FRUIT LOVE [10/20]

hyuk2_副本

FRUIT LOVE

Chaptered FF

Author : Nita Henny

Cast : Go Jung Ra (OC) – Lee Donghae – Lee Hyukjae

Kim Ryeowook – Kim Youngwoon

Genre : Romance, Family, Brothership

Rating : PG-14

Note :
FF Ini udah pernah kupublish di blogku sendiri. Dulu, udah lama. Dan sekarang aku coba kirim ke sini hehehe.
You can visit my blog === >>> https://imajinasinita.wordpress.com/

Happy reading ~~~~

============================

 

“Jung Ra-ssi…, Go Jung Ra…, Go Jung Ra…”

Sayup-sayup Jung Ra mendengar seseorang yang sedang memanggilnya. Suara itu terdengar sangat jauh dari telinganya.

“Jung Ra-ssi…”

Kali ini suara itu terdengar mendekat. Walaupun begitu berat dan dalam, Jung Ra masih bisa merasakan kelembutan di suara tersebut. Jung Ra membuka kedua matanya yang terpejam. Gadis itu butuh hampir dua puluh detik untuk menyadari di depan wajahnya kini sudah ada seseorang yang sedang memandangnya, tapi ia tidak bisa mengetahui siapa orang itu karena penglihatannya masih kurang jelas.

Kesadaran Jung Ra memang belum sepenuhnya kembali, namun otaknya mendadak bekerja cepat ketika sebuah nama melintas di benaknya. Benarkah orang yang ada di dekatnya itu adalah dia?

Lee Donghae?

“Apa aku masih ada di dunia mimpi atau sudah bangun? Kenapa wajah orang itu masih saja ada di sana? Apa dia kurang puas sudah mengganggu mimpi indahku tadi? Ya Tuhan, Lee Donghae, berhentilah bergentayangan seperti hantu di mana-mana…,” keluh Jung Ra seraya menarik sebuah bantal yang ada di dekat tangannya dan menjatuhkan benda empuk itu tepat di wajahnya. Dari balik bantal itu Jung Ra berusaha kembali memejamkan kedua matanya untuk menghilangkan wajah menyebalkan milik Donghae.

“Hantu?” desis Donghae yang memang sejak tadi berusaha membangunkan Jung Ra yang sudah sejak kemarin siang hingga pagi ini tertidur di atas tempat tidur miliknya. Tidak, lebih tepatnya gadis itu sudah tak sadarkan diri sejak ia baringkan kemarin. Dan, sekarang dengan beraninya Jung Ra menyebutnya sebagai hantu setelah ia susah payah menggendongnya naik ke lantai dua? Percayalah, rasa simpati yang sempat memenuhi hati Donghae bisa mengasap begitu saja.

Sementara itu Jung Ra mengerjap-ngerjapkan kedua matanya di balik bantal saat menyadari sesuatu. Sepertinya ia melupakan sesuatu hingga tanpa sadar mengatakan semua itu. Dan benar saja! Tanpa sepengetahuan Donghae, Jung Ra menggeleng-gelengkan kepalanya dengan sangat pelan, membodohi ucapannya sendiri. Jung Ra baru ingat apa yang terjadi sebelumnya hingga membuat dirinya bisa sampai berbaring di tempat tidur ini, tempat tidur milik Donghae. Dengan kata lain sekarang ia berada di dalam apartemen laki-laki itu.

Jung Ra berdehem pelan sambil menarik bantal dari wajahnya. Gadis itu masih belum berani mengalihkan pandangan matanya dari langit-langit kamar Donghae yang berhias beberapa sarang laba-laba walaupun ia tahu laki-laki itu masih meluncurkan tatapan menyeramkan ke arahnya dari tepi tempat tidur, mungkin,.

Apa dia tidak pernah membersihkan apartemennya sendiri? Atau dia memang berniat untuk membangun sebuah kebun binatang mini di langit-langit kamarnya? — batin Jung Ra yang masih mengerjap-ngerjapkan matanya ke arah sana.

Donghae hanya menghela napas, berusaha menahan rasa kesal karena Jung Ra menyebutnya hantu. Andaikan Jung Ra tidak sedang dalam kondisi seperti saat ini, mungkin Donghae tidak akan segan-segan menendangnya keluar dari apartemennya.

“Saatnya sarapan. Kau harus mengisi perutmu dulu.”

“Apa? Sarapan? Bukankah ini masih malam… mwo?” Jung Ra terpaksa mengatupkan bibirnya setelah memandang jam dinding yang menggantung pada dinding di samping tempat tidur. Jam tersebut menunjukkan pukul sembilan pagi.

Wae? Baru sadar kalau kau tidur seperti kerbau?” ujar Donghae datar seraya membantu Jung Ra untuk bangun. Mendadak Jung Ra yang sudah duduk di tepi tempat tidur dan bermaksud untuk berdiri hampir tersungkur kalau saja Donghae tidak cepat menahannya.

“Kenapa tubuhku masih lemas begini?” keluh Jung Ra pelan.

Mendengar keluhan Jung Ra membuat Donghae harus menarik kata-katanya yang baru saja ia lontarkan pada gadis itu. Sedikit merasa bersalah? Tentu saja Donghae harus merasa bersalah karena ia sendiri tahu apa yang terjadi pada Jung Ra.

“Sepertinya pengaruh obat bius dari dokter kemarin belum benar-benar hilang,” kata Donghae sambil terus membantu Jung Ra berjalan menuju meja makan kecil yang tak jauh dari tempat tidurnya.

“Kurasa juga begitu. Aku tidak yakin dokter itu hanya menyuntikkan beberapa tetes obat bius, dia pasti memberiku hampir satu botol penuh. Terima kasih.” Jung Ra bergerak sedikit untuk menyamankan dirinya yang sudah duduk di salah satu kursi yang ada di dekat meja makan, tentu saja dengan bantuan Donghae.

Donghae tak menjawab. Dia berjalan memutari meja makan untuk bisa sampai di kursinya yang ada di depan Jung Ra. Salah satu tangannya terulur untuk membuka penutup mangkuk yang sejak tadi ada di depan Jung Ra, sedangkan tangannya yang lain mendekatkan sebuah sendok pada tangan Jung Ra.

“Makanlah,” ujar Donghae sambil mulai menyantap makanannya sendiri.

Jung Ra menatap heran ke arah mangkuk berisi bubur yang terlihat masih hangat di hadapannya. Kemudian matanya beralih pada nasi dan beberapa lauk menggiurkan yang ada di dekat Donghae. Jung Ra merasa ada yang keanehan di atas meja makan itu.

“Kenapa hanya bubur?” Jung Ra menunjuk buburnya. “Dan kenapa makananmu lebih banyak dan lebih layak untuk dimakan di sana?”

Melihat jari telunjuk Jung Ra yang menunjuk ke arah makanannya, Donghae hanya mendengus pelan sambil tetap melanjutkan sarapannya.

Yaa, Donghae-ssi…”

“Seingatku orang sakit hanya makan makanan yang mudah dicerna dan mudah ditelan.” Hanya itu jawaban yang diberikan Donghae untuk Jung Ra.

“Tapi ‘kan aku hanya lemas karena pengaruh obat bius. Aku juga tidak merasa harus makan makanan seperti ini,” Jung Ra masih memberikan protes.

Donghae terpaksa menghentikan tangannya yang baru akan memasukkan potongan sayuran ke dalam mulutnya. Gadis yang pagi ini masih terlihat begitu pucat benar-benar membuat Donghae harus menahan rasa kesal dengan kekuatan ekstra.

“Kata dokter kau mengalami diare, dan parahnya lagi karena kau terlalu banyak makan makanan pedas ususmu juga bermasalah. Apa dokter tidak memberitahumu soal penyakitmu itu?” Donghae berusaha menormalkan nada suaranya walaupun berulangkali ia menggertakkan giginya dengan pelan.

Jung Ra menggerak-gerakkan kedua bola matanya ke kanan dan ke kiri. Jung Ra bukannya tidak diberitahu soal itu, dia hanya sempat lupa. Tangannya langsung mengambil sendok dan menyendok buburnya, memasukkannya ke dalam mulut dan mengunyahnya sambil menundukkan kepala.

Cukup bodoh bila Jung Ra masih mempertahankan protesnya hanya masalah bubur dan nasi yang ada di atas meja. Paling tidak walaupun Jung Ra merasa malu, ia harus berterima kasih pada Donghae yang sudah ‘merawatnya’ hingga pagi ini.

Sambil mengunyah pelan bubur yang ada di dalam mulutnya, yang seharusnya tidak perlu ia lakukan karena bubur itu bertekstur cukup lembut dan bisa langsung ditelan, Jung Ra lagi-lagi merutuki dirinya yang sudah menyebut Donghae dengan sebutan hantu. Jung Ra tidak bermaksud untuk itu karena tadi ia pikir kemunculan Donghae di dekatnya hanya ilusi semata. Jung Ra belum sepenuhnya sadar. Itu maklum bukan?

“Soal hantu tadi… aku minta maaf,” ucap Jung Ra pelan seraya memasukkan kembali sesendok buburnya.

Sebenarnya Donghae mendengar apa yang baru saja dikatakan Jung Ra, tapi ia hanya terdiam sambil terus menikmati sarapannya.

“Aku tidak bermaksud untuk… kau tahu sendiri ‘kan aku tadi masih dipengaruhi oleh obat bius? Orang yang seperti itu biasanya akan tidak sadar apapun yang ia ucapkan. Dan juga…” Jung Ra mengetuk-ngetuk sendoknya pada dasar mangkuk dengan pelan sambil mencari kata-kata yang tepat. “… dan juga aku ingat apa yang dikatakan dokter padaku. Aku terkena diare karena terlalu banyak makan makanan pedas, tapi aku tidak tahu kalau ususku juga ikut menjadi korban.”

Jung Ra menutup mulutnya setelah mengeluarkan kata demi kata yang sudah ia coba susun di dalam kepalanya untuk disampaikan pada Donghae. Sebut saja rangkaian kata-kata tersebut adalah ungkapan permintaan maaf Jung Ra walaupun masih ada beberapa yang berunsur ‘pembelaan diri’.

Jung Ra mengerjap-ngerjapkan matanya sambil memandang Donghae yang masih sibuk dengan kimchinya. Ia menunggu respon yang mungkin akan diberikan Donghae padanya setelah ia bersusah payah membuang semua kegengsiannya hanya untuk meminta maaf. Hampir lima menit ia tak mengalihkan matanya dari Donghae.

Apa kau mendadak tuli? Bukankah sekarang jarak kita kurang dari dua meter? — tanya Jung Ra dalam hati yang merasa sedikit kesal karena sepertinya kata-kata panjang lebarnya tadi sama sekali tak masuk ke dalam telinga Donghae.

Jung Ra berdehem pelan dan bermaksud untuk meminta air putih pada Donghae,” Aku…”

“Maaf.”

Tangan Jung Ra yang sudah mengangkat gelas kosongnya pun terpaksa kembali turun ketika kata itu terucap dari bibir Donghae.

“Apa?”

Akhirnya apa yang diharapkan Jung Ra menjadi kenyataan; Donghae membalas tatapannya.

“Soal Park Ahjussi…… aku minta maaf. Seharusnya aku berterima kasih padamu karena kau berhasil membuat orang itu melunasi hutangnya dan aku minta maaf karena meninggalkanmu begitu saja kemarin,” ucap Donghae yang memang merasa bersalah pada Jung Ra.

“Hah? Ou… itu… ehehehehe… itu tidak apa-apa. Kau tidak perlu meminta maaf… ah, ani, kau memang harus meminta maaf padaku.” Jung Ra buru-buru memasukkan satu sendok bubur ke dalam mulutnya.

Sejenak Donghae menghela napas pelan sebelum kembali melanjutkan kata-katanya,” Apa benar kau merusak toko Park Ahjussi?”

“Tidak semuanya! Aku hanya menggulingkan beberapa tumpukan buah yang ada di depan tokonya, yaaaa… itu pun juga aku tidak benar-benar berani melakukannya. Aku hanya kesal karena sepertinya dia meremehkanku hanya karena aku seorang perempuan, mungkin itu yang membuatku mirip orang gila yang sedang mengamuk,” jawab Jung Ra sambil menggigit ujung sendok yang ada di tangannya.

Donghae hanya mengangguk-angguk pelan sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.

“Lalu bagaimana bisa kau terkena diare hingga separah itu?” Donghae melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Jung Ra seakan gadis itu adalah seorang tersangka yang sedang ia interogasi.

“Kau mau aku jujur atau berbohong? Kalau berbohong mungkin aku akan menjawab ‘oh, itu karena aku terlalu banyak makan ddeokbokkie pedas, kemudian aku ditraktir oleh Hyukjae semangkuk ramyun pedas’,” ujar Jung Ra setelah menghabiskan bubur buatan Donghae.

Donghae tak menanggapi Jung Ra. Laki-laki yang pagi ini mengenakan T-shirt putih polos situ hanya meluncurkan tatapan datar pada Jung Ra.

“Baiklah, kuanggap kau menyuruhku untuk jujur. Kau mau tahu kenapa? Alasannya cukup sederhana, Lee Donghae. Aku terkena diare karena aku melampiaskan kekesalanku yang sudah memuncak padamu dengan memakan ddeokbokkie pedas lebih dari satu porsi jumbo, kemudian aku tidak sengaja bertemu dengan Hyukjae, dan dengan tak tahu malunya aku menyuruh Hyukjae untuk membelikanku semangkuk ramyun pedas hingga akhirnya… beginilah aku sekarang,” ucap Jung Ra panjang lebar seraya menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar.

“Tapi karena kau mau meminta maaf, aku anggap kita impas. Kau mengakui kesalahanmu dan aku berterima kasih karena kau menolongku dan me…… rawatku sampai pagi ini,” tambah Jung Ra.

Donghae lagi-lagi hanya menganggukkan kepalanya sambil mengambil sesuatu dari kantong hitam yang ada di dekat tangannya. Ternyata beberapa bungkus obat milik Jung Ra.

“Minum obatmu dulu,” ucap Donghae seraya memberikan tiga butir obat yang harus Jung Ra minum pagi ini setelah makan.

Tak ada Donghae lakukan selama gadis manis itu meminum obat-obatnya satu per satu. Hanya melihatnya. Ya, tak ada yang bisa Donghae lakukan selain itu. Kalau pun keinginan Donghae beberapa saat lalu untuk menendang Jung Ra keluar dari apartemennya itu hanyalah semata-mata karena ia kesal. Tidak mungkin ia melakukan tindakan gila tersebut.

Jung Ra yang sudah menelan semua obatnya bermaksud untuk membuat percakapan lagi dengan Donghae, hanya saja matanya tanpa sengaja melihat sebuah bingkai foto berukuran sedang di atas meja yang letaknya tak jauh dari meja makan. Pada foto tersebut nampak seorang wanita berambut hitam sedang menyunggingkan senyum manisnya, sepasang mata indahnya terlihat begitu bening dan menenangkan. Jung Ra terpaksa mengernyitkan keningnya takkala merasa pernah melihat wajah itu. Maksudnya bukan pernah bertemu dengan wanita itu, melainkan ia merasa ada orang lain yang memiliki wajah mirip dengan wanita itu.

Jung Ra menoleh pada Donghae yang baru saja meneguk sebagian air putihnya. Wajah Donghae mirip dengan wajah wanita yang ada di dalam foto itu. Apakah…

“Foto itu…” Jung Ra menunjuk foto tersebut dengan tetap memandang Donghae, berharap laki-laki yang sejak tadi memandangnya mau menoleh ke arah yang ia tunjuk.

Donghae melirik sekilas ke arah foto ibunya. “Itu ibuku.”

Mata Jung Ra seketika terbelalak. Mendadak kata-kata yang pernah Hyukjae ucapkan mengenai peringatan kematian ibu tirinya dan fakta bahwa Donghae adalah adik tirinya kembali terngiang di benak Jung Ra.

“Dia meninggal saat usiaku delapan belas tahun,” tambah Donghae dengan nada ringan sambil bangkit dari duduknya, membawa mangkuk bubur milik Jung Ra dan beberapa alat makannya ke tempat cucian piring, kemudian mulai mencucinya satu per satu tanpa memperhatikan Jung Ra yang masih terkejut.

Tidak ada yang bisa Jung Ra katakan lagi saat ini. Entahlah, Jung Ra tidak tahu bagaimana harus mengungkapkan perasaan menyesal karena sudah lancang menunjuk foto ibu Donghae dan bertanya. Apakah ia harus berkata maaf? Jung Ra benar-benar tidak tahu karena ini adalah pertama kali baginya berada di suasana canggung bersama dengan Donghae. Namun, lepas dari itu, Jung Ra akhirnya tahu bagaimana wajah ibu tiri yang dulu pernah Hyukjae ceritakan padanya.

Jung Ra menoleh kembali ke arah foto ibu Donghae. Cukup lama ia memandanginya hingga perlahan sebuah senyum tipis tersungging di wajah Jung Ra. Tak salah bila Hyukjae sangat menyayangi wanita itu sekalipun hanya sebagai ibu tiri. Jung Ra bisa merasakan kehangatan dan sikap lembut dari diri ibu Donghae hanya dengan melihat sorot mata dan senyum itu.

Hyukjae pasti merasa sangat sedih saat Ibu Donghae meninggal. Bahkan kesedihannya itu masih ada hingga sekarang. Ditambah hubungannya dengan Donghae yang sudah tidak akur lagi. Apa yang sudah dilakukan Hyukjae hingga mengakibatkan hubungannya dengan Donghae sebagai saudara harus putus dan membuatnya benar-benar menderita. Lee Hyukjae… — Jung Ra menggumam dalam hati. Wajahnya berubah sendu saat mengingat wajah Hyukjae yang selalu tersenyum begitu ramah dan hangat padanya. Kakak tiri Donghae itu pasti menyimpan luka yang begitu dalam dan menyakitkan.

“Apa dia tidak pernah memberitahumu soal kematian ibuku?”

Pertanyaan Donghae memaksa Jung Ra untuk kembali mengarahkan kedua matanya pada Donghae yang sedang berdiri memunggunginya.

“Apa?”

“Si Lee Hyukje itu. Apa dia tidak pernah memberitahumu soal ibuku?” Donghae mengulangi pertanyaannya tanpa berniat sedikit pun untuk memutar tubuhnya menghadap pada Jung Ra.

Jung Ra tidak bisa menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Donghae. Jujur saja, Jung Ra sama sekali tidak tahu bentuk jawaban seperti apa yang harus ia ucapkan karena ia sendiri cukup tercengang ketika Donghae tiba-tiba membawa-bawa nama Hyukjae.

“Aku yakin kau sudah tahu hubungan macam apa antara aku dan dia. Kau mengerti apa yang kumaksud, kan?” Donghae melirik sekilas ke arah belakang, kedua tangannya masih sibuk mencuci dua piring kotor lagi yang belum ia sentuh beberapa detik lalu.

“Saudara tiri…” Bibir Jung Ra bergerak dengan sendirinya mengucapkan kata tersebut dengan pelan. Namun, sepertinya suara Jung Ra bisa didengar oleh Donghae karena laki-laki itu terlihat menyunggingkan seringai tipis di sudut bibir kirinya.

Tidak. Itu bukan sebuah seringaian tipis, melainkan senyum sinis.

“Baguslah kalau dia sudah menceritakannya padamu. Dengan begitu aku tidak perlu berpura-pura bersikap seolah aku tidak mengenalnya ketika kau ada di antara kami.” Donghae mematikan kran airnya dan menyambar kain bersih yang ada di gantungan dekat rak piring kecilnya.

“Donghae-ssi…”

Belum selesai Jung Ra menanggapi ucapan Donghae yang sedikit membuat dirinya kesal, ponsel yang ada di atas meja makan berdering. Ada nama Ryeowook yang tertera di layar ponsel Donghae.

“Ada apa?” Donghae menerima telepon dari karyawan tokonya itu.

Hyungnim, kau bisa segera ke toko? Jumlah pembeli yang datang pagi ini benar-benar mengerikan.”

“Baiklah. Aku akan segera ke sana.” Donghae lantas mematikan ponselnya.

“Apa terjadi sesuatu dengan Ryeowook Oppa?” Jung Ra sedikit bingung melihat Donghae seperti sedang tergesa-gesa.

“Pagi ini jumlah pembeli membludak. Aku harus segera ke toko untuk membantu Ryeowook. Kau sudah bisa berjalan?” Donghae mengampiri Jung Ra kemudian membantunya berdiri.

“Kita akan ke toko?”

“Ke toko? Jangan berpikir aku akan memperbolehkanmu menginjakkan kaki di atas lantai tokoku sebelum kau benar-benar sembuh,” jawab Donghae datar sambil memapah Jung Ra menuju pintu.

“Lalu kenapa kau membantuku berjalan seperti ini?” Jung Ra tidak bisa melepaskan dirinya dari Donghae karena Donghae cukup erat memegang kedua bahunya.

Donghae tak menjawab. Ia lebih memilih dian sambil membuka pintunya dan tetap membantu Jung Ra berjalan menuju depan apartemen gadis itu. Jung Ra dibuat tambah bingung dengan sikap Donghae pagi ini. Bukankah tadi bos gilanya berkata kalau toko sedang ramai? Lalu kenapa sekarang justru membawanya ke depan pintu apartemen miliknya?

Jung Ra menunjuk pintu apartemennya sambil memasang wajah heran ke arah Donghae.

“Masuk dan istirahatlah. Kau harus banyak istirahat agar kau bisa segera sembuh dan kembali bekerja. Aku tidak mau repot karena mungkin saja kau tiba-tiba pingsan di tokoku hanya karena belum benar-benar sembuh,” ujar Donghae.

Jung Ra hanya mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Gadis itu cukup tercengang mendengarkan Donghae. Benar-benar aneh.

“Aku pergi dulu.” Donghae seraya memutar tubuhnya, namun ia terpaksa kembali menghadap Jung Ra karena merasakan gadis itu menahan tangannya. “Apa lagi?”

“Jaketmu…”

Donghae memandang jaket hitamnya yang sejak kemarin dipakai oleh Jung Ra. Restleting bagian depan jaket tersebut sudah terbuka hampir setengah bagian. Donghae mengulurkan tangannya, menarik resleting itu hingga sebatas bawah leher Jung Ra, membuat jaket hitam itu kembali tertutup dengan sempurna.

“Pakai saja dulu. Pagi ini udaranya masih sangat dingin. Aku akan mengambilnya bila aku memerlukannya. Sekarang aku pergi,” ucap Donghae pelan seraya kembali memutar tubuhnya dan berjalan ke arah tangga. Membiarkan Jung Ra yang masih berdiri termangu.

“Sebenarnya suaranya cukup seksi kalau sedang berbicara dengan nada seperti itu,” gumam Jung Ra setelah sosok Donghae menghilang dari balik dinding di dekat tangga. Dihelanya napas panjang sambil merogoh saku belakang celananya, mengambil kunci apartemen miliknya.

***

= at Youngwoon’s Apartment =

Hyukjae yang sejak kemarin malam tertidur di atas sofa yang ada di apartemen kakak sepupunya, Youngwoon, terpaksa terperanjat dari tidurnya ketika suara ponsel yang cukup keras berdering di dekatnya. Dengan kedua mata yang masih belum sepenuhnya terbuka, Hyukjae berusaha mengangkat kepalanya untuk melihat ponsel Youngwoon yang ada di atas meja. Tetapi, belum sampai Hyukjae bisa membaca nama yang tertera di layar ponsel itu, sebuah tangan sudah lebih dulu menyambarnya.

Hyukjae hanya menghela napas panjang saat mengetahui tangan itu adalah milik Youngwoon. Ia kembali menghempaskan kepalanya pada bantal empuk di dekatnya. Ditariknya selimut tebal yang hampir jatuh dari atas sofa dan menutupi tubuhnya lagi dengan selimut tersebut.

Youngwoon terdengar berbicara pelan dengan seseorang di ponselnya. Kakak sepupu Hyukjae dan Donghae itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya ketika mendapati Hyukjae kembali memejamkan mata.

“Mau sampai kapan kau tidur di sana?” tanya Youngwoon setelah menutup ponselnya. Dilangkahkan kakinya menuju meja yang ada di dapur dan mengambil segelas kopi yang sebelumnya sudah ia siapkan.

Hyukjae hanya merespon pertanyaan Youngwoon dengan erangan pelan sambil menenggelamkan wajahnya pada bantal.

Tak berapa lama terdengar suara benda beradu dengan permukaan meja yang terbuat dari kaca. Mata Hyukjae sekilas memandang ke arah meja sebelum kembali memejamkan matanya. Ternyata sebuah cangkir putih, isinya pasti sesuatu yang hangat karena di atasnya terlihat kepulan asap tipis.

“Minumlah teh ini dulu untuk mengurangi sakit kepala yang mungkin akan menyerangmu beberapa saat lagi.” Youngwoon menghenyakan dirinya pada sofa kosong di depan Hyukjae. Laki-laki berusia tiga puluh tahun itu merapikan lengan kemeja putihnya sebelum memakai dasi hitam yang sudah ia siapkan di atas sofa.

Lagi-lagi Hyukjae tak menjawab, ia hanya bergerak pelan di dalam selimut.

“Aku tidak tahu kau bisa minum hingga semabuk itu,” celetuk Youngwoon.

“Aku hanya minum setengah botol soju, Hyung. Aku juga tidak semabuk yang kau pikirkan,” ujar Hyukjae setelah membuka sedikit selimut yang menutupi wajahnya.

“Bukan itu yang kupikirkan, Lee Hyukjae, justru aku heran karena ini adalah pertama kali bagiku mengendus bau soju dari napasmu. Kau bukan tipe orang yang suka minum minuman semacam itu dan membiarkan dirimu menggedor pintu apartemen orang seenaknya di tengah malam,” Youngwoon mencoba menjelaskan apa yang tadi ia katakan.

Hyukjae terdiam mengingat bagaimana ia bisa sampai terkapar di atas sofa milik Youngwoon pagi ini. Dan akhirnya setelah mengingat semuanya, Hyukjae lantas mengacak pelan rambutnya yang sudah acak-acakan.

Kemarin sore setelah pulang dari kantor, Hyukjae memang tidak langsung pulang ke apartemen sederhananya. Ia berhenti sebentar di sebuah kedai soju yang ada di dekat kantor dan hanya memesan satu botol soju. Itupun ia sebenarnya tak berniat membelinya. Entah karena apa, atau mungkin kesadarannya yang tidak penuh, Hyukjae pun menghabiskan hampir setengah botol soju sendirian. Setelah itu ia mengendarai mobilnya tanpa tujuan yang jelas hingga malam tiba dan berakhir di depan pintu apartemen milik Youngwoon.

Hanya saja Hyukjae sama sekali tidak merasa sudah menggedor-gedor pintu Youngwoon.

“Apa kau bertemu lagi dengan Donghae dan bertengkar dengannya?”

Pertanyaan Youngwoon memaksa Hyukjae untuk berhenti mengingat-ingat saat-saat dirinya sedang mabuk semalam.

“Tidak.” Hanya itu jawaban yang diberikan Hyukjae.

“Berkelahi?” tebak Youngwoon.

Hyukjae kembali terdiam. Berkelahi? Sepertinya tebakan kakak sepupunya itu benar. Ia memang berkelahi dengan Donghae. Tidak…, tidak…, lebih tepatnya ia telah memukul wajah Donghae.

“Aku harus segera berangkat. Pagi ini ada jadwal rapat dengan ayahmu. Kau tidak…”

“Aku libur hari ini. Kau bilang saja pada Kepala Bagian Han kalau aku sakit,” potong Hyukjae dengan cepat.

“Ck… anak ini. Ya sudah. Kalau kau ingin makan, di dalam kulkas ada beberapa makanan, kau bisa menghangatkannya dulu,” ujar Youngwoon sambil mengancingkan jas hitam yang sudah melekat pada tubuhnya dan meraih koper hitam yang selalu ia bawa ke kantor.

“Ya, aku tahu.” Hyukjae kembali menutupi seluruh wajahnya dengan selimut. Memejamkan matanya hingga terdengar suara pintu yang ditutup.

Hari ini Hyukjae memang sama sekali tidak berselera untuk datang ke gedung tinggi milik ayahnya itu. Selain karena kepala dan tubuhnya terasa sakit, Hyukjae memang sedang tak ingin bangun dari tidurnya pagi ini.

Hyukjae kembali mengingat saat-saat dirinya tiba-tiba memukul wajah Donghae ketika di rumah sakit. Harus Hyukjae akui, itu adalah pertama kali baginya merasa begitu marah pada Donghae hingga tanpa ia duga ia justru melayangkan pukulan ke wajah adiknya itu. Dan Hyukjae melakukannya karena Jung Ra.

Go Jung Ra.

Go Jung Ra?

Mendadak Hyukjae menyibak selimut yang menutupi tubuhnya dan bangun saat nama Jung Ra melintas di benaknya. Kepalanya menoleh ke sana kemari mencari keberadaan jas abu-abunya di mana ponselnya pasti ada di salah satu saku jas tersebut.

Hyukjae langsung mencoba menghubungi Jung Ra sesaat setelah ia menemukan ponselnya. Pagi ini ia harus mengetahui bagaimana kondisi gadis itu mengingat kemarin siang Donghae seenaknya membawa pergi Jung Ra yang masih terlihat pucat dan lemas dari rumah sakit.

Hati Hyukjae mencelos takkala mendapati ponsel gadis itu ada di dalam sakunya. Hyukjae baru ingat kalau sejak kemarin ponsel Jung Ra memang ia bawa.

 

 

= at FRESH FRUIT =

“Jadi usus Jung Ra juga bermasalah?!” pekik Ryeowook pada Donghae sesaat setelah memberikan kantong berisi beberapa buah pesanan pembeli toko.

Donghae hanya menganggukkan kepalanya sambil memasukkan uang ke dalam laci mejanya. Donghae tahu konsekuensi apa yang harus ia hadapi bila Ryeowook mengetahui kondisi sahabatnya.

Berlebihan? Tentu saja. bukan Kim Ryeowook namanya kalau semua reaksinya tidak berlebihan seperti saat ini.

“Tapi bagaimana keadaannya sekarang? Apa dia belum bisa bangun dari tidurnya? Apa dia kekurangan cairan karena diare? Apa dia masih sering ke ke belakang? Apa dia masih belum mau makan bubur karena aku tahu dia paling tidak suka makan makanan itu?” Ryeowook menghujani Donghae dengan banyak pertanyaan karena ia memang benar-benar sedang khawatir pada Jung Ra. Sejak ia mendapat kabar dari Donghae kalau Jung Ra pingsan dan dibawa ke rumah sakit, ia sama sekali belum melihat sahabatnya itu.

“Dia masih hidup. Itu hal paling penting yang perlu kau tahu,” jawab Donghae dengan singkat seraya bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri rombongan orang yang baru masuk ke toko buahnya.

Ryeowook hanya berdecak kesal mendengar jawaban Donghae. Awalnya ia ingin protes karena Donghae terlihat tidak peduli pada Jung Ra yang sedang sakit, namun ketika melihat semakin banyak pembeli yang datang akhirnya Ryeowook mengurungkan niatnya dan memilih untuk melayani pembeli bersama Donghae.

Hampir tiga jam Donghae dan Ryeowook tak berhenti melayani pembeli yang semakin lama semakin banyak jumlahnya. Ada beberapa yang orang yang langsung membeli buah dalam jumlah banyak hingga membuat Donghae berulangkali harus turun ke ruang bawah tanah untuk mengambil stok buah tambahan karena jumlah buah-buahan yang sudah tersedia di dalam toko hampir habis.

“Terima kasih atas kunjungannya. Hati-hati di jalan!” ucap Ryeowook pada seorang bibi bertubuh kurus yang baru saja mendapatkan satu kantong buah jeruk pesanannya. Ryeowook melihat sekilas ke arah Donghae yang masih sibuk melayani sepasang suami istri yang sedang memilih beberapa buah nanas dan apel.

Ryeowook baru akan menghampiri bosnya itu ketika tanpa sengaja ia melihat seseorang berdiri di dekat toko. Orang itu mengenakan kemeja putih yang terlihat kusut di beberapa bagian, sebuah dasi memang masih terpasang rapi di kerah kemeja orang itu, tapi tetap saja penampilannya jauh dari kata rapi. Orang itu tersebut terlihat sedang mengamati Donghae.

“Apa dia sedang mencari Hyungnim?” gumam Ryeowook pelan yang akhirnya memutuskan untuk menghampiri Donghae.

“Ryeowook-ah, ambilkan kantong di dekat lemari belakangku, aku…, yaa, ada apa dengan wajahmu?” Donghae terpaksa tak jadi menyuruh Ryeowook saat mendapati ekspresi aneh yang ditampilkan karyawannnya itu.

Hyungnim, sepertinya kau sedang dicari oleh seseorang,” jawab Ryeowook dengan sedikit berbisik.

“Hah?” Donghae mengernyitkan keningnya, namun beberapa saat kemudian ia kembali fokus pada pembeli di depannya yang menyuruhnya untuk menimbang beberapa buah nanas yang sudah mereka pilih.

“Itu…, di luar toko ada seseorang yang terlihat aneh. Sejak tadi dia terus melihat ke arah Hyungnim,” ucap Ryeowook sambil menunjuk ke arah depan toko yang terhalang jendela kaca besar.

Mau tidak mau Donghae pun mengarahkan matanya ke arah yang ditunjuk Ryeowook. Rahangnya mengeras seketika takkala mengenali siapa orang itu, orang yang sudah memberi tanda lebam di sudut bibirnya kemarin siang di rumah sakit.

Lee Hyukjae.

“Layani paman dan bibi ini. Aku akan segera kembali,” ujar Donghae seraya memberikan kantong hitam yang sejak tadi ia pegang pada Ryeowook. Dilepasnya sepasang sarung tangan tebal berwarna putih yang membungkus kedua tangannya dan berjalan ke arah pintu masuk toko.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Donghae tidak mau berbasa-basi saat sudah ada di hadapan Hyukjae. Mood-nya sudah berkurang beberapa persen hanya karena kemunculan Hyukjae di depan tokonya. Kesal? Tentu saja Donghae merasa kesal, hanya saja ia sedikit heran ketika melihat penampilan Hyukjae yang bisa dibilang cukup berantakan. Ditambah dengan sepasang mata Hyukjae yang masih terlihat merah seperti orang habis mabuk walaupun samar.

Awalnya Hyukjae ingin menanyakan keberadaan Jung Ra karena sebelumnya tak berhasil bertemu dengan Jung Ra ketika mendatangi tempat tinggal gadis itu. Hyukjae sudah mengetuk pintu apartemen Jung Ra puluhan kali, namun tak ada respon dari dalam dan akhirnya memaksanya untuk datang ke toko Donghae, siapa tahu gadis itu ada di sana.

Tetapi, saat melihat luka lebam di sudut bibir Donghae, mau tidak mau Hyukjae harus mengesampingkan tujuan utamanya. Luka itu adalah hasil dari tangannya yang mendadak mendarat keras di wajah Donghae karena tak bisa membendung emosi saat tahu apa yang membuat Jung Ra memaksakan diri untuk memakan banyak makanan pedas.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Hyukjae sambil menggerakkan dagunya, menunjuk wajah Donghae.

Donghae yang seakan mengerti pertanyaan Hyukjae hanya mendengus pelan. Melihat wajah sendu Hyukjae seakan mengingatkan Donghae pada masa lalu yang harus ia kubur dalam-dalam. Donghae benci suasana semacam ini.

“Kenapa? Kau menyesal karena sudah memukul wajahku? Cih, asal kau tahu saja, aku sedang tidak ada waktu untuk membicarakan masalah luka di wajahku ini. Kalau kau benar-benar tidak punya sesuatu yang penting untuk dibicarakan, aku harus segera kembali ke toko karena masih banyak pembeli yang belum kulayani,” ucap Donghae dingin.

Hyukjae hanya menghela napas panjang sambil merogoh saku celananya, mengambil ponsel Jung Ra yang ada di dalamnya.

“Aku hanya ingin bertemu dengan Jung Ra karena aku harus mengembalikan ponselnya. Apa dia ada di dalam?” Hyukjae harus kembali pada tujuan utamanya datang ke toko Donghae.

Donghae melirik sekilas ke arah tangan Hyukjae yang memegang ponsel berwarna putih milik Jung Ra.

“Dia tidak ada di dalam, dia sedang istirahat di apartemennya. Kalau kau mau, berikan sendiri padanya kalau kalian bertemu. Tapi satu hal yang perlu kau tahu…” Donghae meluncurkan tatapan dinginnya yang lebih tajam ke arah Hyukjae. “… tidak untuk hari ini. Jangan ganggu istirahat Jung Ra sebelum gadis itu benar-benar sembuh.”

Setelah mengucapkan rangkaian kata yang sedikit mengandung ancaman, Donghae pun berjalan meninggalkan Hyukjae yang masih berdiri di dekat mobil.

***

Tak ada yang lebih berharga dari sebuah kata sehat. Mungkin ungkapan itu harus dijejalkan ke dalam otak Jung Ra bila melihat kondisinya malam ini yang masih menyedihkan. Walaupun kali ini ia tak lagi harus bolak-balik ke toilet hanya untuk buang air besar, tetap saja Jung Ra masih bisa merasakan perutnya yang suka nyeri hingga membuatnya harus membungkukkan tubuhnya lebih dari sembilan puluh derajat.

Kalau sudah begini Jung Ra ingin sekali meminta sebuah mesin waktu yang akan membawanya satu hari sebelum hari kemarin. Dia tidak akan mau repot-repot menagih hutang pelanggan toko Donghae yang benar-benar mengerikan seperti raksasa hutan. Dengan begitu tangannya tidak akan terluka, dia tidak akan memakan dua porsi jumbo ddeobokkie pedas, tidak akan bertemu dengan Hyukjae dan memaksanya untuk membelikan semangkuk ramyun super pedas. Dan akhirnya ia tidak akan bertemu dengan dokter dan deretan obat-obat yang terasa sangat pahit itu.

Andaikan…

Andaikan…

Hanya itu yang bisa Jung Ra lakukan karena kenyataannya apa yang tidak ingin terjadi sudah terjadi. Sekarang yang bisa Jung Ra lakukan adalah hanyalah menahan sakit tiap selesai memakan sesuatu dan menggerutu pelan.

Tok…, tok…, tok…

Pintu apartemennya diketuk oleh seseorang. Jung Ra dengan susah payah bangkit dari duduknya di atas kursi dekat meja makan dan berjalan pelan menuju pintu.

Jung Ra terpaksa mendongakkan kepalanya karena ia tidak bisa berdiri tegak saat membuka pintu. Katakan saja… saat ini Jung Ra sudah mirip seperti nenek sihir yang mempunyai penyakit punggung hingga membuatnya tak bisa berdiri dengan normal.

“Kenapa kau seperti itu?” tanya Ryeowook terkejut saat mendapati Jung Ra membungkuk padanya.

“A-ada makhluk gaib yang sedang menendang-nendang perutku,” jawab Jung Ra asal sambil membuka lebar pintu apartemennya. “Kenapa kemari?”

“Tentu saja menjengukmu! Memangnya apa lagi yang akan aku lakukan di sini? Kau ini aneh sekali,” ujar Ryeowook seraya membantu Jung Ra berjalan kembali ke dalam dan membiarkan pintu di belakangnya tidak tertutup sepenuhnya.

Gumawo,” ucap Jung Ra setelah menghenyakkan diri di atas sofa kecil yang ada di ruang tamu ‘minimalis’-nya. Dilihatnya sahabatnya itu melesat ke dapur dan menyibukkan diri di sana.

Oppa, apa kau membawa ramen?” tanya Jung Ra sambil bersiap-siap menutup telinganya bila kurang dari tiga detik Ryeowook akan berteriak-teriak memarahinya. Jung Ra tahu seharusnya ia tidak memakan makanan semacam itu dulu sebelum ususnya benar-benar pulih, hanya saja Jung Ra merasa tersiksa bila harus menyantap makanan lunak semacam bubur setiap hari.

“Kau sudah gila? Sebenarnya kau ini masih punya otak atau tidak?”

Teriakan Ryeowook yang dinanti Jung Ra tidak kunjung datang, namun sebuah suara dari arah sisi kiri tubuhnyalah yang justru membuat Jung Ra cukup terkejut. Ditolehkan kepalanya dan mendapati sosok Donghae berjalan menghampirinya.

Oppa, kenapa dia ada di sini?” Jung Ra mengarahkan pertanyaannya pada Ryeowook sambil memandang heran Donghae yang sudah menghenyakkan diri di atas sofa depan Jung Ra.

Ryeowook hanya menolehkan kepalanya ke belakang untuk beberapa detik sebelum kembali menuangkan sup tofu hangat yang baru saja ia beli untuk Jung Ra ke dalam mangkuk. Teman Jung Ra itu tak menjawab, ia hanya terkekeh pelan.

“Kalau bukan Ryeowook yang memaksaku untuk datang, aku juga tidak sudi untuk datang kemari,” ujar Donghae ketus seraya mengedarkan pandangannya ke semua sisi ruangan yang ada di apartemen Jung Ra. Cukup rapi dan bersih. Itulah kesan pertama Donghae melihat suasana dalam tempat tinggal tetangganya itu.

Jung Ra baru akan membalas ucapan Donghae ketika terdengar suara mangkuk yang membentur permukaan meja kayu di depannya. Ryeowook sudah meletakkan mangkuk berisi sup tofu hangat di depan Jung Ra.

Yaa…, berhentilah bertengkar seperti pasangan-pasangan yang ada di drama televisi. Kalian berdua menggelikan sekali. Go Jung Ra, sekarang saatnya kau makan. Tadi aku mampir sebentar di kedai sup untuk membelikanmu ini. Tofu buatan mereka sangat lembut, dan kuah supnya juga hanya dengan bumbu-bumbu alami. Dan ini…” Ryeowook membuka penutup wadah berbentuk bulat berukuran sedang yang ternyata berisi nasi. “… aku sengaja sedikit melembutkan tekstur nasinya, jadi kau tidak perlu makan bubur lagi. Aku tahu kau tidak suka bubur.”

Oppa, gumawo. Hanya kau yang selalu mengerti diriku,” kata Jung Ra dengan wajah terharu yang ternyata membuat Donghae memutar kedua matanya jengah.

“Tidak suka bubur? Huh, benarkah? Lalu kenapa kemarin menghabiskan bubur buatanku hingga tidak tersisa?” desis Donghae pada Jung Ra.

“Apa?” Ryeowook terpaksa menegakkan kepalanya yang sejak tadi menunduk dan memandang heran ke arah Jung Ra. “ Go Jung Ra, bukannya…”

“Kalau aku tidak memakan bubur buatannya, aku tidak bisa menjamin keselamatanku sendiri. Oppa, kau tahu sendiri, ‘kan, bagaimana rasanya berada di dalam kandang harimau lengkap dengan penghuninya?” ucap Jung Ra ringan sambil menyantap sup tofu yang ada di depannya.

Ryeowook buru-buru menahan Donghae yang sepertinya akan kembali membalas Jung Ra. Melihat dua orang di hadapannya itu seakan sedang adu mulut membuat Ryeowook harus berulangkali menghela napas dengan berat. Sikap keras kepala yang sama-sama menjadi ciri khas Donghae dan Jung Ra memaksa Ryeowook untuk lebih berjaga-jaga layaknya seorang pawang.

“Aku akan keluar sebentar untuk membeli roti. Kurasa aku harus membeli beberapa roti yang juga bertekstur lembut agar mudah dicerna Jung Ra. Kalian tidak apa-apa ‘kan bila kutinggal sebentar? Aku harap saat aku kembali keadaan apartemen masih baik-baik saja. Hyungnim, jaga Jung Ra sebentar dan…”

“Kalau kau ingin keluar, keluar saja! Cerewet sekali!” Jung Ra dan Donghae membentak Ryeowook hampir bersamaan, membuat keduanya justru saling pandang karena termangu.

Ryeowook hanya terkekeh. Setelah berpamitan ia keluar dari dalam apartemen, dan berhenti sejenak melihat ke arah bawah dari balik dinding pembatas di mana di sana baru saja ada sebuah mobil yang berhenti.

“Haaah… kuharap mereka tidak kembali bertengkar seperti kucing dan anjing, hehehehe….,” gumam Ryeowook setelah menolehkan kepalanya kembali ke arah pintu apartemen Jung Ra yang sedikit terbuka. Ia memang sengaja tidak menutup pintu tersebut demi ‘keselamatan bersama’. Andai saja Jung Ra dan Donghae bertengkar lagi, paling tidak ada tetangga-tetangga mereka yang bisa langsung menghentikannya tanpa harus mengetuk pintu dulu.

.

.

“Maaf, aku tidak bermaksud mengejekmu tadi. Aku tidak mau Ryeowook Oppa bertingkah gila hanya karena aku terlihat melunak di depanmu,” ujar Jung Ra yang kembali menundukkan kepalanya untuk memasukkan satu sendok kuah sup ke dalam mulutnya. Lagi-lagi rambut yang ada di dekat telinga Jung Ra turun dan sedikit menghalangi sendoknya. Salah satu tangannya berulangkali menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, namun rambut itu kembali jatuh ke depan.

“Aiiish… percuma saja aku memotong rambut,” keluh Jung Ra

Melihat Jung Ra yang sepertinya sedikit ‘tidak akur’ dengan rambutnya, Donghae lantas bangkit dari duduknya dan menghampiri Jung Ra.

“Tetap makan dan jangan menegakkan kepalamu.” Tangan Donghae terulur mengambil juntaian rambut Jung Ra yang ada di kedua sisi wajah gadis itu dan membawanya ke belakang kepala, menyatukannya dengan rambut lainnya.

“Donghae-ssi, aku…”

“Kubilang tetap makan dan jangan menggerakkan kepalamu!” Donghae terpaksa sedikit meninggikan nada suaranya yang akhirnya membuat Jung Ra kembali menundukkan kepala dan menyantap supnya dengan pelan.

Donghae mengambil karet gelang berwarna merah dari saku celananya dan mengikat rambut Jung Ra dengan hati-hati. Sebenarnya Donghae sedang menahan senyum geli karena ini sudah terhitung dua kali gadis itu melakukan hal konyol yang sama dan sudah dua kali juga ia mengikat rambut gadis itu. Benar-benar bodoh.

Gumawo, Donghae-ssi,” ucap Jung Ra.

“Mendengarmu mengucapkan terima kasih sepertinya begitu langka ya?” Donghae masih sibuk mengikat rambut Jung Ra karena masih ada beberapa helai rambut yang berulangkali lepas dari jari-jarinya. Harus Donghae akui walaupun ia masih memiliki rasa kesal dan bahkan benci pada diri Jung Ra, ia mengagumi rambut Jung Ra yang ternyata begitu halus dan lembut, ditambah dengan aroma vanilla yang terus-menerus menerjang kedua lubang hidungnya.

“Aku sudah pernah mengatakannya padamu! Kau tidak pernah menghitungnya?” protes Jung Ra, spontan menggerakan kepalanya yang akhirnya membuat rambutnya kembali terlepas dari tangan Donghae.

Yaa, sudah kubilang jangan bergerak dulu!” bentak Donghae kesal karena kini ia harus menyatukan rambut-rambut lemas Jung Ra kembali.

Tanpa Donghae dan Jung Ra sadari seseorang yang sudah berdiri di balik pintu apartemen sedang memperhatikan mereka sejak tadi. Sepasang mata gelapnya memandang lurus ke arah Donghae yang berusaha mengikat rambut Jung Ra, ia bisa melihat Donghae menyunggingkan senyum tiap Jung Ra menggerutu. Salah satu tangannya yang tidak membawa ponsel berwarna putih mengepal dengan erat.

***

Meanwhile…

Youngwoon keluar dari dalam mobilnya dan langsung menutup pintu mobil sesaat setelah mengambil koper hitam yang ada di jok belakang. Dihelanya napas panjang sebelum melangkahkan kaki memasuki area halaman sebuah rumah mewah yang bercat putih di depannya. Sebelum sampai pada pintu utama rumah tersebut, ia harus melewati jalan setapak buatan yang ada di atas sebuah kolam ikan cukup lebar di tengah-tengah halaman rumah yang ditutupi oleh rumput hijau. Suara gemericik air mancur dari sudut halaman itu memaksa Youngwoon mengalihkan pandangannya untuk beberapa saat sebelum kembali melangkah mendekati pintu.

Tangannya terulur menyentuh pegangan pintu berukir dan mendorongnya, suara derit pintu berukuran besar itu terdengar begitu keras karena suasana rumah tersebut begitu sunyi, seakan tidak ada penghuni yang menempatinya.

Youngwoon lebih dulu menutup pintu tersebut sebelum memasuki ruangan yang lebih dalam yang ada di rumah besar dan mewah itu. Suara derap langkah sepatunya yang beradu dengan lantai marmer sedikit menggema di ruang tengah yang cukup gelap. Matanya bergerak mencari ruangan yang menjadi tujuan utamanya datang ke rumah ini.

Senyum tipis terulas di bibir Youngwoon takkala melihat seberkas cahaya menyeruak dari sebuah ruangan yang pintunya tak tertutup dengan sempurna. Ia berjalan mendekati ruangan itu dengan pelan.

“Kau sudah datang?” Suara berat terdengar dari dalam ruangan itu, memaksa Youngwoon yang sudah berdiri di depan pintu menggerakkan tangannya, membuka pintu geser yang terbuat dari kayu mahal itu agar ia bisa masuk ke dalam ruangan.

Seseorang sudah berdiri membelakanginya. Orang yang bertubuh besar dan bepakaian kimono berbahan sutera yang dijadikan sebagai piyama tidur menolehkan kepalanya sedikit untuk melihat Youngwoon yang sudah ia tunggu kedatangannya.

Youngwoon yang sudah berada di dalam ruangan langsung menggeser pintu di belakangnya agar kembali tertutup dan berjalan mendekati orang itu.

“Ya, saya sudah datang,” jawab Youngwoon sambil membungkukkan badan, memberi salam pada orang tersebut.

Orang itu perlahan memutar tubuhnya, menghadap ke arah Youngwoon yang sudah kembali berdiri tegak. Sepasang mata yang sudah berhias keriput di masing-masing sudutnya memandang Youngwoon yang tersenyum padanya.

“Duduklah,” suruh orang itu sambil menunjuk satu set sofa yang ada di belakang Youngwoon.

Youngwoon hanya menganggukkan kepalanya seraya berjalan ke arah sofa dan menghenyakkan dirinya.

“Kau mau minum teh? Kebetulan aku baru saja membeli teh terbaik dari Jepang. Cobalah, ini baik untuk kulitmu yang masih muda,” ujar orang itu setelah membawa nampan kecil berisi sebuah teko kecil berhias lukisan China dan dua buah cangkir berukuran kecil.

“Ya, terima kasih,” jawab Youngwoon sambil memperhatikan orang itu yang sudah duduk di sofa yang ada di depannya.

“Bagaimana kabar Presdir? Beberapa hari ini saya tidak melihat Anda di kantor,” ucap Youngwoon dengan sopan.

Mendengar ucapan Youngwoon yang begitu kaku dan formal justru membuat orang itu tergelak. Teko yang sedang ia bawa bahkan sedikit berguncang.

Aigoo, Youngwoon-ah, kita ada di rumah. Bagaimana bisa kau memanggilku dengan sebutan Presdir?”

Youngwoon hanya tersenyum malu melihat pamannya, Presdir Lee menertawakan dirinya. Tangannya terangkat, menggaruk-garuk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.

“Ini. Minumlah.” Presdir Lee menyodorkan cangkir yang sudah berisi teh hangat pada Youngwoon.

Youngwoon buru-buru menerima cangkir tersebut dan langsung meminumnya dengan perlahan. Satu hal yang kini ada di pikirannya; sepertinya semua rasa teh sama saja.

“Bertemu denganmu dan berbicara santai seperti ini rasanya sudah sangat sulit, ya? Bahkan bila kita bertemu di kantor pun hanya masalah perusahaan saja yang selalu kita bicarakan,” ujar Presdir Lee sambil menyandarkan diri pada punggung sofa yang empuk.

“Apa ada yang ingin Paman tanyakan padaku?” Youngwoon memang cukup penasaran karena tiba-tiba Presdir Lee menyuruhnya datang ke rumah malam-malam seperti ini.

Presdir Lee mengangguk membenarkan pertanyaan Youngwoon.

“Berapa orang yang datang ke tempatnya pagi tadi?” tanya Presdir Lee sambil memainkan pegangan cangkir yang ada di tangannya.

Seakan mengerti apa yang ingin dibicarakan pamannya, Youngwoon lantas tersenyum.

“Ada sekitar seratus orang, Paman. Dan besok akan datang lagi seratus orang berbeda,” jawab Youngwoon.

“Pastikan orang-orang yang datang ke sana hari ini kembali dua sampai tiga hari lagi. Dan bila perlu kau cari lagi orang-orang berbeda untuk datang ke sana untuk satu bulan ke depan sebelum kau menyuruh orang-orang yang biasa muncul. Jangan sampai tempatnya sepi,” kata Presdir Lee sambil memandang jam dinding berukuran besar yang ada di sudut ruangan.

“Sebenarnya rencana Paman untuk mengirim dua puluh sampai tiga puluh orang per hari dulunya berjalan dengan lancar sebelum Hyukjae merusak semuanya.”

Presdir Lee terkekeh. “Anak itu…”

“Aku juga tidak bisa berbuat apa-apa saat Hyukjae memaksaku untuk membantunya. Anak-anak Paman semuanya sepertinya tidak pernah berhenti membuatku sakit kepala,” keluh Youngwoon.

Tawa Presdir Lee kembali pecah mendengar keluhan keponakannya yang sudah ia percaya.

“Ada yang ingin kau curahkan lagi kali ini selain Hyukjae yang tiba-tiba kabur dari Perancis dan muncul di Seoul tanpa pengawasanmu satu tahun lalu?” tebak Presdir Lee.

“Beberapa bulan yang lalu Donghae sempat ingin pindah dari apartemen yang kupilihkan, Paman. Padahal tempat itu sudah cukup dekat kedai ramyun dan tokonya. Dan kurasa sampai sekarang anak itu masih marah padaku karena ketahuan bersekongkol dengan Hyukjae untuk memesan dua ratus paket buah dengan menggunakan nama samaran. Setelah kupikir-pikir cara Hyukjae untuk muncul di hadapan Donghae terlalu sok keren,” Youngwoon menghela napas dengan berat setelah mengeluarkan isi hatinya.

“Kalau dia memaksamu untuk mencarikannya tempat tinggal baru, turuti saja. Yang penting kau harus mencarikan apartemen yang dekat dengan kedai ramyun. Anak itu suka sekali dengan ramyun. Bahkan aku masih ingat wajah lucunya setiap kali ia melahap makanan itu.” Wajah Presdir Lee berubah sendu.

“Apa Paman harus seperti ini? Memperhatikan Donghae dari jauh dan mencukupi semua kebutuhannya melalui diriku, kemudian selalu bersikap dingin pada Hyukjae?”

Pertanyaan Youngwoon menyadarkan Presdir Lee dari lamunannya. Dipandanginya wajah keponakannya itu untuk beberapa detik sebelum ia kembali tersenyum.

“Untuk saat ini hanya itu yang bisa kulakukan, Youngwoon-ah,” jawab Presdir Lee pelan. Matanya bergerak memandang sebuah bingkai foto yang duduk manis di atas meja kerjanya. Di dalam foto tersebut terlihat Donghae yang masih berusia sepuluh tahun sedang tersenyum lebar bersama Hyukjae.

“Ada kalanya kita harus menyimpan beberapa hal untuk waktu yang cukup lama demi kebaikan semua orang. Dan itu berlaku untukmu. Begitu juga dengan dua putraku, Lee Hyukjae dan Lee Donghae.”

To be continued

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: