[Siwon’s Day] Mine

sq

Judul: Mine

Author: Jung MinHee

Cast: Choi SiWon

Kang HyeNa

Han SonHye

Cho KyuHyun

Genre: Romance, gk ngerti lagi

Rating: PG 13

A/N: Hi.. kali ini author ikutan karna nyesel gk bisa ikutan yg DongHae&EunHyuk… Well, ini buat ahjussi kaya kita. Happy reading, and sorry for typos, karna gk keburu buat edit lagi..

ENJOY!

***

Mine!

Author POV

Sekali lagi pagi yang cerah menaungi langit Sekolah Il GodeungHagyo. Walau begitu, bukan berarti para murid bersemangat unuk belajar. Sampai akhirnya sang wali kelas masuk dengan seorang murid laki-laki di belakangnya yang mengundang bisikan-bisikan dari para murid.

“Saya harap kalian bisa tenang.” Ucap sang wali kelas dengan ekspresi datar yang mengancam. Sontak kelas menjadi sunyi. “Ja, hari ini kalian kedatangan teman baru. Silahkan perkenalkan dirimu.”

“Anyeong!” ucap sang murid baru, “Naneun, Choi SiWon imnida. Mannaseo baggawo!” murid itu memamerkan senyum termanisnya yang membuat para murid perempuan berseru senang.

“Geurom SiWon-ah, kau bisa duduk di…” sang wali kelas mencari tempat duduk kosong. “HyeNa-ah, apa tidak apa bagimu bila SiWon duduk di sebelahmu?”

“Ne, gwaenchanayo.” Ucap murid yang dipanggil HyeNa oleh sang wali kelas.

“Arraseo. SiWon-ah, kau bisa duduk bersama HyeNa.” Ucao sang wali kelas lalu meninggalkan kelas itu.

“Anyeong!” Sapa SiWon kepada HyeNa dengan senyum khasnya.

“Eoh, anyeong..” ucap HyeNa singkat lalu kembali sibuk dengan handphone di tangannya.

“Bukankah handphone harus dimatikan selama KBM?” batin SiWon bingung.

“Good morning class!” sapa guru bahasa Inggris mereka saat masuk kelas.

“Good morning Miss…” jawab para murid dengan lemas.

***

SiWon berjalan ke kantin seraya melihat-lihat menu yang disajikan dan duduk setelah selesai membeli makanannya.

“Hya, anak baru!” sapa seorang murid laki-laki yang datang dengan 3 temannya. SiWon hanya melirik mereka sejenak dan memulai kegiatan memakannya.

“Ehey… Kau sangat sombong! Na Lee DongHae, ini HyukJae, dan yang diujung sana SungMin.” Ucap satu murid yang duduk di ujung kanan. “Namamu SiWon kan?” SiWon membalas pertanyaan itu dengan anggukan.

“Kau tahu, kau sangat beruntung bisa duduk bersama HyeNa.” Ucap murid yang bernama HyukJae itu.

“Memangnya kenapa?” Tanya SiWon.

“Well, singkatnya dia adalah anak pemilik sekolah ini.” Timpal SungMin.

“Geurae?” balas SiWon tanpa ekspresi tidak terkejutnya.

“Mwoya? Kau bahkan tidak terkejut.” Kekeh DongHae.

“Entah, mungkin karena aku telah mengetahuinya?” SiWon memasang ekspresi dinginnya.

“Mwoya? Bagaimana kau tahu? Apa sudah ada yang memberitahumu sebelum kami?” Tanya SungMin dengan wajah curiga.

“Aniya. Aku hanya bercanda.” Tawa SiWon.

“Ah.. kau menakuti kami, arra?” tawa HyukJae berusaha mencairkan suasana.

“Eoh, mian.” Sahut SiWon pendek dan segera melanjutkan kegiatan memakannya. Ia melirik kearah ketiga murid tadi dengan ekspresi dinginnya dan segera memasang senyum hangat saat mereka menyadari tatapannya.

***

“Hai,” SiWon duduk di samping HyeNa, “kau tidak makan?”

“Memang apa urusannya denganmu?” jawab HyeNa dingin.

“Well, bukan apa-apa.” SiWon menggaruk tengkuknya yang tidak gatal,

“Ja.” SiWon memberikan es potong pada HyeNa.

“Mwo? Untuk apa?” Tanya HyeNa sinis.

“Bukan untuk apa-apa. Aku hanya ingin memberikannya saja untukmu. Ja.” SiWon menunujukan senyum termanisnya. “Ehey, terima saja.” SiWon menarik tangan HyeNa dan menaruh es potong itu di tangannya.

“Wae?” gumam HyeNa, masih menatap es potong di tangannya.

“Eung?” SiWon menoleh dengan es potong masih di mulutnya.

“Kenapa kau melakukan ini kepadaku?” kali ini HyeNa menatap SiWon.

“Apa kau takut? Karena kau anak pemilik sekolah ini, maka kau takut aku meracunimu? Atau bahkan telah banyak orang yang melakukan ini padamu? Atau mungkin…”

“Cukup. Bukan itu.” Potong HyeNa. SiWon kemudian menatap HyeNa dengan tatapan ‘Lalu?’

“Gomawo.” Ucap HyeNa dengan senyum pada akhirnya.

“Namaku SiWon, Choi SiWon, kau sudah tahukan?” SiWon kembali memulai percakapan.

“Eung,” angguk HyeNa, “Namaku Hyena, Kang HyeNa. Kau pasti juga sudah tahu, iya kan?”

“Sejujurnya, aku baru mengetahui nama lengkapmu sekarang.” SiWon tersenyum sekali lagi, namun kali ini HyeNa membalasnya.

“Jadi kita berteman?” SiWon menawarkan HyeNa untuk berjabat tangan.

“Baiklah, tidak ada ruginya juga bagiku. Iya kan?” HyeNa menyambut tangan SiWon. SiWon hanya memberikan senyum misterius sebagai tanggapannya.

“Mengapa kau tersenyum seperti itu?” Tanya HyeNa yang langsung dibalas dengan senyum manis SiWon lagi.

***

“Dimana rumahmu SiWon-ah?” Tanya HyeNa saat mereka telah sampai did pan gerbang sekolah.

“Di dekat sini. Monjeo galkkae..” ucap SiWon seraya meninggalkan HyeNa di gerbang itu. HyeNa menatap punggung SiWon yang semakin menjauh seraya melambaikan tangan padanya.

“Geugo nuguya?” Tanya sebuah suara dari belakang HyeNa.

“Eoh?! SonHye-ah!” sapa HyeNa begitu melihat pemilik suara itu.

“Ehey… Kau memiliki seorang yang special lagi eh?” ejek SonHye.

“Eyy, geugo anya.” HyeNa memukul pundak SonHye pelan, “Ia murid pindahan dan karena di kelasku sudah tidak ada kursi kosong lagi maka ia duduk bersamaku.”

“Tapi kau menykainya kan? Tidak perlu berbohong HyeNa-ah.. itu semua tertulis jelas di wajahmu..” ejek SonHye sekali lagi, “Lagi pula ia cukup tampan. Bila kau tidak mau, kau boleh mengenalkannya padaku.”

“Mwoya?! Andwaejji.” HyeNa menekuk wajahnya seketika.

“Arraseo. Ia boleh jadi milikmu.”

“Siapa yang boleh jadi milik HyeNa?” tiba-tiba seorang murid laki-laki mendekati mereka berdua.

“Cho KyuHyun!”

“Oppa!” ucap HyeNa dan SonHye bersamaan.

“Kau harus belajar memanggiku oppa HyeNa-ah.” Ucap KyuHyun.

“Naega wae?” timpal HyeNa.

“Dwaetta! Lebih baik kau jawab siapa yang boleh menjadi milikmu.”

“Choi SiWon.” Jawab SonHye singkat.

“Choi SiWon?” KyuHyun mengerutkan dahinya, “Sepertinya aku pernah mendengar nama itu sebelumnya…”

“Mungkin itu perasaan mu saja. Ia adalah murid pindahan. Baru datang hari ini. Mana mungkin kau mengenalnya?” gerutu HyeNa.

“Tapi..”

“Sudahlah lebih baik aku pulang saja. Anyeong SonHye-ah!” potong HyeNa seraya berlalu.

“Eoh? Eoh. Jalga…” SonHye melambaikan tangannya pada punggung HyeNa.

“Tapi aku yakin pernah mendengar nama itu…” KyuHyun masih bertahan dengan ekspresi berpikirnya.

“Sudahlah, lupakan.” SonHye menepuk punggung KyuHyun, “Ayo pulang.”

KyuHyun memutuskan untuk tidak memikirkan hal itu terlalu keras dan mulai berjalan pulang.

***

Desember datang, dan para siswa tengah menjalakan ujian akhir semester mereka. Para siswa berhamburan keluar, menandakan bel pulang telah bedering.

“HyeNa-ah,” panggil SiWon, “apa kau sibuk?”

“Anni, wae?” HyeNa memalingkan tatapannya dari tas yang sedang di rapihkan.

“ Bagaimana kalau kita pergi ke taman?” ajak SiWon.

“Untuk apa?” HyeNa kembali merapihkan alat tulisnya.

“Geunyang, hanya untuk refreshing setelah ujian.” SiWon menatap HyeNa sambil tersenyum.

“Ah..” HyeNa berpikir sebentar, “Sejujurnya kau mau, tapi…”

“Wae?” potong SiWon cepat.

“Supir appaku telah menunggu di bawah, itu berarti aku sudah harus pulang.” HyeNa mengenakan tas punggungnya.

“Kita kabur saja, eottae?” SiWon menunjukan smriknya seraya menaikan salah satu alisnya.

“Geundae..” ucap HyeNa tertahan.

“Aish! Gaja!” SiWon menarik tangan HyeNa dan keluar melalui pintu belakang

***

“Micheonya?” HyeNa menghempaskan tangan SiWon setelah mereka sampai di taman.

“Wae? Bukankah tadi itu menyenangkan?” protes SiWon, “Lagi pula sudah terlalu terlambat untuk kembali. Kita sudah sampai di sini.”

“Ajikdo.” Hyena tetap menggerutu, “Ah, Himdeuro!” HyeNa menumpukan tubuhnya di lutut.

“Himdeuro? Anjalkka?”(Kau merasa lelah? Apa mau duduk?) HyeNa mengangguk sebagai jawabannya, “Jogiseo anjajja.”(Ayo duduk disana)

“Changkaman, naega muleul salkke.”(Tunggu sebentar, aku akan membeli minum untukmu) SiWon meninggalkan HyeNa sejenak.

HyeNa membunuh waktu dengan menggumankan salah satu lagu kesukaannya sejak kecil.

“Eoh? Bagaimana kau tahu lagu itu?” Tanya SiWon dari belakan HyeNa tiba-tiba.

“Ah… Sejujurnya aku juga tidak ingat, namun aku suka menyanyikan lagu itu sejak kecil. Kurasa eomma atau appa yang mengajariku.” Jelas HyeNa seraya menerima minuman dari SiWon.

“Ah, geurae?” SiWon menaikan salah satu alisnya.

“Mengapa kau memasang wajah seperti itu? Hentikan, itu sangat menyeramkan.” HyeNa berusaha menutup wajah SiWon.

“Ternyata kau masih takut pada wajah ini.” Gumam SiWon.

“Mwo?” Tanya HyeNa terkejut.

“Aniya,” elak SiWon cepat, “Kudengar hari ini adalah hari ulang tahunmu.”

“Ah.. ne.” HyeNa menundukan wajahnya untuk menyembunyikan senyumnya.

“Ja! Saengilchukahae!” SiWon memberikan kadonya pada HyeNa.

“Gomawo!” HyeNa tersenyum tulus pada SiWon, “Boleh aku membukanya sekarang?”

“That’s your choice to choose.”

“Woah!” decak HyeNa kagum setelah membuka kadonya dengan cepat, “Dimana kau membelinya?” ia mengeluarkan sebuah kalung dari box kadonya.

“Aku tidak membelinya, itu milik eommaku, sebelumnya. Aku selalu menjaganya dengan baik hingga akhirnya ku berikan pada orang yang sama spesialnya dengan eomma dan yang akan menjadi seperti eomma.”

“Ah…” HyeNa mengangguk-anggukan kepalanya setelah mendengar penjelasan SiWon, “Eommamu sudah meninggal?”

“Eung.” Jawab SiWon tertunduk.

“Mianhae…” lirih HyeNa.

“Ani, mengapa kau meminta maaf padaku?” SiWon menatap HyeNa sebentar, lalu menundukan kepalanya lagi, “Beliau adalah sosok yang sangat menakjubkan bagiku. Ia mengajarkanku banyak hal, membuatku merasakan banyak hal, dan terlebih ia telah…” SiWon menyeka air matanya.

“Mengapa aku jadi meracau seperti ini?” SiWon menyeka air mata yang hendak keluar, “Lebih baik kau pulang. Orang tuamu akan khawatir. See you tomorrow!” dengan cepat SiWon meninggalkan HyeNa sendirian di taman itu.

***

“Mwo? Kalung ini pernah menjadi milik eommanya katamu?” jerit SonHye tertahan.

“Hya! Jangan keras-keras.” HyeNa memprotes volume suara SonHye.

“Kau tidak bisa terus seperti ini. Apa kau benar menyukainya?”

“Tentu saja!” jawab HyeNa cepat, “Tidak ada yang seperti ini padaku sebelumnya. Sebelumnya semuanya hanya menginginkan uangku. Tapi SiWon berbeda.”

“Lalu bagaimana dengannya?” Tanya SonHye cepat yang membuat HyeNa tertunduk bingung.

“Molla.” Jawab HyeNa lemas.

“Kau tidak bisa terus seperti ini. Ajak dia ke taman kemarin, katakan saja kau akan berjalan-jalan denganku, dan kau ingin ditemani. Aku juga akan mengajak KyuHyun oppa. Nampaknya ia benar-benar pernah mendengar nama SiWon itu.”

“Baiklah akan ku coba.” HyeNa menganggukan kepalanya lemas.

***

HyeNa tampak cemas. Ia terus menoleh ke kiri dan ke kanan. Mencari sosok yang telah ditunggunya sejak 30 menit lalu.

“Apa benar kau telah memberitahunya dengan spesifik? Tempat dan jamnya?” Tanya SonHye pada HyeNa.

“Geurom…” HyeNa menyahut dengan putus asa.

“Kalau begitu berarti dia tidak menyukaimu. Se-simple itu.” Timpal KyuHyun santai.

“Cho KyuHyun!” desis SonHye seraya memukul lengan KyuHyun. KyuHyun hanya memelototi SonHye sebagai balasannya.

“Eoh?!” HyeNa memicingkan matanya, “Geuga watta!”(Ia sampai) seru HyeNa pada SonHye dengan senyum terukir jelas di wajahnya.

“Mian. Tadi aku harus mengurus tugas-tugasku dulu.” Ucap SiWon terengah.

“Gwaenchana.” Balas HyeNa santai.

“Eoh? Neo?” KyuHyun menunjuk SiWon dengan jarinnya.

“Anyeonghaseyo, sunbaenim.” SiWon memberi hormat pada KyuHyun.

“Ehh, kau tidak perlu seperti itu. Aku hanya ikut akselerasi 1 tahun. Jadi, aku seumuran denganmu.” Ucap KyuHyun kikuk.

“Ah… Geurae?” SiWon kembali menegakan tubuhnya, “Arraseo geurom.”

“Kurasa aku pernah melihatmu sebelumnya…” gumam KyuHyun.

“Ah… itu, tentu saja.” SiWon menggaruk tengkuknya yangb tidak gatal, “Aku pernah dengan tidak sengaja menumpahkan kopi ke mejamu saat di kantin.”

“Ah… Geurae?” Tanya KyuHyun curiga.

“Eung, itu yang sesungguhnya.” Jawab SiWon santai.

“Ah, kau cepat juga beradaptasi berbicara informal denganku.” Ejek KyuHyun.

“Geumanhae… Kalau di teruskan kalian akan bertengkar.” Lerai HyeNa.

“Geurae, lebih baik kita berangakat sekarang. Gajja!” ajak SonHye yang segera dituruti oleh KyuHyun maupun SiWon.

***

“Aish! Mwoya?!” Geurtu HyeNa.

“Wae? Ada apa?” SiWon menghampiri HyeNa yang tengah berdiri di depan gerbang sekolah mereka.

“Ani… Igeo…” HyeNa tampak cemas, “Appaku bilang akan ada orang yang menungguku di sini sepulang sekolah. Namun, sampai sekarang orang itu belum datang juga, sedangkan aku sudah sangat ingin pulang.” Rengek HyeNa.

“Arraseo. Bagaimana bila aku mengantarmu?” tawar SiWon.

“Jinnja?” Tanya HyeNa dengan wajah berbinar yang dibalas dengan anggukan pasti dari SiWon, “Geurae geurom!”

“Baiklah, motorku ada di sana.” SiWon berjalan menuju motornya, sedangkan HyeNa hanya membuntut di belakang SiWon.

“Apa sudah siap?” Tanya SiWon setelah menyalakan mesinnya.

“Eung!” jawab HyeNa mantap.

“Ganda…” SiWon meulai melajukan motornya.

***

“Ini rumahmu?” Tanya SiWon begitu ia melepas helmnya. HyeNa hanya memberikan cengiran polos pada SiWon. “Woah, ini super besar.”

“Tolong jangan ceritakan pada siapa-siapa.” Pinta HyeNa.

“Arraseo.” SiWon menyetujui permintaan HyeNa dengan mudah.

“Ah, kau masuk saja dulu sebentar.” Ajak HyeNa.

“ANNI!” tolak SiWon cepat.”

“Wae?” HyeNa mem-pout-kan bibirnya seketika begitu mendengar penolakan keras dari SiWon.

“Ani, geunyang…”

“Ah gajja!” HyeNa menarik SiWon turun dari motornya, “Sebentar saja..”

***

“Eomma! Appa! Aku pulang!” teriak HyeNa setelah masuk kedalam rumahnya, masih dengan menarik SiWon di belakangnya.

“Eoh? HyeNa-ah. Kau sudah sampai..” ujar tuan Kang seraya memeluk HyeNa.

“Ah appa! Ini temanku. Ia yang mengantarkan ku tadi. Kim ahjussi tidak kunjung datang.” Adu HyeNa.

“Ah.. Gomawo eum..” ucap tuan Kang terhenti.

“Choi SiWon-imnida.” SiWon menberi hormat pada tuan Kang.

“Choi Si…” tuan Kang tampak terkejut. SiWon menunjukan senyum licik termanisnya.

“Ne. Anda benar, Choi SiWon-imnida. Suatu kehormatan bias bertemu dengan Anda.” SiWon member hormat sekali lagi.

“Eo, oh..” balas tuan Kang kikuk.

“Saya harus segera pulang. Geurom.” SiWon kembali memberikan hormat pada tuan Kang dan melambaikan tangannya singkat pada HyeNa yang dibalas dengan senyuman. SiWon kembali tersenyum licik setelah sampai di pintu utama rumah keluarga Kang itu.

***

“HyeNa-ah,” panggil tuan Kang saat HyeNa akan naik ke kamarnya setelah makan malam, “Appa ingin berbicara denganmu sebentar saja. Ayo duduk di sini.” Tuan Kang menepuk sofa di sebelahnya.

“Waeyo appa?” Tanya HyeNa dengan senyum manis terukir di wajahnya.

“Bagaimana kau bias kenal dengan SiWon?” Tanya tuan Kang serius.

“Ah… ia murid pindahan sejak Agustus lalu. Karena di kelasku tidak ada tempat kosong lainya, ia terpaksa duduk bersamaku.” Jelas HyeNa riang.

“Bagaimana perlakuannya padamu?”

“Eum.. dia sangat baik appa. Bahkan ia memberikan kalung ini sebagai hadiah ulang tahunku kemarin.” HyeNa menunjukan kalung pemberian SiWon.

“Ia bilang kalung ini pernah menjadi milik eommanya. Dan ia bilang bahwa ia hanya akan memberikan kalung ini pada orang yang sama spesialnya dengan eommanya. Seseorang yang bisa menjadi seperti eommanya.” Pamer HyeNa.

“Menjadi seperti eommanya?” tuan Kang mengulangi ucapan HyeNa yang disahuti dengan anggukan semangat dari HyeNa.

“HyeNa-ah,” tuan Kang meraih tangan HyeNa dan menggenggamnya, “Appa rasa kau harus menjauhinya.”

“Mwo?! Wae?!” HyeNa tekejut dengan ucapan tuan Kang.

“Appa rasa dia bukan seorang yang harus berdekatan denganmu. Ia bisa saja membahayakan dirimu.” Tuan Kang mengeratkan genggaman tangannya pada HyeNa.

“Wae?!” HyeNa menarik tangannya menjauh dari genggaman tuan Kang dengan air mata tergenang di matanya.

“Ini demi kebaikanmu HyeNa-ah..” balas tuan Kang lemas.

“Aniya! Sirheo!” Jerit HyeNa seraya bangun dari duduknya, “Aniya! Aku tidak akan menjauhi SiWon! Tidak akan!”

“HyeNa-ah! HyeNa-ah!” panggil tuan Kang pasrah saat HyeNa berlari keluar meninggalkan rumah keluarga Kang.

***

HyeNa menyeka air matanya dan berhenti dari larinya sejenak. Ia segera mengeluarkan handphonenya dan menghubungi SiWon.

“SiWon-ah? Eoddieya?” Tanya HyeNa sambil menahan tangisnya.

“Coba kau kirimkan alamatmu, aku akan datang ke sana sekarang.” HyeNa kembali menyeka air mata yang terus mengalir.

“Eoh arraseo.” HyeNa segera menutup hubungan teleponnya.

***

“SiWon-ah…” panggil HyeNa lemah di depan pintu rumah SiWon.

“HyeNa-ah, ayo masuk dulu.” Ajak SiWon, “Kau duduk dulu di sana, aku akan mengambilkan minum untukmu dulu.” HyeNa duduk di sofa yang di tunjuk oleh SiWon.

“Ja, minum dulu.” SiWon memberikan minum di tangannya kepada HyeNa.

“Gomawo..” HyeNa menerima air itu dan segera menenggaknya sampai habis.

“Apa yang terjadi? Coba ceritakan padaku..” Tanya SiWon lembut.

“Appaku, ia menyuruhku menjauhimu..” jawab HyeNa lemas.

“Wae?” Tanya SiWon penasaran.

“Karena katanya kau bias membahayakan diriku..” suara HyeNa semakin terdengar lemas.

“Ah.. kurasa kau seharusnya mendengarkan kata-kata appamu itu dengan baik.” SiWon kembali menunjukan smirknya. Kemudian tiba-tiba HyeNa tidak sadarkan diri.

***

HyeNa membuka matanya perlahan.

“Ah… kau sudah bangun rupanya.” Ucap SiWon sinis, “Padahal ku harap kau tidak akan bangun lagi.”

“Mwo?” balas HyeNa lemas, “Mwoya?!” jerit HyeNa setelah sadar bahwa ia terikat di kursi yang tengah.

“Tidak perlu panic seperti itu. Sudah ku bilang, seharusnya kau mendengarkan kata appamu.” SiWon bangkit dari duduknya.

“Mengapa kau menjadi seperti ini?” HyeNa menahan tangisnya.

“Aish! Aku benci yeoja yang cengeng.” Ucap SiWon sinis, “Bagaimana rasanya hidup seperti putri Kang HyeNa?” SiWon berjalan kearah HyeNa perlahan.

“Apa itu menyenagkan hah? Apa itu menyenangkan menggunakan dan menikmati milik orang lain ha?” SiWon berjalan memutari HyeNa.

“Apa maksudmu?” Tanya HyeNa dengan suara bergetar.

“Ah… Tentu saja kau tidak akan mengerti. Namun tenang saja, aku sudah menhubungi appamu. Aku sudah meminta imbalan yang setimpal denganmu.”

“Apa maksudmu?”

“JANGAN TERUS MENGULANG KALIMAT ITU!” teriak SiWon, “Aku sudah meminta appamu untuk mengembalikan perusahaan appa dan eomma ku. Sekolah yang ada di tangan appamu itu, adalah miliku! Milik appa dan eomma ku!”

“Tapi, bagaimana?”

“Pertanyaam bagus! Kau ingat saat aku memnceritakan tentang eommaku padamu?” HyeNa menggagguk takut-takut, “Kau tahu apa yang menyebabkan eommaku meninggal? Appamu! Appamu berusaha membunuhkku saat aku masih berusia 4 tahun. Ia berusaha menabrakku dengan mobil yang diberikan oleh appaku. Lalu kau tahu apa yang terjadi? Eomma menyelamatkanku dari mobil itu, dan karena ia mekukan hal itu, ia harus meninggalkan dunia ini, termasuk aku dan appa.”

“Appa terlalu stress sepeninggal eomma, dan itu membuatnya menyusul eomma 3 bulan kemudian. Dan appa mu sebagai wakil, mendapat kekuasaan itu dan tidak memiliki rencana untuk mengembalikannya padaku. Ia mengantarkanku pada sanak-saudaraku, namun tidak ada yang mau menerimaku. Karena itu aku berakhir dip anti asuhan.”

“Kurasa kau sangat menikmati hidupmu sebagai tuan putrid, Kang HyeNa. Namun kau tahu ap? Kau bukan lah seorang tuan putrid Kang HyeNa, kau hanya anak dari salah satu pelayan pangeran ini. Dulunya kau adalah seseorang yang dianggap adik oleh pangeran itu, namun karena orang tuamu menghianati keluarga pangeran itu, sekarang aku membencimu.”

“Kau ingat lagu yang kau gumamkan saat kita di taman? Bukan eommamu maupun appamu yang mengajarinya, melainkan aku sendiri. Lirik lagu itu kubuat sedemikian rupa agar dapat membuatmu berhenti menangis, dank au tetap takut pada wajahku yang seperti ini, sejak kecil kau selalu menangis saat aku menaikan salah satu alisku.” HyeNa hanya dapat bergetar hebat mendengar penjelasan dan melihat SiWon yang terus berjalan di depannya.

“Kang HyeNa!” gedor seseorang, “Hya! Choi SiWon, bila sampai terjadi sesuatu pada HyeNa, aku jamin kau tidak akan selamat! Cepat buka pintunya atau akan ku…” ucapan orang tersebut terpotong setelah pintu di depannya terbuka lebar.

“Silahkan masuk Cho KyuHyun. Hanya saja kau tidak boleh menyentuh HyeNa.” Ujar SiWon ramah.

“Tenang saja, aku tidak melukainya dan tidak akan melukainya. Aku hanya ingin menjadikannya bahan barter, itu saja.” Jelas SiWon santai saat melihat wajah khawatir KyuHyun.

“Choi SiWon, dengarkan aku. Ada hal yang tidak kau mengerti, tuan Kang tidak melakukan itu karena ia mau, itu semua tuntutan. Ia dalam keadaan sulit saat itu, maka dari itu ia berpikir pendek dan..”

“Kalau begitu mengapa ia membuangku begitu saja? Apa perlu ia membunuhku kalu begitu? Atau perlukah ia membunuh orang tuaku? Ia bias saja meminta uang pada orang tuaku.”

“Ia telah mencoba hal itu, namun orang tuamu tidak memberikannya dengan alas an jumlah yang terlalu banyak… banyak hal yang tidak kau ketahui SiWon-ah..”

“Lupakan! Memangnya mengapa aku harus mendengarkanmu?! Kau bahkan tidak ada kaitannya dengan hal ini!” bentak SiWon, “Cepat keluar! Cepat keluar atau akan ku pastika HyeNa tidak akan selamat.”

“Nagarago!” teriak SiWon kencang. KyuHyun melangkah kebelakang perlahan, matanya masih terpaku pada HyeNa yang gemetar karena takut. Beberapa langkah sebelum samapai di depan pintu KyuHyun menghentikan langkahnya. Tiba-tiba saja SiWon mendorong keluar KyuHyun dan menutup pintunya rapat-rapat.

“Ja.. sampai mana kita tadi HyeNa-ah?” Tanya SiWon dengan suara lembutnya. Mata HyeNa bergerak liar berusaha mencari jalan keluar. HyeNa menemukan sebuah pintu belakang. Ia menatap pintu itu dan SiWon bergantian. Hingga akhirnya HyeNa memutuskan untuk bangkit berdiri dan menyundul SiWon hingga jatuh ke belakang. HyeNa berusaha membuka pintu itu. Namun nihil, pintu itu bahkan tidak menunjukan tanda-tanda akan terbuka.

“Apa kau piker kau hebat Kang HyeNa? HA?!” teriak SiWon, kemudian ia menarik HyeNa agar duduk di tempatnnya semula.

“Kau piker aku sebodoh itu untuk membiarkan pintu ini tidak terkunci? HA?!” HyeNa hanya bias menitikan air mata ketakutan. Ia sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi. Seharusnya ia mendengarkan kata appanya. Ya, seharusnya. Namun sekarang sudah terlalu terlambat untuk mendengarkan appanya.

“SiWon-ah, tolong jangan seperti ini..” tangis HyeNa pecah.

“SiWon-ah? Perlu kau ketahui, aku 2 tahun lebih tua darimu. Jangan berbicara informal seperti itu padaku!” bentak SiWon sekali lagi.

“Geurom, oppa, jebal…”

“Nuga ni oppaya?!”(Siapa oppamu?!) SiWon menepis tangan HyeNa yang berusaha menggenggam tangannya.

“SiWon-ah! SiWon-ah!” gedoran pintu kembali terdengar, “SiWon-ah, tolong lepaskan dia! HyeNa tidak ada urusannya dengan masalah ini! SiWon-ah! SiWon-ah!”

“Akhirnya pahlawanmu sampai juga HyeNa-ssi.” Ucap SiWon seraya berjalan kearah pintu depan.

“Tuan Kang!” sapa SiWon ramah.

“Di mana HyeNa? Kau apa kan saja dia?!” Tanya tuan Kang panic.

“Whoa.. whoa.. Tidak perlu panic tuan Kang. HyeNa baik-baik saja.” SiWon menghadang tuan Kang yang berusaha menerobos masuk, “Sebaliknya, apakah pemindahan kepemilikan itu sudah selesai?”

“Tentu saja. Mulai besok, sekolah itu akan menjadi milikmu.” Ucap tuan Kang cepat dan segera menerobos masuk.

“Appa!” HyeNa menangis sejadinya di depan appanya.

“Tenang saying. Kau tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja.” Ucap tuan Kang sambil melepaskan simpul ikatan HyeNa. HyeNa langsung menghambur memeluk appanya begitu ikatannya terlepas sempurna.

“Mianhaeyo appa. Seharusnya aku mendengarkan nasehat appa. Jeongmal mianhae…” HyeNa menangis di punggung appanya.

“Gwaenchana. Tidak perlu takut semuanya akan baik-baik saja.” Tuang Kang membalas pelukan HyeNa, “Lebih baik kita pulang sekarang. Eottae?” ajak tuan Kang yang dibalas dengan anggukan oleh HyeNa.

“Changkaman!” ucap SiWon saat HyeNa dan tuan Kang sampai di depan pintu rumahnya, “Harus kalian ketahui, kalian tidak boleh muncul kehadapanku lagi. Lebih baik kalian pindah keluar kota. Mengerti?”

“Arraseo.” Jawab tuan Kang lemah. Kemudian mereka semua segera meninggalkan SiWon sendirian.

***

2 bulan telah berlalu. Namun begitu SiWon tetap sibuk dengan perbaikan pengurusan sekolah yang telah di bangun denga jerih payah orang tuanya tersebut. SiWon menyenderkan kepalanya di kursi kebesarannya seraya menutup mata sejenak.

“Apa kau pikir kau bias mengambil kekuasaan ini dengan mudah dariku?” racau SiWon,”Tentu saja tidak tuan Kang. Kau tahu aku bias saja melakukan balas dendam padamu kapan saja. Ku ulangi kapan saja..” ucap SiWon dengan nada dinginnya.

***

Aku bisa saja melakukan balas dendam padamu kapan saja. Ku ulangi kapan saja..

Tuan Kang bangun dari tidurnya dengan nafas terengah dan peluh di sekitar dahinya. Mimpi tadi terasa begitu nyata baginya. Kembalinya Choi SiWon, bahkan ia menculik HyeNa, dan ia berhasil merebut kembali sekolahan milik orang tuanya itu. Semua itu terasa sangat jelas, terasa sangat nyata.

“Eomma! Appa! Aku pulang!” teriak HyeNa dari ruang keluarga. Tuan Kang segera bangun dan keluar kamar tidurnya untuk memastikan bahwa kejadian tadi memang hanya sebuah mimpi.

“Eoh? HyeNa-ah… Kau sudah sampai.” Ucap tuan Kang seraya memeluk HyeNa. Semua itu memang hanya sebuah mimpi. Nyatanya ia masih berada di rumah megahnya saat ini.

“Ah appa! Ini temanku. Ia yang mengantarkan ku tadi. Kim ahjussi tidak kunjung datang.” Adu HyeNa.

“Ah.. Gomawo eum..” ucap tuan Kang terhenti.

“Choi SiWon-imnida.” SiWon memberi hormat pada tuan Kang. Tubuh tuan Kang menjadi kaku seketika.

End~

YooHoo! Akhirnya selesai juga… Mian klo endingannya nyesek dan “jelas” banget… karna emang mau bikin konsepnya kayak gini… After all, thanks for reading, and don’t forget to leave comment! Anyeong ^^

 

4 Comments (+add yours?)

  1. devi
    Dec 14, 2015 @ 22:23:51

    SEQUEL PLSSS

    Reply

  2. christin
    Dec 16, 2015 @ 18:27:28

    daebak thor….. sequelnya dong thor…. pengen tau siwon beneran suka gak sama hyena….

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: