FRUIT LOVE [4/?]

hyuk2_副本

FRUIT LOVE

Chaptered FF

Author : Nita Henny

Cast : Go Jung Ra (OC) – Lee Donghae – Lee Hyukjae

Kim Ryeowook – Kim Youngwoon

Genre : Romance, Family, Brothership

Rating : PG-14

Note :
FF Ini udah pernah kupublish di blogku sendiri. Dulu, udah lama. Dan sekarang aku coba kirim ke sini hehehe.
You can visit my blog === >>> https://imajinasinita.wordpress.com/

Happy reading ~~~~

============================

=Flasback on – 18 Years ago=

Dua orang anak laki-laki saling menatap satu sama lain saat pertama kali bertemu di sebuah restoran mahal. Anak laki-laki bernama Lee Donghae yang mengenakan jaket merah bata memandang polos sambil mengerjap-ngerjapkan mata besarnya. Sedangkan anak laki-laki satunya yang bernama Lee Hyukjae begitu lekat memandang Donghae dengan pandangan yang sulit diartikan.

Donghae yang sedikit ketakutan karena dipandangi Hyukjae dengan begitu intens, perlahan menggeser tubuhnya ke belakang ibunya yang berdiri di sampingnya.

“Donghae-ya, ada apa?” Nyonya Lee Jihyo menundukkan kepalanya ke arah belakang saat merasakan blus bagian belakangnya ditarik oleh tangan kecil putranya.

Donghae hanya menggelengkan kepalanya sambil mendongak memandang ibunya. Melihat putranya yang sepertinya kurang nyaman dengan pertemuan itu, Nyonya Lee akhirnya membungkukkan tubuhnya agar sejajar dengan Donghae.

“Kita akan mempunyai keluarga yang lengkap seperti yang kau impikan, Nak. Bukankah kau bilang ingin mempunyai seorang ayah?” tanya Nyonya Lee sambil menunjuk Tuan Lee Byun Shik yang berdiri di depannya.

Mata besar Donghae bergerak ke atas, ke arah Tuan Lee yang sudah melempar senyum hangat padanya. Sejenak Donghae langsung membungkukkan badan, memberi salam pada Tuan Lee.

“Hahahaha… kau anak yang baik rupanya,” ujar Tuan Lee sambil mengusap puncak kepala Donghae. “Aaaah… Hyukjae-ya, berkenalanlah dengan Donghae. Kalian akan segera menjadi saudara nanti.”

Tuan Lee mendorong tubuh kurus Hyukjae agar maju. Tak lama kemudian tangan Hyukjae terulur untuk meminta jabatan dengan Donghae.

“Namaku Lee Hyukjae,” ucap Hyukjae yang tak juga melepas tatapannya dari kedua mata Donghae.

Walaupun sedikit ragu akhirnya Donghae menerima jabatan tangan dari Hyukjae.

“L-Lee Donghae,” ucapnya dengan sedikit terbata-bata karena Hyukjae sama sekali tak menampakkan ekspresi wajah ramah seperti yang dilakukan Tuan Lee.

Selanjutnya Donghae dan Hyukjae pun duduk di meja yang terpisah dengan orang tua mereka. Hampir sepuluh menit tak ada tanda-tanda salah satu dari dua anak laki-laki itu yang mau membuat topik pembicaraan.

Donghae kecil masih terlihat ketakutan saat duduk di depan Hyukjae yang masih saja memandanginya. Tangannya hanya memainkan spagetti yang sama sekali belum berkurang.

“Donghae-ya.”

Donghae sontak terkejut saat sebuah suara keluar dari bibir Hyukjae.

“N-ne?”

“Berapa usiamu?” tanya Hyukjae.

“Eoh? Mmmmm… sepuluh tahun. W-wae?”

Perlahan sebuah gummy smile yang menjadi ciri khas Hyukjae pun terlihat.

“Ani. Aku hanya ingin bertanya. Berarti usia kita sama, aku juga sepuluh tahun. Kalau ayahku jadi menikahi ibumu, lalu siapa yang menjadi anak sulung?” Hyukjae bertanya pada dirinya sendiri dengan nada yang polos.

Sedikit demi sedikit wajah ketakutan Donghae berangsur memudar takkala melihat senyum Hyukjae. Anak laki-laki bermata besar itu pun ikut tersenyum.

—————————-

“Kita akan tidur di kamar yang sama!” pekik Hyukjae girang sambil membuka pintu kamarnya. Kamar tidurnya yang berwarna biru ternyata sudah dirubah interiornya atas perintah ayahnya. Kini di dalam sana sudah ada dua tempat tidur dengan bentuk dan warna yang sama. Meja belajar pun juga ada dua. Semua kebutuhan mereka sudah ada.

Hyukjae merentangkan tubuh kurusnya dan menghempaskannya begitu saja ke atas tempat tidur milik Donghae sambil menghela napas panjang. Tubuhnya terasa begitu lelah setelah mengikuti semua rangakaian acara pernikahan ayahnya dengan ibu Donghae.

“Eung? Hyukjae-ya, ini foto siapa?” tanya Donghae yang sedari tadi berdiri di dekat meja hias dan perhatiannya tertuju pada sebuah foto yang menampilkan dua orang anak laki-laki di mana ia tahu salah satu dari mereka adalah Hyukjae. Hanya saja keningnya harus berkerut saat tak mengenali siapa anak kecil yang berada di dalam rangkulan Hyukjae.

“Oh, itu?” Hyukjae sudah berdiri di dekat Donghae yang mengangkat foto itu sambil memandanginya. Donghae hanya menganggukkan kepalanya sambil menoleh ke arah Hyukjae, menunggu jawaban dari anak laki-laki itu.

“Namanya Hyuk Shin. Lee Hyuk Shin.” Raut wajah Hyukjae berubah sedih tanpa Donghae ketahui penyebabnya.

“Hyuk Shin?” Donghae kembali memandang foto tersebut. Setelah ia mengamati foto itu, mendadak ia menoleh dengan cepat pada Hyukjae. “Adikmu?”

Walaupun Hyukjae tersenyum, tapi matanya tidak bisa membohongi Donghae. Sepasang mata sipit Hyukjae terlihat berkaca-kaca.

“Hyuk Shin-ie… dia meninggal dua tahun yang lalu karena kelainan jantung. Setelah Eomma meninggal beberapa tahun yang lalu, kukira aku tidak akan kehilangan keluargaku lagi. Tapi ternyata……..”

Air mata Hyukjae membanjiri wajahnya.

“Kalau begitu kau bisa menganggapku sebagai adikmu. Bukankah sekarang kita saudara? Setelah kutanyakan pada Aboji, ternyata usiamu lebih tua tujuh bulan dariku. Jadi aku adalah seorang adik di sini,” ucap Donghae polos sambil tersenyum lebar.

Seketika air mata Hyukjae berhenti mengalir saat melihat senyum lebar Donghae dan tatapan mata Donghae yang begitu penuh. Begitu mirip dengan Hyuk Shin, adik kecilnya.

“Aku juga ingin menjadi adikmu karena selama ini aku adalah anak tunggal. Aku juga ingin merasakan bagaimana rasanya mempunyai seorang kakak. Itu pasti menyenangkan. Bagaimana?”

“Donghae-ya……” Hyukjae terharu mendengar perkataan Donghae.

“Hyuk Shin tetap menjadi adikmu. Tapi yang ada di sini adalah aku, jadi kau juga harus menganggapku adikmu juga karena kita sekarang adalah keluarga,” ucap Donghae.

Hyukjae tertawa kecil sambil menyeka air matanya. Kepalanya mengangguk.

“Baiklah mulai sekarang kau adalah adikku. Walaupun usia kita sama, kau tetap menjadi adikku. Dan juga… bukankah kau seharusnya memanggilku dengan sebutan Hyung?” tanya Hyukjae.

“Tidak mau.” Donghae langsung meletakkan foto Hyuk Shin sambil menjulurkan lidah kecilnya keluar dan berlari ke arah tempat tidur.

“Yaa! Panggil aku Hyung!” ucap Hyukjae sambil menghampiri Donghae.

“Aku tidak mau, Hyukjae-ya!” Donghae tertawa sambil berusaha turun dari tempat tidur, menghindari lemparan bantal-bantal kecil dari Hyukjae, kakak tirinya.

——————————-

“Hyukjae-ya, kau dapat berapa?” Donghae mendaratkan tubuhnya begitu saja ke atas sofa yang diduduki oleh Hyukjae yang sedang mengamati hasil ujian sekolahnya.

Hyukjae tak menjawab. Ia masih sibuk meneliti semua nilai-nilai yang ia dapat tanpa memperdulikan tarikan tangan Donghae di rambut belakangnya.

“Hyukjae-yaaaaaa….,” rengek Donghae yang kesal karena kakaknya itu tak menanggapi pertanyaannya.

“Sebentar…..” Akhirnya Hyukjae menjawab, walaupun sama sekali tak menolehkan kepalanya.

Karena sudah kehabisan kesabaran, akhirnya Donghae merebut kertas-kertas ujian milik Hyukjae. Matanya seketika terbelalak saat melihat berapa nilai-nilai yang didapat Hyukjae.

“Yaa, bagaimana bisa kau mendapat semua nilai B ini?!” pekik Donghae tidak percaya.

“Apa kau tidak sadar kalau kau mempunyai kakak yang pintar?” sindir Hyukjae bangga sambil menaik-turunkan alis matanya.

“Eiisshhh… kenapa kau selalu mengalahkanku tiap tahunnya. Aku tidak mau. Usia kita sudah lima belas tahun, dan selama itu sekalipun aku tidak bisa……”

Belum selesai Donghae menggerutu, Hyukjae langsung menertawainya sambil mengacak-acak rambut hitam Donghae.

“Yaa!” Donghae berusaha melepaskan diri dari Hyukjae yang semakin mengerikan saat mengerjainya.

Suara langkah seseorang menghentikan aksi Hyukjae. Kedua anak laki-laki itu menoleh ke arah pintu rumah yang di sana sudah berdiri ibu mereka.

“Eomonim!”

“Eomma!”

Donghae dan Hyukjae memanggil Nyonya Lee hampir bersamaan.

Melihat kedua putranya seperti itu, Nyonya Lee lantas menghampiri mereka.

“Eomma mau ke mana? Kenapa memakai pakaian seperti itu?” tanya Donghae yang melihat ibunya siang ini mengenakan setelan blouse berwarna gelap yang begitu mahal.

Mata Nyonya Lee beralih pada Hyukjae yang sama penasarannya dengan Donghae.

“Hyukjae-ya, kau tidak lupa ‘kan hari ini hari apa?” tanya Nyonya Lee lembut. Beberapa detik Hyukjae berpikir.

“Aaaahhh… aku hampir lupa. Hari ini Hari Kematian mendiang Eomma.” Hyukjae menepuk dahinya saat baru ingat hari ini adalah hari kematian mendiang ibunya.

“Kalau begitu cepat ganti baju. Kita akan ke makam ibumu,” suruh Nyonya Lee dengan nada yang sangat lembut. “Kau tidak ikut, Donghae-ya?” tanya Nyonya Lee pada Donghae.

Donghae menggelengkan kepalanya. “Apa Aboji ada di ruang kerjanya? Aku mungkin ingin bersamanya. Lebih baik Eomma pergi dengan Hyukjae saja,” ucap Donghae sambil berdiri dan menyambar kertas-kertas ujiannya.

————————–

Donghae yang baru berusia lima belas tahun itu, mendorong pintu ruang kerja Tuan Lee yang terlihat sedikit terbuka. Ayahnya itu ternyata sedang mengerjakan sesuatu di meja kerjanya. Sebuah senyum terukir di bibir Donghae sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang kerja.

Perlahan diletakkannya kertas-kertas itu ke dekat tangan Tuan Lee yang sedang menulis.

“Aboji…. Itu adalah hasil ujianku dan Hyukjae,” ucap Donghae.

Tuan Lee melirik sekilas ke arah tumpukan kertas ujian Donghae dan Hyukjae. Hanya gumaman tidak jelas yang diucapkan pria berkacamata itu pada Donghae tanpa mendongakkan kepalanya untuk sekedar memandang putra tirinya tersebut.

Melihat respon ayahnya, membuat senyum Donghae perlahan memudar. Ia buru-buru membungkukkan badannya sebentar untuk meminta maaf karena mungkin ia baru saja menganggu ayahnya yang kelihatan sedang sibuk.

“Apa…. Aboji… ingin kubuatkan teh ginseng? Kebetulan Eomma……”

“Tidak perlu,” potong Tuan Lee, masih memandang lurus ke arah bukunya yang sedang ia baca.

“Tadi……… Eomma dan Hyukjae baru saja keluar untuk pergi ke makam Eomonim. Kami hampir lupa kalau hari ini adalah hari…”

“Kau bisa keluar sekarang.”

Bibir Donghae seketika terkatup saat ayahnya untuk yang kedua kalinya memotong ucapannya. Akhirnya Donghae pun memutuskan untuk keluar dari ruang kerja ayahnya dengan wajah sedih.

Ini bukan kali pertama bagi Donghae melihat ayahnya seperti itu padanya. Ini sudah terjadi sejak keluarga mereka memperingati hari kematian Lee Hyun Shik, adik Hyukjae untuk tahun ke-tiga.

Sikap Tuan Lee tiba-tiba berubah dingin padanya. Memang ayahnya itu sama sekali tak pernah memarahinya atau memukulnya. Hanya saja Tuan Lee tidak pernah mau sekedar memandang wajahnya bila sedang berbicara. Donghae tidak tahu kenapa. Tapi baginya itu bukanlah sesuatu yang perlu ia khawatirkan karena sampai sekarang pun hubungannya dengan ayah tirinya masih bisa dibilang baik-baik saja walaupun jarang sekali saling berbicara. Itu bisa dibuktikan dengan selalu tepat waktunya ayahnya membelikan hadiah pada ulang tahunnya walaupun sebenarnya ia sama sekali tak meminta semua hadiah tersebut.

“Mungkin Aboji sedang banyak pikiran karena kulihat semakin hari pekerjaannya semakin banyak dan sering pulang malam,”gumam Donghae ketika sudah berada di luar ruang kerja Tuan Lee. Dihelanya napas panjang, seraya melangkahkan kakinya menjauh dari depan pintu berwarna coklat itu.

————————————–

“Hyukjae-ya…,” panggil Donghae sambil menyandarkan tubuhnya pada pintu kaca di dekat balkon kamar Hyukjae. Hyukjae yang sedang duduk di atas kursi di balkon kamarnya hanya menggumam pelan sambil terus membuka halaman majalah yang sedang ada di tangannya.

“Sepertinya ada yang salah di sini,” ucap Donghae sambil menundukkan kepalanya, memainkan jemarinya sendiri.

“Maksudmu, kau sedang protes karena semua nilai ujianmu yang jauh di bawahku minggu lalu?” tanya Hyukjae tanpa mengalihkan matanya dari majalah miliknya.

Donghae menggelengkan kepalanya seraya menegakkan kepalanya dan menyandarkannya juga pada pintu yang ada di belakang tubuhnya. “Bukan itu.”

“Lalu?”

Adik Hyukjae itu mendesah pelan sebelum menjawab pertanyaannya, dan itu membuat Hyukjae terpaksa menutup majalahnya dan melemparnya dengan asal ke atas meja kecil di dekat kursinya. Kepalanya bergerak menoleh ke arah Donghae yang ada di dekat pintu kaca. Keningnya sempat berkerut saat mendapati ekspresi wajah Donghae terlihat begitu sedih.

“Kenapa dengan wajahmu?” Hyukjae melipat kedua tangannya ke depan dada sambil memandang Donghae. “Dan apa maksudmu ucapanmu tadi?”

“Hyukjae-ya, kau yakin aboji menganggapku sebagai anaknya?”

Tentu saja pertanyaan yang dilontarkan Donghae mengejutkan Hyukjae. Sepasang alis mata Hyukjae hampir menyatu saat mendengar ucapan Donghae. “Kau ini sedang menggigau atau salah makan sesuatu? Tentu saja aboji menganggapmu sebagai anaknya.”

“Tapi kenapa ia sama sekali tak pernah mau melihatku saat aku mencoba untuk mengajaknya bicara? Kalau aku tidak salah hitung ini sudah lebih dari ratusan kali dalam dua tahun ini aboji sama sekali tidak mau melihatku,” keluh Donghae, menundukkan kepalanya kembali. Mendadak sesuatu yang keras mendarat ke belakang kepalanya. Spontan Donghae menegakkan kepalanya dan sedikit terkejut saat di depannya kini sudah berdiri Hyukjae yang memasang wajah marah.

“Aboji itu menyayangimu seperti anaknya sendiri! Jadi, jangan pernah berpikiran yang macam-macam! Mengerti apa kata Hyung, ‘kam?” ucap Hyukjae dengan kesal.

Donghae hanya mengangguk pelan sambil menerima rangkulan tangan Hyukjae.

——————————–

Tengah malam Hyukjae keluar menyelinap dari dalam kamarnya karena merasa haus. Sebelum melangkahkan kakinya menuruni tangga, ia sempat membuka pintu kamar Donghae yang ada di sebelah kamarnya. Ternyata Donghae sudah pulas di atas tempat tidur dengan posisi terbalik. Hyukjae hanya menggelengkan kepalanya melihat kebiasaan tidur adiknya yang tak berubah sama sekali.

Dengan sangat hati-hati Hyukjae menutup kembali pintu kamar Donghae dan berjalan pelan menuruni tangga menuju dapur.

Hyukjae menghela napas lega saat ia merasakan aliran air putih yang melewati kerongkongannya. Setelah mengembalikan botol kaca berisi air minum ke dalam lemari pendingin dan menutupnya, sayup-sayup Hyukaje mendengar ayahnya dan ibunya yang sedang berbicara. Suara mereka berasal dari ruang kerja ayahnya yang ada di dekat ruang keluarga.

Hyukjae mendekatkan tubuhnya di depan pintu ruang kerja ayahnya yang sedikit terbuka. Cahaya lampu dari ruangan itu terlihat sedikit menyilaukan mata Hyukjae karena semua lampu di sekitarnya sudah dalam keadaan mati.

“Bisakah kau berhenti bersikap seperti itu pada Donghae?”

Hyukjae cukup terkejut saat mendengar ada nama Donghae di tengah-tengah percakapan orang tuanya. Walau penasaran Hyukjae tetap tidak mau mengintip orang tuanya, ia hanya berusaha menajamkan pendengarannya.

“Bukankah kau sudah menyetujui permintaanku sesaat sebelum aku benar-benar menikahimu?”Kini suara ayahnya yang terdengar.

“Permintaanmu? Maksudmu kau tidak akan pernah mau untuk memandang wajah putraku, begitu?” Suara Nyonya Lee terdengar tercekat.

Entah kenapa jantung Hyukjae berdetak dengan irama yang tak teratur ketika mendengar ibunya yang seakan sedang menahan isak tangis. Ia merasakan sesuatu yang buruk sedang terjadi tanpa sepengatuan dirinya dan Donghae selama ini.

“Aku menikahimu karena aku mencintaimu. Kau pasti sudah tahu hal itu, ‘kan? Kau, Jihyo-ya, kau yang sudah membuatku bisa melupakan kematian ibu Hyukjae. Tapi kematian putra bungsuku…… aku masih belum bisa merelakannya. Dan kenyataan bahwa mata putramu yang begitu mirip dengan Hyuk Shin, senyum putramu, sifat polos putramu……… semuanya mirip dengan Hyuk Shin, itu membuatku tidak bisa melepaskan kepergian Hyuk Shin. Itu membuatku membencinya. Maaf, Jihyo-ya.”

Kini Hyukjae mendengar tangis Nyonya Lee pecah. Kedua tangannya mengepal di kedua sisi tubuhnya. Pandangannya perlahan terasa mengabur dan beberapa detik kemudian sebulir air mata jatuh begitu saja dari pelupuk matanya.

Ia dibuat terkejut saat mendengar derap langkah kaki yang sepertinya berjalan mendekati pintu. Buru-buru ia berlari menaiki tangga ke lantai dua. Kepalanya menoleh ke bawah dan mendapati ayahnya berjalan ke arah tangga.

“Suamiku, ini tidak benar…..” Nyonya Lee mencoba mengejar tangan Presdir Lee.

Hyukjae tak bisa mendengar dengan jelas gumaman ayahnya yang sedang menaiki satu per satu anak tangga, tapi yang jelas wajah ayahnya itu menyiratkan kemarahan. Ia langsung beranjak dari tempatnya.

Awalnya Hyukjae ingin segera masuk ke dalam kamarnya, tetapi saat mendengar ayahnya mengulangi perkataan itu dengan nada yang sedikit keras, akhirnya Hyukjae memilih untuk masuk ke dalam kamar Donghae.

Segera setelah menutup pintu itu dengan hati-hati, tangannya menyambar I-Pod Donghae yang tergeletak di atas meja belajar dan meloncat ke atas tempat tidur.

“Kenapa kau kemari?” Donghae yang tidurnya terusik, menegakkan kepalanya dan memandang Hyukjae dengan mata yang susah dibuka.

“Aku tidak bisa tidur. Kau tidur saja lagi. Kau mau mendengarkan musik pengantar tidur kesukaanmu bersamaku?” Hyukjae sudah memasangkan salah satu earphone ke lubang telinga Donghae.

Donghae hanya menggumam pelan sambil menganggukkan kepalanya dan kembali memejamkan matanya sambil memeluk gulingnya.

Hyukjae dengan cepat menekan tombol “Play” pada I-Pod tersebut dan menambah sedikit volumenya saat mendengar suara ayah dan ibunya mendekat di depan kamar Donghae. Hyukjae baru ingat kalau kamar orang tuanya ada di dekat kamar Donghae, di mana kamar Donghae sendiri adalah bekas kamar Hyuk Shin.

Sambil berjaga-jaga siapa tahu Donghae terbangun, Hyukjae sesekali memandang ke arah daun pintu. Suara kedua orang tuanya sudah terdengar menjauh. Dihelanya napas dengan berat sambil menundukkan kepalanya. Sejenak ia memandang wajah polos Donghae yang tertidur dengan pulas.

Sebuah senyum miris terukir di bibir Hyukjae ketika mengingat ucapan ayahnya. Perlahan ia memasang satu lagi earphone ke lubang telinga Donghae bagian kanan dan sedikit memperkecil volume I-Podnya. Kini lagu kesukaan Donghae yang dinyanyikan oleh Kiroro mengalun dengan pelan di kedua telinga Donghae.

“Kau tetap adikku, Lee Donghae. Apapun yang terjadi,” ucap Hyukjae pelan sebelum beranjak turun dari tempat tidur dan menyelimuti tubuh Donghae.

=Flashback Off=

***

=at Donghae’s Apartment=

Donghae menuangkan soju ke dalam dua buah sloki yang ia letakkan di atas meja makan usangnya. Salah satu dari sloki itu ia geser agar lebih dekat dengan kursi yang ada di hadapannya yang sudah berhias foto berpigura bergambar wanita cantik bermata indah yang tersenyum begitu hangatnya. Sebuah senyuman yang mirip dengan milik Donghae yang sedang ditunjukkan saat ini.

Eomma…… ini sudah sepuluh tahun kan? Apa aku tidak salah hitung? Haaaah… sepertinya memang sudah sepuluh tahun. Bagaimana kabar Eomma?” Donghae berbicara pada foto mendiang ibunya. Diambilnya sloki yang berisi soju dan dihabiskannya dalam sekali teguk.

Cukup lama Donghae memandangi foto tersebut. Hatinya terasa berdenyut tiap ia memandang wajah itu lebih dari sepuluh detik. Ada luka lama yang selalu saja terbuka tanpa seijin Donghae bila menatap wajah damai ibunya yang tersenyum begitu hangat.

Hanya saja kini tidak ada lagi air mata yang keluar dari pelupuk matanya tiap memandang foto ibunya. Bila dulu ia akan mudah sekali membanjiri wajahnya dengan air mata, sekarang berbanding terbalik. Matanya sudah cukup kering bila harus mengeluarkan air mata lagi. Bisa dibilang sudah tidak ada lagi alasan baginya untuk menangisi sesuatu yang sudah menjadi masa lalunya.

“Youngwoon Hyung masih membantuku. Jadi Eomma tenang saja.” Donghae kembali mengulas senyum tipis. Tangannya kembali menuangkan soju ke dalam slokinya. Namun, saat ia akan meminumnya, matanya tanpa sengaja memandang kantong putih berisi krim pengurang rasa nyeri yang ada di tepi meja makannya.

Laki-laki berambut hitam itu mendesah pelan sambil meletakkan kembali slokinya. Ia baru teringat, sore tadi ia sengaja mampir ke apotik di dekat apartemen untuk membeli obat itu.

“Haaah… aku bisa gila….” Donghae mengusap wajahnya kasar.

.

.

.

Sementara itu Jung Ra baru saja keluar dari apartemennya sambil membawa kantong hitam berisi sampah. Gadis itu sengaja menyeretnya dengan perlahan karena malam ini entah kenapa tangannya terasa semakin nyeri. Bahkan lebih sakit dari kemarin.

“Ini hanya sampah, ‘kan?” gumamnya seraya mendorong kantong itu hingga menggelinding tidak beraturan ke arah tangga dan berakhir di dekat tembok bawah sana. Sambil memijat pelan pergelangan tangannya, Jung Ra menuruni anak tangga.

Langkahnya terhenti saat seseorang berjalan mendekati tangga.

Lee Hyukjae.

Awalnya Jung Ra ingin berteriak menyapanya dulu, tapi saat menyadari raut wajah Hyukjae yang tidak seperti biasanya, Jung Ra pun mengurungkan niatnya.

Kenapa aku merasa wajahnya terlihat begitu sedih? — tanya Jung Ra dalam hati.

Karena takut mengganggu Hyukjae,akhirnya Jung Ra menuruni sisa anak tangga terakhir dan langsung menyambar kantong sampahnya. Ia bahkan memilih arah jalan lain agar tidak berpapasan dengan Hyukjae.

Tepat saat Jung Ra memutar tubuhnya ke arah lain, Hyukjae melihatnya.

“Jung Ra-ssi?!

Jung Ra terpaksa berhenti saat mendengar suara Hyukjae memanggil namanya.

“Hai!” ucap Jung Ra membalikkan tubuhnya sambil menyunggingkan senyum aneh.

Hyukjae mengalihkan pandangannya ke kantong hitam yang dibawa Jung Ra.

“Sampah?” Hyukjae menunjuk kantong itu.

“Hah? I-iya,” jawab Jung Ra.

Tanpa berkata apapun Hyukjae menghampiri Jung Ra dan langsung merebut kantong itu dari tangan Jung Ra.

“Mau kuantar membuang sampah?”

.

.

.

Tawaran Hyukjae untuk mengantar Jung Ra membuang sampah ternyata tidak hanya berakhir di tempat pembuangan sampah yang ada di dekat apartemen saja. Hyukjae pun mengajaknya jalan kaki sebentar ke arah taman yang juga berada tak jauh dari jalanan setapak di dekat tempat tinggal mereka tersebut.

Hati Jung Ra berbunga-bunga tanpa sebab saat mendengar ajakan Hyukjae. Hanya saja setelah berjalan beriringan di jalan setapak selama hampir lima belas menit ini, Jung Ra dibuat bingung sendiri. Berulangkali ia memandang ke arah laki-laki tampan di sampingnya yang tak juga merubah raut wajah sedihnya.

“Apa kau merasa tidak nyaman?”

Jung Ra cukup terkejut saat Hyukjae akhirnya membuka mulutnya untuk bertanya.

“Hah? A-aniyo. Hanya saja…..”

“Maaf,” potong Hyukjae sambil menoleh ke arah Jung Ra dan tersenyum tipis.

Lagi-lagi. Wajah Jung Ra lagi-lagi memanas tanpa sebab tiap Hyukjae melempar senyum seperti itu.

“K-kau…. mau duduk sebentar?” Jung Ra menunjuk bangku kayu yang tak jauh dari mereka. Hyukjae hanya mengangguk, mengiyakan ajakan Jung Ra.

“Apa terjadi sesuatu? Kulihat wajahmu tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja?” Jung Ra mencoba menanyakan keadaan Hyukjae. Walau bagaimanapun, laki-laki yang sudah melepas jas abu-abunya itu adalah temannya. Paling tidak Jung Ra punya sedikit hak untuk memberikan pertanyaan seperti itu pada Hyukjae. Menurut Jung Ra begitu.

Hyukjae menggelengkan kepalanya sambil menundukkan kepalanya. Jung Ra terpaksa mengerutkan dahinya.

“Hari ini adalah hari peringatan kematian ibuku.”

Jawaban Hyukjae berhasil mengatupkan bibir Jung Ra. Ada perasaan tidak enak yang menjalar di hati Jung Ra. Membodohi dirinya karena begitu lancang bertanya pada Hyukjae seperti itu.

“Maaf, aku bukannya…..”

“Tidak apa-apa,” Hyukjae kembali memotong perkataan Jung Ra sambil memberikan senyuman tipis.

“Hari ini adalah tahun ke-sepuluh kematian ibuku. Aku hanya masih suka larut dalam keadaan sedih tiap hari itu tiba. Kau tahu, dia hanyalah seorang ibu tiri, tapi aku tidak bisa tidak menyayanginya seperti ibuku sendiri. Sikap lembutnya, senyum hangatnya, semuanya. Aku terlalu menyayanginya,” tambah Hyukjae sambil memandang ke depan.

Bagi Jung Ra, kata ‘tidak apa-apa’ yang dilontarkan oleh Hyukjae mempunyai arti yang berbalik. Ia bisa merasakan bahwa keadaan Hyukjae jauh dari kata ‘tidak apa-apa’.

“Entah ini benar atau tidak, tapi aku tidak pernah mendengar ada larangan bagi laki-laki yang ingin menangis karena sedang merindukan orang tua mereka,” ucap Jung Ra yang membuat Hyukjae menoleh kepadanya.

“Kau ingin aku menangis?”

Jung Ra mengangguk, membenarkan pertanyaan Hyukjae.

“Di hadapan seorang gadis?”

“Apa salahnya? Toh… kau tidak menangis di depan orang asing. Atau kau menganggapku sebagai orang asing?” Jung Ra justru dibuat cemas dengan pertanyaan yang ia buat sendiri.

Hyukjae lantas tertawa kecil menanggapi ucapan Jung Ra. Sesaat kemudian ia teringat sesuatu. Dirogohnya saku celananya sambil meraih tangan Jung Ra. Reflek Jung Ra terkejut saat Hyukjae tiba-tiba meraih tangannya.

“Kenapa belum diobati? Kalau infeksi, ini bisa berbahaya,” ucap Hyukjae sambil meletakkan tangan Jung Ra di atas pahanya dan mulai membuka pembungkus plester yang sedang ada di tangannya.

Hyukjae harus sedikit membungkukkan tubuhnya saat berusaha menempelkan plester itu ke luka di sekitar tangan Jung Ra. Akhirnya satu luka tertutup. Kini giliran goresan luka yang ada di dekat pergelangan tangan Jung Ra. Hyukjae pun mengulanginya dengan hati-hati.

Bagaimana dengan Jung Ra? Oh, tidak, gadis berkulit bersih itu sejak beberapa detik yang lalu belum bisa menguasai jantungnya yang kembali berdetak tak kalah cepatnya dengan genderang perang yang sedang ditabuh dengan terburu-buru. Ia ingin menarik tangannya dari atas paha Hyukjae, tapi di lain sisi itu sama saja dengan bersikap tidak sopan dengan pertolongan yang diberikan Hyukjae.

“Apa sekarang sudah membaik?” Dengan posisi tubuh yang masih membungkuk, Hyukjae menolehkan kepalanya untuk memandang wajah Jung Ra yang sudah memerah seperti tomat.

Eoh? N-ne!”

Hyukjae terpaksa tertawa sambil menegakkan kepalanya melihat respon Jung Ra. Ia merasa geli dan gemas dengan wajah tersipu yang ditunjukkan oleh Jung Ra. Bahkan tawanya yang sempat berhenti harus kembali tersembur saat Jung Ra dengan cepat menarik tangannya yang ia pegang.

Gumawo……. Hyukjae-ssi,” ucap Jung Ra yang berusaha menormalkan suaranya.

Setelah beberapa jam mereka habiskan untuk berbincang-bincang, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke apartemen.

Perasaan Hyukjae cukup membaik setelah beberapa saat bersama dengan Jung Ra malam ini setelah sebelumnya dibelenggu dengan perasaannya yang campur aduk. Hyukjae akui keputusannya untuk kembali pulang ke rumah atas perintah ayahnya benar-benar sesuatu yang salah. Tidak seharusnya ia menuruti perintah ayahnya karena pada akhirnya ia sendiri yang akan terluka. Sikap keras kepala ayahnya sangat susah ia lawan. Sejak dulu sampai sekarang.

Hyukjae pikir ia akan bisa duduk dengan tenang di depan meja makan sambil berusaha menikmati makanan yang biasa ia santap setiap tahunnya di hari kematian ibu Donghae. Namun, apa yang ia pikirkan salah total. Ia kembali berdebat dengan ayahnya untuk hal yang sama selama sepuluh tahun ini. Dan selama sepuluh tahun itu pula, ia sendiri yang mengibarkan bendera putih untuk mengakhiri perdebatan itu.

Benar-benar memprihatinkan. Ia lagi-lagi tak bisa meluluhkan hati ayahnya untuk memaafkan Donghae dan membawanya pulang.

***

“Besok adalah hari perang yang sesungguhnya,” ucap Jung Ra sambil menaiki satu per satu anak tangga yang ada di hadapannya.

“Maksudmu?” Hyukjae langsung meloncati dua anak tangga sekaligus untuk mensejajarkan langkahnya dengan Jung Ra.

“Pemesan paket buah di toko bosku mendadak memajukan jadwalnya. Jadi semua paket itu harus selesai dalam waktu lima hari. Secara otomatis, aku harus ikut kerja lembur mulai besok. Haaaah… pasti tiga hari nanti akan begitu menyebalkan,” jawab Jung Ra.

Mendadak Hyukjae menghentikan langkahnya sambil memandang ponselnya.

“Eeeee…. Jung Ra-ssi, aku harus pergi dulu,” kata Hyukjae sambil memasukkan ponselnya.

“Apa? Bukankah ini sudah malam? Bahkan malam sekali. Kau tidak istirahat?”

“Temanku mentraktirku makan. Tidak enak bila aku menolaknya. Sebaiknya kau cepat tidur. Bukankah kau bilang mulai besok kau akan kerja lembur?” Hyukjae seraya memutar tubuhnya ke belakang dan menuruni anak tangga dengan sedikit terburu-buru

“Baiklah…. Terima kasih atas plesternya!” ucap Jung Ra pada Hyukjae yang sudah ada di bawah sana. Ia berjalan mundur sambil memandangi tangannya yang berhias beberapa plester berwarna coklat. Kelihatan aneh memang, tapi entah kenapa di mata Jung Ra semua benda tipis itu terlihat begitu manis.

Omo!” Jung Ra dibuat terkejut dengan adanya Donghae yang sudah berdiri di dekat dinding samping tangga. Kelihatannya Donghae sama terkejutnya dengan dirinya.

Donghae mengalihkan matanya ke tangan Jung Ra yang sudah berhias beberapa plester. Buru-buru ia menyembunyikan kantong kecil berisi krim pengurang rasa nyeri ke belakang tubuhnya dan bersikap dingin.

“Ke mana saja?” tanya Donghae.

“Apa kau akan mengajakku ke tempat lain yang lebih menyeramkan besok pagi buta? Kalau iya, aku akan segera tidur dan benar-benar memasang jam bekerku agar kau tidak seenaknya menggedor-gedor pintu apartemen orang lain,” ucap Jung Ra ketus.

Donghae mendengus pelan dan memandang sinis ke Jung Ra. Niatnya untuk memberikan obat yang ia beli pada Jung Ra hilang sudah saat mendapati luka-luka di tangan Jung Ra sudah diplester. Tidak mungkin ia menghampiri Jung Ra dan memberikan begitu saja kantong itu sambil berkata “Ini, obati tanganmu agar tidak infeksi”. Bisa-bisa Jung Ra akan menertawakan dirinya.

“Cepat masuk. Besok kita akan mulai membuat paket lebih awal,” kata Donghae seraya membalikkan tubuhnya dan berjalan kembali ke apartemennya sendiri.

“Dasar aneh. Kukira dia akan pergi ke suatu tempat. Lalu untuk apa keluar dari apartemennya bila sekarang kembali masuk ke dalam sana lagi? Apa dia berniat untuk menguping pembicaraanku dengan Hyukjae?” gumam Jung Ra sesaat setelah tubuh Donghae menghilang dari pintu apartemen.

.

.

.

Donghae melempar kantong kecil itu ke atas sofa begitu saja sambil menyeret kakinya ke tempat tidur. Dihempaskannya tubuhnya ke tempat tidur setelah melepas kemeja dan membenarkan ujung T-shirt putih polos yang melekat di tubuhnya.

“Kau akan seperti laki-laki tidak punya harga diri kalau sampai memberikan kantong itu padanya, Lee Donghae,” desis Donghae seraya memejamkan matanya.

Saat rasa kantuk akan menyerangnya, ponselnya tiba-tiba bordering. Tangannya menggapai benda tipis tersebut yang ada di tepi tempat tidur. Dilihatnya nama Youngwoon ada di panggilan masuk.

“Yeoboseo?”

Donghae-ya, kau tidak lupa ‘kan kalau hari ini adalah hari kematian ibumu?” Suara Youngwoon terdengar.

Donghae menelan ludah sebelum menjawab pertanyaan kakak sepupunya itu, “Iya, aku tahu itu. Aku tidak lupa. Oh ya, Hyung, kenapa akhir-akhir ini aku susah sekali menghubungimu?”

Pekerjaanku membuatku semakin menjauh dari ponsel. Wae? Apa kau membutuhkan sesuatu? Apa kau kehabisan uang? Bukankah kemarin aku baru saja mentransfer uang ke rekeningmu? Yaa, Lee Donghae, apa kau menghabiskannya untuk ratusan mangkuk ramyun?!

Donghae terpaksa menjauhkan ponselnya dari daun telinganya ketika suara Youngwoon semakin lama semakin tinggi. Ia berdecak pelan, tidak percaya dengan jalan pikiran kakak sepupunya yang kadang di luar nalar seorang pria dewasa.

“Kau pikir aku segila itu sampai harus menghabiskan uang pemberianmu hanya untuk ramyun? Hyung, kau ini benar-benar……”

Terdengar gelak tawa Youngwoon yang cukup keras. Donghae hanya mendesis kesal dan selanjutnya justru ikut tertawa bersamanya.

Baiklah, aku hanya ingin mengetahui apa kau baik-baik saja atau tidak. Dan juga… aku lega kau tidak lupa hari ini. Apa ada kabar yang harus kudengar?”

Mata Donghae berbinar seketika. Ia langsung bercerita kalau pemesana paket buah oleh pelanggannya diajukan tiga hari ke depan. Nada suaranya terdengar begitu semangat dan seperti anak kecil yang begitu antusias.

To be continued

 

 

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: