Rainbow In The Dark [1/?]

BdD_NLaCAAAXJgh.jpg-large

~Rainbow in the Dark~ (part 1)

 

Nama                  : Babyboolhj
Judul Cerita        : Rainbow in the Dark
Tag (tokoh/cast) : Lee Donghae, Yoon Taesa
Genre                  : Romance, friendship, school life
Rating                 : PG-15
Length                : Chapter
Catatan Author   :
ide, plot, informasi tentang sekolah di cerita ini murni karangan author. Enjoy the story! J. Visit our blog >> pepenetto.wordpress.com . visit my wattpad @babyboolhj J

 

~A new hot student~

12-C Classroom.

9pm

Yoon Taesa merasakan suasana disekitarnya mendadak sunyi. Tak perlu memiliki kemampuan melihat untuk mengetahui bahwa Mr. Ahn-guru bahasa inggris mereka- telah memasuki kelas.

BROK! BROK!

Mr. Ahn memukul mejanya untuk mengukuhkan keberadaanya.

“Perhatian! Hormat!” koor Park Jungsoo sang ketua kelas yang disahut oleh semua murid sambil berdiri dan membungkuk hormat “Annyeonghaseyoo!!”

Tanpa basa-basi Mr. Ahn-pun berkata “Ne, mulai sekarang akan ada murid baru di kelas ini. Jadi… kau yang di luar silahkan masuk dan perkenalkan dirimu.”

Terdengar sebuah derap langkah kaki yang semakin lama semakin jelas dipendengaran Taesa. Selanjutnya terdengar pekikan khas yeoja yang tertahan oleh sebuah bekapan tangan. Taesa tersenyum dalam hati, diam-diam bangga akan kemampuan mendengarnya yang semakin baik.

“Wuoaaaaaa~” seruan kagum para yeoja dan cibiran kesal oleh para namja saat murid baru—yang ternyata seorang namja itu hendak memperkenalkan dirinya “Ne, annyeonghaseyo. Joneun Lee Donghae imnida, bangaupsemnida…”

Zzing~

“Ah..mohon batuannya.” lanjutnya bingung melihat seisi kelas yang tadinya riuh kini menjadi sunyi seketika “Eng..kamsahamnida.“ ia pun mengakhirinya dengan membungkuk 900.

“Cha, sudah cukup. Kau bisa duduk di… oh di sebelah sana!” Mr. Ahn menunjuk salah satu bangku kosong kedua dari belakang tepat dihadapan Taesa yang sedari tadi sibuk mengingat-ingat dimana ia pernah mendengar suara murid baru itu? Ia yakin pernah mendengarnya, tapi dimana? Andai tugas mengingat tersebut dapat dibagi dengan kedua matanya , mungkin ia tak akan kebingungan seperti saat ini.

“ Annyeong~” Donghae menyapa Taesa saat sampai dibangkunya. Seketika itu tubuh Taesa menegang saat akhirnya mengingat dimana ia pernah mendengar suara itu. Ya, suara namja yang kemarin ‘tertabrak’ olehnya.

“ANNYEONG~” sahut semua teman yeoja di kelasnya.

Taesa mengerutkan keningnya. Walau ia dapat mendengar suara hangat namja asing itu tapi ia masih penasaran dengan rupa namja asing itu yang memicu sambutan seheboh tadi, dan untuk yang satu ini sepertinya ia harus bertrimakasih pada semua teman-teman yeojanya yang tanpa diminta tengah mendeskripsikannya secara detail.

“Ya tuhan! Dia tampan sekali!!”

“Senyumannya pun sangat hangat~!”

“Lihatlah! Matanya yang besar sangat berbinar, areumdapta!!”

“Kulitnya seputih susu!”

“Tubuhnya sangat ideal, omonaaa!”

“SEMPURNA!”

BRAK! BRAK!

Semua cicitan kagum untuk Lee Donghae seketika menghilang setelah Mr. Ahn menggebrak papan tulis pertanda kelas akan dimulai.

“Attantion please! We will start a class!” seru Mr. Ahn keras dan ia pun memulai tugasnya, mengajar.

“Today, we will… “

Suara Mr.Ahn yang biasanya menjadi fokus Taesa di kelas, kini bagaikan angin lalu. Ia sibuk membayangkan paras namja asing yng kini duduk di depannya itu. Inilah kebiasaan buruknya; mudah sekali penasaran, padahal ia tahu betul bahwa hal itu adalah sia-sia.

Yoon Taesa menggeleng-gelengkan kepalanya seakan dengan begitu semua pertanyaan itu dapat enyah dari pikirannya. Walau gagal, ia tetap mencoba fokus pada kelasnya.

—–

 

TEET… TEET…

Bunyi bel yang bersamaan dengan berpindahnya jarum jam ke angka sebelas, menandakan masuknya jam istirahat. Tak lama terdengar suara bising yang semakin lama semakin kencang.

“Dimana murid barunya?!”

“DONGHAE OPPAAAAA!” suara yang ditujukan untuk Donghae itu menggelegar masuk ke ruang kelas 12-C. Ya, suara yang berasal dari sebagian besar siswi kelas 10 dan 11. Mereka yang langsung datang kemari setelah mendapat kabar gembira prihal ‘murid baru yang sangat tampan’ itu, yang tak lain adalah Lee Donghae.

Donghae yang terkejut mendengar namanya dipanggil sekeras itu segera berdiri kikuk “Eng… naega Lee Donghae imnida, wae—”

“HWAAAAA KWIYEOPTA!” teriak siswi-siswi itu dengan histeris.

“Oppa, ayo foto bersama!”

“Oppa! Ini kue untukmu!”

“Oppa minta tanda tanganmu!” seru siswi-siswi itu bersamaan, sedang Donghae hanya dapat tersenyum canggung dan menjawab sekenanya pertanyaan-pertanyaan konyol itu. Sesekali matanya melirik seseorang yang sama sekali tek terusik—dengan kegaduhan yang terjadi—karena sepasang headset teelah terpasang sempurna dikedua telinganya.

Donghae meringis mengingat kejadian beberapa waktu lalu.

***

TEET… TEET… TEET…!

Bunyi bel tiga kali yang menandakan berakhirnya pelajaran, bagaikan alarm ditengah-tengah mimpi membosankan berjudul ‘statistika’.

Joon songsaengnim pun menutup pelajarannya hari ini sebelum ia meninggalkan kelas yang diikuti oleh semua penghuni 12-C. Ya, semua kecuali Yoon Taesa.

“Taesa-ya, kami pergi duluan ya!” pamit beberapa teman sekelasnya yang melewati tempat duduknya.

Taesa hanya tersenyum tipis dan menggangguk sebagai jawabannnya. Ia sama sekali tak berniat bersahabat dengan siapapun selama ini. Sejak kejadian ‘itu’ lebih tepatnya.

Selalu hanya Taesa yang-terpaksa-betah untuk bergeming di kursinya. Ia lebih senang jika ia pulang dalam keadaan sekolah yang sepi.

Namun mulai saat ini sepertinya akan bertambah satu orang lagi yang betah berlama-lama disana.

“Annyeong!” suara khas itu menghentikan gerakan tangan Taesa yang hendak memasangkan headset di kedua telinganya.

“Joneun Lee Donghae imnida, niga ireumi mwoeyo?” tanya Donghae yang kini duduk berhadapan dengannya.

“Nae… ga?” Taesa berujar pelan, tak yakin.

“Eum, neo,” telunjuk Donghae menyentuh ujung hidung Taesa dengan gemas membuat gadis itu tersentak mundur.

Entah mengapa Taesa segera menundukan wajahnya dalam-dalam agar tidak bertatapan langsung dengan Donghae, walau kenyataannya ia bahkan tak dapat melihat Donghae barang sedikit pun. ‘Bodoh’ batinnya sebelum kembali mengangkat wajahnya.

“Waeyo? Kenapa ingin tahu namaku?” ucapnya tanpa emosi.

Setelah hening sesaat, Donghae pun akhirnya bersuara “Ten..tu aku harus tahu! Karena sekarang kita teman satu kelas, karena sekarang kau tahu namaku—“

“Aku tidak memintamu untuk memberitahu namamu.” jawab Taesa cepat membuat Donghae kehabisan kata-kata.

“Tapi tetap saj—ya! Ya! Mau pegi kemana?” Donghae memanggil-manggil Taesa yang pergi begitu saja tanpa menghiraukannya.

—–

“Berhenti mengikutiku,” ucap Yoon Taesa pelan sambil menghentikan langkah kakinya untuk pulang ke rumah yang hanya terpaut 100 langkah dari sekolahnya. Jika sudah begini ia tak ada pilihan lain selain memasrahkan nasibnya pada yang kuasa.

Sejak kepulangannya tadi Taesa merasa ada seseorang yang mengikutinya dari belakang. Dengan kaki yang gemetar ketakutan Taesa kembali membuka mulutnya “A-apa yang kau mau dari orang buta sepertiku? Mengapa kau mengikutiku sejak tadi? Siapa kau sebenarnya?” tanya Taesa ketakutan tanpa membalikan badannya.

Seseorang yang memang sejak tadi mengikuti Taesa seakan tertohok melihat gadis itu yang ketakutan. Ia segera berkata “Aku Lee Donghae, maaf jika membuatmu ketakutan.”

Donghae dapat melihat bahu Taesa yang merileks membuat hatinya sedikit tenang. Tak lama gadis itu berbalik menghadapnya, tatapanya terlihat kosong. Tanpa diminta, Donghae segera menjelaskan maksud dan tujuannya.

“Eng… aku hanya cemas melihatmu jalan sendirian di tempat sesepi ini, kau bisa mimintaku menemanimu sebenarnya Taesa-ssi, aku akan—“

“Wae? Apa semenyenangkan itu melihat orang buta sepertiku ketakutan?” potong Taesa tajam. Entah sejak kapan, tapi semua hal yang berhubungan dengan orang lain selalu salah dimatanya. Ia pun tak kusa menahan perasaan ini.

“Anniya, Taesa-ssi!” Donghae berseru mendengar hal yang sangat mustahil dilakukannya, Bahkan dipikirannya sekalipun. Entahlah, ia juga tak yakin mengapa ia repot-repot seperti ini. Semua terjadi begitu saja, saat dirinya merasa ada sesuatu yang menariknya untuk mengenal gadis ini dan untuk melindungi gadis ini.

“Ah… apa aku terlihat semenyedihkan itu sehingga membuat orang baru sepertimu prihatin seperti ini,eo?” Taesa tersenyum miris. Ya, ia tak mau terlalu naif dengan berpikir bahwa ada orang baru yang langsung ingin berteman dengannya, karena minimal butuh waktu satu tahun untuk orang normal menerima kekurangannya. Itupun hanya sebagian.

Taesa melanjutkan kalimatnya dengan hati yang terasa pedih “Ah… geuraeseo, eotte? Sedang dimana kita sekarang? Ottokhe? Aku tak tahu jalan pulang, apa kau mau membantuku untuk pulang? Itukan yang harus dikatakan orang buta sepertiku?”

Donghae terpaku, hatinya ikut terasa sesak melihat kepedihan dalam nada suara itu. Terlebih saat cairan bening keluar bersamaan dari kedua mata gadis di hadapannya ini. Donghae tercekat “Taesa-ya—“

“BERHENTI MEMANGGIL NAMAKU SEAKAN KAU MENGENAL DIRIKU!” seru Taesa sambil menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya yang bergetar menahan tangis yang sebenarnya sia-sia.

Sekarang Donghae benar-benar merasa tidak punya hak bersuara sama sekali. Ia hanya mematung ditempatnya mendengar kata-kata yang menyakitkan bagi keduanya.

“Ternyata kau sama saja seperti mereka, lebih buruk malah. Setidaknya mereka tak repot-repot menunjukan rasa kasihannya padaku.” ucap Taesa membuat Donghae menatapnya tak pecaya.

Setelah puas mengeluarkan semuanya, Taesa pun berbalik pergi dengan air mata yang tak terbendung lagi.

Entahlah… ia tahu dengan jelas bahwa akan berakhir buruk seperti ini, tapi mengapa rasanya masih begitu menyesakkan.

 

-TBC-

3 Comments (+add yours?)

  1. Deborah sally
    Dec 17, 2015 @ 15:25:06

    Kok bisa buta dia?

    Reply

  2. Frozen
    Dec 18, 2015 @ 07:51:39

    Wah apakah nanti Taesa bakalan bisa melihat lagi ya????????????????????
    Sedih banget ya jadi Taesa….

    Reply

  3. piyung
    Dec 21, 2015 @ 23:23:41

    aduh ff ini, bikin baper eh! Wah aku kira ini ceritanya gmn! Eh ternyatak terduga! Arti Kegelapan itu adalah kebutaan?🙂

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: