[Siwon’s Day] One Fine Spring Day

Cover One Fine Spring Day

Nama : Monamuliaa

Judul Cerita : One Fine Spring Day

Tag (tokoh/cast) : Choi Siwon, Altagracia Márquez-Rojas (OC)

Genre : Romance

Rating : PG-15

Length : One-Shot

Disclaimer: Seluruh ide cerita di dalam FF ini murni milik saya. Jika ada kesamaan nama OC, tempat dan cerita, itu semua hanyalah kebetulan semata. kritik dan saran demi perbaikan penulisan kedepannya sangat dinantikan.

Selain disini, ff ini juga dipublish di wp pribadi. silakan berkunjung ke https://monamuliaa.wordpress.com/

enjoy reading…

 

.

.

.

 

 

“We learned not to meet anymore,

We don’t raise our eyes to one another,

But we ourselves won’t guarantee

what could happen to us in an hour.”

―Anna Akhmatova

 

 

Ruangan itu tidak sepenuhnya gelap. Lampu kerja menyala redup di atas meja tulis. Sinarnya menerangi sebagian kecil ruangan berbentuk persegi tersebut.

Rak penuh buku yang tertata rapi memenuhi dinding di sebelah kanan. Pada punggung buku tampak judul buku yang beberapa di antaranya ditulis dalam bahasa Inggris. Di seberang, terdapat sofa beludru berwarna putih dengan bantalan-bantalan berwarna hitam. Permadani persia lembut tergelar di bawahnya sebagai alas meja kaca berkaki empat. Di belakang sofa, menggantung potret hitam putih seorang lelaki yang menatap tajam ke arah kamera.

Figur lelaki dalam potret hitam putih itu sekarang berdiri di dekat jendela. Bayangannya terpantul pada kaca yang buram. Air hujan bergulir pada permukaan kaca membentuk garis-garis motif tak beraturan.

Keheningan di dalam ruangan mutlak. Satu-satunya sumber suara adalah gemuruh hujan yang teredam dan seolah berasal dari tempat sangat jauh.

Lelaki itu tampak merenung. Pikirannya melayang jauh meninggalkan tubuhnya.

Sudah berhari-hari ini, kekosongan aneh menggelayutinya kemanapun ia pergi. Ia merasa terasing ditengah-tengah orang yang dikenalnya. Ia merasa kesepian diantara hiruk pikuk lingkungan sekitarnya. Juga beberapa kali ia mendapati seseorang didekatnya harus memanggil berulang-ulang untuk mengembalikan kesadarannya.

Terakhir kali ia mengalami hal serupa adalah beberapa bulan lalu, ketika ia merasa perlu menghilang beberapa hari dari rutinitas keartisannya. Yang kemudian oleh salah satu anggotanya disebut dengan “Percobaan Pelarian Diri.”

Haruskah ia melakukan percobaan pelarian diri lagi? Kontrak dramanya baru saja berakhir, ia mungkin bisa pergi beberapa hari. Menghilangkan penat, menjadi seorang yang normal tanpa embel-embel apapun yang melekat padanya. Ke tempat asing dimana tak akan ada seorang pun yang mengenalnya. Tapi mungkin itu bukan ide yang bagus dan kurang bijaksana mengingat hari keberangkatan wajib militernya semakin dekat. Selain itu ada beberapa hal yang tidak bisa ditinggalkannya serta harus diselesaikannya sebelum ia pergi melaksanakan kewajibannya.

Lelaki itu mendesah. Diseruputnya espresso yang telah berubah menjadi dingin. Perubahan pada espressonya mengingatkannya bahwa ia telah berdiri disana cukup lama tanpa melakukan apapun. Diliriknya komputer di atas meja tulis yang masih menyala meski sekarang sedang menampilkan screen saver berupa mystify warna warni. Tadi ia sedang membaca beberapa berkas terkait perusahan ayahnya sebelum bulir-bulir hujan menarik minatnya untuk mendekat.

Ia baru saja hendak meninggalkan ruang kerja itu untuk membuat secangkir espresso baru saat sebuah bunyi notifikasi email menghentikan langkahnya.

Notifikasi email pada komputernya itu jarang berbunyi. Karena hanya orang-orang tertentu yang mengetahuinya. Lagipula, selama ini yang rajin mengirim email kepadanya hanyalah ayahnya untuk mengirimkan beberapa berkas yang harus dipelajarinya terkait perusahaan yang kelak akan diwarisinya. Dan yang diketahuinya, ayahnya tak akan mengirimkan email baru sebelum ia menyelesaikan berkas sebelumnya.

Tapi toh ia juga tetap mendekat. Duduk di kursi berpunggung tinggi di belakang meja tulis. Menggerakkan mouse lalu mengklik notifikasi tersebut. Namun kemudian kursor hanya berhenti di barisan teratas kotak masuk di dalam akun emailnya. Dengan lambat dan berulang-ulang ia membaca nama pengirim emailnya.

Disana tertulis, alta.gracia@gmail.com

 

***

 

Musim Semi 2015

Sevilla, Spanyol

 

Siang itu Vineria San Telmo ramai seperti biasa. Dentingan sendok-garpu dan pisau dari perak, gelas saling beradu, serta percakapan ringan bersatu membentuk bunyi riuh di dalam ruangan. Begitupun di luar ruangan, keriuhan terjadi diantara meja-meja bundar beratap payung putih yang ditata sedemikian rupa.

Pemandangan tersebut tidaklah mengherankan, sebab restoran Vineria masih berada di ranking pertama bar tapas terlezat di Sevilla.

Tapas sendiri adalah sebutan untuk berbagai jenis makanan yang disajikan dalam porsi kecil. Orang-orang Spanyol pada umumnya menikmati tapas sebagai makanan ringan untuk menemani mereka minum di bar.

Diantara tamu-tamu restoran, tampaklah Siwon di salah satu meja beratap payung putih. Ia sedang membaca peta kota Sevilla dengan tekun. Tangannya menandai beberapa bagian pada peta menggunakan pensil warna. Piring-piring tapas dihadapannya telah berubah menjadi piring-piring kosong. Yang tersisa di atas meja hanyalah segelas Tinto de verano―summer red wine.

Ia baru saja membaca brosur untuk wisatawan yang merekomendasikan tempat-tempat wisata wajib dikunjungi ketika berada di Sevilla sebelum beralih mempelajari peta kota. Ia tidak terlalu tertarik pada tempat-tempat yang disebutkan karena tujuan utamanya datang ke kota di bagian selatan Spanyol itu bukan untuk mengunjungi tempat-tempat tersebut.

Namun beberapa menit kemudian ia berubah pikiran. Paling tidak ia harus melakukan wisata spiritual ke beberapa tempat mengingat ia sudah berada disana sekarang.

Siwon meraih gelas Tinto de verano. Meneguknya beberapa kali dengan mata tetap fokus mempelajari rute-rute jalan pusat kota. Sesekali angin lembut berhembus untuk menghalau panas matahari sore yang masih tersisa.

Pandangannya sedang mencapai pinggiran sungai Guadalquivir saat secara tiba-tiba suara benda keras beradu dengan lantai menarik seluruh perhatiannya.

Sebuah nampan tergeletak di bawah kakinya. Beberapa piring pecah, seluruh isinya berserakan ke lantai berubin. Dan ujung celananya terkena cipratan saus mayo.

Secara otomatis Siwon beranjak dari duduknya lalu ikut berjongkok, membantu perempuan malang yang menjatuhkan nampan hingga seorang la moza―pelayan restoran wanita―yang melihat kejadian itu segera datang untuk membantu mereka.

Perempuan yang menjatuhkan nampan itu mengucapkan terima kasih berkali-kali sebelum bergegas pergi tanpa memberi Siwon kesempatan untuk sekedar mengucapkan ‘lain kali hati-hati’.

Saat perempuan itu pergi, Siwon hanya mengikuti melalui tatapannya. Memperhatikan rambut merah panjang yang berayun kontras dengan sekitar. Dan baru tersadar setelah la moza mengatakan sesuatu dalam bahasa Spanyol dengan ramah yang sayang tidak dimengertinya. Jadi yang ia lakukan hanya tersenyum serta mengangguk.

Sialnya, Siwon baru menyadari malapetaka yang dialaminya begitu ia kembali duduk untuk menghabiskan Tinto de verano miliknya yang tinggal sedikit beberapa menit kemudian. Ranselnya menghilang. Pikirannya langsung tertuju pada perempuan berambut merah. Tapi saat ia menoleh untuk melihat si rambut merah, perempuan itu pun telah menghilang.

La cuenta, por favor―tolong bawakan bill nya,” seru Siwon panik pada seorang la moza yang lewat didekatnya.

Kemudian setelah meninggalkan beberapa lembar peseta beserta uang tip yang kelewat banyak, ia menyambar kamera di atas meja lalu bergegas pergi. Bahkan berlari, meski tak tahu kemana tujuannya. Paspor, Visa, kunci kamar hotel, dan ponsel, semua ada di dalam ransel yang menghilang. Mungkin kunci kamar hotel bisa didapatkan kembali asalkan mau meminta ke bagian resepsionis, sedangkan yang lainnya? Mustahil! Betapa bodohnya ia, betapa cerobohnya dirinya.

Tapi paling tidak ia masih memiliki dompet di dalam saku celananya. Yang beruntung tidak diletakkannya di dalam ransel bersama barang-barang lain.

 

***

 

Selimut gelap menyelubungi Sevilla, mengubah langit senja menjadi langit malam bertabur bintang ketika Siwon tiba di Barrio de Santa Cruz, kelelahan serta putus asa. Gelak tawa dan teriakan kegembiraan tertangkap indera pendengarannya begitu ia melewati restoran dan bar yang justru semakin malam semakin ramai. Beberapa kali ia bersimpangan dengan gerombolan muda mudi Sevilla yang saling bercengkerama dalam bahasa Spanyol menuju Plaza de los Venerables. Ia mengamati punggung-punggung yang berjalan didepannya lalu tanpa sadar mengikuti mereka.

Plaza de los Venerables penuh dengan orang-orang bermain gitar. Mereka membentuk kelompok-kelompok kecil dengan para pengunjung yang mayoritas wisatawan berdiri berkeliling. Di beberapa kelompok tampak juga seorang penari perempuan memakai gaun Sevilla yang menari bersama para pengunjung. Kebanyakan dari kelompok pemain gitar tersebut adalah anak-anak muda termasuk muda mudi Sevilla yang diikuti Siwon yang segera bergabung dengan teman mereka begitu tiba disana.

Ia tak benar-benar berniat datang ke plaza untuk menonton pertunjukkan musik tersebut. Hanya saja tadi ia berpikir mungkin bisa menemukan perempuan berambut merah disana. Tapi tampaknya ia salah. Tak ada tanda-tanda keberadaan perempuan itu disana.

Siwon berjalan menuju gerombolan wisatawan yang mengelilingi salah satu kelompok pemain gitar. Beberapa diantara mereka bersorak mengiringi orang-orang yang menari ditengah-tengah lingkaran. Awalnya ia tak melihat perempuan yang memakai gaun Sevilla di antara orang-orang yang menari. Tapi kemudian ketika orang-orang itu menyingkir, ia bisa melihatnya. Perempuan berambut merah.

Perempuan itu tertawa lepas dan menari bersama orang-orang disekelilingnya. Sesekali dia berputar, menyebabkan ujung gaun terangkat. Rambut merahnya berayun seiring gerakan pemiliknya.

Untuk beberapa waktu Siwon hanya terpana. Fakta bahwa perempuan berambut merah itu cantik jelita telah menghipnotisnya. Perempuan itu memiliki kecantikan layaknya perempuan Eropa pada umumnya. Rambut merahnya kontras dengan kulit kecoklatan. Tinggi perempuan itu tampak sejajar dengan Siwon.

Selama sesaat tatapan mereka bertemu. Perubahan pada ekspresi perempuan itu menandakan bahwa dia mengenali Siwon. Secara diam-diam dia keluar dari lingkaran. Menerobos kerumunan lalu berlari meninggalkan plaza. Siwon yang terkejut melihat itu, bergegas mengejarnya.

Di belakang mereka, terdengar teriakan pemain gitar dalam bahasa Spanyol yang ditebak Siwon meminta perempuan itu untuk kembali. Tapi perempuan itu seolah tak mendengar apa-apa dan terus saja berlari. Kedua tangannya mengangkat sisi-sisi gaun untuk mempermudah langkahnya. Tubuhnya yang ramping berkelit diantara padatnya pejalan kaki. Sedangkan Siwon harus berkali-kali minta maaf saat tubuhnya yang besar secara tidak sengaja menabrak orang-orang itu.

Sialnya, dari sekian banyak tempat di Sevilla kenapa mereka ada di Barrio de Santa Cruz dalam keadaan seperti ini.

Barrio de Santa Cruz adalah area yang dipenuhi jalan-jalan berbatu sempit serta berkelok-kelok ala labirin menyesatkan, dengan bangunan tua dan gelap dimana-mana. Tipikal tempat yang benar-benar menyenangkan untuk sekedar berjalan-jalan tanpa arah atau menyesatkan diri!

Señorita―nona!” panggil Siwon putus asa saat perempuan itu berbelok ke dalam jalanan sempit dan yang menakjubkannya tanpa sedikitpun mengurangi kecepatan.

Suara langkah kaki mereka berdua menggema, memenuhi seluruh jalanan dengan gema tersebut. Bayang-bayang gelap di sisi kiri kanan tampak begitu menakutkan dan seolah mengintai setiap pergerakan mereka.

Berkali-kali Siwon memanggil perempuan itu namun tak mendapat respon apapun. Kemudian ketika berbelok di belakang tikungan dan menemui jalan bercabang, ia kehilangan jejak perempuan itu.

“Sial,” umpat Siwon lalu memilih jalan sebelah kanan. Tapi belum jauh berlari, ia mendengar pekik tertahan disusul suara benda terjatuh dari arah belakangnya.

Ia segera memutar arah dan mendapati perempuan berambut merah itu tersungkur di jalanan berbatu. Dan saat ia mendekat, perempuan itu sedang berusaha bangkit meski tampak kesulitan. Langkahnya terpincang-pincang saat dia kembali berlari. Hal itu tentu saja memberi keuntungan tersendiri bagi Siwon.

Langkah lebar diambil Siwon untuk mendekati perempuan itu lalu menahan lengannya. Tapi ternyata selain kakinya yang terluka, perempuan itu tampak baik-baik saja. Dia terus saja meronta dengan tenaga penuh dalam cengekeraman Siwon dan mulai merepet cepat dalam bahasa Spanyol.

“Sialan―kau benar-benar pelari―yang hebat,” umpat Siwon dalam bahasa Inggris dengan nafas tersengal-sengal. Dan anehnya seolah perempuan itu mengerti apa yang dikatakannya karena secara tiba-tiba dia berhenti bicara lalu menatap tajam Siwon.

“Kau bisa berbahasa Inggris?” tanya Siwon penuh harap.

Perempuan itu menggeleng tanpa banyak berpikir. Selama sedetik dia tak menyadari apa yang dilakukannya. Tapi pada detik berikutnya, dia melotot penuh ketakutan pada Siwon. Menyesal atas kebodohannya.

“Bagus,” ucap Siwon penuh syukur karena tidak banyak orang Sevilla yang bisa berbahasa Inggris sedangkan ia hanya sedikit mengerti beberapa kata dalam bahasa Spanyol. “Sekarang, katakan dimana tasku?”

“Tas apa? Aku tidak tahu apa yang kau―”

“Katakan atau aku akan melaporkanmu ke polisi,” sela Siwon.

“Aku tidak mencurinya. Aku bersungguh-sungguh tidak mencurinya.”

Siwon menunggu.

“Baiklah,” ucap perempuan itu dengan nada menyerah pada akhirnya. “Temanku lah yang mengambil tasmu. Tapi aku tidak tahu dimana tas itu berada sekarang, aku bersumpah.”

“Tidak masalah. Kau akan menemukannya untukku.”

“Apa? Tidak! aku tidak mau berurusan dengan masalah ini.”

“Kau tidak dalam posisi untuk menolak. Kau harus melakukannya atau kita ke kantor polisi sekarang.”

“Baiklah,” jawab perempuan itu cepat-cepat.

“Kau harus menemukannya untukku dalam keadaan utuh lalu kita akan bertemu lagi besok jam tiga sore di Triana Bridge, itu yang terdekat dari tempatku menginap.”

“Aku mengerti, sekarang lepaskan aku.”

Siwon menggeleng. “Tidak semudah itu. Mana kartu identitasmu?”

“Tidak membawa,” jawab perempuan itu ketus.

“Benarkah? Haruskah aku menggeledahmu untuk memastikannya?”

Perempuan itu mengumpat pelan dalam bahasa Spanyol yang kebetulan dimengerti Siwon. Matanya melotot tidak suka pada Siwon lalu mengeluarkan kartu identitas dari dalam tas selempang kecilnya.

“Altagracia Márquez-Rojas.” Siwon membaca nama yang tertera pada kartu identitas lalu menatap perempuan dihadapannya. “Alta?”

Perempuan itu tak menjawab, namun gerakan matanya telah menjawab pertanyaan itu.

“Alta,” ulang Siwon lirih tanpa sadar.

“Sekarang lepaskan aku!” geram Alta.

Siwon menuruti perintah itu lalu mengamati darah yang keluar dari dalam sepatu Alta. Sebelumnya ia sama sekali tak sadar bahwa perempuan itu telah berlari mengenakan sepatu berhak.

“Haruskah kita pergi ke rumah sakit? Kau tampak tidak ok.”

“Tidak perlu,” jawab Alta pendek namun ucapannya dikhianati oleh tubuhnya yang hampir terjatuh saat melangkah. Dan secara otomatis Siwon meraih lengannya untuk mencegahnya benar-benar terjatuh.

“Kau tahu, kau mungkin memang telah membuatku kesusahan hari ini, tapi bagaimanapun juga aku tidak bisa hanya diam melihat perempuan terluka.”

Alta hanya mengamati Siwon.

“Kemarilah, aku akan mendapatkan taksi untukmu.”

 

***

 

Menuju Triana Bridge dari tempat menginap Siwon hanya membutuhkan waktu 20 menit berjalan. Sore itu, ia memutuskan datang ke Triana Bridge lebih awal beberapa menit dari waktu yang dijanjikannya pada Alta. Tidak membuat orang yang membuat janji bertemu dengannya menunggu selalu menjadi daftar teratas disiplin yang harus dilakukannya. Tanpa pengecualian siapapun orang tersebut.

Triana Bridge adalah sebuah jembatan yang melintang di atas sungai Guadalquivir dan menghubungkan bagian barat Sevilla dengan bagian timur. Di bagian timur Sevilla terdapat sebuah distrik bernama Trianna yang mana setiap tahunnya selalu mengadakan sebuah perayaan besar, Feria de Abril. Perayaan tersebut berlangsung selama seminggu pada minggu terakhir bulan April. Hari ini adalah hari pertama di minggu terakhir bulan April, pikir Siwon.

Selama menunggu di atas jembatan, Siwon lebih sering mengamati perahu-perahu yang melintasi sungai Guadalquivir. Namun setelah 10 menit berlalu semenjak waktu yang dijanjikan, ia mulai beralih mengamati kendaraan yang berlalu lalang. Kereta kuda adalah transportasi yang lewat begitu seringnya di atas jembatan. Membawa penumpang yang kebanyakan adalah wisatawan. Beberapa kali ia juga mendapati wajah-wajah Asia di atas kereta kuda tersebut. Saat Siwon sedang memperhatikan kereta-kereta kuda dan sedang bertanya-tanya kemana kemungkinan kereta kuda itu akan pergi, dari arah timur di kejauhan ia melihat sekelebat rambut merah yang berjalan ke arahnya. Meski jauh, ia dapat mengenali bahwa si rambut merah itu adalah Alta.

Siwon mengangkat tangannya untuk memberi tanda keberadaannya pada Alta. Setelah mendekat, ia baru bisa melihat bahwa Alta sedang memakai gaun berwarna cerah dengan rok berkerut ciri khas pakaian bergaya Sevilla yang sering digunakan tiap kali ada sebuah perayaan.

¡Hola!” sapanya saat Alta tiba.

Alta tak membalas sapaan itu dan langsung mengembalikan ransel hitam miliknya. Tapi ekspresi Alta jauh lebih ramah dari malam sebelumnya. Mungkin merasa sedikit tersentuh atas kebaikan Siwon.

Gracia―terima kasih,” ucap Siwon sungguh-sungguh selesai mengecek isi ranselnya dan mendapati semua barang miliknya masih lengkap.

“Mana kartu identitasku?”

“Aku pasti akan mengembalikannya, tenang saja. Untuk sementara aku akan membawanya sebagai jaminan jika sesuatu yang serupa terjadi padaku.”

Alta melotot tak percaya pada Siwon tapi anehnya dia tidak terlihat begitu marah. “Ini penipuan!”

“Tidak. Ini kuanggap impas,” jawab Siwon santai. “Apa kau tinggal di Triana?”

Alta mengangguk. “Oh ya, ngomong-ngomong kau mau pergi ke Triana? Sedang berlangsung perayaan tahunan disana.”

“Senang mendengar itu darimu, aku sempat memikirkannya beberapa saat yang lalu.”

Kemudian mereka berdua berjalan beriringan menyeberangi jembatan menuju Triana. Sepanjang jalanan Triana, mereka sering berpapasan dengan orang-orang gipsi yang beberapa kali melirik Siwon penuh ketertarikan. Hal itu tanpa sadar membuatnya berjalan lebih dekat pada Alta.

Di Sevilla memang cukup banyak orang gipsi yang berasal dari Eropa Timur. Biasanya mereka bekerja sebagai pemulung. Tapi beberapa juga ada yang meminta-minta. Pada para gipsi yang meminta-minta tersebut, Siwon tanpa segan memberi mereka lembaran peseta.

“Mereka tidak akan berhenti meminta-minta kalau kau tidak menyudahi acara amalmu itu.”

Segera setelah mendengar itu, Siwon memasukkan dompetnya kembali ke dalam tas dan menyunggingkan senyum penuh permintaan maaf tiap kali seorang gipsi mendekatinya. Tapi kemudian setelah berjalan beberapa blok, pertahanannya runtuh saat melihat seorang anak kecil gipsi mendekatinya dengan ekspresi memelas lalu memberi anak itu 2 lembar peseta.

Alta yang melihatnya hanya menggeleng. “Terserahlah.”

 

***

 

Feria de Abril pada sejarahnya merupakan pameran kuda yang kemudian bergeser menjadi pesta bagi penduduk kota. Pada perayaan itu, para perempuan biasanya mengenakan gaun berwarna warni dengan rok berkerut-kerut, sedangkan para pria mengenakan jaket pendek, sepatu bot dan topi.

Setibanya di tempat perayaan, tempat itu telah dipenuhi tenda-tenda berukuran besar yang didirikan secara teratur. Udara disana dipenuhi aroma bunga dan wewangian lain yang berasal dari beberapa tanaman. Musik dan gelak tawa terdengar dari dalam masing-masing tenda. Beberapa tenda dijaga oleh seorang petugas keamanan untuk mencegah sembarangan orang masuk. Tapi lebih banyak lagi tenda-tenda yang terbuka untuk umum. Banyak wisatawan yang bergabung di dalam tenda-tenda umum tersebut.

Siwon mengikuti Alta yang memimpin jalan menuju sebuah tenda keluarganya di sisi terjauh. Tiap orang berseru ‘hola’ pada mereka ketika ia berjalan melewati tenda-tenda lain. Ia sendiripun membalas tiap sapaan itu dengan senang hati. Orang Sevilla memang terkenal sangat ramah pada orang lain. Di jalan-jalan bukanlah hal yang aneh melihat orang saling berhola tiap kali berpapasan. Berbeda dengan orang-orang di kota lain di Eropa.

“Mereka mungkin akan sedikit terlalu ramah padamu, jadi―” kata Alta di luar tenda keluarganya namun segera menghentikan kalimatnya ketika melihat senyum riang Siwon.

“Tidak masalah.”

Di luar mungkin semuanya terlihat rapi dan tertata, namun begitu masuk ke dalam tenda, tempat itu terasa lebih penuh dan riuh. Meja-meja panjang penuh berisi aneka macam makanan dan minuman diatur menempel pada satu sisi tenda. Meja-meja yang lebih kecil di atur disekitarnya dengan beberapa kursi mengelilingi meja tersebut. Namun hanya sedikit yang memilih duduk, karena sebagian besar dari orang-orang itu menari di sisi lain tenda yang tersisa.

Seperti kata Alta, disana Siwon disambut dengan sangat baik oleh keluarga Alta. Mereka saling berucap dalam bahasa Spanyol yang justru membuat Siwon pusing. Dan tampaknya Alta menikmati pemandangan itu karena setelah waktu yang cukup lama barulah dia menyelamatkan Siwon dari keramahan keluarganya.

“Wow, mereka membuatku kewalahan,” Siwon berkata penuh kekaguman setelah meneguk minuman yang diserahkan Alta padanya.

Alta tertawa mendengarnya.

Untuk pertama kalinya semenjak di Plaza de los Venerables, itulah kesempatan keduanya melihat Alta tertawa begitu lepas. Sebuah tawa yang membuat Siwon terpana hingga kesulitan mengendalikan diri.

 

“Ayahmu seorang polisi?” tanya Siwon terkejut saat mendengar Alta memberitahunya.

Alta mengangguk samar.

“Jadi karena itu kau begitu ketakutan saat kubilang akan membawamu ke kantor polisi? Bagaimana mungkin anak seorang polisi melakukan tindak asusila seperti itu.”

“Kau mau membunuhku!” hardik Alta melihat berkeliling tapi tampaknya semua orang terlalu larut pada pesta hingga tak memperhatikan mereka.

Siwon menggeleng sambil berdecak tak percaya.

“Kau tahu, sangat sulit menemukan pekerjaan disini. Dan lagi pula aku yakin setiap wisatawan yang datang kemari adalah orang kaya, mereka tak akan rugi jika kehilangan sedikit uang.”

“Bagaimana dengan barang-barang berharga seperti visa dan paspor?”

“Kami akan menyerahkan itu ke kantor polisi dengan mengatakan kami menemukannya di jalan. Lalu polisi akan menyisir tiap hotel untuk mengembalikannya. Biasanya mereka akan mendapatkan imbalan atas ‘perbuatan terpuji’ tersebut.”

“Itu cukup merepotkan.”

“Tidak ada pekerjaan yang tidak merepotkan.”

Percakapan mereka terhenti ketika seorang perempuan berusia lanjut usia mendatangi meja mereka.

“Itu nenekku,” desis Alta. “Dia mungkin akan mengajakmu menari.”

Dan benar saja, nenek itu menarik tangan Siwon agar ikut bersamanya ke tengah tenda. Tarikan itu hanyalah sebuah tarikan lembut, tapi Siwon sama sekali tak melawan. Sebelum pergi ia memandang Alta agar ikut dengannya tapi Alta menggeleng.

“Gerakkan badanmu mengikuti irama,” seru Alta riang kemudian bersorak paling keras begitu Siwon mulai menari.

 

***

 

“Haruskah aku membelikan oleh-oleh keramik untuk anak-anak?” gumam Siwon lebih kepada dirinya sendiri ketika mereka berhenti di depan salah satu etalase toko keramik yang banyak tersebar di Triana.

Dari kaca etalase tampak pantulan wajah Alta yang sedang mengamatinya dengan heran.

“Ada apa?”

“Kau baru saja berbicara dalam bahasa Alien?”

“Bukan, itu bahasa Korea Selatan,” jawab Siwon sambil lalu. Kemudian kembali berjalan.

Malam sudah cukup larut, dan Alta dengan baik hati menawarkan diri untuk menemani Siwon ke halte bus terdekat walaupun ia sudah menolaknya, namun Alta tetap bersikukuh untuk pergi. Alta cukup keras kepala rupanya. Jadi pada akhirnya mereka berjalan beriringan menuju halte terdekat.

“Kau tak mau membeli keramik sebagai oleh-oleh? Keramik di Triana adalah yang terbaik.”

Siwon menggeleng.

“Kau yakin? Kau bisa memberikannya pada―kekasihmu mungkin?”

Lagi-lagi Siwon hanya menggeleng.

“Ah, ya, memang sudah seharusnya kau memberikan oleh-oleh yang lebih bagus.”

Siwon mengedikkan bahu.

“Berapa lama kau akan berada disini?”

“Empat hari. Ini hari keduaku.”

“Oh, itu artinya kau sudah akan pulang besok lusa.”

Mungkin ini hanya perasaannya, tapi Siwon menangkap nada sedih dalam suara Alta.

“Kau sibuk besok pagi?” tanya Siwon setelah keheningan cukup lama yang membuat canggung.

“Tidak. Bukankah aku pengangguran?”

“Kupikir―kupikir kau mau―uhm―mau menemaniku berkeliling untuk terakhir kalinya sebelum aku pulang?”

“Dengan senang hati,” jawab Alta tanpa banyak berpikir.

“Bagus, kalau begitu, sampai bertemu besok jam delapan pagi di―”

“Parque de Maria Luisa,” potong Alta. “Bukankah kau bilang tempat menginapmu berada didekat Triana Bridge? Disana ada sebuah taman dan taman itu yang terdekat dengan Triana Bridge.”

Siwon mengangguk setuju. “Baiklah kalau begitu, sampai bertemu besok jam delapan pagi di Parque de Maria Luisa. Aku Akan menunggumu di pintu masuk,” ulang Siwon saat melihat sebuah bus merah menuju ke arah halte.

Alta tersenyum. “Atau justru aku yang akan menunggumu.”

“Kita lihat saja nanti,” balas Siwon tepat saat bus berhenti di depan mereka.

“Cepat naiklah.”

Siwon tampak ragu di bawah pintu masuk. Ia menoleh kebelakang untuk meneliti jalanan yang tadi mereka lalui. “Kau yakin tidak masalah aku meninggalkanmu disini?”

“Justru aku yang harusnya bertanya demikian. Kau yakin bisa selamat sampai di hotel?”

Siwon berdecak. “Aku seorang pria.”

“Aku tahu. Dan aku sudah ada disini sejak bayi.”

“Kau benar.”

“Cepat naiklah sebelum sopir dan penumpang lain memakimu.”

“Aku mengerti. Hasta mañana―sampai besok.”

Hasta mañana.”

Siwon melambaikan tangannya. Dan bis itupun pergi meninggalkan Triana. Meninggalkan sekeping kenangan indah yang pernah terukir disana.

 

***

 

Aeroporto de San Pablo adalah bandara utama di Sevilla, dan merupakan bandara tersibuk kedua di Andalusia setelah Malaga.

Pagi itu, Aeoporto da San Pablo sibuk seperti biasa. Taxi dan bus keluar masuk bandara tanpa henti. Wajah-wajah wisatawan memenuhi segala penjuru bandara. Bahasa-bahasa asing dari berbagai penjuru dunia serta suara roda bergesekan dengan lantai terdengar di beberapa bagian bandara. Menambah kesibukan setiap orang di tempat tersebut.

“Uhm―bolehkah, bolehkan aku―memelukmu?”

Selama sedetik, Siwon mengira Alta akan menolak dengan tegas namun kenyataannya perempuan itu justru tertawa.

Siwon menautkan kedua alis tebalnya hingga membentuk kerutan pada dahi. Ia tidak merasa ada sesuatu yang lucu. Jadi ia hanya diam menunggu Alta berhenti tertawa.

“Apa lelaki Korea Selatan selalu meminta ijin ketika ingin memeluk seorang perempuan?” tanya Alta dengan tatapan geli.

Siwon mengedikkan bahu. Berusaha sekuat tenaga untuk tak menggaruk belakang lehernya. “Aku hanya―”

Ia tak sempat melanjutkan kalimatnya karena saat itu Altalah yang justru berinisiatif memeluknya lebih dulu. Diam-diam ia tersenyum lalu membalas pelukan perempuan itu.

Mucho gusto―senang berkenalan denganmu,” pelan Siwon. Semalaman ia telah memikirkan bagaimana mengucapkan perpisahan pada Alta hingga membuatnya sulit tidur. Tapi toh tak pernah ada kalimat yang menyenangkan untuk diucapkan saat perpisahan.

Alta mengangguk di dalam dekapannya.

“Terima kasih untuk tiga hari yang begitu menyenangkan. Aku tak akan melupakannya.”

Lagi-lagi Alta mengangguk.

Siwon tidak tahu kenapa tapi tiga hari yang ia habiskan bersama Alta membuatnya memandang Alta dengan cara yang berbeda. Tapi ia tidak mau mengartikan perasaan itu lebih dalam karena pertemuan mereka hanyalah pertemuan singkat tiga hari. Ia tidak mau memberi harapan pada Alta, tidak, sebenarnya ia tidak mau terlalu memberi harapan pada dirinya sendiri. Jika ia terlalu terbawa emosi, ia tahu kemana perasaannya akan membawanya. Jadi, ia hanya akan menganggap pertemuan mereka ini sebagai sebuah pertemuan wisata singkat.

Mereka berdua baru melepaskan pelukan masing-masing saat suara public announcer menggema di sepanjang bandara.

“Aku akan pergi sekarang.”

Alta menggigit-gigit bibir bawahnya beberapa saat sebelum secara mendadak memberi kecupan lima detik pada bibir Siwon.

Ia menatap Alta terkejut. Bibirnya sedikit terbuka. Sedangkan Alta hanya tersenyum tanpa malu-malu.

“Pergilah. Adios. Buen viaje―selamat tinggal. Selamat jalan.”

Siwon mengangguk. “Adios.”

Ia menyeret kopernya menuju pintu keberangkatan. Namun sebelum melewati pintu tersebut, ia berbalik. Dilihatnya Alta masih menunggunya. Perempuan itu melambaikan sesuatu berwarna kecoklatan padanya, seolah ingin menunjukkan apa yang telah berhasil dilakukannya tepat saat mereka berpisah.

Secara otomatis dirabanya bagian belakang celananya. Hanya untuk memastikan bahwa benda yang dipegang Alta bukan seperti yang ia pikirkan. Tapi kenyataannya tak ada apa-apa disana. Dompetnya telah menghilang.

Sekali lagi ia memandang Alta, menghela nafas, lalu mengedikkan bahunya dan membalas lambaian tangan Alta. Kemudian kembali melanjutkan langkahnya.

Peristiwa pencopetan yang dialaminya memang telah mengajarkan sesuatu. Jangan sekalipun meletakkan dompet di saku belakang celana. Sedangkan kali ini berbeda. Ia sengaja meletakkan dompet itu disana. Ia sengaja menginginkan Alta agar mengambilnya.

 

***

 

Alta memandang tak percaya dompet Louis Vuitton yang dipegangnya. Tak ada selembarpun uang di dalam dompet tersebut. Bahkan tak ada apapun disana kecuali sebuah kertas memo hotel yang dilipat dua kali dan kartu identitas miliknya. Dia sendiri saja sudah lupa tentang kartu identitas itu.

Alta membuka lipatan memo dengan hati-hati. Pesan pada memo itu singkat dan ditulis dalam bahasa Inggris dengan tulisan tangan yang sangat rapi. Kemudian ia pun mulai membacanya.

“Pergilah ke Barcelona. Temui seorang kenalanku disana dan mintalah pekerjaan padanya dengan menyebutkan namaku. Hiduplah lebih baik mulai dari sekarang. Choi Siwon.”

Di bagian bawah memo tercantum sebaris alamat serta nomor telepon seorang kenalan yang dimaksud dalam memo.

Perlu membaca ulang dua kali bagi Alta untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa selama ini pria itu mengetahui identitasnya yang sebenarnya, tetapi masih memperlakukan dirinya layaknya seorang teman.

Alta memandang kagum memo tersebut kemudian menyelipkannya kembali ke dalam dompet dan mengantonginya.

Paling tidak, ini Louis Vuitton, pikirnya.

 

***

 

Musim Gugur 2015.

Seoul, Korea Selatan.

 

Terima kasih untuk kesempatan yang kau berikan. Fernandez menerimaku dengan tangan terbuka dan memperlakukanku dengan sangat baik. Aku tahu kau adalah orang baik, melihat betapa baiknya teman-temanmu.

Aku berharap suatu hari kita akan bertemu kembali agar aku bisa mengucapkan rasa terima kasihku padamu secara langsung.

Sekali lagi terima kasih.

 

Salam hangat dari Barcelona,

Altagracia

 

Senyum Siwon mengembang selesai membaca sebaris pesan tersebut. Kehangatan yang bukan berasal dari pemanas ruangan secara mendadak menyelubungi tubuh dan hatinya.

 

SELESAI

 

 

Note: ini adalah FF ke-4 saya, yang saya kirim ke sujuff (sebelumnya Naeui Yeongsin, The Story of Utopia, dan Don’t Forget) serta merupakan FF pertama dengan main cast Choi Siwon. Ternyata nulis FF main cast Siwon rasanya beda dengan Kyuhyun, bawaannya nulis yang baik-baik mulu. Saya tidak tahu apakah nanti ada yang membaca FF ini, tapi terlepas dari itu, saya tetap mengucapkan terima kasih, dan jika memungkinkan, sampai jumpa di FF selanjutnya.

 

xoxo

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: