FRUIT LOVE [14/20]

hyuk2_副本

FRUIT LOVE

Chaptered FF

Author : Nita Henny

Cast : Go Jung Ra (OC) – Lee Donghae – Lee Hyukjae

Kim Ryeowook – Kim Youngwoon

Genre : Romance, Family, Brothership

Rating : PG-14

Note :
FF Ini udah pernah kupublish di blogku sendiri. Dulu, udah lama. Dan sekarang aku coba kirim ke sini hehehe.
You can visit my blog === >>> https://imajinasinita.wordpress.com/

Happy reading ~~~~

============================

Flashback on ~

“Aku menyukai Lee Hyukjae-ssi!”

Hyukjae terkejut mendengar ucapan Jung Ra.

“A-aku menyukaimu. S-sebenarnya sudah lama aku ingin mengatakannya padamu, tapi aku tidak berani. Aku cukup malu pada diriku sendiri walau hanya membayangkannya. Aku menyukaimu, Hyukjae-ssi.”

Hyukjae masih belum bisa menghilangkan wajah terkejutnya.

“Sejak pertama kali kita bertemu, aku sudah yakin kalau kau adalah orang baik. Sikap baik dan perhatian yang kau berikan padaku membuatku tidak bisa untuk tidak menyukaimu. Aku tahu ini bodoh, tapi aku tidak bisa menahan perasaan ini lebih lama lagi. Bahkan aku tidak bisa menyembunyikannya di depan ibuku dan Donghae,” kata Jung Ra seraya tertawa pelan. Jung Ra benar-benar merasa sudah gila!

Hyukjae menatap Jung Ra dengan tatapan yang sulit Jung Ra artikan.

“Setiap berada di dekatmu, aku tidak bisa mengatur detak jantungku. Aku gugup tiap kali kau memandangku. Bahkan aku hampir pingsan saat kau memelukku malam itu. Dan ciuman itu…” Jung Ra menghentikan ucapannya. Ditariknya napas dalam-dalam sebelum kembali melanjutkan kata-katanya.

“… walaupun kau bilang kau tidak bermaksud untuk melakukannya karena pengaruh soju, aku…… tetap menyukainya. Itu adalah ciuman pertamaku.”

Hyukjae mengerjap-ngerjapkan matanya sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain. Namun, itu hanya berlangsung beberapa detik saja karena selanjutnya Hyukjae kembali memandang Jung Ra yang ternyata masih menatapnya.

“Apa kau bisa mengatakan sesuatu daripada diam seperti itu, Hyukjae-ssi? Kalau kau tidak bicara, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku setelah ini karena aku saja masih tidak percaya aku bisa melakukan hal semacam ini sekarang,” pinta Jung Ra dengan cepat. Wajah Jung Ra nampak lebih gugup dari sebelumnya.

Melihat Jung Ra yang begitu gugup, Hyukjae hanya menghela napas panjang sambil tersenyum hangat. Kepalanya menunduk untuk beberapa detik sebelum membalas tatapan Jung Ra.

“Go Jung Ra …”

“Aigoo… ternyata hanya mengatakan hal itni saja sudah membuatku seperti habis berlari memutari komplek pertokoan di dekat tempat tinggal ibuku. Hyukjae-ssi…”

“Maaf,” potong Hyukjae ketika Jung Ra berusaha menjelaskan situasi yang terjadi pada dirinya setelah menyatakan perasaannya pada Hyukjae.

“Ya?”

“Aku minta maaf.”

“K-kenapa harus minta maaf? Apa aku salah mengucapkan sesuatu? Aaah… aku tahu sekarang. Kau pasti terkejut karena apa yang baru saja kukatakan. Iya kan? Sebenarnya aku juga tidak tahu kenapa aku bisa sampai seberani itu, tapi…”

“Aku minta maaf karena aku tidak mempunyai perasaan yang sama seperti yang kau rasakan,” potong Hyukjae sekali lagi.

Seketika senyum malu yang sejak tadi terulas di bibir Jung Ra menghilang. Sebuah tanda tanya besar terhias di wajah Jung Ra. Jujur saja Jung Ra belum mengerti apa yang baru saja dikatakan Hyukjae. Tidak, tidak…, Jung Ra bukannya belum mengerti, ia hanya sedikit bingung karena sebuah firasat buruk melintas di benaknya setelah mendengar ucapan Hyukjae tadi. Jung Ra memang belum tahu apa itu, hanya saja perasannya sudah tidak nyaman.

“Kau jangan berpikiran kalau aku sama sekali tidak menyukaimu. Aku menyukaimu, Jung Ra-ya. Kau adalah gadis yang manis, lembut, ceria dan baik walaupun kadang keras kepala. Aku yakin semua orang juga menyukaimu sama seperti aku menyukaimu. Tapi… rasa suka yang kumiliki ini bukanlah seperti yang kau miliki,” ucap Hyukjae.

Tubuh Jung Ra membeku. Benarkah apa yang ia takutkan akan terjadi?

“Aku tidak bisa menyukaimu lebih dari seorang tetangga. Maaf…”

“Kalau boleh tahu… kenapa rasa suka yang kau miliki berbeda dengan rasa suka yang kumiliki?” Pertanyaan bodoh itu meluncur begitu saja dari bibir Jung Ra. Entahlah… seakan ada sesuatu yang memaksanya untuk bertanya pada Hyukjae.

“Aku sedang menjalin hubungan dengan seorang wanita. Hubungan kami berdua sudah terjalin cukup lama,” jawab Hyukjae sedetik setelah Jung Ra bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Jung Ra.

Dengan susah payah Jung Ra berusaha mengembalikan dirinya yang seolah baru saja tersungkur di atas tanah yang penuh dengan pecahan kaca. Kaca-kaca tersebut melukainya hingga ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Tidak. Sekujur tubuhnya baik-baik saja. Tak ada luka yang terlihat akibat pecahan kaca-kaca tersebut. Rasa sakit itu berasal dari dalam hatinya. Pecahan kaca-kaca itu melukai hatinya begitu dalam.

“Eoh… itu… aku… maaf… Aku bukannya…”

“Go Jung Ra…”

Jung Ra memaksakan tawa sambil menggaruk tengkuknya. “K-kau tidak perlu khawatir, Hyukjae-ssi. Kau tidak perlu memikirkan apa yang kukatakan tadi. Anggap saja aku baru saja memberitahumu soal rahasiaku. Bukankah kita adalah teman? Jadi kau sedang berkencan dengan seorang wanita? Kenapa aku baru menyadarinya sekarang ya? Kalau tahu begini aku tidak akan… Aigoo…, Hyukjae-ssi, kenapa kau tidak mengatakan hal itu dari dulu?”

Jung Ra menepuk pelan bahu Hyukjae sambil tertawa. Dihirupnya udara malam dalam-dalam dan menghembuskannya sambil kembali tertawa pelan.

“Sudahlah. Aku tidak apa-apa. Aku memang sudah terlanjur mengungkapkan perasaanku padamu, tapi aku cukup tahu diri dan tidak mau mengganggu hubungan kalian berdua. Kau tahu, sebenarnya aku juga tidak terlalu yakin dengan apa yang kulakukan tadi, tapi bila aku terus-menerus memendamnya, bisa-bisa aku menjadi salah satu pasien di rumah sakit jiwa. Aah, tidak, seseorang berkata padaku kalau tidak akan ada rumah sakit yang mau menampung pasien yang gila karena tidak bisa mengutarakan perasaannya pada seseorang yang ia sukai. Haah… benar-benar konyol,” ujar Jung Ra seakan tindakannya adalah sesuatu yang lucu dan patut untuk dibuat bahan candaan.

Ekspresi wajah Hyukjae sulit untuk diartikan. Laki-laki itu sama sekali tak ikut tertawa seperti yang Jung Ra lakukan. Ia hanya menatap Jung Ra sambil menghela napas pelan hingga tiba-tiba ia menggerakkan kedua tangannya untuk memegang kepala Jung Ra.

Jung Ra cukup terkesiap mendapati kedua tangan Hyukjae kini memegang kedua sisi kepalanya. Jemari Hyukjae menyelipkan rambutnya ke belakang telinganya, sementara kedua mata Hyukjae tak berhenti untuk memandangnya. Tindakan Hyukjae tersebut berhasil membekukan diri Jung Ra. Hati Jung Ra berdenyut nyeri ketika menatap kedua mata teduh Hyukjae.

Perlahan wajah Hyukjae mendekat pada Jung Ra. Mengikis jarak di antara mereka berdua hingga Jung Ra bisa merasakan hembusan napas Hyukjae. Walaupun Jung Ra cukup terpukul dengan ucapan Hyukjae, entah kenapa jantungnya masih saja berdegup tak karuan ketika Hyukjae mendekatkan wajahnya padanya. Apakah kakak tiri Donghae itu akan kembali mencium bibirnya? Tapi untuk apa? Apa ciuman itu harus terjadi setelah sebuah kenyataan baru saja diketahui Jung Ra bahwa Hyukjae sudah mempunyai seorang kekasih?

Deg~

Jung Ra merasakan bibir hangat Hyukjae mengecup pipi kanannya dengan lembut untuk beberapa detik sebelum wajah Hyukjae menjauh darinya.

“Aku tidak mau kau terluka, Go Jung Ra,” kata Hyukjae pelan.

“Y-yaa… siapa yang akan terluka? Aku? Aigoo… berarti kau tidak mengenal diriku, Hyukjae-ssi. Dan… k-kenapa kau tiba-tiba menciumku seperti itu? Bagaimana kalau pacarmu melihat kelakuanmu tadi?” Jung Ra berusaha untuk berpura-pura kesal.

“Aku masuk dulu. Kau tidak ikut ke lantai dua?” tanya Hyukjae sambil bangkit dari duduknya.

“Eo? A-aku… aku masih ada urusan sebentar dengan temanku. Katanya dia akan membelikanku sup ikan sambil membahas rencana pernikahannya,” jawab Jung Ra asal.

Hyukjae hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sebelum menyuruh Jung Ra untuk segera pulang dan istirahat setelah urusannya selesai. Dilangkahkan kakinya menaiki tangga ke lantai dua.

Jung Ra berpura-pura mengomel tidak jelas sambil melihat ponseelnya hingga merasa yakin Hyukjae sudah tidak ada di tangga. Didengarnya suara pintu apartemen yang baru saja ditutup berasal dari lantai dua. Hyukjae sudah masuk ke dalam tempat tinggalnya. Jung Ra menurunkan ponselnya dari depan wajahnya dan terjatuh di atas pahanya. Pandangannya kosong untuk beberapa detik sebelum sesuatu menghalangi kedua matanya.

“Go Jung Ra Bodoh… Bodoh. Bagaimana bisa kau menyatakan perasaanmu seperti itu?”

Setetes air mata terjatuh begitu saja di pipinya dari pelupuk matanya. Dengan cepat Jung Ra menyeka air mata tersebut dengan punggung tangannya. Namun, entah kenapa tetesan air mata yang lain justru mendesak keluar dan kini membanjiri kedua pipinya. Jung Ra kewalahan untuk menyeka air matanya sendiri hingga akhirnya ia menyerah dan membiarkannya. Ingin rasanya ia menangis sekencang yang ia bisa karena ada rasa perih yang begitu hebat di dalam dadanya. Tetapi, ada sebuah teriakan di dalam kepalanya yang melarangnya.

Perlahan Jung Ra bangkit dari duduknya dan menatap anak tangga yang ada di bawahnya sebelum menuruninya satu per satu. Langkah kakinya terasa begitu berat saat meninggalkan area depan gedung tempat tinggalnya. Bahkan ketika menyusuri trotoar pun pandangan Jung Ra masih saja kosong. Air mata yang sejak tadi mengalir dengan deras entah kenapa berhenti begitu saja. Dadanya terasa begitu sesak, setiap tarikan napas yang Jung Ra buat seakan begitu berat.

Angin malam yang selalu berhembus cukup kencang dan dingin seakan tidak berpengaruh pada diri Jung Ra. Jung Ra sama sekali tak memperhatikan ke mana kakinya akan melangkah. Otaknya seakan sedang dipenuhi dengan ucapan-ucapan Hyukjae yang ia dengar beberapa saat lalu. Kata demi kata terekam begitu jelas di benaknya dan terdengar begitu memekakkan kedua telinganya.

Langkah Jung Ra terhenti tepat di depan sebuah pintu kaca yang terbuka penuh. Kedua matanya mengenali bentuk lantai keramik berwarna hitam yang sedikit kotor tersebut. Kepalanya yang sejak tadi menunduk terangkat dengan perlahan ketika mendengar sebuah alunan lagu yang tak asing di telinganya.

Mirai-e. Lagu milik Kiroro.

Dan mata Jung Ra yang sedikit membengkak karena menangis itu menangkap punggung lebar milik seorang laki-laki yang sedang berdiri di depan sebuah meja panjang. Kemeja kotak-kotak milik laki-laki itu sedikit kusut di bagian belakangnya. Tangan laki-laki itu baru saja meletakkan ponselnya di tepi meja.

Donghae.

Ya laki-laki itu adalah Lee Donghae. Dan Jung Ra sedang berdiri di ambang pintu toko tempatnya bekerja. Tak ada yang bisa menjelaskan pada Jung Ra kenapa kakinya membawanya ke tempat ini. Ya, tidak ada siapapun yang bisa menjelaskannya pada Jung Ra. Bahkan diri Jung Ra sendiri.

Entah kenapa Jung Ra memilih untuk bergerak mendekati Donghae. Tak ada suara sedikitpun yang ditimbulkan oleh Jung Ra yang kini sudah berdiri tepat di belakang Donghae. Perlahan Jung Ra menggerakkan kedua tangannya ketika Donghae akan mengambil apel yang sedikit jauh dari jangkauannya. Dipeluknya pinggang Donghae dari belakang dengan sangat erat dan ditempelkan wajahnya pada punggung Donghae yang entah kenapa baru Jung Ra sadari punggung tersebut begitu hangat.

“Jung Ra?”

Terdengar suara Donghae yang begitu khas. Tapi entah kenapa ketika mendengar Donghae menyebut namanya, mendadak kedua mata Jung Ra kembali sembab. Bahkan Jung Ra tak membiarkan Donghae yang berusaha melepaskan tautan tangannya yang begitu erat memeluk pinggangnya.

“Aku membencinya,” keluh Jung Ra dengan lirih dan lemah.

“Apa maksudmu?”

“Aku membencinya, Lee Donghae,” Jung Ra mengulangi ucapannya dengan suara yang tercekat karena isakan tertahannya. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya. Genangan air mata itu bisa tumpah kapan saja.

Lagi-lagi Jung Ra mengeratkan tangannya ketika Donghae memegang pergelangan tangannya dan berusaha untuk melepaskan pelukan tersebut. Jung Ra berusaha untuk mengomeli Donghae dengan panjang lebar, tapi yang keluar dari mulutnya hanyalah gumaman-gumaman tidak jelas yang disertai dengan isak tangis. Namun, saat Donghae kembali berusaha melepaskan pelukan Jung Ra, tangis Jung Ra yang sejak tadi tertahan akhirnya tumpah.

“Go Jung Ra, jangan seperti ini!”

Jung Ra yang cukup terkejut mendengar teriakan Donghae tanpa sadar melonggarkan pelukannya dan ternyata karena tindakannya itu Donghae berhasil melepaskan tangannya dan memutar tubuh untuk menghadap Jung Ra.

Seketika Jung Ra menundukkan kepalanya. Tangisnya belum berhenti dan kedua bahunya bergetar hebat. Tangannya mengepal erat, seakan berusaha untuk menghentikan tangisnya. Tapi entah kenapa tangisnya itu sama sekali tak mau berhenti. Jung Ra yakin Donghae kini sedang menatapnya, tapi Jung Ra sama sekali tidak mempunyai keberanian untuk membalas tatapan Donghae. Rasanya kepala begitu berat hingga Jung Ra kesulitan untuk menggerakkannya.

Perlahan Jung Ra merasakan sebuah tangan menarik bahu mungilnya dan sedetik kemudian ia bisa mendengar detak jantung Donghae di dekat telinganya. Donghae sedang memeluknya. Salah satu tangannya spontan bergerak menyusuri kemeja depan bagian dada Donghae dan mengepalkannya a di sana.

“Tidak peduli dia kakakmu atau bukan, saat ini aku benar-benar membencinya. Sangat membencinya hingga aku ingin menjatuhkan dirinya dari lantai dua,” keluh Jung Ra, suaranya begitu parau karena tangisannya sejak tadi sama sekali belum menandakan akan segera mereda.

Merasakan pelukan Donghae semakin erat pada tubuhnya, Jung Ra semakin menenggelamkan wajahnya pada dada Donghae. Kehangatan yang Jung Ra rasakan ketika Donghae mempererat pelukannya memang menjalar pada seluruh tubuhnya, namun rasa sesak dan sakit yang masih bersemayam di dalam dadanya belum juga hilang. Ini bukan karena Donghae terlalu erat memeluknya, ini karena Hyukjae.

“Maaf.”

Walaupun pelan Jung Ra masih bisa mendengar sebuah kata ‘maaf’ dari Donghae. Jung Ra tidak terlalu memperhatikan apa maksud kata Donghae tersebut karena perasaannya sendiri masih tidak karuan sekarang. Tindakan gilanya yang menyatakan perasaan pada Hyukjae sudah membuatnya kehilangan akal sehatnya. Tak ada yang bisa ia lakukan saat ini selain menangis, menangis dan menangis.

Flashback off~

 

At Hyukjae’s Apartment …

Hyukjae menutup pintu apartemen yang ada di belakang tubuhnya dengan pelan. Sambil menghela napas pelan laki-laki berambut gelap itu berjalan mendekati tempat tidurnya yang ada di sudut ruangan. Lagi-lagi ia menghela napas ketika mendaratkan tubuhnya di tepi tempat tidur. Matanya terpejam ketika ia memilih untuk merebahkan tubuhnya, merasakan sensasi gelombang yang ditimbulkan dari kasur busa miliknya.

‘Aku menyukai Lee Hyukjae-ssi!’

Mata Hyukjae terbuka, menatap langit-langit apartemennya yang berwarna putih. Hyukjae sama sekali tak menyangka Jung Ra akan mengatakan hal tersebut padanya. Sungguh… Hyukjae sama sekali tak menyangkanya. Jujur saja, hati Hyukjae saat itu benar-benar berbunga-bunga mendengarnya.

Jung Ra menyukainya.

Gadis itu menyukainya.

Dan ia menyukai gadis itu.

Ia menyukai Jung Ra.

Itulah fakta yang ada pada diri Hyukjae. Fakta yang seharusnya menuntun bibir Hyukjae untuk berkata “Iya, aku juga menyukaimu”. Mungkin saja Hyukjae harus menghukum dirinya sendiri yang telah berkata pada Jung Ra bahwa ia hanya menyukai gadis itu tak lebih dari seorang tetangga, bahwa ia menyukainya seperti semua orang yang menyukai Jung Ra.

Ya, sebuah hukumanlah yang pantas diterima oleh Hyukjae karena apa yang dirasakan gadis itu padanya juga dimiliki oleh Hyukjae. Ia menyukai Jung Ra karena manis, ramah dan kadang-kadang keras kepala, itu memang benar. Hyukjae tidak bohong untuk hal tersebut. Hyukjae hanya berbohong bila ia tidak menyukai kehadiran Jung Ra yang selalu membuatnya nyaman. Hyukjae berbohong bila ciuman yang ia daratkan di bibir Jung Ra malam itu hanyalah karena pengaruh soju. Hyukjae berbohong bila ia tidak menyukai ciuman tersebut.

Ia menyukainya. Menyukai semuanya.

Seperti Jung Ra, ia juga selalu gugup bila bertemu dengan gadis itu, hatinya selalu bahagia tiap kali berbicara dengan gadis itu, jantungnya selalu saja berdegup tak karuan tiap memandang kedua mata besar gadis itu. Mungkin saja reaksi yang Hyukjae alami tidak terlalu nampak karena pembawaannya yang selalu tenang sejak dulu.

Hyukjae juga tidak bisa melupakan momen-momen di mana Jung Ra yang memeluknya, membiarkannya menangis di bahu mungilnya hingga akhirnya gadis itu ikut menangis bersamanya.

Hyukjae menyukainya. Sangat menyukainya.

Atau mungkin… ia mencintainya.

Cinta …

Hyukjae kembali memejamkan matanya ketika lampu yang ada di atasnya terasa semakin menyilaukannya. Tangannya meremas sprei yang ada di dekatnya. Hatinya berdenyut bila mendengar kata cinta.

Ya, mungkin saja Hyukjae tidak menyukai Jung Ra, melainkan sudah mencintainya.

Tetapi… ia tidak bisa membiarkan perasaan itu menguasai dirinya.

Tidak. Tidak bisa. Ia tidak bisa membiarkan Jung Ra menyukainya. Ada sebuah janji yang membuatnya harus menghempaskan perasaan itu jauh-jauh darinya. Sebenarnya Hyukjae sudah menduga hal ini akan terjadi. Dan bodohnya walaupun ia tahu apa yang ia takutkan akan terjadi, ia tetap melangkah maju sejauh ini dan masih bersikap seolah memberikan harapan pada Jung Ra.

Hyukjae bisa melihat dengan jelas kekecewaan di sorot mata Jung Ra walaupun gadis itu memaksa untuk tertawa dan berkata seolah ia tidak apa-apa. Hati Hyukjae berdenyut nyeri melihat ekspresi ceria yang nampak dipaksakan oleh Jung Ra tadi. Mungkin Hyukjae tidak akan merasa sesesak ini bila tadi Jung Ra menyerangnya dengan pukulan-pukulan di seluruh tubuhnya atau menampar wajahnya dengan keras agar ia bisa yakin bahwa ia baru saja menyakiti perasaan Jung Ra.

“Kau jangan menyukaiku, Go Jung Ra. Sedikit pun jangan sampai kau menyukaiku. Kau harus membuangnya. Kau harus. Harus,” ucap Hyukjae lirih.

***

A week later…

Jung Ra merasakan usapan lembut pada rambutnya saat kedua matanya masih terpejam. Bahkan kini ia bisa merasakan hangatnya sebuah telapak tangan yang sedikit kasar pada keningnya. Jung Ra mengenali milik siapa telapak tangan tersebut. Telapak tangan yang selalu mengusap lembut kening dan rambutnya, yang membuat Jung Ra merasa tenang.

Sedetik kemudian belaian lembut telapak tangan tersebut berubah menjadi sebuah jeweran kecil pada daun telinganya yang mau tidak mau membuat Jung Ra sedikit meringis kesakitan.

“Mau sampai kapan kau akan tidur seperti ini?” Suara khas milik Nyonya Im, ibunya terdengar dekat di telinga Jung Ra.

Jung Ra hanya mengerang pelan sambil berusaha menarik selimut yang entah sejak kapan kabur dari atas tubuhnya. Karena tangannya tak bisa menemukan letak selimut tersebut, akhirnya kini kedua kakinya yang bergerak tidak menentu di bawah sana untuk mencari keberadaan selimutnya. Jung Ra baru akan menarik selimut yang ditemukan oleh kakinya ketika ia merasakan lengannya berkedut karena habis dipukul oleh ibunya.

Eomma!” Jung Ra terpaksa membuka matanya yang sebenarnya enggan ia lakukan karena masih merasa mengantuk.

“Kau tidak lihat sudah jam berapa ini? Aigoo, kerjaanmu hanya melamun, tiduran, melamun, tiduran di tempat tinggalku seminggu ini. Apa kau sama sekali tidak punya niat untuk datang ke tempatmu bekerja? Setengah jam yang lalu Si Wookie datang mencarimu. Aku harus berbohong padanya dengan mengatakan bahwa kau sedang sakit,” ujar Nyonya Im setelah berhasil mendudukkan putrinya di tepi tempat tidur yang sedikit reyot itu.

“Ryeowook Oppa?” Jung Ra bertanya bukan karena terkejut mendengar temannya itu datang untuk mencarinya, melainkan karena ia tahu ini sudah ke-tujuh kalinya Ryeowook datang. Lagi. Jung Ra tahu Ryeowook pasti sangat mengkhawatirkannya karena mendadak sulit dihubungi tanpa alasan yang jelas.

Tanpa alasan yang jelas. Ya, Jung Ra memang tidak menceritakan apa yang sudah ia alami pada Ryeowook. Mungkin reaksi yang ditunjukkan oleh Ryeowook adalah mengernyitkan kening dan memasang tanda tanya super besar di wajah ketika tahu kalau temannya sedang merasakan patah hati hebat karena ditolak oleh orang yang disukainya.

Benar-benar menyedihkan.

Sehari setelah ‘terdampar’ di toko Donghae malam itu, Jung Ra memilih untuk kabur ke tempat ibunya daripada pulang ke tempat tinggalnya. Selain sedang tidak ingin bertemu dengan siapapun di sana, Jung Ra juga masih cukup ‘trauma’ bila harus berdiri di depan tangga yang ada di lantai dasar. Di sana, di tempat itu sudah terjadi sebuah momen yang sangat memalukan baginya. Momen yang sangat memalukan dirinya sendiri selama ia hidup di dunia ini.

“Kalau kau ingin makan, aku sudah menyiapkannya di atas meja makan. Jangan lupa untuk mencuci piring dan mangkuknya kalau kau sudah selesai makan. Bersihkan tempat tidurmu itu kalau tidak mau kuusir dari sini. Aku harus keluar dulu karena tadi Bibi Park menyuruhku untuk membantunya mencuci baju. Kau tahu sendiri ‘kan setiap hari wanita tua itu selalu mencuci tumpukan baju yang sudah setinggi gunung? Mungkin aku baru akan pulang sore nanti.” Nyonya Im tak memperhatikan putrinya yang sedang melamun di atas tempat tidur dan langsung menyambar tas hitamnya. Setelah mengusap puncak rambut Jung Ra, wanita itu seraya keluar dari tempat tinggalnya dan menutup pintu begitu saja.

Jung Ra hanya mendesah pelan sambil bangkit dari atas tempat tidur dan berjalan pelan menuju meja makan. Setelah duduk di salah satu kursi kayu yang mengelilingi meja tersebut, Jung Ra hanya terdiam memandang meja makan yang sudah ada satu mangkuk penuh nasi hangat dan satu mangkuk besar berisi sup tofu kesukaannya. Tak ada niatan bagi Jung Ra untuk memakan makanan tersebut sampai tangannya terulur dengan sendirinya mengambil sendok dan menyendok penuh nasinya.

Pandangan matanya kosong saat nasi tersebut sudah memenuhi rongga mulutnya. Jung Ra mengunyah pelan makanannya. Bahkan sepertinya ia enggan untuk menelannya.

‘Aku minta maaf karena aku tidak mempunyai perasaan yang sama seperti yang kau rasakan.’

‘Aku tidak bisa menyukaimu lebih dari seorang tetangga. Maaf…’

‘Aku sedang menjalin hubungan dengan seorang wanita. Hubungan kami berdua sudah terjalin cukup lama.’

Mata Jung Ra mau tidak mau kembali sembab. Jung Ra buru-buru menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan cepat. Begitu seterusnya hingga Jung Ra merasa ia tak lagi akan menangis.

Namun, sepertinya usahanya gagal. Air mata tetap saja mengalir sendiri dari pelupuk matanya dan membanjiri wajahnya. Jung Ra melepaskan sendok yang sejak tadi ia pegang. Sendok tersebut tergeletak di dekat mangkuk nasinya dengan menyedihkan. Isakan tangisnya memenuhi ruangan tersebut hingga akhirnya Jung Ra terpaksa membekap mulutnya sendiri.

Sepertinya Jung Ra lebih memilih untuk patah kaki daripada patah hati seperti ini. Rasanya sangat sakit dan benar-benar sesak. Tiap membuka mata untuk mengawali hari di pagi hari rasanya Jung Ra sudah tidak bisa. Nafsu makannya berkurang dengan tiba-tiba seiring waktu berjalan.

Ya… memang patah hati yang dirasakan Jung Ra terlalu dramatis. Berlebihan, mungkin. Berlebihan? Benarkah reaksi yang ditunjukkan oleh Jung Ra berlebihan? Bukankah di dunia ini tidak hanya dirinya yang patah hati? Pasti ada gadis lain ‘kan yang juga patah hati sepertinya, ditolak oleh laki-laki yang disukai?

Kalau Jung Ra boleh egois, Jung Ra merasa hanya dirinyalah yang begitu menyedihkan dan memalukan. Menyatakan perasaan pada orang yang ia sukai, kemudian mendapat jawaban yang sungguh di luar dugaannya, tidak, itu salah, jawaban yang ia dapat bukanlah di luar dugaannya, melainkan mimpi buruk yang ia takuti. Laki-laki itu menolaknya dengan sangat sopan, mengatakan bahwa ia hanya menganggapnya tak lebih dari seorang tetangga yang manis dan baik. Dan jangan lupakan kenyataan bahwa ia tahu laki-laki itu ternyata sudah memiliki seorang kekasih.

Kalau Jung Ra boleh egois lagi, ini memang saat-saat yang paling ‘berlebihan’ dan ‘dramatis’ di dalam hidupnya. Ya… itu wajar karena selama Jung Ra hidup selama dua puluh enam tahun di dunia, ini adalah pertama kalinya bagi Jung Ra merasakan perasaan-perasaan semacam ini.

Lee Hyukjae, laki-laki itulah yang pertama kali mengenalkan Jung Ra pada perasaan berdebar-debar secara tidak langsung. Lee Hyukjae-lah yang pertama kali membuat Jung Ra tidak bisa bersikap tenang tiap sedang berdua. Lee Hyukjae-lah yang pertama kali membuat Jung Ra mengakui perasaannya sendiri bahwa ia menyukainya. Sangat menyukainya.

Tetapi… tidak hanya itu saja.

Lee Hyukjae juga yang pertama kali membuat Jung Ra patah hati, membuat Jung Ra rela menangis seperti orang gila, dan membuat Jung Ra sempat memiliki pemikiran untuk menjatuhkannya dari lantai dua gedung tempat tinggal mereka.

Sangat bodoh.

Baru kali ini Jung Ra merasa begitu ‘bukan Go Jung Ra’. Apakah benar ini adalah dirinya? Karena ditolak oleh Hyukjae sudah membuat Jung Ra sengsara seperti ini? Daebak… seorang Lee Hyukjae sudah berhasil menguasai seluruh diri Jung Ra.

“Aku benar-benar menyedihkan,” suara Jung Ra terdengar parau di sela tangisnya. Sedetik kemudian, tangis itu terhenti dan berubah dengan batuk yang cukup membahana di tempat tinggal sederhana itu.

Jung Ra tersedak nasinya sendiri karena makan sambil menangis tersedu-sedu dan berbicara. Buru-buru diambilnya gelas yang berisi air putih di dekat tangannya dan meneguknya untuk mengurangi efek tersedak yang ternyata begitu menyebalkan baginya.

Kenapa ia harus tersedak di saat-saat yang seharusnya hanya ia gunakan untuk menangis sedih?

Jung Ra memukul-mukul pelan dadanya. Rasa sakit karena tersedak bercampur dengan rasa sakit yang ada di dalam hatinya selama satu minggu ini. Setelah dirasa batuk tak akan datang lagi Jung Ra menghela napas secara perlahan. Begitu seterusnya hingga ia mendengar bunyi getaran yang berasal dari ponselnya di atas tempat tidur.

Jung Ra berdiri dan berjalan untuk mengambil ponselnya. Dilihatnya ada nama Donghae pada panggilan masuknya. Walaupun masih dalam masa patah hati akut Jung Ra juga tidak akan kehilangan daya ingatnya yang cukup pas-pasan. Bila Jung Ra harus mengingat-ingat, sepertinya hanya nomor ponsel Ryeowook yang menjadi penghias daftar panggilan tidak terjawab pada ponselnya satu minggu ini. Dan pagi ini cukup mengejutkan juga ada nama Donghae di layar ponselnya.

Ia baru teringat kalau selama satu minggu ini ia sama sekali tak memberi kabar apapun pada bosnya itu. Maka dari itu ia memilih untuk menerima telepon dari Donghae.

Yeoboseo?” ujar Jung Ra pelan.

Terdengar helaan napas dari seberang telepon sana. Entahlah, apakah itu adalah helaan napas dari awal kemarahan Donghae atau hanya sebuah helaan napas saja. Jung Ra tahu konsekuensinya. Ia akan siap mendengar amarah Donghae.

Kau sudah makan?”

Jung Ra terpaksa memandang layar ponselnya sebentar sebelum kembali mendekatkannya pada telinganya lagi. Di luar dugaannya, suara Donghae justru begitu lembut. Bahkan sangat lembut hingga membuat Jung Ra berpikir ratusan kali untuk meyakinkan dirinya bahwa yang sedang menghubunginya adalah Donghae.

“Aku…”

Keluarlah. Aku ada di bawah tangga. Kalau kau tidak segera datang, gajimu akan kupotong lima puluh persen.

PIP~

Jung Ra dibuat kelabakan mendengar kata-kata Donghae sebelum pembicaraan mereka putus. Gajimu akan kupotong lima puluh persen? Buru-buru Jung Ra memasukkan ponselnya ke dalam saku celana training yang ia pakai dan melesat keluar. Kali ini rasa patah hatinya akan semakin menyakitkan bila gajinya ikut menjadi korban hanya karena tidak segera menemui Donghae. Gajinya itu sama sekali tak bersalah.

“A-aku su-sudah datang,” ujar Jung Ra terengah-engah setelah turun dari tangga yang ada di depan gedung kumuh tempat ibunya tinggal.

Donghae memutar tubuhnya sambil tersenyum. Namun, senyum itu memudar ketika melihat kondisi Jung Ra yang tak seperti biasanya. Tubuh gadis itu terlihat kurus dengan sepasang mata yang bengkak seperti habis menangis.

Kondisi yang sama sekali tidak ingin Donghae lihat setelah satu minggu lamanya tak bertemu dengan Jung Ra.

“Kau ini menyedihkan sekali,” gumam Donghae.

“Hah?” Jung Ra tidak mendengar dengan jelas apa yang baru saja dikatakan Donghae. Tetapi, belum sempat ia kembali bertanya, pergelangan tangannya sudah digenggam oleh Donghae.

“Kita mau ke mana?” tanya Jung Ra terkejut karena tiba-tiba Donghae menariknya.

“Memberimu makan.” Hanya itu jawaban yang diberikan Donghae sambil terus menarik Jung Ra meninggalkan area gedung kumuh tersebut.

 

 

“Habiskan semua,” ujar Donghae setelah meletakkan satu bungkus kimbab, satu botol kecil susu segar dan satu botol air mineral di atas bangku kayu yang sedang diduduki Jung Ra.

“Tapi aku sudah makan,” elak Jung Ra.

“Aku tidak melihat tanda-tanda kau baru saja makan. Seingatku pipimu tidak sekempot ini. Nih, makan.” Donghae menyodorkan bungkusan kimbab yang sudah ia buka pada Jung Ra.

Jung Ra hanya memandangi isi bungkusan tersebut. Nasi gulung yang berisi beberapa macam lauk di dalamnya. Orang lain saja pasti akan langsung melahapnya.

“Apa satu minggu ini kau lupa bagaimana caranya makan kimbab?” Donghae menggerakkan bungkusan kimbab di depan wajah Jung Ra yang masih memandangnya.

“Atau aku harus menyuapimu? Baiklah kalau begitu.” Akhirnya Donghae menjauhkan bungkusan kimbab dari wajah Jung Ra dan mengambil satu potongan yang paling atas, mendekatkan potongan kimbab tersebut ke mulut Jung Ra dan menyuruhnya untuk segera membuka mulut.

“Satu suapan kimbab bisa kuhargai tiga ratus won. Jadi kalau dihitung berdasar jumlah potongan yang ada di …” Donghae sedikit tersentak ketika Jung Ra merampas potongan kimbab yang ada di tangannya dan bungkusan kimbab di tangannya yang lain. Melihat gadis itu memasukkan potongan kimbab ke dalam mulut mungilnya sambil memandangnya kesal dan mulai mengunyahnya membuat Donghae tersenyum geli.

Paling tidak otak gadis itu tidak seluruhnya ikut merana karena patah hati dan masih mau memikirkan kesejahteraan keuangannya. Dilihatnya sudah lebih dari lima potong kimbab yang habis dilahap Jung Ra. Takut bila Jung Ra tersedak, Donghae pun membukakan botol air mineral dan mendekatkannya di dekat paha Jung Ra.

“Sepertinya ada yang tersangkut di…” Jung Ra menundukkan kepalanya sambil menggerakkan tangannya untuk mengambil botol air mineral yang tadi diberikan Donghae. Hanya saja, sepertinya ia tidak tahu kalau Donghae sudah membuka botol tersebut, akibatnya tangan Jung Ra yang tanpa sengaja menyenggol botol itu membuat botol itu tergeletak dan isinya tumpah ke bawah bangku.

Yaa! Kenapa kau menumpahkannya?!” Suara Donghae mendadak berubah tinggi saat Jung Ra menumpahkan air mineral tersebut.

“Aku tidak tahu kalau botol itu sudah terbuka. Kenapa kau jadi membentakku, sih?” balas Jung Ra kesal karena terkejut mendengar bentakan Donghae.

“Aku tadi membukakannya untukmu. Dasar tidak tau terima kasih. Bukannya meminumnya malah menumpahkannya,” gerutu Donghae.

“Siapa yang menyuruhmu untuk membukakan botol itu untukku? Kau pikir aku tidak bisa membukanya sendiri? Aku bukan anak kecil, Tuan Lee. Dan apa tadi, satu suapan bisa kuhargai tiga ratus won? Kau ini mata duitan sekali, sih! Sebenarnya kau ini ikhlas tidak mentraktirku semua ini, hah? Kau ini senang sekali memotong gajiku!” Jung Ra masih bisa membalas Donghae.

Kali ini Donghae tak membalas. Ia hanya memandang Jung Ra sambil menghela napas lega. Ia pikir sosok Jung Ra yang keras kepala, polos dan selalu menyerangnya dengan omelan pedas tiap kali ia marahi akan tergantikan dengan Jung Ra yang pendiam dan suka menangis karena kejadian seminggu yang lalu. Bagaimanapun juga, ini semua salahnya. Salahnya sudah memaksa Jung Ra untuk mengungkapkan perasaan pada Hyukjae. Kalau tahu Jung Ra akan ditolak, mungkin saja ia akan mengurungkan niat gilanya, walaupun sampai sekarang ia belum tahu kenapa Hyukjae menolak Jung Ra.

“Kalau begitu minum ini saja,” suara Donghae melembut. Disodorkannya botol kecil berisi susu segar pada Jung Ra.

Jung Ra membuang wajahnya kesal dan memandang lurus-lurus ke arah jalanan setapak taman yang ada di depannya. Menolak pemberian Donghae.

“Kau bisa tersedak kalau tidak segera minum,” lagi-lagi suara Donghae terdengar lembut.

Perlahan Jung Ra menolehkan wajahnya kembali pada Donghae. Dilihatnya laki-laki itu tetap menyuruhnya untuk meminum susu tersebut. Ya, sepertinya ucapan Donghae yang itu harus ia turuti. Lepas dari suara Donghae yang memang melembut pagi ini, ia juga tidak mau mau kembali tersedak seperti beberapa saat lalu di depan meja makan yang ada di rumah ibunya.

Akhirnya Jung Ra menerima susu tersebut walaupun masih mempertahankan wajah kesalnya dan meminumnya perlahan-lahan. Mendadak Jung Ra membekap mulutnya dengan cepat ketika merasa akan bersendawa. Matanya terbelalak menahannya. Tidak mungkin ia bersendawa di samping Donghae. Mau ditaruh mana wajahnya nanti?

Jung Ra bernapas lega karena Donghae tidak memperhatikannya. Laki-laki itu sepertinya sedang memperhatikan sesuatu di depan. Andaikan Jung Ra membiarkan bunyi sendawa itu lolos begitu saja dari mulutnya, sudah bisa dipastikan harga diri Jung Ra sebagai seorang perempuan di depan Donghae akan hancur.

“Go Jung Ra, aku minta maaf,” tiba-tiba Donghae mengucapkan sesuatu yang membuat Jung Ra terpaksa menghentikan tangannya yang akan kembali mengambil potongan kimbab.

“Ke… napa kau tiba-tiba meminta maaf padaku?” tanya Jung Ra sedikit bingung.

Donghae menarik napas sebelum menjawab pertanyaan Jung Ra. Donghae ingin menjawabnya dengan memandang wajah Jung Ra, hanya saja ia tidak mau bila harus kembali melihat kedua mata Jung Ra yang dipenuhi air mata seperti malam itu.

“Lee Donghae,” panggil Jung Ra yang sedikit kesal karena pertanyaannya tak dijawab oleh Donghae

“Aku meminta maaf karena sudah memaksamu untuk bertemu dengan Hyukjae,” ujar Donghae.

Jung Ra berhenti mengunyah nasi gulung yang sudah ada di dalam mulutnya ketika mendengar nama Hyukjae disebut oleh Donghae. Padahal setengah jam di taman ini Jung Ra hampir berhasil untuk tidak memikirkan Hyukjae karena merasa kesal pada Donghae. Namun, kini, seolah baru saja bangun dari tidurnya, Jung Ra kembali harus merasa berdenyut mendengar nama Hyukjae.

“Kalau saja aku tidak mengirimkan pesan konyol itu padanya agar menemuimu di tangga lantai dasar gedung apartemen mungkin saja kau tidak akan seperti ini. Kalau saja aku tahu kau akan menangis kencang seperti gadis gila, aku tidak akan memaksamu untuk menyatakan perasaanmu padanya,” akhirnya Donghae menjawab.

Untuk beberapa detik Jung Ra hanya tertegun melihat Donghae yang masih tak mau mengalihkan pandangannya dari depan. Jung Ra baru ingat kalau ‘bencana’ yang menimpanya malam itu adalah karena ulah Donghae. Seharusnya Jung Ra marah pada Donghae karena membuatnya merasakan patah hati yang begitu memilukan seperti satu minggu ini. Namun, entah kenapa amarah itu sama sekali tak ada di benak Jung Ra.

“Justru seharusnya aku yang berterima kasih padamu,” ujar Jung Ra.

Seketika Donghae mengalihkan pandangannya pada Jung Ra. Apakah gadis yang duduk di sampingnya ini sedang kehilangan sebagian isi kepalanya? Bagaimana bisa di situasi seperti ini gadis bermata besar itu bisa berterima kasih padanya?

“Aku tidak mengerti maksudmu.”

“Karena ulahmu akhirnya aku tahu sebuah kenyataan yang ada di hadapanku. Aku mengetahuinya sedikit lebih cepat. Andaikan kau tidak memaksaku untuk bertemu dengan Hyukjae mungkin saja aku akan terus salah paham.”

Donghae semakin tidak mengerti dengan ucapan Jung Ra. Ia hanya bisa mengernyitkan keningnya sambil menatap heran ke arah Jung Ra.

“Kau tahu, kakakmu itu …”

“Sudah kubilang berhenti menyebut dia kakakku. Kau ini sebenarnya…”

“Bisa diam dulu tidak dan dengarkan apa yang ingin kukatakan padamu? Dan satu lagi, kau mau memenggal kepalaku sekalipun di mataku dia adalah kakakmu dan kau adalah adiknya. Titik,” Jung Ra membuat Donghae mengatupkan bibir rapat-rapat karena nada kesal yang keluar saat ia bicara.

Jung Ra menghela napas sejenak sebelum kembali membuka mulutnya, memberitahu sebuah fakta yang sudah membuatnya banjir air mata kemarin, yaaa… walaupun sampai sekarang ia masih saja suka menangis.

“Kalau kau tidak memaksaku untuk bertemu dengannya malam itu, mungkin aku tidak akan pernah tahu kalau ternyata selama ini aku menyukai seorang laki-laki yang sudah memiliki kekasih,” kata Jung Ra dengan pelan. Jung Ra tahu suara yang ia keluarkan pelan, tapi hatinya berteriak-teriak sekencang mungkin, membodohi dirinya yang bisa mengatakan hal itu dengan tenang.

Hanya dengan gerakan mata saja, sudah terlihat jelas kalau Donghae terkejut mendengar apa yang dikatakan Jung Ra. Hyukjae memiliki seorang kekasih? Apakah ia melewatkan sesuatu tentang kakaknya itu selama sepuluh tahun ini?

“Dia berkata kalau dia juga menyukaiku, tapi tak lebih dari seorang tetangga dan seorang teman. Rasa suka yang dia miliki ternyata berbeda dengan milikku. Mungkin selama ini aku yang terlalu berlebihan menganggap semua sikap dan perhatian yang dia berikan. Haaah… benar-benar konyol.” Jung Ra menundukkan kepalanya. Ia tidak percaya ia sanggup mengatakan hal itu pada Donghae. Padahal hatinya saja masih belum bisa menerima kenyataan itu. Wajah dan senyum hangat Hyukjae masih belum hilang dari benaknya.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Donghae beberapa detik kemudian setelah dirinya dan Jung Ra sama-sama terdiam.

Jung Ra yang menatap kerikil-kerikil di dekat kakinya hanya menggelengkan kepala secara perlahan. Raut wajahnya berubah sendu. Kekuatan untuk berkata “Aku tidak apa-apa” rasanya menghilang entah ke mana. Memang itu yang dirasakan Jung Ra. ia tidak dalam keadaan tidak apa-apa.

Rasa simpati menjalar di hati Donghae melihat Jung Ra seperti itu. Untuk masalah ini…, entahlah, Donghae merasa tidak bisa membantu apa-apa. Ini bukan masalah nyata yang bisa diselesaikan hanya dengan bicara ini itu saja. Masalah yang sedang dihadapi Jung Ra adalah masalah hati. Rumit.

Inilah yang tidak Donghae suka. Ia benar-benar sudah tinggal di dunia yang tidak waras, lengkap dengan segala sesuatu yang bisa membuatnya kehilangan akal sehat sewaktu-waktu. Dan salah satunya adalah yang sedang dihadapi Jung Ra tersebut.

Menyebalkan sekali.

***

Donghae berjalan pelan mendekati area depan gedung tempat tinggalnya sambil sesekali menendang batu-batu kecil yang menghalangi jalannya. Berulangkali ia memijat tengkuknya yang lumayan pegal karena jumlah pembeli yang lagi-lagi membludak. Bahkan ia dan Ryeowook melewatkan jam makan siang untuk melayani pembeli-pembeli itu. Dan malam ini rasa lapar kembali menyerangnya.

Langkah kakinya perlahan melambat saat melihat sebuah mobil melintas di dekatnya dan berhenti di bawah pohon rindang yang ada di area depan gedung. Sosok Hyukjae keluar dari mobil tersebut. Donghae hanya mendesah pelan sambil kembali melanjutkan jalannya.

“Kau baru pulang?” Baiklah, mungkin ini adalah pertama kali bagi Donghae bertanya seperti itu pada Hyukjae. Biasanya ia membiarkan Hyukjae yang menyapanya terlebih dulu.

Hyukjae yang baru saja menutup pintu menoleh ke belakang dan mendapati sosok adiknya yang berdiri tak jauh darinya. Ia hanya menganggukkan kepalanya dan berjalan menghampiri Donghae.

“Kau juga baru pulang?”

Donghae mendengus pelan mendengar pertanyaan yang sama dilontarkan oleh Hyukjae padanya. Menggelikan sekali. Kau baru pulang, kau juga baru pulang, benar-benar menggelikan. Donghae baru akan menjawab pertanyaan Hyukjae saat terdengar sebuah bunyi yang mau tidak mau membuatnya harus segera membunuh dirinya sendiri.

Hyukjae terpaksa mengangkat kedua alisnya dengan sempurna saat mendengar bunyi khas orang yang kelaparan. Dan bunyi itu berasal dari perut adiknya.

“Kau belum makan?”

“Hah?”

 

Hyukjae hanya memandang Donghae yang begitu lahap menikmati satu porsi jumbo ramyun panas yang dihidangkan oleh pemilik kedai ramyun di dekat gedung apartemen mereka. Terulas sebuah senyum tipis saat menyadari Donghae yang sekarang ternyata memang tidak pernah berubah. Cara adiknya melahap makanan kesukaannya tetap sama seperti delapan belas tahun yang lalu. Tetap sama seperti Donghae kecil.

Bahkan Hyukjae yang baru akan memasukkan ramyun yang ada di antara sepasang sumpitnya terpaksa terkejut melihat Donghae mengangkat mangkuk ramyun dan meneguk kuahnya. Adiknya itu lantas bersiul kecil setelah meletakkan mangkuk ramyun yang kosong ke atas meja.

Hyukjae sungguh-sungguh tidak tahu kalau kebiasaan Donghae yang satu itu masih ada hingga sekarang. Benar-benar imut.

“Aku boleh pesan satu porsi lagi? Kali ini bukan yang jumbo, aku hanya akan memesan yang porsi standar,” ujar Donghae pada Hyukjae dengan polos. Entahlah, sepertinya rasa laparnya yang tidak bisa ditahan lagi membuat Donghae melupakan sebuah batas yang seharusnya ia buat di antara dirinya dan Hyukjae. Seolah kebencian yang ia tujukan pada kakaknya tersebut mengasap begitu saja hanya karena Hyukjae mau mentraktirnya makan malam.

Hyukjae tak menjawab. Ia hanya menatap Donghae tak percaya. Apakah yang ia dengar ini benar?

“Tidak boleh juga tidak apa-apa. Aku akan membayar sendiri nanti,” tambah Donghae datar. Setelah ini mungkin ia akan lebih membenci Hyukjae seperti yang ia lakukan sepuluh tahun ini kalau Hyukjae tidak mengiyakan permintaannya untuk tambah satu porsi ramyun lagi.

Hyukjae menggerakkan dagunya, menyuruh Donghae untuk memesan makanan itu pada pemilik kedai.

“Beruntung sekali aku punya tetangga yang suka berbagi sepertimu. Bibi, satu porsi ramyun lagi! Yang jumbo, ya!” Donghae memutar tubuhnya sambil mengangkat salah satu tangannya pada pemilik kedai yang baru saja kembali ke meja kasir.

“Aku berubah pikiran. Sepertinya aku masih bisa menghabiskan porsi jumbo,” gumam Donghae sambil menyingkirkan mangkuk ramyun kosong yang ada di depannya. Ia tak sadar kalau Hyukjae kembali tersenyum geli melihat tingkahnya.

Tidak berapa lama pesanan Donghae pun sudah tersaji di hadapan meja. Mata Donghae berbinar melihat kepulan asap tipis yang keluar dari mangkuk tersebut. Pemandangan yang begitu memukau bagi seorang Donghae sejak kecil.

“Apa kau belum sempat makan tadi sampai-sampai kau harus makan dua porsi seperti itu?” tanya Hyukjae sambil mengarahkan sumpitnya lagi pada ramyunnya.

“Ada ribuan pembeli yang…, bukan, bukan, maksudku hampir ratusan pembeli yang datang ke toko hari ini. Aku dan karyawanku hampir kewalahan melayani mereka hingga akhirnya kami melewatkan makan siang kami. Andai saja Jung Ra masuk, mungkin aku masih bisa makan siang tadi,” ujar Donghae ringan sambil mengaduk-aduk mie-nya.

Hyukjae yang sudah memasukkan ramyun ke dalam mulutnya terpaksa mengunyah dengan perlahan ketika mendengar nama Jung Ra.

“Jung Ra tidak masuk?” Hyukjae mencoba bertanya.

Donghae hanya mengangguk sambil terus menyantap makanannya.

“Apa dia sakit?”

“Tidak. Dia hanya patah hati,” sahut Donghae sambil mengambil gelas berisi air putih dan meneguk sebagian isinya.

Nada suara Donghae yang sangat ringan saat berkata Jung Ra tidak masuk kerja patah hati hampir membuat Hyukjae tersedak. Jadi, adiknya itu sudah tahu apa yang terjadi pada Jung Ra?

“Bahkan dia harus meratapi nasibnya yang kau tolak selama satu minggu penuh. Terakhir kali aku bertemu dengannya sebelum satu minggu kemarin, dia masih terlihat seperti manusia. Tapi…” Donghae memilih untuk menghentikan ucapannya dan kembali memakan ramyunnya.

“Tapi kenapa? Apa terjadi sesuatu padanya?” Hyukjae mulai cemas karena kata Donghae Jung Ra masih terlihat seperti manusia sebelum tidak masuk kerja.

“Hari ini aku bertemu dengannya. Dan dia benar-benar mirip dengan mayat hidup. Kau tahu zombie ‘kan? Perbedaan Jung Ra dengan makhluk itu bisa dibilang hanya dua persen, sisanya sama,” kata Donghae.

Hyukjae bergeming.

“Sebenarnya aku yang mengirimimu pesan itu. Aku hanya risih melihatnya bertingkah aneh tiap kali aku menyebut namamu di depannya. Daripada nanti dia gila sendiri, jadi aku menyuruhnya untuk segera menyatakan perasaannya padamu. Dan yang membuatku tidak percaya adalah ternyata kau menolaknya. Kukira selama ini kau mempunyai perasaan yang khusus pada gadis itu.”

Hyukjae hanya tersenyum miris sambil mengaduk-aduk ramyunnya.

“Aku juga tidak tahu kalau kau sudah mempunyai pacar. Noona-noona mana yang jatuh dalam rayuanmu, hah?” celetuk Donghae yang membuat Hyukjae menegakkan kepalanya karena terkejut.

“Apa?”

“Aku hanya bercanda. Jadi begini……, aku tidak mempunyai hak untuk ikut campur dalam urusan kalian berdua. Tapi aku mempunyai hak terhadap Jung Ra yang masih menjadi karyawan tokoku. Aku akan menggunakan sudut pandangku sebagai seorang bos. Aku tidak suka bila tahu karyawanku tidak masuk kerja dan membiarkan toko tak terurus hanya karena masalah asmara. Jadi, kuharap kau bisa membantuku, Oh ya, apa aku boleh pesan satu lagi? Kali ini benar-benar yang porsi standard.”

 

A few hours later at Youngwoon’s Apartment…

Youngwoon baru saja keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya. Dilihatnya jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Diambilnya cangkir teh dan mulai meracik sendiri teh hijau yang akan menemaninya sebelum berangkat tidur.

Bel di dekat pintu apartemennya berbunyi saat Youngwoon akan menyesap teh hijau buatannya sendiri. Sambil membawa cangkir tersebut, Youngwoon berjalan mendekati intercom dan melihat siapa yang datang malam-malam begini ke apartemennya. Di layar terlihat Hyukjae yang membawa dua tumpuk kardus.

“Mau apa anak itu kemari?” gumam Youngwoon seraya membuka pintunya.

Hyung, apa aku mengganggu?” tanya Hyukjae.

“Sudah jelas begitu, kenapa bertanya?” balas Youngwoon sambil mempersilahkan Hyukjae masuk. Ia tercengang saat menyadari bukan hanya dua kardus itu saja yang dibawa adik sepupunya itu, ternyata sebuah koper hitam berukuran besar ikut menggelinding setelah didorong oleh Hyukjae.

“Apa yang kau bawa itu?” Youngwoon seraya menutup pintu apartemennya dan menghampiri Hyukjae yang sudah meletakkan dua kardus ke atas meja makan.

“Aku mengungsi,” jawab Hyukjae.

Salah satu alis mata Youngwoon terangkat. “Apa?”

“Tidak ada tempat lain yang bisa kutuju selain tempatmu, Hyung. Jadi kumohon, tampunglah aku.”

“Apa kau baru saja menghamili anak pemilik gedung itu lalu karena tidak mau bertanggung jawab akhirnya kau kabur ke tempatku?” celetuk Youngwoon.

“Jangan berkata yang aneh-aneh, Hyung. Anak pemilik gedung itu adalah seorang laki-laki. Bahkan usianya sepuluh tahun lebih tua dariku. Katakan padaku bagaimana caranya aku menghamilinya?” ujar Hyukjae kesal karena lelucon Youngwoon.

“Lalu… apa Donghae yang berhasil membuatmu angkat kaki dari tempat itu?”

Hyukjae menggelengkan kepalanya. Dihelanya napas panjang sambil mengalihkan wajahnya ke arah lain. Youngwoon menyadari ada sesuatu yang sedang terjadi pada adik sepupunya itu.

“Kau mau cerita? Sepertinya ada sesuatu yang mau meledak di dalam kepalamu kalau tidak segera kau keluarkan,” ujar Youngwoon.

 

Youngwoon menyandarkan punggungnya pada punggung sofa setelah Hyukjae menceritakan apa yang terjadi. Sebenarnya Youngwoon tidak tahu harus tertawa terbahak-bahak atau memukul belakang kepala Hyukjae dengan sangat kencang setelah apa yang didengarnya.

“Kau mau menyulitkan hidupmu untuk yang kesekian kalinya, hah? Kalau kau menyukainya dan dia menyukaimu kenapa harus menolaknya? Aku memang tidak terlalu sering melihat gadis itu, tapi aku bisa tahu kalau gadis itu adalah gadis yang manis. Kau ini bodoh atau tolol?”

“Kalau aku tetap melakukannya, itu berarti aku melanggar dengan janji yang kubuat untuk diriku sendiri sepuluh tahun yang lalu, Hyung,” elak Hyukjae.

“Sepuluh tahun yang lalu? Yaa, Lee Hyukjae, gadis itu tidak ada kaitannya sama sekali dengan kejadian sepuluh tahun yang lalu dan…”

“Kau harus lihat bagaimana Donghae yang bisa menjadi dirinya sendiri saat bersama gadis itu, Hyung. Hanya dengan melihatnya saja, aku tahu kalau Donghae menyukai gadis itu,” potong Hyukjae.

“Tahu dari mana? Apa kau mempunyai kamera super canggih hingga bisa menyimpulkan adikmu itu menyukainya?”

“Aku kakaknya, Hyung. Aku bisa tahu kapan anak itu sedih, kapan anak itu bahagia, kapan anak itu menjadi dirinya sendiri hanya dengan melihatnya saja. Aku belum pernah melihat sorot mata Donghae yang secerah itu selama ini.”

“Sepertinya kau terlalu banyak menonton drama,” ucap Youngwoon, tidak percaya dengan jalan pikir Hyukjae yang terkesan konyol.

“Aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan mengembalikan apa yang menjadi miliknya. Aku akan berusaha mengembalikan kasih sayang Ayah yang pernah didapatnya dulu, aku akan berusaha agar Donghae mendapatkan hak saham di perusahaan Ayah…”

“Anak itu tidak tertarik pada perusahaan Ayahmu,” potong Youngwoon.

“Aku akan membawa Donghae pulang ke rumah dan mendapatkan kembali kepercayaan Ayah,” tambah Hyukjae.

“Hei, gadis itu bukan barang. Dia itu manusia, Tuan Muda Lee. Dia punya perasaan. Dari awal gadis itu bukan milik siapa-siapa. Bukan milikmu dan bukan milik Donghae. Jadi kau tidak punya hak untuk memainkan perasaannya seperti itu. Konyol sekali,” ujar Youngwoon yang masih tidak setuju.

“Donghae sekarang tidak punya apa-apa, Hyung. Anak itu tidak punya siapa-siapa lagi. Dan akulah yang menyebabkan itu semua. Ibunya meninggal, ayahnya tidak menganggapnya, kakaknya yang seharusnya melindunginya malah tidak bisa berbuat apa-apa hingga akhirnya anak itu berubah menjadi seseorang begitu dingin. Hanya gadis itu yang bisa mendekatinya dengan mudah, membuatnya menunjukkan sosok seorang Lee Donghae yang asli. Kalau sudah begitu, apa aku masih tega merebut satu-satunya orang yang ada di dekatnya?” Hyukjae memandang sendu ke arah Youngwoon.

“Lalu aku kau anggap apa? Anak itu sudah ribuan kali menyusahkanku dengan rengekannya yang aneh-aneh. Minta pindah apartemen, harus dekat dengan kedai ramyun, yang ini yang itu. Kau pikir aku tidak lelah melihatnya selalu memasang wajah polos menyebalkan itu tiap kali dia minta sesuatu? Kau dan dia sama saja. Gadis itu tidak sebanding denganku yang rela mengeluarkan uang jutaan won untuk menghidupinya selama sepuluh tahun ini. Eiissh…,” gerutu Youngwoon.

Hyukjae hanya menundukkan kepalanya. Kedua telapak tangannya menutupi seluruh wajahnya. Terdengar helaan napas yang begitu berat dari Hyukjae.

Aigoo, sebaiknya kau minta pintu ajaib Doraemon saja dan pilih drama mana yang ingin kau masuki. Hidup sajalah di sana. Tapi sebelum itu, sepertinya kau harus mengistirahatkan otakmu yang sudah tidak beres itu. Masuklah ke kamar tamu dan tidur sana,” suruh Youngwoon sambil menendang koper milik Hyukjae.

“Kubilang cepat tidur sana! Aku sudah muak melihat muka sok dramamu itu, Anak Muda! Apa aku harus menyanyikanmu lagu pengantar tidur, hah?! Atau kau mau kuhajar dulu seperti kemarin agar kau mau tidur?!” bentak Youngwoon.

Akhirnya Hyukjae bangkit dan berjalan pelan menuju kamar tamu yang ada di dekat ruang tengah. Dilepasnya dasi hitam yang sejak tadi melingkar di kerah kemeja biru mudanya kemudian masuk ke dalam kamar tamu tersebut.

“Kau dan adikmu itu sama saja! Membuatku sakit kepala sepuluh tahun ini!” Youngwoon masih saja membentak Hyukjae yang sudah tidak ada di ruang tengah. Namun, sesaat kemudian kakak sepupu Donghae dan Hyukjae itu tersenyum geli.

Ponselnya bergetar. Dilihatnya nama Ayah Hyukjae dan Donghae tertera di layar ponselnya. Youngwoon melihat sekilas ke arah pintu kamar tamu yang kini sudah tertutup sempurna. Dengan hati-hati ia menerima telepon dari pamannya.

Yeoboseo?” suara Youngwoon sedikit pelan.

Aku besok akan mengunjungi toko Donghae. Kau bisa datang ke ruanganku besok pagi-pagi?” terdengar suara Presdir Lee.

N-ne?” Mata Youngwoon terbelalak. Apa dia tidak salah dengar. Ia ingin berteriak tidak percaya, tapi keadaan apartemennya memaksanya untuk memelankan suaranya.

Aku akan mengunjungi toko Donghae besok,” Presdir Lee mengulangi ucapannya.

To be continued

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: