FRUIT LOVE [6/20]

hyuk2_副本

FRUIT LOVE

Chaptered FF

Author : Nita Henny

Cast : Go Jung Ra (OC) – Lee Donghae – Lee Hyukjae

Kim Ryeowook – Kim Youngwoon

Genre : Romance, Family, Brothership

Rating : PG-14

Note :
FF Ini udah pernah kupublish di blogku sendiri. Dulu, udah lama. Dan sekarang aku coba kirim ke sini hehehe.
You can visit my blog === >>> https://imajinasinita.wordpress.com/

Happy reading ~~~~

============================

“Apa kabar, Donghae-ya?” sapa Hyukjae yang berdiri santai dengan salah satu tangan yang ia masukkan ke dalam saku celananya.

“H-Hyukjae-ssi?” Jung Ra yang tak kalah terkejutnya dengan Donghae hanya bisa menunjuk ke arah Hyukjae tidak percaya.

“J-jadi… Tuan Lee Shin Ho adalah….kau?” tanya Jung Ra tidak habis pikir.

Hyukjae hanya tersenyum simpul ke arah Jung Ra. Namun, beberapa detik kemudian kedua matanya kembali terfokus pada Donghae yang sejak tadi tak berkedip menatapnya.

“Lama tidak bertemu, Dongae­-ya,” ujar Hyukjae.

Kedua tangan Donghae mengepal erat di kedua sisi tubuhnya. Hatinya bergejolak, sesuatu yang sudah lama terpendam di dalam sana mendadak muncul ke permukaan, membuatnya mau tidak mau meluncurkan tatapan penuh kebencian ke arah Hyukjae.

 

=Flashback on – Ten Years ago=

“Suster, apa kau tahu di mana ibuku?!” Donghae berlari menghampiri seorang perawat yang melintas di depan kamar rawat Nyonya Lee, ibunya.

“Maksud Anda……” Perawat itu mengalihkan pandangannya ke arah nomor kamar yang ada di dekat pintu. “… Pasien nomor 128 atas nama Nyonya Lee Jihyo?”

Donghae menganggukkan kepalanya dengan gusar. Wajahnya terlihat begitu kalut.

“Beberapa saat yang lalu saya baru saja memeriksa kondisinya. Sebentar saya panggilkan Dokter.” Perawat itu buru-buru meninggalkan Donghae setelah mengecek sendiri kamar rawat Nyonya Le yang memang sudah kosong.

Belum sempat Donghae melangkahkan kakinya untuk kembali mencari ibunya, seseorang memanggilnya. Ditolehkan kepalanya dan mendapati Hyukjae tengah berlari kecil menghampirinya.

“Apa Eomonim sudah ditemukan?” Wajah Hyukjae tak kalah kalutnya seperti Donghae. Sama dengan adik tirinya itu, Hyukjae juga sedang mencari Nyonya Lee yang tiba-tiba menghilang dari kamar rawatnya. Bahkan ia sudah meminta bagian keamanan rumah sakit untuk ikut membantu mencari keberadaan ibunya.

Donghae menggeleng lemah.

“Apa Abojie tahu kalau Eomma menghilang?” tanya Donghae sambil mengikuti langkah kaki Hyukjae yang menjauh dari depan kamar inap Nyonya Lee.

“Abojie tidak bisa kuhubungi. Tapi aku sudah meminta tolong pada Kepala Bagian Han untuk mencoba menghubunginya. Kau tahu sendiri ‘kan Abojie sedang ada di China untuk urusan perusahaan?”

Donghae mengangguk sekilas sambil tetap menolehkan kepalanya ke sana kemari untuk mencari sosok ibunya.

Malam ini Donghae dan Hyukjae memang bermaksud untuk kembali menjenguk ibu mereka di rumah sakit setelah sore tadi sempat meninggalkannya karena ada kegiatan di sekolah yang tidak bisa mereka tinggalkan. Tetapi, apa yang mereka dapati justru membuat mereka berdua kalang kabut. Donghae dan Hyukjae bukan tanpa alasan terlihat begitu khawatir seperti itu. Kondisi Nyonya Lee memang benar-benar lemah dan harus istirahat secara total di rumah sakit karena mengalami kelelahan hebat dan depresi.

Depresi.

Keterangan dari dokter yang satu itulah yang tidak dimengerti oleh Donghae dan Hyukjae. Bagaimana bisa ibu mereka mengalami depresi bila setiap hari yang mereka lihat hanya senyuman hangat dan hubungan yang terlihat harmonis dengan ayah mereka?

“Hyukjae-ya, aku akan mencari ke bagian depan rumah sakit. Kau cari di sisi lain. Bila kau menemukan Eomma lebih dulu, segera hubungi aku!” ucap Donghae dengan cepat sambil menjauh dari Hyukjae.

Donghae hampir saja menabrak seorang pengunjung yang melewati pintu masuk rumah sakit. Langkah kakinya terhenti ketika berada di bagian depan halaman rumah sakit yang begitu luas. Jantungnya tak bisa berdetak dengan normal. Entah kenapa perasaannya tidak enak.

“Eoh? Apa yang dilakukan wanita itu di atas sana?!” jerit seorang wanita paruh baya yang tanpa sengaja mendongak ke atas dan terkejut mendapati ada seseorang sedang berdiri di atap gedung rumah sakit yang cukup tinggi.

Sontak orang-orang yang ada di halaman rumah sakit ikut memandang ke atas, tak terkecuali dengan Donghae. Mereka semua berteriak-teriak memanggil wanita yang ada di atas sana.

Mata Donghae seketika terbelalak saat menyadari wanita itu adalah Lee Jihyo, ibunya. Buru-buru ia berlari masuk ke dalam rumah sakit kembali sambil merogoh saku celananya, mengambil ponselnya untuk menghubungi Hyukjae.

“Yeoboseo?”

“Hyukjae-ya, atap rumah sakit!” teriak Donghae sambil terus berlari menuju lift yang ada di dekat lobby. Karena pintu lift tak juga terbuka setelah ia menekan tombol merah yang ada di dekat pintu lift, akhirnya Donghae memilih tangga untuk sampai di atap rumah sakit.

“Apa? Atap rumah sakit?” Hyukjae langsung menghentikan langkah kakinya yang baru saja sampai di lantai tiga rumah sakit. Kepalanya masih menoleh ke segala arah. Didengarnya suara napas Donghae yang terengah-engah seakan sedang berlari di seberang telepon.

“Donghae-ya?” Hyukjae memanggil Donghae yang tak juga menjawab pertanyaannya.

“Eomma…… Eomma ada di atap rumah sakit! Hyukjae-ya cepat ke sana! Perasaanku sejak tadi tidak enak!”

Hyukjae terkejut bukan main saat mendengar jawaban Donghae. Anak laki-laki berambut hitam itu langsung memutar tubuhnya menuju tangga rumah sakit dan berlari menaikinya.

—————————–

“Donghae-ya!” Hyukjae yang ternyata sampai lebih dulu di depan pintu yang ada di dekat atap rumah sakit menolehkan kepalanya ke arah tangga saat mendengar derap langkah seseorang yang mendekatinya.

“Hyukjae-ya, Eomma ada di sana,” keluh Donghae di sela-sela napasnya yang sama sekali tidak teratur.

Hyukjae menganggukkan kepalanya sambil mengangkat tangannya, mengusap sekilas rambut Donghae untuk menenangkannya. “Kita jemput Eomonim.”

 

“Eomma!” Donghae memanggil Nyonya Lee yang berdiri di tepi atap, membelakangi mereka berdua. Rambut ikal berwarna coklat wanita itu berayun-ayun dimainkan oleh angin malam yang entah kenapa terasa cukup kencang. Dingin, dan wanita itu sama sekali tak menyelimuti tubuh berbalut pakaian rumah sakitnya dengan mantel ataupun pakaian tebal lainnya.

“Eomonim…” Kini ganti Hyukjae yang memanggilnya. Kedua anak laki-laki itu secara perlahan mendekati ibu mereka yang tak juga menolehkan kepalanya sekedar untuk merespon panggilan mereka.

“Eomma, kenapa berdiri di situ? Eomma bisa jatuh ke bawah bila terlalu lama berada di tepi seperti itu,” bujuk Donghae. Jantungnya belum juga berdetak dengan normal. Anak itu takut bila sewaktu-waktu ibunya terjatuh ke bawah.

Perlahan kepala Nyonya Lee menoleh ke belakang. Wajah pucat wanita itu terlihat sangat jelas. Kedua mata indahnya terlihat sembab dan walaupun kini tak ada tetesan air mata yang keluar.

“Eomma, bisa raih tanganku? Eomma sedang sakit, berbahaya kalau berdiri di tepi seperti itu. Ne?” Donghae mengulurkan tangannya sambil melangkahkan kakinya sedikit demi sedikit mendekati ibunya.

Bukannya menerima uluran tangan putranya, Nyonya Lee justru hanya memandang wajah Donghae. Air mata yang sempat terhenti kini kembali mengalir. Terdengar suara isak tangis yang semakin lama semakin kencang dan memilukan, membuat Donghae dan Hyukjae terkesiap.

“Eomonim?”

Eomma?”

Tangis Nyonya Lee semakin lama semakin kencang. Mendadak hati Donghae terasa berdenyut, sangat sakit hingga dirinya sendiri entah kenapa menjadi susah untuk bernapas. Ini pertama kali bagi Donghae melihat ibunya menangis seperti itu. Seakan ibunya itu baru saja mengalami sesuatu yang benar-benar buruk hingga membuatnya itu tidak bisa menahan kesedihan yang begitu dalam.

“Eomma, raih tanganku,” bujuk Donghae dengan suara tercekat. Tanpa ia sadari, air matanya sendiri luruh begitu saja melihat ibunya menangis seperti itu. Hatinya semakin tidak tenang melihat tubuh ibunya berguncang karena menangis.

“Eomma, cepat raih tanganku. Nanti Eomma bisa jatuh kalau terlalu lama di sana.” Suara Donghae terdengar lemah. “Hyukjae-ya, bantu aku,” tambahnya sambil menoleh ke arah Hyukjae yang sejak tadi terdiam di sampingnya.

Hyukjae, entah kenapa ia tidak bisa berkata apa-apa saat melihat dengan mata kepalanya sendiri Nyonya Lee menangis meraung-raung seperti itu. Seluruh tubuhnya mendadak membeku tanpa sebab. Ia hanya bisa memandang Nyonya Lee dengan mata berkaca-kaca tanpa bisa melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Donghae; membujuknya untuk turun.

“Eomma, raih tanganku! Eomma sedang sakit, jangan membuatku semakin khawatir seperti ini!”Nada suara Donghae mendadak meninggi hingga membuat Hyukjae sendiri tersadar dari lamunannya.

“E-Eomonim… turunlah.” Akhirnya Hyukjae ikut membujuk Nyonya Lee.

Mata Nyonya Lee beralih menatap Hyukjae anak tiri yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri itu. Hyukjae dibuat terkesiap ketika membalas tatapan ibunya. Melalui mata itu, Nyonya Lee seperti sedang meminta sesuatu pada Hyukjae.

Deg!

Jantung Hyukjae seakan berhenti berdetak saat menyadari apa arti tatapan mata ibunya. Kepalanya menoleh dengan cepat ke arah Donghae yang diam-diam berusaha menggapai tangan ibunya.

Apakah benar itu sebuah permintaan dari Nyonya Lee pada dirinya?

Apa maksudnya?

Belum sempat Hyukjae mencerna apa arti tatapan ibunya, terdengar teriakan Donghae yang cukup memekakkan telinganya. Mata Hyukjae seketika terbelalak saat mendapati Donghae sudah berada di tepi atap dengan tubuh yang membungkuk ke arah bawah. Nyonya Lee sudah tidak ada di sana. Jangan-jangan…

“Hyukjae-ya, bantu aku!” teriak Donghae yang sebelumnya dibuat terkejut bukan main karena sesaat setelah dia hampir bisa menyentuh ujung jari ibunya, mendadak ibunya tersebut meloncat dari tepi atap. Untung saja ia bisa meraih pergelangan tangan ibunya terlebih dulu. Tetapi tetap saja kini ia kesulitan untuk mengangkat tubuh ibunya yang menggantung di tepi atap bagian bawah.

“Eomonim, angkat tangan Eomonim yang satunya! Raih tanganku!” teriak Hyukjae sambil mengulurkan tangannya.

Di bawah sana sudah banyak orang-orang yang melihat dengan cemas.

“Eomma, raih tangan Hyukjae……” Donghae membujuk ibunya.

“Donghae-ya, tarik tangannya!” teriak Hyukjae sambil berusaha menggapai pakaian Nyonya Lee bagian atas.

“Dindingnya terlalu tinggi! Aku tidak bisa menahan tanganku. Hyukjae-ya tolong……” Donghae mulai menangis sambil terus berusaha menarik tangan ibunya.

“Donghae-ya……” Terdengar suara ibunya dari arah bawah.

“Eomma, jangan bicara dulu! Angkat tangan Eomma yang lain agar bisa diraih Hyukjae! Donghae mulai merasakan kram di lengannya. Namun, itu tak dihiraukannya. Ia harus terus berusaha menarik ibunya kembali ke atap. Bila ia menghiraukan rasa sakit di tangannya, maka ibunya akan terlepas dan sesuatu yang buruk akan terjadi.

Donghae belum siap untuk sesuatu yang buruk itu.

“Hyukjae-ya, aku sudah tidak bisa menahannya lagi!” teriak Donghae.

Karena Nyonya Lee tak juga mengangkat tanganya yang lain, Hyukjae pun bermaksud untuk membantu Donghae. Namun, ketika ia baru mengulurkan tangannya, tangan Nyonya Lee yang bebas terangkat menyentuh tangan Donghae yang menggenggamnya. Kepala wanita itu mendongak memandang Donghae.

Lagi-lagi Nyonya Lee menyunggingkan senyum itu. Senyum untuk yang terakhir kalinya.

“Nak, maaf……”

Hanya ucapan itu yang terlontar dari bibir Nyonya Lee sebelum menancapkan sebuah jarum infus pada tangan Donghae. Spontan Donghae mengerang kesakitan ketika ibunya membuat goresan yang cukup dalam pada tangannya. Darah segar pun mengalir, tangannya terasa ngilu. Perlahan genggaman tangan Donghae mulai mengendur karena ia mulai tak bisa merasakan tangannya sendiri.

“Eomma!” teriak Donghae saat Nyonya Lee memilih untuk melepaskan tangannya dari genggaman putranya. Wanita itu meluncur ke bawah.

BRUG!

Nyonya Lee terkapar dengan bersimbah darah. Orang-orang sontak berteriak ketakutan.

—————————-

“Dokter, tolong selamatkan ibu kami!” pinta Hyukjae sambil berusaha memegang Donghae yang sejak tadi meronta sambil menangis di depan ruang gawat darurat. Dokter itu hanya mengangguk seraya melesat masuk ke dalam.

Donghae terus meronta sambil berteriak memanggil ibunya. Tangisannya cukup kencang hingga membuat Hyukjae merasa sangat tidak tega.

“Donghae-ya, dengarkan aku dulu, Eomma pasti akan selamat. Kau jangan seperti ini!” bujuk Hyukjae sambil terus berusaha menahan Donghae yang terus mendekati ruangan di mana ibunya sedang diperiksa.

“Seharusnya kita tidak pulang tadi. Hyukjae-ya, seharusnya aku tidak memaksamu untuk menemaniku ke sekolah. Seharusnya aku tidak ikut klub sepak bola sekolah. Seharusnya kita tidak meninggalkan Eomma sendirian di sini. Hyukjae-ya seharusnya…….” Kata-kata Donghae tenggelam dalam tangisannya.

Melihat adiknya seperti itu, Hyukjae lantas merengkuhnya. Ia tahu adiknya itu mudah sekali menangis, tapi kali ini tangisannya benar-benar membuat perasaan Hyukjae hancur. Ia bisa merasakan betapa sedihnya Donghae melihat ibunya melakukan hal yang benar-benar tidak pernah diduga.

“Eomma akan baik-baik saja. Aku bisa menjamin itu. Berhentilah menangis. Ne?” Hyukjae berusaha menenangkan Donghae yang kini ada di pelukannya.

Beberapa saat kemudian pintu terbuka. Dokter yang dimintai tolong oleh Hyukjae tadi keluar dengan jas putihnya yang berhias bercak darah di beberapa bagian. Hyukjae dan Donghae langsung mendekatinya dan menanyakan bagaimana keadaan ibu mereka.

“Maaf, ibu kalian tidak bisa kami selamatkan. Kepalanya mengalami luka yang cukup parah, dan ada tulang rusuk yang patah yang menusuk jantungnya.”

Kata-kata dari dokter bertubuh tinggi itu cukup jelas di telinga Hyukjae dan Donghae. Hanya saja Donghae lebih dulu limbung dan hampir jatuh ke atas lantai dingin rumah sakit kalau saja Hyukjae tidak segera menahan tubuhnya.

Sambil terus berusaha menahan tubuh lemas Donghae, Hyukjae mengambil ponselnya yang ada di saku jaketnya. Jemarinya yang gemetar berusaha untuk menghubungi ponsel ayahnya. Lagi-lagi tak bisa dihubungi. Dicarinya nama Kim Youngwoon, kakak sepupunya di daftar kontak.

“Hyung………. E-eomonim…….Eomonim…… meninggal.”

—————————————

Sudah banyak orang yang berdatangan di rumah Presdir Lee di mana peti mati Nyonya Lee ada di tengah ruangan. Sebagian besar dari mereka yang datang adalah orang-orang penting dan pegawai perusahan milik Presdir Lee. Namun, di antara orang-orang yang berada di ruangan itu tidak nampak sosok Donghae, Hyukjae ataupun Predir Lee.

 

=at Hyukjae’s room=

“Kau melepaskan tangan ibumu begitu saja?” desis Presdir Lee saat Donghae berusaha menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi malam itu di atap rumah sakit.

“Kau melepaskannya begitu saja, HAH?!” Teriakan Presdir Lee pada Donghae berhasil membuat Hyukjae yang berdiri tak jauh dari Donghae terperanjat.

“A-Abojie bukan begitu. Aku…….”

“Seharusnya kau menariknya lebih kuat! Ani… seharusnya kau tidak meninggalkanya sendirian di rumah sakit! Kau tahu, melepaskan genggamanmu dari tangannya sama saja dengan membunuhnya!”

Kalimat terakhir dari ayahnya benar-benar membuat Donghae terhenyak. Dadanya terasa dihantam oleh sesuatu yang cukup besar hingga ia bisa merasakan nyeri di dalam sana.

“Membunuhnya? Abojie………… aku tidak…………” Air mata yang sejak tadi Donghae tahan akhirnya jatuh juga. Kepalanya menoleh ke arah Hyukjae yang terlihat sama terkejutnya dengan dirinya.

“Hyukjae-ya, aku tidak membunuhnya ‘kan? Hyukjae-ya, jelaskan pada Abojie apa yang sebenarnya terjadi.” Donghae mencoba meminta dukungan Hyukjae.

Hyukjae hanya memandang Donghae tanpa membuka mulutnya. Sebenarnya hatinya ikut terasa sakit ketika ayahnya menganggap Donghae sudah membunuh ibunya sendiri. Tapi entah kenapa kata-kata yang ingin ia ucapkan untuk membela Donghae tidak bisa ia keluarkan dari ujung tengorokannya. Ada semacam dinding yang cukup tebal yang menahan semua kata-kata itu untuk keluar ketika ia mendengar bentakan ayahnya.

Seumur hiupnya, ini adalah pertama kali baginya melihat ayahnya semarah itu. Keberaniannya untuk membela Donghae hilang begitu saja.

“Hyukjae-ya……..” Nada suara Donghae yang memanggil Hyujae terdengar melemah. Anak laki-laki itu masih belum mengerti kenapa Hyukjae jadi sediam ini. Kenapa kakaknya itu tidak melakukan hal yang biasa ia lakukan ketika Presdir Lee memarahinya untuk hal yang sepele?

“A-Abojie!” Donghae berusaha memanggil ayahnya yang memilih untuk keluar dari kamar. Disekanya air mata yang baru saja jatuh ke pipinya dan langsung menolehkan kepalanya ke arah Hyukjae yang masih terdiam.

“Kenapa kau sejak tadi diam? Kenapa kau tidak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau membiarkan Abojie berkata seperti itu padaku?” Donghae mencecar Hyukjae dengan pertanyaan-pertanyaan itu.

Hyukjae tak menjawab. Ia perlahan menggerakkan kakinya, berjalan menuju pintu kamarnya yang terbuka lebar. Ia tidak tahu jawaban apa yang harus ia berikan pada Donghae karena ia sendiri tidak tahu kenapa ia bisa diam membisu melihat ayahnya mengatakan hal yang tidak-tidak pada Donghae.

“Hyukjae-ya!”

Panggilan Donghae sama sekali tak dihiraukan Hyukjae. Ia terus berjalan pelan keluar kamar dan memilih untuk masuk ke dalam kamar Donghae dan mengunci dirinya di dalam sana.

=Flashback of=

 

Greb!

Jung Ra cukup terkejut saat merasakan pergelangan tangannya digenggam erat oleh Donghae. Ditolehkan kepalanya pada Donghae dan seketika dahinya berkerut heran takkala mendapati wajah Donghae yang sudah merah padam.

“Donghae-ssi?” Jung Ra berusaha memanggil Donghae. tetapi, sepertinya panggilan Jung Ra tak berguna karena Donghae tak juga meresponnya.

Belum sempat Jung Ra bertanya lagi, tangannya sudah lebih dulu ditarik oleh Donghae.

Yaa, kwitansinya belum dibayar!” Jung Ra berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Donghae yang semakin kencang saja hingga ia meringis kesakitan.

Jung Ra hampir menabrak punggung Donghae saat tiba-tiba Donghae menghentikan langkah kakinya sendiri. Gadis itu semakin dibuat bingung karena Donghae memberikan kuitansi padanya.

“Minta sisa pembayaran darinya dan segera kembali ke mobil.” Hanya itu yang diucapkan Donghae sebelum melepaskan genggaman tangannya dan berjalan menuju pintu keluar.

“Haiishh…. Sebenarnya apa yang terjadi dengannya?” keluhnya seraya memutar tubuhnya dan kembali ke tempat di mana Hyukjae berdiri.

“Hyukjae-ssi, maafkan sikap bosku tadi. Dia memang suka bertingkah aneh. Eeee… ini kuitansinya.” Jung Ra memberikan kwitansi sisa pembayaran paket buah pada Hyukjae.

“Tanganmu tidak apa-apa?” Hyukjae justru menanyai keadaan Jung Ra karena ia melihat sendiri pergelangan tangan gadis itu sedikit memerah.

“Ini tidak apa-apa. Sebaiknya segera kau lunasi agar aku bisa segera kembali ke mobil. Tapi…. sepertinya kau cukup mengenal bosku. Apa kalian sudah pernah bertemu?” tanya Jung Ra.

Hyukjae hanya tersenyum sambil memberikan uang sisa pembayaran paket buah pada Jung Ra.

“Aku harus segera pergi. Terima kasih sudah mau bekerja sama denganku. Aku akan menikmati paket buah dari tokomu. Aku pergi dulu,” ucap Hyukjae seraya menepuk pelan bahu Jung Ra dan berlalu begitu saja.

***

“Ini uangnya,” ujar Jung Ra ketus sambil meletakkan amplop berisi uang pemberian Hyukjae ke atas dashboard mobil begitu saja. Setelah memasang sabuk pengamannya sendiri Jung Ra langsung mengatupkan bibirnya sambil memandang lurus ke arah depan.

Melihat sikap Jung Ra seperti itu Donghae hanya mengela napas pelan. Diliriknya sekilas pergelangan tangan Jung Ra yang ada di atas paha gadis itu. Di sana ada bekas genggamannya yang sedikit berwarna merah.

Gwaenchana? Aku bertanya tentang tanganmu,” tanya Donghae seraya kembali memandang kemudi yang ada di depannya.

“Menurutmu? Apa aku harus bilang aku tidak apa-apa, Donghae-ssi, begitu? Walaupun sebenarnya ini tidak ada apa-apanya dibanding lima hari kemarin yang benar-benar seperti neraka bagiku hingga membuatku bingung apakah aku sedang bekerja di toko buah atau di toko jarum. Puas?” Jung Ra menumpahkan semua emosi yang sebenarnya sudah ia tahan sejak lama. Entah kenapa hari ini kata-kata itu keluar semua tanpa kehendaknya.

Donghae tak menanggapi omelan Jung Ra. Laki-laki itu memilih menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya, meninggalkan depan gedung tempat Hyukjae berada. Kepalanya sudah cukup pusing untuk menanggapi omelan Jung Ra yang tak juga berhenti selama perjalanan.

Namun, di tengah perjalanan benaknya terusik oleh sesuatu yang baru disadarinya. Pertemuannya dengan Hyukjae memang tidak ia duga sama sekali, hanya saja ada satu hal yang membuatnya terpaksa mau tidak mau menolehkan kepala ke arah Jung Ra.

“Tentang Tuan Lee Shin Ho………….apa kalian saling mengenal satu sama lain?”

Jung Ra tak mau menjawab.

“Go Jung Ra.”

“Maksudmu Hyukjae?” Akhirnya Jung Ra membuka mulutnya, walaupun nada suara yang keluar terdengar sangat ketus.

“Yeah… siapapun itu….,” jawab Donghae seraya membelokkan mobilnya ke jalanan yang ada di sisi kiri.

“Dia adalah tetanggku, ah… ani, maksudku tetangga kita. Tempat Tinggalnya ada di sisi kanan apartemenku. Kau tahu, kalau diibaratkan, tempat tinggalku ada di tengah-tengah antara neraka dan surga.” Jung Ra melirik ke arah Donghae, berharap laki-laki itu sadar kalau sedang ia sedang disindir.

Seketika ekspresi wajah Donghae berubah. Matanya menerawang jauh ke depan. Jawaban Jung Ra mengejutkannya. Apakah telinganya benar-benar mendengar bahwa Hyukjae ada di gedung itu; gedung yang sama dengan tempat tinggalnya selama ini? Lalu apa tujuan Hyukjae berpura-pura menjadi orang lain hanya untuk memesan begitu banyak paket buah ke tokonya?

Donghae merasakan ada yang ganjil di sini.

“Apa kalian juga saling mengenal? Kulihat tadi Hyukjae menyapamu dengan santai, seakan kalian sudah lama tak bertemu,” tanya Jung Ra ketika mobil berhenti di depan toko.

“Tidak. Kami tidak saling mengenal.” Hanya itu jawaban yang diberikan Donghae sebelum keluar dari mobil dan meninggalkan Jung Ra.

 

“Jung Ra-ya, apa kalian bertengkar lagi? Kenapa wajah Hyungnim menjadi seperti itu lagi dan….” Belum selesai Ryeowook bertanya pada Jung Ra yang baru saja masuk ke dalam toko, terdengar suara pintu kamar mandi yang ditutup dengan kencang. Membuat Ryeowook dan Jung Ra cukup terkejut.

“….baru saja menutup pintu toilet dengan kencang?” tambah Ryeowook sambil menunjuk toilet yang kini sudah tertutup.

Jung Ra hanya mengedikkan bahunya, melemparkan tasnya ke atas kursi kosong di dekat tumpukan buah jeruk dan menghenyakan tubuhnya ke sofa using di belakang meja kerja Donghae.

“Apa yang terjadi? Apa kalian bertengkar lagi? Kenapa sich kalian harus seperti itu? Bukankah sebentar lagi kau akan keluar dari toko ini? Bukankah seharusnya kau meninggalkan kesan yang baik pada Hyungnim agar ia akan berpikir ratusan kali untuk mengeluarkanmu? Go Jung Ra?” Ryeowook yang sudah mendaratkan tubuhnya di samping Jung Ra terus menghujaninya dengan banyak pertanyaan.

Oppa!” bentak Jung Ra yang sangat risih mendengar suara Ryeowook yang mirip ibunya saat sedang mengomel.

Yaa, kenapa kau membentakku?!” Nada Ryeowook bahkan bisa lebih tinggi dari bentakan Jung Ra.

Kalau sudah begini, Jung Ra tidak akan membalasnya dengan nada yang lebih tinggi lagi karena ia tidak mau melihat sahabatnya itu menangis layaknya seorang perempuan yang baru saja diputus oleh pacarnya. Sangat berisik.

Oppa, kau mengenal bosmu cukup lama?” tanya Jung Ra setelah sebelumnya melongokkan kepalanya ke arah toilet, berjaga-jaga siapa tahu Donghae keluar dari dalam toilet.

“Tentu saja aku sudah mengenalnya. Aku ‘kan sudah bekerja di sini semenjak Hyungnim pertama kali membuka toko di daerah ini lima tahun yang lalu. Memangnya ada apa?”

Jung Ra menggelengkan kepalanya pelan sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Dahinya berkerut, seakan sedang memikirkan sesuatu yang baru saja ia lewatkan.

“Aneh sekali. Oppa, apa dia pernah mempunyai musuh? Atau dia buronan polisi?” Pertanyaan Jung Ra justru ditanggapi Ryeowook dengan tawa.

Yaa, aku serius!” gerutu Jung Ra.

Aigoo…..pertanyaanmu sangat lucu, Go Jung Ra.” Ryeowook berusaha meredakan tawanya.

“Jadi, bagaimana?” Jung Ra tetap penasaran dengan jawaban yang akan diberikan oleh temannya itu.

“Sepertinya……….. hanya dirimu yang menjadi musuhnya. Kau tahu sendiri ‘kan, bagaimana perubahan raut wajahnya bila sedang ada di dekatmu? Selain itu kurasa tidak ada.”

Jung Ra tidak tahu apakah harus menjitak kepala Ryeowook atau justru berterima kasih karena sudah menjawab pertanyaannya.

“Apa kau mengenal seseorang yang bernama Lee Hyukjae?” Jung Ra berusaha mengganti pertanyaannya, berharap kali ini laki-laki yang sedang duduk di sampingnya akan menjawab dengan benar.

“Siapa? Lee Hyukjae?” Ryeowook menggerakkan kedua bola matanya. “Lee Hyukjae………..mmmmm…. aku….. tidak pernah mendengar nama…., tapi sepertinya aku pernah….. tapi aku lupa….. Lee Hyukjae…. Lee Hyukjae. Eiiissh… Go Jung Ra, kenapa sejak tadi kau memberiku pertanyaan yang sangat sulit sekali?” Ryeowook mengeluh sambil bangkit dari duduknya dan kembali melanjutkan pekerjaanya menghitung jumlah buah semangka yang baru saja datang satu kotak besar dari pemasok toko.

Jung Ra hanya berdecak pelan dan berdiri dari duduknya. Ia baru akan ikut membantu Ryeowook menghitung buah ketika pintu toko dibuka oleh seseorang.

“Selamat datang di toko kami, Tuan!” sapa Jung Ra yang sempat heran ketika melihat penampilan pengunjung tokonya yang berpakaian setelan jas formal, lengkap dengan koper hitam di tangan kirinya.

Eoh? Kim Youngwoon Hyungnim!” Ryeowook meletakkan kalkulator besarnya begitu saja ke atas tumpukan apel dan menghampiri Youngwoon. Karyawan Donghae itu lantas membungkukkan badannya sesaat untuk memberi salam pada kakak sepupu Donghae.

“Ryeowook-ah, apa Donghae ada?” tanya Jongwoon.

“Donghae Hyungnim sedang…..”

Hyung!” Donghae sudah berjalan menghampiri Jongwoon dan Ryeowook yang ada di dekat pintu masuk. Ryeowook lantas memilih untuk pergi meninggalkan mereka berdua dan menarik Jung Ra agar menjauh dari pintu toko.

“Siapa dia?” bisik Jung Ra yang tubuhnya sudah ditarik Ryeowook ke depan meja panjang berisi buah manggis yang berantakan. Mata gadis itu berulangkali mencuri pandang ke arah Donghae dan Jongwoon.

“Namanya Kim Youngwoon, dia adalah kakak sepupu Hyungnim. Setiap dia datang kemari, mereka pasti akan terlibat pembicaraan yang sangat serius. Yaa, jangan melihat ke sana terus,” bisik Ryeowook seraya menarik kepala Jung Ra agar tak menolehkan kepalanya ke arah pintu masuk toko.

***

Hyung, apakah itu semua benar?” tanya Donghae pada Youngwoon Youngwoon hanya menghela napas sejenak sebelum mengangkat gelas kopi yang ada di depannya dan menyesapnya isinya sedikit.

Donghae terpaksa mengajak kakak sepupunya itu ke kedai kopi yang ada di seberang jalan, tak jauh dari tokonya berada karena Jung Ra berulangkali mengamati dirinya dan Youngwoon.

“Apa aku juga bisa memesan makanan ringan?” Youngwoon terlihat mengalihkan topik pembicaraan yang sedang dibuat oleh Donghae. Youngwoon bukannya tidak mau menjawab pertanyaan Donghae tentang pemesanan buah atas nama Tuan Lee Shin Ho, hanya saja ia sudah tahu bagaimana reaksi Donghae bila ia menjawabnya.

“Semakin kau menghindari pertanyaanku, semakin terlihat jelas kalau kau juga terlibat, Hyung,” ucap Donghae dingin.

“Haaah… kenapa kedai ini tidak ber-AC? Tahu begini aku akan ganti pakaian dulu setelah kau menelponku untuk datang menemuimu. Yaa, apa saat kau menelponku kau sedang berada di toilet? Aku tadi sebenarnya mendengar suara-suara aneh yang hanya terdengar bila seseorang sedang ada di dalam sana.” Lagi-lagi Youngwoon tidak menghiraukan gertakan Donghae. Katakan saja….. kakak sepupu Donghae itu sudah kebal dengan ancaman, gertakan bahkan tatapan dingin yang sering diluncurkan oleh Donghae setiap mereka bertemu.

“Youngwoon Hyung!” Donghae sudah kehilangan kesabarannya menghadapi kakak sepupunya tersebut. Ia tak peduli beberapa pengunjung kedai menolehkan kepala mereka ke mejanya karena suaranya yang cukup kencang.

Youngwoon akhirnya membalas tatapan dingin Donghae.

“Ini semua karena dia peduli padamu,” jawab Youngwoon pelan sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi yang cukup empuk.

Donghae menyeringai tipis. Tepatnya sebuah senyuman miris, seakan jawaban yang diberikan oleh Jongwoon adalah sesuatu yang sangat bodoh.

“Omong kosong apa ini?” desis Donghae.

“Lee Donghae, kau mau terima atau tidak, dia tetap akan menjadi kakakmu dan dia tidak akan pernah berhenti untuk peduli padamu. Seharusnya kau…….”

“Kau sudah selesai minum kopinya? Kalau kau ingin memesan makanan ringan, pesan saja tapi aku hanya akan membayar kopimu. Aku pergi dulu.” Donghae seraya bangkit dari duduknya. Belum sampai ia menjauh dari tempat Youngwoon duduk, ia kembali menolehkan kepalanya ke belakang.

Hyung, Aku masih menganggapmu sebagai kakak sepupuku. Kau tahu kenapa? Itu karena aku masih merasa kau adalah satu-satunya orang yang bisa mengerti keadaanku dari dulu hingga sekarang. Jadi kuharap ini adalah terakhir kalinya aku mengetahui kau terlibat dalam hal konyol.”

Donghae berjalan keluar dari kedai kopi sambil kembali menutupi kepalanya dengan topi hitam.

Youngwoon yang melihat Donghae sudah menyeberangi jalan dari balik kaca besar yang ada di sampingnya lantas mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.

Yeoboseo?” Terdengar suara dari seberang telepon sana.

“Ronde pertama selesai. Kau harus bersiap untuk ronde yang kedua, Lee Hyukjae.” Ucap Jongwoon.

Secepat itu, Hyung?

Youngwoon tertawa pelan menanggapi pertanyaan Hyukjae. “Kalau kalian berdua bukan adik sepupuku, aku sudah melempar kalian berdua ke Sungai Han. Apa dulu kau tidak pernah mengajari adikmu itu untuk bersikap saling berbagi pada orang lain? Kenapa sifat pelitnya semakin lama semakin bertambah? Tadi aku benar-benar ingin makan makanan ringan yang dijual di kedai kopi dekat toko adikmu, tapi saat dia bilang dia hanya akan membayar kopiku saja, aku jadi ingin menjitak kepalanya.”

Yaa, Lee Hyukjae, kenapa kau hanya tertawa?” gerutu Youngwoon yang kesal karena adik sepupunya hanya menanggapi ‘pengaduannya’ sebagai sesuatu yang patut untuk ditertawakan.

 

Waktu terus berjalan hingga tak terasa malam hari pun tiba. Donghae berjalan pelan menaiki anak tangga di dekat apartemen sederhananya. Namun, ketika ia sudah sampai di depan tempat tinggalnya, tangannya berhenti menyentuh knop pintu. Kepalanya menoleh ke sisi kanan tubuhnya.

‘Dia adalah tetanggku, ah… ani, maksudku tetangga kita. Tempat tinggalnya ada di sisi kanan apartemenku.’

Ucapan Jung Ra terngiang di benaknya. Benarkah apa yang diucapkan Jung Ra? Perlahan Donghae mendekati depan pintu apartemen yang ada di sisi kanan apartemen Jung Ra.

Apakah ia harus mengetuk pintu yang ada di depannya itu? Tapi untuk apa ia melakukannya? Melihat pintu itu saja perasaan bencinya kembali muncul ke permukaan. Donghae tidak tahu apakah ia bisa menahan emosinya bila sampai bertemu dengan pemilik apartemen itu.

“Kau mencariku?”

Donghae terkejut, tapi ia tidak mau menunjukkan hal itu di saat menyadari siapa yang sudah berdiri tak jauh darinya. Dihelannya napas sejenak sambil memutar tubuhnya menghadap orang berpakaian formal dengan jas yang ada di tangannya itu.

Lee Hyukjae.

“Sudah kuduga kau akan mencari keberadaanku………, Donghae-ya,” ucap Hyukjae sambil mengulas senyum tipis.

“Benarkah kau bertindak sejauh ini?” desis Donghae yang berusaha menahan emosinya.

Hyukjae tak langsung menjawab pertanyaan Donghae. Ia hanya berjalan mendekatinya dan berhenti tepat di saat Donghae benar-benar melemparkan tatapan dinginnya.

“Bagaimana aku bisa menjawab pertanyaanmu kalau kau saja belum menjawab pertanyaanku tadi? Bagaimana kabarmu, Donghae-ya?”

“Aku? Aku baik-baik saja sepuluh tahun ini. Tapi itu hanya bertahan sampai kemarin karena hari ini aku merasa kabarku tidak lagi baik-baik saja,” jawab Donghae datar.

Hyukjae, dalam diamnya mengerti kalau yang dimaksud Donghae adalah kehadirannya. Tetapi ia hanya bisa menghela napas pelan sambil memaasukkan salah satu tangannya ke saku celana.

“Donghae-ya…..”

“Berhenti memanggilku seperti itu, Lee Hyukjae. Kau sama sekali tidak punya hak untuk memanggilku dengan sebutan itu,” potong Donghae.

Hyukjae mengepalkan tangannya yang ada di dalam saku celana. Senyum yang ada di bibirnya perlahan menghilang.

“Aku masih punya hak karena aku adalah kakakmu.”

Donghae mendengus sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.

“Kakakku? Seingatku aku adalah anak tunggal dari seorang janda bernama Lee Jihyo. Anak laki-laki yang mengira hidupnya akan bahagia karena ibunya akan menikah dengan seorang laki-laki berhati baik dan mau menerimanya sebagai anaknya sendiri. Anak laki-laki yang selama hidup bersama ayah dan kakak tirinya mengira akan selalu mendapat kasih sayang dari mereka berdua. Tapi yang kulihat….. ayah tirinya sama sekali tidak mau memandang wajahnya sedikitpun semenjak peringatan hari kematian mendiang anak bungsunya hanya karena wajah mereka berdua mirip. Dan yang paling menggelikan adalah….. kakak tirinya tidak mau membela anak itu di saat ayahnya menyebutnya sebagai pembunuh ibunya sendiri. Bukankah itu benar-benar mengerikan bila dijadikan sebuah cerita? Kau mau percaya atau tidak, itu terserah dirimu karena yang mengalami semuanya adalah anak itu, anak yang bernama LEE DONGHAE!” Donghae menekankan namanya.

Susah payah Donghae menahan air mata yang mendesak ingin keluar bila mengingat saat-saat di mana ia merasa diperlakukan tidak adil oleh orang-orang yang ia kira benar-benar bersikap baik padanya.

“Aku yang mengalaminya, Lee Hyukjae, bukan dirimu atau yang lain,” ucap Donghae seraya membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju apartemennya.

Hyukjae hanya terdiam menatap tubuh adiknya yang menghilang saat pintu apartemen itu tertutup dengan cukup kencang. Hatinya berdenyut mendengar Donghae menyebut namanya sendiri dengan mata berkaca-kaca seperti itu. Tubuhnya bergerak, bersandar pada dinding di dekat pintu apartemennya dan ambruk begitu saja ke atas lantai. Kepalanya tertunduk dengan mata terpejam, berusaha menenangkan dirinya sendiri hingga ia merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bahunya.

Ditegakkan kepalanya dan mendapati Jung Ra sudah ada di dekatnya dengan wajah bingung.

“Hyukjae-ssi, kenapa kau duduk seperti ini di luar apartemenmu? Apa kau tidak kedinginan? Ini sudah malam,” ucap Jung Ra dengan wajah khawatir. Sebelumnya gadis itu dibuat terkejut saat mendapati Hyukjae sudah terduduk di dekat pintu.

Jung Ra baru akan kembali bertanya ketika Hyukjae tiba-tiba menarik tangannya hingga membuatnya ikut terduduk di atas lantai.

“Bisa menemaniku sebentar? Hanya tiga menit. Kumohon,” pinta Hyukjae dengan suara yang lemah.

Jung Ra hanya menganggukkan kepalanya ragu sambil menyandarkan punggungnya pada dinding. Diletakkannya tasnya ke atas paha sambil meluruskan kedua kakinya. Jung Ra terkesiap saat merasakan kepala Hyukjae berada di bahu kecilnya.

“H-Hyukjae-ssi?”

“Hanya tiga menit, Jung Ra-ssi,” ucap Hyukjae seraya memejamkan matanya.

Seperti yang Hyukjae katakan : hanya tiga menit. Tetapi Jung Ra tidak menjamin selama tiga menit itu ia akan baik-baik saja karena sejak detik pertama tiga menit itu jantungnya sudah berdetak di luar normal. Ini sudah kesekian kalinya tiap ia berada di dekat Hyukjae, efeknya akan langsung menghujam jantungnya tanpa ampun. Kalau sudah begini Jung Ra hanya berharap ia tidak lebih dulu pingsan, atau harapan lain yang lebih penting : Hyukjae tidak mendengar detak jantungnya.

“Apakah aku ini orang jahat?”

Ne?”

“Menurutmu…. apakah aku ini termasuk orang jahat?” tanya Hyukjae. Matanya masih terpejam, menghirup harum parfum milik Jung Ra yang terasa begitu kalem dan menenangkan. Entahlah…. Apakah memang parfum yang dipakai gadis itu memang memberikan efek tenang bagi siapapun yang menghirupnya atau hanya perasaan Hyukjae saja yang merasakannya.

“Sebenarnya semua orang itu berhati baik. Bahkan orang jahat pun pasti mempunyai sisi yang baik. Aku yakin itu. Kau mau tahu kenapa? Semua orang yang jahat awalnya adalah orang baik. Mereka menjadi seperti itu karena ada sesuatu yang membuatnya tidak lagi merasa percaya pada orang lain. Tapi aku tidak peduli akan hal itu, karena aku melihat orang bukan dari penampilan mereka. Aku lebih memilih untuk melihat hati mereka,” jawab Jung Ra panjang lebar.

“Jawabanmu melenceng jauh dari pertanyaanku, Jung Ra-ssi.” Hyukjae akhirnya tersenyum tipis walaupun tak merubah posisinya.

Jung Ra tertawa pelan, tepatnya hanya tawa itu yang bisa ia keluarkan untuk menahan malu. “Aku…., aku hanya mengutip apa yang pernah ibuku katakan padaku. Tapi…. sebenanya apa terjadi sesuatu sebelum kau pulang? Kulihat kau sedang sedih.” Jung Ra berusaha menundukkan kepalanya untuk melihat wajah Hyukjae.

Mata Hyukjae terbuka.

“Aku baru saja membuat seseorang marah padaku hari ini, dan sepertinya dia tidak akan pernah memaafkanku lagi,” jawab Hyukjae pelan.

Jung Ra menghela napas. Walaupun ia tidak tahu masalah apa yang sedang dialami Hyukjae, ia bisa merasakan kesedihan Hyukjae melalui nada suaranya yang begitu lirih dan lemah. Seakan laki-laki itu baru saja membuat kesalahan yang begitu besar hingga berimbas pada fisiknya yang terlihat lelah.

Gwaenchana?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir mungil Jung Ra. Sesaat kemudian ia merasakan Hyukjae menggelengkan kepalanya di bahu kecilnya. Tanpa seijin otaknya, tangan Jung Ra bergerak menyentuh jemari Hyukjae yang dingin dan menggenggamnya.

Sebuah senyum samar tersungging di bibir Jung Ra takkala Hyukjae membalas genggaman tangannya. Kini tangannya terasa lebih hangat. Jung Ra tahu untuk selanjutnya ia tak perlu lagi bertanya apapun karena melalui genggaman itu ia bisa mengerti Hyukjae memang sedang ada masalah dan kini sedang membutuhkan sebuah dukungan dari seseorang yang ada di dekatnya.

Seseorang yang ada di dekatnya?

Kedua pipi Jung Ra seketika memerah saat mengulang kata-kata itu di benaknya. Sepertinya pikiran gilanya sudah terlalu jauh berlari meninggalkan akal sehatnya.

Kau hanya temannya, Go Jung Ra. Kau hanya temannya. Hanya temannya ― Jung Ra mengulangi kata-kata itu di dalam benaknya.

To be continued

 

 

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: