[Siwon’s Day] When The Detective Needs Husband

choi-siwon

[Siwon’s Day] When The Detective Needs Husband

By. Lauditta Marchia T

Genre : Romance, Comedy (?)

***

“Tidak ada gunanya kau terus menyangkal seperti ini. Mengapa tidak kita selesaikan sekarang?”

“Menyelesaikan apa? Memangnya apa yang sudah aku lakukan?”

“Baiklah. Kim Yeol, kita permudah saja,” orang ini tidak bisa diajak bicara dengan baik. Punggung yang pegal hanya bisa kusandarkan di tempat yang sudah kududuki sejak beberapa jam lalu. Sambil melipat tangan santai, “Lee Sae Na ditemukan tewas di kamar hotel dengan luka memar di sekujur tubuhnya. Hasil otopsi mengatakan jika gadis itu mengalami patah tulang leher, pecah limpa, beberapa tulang rusuknya patah dan kerusakan parah pada paru-paru.”

Kim Yeol hanya mendengus, menatap sinis padaku.

“Malam itu, kau dan Lee Sae Na masuk ke kamar hotel setelah bersenang-senang di kelab malam Nounghan. Kalian terlibat pertengkaran setelah kau melihat sebuah pesan mesra dari orang lain di ponsel Sae Na.”

Dia sedikit terlonjak saat aku meletakkan di atas meja, sebuah ponsel yang telah dimasukkan ke dalam plastik. Salah satu barang bukti yang ditemukan di TKP.

“Alasan yang membuatmu memukuli kekasihmu dan meninggalkannya yang sedang sekarat seorang diri tanpa pertolongan. Kim Yeol, sebelumnya kau pernah ditangkap karena tindak penganiayaan terhadap seorang PSK. Pasti sangat menyenangkan bagimu untuk melakukan hal mengerikan itu pada seorang gadis. Seharusnya jika kau ingin cuci tangan, jangan lupa untuk menyingkirkan semua bukti di TKP, termasuk sisa sperma yang telah mengering di sprei. Jadi, mengapa tidak kau akui saja perbuatanmu?”

“Aku ingin pengacara!”

Agak menyenangkan ketika melihat kecemasan yang tersirat di wajah lelaki yang duduk di hadapanku, berseberangan dengan sebuah meja di antara kami. “Hasil pemeriksaan terhadap sperma itu akan segera keluar. Mau bertaruh denganku?”

Hanya dengusan pelan dan Kim Yeol tersenyum miring, “Detektif Ahn, kau punya pacar?” pertanyaan yang disodorkan Yeol, membuat raut wajahku berubah seketika. “Bagaimana jika kita berkencan?”

“Tuan Kim, kau sedang menggodaku? Di mana sopan santunmu?”

“Bukan hanya kau yang berani bertaruh, Detektif Ahn. Aku pun berani menjamin jika saat ini kau tidak sedang berkencan dengan siapa pun. Kebanyakan lelaki menyukai wanita yang lembut, tapi tidak begitu denganku,” Kim Yeol meletakkan tangan di atas meja dan menaut jari-jarinya. Dia sedikit mencondongkan tubuhnya ke arahku, “Kau adalah tipe wanita kesukaanku. Cantik, tapi galak.”

Aku bisa melihat seringaian tajam Kim Yeol. Pena dalam genggamanku hampir remuk. Tersangka yang berani menggoda polisi yang sedang menginterogasinya? Dia pikir aku siapa? Berani sekali.

“Tuan Kim Yeol. Di matamu, aku tampak semudah itu?”

“Detektif Ahn, berapa umurmu? Mengapa kau belum menikah?”

Yang kulakukan setelah mendengar rentetan pertanyaannya adalah menutup laptop di hadapanku dan menatapnya yang sedang tersenyum menggoda. Aku tidak keberatan membalas senyumannya. Mungkin kita harus saling membuang senyum seperti ini, kan, Tuan Kim?

“Detektif Ahn, rasanya aku jatuh cinta padamu.”

Pengakuan cinta dari tersangka pembunuhan? Mimpi apa aku semalam? Lihat, dia bahkan berani menyentuh tanganku.

“Cepat!”

Aku bisa mendengar suara pemuda-pemuda itu dan pintu ruang interogasi terbuka tak sabaran. Mereka yang tadinya sedang mengawasi jalannya interogasi dari ruangan sebelah, kini seolah berebutan untuk tiba di sini lebih dahulu. Hanya saja, kedatangan mereka terlambat sekian detik. Mereka hanya tercekat memandangi Kim Yeol yang baru saja ambruk setelah kuberi tendangan keras di kepalanya.

Sambil mengebaskan tangan, aku menghampiri para pemuda yang masih mematung. “Kalian urus dia!”

Mereka lantas memandangi Kim Yeol yang telah tergeletak tak sadarkan diri di lantai. Ada darah segar yang mengalir dari hidungnya.

Sunbae—” Lee Donghae tampak seperti orang bodoh yang tak tahu harus mengatakan apa.

“Katakan saja si gila itu telah melecehkan seorang polisi!”

Sunbaenim—” Lee Hyukjae justru terlihat seperti ingin menangis.

Aku bisa sedikit memahami kecemasan yang melanda mereka. Siapa yang akan mempercayai alasan tersebut jika di ruangan interogasi dilengkapi CCTV. Kami bisa saja hukum oleh kepala polisi karena melukai tersangka, tapi sebelum itu, kami sudah pasti dimaki habis-habisan oleh kepala departemen kriminal.

“Jangan cemas, aku yang akan menanggung hukumannya,” aku menepuk santai bahu Kim Jong Woon. Dia satu-satunya yang belum mengeluarkan sepatah kata pun. Aku bisa melihat mereka menarik napas dalam-dalam. Reaksi yang terlalu berlebihan.

Kim Jong Woon menghampiri tersangka sambil berdecak, “Tidak seharusnya kau memancing Sunbae seperti itu,” dia berjongkok dan kembali berkata, “Kim Yeol. Kau memang gila, tapi Ahn Sunbae jauh lebih gila daripada apa yang kau bayangkan,” tanpa rasa bersalah sedikit pun padaku yang bahkan belum beranjak dari situ.

Aish! Si kaku itu. Tidak bisakah dia menungguku pergi sebelum mengeluarkan kata-kata pedasnya?

 

***

PIPP…PIPP…PIPP!!!!

“Hei! Bangsat! Singkirkan mobilmu!”

Entah berapa kali harus kubunyikan klakson mobil. Pengemudi di depan sana sepertinya tuli. Pengemudi baru atau apa? Tidak tahu aturan. Tiba-tiba menghalangi jalan begitu saja.

Beberapa saat kemudian, setelah mobil tadi terparkir rapi, pengemudinya segera turun. Seorang lelaki paruh baya berjas rapi. Dia memasang wajah garang dan berjalan menghampiri mobilku. Aku pun keluar dari dalam mobil.

“Nona, apa kau gila?”

Seharusnya aku yang bertanya begitu. Mengherankan. Sayang sekali aku sedang tidak berselera meladeninya. Permen karet yang telah hambar dalam mulutku lebih menarik, ketimbang aku harus berdebat dengannya. Cara yang tepat untuk membungkam mulutnya adalah dengan menunjukkan kartu identitasku, “Menghalangi petugas kepolisian yang sedang bertugas, Anda bisa terkena sanksi, Tuan,” dan raut wajah orang itu pun berubah melunak. Dia berlalu tanpa bersuara, meski aku yakin jika dia sedang mengumpat dalam hati.

Namaku Ahn Soon Yi, seorang detektif yang bertugas di Kepolisian Gangnam. Aku adalah ketua tim 2 unit investigasi kriminal.

Hanya lima menit waktu yang kubutuhkan untuk membeli segelas kopi di kafe seberang jalan itu. Lalu, bergegas kembali ke mobil. Konsentrasiku dalam menyetir sedikit terganggu saat ponsel berbunyi. Seketika sekujur tubuhku lemas saat melihat siapa yang meneleponku.

“Soon Yi, temui aku sekarang juga!”

“Aku sedang bertugas. Sekarang tidak bisa. Nanti malam, ah, tidak. Sepertinya malam ini aku tidak bisa pulang. Aku janji, begitu tiba di rumah, aku akan—”

“Sebaiknya kau turuti perintahku, atau aku sendiri yang akan memenjarakanmu.”

Telepon terputus. Nenek selalu seenaknya. Perasaanku mulai tidak nyaman. Ini pasti pertanda buruk. Aku tahu apa yang sedang menanti di rumah, dan itu membuatku muak. Nenek tidak terdengar dalam keadaan yang baik untuk diajak bernegosiasi. Okay, bergegaslah pulang Ahn Soon Yi sebelum Nenek menyuruhmu mengulang pembelajaran tentang tata krama.

*

Untuk alasan itulah, mengapa kini aku hanya bisa duduk bersimpuh di hadapan Nenek dengan kepala yang tertunduk dalam.

“Sampai kapan kau akan bermain-main seperti itu?”

Sudah kuduga. Memangnya, apa lagi yang bisa membuatnya naik pitam jika bukan karena menyangkut topik keramat tentang…uhh, aku tidak ingin memikirkan itu. Tidak bisa dipercaya, aku terjebak dalam situasi yang cukup mengerikan. Sementara penjahat di luar sana bersenang-senang, seorang detektif sepertiku justru sedang mendengarkan sebuah petuah. Ini menyedihkan.

“Aku tidak bermain, tapi bekerja.”

“Apa kau lupa siapa dirimu?” pertanyaan yang membuatku harus menarik napas dalam. Ya, sebentar lagi, dia akan mengungkitnya, “Temuilah tuan muda keluarga besan!” tepat sekali. Helaan napasku semakin dalam lagi. .

“Nenek,” aku memberanikan diri mengangkat wajah, memandangi langsung bola matanya, “Nenek berjanji bahwa untuk masalah yang satu ini, Nenek akan membiarkan aku yang mengurusnya.”

“Aku menyesal telah berjanji seperti itu. Kau tidak bisa diandalkan. Sampai hari ini kau belum membawa calon suamimu di hadapanku.”

“Itu karena aku begitu sibuk. Banyak kasus kriminal yang terjadi dan kami harus bekerja keras untuk meringkuk pelakunya,” tidakkah Nenek mengerti? Semua demi keamanan masyarakat, juga Nenek. Bahkan baru-baru ini kami akhirnya berhasil memecahkan kasus pembunuhan berantai dan menangkap pelakunya setelah melakukan penyelidikan yang cukup panjang.

“Apa kini kau mengerti mengapa aku tidak setuju jika kau menjadi seorang polisi?”

“Nenek—“

“Segera kenalkan calon suamimu jika kau tidak ingin menikahi orang yang bertunangan denganmu.”

Alasan yang sangat klasik. Yang benar saja! Aku bahkan tidak pernah merasa bertunangan dengan siapa pun. Lalu tiba-tiba saja mereka terus menuntutku agar segera bertemu dengan orang yang katanya akan menjadi suamiku. Yang lebih menjijikkan lagi, semua karena mereka mempercayai perkataan seorang kerabat yang berprofesi sebagai cenayang. Katanya, aku harus menikah dengan anak dari keluarga itu karena kami jodoh yang telah ditakdirkan oleh langit. Oh hallo, di jaman apa sekarang? Mereka masih saja berpikiran sempit dan sangat kuno.

“Kau adalah generasi penerus ke-42 Keluarga Ahn yang sangat terhormat, yang telah mengabdi pada keluarga kerajaan sejak Dinasti Joseon. Jadi, jangan membuat para leluhur tertunduk malu karena perbuatanmu.”

Kenyataan yang membuatku harus menelan ludah, paksa. Aku adalah keturunan keluarga bangsawan yang masih memegang teguh tradisi sejak jaman dahulu. Ya, tidak mengherankan jika perilaku mereka tidak kekinian. Tata krama dan sopan santun dalam keluarga kami sungguh luar biasa menyiksaku yang selalu ingin hidup bebas. Aku tidak bisa melakukan apa pun yang aku inginkan. Semua keputusan ada di tangan para tetua keluarga, termasuk dalam penentuan pernikahan. Hidupku tidak ada beda dengan kehidupan gadis-gadis bangsawan pada jaman Joseon. Sungguh tidak bisa dipercaya jika aku terlahir dari keluarga yang benar-benar tradisional. Oh, Gosh! What the hell?

“Menikahlah sebelum rahimmu mengering.”

A-a-apa?

Betapa naifnya wanita tua ini! Hari ini, aku membuat Kim Yeol, si penjahat kelamin tak sadarkan diri. Lalu wanita ringkih ini melakukan hal yang kedengarannya kurang-lebih sama dengan apa yang dilakukan Kim Yeol. Melecehkanku.

Kesabaran yang mati-matian kutahan sejak tadi runtuh begitu saja setelah mendengar penghinaan garis keras yang terlontar dari mulut Nenek. Masa bodoh dengan semua. Masa bodoh dengan leluhur atau pun langit.

PLAK!!

Leher Nenek pasti terpelintir karena kuatnya tamparan yang aku layangkan, “K-kau…?” dia terkejut, tak menyangka jika cucunya yang berasal dari keluarga terhormat dan terpandang justru berbuat hal sekurang ajar itu.

Apa? Kau akan menyumpahiku? Langit akan mengutukku?

“Berani-beraninya kau berkata begitu? Hanya karena aku belum menikah, lalu kalian meremehkanku? Katanya berdarah bangsawan, tapi di mana tata kramamu? Hahh? Memangnya kenapa jika aku tak menikah? Umurku bahkan baru 30 tahun.”

Baru?

Sadarlah Soon Yi. Bukankah kata yang lebih tepat adalah sudah?

Aish! Mengapa dia membuatku dengan sangat terpaksa harus menyinggung masalah umur di sini?

“Ini bukan jaman Joseon! Jika kau dan para tetua sialan itu terus mendesakku, maka aku tak akan sungkan melukai kalian semua! Mengerti?”

Hah! Rasakan. Kau pasti terkejut melihat seringaianku ini, kan? Akhirnya kau tahu bahwa cucumu bukan wanita yang berperilaku anggun dan penuh sopan santun. Cucumu ini dijuluki iblis di Kepolisian Gangnam. Bahkan para penjahat gemetar hanya dengan mendengar nama Detektif Ahn Soon Yi, dan kau justru mengataiku apa tadi? Rahim kering?

Di mana kekuasaanmu yang selama ini kau banggakan? Lihat, betapa menyedihkannya dirimu yang hanya bisa beringsut ketakutan di tempat duduk.

“Soon Yi.”

Ada apa? Kau takut, kan? Kau menyesal? Kau ingin minta maaf? Oh, tidak. Tidak semudah itu. Tidak setelah semua yang kau lakukan padaku.

“AHN SOON YI!”

Hardikan Nenek yang begitu keras seolah berbalik menamparku. Aku tersentak dan memandanginya.

“Kau baik-baik saja?”

Nenek sedang menghujaniku dengan tatapan bingung. Keriput di dahinya terlihat jelas. Aku masih terpaku.

“Apa yang kau lakukan?”

Tanyanya lagi dengan sorot mata yang terarah padaku…pada tanganku yang masih mengambang tinggi di udara.

“Sementara aku berbicara, kau justru melamun?”

Ternyata…

“Ah, tidak. Bukan begitu,” aku menjadi kelabakan, “Tadi ada nyamuk di sini,” Soon Yi yang menyedihkan. Mengapa aku harus berpura-pura menepuk nyamuk seperti ini?

Sepertinya aksi heroikku yang melakukan perlawanan hebat tadi hanya akan terjadi dalam dunia khayalan. Ahn Soon Yi, hentikan cita-citamu untuk memberi Nenek pelajaran. Berhentilah, sebelum kau benar-benar dikutuk!

Apa boleh buat. Aku hanya bisa mendesah lemas.

Jangankan menampar, bersuara keras terhadap Nenek tidak bisa kulakukan. Rasanya suara ini terkurung jauh di dalam mulut. Tidak seperti bagaimana saat aku berteriak-teriak di kantor polisi. Pada akhirnya aku hanya bisa berkata pelan sambil menundukkan kepala santun, “Baiklah, aku akan menikah.”

Dasar pengecut. Tidak bisa berkutik sedikit pun. Nenek masih terus menatapiku, seolah kalimat yang menyatakan kesanggupanku memenuhi permintaannya untuk menikah tidak cukup baginya.

Apa lagi?

Tunggu dulu. Jangan-jangan…

Ah, yang benar saja.

Sepertinya aku tidak punya pilihan, selain memperjelas lagi pada Nenek dengan berkata, “Se-be-lum-ra-him-ku-me-nge-ring,” memberi penekanan disetiap suku kata, dan tentu saja sambil menahan gemelatuk gigi.

Nenek tersenyum dan mengangguk pelan, dia tampak puas. Aku pun ikut tersenyum bersamanya, sementara gigiku saling menggigit kuat dan ubun-ubunku hampir meledak.

“Aku cemas, kau baru akan menikah saat memasuki masa menopause,” dengan tanpa rasa berdosa, Nenek seolah sedang memberondong timah panas tepat ke jantungku. Mungkin karena melihat wajahku yang mengeras, tiba-tiba saja Nenek tertawa sambil berkata, “Aku bercanda,” lagi-lagi dengan tampang polos. Nenek bersikap seolah dirinya adalah seorang malaikat. Jangan bercanda, mana ada malaikat yang kadaluarsa?

Bodohnya lagi, aku pun tertawa. Kami berdua tertawa bersama, sampai-sampai air mataku menetes. Mungkin inilah yang dinamakan dengan rasa lucu dan sedih yang menggenggammu secara bersamaan.

Ya Tuhan, tidak apa-apa jika Kau mencabut nyawaku sekarang.

Detektif tangguh dan ditakuti sepertiku yang selalu berhadapan dengan penjahat berbahaya, namun di hadapan wanita renta tak berdaya yang jika disentuh dengan ujung jari akan langsung terjerambab, aku hanya bisa berkata iya dan tidak dengan kesantunan tingkat tinggi layaknya wanita bangsawan Joseon. Rasanya, diriku yang sebenarnya yang terperangkap dalam tubuh wanita bangsawan kuno ini sedang berteriak histeris sambil menggelinding di lantai.

Satu kata yang dapat menyimpulkan hidupku. Mengenaskan.

 

***

 

-Apa sebaiknya aku mengaku saja pada Nenek bahwa aku ini sejenis amuba? Berkembang biak dengan cara membelah diri.-

Posting.

Sunbae, mengapa tidak kau hapus akun facebook palsumu ini.”

Lee Donghae berdiri di belakangku, dia merendahkan tubuhnya dan sedikit memajukan wajahnya hingga berada tepat di sisi kanan wajahku. Mengawasi tampilan layar laptop di hadapanku.

“Kenapa? Ini menyenangkan.”

“Sudah kau delete postingan anehmu tentang kepala polisi? Bagaimana jika tanpa sengaja dia membacanya? Dia bisa saja memerintahkan departemen cyber crime untuk menyelidiki akun ini.”

“Diamlah!”

Dia hanya meringis ketika aku memukul puncak kepalanya dengan buku agenda. Tidak ada yang salah dengan menulis si botak tua bangka menyebalkan, bukan begitu? Kepala polisi juga tak akan menyadari siapa yang aku maksud. Dia bahkan tak mungkin tahu tentang akun facebook ini.

Eh, ada yang mengomentari statusku.

-Kata orang jodoh tak akan kemana. Jangan putus asa, kau pasti akan bertemu seseorang yang dapat membantumu berkembang biak dengan cara yang baik dan benar. Semangat.-

BRAAKK!

Semua orang kini memandangiku. Mereka tersentak karena aku memukul meja tadi, “Lanjutkan pekerjaan kalian!”mereka tertunduk begitu mendengar hardikanku.

Vampire?

Akun kurang ajar ini.

-Hey, Vampire! Kau pasti belum pernah menjumpai manusia yang mengisap darah vampire, kan? Ya! Itu aku! Jadi, berhati-hatilah!-

Posting.

Ada apa dengan hari-hari belakangan ini? Apa dunia akan segera kiamat? Ini sungguh menyebalkan.

Nenek terus menuntutku untuk membawa calon suami dan jika aku tidak melakukannya maka aku akan dinikahkan secara paksa. Orang-orang itu punya pemikiran yang sangat udik. Ini bukan jaman Joseon yang mewajibkan wanita menikah muda—lebih tepatnya menikah pada usia kanak-kanak. Mengapa aku harus terlahir sebagai generasi ke 42 Keluarga Ahn yang katanya sangat terhormat itu?

Sunbae, kau tak apa-apa?”

Jong Woon menyentuh pundakku.

“Kau menarik-narik rambutmu seperti itu. Kau baik-baik saja, kan?” tanyanya lagi. Aku menyandarkan kepalaku di atas meja, mendesah lemas. “Nenekmu masih memaksamu untuk segera menikah?” pertanyaan terakhirnya sungguh membuat selera hidupku berkurang, “Aku tak mengira jika hidup sebagai cucu dari keluarga bangsawan sepertimu akan sangat menyiksa,” aku bisa melihatnya yang berlalu sambil berdecak.

“Sebenarnya aku heran, kenapa orang-orang sepertinya harus segera menikah? Takut tak laku atau apa?”

Suara Hyukjae terasa seperti embusan angin sejuk di telingaku. Dia pasti menguping pembicaraanku dengan Jong Woon tadi. Cepat-cepat aku menegakkan tubuhku.

“BENAR!” timpalku, bersemangat. Mungkin ada nyala api yang sedang berkobar di bola mataku. Akhirnya ada juga yang sependapat dan mengerti isi hati wanita yang tengah meradang ini. “Aku tidak paham mengapa semua orang seperti tidak sabaran untuk segera menikah. Keluarga, sahabat, kenalan…mereka seolah berlomba hanya untuk bertanya, kapan menikah? Lajang itu bukan kejahatan!”

Hening.

Apa yang sudah aku lakukan tadi?

Sunbae, semangat!”

Mereka kini menatap kasihan padaku. Woah, luar biasa sekali mereka.

Sebenarnya, aku bukan tipe wanita yang akan mati jika tidak memiliki kekasih. Ayolah, yang aku butuhkan untuk hidup adalah nafas, bukan lelaki. Namun dengan kondisi saat ini, aku sungguh akan mati jika tak membawa seseorang ke hadapan Nenek. Entah mati karena sakit hati dan tertekan, atau mati karena bunuh diri.

Dalam tahap mencari saja sudah sesulit ini. Lalu, apa yang akan terjadi dengan kehidupan setelah pernikahan? Aku rasa ada neraka kecil di sana. Memikirkannya saja sudah membuat susah. Rasanya lebih menyenangkan berurusan dengan para penjahat di luar sana.

Baiklah, Ahn Soon Yi, tenangkan dirimu.

Kau masih bisa berkarir setelah menikah. Tidak apa-apa. Cukup bawa calon suamimu ke hadapan Nenek dan para tetua sialan itu!

Tapi…

Masalahnya, aku tidak punya seseorang yang seperti itu untuk dikenalkan kepada mereka. Aku yang selama ini terlalu sibuk mengejar penjahat, sampai lupa kodratku sebagai seorang wanita yang membutuhkan seseorang di sisiku. Apa ini artinya aku akan mengalami penderitaan wanita bangsawan Joseon? Tidak. Tidak mungkin. Tidak boleh terjadi.

Begini, maksudku, aku cukup menyadari jika kisah cintaku selalu berakhir mengenaskan. Setelah kupikir-pikir, mengapa romansa percintaanku tidak pernah semulus orang lain?

Han Ji Hee, polisi yang bertugas di departemen penyidik, beberapa bulan lalu dia menangis histeris seperti orang gila karena diselingkuhi oleh kekasih yang telah dipacarinya selama enam tahun. Namun seminggu kemudian, dia tampak berbunga-bunga karena bertemu seseorang yang baru. Bulan berikutnya, dia kembali menggegerkan Kepolisian Gangnam dengan menyebarkan undangan pernikahannya dengan orang itu.

Im Seo Rin, sahabatku, dia bertemu suaminya di rumah sakit. Seo Rin berprofesi sebagai seorang perawat, dan suaminya adalah pasien di rumah sakit tempatnya bekerja.

Mungkin itulah yang dikatakan sebagai pertemuan yang tak terduga. Sekali bertemu, dua kali, atau tiga kali, lalu jatuh cinta. Mereka bilang, tidak ada yang terjadi secara kebetulan di dunia ini. Pertemuan-pertemuan itu sudah diatur oleh Tuhan sedemikian rupa.

Seo Rin memberiku saran jika aku mungkin perlu menandai siapa saja yang aku temui, atau orang yang paling sering aku jumpai, karena bisa saja orang itu adalah pasangan hidupku kelak.

Setelah aku menyingkirkan nama Kim Jong Woon, Lee Donghae dan Lee Hyukjae, maka yang paling sering aku temui selain mereka adalah….penjahat.

Masa depan yang sungguh luar biasa suram.

Orang-orang juga sering berkata jika pasangan yang berjodoh itu terlihat mirip. Setelah kuingat-ingat, almarhum kedua orangtuaku pun tampak mirip satu sama lain. Hm, baiklah. Mungkin ada seseorang di sini yang mirip denganku, dan mungkin saja karena mata batinku sedang tertutup hingga tidak menyadari itu.

Manusia berencana, namun Tuhan yang menentukan.

Ketiga orang anggota timku memang tidak termasuk dalam kategori orang yang mungkin berjodoh denganku. Mereka bukan tipeku, tapi tidak baik jika aku bersikap sok tahu. Tuhan bisa menamparku dengan memutuskan tali jodohku. Ya, meski tidak rela, tapi tiga pemuda itu tidak begitu buruk.

Kim Jong Woon. Dia sedikit kaku, tapi dia adalah orang yang paling tenang menghadapi kekasaranku. Hanya saja, auranya kadang membuatku bergidik. Tidak apa-apa. Aku bisa menanggungkan keseraman Jong Woon, dibandingkan harus menerima terror para tetua sialan itu.

Lee Hyukjae, sebenarnya aku tidak begitu suka jika dia tersenyum terlalu lebar, karena gusi-gusinya akan terekspose dengan sempurna dan itu membuatnya terlihat seperti Sun-Go-Kong. Terlalu aneh jika manusia normal sepertiku, pada akhirnya mengalami pernikahan beda spesies.

Lee Donghae, hm—dia cukup tampan, dia juga ramah walau terkadang dia suka membuatku kesal. Ah, Donghae, rasanya Noona ini bisa jatuh cinta padamu jika dalam keadaan terdesak. Baiklah, jika aku tidak menemukan siapa pun untuk kuperkenalkan pada Nenek, Lee Donghae-lah target utamaku. Mendadak di kepalaku secara sistematis sudah terprogram rencana jahat untuk menjebak Donghae.

Sunbae, ada apa?”

“Hm?” pertanyaan Jong Woon membuyarkan lamunanku.

“Sejak tadi kau menatapiku kami satu per satu dengan tatapan yang aneh,” entah apa maksud Hyukjae yang langsung menutupi bagian dadanya dengan kedua tangannya. Apa sorot mataku tadi terlihat bernafsu dan semesum itu?

“Tidak, tidak apa-apa,” elakku. “Oh ya, apa mungkin kalian merasa di sini ada seseorang yang tampak mirip denganku?”

“Ah, benar juga,” Donghae tiba-tiba saja mengangguk.

Sungguh? Jadi, kau menyadari jika kita mirip? Oh, come to Noona, my dear.

Disaat imajinasi liarku sedang mekar-mekarnya, Donghae kembali berseru, “Kepala Polisi Seo!” wajah cerianya tampak sangat polos. Sepolos bayi yang tak berdosa.

Tanpa banyak bicara, aku bangkit dari tempat duduk, menghampiri Donghae dan langsung mengalungkan lenganku di lehernya. Dia hanya berteriak-teriak meminta pertolongan dari kedua rekannya. Jong Woon langsung fokus pada laptop dan Hyukjae terburu-buru berkata jika dia ingin ke toilet.

Tak lama berselang, Lee Hyukjae berlari ke arahku dengan wajah yang pucat pasi, “Sunbae, kenapa kau tidak mengangkat teleponmu? Kepala polisi memanggilmu!”

 

***

 

Penerbangan Seoul-London.

Kesialan beruntun sedang menimpaku. Dibebastugaskan selama dua minggu karena menyerang Kim Yeol, untungnya timku tidak harus dihukum. Belum lagi, Nenek yang terus merecokiku. Tidak. Aku tidak sedang melarikan diri. Aku hanya ingin menenangkan pikiran.

Lalu, mataku tertuju pada sesuatu yang sedang kupegang. Tanpa sadar, aku terus menggenggam benda ini. Sebelum ke bandara tadi, seorang teman SMA mengantar undangan pernikahannya.

Tuhan, sepertinya Kau tidak sedang mengujiku, tapi mengejekku.

Ah, kenapa kisah hidupku tidak seperti Ayah dan Ibu? Bayangkan saja, kisah cinta mereka itu seperti drama. Bertemu satu minggu, lalu menikah. Sebenarnya itu cukup menggelikan, mengingat Ayah seolah dipaksa menikahi Ibu. Nenek seperti serigala berbulu domba. Dia bahkan rela bermain trik kotor terhadap anaknya sendiri, agar bisa menikahkan anaknya dengan wanita pilihan keluarga besar Ahn yang sangat-sangat tradisional itu.

Ya, tapi sepertinya Tuhan merestui cara itu agar kedua orangtuaku dipersatukan.

Satu lagi, kisah yang sangat membekas di kepalaku. Kisah cinta kakak pertama Nenek. Pada masa invasi Jepang di Semenanjung Korea, Kakek jatuh cinta pada seorang wanita Jepang. Kisah cinta mereka tidak berjalan mulus, karena perang sedang berlangsung dan bagaimanapun, Jepang adalah musuh. Meski saling mencintai, tapi mereka tidak bisa berbuat apa pun. Mereka berpisah. Masing-masing menikah dan membina keluarga.

Beberapa tahun setelah istrinya meninggal, Kakek menerima undangan acara sosial di sebuah panti jompo. Di sana dia bertemu dengan cinta pertamanya dulu. Wanita Jepang itu ternyata tidak pernah kembali ke negaranya, dia menikahi penduduk setempat. Setelah suaminya meninggal dunia, dia memilih untuk tinggal di panti jompo agar tidak merepotkan anak-anaknya.

Pasangan yang pernah jatuh cinta pada masa muda mereka, akhirnya kembali menjalin ikatan kasih dan menikah. Walaupun berpisah lama, namun cinta mereka ternyata tidak memudar sedikit pun. Bertemu kembali setelah puluhan tahun, itu benar-benar sebuah penantian yang sangat panjang.

Tunggu sebentar…

Tuhan, aku tidak harus menanti selama puluhan tahun hanya untuk bertemu lelaki itu, bukan?

Atau,…aku harus menanti lebih lama lagi?

Seperti drama kolosal yang pernah kutonton. Jika dikehidupan lampau, tidak bisa bersatu, maka saling berjanji untuk bertemu dikehidupan selanjutnya.

Bagaimana jika ternyata sang pria tidak bereinkarnasi saat ini?

Lalu, aku harus menunggu dan bereinkarnasi ratusan tahun lagi?

Dengan sifatku yang entah kenapa, selalu membuat orang-orang mengumpat dan mengutuk. Bisa saja, ratusan tahun yang akan datang, disaat sang pria telah bereinkarnasi menjadi pemuda yang tinggi, tampan, mapan dan idaman para wanita. Aku yang terlalu sering dikutuk ini, justru terlahir menjadi seekor babi.

Tidaaaaaaaaakkkkk!!!!

“Nona, apakah Anda merasa tidak sehat?”

Seorang pramugari telah berdiri di hadapanku, menatap aneh. Dia tampak kebingungan. Orang yang duduk di sisiku juga terlihat risih. Aku hanya bisa tersenyum salah tingkah, dan tangan yang sudah terlanjur menjambak rambut, terpaksa aku alih fungsikan untuk merapikan rambut. Kemudian, aku mencoba menenangkan diri dengan membaca majalah. Akh, Soon Yi, berhentilah mengkhayal yang bukan-bukan sebelum orang lain menyangka kau sudah gila.

*

“Kau bilang apa?”

Aku baru tahu, setelah menemukan kuncinya di tas pakaian.

“Jadi bagaimana denganku? Sekarang aku sedang dalam perjalanan. Kira-kira 30 menit lagi sampai di tempatmu.”

Maaf, aku pikir telah menitipkan kunci pada petugas di lobi.

“Sudahlah. Pengurus apartemen pasti punya kunci cadangan, kan?”

Sebenarnya, empat hari yang lalu aku meminta kunci cadangan itu dan kuberikan pada seseorang untuk sementara waktu. Jangan cemas, aku akan menghubunginya.

“Kau bilang, kau tinggal sendiri. Sekarang, kau justru berniat membiarkanku tinggal di apartemenmu bersama orang asing?”

Dia bukan orang asing, tapi sahabatku.

“Tetap saja dia orang asing bagiku. Aku akan tinggal di hotel.”

Soon Yi, jangan begitu. Secara teknis, dia memang tinggal bersamaku, tapi sebenarnya dia lebih banyak menghabiskan waktu di luar karena pekerjaannya. Dia akan kembali ke Seoul pada penerbangan malam ini. Jadi, kau tak perlu cemas, okay?

“Sebaiknya kau bisa memegang perkataanmu.”

Eihh, kau ini. Memangnya siapa yang berani mencelakai wanita mengerikan sepertimu?

“Park Jung Soo!”

Selamat bersenang-senang. Bye!

Dia mengakhiri pembicaraan kami begitu saja. Woaahh, Park Jung Soo! Untung saja kau sedang berada di luar kota. Apa boleh buat, meski tak ingin mengakuinya, tapi tampaknya kesialanku masih berlanjut.

Jung Soo yang harusnya menemaniku di London, justru mendapat tugas keluar kota. Dia seorang dokter forensik. Kami saudara sepupu, dan kegemarannya adalah mengejekku yang tidak bisa berkutik dihadapan Nenek dan para tetua Keluarga Ahn. Coba saja kalau dia berada di posisiku, tak mungkin dia bisa tersenyum selebar itu. Ah, dia memang tidak akan pernah tahu rasanya karena dia adalah sepupuku dari pihak ibu.

Kalau saja Jung Soo tahu jika aku berada diambang batas frustasi karena dipaksa segera menikah, aku yakin seratus persen jika dia akan mempercepat tugasnya apa pun caranya agar bisa menemuiku sesegera mungkin. Untuk menghiburku? Tentu saja tidak. Dia akan tertawa semalaman dan ujung-ujungnya, dia akan memberiku saran-saran yang tidak berguna.

Lamunan panjangku diputuskan oleh suara sopir taksi yang kutumpangi. Rupanya aku sudah berada di depan bangunan apartemen Jung Soo. Setelah membayar sejumlah uang, aku pun turun dari mobil.

Hm, apa sebaiknya aku menghubungi orang itu? Di perjalanan tadi, Jung Soo mengirimiku nomor ponselnya. Baiklah Ahn Soon Yi. Lakukan saja apa yang kau pikirkan. Untuk saat ini, kau tidak harus mendebatkan hal-hal sepeleh yang berpotensi membuat hidupmu kian rumit.

Jadi, kuputuskan untuk menghubungi nomor itu.

Hallo?

Hanya beberapa detik setelah nada sambung terdengar, orang itu langsung menjawab panggilannya. Suara beratnya terdengar begitu maskulin.

Hallo?

Dia kembali menyapa dan itu membuatku tersadar jika pikiranku tadi sempat berkelana. Soon Yi, fokuslah.

“Hallo. Maaf, aku saudara sepupu Jung Soo yang—“

Ah, iya. Jung Soo sudah memberitahuku.

“Jadi, bisakah kau memberiku kunci itu?”

Tentu. Tentu saja.

“Di mana kita akan bertemu? Aku baru saja tiba dan hendak masuk ke dalam apartemen.”

Saat ini aku tidak sedang berada di apartemen,” jawabannya membuat langkah kakiku terhenti. “Begini saja. Kau lihat sebuah kafe yang berada di seberang jalan tepat di depan bangunan apartemen?” aku langsung memutar tubuhku, mengarahkan mataku ke lokasi yang dia sebutkan. Ada sebuah kafe di sana. Tanpa sadar, aku menganggukkan kepala, “Kebetulan jika kau melihatnya, aku sedang berada di kafe itu. Aku akan segera menyelesaikan sarapanku, jadi kau bisa menungguku di lobi apartemen.

“Tidak apa-apa. Biar aku yang menemuimu.”

Baiklah kalau begitu.

Segera setelah menyimpan ponsel di saku celana, aku menyeberangi jalan. Kendaraan yang cukup padat membuatku tertahan beberapa saat. Aku segera memasuki kafe yang dimaksud. Semoga saja aku tidak salah, toh di depan bangunan apartemen, kafe ini yang pertama kali tertangkap oleh mataku. Cocok dengan yang dideskripsikan orang tadi.

Di dalam kafe tidak seramai yang aku bayangkan. Ada beberapa meja yang kosong. Biasanya tempat-tempat seperti ini ramai pada saat diluar jam kantor. Ini sudah jam sembilan pagi, sudah seharusnya semua orang beraktifitas di tempat kerja. Sebenarnya situasi ini menguntungkan. Aku pasti akan kesulitan jika tempat ini dipadati pengunjung.

Sambil terus melangkah pelan, mataku mengawasi orang-orang yang berada di dalam kafe. Okay, yang aku cari adalah pemuda berwajah oriental yang duduk sendiri, mungkin. Kebanyakan orang-orang berkulit putih, hanya satu-dua orang dengan perawakan asia, tapi mereka tampak tak cocok dengan suara tadi. Ah, memangnya apa yang aku harapkan? Mereka pun tampak tak mempedulikan kebingunganku. Ada beberapa yang menatap sekilas dan sejurus kemudian kembali mengabaikanku.

Apa sebaiknya aku menghubunginya?

Ide yang bagus.

Tidak seperti sebelumnya, aku menunggu cukup lama untuk panggilan kali ini. Dia tidak merespon.

Sial.

Apa dia bersekongkol dengan Jung Soo untuk mengerjaiku?

“Permisi. Kau, sepupunya Jung Soo yang menghubungiku tadi, bukan?”

Seseorang menegurku dari belakang. Suara itu? Ya. Benar, itu suaranya. Secepat kilat, aku membalikkan tubuh.

“Maaf, tadi aku di toilet saat kau menelepon.”

Aku hanya mengangguk pelan sekali sambil menatapi pria berkemeja hitam, yang saat ini sedang tersenyum ramah padaku. Dia punya postur tubuh yang tinggi dan tegap. Rambut hitam legamnya tertata rapi. Dia terlihat sangat sopan dan juga…

“Nona, kau mendengarku?”

Aku tersentak. Memalukan. Ahn Soon Yi, tidak seharusnya kau terang-terangan terpesona pada orang yang baru kau temui.

“Maaf. Perjalanan panjang membuatku jetlag,” elakku. Semoga dia tidak menyadari jika aku sedang terpesona dan salah tingkah pada saat yang bersamaan.

“Aku memaklumi itu,” dia tertawa dan aku ikut tertawa dengan pipi yang mungkin saja sudah bersemu merah. “Ah, Nona?”

Cukup untuk terkesima Soon Yi! Dia sedang menanyakan namamu. Jangan buang-buang waktu mengabaikan tangannya yang terulur, “Ahn Soon Yi,” aku menjabat tangannya.

“Nona Ahn Soon Yi. Senang bertemu denganmu,” tangannya sungguh lembut dan hangat. “Aku Choi Siwon,” dia tersenyum dan seketika membuatku seakan masuk ke dalam pusaran lesung pipinya.

Tuhan, bolehkah aku menjerit sekarang?

Dia sangat tampan.

 

 

***

 

Sementara aku meletakkan satu per satu gelas berisi capucino di atas meja, mereka justru menatapku heran. Ekspresi yang seperti baru saja melihat hantu. Aku bahkan bisa melihat jelas jika tiga pemuda itu berlomba-lomba menelan ludah kasar.

Sunbae, mengapa kau bersikap seperti ini?” Hyukjae tak berkedip, wajahnya sangat pucat.

Aku hanya tersenyum tipis, menyerahkan langsung gelas terakhir ke tangan Donghae.

“Jangan menakut-nakuti kami, Sunbaenim,” ujar Donghae. Matanya mulai berkaca-kaca tatkala menatapku. Untuk pemuda seumurannya, Donghae terbilang cengeng.

Sunbae, jangan diam saja,” seperti biasa, Jong Woon selalu mendesak. Dia harus memperbaiki sifat tidak sabarannya itu.

“Apa yang salah dengan membelikan kalian segelas minuman?” aku menghampiri tempat dudukku, “Oh ya, hari ini kalian pulanglah lebih cepat. Besok malam, kita akan melakukan penyergapan besar. Kalian ingat, kan?” ujarku pelan, tanpa mengalihkan pandangan dari file kasus. Aku kembali bekerja, tapi tidak demikian dengan pemuda-pemuda itu. Mereka seperti saling bertelepati sehingga tanpa aba-aba, ketiganya berkumpul di satu tempat, tak jauh dariku.

“Aku tidak tahan lagi. Sangat mengerikan jika Sunbae bersikap begitu.”

“Sejak kembali masuk kantor, dia mendadak menjadi orang yang baik dan sopan. Aku bergidik dibuatnya.”

“Sebenarnya, apa yang terjadi?”

“Aku rasa Sunbae tidak bisa lagi menanggung tekanan dari keluarga besarnya. Dia diberi ultimatum untuk segera menikah. Aku rasa, karena itu otaknya jadi sedikit terganggu.”

Tadinya, aku benar-benar ingin berkonsentrasi pada pekerjaanku, tapi tiga pemuda abnormal itu justru sedang membicarakanku. Mereka mengira telingaku ini tak cukup tajam untuk mendengar pembicaraan mereka. Perlahan aku menegakkan tubuh, menghampiri mereka yang tidak menyadari kedatanganku.

“Haruskah kita menghiburnya?” usul Donghae.

“Aku akan mengirimi Sunbae sesuatu,” Hyukjae mulai sibuk mengotak-atik ponselnya.

“Apa?” Jong Woon penasaran. Dia menatap tajam pada Hyukjae yang langsung tersenyum sumringah sambil memamerkan tampilan ponselnya pada mereka.

Donghae merampas ponsel Hyukjae, “Quote hari ini; ada pelangi sehabis hujan,” dia membaca kalimat yang tertuang di ponsel Hyukjae.

“Pelangi sehabis hujan pantatku!”

Mereka tersentak setelah menyadari keberadaanku.

Sunbae!”

“Dibandingkan pelangi, kalian tahu apa yang aku sukai?” mengambil jeda sambil menggulung majalah yang sengaja kubawa dari mejaku tadi. “Petir, kilat dan guntur!” lanjutku sambil memukul kepala tiga pemuda itu dengan gulungan majalah. Mereka meringis, “Jika seorang detektif memiliki banyak waktu untuk menggosipkan orang lain, itu artinya dunia sudah bebas dari kejahatan.”

“Aku harus menemui Jaksa Song,” cepat-cepat Jong Woon bangkit dari kursinya.

“Ah, bukankah aku harus menyelidiki kasus pembunuhan di parkiran bawah tanah Avenue Hotel?” Donghae ikut beringsut.

“Donghae, bawa aku bersamamu. Jangan tinggalkan aku sendiri di sini!” Hyukjae tergesa-gesa menyusuli kedua rekannya. Dia memang selalu berlebihan. “Syukurlah, akhirnya Sunbae kembali normal,” dan aku masih bisa mendengar perkataannya yang diiyakan oleh Donghae dan Jong Woon dengan anggukan antusias.

“HEYY!!”

Mereka langsung menghilang secepat angin begitu mendengar teriakanku.

Pelangi sehabis hujan?

Tidak pernah ada pelangi dalam hidupku. Baru-baru ini, aku bahkan diterpa tornado.

Pada pertemuan pertama, aku dan Siwon cukup lama berbincang-bincang di kafe. Hari itu, aku hanya masuk sebentar ke apartemen Jung Soo untuk menaruh koper pakaianku dan setelah itu, Siwon mengajakku berkeliling London sebelum dia kembali ke Seoul pada malam harinya. Mungkin karena pengalamanku dalam dunia percintaan masih sekelas teri, membuat aku tak mampu menanggung pesonanya. Batinku bergejolak hebat. Konflik baru dalam hidupku.

Memang tak ada manusia yang hidup tanpa konflik. Begitu pun dengan Choi Siwon.

Pria itu sedang memusingkan pernikahannya.

Mendengar penuturan Jung Soo tentang masalah yang dihadapi Siwon, rasanya seperti Nenek sedang menginjak-injak batang leherku. Tidak bisa bernapas.

Cinta memperlakukanku dengan sangat kejam dan tak berperikemanusiaan.

Choi Siwon itu—ya Tuhan, dia adalah kasus kriminal terberat dalam hidupku. Tindakan kejahatan yang dia lakukan dengan membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama patut dihukum.

Bodoh. Ini sepenuhnya adalah kesalahanku. Dia tidak bersalah dengan menjadi seorang pria baik hati yang memperlakukan wanita dengan sopan.

Ada apa denganmu, Ahn Soon Yi? Kumohon, kembalilah pada akal sehatmu.

Foto ini…

Aku memandangi foto Siwon di galeri ponselku. Aku mengambil gambarnya secara diam-diam. Ini tindakan gila yang paling kekanak-kanakkan yang pernah aku lakukan. Bukankah aku tampak seperti seorang pencuri?

Choi Siwon, sebelum kerumitan hidupku bertambah karenamu, maka terimalah salam perpisahan dariku, untuk sebuah hubungan yang bahkan tidak pernah dimulai. Semenit berlalu dan foto Siwon sudah kuposting di facebook. Ya, tentu saja menggunakan akun palsu. Memangnya, siapa yang peduli?

Kecuali, trio abnormal itu melihatnya—maka mereka pasti akan menjadikan itu sebagai tajuk utama pembicaraan mereka selama berbulan-bulan, dan mereka tidak akan berhenti sebelum berhasil mengorek identitas pria Choi Siwon. Mereka selalu penasaran dengan kehidupan percintaan ketua tim mereka.

 

***

 

Hari ini, hidupku akan tamat. Para tetua sedang berkumpul di rumah. Aku akan segera disidang. Sepertinya waktuku untuk memilih calon suami sudah habis.

Lee Donghae, tolong selamatkan Noona ini.

“Ahn Soon Yi,” Nenek memanggilku, dan suaranya terdengar seperti suara malaikat maut.

“Iya, Nenek,” jawabku sembari menundukkan kepala, teramat sangat santun. Di sini, di hadapan mereka semua, aku harus melakonkan peran wanita bangsawan yang sangat terhormat.

“Kami sudah tidak bisa mentolerir sikapmu,” seorang tetua mulai berbicara. “Sebagai penerus, kau harus segera menikah untuk melanjutkan tradisi keluarga kita.”

Omong kosong!

“Sudah cukup bagi kami untuk mengikuti permainanmu. Kali ini, kau harus tetap menikah,” gayung bersambut, tetua yang lain mulai melancarkan serangan. Mereka seperti sedang menghujaniku dengan panah beracun.

“Beri aku waktu sebentar lagi, pacarku sedang bertugas ke luar kota,” entah dari mana datangnya ide konyol itu, namun mereka semakin menghujaniku dengan tatapan tajam. Tidak percaya. Aku terdiam, dan akhirnya, kembali aku menundukkan kepala dengan gesture tubuh yang begitu sopan, “Apa pun yang para tetua inginkan, maka itu adalah kehormatan bagiku.”

Mereka tampak saling pandang dan mengangguk-anggukkan kepala dengan senyuman tipis.

Kehormatan pantatku.

Tidak. Tidak. Aku tidak ingin menikah! Seseorang, tolong selamatkan aku.

“Soon Yi, temuilah tuan muda itu,” Nenek tersenyum. Memang, dia selalu tersenyum di atas penderitaanku. “Dia seorang jaksa dari Kantor Kejaksaan Pusat. Kurasa kalian akan sangat cocok. Bukankah jaksa dan polisi saling membutuhkan?” Nenek menyodorkan selembar foto di hadapanku.

Mereka tampak tertawa bahagia menanggapi perkataan Nenek yang bagiku terdengar seperti sebuah lelucon. Jaksa? Pekerjaan kami memang saling berkaitan, tapi aku tidak pernah menyukai para jaksa. Mereka selalu seenaknya dan memandang rendah kami.

“Lihatlah fotonya, kau pasti akan menyukainya.”

Jangan mengada-ada. Satu-satunya yang aku sukai hanya dengan melihat foto adalah Song Seung Heon. Sama seperti Eun Soo dalam drama Endless Love, aku rela mati dalam pelukan Seung Heon Oppa.

“Tuan muda mati-matian menolak pernikahan ini. Namun, baru-baru ini dia justru berubah pikiran hanya dengan melihat fotomu.”

“Benar. Tuan Muda Choi Siwon pasti sangat menyukaimu.”

Yang benar saja!

Katanya, orang normal tidak akan jatuh cinta padaku dan karena itu, tidak ada satu pun yang berani menunjukan ketertarikan mereka padaku. Mereka takut disangka gila. Jadi, dapat kusimpulkan jika si Tuan Muda Choi Si…

Sebentar.

“Nenek bilang, siapa tadi?”

“Hm? Kau menanyakan namanya? Choi Siwon. Ada apa?”

Tidak mungkin.

Refleks, aku segera meraih foto yang sejak awal enggan kulirik. Melihat wajah tampan dalam foto itu, jantungku serasa dihantam batu gunung lalu dilumat hingga tak berbentuk.

“Bagaimana? Dia tampan, bukan?”

Aku bergeming. Apakah aku sedang bermimpi sekarang?

Tiba-tiba saja ponselku berbunyi dan itu cukup mengganggu rapat keluarga. Para tetua tidak terlihat senang karenanya. Aku hanya bisa meminta maaf dan segera menjawab panggilan itu. Sejauh ini, yang selalu berhasil mengacau dalam pertemuan keluarga dengan meneleponku adalah tiga pemuda itu, dan aku tidak bisa mengabaikan panggilan mereka.

Sekarang, aku percaya pada keajaiban.

Aku tercekat. Itu bukan suara Donghae, Jong Woon, atau Hyukjae.

Sang Vampire mungkin tidak akan keberatan jika manusia yang mengisap darahnya adalah dirimu.

Sungguh! Aku hanya bisa menelan ludah, tanpa bisa berkata-kata.

Aku rasa, kita akan sering bertemu, Nona Ahn Soon Yi.”

Dia mengakhiri percakapan yang hanya didominasi olehnya. Sementara itu, tanganku sudah kehilangan daya angkat sehingga membuat ponsel dalam genggaman terkulai lemah di lantai tempatku duduk bersimpuh. Aku hanya termangu seperti orang bodoh.

“Soon Yi. Kau baik-baik saja?”

“Ah, ya,” aku hanya bisa mengangguk pelan. “Maaf, aku harus memastikan sesuatu.”

Dengan segenap tenaga yang tersisa, aku kembali mengangkat ponsel dan memeriksa akun facebook rahasia milikku.

Seseorang mengomentari foto Siwon yang kuposting. Komentar itu tidak berisi kata-kata, tapi sebuah foto lainnya dan itu adalah fotoku saat sedang berada di sebuah kapal yang melintasi Sungai Thames.

Aku tidak tahu bagaimana akun bernama Vampire ini mendapatkan foto semasa liburanku di London, tapi aku tahu siapa yang sedang bersamaku saat itu.

 

-Selesai-

3 Comments (+add yours?)

  1. ElvaZavier
    Dec 04, 2015 @ 15:12:22

    hahaha … keren banget eonnie. sumpah ini super daebakk !
    ini si soon yi jd cewek knp bar-bar bgt. ff ini sukses bikin aq ngakak !
    jd siwon tahu klo akun palsu itu milik soon yi .. wkwk ..😀
    sukses buat ff-nya. ditunggu karya selanjutnya ..😀

    Reply

  2. azizashiyou10
    Dec 04, 2015 @ 23:03:50

    Suka banget sama karekater Soon-Yi yang kasar terus semena-mena. ngakak baca ceritanya. apalagi deskripsi tentang Hyuk-Jae yang mirin sunggokong. Ceritanya juga seru, tapi kenapa ga dilanjutin sampi Soon-Yi ketemu Si-Won.
    gimanapun tetap seru ^^

    Reply

  3. esakodok
    Dec 06, 2015 @ 21:12:05

    semua tulisanmu selalu membuat aku jatuh cinta saengi..hahah. selalu selalu dan selalu. alurnya enak banget..seperti ijut air mengalir saja..setiap kejadian pebting diceritain secara detail juga..trs ada konyolnya deg2anya rasa jengkelnya dapet semuapokoknya

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: