Rainbow In The Dark [2/?]

BdD_NLaCAAAXJgh.jpg-large

~Rainbow in the Dark~ (part 2)

 

Nama                  : Babyboolhj
Judul Cerita        : Rainbow in the Dark
Tag (tokoh/cast) : Lee Donghae, Yoon Taesa
Genre                  : Romance, friendship, school life
Rating                 : PG-15
Length                : Chapter
Catatan Author   :
ide, plot, informasi tentang sekolah di cerita ini murni karangan author. Enjoy the story! J. Visit our blog >> pepenetto.wordpress.com . visit my wattpad @babyboolhj J

 

~Yoon Taesa vs Lee Donghae~

Paran Highschool

Taesa dapat merasakan sinar matahari pukul tujuh menerpa kulit putihya saat ia memasuki gerbang sekolah. Dengan lunglai ia menghitung langkahnya dalam hati, dan sampailah ia di depan kelasnya.

Hening.

Kesan itulah yang selalu didapatnya saat kaki kanannya memasuki kelas tersebut. Pantas saja, kelas baru dimulai dua jam lagi. Ia tak bisa membayangkan betapa paniknya jika ia datang bersama siswi-siswi yang lain. Jadi ia memutuskan untuk datang lebih awal dan pulang lebih akhir saja.

Lalu mengapa ia bersekolah di sekolah umum seperti ini yang jelas-jelas akan merepotkannya?

Jawabannya hanya satu, karena ia ataupun ibunya tidak sanggup membayar jasa guru privat untuknya, lagipula semua kebutuhan sekolahnya sudah ditanggung pemerintah melalui program beasiswa.

Seperti biasa, Taesa langsung mengeluarkan Mp3-nya, memasangkan headset di kedua telinganya lalu menekan tombol play sambil menunggu kelas dimulai

—­–

“Perhatian! Hormat!” koor Park Jungsoo—seperti biasa—saat Kim songsaengnim memasuki kelas.

“ANNYEONGHASEYO!” seru semua murid sambil berdiri dan membungkuk hormat.

“Ne, mari kita mulai pembelajaran hari ini,” ujar Kim songsaengnim sebelum mengeluarkan sebuah buku dari tas tangannya.

Terlihat sebagian orang disana sibuk mengeluarkan alat tulisnya dan sebagian lagi sibuk meminjamnya.

“Em… sebelum kita mulai, tolong siapa saja bersihkan papan tulis didepan! Ah ne, kau yang mengangkat tangan disana!” seru Kim songsaengnim sambil menunjuk Donghae yang tadi mengangkat tangannya.

“Chega annimnida saem, Yoon Taesa ingin melakukannya.”

Taesa membulatkan matanya terkejut saat mendengar namanya disebut-sebut oleh namja yang bukan lain adalah Lee Donghae. Bukan hanya Taesa yang terkejut, tetapi juga seluruh penghuni kelas tersebut yang membuat suasana seketika mencekam.

“Taesa-ssi, bisakah kau membantu songsaengnim?” tanya Donghae lagi-lagi dengan ringannya menyadarkan Taesa dari lamunannya.

Mendadak Taesa teringat kejadian kemarin, apakah namja ini berniat balas dendam padanya? Ia dapat merasakan jantungnya berdetak sangat cepat.

“Andweyo?” tambah Donghae tanpa peduli dengan suasana yang kian mencekam itu. Taesa sangat membenci nada meremehkan yang terselip disana.

Suasana masih juga menegangkan, bahkan Kim songsaengnim pun bingung bagaimana menyikapi keadaan seperti ini. Satu sisi ia ingin bersikap adil, namun sisi lainnya tak tega melihat wajah Taesa yang berubah pucat.

“AH! Itukan tugasku Donghae-ssi, biar aku saja yang melakukannya,” seru Jungsoo memecah keheningan. Ia hendak berjalan ke depan kelas saat tiba-tiba suara Taesa menghentikannya.

“Keuromyeon saem, aku bisa melakukannya!” ucap Taesa yang membuat semua orang di sana terkejut. Ya, dalam waktu dua tahun ini, Yoon Taesa hampir tak pernah bicara di kelas. Paling-paling hanya mengangguk ataupun menggeleng untuk menjawab pertannyaan.

Dengan sedikit keberanian, Taesa berjalan lurus perlahan kedepan kelas. Dalam keadaan gelap sekalipun Taesa dapat merasakan puluhan pasang mata menjadikannya pusat perhatian, dan saat itu pula ia memutuskan untuk membenci namja yang memiliki suara menyebalkan itu.

“Yah, Lee Dongahe kenapa kau melakukan itu,”

“Kau ini macam-macam saja.”

“Bagaiman jika terjadi sesuatu.”

“Bahkan aku tak berani berbincang dengannya, kau ini ada-ada saja.”

“Ya Tuhan mengapa menghapus papan tulis saja bisa setegang ini.”

Terdengar kasak-kusuk di ruangan tersebut yang ditujukan pada Lee Donghae—yang seperti tuli karena pandangannya tak terlepas dari punggung Taesa.

Semua penghuni kelas tersebut tanpa sadar menahan napasnya saat Taesa menganbil penghapus papan tulis yang disodorkan oleh Kim songsaengnim saat sampai di depan kelas.

Dengan tangan yang gemetar, Taesa mulai menghapus sesuatu yang bahkan tidak ia ketahui di papan tulis. Rasanya ingin menangis dengan semua tekanan itu, namun sekuat tenaga ia menahannya. Ia tak ingin harga dirinya jatuh terlebih dihadapan namja asing itu.

Taesa menghapus secara vertikal dari salah satu ujung papan tulis sampai ujung satunya lagi. Ia melakukannya sebanyak dua kali. Setelah beberapa saat suasana yang menegangkan itu tergantikan dengan kelegaan yang menyelimuti ruang tersebut saat Taesa menyelesaikan tugansnya dengan baik.

“Songsaengnim, apa papan tulisnya sudah cukup bersih?” tanya Taesa memecah kesunyian.

Kim songsaengnim menghela napas lega lalu tersenyum senang “Ne, sudah cukup. Kamsahamnida Taesa-ssi, kau dapat kembali ke tempat dudukmu.”

Taesa me-lap peluh didahinya “Ne, saem.” jawabnya puas.

—–

“CINGU-DEUL PERHATIAN!” seru Park Jungsoo setelah bel istirahat berbunyi seraya Kim songsaengnim meninggalkan kelas.

“Aish… ada apa lagi Park tua? Palli! Aku sedang buru-buru!” seru Heechul tak kalah kencang yang sudah berada di pintu hendak keluar kelas.

“Yak! Kim Heechul! Umur kita hanya terpaut sembilan hari dan kau memanggilku tua?!” murka Jungsoo yang langsung di balas oleh Heechul dengan mudahnya

“Mwo? Siapa yang berbicara soal umur? Aku bicara tentang wajah.”

“YAK! KIM HEEC—“

“Aigoo leader-nim kapan semua ini akan berakhir, perutku sudah tak sabar ingin pergi ke kantin,” protes Shindong yang langsung didukung anggukan oleh semua penghuni kelas.

Jungsoo berdehem sebentar lalu memasang wajah paling manis yang ia miliki dan kembali melanjutkan ucapannya yang tadi sempat terhenti “Begini, aku mendapat tugas memfotokopi kertas latihan matematika untuk kita pelajari di rumah. Tapi sekarang aku harus pergi untuk memimpin rapat osis. Jadi, adakah malaikat baik hati di kelas ini yang bersedia menggantikanku memfotokopi kertas yang hanya satu lembar ini?” papar Jungsoo panjang lebar.

Namun naas, semua orang yang menangkap tujuan dari yang Jungsoo maksud, mendadak menyibukkan dirinya masing-masing. Ada yang pura-pura membaca buku, membongkar pasang ponselnya, sampai ada yang pura-pura kesurupan. Kim Heechul? Ia bahkan sudah pergi saat otak jeniusnya menangkap arah pembicaraan itu.

Jungsoo berseru senang saat melihat Donghae mengangkat tangannya “Yaaaa~ Lee Donghae kau memang malaikat yang dikirim tuhan untukku!”

“Aku bersedia Jungsoo-ssi, keundae… letak fotokopinya saja aku tak tahu. Mungkin seseorang lebih tahu, benar tidak Taesa-ssi?“ ujar Donghae yang lagi-lagi membuat semua orang disana mengerang keras.

“Serahkan padaku Jungsoo-ssi. Aku bisa melakukannya dengan baik.” sahut Taesa cepat dengan sengaja menekankan pada kata ‘bisa’ dikalimatnya tadi. Ia pun menjulurkan lengannya ke depan “Berikan kertasnya padaku,”

Donghae member isyarat pada jungsoo agar memberikan kertasnya. Namun Jungsoo masih terlihat enggan “Ah ha! Taesa-ssi, sepertinya aku masih sempat memfotokopi sendiri jadi—“

“Berikan padaku Jungsoo-ssi, lagi pula aku pun ingin berjalan-jalan keluar dari kelas yang tiba-tiba menyebalkan ini.”

Dengan berat hati Jungsoo pun memberikan kertas itu pada Taesa “Gomawo Taesa-ssi,” ucap Jungsoo sarat akan keraguan yang dibalas dengan anggukan singkat oleh Taesa.

Taesa mulai bangkit dari duduknya, dengan fokus ia pun mulai melangkah. Saking fokusnya ia tak menyadari bahwa semua orang di sana diam di tempat memperhatikannya. Kecuali Lee Donghae, satu-satunya yang duduk dengan tenang sambil melipat kedua lengannya.

’11,12,13’ hitung Taesa dalam hati. Kini ia tengah berada di mulut pintu kelasnya. Dapat ia rasakan beberapa orang yang berlalu-lalang di depannya. Hatinya mulai ragu, bukan, bukan karena jarak yang harus ditempuh, karena ia telah mempelajari letak tempat fotokopi kemarin. Namun keadaanya lah yang berbeda, kini ia harus berjalan bersama orang-orang asing itu, dan ia sama sekali belum pernah mencobanya sekalipun.

Ia menarik napas berat seraya membatin ‘Gwenchana Taesa-ya, kau hanya perlu lurus 15 langkah dan selesai. Ne! kau pasti bisa’. Taesa mulai melangkahkan kakinya perlahan.

Semua penghuni kelas 12-C segera merapatkan dirinya ke jendela kelas hendak melihat kejadian yang sangat langka itu dengan was-was. Kecuali Lee Donghae yang masih saja bergeming di tempatnya.

“Donghae-ssi, apa yang kau lakukan?! Kalau sampai terjadi sesuatu bagaimana?” seru Jungsoo menghampiri Donghae yang terlihat begitu tak acuh.

Donghae mendongkakan wajahnya “Waeyo Jungsoo-ssi? Apa kau takut di salahkan jika terjadi sesuatu?” ucap Donghae meremehkan.

 

“Aish!!” dengan kesal Jungsoo sengit berlalu menyusul Taesa.

Dari depan pintu Jungsoo melihat Taesa yang melangkah perlahan ke luar kelas. Namun belum lama gadis itu melangkah, tubuhnya terlihat telah terhyung kemana-mana akibat banyaknya orang-orang yang hendak ke kantin.

‘BRUK!’

“Akh!”

“Aish!

“YA!”

“Aish! Dimana matamu!” seru beberapa orang yang ‘tertabrak’ Taesa. Sedangkan gadis itu terlihat terlalu bingung untuk meminta maaf satu per satu pada mereka. Alhasil, ia pun terduduk tak berdaya di koridor saat tubuhnya terdorong dari belakang. Ia terlihat panik, nafasnya yang tidak beraturan itu berburu dengan rasa takutnya.

Jungsoo yang melihat itu sangat terkejut dan hendak bergegasa menyul Taesa. Namun langkahnya terhenti karena tangannya yang dicekal oleh seseorang.

“Jangan menolongnya,” ucap Donghae tegas sambil menatap Jungsoo yang terlihat tak percaya dengan ucapannya.

 

“Apa kau sudah gila?!” balas Jungsoo terlihat begitu marah. Dengan mudah ia melepaskan tangannya dari cekalan Donghae dan bergegas mengahampiri Taesa “Taesa-ssi gwenchana?”

“Jangan sentuh aku! Biarkan aku sendiri. Ku mohon,” ucap Taesa lirih membuat Jungsoo membeku di tempatnya. Hatinya mencelos melihat pemandangan dihadapannya, ia malu akan perasaan takut yang tadi sempat menyelimuti hatinya, ia pun mulai berjalan mundur menjauh sambil terus memfokuskan mata tajamnya pada gadis itu.

Ya, gadis itu, Yoon Taesa mencoba menggapai dinding disebelah kanannya. Berkali tangan kanannya terinjak kaki beberapa orang yang melewatinnya—sebelum akhirnya menyentuh dinding. Dengan sekuat tenaga ia bangkit dan merapatkan tubuhnya serapat mungkin ke dinding. Perlahan tapi pasti Taesa mulai melangkah ke depan dengan kaki yang luar biasa gemetar.

Ia tak akan kalah! Ia pasti bisa! Dan namja menyebalkan itu harus mengakuinya. Hanya itulah yang ada dipikirannya saat ini.

Yoon Taesa mulai berjalan serapat mungkin dengan dinding dengan harapan tidak ‘menabrak’ siapapun di sekitarnya.

Dan berhasil!

Suara mesin fotokopi yang masuk ke indra pendengarannya seakan memperlihatkan bahwa ia kini tengah berada di tempat fotokopi tersebut. Seketika itu kelegaan menyelimuti hatinya. Tak pernah dalam delapan tahun ini ia merasa begitu senang seperti ini. Ia tak peduli tatapan orang-orang di sekitarnya yang mungkin memandangnya aneh karena terlihat begitu berlebihan. Sebenta saja, biarkanlah ia menikmati perasaan seperti ini sebentar saja.

Teman-teman kelasnya yang menyaksikan itu untuk kedua kalinya menghela napas lega. Dan kembali melanjutkan aktivitasnya masing-masing.

Jungsoo masih menatap Taesa sebelum merasakan getaran di saku celananya yang mengalihkan perhatiannya. Ia pun merogoh sakunya dan mendapati ponselnya yang bergetar

‘Saekyo calling..’

“Eo, yeoboseyo… ne,ne arraseo, aku kesana sekarang.” ucapnya lalu berbalik ragu menuju ruang rapat OSIS yang berada di bagian utara sekolah. Saat berbalik ia mendapati Donghae yang masih berdiri di depan pintu kelasnya. Mereka bertukar pandang, seperti berargumen tanpa suara namun entah mengapa terkesan sangat sengit.

—–

Bel sekolah sudah berbunyi dari tiga puluh menit yang lalu. Kini Yoon Taesa masih berada di kelasnya tanpa siapapun di sekitarnya. Ia kembali mengingat kejadian hari ini. Mungkin itu hanya keberuntungan, tapi bolehkah ia berbangga hati?

Taesa tak bias menahan senyumnya saat tiba-tiba membayangkan betapa kesalnya namja menebalkan itu saat mengetahui bahwa dirinya—Yoon Taesa, tidak seperti yang ia harapkan. Kejam? Biar saja, orang itu yang lebih dulu memulainya, pikirnya.

Taesa kembali terhanyut dengan nada-nada yang ditiupkan oleh sepasang headset yang menggantung dikedua telinganya dengan volume rendah. Namun tiba-tiba ia terganggu oleh decitan kursi yang masuk melalui celah pendengarannya yang sangat tajam itu, menandakan bahwa ada makhluk hidup di sini selain dirinya.

“Kemarikan tanganmu,” ujar sebuah suara saat Taesa melepaskan kedua belah headsetnya. Ia mengenal suara menyebalkan itu, suara yang tanpa ia sadari sudah ia hapal di luar kepala. Suara mlik seseorang bernama Lee Donghae.

“Wae? Apa lagi rencanamu sekarang?” tanya Taesa denga intonasi dingin tanpa menoleh sedikitpun pada Donghae yang duduk di sebelahnya. Karena selain ia membenci namja itu, ia pun tahu betul mau diarahkan kemanapun juga pandangannya itu ia tidak akan memdapatkan apa-apa selain gelap.

“Mianhae,” Donghae menundukan wajahnya menatap objek yang sedari tadi di pandangnya dengan penuh penyesalan.

Taesa mendengus sinis “Mworag? Maaf? Untuk apa? Ah, kau menyesal karena melakukan hal yang sia-sia hari ini? Atau kau—“

SRET!

“Maaf untuk membuat jarimu terluka seperti ini.” Donghae menarik jemari kanan Taesa—yang kulitnya terkelupas akibat injakan ganas orang-orang di koridor tadi—kepangkuanny. Ia mulai mengobatinya dengan membasuhnya dengan alkohol untuk menghilangkan kuman-kuman yang mungkin ada di sana.

“Akh! Apa yang kau lakukan?!” Donghae menghiraukan ringisan Taesa dan tetap menahan pergelangan tangan gadis itu dalam genggamannya, lalu ia mulai meneteskan obat merah dan membalutnya dengan perban.

Untyuk beberapa saat Taesa terpaku sebelum menemukan kesadarannya dan segera menarik tangannya yang beruntungnya telah selesai Donghae obati.

“Y-yah apa maksudmu sebenarnya?”

“Jongmal mianhae, telah membuat lututmu sememar ini.” Donghae meringis menbayangkan kejadian di koridor tadi saat tubuh gadis itu terhuyung kemana-mana lalu terjatuh dfengan lutut yang pertama kali beradu dengan lantai dan menghasilkan luka disana.

“AKH!” Taesa memekik tertahan saat lututnya merasakan efek perih dari alkohol yang Donghae basuh.

“Maafkan aku, tapi tahanlah sebentar.” Dengan hati-hati dan penuh rasa bersalah Donghae membalutnya dengan perban.

Setelah dirasa selesai, Dongahe kembali duduk disamping Taesa yang terlihat bingung.

“Maafkan aku, aku tidak berniat membuatmu terlukia seperti ini,” ucap Donghae dengan penuh rasa tulus yang dapat dirasakan oleh siapapun yang mendengarnya.

Taesa merasakan kaku dibagian jari juga lututnya yang kini sudah tyerbalut perban. Sungguh ia sama sekali tak menyadari ada bagian tubuhnya yang terluka. Ia disibukan oleh kesenangannya sendiri karena telah mengalahkan seseorang, seseorang yang baru saja mengobati lukannya. Ia tak tahu apa motif Donghae melakukan semua ini. Ia kembali dikejutkan oleh kalimat yang dikatakan Donghae selanjutnya.

“Dn untuk tindakkanku hari ini yang ingin membuktikan pada mereka termasuk diriku sendiri bahwa kau bukanlah patung yang gunannya hanya untuk menempati ruang kosong, bahwa kita semua sama dan kau bisa melakukan apa yang mereka lakukan,

“Itu bukanlah tindakan yang sia-sia bagiku.” Papar Donghae sambil menatap lembut gadis dihadapannya.

Taesa merasakan tubuhnya menegang mendengar penjelasan Donghae tadi. Benarkah yang ia dengar tadi? Seharian ini ia mengutuk namja yang memiliki niat baik seperti itu? Batinnya berkecamuk. Dengan seketika Taesa diselimuti rasa bersalah. Ia hanya dapat menundukkan wajahnya dalam-dalam saat pria itu kembali buka suara.

“Dan kau pun pasti tahu bahwa rencana itu berhasil ah… aku ini sangat jenius bukan,” Donghae berkata dengan suara yang lebih santai walau dalam hatinya ia cemas melihat Taesa yang tak kunjung memberi respon.

“Aku tak tahu apa yang kau pikirkan tentangku sekarang, tapi percaya dirilah mulai sekarang. Tegakkan kepalamu dan tunjukan bahwa kau mampu menaklukan semua itu karena kau adalah—“

“Yoon Taesa,” Donghae mematung ditempatnya saat gadis tersbut membuk suaranya, dan Donghae serasa ingin melompat senang setinggi-tingginya saat Taesa menoleh dengan mata yang berkaca-kaca dan melanjutkan kalimatnya “ Kau bisa memanggilku Taesa,” ucap Taesa singka dan cepat namun penuh arti.

Tidak ada kata maaf atau terimakasih disana. Namun keduannya tahu betul, kalimat singkat tersebut telah merobohkan dinding tak kasat mata diantara mereka. Seperti memberikan kunci yang belum pernah ia berikan sebelumnya kepada orang lain selain ibunya, dan sekarang dengan senang hati ia membiarkan Donghae memilikinya. Ya, kunci untuk membuka dirinya lebih lebar lagi pada namja dihadapannya ini.

 

-TBC-

2 Comments (+add yours?)

  1. Deborah sally
    Dec 18, 2015 @ 13:54:44

    Taesa buta karena apa?

    Reply

  2. yeonlee
    Dec 18, 2015 @ 22:51:38

    jadi niatnya donghae itu baik. sedikit ngenes pas bagian mau fotokopi. Oke semakin seru, cepet dilanjut ya thor. hwaiting!

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: