[Siwon’s day] A Gift

poster-A gift

A Gift

(Another Story)

Author : petriCHOr

Cast :

Choi Siwon as Andrew Choi

Cho Kyuhyun as Marcus Cho

Catherine Park (OC)

Ivory Kim (OC)

Genre : Romance | Rating : PG 15 | Length : Oneshot

Author’s notes :

This is another fiction from an amateur author…

Enjoy the fiction! J

***

M Hotel & Apartment. Manhattan-NYC.

ANDREW Choi menatap pantulan dirinya di depan cermin berlapis kristal dan perak bergaya vintage didalam kamar seluas lapangan futsal miliknya. Yah, lapangan futsal cukup menggambarkan seberapa luas ruangan yang disebut ‘kamar’ untuk ukuran eksekutif muda sekelas Andrew Choi.

Siapa yang tidak mengenal Andrew Choi?

Lelaki keturunan Korea berwajah tampan, kaya raya, dermawan, bertubuh atletis dan err… beberapa orang setuju untuk menggunakan kata ‘hot angel’ sebagai gambaran diri dari seorang Andrew Choi. Seorang lelaki berhati malaikat yang memiliki sejuta pesona yang bisa kau rasakan dalam hitungan detik.

Senyum puas tersimpul dibibirnya. Ia terlihat puas dengan tampilannya pagi ini. Kemeja putih berlapis jas bernuansa dark grey dengan dasi dan celana panjang berwarna senada. Sangat Andrew Choi sekali-sangat eksekutif muda sekali.

Sebuah alunan instrumental klasik dari ponsel lelaki itu terdengar mengisi ruangan yang didominasi warna bernuansa monochrome.

“Hello?”

“Apa?”

“Ok. Aku akan ada disana, 15 menit. Tunggu aku 15 menit.”

Andrew memutus panggilannya. Ia segera berlari ke arah lift di luar kamarnya.

“Ah, sial! Cepat tuan Choi, kau ada dalam masalah!”

 

***

Times Square. Manhattan-NYC.

SEORANG gadis berwajah khas asia berdiri di depan papan reklame besar dengan segelas iced choco di tangannya. Tangan lainnya memegang ponsel. Ia sedang menghubungi seseorang. Wajahnya terlihat tidak sedang dalam keadaan baik.

“Aku tersesat.”

 

“Ini tidak lucu, Ivory-ssi…”

 

“Apa? GPS? Apa ada di ponselku?”

 

“Oh, tapi bagaimana cara memakainya? You know, I’m not a digital person.”

 

“Oh, sial! Halo? Yeoboseyo?!”

 

Perfecto!”

 

“Aku tersesat dan ponselku mati. What a day!”

 

Gadis itu terlihat mencari sesuatu di tengah keramaian Times Square. Ia berjalan tak tentu arah sampai seseorang yang sedang berjalan tergesa-gesa menabraknya. Ia pasti terjatuh dan terinjak langkah-langkah kaki orang yang berlalu lalang kalau saja lengannya tidak ditahan oleh orang yang menabraknya.

“Oh, ya ampun. Sorry-“

 

Gadis itu terpaku pada wajah tampan dihadapannya. Apakah ini mimpi? Gumamnya dalam hati.

 

Are you okay?” Lelaki itu bertanya sambil membantu gadis dihadapannya berdiri dengan benar.

 

“Oh, mm… Ya. I’m okHandsome…” Gadis itu mengutuk dirinya. Mengutuk apa yang sudah dikatakan olehnya beberapa detik yang lalu.

 

Sorry?” Sepertinya lelaki itu tidak mendengarnya.

 

It’s okay. Mm… Aku baik2 saja. Maaf kalau aku tidak melihat jalan dengan baik.”

 

“Aku juga minta maaf soal itu. Aku terburu-buru. Aku harus pergi sekarang. Permisi.”

 

Gadis itu tidak bergerak dari tempatnya sampai sosok yang diamatinya menghilang dalam kerumunan.

***

Coffee Shop. Fifth Avenue, Manhattan-NYC.

DUA orang gadis tengah berada dalam kedai kopi mungil di daerah Fifth Avenue. Fifth Avenue adalah kawasan pusat perbelanjaan bergengsi di Amerika Serikat. Beberapa kedai kopi sengaja didirikan untuk membuat para pengunjung dan pecinta fashion meluangkan waktu sejenak untuk bersantai ditengah keramaian.

“Jadi, bagaimana bisa kamu tersesat? Kemana travel book yang aku kirim?”

 

Seorang gadis berambut keriting duduk di depan gadis (yang tersesat) di Times Square tadi. Gadis yang tersesat, Catherine Park, datang untuk pertama kalinya ke Amerika Serikat, tepatnya di kota Manhattan-New York. Kejadian yang tidak baik menyambutnya di hari pertama kedatangannya. Ia menolak dijemput oleh Ivory Kim, gadis berambut keriting itu. Ia ingin merasakan sensasi menjadi pelancong di negara Paman Sam, katanya. Sialnya, keberuntungan tidak berpihak padanya. Supir taksi yang disewa olehnya menurunkannya di pinggir jalan Times Square karena istrinya menelepon dan memintanya segera pulang.

Maafkan aku miss China, kalau aku tidak pulang sekarang, aku akan menjadi bagian dari hidangan barbeque di rumahku sore ini. Istriku sangatlah mengerikan saat marah. Kau tidak perlu membayar untuk ini. Penjelasan panjang lebar dari sopir itu berhasil menurunkan Catherine Park dengan segala perasaan kesalnya. Kesal, karena Ia bukanlah miss China. Ia adalah miss Korea.

 

Blueberry muffin cake and iced lemon tea menghiasi meja mereka. Sepertinya mereka berteman baik.

“Aku meninggalkannya di taksi sialan itu.”

 

“Kkk… Harusnya kamu mau aku jemput. Marcus free hari ini.”

 

“Tapi, sekarang dimana dia, hm? Jangan-jangan dia selingkuh.”

 

“Dia ada pekerjaan mendadak, nona Park. Andrew, temannya, menelepon saat aku mau menjemputmu.”

 

Really? Kamu percaya dengan alasan lelaki itu?”

 

“Kkk… Kita sudah melewati masa-masa itu, dear… Dua tahun sudah cukup untukku mengetahui segala hal tentangnya.”

 

“Kkk… Yeah, segala hal. Jadi, kapan dia akan melamarmu?”

 

“Kkk… Soon… Habiskan tehnya. Manhattan akan lebih panas siang ini.”

 

“Kita mau kemana?”

 

“Kita ada di Fifth Avenue, nona. Shopping. What else, hm?”

 

Yeay! This is girls day out!”

***

Restaurant. M Hotel & Apartment. Manhattan-NYC.

DUA lelaki tampan dengan balutan kemeja dan jas duduk di sebuah resto bintang lima dikawasan Fifth Avenue. Mereka berniat untuk menghilangkan penat setelah berkutat dengan masalah pekerjaan di hari Minggu. Bekerja di hari Minggu adalah hal yang sangat menyebalkan.

“Marcus, terima kasih untuk bantuannya. Aku pasti akan ada dalam masalah lebih besar kalau kamu tidak datang hari ini. Maaf mengganggu hari liburmu.” Andrew menyesal karena harus melibatkan partner kerjanya di hari libur.

 

Gwenchana, hyung. Ivory juga akan pergi menemui temannya tadi. Aku akan mati kebosanan kalau harus ada di apartment sendirian. It’s okay…” Marcus tersenyum lebar. Sejujurnya, Ia memang benci berada sendirian di apartment tanpa kekasihnya. Kekasihnya! Marcus lupa menghubungi gadisnya.

 

“Waeyo? Apa ada masalah?” Andrew bertanya ketika melihat Marcus terlihat sibuk dengan ponselnya.

 

Hyung, apa boleh aku ajak Ivory kesini?”

 

“Kenapa kamu harus bertanya, Kyu? Ajak dia kesini.” Andrew memanggil nama Korea lelaki dihadapannya.

***

 

Lift. M Hotel & Apartment.

CATHERINE terlihat sedikit canggung karena ajakan temannya untuk makan bersama dengan kekasihnya. Sebenarnya, Ia sudah mengenal Marcus, melalui fotonya. Yah, kau tahu, kau pasti akan merasakan perasaan canggung untuk pertama kalinya bertemu dengan orang asing. Walaupun temanmu berada disampingmu.

“Mrs. Cho, apa aku tidak akan mengganggu kalian?”

 

“Kkk… Apa aku tidak salah dengar? Kamu bertanya seperti itu? Itu bukan gayamu, Catherine… Lupakan. Kamu dan aku lapar. Uang kita sudah hampir habis kalau saja Marcus tidak meneleponku tadi. Jadi tenanglah, kita akan makan kenyang. Dan gratis. Kkk…”

 

“Aish! Kamu tetap sama. Murahan. Makan dan uang bisa membuatmu diam. Kkk… Aku juga masih menyukai hal yang sama…”

 

“Kkk… Who cares? Kita murahan tapi mempesona. Titik.”

 

Ting!

Pintu lift terbuka ketika dua perempuan cantik yang sedang tertawa lepas keluar dari sana. Kedua tangan mereka penuh dengan tas bertuliskan Gucci, Chanel, Louis Vuitton, Armani, Prada dan lainnya.

 

“Ah, itu Marcus. Come on,” Gadis bernama Ivory itu berjalan mendahului temannya.

***

Andrew Choi’s POV

SEPERTINYA aku tidak asing dengan wajah wanita dihadapanku. Dimana aku pernah bertemu dengannya?

Dia… menarik.

Entah kenapa aku memiliki ketertarikan untuk memperhatikan wanita dihadapanku. Mata bulat berwarna hitam kecokelatan, rambut hitam sebahunya, dan kemeja putih tanpa lengan yang dipakainya… Seksi.

Kulitnya berwarna putih kekuningan, khas Asia. Aku lebih menyukai wanita Asia dari pada wanita disini. Entahlah, mungkin karena kami berada dalam satu benua yang sama?

Namanya, Catherine Park. Nama yang indah.

 

“Aku permisi,” Ia pergi ke toilet. Mataku terus memperhatikannya.

Astaga. Dia berjalan ke arah yang salah!

 

Aku menyusulnya,”Nona Park, mm… Catherine,”

 

Ia menoleh padaku,”Catherine. Panggil aku Catherine. Ada apa?”

 

“Kau berjalan ke arah yang salah. Toilet perempuan ada disana,” Aku menunjukkan jalan.

 

“Oh. Aku juga mau berjalan kearah sana.”

 

Kkk… aku menahan tawa. Sepertinya Ia tidak mau kalah dariku. Sungguh menggemaskan.

 

Aku menunggu di lorong dekat toilet perempuan ini. Aku hanya ingin memastikan, ia tidak berada di jalan yang salah lagi.

Ia datang. Aku tersenyum padanya. Dahinya berkerut.

“Kenapa kau masih ada disini?”

 

“Mm… Menunggumu?”

 

“Menungguku?”

 

“Ne. Mungkin kamu akan bingung kembali ketempat kita makan malam.”

 

Ia tersenyum,“Kau manis sekali. Oops!”

Ia menutup mulutnya dan berjalan mendahuluiku. She’s so cute. Kkk…

 

Aku menyamai langkahnya. Aku baru menyadari kalau dia lebih cantik dari jarak sedekat ini. Ada apa ini? Aku tertarik dengan wanita ini? Wanita yang baru saja ku kenal 20 menit yang lalu? Sepertinya aku harus pergi ke dokter syaraf setelah ini.

Waeyo?”

 

“Hm?” aku menaikan kedua alisku.

 

“Kenapa melihatku terus? Apa kamu baru pertama kali melihat wanita?”

 

“Kkk… Anniyo… Maaf, membuatmu tidak nyaman.”

 

“Jadi, untuk apa kau jauh-jauh datang ke New York?”

 

“Liburan? Mungkin juga mencari pekerjaan, ya…, seperti itu.” Ia mengangkat bahunya santai.

 

Aku menganggukkan kepala,”Kalau kau mau, kau bisa datang ke tempatku,”

“Tempatmu?”

 

“Maksudku, kantorku dan Marcus. Mungkin kamu bisa menemukan pekerjaan yang cocok disana,”

 

“Oh, benarkah?! Baiklah. Aku akan mengabarimu nanti.”

 

Aku melihat senyumnya. Sepertinya ia jarang tersenyum. Tetapi ketika ia tersenyum, ia memiliki senyum yang menawan. Aku menahan bibirku untuk tidak ikut tersenyum.

“Apa kamu akan tinggal di apartment Marcus?”

 

“Mm… Molla. Aku belum tahu. Mereka menawarkanku, tapi sepertinya mereka hanya punya satu kamar. Mungkin, untuk malam ini aku akan menginap disana. Besok aku akan mencari apartment ditempat lain.”

 

Aku mendengarkannya. Suaranya sangat renyah. Menyenangkan untuk terus mendengarkannya berbicara. Ia menyibakkan rambut dibahunya. Aku melihat sekilas kulit lehernya. Kulit itu terlihat… menggoda?

Astaga… kendalikan dirimu, tuan Choi!

***

Marcus’s Apartment. M Hotel & Apartment.

TING tong!

Suara bel menghentikan Catherine dari kegiatan memasaknya. Ia mematikan kompor dan berjalan menuju pintu depan. Ia melihat wajah Andrew Choi pada intercon. Tampan? Kenapa kesini?

Ini adalah pertemuan kelima mereka sejak mereka saling mengenal. Marcus dan Ivory mengajak Catherine untuk bepergian. Dimana ada Marcus Cho,dapat dipastikan Andrew Choi juga berada disana. Jadi pertemuan mereka, mungkin, akan terlihat seperti double date. Catherine dan Andrew juga bukanlah tipikal orang yang sulit bergaul, mereka mudah sekali akrab dan memiliki beberapa hal yang sama sehingga mereka tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan.

Catherine segera membuka pintu,”Andrew?”

 

Hi. Apakah Marcus ada?”

 

“Marcus? Oh, dia pergi mengantar Ivory ke klinik. Perutnya sakit. Mungkin gasthric problem. Mereka akan kembali setelah satu jam.”

 

“Apa aku boleh menunggu?”

 

Catherine terlihat terpaku beberapa detik mendengar pertanyaan Andrew. Walaupun sudah mengenalnya, gadis itu tetap saja masih tidak percaya dengan makhluk buatan Tuhan dihadapannya. Dia terlalu indah, pikirnya.

 

“Kalau kau tak keberatan.”

 

“Oh, tentu saja. Masuklah.”

 

Andrew masuk ke dalam apartment Marcus dan berjalan mengikuti Catherine. Hari ini pakaian lelaki itu bukanlah jas dan kemeja, melainkan T-shirt dan jeans. Terlihat lebih santai dan tidak kaku.

“Kau sedang memasak?”

 

“Ya. Bagaimana kau tahu?”

 

“Kau menggunakan apron, nona Park.” Ia menahan tawa.

 

“Oh, ya… Sial…” Catherine mengutuk dirinya.

“Kau mau minum apa?”

 

“Apapun yang kau berikan.”

 

“Duduklah disofa, nanti akan kuantarkan sesuatu untukmu.”

 

“Bagaimana kalau aku duduk disini?”

***

Andrew Choi’s POV

AKU duduk di mini bar yang menghadap ke dapur. Tepat dihadapanku, Catherine sedang sibuk dengan masakannya. Rambutnya dikuncir sembarangan sehingga membuat beberapa helai rambutnya terurai. Dan, kecantikan kulit lehernya terlihat dengan sempurna. Apron berwarna merah itu, entah mengapa sangat cocok dengannya. Kaus berukuran besar dengan hot pants menutupi tubuhnya. Apakah ini hukuman atau hadiah untukku, Tuhan?

 

“Apa kau menyukai makanan pedas, tuan Choi?” Ia mengusap peluh dipelipisnya dan melirik ke arahku.

 

Oh, sial.

 

“Hm?” aku menelan ludah untuk menetralkan pikiran.

 

“Mm… Sebenarnya, tidak terlalu. Tapi kamu bisa menambahkan beberapa bubuk cabai untukku. Sedikit saja.”

 

“Okay… Mereka pergi sebelum aku bangun. Aku tidak bisa tenang karena itu. Apakah Ivory terlalu banyak minum semalam?” Ia menyodorkan segelas iced coffee padaku.

 

Maybe,

 

“Lalu?” ia menoleh menatapku sambil membuka pengikat apronnya. Astaga. Tuhan, aku butuh pertolongan.

“Mm… Lalu?” Aku bingung ingin melanjutkan kemana percakapan ini. Aku terpaku oleh gadis ini.

“Kkk… Arraso. Kita makan saja.” Ia membawa masakannya ke meja makan.

Aku melihat punggungnya. Bentuk tubuh yang mempesona.

 

“Kau tahu aku belum memiliki kekasih, dear…”

Ya… kata ‘dear’ menjadi salah satu kata yang sering kugunakan untuknya belakangan ini.

 

Aku berjalan menghampirinya. Berdiri tepat dibelakangnya. Aku bisa mencium aroma tubuhnya dalam jarak sedekat ini. Oh, sial. Kenapa wanita ini begitu menggoda?

 

Ia menoleh dan membalikkan badan,”Oh! Kau mengagetkanku. Kkk…”

 

“Masakannya sudah selesai. Kau mau mencobanya?” Ia mendongak, menatap wajahku.

 

“Apakah kau mau mencobanya?” napasku terasa berat, entah kenapa.

 

“Hm? Apa maksudmu?” keningnya berkerut. Entah kenapa menjadikan wajahnya semakin menarik.

 

“Apa kau mau mencoba menjalin hubungan denganku?” tanpa ada basa basi, kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutku. Otakku gagal mengendalikan mulutku.

 

“…” tidak ada jawaban. Ia berbalik badan. Menuangkan air putih pada setiap gelas dihadapannya.

 

“Catherine-ssi…?” aku memegang bahunya.

 

“Aku… maaf. Andrew, kita baru saja berkenalan beberapa hari yang lalu.”

 

“Lalu?”

 

Ia membalikkan tubuhnya,”Lalu? Apa menurutmu itu masuk akal untuk menjalin hubungan?”

 

Aku memegang pipinya. Ia merona. Aku tahu, Ia memiliki perasaan yang sama denganku. Aku menatap manik matanya lekat-lekat.

“Aku menyukaimu…”

 

Entah siapa yang memulai, tetapi kami berada dalam situasi ini. Bibir kami saling bertautan, ia memejamkan matanya, mengalungkan lengannya di leherku. Aku mengusap pinggangnya tanpa sedikitpun ingin melepaskan kontak ini. Aku mendengarnya mengerang tertahan. Astaga. Aku hampir kehilangan akal karena wanita ini!

Ia menjauhkan bibirnya ketika oksigen dalam paru-paru kami terasa kosong. Ia terengah. Begitupun denganku. Tapi aku melihatnya tersenyum.

Apakah aku bisa mengartikan ini sebagai jawaban?

 

Setelah selesai makan, aku dan Catherine duduk di depan layar televisi. Jari-jari tangan kami saling bertautan. Aku memberikan kecupan-kecupan ringan diwajahnya dan berbisik,“Bisakah kita melanjutkan ini di apartmentku? Aku menginginkanmu, nona Park.”

***

11:55 PM. Andrew Choi’s Apartment.

INI kesekian kalinya aku menanamkan benihku didalam dirinya. Ya, kami melakukannya. Ini adalah malam terindah selama setahun terakhir aku tinggal di Manhattan. Cahaya bulan yang masuk melalui celah jendela kaca membuat suasana menjadi sangat intim untukku dan Catherine. Ia kelelahan. Terdengar hembusan napasnya yang tidak teratur, aku memeluknya dari belakang dengan lembut. Aku memeluknya di dalam selimut berwarna putih gading, memberikan kecupan di bibir manisnya sebelum kami terlelap dalam tidur yang damai.

 

 

Next day. 8:00 AM. Andrew Choi’s Apartment.

PAGI hari. Aku ingat sekarang hari apa dan tanggal berapa. Hari ini hari ulang tahunnya. Ada yang harus kulakukan sebelum Ia terbangun dari tidurnya.

Catherine Park, sekarang ia adalah kekasihku. Wanita yang mulai kucintai. Aku kembali dan segera merebahkan diri disampingnya setelah melakukan sesuatu untuk hari spesialnya.

Beberapa menit kemudian, Ia menggerakkan tubuhnya, membuka matanya dan tersenyum. Manis sekali.

Good morning, sweetheart…” aku menyapanya. Menyingkap beberapa helai rambut yang menutupi wajahnya dan memberikan kecupan di bibirnya.

 

“Bagaimana tidurmu?”

 

Ia hanya tersenyum dan menaikkan posisi selimutnya lebih tinggi menutupi dadanya. Oh, Tuhan. Kenapa dia masih saja mempesona?!

 

Aku mengajaknya untuk bergerak dari tempat tidur. Tidak ingin menyia-nyiakan waktu dihari spesial ini,“Ayo kita bersiap-siap,”

 

Aku menunggunya berpakaian di luar kamar. Aku akan mengajaknya pergi ke suatu tempat pagi ini. Udara pagi Manhattan cukup sejuk di musim panas ini. Aku membelikan Catherine blouse berlengan tanggung berwarna merah marun dan blue jeans untuk dipakai hari ini, mengingat ia tidak membawa pakaian kemarin malam saat menginap disini.

Astaga… Aku masih bisa tersenyum mengingat apa yang kami lakukan semalam. Ia mulai mengendalikan pikiranku.

 

“Andrew,” aku menoleh mendengar suaranya dan tersenyum saat melihat pakaian yang kubelikan sangat cocok untuknya.

 

“Cantik. Kau pantas memakai baju itu. Aku memilih ukuran yang tepat kan?”

 

Ia mengangguk dan tersenyum. Ia bertanya kemana kami akan pergi, tetapi aku hanya memberikannya senyuman. Aku menggandeng tangannya menuju Audi sport hitam milikku.

 

***

Central Park, Manhattan-NYC.

UDARA pagi ini terasa lebih sejuk dan suasananya menyenangkan. Apakah karena aku bersama dengan kekasihku pagi ini? Hm… mungkin itu alasan terkuatnya. Aku mengajak Catherine ke Central Park. Kami telah menghabiskan sarapan kami di bangku taman. Sandwich tuna dan orange juice terasa begitu nikmat masuk dalam perutku pada sarapan hari ini. Sekarang kami sedang berjalan menelusuri jembatan dan terdengar suara yang membuatku tersenyum. It’s show time!

Aku menggandeng tangan Catherine mendekat pada sebuah kelompok pemusik yang sedang mengadakan konser. Di musim panas seperti sekarang ini, banyak sekali event yang diadakan di Central Park untuk mengundang pengunjung datang ke taman ini. Salah satunya adalah konser di ruangan terbuka seperti yang kami lihat saat ini. Catherine terlihat membulatkan matanya ketika ia mengenali vokalis yang sedang menyanyikan lagu Daniel Bedingfield, If You’re Not The One.

“Itu Marcus!”

Ia berseru menunjuk Marcus dan tersenyum padaku.

 

Ya, itu Marcus. Siapa lagi yang bisa membantuku untuk melakukan hal ini? suaranya tidaklah begitu buruk. Bahkan mengagumkan. Kalau aku yang menyanyikan lagu itu disana, mungkin, Catherine akan tertawa terbahak-bahak mendengarkan suaraku. Aku cukup sadar diri dengan kemampuanku. Kkk…

 

“Ya! Si keriting itu?! Sejak kapan dia bisa main piano?”

 

Kkk… ia berteriak lagi. Ya, aku meminta bantuan pada pasangan itu. Mereka satu paket. Tidak bisa dipisahkan.

Musik mulai mendominasi keadaan taman. Beberapa pengunjung yang lewat menghentikan langkahnya untuk menikmati konser pagi ini. konser di pagi hari bukanlah hal yang biasa terjadi di Central Park.

 

If you’re not the one then why does my soul feel glad today?

Aku tersenyum, begitupun dengannya.

 

If you’re not the one then why does my hand fit yours this way?

Aku menggenggam tangannya, menautkan jemariku ditangannya. Ia menoleh padaku dan tersipu. Ia sungguh mempesona.

 

Kami terus mendengarkan alunan lagu dan musik yang dimainkan pasangan itu dan kelompoknya. Terlihat beberapa pengunjung juga hanyut dalam lagu sepanjang masa ini. Catherine menyandarkan tubuhnya, aku memeluknya lembut.

I don’t want to run away but I can’t take it, I don’t understand

If I’m not made for you then why does my heart tell me that I am?

Is there any way that I can stay in your arms?

Aku tahu, ini sangatlah cepat tetapi hatiku mengatakan aku menginginkannya. Menginginkannya ada disampingku. Menemaniku, sepanjang hidup.

 

Marcus selesai menyanyikan lagu itu, ia tersenyum ke arah kami diiringi tepuk tangan dari para pengunjung. Marcus dan Ivory menghampiri kami dan memberikan sebuah amplop merah kepadaku dan Catherine. Catherine membuka amplop itu.

Happy birthday, my new life.

 

Ia tertawa saat membaca sederetan kata singkat dalam kartu itu. Ia menatapku bingung. Ia menunjuk amplop yang kupegang. Ukurannya lebih besar dari amplop miliknya. Aku tersenyum ketika musik mulai mengalun kembali dan memecah kesunyian taman kota.

Aku berdiri berhadapan dengan Catherine, menjaga jarak beberapa langkah menjauh darinya. Marcus dan Ivory berada di samping kanan-kiriku. Catherine terlihat bingung tapi tidak bisa menyembunyikan senyumnya.

Aku mulai membuka amplop ditanganku. Ada beberapa kertas didalamnya. Aku mulai meletakkan kertas di depan dadaku. Aku menunjukkan kertas pertama pada Catherine.

“Hi, dear, my love,”

 

Ia tertawa. Ini sedikit menggelikan mungkin untuknya, kkk…

Kertas berikutnya hanyalah gambar telunjuk yang mengarah ke atas. Ia terlihat bingung. Ia ikut mendongak ke atas.

 

Aku tersenyum,”Aku. Lihat aku.”

Gambar telunjuk itu mengarah pada wajahku.

Ia tertawa lagi. Kemudian menatapku.

 

Aku berdeham,“Dengarkan,”

 

“Aku baru mengenalmu kurang lebih 5 hari. Hampir 140 jam, 8.400 menit dan 504.000 detik yang akan terus bertambah dari sekarang.”

 

“Tapi kau tahu, aku menyukaimu. Sejak kita bertabrakan di Times Square. Aku sempat melupakanmu hari itu, tapi kita bertemu lagi malam harinya. Dan aku mengingatmu.”

 

“Aku menyukaimu, nona Park.”

 

“Tetapi… Maaf, sekarang aku tidak lagi menyukaimu…”

 

Raut wajahnya berubah.

 

Tunggu dear, aku belum selesai. Raut wajahnya yang berubah begitu cepat sungguh menggemaskan. Kkk…

“Aku tidak lagi menyukaimu. Aku…”

 

Aku menunjukkan kertas bergambar hati padanya.

I… Love… You.

 

“Aku mencintaimu dan menginginkanmu menjadi…”

 

Aku mengeluarkan gambar sepasang pengantin dengan wajahku dan wajahnya ada pada gambar itu.

 

“Aku menginginkanmu menjadi pendamping hidupku.”

 

Sebenarnya, aku tidak punya masalah dalam hal kepercayaan diri. Tapi entah kenapa aku merasa begitu gugup saat ini. Apakah aku terlalu tergesa-gesa? Ah, whatever! Aku sudah mengungkapkannya. Aku siap untuk semua yang akan terjadi setelah ini.

 

Entah mengapa suasana menjadi sedikit tegang karena Catherine diam dan tidak memberikan jawaban setelah beberapa menit kami menunggu. Wajahnya juga berubah. Tidak ada senyuman disana. Apakah ini…

 

“Andrew Choi,” suaranya berhasil mencairkan suasana. Raut wajahnya masih belum berubah.

 

“… Setelah apa yang telah kau lakukan padaku, apakah kau masih membutuhkan jawaban tentang hal ini?” aku menelan ludah mendengar jawabannya. Rasa senang sedikit terselip dalam hatiku.

 

“Datanglah menemui orangtuaku, dan kita lihat hasilnya.” Ia tersenyum.

 

Oh, God! Jantungku nyaris berhenti berdetak!

 

Aku datang padanya, memeluknya dan mendaratkan kecupan dibibir manisnya.

“Aku akan mendatangi mereka, minggu depan. Bersiaplah.”

 

Ia mengerutkan dahi,”… Bersiap untuk?”

 

”Bersiaplah untuk menjadi Mrs. Choi.”

 

Ia tersenyum dan memeluk tubuhku erat. Aku membalas pelukannya dan mencium puncak kepalanya. Aku berharap ini adalah hadiah menyenangkan untuk ulang tahunnya kali ini. Aku akan membuatnya bahagia, disisiku, bersamaku. Tuhan, aku mulai mencintainya. Cintailah ia untuk diriku.

 

Aku mendekati telinganya dan berbisik,”Mrs. Choi, Saranghae…”

 

***

“You can be in a relationship for two years and feel nothing. You could be in a relationship for two weeks, or a second, and feel everything. Time is not a measure of love.”

Andrew Choi

 

The End

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: