[Siwon’s Day] Tears Of Sorrow

cover_TOS_siwon

Tears of Sorrow

Author : Elva Zavier

Tittle : Tears of Sorrow

Cast : 1. Choi Siwon

2. Shin Young Ae

Genre : Romance, Sad

Rating : PG-15

Lenght : Ficlet

Disclaimer : This is MINE!

Annyeonghaseo… aku author baru nihh. Don’t call me author, it’s not  sexy anymore! Hehe .. You cal call me Elva or Eonnie maybe. Ini pertama kalinya aku posting di blog ini.  FF ini pernah aku publish di blog pribadiku, tapi main castnya my Fishy. Berhubung my Fishy lg wamil, bolehkan sedikit selingkuh (padahal Siwon jg sama wamilnya, ckck …).  Ceritanya sedikit gaje emang, tapi aku udah berusaha. Meski begitu ini buah dari imajinasi tingkat dewaku. haha … So, no plagiat, no bashing, and comment please !

***

Sinar mentari menembus diantara celah gorden. Pagi telah menjelang. Tapi hawa dingin masih menerpa pagi ini. Tentu saja, ini memasuki bulan Desember. Jalanan juga pasti tengah licin karena tertutup hujan salju semalam.

Gadis itu menggeliat pelan dalam tidurnya. Selimut putih tebal itu masih membungkus tubuhnya. Ia hendak beranjak bangun untuk membersihkan dirinya, tapi terhalang oleh sepasang lengan kekar yang melingkari perutnya dengan posesif. Diliriknya sekilas seorang lelaki yang kini tengah tertidur nyenyak di sampingnya.

Kembali direbahkan kepalanya di bantal empuk miliknya. Diurungkan niatnya untuk bangun. Ia memilih untuk memandangi wajah terlelap disampingnya. Begitu tampan. Mulutnya sedikit terbuka dengan dengkuran halus seiring dengan deru nafasnya yang teratur. Jemari lentik gadis terulur membelai alis mata tebal pria itu, ibu jarinya mengusap pelan mata yang tengah terpejam itu. Mata yang selalu menatapnya dengan penuh cinta. Perlahan belaiannya turun ke arah hidung mancungnya dan berhenti di bibir tipis pria itu. Bibir yang selalu tersenyum ramah padanya, bibir yang selalu mengecupnya dengan lembut, bibir yang selalu menggumamkan kata cinta untuknya. Dan bibir itu telah menjadi candunya.

Kilasan memori kebersamaan mereka selama 2 tahun ini berkelebatan dalam pikirannya. Saat pria itu menyatakan perasaannya di tengah hutan disela kegiatan mereka mendaki gunung. Saat mereka merayakan satu tahun kebersamaan mereka dengan makan malam di taman belakang belakang rumahnya, tapi hancur begitu saja karena hujan lebat. Dan saat pria itu tanpa ragu memukul seorang pria yang memeluknya yang ternyata itu adalah sepupunya yang lama tidak bertemu.

Perlahan cairan bening mengalir dari kedua bola mata gadis itu. Ia menengadahkan wajahnya, mencoba menghalau laju air mata yang semakin deras tanpa bisa ia kendalikan. Ia mencintai pria ini? Sangat! Dan tak perlu dipertanyakan lagi. Tapi ia sadar pria ini tak ditakdirkan untuknya. Pria ini tak kan pernah dimilikinya. Dan memang tak boleh. Rasa cinta ini sebuah kesalahan. Rasa cinta yang harus dipangkas oleh takdir.

Sebuah usapan lembut membelai wajahnya, menghapus jejak air mata di pipi gadis itu dengan ibu jarinya.

“Kau menangis?” tanya pria itu dengan suara lembutnya.

Gadis itu menggeleng lemah mencoba menahan isakannya. Tapi mata sembab dan hidung merahnya cukup membuktikan apa yang dirasakannya saat ini. Pria itu merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Menenggelamkan wajah cantik itu di dada bidangnya.

“Aku sungguh sesak Siwon-ah. Aku tak sanggup bernafas.” ujar gadis itu di tengah isakannya yang sudah tak bisa terbendung lagi. Biarlah kemeja putih itu basah oleh air matanya. Gadis itu membutuhkan Siwonnya sekarang.

Pria yang bernama Choi Siwon itu tentu tahu sesak yang dimaksud gadis itu. Bukan sesak karena pelukannya, tapi sesak menahan perih karena hubungan mereka yang harus kandas di tengah jalan.

“Uljima.” Siwon mengeratkan pelukannya. Mengecup lembut puncak kepala gadis yang dua tahun ini mengisi relung hatinya ini.

“Aku sudah memutuskan. Aku akan ke Paris besok.” ujar gadis itu sembari mengusap air mata yang menganak sungai di di pipinya. Ia mencoba tegar. Meski itu sangat sulit.

“Mwo?!!” Siwon tersentak dengan pernyataan gadis di depannya. Matanya mendelik tajam. Ia melepaskan pelukannya di tubuh mungil itu. Kedua lengannya mencengkeram erat kedua pundak gadis itu. “Kau bercanda?” tanyanya sarkatis. Siwon beranjak dari posisi tidurnya. Ia menarik gadis itu agar duduk di hadapannya.

Gadis itu tak menjawab. Ia masih bertahan dengan isakannya. Ia menundukkan wajahnya, tak mampu menahan tatapan tajam Siwon yang mengintimidasinya.

“Katakan kau bercanda!” Siwon mengguncang tubuh gadis itu dengan raut wajah yang sarat dengan emosi. Gadis itu menggeleng lemah.

“Mianhae … Op-pa!” jawabnya dengan terbata. Ia mencoba menguatkan hatinya untuk menyebut kata itu.

“O .. oppa?” Siwon mengernyitkan kedua alisnya. Panggilan oppa yang dulu sangat diinginkannya keluar dari mulut gadis itu sekarang seperti anak panah yang melesat tepat ke arah jantungnya. Menyakitkan!

“Bukankah itu yang selama ini kau inginkan, memanggilmu Oppa?” ujar gadis itu masih dengan isakannya yang kian menjadi.

“Hentikan!” Siwon mengusap wajahnya dengan kasar.

“Kau kakakku, sudah seharusnya aku memanggilmu begitu.”

“Ku bilang hentikan!” bentak Siwon dengan nada tinggi.

Gadis itu semakin terisak. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Siwon juga sesak melihat penderitaan gadis itu. Apa yang dirasakan gadis itu tak jauh beda dengan yang dirasakannya. Kenyataan itu benar-benar menenggelamkan mereka ke dalam lautan penderitaan yang tak tak berujung.

Seharusnya hari ini ia berdiri di depan altar dengan setelan tuxedo putihnya dan tersenyum menyambut tangan gadisnya. Gadisnya yang sangat anggun dibalut gaun pengantin dengan ekor yang menjuntai menyapu karpet merah. Seharusnya hari ini ia berucap sumpah janji setia sehidup semati. Dan lagi-lagi kenyataan pahit itu meluluh lantahkan segalanya.

“Aku mencintaimu Oppa, sampai ingin mati rasanya. Aku sungguh tak bisa lagi bertahan. Biarkan aku pergi oppa.”

Siwon kembali memeluk gadisnya. Mendekap erat tubuh ringkih tak berdaya itu, mencoba menyalurkan rasa hangat yang sebenarnya tak dirasakannya pada gadis itu.  Air mata menggenang di pelupuk mata Siwon. Ingin rasanya ia membawa kabur gadis ini entah ke dunia mana asalkan hanya ada mereka berdua. Merajut kembali benang-benang cinta mereka dan menjalani hubungan terlarang. Tapi akal sehatnya lebih berperan penting membawanya pada kenyataan meski itu menyesakkan.

Salahkah bila ia membenci takdir yang begitu kejam mempermainkan perasaan mereka? Salahkah bila ia sangat membenci ayahnya yang begitu brengsek menanamkan benihnya dimana-mana? Salahkah ia bila terlalu mencintai Shin Young Ae, gadisnya yang ternyata adalah adik kandungnya sendiri?

End

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: