FRUIT LOVE [7/20]

hyuk2_副本

FRUIT LOVE

Chaptered FF

Author : Nita Henny

Cast : Go Jung Ra (OC) – Lee Donghae – Lee Hyukjae

Kim Ryeowook – Kim Youngwoon

Genre : Romance, Family, Brothership

Rating : PG-14

Note :
FF Ini udah pernah kupublish di blogku sendiri. Dulu, udah lama. Dan sekarang aku coba kirim ke sini hehehe.
You can visit my blog === >>> https://imajinasinita.wordpress.com/

Happy reading ~~~~

============================

YAA! Apa-apaan ini?!” pekik Jung Ra ketika baru saja menghitung jumlah uang yang ada di dalam amplop berwarna putih pemberian Donghae beberapa saat yang lalu. Ekspresi wajah gadis itu berubah menyeramkan saat melihat uang-uang tersebut.

“Go Jung Ra, jangan berteriak seperti itu! Kita sedang ada di tempat umum!” bisik Ryeowook yang terkejut mendengar pekikan temannya itu. Berulangkali Ryeowook menolehkan kepalanya ke arah pelanggan kedai lain untuk meminta maaf.

Oppa, lihat apa yang sudah dilakukan bos gilamu itu!” keluh Jung Ra sambil memperlihatkan gajinya pada Ryeowook dengan memasang wajah menyedihkan.

“Wow, Hyungnim benar-benar melakukannya,” gumam Ryeowook setelah menghitung jumlah uang di dalam amplop tersebut.

“Apa?”

Sebelum menjawab Jung Ra, Ryeowook lebih dulu mengambil gelas berisi jus jambu merah dan meminumnya sebagian. “Walaupun aku adalah karyawan kesayangan Donghae Hyungnim, aku juga tidak mau menyimpan alasan kenapa dia memberikanmu jumlah uang yang tidak sesuai dengan kesepakatan awal kau bekerja di toko. Bagaimana pun juga kau adalah temanku, Go Jung Ra. Teman terbaikku.”

“Bisa langsung pada intinya saja? Aku sudah tahu kalau diriku adalah teman terbaikmu, jadi kau tidak perlu mengulanginya sepanjang hidupmu,” ujar Jung Ra yang sedang tidak berminat untuk merasa tersanjung dengan ucapan Ryeowook.

Hyungnim sengaja mengurangi gajimu karena ada pembelian barang-barang di luar kebutuhan toko selama kau bekerja di sana. Dan barang-barang itu berkaitan denganmu.”

Tentu saja perkataan Ryeowook berhasil membuat Jung Ra mengernyitkan keningnya. Padahal seingat Jung Ra selama lima hari berada di tempat itu, ia sama sekali tidak pernah mengambil uang sepeser pun dari laci meja Donghae.

“Barang-barang yang berkaitan denganku?” tanya Jung Ra. Ryeowook mengangguk sambil memasukkan satu sendok penuh sup ikan ke dalam mulutnya.

“Satu kotak nasi Hainan, lima buah plester luka dan satu krim pengurang rasa nyeri. Kalau tidak salah itu yang dikatakan Donghae Hyungnim padaku,” jawab Ryeowook dengan mulut penuh makanan.

Seketika mata Jung Ra terbelalak. Hawa di sekitarnya entah kenapa berubah menjadi panas. Ingin rasanya ia membalik meja di depannya yang berisi banyak makanan miliknya dan milk Ryeowook. Atau lebih parah lagi, ia ingin sekarang juga berteleportasi ke dalam toko Donghae dan mencekik leher pemilik toko tersebut hingga tak bisa bernapas lagi, lalu memasukkannya ke dalam ruang bawah tanah dan menguncinya. Kemudian ia akan membuang kunci ruang bawah tanah itu ke sungai Han agar tidak bisa lagi ditemukan.

“Kenapa bosmu itu pelit sekali?!” pekik Jung Ra yang tidak bisa menahan kekesalannya. Ryeowook yang baru akan kembali menyendok supnya terpaksa terperanjat dari duduknya. Sendoknya lepas begitu saja ke lantai marmer kedai tersebut.

“Go Jung Ra!”

 

=at FRESH FRUIT=

Donghae menutup buku keuangan tokonya yang baru saja ia periksa. Tetapi, beberapa detik setelah meletakkan buku tersebut ke tumpukan buku lainnya di dekat kalender meja, Donghae yang sudah menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kembali menyambar buku tersebut dan membukanya.

Telunjuknya bergerak menelusuri kolom pemasukan toko lima hari kemarin. Terlihat jelas bila dibandingkan dengan hari-hari biasa, lima hari itu toko Donghae mengalami peningkatan pada pemasukan. Bahkan jumlah pembelinya pun cukup bertambah.

Seulas senyum tipis terukir di bibir tipis Donghae takkala teringat apa yang baru saja ia lakukan pada Jung Ra.

“Gadis Paprika itu pasti marah besar,” gumamnya sambil membayangkan bagaimana reaksi Jung Ra saat mengetahui jumlah uang yang diterima tidak sesuai dengan kesepakatan.

Ketika kembali menatap kolom pemasukan tokonya, Donghae menghela napas panjang. Dalam hati ia bertanya-tanya apakah besok tokonya akan dikunjungi oleh banyak pembeli lagi seperti lima hari kemarin. Jujur, selama ia mengelola toko buah ini, ia sudah cukup hafal dengan semua pembeli yang datang ke tokonya, dan semenjak Jung Ra bekerja padanya ada banyak pembeli baru yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Donghae teringat bujukan Ryeowook untuk tetap mempertahankan Jung Ra di toko, hanya saja ia tak terlalu menghiraukan karyawannya itu. Baginya, mengiyakan bujukan Ryeowook sama saja dengan mempersilahkan masuk penyakit darah tinggi ke dalam tubuhnya sendiri. Donghae terlalu menyayangkan kepala, emosi dan waktunya bila hanya untuk selalu memarahi Jung Ra.

Jung Ra.

Nama dan wajah gadis itu kembali berhenti di benak Donghae. Walaupun rasa kesal dan bencinya pada Jung Ra belum berkurang hingga saat ini, Donghae juga mau tidak mau harus mengakui bahwa sebenarnya gadis itu cukup manis. Donghae tahu harga dirinya akan turun lebih dari tiga puluh persen hanya untuk mengakuinya. Tetapi, itulah kenyataan yang lihat.

Jung Ra memang gadis yang cukup manis, tutur katanya pada setiap pembeli yang datang ke toko juga sangat lemah lembut. Donghae bisa memberi contoh sederhana : bila yang datang adalah anak-anak, gadis itu akan berubah seperti seorang ibu yang selalu memberikan senyum hangat pada mereka, dan bila yang datang adalah orang yang berusia lanjut, gadis itu akan berubah menjadi seorang anak perempuan yang begitu sopan dan kadang sering mengeluarkan aegyo-nya pada mereka untuk membeli buah lebih banyak lagi.

Kadang Donghae tidak habis pikir, bagaimana bisa gadis semanis itu berubah menyebalkan di saat berhadapan dengannya. Tak ada senyum hangat keibuan yang sering ditujukan pada anak-anak, tak ada senyum manis lucu yang sering diberikan pada pembeli berusia lanjut. Kalau sudah seperti itu, berarti bukan salah Donghae untuk tetap membencinya.

Namun, sehari setelah kepergian Jung Ra dari tokonya, entah kenapa membuat Donghae merasa ada sesuatu yang hilang. Bila biasanya lima hari kemarin suasana toko akan sangat berisik karena ocehan Jung Ra yang sedang bercanda dengan Ryeowook dan suara teriakan Jung Ra tiap ada pembeli yang masuk, kini keadaanya kembali tenang dan sunyi seperti sebelum gadis itu ada.

Bukankah seharusnya Donghae bisa bernapas lega karena tokonya kembali normal?

Drrrrt….. drrrrt..

Ponselnya bergerak tidak menentu karena bergetar di atas meja kerjanya. Dilihatnya ada nama Youngwoon di panggilan masuk. Bukannya mengangkatnya Donghae justru memasukkan ponsel itu ke dalam laci dan menguncinya. Dihelanya nafasnya kembali sambil bangkit dari duduknya dan berjalan menuju meja panjang yang berisi tumpukan buah jeruk yang tertata rapi.

Tak berapa lama terdengar pintu toko dibuka oleh seseorang. Donghae menolehkan kepalanya ke arah pintu dan langsung menyunggingkan senyumnya takkala mendapati ada seorang wanita berusia lanjut yang memasuki tokonya.

“Selamat datang di toko kami!” sapa Donghae yang ditanggapi oleh wanita itu dengan senyuman.

Sesaat wanita itu menolehkan kepalanya, mencari seseorang yang sepertinya tidak ada di dalam toko.

“Anda sedang mencari siapa?” tanya Donghae dengan ramah sambil menghampiri wanita itu.

“Nona bermata besar yang beberapa hari lalu memilihkanku buah apel merah yang baik….. apa dia tidak masuk?”

Ne?”

Wanita bermantel tebal itu mengulangi pertanyaannya.

“Dia…… dia sudah tidak bekerja lagi di sini,” jawab Donghae.

“Sayang sekali…. Padahal dia…., ya sudahlah. Pilihkan saja aku apel merah yang bagus, aku akan membeli 2 kilo,” ujar wanita itu sambil memasang wajah kecewa.

Donghae hanya menganggukkan kepalanya seraya menuju tumpukan buah apel merah dan mulai memilihkan pesanan pembelinya tersebut.

***

Two days later …

Jung Ra keluar dari dalam apartemennya sambil memijat pelan tengkuknya yang sejak tadi pagi terasa sakit. Wajahnya sama kusutnya dengan T-shirt polos berwarna abu-abu yang sedang ia pakai. Kedua matanya masih belum bisa terbuka dengan penuh dan rambut panjang yang ia ikat seadanya masih terlihat berantakan. Keadaan yang cukup menggambarkan seseorang yang baru saja bangun setelah seharian mengubur dirinya di bawah selimut tebal dan mendadak terbangun setelah melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam.

Tanpa sengaja ketika Jung Ra hendak melangkahkan kakinya menjauh dari depan apartemennya, kedua matanya melihat dua kotak susu tergeletak di depan pintu apartemen milik Donghae. Kening Jung Ra berkerut saat menyadari sesuatu.

“Apa dia belum juga pulang? Padahal ini sudah dua hari…..,” gumam Jung Ra sambil memungut dua kotak tersebut.

Tidak heran bila Jung Ra berkata seperti itu karena memang sudah dua hari ini ia tidak melihat Donghae pulang. Biasanya di pagi hari bila pengantar susu mengetuk pintu apartemen Donghae, beberapa menit kemudian laki-laki itu akan keluar dan setengah jam kemudian ia akan berangkat ke toko buahnya sambil menenteng tas ransel dan mengenakan topi hitam kesayangannya. Bila jam sudah menunjukkan pukul sepuluh atau sebelas malam dari arah tangga akan terdengar lantunan lagu Jepang kesukaan Donghae yang menandakan Donghae sudah pulang.

“Apa dua hari ini toko sedang ramai sampai-sampai dia harus menginap di sana?” gumam Jung Ra lagi. Tetapi beberapa detik kemudian gadis berambut panjang itu langsung menggelengkan kepalanya hingga poni rambutnya bergerak ke kanan dan ke kiri dengan cepat. “Kenapa juga aku harus repot memikirkannya? Dia saja tega memotong gajiku yang tidak seberapa hanya karena harus membelikan makan malam dan plester luka. Dasar pelit! Kalau tahu begitu seharusnya dia tidak perlu mengobati tanganku dan membelikan makan malam. Dasar perhitungan sekali!”

Jung Ra justru mengomel sendiri sambil menendang pelan pintu apartemen Donghae hingga ia mendengar suara deru mobil dari arah bawah. Perlahan Jung Ra mendekati dinding pembatas dan melongokkan kepalanya ke bawah. Dilihatnya ada sebuah mobil berwarna putih berhenti di dekat mobil pemilik gedung. Mata Jung Ra terbelalak saat mengetahui siapa yang baru saja keluar dari dalam mobil tersebut.

“Lee Hyukjae?!” Jung Ra membekap mulutnya sendiri dan menjauh dari dinding pembatas. Gadis itu berjalan mondar-mandir tidak jelas. Tangannya yang tidak memegang dua kotak susu milik Donghae berulangkali merapikan poni dan rambutnya.

Yeah… itu memang tidak seharusnya Jung Ra lakukan hanya karena melihat Hyukjae pulang dan kini mungkin laki-laki sudah mulai menaiki anak tangga untuk bisa sampai ke lantai dua. Tetapi, entah kenapa Jung Ra selalu tidak tahu harus berbuat apa bila akan bertemu dengan Hyukjae.

Ingin terlihat rapi? Mungkin saja begitu karena malam ini penampilan Jung Ra yang baru saja bangun dari tidur terlihat seperti gelandangan. Tapi untuk apa?

Di saat Jung Ra masih sibuk dengan pikirannya sendiri yang masih kacau, Hyukjae sudah sampai di lantai dua dan cukup terkejut ketika mendapati Jung Ra berjalan mondar-mandir di depan apartemen Donghae. Sambil memandang Jung Ra heran, Hyukjae pun menghampirinya.

“Jung Ra-ssi?”

Panggilan Hyukjae yang terkesan bernada biasa saja ternyata cukup mengejutkan Jung Ra hingga kotak susu yang ada di tangan gadis itu hampir terlepas.

“Hai! Hyuk-Hyukjae-ssi?” Sepertinya respon Jung Ra terlalu berlebihan.

“Apa sesuatu sedang terjadi? Kenapa kau terlihat bingung seperti itu?”

“Hah? A-aniyo……… aku…… aku bahkan tidak tahu kenapa bisa sampai ada di luar kamar tidurku. Padahal tadi aku tidur sejak tadi siang dan…..” Jung Ra kehabisan kata-kata. Gadis itu menyeringai lebar, menampakkan deretan giginya yang rapi untuk menutupi dirinya yang sudah malu.

Sleep walking?” tebak Hyukjae.

“Hah?”

 

 

“Haaah…. aromanya lezat sekali,” ucap Jung Ra setelah mengaduk aduk ramen instannya yang ia letakkan di atas pahanya. Hyukjae yang sudah lebih dulu menyantap ramen instannya hanya tersenyum simpul.

Ya, akhirnya untuk menghentikan tingkah aneh Jung Ra, Hyukjae pun mentraktirnya makan ramen instan. Setelah membeli dua cup makanan siap saji dan dua botol minuman dingin Hyukjae pun mengajak Jung Ra untuk menikmatinya di tangga yang biasa mereka lalui di gedung tersebut.

“Bagaimana bisa kau baru bangun malam-malam seperti ini?” Hyukjae membuka topik pembicaraan baru daripada suasananya berjalan sunyi tanpa ada suara dari mereka berdua.

“Kemarin seharian aku mencari pekerjaan baru, tapi belum ada satu pun tempat yang mau menerimaku. Rata-rata mereka hanya mencari orang-orang yang berpendidikan tinggi. Kalau semua pekerjaan harus mengandalkan ijasah sekolah yang lebih tinggi dari SMU, lalu nasib orang-orang seperti diriku akan dikemanakan? Entah kenapa jaman sekarang orang-orang itu terlalu tinggi mematok standar calon karyawan. Dan hari ini aku memilih untuk mengistirahatkan tubuh dan otakku yang sudah mendidih. Mungkin bila aku tetap memaksakan diri untuk kembali mencari pekerjaan, bisa kupastikan tempat tidur rumah sakitlah yang menjadi tempat istirahatku hari ini,” omel Jung Ra sambil mengunyah makanannya.

Hyukjae hanya tertawa pelan sambil memandang Jung Ra. Entah kenapa tiap melihat gadis itu mencurahkan semua uneg-uneg yang mengganjal di hatinya tiap Hyukjae menanyakan keadaanya selalu membuat Hyukjae merasa terhibur. Semua kelelahan fisik dan pikirannya di perusahaan karena pekerjaannya yang menumpuk selalu menghilang begitu saja tiap mendengar ocehan Jung Ra.

“Kau sendiri kenapa baru pulang?” Jung Ra spontan berbalik bertanya sambil menolehkan kepalanya pada Hyukjae. Namun, sedetik kemudian kedua pipi Jung Ra memerah seperti tomat takkala menyadari Hyukjae tengah memandangnya sambil tersenyum tipis.

“Kau sendiri…… kenapa….. baru…… pulang, Lee Hyukjae­­-ssi?” Jung Ra mengulangi pertanyaannya dengan terbata-bata.

“Aku memang selalu pulang setiap jam delapan malam. Apa kau lupa?” ucap Hyukjae geli melihat wajah memerah Jung Ra. Untuk mencoba menahan tawanya Hyukjae pun memilih untuk kembali mengaduk ramennya dan mulai memakannya lagi.

Sedangkan Jung Ra harus mati-matian untuk mengembalikan posisi kepalanya ke arah wadah mie ramen instan yang ada di pangkuannya. Laki-laki berpakaian kemeja putih dengan dasi hitam yang sudah melonggar di lehernya itu hanya memberikan senyuman tipis pada Jung Ra, tapi lagi-lagi Jung Ra dibuat kelabakan tanpa sebab.

Sepuluh menit tak ada suara lagi dari Hyukjae ataupun Jung Ra. Mereka sibuk menghabiskan makanan yang ada di hadapan mereka. Jung Ra yang memang sedang lapar memang memilih untuk memfokuskan dirinya pada makanan instan tersebut daripada meladeni jantungnya yang berdetak tak normal. Sedangkan Hyukjae hanya melahap dengan santai sisa ramennya yang tinggal sedikit. Bahkan diam-diam Hyukjae belum juga bisa menghilangkan wajah memerah Jung Ra yang beberapa saat lalu dilihatnya dari benaknya. Benar-benar menggemaskan.

“Mmmm… Hyukjae-ssi, boleh aku bertanya sesuatu?” Akhirnya setelah menghabiskan ramennya, Jung Ra membuka mulut untuk menanyakan sesuatu pada Hyukjae. Pertanyaan itu sudah berputar-putar di kepala Jung Ra sejak beberapa hari yang lalu, dan mungkin malam ini adalah saat yang tepat untuk menanyakan pada salah satu dari Hyukjae atau Donghae.

Tidak! Sepertinya ia hanya akan bertanya pada Hyukjae. Tidak mungkin ia bertanya lagi pada Donghae mengingat laki-laki itu akan berubah menjadi makhluk dunia lain yang menyebalkan bila diajak berbicara.

“Apa itu?” ucap Hyukjae sambil meletakkan wadah ramennya yang sudah kosong di dekat sepatunya dan meneguk minuman dingin yang sejak tadi ia letakkan di samping kakinya.

“Saat aku dan Donghae bertemu denganmu di gedung pertemuan tempo hari……, apa kau mengenal bosku Lee Donghae sebelumnya? Kulihat kau menyapanya seakan-akan kalian sudah lama saling mengenal.”

Pertanyaan Jung Ra membuat Hyukjae yang akan kembali meneguk minumannya terpaksa berhenti. Diturunkan botol minumannya dari depan mulutnya dan menelan sebagian isinya yang sudah ada di dalam mulut dengan perlahan. Walaupun Hyukjae merespon pertanyaan Jung Ra dengan senyum samar, tapi sorot matanya berubah menjadi sendu.

“Hyukjae-ssi…..”

Hyukjae menghela napas panjang dan tertawa pelan.

“Entah kenapa wajahmu mengatakan padaku bahwa sebenarnya dulu kalian pernah menjalin hubungan, lalu tiba-tiba putus di tengah jalan. Apa kalian pasangan gay?”

“Apa?” Sontak Hyukjae menoleh dengan cepat ke Jung Ra dengan wajah terkejut. Perasaan sendu yang sempat menghampiri benaknya tiba-tiba menghilang saat mendengar ada kata-kata ‘pasangan gay’ yang meluncur dari bibir Jung Ra.

“Pa-pasangan gay?” Hyukjae tidak tahu jalan pikir Jung Ra bisa sampai sejauh itu, Bahkan bisa sampai separah itu.

Jung Ra mengangguk dengan mantap walaupun sebenarnya hatinya akan terasa sakit tanpa sebab bila benar Hyukjae dan Donghae adalah pasangan gay seperti apa yang ia duga. Entah itu benar atau tidak, hanya saja dari mata Jung Ra, kedua laki-laki itu terlihat seperti sempat memiliki hubungan yang sangat dekat, bahkan terlalu dekat.

Kalau bukan pasangan gay, lalu apa lagi coba? — pikir Jung Ra.

“Kau mengira kami adalah pasangan seperti itu? Ya Tuhan…. Jung Ra-ssi…..,” ucap Hyukjae tidak percaya.

“Kalaupun memang benar kalian seperti itu….. aku…. juga tidak bisa berbuat apa-apa. Toh itu ‘kan privasi kalian berdua, hanya saja…….” Kepala Jung Ra seketika menunduk, jemarinya saling beradu tidak menentu.

“Dia adikku,” potong Hyukjae sambil menahan senyumnya. Seketika Jung Ra menegakkan kepalanya dan memandang Hyukjae.

“Adik?!” pekik Jung Ra terkejut. Jung Ra tak hanya terkejut mendengar jawaban yang dilontarkan Hyukjae kurang dari lima detik tadi, tetapi juga kenyataan yang ada di hadapannya tidak sesuai dengan pengamatan yang baru ia lakukan dalam waktu tidak lebih dari dua detik.

Pengamatan untuk membuktikan Donghae adalah adik Hyukjae hanya dengan melihat wajah mereka berdua. Pengamatan singkat yang tidak terlalu berlebihan bukan? Hanya saja hasil yang Jung Ra dapat kurang akurat. Jika Jung Ra harus melihat satu per satu wajah Hyukjae dan Donghae, sama sekali tak ada tanda-tanda yang mengindikasikan mereka berdua adalah saudara.

Jung Ra akui kedua laki-laki itu sama-sama tampan. Tapi sepertinya hanya itu kesamaan mereka berdua, yang lainnya tidak ada. Apakah bila dua orang laki-laki sama-sama berwajah tampan berarti menandakan bahwa mereka saudara? Selama Jung Ra hidup, ia tidak pernah menemukan teori semacam itu. Kalau teori itu benar adanya, apakah Jung Ra juga harus mengakui bahwa semua member Super Junior itu dilahirkan dari satu perut wanita yang sama hanya karena wajah mereka tampan? Atau bila dibuat lebih umum : Apakah semua laki-laki berwajah tampan yang jumlahnya ada ratusan bahkan ribuan di Korea Selatan adalah saudara karena dilahirkan dari satu rahim seorang wanita?

Sepertinya Jung Ra akan merasa gila karena memikirkannya.

“Go Jung Ra-ssi?” Hyukjae terpaksa menggerak-gerakkan telapak tangannya di depan wajah Jung Ra saat menyadari pandangan gadis itu terlihat kosong. Karena tidak mendapat respon akhirnya Hyukjae pun menepuk bahu mungil Jung Ra.

“Ada apa denganmu?” tanya Hyukjae sesaat setelah Jung Ra kembali dari lamunan anehnya.

“Tidak….. aku…. hanya tidak sampai berpikir sampai ke sana. Maksudku… kau dan Lee Donghae adalah….. itu……” Jung Ra terpaksa menggantungkan kalimatnya karena masih tidak percaya. Mendengar Hyukjae berkata bahwa Donghae adalah adiknya cukup membuat Jung Ra heran karena seingatnya Donghae pernah bilang kalau ia tidak mengenal Hyukjae.

“Kau pasti heran ya? Tidak ada kemiripan satu pun dari diri kami. Wajah, mata, hidung, semuanya berbeda. Iya ‘kan?” Hyukjae mengangkat alisnya, menunggu respon dari Jung Ra.

Kalian sama-sama tampan. Ya… walaupun aku harus menurunkan harga diriku puluhan persen untuk mengakui kenyataan bahwa Lee Donghae memang sama tampannya denganmu, tapi…… kau dan Donghae adalah dua laki-laki berwajah tampan. Apakah ketampanan kalian bisa masuk dalam kriteria dua orang yang bersaudara? — ucap Jung Ra dalam hati.

“Iya….,” ujar Jung Ra tanpa sadar mengiyakan perkataan Hyukjae.

Laki-laki berahang tegas itu tersenyum simpul.

“Sebenarnya dia adik tiriku,” kata Hyukjae pelan sambil menyandarkan kepalanya pada dinding pembatas yang ada di sampingnya. Matanya menerawang ke depan. Memang tak ada pemandangan yang menarik perhatiannya, hanya ada jalanan sepi yang sesekali terlihat beberapa mobil melintas.

Jung Ra menolehkan kepalanya, menatap raut wajah Hyukjae yang sudah berubah sendu. Sebenarnya ucapan Hyukjae barusan juga kembali membuat Jung Ra cukup terhenyak. Lepas dari fakta yang baru saja didengarnya bahwa ternyata Hyukjae dan Donghae adalah saudara…… atau lebih tepatnya mereka berdua adalah saudara tiri, Jung Ra bisa menyimpulkan bahwa hubungan kedua laki-laki itu tidak baik-baik saja. Dan bila Jung Ra tidak salah menebak, pertemuan Donghae dan Hyukjae di gedung tempo hari adalah untuk yang pertama kalinya setelah mereka cukup lama berpisah.

“Tapi…… Donghae bilang…… dia tidak mengenalmu.”

“Sepuluh tahun yang lalu aku telah melakukan kesalahan yang fatal padanya. Aku yang seharusnya bersikap layaknya seorang kakak tidak bisa melakukan apa-apa untuk melindunginya. Aku tidak bisa melindungi adikku sendiri. Walaupun kini sepuluh tahun itu sudah berlalu, aku tidak bisa berbuat apa-apa bila dia memilih untuk bersikap seolah-olah tidak mengenalku. Anggap saja itu adalah hukuman yang pantas kuterima,” ujar Hyukjae. Kedua matanya berkaca-kaca. Kejadian sepuluh tahun lalu di atap rumah sakit kembali terulang dengan cepat di benaknya.

Hyukjae tersentak ketika merasakan jemarinya diremas lembut oleh Jung Ra. Dengan cepat ia mengerjap-ngerjapkan matanya untuk menghilangkan air mata yang mulai memenuhi kedua matanya. Untung saja penerangan di dekat tangga yang tidak terlalu terang membuat Jung Ra tidak menyadari dirinya sedang menangis.

“Aku memang tidak tahu dan tidak mau tahu apa yang terjadi antara kalian berdua karena aku bukan siapa-siapa. Hanya saja sejak pertama kali aku bertemu denganmu, aku tahu kau orang baik. Aku yakin apapun masalah antara dirimu dan Donghae, kalian bisa menyelesaikannya dengan kepala dingin, apalagi posisimu adalah sebagai seorang kakak.”

Hyukjae memandang Jung Ra dengan tatapan sendu. Senyuman Jung Ra diam-diam menenangkan hati Hyukjae.

“Hyukjae-ssi, maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih dengan bertanya tentang Donghae. Maaf,” ucap Jung Ra menyesal. Jung Ra berniat untuk melepaskan genggamannya dari tangan Hyukjae, tapi mendadak Hyukjae menahannya. Kini justru tangan Jung Ra yang digenggam oleh Hyukjae.

“Kenapa harus meminta maaf bila bagiku kau adalah ‘siapa-siapa’?”

Ne?” Jung Ra tidak mengerti dengan ucapan Hyukjae.

“Kau bilang kau bukan siapa-siapa ‘kan? Padahal aku menganggapmu ‘siapa-siapa’-ku. Masih tidak mengerti?”

Jung Ra bukannya tidak mengerti, tapi lebih ke ‘sangat mengerti’, hingga Jung Ra takut bila dugaan yang ada di benaknya ternyata salah. Kalau Jung Ra bisa bilang…… apakah itu artinya dirinya adalah seseorang yang berarti bagi Hyukjae? Apa tidak terlalu berlebihan menganggap dirinya sebegitu spesial di mata Hyukjae mengingat penampilannya yang biasa saja?

Hanya teman, Go Jung Ra. Dia hanya menganggaapmu sebagai teman. Ayolah….kau sudah tidak pantas mempunyai jalan pikiran seperti remaja labil — ucap Jung Ra dalam hati.

***

Hyungnim, kau yakin akan tidur di sini lagi?” tanya Ryeowook yang sudah dengan backpack putih di punggungnya. Karyawan Donghae itu memandang bosnya yang kini sedang berbaring di atas sofa using di dekat meja kerja.

“Hmm……” Hanya itu jawaban Donghae yang sudah memejamkan mata. Sesaat kemudian laki-laki berambut gelap itu membenarkan letak bantal yang ada di bawah kepalanya.

Ryeowook memandang isi toko sambil mendesah pelan. Ryeowook tidak akan khawatir membiarkan Donghae tidur di dalam toko bila ada mesin penghangat ruangan. Tetapi ini berbeda dari harapannya. Sudah tiga malam bosnya itu menginap di dalam toko dan tidur di atas sofa dengan selimut tebal tanpa ada mesin penghangat ruangan.

Hyungnim, jangan lupa memakai selimut yang kubawa kemarin agar tidak kedinginan karena selimut yang biasa sedang kucuci di laundry umum. Kau bisa mengambilnya nanti malam karena tempat itu buka dua puluh empat jam dan tidak jauh dari jalan raya yang ada di depan. Hyungnim, jangan lupa juga untuk …..”

Yaa! Aku bukan anak kecil lagi! Aku sudah dua puluh delapan tahun! Kau masih mau mengkhawatirkanku? Kau mengenalku, Kim Ryeowook.” Donghae mencela ucapan Ryeowook yang terdengar begitu berisik. Ia paling tidak suka bila ada orang yang menyuruhnya ini dan itu yang jelas-jelas memang akan ia lakukan.

“Aku tidak mengkhawatirkanmu, aku sudah tahu kau akan memakai selimut pemberianku. Aku hanya ingin mengingatkanmu untuk mengunci pintu belakang. Bukankah bulan lalu hanya karena Hyungnim lupa mengunci pintu belakang, ada segerombolan anak nakal yang masuk dan mengambil hampir satu kilo jeruk pesanan pelanggan? Aku hanya ingin mengingatkan,” Ryeowook membela diri.

Donghae hanya mendesis kesal sambil bangkit dari atas sofa dan berjalan ke arah pintu belakang dan menguncinya. Ryeowook hanya terkekeh melihat Donghae menekuk wajah seperti itu.

“Aku pulang dulu. Satu lagi… untuk selimut toko….”

“Aku akan mengambilnya sekarang juga! Dan sekalian akan kubayari, Dasar cerewet! Kenapa lama-lama kau mirip seperti Go Jung Ra?!” bentak Donghae sambil melempar kunci pintu belakang ke atas sofa.

Ryeowook masih terkekeh sambil melambaikan tangannya, berpamitan pada Donghae. Sesaat setelah laki-laki bertubuh kurus itu menghilang dari depan pintu toko, Donghae lantas menyambar jaket hitam dan topinya yang tergeletak di atas kursi dekat meja kerjanya.

Donghae melangkahkan kakinya menuju laundry yang dimaksud oleh Ryeowook sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket. Sepertinya apa yang dikatakan karyawannya itu memang benar : udara dingin malam ini terasa lebih menusuk ke tulang dibanding malam-malam sebelumnya.

Suasana jalanan raya di dekat toko masih begitu ramai dengan mobil yang berlalu lalang. Donghae yang baru saja menyeberang jalan langsung mempercepat langkah kakinya ketika melihat papan nama laundry tersebut terlihat dari kejauhan.

Annyeong haseo…..,” ucap Donghae pelan sambil membungkukkan badannya sebentar pada wanita penjaga laundry yang sedang duduk di bangku kecil di dekat mesin pengering pakaian.

Wanita berambut hitam itu menolehkan kepalanya ke arah pintu masuk lalu membalas sapaan Donghae hanya dengan menundukkan kepalanya sebentar.

“Ada yang bisa kubantu, Anak Muda? Apa kau mau mengambil pakaian yang sudah dicuci?” Wanita itu berdiri dari duduknya sambil meletakkan bungkusan plastik berisi sebuah kemeja ke atas bangkunya dan menghampiri Donghae.

Donghae mengangguk ragu dan menyerahkan nota berwarna kuning pemberian Ryeowook pada wanita penjaga laundry itu.

Belum sempat wanita itu membaca nama yang tertera pada bagian atas nota, ponselnya yang ada di dalam saku mantel berwarna krem yang sedang dikenakannya itu berdering. Setelah melihat sekilas nomor pelanggan yang ada di tepi nota, wanita itu seraya berjalan ke arah tumpukan barang milik pelanggan dan mencari nomor yang sama dengan nota sambil menerima telepon.

“Ya, kenapa kau menelponku malam-malam seperti ini? Apa kau belum tidur?” ucap wanita tersebut pada seseorang di seberang telepon sana. Satu tangannya yang bebas menarik plastik berukuran cukup besar berisi selimut milik Donghae.

Sambil mendengar ocehan yang terdengar cukup nyaring di speaker ponselnya, wanita itu berjalan menghampiri Donghae dan memberikan bungkusan plastik itu padanya. Wanita tersebut memberi kode pada Donghae untuk menunggu sebentar. Donghae hanya tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya.

Yaa! Siapa yang mengajarimu berbicara begitu cepat seperti itu?!” pekik wanita berwajah pucat itu hingga membuat Donghae sedikit terperanjat.

“Sudahlah! Aku masih ada pelanggan yang harus kulayani. Sebaiknya kau segera tidur dan jangan membuat ulah lagi denganku. Mengerti? Kututup.” Wanita itu langsung mematikan ponselnya begitu saja.

Menyadari dirinya diperhatikan oleh pelanggannya, wanita berwajah pucat itu lantas tersenyum hangat pada Donghae.

“Yang baru saja menelponku tadi adalah anakku. Dia terus menerus memaksaku untuk berhenti bekerja seperti ini …….maaf, sudah membuatmu terkejut karena teriakanku tadi, Anak Muda,” ujar wanita itu. Donghae hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum.

“Eeeee… Bibi ini uangnya,” ucap Donghae sambil memberikan beberapa lembar won pada wanita tersebut. Setelah membungkukkan badannya sebentar Donghae lantas berjalan ke arah pintu.

Ketika tangannya akan mendorong pintu kaca, Donghae berbalik ke arah wanita itu.

“Bibi,” panggil Donghae.

Wanita penjaga laundry itu menolehkan kepalanya.

“Bukannya aku ikut campur, tapi apa yang dikatakan anak Bibi ada benarnya juga. Aku lihat wajah Bibi sudah pucat. Daripada membuat anak Bibi khawatir, sebaiknya Bibi mengambil libur beberapa hari untuk istirahat,” ujar Donghae lembut.

Aigoo, kau ini sama saja dengan anakku. Sama-sama cerewet,” balas wanita itu sambil tertawa.

“Semua anak pasti akan khawatir bila melihat ibunya sakit, Bibi. Jadi kumohon, jangan bekerja terlalu keras, ne? Aku tahu sebenarnya Bibi adalah wanita yang cantik, hanya saja lingkar hitam di mata Bibi dan wajah yang pucat menghalangiku untuk melihat kecantikan Bibi.” Ucapan Donghae kembali membuat wanita itu tergelak tawa.

“Kau ini pandai sekali merayu. Aku ini sudah tua. Baiklah, karena kau tampan, aku akan menuruti kata-katamu untuk banyak istirahat. Andaikan anakku sepertimu, hanya saja tiap ia menasehatiku, ia sendiri yang akan menangis meraung-raung. Haaaah…. dasar anak itu. Oh ya, aku yakin, ibumu pasti bangga mempunyai anak semanis dirimu yang sangat perhatian. Jangan lupa sampaikan salamku padanya, ya?”

Ne! Akan kusampaikan salam Bibi pada Eomma. Aku pergi dulu, Bi! Terima kasih sudah mencuci selimutku. Jaga kesehatan dan selamat malam,” pamit Donghae seraya kembali membungkukkan badannya.

“Hati-hati di jalan!” teriak wanita itu ketika Donghae melangkah keluar dari laundry.

Lima belas menit kemudian ketika pintu laundry itu kembali terbuka, wanita itu berniat akan menyapa pengunjung yang datang. Tetapi saat tahu siapa yang sudah berdiri di ambang pintu, ia hanya memasang wajah datar sambil tetap menata tumpukan plastik berisi pakaian yang siap diambil.

“Kenapa kemari? Ini sudah malam, seharusnya kau istirahat,” ujarnya.

Eomma, bukankah Eomma bilang tidak lagi mengambil giliran malam? Kenapa masih melakukannya?” tanya Jung Ra ketus seraya meletakkan dua buah kotak makanan ke atas etalase setinggi dadanya. Sebelumnya Jung Ra yang tidak bisa lagi memejamkan mata saat kembali ke dalam apartemennya akhirnya memutuskan untuk menghubungi ibunya yang ternyata masih ada di tempat laundry umum.

Bukannya menjawab pertanyaan putrinya, Nyonya Im justru memukul belakang kepala Jung Ra hingga membuat gadis itu mengeluh kesakitan.

Eomma, ini sakit!” erang Jung Ra sambil mengusap-usap belakang kepalanya yang berdenyut.

“Kalau kau masih bertanya hal yang sama tiap datang kemari, aku akan benar-benar memukulmu lebih dari itu. Arraseo?”

Jung Ra hanya mengangguk pasrah bila ibunya sudah berkata seperti itu.

Eomma, bagaimana kalau kita makan dulu? Tadi aku sengaja membeli dua sup tofu karena ingin makan denganmu. Bagaimana?” Jung Ra berjalan menuju etelase dan membuka dua kotak tersebut.

Nyonya Im sekilas melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Wanita itu mengiyakan ajakan Jung Ra karena biasanya jam-jam seperti ini akan sedikit pengunjung yang datang untuk mengambil pakaian mereka.

Jung Ra dan Nyonya Im menikmati sup tofu yang hangat di bangku panjang, tempat yang biasa digunakan pengunjung untuk duduk menunggu. Sesekali Jung Ra menyuapi ibunya dengan hati-hati.

Tanpa Nyonya Im dan Jung Ra sadari, seseorang berdiri tak jauh dari depan tempat laundry, memandangi mereka dari balik pintu masuk yang terbuat dari kaca

Lee Donghae.

Ya, orang itu adalah Donghae yang sebelumnya berniat kembali ke laundry untuk meminta nota putih yang seharusnya diberikan Nyonya Im padanya sebagai tanda lunas. Namun, ketika mendapati sosok Jung Ra sedang terlihat makan bersama Nyonya Im, Donghae akhirnya memilih untuk berhenti dan mencoba memahami sesuatu yang terlintas di benaknya.

“Ibu angkat Jung Ra sudah merawatnya sejak ia berusia empat belas tahun. Sebenarnya dia itu anak yatim piatu. Orang tuanya meninggal karena terbawa badai.”

Donghae teringat kata-kata Ryeowook tentang Jung Ra. Melihat bagaimana wanita itu menyuapi Jung Ra dengan penuh kasih sayang, bisa Donghae pastikan bahwa yang dimaksud wanita itu sebagai anaknya adalah Jung Ra, gadis yang selama ini membuat Donghae selalu ingin marah tanpa sebab yang jelas.

“Jadi….anak Bibi yang suka menangis meraung-raung hanya karena tidak bisa menasehati Bibi adalah dia?” gumam Donghae, matanya menatap sendu Jung Ra dan ibunya yang terlihat begitu lahap memakan sesuatu dari kotak makanan.

Walaupun dari kejauhan, Donghae masih bisa melihat bagaimana Jung Ra diam-diam menyeka air mata tanpa diketahui oleh ibunya kemudian tertawa lebar saat ibunya bercerita sesuatu setelah kembali duduk bersama.

Entah kenapa hatinya terasa terenyuh melihat gadis itu menggigit bibir bawahnya tiap terlihat ingin menangis lagi sementara ibunya masih terus bercerita tanpa memandang putrinya. Donghae bisa merasakannya. Donghae bisa merasakan bagaimana sedihnya Jung Ra saat melihat wajah pucat ibunya.

“Go Jung Ra, kau harus lebih berani menasehati ibumu agar banyak istirahat. Jangan hanya menahan tangis diam-diam seperti itu dan tidak melakukan apa-apa. Aku harap kau melakukan apa yang tidak bisa kulakukan pada ibuku sendiri dulu.”

To be continued

 

1 Comment (+add yours?)

  1. Ailoils
    Dec 29, 2015 @ 07:30:44

    Sukaaa ceritanya ^^

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: