FRUIT LOVE [5/?]

hyuk2_副本

FRUIT LOVE

Chaptered FF

Author : Nita Henny

Cast : Go Jung Ra (OC) – Lee Donghae – Lee Hyukjae

Kim Ryeowook – Kim Youngwoon

Genre : Romance, Family, Brothership

Rating : PG-14

Note :
FF Ini udah pernah kupublish di blogku sendiri. Dulu, udah lama. Dan sekarang aku coba kirim ke sini hehehe.
You can visit my blog === >>> https://imajinasinita.wordpress.com/

Happy reading ~~~~

============================

=at FRESH FRUIT=

Jung Ra dan Ryeowook sudah duduk di antara tumpukan buah yang memenuhi hampir seluruh lantai toko. Sedangkan Donghae yang setengah jam lalu menutup tokonya kini juga ikut membantu mereka untuk menyiapkan pesanan.

“Jung Ra-ya, kau masukkan lagi satu apel hijau agar tidak terlalu banyak ruang kosong di keranjang itu,” suruh Ryeowook yang sudah menyelesaikan lima keranjang paket buah dan langsung membungkusnya dengan kertas plastik transparan.

Jung Ra hanya menganggukkan kepalanya sambil meraih satu buah apel hijau yang ada di dekat Donghae dan memasukkannya ke dalam keranjang. Setelah satu buah paket selesai, ia seraya mengambil keranjang lain yang kosong dan mulai mengisinya. Begitu seterusnya hingga tanpa dirinya, Ryeowook dan Donghae duga waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam.

Di sudut toko sudah ada tumpukan keranjang paket buah yang berjumlah hampir lima puluhan. Di setiap keranjang sudah dihiasi dengan pita berwarna merah yang dibuat semanis mungkin agar penampilannya begitu menarik.

“Kau lapar?” tanya Donghae pada Ryeowook yang baru saja meletakkan keranjang buah ke-dua puluhnya pada sudut toko. Ryeowook hanya mengangguk.

Sebenarnya Donghae juga ingin menanyai Jung Ra, hanya saja niat itu diurungkan ketika melihat gadis itu justru sedang sibuk dengan pita merah di atas kakinya. Donghae hanya mendesah pelan sambil beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu belakang, lalu menghilang saat pintu itu tertutup.

Oppa, apa kau bisa membantuku dulu?” pinta Jung Ra yang tak juga menegakkan kepalanya karena begitu serius dengan pitanya.

Ryeowook menoleh ke arah Jung Ra dan tertawa kecil melihat pita itu melilit kaki dan tangan Jung Ra secara bersamaan.

Aigoo, Go Jung Ra, kenapa kau seperti anak sepuluh tahun begini?” ejek Ryeowook seraya membantu Jung Ra melepaskan lilitan pita tersebut.

“Tiga hari lagi kau akan keluar dari toko ini,” keluh Ryeowook tiba-tiba setelah beberapa saat mereka berdua kembali sibuk dengan keranjang masing-masing.

“Memangnya kenapa? Toh aku ada di sini juga karena permintaanmu. Kalau kau bukan temanku yang paling baik, aku juga tidak akan mau,” jawab Jung Ra, tangannya berusaha menggapai gunting yang ada di atas meja kerja Donghae untuk memotong sisa pita yang sudah ia bentuk di pembungkus keranjang buahnya.

“Padahal kerjamu selama beberapa hari di sini sudah mulai memperlihatkan peningkatan, aku juga tidak kesepian lagi saat Donghae Hyungnim pergi keluar. Jung Ra­-ya, tidak bisakah kau bekerja di sini saja nanti?”

Melihat Ryeowook yang memasang wajah menyedihkan dengan begitu menyebalkan, Jung Ra hanya memutar bola matanya. Sepertinya ekspresi yang ditunjukkan oleh temannya itu terlalu berlebihan, seakan dirinya tiga hari lagi akan meninggal dunia begitu saja.

“Heeeeei, Oppa, jangan berlebihan seperti itu. Jangan mempersulit pikiranku untuk mencari pekerjaan lain yang lebih ‘layak’ di luar sana. Maaf, bukannya aku ingin mengatakan pekerjaan sebagai karyawan toko buah adalah sebuah pekerjaan yang buruk, sama sekali bukan itu, hanya saja…… aku berkata demikian karena tidak adanya jalan pikiran yang sama antara aku dan Hyungnim-mu itu. Daripada nantinya aku akan mati mengenaskan karena disiksa olehnya di toko ini, bukankah lebih baik aku segera mencari pekerjaan lain?” Jung Ra mencoba menjelaskan panjang lebar pada Ryeowook. Jung Ra harap temannya itu mau mengerti apa yang ingin ia sampaikan.

Sebenarnya dalam hati Jung Ra, ia sudah cukup nyaman bekerja hampir tiga hari di tempat Donghae. Ia juga sudah mengenal beberapa pelanggan toko buah yang begitu ramah padanya. Tapi sikap pemilik toko yang belum juga memberikan tanda-tanda “melunak” pada diri Jung Ra-lah yang membuat Jung Ra enggan untuk meneruskan pekerjaannya di sini andai periode itu berakhir.

Sangat tolol mungkin bila Jung Ra memutuskan untuk memohon-mohon pada Donghae untuk tidak mengeluarkannya dari toko. Mau ditaruh mana mukanya? Salah. Tidak. Bukan itu.

Mau ditaruh mana harga dirinya?

Lagi-lagi Jung Ra memberatkan harga diri untuk masalah ini. Bicara soal harga diri, sebenarnya Jung Ra sudah merendahkan harga dirinya saat pertama kali ia menerima pekerjaan ini. Tidak mungkin ia melakukannya dua kali untuk alasan yang berbeda.

Gumawoyo, Hyungnimi!” pekik Ryeowook saat Donghae memberikan makanan yang baru saja dibelinya. Laki-laki kurus itu langsung melesat ke belakang toko untuk mengambil beberapa gelas dan botol air minum yang ada di dalam kulkas.

“Untukmu,” ujar Donghae pada Jung Ra yang sedang berkutat dengan plastik pembungkus keranjang.

Jung Ra menolehkan kepalanya dan mendapati tangan Donghae yang sedang memegang kotak makanan berisi nasi hainan di dekatnya. Menolak makanan itu berarti Jung Ra bodoh karena sebenarnya ia juga sedang lapar. Seharian “bercengkerama” dengan ratusan buah-buahan dan keranjang cukup menguras tenaganya.

Gomawo,” ucap Jung Ra sambil menerima kotak makanan itu. Diletakkannya keranjang buah yang baru ia isi setengahnya ke atas lantai dan langsung mendaratkan kotak makanan pemberian Donghae ke atas pangkuannya.

“Kau masih belum menggantinya?” tanya Donghae tanpa memandang Jung Ra dan memilih untuk mencoba membuka jjangmyeon yang ia beli sendiri untuk makan malamnya.

“Apanya?” tanya Jung Ra dengan mulut penuh nasi, memandang heran ke arah Donghae.

Tangan Donghae yang memegang sumpit menunjuk tangan Jung Ra yang berhias beberapa plester dari Hyukjae.

“Kau tidak pernah mengenal istilah ‘luka juga akan memburuk bila plester tidak sering diganti’? Kau ini jorok sekali,” kata Donghae seraya memasukkan jjangmyeon ke dalam mulutnya.

Jung Ra sejenak memandang tangannya. Memang benar, sejak kemarin malam plester yang ada di tangannya sama sekali belum diganti sejak Hyukjae memasangnya di sana. Apakah benar bila ia tidak sering mengganti plester itu, lukanya akan semakin memburuk? Bukankah luka-luka itu hanya semacam luka ringan yang tidak perlu dikhawatirkan seakan bisa saja membuat tangannya terputus tiba-tiba? Pikirannya berkecamuk hingga tanpa ia duga sebuah tangan menarik tangannya.

Mata Jung Ra terbelakak saat menyadari Donghaelah yang menarik tangannya dan meletakkannya ke atas paha sambil meraih gunting yang ada di dekat kakinya.

Yaa, apa kau mau memotong tanganku dengan gunting itu?! Luka-luka ini tidak akan membuat tanganku membusuk! Jadi kau tidak perlu mengamputasinya dengan cara yang mengerikan seperti itu! Donghae-ssi!” pekik Jung Ra kalut melihat pergelangan tangannya dicengkeram erat oleh Donghae.

“Bisa diam tidak?” Perintah Donghae yang pelan namun dengan nada yang begitu berwibawa membuat Jung Ra menutup mulutnya seketika, walaupun masih menyisakan mata yang tetap terbelalak karena ketakutan.

Tangan Donghae mulai membuka satu per satu plester yang menutupi luka Jung Ra. Setelah menyingkirkan semua plester itu dan membuangnya, Donghae lantas mencelupkan sapu tangan yang ia ambil dari saku kemejanya ke dalam mangkuk yang berisi air yang memang sudah ia sediakan di atas meja. Perlahan ia menyapukan sapu tangan basah itu ke luka-luka yang ada di tangan Jung Ra. Sesaat setelah mengeringkannya dengan kain bersih, diambilnya plester-plester baru yang ia beli kemarin. Ditempelkannya satu per satu ke atas luka-luka di tangan Jung Ra. Tak lupa ia mengoleskan krim pengurang rasa nyeri ke pergelangan tangan Jung Ra yang terlihat ada sedikit memar di beberapa bagian.

“Jangan harap aku akan melakukan hal ini lagi padamu,” ujar Donghae tanpa memandang Jung Ra sambil menyingkirkan tangan Jung Ra dari atas pahanya dengan sedikit kasar.

Jung Ra hanya berdecak pelan sambil menggeser tubuhnya menjauh dari Donghae dan kembali melanjutkan makan malamnya yang tertunda tindakan aneh dari Donghae.

Gadis itu mengomeli Donghae dalam hati sambil terus melahap makanannya. Bahkan ia sedikit memberi efek dramatis tiap ia menyendok satu sendok penuh nasinya dengan cara membenturkan sendoknya ke dasar kotak hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras. Kalau saja Jung Ra tidak ingat ia sedang kelaparan, sudah bisa dipastikan ia akan menumpahkan semua isi kotaknya ke wajah Donghae.

.

.

.

Jarum jam dinding di dalam toko Donghae terus berdetak hingga menunjukkan pukul satu malam. Ryeowook baru saja kembali dari ruang bawah tanah untuk mengambil satu kotak buah apel merah lagi. Donghae menganggukkan kepalanya setelah menghitung jumlah keranjang buah yang sudah jadi. Saat ia akan berbalik untuk kembali ke tempatnya, tanpa sengaja kakinya hampir menginjak buah jeruk yang menggelinding di dekat kakinya.

Donghae terpaksa menghela napas panjang melihat Jung Ra yang tertidur dengan bersandar di dekat kardus. Wajah gadis itu terlihat begitu lelah.

“Biar aku saja yang membangunkannya, Hyungnim,” ujar Ryeowook seraya beranjak dari duduknya dan menghampiri Jung Ra. Teman Jung Ra itu berusaha mencegah hal-hal yang tidak diinginkan bila Donghae sudah berhasil membangunkan Jung Ra.

“Biarkan dia istirahat sebentar. Biaya rumah sakit terlalu mahal untuk merawat dirinya yang jatuh sakit hanya karena seharian tidak istirahat,” cegah Donghae yang melihat tangan Ryeowook akan menyentuh bahu Jung Ra.

Ryeowook hanya tersenyum. “Kukira kau akan marah bila Jung Ra tertidur. Daripada nanti akan ada perang di tengah malam seperti ini, lebih baik aku membangunkannya lebih dulu, ‘kan?”

“Kau pikir aku sejahat itu pada karyawan tokoku? Walaupun aku membencinya, bukan berarti aku juga akan menyiksanya secara fisik. Bagaimanapun juga dia itu seorang gadis. Aku tidak segila itu,” Donghae berusaha membela diri. Respon karyawannya yang hanya tertawa kecil itu justru membuat wajahnya memerah karena malu.

Sambil berdiri di dekat dinding sambil menuliskan total keranjang buah yang ada di sudut toko, mata Donghae mengamati Ryeowook yang berusaha membaringkan tubuh Jung Ra di atas lantai yang sebelumnya sudah ia alasi dengan mantelnya.

Hyungnim, apa kau tidak pernah melihat sorot asli mata Jung Ra selama ini?” tanya Ryeowook pelan yang belum mengalihkan pandangannya dari Jung Ra. Wajah tirus Ryeowook terlihat sendu.

Selama ini? Seingatku aku baru kenal dengannya beberapa hari ini,” jawab Donghae ringan sambil duduk di atas kursi di dekat meja kerjanya.

Ryeowook hanya menghela napas pelan sambil menyingkirkan beberapa helai rambut yang menghiasi kening Jung Ra.

“Kau tidak perlu mengingatkanku bahwa dia adalah anak yatim piatu, karena aku juga berada di posisi yang sama sepertinya. Hanya saja…. apa yang kulakukan untuk menjalani hidup ini berbeda dengannya,” tambah Donghae.

“Entahlah, Hyungnim. Aku harap kau tidak menyiksanya terlalu keras, karena selama aku berteman dengannya, aku belum pernah melihatnya meneteskan air mata. Jung Ra…. sudah kuanggap seperti adikku sendiri, pasti nanti…..”

“Sepertinya otakmu sudah mulai tidak beres. Lebih baik segera lanjutkan pekerjaanmu!” Donghae bangkit dari duduknya dan mendaratkan tubuhnya ke atas lantai. Tangannya meraih dua keranjang buah sekaligus dan mulai mengisinya dengan buah.

***

=Next day – 09.00 a.m=

Hyungnim, aku saja yang mengantarnya ke tempat Tuan Lee Shin Ho!” cegah Ryeowook yang melihat Donghae akan memasuki mobil.

Pesanan buah yang sudah jadi baru berjumlah seratus, dan untuk meringankan pekerjaan, Donghae memutuskan untuk mengirim sebagian ke kantor pelanggannya itu. Hanya saja, karyawan tokonya itu mencegah kepergiannya.

“Memangnya kenapa?” tanya Donghae, memandang heran ke arah Ryeowook yang sudah berjalan cepat mendekati mobil.

“Lebih baik Hyungnim istirahat dulu saja. Aku tahu sejak kemarin kau belum memejamkan mata untuk tidur sebentar. Bukankah lebih berbahaya kalau kau menyetir dalam kondisi lelah seperti sekarang?” ujar Ryeowook sambil menengadahkan tangannya untuk meminta kunci mobil.

“Ryeowook-ah…..”

“Wajahmu sudah seperti mayat hidup, Hyungnim. Mengerikan sekali,” potong Ryeowook sambil merebut kunci yang ada di tangan Donghae karena tak juga mendapatkannya. Bahkan ia harus menyingkirkan tubuh Donghae dari depan pintu mobil sambil terkekeh.

“Hati-hati!” ucap Donghae saat Ryeowook sudah menyalakan mesin mobilnya dan mulai melaju pelan. Ryeowook hanya melambaikan tangannya sambil menjauh dari depan toko.

Donghae berjalan masuk kembali ke dalam toko sambil menguap. Memang benar apa yang dikatakan Ryeowook, sepertinya ia butuh istirahat beberapa saat agar kembali segar.

“Kau mau mandi?” Jung Ra muncul dari balik pintu kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil pemberian Ryeowook.

Donghae menolehkan kepalanya ke arah Jung Ra. Seketika matanya berhenti bergerak saat mendapati kemeja milik Ryeowook yang dipakai Jung Ra belum sepenuhnya dikancingkan. Langsung dialihkan kepalanya ke sisi lain sambil berdehem berulangkali, membuat Jung Ra heran.

“Di sini hanya kita berdua. Aku harap kau tidak bertingkah bodoh untuk mengundang situasi yang lebih buruk lagi. Bagaimanapun juga aku ini seorang laki-laki,” ucap Donghae sambil membelakangi Jung Ra.

“Hah? Maksudmu?”

Tangan Donghae bergerak menunjuk ke arah Jung Ra walaupun sama sekali tak mau menolehkan kepalanya.

“Benarkan kancing bajumu bagian atas.” Donghae langsung menurunkan tangannya setelah berkata pada Jung Ra dengan cepat.

Jung Ra langsung menundukkan kepalanya, melihat ke arah mana yang ditunjuk oleh tangan Donghae tadi. Matanya seketika terbelalak.

Omo! Kau sudah gila, Go Jung Ra! — pekik Jung Ra dalam hati sambil buru-buru mengancingkan dua kancing kemeja bagian atas yang masih terbuka dan menampilkan sebagian atas dadanya. Wajah Jung Ra memerah menahan malu. Dalam hatinya ia membodohi dirinya sendiri yang mau-mau saja menerima kemeja dari Ryeowook untuk dijadikan pakaian ganti. Kalau sudah begini ia menyesal tidak ijin pulang untuk mengambil pakaiannya sendiri.

“Bagaimanapun juga aku ini seorang laki-laki.”

Ucapan Donghae yang itu masih terngiang di benak Jung Ra. Seakan memberitahunya bahwa sesuatu yang buruk pasti akan terjadi bila Donghae tak memilih untuk menyuruh mengancingkan kemeja bagian atasnya yang masih terbuka. Jung Ra dibuat bergidik ngeri sendiri membayangkannya.

“Aku mau tidur sebentar. Sebaiknya kau lanjutkan pekerjaanmu,” suruh Donghae sambil melintas di dekat Jung Ra, kemudian membaringkan tubuhnya ke atas sofa panjang yang ada di bagian belakang dekat etalase.

Jung Ra hanya mengangguk-anggukkan kepalanya pelan seraya duduk di atas lantai dan mulai mengisi keranjang dengan buah-buah yang sudah ia siapkan pagi-pagi tadi.

Satu per satu keranjang buah yang sudah siap ia kumpulkan di sudut toko sambil sesekali menghitung jumlahnya dan menuliskannya ke sebuah buku note kecil. Setelah kotak-kotak berukuran sedang yang berisi buah-buahan sudah kosong, Jung Ra segera membawa semuanya ke ruang bawah tanah untuk diisi lagi. begitu seterusnya hingga hari menjelang siang.

“Kau sudah menghitung jumlah terakhir?” tanya Donghae yang setengah jam lalu sudah bangun. Kini laki-laki itu berdiri di depan tumpukan keranjang buah sambil membawa kalkulator dan buku note kecil.

“Sudah,” jawab Jung Ra sambil berdiri membawa dua keranjang buah dan langsung meletakkannya di bagian atas tumpukan. “Kalau ditambah dua yang baru ini, berarti jumlahnya ada lima puluh lima buah.”

Donghae menganggukkan kepalanya, kemudian mulai menghitung ulang.

“Ada jeruk yang terlalu matang, kalau tidak salah jumlahnya ada dua puluh buah. Tadi aku langsung memisahkannya dari buah yang lain agar tidak tercampur. Apa kau mau mengeceknya di bawah sana?” tanya Jung Ra, untuk yang kesekian kalinya tangannya melilitkan pita berwarna merah pada keranjang buah yang sudah dibungkus.

“Akan kulihat nanti,” jawab Donghae tanpa mengurangi konsentrasinya untuk menghitung tumpukan keranjang-keranjang yang ada di depannya.

Beberapa detik kemudian terdengar bunyi ponsel berdering. Ternyata milik Jung Ra. Sambil terus memasukkan tiga buah apel hijau dan dua apel merah ke dalam keranjang, Jung Ra meraih ponselnya yang ada di dekat kakinya. Dilihatnya nama Lee Hyukjae terpampang di layar.

Yeoboseo?”

Jung Ra-ssi?”

Ne?”

Kemarin malam aku ingin mengajakmu makan sup ayam ginseng, tapi saat aku mengetuk pintu apartemenmu berkali-kali kau tidak membukanya. Apa semalam kau tidak pulang?”

“Aaaah…. iya. Aku sejak kemarin pagi ada di toko. Bukankah aku pernah bilang kalau pesanan buah di toko bosku diajukan. Maka dari itu sejak kemarin aku menginap di sini. Ada apa?”

Ani. Aku hanya khawatir padamu. Kukira terjadi apa-apa denganmu kemarin. Tapi… di sana kau baik-baik saja, ‘kan? Bosmu tidak menyuruh yang aneh-aneh, ‘kan? Apa bosmu itu seorang laki-laki? Kau bisa menjaga dirimu di sana , ‘kan?”

Pertanyaan demi pertanyaan yang terlontar dari Hyukjae membuat wajah Jung Ra memanas seketika. Ia membeku di tempatnya. Perlahan ada senyum samar yang terlihat di wajahnya. Jantungnya kembali berdetak cepat. Benar-benar situasi yang tak normal.

Jung Ra-ssi?”

Jung Ra seketika tersadar dari lamunannya.

N-ne? I-itu…. aku… baik-baik saja. Aku baik-baik saja, jadi… kau tidak perlu khawatir,” ucap Jung Ra kelabakan. Gadis itu menggaruk-garuk kepalanya sambil tersenyum. Rasanya ia baru saja disiram dengan ratusan bunga-bunga indah tak kasat mata yang membuatnya begitu bahagia.

Apa telepon dariku mengganggu pekerjaanmu? Kalau benar, aku akan menutupnya sekarang juga. Aku tidak mau kau mendapat masalah dari bosmu hanya karena menerima telepon dariku.”

Mwo? Tidak! Tidak….sama sekali tidak menggangguku. Justru aku senang karena kau menelponku. Paling tidak aku mendapat udara segar di jam-jam seperti ini dan….”

Belum selesai Jung Ra menjawab pertanyaan Hyukjae, tiba-tiba ponselnya terlepas sendiri dari daun telinganya. Ia terkejut saat disadarinya kini ponselnya ada di tangan Donghae yang memasang wajah menyeramkan.

Tanpa memperdulikan protes Jung Ra, Donghae langsung mendekatkan ponsel itu ke daun telinganya.

“Maaf, teman Go Jung Ra, saudara Go Jung Ra, pacar Go Jung Ra, atau siapapun itu, sepertinya Anda menelpon di saat yang tidak tepat karena Anda benar-benar mengganggu pekerjaan karyawanku, dan justru saya yang tidak senang karyawan saya menerima telepon dari Anda. Jadi lain kali menelponlah di waktu yang tepat. Terima kasih.”

Pip.

YAA!” pekik Jung Ra, kesal melihat tindakan spontan Donghae.

Wae? Kau tidak suka?” Donghae melempar ponsel itu ke pangkuan Jung Ra. Ia hanya melirik Jung Ra sekilas, lalu memutar tubuhnya untuk kembali menata tumpukan keranjang buah.

“Kau ini benar-benar tidak sopan. Bagaimana bisa merebut ponsel orang begitu saja dan berbicara seperti itu dengan…..”

“Sssssstt……” Donghae memutar tubuhnya untuk menghadap Jung Ra dan menggerak-gerakkan jari telunjuknya di depan gadis itu. “Ini tokoku, dan aku pemiliknya. Jadi aku bebas melakukan apapun yang ingin kulakukan, termasuk merebut ponselmu dan menyuruh orang yang menelponmu itu untuk menutup teleponnya. Kau keberatan?”

Jung Ra mendesis kesal, berusaha menahan emosinya.

“Dan satu lagi. Kalau kau berniat untuk menelponnya kembali, lebih baik lakukan di luar. Tapi… tentu saja kalau pekerjaanmu sudah selesai semua. Kalau aku bisa menjelaskan dalam kalimat lain……………. untuk sekarang ini dan sebelum semua keranjang buah selesai, kau tidak boleh menghubungi orang itu. Mengerti?” Donghae menyunggingkan smirk tipis pada Jung Ra yang sudah mati-matian menahan tangannya untuk tidak melempar pisau karena kesal.

.

.

.

=at L GROUPS COMPANY=

“Maaf, teman Go Jung Ra, saudara Go Jung Ra, pacar Go Jung Ra, atau siapapun itu, sepertinya Anda menelpon di saat yang tidak tepat karena Anda benar-benar mengganggu pekerjaan karyawanku, dan justru saya yang tidak senang karyawan saya menerima telepon dari Anda. Jadi lain kali menelponlah di waktu yang tepat. Terima kasih.”

PIP!

Hyukjae cukup terkejut saat Jung Ra memutuskan teleponnya begitu saja. Tunggu……sepertinya bukan Jung Ra karena Hyukjae tidak mendengar suara Jung Ra di saat-saat terakhir tadi. Suara yang ia dengar tadi lebih seperti suara seorang laki-laki yang berbicara dengan kecepatan yang lumayan.

Hyukjae mendengus pelan sambil tertawa pelan hingga seseorang masuk ke dalam ruangannya.

“Apa aku mengganggu? Sepertinya kau sedang berkencan dengan ponsel tercintamu.” Youngwoon memandang adik sepupunya yang terlihat seperti orang gila, tersenyum sendiri pada ponselnya.

Eoh, Hyung, kau sudah tiba?” Hyukjae yang sebelumnya tidak menyadari kedatangan Youngwoon langsung meletakkan ponselnya ke atas begitu saja sambil memandang Youngwoon.

“Menurutmu? Kau tahu, aku sudah lebih dari ratusan kali mengetuk pintu ruanganmu. Masih untung aku tidak mendobrak pintumu hingga semua engselnya lepas,” jawab Youngwoon asal sambil meletakkan koper hitam yang selalu ia bawa ke mana-mana. Ditariknya kursi yang ada di depan meja kerja Hyukjae dan langsung duduk begitu saja.

Hyukjae hanya menanggapi candaan Youngwoon dengan tawa. Sesaat setelah kakak sepupunya itu menghenyakkan diri di atas kursi, ia bangkit dari kursinya dan berjalan menuju lemari pendingin kecil yang ada di dekat mejanya. Dibukanya lemari pendingin itu. Di sana terdapat bermacam-macam minuman ringan segala merek dan beberapa makanan ringan. Tangannya terulur mengambil dua kaleng cola.

“Ada apa pagi-pagi mencariku?” Hyukjae menyerahkan satu cola pada Youngwoon, dan mencoba membuka cola miliknya.

“Hanya menjalankan tugas dari Presdir,” jawab Youngwoon seraya meraih koper hitamnya. Laki-laki bertubuh tinggi besar dan berpakain setelan jas hitam itu menyerahkan beberapa lembar kertas yang ia ambil dari dalam koper pada Hyukjae.

Dengan kening yang berkerut karena heran, Hyukjae pun menerima kertas-kertas itu dari tangan Youngwoon. Untuk beberapa saat ia hanya membaca satu per satu isi kertas tersebut hingga akhirnya ia menghela napas sambil menghempaskan kertas-kertas itu ke atas meja. Diusapnya wajahnya dengan gusar.

“Apa hanya untuk membaca tiga lembar Surat Keputusan membutuhkan banyak tenaga sampai-sampai kau harus memasang wajah lelah seperti itu?” celetuk Youngwoon sambil menikmati cola-nya dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang sedang didudukinya.

Hyukjae hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan sambil memjiat pelipisnya. Ada rasa pusing yang mendadak menyerang kepalanya pagi ini setelah membaca tiga lembar kertas tersebut.

“Apa Paman akan menikah lagi?” canda Youngwoon sambil menunjuk kerta-kertas yang ada di depan Hyukjae. Jujur dirinya juga belum tahu apa isi kertas-kertas tersebut. Presdir Lee, pamannya hanya menyuruhnya untuk memberikan kertas-kertas itu pada Hyukjae.

“Lebih parah dari itu, Hyung,” ucap Hyukjae sambil terus memijat pelipisnya. Matanya terpejam merasakan keningnya yang berdenyut.

“Memangnya apa isinya?”

“Surat Keputusan untuk menyingkirkanku dari Korea Selatan,” jawab Hyukjae pelan.

Seketika punggung Youngwoon menegak. Kaleng cola yang baru berkurang setengah langsung ia letakkan begitu saja ke atas meja Hyukjae.

Mwo? Apa maksudmu dengan menyingkirkanmu dari sini?”

“Di surat-surat itu dijelaskan bahwa cabang perusahaan yang ada di Thailand sedang mengadakan pemilihan untuk posisi Direktur Utama. Dan aku adalah salah satu kandidatnya. Bukankah itu lebih parah dari berita Aboji akan menikah lagi?” ujar Hyukjae dengan intonasi nada yang cukup lemah pada kalimat terakhir.

Youngwoon hanya menghela napas panjang sambil kembali menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Tak ada kata-kata untuk menanggapi perkataan adik sepupunya tersebut. Ia hanya memandanginya cukup lama.

Hyung, aku butuh saranmu, bukan tatapan mata anehmu itu. Kalau kau ingin menggunakan tatapan mata seperti itu, lakukan di tempat dan suasana yang yang benar. Di taman yang indah bersama dengan seorang wanita yang kau cintai mungkin saat yang tepat untukmu meluncurkan tatapan seperti itu,” kata Hyukjae yang tidak mengerti dengan sikap diam Youngwoon.

“Hyukjae-ya, apa yang akan kau lakukan?” Sepertinya Youngwoon sama sekali tidak terpancing dengan gurauan Hyukjae. Ia masih mempertahankan ekspresinya, dan itu membuat Hyukjae akhirnya menghilangkan senyum di wajahnya.

“Maksudnya?”

“Pukul wajah tampanku kalau kau mempunyai pikiran untuk menyanggupi permintaan Paman karena aku tahu kau akan menolaknya. Benar-benar menolaknya bagaimanapun caranya. Apa aku benar?”

Memang benar apa yang dikatakan Youngwoon. Hyukjae tidak akan pernah punya sedikit pun pikiran untuk mengiyakan permintaan ayahnya tersebut. Tidak peduli permintaan itu memakai nama perusahaan sekalipun, dirinya tetap tidak akan mau.

“Haaaah….. aku akan berperang lagi dengannya. Sebenarnya aku sudah lelah, Hyung, karena pada akhirnya aku yang akan terluka, bukan dia. Kau pasti akan merasa geli melihat kami bertengkar untuk hal yang sama selama sepuluh tahun ini,” ucap Hyukjae, memainkan jemarinya di atas meja.

Youngwoon mengerti apa maksud Hyukjae. Ia tahu, bahkan sangat mengetahui hal apa yang selalu diperdebatkan adik sepupunya dengan pamannya itu selama sepuluh tahun ini.

Apa lagi kalau bukan tentang Lee Donghae? Anak tiri Presdir Lee yang diusir dari rumahnya di saat hari kematian ibunya sepuluh tahun lalu hanya karena sebuah alasan tidak masuk akal. Walaupun sejak awal Donghae bukanlah benar-benar adik sepupunya seperti Hyukjae, Youngwoon tetap menganggapnya seperti adiknya karena sejak berusia sepuluh tahun dia cukup dekat dengan Donghae.

“Hei, kau sudah siap untuk…..” Youngwoon mengganti topik pembicaraan.

Hyukjae yang tahu apa maksud Youngwoon hanya menyunggingkan smirk tipis di sudut bibirnya.

***

=at FRESH FRUIT=

“Haaaah…. akhirnya sampai juga.” Jung Ra bernapas lega setelah meletakkan kardus berisi buah jeruk yang ia ambil dari ruang bawah tanah untuk yang ke-sepuluh kalinya. Dibersihkannya kedua tangan yang terlihat kotor ke kain yang sejak tadi ia selipkan di saku celana jeansnya.

Jung Ra dibuat terhenyak ketika mendapati Donghae dan Ryeowook yang tertidur di atas sofa dan di atas lantai beralaskan mantel tebal. Gadis itu menghela napas setelah memandang jam dinding di toko yang baru menunjukkan pukul delapan malam.

“Mereka pasti kelelalahan,” gumamnya sambil memandang keduaa laki-laki itu.

Dilangkahkan kakinya menuju sebuah kamar yang terletak di sisi lorong kecil di bagian belakang toko. Kalau tidak salah Jung Ra pernah melihat ada tumpukan selimut di dalam sana. Matanya berbinar saat menemukan ada tiga buah selimut berukuran sedang tertumpuk di sudut ruangan.

Perlahan-lahan Jung Ra menyelimuti tubuh Ryeowook yang meringkuk di atas lantai. Setelah dirasa pas, lantas ia berdiri dan memandang Donghae yang tertidur dengan kedua tangan terlipat di depan dada dan sepasang earphone yang menghiasi kedua lubang telinganya.

Kumohon jangan bangun. Kalau sampai kau terbangun karena ini, akan kupastikan aku akan memilih untuk terjun ke jurang saat ini juga — pinta Jung Ra dalam hati sambil menyelimuti tubuh Donghae dengan sangat pelan.

Ketika tangannya menarik selimut ke atas dada Donghae, matanya terhenti untuk memandang wajah Donghae. Cukup lama ia mengamati tiap lekuk wajah laki-laki yang menurutnya sangat menyebalkan itu. Andaikan sejak awal pertemuan mereka Donghae tidak bersikap menyebalkan, mungkin ceritanya akan lain. Jung Ra tidak akan susah-susah menyisakan ruang di hatinya hanya untuk mengingatkan dirinya bahwa laki-laki gila di depannya ini adalah sejenis laki-laki yang harus dibinasakan dari muka bumi karena sudah berani membuatnya sakit kepala.

Ya…. Mungkin bila Donghae bisa bersikap sedikit manis saat pertama kali bertemu dengannya, mungkin akan berbeda jalan ceritanya. Jung Ra melengos dalam hati saat menyadari kata ‘mungkin’ yang sempat melintas di benaknya sama sekali tidak terjadi. Katakan saja….. dunia sudah tidak waras kalau seorang Donghae bisa bersikap layaknya laki-laki sejati kepada semua gadis, salah, setidaknya hanya kepada dirinya.

“Kalau kau sudah puas memperhatikanku, kau bisa lanjutkan pekerjaanmu.”

Jung Ra spontan terperanjat dari tempatnya dan terjungkal ke belakang karena tanpa dia duga Donghae yang masih memejamkan matanya ternyata menyadari dirinya sedang diperhatikan.

Buru-buru Jung Ra merangkak ke tempatnya duduk semula, di tengah-tengah ruangan dengan berbagai macam buah dan keranjang. Dengan susah payah ia mencoba mengatur detak jantungnya yang cukup cepat karena terkejut bukan main.

“Terima kasih untuk selimutnya,” ujar Donghae seraya menggerakkan tubuhnya untuk membelakangi Jung Ra dan kembali tertidur.

Jung Ra hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dalam diam. Sesaat kemudian ia langsung menundukkan kepalanya untuk menutupi wajahnya yang memerah karena malu. Bukannya apa-apa, hanya saja Jung Ra sudah merasa harga dirinya baru saja berkurang lebih dari dua puluh lima persen hanya karena laki-laki itu memergokinya. Bayangkan saja berapa besar rasa malumu bila kau bertingkah konyol di depan orang yang kau benci.

.

.

.

Selama dua hari Jung Ra, Donghae dan Ryeowook mengemas paket buah pesanan pelanggan bernama Lee Shin Ho bersama-sama siang dan malam. Kadang mereka bertiga bergantian untuk istirahat. Walaupuan kelihatannya mereka cukup kompak untuk menyelesaikan pesanan sebanyak itu, tapi tetap saja Donghae dan Jung Ra sering adu mulut untuk sesuatu yang sepele. Tidak, itu salah, sepertinya hanya Donghae yang sedikit lebih banyak mengomeli Jung Ra untuk ini dan itu, sedangkan Jung Ra hanya membalas ucapan Donghae seperlunya, sisanya gadis itu berusaha menahan emosi yang semakin lama semakin menumpuk dengan tidak menuruti kata hatinya untuk melempari wajah Donghae dengan apapun yang sedang ia genggam.

Oh, jangan lupakan saat Jung Ra mati-matian untuk tidak melakban mulut pedas Donghae yang mengatainya sebagai Gadis Siput hanya karena ia begitu lama di dalam ruang bawah tanah saat disuruh mengambil beberapa kardus kosong.

Semua itu berjalan hingga hari yang ditunggu tiba. Pagi pukul sembilan tepat sisa pesanan sudah siap untuk dimasukkan ke dalam mobil dan langsung dikirim ke tempat tujuan.

Jung Ra membantu memasukkan keranjang-keranjang yang sudah jadi ke dalam mobil untuk dikirim ke tempat pelanggannya itu. Sedangkan Donghae sibuk untuk menghitung ulang jumlah keranjang yang sudah diambil oleh Jung Ra.

Hyungnim, hari ini giliranmu dan Jung Ra yang mengantar sisa paketnya. Aku ada janji dengan pelanggan toko yang akan membeli beberapa buah nanas nanti,” ujar Ryeowook sambil meletakkan jaket yang baru saja ia lepas ke atas meja kerja Donghae.

“Kenapa harus dengan dia?”

“Kenapa harus denganku?”

Donghae dan Jung Ra meluncurkan protes secara bersamaan pada Ryeowook. Dan bagaimana respon laki-laki berwajah imut itu melihat bos dan temannya yang saling memasang wajah terkejut seakan ia menyuruh mereka untuk langsung menikah sekarang juga?

Terkekeh. Ya, Ryeowook hanya terkekeh menanggapi pertanyaan Jung Ra dan Donghae.

Aigoo, Hyungnim, Jung Ra-ya, aku hanya meminta kalian untuk mengantar pesanan ke sana. Ini alamatnya,” ujar Ryeowook sambil memberikan secarik kertas berisi alamat tempat acara Tuan Lee Shin Ho.

Donghae hanya mendesah pelan sambil berjalan menuju mobil. Begitu juga dengan Jung Ra yang sebelumnya mendapat acungan jempol dari Ryeowook.

“Apa dia sudah gila?” gerutu Jung Ra pelan pada Ryeowook yang sudah masuk ke dalam toko.

“Baiklah. Segera kirim sisa pesanan dan setelah itu kita bisa kembali menjalani kehidupan masing-masing,” ujar Donghae sambil menyalakan mesin mobilnya.

Mendengar Donghae berkata seperti itu membuat Jung Ra ingin menimpuk wajah Donghae dengan tas kecilnya. Terlalu gila mungkin kalau sampai Jung Ra merasa kesal karena ucapan Donghae.

Memang benar, setelah semua keranjang ini dikirim ke tempat pelanggan yang bernama Lee Shin Ho, maka semua akan kembali ‘normal’. Jung Ra tidak akan lagi merasakan betapa mengerikannya bekerja dengan laki-laki menyebalkan semacam Donghae. Jung Ra justru semoga hari ini segera berakhir, dan besok ia bisa bangun pagi dengan hati yang tenang, seakan baru saja dilahirkan kembali.

Terlalu berlebihan? Sepertinya iya.

Setelah hampir setengah jam Donghae dan Jung Ra mencari alamat gedung yang dimaksud Ryeowook, akhirnya mereka menemukan tempat itu.

Jung Ra dan Donghae keluar dari mobil yang mereka parkir di dekat pintu samping gedung tersebut. Ada banyak mobil-mobil mewah dengan harga yang cukup mahal terparkir di depan gedung. Para penjaga yang jumlahnya lebih dari sepuluh orang berdiri di depan pintu masuk yang terbuat dari kaca sambil mengawasi para tamu yang hadir. Kalau dilihat dari pakaian yang dikenakan oleh tamu-tamu itu, sepertinya acara yang berlangsung sifatnya tidak terlalu resmi, mungkin semacam pertemuan rutin antar perusahaan yang lebih kekeluargaan. Tapi tetap saja sebagian besar dari mereka mengenakan setelan jas berwarna hitam, mirip dengan pertemuan para petinggi.

“Mereka akan membawa keranjang-keranjang buah ke dalam gedung,” ucap Donghae yang baru saja keluar dari pintu samping gedung. Empat sampai lima orang berpakaian seperti penjaga menghampiri mobil Donghae dan mengambil keranjang-keranjang tersebut secara bergantian sampai habis.

“Begitu saja?” tanya Jung Ra sesaat setelah semua keranjang sudah dibawa ke dalam gedung.

Donghae menganggukkan kepalanya. “Tinggal meminta tanda tangan Tuan Lee Shin Ho untuk kuitansi pembayaran terakhir. Kau mau ikut?”

Jung Ra mengangguk ragu. Mereka berdua memilih masuk dari pintu samping setelah meminta ijin pada penjaga.

Sebuah lorong panjang harus mereka lalui setelah menanyakan keberadaan Tuan Lee Shin Ho pada salah satu staf gedung. Kata staf tersebut, Tuan Lee Shin Ho ada di ruang tunggu bersama beberapa rekannya. Dan ruangan yang dimaksud ada di ujung lorong yang sedang dilalui Jung Ra dan Donghae saat ini.

“Maaf, kami ingin bertemu dengan Tuan Lee untuk menyelesaikan kuitansi pembayaran paket buah yang Beliau pesan,” kata Donghae pada seorang penjaga yang berdiri di dekat ruang tunggu yang pintunya terbuka.

“Anda dari mana?” tanya penjaga itu.

Jung Ra segera mengeluarkan surat dari Tuan Lee Shin Ho yang diterima Donghae satu minggu yang lalu. Setelah membaca sekilas surat tersebut, penjaga itu menyuruh Donghae dan Jung Ra untuk menunggu sebentar.

Drrrrt….drrrrt….

Donghae merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya yang bergetar. Dilihatnya ada nama Ryeowook di layarnya.

“Ya, ada apa?” tanya Donghae sambil memutar tubuhnya, membelakangi pintu ruang tunggu itu.

Apa kau sudah sampai, Hyungnim?

“Ya. Kenapa memangnya?”

Kukira keranjang-keranjang itu tidak sampai tujuan dengan selamat karena kalian gunakan untuk bertengkar di jalan. Aku khawatir kalian akan saling lempar keranjang yang sudah susah payah kita kemas.” Terdengar kekehan tawa Ryeowook.

Yaa! Dasar bocah ini….. awas saja nanti kalau aku kembali ke toko,” desis Donghae seraya mematikan ponselnya. Sekilas ia melirik ke arah Jung Ra yang memandangnya heran.

“Maaf, Tuan Lee ingin bertemu dengan Anda.”

Terdengar suara penjaga itu lagi setelah beberapa saat masuk ke dalam untuk menemui seeorang yang bernama Tuan Lee Shin Ho.

Donghae dan Jung Ra membalikkan badan untuk menghadap ke arah seseorang berpakaian setelan jas berwarna hitam yang sudah berdiri di ambang pintu.

“Tuan Lee, saya…….”

Deg!

Tubuh Donghae seketika membeku di tempatnya. Matanya terbelalak menatap seseorang yang ia panggil ‘Tuan Lee’ itu. Untuk beberapa detik jantungnya berdegup cukup kencang, ditambah dengan sesuatu yang panas mulai menyelimuti hatinya takkala mengenal siapa orang itu. Orang yang saat ini sedang melempar senyum tipis ke arahnya. Senyum yang sudah lama tidak pernah ia lihat selama sepuluh tahun ini.

“Apa kabar, Donghae-ya?” sapa Hyukjae yang berdiri santai dengan salah satu tangan ia masukkan ke dalam saku celananya.

“H-Hyukjae-ssi?” Jung Ra yang tak kalah terkejutnya dengan Donghae hanya bisa menunjuk ke arah Hyukjae tidak percaya.

“J-jadi… Tuan Lee Shin Ho adalah….kau?” tanya Jung Ra tidak habis pikir.

Hyukjae hanya tersenyum simpul ke arah Jung Ra. Namun, beberapa detik kemudian kedua matanya kembali terfokus pada Donghae yang sejak tadi tak berkedip menatapnya.

“Lama tidak bertemu, Dongae­-ya,” ujar Hyukjae.

Kedua tangan Donghae mengepal erat di kedua sisi tubuhnya. Hatinya bergejolak, sesuatu yang sudah lama terpendam di dalam sana mendadak muncul ke permukaan, membuatnya mau tidak mau meluncurkan tatapan penuh kebencian ke arah Hyukjae.

Greb!

Jung Ra cukup terkejut saat merasakan pergelangan tangannya digenggam erat oleh Donghae. Ditolehkan kepalanya pada Donghae dan seketika dahinya berkerut heran takkala mendapati wajah Donghae yang sudah merah padam.

Hyukjae memandang tangan Jung Ra yang digenggam oleh Donghae. Itupun hanya beberapa detik karena ia kembali menatap Donghae.

“Donghae-ssi?” Jung Ra berusaha memanggil Donghae.

To be continued

 

 

 

 

 

 

 

 

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: