FRUIT LOVE [3/?]

hyuk2_副本

FRUIT LOVE

Chaptered FF

Author : Nita Henny

Cast : Go Jung Ra (OC) – Lee Donghae – Lee Hyukjae

Kim Ryeowook – Kim Youngwoon

Genre : Romance, Family, Brothership

Rating : PG-14

Note :
FF Ini udah pernah kupublish di blogku sendiri. Dulu, udah lama. Dan sekarang aku coba kirim ke sini hehehe.
You can visit my blog === >>> https://imajinasinita.wordpress.com/

Happy reading ~~~~

============================

Donghae memasukkan keranjang-keranjang buah yang baru saja didapatnya dari pemasok langganan setengah jam lalu ke dalam sebuah peti kayu yang ada di belakang etalase kaca. Keranjang-keranjang berbentuk cantik itu akan ia gunakan sebagai wadah paket buah yang dipesan oleh pelanggan barunya yang bernama Lee Shin Ho.

Walaupun dua hari ini senyum manis yang biasanya menghiasi wajahnya begitu jarang terlihat hanya karena ia selalu merasa kesal tiap memandang Jung Ra berseliweran di dekat meja kerjanya yang membawa ini dan itu, Donghae tetap tak bisa menyembunyikan perasaan senangnya.

Pesanan paket buah tiga ratus keranjang bisa membuktikan bahwa usaha Donghae untuk mendirikan toko buah kecil-kecilan ini tidak bisa dianggap remeh walaupun letak tokonya lumayan jauh dari keramaian pusat kota Seoul. Ia masih bisa mengesampingkan rasa sebal yang selalu menghampirinya terhadap kehadiran Jung Ra dengan cara lebih menyibukkan dirinya untuk mempersiapkan semuanya.

Hyungnim, aku pulang dulu,” kata Ryeowook yang sudah siap dengan tas hitam yang menghiasi punggungnya. Wajah karyawan Donghae itu terlihat cukup lelah.

“Ya sudah. Kau pulang dulu sana,” jawab Donghae tanpa memandang Ryeowook dan memilih untuk membersihkan bagian bawah meja panjang yang cukup kotor.

“Tapi…. Hyungnim ………… dari tadi aku tidak melihat Jung Ra. Apa dia sudah pulang?” Ryeowook menolehkan kepalanya mencari sosok Jung Ra karena sejak ia pulang dari tugasnya memesan jeruk pada pemasok langganan Donghae, ia belum melihat Jung Ra di mana pun.

Donghae mendengus pelan sambil mengulas senyum tipis yang sulit diartikan dari balik punggungnya. Sambil membersihkan kedua tangannya dengan kain bersih, Donghae memutar tubuhnya untuk menghadap ke arah Ryeowook.

“Bagaimana dengan jeruk-jeruk yang kupesan tadi? Kapan bisa diambil?” Donghae mengganti topik pembicaraan.

“Besok kau bisa mengambilnya. Sebenarnya mereka ingin mengantarnya sendiri kemari, tapi karena di sana ada kendala transportasi akhirnya mereka meminta kita mengambilnya sendiri. Dan juga kalau bisa buah-buah itu diambil pagi sekali pukul enam agar tidak didahului oleh pembeli lainnya,” jawab Ryeowook sambil berulangkali menguap karena merasa mengantuk.

Donghae yang melihat tingkah Ryeowook hanya tertawa kecil lantas mengibas-ibaskan kain bersihnya, menyuruh Ryeowook untuk segera pulang dan istirahat.

Setelah berpamitan, Ryeowook pun berjalan sedikit gontai keluar dari toko. Donghae tersenyum tipis melihat sosok karyawannya itu semakin menjauh. Beberapa saat kemudian ia menghembuskan napas dengan berat takkala melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.

Donghae berjalan keluar toko. Di samping bangunan toko kecilnya ada sebuah tangga menurun yang akan membawanya ke basement toko yang biasa ia gunakan untuk menyimpan buah-buah yang belum matang sepenuhnya. Ruang bawah tanah itu ia buat khusus dengan suhu yang tepat untuk menyimpan buah-buah itu agar bisa matang tepat pada waktunya.

Ketika Donghae menuruni tangga itu dan membuka pintu basement, kekesalannya kembali muncul takkala mendapati Jung Ra yang seharusnya memilah-milah buah apel hijau justru enak-enakan tertidur dengan kepala yang terkulai di atas tumpukan apel-apel itu dengan posisi duduk. Bahkan seluruh lantai hampir dipenuhi oleh buah-buah itu.

Yaa!” Donghae terpaksa melempar buah apel yang masih muda yang ada di dekatnya ke arah kepala Jung Ra.

Lemparan yang cukup kerasa di kepala Jung Ra berhasil membuat gadis itu terperanjat dan bangun dari tidurnya. Diusap-usapnya kepalanya yang berdenyut sambil mengeluh kesakitan.

“Apakah aku menyuruhmu tidur?”

Suara Donghae membuat Jung Ra terkejut dan menoleh ke arah pintu basement. Gadis itu langsung berdiri tegap dengan wajah tegang.

“Bukankah aku menyuruhmu untuk memilih jenis apel yang akan kita gunakan untuk pesanan pelanggan besok? Bagaimana bisa kau seenaknya tidur seperti itu di sini?” tanya Donghae dengan geram.

“Itu….aku….. “ Jung Ra yang awalnya ingin membalas ucapan Donghae akhirnya hanya bisa mengalah. Ia sudah tidak punya tenaga lagi bila harus meladeni sikap kasar lak-laki itu padanya. Energinya sudah habis terkuras untuk ‘berbaur’ dengan apel-apel muda yang sejak dua jam tadi belum bisa ia selesaikan.

Ya. Dua jam yang lalu Donghae menyuruhnya turun ke basement toko untuk memilih apel-apel yang akan digunakan sebagai isi paket buah pesanan pelanggan bernama Lee Shin Ho. Jung Ra kira mungkin hanya ada dua atau tiga karung apel yang ada di dalam ruangan bersuhu sejuk itu, ternyata dugaannya salah total. Ia dibuat melongo ketika mendapati ada lebih dari dua puluh karung besar yang penuh dengan buah berwarna hijau itu. Dan bodohnya lagi, Jung Ra justru membunuh dirinya secara perlahan dengan cara mengeluarkan semua isi karung-karung itu ke atas lantai dingin.

“Aku hanya menyuruhmu untuk memilih buah apel yang muda dan memasukkannya ke peti yang ada di dekat lemari pendingin, bukannya meratakan semua isi karung ke lantai seperti ini! Kau ini tuli ya?” bentak Donghae yang tidak habis pikir dengan Jung Ra.

“Aku…. Aiiishh…Donghae-ssi, bisakah kau menunda marah-marahmu untuk besok saja? Aku sudah cukup lelah untuk mendengarkan semua bentakanmu. Kau tidak lihat mataku seperti ini? Ini tandanya…..”

“Keluar,” potong Donghae yang membuat Jung Ra langsung berhenti berbicara seketika.

“Apa?”

“Kau tidak dengar? Aku menyuruhmu keluar.” Nada suara Donghae terdengar pelan walaupun efek dingin khas Donghae tidak kurang sepersen pun.

“Keluar? Kau memecatku?” selidik Jung Ra.

Donghae menghela napas kasar sambil menundukkan kepalanya, kemudian kembali memandang Jung Ra dengan tatapan yang lebih dingin dari sebelumnya.

“Aku bisa saja memecatmu malam ini juga. Tapi karena aku harus mengutamakan pesanan pelangganku, aku harus menahan keinginan itu untuk satu minggu ini,” desis Donghae.

Mata Jung Ra yang sudah merah karena mengantuk mengerjap-ngerjap pelan. Tatapan Donghae berhasil membuat bulu kuduknya merinding. Katakan saja…….. seakan Jung Ra sedang berhadapan dengan iblis yang begitu mengerikan.

“Keluar dan pulanglah,” suruh Donghae sambil memungut salah satu karung apel yang ada di dekat kakinya.

Tanpa menunggu perintah kedua Donghae, Jung Ra langsung melesat keluar dari ruang bawah tanah itu dengan berlari kecil. Buru-buru ia masuk ke dalam toko dan menyambar tasnya yang tergeletak di atas meja sudut.

“Aku masih tidak percaya bekerja pada orang mengerikan seperti itu,” gumam Jung Ra yang berdiri di depan toko sebelum akhirnya melangkah pergi, menjauh dari tempat itu.

***

Jarak toko Donghae dengan apartemen yang Jung Ra tempati tidak terlalu jauh. Sebenarnya tadi masih ada satu bus terakhir yang berhenti di depan halte, hanya saja Jung Ra lebih memilih untuk menghemat uangnya mengingat ada kebutuhan lain yang lebih penting dibanding menaiki bus itu.

Kalau dibilang tidak punya harga diri, Jung Ra mengakui dirinya sudah kehilangan harga dirinya semenjak memutuskan untuk bekerja di toko milik Donghae. Sebenarnya ia tidak mau dan tidak akan pernah mau bekerja pada laki-laki itu. Hanya saja saat ini ia memang benar-benar membutuhkan uang. Selain untuk membayar uang sewa apartemennya, Jung Ra juga harus memberikan sebagian penghasilannya pada ibunya. Kalau sudah begitu, Jung Ra pun rela kehilangan harga diri seperti saat ini daripada melihat ibunya yang bekerja keras di luar pengawasannya.

Jung Ra menaiki tangga pada bangunan apartemennya. Kepalanya mendongak menatap anak tangga yang entah kenapa terlihat begitu banyak, tidak seperti biasanya. Baru dua anak tangga yang dilaluinya, Jung Ra pun menghentikan langkahnya. Gadis itu memutar tubuh dan memilih untuk mendaratkan pantatnya di salah satu anak tangga yang ada di belakang tubuhnya.

Dihelanya napas dengan panjang sambil meluruskan kakinya yang terasa begitu berat. Semua bagian tubuhnya berdenyut nyeri karena saking lelahnya Jung Ra bekerja. Entah kenapa Jung Ra merasa pekerjaannya kali ini ratusan kali lipat lebih berat dari pekerjaan-pekerjaan yang sebelumnya ia jalani.

Mengangkat karung berisi ratusan buah, menarik peti besar yang berisi es batu, menata buah nanas di mana tangannya sering terluka karena tanpa sengaja terkena bagian luar buah nanas yang lumayan tajam, dan mengangkat puluhan kardus berukuran sedang yang tentunya juga berisi buah pesanan Donghae. Itu semua mungkin sebagian kecil pekerjaan yang harus Jung Ra jalani selama dua hari ini di toko itu.

Kadang Jung Ra berpikir, apakah memang itu semua yang dikerjakan orang-orang yang bekerja di toko buah. Kenapa rasanya seperti melakukan kerja paksa di jaman penjajahan? Atau Donghae memang sengaja memperlakukannya seperti pekerja paksa mengingat laki-laki itu sangat membencinya? Tidakkah Donghae menyadari bahwa Jung Ra bukanlah seorang pria yang bisa dengan mudah melakukan pekerjaan kasar seperti itu? Semua pertanyaan itu sering melintas di benak Jung Ra.

“Hanya satu minggu, Go Jung Ra. Setelah itu kau bisa mencari pekerjaan lain,” gumam Jung Ra sambil menepuk-nepuk pelan lengan tangan kirinya yang terasa pegal.

“Eoh? Jung Ra-ssi?”

Kepala Jung Ra seketika mendongak ke arah suara yang memanggilnya. Dilihatnya sosok Hyukjae sedang berdiri di depannya. Sepertinya laki-laki itu akan menaiki tangga, tapi terpaksa berhenti karena jalannya dihalangi Jung Ra yang seenaknya duduk di tengah-tengah anak tangga.

“Hai…..” Hanya itu sapaan yang dilontarkan Jung Ra dengan nada suara yang cukup lemah. Perlahan ia menggeser tubuhnya ke samping, memberikan jalan untuk Hyukjae. “Maaf, sudah menghalangi jalanmu,” tambah Jung Ra.

Melihat ekspresi lelah dari Jung Ra membuat Hyukjae mengurungkan niatnya untuk naik ke lantai dua tempat apartemennya berada. Laki-laki itu justru memilih duduk di samping Jung Ra sambil melepaskan jas hitamnya dan menanggalkan dua kancing kemeja bagian atasnya yang sejak siang tadi terasa begitu mencekik lehernya.

“Kenapa wajahmu menyeramkan seperti itu? Apa kau baru saja…… berkelahi dengan preman? Atau…” Hyukjae tak jadi melanjutkan pertanyaannya saat menyadari raut wajah Jung Ra semakin suntuk.

“Apa yang terjadi? Bukankah kita sudah berteman? Jadi tidak ada salahnya ‘kan, kalau kau bercerita padaku?” ujar Hyukjae lembut. Tanpa sengaja mata Hyukjae memandang tangan Jung Ra yang dihiasi beberapa luka baret tipis berwarna merah kehitaman. Buru-buru diraihnya tangan Jung Ra.

Yaa, Jung Ra-ssi, kenapa tanganmu bisa sampai seperti ini?” tanya Hyukjae yang semakin terkejut saat mendapati permukaan telapak tangan Jung Ra yang begitu kasar dan kotor.

Bukannya menjawab, Jung Ra justru mendesah pelan dan semakin menundukkan kepalanya semakin dalam.

“Jung Ra-ssi,” panggil Hyukjae.

Kepala Jung Ra terangkat. Desahan pelan kembali keluar dari bibir gadis itu.

“Bukankah aku pernah bilang padamu kalau bosku itu termasuk jenis manusia yang gila dan tidak punya perasaan?” sergah Jung Ra sambi menarik tangannya dari genggam Hyukjae dengan pelan.

“Apa? Bagaimana bisa dia memperlakukanmu seperti itu? Ani… maksudku…. Bagaimana bisa dia memperlakukan seorang gadis seperti itu?” cecar Hyukjae.

Jung Ra tertawa pelan sambil merapikan rambut bagian atasnya yang sedikit berantakan. “Sebut saja…….. bosku itu mempunyai penyakit ‘sepertinya-aku-tidak-bisa-membedakan-mana-perempuan-mana-laki-laki’. Toh juga aku hanya bekerja di sana sampai satu minggu ke depan. Jadi setelah satu minggu itu berakhir, aku bisa mencari pekerjaan lain yang lebih pantas. Aku benar, kan?” Jung Ra menoleh ke arah Hyukjae. Mencoba mencari dukungan atas apa yang baru saja ia katakan.

Senyum simpul tersungging di bibir Hyukjae sambil menjentikkan jarinya di depan wajah Jung Ra. “Aku berada di pihakmu. Aku tahu kau bisa mengalahkan bosmu itu karena kau adalah gadis yang kuat. Haaaah… tidak sia-sia aku menganggapmu seperti itu karena kenyataannya kau memang begitu. Gadis yang kuat.”

Mendengar ucapan Hyukjae, pipi Jung Ra mendadak memerah seketika. Buru-buru ia mengalihkan pandangannya dan menutupi wajah bagian sampingnya dengan rambut panjangnya. Jantungnya berdetak dengan kecepatan aneh tanpa sebab. Rasanya ada berbagai macam jenis kembang api yang meletup-letup di dalam sana hingga membuat Jung Ra merinding.

“Kau kenapa?” tanya Hyukjae yang bingung melihat tingkah Jung Ra.

“A-apa? Eoh…. a-aniyo. Aku….. aku hanya….. “ Mata Jung Ra bergerak tidak tentu. Gadis itu berusaha mencari jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan Hyukjae. Tidak mungkin ia mengatakan bahwa ia begitu tersanjung atas ucapan Hyukjae. Tidak mungkin seperti itu. Tetapi… entah kenapa Jung Ra begitu kesulitan merangkai huruf-huruf yang berceceran di otaknya agar bisa membentuk sebuah kalimat lain.

Hyukjae, laki-laki berhidung mancung itu hanya terkekeh melihat tingkah Jung Ra yang semakin tidak jelas. Beberapa saat kemudian Hyukjae bangkit dari duduknya setelah melirik jam tangannya.

“Aku harus masuk ke dalam dulu. kau tidak apa-apa di sini sendirian?” tanya Hyukjae sambil menundukkan kepalanya memandang Jung Ra.

“Aku masih ingin di sini untuk beberapa menit lagi,” jawab Jung Ra.

“Jangan terlalu lama di luar. Ini sudah sangat malam. Aku tidak mau melihat tetanggaku sakit hanya karena menghabiskan malamnya di tangga apartemen untuk meratapi nasib dan menyumpahi bos gilanya,” ucap Hyukjae yang langsung ditanggapi Jung Ra dengan tawa kecil.

Kepala Jung Ra kembali bersandar di dinding tangga setelah mendengar pintu apartemen Hyukjae tertutup. Gadis itu menghela napas panjang sambil kembali memejamkan matanya.

Apa yang dikatakan Hyukjae mungkin benar adanya. Jung Ra yakin ia bisa mengalahkan Donghae karena ia adalah gadis yang kuat. Walaupun begitu tetap saja kata-kata kasar yang keluar dari bibir laki-laki itu yang ditujukan padanya seringkali membuatnya kehilangan kendali.

“Sebenarnya dia itu manusia bukan sich?” desis Jung Ra yang masih memejamkan matanya.

Telinganya menangkap sebuah suara musik dan langkah seseorang. Perlahan matanya terbuka ketika ia mengenali lagu itu. Lagu itu berlirik bahasa Jepang.

“Kiroro?” gumam Jung Ra saat mengenali milik siapa lagu itu.

Langkah kaki itu semakin mendekat ke arah tangga apartemen ketika Jung Ra masih berkutat dengan benaknya sendiri yang mengingat-ingat judul lagu apa itu.

Donghae muncul di depan tangga dan sedikit terkejut melihat ada seorang gadis yang duduk dengan posisi menyedihkan di salah satu anak tangga. Buru-buru ia mengecilkan volume lagu yang sedang ia putar di ponselnya.

“Kenapa tidak masuk?” tanya Donghae dingin.

“Haaaah…. Kalau kau tidak berniat bertanya, lebih baik diam dan masuk saja ke apartemenmu. Kau tidak mau kan mengalami hal sial bila berlama-lama bertemu denganku? Toh kau juga bukan suami atau ayahku, jadi tidak perlu bertanya seperti itu,” omel Jung Ra pelan yang masih kesal karena Donghae melempar buah apel ke kepalanya. Kalau saja buah itu seperti bantal, mungkin Jung Ra tidak akan sekesal ini. Hanya saja pada kenyataannya, tidak ada buah yang empuk seperti bantal.

Tanpa Jung Ra duga, tiba-tiba tangannya ditarik oleh Donghae hingga ia terpaksa berdiri. Belum sempat Jung Ra mengelak, Donghae sudah lebih dulu menaiki anak tangga dengan tetap menarik tangan Jung Ra.

YAA!” teriak Jung Ra saat Donghae berhasil membawanya ke depan pintu apartemen miliknya. Gadis itu memegang pergelangan tangannya yang terasa sakit. Sebenarnya bukan karena Donghae terlalu kencang menggenggam pergelangan tangannya, hanya saja bagian itu sudah sakit sejak sehari yang lalu karena terkilir ketika mengangkat kardus berisi buah semangka.

“Sebelum aku mengatakan apa yang akan kukatakan sekarang, sebaiknya kau jangan merasa besar kepala karena aku sama sekali tidak seperti yang kau pikirkan,” ucap Donghae datar seraya mengambil napas dan membuangnya dengan kasar.

Jung Ra menatap Donghae dengan kedua alis terpaut. Sama sekali tidak mengerti arah perkataan Donghae.

“Ini sudah hampir jam dua belas malam. Aku mau kau segera tidur dan tidak melakukan hal-hal aneh lainnya karena besok pagi kita harus bekerja keras.” Hanya itu yang Donghae ucapkan sebelum berjalan meninggalkan Jung Ra dan masuk ke dalam apartemennya yang ada di sisi kiri apartemen Jung Ra.

“Apa susahnya bilang ‘Selamat malam, Jung Ra-ssi.’? Eiiiiisshhh…. Dasar gengsi,” gerutu Jung Ra sambil mengambil kunci apartemennya.

***

=Next day, 05.00 am=

DOK! DOK! DOK!

Jung Ra yang sedang terlelap di bawah selimut tebalnya langsung bangun seketika saat mendengar suara pintu digedor oleh seseorang.

“Berisik sekali,” keluh Jung Ra yang berniat kembali merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Tetapi, lagi-lagi suara gedoran pintu yang cukup keras membuatnya mau tidak mau membuka matanya lebar-lebar.

“Haaaah…. Siapa yang membuat keributan pagi-pagi? Apa dia tidak tahu ini masih jam lima pagi?” gerutu Jung Ra sambil turun dari tempat tidurnya dan menyambar cardigan tipis berwarna putih miliknya yang ada di atas meja.

Sambil berjalan dengan hentakan kaki yang cukup kencang, Jung Ra mengenakan cardigannya. Tangannya terulur memutar knop pintu apartemen sederhananya yang masih saja digedor oleh seseorang.

Belum sempat Jung Ra membuka pintu itu secara penuh, tiba-tiba sebuah tangan menarik pintu itu hingga terbuka dengan sendirinya. Otomatis Jung Ra langsung memekik karena terkejut.

“D-Donghae-ssi?!” pekik Jung Ra yang terkejut melihat Donghae sudah berdiri di depan pintu apartemennya. Jiwa Jung Ra yang sebelumnya belum terkumpul semua kini mendadak langsung terjaga seketika.

Donghae, tanpa memberi kesempatan bagi Jung Ra untuk sekedar berpikir bagaimana bisa dia ada di depan pintu apartemennya, langsung menarik Jung Ra keluar dari apartemen sederhana itu dan menutup pintunya.

Yaa, kenapa kau menarikku seperti ini?! Kita mau ke mana?! Donghae-ssi!” Jung Ra berusaha melepas genggaman tangan Donghae pada tangannya yang begitu erat. Tetapi sekuat apapun usaha Jung Ra untuk lepas dari Donghae, tetap saja kalah. Selain Donghae adalah laki-laki, Jung Ra juga belum sepenuhnya mempunyai energi besar pagi ini.

Di lain sisi, Donghae memang sedang tidak mau menjawab pertanyaan Jung Ra yang cukup memekakkan telinganya. Dibukanya pintu mobil pick up berwarna biru yang ia parkir di dekat bangunan apartemen dan memasukkan gadis itu begitu saja ke dalam. Setelah menutup pintu mobil dengan kencang dan memastikan Jung Ra tidak akan bisa keluar, Donghae pun masuk ke dalam mobil dari pintu di dekat kemudi.

“Kita mau ke mana?” Jung Ra masih terus bertanya pada Donghae hingga mau tidak mau Donghae pun menghentikan ocehan Jung Ra dengan menekan klakson mobil. Sontak Jung Ra langsung diam membeku.

“Aku sedang tidak berminat untuk berbicara padamu pagi ini. Jadi diam saja sampai kita sampai di tempat tujuan. Mengerti?” ucap Donghae.

“Apa kau mau menculikku? Waaah… daebak…,” sergah Jung Ra.

Donghae memutar kedua bola matanya jengah.

“Tidak ada yang bisa kubanggakan bila harus menculik gadis sepertimu,” gumam Donghae dengan sangat pelan hingga Jung Ra sendiri tidak bisa mendengar apa yang baru saja ia gumamkan. Langsung ditancap gas mobil pick up miliknya dan perlahan melaju meninggalkan depan bangunan apartemen sederhana itu.

Pagi ini Dongahe memang sengaja memaksa Jung Ra untuk pergi bersamanya karena ia harus mengambil jeruk pesanannya sendiri ke tempat pemasok jeruk langganan yang jaraknya cukup jauh dari Seoul. Sebenarnya ia ingin mengajak Ryeowook. Tetapi entah kenapa karyawan laki-lakinya itu mendadak menolak dengan alasan ada rombongan anak sekolah yang akan membeli buah apel pagi ini ke toko. Tidak mungkin Donghae akan pergi ke sana sendirian mengingat karung yang akan ia bawa begitu banyak.

.

.

.

Setengah jam kemudian Donghae dan Jung Ra sampai di tempat pemasok buah-buahan langganan tokonya. Tepat di dekat truk yang berisi banyak buah-buahan itu Donghae mematikan mesin mobilnya dan berniat untuk keluar dari mobil. Namun, belum sempat ia menyentuh pintu mobil yang ada di samping tubuhnya, Donghae mendengar suara dengkuran halus yang berasal dari sisi kanannya.

Donghae terpaksa mendengus kesal ketika mendapati Jung Ra yang tertidur dengan pulasnya di atas jok. Donghae tidak habis pikir, bagaimana bisa gadis itu tertidur dengan damainya sedangkan mereka harus segera mengambil pesanan buah jeruk agar tidak didahului oleh pembeli lain.

“Jung Ra-ssi,” panggil Donghae.

Gadis itu tak bergerak untuk merespon panggilan Donghae.

“Go Jung Ra!” Nada suara Donghae lebih tinggi dari sebelumnya. Tetapi tetap saja Jung Ra tak bangun.

Karena kesal akhirnya mau tidak mau Donghae kembali membunyikan klakson mobilnya. Spontan Jung Ra langsung terperanjat dan bangun saat mendengar bunyi nyaring yang cukup memekakkan telinganya.

“Kau ini kenapa sich?!” gerutu Jung Ra yang harus mengatur kembali detak jantungnya karena terkejut.

“Aku hanya ingin membangunkanmu,” jawab Donghae ringan sambil menyambar topi hitamnya yang ada di jok belakang.

“Kau bilang ingin membangunkanku? Yaa, Donghae-ssi, apa kau tidak pernah mengenal istilah bersikap sopan dan manis pada perempuan? Kau bilang tadi itu cara membangunkanku? Sudah menggedor pintu apartemenku seperti orang gila pagi-pagi, memaksaku ikut denganmu ke tempat yang tidak kukenal seperti ini…..” ujar Jung Ra geram.

Donghae tertawa sinis, seakan tidak terpengaruh dengan ucapan Jung Ra. “Cih…. Bukankah kemarin malam aku sudah mengatakannya padamu bahwa pagi ini kita akan kerja keras? Dasar otak lambat. Cepat turun!”

Donghae mengenakan jaket hitamnya setelah menutup pintu mobil. Tidak lama kemudian Jung Ra pun menyusul Donghae keluar dari mobil. Berulangkali gadis itu menarik bagian depan cardigan tipisnya agar lebih erat menutupi tubuh bagian atasnya yang cukup kedinginan mengingat pagi ini masih menunjukkan pukul setengah enam. Udara dingin pagi hari berulangkali menerpa kulit putih Jung Ra.

Paling tidak dia seharusnya kan menungguku untuk ganti pakaian dulu. Bagaimana bisa dia membiarkanku masih memakai pakaian seperti ini? — keluh Jung Ra dalam hati sambil mengamati pakaiannya sendiri. Celana training berwarna gelap, T-shirt polos berwarna putih dengan hiasan gambar Pororo di bagian dada dan hanya dilapisi dengan cardigan tipis, juga sepasang sandal yang membungkus sebagian kakinya. Sungguh penampilan yang bisa dibilang sama sekali tidak pantas untuk mengawali hari yang terlalu pagi seperti ini.

“Dia benar-benar bukan manusia,” gumam Jung Ra pelan sambil menyusul Donghae yang lebih dulu masuk ke dalam pasar. Bahkan ia kesulitan untuk mendekatkan jaraknya dengan Donghae yang cukup jauh darinya.

Jung Ra bisa saja berlari kecil mendekati Donghae, tapi tiap ia mempercepat langkah kakinya, angin pagi yang menerpa kulitnya terasa semakin kencang. Maka dari itu Jung Ra memilih berjalan pelan sambil mengusap-ngusap kedua telapak tangannya untuk mengurangi rasa dingin.

Mendadak Jung Ra berhenti takkala di depannya sudah berdiri Donghae yang tak tahu sejak kapan laki-laki itu menghampirinya. Tatapan mata Donghae sangat sulit Jung Ra artikan. Belum sempat ia bertanya tiba-tiba sesuatu menutupi wajahnya. Tangannya terangkat meraih benda yang kini ada di wajahnya itu.

Sebuah jaket hitam.

“Pakai dan cepat ikuti aku. Jeruk pesananku sudah disiapkan. Kita harus segera membawa semuanya,” ucap Donghae seraya memutar tubuhnya membelakangi Jung Ra dan kembali berjalan. Meninggalkan Jung Ra yang menatapnya begitu heran.

.

.

“Ini kardus yang terakhir, kan?” tanya Jung Ra di sela-sela napas tidak teraturnya sambil meletakkan kardus berisi jeruk ke box mobil. Gadis itu langsung terduduk di tepi box sambil menyisir poni rambutnya ke atas, memperlihatkan keningnya yang berkeringat.

“Seharusnya ini sudah selesai setengah jam yang lalu. Tapi karena dirimu, aku harus berada di sini lebih dari dari dua jam. Kau tidak sadar kita ini sedang diburu waktu?” Jawaban Donghae melenceng jauh dari pertanyaan Jung Ra. Laki-laki bertopi hitam itu justru kembali menyalahkan Jung Ra yang begitu lamban membawa kardus-kardus itu ke mobil pick up yang diparkir di depan pasar.

Mwo? Apa kau juga tidak sadar kalau aku ini seorang perempuan? Mana mungkin aku bisa dengan cepat mengangkat kardus-kardus yang beratnya minta ampun itu? Aku harap kau masih ingat aku ini seorang perempuan, Bos,” timpal Jung Ra ketus.

“Mereka juga perempuan,” balas Donghae tak kalah ketusnya sambil menunjuk beberapa wanita bertubuh besar yang membawa karung sambil berlari kecil memasuki pasar. Wanita-wanita itu terlihat tidak terbebani dengan karung-karung yang berisi buah semangka.

Melihat bibir Jung Ra yang langsung terkatup, Donghae langsung mendengus pelan sambil menyunggingkan smirk tipisnya. Diketuk-ketuknya box mobilnya agar gadis itu menyingkir dari tepi box itu agar ia bisa menutupnya.

Tak ada suara dari mereka berdua saat keduanya sudah berada di dalam mobil. Jung Ra masih mempertahankan wajah kusutnya karena merasa kalah telak berdebat dengan Donghae. Sedangkan Donghae tidak mau ambil pusing melihat tingkah Jung Ra. Langsung dinyalakannya mesin mobil dan bersiap untuk melajukannya.

Mendadak Donghae dan Jung Ra dibut terkesiap saat mendengar suara aneh yang begitu familiar di telinga mereka. Suara orang kelaparan. Dengan cepat Donghae menoleh ke arah Jung Ra yang baru saja berdehem pelan.

Menyadari dirinya sedang diperhatikan, Jung Ra berpura-pura bersikap normal, seakan tidak terjadi sesuatu yang besar.

Wae? Kau tidak pernah mendengar suara perut orang keroncongan karena lapar?” sindir Jung Ra sambil melirik ketus ke arah Donghae.

Donghae hanya mengalihkan pandangannya ke depan sambil memegang kemudi mobilnya.

“Wajar ‘kan, bila aku kelaparan seperti ini? Kau pikir rasanya akan nyaman bila tiba-tiba kau ditarik paksa keluar dari apartemenmu oleh orang gila hanya dengan memakai pakaian tidur seperti ini, kedinginan karena tidak sempat memakai jaket dan bahkan sama sekali belum makan sejak kemarin malam?” omel Jung Ra tanpa memandang Donghae. Apa yang baru saja diucapkan Jung Ra memang benar adanya. Gadis itu memang belum memasukkan apapun ke dalam perutnya gara-gara dikurung Donghae di ruang bawah tanah toko selama lebih dari tiga jam.

Sejenak Donghae terkesiap mendengar ocehan Jung Ra. Matanya berhenti berkedip memandang kemudinya. Sesaat setelah berpikir sesuatu, laki-laki itu menancap gas mobil pick up-nya, meninggalkan area halaman pasar.

=An Hour Later=

Donghae dibuat terperangah dengan Jung Ra yang sudah melahap satu porsi ramyun dalam waktu yang sangat singkat. Padahal milik Donghae sendiri baru habis setengah bagiannya.

“Aku masih lapar…..,” gumam Jung Ra pelan yang ternyata berhasil terdengar oleh telinga Donghae.

Tangan Donghae terangkat untuk memanggil pelayan kedai ramyun yang kebetulan melintas di dekat mejanya. Ia meminta satu porsi ramyun lagi pada pelayan itu. Sontak Jung Ra yang baru saja meletakkan sumpitnya ke atas meja langsung menatap heran ke arah Donghae.

Tidak berapa lama pesanan pun datang. Setelah pelayan tersebut pergi, Donghae menggeser mangkuk besar berisi ramyun yang masih panas ke depan Jung Ra. Jung Ra kembali memandang heran.

“Hanya satu porsi. Kalau kau berniat untuk tambah, lebih baik kau bayar sendiri makananmu,” ujar Donghae saat melihat Jung Ra menunjuk makanan itu dengan telunjuknya. “Cepat habiskan. Kita harus segera kembali ke toko. Ryeowook sendirian di sana,” tambahnya sambil kembali melahap ramyunnya.

Saat ini bukan saatnya bagi Jung Ra merasa heran melihat laki-laki tampan di hadapannya itu bersikap sedikit “manusiawi” padanya. Maka dari itu, Jung Ra memilih untuk langsung menyantap ramyun pemberian Donghae.

Karena sedikit tidak nyaman memakai jaket Donghae yang cukup besar, akhirnya Jung Ra melepasnya. Toh kini hawanya tidak sedingin pagi tadi. Diletakkannya jaket hitam itu ke kursi kosong yang ada di sisi kanannya. Jung Ra lantas menyingsingkan kedua lengan cardigannya ke atas agar ia bisa sedikit leluasa untuk melahap makanan itu.

Tanpa sengaja Donghae melihat pergelangan tangan yang berhias beberapa luka baret yang berwarna merah kehitaman, begitu juga dengan sekitar tangan gadis itu yang terlihat ada luka yang sama yang sepertinya sudah mongering.

Mata Donghae bergerak memandang Jung Ra yang sejak tadi menundukkan kepalanya menikmati ramyun panas. Apakah luka-luka tersebut karena dirinya terlalu keras menyuruh Jung Ra?

***

Hyukjae baru saja keluar dari apotik sambil menenteng kantong kecil berisi krim pengurang rasa nyeri dan beberapa plester. Dilemparnya kantong itu ke jok kosong yang ada di samping kemudinya. Sesaat setelah ia menyalakan mesin mobil, ponselnya berdering. Ada satu pesan yang masuk.

From : Aboji → Temui aku di tempat biasa

Laki-laki berjas abu-abu itu hanya mendesah pelan sebelum akhirnya melajukan mobilnya meninggalkan apotik. Ekspresi wajahnya selama perjalanan menuju tempat yang dimaksud ayahnya sudah tak lagi terlihat ceria.

Tidak berapa lama, ia sudah tiba di depan sebuah restoran bergaya Eropa yang terlihat begitu mewah. Matanya melirik sebentar ke arah kantong hitam yang ada di atas jok. Sambil menggelengkan kepala, akhirnya Hyukjae pun keluar dari mobil.

Seorang pelayan restoran menyongsong kedatangannya yang baru mencapai ambang pintu kaca berukuran besar. Perlakuan seperti ini bukanlah pertama kali baginya mengingat tempat megah ini adalah milik ayahnya sendiri.

“Aku sudah datang,” ucap Hyukjae sambil membungkukkan tubuhnya sebentar di depan Presdir Lee yang sudah ada di salah satu meja pengunjung.

Predir Lee hanya menggerakkan tangannya untuk menyuruh Hyukjae duduk.

“Pulanglah ke rumah besok. Kau tidak lupa ‘kan?” Presdir mengawali pembicaraan ketika Hyukjae baru saja mendaratkan tubuhnya ke atas kursi yang cukup empuk dengan bentuk yang begitu mahal.

Hyukjae tak menjawab. Ia hanya memandang kedua tangannya yang ia letakkan di kedua pahanya.

“Peringatan Kematian Ibumu……. Jadi kau harus pulang.” Presdir mengangkat cangkir berwarna putih gading yang berisi kopi hitam pekat, lalu menyesapnya sedikit. Sepasang mata pria yang sudah dihiasi banyak keriput di setiap sudutnya itu lantas memandang Hyukjae setelah meletakkan kembali cangkir kopi ke atas meja.

“Hyukjae­-ya,” panggil Presdir Lee.

“Tapi dia bukan ibuku,” ucap Hyukjae tiba-tiba tanpa mengalihkan kedua matanya dari bawah meja.

“Apa maksudmu?”

Hyukjae menyunggingkan senyuman miris di bibirnya seraya menegakkan kepalanya untuk membalas tatapan ayahnya. Mencoba tak lagi terpengaruh oleh tatapan khas ayahnya yang selalu berhasil membuatnya takluk.

“Ada seseorang di luar sana yang seharusnya kau suruh pulang ke rumah juga karena dia adalah satu-satunya anak yang dilahirkan dari rahim ibu. Apa Aboji lupa itu?” ucap Hyukjae.

Walaupun tak ada respon dari ayahnya, tentu Hyukjae sudah tahu kalau pria yang ada di hadapannya itu sangat mengerti apa yang baru saja ia ucapkan.

“Kau mau memulai lagi?” tanya Presdir Lee dengan nada dingin.

Beberapa saat Hyukjae hanya memandang Presdir Lee hingga akhirnya ia mengeluarkan kata-kata yang sudah sejak sepuluh tahun lalu ingin ia katakan.

“Karena dia adalah adikku.”

Jemari Presdir Lee yang berulangkali meremas pegangan cangkir mendadak berhenti seketika.

“Dia bukan adikmu. Adikmu sudah meninggal saat usianya delapan tahun,” balas Presdir Lee tanpa mengurangi nada bicaranya yang begitu dingin pada Hyukjae.

Deg!

Jantung Hyukjae serasa ditusuk ribuan pisau tak kasat mata dalam waktu kurang dari dua detik. Tangannya yang ada di atas pahanya mengepal dengan erat. Pandangannya mulai mengabur takkala gumpalan air mata mulai menghiasi kedua matanya.

“Kau hanya mempunyai satu orang adik bernama Lee Hyuk Shin yang meninggal karena kelainan jantung saat usianya delapan tahun. Dan orang yang kau sebut sebagai adikmu itu….” Presdir menggelengkan kepalanya pelan. “….Dia bukan adikmu. Dia tak memiliki darah yang sama denganku. Apalagi denganmu, Hyukjae-ya. Jadi berhentilah menganggapnya sebagai adikmu. Orang yang kau sebut adik itu sudah berani menyelakai wanita yang Aboji cintai. Dia merenggut nyawa seorang wanita yang sudah membuat Aboji mau merelakan kematian Ibumu. Aboji mencintai wanita itu. Dan dia, anak itu sudah berani…..”

“Itu semua tidak benar, Aboji!” Nada bicara Hyukjae seketika meninggi takkala mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Presdir Lee. Air matanya yang sedari tadi menggenang di pelupuk mata akhirnya jatuh juga. Entah kenapa nafasnya sudah tidak teratur walau hanya mengucapkan lima kata itu.

“Lee Hyuk Shin memang adikku! Lee Donghae pun juga adikku! Walau dia tak sedarah denganku, dia tetap adikku, Presdir Lee! Apakah hanya karena dia melakukan kesalahan kecil, jadi Aboji menghukumnya seperti ini? Bukankah itu sama saja dengan memisahkan dirinya dari ibunya?”

Dengan sekali gerakan, Presdir Lee meraih cangkir kopinya dan menyiramkan isinya tepat ke wajah Hyukjae. Kedua mata pria itu memelototi putranya dengan menahan emosi yang membuncah di dalam dirinya.

“Kuanggap ini sebagai jawaban bahwa Aboji membenarkan semua yang kukatakan tadi,” ucap Hyukjae seraya mengambil sapu tangan di sakunya dan menyeka sendiri wajahnya yang terkena kopi.

Sejenak Hyukjae tertawa pelan sambil melipat kembali sapu tangan kotornya menjadi lebih kecil dan meletakkannya di atas meja.

“Menyedihkan sekali bila harus membayangkan bagaimana dia begitu hormat pada Aboji, benar-benar menganggap Aboji sebagai Ayahnya sendiri. Tetapi, apa yang sudah Aboji lakukan padanya seperti mendorongnya ke dalam jurang yang sangat dalam di saat dirinya begitu ketakutan berdiri di bibir jurang.”

Hyukjae beranjak dari duduknya setelah mengucapkan kata-kata itu. Dibungkukkan badannya sebentar pada Presdir Lee sebelum ia berbalik dan melangkahkan kakinya meninggalkan meja tersebut. Meninggalkan ayahnya yang terdiam dengan wajah merah padam.

To be continued

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: