FRUIT LOVE [2/?]

hyuk2_副本

FRUIT LOVE

Chaptered FF

Author : Nita Henny

Cast : Go Jung Ra (OC) – Lee Donghae – Lee Hyukjae

Kim Ryeowook – Kim Youngwoon

Genre : Romance

Rating : PG-14

Note :
FF Ini udah pernah kupublish di blogku sendiri. Dulu, udah lama. Dan sekarang aku coba kirim ke sini hehehe.
You can visit my blog === >>> https://imajinasinita.wordpress.com/

Happy reading ~~~~

============================

 

Jung Ra menekuk wajahnya hampir sepuluh menit ini. Gadis itu sama sekali tidak merubah posisi berdirinya. Kalau saja ia tidak sadar sedang berada di mana, ia sudah duduk di salah satu kursi yang ada di tempat itu untuk mengistirahatkan kakinya yang terasa mau lepas.

Di sebuah ruangan kecil tidak jauh dari tempat Jung Ra berdiri, terdengar suara dua orang yang sedang berbicara. Walaupun kurang jelas, Jung Ra masih bisa mendengarnya.

“Ayolah, Hyungnim, bukankah kita sedang perlu karyawan satu lagi?” bujuk Ryeowook dengan menggoyang-goyangkan lengan Donghae. Donghae menepis pelan tangan Ryeowook kemudian duduk sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

“Kita memang sedang membutuhkan satu karyawan lagi. Tapi apa harus GADIS ITU?!” Donghae sengaja meninggikan nada suaranya agar seseorang yang ada di luar sana mendengarnya.

Eiissh..Hyungnim, pelankan suaramu,” kata Ryeowook.

Donghae yang sudah kesal akhirnya berdiri dan berjalan keluar dari ruangan itu. Beberapa detik setelah ia membuka pintu, ia dibuat terkejut dengan Jung Ra yang sudah berdiri di depan pintu dengan wajah merah padam menahan emosi.

Wae?” tanya Donghae dengan nada sinis. Ryeowook yang berdiri di belakang Donghae hanya menyenggol lengan Donghae dengan pelan.

“Kau pikir aku mau bekerja di tempatmu?! Jangan mimpi ya!” bentak Jung Ra.

Donghae mendengus keras. “Kau pikir aku juga mau mempekerjakanmu di tempatku ini?! Sedikitpun jangan pernah bermimpi juga!” balas Donghae dengan nada yang lebih tinggi.

Jung Ra dibuat terkejut oleh bentakan Donghae. Mau tidak mau Jung Ra harus membuang kekaguman konyolnya yang sempat merasa bahwa Donghae adalah laki-laki yang tampan. Bagaimana bisa laki-laki seperti itu membentak seorang gadis?

Oppa, aku pergi!” ujar Jung Ra pada Ryeowook seraya berbalik dengan cepat dan dengan menghentakkan kakinya melangkah keluar dari toko Donghae.

“Jung Ra-ya!” panggil Ryeowook. Namun yang dipanggil sama sekali tidak merespon panggilan itu. Dengan cepat Ryeowook berlari mengejar Jung Ra yang sudah menjauh dari toko.

“Jung Ra-ya!” Ryeowook berhasil menahan lengan Jung Ra.

Jung Ra terpaksa berhenti.

Yaa…jangan emosi dulu. Ini bisa dibicarakan. Ne?” bujuk Ryeowook.

“Apa kau tidak dengar yang Bosmu katakan tadi? Dia menolak karyawan sepertiku. Kupikir aku bisa cari pekerjaan lain,” elak Jung Ra dengan napas terengah-engah karena menahan amarahnya. Harga dirinya seakan terasa diinjak-injak mendengar ucapan Donghae.

“Jung Ra-ya tolong aku, ya? Sebenarnya bosku itu sedang kalut. Pikirannya sedang kacau karena pesanan buah harus selesai satu minggu lagi. Tapi kenyataannya kami tidak bisa memenuhi pesanan itu,” kata Ryeowook memasang wajah sedih.

“Bosmu masih mengenal kata ‘pikiran kacau’? Baguslah, berarti dia masih manusia,” seloroh Jung Ra ketus.

“Ayolah, Jung Ra-ya. Ini pertama kalinya kami mendapat pesanan banyak. Lima tahun usaha ini berdiri, baru kali ini ada orang yang mau memesan begitu banyak paket buah. Aku tahu aku sedang bersikap egois, tapi tolonglah…..bantu kami,” Ryeowook berusaha membujuk Jung Ra agar mau bekerja di tokonya.

.

.

.

.

Jung Ra duduk di sebuah bangku kecil, di depan meja dan seorang laki-laki yang paling dibencinya juga duduk di hadapannya. Jung Ra meluncurkan tatapan dingin padanya. Semakin lama ia memandangnya semakin mendidih darah Jung Ra.

“Jadi perjanjiannya….” Donghae menegakkan punggungnya yang sebelumnya ia sandarkan di kursi. Ia menarik selembar kertas yang ada di hadapannya dan mulai menuliskan beberapa kata di atas lembaran itu.

Jung Ra masih saja menatap Donghae yang kini sedang sibuk dengan tulisan yang sedang ia buat. Rasanya Jung Ra ingin sekali memukul wajah laki-laki di depannya itu sekuat tenaga. Sejak awal mereka bertemu, sikap Donghae sama sekali tidak menampilkan sikap seorang laki-laki yang menghargai perempuan.

Beberapa menit kemudian Donghae menegakkan kepalanya setelah selesai menuliskan sesuatu. Disodorkannya kertas itu pada Jung Ra.

“Itu adalah peraturan dalam waktu satu minggu. Dan itu dimulai besok,” ujar Donghae.

Mata Jung Ra berulangkali membulat membaca tiap kata-kata yang Donghae sebut itu semua sebagai “Peraturan”.

  • Karyawan Baru hanya bekerja selama satu minggu yang dimulai hari besok. Periode pekerjaan tidak akan bisa ditambah tapi ada kemungkinan dikurangi.
  • Karyawan Baru harus menuruti APAPUN yang diperintahkan oleh BOS.
  • Karyawan Baru hanya akan digaji setelah satu minggu masa kerjanya selesai. Itupun dengan melihat bagaimana cara kerjanya.
  • Karyawan Baru harus datang tepat waktu. Terlambat satu detik, maka gaji akan dipotong 100 Won.
  • Karyawan Baru hanya diperbolehkan keluar toko setelah mendapat persetujuan dari BOS.

 

Yaa!’ Jung Ra meluncurkan tatapan tidak setuju pada Donghae.

Wae? Protes? Kalau kau ingin protes, silakan pergi dari tempat ini.” Donghae menyunggingkan seringaian tipisnya.

Jung Ra berusaha tidak terpancing suasana. Dia tahu laki-laki yang ada di hadapannya itu sangat menyebalkan. Dipejamkannya matanya untuk beberapa detik sambil menghela napas.

“Kalau bukan Ryeowook Oppa yang memintaku dan aku benar-benar sedang butuh pekerjaan, aku tidak akan….”

“Eitss….” Donghae menggerak-gerakkan telunjuk kanannya di depan Jung Ra. “…..Aku tahu kemana arah perkataanmu. Biarkan aku yang melanjutkannya tapi dengan versiku sendiri.”

Donghae berdehem sesaat. “Kalau bukan Ryeowook, karyawan terbaikku itu yang memohon-mohon padaku untuk menerimamu bekerja di tokoku, aku TIDAK AKAN PERNAH mau menerimamu. Ingat bukan, bagaimana hari-hari sialku di saat aku bertemu denganmu? Kau pikir itu menyenangkan? Sama sekali tidak, Jung Ra-ssi. Dan juga…..”

Jung Ra langsung mengambil kertas perjanjian buatan Donghae dan menandatanganinya dengan cepat. “Sudah kutandatangani. Terima kasih!” Jung Ra beranjak pergi meninggalkan toko Donghae.

“Dasar tidak sopan,” desis Donghae seraya mengambil kertas itu.

Ryeowook yang muncul dari belakang hanya menggelengkan kepalanya.

***

Jung Ra menyembulkan kepalanya dari balik pintu apartemennya. Mencoba melihat ke arah depan pintu Donghae. Ia menghela napas lega saat melihat dua kardus susu segar masih tergeletak di depan pintu. Itu berarti Donghae belum keluar dari sarangnya.

“Baiklah, Go Jung Ra. Cepat keluar dan pergi ke toko sebelum dia mendahuluimu,” gumamnya seraya berdiri tegak dan langsung keluar dari apartemennya.

Ia berlari kecil saat sudah menjauh dari bangunan apartemen sederhananya. Bahkan laju larinya ia percepat saat dari kejauhan terlihat bus berwarna hijau yang baru saja berhenti di halte.

“Tunggu aku!” teriaknya saat bus itu kembali melaju setelah berhenti beberapa detik. Upayanya mengejar bus itu gagal. Jung Ra dibuat kesal sendiri. Ia bersandar pada pohon di dekat halte sambil mengatur ulang nafasnya yang tidak teratur.

Aiiish….kenapa sopirnya tidak menungguku dulu? Apa dia tidak tahu hari ini akan jadi hari yang menyebalkan bila aku terlambat?” keluh Jung Ra sambil mengusap keningnya yang berkeringat.

Sebuah mobil berwarna putih melaju lambat dan berhenti di depan Jung Ra. Jung Ra hanya menegakkan tubuhnya sambil menoleh ke sana kemari. Apa mobil itu berhenti untuknya? Padahal seumur-umur Jung Ra tak pernah merasa mempunyai teman yang mengendarai mobil semewah itu.

Kaca mobil itu turun dan kepala seseorang muncul dari dalam. Jung Ra terpaksa sedikit membungkukkan badannya karena ia tidak bisa melihatnya dengan jelas.

“Hyukjae-ssi?” ucapnya setelah mengetahui siapa yang ada di dalam mobil itu.

“Mau kuantar?” tanya Hyukjae sambil tersenyum.

“Kenapa kau bisa berangkat sepagi ini?” tanya Hyukjae saat mobil mulai melaju membaur bersama kendaraan lain di jalan.

“Aku sudah mendapat pekerjaan, tapi……”

“Wah, itu berita bagus, Jung Ra-ssi. Akhirnya kau mendapat pekerjaan,” cela Hyukjae.

Ne? Itu memang berita bagus, tapi sekaligus berita buruk bagiku,” kata Jung Ra pelan. Hyukjae akhirnya menghilangkan wajah senangnya dan berubah bingung.

Wae-yo?”

“Aku mempunyai bos baru yang benar-benar gila dan benar-benar tidak punya perasaan,” keluh Jung Ra. Hyukjae mendadak tertawa hingga mobilnya sedikit oleng.

Yaa, Hyukjae-ssi, kenapa kau malah menertawaiku?!” bentak Jung Ra kesal.

“Maaf, maaf. Hanya saja aku bisa membayangkan bagaimana penampilan bosmu itu hanya melalui kata-katamu. Gila dan tidak punya perasaan? Aigoo, Jung Ra-ssi, kau ini benar-benar,” jawab Hyukjae yang sudah menghentikan tawanya dan masih menyisakan kekehan pelan.

Jung Ra ingin membalas ucapan Hyukjae. Tapi matanya menangkap sosok Ryeowook yang sedang berjalan di trotoar sambil memakan sesuatu.

“Hyukjae-ssi, bisa turunkan aku di sini?” Jung Ra mengalihkan pandangannya pada Hyukjae yang sibuk menyetir.

“Ada apa?” Hyukjae terpaksa memelankan laju mobilnya dan menepikannya. Dengan sedikit tergesa-gesa Jung Ra membuka pintu mobil dan keluar.

“Jung Ra-ssi!”, panggil Hyukjae saat Jung Ra akan menutup pintu mobil.

“Ah, iya, aku lupa. Untuk tumpangannya, terima kasih. Tempat kerja baruku ada di dekat ini. Maaf sudah merepotkanmu, Hyukjae-ssi. Gumawo.” Jung Ra membungkukkan badannya sebentar.

Gwaenchana. Bagaimana kalau kita merayakan dirimu yang sudah bekerja lagi? Di kedai ramen?” Hyukjae berusaha mengajak Jung Ra untuk makan bersama. Jung Ra terlihat sedang berpikir.

“Kalau kau tidak bisa, tidak apa-apa. Aku hanya…..”

“OK! Akan aku usahakan. Aku pergi!” ucap Jung Ra seraya melambaikan tangannya dan berlari mengejar Ryeowook yang sudah jauh darinya.

Hyukjae tersenyum simpul melihat Jung Ra berlari kecil. Backpack Jung Ra terlihat terombang-ambing ke kanan dan ke kiri setiap gadis itu berlari. Setelah kembali menyalakan mesin mobilnya, Hyukjae kembali melajukan mobilnya menuju kantornya.

Beberapa saat kemudian ponselnya berdering.

Yeoboseo?”

“……..”

“Sekarang? Aku harus segera ke kantor dulu. Bagaimana kalau jam makan siang? …….Arraseo, Hyung.” Hyukjae mematikan ponselnya dan melanjutkan fokusnya untuk menyetir. Sebuah smirk tipis terlihat di bibirnya setelah ia mempercepat laju mobilnya.

.

.

.

Oppa!” pekik Jung Ra sambil mendaratkan tangan kirinya ke bahu Ryeowook dengan keras. Spontan laki-laki bertopi itu terkejut dan makanan ringan yang sedang ia bawa hampir terjatuh dari tangannya.

Yaa, Jung Ra-ya, kau ini mengejutkanku saja,” keluh Ryeowook yang harus mengatur kembali detak jantungnya yang cukup cepat akibat ulah Jung Ra. Jung Ra hanya terkekeh sambil merangkul Ryeowook.

“Kau sudah siap bekerja hari ini?” tanya Ryeowook setelah membuang bungkus makanannya ke tong sampah di depan sebuah toko kue.

“Mmmm…..aku harus siap. Pasti akan seperti neraka bila sudah bertemu dengan ‘hyungnim’-mu itu. Hyungnim….Hyungnim…. Oppa, kau sepertinya sudah diperbudak oleh dia,” kata Jung Ra.

Kini mereka berdua sudah berada di depan toko. Pintunya masih terkunci. Itu artinya Donghae belum datang. Jung Ra tertawa dalam hati merasa menang hari ini.

“Donghae Hyungnim itu sudah menolongku dulu. Ia memperbolehkanku untuk bekerja padanya. Sebenarnya bosku itu sangat baik…….”

“Sangat baik? Apanya yang sangat baik? Dia itu seperti…..haaaaah.”

Ryeowook hanya tertawa sambil mengusap sekilas rambut Jung Ra. Ia seraya membuka pintu toko dan mengajak Jung Ra untuk masuk.

“Apa yang harus aku lakukan?” tanya Jung Ra setelah meletakkan backpacknya ke sudut ruangan. Ia sempat tercengang dengan keadaan toko yang begitu rapi dan bersih.

Buah-buah tertata begitu rapi dan terlihat begitu cantik karena cara penataan yang sangat detail. Beberapa jenis buah ditata dan dihias dalam beberapa keranjang manis dan dipajang di belakang kaca.

Tanpa Jung Ra sadari ia tersenyum tipis melihat buah-buah yang tertata begitu manis dan cantik. Namun, sedetik kemudian senyumnya itu menghilang entah ke mana ketika Jung Ra mendapati sosok Donghae yang berdiri di dekat rak buah yang ada di bagian belakang meja. Spontan Jung Ra terperanjat. Gadis itu memandang sebentar ke arah pintu masuk toko.

Bagaimana bisa dia ada di dalam toko sementara tadi aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau pintu masuk dalam kondisi terkunci sebelum dibuka oleh Ryeowook Oppa — tanya Jung Ra dalam hatinya.

Donghae, laki-laki berambut gelap itu hanya mendengus pelan seraya melempar handuk kecil ke atas meja kerjanya begitu saja. Tak dihiraukannya tatapan mata Jung Ra dan melangkahkan kakinya menuju tumpukan kardus berisi buah apel yang baru datang pagi ini di sudut toko.

Raut wajahnya berubah kesal ketika mendapati ada lebih dari sepuluh buah apel yang tidak sesuai pesanannya, ditambah kondisi buah yang sudah tidak layak jual. Ada beberapa buah apel yang terlihat membusuk saat ia membuka kardus bagian atas.

“Wookie-ya!” panggil Donghae sambil melempar salah satu apel yang terlihat membusuk ke dalam kardus.

Ryeowook yang sedang berada di belakang toko langsung tergopoh-gopoh menghampiri Donghae.

“Ada apa?” tanya Ryeowook yang sedikit terkejut melihat air muka Dongahe yang tidak seperti biasa.

Donghae mengambil buah apel yang ia lempar ke dalam kardus tadi dan memperlihatkannya pada karyawannya tersebut. “Kenapa ada buah apel busuk yang bisa masuk ke dalam kardus pesanan kita?”

Omo! Hyungnim, ini…. bagaimana bisa terjadi?!” Ryeowook cukup terkejut saat melihat buah apel tersebut.

“Kalau kau bertanya padaku, aku harus bertanya pada siapa, hah? Bukankah biasanya ini tidak pernah terjadi? Apa kemarin kau tidak memeriksa semuanya?” Donghae berkacak pinggang. Wajah kesalnya sangat kentara sekali. Kedua alis matanya hampir saja menyatu.

“Aku…. Aku…. sudah memeriksa semuanya, Hyungnim. Bahkan aku yang mengawasi mereka yang memasukkan apel-apel itu ke dalam kardus khusus pesananmu. Seingatku tidak ada buah-buah yang busuk kemarin. Dan juga…..kualitas apel yang mereka kirim untuk kita sudah termasuk yang paling bagus dan tahan lama tanpa ada campuran bantuan obat kimia. Jadi, kurasa ……”

“Tapi kenyataannya ada beberapa buah apel yang busuk dan tidak layak jual!” potong Donghae dengan nada tinggi.

Ryeowook terpaksa menundukkan kepalanya dan meminta maaf pada Donghae dengan pelan. Karyawan Donghae itu menyadari sepertinya pagi ini bosnya sedang tidak dalam kondisi good mood.

“Kurasa kau marah pada orang yang salah, Tuan Pemilik Toko Buah Terhormat.”

Suara seseorang membuat Donghae memutar tubuhnya untuk mencari pemilik suara tersebut yang ternyata sejak tadi berdiri di dekat meja panjang berisi tumpukan buah nanas. Kekesalan Donghae semakin bertambah ketika menyadari milik siapa suara tersebut.

“Apa maksudmu?” tanya Donghae ketus sambil melempar tatapan tajam ke arah Jung Ra.

Dengan langkah yang sengaja dihentakkan, Jung Ra berjalan mendekati Donghae.

“Kalau kau tidak puas dengan barang yang kau pesan, seharusnya kau marah pada penjualnya, bukan pada karyawanmu sendiri! Bukankah kau bilang Ryeowook Oppa adalah karyawan terbaikmu? Jadi tidak mungkin Ryeowook Oppa yang melakukan kesalahan ini!” bentak Jung Ra.

Donghae yang awalnya masih bisa menahan emosinya, kini sudah menggerakkan tubuhnya untuk berdiri di depan Jung Ra dan berkacak pinggang.

Yaa, Jung Ra-ssi, apa kau lupa kalau kau adalah seorang karyawan dan aku adalah seorang bos di sini? Kau baru menjadi karyawan satu hari di sini dan kau sudah berani membentak bosmu?” sindir Donghae.

“Tapi Ryeowook Oppa….”

Belum selesai Jung Ra membela Ryeowook yang dibentak di depannya, Ryeowook buru-buru membungkam mulut Jung Ra dengan tangannya.

“Maaf, Hyungnim. Aku….. aku akan segera menghubungi pemasok buah apel yang kemarin. Jadi kau tidak perlu khawatir,” ucap Ryeowook dengan susah payah karena tangannya berusaha dilepas oleh Jung Ra.

“Tidak perlu. Biar aku saja yang menghubungi mereka. Sebaiknya kau bawa teman gilamu ini menjauh dariku sebelum aku benar-benar melempar apel-apel itu padanya,” kata Donghae sambil merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel dan mulai menghubungi pemasok apel yang sudah membuatnya marah pagi-pagi.

Sambil menunggu teleponnya diterima, Donghae memandang Ryeowook yang sudah menarik paksa Jung Ra yang sepertinya ingin membalas ucapannya tadi. Gadis itu meronta-ronta saat Ryeowook mencoba membawanya keluar dari toko.

Donghae hanya menghela napas dengan kasar sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain. Lagi-lagi apa yang tidak ingin ia alami terjadi lagi.

Kesialan. Ya itulah yang beberapa hari ini ingin Donghae hindari semenjak ia bertemu dengan Jung Ra. Donghae pikir ketika dirinya terpeleset hanya karena sebuah paprika milik Jung Ra mungkin hanyalah kebetulan semata karena ia kurang hati-hati. Tetapi setelah lebih dari dua kali bertemu dengan gadis itu, Donghae merasa ada sesuatu yang salah di sini.

Pertemuan kedua dirinya dengan Jung Ra mengakibatkan ponselnya jatuh tanpa sebab ke bawah meja pelanggan rumah makan. Kemudian yang pertemuan ketiga, ia justru dibuat terpaksa menerima Jung Ra bekerja di tokonya. Dan pertemuan keempat yang terjadi pada pagi ini sudah membuatnya harus berulangkali menarik napas karena menahan emosi ketika mendapati beberapa buah apel pesanannya tidak layak jual. Padahal sebelumnya ia tidak pernah mengalami kejadian ini.

Bukankah semua itu bila digabung menjadi satu akan membentuk kata ‘kesialan’?

***

=at L Groups Company=

Hyukjae keluar dari dalam mobil sambil mengancingkan kancing jas hitamnya yang sempat terbuka. Dengan sedikit tergesa-gesa, laki-laki berahang tegas itu melangkahkan kakinya memasuki ruang lobby yang ada di lantai dasar sebuah gedung tinggi berwarna biru muda.

Tanpa membalas sapaan beberapa pegawai perusahaan, Hyukjae mempercepat langkah kakinya agar bisa lebih cepat menuju lift yang akan mengantarnya ke ruang rapat yang ada di lantai lima. Lagi-lagi ia terlambat mengikuti rapat yang seharusnya ia ikuti lima belas menit yang lalu.

Dengan perasaan sedikit tidak nyaman, Hyukjae membuka pintu ruang rapat. Semua mata memandang ke arahnya ketika ia akhirnya memberanikan diri untuk memasuki ruangan bercat putih itu. Beberapa orang yang rata-rata sudah berusia di atas empat puluh tahun melempar tatapan aneh padanya. Terlebih tatapan seseorang berjas abu-abu yang duduk pada ujung meja panjang di tengah-tengah ruangan luas tersebut. Tatapan seseorang yang mempunyai kuasa tertinggi di perusahaan ini.

Tatapan Ayahnya.

Bagi Hyukjae hanya tatapan ayahnya itu yang kadang mampu mengintimidasinya. Tatapan yang begitu tajam dan dingin.

Yaa, Hyukjae-ya, cepat duduk!” bisik seorang pria berambut putih yang duduk di dekat Hyukjae dan dengan cepat menarik tangan Hyukjae. Menghempaskan tubuh Hyukjae ke atas tempat duduk yang ada di sampingnya.

Ahjussi…..”

“Diam dan ikuti saja rapat pagi ini,” potong pria itu pada Hyukjae sambil memberikan tumpukan kertas yang penuh dengan berbagai macam tabel padanya.

.

.

.

Rapat akhirnya selesai dua jam kemudian. Satu per satu peserta rapat keluar meninggalkan ruang rapat. Tak terkecuali dengan Hyukjae yang sudah menyambar kertas-kertas yang ada di hadapannya untuk dikumpulkan jadi satu. Ia dengan cepat melangkahkan kakinya keluar dari ruang rapat ketika melihat orang yang tadi menyuruhnya segera duduk.

Ahjussi!” panggilnya saat sudah berlari keluar ruang. Larinya melambat saat yang dipanggil menghentikan kaki dan menoleh ke belakang.

“Sudah berapa kali kau terlambat seperti ini, hah?” tegur Han Jae Wo, Kepala Bagian Keuangan, orang yang dipanggil ‘Ahjussi’ oleh Hyukjae.

“Aku ada urusan mendadak tadi pagi, makanya aku…..awwwww!” Hyukjae terpaksa memekik kesakitan karena telinganya ditarik oleh Kepala Bagian Han dengan tiba-tiba.

“Aku hampir dipecat oleh Presdir hanya karena lebih dari lima kali membuat alasan aneh untuk menutupi keterlambatanmu,” gerutu Kepala Han sambil mendorong kepala Hyukjae.

Bukannya menyesal karena sudah merepotkan orang itu, Hyukjae justru tertawa kecil sambil membuat tanda peace pada kedua jari tangannya. “Aku tahu kau adalah orang yang bisa kuandalkan, Ahjussi.”

Yaa!” bentak Kepala Bagian Han yang berniat untuk memukul kepala Hyukjae.

“Kau sudah sarapan? Bagaimana kalau aku mentraktirmu makan satu porsi ramyun? Bukankah di kantin kantor ada makanan itu?” Hyukjae berusaha mengganti topik pembicaraan agar ia tak lagi dihajar oleh orang yang sudah begitu dekat dengannya lebih dari dua puluh tahun itu.

“Bocah ini…..”

 

=at Cafetaria=

Kepala Bagian Han hanya memandangi Hyukjae yang begitu lahap menyantap ramyun yang mengeluarkan kepulan asap panas. Pria berkacamata itu menghela napas sebelum mengangkat cangkir kopi dan menyesap isinya.

“Kenapa kedengarannya kau begitu berat saat menghela napas?” tanya Hyukjae dengan mulut penuh ramyun sambil mengangkat sumpitnya, menunjuk ke arah Kepala Bagian Han.

“Kau terlihat semakin kurus,” celetuk Kepala Bagian Han setelah sesaat terdiam memandang Hyukjae.

Hyukjae hanya mendengus pelan seraya kembali menyantap ramyunnya. “Ahjussi, jangan bercanda. Hampir setiap hari kau bertemu denganku di sini. Bagaimana bisa aku terlihat lebih kurus dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam?” canda Hyukjae.

“Aku serius, Hyukjae-ya,” balas Kepala Bagian Han sambil menjitak kepala Hyukjae.

“Eiiissh… Ahjussi, justru aku merasa akhir-akhir ini berat badanku bertambah drastis. Bahkan celana yang kau belikan minggu lalu sudah terasa kekecilan untukku,” kata Hyukjae tidak mau kalah sambil terus melahap ramyunnya yang tinggal sedikit.

Pria tambun yang sudah menganggap Hyukjae sebagai putranya sendiri itu menatap sendu ke arah Hyukjae. Ada perasaan iba yang mendadak merayap di dalam perasaannya ketika melihat Hyukjae berulangkali melempar senyum padanya, seakan tidak terjadi apa-apa.

Yaa, Ahjussi! Aku ini sudah dua puluh delapan tahun!” gerutu Hyukjae ketika Kepala Bagian Han tanpa ia duga mengacak-acak rambut hitamnya yang tertata rapi. Kepala Bagian Han hanya terkekeh pelan sambil melipat kedua tangan di depan dada.

“Sayang sekali, Lee Hyukjae, di mataku kau masih seperti anak sepuluh tahun. Dan itu tak akan pernah berubah sampai kapan pun,” kata Kepala Bagian Han.

Hyukjae hanya menanggapi ucapan pria tambun itu dengan seulas senyum tipis sambil menghabiskan sisa ramyunnya. Sesaat setelah mangkuk ramyun itu bersih dari isinya, Hyukjae pun meneguk air putih dan lagi-lagi tersenyum lebar. Menampilkan gusinya yang selalu menjadi ciri khas bila ia tersenyum lebar seperti itu.

“Hyukjae-yaa,” panggil Kepala Bagian Han pelan.

“Iya? Ada apa?” Hyukjae meletakkan tissue yang baru saja ia pakai untuk membersihkan sudut bibirnya.

“Apa kau merindukannya?”

Pertanyaan Kepala Bagian Han membekukan Hyukjae untuk beberapa detik sebelum pada akhirnya ia mengalihkan perhatiannya pada ponselnya yang ada di dekat mangkuk ramyun.

“Aku tidak mengerti apa maksudmu, Ahjussi. Waaah… sudah kuduga! Ayah menyuruhku datang ke ruangannya. Haaaah…. kali ini tamat riwayatku,” ujar Hyukjae yang memilih mengamati isi pesan yang baru saja dikirim ayahnya.

“Ini sudah sepuluh tahun lamanya, Lee Hyukjae. Kau pasti……”

Tanpa memperhatikan ucapan Kepala Bagian Han, atau lebih tepatnya tidak mau memperhatikannya, Hyukjae berdiri dari duduknya sambil memasukkan ponsel ke saku celananya.

“Aku harus menemui ayah dulu. Bagaimana kalau Ahjussi yang bayar? Aku lupa membawa uang tunai hari ini. Aku pergi dulu.” Hyukjae seraya membungkukkan badannya sebentar pada Kepala Bagian Han dan langsung pergi keluar dari cafetaria kantor sambil berlari kecil mengejar pintu lift yang terlihat akan menutup tak jauh dari tempatnya berjalan.

Kepala Bagian Han hanya mendesah pelan menatap punggung Hyukjae yang semakin menjauh. Dibenarkannya letak kacamata yang bertengger manis di tulang hidungnya. Matanya bergerak menatap mangkuk ramyun bekas Hyukjae.

“Aku tahu kau merindukannya, Hyukjae-ya,” gumam Kepala Bagian Han.

.

.

.

=at CEO’s Room=

Hyukjae berdiri tepat di depan meja kaca yang terlihat begitu rapi dengan berbagai macam tumpukan file dan beberapa buku tebal di atasnya. Sebuah papan nama terbuat dari kaca bertuliskan ‘Presiden Direktur Lee Byun Sik’ terpampang jelas di depan mata Hyukjae.

Tak ada kata yang keluar dari bibir Hyukjae maupun dari bibir seorang bertubuh tinggi besar yang berdiri menghadap kaca besar yang menampilkan pemandangan kota Seoul dari lantai sepuluh.

Hyukjae hanya terdiam menunggu apa yang ingin diucapkan ayahnya pagi ini. Matanya menatap punggung lebar milik ayahnya yang begitu tegap. Selalu tegap seperti dulu. Sikap itu menandakan bahwa pemiliknya selalu merasa percaya diri dan selalu berani melakukan apa saja walau usianya tak lagi muda.

“Ini sudah ke-lima kalinya kau tidak bisa tepat waktu mengikuti rapat penting yang kuadakan, Manager Lee.” Akhirnya suara berat khas Presdir Lee pun membahana memenuhi ruangan bercat putih itu.

“Maafkan saya, Pak.” Hanya itu yang bisa Hyukjae katakan sebelum kembali menutup mulutnya.

“Dan ini sudah ke-lima kalinya pula kau meminta maaf dengan mudah seperti itu seakan apa yang sudah kau lakukan sama sekali tidak salah,” tambah Presdir Lee tanpa berniat untuk memutar tubuhnya ke belakang untuk menatap putranya.

Mendengar ucapan ayahnya, laki-laki berjas hitam itu bukannya semakin merasa bersalah karena sudah terlambat mengikuti rapat, tapi justru mendengus pelan sambil menyeringai tipis. Seakan apa yang baru saja diucapkan oleh ayahnya ada sesuatu yang menggelikan sekaligus menyakitkan.

“Kalau saya boleh mengingatkan, jabatan saya hanyalah seorang Manager di Bagian Pemasaran. Tentunya keterlambatan saya sama sekali tidak mempengaruhi jalannya rapat tadi, Presdir,” kata Hyukjae pelan.

Dengan cepat Presdir Lee menoleh ke belakang, meluncurkan tatapan tajam ke arah Hyukjae. “Apa maksudmu?”

“Rapat yang baru saja Anda adakan tadi hanya akan melibatkan para penanam saham yang nilai prosentase kepemilikan saham di atas dua puluh persen dan orang yang seharusnya menjadi peserta terakhir dalam rapat itu adalah Kepala Bagian Han. Jadi saya rasa…. saya seharusnya tidak hadir dalam rapat dan menunggu hasilnya bersama dengan manager-manager lain di ruang karyawan. Bukankah prosedurnya begitu, Presdir?”

Kata-kata Hyukjae semakin membuat tatapan Presdir Lee lebih tajam ke arahnya. Hanya saja tatapan itu sama sekali tak berpengaruh pada diri Hyukjae lagi.

“Aku menyuruhmu untuk ikut dalam rapat itu karena kau adalah putraku. Putra tunggal pemilik L GROUPS yang harus mengetahui bagaimana kondisi perusahaan milik ayahnya saat ini!” nada suara Presdir Lee meninggi seketika.

Tangan Hyukjae mengepal erat takkala mendengar ada kata ‘putra tunggal’ di antara ucapan ayahnya. Entah kenapa sesuatu di dalam hatinya bergejolak begitu saja, mencoba membentuk sebuah magma yang begitu panas dan bisa meledak kapan saja.

“Putra tunggal?” desis Hyukjae.

Seakan mengerti apa arti pertanyaan putranya, Presdir Lee lantas berkacak pinggang dan menatap lurus ke arah dua mata Hyukjae yang sudah terlihat berkaca-kaca.

“Iya. Putra tunggal. Ada yang ingin kau tanyakan mengenai hal itu?”

Hyukjae buru-buru menggelengkan kepalanya dan membungkukkan badannya sesaat untuk meminta ijin keluar dari ruangan ayahnya. Tanpa menunggu jawaban dari Presdir Lee, Hyukjae langsung melangkahkan kakinya menuju pintu.

Tangannya menggenggam erat knop pintu yang baru saja ditutupnya. Sebuah luka yang coba ia tahan selama ini perlahan terasa begitu perih. Maka dari itu ia dengan tergesa-gesa meninggalkan depan ruangan ayahnya dan menuju ruang kerjanya sendiri yang berada di lantai sembilan.

Tak satu pun pegawai perusahaan yang ia balas sapaannya. Bahkan panggilan Kepala Bagian Han pun sama sekali tak dihiraukannya. Langkahnya semakin dipercepat takkala ia bisa melihat pintu berwarna hitam yang merupakan pintu ruang kerjanya ada di depan mata.

Blam!

Hyukjae menutup pintu ruangannya dengan keras. Meninggalkan suara debuman yang cukup memekakkan telinganya sendiri. Ditariknya kursi putar yang ada di balik meja kerjanya dan langsung mendaratkan tubunya di sana setelah sebelumnya melepas jas hitam dan melemparnya ke sofa dengan asal. Merasakan sensasi gelombang pelan yang ia ciptakan sendiri ketika tubuhnya mendarat keras di atas kursi putarnya yang cukup empuk itu.

Matanya terpejam. Kedua tangannya terangkat mengusap wajahnya sendiri dengan gusar. Mencoba menahan emosi yang sudah terasa begitu berat di kepala dan hatinya semenjak meninggalkan ruangan ayahnya.

“Aku menyuruhmu untuk ikut dalam rapat itu karena kau adalah putraku. Putra tunggal pemilik L GROUPS yang harus mengetahui bagaimana kondisi perusahaan milik ayahnya saat ini!”

Perlahan kedua matanya terbuka. Cukup lama ia memandang dinding yang berdiri kokoh tak jauh dari meja kerjanya dengan tatapan sayu. Dinding yang dihiasi oleh beberapa bingkai lukisan kontemporer klasik yang ia sendiri tidak tahu siapa yang membuatnya. Cukup manis bila dipandang karena perpaduan warna di sana sini sangat pas. Tapi sejujurnya bukan itu semua yang membuatnya begitu betah memandangi dinding bercat putih di sana selama hampir sepuluh menit. Bukan benda-benda mati yang mengagumkan itu.

Sebuah bayangan masa lalu tak kasat matalah yang sudah membuat mata Hyukjae tak bisa lepas dari dinding itu. Seakan dinding lebar itu adalah sebuah layar putih untuk pancaran sinar proyektor yang sedang menampilkan rekaman memori seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun yang sedang berkejaran dengan anak laki-laki lain di sebuah taman bermain. Senyum mereka berdua begitu lebar, wajah mereka begitu terlihat ceria dan saling memanggil satu sama lain.

Sebulir air mata bening luruh begitu saja dari pelupuk mata Hyukjae saat bayangan itu memudar dengan sendirinya. Menyisakan dinding dengan hiasan lukisan-lukisan yang sama.

Matanya bergerak pelan menyusuri bagian atas meja kerjanya yang begitu rapi. Beberapa benda-benda yang lazim dan harus berada di atas meja terlihat begitu rapi. Tumpukan map berisi dokumen-dokumen perusahaaan dan laporan-laporan yang setiap harinya harus Hyukjae selesaikan, layar LCD komputer yang menampilkan gambar pemandangan di tengah rerumputan yang hijau, keyboard dan mouse yang bersanding di depan layar komputer, dan sebuah bingkai foto berukuran kecil yang duduk manis di dekat pesawat telepon.

Tangan Hyukjae terulur meraih foto tersebut. Menumpukan siku tangannya pada atas meja agar ia bisa mendekatkan foto itu pada wajahnya. Jemarinya menyentuh ukiran berbentuk batu-batu kecil yang memenuhi bingkai foto di setiap sisi. Matanya menatap foto yang menampilkan dua anak laki-laki yang saling meletakkan lengannya pada bahu satu sama lain. Senyum bahagia yang begitu lebar terpancar jelas di wajah mereka.

“Apa kau merindukannya?”

Pertanyaan Kepala Bagian Han kembali terputar di benaknya. Hyukjae bukannya tidak mengerti apa maksud pertanyaan yang dilontarkan orang yang sudah ia anggap sebagai pamannya sendiri itu, hanya saja hatinya akan berdenyut perih tiap kali ia membiarkan perasaan rindu itu menguasai dirinya.

Perasaan rindu seorang kakak pada adiknya yang sudah tak lagi bisa ia jangkau tangan kecilnya untuk kembali mengajaknya bermain bersama, bercerita satu sama lain layaknya sepasang saudara kembar yang tak bisa dipisahkan.

Hyukjae merindukan adiknya yang sudah jauh dari pandangan matanya hanya karena ketidak adilan yang ia rasakan selama ini dari ayahnya.

“Putra tunggal kau bilang? Huh… sadarkah kalau kau sebenarnya mempunyai dua putra?”

Hyukjae menyeka air mata yang menghiasi wajahnya dengan kasar dan meletakkan kembali foto itu ke atas meja. Tangannya menggulung kedua lengan kemejanya hingga sebatas siku dan meraih gagang telepon.

“Bawakan aku laporan yang kau buat kemarin,” ucap Hyukjae dengan nada berwibawa yang biasa ia keluarkan bila berbicara dengan bawahannya. Beberapa detik kemudian ia tenggelam dalam rutinitas sehari-hari yang biasa ia lakukan di atas meja kerjanya sebagai seorang Manager Bagian Pemasaran.

To be continued

 

 

2 Comments (+add yours?)

  1. fuzi98
    Dec 24, 2015 @ 05:39:28

    Wahh Donghae adik nya Hyukjae ?? apa mereka tau klo apartement nya sebelahan ?

    Next part ditunggu.. ^^

    Reply

  2. navyCho21
    Dec 24, 2015 @ 06:20:22

    Hyukjae sodaranya Donghae yah?
    Duh konfliknya Ya Allah, rumit banget

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: