Rainbow In The Dark [3/?]

BdD_NLaCAAAXJgh.jpg-large

~Rainbow in the Dark~ (part 3)

 

Nama                  : Babyboolhj
Judul Cerita        : Rainbow in the Dark
Tag (tokoh/cast) : Lee Donghae, Yoon Taesa
Genre                  : Romance, friendship, school life
Rating                 : PG-15
Length                : Chapter
Catatan Author   :
ide, plot, informasi tentang sekolah di cerita ini murni karangan author. Enjoy the story! J. Visit our blog >> pepenetto.wordpress.com . visit my wattpad @babyboolhj J

 

~My Favorite Voice~

12-c Classroom

Yoon Taesa mulai menikmati nada-nada indah yang berasal dari MP3-nya melalui sepasang earphone yang menggantung di kedua telinganya. Inilah kebiasaanya saat menunggu bel masuk sekolahnya yang akan berbunyi sekitar dua jam lagi. Ia pun mulai terhanyut dalam dunianya sendiri. Dunia yang penuh dengan warna yang berbeda dari yang dilihat orang kebanyakkan. Teramat hanyut dalam zona amannya, ia sampai tak menyadari bahwa ada seseorang yang baru saja masuk ke ruangan tersebut dan kini tengah tersenyum penuh arti padanya.

“Yoon Taesa annyeong,” sapa Donghae sambil melepaskan earphone disalah satu telinga Taesa dengan lembut.

Hal itu sontak membuat Taesa terkejut. Bukan, bukan terkejut karena marah. Entahlah, ia sendiri tidak tahu apa tepatnya, hanya saja seperti harapan yang kini menjadi kenyataan. Taesa membulatkan matanya lebar-lebar walaupun tidak ada perubahan berarti yang ia dapatkan. Tak lama keningnya berkerut.

“Oh, Donghae-ssi waseoyo? Apa yang kau lakukan disini… sepagi ini?”

“Sama sepertimu eng… bersekolah,” sahut Donghae menggantung sambil duduk di kursi yang berada tepat di dapan Taesa. “Dan hei! Jangan memanggilku seformal itu.” Donghae merengut, sebenarnya ia sudah sangat senang mengetahui bahwa gadis ini mengingat namanya namun keinginan lain tiba-tiba saja muncul “Donghae, Donghae-ya, itu terdengar lebih baik.”

Taesa terlihat takyakin dengan usulan Donghae namun ia memutuskan untuk mencobanya “Em… arraseo, Donghae-…ya?”

“Johta! Gomawo Taesa-ya,” ucap Donghae lengkap dengan senyuman puas. Ia pun taktahan untuk mengacak rambut Taesa dengan lembut karena saking senangnya.

Taesa terlonjak kaget saat merasakan sentuhan di kepalanya dan ia… menikmatinya??

“Yaaa~ jangan mengacak rambutku. Kau tahu? Sulit sekali menatanya kembali,” sungut Taesa mencoba mengalihkan pikiran bodohnya barusan.

Donghae hanya terkekeh melihat pipi Taesa yang menggembung kesal dengan kedua tangan yang sibuk merapihkan poninya.

“Aigoo, lain kali jangan bertingkah menggemaskan bila ingin rambutmu selamat.”

“Mwo??”

“Hahahahahaha.” Keduanya pun tertawa bersama, seakan menunjukkan bahwa ikatan di antara mereka semakin nyata.

Tidak akan ada lagi nada sungkan yang terlontarkan.

Tidak akan ada lagi keraguan kata yang diucapkan.

Dan rasa nyaman kini menyelimuti keduanya.

“Apa yang tadi sedang kau lakukan?” tanya Donghae sambil mengambil MP3 milik Taesa yang sedari tadi terabaikan di tengah-tengah mereka.

Biasanya Taesa tidak mengizinkan siapa pun untuk menyentuh MP3-nya, namun mulai sekarang semua akan berbeda untuk namja di hadapannya ini—yang baru saja menyandang gelar ‘kepercayaan’ darinya.

“H.O.T Happiness?” Donghae membaca tulisan yang nampak pada layar MP3 tersebut.

Taesa menganggukan kepalanya “Ne, aku sangat menyukai lagu itu. Lagu itu dipilihkan oleh uri Appa yang sudah meninggal 8 tahun lalu.“ Taesa menghentikan ucapannya ketika tiba-tiba ia mengingat kembali masa-masa bersama Ayahnya dulu. Dulu sekali, sebelum semuanya berubah.

Donghae bergeming, terlebih karena rasa terkejutnya mendengar fakta lain tentang gadis itu yang kembali berhasil membuat lidahnya kelu. Namun ia takboleh egois, mulai sekarang ia harus menjadi seseorang yang dapat membuat gadis itu aman.

“Taesa-ya…,” ujar Donghae sambil menggenggam tangan kanan Taesa yang bebas diatas meja, memberikan rasa nyaman melalui sentuhan tersebut. Rasa nyaman yang hanya dapat dirasakan saat mengetahui bahwa kau tidak lagi sendirian bahwa kau memiliki seseorang yang akan selalu bersamamu tak peduli siapa dan bagaimana dirimu.

“Donghae-ya, boleh aku bercerita sedikit?” suara pelannya yang tak tertahankan membuat Donghae semakin mengeratkan genggaman tangannya “Keuromyeon,” Jawabnya yakin.

Taesa terlihat menarik dan menghembuskan napasnya sebelum akhirnya berkata “Saat itu pertengahan tahun 2006….”

Terlihat dua orang baru saja memasuki kamar seorang gadis yang hari ini genap memasuki umur 9 tahun, satu-satunya gadis kesayangan mereka.

“Saengil chukka hamnida! Saengil chukka hamnida! Saranghaneun uri Taesa Saengil chukka hamnida!”

Yoon Taesa, nama putri dari sepasang suami istri tersebut.

Taesa yang mendengar suara itu perlahan membuka kedua matanya. Setelah mengusap mataya yang terasa masih kaku itu, ia pun bangun dari tidurnya. Masih dengan mata sayunya ia tersenyum lebar melihat kehadiran kedua orang yang sangat ia sayangi itu.

“Appa... Eomma...” Taesa bergumam sambil memandang takjub kue berlumur strawberry krim keukaannya itu.

“Cepat buat permintaan dan tiup lilinnya, sayang.” Yoon Misae menatap lembut anak semata wayangnya itu yang kini tengah asik menatap kue di hadapannya dengan pandangan berbinar.

Taesa mengangguk semangat “Ne, Eomma!” Ia pun memejamkan matanya perlahan dan mulai mengucap doa. Sesekali bibir mungilnya bergerak-gerak membuat kedua orang di hadapannya ikut tersenyum karena gemas. Ia membuka matanya dan dengan semangat meniup lilin yang menyala di hadapannya itu “hhuh..hhuh..hhuhff!” ketiganya bertepuk tangan heboh saat lilin angka 9 itu padam.

“Gomawo Appa, gomawo Eomma. Tasa menatap kedua orngtuanya penuh haru. Setelah itu, Hyunjin dan Misae bergerak maju bersamaan untuk mencium pipi Taesa dengan penuh cinta.

Yoon Hyunjin mengusap rambut Taesa lembut “Selamat ulangtahun, sayang. Kau harus sehat selalu dan menjadi anak yang baik, arrachi?”

Taesa menganggukan kepalanya semangat “Ne, arraseo Appa!”

“Keurom, putri Eomma pasti tumbuh menjada gadis yang cantik dan menjadi kebanggaan keluarga.

“Ne, keurom Eomma, hahaha.

“Baiklah, sekarang saatnya… sonmul!” seru Tuan Yoon sambil mengambil sesuatu di sakunya.

Mata Taesa kembali bersinar saat melihat sebuah hadiah yang sedang diacungkan oleh Appanya.

“Woah~ Appa JJANG!” Taesa memekik senang sebelum menyambar kotak hadiah tersebut. Ia melihat sebuah kotak kaca persegi di balik kertas perak yang sudah lebih dulu ia sobek “Ige mwoya?”

Yoon Hyunjin mengambil kotak tersebut dari tangan Taesa “Ini adalah MP3. Appa sudah memilihkan beberapa lagu di dalamnya untuk kau dengarkan.” Ia memasangkan earphone tersebut di kedua telinga Taesa yang masih setia mendengar penjelasannya.

“Kau bisa mendengarkan lagu ini saat kau sedang bersedih atau tidak bersemangat dan wush~ kau akan kembali bersemangat!”

Taesa terkikik melihat tingkah Appanya yang memang cenderung sangat periang itu.

Yoon Misae menekan tombol play di playlist paling atas lalu tak berselang lama Taesa-pun sudah terhanyut oleh irama menyenangkan yang masuk ke dalam pendengarannya.

H.O.T Haengbokkhe.” Taesa membaca tulisan yang terpampang di layar MP3 baru miliknya itu.

“Joahae, eideul?”

Taesa mengangguk-angguk senang “Neomu joahaeyo Appa. Keundae,” ia melepaskan earphone tersebut lalu kembali melanjutkan kalimatnya “Appa, jika aku merasa sedih atau tidak bersemangat, aku tinggal berlari dan memelukmu lalu dalam sekejap aku bisa kembali bersemangat, Geuraechi?”

Kedua orangtuanya hanya dapat tersenyum geli mendengar jawaban polos dari anaknya itu. “Ne, Kerochi.” Ketiganya pun berpelukan erat.

“Arraseo, arraseo… sekarang saatnya mandi. Bukankah putri Appa harus pergi ke sekolah?” intrupsi tuan Yoon yang dibalas dengan dengusan malas dari mulut putrinya itu.

……

“Yeobo~ bisakah kalian hari ini di rumah saja, eo?” pinta Yoon Misae saat suami dan anaknya itu sudah berada di dalam mobil hendak pergi bekerja dan sekolah.

“Aigoo Yeobo, kita kan sudah sepakat untuk merayakan ulangtahun Taesa di akhir pekan saja.”

“Ani… perasaanku benar-benar tidak enak,aku Nyonya Yoon sambil menatap suaminya dengan pandangan khawatir.

Tuan Yoon tersenyum menenangkan sambil mentap istrinya dalam “Gwenchana, semua akan baik-baik saja,” ujarnya sambil menggengam jemari Nyonya Yoon yang mendingin seraya berakhirnya musim gugur tahun itu.

“Ne Eomma, aku akan segera pulang dan kita akan memasakkan masakan kesukaan Appa untuk makan malam!” seru Taesa dengan riangnya, membuat Nyonya Yoon takkuasa menahan senyumnya.

Nyonya Yoon mengusap lembut rambut Taesa “Arraseo arraseo. Yoon Taesa harus sampai rumah pukul satu dan,” Nyonya Yoon mengalihkan tatapan manjanya pada suaminya “Kau Yeobo, harus sampai rumah pukul enam, arrachi?”

“Ye~ arraseo Eomma!”

“Ye~ arraseo Yeobo!” seru keduanya berbarengan “Annyeong!!” Tuan Yoon menginjak pedal gasnya dan mobil tersebut pun bergerak maju.

“Jalka~” ucap Nyonya Yoon tidak rela. Ia segera mengenyahkan pikiran negatifnya dan hendak berbalik masuk saat suara nyaring menghentikan langkahnya.

TIN!TIN!TIN!

CCKIITTTTTT!!

BRAAAAKKKK!!

Jantungnya seakan berhenti berdetak melihat pemandangan tragis yang terjadi tidak jauh dari sana.

“Dan detik itulah aku kehilangan Ayahku dan penglihatanku.” Taesa berhasil mengakhiri ceritanya. Ini baru pertama kalinya ia bercerita tentang kehidupannya pada orang lain sehingga beberapa kali air mata pun lolos dari matanya begitu saja. Bahkan sampai saat ini, di ruangan yang sunyi tersebut hanya terdengar isakan pilunya.

Donghae mendengarkan dengan seksama kata demi kata yang keluar dari gadis di hadapannya ini hingga selesai tanpa menyela sekalipun, seakan tidak akan rela kehilangan satu katapun yang mungkin terlewat. Dapat ia rasakan matannya yang juga basah. Ia taktahu harus berbuat apa agar mengurangi beban gadis itu. Ia hanya semakin dan semakin mengeratkan genggamannya yang membungkus sempurna tangan gadis luar biasa di hadapannya ini.

Dan benar saja, Taesa merasakan nyaman luar biasa dari genggaman tangan Donghae, hingga berpikir tidak akan ada lagi yang lebih baik dari itu. Ia sama sekali tidak merasa minder ataupun malu, hanya rasa lega dan nyamanlah yang kini menyelimutinya.

Setelah melihat keadaan Taesa yang lebih tenang, mau tidak mau Donghae harus melepaskan genggamannya itu untuk menghapus sisa-sisa air mata di kedua pipi Taesa. Meninggalkan rasa hangat saat ia menarik tangannya kesamping tubuhya. Menahan setengah mati untuk tidak menarik gadis tersebut ke dalam pelukannya.

“H..hh.. gomapta Donghae-ya,” ujar Taesa setelah berhasil mengatur napasnya.

Donghae masih menatapnya khawatir “Gwenchana?”

“Em, gwenchana… hanya saja rasanya seperti baru kemarin ia memberiku MP3 ini.” Taesa menggenggam MP3 tersebut dengan kedua tangannya.

“Uri Appa sangat pengertian sekali bukan? Bagaimana ia bisa tahu bahwa aku akan sangat membutuhkan benda ini.” Taesa tersenyum bangga membuat Donghae juga ikut menarik bibirnya keatas.

“Ne, aku yakin beliau saaaangat menyayangimu. Jadi kau tidak boleh bersedih lagi eo?” ujar Donghae dengan menaikkan nada suaranya seceria mungkin agar gadis di hadapannya ini bisa kembali semangat.

Taesa mengganggukkan kepalanya mantap “Ne… Arraseo,” ucapnya sambil tersenyum cerah.

Yoon Taesa baru saja menemukan alasan baru untuk tersenyum dan ia bersyukur karena orang itu adalah Lee Donghae.

“Donghae-ya, kau percaya tidak, saat aku mulai lelah lalu aku mendengarkan lagu Haengboke itu, tiba-tiba saja jjan~ aku akan kembali bersemangat! Jinja,” ucap Taesa penuh semangat tak lupa dengan senyum manisnya. Senyuman yang akan menghangatkan hati siapapun yang melihatnya.

Termasuk Lee Donghae yang kini tengah tesenyum jahil padanya “Eo,Keurom~ Tapi apa kau sudah mendengar versi terbaru dari lagu itu?”

“Mwo? Ada versi terbarunya?” Taesa mengangkat bahunya tak acuh “Entahlah, aku tak begitu peduli, karena bagiku H.O.T lah yang menyanyikannya paling bagus.”

“Eeiiyyy… aku yakin versi ini jauh lebih baik dari mereka. Mau mendengarkan?” tawar Donghae.

Namun Taesa masih kukuh dengan pendapatnya “Mana mungkin! Versi H.O.T-lah yang terbaik! Tidak ada-“

 

Hambo nanen narel ij jobon jo kobso
Ojik gede manel seng gak kenen gol

 

Ucapan Taesa seketika terhenti saat sebuah suara yang menyenandungkan lagu favoritnya itu masuk ke dalam pendengarannya. Bukan! Bukan suara ini yang biasa ia dengar dari MP3-nya, suara ini jelas berbeda, namun entah mengapa sensasi yang di berikan justru lebih memuaskan.

 

Gereon Naneun Moya Nal Jiteon Geoya

Jigem ne no neson nomul heloh basing ga

 

Ya, Lee Donghae. Namja itulah yang kini bernyanyi solo di hadapannya. Berhasil membuat detak jantung Taesa takkaruan bahkan saat ia baru saja mendengar bait kedua lagu tersebut.

 

Nol ca ja gal ga senggak kesoh
Nan nan jal more gesoh
E sesangi dol goin nen jigem
Nan nuh bak ke ubji

Hal mare obso gal sodo obso
Non moldo obso nuk kimdo obso
Ne ape suh inen nal bara bwa

Noh wihe sara inen nal

 

Suara khas Lee Donghae yang terkesan dalam namun ceria, menggema di setiap sudut ruang kelas yang masih belum di huni siapapun kecuali mreka berdua.

 

Yok sok dwen sigani wasoyo gede ape
Isoyo duryo wome wolgo ijiman

Non morel dak kajo woso yo gede ne
Son jaba jyo iru nal goya

Hamke hejon gede ege heng bogel

 

Taesa mencermati kata-kata bernada indah—yang di hasilkan oleh Donghae—tanpa terlewati. Dapat ia rasakan balon semangat yang terkubur menyesakkan dalam dadanya meletus hingga menyebar ke seluruh tubuhnya, membuatnya takdapat menahan senyuman di wajahnya ataupun mencegah gerakan refleks dari ibu jarinya yang menekan tombol di sisi kanan MP3-nya guna merekam suara yang mulai detik ini menjadi suara favoritnya, suara milik Lee Donghae.

 

Nun gam go gedel geryo yo mamsok
Gedel caja jyo narel bal kyo junen
Bici boyo yong wonan

Heng bogel no cil son ob jyo
Gede nabo ina yo norel bulo joyo gede yokte

Isel goya norel saranghe hamke heyo gedewa yong woni

 

Taesa sangat menikmati telinganya yang dimanjakan suara merdu milik Lee Donghae tersebut, tanpa berniat mengintrupsinya sedetikpun. Bahkan hingga Donghae menyelesaikan lagu itu, Taesa masih saja menikmati sisa-sisa kebahagiaan itu dalam diam.

“Ehm!” Donghae berdehem untuk menghilangkan perasaan salah tingkahnya, hal itupun berhasil menyadarkan Taesa dari lamunannya.

Dengan gugup Taesa menegakkan punggungnya dan bergegas menyembunyikan MP3-nya ke kolong meja setelah menekan kembali tombol di sisi kanan MP3 itu lagi agar rekaman berharganya itu tersimpan di kartu memori ponselnya.

“Eotte? Lebih bagus versi yang baru ini kan?” tanya Donghae sambil tersenyum menang melihat gelagat Taesa yang sepertinya salah tingkah.

Taesa menelan ludah pertanda ia sangat gugup “N-ne? A.. annio! Biasa saja!” ia mengelak, tentu saja ia terlalu gengsi mengingat sebelumnya ia menolak untuk mendengrkanya. Lagipula orang bodoh mana yang menganggap suara itu biasa saja? Jelas bukan gadis ini.

Donghae yang mengetahui kebohongan Taesa malah semakin semangat menggodanya “Ah… jinja? Benarkah seburuk itu?”

“N-ne! Dayonghatji!”

Donghae menghela napas kesal “Arraseo… kalau begitu aku tidak akan bernyanyi lagi mulai sekarang!”

“ANDWE!” Taesa menutup mulutnya sambil merutuki kecerobohannya “Maksudku… kau—hanya boleh bernyanyi di hadapanku, jangan bernyanyi di hadapan orang lain.”

“Wae?” tanya Donghae pura-pura tidak mengerti.

Taesa memutar otaknya “Karena… karena… suaramu sangat memalukan, orang-orang pasti akan menertawakanmu.”

“Hahahahahaha.” Donghae tidak bisa menutupi kegembiraannya karena berhasil menjebak Taesa. Gadis itu sangat payah dalam hal bebohong.

“Jangan tertawa!”

“Hahahahaha.”

“Yak, Lee Donghae!!”

“Hahahha… Arraseo, aku akan bernyanyi kapanpun kau mau.”

“Jinja?? Ash… maksudku… untuk apa aku memintamu bernyanyi?!”

Donghae tersenyum penuh arti pada Taesa yang kini wajahnya sudah memerah “Keundae, walau aku tidak bisa menghiburmu sebaik MP3-nim, tapi dapat kupastikan aku akan selalu ada untukmu tanpa perlu di cas terlebih dahulu,” ujar Donghae dengan polosnya dan baru menyadari bahwa gadis di hadapannya ini terlihat sedang berusaha menahan tawanya “Wae?? Apa ada yang salah?”

Taesa dengan susah payah membuka mulutnya “A-ah-anni… hanya saja perumpamaanmu sedikit membuatku… merinding hmmpff,” kekehnya.

“Mwo?! Merinding?? Yak Yoon Taesa kau mengacaukan suasana aigoo~ Yoon Taesa jinja-”

“Yakseo?” tanya Taesa tiba-tiba serius sambi mengacungkan kelingkingnya kedepan “Kata-katamu yang tadi, apa kau janji akan melakukannya?” senyum lembut terhias diwajahnya membuat Donghae tersadar dan langsung menganggukan kepalanya yakin “Ne, Yakseokhe.”

Donghae menautkan kelingkingnya di kelingkig Taesa, lalu menempelkan ibu jari mereka seakan menandatangani kontrak tak kasat mata yang dengan senang hati mereka ciptakan sendiri. Kontrak yang mengatasnamakan dirinya sendiri, bahwa mulai detik ini ia tak akan membiarkan gadis di hadapannya ini merasa kesepian apalagi bersedih

-TBC/THE END-

1 Comment (+add yours?)

  1. piyung
    Dec 22, 2015 @ 00:17:43

    wew, next aja thor. Menarik eh!🙂 fighting.🙂

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: