FRUIT LOVE [11/20]

hyuk2_副本

FRUIT LOVE

Chaptered FF

Author : Nita Henny

Cast : Go Jung Ra (OC) – Lee Donghae – Lee Hyukjae

Kim Ryeowook – Kim Youngwoon

Genre : Romance, Family, Brothership

Rating : PG-14

Note :
FF Ini udah pernah kupublish di blogku sendiri. Dulu, udah lama. Dan sekarang aku coba kirim ke sini hehehe.
You can visit my blog === >>> https://imajinasinita.wordpress.com/

Happy reading ~~~~

============================

Hyukjae membuka pintu apartemen sederhananya sambil merapikan dasi abu-abu yang sudah melingkar di kerah kemeja putihnya. Pagi ini ia buru-buru datang ke kantor karena tiba-tiba Kepala Bagian Han menelponnya pagi-pagi buta dengan alasan yang kurang jelas. Namun, belum sampai Hyukjae melangkahkan kakinya melewati ambang pintu, sepatunya menginjak sesuatu yang akhirnya membuat Hyukjae terpaksa menundukkan kepalanya.

Sebuah amplop berwarna putih.

Karena penasaran, Hyukjae lantas memungut amplop tersebut dan membukanya. Tak ada reaksi apapun yang ditampilkan Hyukjae selain membeku. Tulisan demi tulisan memperjelas sebuah situas di mana dirinya benar-benar lupa akan hari ini. Hari di mana ayahnya, Lee Byun Sik, genap berusia lima puluh sembilan tahun.

Ya, amplop itu berisi undangan perayaan ulang tahun Presdir Lee yang akan diadakan di Ruang Pertemuan perusahaan sore nanti. Dan Hyukjae, pastinya akan menjadi salah satu tamu istimewa perusahaan karena dia adalah putra Presiden Direktur dari L Groups Company tersebut.

Hyukjae menghela napas sambil memasukkan kembali undangan tersebut ke dalam amplop dan menyelipkannya ke saku dalam jas hitamnya. Dilangkahkan kakinya menuju tangga. Sesaat ketika melintas di depan pintu apartemen Jung Ra, Hyukjae berhenti. Ini sudah satu minggu lamanya ia tak bertemu dengan gadis itu. Bahkan ponsel yang seharusnya sudah ia kembalikan pun masih ada padanya hingga saat ini. Sebenarnya Hyukjae ingin segera mengembalikan benda milik Jung Ra itu, tapi ia takut kalau kesehatan Jung Ra belum pulih. Tidak, lebih tepatnya ia ingin bertemu dengan Jung Ra dan memastikan sendiri kondisi gadis itu.

‘Jangan ganggu istirahat Jung Ra sebelum gadis itu benar-benar sembuh.’

Hyukjae masih ingat apa yang dikatakan Donghae. Dia juga tidak akan lupa saat malam itu ia yang bermaksud untuk bertemu dengan Jung Ra justru melihat bagaimana akrabnya Donghae dengan gadis itu dari balik pintu apartemen Jung Ra yang tidak sepenuhnya tertutup. Bahkan ia merasa malam itu adalah pertama kali baginya melihat Donghae tersenyum begitu bebas setelah bertahun-tahun lamanya ia tak bisa melihat senyum itu.

Apa yang terjadi di antara Donghae dan Jung Ra?

Pertanyaan itulah yang kini menghampiri benak Hyukjae. Kalaupun ia sering mendengar cerita Jung Ra di mana gadis itu dan adik tirinya sering terlibat pertengkaran tak masuk akal, Hyukjae juga tidak akan buru-buru menyimpulkan bahwa Donghae sudah berubah menjadi laki-laki brengsek. Ternyata tidak, Hyukjae pikir Donghae dan Jung Ra bertengkar karena mereka akrab, ditambah sifat keduanya yang sama-sama keras kepala.

“Hyukjae-ssi?”

Hyukjae terpaksa menegakkan kepalanya ke arah depan saat mendengar seseorang memanggil namanya. Di sana sudah berdiri seorang gadis yang beberapa hari ini memang ia tunggu-tunggu.

“Go Jung Ra?”

 

 

“Kukira kau sudah pindah dari apartemenmu, karena berulangkali saat aku keluar aku sama sekali tak melihat mobilmu di bawah,” ujar Jung Ra setelah beberapa saat terdiam di dalam mobil Hyukjae yang sedang melaju dengan kecepatan yang sedikit kencang.

Ya, sebelumnya Jung Ra yang baru kembali dari laundry umum untuk mengambil jaket hitam milik Donghae yang sudah bersih, sedikit terkejut melihat Hyukjae yang berdiri di depan pintu apartemennya. Senang? Tentu saja Jung Ra merasa senang karena akhirnya bisa bertemu dengan Hyukjae setelah satu minggu lamanya tak melihat sosok Hyukjae. Rindu? Mungkin saja. Memang terdengar aneh, tapi hati Jung Ra meloncat-loncat kegirangan saat merasakan sensasi itu.

Dan sekarang di sinilah dirinya, di dalam mobil Hyukjae, dalam perjalanan menuju toko Donghae karena dia memang berniat untuk datang ke sana untuk mengembalikan jaket milik Donghae sekaligus kembali bekerja.

“Kebetulan pekerjaan mengurungku di kantor satu mingu ini. Oh ya, bagaimana keadaanmu? Apa kau sudah sembuh?” Hyukjae menoleh sekilas ke arah Jung Ra sebelum kembali memfokuskan pandangannya pada jalanan di depan mobil yang cukup ramai pagi ini.

Jung Ra mengangguk dengan semangat yang terkesan berlebihan. “Hmm…! Aku sudah sembuh!”

Mendengar jawaban Jung Ra membuat Hyukjae tertawa geli. Entah kenapa setiap gadis itu bertingkah senang seperti itu, Hyukjae selalu ingin mengulurkan tangannya dan mengacak-acak rambut gadis itu dengan gemas.

“Wow…, kau seperti baru saja keluar dari penjara,” canda Hyukjae.

“Tentu saja aku akan merasa seperti itu. Kau tidak tahu sich bagaimana menderitanya diriku yang dikurung selama satu minggu penuh di dalam tempat tinggalku sendiri. Tidak boleh makan ini, harus makan itu, tidak boleh ke sana, harus ke sini, kau tidak boleh begini, kau harus begitu. Dia benar-benar mirip seperti perawat rumah sakit jiwa,” oceh Jung Ra menggebu-gebu.

Dia?” Hyukjae tertarik dengan seseorang yang disebut dia oleh Jung Ra.

“Oh, maksudku sahabatku, namanya Kim Ryeowook. Sepertinya kau harus bertemu dengannya. Dia satu-satunya orang yang sangat perhatian padaku selain ibuku dan…”

“Jadi aku tidak termasuk orang yang perhatian padamu?” potong Hyukjae tiba-tiba.

“Eh?” Jung Ra terpaksa menolehkan kepalanya dengan cepat ke arah Hyukjae, memandang laki-laki berambut gelap itu dengan ekspresi cukup terkejut.

“Kau bilang kalau sahabatmu yang bernama Kim Ryeowook adalah satu-satunya orang yang perhatian padamu selain ibumu sendiri, lalu apa sebutan untukku?”

Jung Ra tak bisa menjawab. Matanya mengerjap-ngerjap berulangkali dengan cepat, berusaha mencerna pertanyaan Hyukjae yang entah kenapa justru membuat jantungnya berdegup dengan kencang. Perasaan itu muncul lagi.

“Padahal satu minggu ini aku sangat mengkhawatirkan kondisi kesehatanmu karena sejak Donghae membawamu pergi dari rumah sakit, aku tidak bisa bertemu denganmu karena pekerjaanku yang menumpuk. Kau tidak memasukkan namaku ke dalam daftar orang-orang yang perhatian padamu?” Hyukjae memandang Jung Ra untuk beberapa detik saat mobil berhenti sejenak di belakang zebra cross karena lampu lalu lintas menunjukkan warna merah.

Rangkaian kalimat Hyukjae sukses membuat Jung Ra tertegun. Tidak hanya mata Jung Ra yang sulit untuk dialihkan ke arah lain, bibirnya pun ternganga untuk beberapa saat saking tidak percayanya mendengar Hyukjae berkata seperti itu.

Percayalah, saat ini juga jantung Jung Ra bisa lepas dari tempatnya begitu saja andai Hyukjae tidak tertawa secara tiba-tiba karena Jung Ra sudah merasa bahwa ia berada di dunia mimpi yang dipenuhi dengan jutaan kupu-kupu yang mengelilinganya dan mungkin tanpa ia sadari mungkin Hyukjae sudah melihat kedua pipinya yang bersemu merah.

“Aku hanya bercanda…, hahahahaha…, jangan menatapku seperti itu,” ujar Hyukjae, berusaha mengembalikan ekspresi Jung Ra yang cukup membuatnya sedikit ketakutan karena gadis itu seperti patung untuk beberapa detik tadi.

Sadar laki-laki yang ada di sampingnya itu ternyata tengah mengajaknya bercanda, Jung Ra hanya menghembuskan napas cukup panjang sambil menyentuh dadanya sendiri. Mungkin apa yang Hyukjae ucapkan tadi memang hanya sebuah lelucon, tapi jantung yang ada di dalam dada Jung Ra sudah lebih dulu berdegup cukup kencang dan sulit untuk distabilkan.

Kalau sudah begitu siapa yang harus bertanggung jawab?

“Oh ya, aku pagi ini juga berniat untuk mengembalikan ponselmu,” Hyukjae berusaha mengganti topik pembicaraan agar Jung Ra bisa bersikap normal kembali. Sebenarnya Hyukjae juga cukup tercengang melihat reaksi Jung Ra.

“Ponsel?”

Usaha Hyukjae berhasil. Gadis itu kini justru mengernyitkan keningnya. Hyukjae lantas menunjuk ponsel berwarna putih yang ada di atas dasboard depan Jung Ra.

“Kau pasti mencarinya satu minggu ini. Maaf aku baru bisa mengembalikannya hari ini,” kata Hyukjae.

“Haaaah…, kukira aku benar-benar kehilangan ponselku, ternyata ada pada dirimu. Syukurlah kalau begitu. Dan juga…, eh, apa ini?” Perhatian Jung Ra yang baru saja mengambil ponselnya di atas dashboard teralihkan oleh sebuah amplop yang ada di bawah ponselnya itu. Salah satu tangannya mengambil amplop yang terlihat sudah terbuka itu. “Apa ini?”

“Itu undangan,” jawab Hyukjae sambil membelokkan mobilnya ke sebuah jalanan sepi yang ada di sisi kiri jalan raya.

“Ulang tahun Presdir Lee?” gumam Jung Ra membaca tulisan yang ada di atas undangan tersebut. Beberapa saat ia memikirkan sesuatu hingga akhirnya ia sedikit terkejut akan dugaannya sendiri. Perlahan ia menolehkan kepalanya ke arah Hyukjae yang terlihat begitu fokus dalam menyetir.

“Presdir Lee itu…” Jung Ra tak melanjutkan dugaannya.

“Ayahku. Presdir Lee yang dimaksud di dalam undangan itu adalah ayahku. Hari ini memang ulang tahun ayahku,” Hyukjae mencoba melanjutkan perkataan Jung Ra yang terhenti.

“Kalau dia adalah ayahmu, itu berarti… Presdir Lee juga ayahnya… Lee… Donghae?” Jung Ra berusaha mengucapkan nama Donghae dengan hati-hati. Ia tidak yakin laki-laki yang sedang menyetir itu akan bereaksi normal karena sebelumnya ia sempat melihat ekspresi Hyukjae langsung berubah sendu tiap ada nama Donghae di sela pembicaraan mereka.

Hyukjae mengangguk pelan. Tak ada reaksi apapun darinya. Atau lebih tepatnya, Hyukjae berusaha menutupi rasa sedihnya di dalam benaknya sendiri, berusaha agar tidak terlihat di hadapan Jung Ra.

“Kurasa…, Donghae sudah tahu kalau kau memberitahu hubungan persaudaraan kalian padaku,” ucap Jung Ra pelan.

“Benarkah? Apa dia mengatakannya dengan marah-marah padamu?”

“Tidak. Dia hanya berkata kalau selanjutnya dia tidak akan berpura-pura tidak saling kenal padamu saat kebetulan kita bertiga bertemu.” Jung Ra sedikit memiringkan wajahnya, mencoba mengamati ekspresi wajah Hyukjae yang bisa saja terlihat sedih.

Tidak ada. Hyukjae sama sekali tidak menampilkan kalau dia sedih mendengar ucapan Jung Ra. Laki-laki itu hanya menganggukkan kepalanya sambil mengurangi kecepatan mobilnya karena depan toko Donghe terlihat dari kejauhan.

“Kau… tidak apa-apa ‘kan?” tanya Jung Ra pelan. Jemarinya memainkan ujung permukaan sudut ponselnya. Jung Ra takut kalau apa yang ia katakan menyakiti perasaan Hyukjae.

Hyukjae hanya mengulas senyum menanggapi pertanyaan Jung Ra. Hyukjae tahu Jung Ra merasa tidak enak padanya. Sebenarnya Hyukje memang tidak dalam keadaan ‘tidak apa-apa’ setelah mendengar apa yang dikatakan Jung Ra, hanya saja ia tidak mau melihat Jung Ra merasa bersalah. Hyukjae tidak ingin gadis itu sedih.

“Sudah sampai,” ucap Hyukjae sesaat setelah sampai di pinggir jalan, di depan toko Donghae. Hyukjae melirik sekilas ke arah toko di mana ia bisa melihat Donghae sedang duduk di tepi meja panjang yang berisi tumpukan buah jeruk. Adiknya itu terlihat sedang serius mengasah pisau berukuran besar dengan wajah yang cukup serius.

“Terima kasih sudah mau mengantarku, Hyukjae-ssi,” ucap Jung Ra sebelum membuka pintu mobil.

“Jung Ra-ya!” Hyukjae memanggil Jung Ra yang baru saja keluar dan berniat untuk menutup pintu mobil.

“I-iya?” Jung Ra terpaksa membungkukkan badannya untuk melihat Hyukjae yang memanggilnya dari dalam mobil. Tunggu dulu, Jung Ra pun cukup tercengang mendengar Hyukjae memanggilnya dengan sebutan itu dengan tiba-tiba.

“Jaga kesehatanmu,” hanya itu yang ingin Hyukjae ucapkan pada Jung Ra.

“Iya, terima kasih. Hati-hati di jalan,” balas Jung Ra sesaat sebelum menutup pintu mobil.

Beberapa saat kemudian mobil tersebut melaju meninggalkan Jung Ra yang berdiri di tepi jalan dengan wajah yang kembali bersemu merah. Sepasang tangan Jung Ra menyentuh kedua pipinya yang terasa panas.

Jung Ra-ya?

Lagi-lagi ada makhluk aneh di dalam hati Jung Ra yang sedang bermain kembang api dengan warna-warni yang indah mendengar Hyukjae memanggilnya dengan sebutan itu. Jung Ra berulangkali tersenyum sambil melangkahkan kakinya memasuki toko Donghae.

“Kau sudah sembuh?”

Suara dingin khas Donghae akhirnya mau tidak mau memudarkan senyum tersipu nan lebar milik Jung Ra. Jung Ra seakan dipaksa kembali ke alam nyata ketika melihat sosok Donghae lengkap dengan suara dingin nan datar yang selalu keluar dari mulut laki-laki itu.

Eo,” jawab Jung Ra seraya menghampiri Donghae. Tangannya terulur memberikan kantong hitam yang sejak pagi tadi ia bawa untuk Donghae.

“Apa itu?” tanya Donghae bersamaan dengan suara permukaan pisau besar di tangannya yang beradu dengan alat pengasah pisau. Jung Ra cukup ngeri melihat perpaduan antara suara datar Donghae, tatapan dan wajah mengerikan yang menyebalkan milik Donghae dan pisau besar di tangan laki-laki itu yang sudah berkilau tajam. Benar-benar mirip seperti pembunuh berdarah dingin yang sering muncul di televisi.

Yaa, kutanya apa itu?” Donghae terpaksa mengulangi pertanyaannya karena Jung Ra tak kunjung menjawabnya, gadis itu justru memandangnya dengan ekspresi yan menakutkan.

“Bisa kau jauhkan pisau yang ada di tanganmu itu? Aku merasa sedikit ngeri,” ujar Jung Ra sambil menunjuk pisau tersebut.

Donghae memutar kedua bola matanya jengah dan melempar pisaunya ke tumpukan jeruk yang ada di dekatnya. “Apa yang kau bawa itu?”

“Jaketmu. Aku sudah selesai memakainya dan aku sudah mencucinya dengan bersih. Terima kasih karena sudah meminjamkanku jaket ini,” kata Jung Ra sambil tersenyum, lebih tepatnya berusaha untuk tersenyum. Tidak mungkin ia akan berterima kasih dengan ekspresi wajah yang seakan ingin menjitak kepala Donghae. Ini masih pagi dan Jung Ra tidak mau ada pisau melayang ke wajahnya atau bagian tubuhnya yang lain hanya karena salah menunjukkan ekspresi wajah.

Donghae menatap sebentar kantong hitam berisi jaketnya itu sebelum pada akhirnya mengulurkan tangannya menerima kantong tersebut.

“Kau sudah sembuh?” Donghae kembali memandang Jung Ra, kini suaranya terdengar lebih kalem.

Jung Ra mengangguk.

“Obatnya sudah habis?”

“Masih ada beberapa dan baru akan habis tiga hari lagi.”

“Kau membawanya?”

“Ada di dalam tas.”

“Pagi ini sudah meminumnya?”

“Eeeeemm…, itu belum sich, tapi aku sudah sarapan.”

“Jangan lupa untuk meminumnya tepat waktu agar cepat sembuh.”

“Iya, tapi…” Jung Ra terpaksa mengernyitkan keningnya ketika menyadari sesuatu yang terasa ganjil. “Kenapa kau jadi seperti seorang Ahjussi cerewet begitu?”

“Aku hanya tidak mau kau sakit lagi,” jawab Donghae singkat seraya bangkit dari duduknya di tepi meja panjang dan berjalan ke arah sofa usang dan meletakkan jaket hitamnya di sana. Dilihatnya Jung Ra menghampirinya sambil melepas tas coklat yang selalu dibawa Jung Ra tiap berangkat bekerja. Gadis itu meletakkan sebuah ponsel di tepi meja kerja Donghae.

“Aku hari ini boleh bekerja lagi, ‘kan? Aku ‘kan sudah sembuh, jadi kau tidak perlu lagi mengkhawatirkanku,” ujar Jung Ra yang tidak memperhatikan Donghae yang sedang memandang ponsel miliknya.

Untuk beberapa detik Donghae memang memandang benda tipis itu hingga akhirnya ia menyadari sesuatu. Kalau ponsel itu sudah ada pada Jung Ra, artinya Hyukjae sudah bertemu dengan Jung Ra.

“Ponselmu sudah kembali?” tanya Donghae seraya menarik kursi yang ada di belakang mejanya dan menghenyakkan diri di kursi tersebut sambil meraih salah satu Buku Penjualan.

Jung Ra yang sedang mengikat rambutnya dengan karet gelang merah memandang sebentar ke arah ponselnya dan Donghae. “Oh, itu? Iya, tadi pagi Hyukjae mengembalikannya padaku saat mengantarku ke toko. Apa kau tidak lihat mobilnya di depan tadi?”

Donghae hanya mendengus pelan. Dia tahu beberapa saat tadi mobil Hyukjae memang sempat berhenti di depan toko dan dia juga sempat melihat gadis yang kini duduk di depannya sedang menuliskan stok awal buah-buahan pada sebuah kertas itu berbincang-bincang dengan Hyukjae. Tapi…, apa dia harus memperhatikan mereka? Tidak ‘kan? Seperti tidak ada kerjaan lain yang lebih penting, itu yang ada di pikiran Donghae.

“Kalau kulihat tadi kalian cukup akrab,” celetuk Donghae tanpa memandang Jung Ra.

“Tentu saja kami akrab, dia ‘kan tetanggaku,” balas Jung Ra ringan.

“Hubungan kalian juga sangat dekat,” tambah Donghae sambil bersandar pada punggung kursi.

“Itu karena dia baik padaku. Memangnya dirimu yang suka menyiksaku?” balas Jung Ra lagi seraya kembali menggumam pelan menghitung jumlah angka yang sudah ia susun ke bawah secara manual.

“Apa kalian sedang berkencan?”

Mendadak jemari Jung Ra yang sedang memegang bolpoin, mata Jung Ra yang sedang memandang dari atas ke bawah angka-angka di atas kertas dan bibir Jung Ra yang sejak tadi menggumam langsung berhenti seketika untuk beberapa detik hingga perlahan mata Jung Ra bergerak memandang Donghae.

“Kalian sedang berkencan? Kau dan Hyukjae?” tebak Donghae lagi.

Blush!

Entah kenapa tiba-tiba Jung Ra merasa kedua pipinya memanas dan ia yakini sekarang kedua pipinya pasti sudah bersemu merah di hadapan Donghae.

“Atau tebakanku salah? Kalau begitu… apa kau menyukainya?”

Tidak! Ini bukan waktu yang tepat bagi Jung Ra untuk tersipu malu lebih banyak lagi. Tidak di depan Donghae seperti ini. Kenapa lagi-lagi efeknya semenyeramkan ini setiap kali Jung Ra mendengar hal semacam itu tentang Hyukjae?

Melihat gelagat Jung Ra seperti itu bisa membuat Donghae dengan cepat menyimpulkan bahwa tebakannya kali ini benar adanya. Donghae hanya menghela napas sambil memandang geli ke arah Jung Ra. Digeleng-gelengkan kepalanya mengetahui sebuah kenyataan konyol yang ada di hadapannya itu. Sepertinya dunia yang sedang ia tinggali ini sudah benar-benar gila dan tidak nyata.

“Apa kelihatan jelas sekali?” tanya Jung Ra tanpa sadar sambil memegang kedua pipinya. Ia memang butuh jawaban walaupun jawaban itu nantinya berasal dari Donghae.

Donghae mendengus kasar.” Sepertinya kau bukan tipe perempuan yang bisa menyimpan perasaanmu sendiri dengan baik ya? Ckckckck… benar-benar payah. Apa kau tidak merasa malu karena sudah ketahuan menyukai seseorang di depanku? Seingatku seorang perempuan sangat pintar menyimpan dan mengendalikan perasaannya ketika sedang menyukai seseorang. Tidak sepertimu yang begitu terlihat jelas.”

“Jadi aku benar-benar menyukainya?” Pertanyaan itu Jung Ra tujukan untuk dirinya sendiri. Di dalam dadanya sana organ pemompa darahnya sudah sangat kencang berdegup. Bayangan Hyukjae yang tersenyum padanya, yang tertawa geli padanya, yang memandangya dengan sorot mata teduh melintas satu per satu di benak Jung Ra. Dan tebakan Donghae beberapa detik yang lalu seakan membangunkan diri Jung Ra dari mimpi yang selama ini Jung Ra ragukan.

Itu artinya Jung Ra memang benar-benar sudah menyukai Hyukjae.

“Kau sudah nyatakan perasaanmu padanya?” Donghae lebih berani lagi untuk menggoda Jung Ra saat melihat wajah gadis itu berubah pucat.

“Nyatakan perasaan?” Jung Ra memandang polos ke arah Donghae yang kemudian ditanggapi oleh Donghae dengan anggukan kepala ringan.

“Apakah aku harus melakukannya? Aku kan seorang perempuan.” Jung Ra berusaha mengumpulkan kesadarannya yang berceceran di mana-mana.

“Kau tidak tahu kalau sekarang banyak perempuan berani menyatakan perasaan mereka pada pria yang mereka sukai? Atau kau memang tidak tahu itu? Ckckckck… kau semakin payah saja,” ejek Donghae.

Yaa! Jangan menyebutku payah! Kau juga kenapa tiba-tiba bertingkah aneh seperti ini sich?! Seperti bukan Lee Donghae saja!” gerutu Jung Ra yang merasa sangat malu pada Donghae.

“Aku hanya ingin bersikap baik padamu. Bukankah itu yang kau mau? Aku hanya berusaha menepati janjiku saja. Dan saat ini juga termasuk salah satu tindakanku untuk menepati janji. Toh, statusmu juga sebagai karyawan tokoku, jadi untuk formalitas aku harus membantumu,” jawab Donghae asal.

“Tapi aku tidak pernah melihat ada bos yang suka mencampuri masalah asmara karyawannya. Kurasa kau sudah terlalu jauh menggunakan jabatanmu sebagai seorang bos,” bantah Jung Ra.

Melihat Jung Ra mengerucutkan bibirnya kesal, Donghae hanya tertawa kecil. Ia lantas memberikan kalkulator pada Jung Ra dan menyuruh gadis itu untuk menghitung jumlah buah yang baru datang pagi ini.

Sepertinya suasana Donghae pagi ini cukup baik hanya dengan mengejek Jung Ra seperti itu. Dan juga sepertinya… rasa kesal dan benci yang dulunya sempat bersemayam di dalam diri Donghae hanya karena melihat Jung Ra pun sedikit berkurang. Seharusnya itu berita baik bukan? Karena dengan begitu, Donghae bisa mulai menjalin pertemanan dengan gadis aneh itu.

Apakah ini karena Jung Ra yang sempat sakit selama satu minggu kemarin? Jawabannya mungkin iya karena Donghae-lah gadis itu sampai harus mengalami masalah pada usus dan diare. Mungkin kalau kita bisa menyingkatnya… rasa bersalah sudah mengubah diri Donghae?

Sedikit.

“Oh ya, Hyukjae bilang hari ini adalah ulang tahun ayahnya,” kata Jung Ra beberapa saat kemudian sambil membuka satu per satu kardus yang ada di dekat meja panjang berisi tumpukan buah jeruk.

Donghae memang mendengarnya, tapi ia lebih memilih diam dan melanjutkan kegiatannya memeriksa buku keuangan toko.

“Kalau tidak salah sebutan ayah Hyukjae adalah Presdir Lee, tapi aku tidak tahu siapa nama lengkapnya. Kau dan Hyukjae adalah saudara tiri, itu artinya Presdir Lee adalah…”

“Aku ke ruang bawah tanah dulu. Jaga toko sebentar,” Donghae memotong ucapan Jung Ra dengan nada yang cukup dingin sambil berdiri dari duduknya dan menyambar lembaran kertas berisi tabel jenis buah yang tidak layak.

Jung Ra hanya menolehkan kepalanya ke belakang, memandang Donghae yang baru saja membuka pintu toko dengan kasar dan menghilang begitu cepat setelah berjalan ke sisi kanan toko. Jung Ra menghela napas pelan.

“Apa golongan darahnya AB? Perubahan sikapnya sangat susah ditebak,” gumam Jung Ra pelan.

***

= at L Group Company =

Kepala Bagian Han masuk ke dalam ruangan Hyukjae dengan sedikit terburu-buru, dan langsung memasang wajah tidak percaya setelah melihat Hyukjae yang duduk dengan tenang di belakang meja sambil menulis sesuatu.

Yaa, Bocah Nakal, bagaimana bisa kau masih ada di sini?” Kepala Bagian Han menghampiri Hyukjae dan berkacak pinggang di hadapannya.

Hyukjae hanya menegakkan kepalanya dan memandang polos ke arah Kepala Bagian Han.

“Berhentilah memasang wajah seperti itu,” ujar Kepala Bagian Han seraya menarik kursi yang ada di depan meja Hyukjae dan mendaratkan dirinya di atas kursi tersebut.

“Kenapa Ahjussi datang-datang langsung memarahiku seperti ini?” tanya Hyukjae pelan seraya kembali menundukkan kepalanya.

“Ini sudah jam berapa? Kau…”

“Hari ini tidak akan ada sanksi keterlambatan masuk kerja karena ayah sedang ulang tahun, Ahjussi. Jadi kau tidak perlu khawatir seperti itu. Ayah tidak akan menggantungku,” potong Hyukjae sambil tersenyum.

“Aku tidak akan khawatir bila ayahmu akan menggantungmu, Anak Bodoh,” kata Kepala Bagian Han yang langsung membuat Hyukjae memasang wajah protes.

“Yang kukhawatirkan sekarang adalah kau. Kau,” lanjut Kepala Bagian Han.

“Aku?” Hyukjae mengernyitkan keningnya karena tidak paham dengan ucapakan Kepala Bagian Han.

“Kau tahu sendiri ‘kan kalau hari ini adalah ulang tahun ayahmu, tapi kenapa kau tidak pulang ke rumah?”

“Aku… Ahjussi, kemarin aku bahkan harus menginap di ruanganku ini karena tugasku yang menumpuk. Jangankan pulang ke rumah ayah, untuk pulang ke apartemenku saja aku tidak bisa,” Hyukjae berusaha membela diri.

“Jadi kau lebih mementingkan pekerjaanmu daripada ulang tahun ayahmu sendiri?”

“Bukan begitu… Aiiish…, Ahjussi, jangan menyudutkanku seakan aku sudah berbuat kesalahan yang sangat besar!” protes Hyukjae yang hanya ditanggapi tawa oleh Kepala Bagian Han. Bukannya apa-apa, hanya saja ekspresi Hyukjae saat memprotes ucapan Kepala Bagian Han mirip dengan anak kecil. Mungkin bagi Kepala Bagian Han, Hyukjae benar-benar seperti anak kecil yang sedang kesal, dan itu cukup menggemaskan baginya.

“Ya sudah. Kau temui ayahmu dulu saja di ruangannya. Sepertinya dia mencarimu,” kata Kepala Bagian Han seraya bangkit dari duduknya dan menarik tangan Hyukjae.

“Aku bisa melakukannya nanti,” elak Hyukjae yang enggan ditarik oleh Kepala Bagian Han. Namun, sedetik kemudian Hyukjae justru mengaduh kesakitan karena tangan Kepala Bagian Han yang lain mendarat keras di belakang kepalanya.

“Aku masih bisa maklum kalau kau sering menolak apa yang disuruh ayahmu, tapi bila aku yang menyuruhmu, jadi jangan sekali-kali menolaknya kalau tidak mau berakhir seperti ini.” Kepala Bagian Han kini melayangkan tepukan cukup keras pada punggung Hyukjae beberapa kali hingga mau tidak mau Hyukjae pun menuruti apa katanya untuk bangkit dari kursi.

 

= at CEO room =

Presdir Lee memandang kalender kecil yang ada di atas meja kerjanya. Matanya memandang angka tiga yang ada pada bulan Juli. Di angka itu usianya memang genap lima puluh sembilan tahun, usia di mana seharusnya ia sudah bisa merasakan betapa hangatnya suasana keluarga di sekelilingnya, saling bercengkerama di dekat perapian sambil menikmati teh hangat bila musim dingin tiba, atau mungkin hal yang paling sederhana; menikmati sarapan bersama-sama setiap pagi sambil saling bercanda satu sama lain.

Tapi apa yang Presdir Lee rasakan kali ini sangatlah jauh dari angan-angan itu. Perusahaan sebesar ini dengan jabatannya yang paling tinggi tidaklah bisa menjamin dirinya bisa merasakan bahagia di saat dua orang putranya yang merupakan sisa keluaganya yang ada justru berpencar sendiri-sendiri. Dan itu semua akibat kesalahan besar yang sudah Presdir Lee lakukan.

Presdir Lee menghela napas pelan sambil melirik ke arah pigura foto yang berisi foto Hyukjae dan Donghae kecil. Memang tidak ada yang tahu kalau foto kecil itu adalah foto kedua putranya karena Presdir Lee memang sengaja sedikit menyembunyikan foto tersebut dengan sebuah foto berukuran sedang milik Nyonya Lee, mendiang istri keduanya, sekaligus ibu kandung Donghae.

Mata Presdir Lee menatap wajah Donghae kecil yang begitu polos kemudian beralih pada wajah Hyukjae kecil.

“Selamat pagi, Presdir Lee.”

Sebuah suara mengalihkan perhatian Presdir Lee. Kedua matanya yang sebelumnya memandang foto Hyukjae kecil kini bergerak memandang seseorang yang sudah berdiri di depan meja kerjanya.

Wajah yang sama seperti wajah Hyukjae kecil. Ya, orang yang berdiri di sana adalah putranya, Hyukjae yang sudah besar dan tetap tampan.

“Ada apa?” tanya Presdir Lee.

Sebelum menjawab pertanyaan ayahnya, Hyukjae lebih dulu membungkukkan badannya sembilan puluh derajat untuk beberapa detik dan kembali menegakkannya.

“Hari ini adalah ulang tahun Anda. Saya ingin mengucapkan selamat ulang tahun, Pak. Semoga Anda panjang umur dan sehat selalu,” jawab Hyukjae kemudian.

Presdir Lee menganggukkan kepalanya dengan penuh wibawa. “Apa kau mempunyai sesuatu yang ingin kau berikan padaku?”

Untuk beberapa saat Hyukjae hanya terdiam memandang ayahnya hingga akhirnya seulas senyum tipis terulas di bibirnya. “Tidak ada. Saya tidak punya sesuatu yang bisa saya berikan pada Anda, Pak. Maaf.”

“Kenapa?”

Hyukjae menghela napas sejenak. “ Hadiah yang seharusnya saya berikan pada Anda sudah hilang sepuluh tahun yang lalu.”

Tatapan mata Presdir Lee berubah tajam pada Hyukjae. Tangannya yang ada di bawah meja mengepal erat.

“Saya sudah menerima undangan pesta ulang tahun Anda tadi pagi, tapi maaf saya tidak bisa datang karena ada urusan yang harus saya selesaikan,” ujar Hyukjae seraya membungkukkan badannya sebentar.

Presdir Lee tak menjawab.

“Tapi sebagai Manager Keuangan Perusahaan saya tetap akan mendoakan Anda, Pak. Maaf, saya harus pergi dulu.” Hyukjae seraya kembali membungkukkan badannya untuk yang terakhir kali.

“Lalu bagaimana dengan putraku? Selain sebagai Manager Keuangan Perusahaan kau juga adalah putraku, apa kau tetap tidak akan datang dan lebih mementingkan urusanmu?”

Pertanyaan Presdir Lee membuat Hyukjae yang baru menegakkan badannya membeku. Untuk beberapa detik matanya beradu dengan mata ayahnya. Inilah hal yang paling dibenci Hyukjae; fakta bahwa dirinya adalah putra Presdir Lee, pemilik perusahaan. Hyukjae bukannya benci menjadi putra ayahnya, ia hanya tidak bisa menerima kenyataan itu karena di sisi lain ada seseorang yang seharusnya juga mendapat hak yang sama sebagai putra ayahnya.

“Saya permisi sebentar.” Hyukjae tak menanggapi pertanyaan ayahnya dan segera keluar dari ruangan tersebut.

Berulangkali Hyukjae menghela napas ketika melangkahkan kaki menjauh dari depan ruangan ayahnya. Beberapa office boy terlihat membawa karangan bunga berbagai macam bentuk sebagai ucapan suka cita atas hari ulang tahun ayahnya dari beberapa kolega perusahaan. Hyukjae terpaksa menghentikan langkahnya, mengamati orang-orang itu yang berjalan ke arah Ruang Pertemuan yang akan menjadi tempat berlangsungnya acara. Akhirnya Hyukjae memutuskan untuk mengikuti mereka.

Kini Hyukjae sudah berada di ambang pintu cukup besar dan lebar yang terbuka secara penuh, menampilkan beberapa orang yang sedang sibuk menghias ruangan, memasang puluhan meja bundar dan membentangkan sebuah karpet merah cukup panjang di tengah-tengah ruangan, beberapa pekerja lain terlihat menata vas bunga berbentuk unik di setiap sudut ruangan. Mungkin pagi ini suasanananya masih sedikit berantakan, tapi bisa Hyukjae pastikan sore nanti suasana ruangan akan berubah menjadi mewah dan berkelas.

“Kurasa kau datang terlalu awal, Manager Lee.”

Ucapan seseorang membuat Hyukjae menolehkan kepalanya ke sisi kanan tubuhnya. Ternyata kakak sepupunya, Kim Youngwoon.

“Aku hanya ingin melihat bagaimana mereka mendekorasi ruangan ini, apakah berbeda dari tahun lalu atau masih sama saja,” jawab Hyukjae seraya kembali mengarahkan pandangannya ke dalam ruangan.

Youngwoon menepuk pelan bahu Hyukjae, memberi isyarat pada adik sepupunya untuk meninggalkan ruangan itu. Hyukjae pun akhirnya mengikuti langkah Youngwoon menjauh dari ambang pintu ruang pertemuan.

“Kau akan datang ‘kan?” tanya Youngwoon.

“Tidak,” jawab Hyukjae singkat sambil menautkan kedua tangannya ke belakang tubuh dan berjalan dengan langkah yang cukup pelan.

“Hah? Kau tidak bercanda, ‘kan? Yaa, berhentilah bertingkah seperti anak bandel, Lee Hyukjae.” Tangan Youngwoon terangkat, memukul pelan belakang kepala Hyukjae.

Hyukjae menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, menandakan bahwa apa yang baru saja ia katakan tadi sama sekali tak mengandung lelucon sedikitpun. Dia benar-benar tidak akan datang pada acara ulang tahun ayahnya sore nanti.

“Hyukjae-ya…”

“Aku sudah lelah, Hyung. Mungkin tahun-tahun kemarin aku masih bisa menahannya, tapi tahun ini aku tak bisa lagi. Andaikan aku tetap datang, itu sama saja aku sudah melakukan satu kesalahan lagi pada Donghae secara tidak langsung. Asal kau tahu saja, Hyung, aku sudah tidak bisa lagi menghitung berapa banyak kesalahan yang sudah kulakukan pada anak itu. Aku bisa gila, Hyung,” potong Hyukjae sambil berhenti di depan lift.

Youngwoon mengatupkan bibirnya. Kalau Hyukjae sudah berkata sesuatu menyangkut Donghae, Youngwoon sudah tidak bisa lagi membalasnya. Maka dari itu Youngwoon hanya akan mengiyakan apa saja yang keluar dari bibir Hyukjae, tapi di sisi lain Youngwoon mengkhawatirkan pamannya, Presdir Lee. Youngwoon khawatir pamannya itu akan sangat merasa sedih.

“Aku duluan, Hyung,” ucap Hyukjae sesaat setelah keluar dari dalam lift dan langsung berjalan menuju ruangannya tanpa mempedulikan kakak sepupunya itu mungkin saja akan memanggil-manggilnya.

Sambil melonggarkan dasi abu-abunya yang terasa mencekik Hyukjae membuka pintu ruangannya dan masuk kemudian menutupnya dengan sedikit kencang. Hyukjae berdiri di dekat pintu sambil berkacak pinggang.

“Kau sudah mengambil keputusan yang tepat, Lee Hyukjae. Iya… itu adalah keputusan yang sangat tepat. Kau tidak harus mengulangi kesalahan yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Kau tidak bisa lagi menyakiti perasaan adikmu. Tidak lagi,” gumam Hyukjae pada dirinya sendiri.

 

 

= at FRESH FRUIT =

Sudah sejak setengah jam yang lalu Donghae yang berada di dalam ruang bawa tanah berusaha untuk fokus memilah-milah beberapa buah apel yang masih layak jual, tapi lagi-lagi ucapan Jung Ra mengusik benaknya.

‘Oh ya, Hyukjae bilang hari ini adalah ulang tahun ayahnya.’

Memang tidak ada yang salah dengan ucapan gadis itu karena hari ini memang hari ulang tahun ayah Hyukjae. Hanya saja mendengar kata ayah Hyukjae sontak membuat darah Donghae mendidih seketika dan rasa benci itu kembali mencuat ke permukaan.

Donghae tidak akan pernah lupa dengan tanggal ulang tahun Presdir Lee. Tanggal ulang tahun seseorang yang sudah mengusirnya dari rumah hanya karena ia dianggap sudah menyebabkan kematian ibunya sendiri, tanggal lahir seseorang yang sama sekali tidak mau memandang wajahnya sejak peringatan kematian adik bungsu Hyukjae, Lee Hyuk Shin. Karena itulah Donghae benar-benar mengingat tanggal ulang tahun Presdir Lee. Donghae hanya berusaha mengingatkan dirinya saja bahwa orang yang sudah menyakiti hatinya masih hidup di dunia ini.

Apakah Donghae masih menyayangi Presdir Lee seperti Donghae yang masih berusia sepuluh tahun? Jawabannya adalah tidak! Donghae sudah cukup sakit hati atas perlakuan ayah tirinya.

Brak!

Tiba-tiba Donghae menggulingkan karung berisi buah jeruk ke atas lantai, akibatnya buah-buah itu berceceran ke mana-mana. Kedua kakinya terasa lemas hingga memaksa Donghae terduduk di atas lantai ruang bawah tanah yang dingin. Sepasang matanya menatap tajam ke arah salah satu buah jeruk yang ada di dekatnya. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal kuat. Donghae bisa merasakan sesuatu berusaha mendesak keluar dari pelupuk matanya, namun ia menahannya sekuat tenaga.

Donghae tidak akan menangis.

Tidak akan.

Tetapi, sepertinya usahanya gagal. Kini sebulir air mata turun begitu saja ke pipi dari pelupuk matanya. Tangan Donghae terangkat, menyeka dengan kasar tetesan air mat tersebut dan mengusap matanya agar tidak ada lagi air mata lain yang menyusul.

“Kenapa kau harus menangis, hah? Siapa yang kau tangisi? Orang itu? Apakah dia berhak kau tangisi seperti ini? Kau jangan bodoh, Lee Donghae. Kau jangan bodoh,” Donghae berusaha mengembalikan seorang Lee Donghae, pemilik FRESH FRUIT yang sudah membuang semua orang di masa lalunya yang menyakitkan. Dia harus mengembalikan Lee Donghae yang itu ke dalam dirinya.

***

“Sudah kuduga sifat aslinya tidak akan bisa hilang begitu saja. Padahal sore ini ‘kan toko masih ramai, bagaimana bisa dia menyuruhku pulang? Bukan… dia tidak menyuruhku pulang, tapi memaksaku. Dasar aneh…” Jung Ra terus menggumam kesal sambil terus melangkahkan kakinya mendekati gedung apartemen sederhana yang sudah tak jauh darinya.

‘Kau masih harus banyak istirahat. Aku memang sudah memperbolehkanmu kembali bekerja, tapi sebelum obat-obatmu habis, aku akan tetap tak akan membiarkanmu bekerja sampai malam hari.’

Sebenarnya apa yang dikatakan Donghae ada benarnya juga walaupun Jung Ra masih harus mempertahankan ‘harga diri’nya hanya untuk mengeluarkan kata ‘setuju’. Sekesal-kesalnya Jung Ra pada laki-laki itu tetap saja Jung Ra akan merasa cukup berterima kasih karena masih ada beberapa tindakan atau situasi yang mengubah seorang Donghae menjadi seorang laki-laki normal berhati baik dan berwajah manis. Jangan lupakan kenyataan bahwa Donghae adalah satu dari deretan laki-laki berwajah tampan yang pernah Jung Ra kenal.

Kaki Jung Ra terpaksa berhenti tepat di depan tangga takkala melihat seseorang sedang duduk di salah satu anak tangga dengan kepala tertunduk. Di salah satu tangan orang itu memegang sebuah botol berwarna hijau.

“Lee Hyukjae?” Jung Ra terpaksa mengernyitkan keningnya saat menyadari orang itu adalah Hyukjae. Buru-buru ia mendekati tangga dan menaiki satu per satu anak tangga untuk mencapai Hyukjae.

“Hyukjae-ssi?” panggil Jung Ra, tangannya terulur menyentuh bahu Hyukjae.

Perlahan kepala Hyukjae terangkat dan memandang Jung Ra.

Jung Ra dibuat terkejut saat melihat betapa kacaunya wajah Hyukjae. Rambut laki-laki itu cukup berantakan seperti sudah diacak-acak beberapa kali, kedua mata itu terlihat memerah seperti baru saja menangis.

Hyukjae menangis?

“Ada apa denganmu dan… omo!” Jung Ra memekan pelan menyadari botol hijau yang sejak tadi dipegang Hyukjae adalah botol soju, bahkan isinya tinggal setengah. Jung Ra mengalihkan pandangannya pada Hyukjae yang terlihat kosong.

“K-kau… mabuk?” tanya Jung Ra dengan hati-hati.

Hyukjae menggelengkan kepalanya. “Tidak.”

“Tapi itu… apa terjadi sesuatu padamu?”

Hyukjae tak menjawab. Ia menyandarkan kepalanya pada dinding pembatas tangga yang ada di sampingnya. Dihelanya napas panjang yang terkesan begitu berat. Matanya menerawang ke arah bawah, tanpa ia sadari botol soju yang ia beli satu jam yang lalu terlepas dari tangannya dan menggelinding ke bawah.

“Hyukjae-ssi…” Jung Ra semakin ketakutan melihat tingkah Hyukjae seperti itu.

Hyukjae memejamkan matanya untuk beberapa saat, merasakan rasa sakit yang menusuk jantungnya begitu dalam. Ini adalah kali keduanya terlihat begitu menyedihkan. Bila yang pertama adalah karena pemandangan yang ia lihat tanpa sengaja di dalam apartemen Jung Ra, kali ini karena ayahnya. Tidak, ini bukan karena ayahnya, melainkan karena ulang tahun ayahnya. Hyukjae memang sudah memutuskan untuk tidak datang di acara itu, bahkan ia mengatakannya tepat di hadapan ayahnya.

Tapi… kini entah kenapa kedua pundak Hyukjae terasa begitu berat. Ada semacam batu berukuran besar tak kasat mata yang menimpa kedua pundaknya. Bukankah seharusnya ia sudah bisa merasa tenang karena akhirnya apa yang ia inginkan akhirnya terjadi? Seharusnya ia bisa bernapas lega bukan karena tidak datang ke acara ulang tahun ayahnya? Bukankah ia melakukan hal itu karena tidak mau menyakiti Donghae lagi?

“Kalau kau ada masalah, kau tidak harus melampiaskannya dengan minum minuman seperti itu. Kau bisa …”

Greb!

Jung Ra dibuat terkejut takkala dalam sekali gerakan Hyukjae berhasil memeluknya. Jujur, Jung Ra masih harus meyakinkan dirinya sendiri bahwa saat ini ada seseorang yang sedang memeluknya begitu erat. Dan parahnya lagi orang itu adalah Hyukjae.

Oh, tidak! Ini terjadi lagi untuk yang kesekian kalinya! Jantung Jung Ra kembali berdegup kencang.

Namun, beberapa saat kemudian Jung Ra harus menghempaskan semua imajinasi aneh yang bergentayangan di benaknya takkala mendengar suara isakan. Isakan itu cukup lirih hingga Jung Ra sendiri harus memastikan bahwa suara itu memang benar-benar sebuah isakan tangis seseorang.

“Hyukjae-ssi, kau…” Jung Ra dibuat bingung menyadari suara isak tangis itu berasal dari Hyukjae yang sedang memeluknya. Apakah laki-laki ini sedang menangis?

“Kalau kau ingin menangis, jangan ditahan. Bila kau menahannya, itu akan jauh lebih sakit di dalam sana,” ucap Jung Ra, menggerakkan kedua tangannya ke arah punggung Hyukjae dan meletakkannya di sana.

Mendengar ucapan Jung Ra, Hyukjae semakin menenggelamkan wajahnya di lekukan leher Jung Ra. Dihirupnya aroma parfum milik Jung Ra yang belum berubah sama sekali. Dan tanpa Jung Ra bisa lihat, Hyukjae meneteskan lebih banyak air mata yang sudah sejak tadi ia coba tahan. Sayang sekali, Hyukjae yang berniat hanya akan meneteskan air mata beberapa detik saja akhirnya benar-benar tak bisa membendungnya. Perih di dalam hatinya yang sudah sekian lama tak ingin dirasakannya entah kenapa terasa sangat menyakitkan takkala ia merasakan usapan lembut tangan Jung Ra pada punggungnya.

Isakan tertahan Hyukjae ternyata memberi efek cukup besar pada Jung Ra. Hati Jung Ra berdenyut nyeri dengan sendirinya hingga mau tidak mau Jung Ra pun harus meneteskan air mata. Jung Ra tidak tahu kenapa ia bisa meneteskan air mata seperti ini.

Kedua mata Jung Ra terpejam takkala ia merasakan Hyukjae memeluknya lebih erat lagi. Dan itu membuat Jung Ra membalasnya dengan mengeratkan kedua tangannya pada punggung Hyukjae. Jung Ra yakin mungkin inilah yang sedang dibutuhkan Hyukjae. Sebuah sandaran.

“Maaf karena sudah memelukmu seperti ini.” Setelah hampir sepuluh menit terdiam akhirnya Hyukjae mengeluarkan suara tanpa melepas pelukannya dari Jung Ra.

Mata Jung Ra perlahan terbuka. Digelengkan kepalanya. “Tidak. Kau tidak perlu meminta maaf padaku.”

“Maaf juga karena sudah menangis di depanmu,” ujar Hyukjae lagi.

“Kau juga tidak perlu meminta maaf karena untuk yang satu itu tidak sepenuhnya benar. Kau tidak menangis tepat di depanku tadi, jadi aku tidak bisa melihatmu meneteskan air mata,” balas Jung Ra.

Mendengar Hyukjae merespon ucapannya dengan tawa pelan membuat Jung Ra ikut tersenyum. Hatinya sedikit enggan saat merasakan pelukan Hyukjae melonggar dan kini laki-laki itu sudah sepenuhnya melepas pelukannya.

“Kau juga menangis?” Hyukjae sedikit tertegun melihat kedua mata Jung Ra yang sembab, bahkan masih ada sisa air mata yang membekas di wajah gadis itu.

Jung Ra buru-buru menyeka air matanya sambil menundukkan kepalanya. Hyukjae hanya terkekeh geli melihat tingkah Jung Ra sambil menyeka air matanya sendiri.

“Kau sudah tidak apa-apa ‘kan?” tanya Jung Ra sesaat setelah menegakkan kepalanya.

Hyukjae tak menjawab, hanya memandang wajah Jung Ra. Perlahan tangannya terulur ke arah wajah Jung Ra. Jemarinya menyeka air mata yang ada di sudut mata Jung Ra dengan lembut.

“Terima kasih,” ucap Hyukje pelan.

Mendadak Jung Ra membeku seketika saat merasakan jemari Hyukjae yang menyentuh wajahnya. Bahkan senyum hangat yang diberikan Hyukjae pun justru menambah kaku tubuh Jung Ra.

“Aku tidak… kau… tidak perlu berterima kasih karena…” Jung Ra tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena tatapan mata Hyuk Jae yang langsung tertuju padanya benar-benar membuatnya kehilangan kata-kata yang ingin ia ucapkan. Bibirnya terkatup secara perlahan. Entah ini hanya perasaan Jung Ra atau bukan, yang jelas Jung Ra bisa melihat tatapan mata Hyukjae berbeda dari biasanya. Ini lebih dalam, bahkan terlalu dalam.

Sedangkan Hyukjae, laki-laki itu yang awalnya ingin segera menjauhkan jemarinya dari sudut mata Jung Ra mendadak merasa enggan untuk melakukannya. Ada sebuah magnet yang memaksanya untuk tetap membiarkan jemarinya berada di sana, bahkan tanpa seijinnya justru bergerak pelan menyusuri pipi halus Jung Ra. Di saat Jung Ra membalas tatapannya di saat itulah Hyukjae menggerakkan tubuhnya mendekat ke arah gadis itu. Perlahan-lahan Hyukjae mengikis jarak di antara dirinya dan Jung Ra hingga ia benar-benar bisa merasakan hembusan napas Jung Ra yang hangat menerpa wajahnya. Dilihatnya kerjapan mata Jung Ra semakin pelan.

Seperti ada yang mendorong tubuhnya, Hyukjae menghapus jarak wajahnya dengan wajah Jung Ra dan mendaratkan bibirnya pada bibir mungil Jung Ra. Tangannya bergerak pelan ke arah tengkuk Jung Ra dan menarik wajah gadis itu.

Jung Ra yang cukup terkejut saat sesuatu yang lembut dan hangat menyapu bibirnya. Ia baru tersadar takkala ada suara di dalam kepalanya yang memberitahunya bahwa Hyukjae sedang mencium bibirnya. Di saat itulah Jung Ra lupa bagaimana cara bernapas. Tubuhnya menegang seketika. Semua terasa kaku kecuali bibirnya yang masih bisa dikecup lembut oleh Hyukje cukup lama. Tangannya yang ada di pangkuannya tak bisa bergerak banyak kecuali mengepal erat.

Jung Ra masih tidak percaya apa yang sedang terjadi padanya. Sisi lain hatinya sadar ini tidak benar, salah…, bukannya tidak benar, lebih tepatnya Jung Ra belum siap sama sekali, tapi sisi hatinya yang satunya justru merasakan desiran aneh yang begitu menyenangkan hingga aliran darahnya mungkin saja bergerak dengan kecepatan tinggi. Jung memejamkan mata ketika kehangatan menjalar seluruh tubuhnya secara perlahan.

“Maaf!” Hyukjae menjauhkan wajahnya dengan tiba-tiba ketika Jung Ra akan membalas tindakannya. Ditatapnya Jung Ra yang baru membuka mata.

“Maaf, Jung Ra-ya. Aku tidak bermaksud untuk melakukannya. Aku benar-benar minta maaf. Mungkin ini karena pengaruh soju yang baru kuminum tadi, jadinya aku tidak bisa menahan diriku sendiri,” ucap Hyukjae seraya mengusap wajahnya dengan gusar dan bangkit dari duduknya. Kakinya melangkah naik ke atas dengan pikiran yang berkecamuk, meninggalkan Jung Ra yang juga masih terkesiap dengan detik-detik yang baru saja mereka lalui.

Jung Ra baru mengerjapkan matanya saat mendengar suara pintu tertutup dari arah lantai di atasnya. Tangannya bergerak menyentuh dadanya sendiri yang sudah bergemuruh tak karuan. Nafasnya terengah-engah seperti baru saja berlari ratusan meter.

“Kenapa bisa begini?”

***

Hari berjalan dengan sendirinya hingga akhirnya malam pun tiba. Presdir Lee yang masih mengenakan setelan jas berwarna hitam berjalan masuk ke dalam ruang kerjanya yang ada di rumah mewahnya. Kakinya melangkah mendekati meja kerjanya. Dihenyakkan tubuhnya di kursi berukiran indah yang ada di belakang meja sambil menyandarkan punggung lelahnya pada punggung kursi.

Pesta ulang tahunnya selesai satu jam yang lalu. Meriah? Tentu saja. Banyak sekali kolega perusahaan yang datang, semua karyawan yang bekerja di perusahaan pun datang, tak terkecuali Youngwoon dan Kepala Bagian Han. Suasana pesta berlangsung dengan hangat dan mewah. Namun, hati Presdir Lee tidak sehangat dan semeriah pesta ulang tahunnya. Selama acara berlangsung, Presdir Lee berulangkali menoleh ke arah pintu masuk, berharap sosok putranya, Lee Hyukjae muncul dengan senyum lebar ke arahnya. Lagi-lagi harapan kosongnya sama sekali tak berubah sejak lima tahun yang lalu.

Hyukjae benr-benar membuktikan ucapannya. Putranya itu tidak datang.

Presdir Lee memandang foto masa kecil Hyukjae dan Donghae untuk beberapa saat. Tidak, dia tidak memandang keduanya. Hanya Donghae. Ya, Presdir Lee hanya memandang putra tirinya tersebut dengan tatapan sendu. Perlahan matanya beralih ke arah laci besar yang ada di bagian meja paling bawah. Tangannya terulur menyentuh pegangan laci dan menariknya. Senyum tipis tersungging di bibir Presdir takkala melihat begitu banyak benda-benda yang sudah cukup lama menjadi penghuni laci tersebut.

Presdir Lee mengambil sebuah sapu tangan yang dibungkus di dalam sebuah kantong plastik bermotif lucu. Perlahan kedua mata Presdir Lee berkaca-kaca takkala mengingat benda itu adalah hadiah yang ia terima pertama kali dari Donghae yang saat itu masih berusia sepuluh tahun.

Setelah meletakkan sapu tangan itu ke atas meja, Presdir Lee lantas mengambil satu benda lagi yang ada di dalam laci. Sebuah sarung tangan tebal berwarna coklat. Itu juga hadiah dari Donghae saat usia anak itu masih sebelas tahun. Kemudian sebuah kaos kaki musim panas, hadiah dari Donghae yang masih berusia dua belas tahun.

Tangan Presdir Lee berhenti ketika menyentuh benda keempat yang ada di dalam laci. Namun, sesaat kemudian ia akhirnya mengambil benda itu dan memandangnya cukup lama. Air matanya menetes melihat sebuah dasi berwarna abu-abu dengan motif kotak-kotak yang ada di dalam kotak berukuran kecil. Itu adalah hadiah pemberian Donghae yang saat itu berusia tiga belas tahun. Usia di mana untuk pertama kalinya putra tirinya itu mendapat perlakuan tidak adil darinya.

Presdir Lee menundukkan kepalanya ketika air matanya mengalir deras. Tangannya memeluk erat dasi tersebut di depan dadanya. Perasaan menyesal yang sangat mendalam kembali menderanya. Perasaan menyesal yang sudah mengurung sosok seorang Tuan Lee Byun Sik yang begitu hangat, ramah dan perhatian ke dalam seseorang yang begitu dingin dan arogan milik Presdir Lee.

“Donghae-ya… maafkan Ayah… maafkan Ayah…” Bahu Presdir Lee berguncang hebat karena tangisannya. Sungguh hari ulang tahunnya kali ini terasa sangat berat. Mungkin saja ulang tahunnya itu merupakan saat-saat yang klimaks baginya. Padahal di tahun-tahun sebelumnya Presdir Lee hanya akan mengeluarkan satu per satu hadiah yang berikan oleh Donghae tiap ulang tahunnya delapan belas tahun yang lalu dengan senyum yang selalu terukir diam-diam di bibir Presdir Lee, mengingat-ingat betapa menggemaskannya wajah Donghae yang memberikan hadiah dengan malu-malu.

Tapi… malam ini… Presdir Lee sudah tidak bisa menahannya karena satu per satu memori masa lalunya melintas di depan matanya.

To be continued

 

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: