FRUIT LOVE [1/]

hyuk2_副本

FRUIT LOVE

Chaptered FF

Author : Nita Henny

Cast : Go Jung Ra (OC) – Lee Donghae – Lee Hyukjae

Kim Ryeowook – Kim Youngwoon

Genre : Romance

Rating : PG-14

Note :
Member SJ-nya milik emak dan bapak mereka dan agensi mereka. OC dan story milik saya ^^.
FF Ini udah pernah kupublish di blogku sendiri. Dulu, udah lama. Dan sekarang aku coba kirim ke sini hehehe.
You can visit my blog === >>> https://imajinasinita.wordpress.com/

Happy reading ~~~~

============================

Sebuah kantong besar berisi berbagai macam sayuran dan daging ayam sedang dibawa oleh seorang gadis berambut panjang bernama Go Jung Ra. Dengan susah payah, Jung Ra menaiki anak tangga yang akan mengantarnya ke lantai dua, tempat apartemen sederhananya berada. Kantong yang ia bawa ternyata menghalangi pandangannya.

“Kurang sedikit lagi, Jungra. Ayolah…..,” ucap Jung Ra menyemangati dirinya sendiri. Nafasnya sudah terengah-engah karena barang bawaannya yang lumayan berat. Tiba-tiba pada satu anak tangga terakhir yang seharusnya sukses dilaluinya justru membuatnya tersandung. Alhasil seluruh isi kantong yang sedang ia bawa berhamburan keluar dan menggelinding kemana-mana. Jungra yang masih tersungkur di lantai hanya bisa membelalakkan matanya, berharap sayuran yang baru saja ia beli dengan gaji pertamanya sebagai pelayan di sebuah rumah makan tidak rusak.

“Go Jung Ra kenapa kau bodoh sekali?” keluhnya pelan.

BRUK!

Mata Jung Ra teralih ke salah satu pintu apartemen yang terbuka dengan seorang laki-laki yang sudah terduduk di atas lantai. Jung Ra langsung mengutuk dirinya sendiri saat mendapati bekas paprika merah yang terinjak. Laki-laki itu pasti menginjaknya dan terpeleset.

“Paprika….,” keluh Jung Ra. Didengarnya laki-laki itu mengumpat pelan sambil menendang paprika milik Jungra. Malang bagi Jungra. Tanpa dia tahu, laki-laki itu menendang paprika ke arahnya, dan…..

TUK!

Paprika itu sukses mengenai keningnya.

“Auww…!” pekik Jung Ra sambil mengusap-usap keningnya. Ya, memang cukup keras paprika itu mengenai keningnya. Apalagi ditambah dengan posisinya yang masih tengkurap. Bisa dibilang, kondisi yang menyedihkan.

“Lain kali jaga baik-baik paprikamu.”

Jung Ra seraya mendongak. Ada sepasang kaki berbalut celana jeans. Ke atas…dan ke atas : Mata itu. Menyiratkan rasa kesal yang langsung tertuju pada Jungra.

Eoh?” hanya itu yang keluar dari mulut Jung Ra. Laki-laki berambut gelap itu lantas berjongkok di depan Jung Ra sambil memungut paprika yang ia tendang tadi.

“Nona, kau dan paprikamu benar-benar membuatku sial hari ini,” ucapnya seraya meletakkan paprika di atas telapak tangan Jung Ra dan pergi begitu saja. Meninggalkan Jungra yang terperangah tidak percaya. Bukannya menolong malah memarahinya?

“Laki-laki apaan itu? Seharusnya dia menanyakan keadaanku, bukan? Membantuku berdiri, bukan?” Jung Ra meniup poni di atas alis matanya dengan kesal. Dengan cepat ia berdiri dan mulai memunguti barang-barang belanjaannya sambil terus mengomel.

Seumur-umur baru kali ini Jungra bertemu dengan laki-laki seperti itu. Laki-laki yang sama sekali tidak peka dengan kondisi di sekitarnya.

BRAK!. Jung Ra menutup pintu apartemennya dengan sangat kencang. Diletakkannya belanjaannya begitu saja di meja dapur dan langsung meminum segelas penuh air putih.

“Go Jung Ra, jangan sampai kejadian tadi mengganggu suasana hatimu. Hari ini kau ada janji dengan Eomma.” Jung Ra menepuk-nepuk pipinya mencoba menghilangkan wajah laki-laki menyebalkan itu dari benaknya dan mulai menyiapkan bahan-bahan untuk memasak makanan kesukaan Eommanya.

***

Angin sore berhembus cukup kemcang di kota Seoul. Banyak orang-orang yang sedang berlalu lalang di jalanan kota merapatkan jaket dan syal masing-masing agar merasa lebih hangat. Begitu juga dengan seorang laki-laku yang sedang berada di sebuah kedai ramyun. Dia baru saja mengeluarkan syal hitam dari dalam backpacknya dan mengalungkannya di leher, kemudian kembali menyantap ramyun yang terlihat begitu panas.

Berulangkali ia mengecek layar ponselnya. Tepatnya ia sedang melihat tampilan jam. Ini sudah setengah jam ia menunggu kedatangan seseorang. Namun, seseorang yang sedang ia tunggu belum juga datang. Rasa bosan mulai menguasainya. Awalnya ia ingin memesan satu porsi ramyun lagi, tapi, mengingat ia baru saja menghabiskan dua porsi, ia pun mengurungkan niatnya.

“Sudah lama menungguku….Lee Donghae?”

Donghae spontan menoleh ke arah suara itu berasal. Di sampingnya sudah berdiri seorang laki-laki bertubuh tinggi yang memakai setelan jas formal berwarma hitam. Setelah mengetahui siapa pemilik tubuh itu, Donghae hanya mendengus sambil mempersilahkannya untuk duduk.

“Kau tidak menawariku ramyun?” Laki-laki bernama Kim Youngwoon itu mencoba menghilangkan ekpresi dingin dari wajah Donghae.

“Apa kau sudah mendapatkan apartemen yang lain?” Donghae tidak mau berbasa-basi.

“Setidaknya biarkan aku makan dulu.kau tahu ‘kan aku….”

“Hyung….,” Donghae memotong ucapan Youngwoon. “….Aku benar-benar tidak bisa tinggal di tempat itu.” Donghae memandang Youngwoon. Youngwoon sendiri sudah menyerah mencoba bercanda dengan Donghae.

“Donghae-ya, itu adalah tempat terbaik yang bisa kurekomendasikan padamu. Itu sudah lumayan jauh dari rumahmu, dan lumayan dekat dengan………kedai ramyun ini,” ujar Youngwoon yang sedikit canggung saat mengucap kata “kedai ramyun ini”. Matanya tidak sengaja melihat celana Donghae bagian bawah yang kotor. “Apa….kau baru saja keluar dari tong sampah?’

Pertanyaan Youngwoon membuat Donghae sedikit terkejut. Baru setelah Youngwoon menunjuk celananya, Donghae mengerti. “Seorang gadis membuatku terjatuh siang tadi. Bukan apa-apa, Hyung,” jawab Donghae santai seraya mengeluarkan beberapa lembar won dan meletakkannya di dekat tangan Youngwoon. “Kalau kau mau makan, pesan satu porsi saja. Kali ini kutraktir. Aku pergi.”

Youngwoon hanya terdiam melihat Donghae yang beranjak pergi keluar kedai sambil membawa backpacknya. Setelah memesan satu porsi ramyun, dikeluarkannya ponsel dari saku jasnya dan mengirim pesan pada seseorang :

Aku sudah bertemu dengannya. Aku berusaha meyakinkanya untuk tetap tinggal di sana. Dan satu lagi, dia masih saja pelit.

Setelah memastikan pesan itu terkirim dan menghapusnya, Youngwoon memandang pintu kedai yang beberapa menit lalu dilalui Donghae.

***

“Eomma!” panggil Jung Ra pada seorang wanita berusia empat puluh tahunan yang sedang makan sesuatu di salah satu meja di sebuah rumah makan. Dengan berlari kecil Jung Ra menghampiri wanita yang ia panggil Eomma itu. “Aiissh, Eomma! Aku ‘kan sudah bilang jangan makan dulu.”

Wanita bernama Nyonya Im Song Suk itu langsung menarik tangan Jung Ra dan menyuruhnya duduk. “Aigoo….gadis ini, kalau aku tidak makan, aku bisa mati kelaparan menunggumu. Tenang saja aku akan membayar sendiri makananku,” kata Nyonya Im, tak acuh dengan ekspresi kesal Jungra.

“Apa ini?” Nyonya Im heran memandang kotak makanan yang diletakkan Jung Ra di depannya. Sesaat kemudian wanita itu terlihat senang setelah mencium aroma kotak itu. “Omo…kau membuatnya? Untukku?” tanyanya.

“Ne, Eomma. Kupikir tadi aku bisa melihat Eomma makan masakanku, tapi ternyata Eomma sudah makan,” kata Jungra kecewa.

“Heei…kan aku bisa makan nanti di rumah. Tenang saja pasti akan aku habiskan. Gomawo, Jungra-ya,”ujar Nyonya Im lembut. Jung Ra menyambutnya dengan senyuman. Sebenarnya dalam hati Jun Ra merasa sedih melihat keadaan Eomma-nya. Ya, Jung Ra memang memanggilnya Eomma padanya. Tapi bukan berarti wanita itu adalah ibunya. Nyonya Im adalah orang yang sudah begitu baik mau merawatnya seperti putrinya sendiri selama sepuluh tahun ini setelah mengambilnya dari panti asuhan.

“Eomma, gwaenchanayo?” tanya Jungra lirih sambil menatap Nyonya Im sedih. Nyonya Im sendiri heran melihat tingkah Jung Ra.

“Harusnya aku yang bertanya itu padamu. Kenapa kau tiba-tiba mengkhawatirkanku?’ tanya Nyonya Im seraya menyeruput lemon tea-nya.

“Eomma, kau kelihatan kurus. Eomma makan teratur bukan setiap hari? Eomma, bagaimana kalau kau pindah saja ke tempatku? Kita bisa saling menjaga. Dan Eomma tidak perlu lagi bekerja di Laundry umum itu. Itu berat, Eomma,” kata Jung Ra berharap Nyonya Im mau mengikuti sarannya.

Alih-alih mengangguk, Nyonya Im justru menjewer telinga Jung Ra. Membuat gadis itu memekik kesakitan.

“Kau mulai lagi! Apa kau mau telingamu ini lepas dari kepalamu? Sudah aku bilang jangan bertanya itu lagi!” bentak Nyonya Im.

“Eomma, appo!”

Nyonya Im akhirnya melepas tangannya dari telinga Jung Ra.

“Aku hanya…..akhir-akhir ini aku sering memikirkanmu. Dan juga setiap kali ingin bertemu denganmu, aku sering mengalami hal sial. Bukankah itu pertanda buruk?’

“Apanya yang pertanda buruk? Itu hanya perasaanmu. Kau lihat sendiri ‘kan, aku baik-baik saja? Ada-ada saja anak ini,” kata Nyonya Im geram. Akhirnya Jung Ra mengangguk menyerah. Dia tahu bagaimanapun juga dia tetap akan kalah bila berdebat dengan Eommanya.

“Geure…makan yang banyak, ne, Eomma? Kalau perlu tambah satu porsi lagi. Satu porsi saja. Aku yang traktir.” Jung Ra tersenyum lebar pada Nyonya Im.

***

Jung Ra menaiki tangga dengan gontai. Gadis itu masih memikirkan Eommanya. Entah kenapa sejak satu minggu yang lalu ia selalu merasa sedih setiap kali bertemu dengan Eommanya. Ditambah ia merasa Eommanya sering terlihat pucat.

“Apa benar dia tidak apa-apa?’ gumam Jung Ra pelan. Didengarnya dari belakang suara derap langkah kaki yang sedang menaiki tangga. Langkah kaki itu terdengar begitu keras. Jungra sempat berpikir orang di belakangnya pasti sedang memakai sepatu boot.

Ketika sudah sampai di lantai dua, Jung Ra berniat menoleh ke belakang, melihat siapa pemilik “sepatu boot” itu. Namun saat ia sudah memutar tubuhnya ke belakang, pemilik suara sepatu itu terlanjur berjalan cepat dan tidak tahu Jung Ra berhenti di hadapannya. Akibatnya, Jung Ra hampir ditabrak olehnya kalau saja Jung Ra tidak ikut terkejut dan mundur beberapa langkah.

“Kau? Lagi?” Donghae tidak percaya akan bertemu dengan Jung Ra lagi. Orang yang sudah membuatnya terpeleset paprika siang tadi.

“Lagi? Memangnya kita pernah bertemu sebelum ini?” Jung Ra yang dikenal sebagai gadis pemikir lambat memang sepertinya lupa dengan wajah Donghae. Dan wajah bingung Jung Ra sukses membuat Donghae kesal.

“Sepertinya aku harus bertetangga dengan Gadis Paprika yang pelupa sepertimu. Ini benar-benar bencana bagiku,” gerutu Donghae seraya berlalu begitu saja menuju apartemennya yang berada di sebelah kiri apartemen Jung Ra.

“Gadis Paprika? Ya Tuhan…bukankah dia….laki-laki yang…” Jung Ra baru ingat wajah Donghae. Laki-laki yang menendang paprika ke keningnya. Jung Ra langsung menatap kesal ke arah depan yang sudah tidak nampak Donghae. “Jadi benar dia tinggal di sini? Ya Tuhan kenapa di sini berubah sangat panas ya?” gerutu Jung Ra sambil mengibaskan telapak tangannya ke lehernya.

Sementara itu Donghae yang sudah berada di dalam apartemennya sedang berdiri menatap seluruh ruangan yang ada di dalam apartemennya. Hanya ada dua macam ruangan. Satu kamar mandi dan satu lagi ruangan yang cukup luas untuk dijadikan beberapa jenis ruang yang lazim ada di rumah-rumah biasa. Dengan kata lain, tempat tidur ukuran king size berada di sudut ruangan, lalu di sisinya ada almari pakaian. Jarak beberapa langkah sudah ada dua sofa panjang dengan satu meja yang berhadapan dengan TV layar datar yang menempel di dinding. Dari sofa, mundur enam langkah sudah berada di dapur. Sebuah kitchen set minimalis berjajar dengan meja makan yang hanya mempunyai dua kursi.

“Youngwoon hyung, kau benar-benar tega padaku”, keluh Donghae seraya melangkahkan kakinya menuju tempat tidur dan menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Matanya terpejam. Perlahan ingatannya kembali pada sebuah kejadian 10 tahun yang lalu.

#Flashback on- 10 years ago#

Seorang anak laki-laki berusia 18 tahun terduduk lemas di depan sebuah peti mati. Matanya terlihat membengkak dan merah. Dari satu jam yang lalu, dia sama sekali tidak berani menatap peti di depannya.

“Siapa yang menyuruhmu ada di sini?”. Seorang pria paruh baya berdiri di belakangnya dengan menahan emosi.

“Aboji….,” ujar Donghae yang menoleh ke belakang dan menyadari ada Tuan Lee Hang Wo, ayahnya. Donghae langsung berdiri memandang bingung pada ayahnya.

“Aboji….”

PLAK!. Tamparan keras mendarat pada pipi kiri Donghae. Ayahnya menamparnya. Membuat Donghae sedikit terhuyung ke belakang dan hampir menabrak peti. Matanya terbelalak tidak percaya akan apa yang baru saja dilakukan ayahnya padanya.

“Paman….” Youngwoon berusaha menenangkan Tuan Lee yang memelototi Donghae begitu tajam, walaupun Youngwoon sadari, dirinya juga terkejut melihat apa yang terjadi.

“Kau bukan anakku! Kau bukan anakku! Anakku tidak akan membiarkan Ibunya meninggal!” teriak Tuan Lee, menunjuk-nunjuk wajah Donghae.

Donghae terkejut mendengar ucapan ayahnya. Air mata yang sudah berhenti kini tanpa ia sadari mengalir membasahi pipinya lagi.

“Paman, kendalikan emosimu dulu.” Youngwoon menahan Tuan Lee yang akan menarik jas bagian depan Donghae. Keponakan Tuan Lee itu tahu orang-orang yang ada di rumah sedang menatap mereka bertiga heran.

“A..Aboji, apa maksud….”

“Aboji? Aboji kau bilang?! Orang yang sudah mencelakakan istriku tidak pantas memanggilku dengan sebutan itu!, teriak Tuan Lee yang berhasil menarik Donghae dan menghempaskan tubuh putranya itu menjauh dari peti. Mau tak mau Donghae harus tersungkur ke lantai marmer rumahnya dengan mata orang-orang yang main intens memandangnya.

“Keluar!” Kata itu yang Donghae dengar dari arah belakang tubuhnya ketika ia berhasil berdiri. Donghae terpaku. Ini salah. Bukan ini yang seharusnya terjadi di hari duka karena Nyonya Lee, Eommanya meninggal.

“Jangan lagi menoleh ke belakang.aku tidak akan pernah membiarkanmu melihat peti istriku!.

Kata-kata ayahnya terdengar begitu jelas dan benar-benar menghancurkan perasaan Donghae. Matanya tidak sengaja menangkap sosok anak laki-laki yang berdiri di dekat pintu masuk. Anak itu sama terkejut seperti dirinya.

Dia. Anak laki-laki itu yang dibutuhkan Donghae sekarang untuk menjelaskan semua yang sebenarnya terjadi pada ayahnya. Namun, apa yang didapat Donghae sebaliknya. Anak itu justru tertunduk sambil menggeser posisi berdirinya ke arah sisi kanan pintu. Seakan-akan memberi jalan pada Donghae untuk keluar dari rumah. Donghae memandangnya tidak percaya.

Pikirannya yang kacau menguasai fisik dan batinnya. Dengan langkah cepat, Donghae keluar adri ruangan itu. Bahkan ia pun tidak ingin menoleh sebentar ke arah anak laki-laki itu ketika sudah hampir melewati pintu.

“Eomma….aku keluar. Maafkan aku…., Hanya kata itu yang keluar dari benak Donghae ketika sudah berada du luar rumah besarnya. Dengan membelakangi rumah mewah tersebut, Donghae menatap jalanan di depannya dengan tatapan penuh kebencian.

#Flashback Off#

***

Jung Ra baru saja keluar dari apartemennya. Namun saat ingin berbalik setelah mengunci pintu, Jung Ra buru-buru kembali membuka pintunya dengan cepat dan masuk ke dalam apartemennya. Bukannya tanpa alasan, hanya saja dia sempat melihat Donghae, ‘tetangga monster’-nya juga keluar dari apartemennya. Jung Ra tidak ingin memulai perdebatan tak masuk akal dengan laki-laki aneh itu.

“Jangan sampai aku melihatnya. Aku juga selalu merasa sial bila bertemu dengannya,” gerutu Jung Ra sebelum akhirnya dengan sangat pelan membuka pintunya dan menjulurkan kepalanya keluar. Mengintip apakah Donghae sudah pergi atau belum.

“Dia sudah pergi? Eoh?” gumamnya ketika melihat tidak ada seorangpun di sana.

“Maaf, Nona, apakah aku boleh bertanya?”

BRAK!.

“KYAAAA!”

Suara seseorang mengejutkan Jung Ra. Dan tanpa sadar Jung Ra mendorong pintu apartemennya hingga membuat lehernya terjepit. Spontan Jung Ra berteriak kesakitan. Laki-laki yang bertanya pun ikut panik melihat Jung Ra. Dengan cepat ia menolong Jung Ra.

Namun sesuatu terjadi. Saat laki-laki berambut coklat itu berhasil menjauhkan pintu dari leher Jung Ra, tanpa sengaja Jung Ra tersandung kakinya sendiri dan menabrak laki-laki itu. Mereka kehilangan keseimbangan hingga akhirnya terjatuh dengan posisi Jung Ra menindih laki-laki itu.

Mata mereka beradu. Jung Ra buru-buru menstabilkan kesadarannya karena semenjak enam detik yang lalu dia sempat terpana melihat kedua mata milik laki-laki tersebut. Jung Ra lantas bangun dari atas tubuh namja itu dan meminta maaf.

Gwaenchanayo?” Laki-laki itu justru menanyakan keadaan Jung Ra sambil bangun dan duduk Sesaat ia membersihkan lengan jaket abu-abunya yang kotor.

“Bukankah seharusnya aku yang bertanya? Sepertinya punggungmu sakit,” kata Jung Ra yang memperhatikannya dengan sedikit khawatir.

Eoh? Aniyo….ini tidak apa-apa. Bukankah lebih sakit lehermu yang terjepit pintu tadi? Itu pasti…sakit sekali. Apa aku tadi mengejutkanmu?” tanyanya.

“Sedikit,” ucap Jung Ra. Sebenarnya ia membodohi dirinya sendiri saat mengatakan kata ‘sedikit’, karena kenyataannya lehernya kini terasa berdenyut nyeri.

Tiba-tiba laki-laki itu mengulurkan tangannya dengan menampilkan gummy smile-nya pada Jung Ra.

“Namaku Lee Hyukjae. Aku menempati apartemen di sebelah kanan apartemenmu. Semoga kita bisa menjadi tetangga yang baik.”

***

=at FRESH FRUIT

Aigoo….kau baik sekali, Anak Muda. Kudoakan semoga tokomu laris,” ucap seorang wanita tua yang baru saja membeli satu keranjang buah jeruk pada Donghae.

Ne Ahjumma. Kamsahamnida,” balas Donghae sambil tersenyum hangat, seraya membukakan pintu toko untuk wanita itu. Saat wanita itu keluar dan mulai berjalan menjauh dari toko, Donghae memandangnya. Tersirat raut wajah kesedihan pada diri Donghae. Namun, sedetik kemudian Donghae langsung menghela nafas panjang dan berbalik untuk menata buah-buahan yang sudah terlihat tidak rapi.

FRESH FRUIT. Itulah nama toko buah kecil di sudut jalan dekat apartemen sederhana Donghae. Toko itu miliknya. Modal yang ia gunakan adalah dari pinjaman Youngwoon, satu-satunya keluarga yang masih ia percayai sampai sekarang. Dan dari hasil penjualan buah toko itu, ia bisa membiayai hidupnya, mencicil pinjaman yang diberikan kakak sepupunya, Youngwoon dan menggaji satu-satunya karyawan toko yang sangat setia padanya.

“Donghae Hyungnim!”Seseorang masuk ke dalam toko sambil membawa selembar kertas. Donghae yang sedang menata buah menoleh padanya.

“Ada apa?” Donghae mendekati Ryeowook.

“Apa ini?” Donghae mulai membaca isi lembaran kertas yang diberikan oleh Ryeowook. Beberapa saat kemudian matanya terbelalak. “Wookie-ya, apa ini benar?”

“Awalnya aku juga mengira ini hanya lelucon, Hyungnim. Tapi setelah aku bertemu dengan orang yang bernama Lee Shin Ho sendiri, aku baru percaya,” jawab Ryeowook dengan wajah berbinar-binar.

Donghae kembali membaca tulisan di kertas itu dimana orang bernama Lee Shin Ho memesan dua ratus paket buah dari toko Donghae untuk acaranya. Donghae dan Ryeowook diliputi rasa senang karena selama lima tahun mereka mengelola toko ini baru kali ini ada orang yang ingin memesan paket buah segar mereka dalam jumlah banyak.

“Minggu depan dikirim berarti waktu kita masih panjang untuk menyiapkan semuanya,” ujar Donghae.

Hyungnim, kalau orang itu sudah membayar uang mukanya, kau mau mentratirku apa?” tanya Ryeowook, berharap Donghae segera menjawabnya.

“Aku ingin…..mentraktirmu..emmm….” Donghae berpura-pura berpikir. Sejenak kemudian dia langsung tersenyum lebar. “Satu porsi ramyun. Hanya satu porsi.”

Aiish…Hyungnim, ramyun lagi? Apa kita tidak bisa sekali saja makan daging?” rajuk Ryeowook yang langsung ditanggapi Donghae dengan tawa keras.

Sementara itu sebuah mobil mewah sudah berhenti di seberang jalan sejak beberapa saat yang lalu. Seseorang sedang mengawasi toko Donghae dari dalam mobil tersebut. Saat ia melihat dari kejauhan Donghae dan Ryeowook nampak gembira sambil berulangkali membaca kertas tersebut, orang itu lantas mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.

“Dia sudah menerimanya. Mirip Donghae yang dulu. Kau harus melihatnya sendiri. OK, arasseo.” Youngwoon menutup ponselnya dan beranjak pergi dari tempat itu.

***

“Jung Ra-ya!”,\ panggil Ryeowook saat melihat Jung Ra baru saja keluar dari dapur rumah makan. Malam ini Ryeowook mengajak Donghae minum bir di rumah makan yang ternyata tempat Jung Ra bekerja.

“Ryeowook Oppa?” Jung Ra mengambil catatan kecil dan bolpoin kemudian berjalan menuju menuju meja Ryeowook.

“Ryeowook Oppa, bagaimana kau bisa ada di sini?” tanya Jung Ra, berdiri di dekat Ryeowook.

“Heeei…ini kan tempat umum. Kau bekerja di sini? Kebetulan sekali kalau begitu. Aku pesan dua bir ya?” pinta Ryeowook.

“Dua? Kau mau meminumnya sendiri? Oppa, ini kan sudah malam. Bahaya sekali bila kau terlalu banyak minum,” kata Jung Ra sambil menuliskan pesanan Ryeowook.

Ani,ani. Aku datang bersama bosku. Hanya saja dia sedang ada di toilet,” jawab Ryeowook.

“Aaaa….begitu? Baiklah, pesanan akan segera datang. Ditunggu, Oppa,” kata Jung Ra sambil tersenyum dan seraya meninggalkan Ryeowook. Bersamaan dengan itu, Donghae berjalan keluar dari lorong toilet dan sempat melihat dari kejauhan Ryeowook berbincang dengan pelayan rumah makan.

Yeojachingu?” tanya Donghae ketika sudah sampai di mejanya, kemudian duduk di depan Ryeowook sambil membetulkan letak topi hitamnya.

Ne? Bukan, Hyungnim. Hanya chingu. Kebetulan tempat tinggal Eomma angkatnya dekat denganku. Maka dari itu kami sering bertemu dan jadi teman,” jawab Ryeowook.

“Eomma angkat?”

Ne, Hyungnim. Eomma angkat Jung Ra sudah merawatnya sejak ia berusia empat belas tahun. Sebenarnya dia itu anak yatim piatu. Orang tuanya meninggal karena terbawa badai,” kata Ryeowook dengan ekspresi sedih.

Donghae mengangguk-angguk ikut bersimpati. “Temanmu yang bernama Jung Ra itu pasti gadis yang kuat. Aku yakin itu,” kata Donghae sambil memainkan ponselnya yang sesaat kemudian justru lepas dari tangannya dan terjatuh ke bawah meja. Bersamaan dengan Donghae yang membungkuk memungut ponselnya, Jung Ra datang sambil membawa nampan berisi dua gelas bir dan sepiring kue coklat.

“Ryeowook Oppa, ini birnya,” ucap Jung Ra sambil meletakkan satu gels bir di depan Ryeowook. Ryeowook tersenyum seraya menyesap birnya.

“Dan ini untuk…..MWO??!!” pekik Jung Ra yang terkejut melihat Donghae yang muncul dari bawah meja. Keduanya saling memandang. Tepatnya hanya Jung Ra yang terbelalak. Sedangkan Donghae hanya menatapnya sebentar kemudian mendengus sambil membuang muka kesal.

“Apa…kalian sudah saling kenal? Hyungnim? Jung Ra-ya?” tanya Ryeowook yang heran melihat tingkah Donghae dan Jung Ra.

“Ponselku jatuh dan sekarang mati. Itu pasti karena ada dia di sini. Haaah….padahal kukira haru ini tidak akan ada kesialan lagi,” kata Donghae tanpa memandang Jung Ra.

Jung Ra yang sudah kesal mendengar ucapan Donghae, langsung meletakkan gelas bir di depan Donghae dengan sangat keras. Bahkan sebagian bir mengenai baju Donghae.

“Jung Ra-ya…” Ryeowook berdiri mencoba melerai pertengkaran tidak jelas antara Jung Ra dan Donghae.

“Apakah ini yang disebut pelayanan rumah makan yang ramah dan hangat?’ tanya Donghae dengan nada sinis sambil menatap tajam ke arah Jung Ra.

***

Malam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Jung Ra sudah ada di depan pintu apartemen sederhana milik Eommanya. Jung Ra mencoba membuka pintu itu. Tapi entah kenapa tangannya terasa begitu lemas. Seakan tak ada tenaga sedikitpun baginya hanya untuk membuka pintu tersebut.

“Eomma, kau ini kemana lagi?” gumam Jung Ra pelan sambil duduk di depan pintu apartemen. Dengan wajah lesu, Jung Ra menatap nanar langit malam sambil mengingat kejadian yang baru saja dialaminya.

#Setengah jam yang lalu#

“Jung Ra, kau tahu apa yang harus dilakukan seorang pelayan rumah makan pada konsumennya?” tanya Manager Kim, atasan Jung Ra.

“Melayani mereka dengan ramah,” jawab Jung Ra dengan kepala tertunduk. Beberapa rekan kerjanya nampak berbisik-bisik di dekat ruangan bosnya.

“Kelakuanmu pada konsumen meja 12 tadi benar-benar keterlaluan. Kau tahu itu?”

“Ye….” Jung Ra semakin tertunduk.

“Jadi Go Jung Ra…..dengan berat hati aku harus memecatmu.”

Ucapan Manager-nya spontan menegakkan kepala Jung Ra. Dipecat?. Jung Ra harus berpikir lebih dari satu kali untuk mencerna ucapan Managernya itu.

“Manager…..”

“Aku harus bersikap professional. Jadi…ya kamu kupecat. Kau tahu, apa yang kau lakukan tadi akan sangat berpengaruh pada respon konsumen rumah makan ini. Seberapapun besarnya emosimu pada konsumen, kau harus menahannya.”

#Flashback off#

Jung Ra menghela napas panjang sambil menyandarkan kepalanya ke pintu. Rasanya ia ingin sekali menangis. Namun, entah kenapa, air matanya sama sekali tidak mau keluar. Lagi-lagi ia dipecat dari tempat kerjanya dimana ia belum selalu belum genap bekerja dua bulan.

“Go Jung Ra, kenapa hidupmu seperti ini terus?” keluhnya sambil memejamkan mata. Lambat laun rasa kantuk mulai menyerangnya.

Mendadak sentuhan tangan seseorang di bahunya membuat Jung Ra tersentak bangun. Di dekatnya kini terlihat Ryeowook yang berjongkok sambil menatapnya cemas.

Oppa?” ucap Jung Ra dengan suara parau.

Yaa, Jung Ra-ya, apa yang sedang kau lakukan di sini? Kenapa kau tidak masuk saja?” Ryeowook menghujani pertanyaan itu pada Jung Ra karena ia merasa temannya itu terlihat tidak dalam keadaan baik.

“Aku hanya ingin mengunjungi Eomma. Tapi sepertinya dia belum pulang,” jawab Jung Ra.

Tanpa Jung Ra sadari, Ryeowook sedang menatapnya cukup lama. Baru beberapa saat kemudian, yeoja itu menyadarinya.

Wae-yo, Oppa?”

“Apa ada yang terjadi padamu? Kau terlihat kusut sekali,” Ryeowook duduk di sisi Jung Ra sambil melepas tas punggungnya. Jung Ra menghela napas panjang.

“Aku….menganggur lagi. Lagi untuk yang ke-delapan kalinya. Menyedihkan sekali bukan?” ucap Jung Ra sambil memejamkan matanya.

Mwo? Menganggur? Maksudmu….kau dipecat lagi dari pekerjaanmu?” Ryeowook mendelik pada Jung Ra. Jung Ra tidak menjawab. Dia hanya mengacungkan jempolnya sambil tertawa pelan. Ryeowook memikirkan sesuatu yang kemudian tiba-tiba terperanjat.

“Apa ada hubungannya dengan Donghae Hyungnim? Jung Ra-ya, apakah kau dipecat gara-gara kejadian tadi waktu aku dan Donghae Hyungnim ada di sana?” Ryeowook menggenggam jempol tangan Jung Ra.

Oppa….kita sebut saja aku, kau dan bosmu yang kau panggil Donghae Hyungnim itu ada dalam sebuah tempat dan waktu yang salah. Itu saja,” kata Jung Ra tersenyum tipis. Sebenarnya Jung Ra ingin sekali mengatakan ini semua emmang salah bosnya Ryeowook. Namun, Jung Ra mengurungkan niatnya. Tidak mungkin ua mengatai orang itu di depan Ryeowook. Dia tahu walaupun temannya yang bernama Ryeowook itu adalah laki-laki yang bisa menjadi teman yang baik, tapi perasaannya terlalu sensitif. Mudah sekali bahagia dan sedih secara berlebihan.

***

=Jung Ra Apartement, pagi hari=

Jung Ra keluar dari apartemennya sambil menyeret kantong hitam berisi sampah. Beberapa saat kemudian ia berhenti di depan apartemen milik Donghae.

“Untung saja aku tidak sering bertemu denganmu, Tetangga Monster. Sebenarnya kalau aku bisa, aku ingin sekali pindah dari sini. Tapi sialnya aku tidak bisa. Setiap pagi aku hanya bisa berdoa agar tidak bertemu denganmiu. Aiissshh…menyebalkan sekali,” gumam Jung Ra sambil menatap pintu itu. Rasanya Jung Ra ingin sekali menendang pintu itu.

OMO!” pekik Jung Ra saat menyadari ada seseorang yang sudah berdiri beberapa meter di sampingnya.

“Apa kau sedang menyumpahi pemilik apartemen itu?” Laki-laki itu berjalan mendekati Jung Ra.

“Hyukjae-ssi? Aniyo…tadi hanya…..”

“Hentikan. Aku tidak ingin ikut campur masalahmu dengan pemilik apartemen itu. Tapi…ngomong-ngomong…” Hyukjae menunjuk kantong hitam yang dibawa Jung Ra. “Mau dibawa kemana kantong itu?”

Eoh…ini…sampah. Aku harus membawanya ke bawah,” ujar Jung Ra seraya kembali berjalan sambil menyeret kantong sampahnya. Tiba-tiba saat melintas di samping Hyukjae, kantong sampahnya direbut oleh Hyukjae.

“Aku bantu. Aku juga akan turun. Kajja!” kata Hyukjae sambil tersenyum, menampilkan gummy smile-nya, seraya menyeret kantong itu menuju tangga. Jung Ra hanya terpaku melihat Hyukjae. Mendadak pipinya memanas.

“Ya Tuhan…apa ini?” Jung Ra memegang kedua pipinya lalu menepuk-nepuknya. “Aku sudah gila. Aku sudah gila,” keluhnya seraya menuruni anak tangga menyusul Hyukjae yang sudah ada di bawah.

 

“Kulihat hari ini kau tidak berangkat kerja. Bukankah ini belum hari libur?” tanya Hyukjae sambil mengaduk ramyun-nya. Kini Jung Ra dan Hyukjae sedang ada di kedai ramyun di dekat apartemen. Hyukjae yang mengajaknya untuk makan bersama.

“Memang belum libur,” jawab Jung Ra sambil tertawa pelan. Sebenarnya itu adalah tawa yang ia paksakan. Namun, sepertinya Hyukjae menangkap sesuatu yang janggal pada tawa Jung Ra.

“Maaf kalau aku lancang, tapi kulihat sesuatu sedang terjadi padamu. Itu….menurut pandanganku saja,” kata Hyukjae seraya memakan ramyunnya.

“Benarkah? Kalau begitu aku memang tidak pandai berakting.menyedihkan,” Jung Ra menatap ramyun-nya.

Hyukjae menatapnya sebentar. Ada perasaan tidak nyaman padanya karena sudah bertanya hal itu pada Jung Ra.

“Jung Ra-ssi, apa aku tadi salah bicara? Maaf….aku bukannya….”

Aniyo. Gwaenchana.” Jung Ra tersenyum. “…Hanya masalah kecil. Masalah akibat seseorang yang selalu membuatku sial,” Jung Ra mulai memakan ramyun-nya perlahan-lahan.

“Apa itu aku?” Pertanyaan Hyukjae membuat Jung Ra tersedak. Buru-buru Hyukjae menyodorkan air putih pada Jung Ra.

“Jung Ra-ssi….”

“Maaf, aku tersedak.” Jung Ra kembali meminum air putih pemberian Hyukjae. Setelah beberapa saat dirasa sudah baikan, Jung Ra melanjutkan makannya.

“Ohya, tadi maksudku….aku tidak mangatakan orang itu adalah dirimu, Hyukjae-ssi. Kau adalah orang yang terlalu baik untuk membuatku sial. Jadi..tidak mungkin itu dirimu”, Jung Ra menjelaskan ucapannya beberapa saat lalu. Takut Hyukjae salah paham padanya.

Hyukjae mengangguk, mengerti apa yang dikatakan Jung Ra. Sesaat ia hanya memandangi Jung Ra yang fokus pada ramyunnya. Laki-laki itu lantas tersenyum melihat wajah polos Jung Ra.

***

=At FRESH FRUIT=

Hyungnim!” Ryeowook berteriak setelah keluar dari mobil pick up berwarna biru. Donghae yang berada di dalam toko hanya menoleh sebentar, kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.

Hyungnim!”panggil Ryeowook lagi saat sudah berada di dalam toko.

Wae geure?”, tanya Donghae ringan sambil memasukkan beberapa lembar kertas ke dalam sebuah map berwarna merah.

“Tuan Lee Jun Ho….dia minta agar pesanannya ditambah 100 keranjang lagi” Jawaban Ryeowook praktis membuat Donghae membelalakkan matanya lebar-lebar.

“Apa kau bilang? Apa Tuan Lee Jun Ho itu memberi tambahan waktu untuk kita?” tanya Donghae. Ryeowook menggelengkan kepalanya dengan pelan.

“Padahal pasokan buah kita yang kedua baru datang satu minggu lagi. Kita berdua tidak akan bisa mengejar waktu hingga hari itu tiba. Yang jelas kita berdua tidak akan berhasil,” keluh Donghae seraya terduduk lemas di kursi belakangnya.

Sejenak Ryeowook terlihat berpikir sesuatu. Alis matanya terangkat sempurna ketika sebuah ide melintas di benaknya.

Hyungnim…..apa sekarang waktu yang tepat untuk menambah karyawan baru di toko ini?”

To be continued

 

3 Comments (+add yours?)

  1. blueangel1015
    Dec 22, 2015 @ 17:00:54

    Omg!!! Waaa aku suka banget ceritanya, berasa drama koreanya😄 (y) yg bagian haewook kerja di toko buah, aku jd inget drama bachelor’s vegetable store yg ada kwangsoo sama changwook lol😄 pasti jungra kerja disana😀 aaa cepet lanjut ya n.n

    Reply

  2. cloudyclouds24
    Dec 22, 2015 @ 18:17:31

    pantesan agak gak asing sama authornya ternyata memang bener authorna ka nita yang nulis gg “five in one dan i’m with you hyung” kan? hehe
    hai aku izin ubek-ubek blokmu ya🙂

    Reply

  3. fuzi98
    Dec 23, 2015 @ 20:58:53

    Seruu seruu … kkkkkk :))
    Ryeowook ayo ajak Jung Ra kerja di tempat Donghae .. Gx akan sial lgi ko *Semoga😀

    Jung Ra bakal jatuh hati sama Hyukjae gx ya ?.. ^^

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: