FRUIT LOVE [12/20]

hyuk2_副本

FRUIT LOVE

Chaptered FF

Author : Nita Henny

Cast : Go Jung Ra (OC) – Lee Donghae – Lee Hyukjae

Kim Ryeowook – Kim Youngwoon

Genre : Romance, Family, Brothership

Rating : PG-14

Note :
FF Ini udah pernah kupublish di blogku sendiri. Dulu, udah lama. Dan sekarang aku coba kirim ke sini hehehe.
You can visit my blog === >>> https://imajinasinita.wordpress.com/

Happy reading ~~~~

============================

“Iya aku tahu itu. Kau saja yang mengurusnya besok pagi sebelum berangkat ke toko, mengerti?” ujar Donghae saat menerima telepon dari Ryeowook yang meminta pendapatnya tentang rencana penambahan pasokan buah apel dari pemasok yang baru karena pemasok yang lama sedikit bermasalah.

Eo, jangan ke mana-mana kalau begitu. Cepat tidur agar kau tidak terlambat bangun.” Donghae memasukkan ponselnya ke dalam saku celana sesaat setelah Ryeowook memutuskan telepon. Sambil membuka pintu apartemen Donghae menarik tudung jaket hitamnya ke atas kepala.

Ya, tengah malam seperti ini Donghae sengaja keluar dari apartemen sederhananya karena berniat untuk mengunjungi laundry umum tempat Nyonya Im, ibu Jung Ra bekeja. Sampai sekarang sepertinya Jung Ra memang belum tahu kalau kadang-kadang Donghae menyempatkan diri untuk datang ke sana hanya untuk sekedar menyapa ibunya atau membelikan beberapa makanan.

Telinga Donghae menangkap suara langkah seseorang dari arah tangga ketika ia memasukkan kunci ke dalam lubang pintu apartemennya. Kepalanya menoleh ke sisi kiri tubuhnya, di sana dari balik dinding di dekat tangga muncul sesosok laki-laki dengan wajah yang cukup kacau dengan rambut yang sedikit berantakan dan kemeja putih yang lumayan kusut di beberapa bagian. Untuk beberapa detik Donghae tak bisa mengalihkan pandangannya karena ia cukup tertegun melihat penampilan orang itu. Tidak biasanya

Donghae menggumam pelan sambil kembali memfokuskan matanya ke arah kunci yang sejak tadi belum juga berhasil masuk ke dalam lubang kunci dengan benar ketika Hyukjae berjalan melintas di belakang tubuhnya dengan pelan.

Tak ada respon dari Hyukjae. Laki-laki itu masih saja membisu dan terus berjalan menuju apartemennya sendiri yang ada di sisi kiri apartemen Jung Ra. Perlahan langkahnya terhenti di depan apartemen Jung Ra. Tak ada yang ia lakukan, hanya berdiri di sana dengan pandangan kosong.

Donghae yang melihatnya hanya mendengus pelan dan sedikit menggerutu karena lagi-lagi ia gagal mengunci pintu apartemennya. Sambil mengumpat lirih Donghae kembali mencoba memasukkan kunci ke dalam lubang kunci dengan perlahan-lahan.

“Donghae-ya…

Donghae menghentikan tangannya yang memutar-mutar kunci yang sudah masuk ke dalam lubang kunci. Tetapi, ketika menyadari siapa yang baru saja memanggilnya dengan sebutan itu, Donghae hanya memutar kedua bola matanya dengan jengah dan sama sekali tak punya niat untuk menjawab panggilan itu sambil kembali mencoba mengunci pintu apartemennya.

“Lee Donghae…”

Kini panggilan itu berubah.

Klek~

Donghae berhasil mengunci pintu apartemennya. Donghae bisa saja langsung beranjak dari depan pintu dan berjalan menuju tangga, membiarkan Hyukjae berdiri di sana. Bukankah itu yang biasa dia lakukan bila Hyukjae memanggilnya bila mereka kebetulan bertemu di lantai dua seperti malam ini? Tetapi, entah kenapa kali ini ia tidak bisa.

“Bisa menemaniku sebentar?” pinta Hyukjae dengan suara pelan sesaat setelah memutar tubuhnya, menghadap Donghae yang masih mematung di depan pintu.

“Aku tidak punya waktu untuk…”

“Anggap saja malam ini aku adalah tetanggamu yang sedang mengajakmu minum bersama,” potong Hyukjae.

Donghae lantas menolehkan kepalanya, memandang Hyukjae. Donghae bisa melihat dengan jelas ekspresi Hyukjae yang seakan memang sedang butuh seseorang untuk ‘menemaninya’ minum bersama.

 

 

Hyukjae menghabiskan satu sloki soju dalam satu kali teguk, merasakan sensasi panas yang menyerang tenggorokannya setiap kali ia menelan minuman tersebut. Dengan pelan ia meletakkan sloki yang sudah kosong ke atas meja kayu di depannya. Satu mangkuk ramyun yang sejak tadi ada di hadapannya bahkan sama sekali tak ia sentuh hingga akhirnya uap panas yang beberapa saat lalu menghiasi makanan itu kini sudah menghilang.

Setengah jam yang lalu Donghae memang mengajak Hyukjae ke kedai ramyun yang ada di dekat gedung tempat tinggal mereka. Namun, hingga kini tak ada satu pun dari mereka yang berniat untuk membuka mulut sekedar membuat percakapan agar suasana di antara mereka berdua tidak aneh.

Donghae terpaksa berpura-pura berdehem untuk menghilangkan kekesalan di dalam dirinya yang sejak tadi hanya duduk diam setelah menghabiskan satu porsi ramyun pesanannya. Sebenarnya Donghae mempunyai tanda tanya besar di dalam kepalanya melihat tingkah Hyukjae seperti itu. Apa yang sebenarnya terjadi dengan laki-laki yang ada di depannya itu?

“Dua hari yang lalu adalah hari ulang tahun Ayah,” Hyukjae akhirnya membuka mulutnya.

Tak ada reaksi berarti yang ditampilkan oleh Donghae ketika mendengar ucapan Hyukjae.

“Aku tahu itu,” ujar Donghae ringan sambil menuangkan soju ke dalam sloki di depannya dan menenggaknya.

Mata Hyukjae yang sedari tadi tertuju pada sloki kosongnya kini bergerak memandang Donghae tidak percaya. Hyukjae cukup tercengang mendengar respon Donghae. Sungguh di luar dugaannya. Hyukjae pikir Donghae akan melemparkan tatapan tajam ke arahnya dan kembali mengeluarkan kata-kata dingin untuk membalasnya.

“Jangan memandangku dengan aneh seperti itu, Lee Hyukjae.” Donghae menyadari dirinya sedang diperhatikan oleh Hyukjae. Dibalasnya tatapan mata Hyukjae sebelum ia kembali melanjutkan kata-katanya.

“Apa yang kau harapkan dariku setelah mendengar berita itu? Marah? Menangis di depanmu sambil kembali mengingatkanmu dengan semua kesalahan yang pernah Ayahmu lakukan padaku sepuluh tahun yang lalu? Itu yang kau harapkan?” Donghae lantas tertawa pelan sambil mengambil salah satu sumpitnya dan memainkannya di dalam mangkuk ramyun yang sudah kosong.

Hyukjae bergeming. Mata Hyukjae sesaat memperhatikan tangan Donghae yang memutar-mutar sumpit di dalam mangkuk sebelum kembali mengalihkan matanya ke arah wajah Donghae

“Sayangnya itu tidak akan pernah terjadi. Kita sebut saja…… aku sudah sangat lelah bila harus marah untuk hal yang sama sepuluh tahun ini dan aku sudah tidak bisa menangis lagi karena aku lupa bagaimana cara menangisi untuk hal yang sama juga.” Nada suara Donghae begitu ringan, seakan apa yang sedang mereka bahas adalah sesuatu yang tidak perlu dipermasalahkan.

Salah satu tangan Hyukjae yang ada di bawah meja mengepal dengan erat. Hyukjae mencoba menahan semua rasa emosional yang mulai menyerang batinnya. Andai saja pengaruh soju menguasainya, bisa Hyukjae pastikan ia akan langsung menarik kerah kemeja Donghae dan melayangkan pukulan ke arah wajah adiknya itu bertubi-tubi, meluapkan semua perasaan tertekan yang selama ini ia rasakan.

“Baiklah, aku harus segera pulang. Terima kasih karena sudah mengajakku minum bersama. Semoga kita bisa menjadi tetangga yang baik seperti harapanmu, Lee Hyukjae.” Donghae bangkit dari duduknya dan menepuk bahu Hyukjae sebelum berjalan ke arah pintu kedai yang baru saja dibuka oleh beberapa pengunjung.

Donghae menghela napas panjang sesaat setelah menjauh dari area depan kedai. Dilangkahkan kakinya menyusuri trotoar yang begitu sepi. Tak hanya trotoar itu saja yang sepi, jalan raya yang ada di sisi kiri tubuh Donghae pun juga nampak sepi. Tak banyak kendaraan yang berlalu lalang mengingat sekarang sudah lewat dari tengah malam.

Donghae menarik tudung jaket hitamnya menutupi kepalanya. Angin malam yang berhembus cukup dingin. Semangkuk ramyun panas yang beberapa saat lalu Donghae santap pun tak memberikan pertolongan yang banyak untuk mengurangi hawa dingin yang menerpa tubuhnya.

“Donghae-ya.”

Donghae terpaksa menolehkan kepalanya ke belakang saat mendengar seseorang memanggil namanya. Namun, belum sepenuhnya Donghae memutar tubuhnya ke belakang untuk melihat siapa yang memanggilnya, sebuah bayangan hitam menghantam wajahnya hingga membuat Donghae terhuyung ke belakang dan sedetik kemudian ia merasakan nyeri di sudut bibirnya. Dia nampak terkejut menyadari seseorang yang baru saja memukul wajahnya adalah Hyukjae.

Belum sampai Donghae membuka mulutnya untuk memprotes, Hyukjae sudah lebih dulu kembali mendaratkan pukulannya pada bagian wajah Donghae yang lain. Untuk yang kedua kalinya Donghae terhuyung dan kini ia hampir terjungkal ke atas trotoar karena rasa nyeri yang cukup menyakitkan.

Hyukjae menarik kerah T-shirt Donghae dan memandangnya dengan sangat tajam. “Aku sudah tidak bisa menahannya lagi, Lee Donghae. Kau sudah benar-benar keterlaluan. Kau tahu apa maksudku, ‘kan? Kenapa kau bersikap seolah-olah masalah ini tidak ada apa-apanya?”

Tinju Hyukjae kembali mendarat pada wajah Donghae dengan sangat keras dan berhasil membuat Donghae tergeletak lemas di atas trotoar. Hyukjae mendekatinya dan berniat untuk kembali menghajarnya. Entah ini karena pengaruh soju atau memang pertahananya sudah benar-benar runtuh, malam ini Hyukjae sangat ingin menghajar Donghae habis-habisan.

Tanpa Hyukjae duga, kaki Donghae bergerak menendangnya. Hyukjae terjungkal ke belakang. Dalam sekali gerakan, Donghae berhasil bangkit dan ganti mencengkeram kerah kemeja Hyukjae dengan erat. Salah satu tangannya sudah mengepal kuat, bersiap untuk memukul wajah Hyukjae.

Bugh~

Darah segar mengalir dari sudut bibir Hyukjae sesaat setelah Donghae menghantam wajah Hyukjae cukup kencang dan keras. Tetapi, hal itu tak berakhir di situ saja. Donghae yang sudah tersulut emosi akhirnya melampiaskannya dengan ganas. Beberapa kali ia meninju perut Hyukjae hingga kakak tirinya itu sulit bernapas.

“Aku bersikap seolah-olah aku tidak tahu apa-apa? Aku tidak tahu apa-apa? Tentu saja aku tidak tahu apa-apa, Brengsek!” Donghae kembali menarik kerah kemeja Hyukjae hingga tubuh lemas Hyukjae terangkat ke arahnya.

“Selama sepuluh tahun ini aku bertanya-tanya pada diriku sendiri hingga aku hampir gila. Kenapa saat itu kau tidak menceritakan hal yang sebenarnya pada Ayah? Kenapa kau justru diam dan meninggalkanku begitu saja? Kenapa kau membiarkan Ayah menyebutku pembunuh Eomma? Kenapa kau tidak mencegah Ayah yang mengusirku dari rumah? Kenapa kau justru bersikap seolah memberiku jalan untuk pergi dari rumah? Ke mana sosok seorang Kakak yang selalu kubanggakan dulu? Ke mana Kakakku yang katanya akan terus melindungiku? Ke mana Kakak yang saat itu benar-benar kubutuhkan? KE MANA KAU HILANGKAN KAKAKKU ITU, HAH?!” Donghae mengeluarkan semua pertanyaan-pertanyaan yang sudah menghuni kepalanya selama lebih dari sepuluh tahun ini dengan menggebu-gebu. Nafasnya sesak karena nyeri hebat yang menyerang seluruh tubuhnya dan karena hatinya yang benar-benar terluka. Sebenarnya ia tidak ingin bersikap seperti ini, hanya saja tindakan Hyukjae-lah yang menyulut semuanya.

Mata sayu Hyukjae memandang sepasang mata Donghae yang terlihat berkaca-kaca. Ia ingin membalas pukulan Donghae, tapi tenaganya sudah habis. Pandangannya mulai mengabur. Hyukjae bisa merasakan sebentar lagi mungkin saja ia akan pingsan.

“Apa kalian sudah selesai berkelahi?” Sebuah suara yang berat terdengar dari arah belakang Donghae dan Hyukjae.

Donghae dan Hyukjae pun terpaksa menggerakkan kepalanya untuk melihat sosok laki-laki bertubuh tinggi yang berjalan menghampiri mereka dengan pelan.

Hyung?” Donghae sedikit mengernyitkan keningnya melihat Youngwoon sudah berdiri di depannya. Raut wajah kakak sepupunya itu sulit Donghae artikan. Entah itu karena suasana yang cukup gelap di trotoar tersebut, atau kepala Donghae yang sudah mulai berputar-putar.

Tanpa bicara apapun, tiba-tiba Youngwoon melepas cengkeraman tangan Donghae pada kerah kemeja Hyukjae dengan kasar. Bukannya membantu Hyukjae berdiri, Youngwoon justru memukul wajah Hyukjae dengan sangat keras kemudian menghempaskan tubuh lemas Hyukjae ke atas trotoar.

Donghae cukup terkejut melihat tindakan Youngwoon. Dilihatnya kini Hyukjae sudah terkapar tak sadarkan diri dengan wajah lebam. Donghae berusaha bangkit dari duduknya untuk menghampiri Hyukjae, ia takut terjadi apa-apa pada Hyukjae. Namun, ketika ia berusaha bangun, Youngwoon tiba-tiba sudah berada di hadapannya. Beberapa detik kemudian ia merasakan wajahya dihantam oleh sesuatu yang keras hingga ia tergeletak. Kepalanya yang sejak tadi berputar-putar kini terasa semakin berat dan selanjutnya semua terlihat gelap.

***

Next day…

Lembut…

Hangat…

Walaupun ada sedikit rasa pahit dari soju yang baru dia minum…

Jung Ra menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat sambil memejamkan matanya erat-erat. Kakinya yang sejak tadi melangkah terpaksa berhenti di depan sebuah tangga yang akan membawanya ke depan tempat tinggal ibunya. Tangannya terangkat mengacak-acak rambutnya hingga berantakan. Benar-benar berantakan. Mirip seperti gadis dua puluh enam tahun yang kehilangan kewarasannya dan baru saja kabur dari rumah sakit jiwa tempatnya dirawat.

Jung Ra bukannya tidak mempunyai alasan melakukan tindakan aneh dengan mengacak-acak rambutnya sendiri hingga berantakan seperti itu, Jung Ra benar-benar mempunyai alasan yang cukup kuat untuk melakukannya. Tidak, tidak…, lebih tepatnya alasan itu SANGAT kuat hingga dia sendiri hampir merasa seperti orang gila asli.

Ciuman itu.

Ya, alasan Jung Ra bertingkah aneh di depan tangga bangunan kumuh tempat ibunya tinggal adalah ciuman itu. Ciuman yang diberikan oleh Hyukjae beberapa hari yang lalu. Asal tahu saja, sejak malam itu Jung Ra tidak bisa tidur dengan benar. Dia sudah seperti jarum jam yang berputar-putar sepanjang waktu di atas tempat tidur. Dan hasilnya bisa dilihat dengan jelas pagi ini; lingkar berwarna hitam samar di bawah mata dan wajah yang tidak segar begitu jelas terlihat pada diri Jung Ra. Ternyata ciuman dari Hyukjae yang entah memang disengaja atau tidak disengaja itu meninggalkan efek menyeramkan yang sangat dramatis bagi Jung Ra.

“Kenapa kau mematung seperti itu?”

Jung Ra tersentak dari tempatnya berdiri ketika suara itu terdengar cukup nyaring di hadapannya. Matanya mengerjap-ngerjap cepat ke arah ibunya yang berdiri di ambang pintu, yang memandangnya dengan pandangan heran seakan bertanya dalam hati apa yang sedang putrinya lakukan di depan pintu dengan wajah mirip mayat hidup seperti itu.

“Bagaimana aku bisa sampai di depan pintu rumah Eomma?” tanya Jung Ra pelan sambil menggaruk-garuk tengkuknya. Dia benar-benar tidak percaya bisa sampai di tempat ini, padahal beberapa saat yang lalu dia yakin dia masih ada di bawah tangga sana.

Nyonya Im terpaksa mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan Jung Ra. “Kau sudah bangun belum?”

Tanpa menjawab pertanyaan ibunya Jung Ra langsung masuk ke dalam dan menghempaskan tubuhnya di atas sofa panjang yang sudah usang di tengah-tengah ruangan itu sambil melempar tas coklatnya ke sembarang tempat.

Yaa! Lepas sepatumu dulu!” bentak Nyonya Im setelah menutup pintu yang ada di belakangnya dan cukup kesal bercampur heran melihat putrinya masuk begitu saja tanpa melepas sepatu terlebih dulu.

Jung Ra menggerak-gerakkan kedua kakinya hingga sepasang sepatu yang ia pakai terlepas dan tergeletak di dekat sofa. Nyonya Im hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memungut sepatu milik Jung Ra dan meletakkannya di dekat pintu. Wanita itu sebenarnya cukup heran melihat Jung Ra yang tiba-tiba datang ke tempat tinggalnya dalam kondisi seperti itu.

“Apa yang terjadi?” tanya Nyonya Im setelah meletakkan segelas air putih di atas meja dekat sofa yang sedang ditiduri Jung Ra.

“Aku sudah mati, Eomma,” jawab Jung Ra dengan suara yang sedikit kurang jelas karena posisi tidurnya yang tengkurap dengan tangan yang terkulai hingga ke atas lantai.

Pletak~

Jung Ra mengerang kesakitan sambil mengusap-usap belakang kepalanya yang berdenyut karena baru saja dijitak oleh Nyonya Im. Walaupun kesakitan, gadis itu sama sekali tak merubah posisinya.

“Jangan bicara yang aneh-aneh. Mati apanya? Jelas-jelas kau masih bisa datang ke tempat tinggalku walaupun dengan penampilan seperti orang gila begitu,” ujar Nyonya Im geram mendengar jawaban Jung Ra yang sangat aneh dan tidak masuk akal.

Kepala Jung Ra perlahan terangkat, menoleh ke arah ibunya dengan wajah yang memelas, seakan ia baru saja kehilangan uang tabungan jutaan won. “Eomma, apa yang harus kulakukan?”

“Apa maksudmu?”

“Aku ingin cerita pada Eomma, tapi aku tidak tahu bagaimana cara menceritakannya. Aku tidak tahu harus dimulai dari mana,” keluh Jung Ra seraya kembali membenamkan wajahnya pada sofa.

“Apa kau dipecat lagi oleh bos barumu?”

Mendadak Jung Ra menegakkan kepalanya lagi karena terkejut dengan pertanyaan ibunya.” Tidak. Siapa yang bilang aku dipecat oleh bos baruku?”

“Apa kau diusir dari apartemenmu karena telat membayar uang sewa?”

“Aku selalu membayarnya tepat waktu, Eomma!” protes Jung Ra.

“Apa kau baru saja diperkosa oleh laki-laki jahat?”

Eomma!” Jung Ra seketika bangun dari tidurnya dan duduk menatap ibunya tidak percaya. Bagaimana bisa ibunya itu mengira dirinya baru saja diperkosa oleh laki-laki jahat? Ditambah dengan ekspresi ibunya yang datar-datar saja tanpa ada efek cemas sama sekali.

“Lalu apa yang ingin kau ceritakan padaku? Sejak tadi kau hanya berbicara berputar-putar tidak jelas sambil memasang wajah aneh seperti itu. Bagaimana bisa Eomma tahu kalau kau tidak segera menceritakan apa yang sebenarnya terjadi padamu sampai kau datang ke tempat tinggal Eomma sepagi ini?” Nyonya Im justru mengomeli Jung Ra panjang lebar karena kesal.

“Aku bukannya berputar-putar, aku hanya tidak tahu bagaimana caranya bercerita,” bantah Jung Ra tidak mau kalah.

“Kalau begitu katakan padaku intinya saja.”

“Bagaimana aku bisa mengatakan inti masalahku kalau cara mengatakannya saja aku tidak tahu?” Jung Ra tetap membantah.

“Anak ini benar-benar…, yaa, kalau kau datang kemari untuk mendapatkan solusi dari masalah yang sedang kau hadapi, seharusnya kau juga harus tahu bagaimana caranya menceritakan masalah itu padaku dan…”

“Aku dicium oleh seorang laki-laki,” potong Jung Ra pelan.

Untuk beberapa saat Nyonya Im hanya terdiam sambil melempar pandangan yang sulit diartikan ke arah Jung Ra hingga akhirnya tangannya terangkat dan memukul kepala Jung Ra dengan keras.

Eomma, berhentilah memukulku seperti ini! Aiisshh….” Jung Ra mengusap-usap kepalanya yang terasa berputar-putar.

“Kukira ada apa, ternyata hanya itu masalahnya? Aigoo, anak ini… cepat cuci wajahmu itu. Lihatlah, kau sudah terlihat seperti gadis gelandangan.” Nyonya Im menunjuk air putih yang ada di atas meja agar diminum oleh Jung Ra dan beranjak menuju dapur, menyiapkan sarapan untuk Jung Ra.

Sebenarnya aku yang salah berbicara atau ibuku yang bermasalah sich? Kenapa reaksinya seringan itu mendengar aku sudah dicium oleh seorang laki-laki? Apa Eomma sama sekali tidak memiliki perasaan khawatir pada putrinya sendiri? Bagaimana kalau ada apa-apa dengan putrinya setelah dicium? — pikiran Jung Ra berkecamuk, heran dengan reaksi ibunya.

“Kau mau sarapan apa?” tanya Nyonya Im sambil menyiapkan mangkuk yang akan ia isi dengan nasi hangat yang dia ambil dari alat penanak nasi di dekatnya. Nyonya Im sedikit terkejut ketika merasakan sepasang tangan melingkar erat di pinggangnya.

“Kau mau sarapan apa?” Nyonya Im mengulangi pertanyaannya pada Jung Ra yang memeluknya dari belakang.

“Aku tidak lapar,” jawab Jung Ra pelan sambil menempelkan dagunya pada bahu ibunya. Baru Jung Ra sadari kalau tubuh ibunya begitu kurus.

Nyonya Im berdecak pelan sambil terus memenuhi mangkuk dengan nasi. Tidak biasanya putrinya itu bertingkah seperti ini. Seingat Nyonya Im, terakhir kali Jung Ra bertingkah manja seperti ini adalah ketika Jung Ra bertengkar dengan Ryeowook, sahabat Jung Ra yang tinggal tak jauh dari tempat tinggalnya saat usia putrinya itu tujuh belas tahun.

Tangan Nyonya Im terangkat ke arah belakang, mengusap lembut rambut Jung Ra. “Masih soal ciuman itu?” tanya Nyonya Im seakan bisa membaca pikiran Jung Ra.

“Tentu saja. Aku kemari karena butuh pertolongan Eomma, tapi kulihat tadi reaksi Eomma sangat jauh dari perkiraanku. Kukira Eomma akan terkejut setengah mati dan bertanya apakah aku tidak apa-apa atau menyumpahi orang yang sudah berani menciumku dan berusaha mencari keberadaannya, kemudian Eomma akan memukul kepalanya dengan teflon karena sudah kurang ajar mencium putrinya, atau lebih parah lagi Eomma akan membunuhnya. Asal Eomma tahu saja, sekarang aku cukup kecewa dengan reaksi yang Eomma berikan,” gerutu Jung Ra. Beberapa saat kemudian gadis itu melepas pelukannya karena ibunya bergerak.

“Lalu aku harus bagaimana? Bersikap seperti yang kau katakan tadi? Bawakan panci yang berisi sayuran itu dan letakkan di sana.” Nyonya Im berjalan ke arah meja makan sambil membawa nampan berisi mangkuk nasi dan beberapa lauk.

Sambil memasang wajah menyedihkan Jung Ra mengangkat panci yang ditunjuk oleh ibunya dan membawanya dengan hati-hati ke meja makan. Bahkan ketika ibunya mendekatkan sendok dan sumpit di dekat tangannya, Jung Ra masih tetap memasang wajah seperti itu.

“Putri Eomma itu bukan lagi seorang anak perempuan yang baru berusia dua belas tahun. Dia sudah menjadi wanita yang berusia dua puluh enam tahun. Bukankah untuk ukuran usia dua puluh enam tahun, dicium oleh seorang laki-laki adalah hal yang wajar? Justru kalau sampai dia belum dicium, Eomma akan sangat khawatir. Kalau kau tidak mau mencuci wajahmu, sebaiknya kau segera habiskan makananmu,” ujar Nyonya Im sambil mengambil potongan kimchi dan memasukkannya ke dalam mulut. Mengunyahnya dengan tenang tanpa memperhatikan Jung Ra yang membelalakkan mata tidak percaya.

“Ya Tuhan, sepertinya ibuku sudah ingin melihat putrinya diperkosa oleh orang lain,” celetuk Jung Ra.

Nyonya Im memelototi Jung Ra setelah mendengar celetukan Jung Ra dan bersiap untuk kembali memukul kepala Jung Ra.

“Kenapa kau selalu membantah ucapan ibumu?!” bentak Nyonya Im.

Jung Ra ingin membalas bentakan ibunya, namun niatnya itu ia urungkan sambil menundukkan kepala dan mulai menyendok nasinya. Nyonya Im lantas tersenyum geli.

“Apa kau menyukainya?”

Jung Ra sontak menegakkan kepalanya dan memandang Nyonya Im dengan ekspresi terkejut. “A-apa?”

“Apa kau menyukainya?” ulang Nyonya Im sambil menahan senyum.

Jung Ra membutuhkan lebih dari lima detik untuk mencerna pertanyaan ibunya yang tidak jelas itu.

“Laki-laki yang sudah berani menciummu…, apakah kau menyukainya?” Nyonya Im mencoba memperjelas pertanyaannya.

Seketika kedua pipi Jung Ra memanas. Untuk beberapa detik gadis itu membeku dan hanya memandang ibunya. Lagi-lagi jantungnya berdegup tak menentu saat ia teringat bagaimana Hyukjae mencium bibirnya.

“Kenapa semua orang dengan mudah menebaknya? Pertama bosku, sekarang Eomma. Apakah aku…. aaaaah…., aku memang menyukainya, Eomma, tapi apa aku juga harus menemuinya dan berkata ‘hai, Hyukjae-ssi, aku menyukaimu’, begitu? Kalau aku sampai melakukannya berarti aku sudah siap didorong ke jurang saat itu juga.” Jung Ra mengacak-acak rambutnya frustasi.

“Jadi namanya Hyukjae?” Nyonya Im mengangguk-anggukkan kepalanya, masih ingin terus menggoda putrinya. “Kalau kalian sudah berkencan, jangan lupa ajak kemari ya? Kenalkan padaku.”

Eomma!”

***

At Youngwoon’s Apartment…

Donghae menggerak-gerakkan kedua matanya yang terpejam. Perlahan ia membuka matanya dan sesaat kemudian ia kembali memejamkannya karena mendadak rasa pusing menyerang kepalanya.

“Kau sudah siuman?”

Telinga Donghae mendengar suara seseorang yang terkesan lemah dan pelan di dekatnya. Saat mengenali milik siapa suara tersebut, Donghae buru-buru berusaha menghilangkan rasa pusing yang masih menyerang kepalanya dan membuka matanya. Namun, ketika ia berusaha untuk bangun mendadak ia merasakan rasa sakit. Dipegangnya sudut bibirnya yang terasa begitu nyeri. Ia teringat kalau kemarin malam ia dan Hyukjae berkelahi.

“Syukurlah kalau kau siuman. Kukira kau harus dibawa ke rumah sakit.”

Suara itu kembali terdengar. Donghae terpaksa menolehkan kepalanya ke arah sofa yang ada di hadapannya. Di sana sudah terbaring seorang laki-laki sebayanya. Wajah laki-laki itu sama-sama lebam seperti dirinya.

“Sepertinya yang harus dibawa ke rumah sakit adalah dirimu,” ujar Donghae sambil berusaha mengubah posisi duduknya, menurunkan kedua kakinya dari atas sofa, menyandarkan punggung dan kepalanya pada punggung sofa dengan sangat pelan-pelan karena rasa pusing di kepalanya belum sepenuhnya mereda.

Hyukjae yang mendengar ucapan Donghae hanya tertawa pelan sambil memandang langit-langit ruang tengah di dalam apartemen Youngwoon.

Donghae tak menanggapi tawa Hyukjae. Dilihatnya kakaknya itu belum memindahkan tangannya dari atas perutnya.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Donghae ragu. Sebenarnya ia tidak ingin menanyakan hal tersebut, hanya saja ia cukup khawatir melihat kondisi Hyukjae. Bagaimana pun juga dia masih ingat bagaimana ia memukul bagian perut Hyukjae kemarin malam.

“Sejak siuman tadi pagi sampai sekarang hanya kedua mataku saja yang bisa kugerakkan. Kurasa aku memang harus dibawa ke rumah sakit,” jawab Hyukjae setengah bercanda yang sesaat kemudian meringis kesakitan merasakan ulu hatinya berdenyut takkala ia buat untuk tertawa.

Donghae hanya memutar kedua bola matanya kemudian menggerakkan kepalanya, memandang ke beberapa arah untuk mencari keberadaan Youngwoon mengingat baru ia sadari sekarang ia dan Hyukjae sedang berada di dalam tempat tinggal kakak sepupunya itu.

“Apa kau melihat Youngwoon Hyung saat kau siuman tadi?” tanya Donghae pada Hyukjae sambil berusaha menegakkan tubuhnya.

“Selain langit-langit yang ada di atas wajahku…, kurasa aku tidak melihat hal lain,” jawab Hyukjae asal.

Donghae mendengus pelan. Setelah berhasil menegakkan tubuhnya, Donghae pun berusaha mengulurkan tangannya mengambil gelas kaca berisi air putih yang ada di atas meja di depannya.

“Donghae-ya, pertanyaan-pertanyaan yang kau tanyakan kemarin malam…, apakah itu semua benar?” Hyukjae menolehkan kepalanya dengan sangat pelan dan hati-hati untuk memandang Donghae yang baru saja meraih gelas dengan susah payah dan kini sedang meneguk sebagian isinya.

“Jangan memaksaku untuk kembali menghajarmu, Lee Hyukjae,” elak Donghae yang enggan menjawab pertanyaan Hyukjae setelah meletakkan gelas air putihnya ke atas meja. Dihelanya napas dengan pelan ketika kerongkongannya terasa sejuk dan tak lagi kering.

“Aku benar-benar penasaran akan hal itu.”

Donghae terdiam. Ya…, pertanyaan-pertanyaan yang kemarin malam ia lontarkan pada Hyukjae memang benar. Pertanyaan-pertanyaan itu memang sudah lama ingin ia tanyakan pada Hyukjae, hanya saja kebenciannyalah yang lebih dulu menguasai dirinya hingga membuat Donghae selalu merasa marah pada dirinya sendiri tiap ia mengingat deretan pertanyaan itu.

Mungkin kemarin malam adalah saat di mana Donghae sudah tak bisa lagi menahan gejolak di dalam batinnya. Ia lampiaskan semua tekanan yang ada di dalam kepalanya pada Hyukjae yang tanpa ia duga justru memancingnya lebih dulu hingga mereka terlibat perkelahian.

“Kau mau kuambilkan minum?” Donghae mencoba mengganti topik pembicaraan karena ia tak yakin emosi yang ada di dalam dirinya kemarin malam sudah benar-benar hilang pagi ini.

“Kemarin adalah perkelahian pertama kita sejak kita menjadi kakak-adik delapan belas tahun lalu. Bukankah itu lucu? Kau tahu, sejak dulu aku mengharapkan saat-saat seperti kemarin malam terjadi pada kita berdua. Berkelahi layaknya anak laki-laki yangn normal kemudian berakhir dengan wajah yang sama-sama babak belur,” kata Hyukjae, kembali mengingat bagaimana ia berkelahi dengan Donghae. Bahkan sampai saat ini Hyukaje tidak yakin penyebab perkelahiannya dengan Donghae karena pengaruh soju.

“Setidaknya harapanmu menjadi kenyataan,” tambah Donghae yang sesaat kemudian berniat bangkit dari duduknya untuk menghampiri Hyukjae yang memejamkan matanya sambil mengerutkan keningnya seakan sedang menahan rasa sakit yang entah itu berasal dari perutnya atau dari luka-luka lebam di wajahnya.

“Aku akan menghubungi Youngwoon Hyung agar membawamu ke rumah sakit.” Donghae menggerakkan tangannya untuk merogoh celananya, mengambil ponselnya yang mungkin saja masih ada di dalam sana.

Namun, beberapa detik kemudian Donghae mengumpat dalam hati saat tangannya hanya mendapatkan udara kosong di dalam saku celananya. Benda tipis yang ia cari tidak ada di sana. Otaknya terus berputar menerka-nerka di mana ponselnya berada; apakah tejatuh di trotoar kemarin, atau dibawa oleh Youngwoon. Dan yang lebih menyebalkan lagi, untuk ukuran apartemen mewah seperti milik Youngwoon, bagaimana bisa tidak ada satu pun pesawat telepon di atas meja? Padahal situasi saat ini benar-benar darurat bagi Donghae. Sekesal-kesalnya Donghae pada Hyukjae, sebenci-bencinya Donghae pada Hyukjae, bila melihat Hyukjae kesakitan seperti itu mau tidak mau membuat hati Donghae berdenyut dan tidak tega.

“Wow, apa matahari sekarang terbit dari barat?” Youngwoon muncul dari balik pintu apartemen sambil membawa dua kantong hitam berukuran sedang kemudian menutup pintu tersebut dengan menggunakan salah satu kakinya.

Donghae spontan menolehkan kepalanya ke arah pintu dan sedikit terkejut melihat kedatangan Youngwoon.

Hyung, berhentilah berbicara yang aneh-aneh seperti itu dan bantu aku duduk,” kata Hyukjae menundukkan kepalanya dengan lemah untuk memandang Youngwoon yang menghampirinya.

“Kenapa tidak menyuruh adikmu saja untuk membantumu? Bukannya sejak tadi kalian berbincang-bincang?” goda Youngwoon seraya meletakkan kantong-kantong tersebut ke atas meja, melirik sekilas ke arah Donghae yang terdiam memandangnya, kemudian dialihkan matanya untuk memandang Hyukjae yang masih terbaring lurus di atas sofa.

Youngwoon tersenyum geli melihat betapa menyedihkannya wajah kedua adik sepupunya yang kini berhias beberapa luka lebam di beberapa bagian wajah mereka. Wajah-wajah tampan yang sering mereka tunjukkan mungkin akan berkurang beberapa persen karena luka-luka tersebut, apalagi dari semua luka-luka itu tangan Youngwoon ikut berpartisipasi.

Youngwoon terpaksa menahan tawanya bila harus mengingat bagaimana malam kemarin ia menghajar kedua laki-laki yang lebih muda darinya itu hingga membuat keduanya tak sadarkan diri. Sebelumnya Youngwoon yang tak bisa menghubungi Hyukjae berniat untuk mendatangi gedung apartemen Hyukjae. Tetapi saat melintas di depan kedai ramyun yang ada di dekat gedung tempat tinggal kedua adik sepupunya, ia melihat Donghae dan Hyukjae berkelahi di atas trotoar seakan sudah kehilangan akal sehat. Youngwoon yakin penyebab mereka berkelahi adalah masalah lama yang ada di antara mereka. Youngwoon yang sudah merasa jengah dengan tingkah menyebalkan kedua adik sepupunya itu akhirnya memilih untuk memisahkan mereka berdua dan menghajarnya satu per satu sebagai pelampiasan kekesalannya.

“Melihat kalian berdua berbicara satu sama lain layaknya manusia normal ternyata sangat susah ya? Apakah aku harus sering-sering menghajar kalian sampai seperti ini untuk mewujudkan hal tersebut? Aigoo…, bahkan tanganku masih terasa nyeri,” ujar Youngwoon sambil mengeluarkan satu per satu barang-barang yang ia beli; beberapa buah plester luka, krim pengurang rasa sakit, satu botol cairan antiseptic, dua pack kain kasa dan beberapa makanan ringan.

Donghae sedikit kelabakan saat Youngwoon tiba-tiba melempar plester luka, krim pengurang rasa sakit dan satu botol cairan antiseptic ke arahnya. Dilihatnya kini kakak sepupunya itu mendekat ke arah Hyukjae dan membantu Hyukjae bangun.

Hyung, sebaiknya kau bawa dia ke rumah sakit,” kata Donghae yang masih risih melihat Hyukjae berulangkali meringis sakit ketika berusaha menyamankan diri untuk duduk.

“Huh, adikmu sudah mulai perhatian lagi padamu tuh. Kau tidak tersanjung mendengarnya?” ledek Youngwoon pada Hyukjae yang sesaat kemudian merasakan punggungnya dilempar sesuatu oleh Donghae. Youngwoon hanya terkekeh sambil menegakkan tubuhnya setelah membantu Hyukjae duduk dan memungut botol cairan antiseptic yang tadi dilempar Donghae.

“Kalau aku boleh menghitung, pagi ini anak itu sudah mengucap kata rumah sakit sebanyak tiga kali padaku. Kalau sampai kau tidak memasukkanku ke dalam ruang ICU sekarang juga, aku tidak bisa menjamin dia akan berhenti menyebut rumah sakit. Aku tidak peduli dia sudah mulai perhatian padaku atau tidak, yang jelas aku cukup kesal mendengarnya menyebut tempat itu di depanku. Rasanya aku ingin sekali kembali memukul wajahnya,” Hyukjae mencoba mengimbangi ledekan Youngwoon yang ditujukan padanya.

“Memukulnya? Jangankan memukulnya, kau sendiri saja tidak bisa menggerakkan tubuhmu dengan normal sekarang. Mau kujitak kepalamu?” Youngwoon mendaratkan jitakannya tepat di kepala Hyukjae dengan keras, membuat Hyukjae terpaksa beringsut menjauh dari Youngwoon. Tapi sayang sekali, karena berusaha menghindar dari Youngwoon, Hyukjae merasakan lagi nyeri pada ulu hatinya. Hyukjae membungkukkan badannya menahan sakit itu sambil mengerang kesakitan.

“Youngwoon Hyung, berhentilah menjitak kepalanya! Kau tidak lihat Hyukjae kesakitan seperti itu?!” bentak Donghae, kesal dengan tindakan Youngwoon yang tak juga kunjung berhenti menjitak kepala Hyukjae.

Hyukjae yang masih membungkukkan badanya diam-diam tersenyum tipis mendengar bentakan Donghae pada Youngwoon. Entah kenapa Hyukjae tidak merasakan sakit yang berarti walaupun pada kenyataannya wajah dan tubuhnya teras sakit semua akibat perkelahiannya dengan Donghae kemarin malam. Ada semacam kesejukan yang menyelimuti hatinya takkala menyadari pagi ini ia bisa berbincang-bincang dengan adiknya setelah sepuluh tahun lamanya hal itu tak pernah terjadi lagi.

Sepertinya kakak sepupunya itu harus sering menghajarnya dan Donghae seperti ini agar dia bisa berbicara santai dengan Donghae tanpa ada ketegangan walaupun mungkin suasananya sedikit aneh dan canggung.

Drrrt… drrrt…

Bunyi getar sebuah ponsel yang ada di bawah meja mengalihkan perhatian Donghae. Dilihatnya ponsel tipis berwarna hitam yang ternyata miliknya bergetar dan di layarnya nampak nama Ryeowook. Dengan sedikit kesulitan akhirnya ia bisa meraih benda tersebut dari bawah meja.

“Ya, ada apa?” tanya Donghae menerima telepon dari Ryeowook.

Hyungnim, kenapa sampai sekarang kau belum datang ke toko? Aku masih ada di tempat pemasok apel yang baru dan sejak satu jam yang lalu Jung Ra terus menghubungiku. Dia tidak bisa masuk ke dalam toko. Apa kau tidak memberikan kunci cadangan padanya?

Donghae melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. “Aku tidak memberinya kunci cadangan.”

Kalau begitu cepat datang ke sana. Hyungnim tahu sendiri ‘kan bagaimana menyeramkannya Jung Ra kalau sudah mengomel?

“Baiklah, aku akan segera ke sana,” jawab Donghae sebelum memutuskan telepon. Setelah memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, Donghae meraih jaket hitamnya yang ada di lengan sofa dan berusaha berdiri.

“Kau mau ke mana?” tanya Youngwoon yang baru saja selesai membersihkan luka di sudut bibir Hyukjae.

“Aku harus segera ke toko, karyawanku tidak bisa masuk ke dalam karena kuncinya kubawa,” jawab Donghae sambil mengenakan jaketnya.

“Kalau begitu kuantar ke sana.” Youngwoon bangkit dari duduknya. Beberapa detik sebelum menghampiri Donghae, Youngwoon menolehkan kepalanya kembali pada Hyukjae. “Kau tetap di sini, jangan ke mana-mana.”

Hyukjae hanya mengibaskan tangannya karena bibirnya terasa kelu untuk digerakkan.

Donghae menatap sebentar ke arah Hyukjae yang sibuk menyentuh sudut bibirnya yang membiru. Dihelanya napas sejenak kemudian berjalan ke arah pintu bersama Youngwoon yang sudah lebih dulu membuka pintu untuknya.

***

Jung Ra berdiri setelah beberapa saat yang lalu duduk di depan pintu kaca toko milik Donghae yang terkunci. Berulangkali dihembuskannya napas dengan kasar sambil mengomel dalam hati. Rasanya sungguh sia-sia datang dengan terburu-buru dari tempat tinggal ibunya ke toko kalau pada akhirnya harus berdiri seperti orang gila karena tak bisa masuk.

Bahkan Ryeowook yang satu jam lalu ia coba telepon pun mendadak memutuskan teleponnya begitu saja sebelum ia selesai bicara. Nomor ponsel Donghae? Seingatnya nomor ponsel laki-laki itu hilang tanpa sebab dari ponselnya. Kalau sudah begini rasanya ia ingin pulang saja kemudian berbaring di atas tempat tidur sambil meratapi nasibnya yang begitu mengenaskan setelah dicium oleh Hyukjae. Seharian…, ya ia akan terdiam meratapi nasibnya seharian penuh.

“Satu-satunya hal yang bisa kulakukan agar tidak teringat kejadian itu adalah bekerja, tapi kenapa… iiiissshh…” Jung Ra memukul-mukul kepalanya sendiri dengan pelan sambil menghentak-hentakkan kakinya karena frustasi.

“Ck, seperti anak kecil saja,” gumam Donghae yang muncul di belakang Jung Ra sambil mengeluarkan kunci toko di saku jaket hitamnya. Beberapa menit yang lalu ia turun dari mobil Youngwoon yang berhenti di pinggir jalan tak jauh dari tokonya dan melihat Jung Ra mondar mandir seperti sedang menahan buang air kecil.

Jung Ra yang terkejut lantas memutar tubuhnya. Raut wajahnya menjadi lebih kesal takkala mendapati sosok Donghae yang sejak tadi ia tunggu akhirnya datang juga. Namun, kekesalannya itu hanya bertahan selama beberapa detik karena untuk selanjutnya Jung Ra harus mengerutkan keningnya melihat wajah Donghae yang lebam di beberapa bagian.

Eo, kenapa dengan wajahmu?” Jung Ra menunjuk wajah Donghae.

Donghae tak menjawab. Setelah pintu toko terbuka Donghae lantas masuk dan melempar jaket hitam yang sudah ia lepaskan dan kantong hitam yang berisi beberapa obat pemberian Youngwoon ke sofa usang.

“Donghae-ssi, ada apa dengan wajahmu? Apa kau baru saja berkelahi dengan orang?” Jung Ra yang mengekor di belakang Donghae terus bertanya.

“Kalau iya memangnya kenapa? Wajar ‘kan kalau laki-laki berkelahi?” Donghae menjawab dengan asal sambil menarik kursi yang ada di belakang meja kerjanya.

Jung Ra memandangnya sebentar sebelum tiba-tiba berjalan ke arah pintu toko dan memasang papan bertulisan CLOSED di depan pintu. Tentu saja tindakan Jung Ra membuat Donghae heran.

Yaa, kenapa kau memasang tulisan itu di sana? Kita harus segera buka karena ini sudah cukup siang!” bentak Donghae.

Jung Ra tak menanggapi bentakan dan tatapan tajam Donghae yang ditujukan padanya. Dengan bibir terkatup Jung Ra berjalan ke belakang. Beberapa saat kemudian ia muncul dengan membawa mangkuk berisi air dingin dan sebuah handuk kecil. Diraihnya kantong hitam yang tadi dilempar Donghae ke atas sofa.

“Go Jung Ra…” Belum selesai Donghae memarahi Jung Ra, gadis itu sudah lebih dulu menariknya ke arah sofa dan memaksanya untuk duduk. Detik berikutnya Donghae dibuat mengaduh karena Jung Ra mendaratkan handuk yang sudah dibasahi dengan air dingin ke pelipisnya dengan cukup kasar.

“Berkelahi memang sudah menjadi ciri khas kaum laki-laki, tapi sebagian dari mereka tidak pernah mau peduli dengan akibatnya,” Jung Ra menggumam sambil membersihkan luka lebam yang ada di pelipis mata, sudut bibir dan tulang hidung Donghae.

“Apa maksudmu?” Donghae melirik ke arah Jung Ra yang cukup dekat dengan wajahnya. Untuk saat ini Donghae merasa was-was karena bisa saja tanpa ia duga gadis bermata besar yang ada di depannya ini kembali menekan handuk kecil tersebut ke luka yang ada di wajahnya. Asal tahu saja luka-luka itu cukup menyiksanya.

“Kalau kau seorang preman aku tidak akan peduli dengan wajahmu yang memar di sana-sini, tapi…” Jung Ra menghentikan ucapannya karena kini ia harus lebih hati-hati karena ada luka di dekat daerah lebam di wajah Donghae. Setelah luka-luka itu bersih, diambilnya plester luka dari dalam kantong hitam dan menempelkannya dengan sangat hati-hati pada luka robek tersebut.

“Hei, kau belum melanjutkan kata-katamu,” celetuk Donghae dengan bibir yang hampir tidak bergerak karena saat ini Jung Ra sedang mengoleskan krim pengurang rasa sakit pada luka lebam di sudut bibirnya.

Jung Ra menjauhkan dirinya setelah selesai mengobati wajah Donghae. Gadis itu berdecak pelan setelah memandang wajah Donghae yang kini berhias beberapa plester luka. Jung Ra harus mengakui, ketampanan Donghae siang ini benar-benar berkurang banyak.

“Apa kau lupa dengan profesimu sebagai seorang pemilik toko buah? Setiap hari kau harus selalu bertatap muka dengan pembeli dan berbincang dengan mereka. Kalau sampai mereka melihat keadaan wajahmu seperti ini, mereka pasti berpikiran kalau kau ini bukan orang baik-baik. Apa kau akan berkata kalau kau baru saja dikeroyok oleh segerombolan preman dan dihajar habis-habisan? Asal kau tahu saja, alasan semacam itu hanya ada di drama-drama televisi,” omel Jung Ra yang kesal.

“Sudah selesai? Kalau sudah cepat ambil tulisan yang kau pasang di pintu. Aku tidak mau rugi hanya karena dirimu,” kata Donghae sambil mengibas-ibaskan tangannya, menyuruh Jung Ra menjauh darinya.

“Kata terima kasih mungkin sudah cukup, Tuan Lee,” ujar Jung Ra ketus seraya bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu. Tangannya terulur mengambil papan yang tadi ia pasang dan menggantinya dengan tulisan OPEN.

“Terima kasih,” Donghae menuruti apa kata Jung Ra sambil menyandarkan kepalanya pada punggung sofa, memeriksa wajahnya melalui pantulan dirinya dari layar ponsel. Baru Donghae sadari, sepertinya apa yang dikatakan Jung Ra ada benarnya juga. Wajahnya saat ini memang tidak bisa disebut sebagai wajah milik orang baik-baik. Ia sudah mirip dengan laki-laki berandalan dengan hiasan plester luka di mana-mana.

Jung Ra yang mendengar kata terima kasih akhirnya keluar dari mulut Donghae hanya mendengus pelan sambil tersenyum geli. Walaupun terlambat, paling tidak bosnya itu bisa menunjukkan sikap seorang ‘manusia normal’ pada umumnya.

“Kalau boleh tahu… dengan siapa kau berkelahi?” tanya Jung Ra sambil mengambil kain bersih di sudut ruangan dan menjejalkan ujung kain tersebut pada saku celananya. Karena Donghae tak juga menjawab, akhirnya Jung Ra memutar tubuhnya menghadap ke arah Donghae sambil membawa buku catatan kecil yang berisi daftar jumlah stok buah.

“Apa kau memang benar baru saja dikeroyok segerombolan preman dan dihajar habis-habisan?” Jung Ra cukup takut kalau dugaan asal yang ia lontarkan tadi memang benar-benar terjadi pada Donghae.

“Tidak,” jawab Donghae singkat seraya berdiri, mengambil masker berwarna putih yang ada di dalam laci meja dan mengenakannya. “Kalau begini, pembeli tidak akan tahu kalau sebenarnya ada luka di wajahku, ‘kan?”

Jung Ra terlihat berpikir untuk beberapa detik saat Donghae meminta pendapatnya. “Mmm… mungkin mereka akan mengira kalau kau sedang sakit flu. Tapi… kalau kau tidak dihajar oleh preman, lalu dengan siapa kau berkelahi?”

“Pacarmu.”

“Hah?” Jung Ra terpaksa mengangkat kedua alis matanya mendengar jawaban aneh yang dilontarkan Donghae. “Pacarmu? Yaa, Donghae-ssi, jangan mengada-ada. Aku tidak punya pacar.”

“Kalau begitu orang yang kau sukai.”

Kali ini alis mata Jung Ra hampir menyatu. Dihampirinya Donghae yang sudah duduk di belakang meja kerja. Donghae yang merasa dipandangi Jung Ra lantas mendongakkan kepalanya, membalas tatapan Jung Ra dengan ekspresi datar.

“Apa aku kurang jelas menjawabnya? Kubilang aku baru saja berkelahi dengan orang yang kau sukai,” ucap Donghae.

Melihat Jung Ra yang masih bertahan dengan raut wajah seperti itu, Donghae hanya bisa menghela napas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Kenapa gadis yang ada di depannya itu sama sekali tidak bisa berpikir dengan cepat?

“Bukankah kau pernah berkata padaku kalau kau menyukai Lee Hyukjae? Kau masih ingat ‘kan?” Donghae mencoba memperbaiki daya ingat Jung Ra yang sepertinya mulai menurun.

Alis mata Jung Ra yang beberapa saat lalu menyatu kini menjauh dan kembali terangkat. “Lee… Hyukjae? Jadi kau…”

“Ya, benar, aku baru saja berkelahi dengan Lee Hyukjae, pacarmu, bukan, bukan…, maksudku orang yang kau sukai. Sudah ingat sekarang? Ckckckck… aigoo… dasar Otak Siput,” potong Donghae.

“Bagaimana bisa kalian berkelahi?!” pekik Jung Ra dengan tiba-tiba.

Donghae yang berniat mengalihkan pandangannya dari Jung Ra terpaksa terperanjat karena pekikan Jung Ra yang cukup mengejutkan dirinya. Donghae mendesis kesal tanpa menghiraukan tatapan Jung Ra yang begitu tajam ke arahnya dan memilih untuk bangkit dari duduknya, berjalan ke arah meja panjang berisi tumpukan jeruk.

Yaa! Aku bertanya padamu, bagaimana bisa?!” Jung Ra menghampiri Donghae.

“Tentu saja bisa. Bukankah sudah kubilang kalau berkelahi adalah hal yang wajar di dunia laki-laki?” jawab Donghae yang kemudian justru kembali mengaduh karena mendadak tangan Jung Ra mendarat keras pada bahunya.

“Tapi kalian ‘kan kakak-adik! Sebenarnya di mana otakmu bisa sampai mengajaknya berkelahi sampai babak belur seperti ini?!” Jung Ra menarik kasar masker yang menutupi wajah Donghae hingga membuat Donghae meringis menahan sakit karena jemari Jung Ra sempat menyentuh luka lebam yang ada di sudut bibirnya.

“Kau tidak mempunyai pikiran untuk bertanya bagaimana keadaannya?”

“Eh?”

Melihat Jung Ra tertegun membuat Donghae menarik salah satu sudut bibirnya, membentuk sebuah seringaian tipis. “Wajahku saja sudah seperti ini, apa kau sama sekali tidak penasaran dengan kondisi pacarmu itu?”

Seketika wajah Jung Ra memucat. Benar juga, sejak tadi dia hanya sibuk memarahi Donghae. Lepas dari kenyataan bahwa dia memang menyukai kakak tiri Donghae itu, Jung Ra sebenarnya juga cukup khawatir dengan kondisi Hyukjae. Bila Donghae saja sudah seperti ini, lalu bagaimana dengan Hyukjae?

“Dia… baik-baik saja,’kan?” tanya Jung Ra dengan nada yang mendadak melemah.

“Bagaimana kalau kukatakan dia tidak bisa bangun dan hanya bisa memandang ke arah atas tanpa bisa menggerakkan tangan ataupun kakinya, lalu wajahnya tak jauh beda denganku yang dihiasi beberapa luka lebam dan luka robek walaupun masih ada sisi tampan pada wajahnya itu?” Donghae perlahan mendekati Jung Ra yang membeku di tempatnya.

Entah kenapa setelah mendengar kata-kata Donghae barusan, Jung Ra merasa takut. Melihat wajah Donghae yang babak belur seperti itu saja sudah cukup membuat dada Jung Ra berdenyut. Jung Ra tidak tahu lagi bagaimana bila dia melihat kondisi Hyukjae dengan mata kepalanya sendiri. Jung Ra benar-benar tidak bisa membayangkannya.

“Apa ada kemungkinan kau mempercayai kata-kataku tadi?” tanya Donghae. Sebuah fakta dari seorang Jung Ra yang menyukai Hyukjae sudah cukup ia gunakan sebagai senjata ampuh untuk mengerjai gadis itu. Dan sesuai dugaannya, kali ini lagi-lagi ia berhasil melakukannya.

“Aku harus…” Jung Ra memutar tubuhnya dan berniat berjalan ke arah pintu, tapi tangan Donghae lebih dulu menarik belakang bajunya.

“Kau mau ke mana?” selidik Donghae yang sepertinya tahu akan ke mana Jung Ra pergi.

“Bisakah aku libur hari ini? Hari ini saja, eo?” pinta Jung Ra dengan nada memelas.

Donghae menggelengkan kepalanya. “Hari ini toko akan kebanjiran pembeli. Kau tidak bisa memutuskan untuk libur secara mendadak seperti ini. Semua ada prosedurnya, Nona Go. Jadi, sekarang bisakah kau kembali bekerja, hmm?” Donghae menyunggingkan senyum semanis mungkin pada Jung Ra walaupun sedikit menahan sakit pada sudut bibirnya.

“Tapi…”

“Kalau dilihat dari ekspresi wajahmu…, apakah kau benar-benar percaya apa yang kukatakan tadi? Apa kau percaya kalau kondisi Hyukjae semengerikan itu, hah?”

“Apa?”

Donghae tertawa dengan susah payah melihat wajah Jung Ra yang kembali bingung. Bahkan ia hampir terhuyung ke belakang karena tak bisa menahan gelak tawanya tersebut. Namun, beberapa saat kemudian ia justru mengerang kesakitan sendiri karena nyeri yang mulai menghilang kembali menyerang beberapa bagian wajahnya.

“Haaah…, hanya karena gadis bodoh sepertimu, aku harus lebih berhati-hati untuk tertawa. Kalau sudah begini rasanya tidak seru lagi,” keluh Donghae, berjalan kembali menuju meja kerjanya, meninggalkan Jung Ra yang baru saja bisa mencerna ucapan Donghae yang ternyata sedang mengerjai dirinya.

Tuk!

“Auw…,” Donghae mengusap-usap belakang kepalanya yang berdenyut. Ditundukkan kepalanya melihat buah apel yang menggelinding di dekat kakinya. Ternyata sesuatu yang mengenai belakang kepalanya adalah buah itu. Dengan cepat Donghae memutar tubuhnya ke arah Jung Ra dan terkesiap saat melihat gadis itu berdiri dengan mata yang berkaca-kaca.

Yaa, Go Jung Ra, aku hanya bercanda,” ujar Donghae, terkejut melihat Jung Ra yang sepertinya akan menangis.

“Bercanda kau bilang?” desis Jung Ra, menyeka air mata yang menggumpal di pelupuk matanya. Tangannya kembali meraih satu buah apel yang ada di dekatnya dan melemparnya ke arah Donghae. Untung saja Donghae bisa menghindar, kalau tidak bisa-bisa apel itu akan mengenai tulang hidungnya yang berhias plester luka.

“Kalau kau berpikir aku mencemaskan Hyukjae karena aku menyukainya, berarti kau benar-benar bodoh, Lee Donghae! Aku memang menyukainya tapi saat ini bukan itu yang kucemaskan! Justru kalian berdualah yang kucemaskan! Kau dan Lee Hyukjae! Sebenarnya apa yang ada di otak kalian berdua hingga harus berkelahi seperti itu, hah?! Kalian pikir usia kalian masih lima tahun?! Apakah semua laki-laki harus menyelesaikan masalah dengan berkelahi?! Apa kalian tidak ingat kalau kalian berdua adalah saudara?!” Jung Ra mengatur napasnya sendiri yang entah kenapa terasa begitu sesak setelah mengeluarkan semua kata-kata itu.

Donghae hanya mendengus pelan sambil menggelengkan kepalanya. Digaruknya tengkuknya yang sama sekali tak terasa gatal sambil memasang wajah datar seakan apa yang baru saja diteriakkan Jung Ra bukanlah sesuatu yang penting.

“Sudah kubilang berkelahi adalah hal yang wajar dilakukan oleh kaum laki-laki, tidak peduli mereka orang asing ataupun saudara. Berhentilah menangis seperti itu dan kembali bekerja,” ujar Donghae datar tanpa mau memandang Jung Ra yang sedang meneteskan air mata.

To be continued

 

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: