FRUIT LOVE [9/20]

hyuk2_副本

FRUIT LOVE

Chaptered FF

Author : Nita Henny

Cast : Go Jung Ra (OC) – Lee Donghae – Lee Hyukjae

Kim Ryeowook – Kim Youngwoon

Genre : Romance, Family, Brothership

Rating : PG-14Note :
FF Ini udah pernah kupublish di blogku sendiri. Dulu, udah lama. Dan sekarang aku coba kirim ke sini hehehe.
You can visit my blog === >>> https://imajinasinita.wordpress.com/

 

Happy reading ~~~~

============================

————————————-

“Jung Ra-ssi, apa kau sudah makan malam? Bagaimana kalau ku traktir makanan ringan dulu?”

“Go Jung Ra, cepat masuk ke dalam. Bukankah kau harus istirahat? Ini sudah cukup malam.”

“Kau tidak dengar? Aku menyuruhmu untuk segera tidur.”

“N-ne.”

“Aku akan mentraktirmu makan malam dulu, setelah itu kau bisa istirahat. Bagaimana?”

“Kubilang masuk, Go Jung Ra.”

“Aku hanya ingin mengajaknya makan malam, Lee Donghae. Apa kau keberatan?”

“Dia adalah karyawan tokoku, jadi dia harus menuruti apapun yang kuperintahkan.”

“Hyukjae-ssi? Donghae-ssi?”

“Lepaskan tangan Jung Ra dan biarkan dia masuk ke dalam apartemennya untuk istirahat. Kau tidak berhak menahannya seperti itu.”

———————————

 

Yaa, Go Jung Ra?”

Jung Ra tersentak dari tempatnya berdiri saat merasakan kunciran rambut belakangnya yang tertutup tudung jaket ditarik oleh seseorang dari belakang. Ditolehkan kepalanya ke sisi kiri tubuhnya. Kedua mata besarnya terbelalak menyadari di sana sudah ada Donghae yang memandanginya dengan heran.

Tidak! Tepatnya sejak tadi Donghae memang sudah berada di sana, terpaksa mendekati Jung Ra yang tiba-tiba berhenti dan membeku sesaat setelah menyapa Hyukjae.

“Apa kau sakit?” tanya Donghae pelan, masih mempertahankan ekspresi heran di wajahnya.

Eoh…… aku… itu… tidak… aku tidak sakit,” jawab Jung Ra terbata-bata, berusaha mengembalikan semua kesadarannya yang mendadak melayang-layang tidak jelas beberapa saat lalu. Matanya beralih memandang Hyukjae yang masih berdiri beberapa meter darinya. Sama seperti Donghae, Hyukjae juga memandang Jung Ra dengan heran.

Otak Jung Ra bekerja cepat, berusaha mencerna semua yang baru saja dialaminya beberapa menit yang lalu hingga rentetan pertanyaan aneh bersemayam di dalam sana : bukankah tadi pergelangan tangannya digenggam oleh Hyukjae saat Donghae menyuruhnya untuk segera masuk ke dalam apartemen untuk istirahat? Bukankah kedua laki-laki yang ada di dekatnya ini sedang ‘memperebutkan’ dirinya seperti yang biasa dilakukan di dalam sebuah drama?

Hanya sebuah khayalan?

Jung Ra mengerjapkan kedua matanya beberapa kali ketika menangkap ada sesuatu yang salah. Merasa ‘dirinya’ sudah benar-benar sadar, Jung Ra lantas berdehem sambil membenarkan tudung jaket yang menutupi kepalanya.

“Aku…. harus segera masuk ke dalam,” ucap Jung Ra pada Donghae.

Donghae mendengus pelan. “Apa hubungannya denganku?”

Bodoh mungkin bila Jung Ra mengira Donghae akan menanggapi ucapannya dengan kata-kata yang sedikit lebih manusiawi. Setelah berdecak pelan dan melempar tatapan kesal ke arah Donghae, Jung Ra langsung berjalan mendekati Hyukjae.

“Kau sudah mau istirahat?” tanya Hyukjae, menjauhkan dirinya dari dinding pembatas.

Jung Ra mengangguk lemah. Walaupun merespon pertanyaan Hyukjae, tetap saja raut wajah kesal belum sepenuhnya hilang dari Jung Ra. Sambil melambaikan tangannya pada Hyukjae sebagai ucapan selamat malam, Jung Ra pun berjalan menuju depan pintu apartemen, kemudian menghilang sesaat setelah pintu itu kembali tertutup.

Melihat keakraban Jung Ra dan Hyukjae di depan mata hanya membuat Donghae mendengus pelan seraya menghadapkan tubuhnya ke depan pintu sambil merogoh saku celananya untuk mengambil kunci apartemen.

“Donghae-ya,” Hyukjae mencoba memanggil Donghae yang masih belum bisa mengambil kunci yang ternyata ada di dasar saku. Perlahan ia mendekati adiknya itu.

“Sudah kubilang kau tidak berhak memanggilku dengan sebutan itu,” kata Donghae dingin yang akhirnya menemukan kunci berwarna silver di dalam sakunya. Salah satu tangannya memegang knop pintu, sedangkan satunya lagi berusaha memasukkan benda kecil berwarna silver tersebut ke dalam lubang kunci hingga terdengar panggilan yang sama keluar dari bibir Hyukjae.

Donghae menghembuskan nafas dengan kasar. Dipandanginya daun pintu yang masih tertutup sempurna di hadapannya tanpa ada niatan sedikit pun untuk menoleh ke arah Hyukjae yang berdiri tak jauh darinya.

“Kau jangan membuat kesabaranku habis, Lee Hyukjae.” Donghae melemparkan lirikan tajamnya pada Hyukjae yang ternyata tak bereaksi apa-apa.

“Kulihat beberapa hari ini kau tidak pulang ke apartemenmu.” Hyukjae mencoba membuka percakapan baru.

“Sama sekali bukan urusanmu,” jawaban Donghae terdengar sedetik setelah Hyukjae bertanya. Dalam hati, Donghae menyumpahi pintunya yang entah kenapa jadi susah untuk dibuka dan membuatnya harus bersama dengan seseorang yang tidak ingin ia temui.

“Apa kau tidur di toko? Apa di sana ada mesin penghangat ruangannya?”

Brak!

Donghae akhirnya menggebrak daun pintu apartemennya karena sudah tidak bisa menahan emosi yang sejak tadi terasa memuai di dalam dirinya. Dengan cepat ia memutar tubuhnya untuk menghadap Hyukjae.

“Berhentilah bersikap seolah-olah kau peduli padaku, Lee Hyukjae. Kau sebenarnya juga sudah tahu alasan kenapa beberapa hari ini aku tidak pulang ke tempat tinggalku sendiri. Kau sudah sangat tahu jawabannya,” kata Donghae bersungut-sungut.

“Apa karena aku?”

Donghae menyeringai tipis mendengar jawaban Hyukjae. “Baguslah kalau otakmu bisa bekerja cepat menangkap maksud ucapanku.”

Dalam sekali gerakan, Donghae berhasil membuka pintu apartemennya dan langsung melesat ke dalam tanpa menghiraukan tatapan Hyukjae ke arahnya. Ditutupnya pintu tersebut dengan cukup keras. Ia tak peduli bila besok akan ada banyak penghuni lain yang juga menempati gedung ini berdiri di depan tempat tinggalnya untuk memarahinya.

Dilemparnya ponsel tipisnya ke atas sofa dan langsung berjalan ke arah dapur untuk mencari air minum. Baru seteguk air dingin yang berhasil membasahi kerongkongannya, terdengar bunyi dering ponsel.

Sambil menghabiskan sisa air dingin yang ada di dalam botol bening berukuran sedang yang ia ambil dari almari pendingin, dilangkahkan kakinya mendekati sofa. Diraihnya benda tipis yang kini menampilkan nama Youngwoon pada panggilan masuk.

Lagi-lagi Donghae mendesah kesal melihat nama itu akan kembali menambah jumlah daftar panggilan tak terjawab di ponselnya. Apakah kali ini ia harus menjawab telepon dari kakak sepupunya tersebut? Tapi bila harus mengingat bagaimana tidak baiknya pertemuan terakhir mereka di kedai kopi itu, Donghae tidak yakin bila ia menerima telepon Youngwoon akan berakhir dengan baik-baik saja. Bisa saja emosinya kembali tersulut bila Youngwoon kembali membahas masalah Hyukjae yang tiba-tiba muncul lagi setelah sepuluh tahun ia berusaha menjauh dan masalah keterlibatan kakak sepupunya itu dengan penyamaran Hyukjae sebagai Tuan Lee Shin Ho yang berpura-pura memesan ratusan paket buah.

Yeoboseo?” Akhirnya Donghae menerima telepon Youngwoon.

Yaa, Lee Donghae, kenapa tidak menerima teleponku?!” Suara Youngwoon terdengar cukup nyaring di speaker ponsel hingga membuat Donghae terpaksa sedikit menjauhkan benda elektronik itu dari daun telinganya.

“Aku melakukannya sekarang. Jadi kenapa kau mencoba menghubungiku?” tanya Donghae datar.

Aku khawatir karena kau tidak pulang ke apartemenmu beberapa hari ini! Kau tidur di mana? Kukira kau tidur di tempat Ryeowook. Sebenarnya beberapa malam ini kau tidur di mana? Yaa, cepat jawab pertanyaanku. Apa kau makan dengan baik?” Youngwoon menghujani Donghae dengan banyak pertanyaan hingga Donghae sendiri hanya terdiam sambil menggaruk pelipisnya.

Hyung, kau ini berlebihan sekali. Aku sudah dua puluh delapan tahun, jadi berhentilah mengkhawatirkanku seolah-olah aku anak berusia lima tahun yang tinggal sendirian di apartemen,” ucap Donghae yang bernafas lega karena Youngwoon tak mengungkit-ungkit masalah Hyukjae. Paling tidak ia tak perlu mengeluarkan emosinya hanya untuk meladeni seseorang di seberang telepon sana yang terlihat begitu mencemaskannya seperti orang gila.

Tapi…. Apa kau sudah tahu kalau Hyukjae juga tinggal di tempat yang sama denganmu? Lee Donghae, kau…..”

“Kututup.” Seketika Donghae mematikan ponselnya dan kembali melempar benda itu ke sudut sofa.

Itu. Itu yang tidak Donghae sukai. Ia kira Youngwoon hanya akan mengkhawatirkan dirinya saja, tapi ternyata ujung-ujungnya tetap ada nama Hyukjae di dalam ucapannya. Tidak bisakah ia menjalani kehidupan barunya sedikit saja tanpa ada keterkaitan dengan orang-orang di masa lalu yang sudah menyakiti perasaannya? Pertanyaan itu kini mulai memenuhi seluruh ruang yang ada di benaknya.

Dongahe menyambar tas hitam yang ada di sudut ruangan kemudian mulai mengisinya dengan beberapa pakaian ganti. Setelah merasa semua yang ia butuhkan sudah masuk ke dalam tas, ia beralih ke sofa untuk mengambil ponselnya dan berjalan keluar apartemen.

Kedua matanya menatap ke arah dinding pembatas di mana beberapa saat yang lalu ada sosok Hyukjae yang berdiri di sana. Ia menghela nafas pelan saat menyadari di sana sudah tidak ada siapa-siapa lagi.

Sambil mengenakan topi hitam di kepalanya, Donghae pun berjalan ke arah tangga dan meninggalkan apartemen untuk kembali ke toko.

***

=Next day at FRESH FRUIT=

“Kau sudah datang?” Ryeowook muncul dari balik pintu belakang sesaat setelah Jung Ra masuk ke dalam toko sambil melepaskan tas coklat dan meletakkannya di atas sofa usang yang ada di belakang meja kerja Donghae.

Jung Ra hanya menganggukkan kepalanya karena mulutnya sedang mengulum permen lolipop. Sesaat setelah menyadari seseorang tidak ada di dalam toko, Jung Ra langsung melepas permen dari mulutnya dan bertanya pada Ryeowook.

Oppa, ke mana bosmu? Kenapa dia tidak terlihat? Apa dia ada di ruang bawah tanah?”

“Heeei, dia itu bosmu juga,” cela Ryeowook, memandang sekilas ke arah Jung Ra.

“Terserahlah. Tapi….., kau belum menjawabku. Ke mana dia?” Jung Ra mengulangi pertanyaannya.

“Di belakangmu.”

Jawaban Ryeowook membuat Jung Ra sempat terhenyak sebelum memutar tubuhnya ke arah belakang. Andai saja ia tak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya sendiri, bisa dipastikan Jung Ra akan terjatuh karena menabrak tubuh seseorang yang sudah berdiri tegak tepat di belakangnya. Kedua mata besarnya membulat seketika saat menyadari apa yang dikatakan Ryeowook memang benar.

Lee Donghae ada di belakangnya.

“D-Donghae-ssi?”

Beberapa detik Donghae hanya menyunggingkan senyum semanis mungkin ke arah Jung Ra sebelum kembali memasang wajah datar khas Donghae yang selalu dibenci oleh Jung Ra. Tanpa menghiraukan ekspresi terkejut Jung Ra, Donghae berjalan ke arah meja kerjanya begitu saja.

“Sejak kapan dia ada di belakangku?” gumam Jung Ra pada Ryeowook.

Bukannya menjawab, Ryeowook justru terkekeh pelan sambil mengusap puncak kepala Jung Ra dan berjalan ke arah pintu masuk toko dengan membawa kardus kecil berisi paket buah pesanan pelanggan.

Jung Ra hanya mencoba menarik nafas secara perlahan dan menghembuskannya sebelum memulai pekerjaannya pagi ini. Dilangkahkan kakinya menuju tumpukan buah nanas yang tak jauh dari meja kerja Donghae.

Eo?” Tanpa sengaja Jung Ra membaca tulisan yang tertera di selembar kertas yang ada di dinding dekat Donghae. Tangan Jung Ra yang sudah terbungkus dengan sarung tangan berwarna putih menunjuk sebuah nama yang ada di nomor satu daftar Hutang Pelanggan Toko.

“Donghae-ssi, bagaimana bisa kau membiarkan ada satu pelanggan toko yang sudah lama tidak membayar hutangnya?” tanya Jung Ra dengan ekspresi wajah terkejut.

“Aku sudah mencoba untuk menagihnya beberapa hari yang lalu, hanya saja hasil akhirnya tidak sesuai perkiraanku,” jawab Donghae datar tanpa menoleh ke arah Jung Ra. Ia masih belum bisa melupakan bagaimana sia-sia usahanya untuk terlihat marah-marah di depan paman penjual buah itu ketika dengan bodohnya ia justru membuat marah paman penjual sayuran.

“Aku jadi penasaran dengan orang ini. Tempat jualannya juga tidak terlalu jauh dengan tempat tinggal Eomma,” gumam Jung Ra sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

Yaa, kau mau ke mana?” Donghae heran melihat Jung Ra yang berjalan ke arah pintu masuk toko.

“Tentu saja menagih hutangnya. Apa lagi? Aku pergi dulu.” Jung Ra langsung melesat keluar toko.

Dengan sedikit berlari Jung Ra menuju halte bus yang ada di dekat toko. Setelah menunggu hampir lima menit, akhirnya kendaraan umum yang ditunggu Jung Ra pun tiba.

 

Jung Ra memasuki area komplek pertokoan sederhana yang ada di dekat tempat tinggal ibunya. Matanya mengamati satu per satu kios penjual yang ada di sisi kanan tubuhnya. Ia harus memastikan bahwa kios tempat pelanggan toko Donghae yang bernama Park Ahjussi memang benar-benar ada di antara deretan kios-kios tersebut.

Kakinya berhenti takkala melihat sebuah kios yang dipenuhi dengan berbagai macam tumpukan buah di bagian depannya. Di samping toko itu ada sebuah toko yang dipenuhi dengan sayuran dan tumpukan telur ayam.

“Anyyeong haseo, Ahjussi,” sapa Jung Ra sambil membungkukkan badannya pada seorang pria bertubuh besar yang sedang duduk di dekat pintu masuk tokonya.

“Ada apa?”

Jung Ra sedikit menghilangkan senyum ramahnya mendengar jawaban pemilik toko itu yang begitu ketus.

“Saya dari Fresh Fruit, Anda…..”

“Huh, jadi anak itu membayar orang lain untuk menagih hutang padaku? Licik sekali,” ucap pemilik toko tersebut sambil melempar tatapan sinis ke arah Jung Ra.

“Orang lain? Maaf, Ahjussi, saya adalah karyawan toko tersebut. Dan batas pembayaran hutang Anda sudah jauh dari jatuh tempo yang sudah ditetapkan bos saya,” Jung Ra berusaha tetap berbicara dalam nada sopan walaupun sebenarnya ia sudah merasa kesal dengan tingkah pemilk toko itu.

“Sejak kapan anak itu mau memperkerjakan seorang perempuan? Jangan mengada-ada! Sebaiknya kau pergi saja sana, daripada aku kehabisan kesabaran!” bentak pemilik toko.

Jung Ra meniup poni rambutnya dengan kesal. Kedua tangannya sudah mengepal kuat.

Yaa, Ahjussi, justru kaulah yang sudah membuat kesabaranku habis. Kau mau bayar sekarang atau tidak?” ancam Jung Ra yang sudah berdiri di depan pemilik toko itu.

‘Kau mengancamku?” Pria bertubuh besar itu berdiri.

Jung Ra terpaksa mendongakkan kepalanya untuk memandang orang itu karena tubuhnya sendiri kalah jauh. Rasa takut yang seharusnya menghampiri Jung Ra justru terganti dengan rasa kesal yang sudah menumpuk di dalam dirinya.

“Kau pikir aku takut hanya dengan melihat tubuh besarmu?” desis Jung Ra sambil melempar tatapan tajamnya pada orang bertubuh besar itu.

Kening pemilik toko buah seketika berkerut mendengar ucapan Jung Ra.

“Apa?”

“Kau bayar sekarang atau aku akan menghancurkan tokomu? Ahjussi mau pilih yang mana? Asal Ahjussi tahu saja aku sangat ahli untuk urusan merusak barang orang,” ancam Jung Ra.

Tak ada respon dari pemilik toko tersebut hingga akhirnya kekesalan Jung Ra sudah mencapai klimaks. Dengan cepat ia memutar tubuhnya dan berjalan menuju meja kecil yang berisi tumpukan buah apel hijau. Dalam sekali gerakan ia berhasil menggulingkan meja tersebut hingga apel-apel yang sudah tertata rapi jatuh menggelinding dan berserakan di depan toko.

Tidak hanya pemilik toko buah itu saja yang terkejut, beberapa penjual dan pengunjung yang kebetulan berada di dekat toko itu juga terkejut. Jung Ra yang sudah merasa marah tak peduli dengan tatapan orang-orang. Lepas dari fakta bahwa memang benar dirinya adalah karyawan di toko milik Donghae, Jung Ra lebih merasa kesal dan marah di saat ada seseorang yang meremehkan dirinya sebagai seorang perempuan.

“Kau pikir aku takut pada orang bertubuh besar seperti Ahjussi? Bahkan masalah yang harus kuhadapi dalam hidupku lebih besar dari badan Ahjussi!” Jung Ra berteriak sekeras yang ia bisa. Ia sudah tidak bisa mengatur nafasnya sendiri dengan baik.

Sekali lagi, Jung Ra berhasil menggulingkan meja berisi buah nanas hingga tanpa ia sadari ada beberapa buah nanas yang mengenai kulit tangannya hingga berdarah. Semakin lama semakin banyak barang-barang jualan milik paman penjual buah itu yang dihancurkan oleh Jung Ra.

“Baiklah! Baiklah! Aku akan membayarnya sekarang juga! Bisakah kau berhenti menghancurkan tokoku?!” Penjual buah tersebut berusaha menghentikan tindakan gila Jung Ra.

Jung Ra yang akan membanting kardus berisi buah manggis terpaksa berhenti takkala mendengar teriakan orang itu. Dengan tangan yang masih mengangkat kardus manggis, Jung Ra menolehkan kepalanya dan memandang tajam.

“Bi-bisa kau turunkan kardus itu? A-aku akan membayarnya sekarang juga.”

Di luar dugaan Jung Ra sebelum ia datang ke tempat ini, pemilik toko tersebut ternyata cukup ketakutan dengan aksi menyeramkan yang sedang ia lakukan. Dalam hati, Jung Ra merasa menang karena sudah berhasil membuat penjual buah tersebut menyerah.

Jung Ra meletakkan kardus manggis dengan kasar di atas satu-satunya meja yang masih berdiri tegak di depan toko. Disingkirkannya poni rambut yang entah kenapa justru membuatnya merasa kepanasan sendiri.

“Andai saja Ahjussi mau menuruti apa ucapanku beberapa menit yang lalu, mungkin tokomu akan tetap baik-baik saja,” ucap Jung Ra seraya mendekati penjual buah yang terlihat masih ketakutan.

Beberapa saat kemudian uang pelunasan hutang pun sudah berada di tangan Jung Ra. Gadis itu tersenyum manis ke arah penjual buah tersebut sambil membungkukkan badan.

“Terima kasih sudah mau bekerja sama dengan toko kami. Semoga hari ini Anda menyenangkan, Ahjussi.”

Jung Ra berjalan menjauh dari depan toko tanpa menghilangkan senyum puas di wajahnya. Dilihatnya beberapa lembar ribuan won yang kini ada di tangannya. Dihelanya nafas sejenak sebelum memasukkan uang-uang tersebut ke dalam saku celananya.

Ketika melintas di depan sebuah toko kacamata, Jung Ra terpaksa berhenti mendapati pantulan dirinya di cermin toko yang terlihat begitu berantakan. Rambut yang sudah ia kuncir rapi kini acak-acakan seperti gelandangan, ada beberapa kotoran yang menempel di wajah Jung Ra yang bercampur dengan keringat.

Aiissh…., ini semua karena Ahjussi itu,” gerutunya sambil berusaha merapikan rambutnya.

Mendadak Jung Ra tersentak ketika seseorang menarik tangannya hingga ia terpaksa memutar tubuhnya ke hadapan orang itu. Bukannya terkejut, Jung Ra justru menunjukkan senyum lebarnya.

“Lee Donghae-ssi!” Jung Ra memanggil Donghae dengan lantang, padahal jarak mereka berdua hanya beberapa senti.

Tentu saja Donghae yang sebelumnya ingin menyusul Jung Ra karena ia cukup khawatir bila pemilik toko buah itu akan menyakiti Jung Ra, kini justru harus mengernyitkan dahinya ketika melihat Jung Ra tersenyum lebar seperti itu. Gadis itu terlalu baik-baik saja untuk ukuran gadis yang mungkin baru saja disakiti oleh seseorang bertubuh besar semacam pemilik toko buah tersebut.

“Go Jung Ra…..”

“Coba lihat apa yang kudapat!” Jung Ra merogoh saku celananya untuk mengambil uang pelunasan hutang pemilik toko buah dan menunjukkannya tepat di depan wajah Donghae.

“Aku berhasil mendapatkan uangnya!” pekik Jung Ra dengan senang.

Tak ada ucapan terima kasih, balasan senyuman lebar ataupun tanggapan lain dari Donghae. Laki-laki bertopi hitam itu hanya meluncurkan tatapan dingin yang lagi-lagi membuat Jung Ra mau tak mau harus menghilangkan senyum dari wajahnya.

Waeyo? Kau tidak lihat, aku sudah mendapatkan uang yang seharusnya sudah kau dapatkan jauh-jauh hari. Seharusnya kau senang ‘kan?” Jung Ra terpaksa menurunkan tangannya dari depan wajah Donghae. Tetapi ia kembali tersentak saat Donghae menahan tangannya dan mengangkatnya lagi.

“Kau pikir aku akan senang bila seseorang harus terluka karena diriku?” desis Donghae, menunjukkan luka di tangan Jung Ra yang masih mengeluarkan darah.

“Oh…, ini…. ini tidak apa-apa. Tadi hanya…..”

Donghae menghempaskan tangan Jung Ra dari genggamannya dan meninggalkan gadis itu begitu saja. Tidak dihiraukannya panggilan Jung Ra, ia tetap berjalan menuju mobilnya yang ia parkir tak terlalu jauh.

Sesaat setelah masuk ke dalam mobil dan menutup pintu mobil, Donghae langsung memukul kemudi dengan tangannya. Nafasnya terengah-engah seakan ia baru saja berlari ratusan meter dengan kecepatan tinggi. Digenggamnya kemudi mobil dengan sangat erat dan perlahan ia menundukkan kepalanya, menempelkannya pada kemudi yang sedang ia pegang erat.

Kedua matanya terpejam erat saat merasakan ada sesuatu yang mendesak ingin keluar. Kedua tangannya yang memegang erat kemudi mobil terlihat gemetar. Donghae tak bisa menahannya. Dengan kepala yang masih tertunduk di kemudi mobil, ia menangis. Semakin lama semakin kencang tangisannya hingga kedua bahunya berguncang hebat.

“Jangan ada lagi yang terluka hanya karena diriku, Eomma…..,” ucap Donghae lirih di sela tangisannya.

Ya, memang bukan tanpa alasan Donghae menangis hebat seperti ini. Ia terlalu paham dengan perasaan ini. Perasaan takut yang mendadak hinggap di benaknya tiap tahu ada orang lain yang terluka karena dirinya. Dan dalam kasus ini, Jung Ra lah yang menjadi orang itu.

Sejak Jung Ra keluar dari toko untuk menagih hutang, perasaan Donghae sudah tidak enak. Semua dugaan-dugaan buruk silih berganti melintas di benaknya. Apakah Jung Ra baik-baik saja? Apakah pemilik toko buah itu tidak akan menyakiti Jung Ra mengingat tubuh gadis itu sangat kecil bila dibandingkan dengan tubuh besar seperti raksasa milik pemilik toko buah tersebut? Apakah Jung Ra harus terluka hanya karena harus menagih hutang yang tidak seberapa demi menyelesaikan buku keuangan toko Donghae yang masih belum lengkap? Semua pertanyaan itu menghantui Donghae.

Dan melihat keadaan Jung Ra yang berantakan dan tangan yang terluka, hati Donghae terasa begitu sakit hingga ia susah untuk bernafas. Bayangan ibunya yang ada di atap rumah sakit melayang-layang di benaknya. Ibunya dulu memilih melukai dirinya hanya karena dia. Dan sekarang Jung Ra pun bertindak hal yang sama, melukai dirinya sendiri hanya karena dia. Kalau sudah begini salahkah Donghae bila ia memilih untuk marah pada Jung Ra?

***

“Ini kan hanya luka kecil, Bodoh. Bukannya terima kasih, dia justru memandangku seakan-akan aku adalah orang yang sudah mencuri uang miliknya. Dia itu manusia normal bukan sich? Baru beberapa hari aku bisa menganggapnya sebagai teman, lagi-lagi sifat anehnya muncul. Marah-marah tidak jelas, meninggalkan seorang perempuan sendirian di tempat panas seperti ini setelah membantunya menagih hutang. Seharusnya aku mengajaknya tadi, jadi dia bisa melihat bagaimana susahnya menggulingkan meja-meja itu,” Jung Ra terus mengomel sepanjang jalan.

Kakinya mendadak berhenti saat melihat penjual Tteokbokki yang ada di pinggir jalan. Dengan tetap mempertahankan wajah kesalnya, Jung Ra berjalan mendekat dan memesan satu porsi jumbo makanan pedas tersebut.

“Dasar tidak tahu diri,” gerutu Jung Ra seraya memasukkan satu potongan Tteokbokki ke dalam mulutnya. Bahkan saat mengunyah jajanan khas Korea itu saja Jung Ra masih bisa menampilkan efek dramatis karena saking kesalnya. Beberapa menit kemudian ia menghabiskan makanannya hingga bersih.

Ahjumma, satu porsi jumbo lagi,” pinta Jung Ra yang beberapa saat kemudian kembali mendapatkan pesanannya dalam ukuran yang sama dan seketika langsung melahapnya. Berulangkali Jung Ra harus menyeka keringat yang menghiasi wajahnya karena kepedasan. Paling tidak dengan memakan sesuatu yang panas dan pedas, Jung Ra bisa melampiaskan kekesalannya yang sudah memuncak pada Donghae.

“Waaah…., kau tidak pernah bilang kalau di sini ada tempat makanan yang enak.”

Ucapan seseorang membuat Jung Ra harus menolehkan kepala untuk melihat siapa yang sudah berdiri tak jauh dari tempatnya duduk.

“Lee Hyukjae-ssi?” ucap Jung Ra dengan mulut penuh.

Hyukjae yang kebetulan melintas di jalan dekat komplek pertokoan sederhana untuk mencari jalan alternatif agar bisa sampai di tempat kerja temannya terpaksa berhenti saat melihat Jung Ra sedang duduk manis di dekat penjual Tteokbokki yang ada di pinggir jalan, hanya tersenyum geli melihat Jung Ra.

“Kau tidak bekerja?” Hyukjae duduk di samping Jung Ra sambil menunjuk sudut bibir Jung Ra yang kotor.

“Aku sedang melarikan diri,” jawab Jung Ra asal seraya menyeka sudut bibirnya dengan punggung tangannya yang tak memegang wadah Tteokbokki.

“Melarikan diri?”

Jung Ra mengangguk sambil kembali memasukkan potongan Tteokbokki ke dalam mulutnya. Ia tak peduli bila Hyukjae mengiranya sebagai gadis rakus karena ia masih harus melampiaskan semua kekesalannya pada Donghae melalui makanan itu.

“Bagaimana bisa kau sampai ada di sini?” Jung Ra mencoba membuat topik pembicaraan dengan Hyukjae. Tidak mungkin ia mendiamkan laki-laki itu begitu saja.

Hyukjae terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab, “Hanya jalan-jalan dan kebetulan bertemu denganmu.”

“Mau mentraktirku sesuatu yang pedas?”

 

=At Food Court=

Jung Ra menatap mangkuk besar yang berisi ramyun dengan kuah berwarna merah menyala dan masih mengepulkan asap panas.

“Terima kasih sudah mau mentraktirku makan ramyun, Hyukjae­-ssi,” ucap Jung Ra sebelum mengaduk ramyunnya dengan tenaga ekstra dan wajah yang dramatis.

Hyukjae dibuat tercengang melihat gadis yang sedang duduk di depannya itu melahap ramyun dengan menggebu-gebu, seakan sedang mengikuti lomba makan cepat. Awalnya Hyukjae ingin tertawa, namun niatnya ia urungkan saat tak sengaja melihat ada luka di punggung tangan Jung Ra.

“Ada apa dengan tanganmu?” tanya Hyukjae panik.

Jung Ra yang akan memasukkan ramyunnya lagi ke dalam mulut hanya melihat sekilas ke arah tangannya yang terluka. Ia menggerakkan telapak tangannya sambil memakan ramyun. Mencoba memberitahu Hyukjae bahwa tangannya tidak apa-apa.

“Jung Ra-ssi….”

“Aku baru saja merusak toko orang, dan aku tidak sengaja melukai tanganku sendiri,” jawab Jung Ra setelah menelan semua isi yang ada di dalam mulutnya.

Kedua alis mata Hyukjae terangkat mendengar Jung Ra baru saja merusak toko orang. Dipandanginya gadis yang kini sibuk mengaduk-aduk kuah pedas ramyun dan menaburkan bubuk cabai cukup banyak di atasnya. Bagiamana bisa seorang gadis berwajah manis seperti Jung Ra mampu merusak toko orang? Pertanyaan itu menggelayut di benak Hyukjae.

“Bagaimana bisa?”

Jung Ra menceritakan semuanya pada Hyukjae, mulai dari dia datang ke toko buah pelanggan Donghae, mengancam pemilik toko, menghancurkan depan toko semampunya hingga harus melukai tangannya sendiri. Tak terkecuali saat ia bertemu dengan Donghae yang ternyata hanya meninggalkannya begitu saja tanpa mengajaknya pulang bersama. Gadis itu menceritakan semuanya secara detail. Bahkan di bagian Donghae, ekspresi wajahnya berubah menyeramkan, tangannya semakin erat menggenggam sendok dan sumpitnya.

“Benarkah dia meninggalkanmu dalam keadaan seperti itu?” tanya Hyukjae dengan pelan.

“Maaf, Hyukjae-ssi, bukannya aku ikut campur urusan kalian berdua yang sepertinya belum selesai untuk waktu yang lama, dan aku tidak tahu bagaimana Donghae dulu, tapi yang jelas orang bernama Donghae yang kukenal sekarang adalah jenis manusia menyebalkan yang bisa membuatku terkena stroke di usia muda karena tingkah anehnya yang ajaib. Satu menit ia bisa seperti manusia, satu menit kemudian ia bisa seperti iblis. Haaah…. Aku heran bagaimana bisa orang sebaik dirimu mempunyai adik tiri seperti dia,” celoteh Jung Ra.

Hyukjae meraih tangan Jung Ra yang akan kembali mengangkat wadah bubuk cabai. Diambilnya sapu tangan yang ada di saku jasnya dan mulai membersihkan luka di tangan Jung Ra setelah sebelumnya mencelupkan sapu tangan itu ke dalam gelas berisi air putih miliknya.

“Ini tidak…. aaaakhhh……” Tiba-tiba Jung Ra menarik tangannya yang sedang diobati Hyukjae dan langsung memegang erat perutnya. Kepalanya menunduk di atas meja dengan mata yang terpejam erat, menahan rasa sakit yang mendadak menyerang perutnya.

Gwaenchana?” Hyukjae bangkit dari duduknya dan menghampiri Jung Ra.

“Sepertinya aku harus ke toilet. Hari ini aku makan seperti orang gila,” jawab Jung Ra, berusaha menegakkan kepalanya untuk memandang Hyukjae.

Hyukjae yang masih panik mau tidak mau harus tertawa pelan mendengar ucapan Jung Ra. Dengan hati-hati ia membantu Jung Ra untuk berdiri dan mengantarkannya ke toilet umum letaknya tak jauh dari tempat mereka makan.

“Terima kasih,” ucap Jung Ra seraya masuk ke dalam toilet umum dan langsung berlari kecil memasuki salah satu kamar mandi yang masih kosong. Beberapa menit kemudian ia keluar dan mencuci tangannya. Namun, lagi-lagi rasa sakit di perutnya menyerang dan memaksa Jung Ra untuk kembali masuk ke dalam kamar mandi yang sama.

“Haaah…., kenapa hari ini menyebalkan sekali?” keluh Jung Ra di dalam kamar mandi.

Hampir setengah jam Jung Ra keluar masuk kamar mandi dan selama itu juga tubuh Jung Ra mulai melemas. Kini gadis itu terduduk di depan pintu kamar mandi yang baru saja ia gunakan. Keringat dingin sudah menghiasi wajah dan tengkuknya.

Dengan sedikit kesulitan ia berjalan menuju pintu toilet yang tak jauh darinya. Mendadak rasa pusing menyerang kepalanya sesaat setelah ia memutar knop pintu yang ada di depannya. Dilihatnya Hyukjae ternyata masih berdiri di depan toilet umum untuk menunggunya.

“Hyukjae-ssi….”

Hyukjae yang mendengar suara Jung Ra menolehkan kepalanya ke belakang. Namun, buru-buru ia menangkap Jung Ra yang tiba-tiba lunglai begitu saja ke arahnya.

“Jung Ra-­ssi! Yaa, Go Jung Ra! Gwaenchana? Jung Ra-ssi, apa yang terjadi?” Hyukjae yang sudah menangkap tubuh Jung Ra panik melihat gadis itu tak sadarkan diri.

 

=at FRESH FRUIT=

“Ke mana dia?” Ryeowook berulangkali melongokkan kepalanya ke arah pintu masuk toko, berharap sosok Jung Ra muncul dari balik pintu itu.

Hyungnim, apa tadi kau benar tidak bertemu dengannya?” tanya Ryeowook pada Donghae yang baru saja keluar dari kamar mandi. Donghae hanya menggelengkan kepalanya seraya menghenyakkan dirinya ke atas sofa sambil mengecek ponselnya. Diliriknya icon jam yang terdapat di layar ponselnya. Sepertinya memang wajar bila Ryeowook mencemaskan Jung Ra seperti itu karena gadis itu memang sudah terlalu lama berada di luar sana.

“Apa Hyungnim tahu ke mana dia pergi?” Ryeowook mendekati Donghae.

“Menagih hutang Park Ahjussi.”

Ne?!” Ryeowook seketika terkejut mendengar jawaban Donghae. “Hyungnim, bagaimana bisa kau membiarkannya pergi ke sana?! Bagaimana nanti kalau….”

“Jung Ra sudah berhasil mendapatkan uangnya. Jadi kau tidak perlu berlebihan seperti itu,” ujar Donghae datar.

“Iya juga. Tapi ‘kan kita tidak tahu bagaimana cara Jung Ra sampai bisa mendapatkan uang itu dari tangan Park Ahjussi…..”

Donghae hanya menggelengkan kepalanya melihat Ryeowook berjalan menjauh darinya sambil menggumam pelan. Dihelanya napas sejenak sebelum kembali melihat layar ponselnya. Tiba-tiba ponsel itu berdering dan nama Jung Ra tertera di layar.

“Panjang umur…..,” gumam Donghae yang melihat nama Jung Ra. “Yaa, Go Jung Ra….”

Donghae-ya…..

Bukan. Yang menelpon bukan Jung Ra. Suara itu bukan suara milik Jung Ra. Donghae mengenal suara itu. Suara Lee Hyukjae.

Beberapa detik ia menjauhkan ponsel dari telinganya dan menatap layar ponsel tersebut sebelum mendekatkannya kembali.

“Kenapa ponsel Jung Ra ada pada dirimu?” tanya Donghae.

Bisa datang ke rumah sakit? Jung Ra tiba-tiba pingsan, maka dari itu aku langsung membawanya ke rumah sakit.”

Mwo?”

***

=at Hospital=

Donghae berlari kecil memasuki ruang lobby rumah sakit. Setelah menanyakan di mana ruang rawat Jung Ra pada perawat yang sedang bertugas, Donghae lantas berlari menuju lift yang akan membawanya ke lantai dua di mana Jung Ra sedang dirawat di sana.

Baru saja Donghae keluar dari dalam lift, ponselnya berdering.

Yeoboseo?”

Hyungnim, bagaimana keadaan Jung Ra? Apakah dia parah atau bagaimana?” Suara Ryeowook terdengar cemas di seberang telepon sana.

“Dia…… baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir. Oh ya, satu lagi. Jangan mengabari ibu Jung Ra kalau Jung Ra masuk rumah sakit,” kata Donghae seraya berbelok ke sisi kanan, menelusuri sebuah lorong panjang.

Memangnya kenapa?”

“Apa kau masih harus bertanya soal itu? Keadaan ibu Jung Ra sedang kurang sehat. Apa jadinya nanti kalau tiba-tiba dia tahu anaknya masuk rumah sakit?” ujar Donghae.

Iya….. tapi……

Yaa, Kim Ryeowook, turuti saja perintahku! Dan juga……” Donghae terpaksa menghentikan ucapaannya saat melihat Hyukjae yang sedang duduk di bangku panjang di depan sebuah ruangan dengan kepala tertunduk.

“Akan kukabari nanti,” ucap Donghae pada Ryeowook sebelum mematikan ponselnya. Dengan langkah yang sedikit dipercepat, Donghae menghampiri Hyukjae yang sepertinya sudah mengetahui kedatangannya.

“Di mana dia sekarang?” tanya Donghae tak mau berbasa-basi.

Hyukjae tak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis sambil menegakkan kepalanya, tapi tak mau menolehkan kepalanya ke arah Donghae yang berdiri di sampingnya dengan wajah tegang.

“Di mana Go Jung Ra sekarang? Apa dia baik-baik saja? Apa yang terjadi? Bagaimana dia bisa pingsan?” Donghae menghujani Hyukjae dengan rentetan banyak pertanyaan. Namun, tetap saja laki-laki yang sudah melepas jas hitamnya dan melonggarkan dua kancing kemeja bagian atasnya itu tak menjawab semua pertanyaan yang diberikan Donghae.

“Lee Hyukjae?”

Bug!

Tanpa Donghae duga, tiba-tiba Hyukjae bangkit dari duduknya dan langsung melayangkan pukulan ke wajahnya hingga membuatnya terhuyung beberapa langkah ke belakang. Belum sempat Donghae menyeka darah yang ada di sudut bibirnya, Hyukjae sudah lebih dulu mencengkeram kerah kemejanya.

“Apa kau benar-benar khawatir? Kurasa nada suaramu terlalu dingin dan datar untuk ukuran orang yang sedang khawatir, Lee Donghae,” desis Hyukjae yang untuk pertama kalinya menunjukkan kemarahannya di hadapan Donghae.

Donghae, untuk beberapa saat laki-laki bertopi hitam itu dibuat terhenyak dengan ekspresi menyeramkan yang ditampilkan oleh Hyukjae padanya. Dari sorot mata Hyukjae, Donghae bisa melihat dengan sangat jelas amarah yang begitu membuncah di dalam sana, seakan dirinya baru saja melakukan kesalahan terbesar pada Hyukjae.

“Sepuluh tahun ini, tidak masalah bila kau menaruh rasa benci yang begitu dalam padaku karena kematian Eomonim, tidak masalah bila kau sudah tidak mau menganggapku sebagai seorang kakak lagi, karena aku masih bisa memperjuangkannya. Aku masih bisa mencoba segala cara untuk menghilangkan rasa bencimu padaku, aku masih bisa mencoba segala cara untuk membuatmu menganggapku sebagai kakakmu lagi. Tapi yang satu ini…..” Hyukjae menggelengkan kepala sambil mengeratkan cengkeraman tangannya pada kerah kemeja Donghae.

“…Caramu membuat Jung Ra terluka hingga seperti ini, aku benar-benar mempermasalahkannya, Lee Donghae. Aku tidak tahu bagaimana cara kerja otakmu hingga kau tega meninggalkan dirinya seorang diri dengan kondisi yang berantakan dan tangan yang terluka di pinggir jalan tanpa mengobati lukanya terlebih dulu, padahal ia sudah susah payah menagih hutang pelanggan tokomu yang brengsek. Kau tidak tahu bagaimana sulitnya Jung Ra memberanikan dirinya merusak toko orang itu demi mendapatkan uang pelunasan hutang yang tidak seberapa.”

Mwo?”

“Bukankah Lee Donghae yang kukenal adalah seorang laki-laki yang begitu lembut terhadap wanita? Ke mana perginya laki-laki bernama Lee Donghae itu? Kalau kau benci padaku, jangan melampiaskannya pada orang lain, terutama pada Go Jung Ra.”

“Reaksimu terlalu berlebihan, Lee Hyukjae.” Akhirnya setelah beberapa saat terdiam, Donghae berani membuka mulutnya.

“Itu reaksi yang normal bagiku,” balas Hyukjae.

Donghae mendengus pelan sambil menepis kasar tangan Hyukjae di kerah kemejanya. Disentuhnya sudut bibirnya yang terasa sakit. Namun, sebuah dugaan yang muncul di benaknya membuat Donghae memandang lurus ke arah Hyukjae.

“Kau menyukainya?”

Beberapa detik Hyukjae hanya diam membeku membalas tatapan tajam Donghae.

Mworago?”

“Apa kau menyukai Go Jung Ra? Perhatian yang kau berikan padanya terlihat berlebihan untuk ukuran seorang teman. Kau terlalu berlebihan, Lee Hyukjae, kau tahu itu?”

“Jangan memaksaku untuk memukulmu lagi, Donghae-ya,”

“Jawabanmu melenceng jauh dari pertanyaanku.”

“Aku menyukainya atau tidak, jelas itu bukan sesuatu yang harus kita bicarakan untuk sekarang,” Nada suara Hyukjae kembali normal

“Huh, dunia macam apa yang sedang kutinggali ini?” ujar Donghae ketus.

Suara pintu yang ada di dekat Hyukjae dan Dongahe terbuka. Jung Ra muncul dengan sedikit terhuyung dari dalam kamar rawatnya. Sesaat setelah menutup pintu itu kembali, Jung Ra dibuat terkejut melihat Hyukjae dan Donghae yang sepertinya sedang berkelahi, terlebih kini sudut bibir Donghae nampak lebam.

Yaa, kalian berdua…..” Jung Ra menunjuk kedua laki-laki yang sudah menolehkan kepala ke arahnya.

“Apa kalian tadi sedang bertengkar?” Jung Ra mendekati Hyukjae dan Donghae sambil memasukkan kantong berisi resep obat diare pemberian dokter ke dalam tas coklatnya

“Kenapa kau keluar? Bukankah kau seharusnya istirahat di dalam? Kau masih terlihat lemah, Jung Ra-ssi,” ucap Hyukjae

“Aku tidak nyaman tidur di rumah sakit seperti ini. Lebih baik aku pulang dan istirahat di rumah saja. Toh dokter bilang aku hanya terkena diare, apalagi tadi aku sudah diberi obat,” elak Jung Ra yang memang enggan untuk berada lebih lama di rumah sakit.

Donghae memandang Jung Ra yang memang masih terlihat pucat dan lemas, tangan gadis itu sudah berhias plester luka berukuran besar. Entah kenapa rasa bersalah menggelayut di benaknya melihat kondisi Jung Ra seperti itu. Sepertinya ia tahu kesalahan apa yang sudah ia perbuat hingga membuat Hyukjae menjadi marah besar.

“Kita pulang,” ucap Donghae tiba-tiba sambil meraih tangan Jung Ra dan menariknya. Meninggalkan Hyukjae yang sama sekali tak bergerak dan hanya memandang Donghae dan Jung Ra yang semakin jauh.

 

 

Jung Ra kini sudah duduk di dalam mobil pick up milik Donghae. Sebenarnya ia ingin sekali menyerang Donghae dengan banyak pertanyaan dan umpatan, tapi tubuhnya lebih dulu terasa lemas hanya karena diajak Donghae berjalan kaki menuju tempat parkir rumah sakit. Nafasnya sudah terengah-engah, bahkan ia jadi susah untuk membuka matanya secara penuh. Sepertinya efek obat bius yang diberikan dokter beberapa saat yang lalu masih bekerja pada tubuhnya.

“Kau mau membawaku ke mana?” tanya Jung Ra dengan sangat pelan.

“Pulang. Bukankah kau bilang tadi tidak suka berada di rumah sakit?” Donghae membenarkan letak sabuk pengaman pada tubuh Jung Ra. Dalam jarak yang cukup dekat seperti ini, Donghae bisa melihat wajah Jung Ra yang benar-benar pucat.

“Aku ingin sekali memakimu, Lee Donghae. Tapi sepertinya tenagaku sudah benar-benar habis saat ini.” Mata Jung Ra mulai menutup.

“Aku juga sedang tidak mau dimaki oleh siapapun,” balas Donghae yang sesaat kemudian tertegun melihat Jung Ra yang sudah tertidur. Dihelanya nafas pelan sambil mengenakan jaket hitamnya pada Jung Ra agar gadis itu merasa lebih hangat.

Tak berapa lama mobil Donghae melaju meninggalkan area parkir rumah sakit dan berbaur dengan mobil-mobil lain yang ada di jalan raya. Di tengah-tengah mengemudikan mobilnya menuju gedung apartemen di mana Jung Ra dan dirinya tinggal, Donghae menghubungi Ryeowook untuk menangani toko sementara waktu sampai ia selesai mengantar Jung Ra pulang.

“Kau masih bisa bergerak?” tanya Donghae ketika mobil sudah sampai di depan gedung apartemen. Donghae harus mengguncang bahu Jung Ra pelan agar gadis itu terbangun.

“Tubuhku tidak bisa digerakkan, Donghae-ssi…. Kurasa dokter yang tadi terlalu banyak memberiku obat bius dan …..,” keluh Jung Ra lirih dengan mata yang masih terpejam.

“Diamlah. Jangan banyak bicara. Aku akan membantumu.” Donghae keluar dari dalam mobil dan berlari kecil menuju pintu yang ada di samping Jung Ra. Setelah membuka sabuk pengaman Jung Ra, Donghae lantas membenarkan jaketnya yang ada pada tubuh Jung Ra.

Ia memposisikan dirinya dengan membelakangi Jung Ra dan mencoba mengangkat kedua tangan Jung Ra agar melingkar pada lehernya. Dengan sangat hati-hati Donghae mengeluarkan Jung Ra dari dalam mobil dan langsung menggendong gadis itu pada punggungnya.

“Kau bisa mengeratkan tanganmu pada leherku? Gerakkan kepalamu bila kau mendengarku,” ucap Donghae sambil menoleh ke belakang. Dirasakannya Jung Ra menganggukkan kepalanya dan perlahan gadis itu mengeratkan pelukannya pada leher Donghae.

“Baiklah, sekarang aku akan membawamu ke……” Donghae baru menyadari kalau kunci apartemen Jung Ra mungkin ada di dalam tas atau celana yang sedang dipakai Jung Ra. Tidak mungkin ia kembali meletakkan gadis itu ke atas jok. Sebuah ide lain muncul setelah Donghae terdiam beberapa saat.

“Donghae-ssi, tubuhku lemas semua…..” Suara lirih Jung Ra kembali terdengar di telinga Donghae ketika ia mulai menaiki satu per satu anak tangga menuju lantai dua.

“Sebentar lagi akan sampai,” kata Donghae sambil berusaha membuat Jung Ra yang lunglai tetap bertahan di punggungnya.

Diambilnya kunci apartemen yang ada di saku kemejanya. Sementara satu tangannya berusaha menahan Jung Ra, Donghae mencoba membuka pintu apartemennya. Ya, akhirnya Donghae memutuskan untuk memasukkan Jung Ra ke dalam apartemennya karena tidak ada pilihan lain. Setidaknya itu menurut dirinya sendiri.

“Aku di…… mana?” Jung Ra mencoba membuka matanya. Tapi sayang sekali apapun yang ia lihat sama sekali tidak jelas dan buram. Pandangannya mengabur.

“Sebaiknya kau istirahat dulu.” Donghae menyelimuti tubuh Jung Ra yang sudah berbaring di atas tempat tidurnya. Kemudian mendekatkan mesin penghangat ruangan di meja dekat tempat tidur dan menyalakannya.

“Donghae-ssi ……”

Donghae yang akan bangkit dari tepi tempat tidur terpaksa kembali menghenyakkan diri ketika mendengar Jung Ra memanggil namanya.

“Bisakah kau bersikap layaknya manusia sedikit saja padaku? Bisakah kau bersikap lembut seperti yang biasa Lee Hyukjae lakukan padaku?” tanya Jung Ra dengan suara lirih dan terkesan berbisik.

Donghae tak menjawab. Ia hanya memandang Jung Ra yang belum sepenuhnya sadar, bahkan terlihat seperti akan kembali tertidur. Ia hanya mendengus pelan takkala Jung Ra akhirnya benar-benar tertidur.

“Kenapa harus ada nama Lee Hyukjae yang keluar dari bibirmu, huh?” Donghae tahu pertanyaannya tidak akan dijawab Jung Ra karena gadis itu sudah pasti tidak akan bisa mendengarnya.

To be continued

 

 

 

 

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: