? Bisakah kita pulang sekarang? Aku sudah amat mengantuk.” Soohwa tahu ia tidak pernah bisa berbohong pada sobat kentalnya itu. Tapi ia juga sedang tidak ingin menjelaskan panjang lebar tentang apa yang baru terjadi.

“Kuanggap kau berhutang penjelasan padaku,” jawab Kevin, berusaha menyimpan rasa penasarannya. Sepertinya bukan waktu yang tepat untuk memberondong gadis disampingnya ini dengan pertanyaan demi pertanyaan.

Okie dokie!” sahut Soohwa. Ia membuka tas selempangnya dan kembali mengamati amplop coklat muda yang ada disana. Malam ini, seluruh harapannya tentang kembali ke masa lalu dan memperbaiki keadaan harus dikubur dalam-dalam.

***

Siwon masih dalam posisi yang sama bahkan setelah mobil yang tadi terparkir di hadapannya melaju. Malam ini, ia dan gadis itu akhirnya benar-benar berpisah. Setelah akhirnya mereka mengungkapkan perasaan sesungguhnya satu sama lain, perpisahan yang malah menjadi ujungnya. Ironis, bukan? Pikirannya kembali melayang pada pembicaraannya dan Soohwa beberapa waktu lalu. ‘Andai kita masih bersama…

 

 

-THE END-

1 Comment (+add yours?)

  1. Laili
    Nov 30, 2015 @ 13:42:04

    Keren… nyesek bacanya. Kasian sama dua2 nya…. andai mereka bisa seperti dulu. huhu T.T

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: