FRUIT LOVE [15/20]

hyuk2_副本

FRUIT LOVE

Chaptered FF

Author : Nita Henny

Cast : Go Jung Ra (OC) – Lee Donghae – Lee Hyukjae

Kim Ryeowook – Kim Youngwoon

Genre : Romance, Family, Brothership

Rating : PG-14

Note :
FF Ini udah pernah kupublish di blogku sendiri. Dulu, udah lama. Dan sekarang aku coba kirim ke sini hehehe.
You can visit my blog === >>> https://imajinasinita.wordpress.com/

Happy reading ~~~~

============================

At L Group Company…

Youngwoon melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa setelah keluar dari lift. Bahkan beberapa karyawan yang menyapanya sama sekali tak ia perhatikan. Wajahnya nampak semakin tegang ketika ruangan Presdir Lee terlihat oleh kedua matanya.

“Paman, kenapa tiba-tiba Paman ingin datang ke tokonya Donghae?” Youngwoon langsung melontarkan pertanyaannya sesaat setelah masuk ke dalam ruangan Presdir Lee dan menutup pintunya.

Presdir Lee yang sedang duduk di salah satu sofa yang ada di ruangan itu sedikit terkejut melihat kedatangan Youngwoon yang ternyata datang lebih awal dari perkiraannya. Melihat ekspresi tegang yang ditunjukkan keponakannya itu, Presdir Lee hanya mengulas senyum tipis.

Baru beberapa saat kemudian Youngwoon menyadari sesuatu. Buru-buru ia membungkukkan badannya sambil meminta maaf pada Presdir Lee.

“Maafkan saya, Pak. Saya tidak bermaksud untuk bertindak tidak sopan pada Anda. Maafkan saya.”

Presdir Lee hanya terkekeh sambil menyuruh Youngwoon untuk duduk. Youngwoon yang masih terus membodohi dirinya dalam hati karena lancang memanggil pamannya dengan sebutan Paman di lingkungan perusahaan langsung duduk dan menundukkan kepalanya.

“Sepertinya aku harus memberikanmu voucher untuk liburan beberapa hari. Kau terlihat terlalu serius selama ini. Sudahlah, mulai sekarang bila kita sedang berbicara berdua kau bisa memanggilku dengan sebutan Paman,” ujar Presdir Lee.

“Jadi begini, Paman. Mengenai kunjungan Paman ke toko Donghae…”

“Kau takut terjadi sesuatu yang tidak kau inginkan?” potong Presdir Lee, seakan mengerti apa arti wajah tegang milik Youngwoon.

“Paman, Paman’kan tahu sendiri bagaimana Donghae. Apa tidak terlalu berbahaya bila Paman datang ke sana? Aku takut kalau Donghae tiba-tiba kehilangan akal sehat dan melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan,” ujar Youngwoon cemas.

“Aku mengenal anak itu dengan sangat baik, Youngwoon-ah. Jadi, kau tidak perlu mencemaskan apapun,” Presdir Lee berusaha meyakinkan Youngwoon bahwa tindakannya mengunjungi toko Donghae tidak perlu dikhawatirkan.

Youngwoon bukannya meragukan ucapan pamannya, hanya sejak kemarin malam bayangan Donghae yang mengamuk pada pamannya terus-menerus mengganggu pikirannya. Bisa saja ‘kan Donghae kehilangan kendali dan berbuat sesuatu yang buruk? Tapi bila Youngwoon harus melihat kembali pada keputusan pamannya, ia juga tak bisa berbuat apa-apa selain menurutinya. Di mata Youngwoon, walaupun pamannya itu bukanlah ayah kandung Donghae, mereka berdua memiliki sifat yang sama, yaitu keras kepala. Bila sudah menginginkan sesuatu, maka mereka akan melakukan apa saja untuk mewujudkannya, tidak peduli dengan larangan siapapun.

“Kalau begitu, jam berapa Paman akan ke sana?” tanya Youngwoon.

Sesaat Presdir Lee melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. “Bagaimana kalau kita sarapan dulu? Kau pasti belum makan, ‘kan? Pagi… mungkin aku akan ke sana karena siang ini ada pertemuan dengan kolega perusahaan yang baru datang kemarin,” jawab Presdir seraya bangkit dari duduknya.

“Maksud Paman Presiden Direktur dari Shin Group yang dari Jepang itu? Bukankah katanya dia baru akan datang kemari satu minggu lagi?” Youngwoon berdiri dan mengikuti Presdir Lee yang berjalan ke arah pintu.

“Dia bilang ada urusan mendadak, jadi jadwal pertemuan diajukan sekalian membahas saham yang sedikit bermasalah,” Presdir menjawab lagi. Kali ini pria bertubuh tinggi besar itu sudah ada di depan pintu dan bersiap untuk membukanya.

Saham? — Youngwoon seperti teringat sesuatu saat pamannya menyebut kata saham.

‘Aku akan berusaha agar Donghae mendapatkan hak saham di perusahaan Ayah.’

“Mmm…, Paman, tunggu sebentar,” Youngwoon menahan Presdir Lee yang sudah menyentuh pegangan pintu ruangannya yang berwarna silver mengkilat.

Presdir Lee terpaksa melepaskan tangannya dari pegangan pintunya dan menoleh ke arah Youngwoon yang ada di sampingnya. “Ada apa?”

“Bicara soal saham…, apa Paman pernah berencana untuk memberikan sebagian hak saham pada Donghae. Maaf bila aku lancang bertanya, hanya saja hal tersebut mengganggu pikiranku akhir-akhir ini,” kata Youngwoon.

“Pertanyaan yang bagus, Youngwoon-ah. Baiklah, kita harus segera turun ke bawah dan sarapan.” Presdir Lee menepuk bahu Youngwoon pelan, kemudian membuka pintu ruangannya dan keluar begitu saja.

Youngwoon hanya mendesah pelan sambil menggelengkan kepalanya. Bukan pamannya kalau langsung menjawab dengan terang-terangan. Lama-lama Youngwoon merasa menjadi bagian dari sebuah keluarga yang aneh dan penuh dengan rahasia konyol bak drama-drama yang tidak disukainya.

Ketika ia dan Presdir Lee masuk ke dalam lift, ponselnya bergetar. Ada satu pesan masuk dan ternyata dari Hyukjae.

—Hyung, apa aku boleh pinjam handukmu yang ada di lemari kamar tidurmu? Sepertinya aku meninggalkan handukku di tempat tinggalku kemarin. Oh ya, aku tadi juga tidak sengaja menjatuhkan botol parfum berbentuk kubus yang ada di dekat meja kerjamu. Aku sudah mengepel lantainya dan membuang pecahan botol itu. Satu lagi, aku sudah memanggil petugas service untuk membetulkan mesin pemanas air yang ada di kamar mandimu, kurasa aku tadi salah menekan tombol. Nanti malam kita makan apa?—

Youngwoon memejamkan matanya sambil berusaha untuk tidak mematahkan ponselnya menjadi dua bagian karena geram setelah membaca pesan dari Hyukjae. Ingin rasanya ia mengumpat sekeras mungkin dan menyumpahi adik sepupunya itu, tapi mengingat ia sedang berada di dalam lift bersama ayah adik sepupunya itu, akhirnya mau tidak mau Youngwoon harus mengubur niatnya dalam-dalam.

“Apa ada masalah?” tanya Presdir Lee bertanya pada Youngwoon karena sempat melihat ekspresi kesal yang ditahan dari pantulan di dinding lift.

“Seseorang baru saja merusak apartemenku pagi ini, Paman,” keluh Youngwoon yang belum mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.

“Apa dia mencuri barang-barangmu? Apa perlu menghubungi polisi?”

Youngwoon menggelengkan kepalanya sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya. “Tenang saja, Paman. Aku sudah cukup mengenalnya, bahkan sangat mengenalnya. Kalau ia sampai berani kabur untuk sembunyi, aku bisa menemukannya hanya dalam waktu kurang dari satu hari. ”

Presdir Lee hanya mengangguk-angguk pelan sambil kembali memandang ke arah depan, menanti lift yang sedang membawa mereka turun ke lantai dasar gedung perusahaannya.

***

Meanwhile…

Donghae menutup pintu apartemen sederhananya yang ada di belakang tubuhnya sambil menoleh ke arah pintu tempat tinggal Jung Ra yang masih tertutup sempurna. Sesaat Donghae menghela napas lega karena kini gadis itu sudah kembali ke tempat itu setelah beberapa hari kemarin menghilang. Ya, Jung Ra pulang ke apartemen dua hari yang lalu dan memutuskan untuk kembali bekerja. Entahlah, Donghae tidak tahu apa yang membuat Jung Ra akhirnya bersedia kembali menjalani rutinitasnya dan tidak lagi meratapi nasibnya yang malang karena ditolak Hyukjae.

Donghae berjalan mendekati apartemen Jung Ra. Tangannya baru akan mengetuk pintu tersebut saat terdengar suara pintu yang dibuka dari arah apartemen milik Hyukjae. Awalnya Donghae tidak terlalu peduli bila Hyukjae juga berangkat kerja sepagi ini, hanya saja apa yang ia lihat memaksanya untuk tidak mengalihkan pandangannya dari apartemen Hyukjae.

Dari dalam tempat tinggal Hyukjae itu muncul tiga orang yang mana salah satu dari mereka adalah Bibi Pemilik Gedung. Tanpa sengaja telinga Donghae menangkap pembicaraan mereka bertiga tentang harga sewa dan semacamnya. Dan yang membuat Donghae terkejut adalah ternyata tamu dari Bibi Pemilik Gedung tersebut adalah yang akan menyewa tempat itu mulai besok.

Akan menyewa tempat itu mulai besok? Bukankah apartemen itu sedang ditempati Hyukjae? Kalau sekarang akan ada penyewa yang baru itu berarti…

Belum sempat Donghae mengartikan situasi yang sedang dilihatnya, mendadak pintu apartemen Jung Ra terbuka. Jung Ra yang memang sengaja berniat datang ke toko pagi-pagi sekali harus terkejut saat mendapati Donghae sudah berdiri di depan pintu apartemennya.

“Lee Donghae?”

Donghae sedikit terperanjat ketika mendengar namanya dipanggil oleh seorang gadis yang kini berdiri di hadapannya. “Go… Jung Ra?”

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Jung Ra yang heran melihat Donghae. Apakah bosnya ini akan mengajaknya mengambil buah dari pemasok seperti yang pernah mereka lakukan dulu? Kalau benar begitu, paling tidak sekarang Jung Ra sudah siap. Ia tidak lagi hanya mengenakan pakaian tidur, cardigan tipis dan sepasang sandal di kedua kakinya seperti dulu. Walaupun kejadian itu sudah berlalu cukup lama, Jung Ra masih suka sebal bila tidak sengaja mengingatnya.

“Aku hanya…”

“Apa yang Bibi Pemilik Gedung lakukan di sana?” Perhatian Jung Ra teralihkan pada pemandangan di depan pintu apartemen Hyukjae.

“Seperti yang kalian lihat sendiri, keadaan di dalam apartemen ini cukup rapi dan bersih. Penyewa yang lama memang tipe orang yang suka kebersihan, padahal sebelum dia menyewa tempat ini, kondisinya selalu kotor. Seharusnya kalian bertemu dengan penyewa sebelum kalian itu. Orangnya baik dan ramah,” ujar Bibi Pemilik Gedung pada calon penyewa apartemennya.

“Oh ya? Benar juga. Seharusnya kami bertemu dulu dengannya. Kami juga ingin berterima kasih karena tidak perlu terlalu lelah untuk membersihkan tempat ini. Apa kami boleh meminta nomor telepon penyewa yang lama itu?” tanya seorang wanita berusia tiga puluh tahunan, salah satu penyewa baru apartemen itu.

Bibi Pemilik Gedung terlihat merogoh saku mantelnya yang cukup lebar, mengambil sebuah buku kecil yang berisi nama-nama penyewa apartemen-apartemen kecil miliknya. Setelah menemukan apa yang diminta calon penyewa baru, Bibi tersebut memberikan sebuah kartu nama pada mereka.

“Namanya Lee Hyukjae. Kemarin dia membayar lunas uang sewa tempat ini padahal ia belum genap satu tahun menempatinya. Memang sangat disayangkan saat tahu ia memilih untuk pindah dari gedung ini karena urusan pekerjaan. Padahal ini adalah pertama kali bagiku mendapatkan penyewa yang sangat tampan dan baik hati,” kata Bibi Pemilik Gedung dengan wajah sedih.

Jung Ra yang mendengar percakapan Bibi Pemilik Gedung dengan dua orang tersebut seketika membeku di tempatnya. Ia berharap dugaan yang melintas di benaknya salah. Ya, salah. Tidak mungkin percakapan ketiga orang tersebut secara tidak langsung menjelaskan bahwa Lee Hyukjae sudah tidak tinggal lagi di sana.

“Kau mau berangkat bersama?” Donghae yang sudah lebih dulu bisa mengerti percakapan itu langsung menoleh kembali ke arah Jung Ra dan mencoba mengajaknya bicara. Namun, saat melihat ekspresi wajah Jung Ra yang sudah berubah muram membuatnya menyesal. Menyesal karena tidak segera mengajak gadis itu berangkat ke toko.

“Ayo.” Donghae langsung menggenggam pergelangan tangan Jung Ra dan menariknya ke arah tangga. Ya, Donghae harus membawa Jung Ra pergi dari situ sebelum gadis itu kembali diserang rasa patah hati.

Jung Ra hanya terdiam saat Donghae menarik tangannya dan membawanya menuju tangga ke lantai dasar gedung tempat tinggal mereka. Pikirannya sudah lebih dulu tidak karuan setelah mendengar percakapan Bibi Pemilik Gedung dua orang tak dikenal tadi. Hatinya masih berdenyut nyeri mengetahui Hyukjae sudah tak lagi tinggal di sisi kanan apartemennya.

Bruk~

Jung Ra yang tidak memperhatikan tangga yang sedang dituruninya, tiba-tiba salah menapakkan kaki dan terhuyung ke bawah. Untung saja Donghae sigap menahan Jung Ra, kalau tidak sesuatu yang buruk akan terjadi.

“Kau ini kenapa sih?” Sebenarnya Donghae tidak ingin bertanya dengan nada yang sedikit membentak seperti itu, hanya saja… entahlah.

“Kau menarikku terlalu kencang, aku jadi tidak bisa menyeimbangkan langkahku,” jawab Jung Ra pelan.

Donghae hanya menghembuskan napas dengan kasar. Seingatnya ia sama sekali tak menarik Jung Ra sekencang itu. Donghae yakin pikiran gadis yang ada di sampingnya itu sedang melayang jauh dari tubuhnya.

“Baiklah, aku tidak akan menarikmu lagi. Tapi kau yakin bisa berjalan sendiri tanpa kugandeng?” tanya Donghae setelah melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Jung Ra.

Jung Ra tak menjawab, kedua matanya bergerak menatap Donghae dengan tatapan sedih. Seakan ada sesuatu yang ingin dikeluhkannya pada Donghae saat ini juga.

“Lee Donghae-ssi, apa benar kakakmu itu tidak lagi tinggal di gedung ini?”

Donghae menghela napas pelan mendengar pertanyaan Jung Ra. Tebakannya selalu benar tentang Jung Ra. Ia hanya menganggukkan kepalanya ringan.

“Tapi kenapa tiba-tiba sekali dan tidak memberitahu apapun pada…”

“Pada siapa? Padamu? Jangankan kau yang bukan siapa-siapa, aku yang kau bilang adalah adiknya saja juga tidak diberitahu,” potong Donghae.

Donghae yang menyebutnya bukan siapa-siapa Hyukjae seakan membangunkan Jung Ra dari mimpi. Walaupun memang benar ia bukan siapa-siapa kakak Donghae itu, entah kenapa rasanya sakit saat seseorang mengatakan hal tersebut padanya.

“Bukan siapa-siapa…,” ucap Jung Ra lirih seraya melangkahkan kakinya menuruni tangga dengan pelan.

Yaa, aku tidak bermaksud begitu. Go Jung Ra, dengarkan aku.” Donghae langsung menuruni tangga dengan cepat agar bisa mendahului Jung Ra dan menghadangnya.

“Minggir.” Jung Ra berusaha menyingkirkan Donghae yang berdiri satu tangga di bawahnya. Tapi, lagi-lagi tangannya ditahan oleh Donghae. Entah kenapa akhir-akhir ini laki-laki berambut gelap itu sangat suka memegang pergelangan tangannya dengan erat seperti itu.

“Baiklah, begini… kita berdua sama-sama tidak tahu semalam Hyukjae sudah pergi dari tempat ini. Dan kau tadi dengar sendiri ‘kan, apa yang dikatakan Bibi Pemilik Gedung, Hyukjae pindah karena ada urusan pekerjaan. Itu berarti dia harus tinggal di tempat yang lebih dekat dengan kantornya agar mempermudah pekerjaannya,” Donghae berusaha menjelaskan pada Jung Ra sesuai yang ia dengar dari Bibi Pemilik Gedung tadi walaupun ia tak yakin itu adalah alasan sebenarnya Hyukjae pergi dari tempat itu.

Jung Ra menatap Donghae yang baru saja mengatupkan bibir setelah memberikan penjelasan padanya. Apakah yang dikatakan Donghae benar? Jung Ra ingin sekali mempercayai penjelasan Donghae, tapi hatinya berkata ada hal lain yang membuat Hyukjae pergi.

Apakah karena pertemuan mereka tempo hari? Apakah Hyukjae merasa tidak nyaman setelah ia mengutarakan perasaan padanya? Apakah itu yang menyebabkan Hyukjae memilih untuk pergi?

“Jangan berpikiran yang aneh-aneh dulu. Apa kau tidak pernah dengar kalau orang yang suka memiliki pikiran aneh, dia pasti akan susah mendapatkan pacar?” ujar Donghae, seakan bisa membaca raut wajah Jung Ra.

Jung Ra terpaksa mengernyitkan keningya. Perasaan sedih yang sejak tadi menggelayut di hatinya mau tidak mau harus digantikan dengan perasaan heran karena mendengar ucapan Donghae.

“Aku tidak pernah dengar kata-kata seperti itu,” sahut Jung Ra yang akhirnya meladeni ucapan Donghae karena penasaran.

“Ckckck… Gadis Otak Siput…” ucap Donghae pelan.

Yaa, berhentilah menyebutku Gadis Otak Siput! Aku bukan gadis seperti itu!” gerutu Jung Ra sebal.

“Selain suka membuang-buang ratusan liter air mata hanya karena patah hati dan berotak siput, ternyata kau juga suka berteriak-teriak tidak jelas ya?” Donghae masih terus mengerjai Jung Ra.

“Kau ini menyebalkan sekali!” teriak Jung Ra yang sudah kehabisan kesabaran. Setelah menghentakkan kakinya dengan keras, ia lantas menuruni tangga dengan cepat sambil terus menggerutu karena ejekan Donghae.

“Seperti Bibi-Bibi yang ada di pasar dan….”

“DIAM KAU, LEE DONGHAE!!!” Jung Ra membalas Donghae dengan berteriak kencang tanpa menoleh ke arah tangga dan terus berjalan dengan hentakan kaki yang begitu dramastis.

Donghae berhenti tertawa dan menghela napas. Sejenak ia menoleh ke arah pembatas dinding tangga di atasnya sebelum menuruni tangga dan berlari kecil menghampiri Jung Ra yang sudah menjauh darinya.

Sepanjang perjalanan menuju toko, Jung Ra masih tetap menutup mulutnya rapat-rapat. Donghae yang berjalan beriringan dengannya nampak jengkel melihatnya membisu seperti itu.

“Kau ingin sarapan dulu tidak?” Donghae mencoba menghentikan kebisuan Jung Ra.

“Aku tidak lapar,” jawab Jung Ra singkat.

“Setangkup sandwich sepertinya lumayan lezat untuk dimakan sambil jalan,” lanjut Donghae.

“Aku tidak suka makanan Barat,” lagi-lagi nada suara Jung Ra terkesan dingin, mirip dengan Donghae dulu.

Donghae baru akan kembali mengucapkan sesuatu saat Jung Ra lebih dulu membentaknya.

“Aku tidak ingin makan apapun! Tidak sandwich! Tidak kimbab! Tidak sup ikan! Tidak makanan apapun! Mengerti?! Sebelum aku kehilangan kendali dan berbuat sesuatu yang buruk padamu, sebaiknya kau diam dan jalan saja!”

Sedetik setelah berteriak di depan Donghae, Jung Ra lantas berlari menjauh. Sebenarnya setelah berteriak seperti itu, Jung Ra sempat merasa takut kalau saja Donghae justru marah karena teriakannya. Hanya saja pagi ini Jung Ra memang sedang tidak selera untuk sekedar makan ataupun hal lainnya. Yang ingin ia lakukan sekarang adalah segera masuk ke dalam toko dan membuat dirinya sesibuk mungkin di sana sebelum pikirannya berkecamuk karena memikirkan kepergian Hyukjae.

Donghae tidak berniat untuk mengejar Jung Ra karena tokonya memang sudah dekat. Kalau ia tetap mengejar Jung Ra, sudah bisa dipastikan gadis itu akan langsung meledakkan emosinya. Donghae hanya bisa mendesah pelan sambil kembali melanjutkan jalannya dengan santai. Bahkan ia hanya mendengus pelan dan tersenyum geli melihat Jung Ra yang beberapa saat lalu sudah masuk ke dalam toko kini keluar dengan membawa tumpukan keranjang buah dan berjalan ke arah samping toko. Gadis itu pasti turun ke ruang bawah tanah.

Beberapa pembeli menyapa saat Donghae sudah di depan toko. Donghae membalas sapaan mereka dengan ramah, sesekali ia mengobrol sebentar dengan beberapa pembeli wanita yang sudah lanjut usia.

“Terima kasih sudah datang ke toko kami, Bibi. Hati-hati di jalan,” ucap Donghae sebelum wanita-wanita itu pergi. Donghae tersenyum tipis karena usia mereka sebaya dengan ibunya bila ibunya masih hidup. Dihelanya napas pelan sambil memutar tubuhnya menghadap ke arah pintu kaca. Belum sempat ia menyentuh pegangan pintu yang ada di depannya, tubuhnya terhuyung ke samping karena seseorang menyenggol tubuhnya dengan sangat kencag.

“Kau menghalangi jalanku, Tuan Lee Donghae yang Terhormat,” ujar Jung Ra ketus setelah berhasil menyingkirkan Donghae dari depan pintu. Dibukanya pintu kaca itu dengan kakinya dan masuk begitu saja, membiarkan Donghae yang menatapnya heran.

“Ditinggal pergi Lee Hyukjae dari gedung apartemen saja sudah membuatnya berubah seperti serigala betina yang mengamuk. Ckckck… Dasar Gadis Paprika,” gumam Donghae sambil kembali memegang pegangan pintu.

Namun, mendadak perhatian Donghae teralihkan pada sebuah mobil yang berhenti tepat di depan tokonya. Donghae tak menolehkan kepalanya ke belakang, ia hanya melihat mobil mewah berwarna hitam yang kini ada di belakang tubuhnya melalui pantulan pintu kaca tokonya.

Ia masih tak mempedulikan milik siapa mobil itu hingga akhirnya ketidakpeduliannya itu berubah setelah jendela mobil bagian belakang terbuka dan menampakkan sesosok pria berjas abu-abu yang sedang duduk di jok belakang. Dengan cepat Donghae menolehkan kepala dan tubuhnya ke arah mobil untuk memastikan apa yang baru saja dilihatnya dari pantulan kaca pintu bukanlah halusinasinya saja.

Tubuh Donghae membeku seketika saat pria itu menolehkan kepalanya ke arah Donghae. Wajah tanpa ekspresi itu, tatapan mata yang terkesan dingin dan tajam itu. Donghae tak akan pernah bisa melupakan wajah itu selama sepuluh tahun ini. Tak ada sedetikpun ia membiarkan ingatannya menghapus detail wajah pria itu.

Wajah ayah tirinya, Presdir Lee Byun Sik.

Tak ada yang bisa Donghae lakukan selain berdiri terpaku di tempatnya ketika Presdir Lee perlahan keluar dari mobil dan berjalan pelan menghampirinya. Bahkan ia hanya bisa menggerakkan kedua matanya untuk memandang Presdir Lee yang kini sudah berdiri di hadapannya.

“Luangkan waktumu bersamaku untuk beberapa saat,” ucap Presdir Lee dengan nada suara yang penuh wibawa.

 

 

Dua cangkir berwarna putih yang berisi kopi hitam mengeluarkan kepulan asap tipis di atasnya. Salah satu isi dari cangkir-cangkir itu sudah berkurang sedikit, dan satunya lagi masih utuh.

Donghae tak mengalihkan kedua matanya dari wajah Presdir Lee. Rasanya ada magma gunung berapi yang sedang bergejolak di dalam hati dan kepalanya, yang bisa meledak kapan saja. Diperhatikannya Presdir Lee yang baru saja menyesap kopi hitam dan meletakkan kembali cangkirnya ke atas meja.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Presdir Lee, membalas tatapan tajam Donghae.

Tak ada jawaban yang diberikan Donghae karena Donghae merasa tidak perlu menjawab pertanyaan yang baru saja diberikan Presdir Lee padanya. Ia lebih sibuk untuk menahan semua kata-kata kasar yang sudah memenuhi rongga mulutnya.

Melihat Presdir Lee yang pagi ini sedang duduk di hadapannya seakan memaksa Donghae untuk mengutuk dirinya sendiri yang begitu bodohnya memilih untuk tetap berada di Seoul. Andai saja dulu setelah keluar dari rumah mewah itu ia langsung pergi dari Seoul dan memilih tempat yang sangat jauh dari kota ini, mungkin saja sosok ayah tirinya tak akan pernah muncul lagi di depannya.

“Saya baik-baik saja sebelum Anda datang pagi ini,” akhirnya Donghae menjawab pertanyaan Presdir Lee dengan dingin.

Presdir Lee tersenyum tipis menanggapi jawaban Donghae. Sepertinya apa yang ditakutkan oleh Youngwoon ada benarnya. Putranya ini memang sudah berubah, tapi Presdir Lee masih bisa melihat sosok Donghae kecil di mata Donghae.

“Sudah sepuluh tahun,” ucap Presdir Lee sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

Donghae berusaha keras untuk tetap terlihat tenang walaupun pada kenyataannya ia tak bisa. Ia ingin sekali memaki-maki pria yang ada di depannya itu walaupun ia tahu tindakannya sama sekali tak mencerminkan kesopanan.

“Memangnya kenapa kalau sudah sepuluh tahun, Pak? Saya hidup dengan baik selama sepuluh tahun ini. Saya hidup dengan baik setelah Anda mengusir saya,” Donghae menekankan kalimat terakhirnya, berharap ucapannya itu bisa didengar dengan sangat jelas oleh kedua telinga Presdir Lee.

“Kau masih mengingatnya? Padahal aku sudah bisa merelakan kepergian ibumu.”

Tangan Donghae yang ada di bawah meja mengepal dengan sangat erat. Ia bisa merasakan darahnya mendidih di dalam sana. Kenapa harus ada ibunya di dalam percakapan ini? Kenapa kata padahal seolah mengisyaratkan Donghae bahwa saat dirinya diusir dari rumah sepuluh tahun yang lalu adalah sesuatu yang tidak disengaja?

“Saya tidak akan pernah bisa melupakan saat-saat di mana Anda, Presdir Lee, terang-terangan menyebut saya adalah pembunuh ibu saya sendiri di depan banyak orang. Bukankah itu sangat mengerikan?” Donghae mengulas senyum tipis. Ia sama sekali tak ingin bersikap basa-basi seolah tak ada sesuatu di antara dirinya dan Presdir Lee. Namun, nada suaranya terkesan begitu ringan, seakan apa yang sedang ia katakan sama sekali tak penting.

Ringan? Kalau bagi Donghae begitu, sangat berbanding terbalik dengan Presdir Lee yang merasa hatinya berdenyut mendengar perkataan Donghae. Ucapan Donghae seakan membuat Presdir Lee harus kembali membuka buku catatan di mana di dalamnya penuh dengan kesalahan-kesalahan yang sudah ia lakukan pada putranya itu.

Presdir Lee menghela napas pelan sambil menyandarkan punggungnya pada punggung kursi yang sedang ia duduki. “Saat itu aku benar-benar merasa kehilangan. Aku sangat mencintainya, Lee Donghae.”

“Kehilangan? Sampai Anda bisa meletakkan kesalahan sepenuhnya pada saya, padahal saya tidak bersalah apa-apa? Sepertinya Anda terlalu dibutakan oleh cinta Anda pada istri Anda, ah… bukan, maksud saya, pada ibu saya, Presdir Lee,” balas Donghae dengan nada suara yang normal.

“Lee Donghae…”

“Saya hanya ingin mengingatkan Anda bahwa wanita yang Anda nikahi delapan belas tahun lalu adalah seorang janda yang sudah memiliki anak laki-laki, Pak,” potong Donghae dengan cepat dengan napas yang menderu. Donghae buru-buru menarik napas dalam-dalam untuk meredakan sesuatu yang hampir meledak di dalam hatinya.

Untuk beberapa saat Presdir Lee dan Donghae hanya saling menatap satu sama lain. Dengan sangat jelas Presdir Lee bisa melihat amarah yang begitu kuat dari sorot mata Donghae. Sedangkan Donghae, ia sama sekali tak bisa mengartikan ekspresi wajah Presdir Lee.

Tangan Presdir Lee bergerak untuk mengambil sesuatu dari dalam jas abu-abunya. Beberapa saat kemudian di tangannya sudah ada sebuah amplop coklat berukuran sedang. Amplop tersebut ia letakkan di atas meja tepat di depan cangkir kopi Donghae. Mau tidak mau Donghae pun memandang amplop tersebut.

“Di dalam amplop itu ada rincian lengkap tentang ruko yang ada di pusat kota yang baru saja dijual oleh pemiliknya. Kalau kau ada waktu luang, pergilah ke sana dan coba lihat tempat itu. Kalau kau suka, kau bisa pindahkan tokomu ke sana. Aku memang belum melihat secara langsung tempat itu, tapi kudengar tempat itu sangat luas dan besar, sistem keamanannya cukup lengkap. Letaknya juga sangat strategis,” kata Presdir Lee.

“Apa maksud Anda?” Donghae meluncurkan pertanyaannya sedetik setelah Presdir selesai berbicara.

“Apa Anda sedang menghina saya?” tambah Donghae. Tatapan matanya semakin tajam. Sepertinya ia sudah benar-benar tidak bisa mengendalikan emosinya.

“Aku tidak sedang menghinamu, Donghae-ya…”

“Berhenti memanggil saya dengan sebutan itu, Pak. Anda sama sekali tak mempunyai hak untuk memanggil saya seperti itu,” potong Donghae.

“Aku tidak menghinamu, tapi aku sedang melaksanakan kewajibanku sebagai seorang Ayah,” lanjut Presdir Lee yang sama sekali tak terpengaruh dengan celaan putranya.

Donghae mendengus kasar sambil tersenyum pahit.

“Lelucon apa yang sedang Anda mainkan saat ini, Pak? Kewajiban seorang Ayah?” Donghae lantas tertawa pelan untuk beberapa saat sebelum akhirnya berhenti dan menghela napas pelan.

“Apakah Anda sadar dengan apa yang sudah Anda katakan tadi?” Nada suara Donghae begitu dingin, sedingin es abadi yang ada di Kutub Utara.

“Aku hanya ingin melakukan sesuatu yang seharusnya sudah kulakukan sejak dulu. Mengurusmu. Selain mengucapkan sumpah pernikahan pada ibumu, aku juga berjanji padanya untuk mengurusmu, memberimu perhatian seperti putraku sendiri dan…”

“Sudah terlambat, Pak. Anda membicarakan sesuatu yang sudah tidak ada gunanya lagi,” Donghae memotong ucapan Presdir Lee.

Presdir Lee mengalihkan pandangannya ke atas meja.

“Dengan memberi saya ruko baru untuk toko saya, Anda pikir saya tidak akan lagi mengingat kesalahan yang sudah Anda lakukan terhadap saya? Maaf, Presdir Lee, sepertinya Anda salah. Aah…, dan bicara mengenai kata Ayah yang baru saja Anda ucapkan tadi, saya baru ingat kalau dulu saya memang mempunyai seorang Ayah tiri. Beliau sangat saya hormati dan saya sayangi layaknya Ayah saya sendiri. Dan beliau juga memberi perhatian dan merawat saya seperti putranya sendiri. Tapi sayang sekali, saya kehilangan sosok Ayah tiri saya setelah peringatan kematian putra bungsunya yang ke-tiga. Ayah tiri yang saya hormati itu tidak pernah lagi mau menatap kedua mata saya dan perlahan-lahan menjauhi saya. Usia saya saat itu masih tiga belas tahun. Kalau Anda yang berada di posisi saya saat itu, mungkin Anda akan tahu betapa hancurnya perasaan saya.”

Luapan amarah Donghae terasa terbuang sia-sia ketika terdengar dering ponsel milik Presdir Lee. Donghae menarik napas dalam-dalam dan berusaha untuk menghembuskannya secara perlahan-lahan sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain tanpa harus membuat sepasang matanya digenangi oleh air mata karena emosinya yang membuncah setelah menghujani Presdir Lee dengan kata-katanya.

“Baiklah. Aku akan datang lima belas menit lagi. Kau siapkan semua salinan dokumen dan berikan pada mereka,” ucap Presdir Lee pada sekretarisnya melalui ponselnya. Setelah memastikan perintahnya akan dilaksanakan oleh bawahannya itu, Presdir Lee lantas mematikan ponselnya sambil menghela napas pelan.

“Aku harus segera pergi. Kau pikirkan apa yang kuberikan tadi. Sayang kalau toko buah berkualitas seperti tokomu hanya berada di daerah seperti ini. Aku harap kau juga memikirkan kesejahteraan para karyawan tokomu. Dengan pindah ke tengah kota, toko buahmu akan terkenal oleh banyak orang, lalu pembeli yang datang akan bertambah banyak dan akhirnya pendapatan tokomu akan meningkat. Dengan begitu kau bisa memberikan gaji lebih pada karyawanmu.” Presdir Lee seraya bangkit dari duduknya, merapikan jasnya dan melangkah menjauh dari meja Donghae.

“Kenapa? Kenapa Anda harus melakukan ini?” Suara Donghae terkesan begitu lirih dan berat, tapi ternyata masih bisa membuat Presdir Lee terpaksa menghentikan langkah kakinya.

“Karena Ayah tahu kata maaf mungkin tidak akan pernah cukup,” jawab Presdir Lee tanpa memutar tubuhnya kembali ke belakang. Pria bertubuh tinggi itu hanya menolehkan kepalanya sedikit untuk beberapa detik sebelum menghadap ke arah depan.

Donghae menahan napasnya yang menderu ketika mendengar langkah ayah tirinya yang sudah mulai menjauh dari pendengarannya. Kemudian terdengar suara pintu café yang ditutup oleh seseorang. Di saat itulah rahang Donghae mengeras seketika. Ia tak merubah posisi duduknya dan hanya memandang amplop yang masih di atas meja.

Dengan susah payah Donghae berusaha untuk tidak menggulingkan meja yang ada di hadapannya itu dan menjatuhkan semua benda pecah belah yang ada di atasnya ke atas lantai marmer. Ia memang sudah tidak bisa menahan amarahnya yang meluap-luap karena ucapan terakhir ayah tirinya tadi, tapi ia juga masih memiliki akal sehat untuk tidak merusak café orang hanya untuk melampiaskan perasaannya yang hancur itu.

***

At FRESH FRUIT…

“Apa yang dilakukan Hyungnim di sana?” gumam Ryeowook sambil mencondongkan kepalanya ke arah jendela kaca. Dilihatnya Donghae sedang duduk berhadapan dengan seorang laki-laki berjas rapi layaknya seorang direktur perusahaan di café yang ada di seberang jalan.

Jung Ra yang baru selesai melayani pembeli hanya menolehkan kepalanya sebentar ke arah yang dilihat temannya itu. Sebenarnya Jung Ra tidak ingin melakukan hal tidak penting yang sedang dilakukan Ryeowook, hanya saja ketika ia bisa melihat ekspresi Donghae yang nampak dari kejauhan, entah kenapa membuat Jung Ra membiarkan nalurinya untuk ikut melihat dari balik jendela.

Wajah Donghae begitu merah seakan sedang menahan amarah yang begitu besar. Tatapan matanya juga begitu tajam. Mungkin ini adalah pertama kali bagi Jung Ra melihat tatapan tajam yang seperti itu dari diri Donghae. Walau hanya melihat dari kejauhan, Jung Ra bisa merasakan bulu kuduknya berdiri. Donghae terlihat begitu menakutkan.

Jung Ra mengerutkan keningnya takkala orang berjas abu-abu yang sejak tadi berbincang dengan Donghae akhirnya berdiri dan meninggalkan Donghae seorang diri di dalam café.

Apa yang sedang kau rasakan, Lee Donghae? Kenapa aku merasa takut?— pikir Jung Ra seakan melihat ada api yang menyala di kedua mata Donghae.

“Hei, Go Jung Ra, kembali bekerja. Aku tidak mau kau dimarahi Hyungnim hanya karena kau berdiam di balik jendela toko seperti itu,” ujar Ryeowook yang sejak tadi sudah menjauh dari kaca. Ia berusaha memperingatkan Jung Ra agar segera menghentikan tindakannya.

Jung Ra tak menggubris peringatan Ryeowook. Ia masih memperhatikan Donghae yang akhirnya berdiri dari duduknya. Tangan laki-laki itu meraih sesuatu di atas meja dan berjalan dengan gontai menuju pintu café. Mata Jung Ra mengikuti ke mana Donghae berjalan. Dengan sangat jelas, Jung Ra bisa melihat tatapan mata Donghae yang kosong ketika laki-laki berambut gelap itu menyeberangi jalan. Bahkan ketika Donghae berjalan melintas di depan jendela kaca toko di mana Jung Ra berada, langkahnya terkesan lemah.

Lee Donghae?

Jung Ra menyentuh kaca jendela saat menyadari Donghae tak masuk ke dalam toko dan justru berjalan ke arah samping. Jung Ra menegakkan tubuhnya.

Ke mana dia? — tanya Jung Ra dalam hati. Belum sempat ia mendekatkan wajahnya pada kaca jendela, Ryeowook sudah memanggil-manggilnya agar segera membantunya. Akhirnya mau tidak mau Jung Ra harus mengurungkan niatnya untuk melihat ke mana Donghae pergi dan berjalan menghampiri Ryeowook yang sedang melayani pembeli.

Donghae yang sama sekali tak sadar sedang diperhatikan oleh Jung Ra dari dalam toko terus melangkahkan kakinya ke arah samping toko. Kakinya berhenti ketika ia melihat beberapa anak tangga yang menurun ke arah ruang bawah tanah tokonya. Dengan pelan ia menuruni anak tangga-anak tangga tersebut hingga akhirnya berhenti di depan pintu ruang bawah tanah. Tangannya merogoh saku celananya dan mengambil kunci pintu tersebut.

Tatapan matanya masih saja terkesan begitu kosong ketika ia masuk ke dalm ruangan itu dan menutup pintu yang ada di belakangnya. Setelah mengunci pintu tersebut dari dalam, Donghae pun berdiri memandang lantai keramik berwarna putih yang ada di depannya. Kunci pintu ruang bawah tanah yang ada di genggamannya terlepas begitu saja dan terjatuh di atas lantai. Tak hanya kunci itu saja yang tergeletak menyedihkan di atas lantai ruang bawah tanah yang dingin, amplop pemberian ayah tirinya juga ikut terjatuh.

Donghae terdiam membeku di tempatnya hingga perlahan setetes air mata jatuh ke pipinya. Dengan cepat ia menggerakkan tangannya, membekap mulutnya dengan punggung tangannya karena sebuah isakan kecil keluar dari sana.

Tidak. Ia tidak boleh menangis seperti ini lagi. Kalau ia membiarkan tangisnya menderu, berarti ia membiarkan Lee Donghae yang dulu menguasai dirinya setelah dengan susah payah ia mengubur dalam-dalam sosok Lee Donghae yang itu jauh di dalam hatinya.

“AARRGHHH!” Donghae berteriak sambil mendorong rak tinggi yang berisi kardus-kardus apel muda hingga membuat rak tersebut terjatuh ke atas lantai. Apel-apel yang ada di dalam kardus berhamburan keluar dan memenuhi sebagian lantai ruangan itu.

‘Karena Ayah tahu kata maaf mungkin tidak akan pernah cukup.’

Donghae tak sanggup menahannya lagi. Ucapan Ayahnya sudah benar-benar keterlaluan baginya. Ia merasa dipermainkan oleh pria itu untuk yang kedua kalinya. Air mata Donghae mengalir dengan deras. Bersamaan dengan itu Donghae pun kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Ia menghancurkan isi ruangan tersebut sambil berteriak-teriak frustasi, menggulingkan hampir semua rak kayu yang berisi tumpukan kardus dan menumpahkan semua karung yang berisi buah-buahan tak layak jual yang sudah siap untuk dibuang hingga merasa lelah dengan sendirinya dan terduduk lemas di dekat rak kayu yang sudah tak berbentuk di atas lantai.

“Ayah, kenapa kau lakukan ini padaku? Apa salahku?” keluhan Donghae tenggelam di dalam tangisnya.

Semakin lama tangisnya semakin menderu. Donghae sudah tak bisa lagi mencegah sosok Donghae Kecil yang ternyata bisa menguasai dirinya. Ia biarkan dirinya menangis seperti anak kecil karena di dalam hati Donghae merasa ia memang membutuhkan itu. Gejolak perasaannya terlalu besar untuk dia lawan. Seakan kekuatan yang selama ini ia bangun tidak berguna sama sekali dan hancur begitu saja.

——————–

Waktu berjalan dengan sendirinya dan tanpa disadari oleh semua orang termasuk Jung Ra dan Ryeowook yang berada di dalam toko, keadaan di sekitarnya berubah gelap. Lampu-lampu menerangi tiap sudut tempat itu. Pembeli datang silih berganti dan berkurang sedikit demi sedikit ketika malam semakin larut.

Ryeowook terlihat kembali dari belakang setelah membersihkan kedua tangannya. Dilihatnya Jung Ra sedang menata keranjang-keranjang pembeli di sudut toko dengan hati-hati.

“Jung Ra-ya, kau tidak pulang?” tanya Ryeowook sambil menyambar mantel birunya yang ada di sudut sofa.

Jung Ra menoleh sekilas ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan malam. Pandangannya ia alihkan pada pintu kaca toko yang tertutup sempurna. Donghae belum juga muncul di sana setelah sejak pagi menghilang dari depan toko.

“Aku akan pulang sebentar lagi. Tapi…, Oppa, apa kau tahu Donghae pergi ke mana?”

Ryeowok nampak terkejut. Ia baru sadar kalau bosnya itu tidak terlihat sejak tadi pagi. Buru-buru diambilnya ponsel yang ada di saku celananya dan mulai mencoba menghubungi Donghae. Wajah Ryeowook nampak kecewa saat ponsel Donghae tidak aktif.

“Tidak aktif,” ucap Ryeowook sambil kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.

Jung Ra hanya mendesah pelan. Jujur, pikirannya sejak tadi tidak karuan. Hatinya tidak tenang sejak melihat raut wajah Donghae yang terlihat sedih saat berjalan melintas di depan toko.

“Kenapa kau tidak segera bersiap-siap untuk pulang? Dan kenapa kau masih membawa apel-apel itu?” Ryeowook menunjuk kardus yang ada di pelukan Jung Ra.

“Oh, ini…, aku akan menyimpannya dulu di ruang bawah tanah sebelum pulang. Aah… iya, Oppa, apa kau punya kunci cadangan ruang bawah tanah?” tanya Jung Ra.

Ryeowook kembali merogoh saku celananya dan beberapa saat kemudian ia memberikan kunci cadangan ruang bawah tanah pada Jung Ra.

“Kalau sudah selesai segera pulang, ya? Bagaimana kalau aku menunggumu sampai kau selesai menyelesaikan pekerjaanmu? Atau… apa aku perlu membantumu?” Wajah Ryeowook nampak khawatir pada Jung Ra.

Jung Ra berdecak pelan. Kadang sikap Ryeowook terlalu protektif padanya, tapi Jung Ra juga tidak bisa benci. Justru ia merasa terharu dengan sikap Ryeowook yang mau mengkhawatirkan dirinya.

“Tidak perlu. Bukankah Oppa bilang harus segera pulang? Aku hanya tinggal membawa ini ke bawah sana, setelah itu aku akan pulang,” ujar Jung Ra.

“Baiklah kalau begitu. Langsung pulang, mengerti? Segera tutup toko dan pergi ke halte. Kalau jam segini, halte di dekat toko masih ramai,” perintah Ryeowook tegas.

“Aku tahu. Berhentilah memperlakukanku seperti anak kecil, Oppa. Aku ini sudah dua puluh enam tahun. Jangan mentang-mentang usiamu satu tahun lebih tua dariku, jadi kau suka memberiku perintah,” gerutu Jung Ra.

Bukannya kesal Ryeowook justru tersenyum lebar sambil mengulurkan tangannya, mencubit gemas kedua pipi Jung Ra. Jung Ra terpaksa memekik kesakitan.

Yaa!”

“Di mataku, seorang Go Jung Ra masih tetap seperti anak usia enam tahun,” canda Ryeowook.

“Sudah pulang sana!” teriak Jung Ra.

Ryeowook lantas melepas kedua tangannya dari pipi Jung Ra dan mengusap puncak kepala Jung Ra.

“Aku pulang dulu. Aigoo, aku hanya khawatir melihat anak perempuan yang masih berusia enam tahun sendirian di…” Ryeowook terpaksa menghentikan kata-katanya dan bergegas keluar dari toko saat Jung Ra mengangkat satu buah apel dan terlihat bersiap akan melemparkan buah tersebut ke arahnya.

Jung Ra menggerutu pelan sambil berjalan keluar toko membawa kardus berisi apel merah. Setelah menutup pintu toko, ia berjalan ke arah tangga kecil di atas ruang bawah tanah. Diambilnya kunci cadangan pemberian Ryeowook dan mulai membuka pintu tersebut.

Sesaat setelah pintu terbuka, Jung Ra sedikit merasa terkejut karena keadaan di dalam ruangan itu ternyata masih gelap gulita. Diletakkannya kardus apel di dekat pintu, tangannya meraba-raba dinding di dekat pintu berharap menemukan saklar lampu.

OMO!” Jung Ra memekik pelan sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya sesaat setelah menyalakan lampu yang ada di ruang bawah tanah itu. Matanya terbelalak melihat kondisi ruang bawah tanah yang hancur berantakan, rak-rak kayu yang biasanya berdiri menempel di dinding kini tergeletak tak beraturan di lantai, buah-buah setengah busuk yang harusnya ia buang siang tadi kini hampir memenuhi tiap sudut ruangan tersebut. Mirip seperti baru saja dilanda gempa hebat.

Jung Ra semakin terkejut saat mendapati Donghae tergeletak di dekat rak kayu yang sudah hancur. Buru-buru Jung Ra berlari menghampiri Donghae.

“Donghae-ssi?” Jung Ra menyentuh bahu Donghae. Hanya menyentuh bahu Donghae yang tertutup oleh lengan T-shirt berwarna biru itu saja, Jung Ra sudah bisa merasakan kulit Donghae yang sangat dingin. Jantung Jung Ra berdegup kencang ketika pikirannya dihinggapi oleh dugaan-dugaan buruk.

“Donghae-ssi?” Jung Ra kembali memanggil Donghae sambil menggoyang pelan bahu Donghae. Donghae tetap tak bergerak, dan itu semakin membuat Jung Ra kalut. Tidak mungkin laki-laki itu mati. Tidak mungkin ‘kan?

Kalau tubuh Donghae bisa sedingin ini, itu artinya Donghae sudah cukup lama berada di ruangan ini. Dengan kata lain, setelah Donghae bertemu dengan seseorang di café seberang tadi pagi, berarti Donghae mengurung dirinya di dalam ruang bawah tanah sambil menghancurkan isinya.

Apa yang terjadi padamu?— batin Jung Ra.

“Donghae-ssi!” Nada suara Jung Ra meninggi bersamaan dengan tangan Jung Ra yang menggoyang tubuh Donghae dengan kencang. Ia takut terjadi apa-apa pada laki-laki itu. Ia memang masih kesal dengan tingkah Donghae tadi pagi yang benar-benar menyebalkan, tapi melihatnya seperti ini, tentu saja Jung Ra akan sangat khawatir. Tidak lucu kalau Jung Ra harus menemukan Donghae dalam keadaan tak bernyawa di dalam ruang bawah tanah. Jangan sampai itu terjadi!

“Lee Donghae, bangunlah! Kau tidak apa-apa kan?! Yaa…eh?” Jung Ra terpaksa mengangkat kedua alis matanya saat Donghae tersentak.

Donghae yang tertidur karena merasa lelah sehabis meluapkan semua amarahnya terkejut saat mendengar seseorang berteriak di dekat telinganya. Matanya terbuka dan mendapati sosok Jung Ra duduk di dekatnya.

“Apa kau baru saja berteriak padaku?” tanya Donghae pelan sambil berusaha bangun. Disandarkannya punggung dan kepalanya pada dinding yang ada di belakangnya. Tangannya bergerak mengusap telinganya yang mendengung.

“Apa yang terjadi denganmu?” Jung Ra tak menjawab, ia justru bertanya pada Donghae karena ia melihat kedua mata Donghae yang membengkak seperti habis menangis. Sebenarnya Jung Ra ingin memarahi Donghae karena hampir saja membuatnya ketakutan setengah mati, tapi saat melihat wajah Donghae, Jung Ra menepis rasa kesalnya itu dan mencoba bertanya baik-baik pada Donghae.

Donghae juga tak menjawab pertanyaan Jung Ra. Ia hanya menundukkan kepala sambil membersihkan telapak tangannya dan siku tangannya yang kotor.

Hanya dengan menyadari Donghae seperti tak mau menjawab pertanyaannya, Jung Ra sudah tahu memang terjadi sesuatu padanya. Dan bungkamnya mulut Donghae jelas menandakan bahwa Donghae tidak memiliki niat sedikitpun untuk menceritakan apa yang terjadi pada siapa pun.

Jung Ra yang memang tidak suka mencampuri masalah orang lain, termasuk masalah yang mungkin sedang dihadapi oleh Donghae, hanya menghela napas pelan. Yang penting dugaannya bahwa Donghae mati di dalam ruang bawah tanah tidak benar. Ia sudah cukup lega bisa melihat Donghae bergerak.

“Aku tidak tahu dan tidak mau tahu masalah apa yang sedang kau hadapi, tapi kalau boleh aku memohon, bisakah kau berpikir secara sehat sedikit saja? Dengan menghancurkan ruang bawah tanah seperti ini…” Jung Ra buru-buru menghentikan ucapannya karena ia merasa nada bicaranya akan semakin meninggi. Dihirupnya napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Jung Ra masih memiliki akal sehat untuk tidak membentak Donghae yang sepertinya masih terlihat mengerikan.

“Diam di situ dulu, aku akan membereskan ini semua.” Jung Ra seraya beranjak dari duduknya dan mulai membersihkan ruang bawah tanah yang sudah menjadi korban amukan Donghae pagi tadi. Rak-rak kayu yang sudah tak layak disebut rak lagi ia pinggirkan di sudut ruangan, semua buah-buahan yang berceceran ia kumpulkan jadi satu ke dalam karung berukuran besar dan ia seret ke sudut ruangan juga. Sesekali Jung Ra melirik ke arah Donghae yang masih terdiam dengan kepala tertunduk. Walaupun ada rasa simpati yang menjalar di hati Jung Ra, tetap saja ia masih merasa takut bila sewaktu-waktu sesuatu yang buruk akan terjadi lagi. Lihat saja ruang bawah tanah yang mirip kapal pecah ini. Seingat Jung Ra, orang yang bisa menghancurkan tempat sampai seperti ini selain orang gila adalah orang yang sedang melampiaskan amarah besar di dalam dirinya. Dan kini yang mengusik benak Jung Ra adalah apa atau siapa yang telah membuat Donghae marah besar hingga bisa membuat ruang bawah tanah hancur seperti ini.

“Kau ikut pulang denganku? Toko akan kututup sebentar lagi, lagipula Ryeowook Oppa juga sudah pulang,” Jung Ra mencoba mengajak Donghae pulang. Tidak, sepertinya dia harus memaksa Donghae untuk pulang. Setidaknya laki-laki itu harus keluar dari ruang bawah tanah terlebih dulu.

Donghae mendongakkan kepalanya, memandang Jung Ra yang berdiri di dekatnya.

“Kau bisa mati kedinginan kalau berlama-lama duduk di atas lantai seperti itu, ditambah suhu ruang bawah tanahmu yang cukup dingin kalau malam tiba. Kan tidak keren kalau kau mati hanya karena kedinginan. Aku hanya menyayangkan surat kabar yang memberitakan kematianmu. Mereka bisa membuang kertas dan tinta untuk hal yang sia-sia,” Jung Ra akui ia sendiri tidak tahu kenapa bisa bicara panjang lebar seperti itu pada Donghae. Kalau sampai Donghae mengamuk lagi, berarti itu murni salahnya. Katakan saja… Jung Ra sedang berusaha membangunkan singa yang baru saja tertidur.

Di luar dugaan Jung Ra yang mengira Donghae akan mengamuk padanya, laki-laki itu justru hanya berdiri dan berjalan pelan ke arah pintu. Walaupun Jung Ra masih diliputi rasa tidak percaya, ia harus tetap sedikit merasa beruntung karena kali ini apa yang ditakutkan sama sekali tak terjadi.

Sebelum Donghae berubah pikiran, Jung Ra bergegas menyusul Donghae yang kini sudah berdiri di depan ruang bawah tanah. Jung Ra menutup pintu ruang bawah tanah dan menguncinya. Bahkan ia memilih untuk lebih dulu berjalan ke arah tangga. Sejenak kemudian ia mendengar derap langkah Donghae yang mengikutinya dari belakang.

Namun sesuatu terjadi hingga membuat Jung Ra membeku di tempatnya. Ia yang baru saja menapakkan kakinya pada anak tangga ke-empat merasakan sepasang tangan memeluk pinggangnya dengan cukup erat. Jung Ra bisa saja berteriak karena terkejut, tapi setelah menyadari sepasang tangan itu adalah milik Donghae, Jung Ra hanya bisa terdiam tegang dengan ribuan pertanyaan memenuhi kepalanya. Kenapa Donghae tiba-tiba memeluknya dari belakang seperti ini?

“Aku sedang meminta ganti rugi,” ujar Donghae pelan setelah menempelkan wajahnya pada punggung Jung Ra. Dirinya yang berdiri satu tangga di bawah Jung Ra membuatnya dengan mudah memeluk Jung Ra dari belakang dan menyandarkan kepalanya pada punggung Jung Ra tanpa harus kesulitan karena tinggi badan gadis itu yang lebih pendek darinya.

Mata Donghae untuk beberapa saat terpejam. Perlahan rasa nyaman menggelayuti tiap sudut hatinya ketika memeluk Jung Ra seperti itu. Donghae tidak bisa menjelaskan desiran aneh yang mengalir bersama dengan aliran di dalam tubuhnya, tapi Donghae bisa merasakan bahwa dengan bersandar di tubuh Jung Ra, seolah apa yang menimpa kepala dan batinnya yang begitu berat sedikit berkurang.

Jung Ra menundukkan kepalanya, memandang tangan besar Donghae yang memeluk pinggangnya. Dihelanya napas panjang dengan pelan ketika tahu apa maksud ganti rugi yang dikatakan oleh Donghae beberapa detik yang lalu. Dengan sangat yakin Jung Ra mengerti kalau Donghae sedang membutuhkan sebuah sandaran. Mungkin saja Donghae sudah merasa begitu lelah dengan apa yang sedang ia hadapi.

Seakan mengerti rasa sakit yang sedang menyerang hati Donghae, Jung Ra memegang erat tangan Donghae yang ada di perutnya. Mencoba memberi sebuah dukungan walaupun Jung Ra tidak tahu apakah dukungan tersebut bisa sampai pada diri Donghae. Jung Ra ingin mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja, tapi ketika mendengar napas Donghae yang terkesan begitu berat, akhirnya Jung Ra memilih untuk menutup mulutnya rapat-rapat dan membiarkan keadaan seperti ini berlangsung sedikit lebih lama lagi.

.

Yaa, kubilang pakai saja jaketmu itu. Kau sudah terlalu lama berada di ruang bawah tanah yang dingin tadi. Jangan bertingkah seperti drama-drama di televisi dengan memberiku jaket hanya karena sudah malam. Kau tidak lihat aku sudah memakai mantel?” Jung Ra menolak Donghae yang bermaksud untuk memasang jaket hitam di tubuhnya karena angin malam yang masih berhembus kencang dan dingin seperti biasanya.

Setelah beberapa saat yang lalu Jung Ra menutup toko, ia mengajak Donghae untuk makan ramen instan di taman dekat gedung apartemen mereka sebelum pulang. Asal tahu saja, melihat bibir pucat Donghae saja sudah membuat Jung Ra tidak nyaman. Jung Ra tahu seseorang bila sudah kalut dengan masalah yang sedang dihadapi, kemudian bertindak gila seperti menghancurkan sesuatu pasti akan kehilangan banyak tenaga. Kelaparan adalah salah satu contohnya.

“Terima kasih karena sudah meminjamkan punggungmu,” kata Donghae seraya kembali mengenakan jaketnya dan mulai memakan ramen instan yang masih panas pemberian Jung Ra. Kepalanya menoleh pada Jung Ra yang duduk bersila menghadap dirinya sambil menyantap ramen instan.

“Kau bilang ganti rugi, kan? Kalau begitu aku juga harus berterima kasih padamu karena sudah meminjamkan punggungmu malam itu,” balas Jung Ra dengan mulut penuh ramen.

Donghae ingin menyahuti ucapan Jung Ra, tapi tanpa sengaja ia melihat posisi duduk Jung Ra yang sepertinya terlalu dekat dengan tepi bangku. Bila Jung Ra bergerak mundur sedikit saja, sudah bisa dipastikan gadis itu akan terjungkal ke belakang dan berakhir menyedihkan di atas semak-semak.

“Sudah selesai makannya?” tanya Donghae.

“Sebentar lagi,” jawab Jung Ra seraya meneguk kuah ramen instannya dan menghela napas panjang dengan cukup keras saat merasakan kuah ramen instan tersebut mengalir di dalam kerongkongannya hingga membuat tubuhnya terasa hangat. Jung Ra baru akan meletakkan wadah ramen instannya ketika tanpa ia duga Donghae mengulurkan kedua tangannya untuk memegang pinggang dan pergelangan kakinya. Belum sempat Jung Ra mengeluarkan protes, tubuhnya sudah bergerak maju karena ditarik Donghae. Tentu saja hal ini membuat Jung Ra membelakakkan kedua matanya.

“Apa yang akan kau lakukan?! Jangan macam-macam, Lee Donghae! Aku bisa berteriak kalau kau berbuat macam-macam padaku!” ancam Jung Ra yang ternyata sudah merasakan degup jantungnya tak stabil lagi. Jujur saja, tindakan Donghae membuatnya terkejut bukan main. Didorongnya Donghae agar menjauh darinya.

“Macam-macam padamu? Cih, aku hanya menyelamatkanmu dari semak-semak yang ada di belakangmu itu. Kau ini sebenarnya bisa duduk tidak sih? Kalau aku tidak menarikmu ke sini, kau pasti sudah terjungkal ke belakang dan aku jamin kalau bukan lehermu yang patah, mungkin kau akan gegar otak karena menghantam batu yang ada di bawah semak-semak itu,” Donghae berusaha menjelaskan niatnya pada Jung Ra.

Dengan tetap mempertahankan wajah was-wasnya, Jung Ra menoleh ke belakang. Ternyata apa yang dikatakan Donghae memang benar. Posisi duduknya awalnya memang terlalu dekat dengan tepi bangku, dan bahaya yang sudah siap menunggunya memang sudah ada di bawa semak-semak itu. Jung Ra terpaksa meringis menahan malu ketika kembali menghadap ke arah Donghae.

“Tapi kan kau tidak perlu menarikku seperti itu. Jangankan aku, orang lain saja pasti akan berpikiran yang tidak-tidak bila melihat tindakanmu tadi,” Jung Ra masih berusaha mencari kesalahan Donghae untuk menutupi rasa malunya. Aigoo, kata gengsi mungkin lebih tepat, Go Jung Ra!

Ck…, tidak ada keuntungan sama sekali bila aku harus macam-macam padamu. Masih banyak wanita seksi di luar sana yang bisa kujadikan korbanku kalau aku mau,” sahut Donghae sambil memandang rendah Jung Ra.

Yaa!”

“Aku hanya bercanda. Aku tadi benar-benar khawatir kalau sampai kau terjatuh ke belakang. Kan tidak keren kalau kau harus masuk ICU hanya karena terjatuh dari atas bangku taman. Aku hanya menyayangkan surat kabar yang…”

“Jangan menyalin kata-kataku. Tidak kreatif sama sekali,” potong Jung Ra sambil memandang Donghae dengan ketus.

Donghae hanya tersenyum. Ditegakkan kepalanya untuk memandang ke arah depan sambil menghela napas. Untuk beberapa detik ia hanya terdiam memandangi deretan pohon rindang yang tak jauh dari tempatnya duduk hingga ia merasa Jung Ra sedang memperhatikan dirinya dari samping.

“Kenapa kau suka sekali memandangi wajahku dari samping seperti itu? Hobimu mengerikan sekali,” ujar Donghae tanpa menolehkan kepalanya pada Jung Ra.

Jung Ra hanya berdecak pelan menanggapi pertanyaan Donghae. Kali ini ia tidak akan merasa sebal hanya karena ucapan yang keluar dari bibir laki-laki yang baru saja menghancurkan ruang bawah tanah itu lagi-lagi terdengar seperti ejekan.

“Mungkin bagimu mengerikan, tapi menurutku wajah seseorang yang kupandangi dari satu sisi itu terlihat lebih indah daripada saat aku memandanginya dari depan. Aku bisa melihat garis wajah orang itu mulai dari kening, hidung, bibir dan dagu dengan jelas,” jawab Jung Ra yang sesaat kemudian justru memasang wajah sendu ketika mengingat bagaimana bentuk wajah Hyukjae yang selalu ia lihat dari samping. Hatinya kembali berdenyut hanya untuk membayangkannya.

Donghae seolah menyadari apa yang membuat Jung Ra tiba-tiba terdiam hanya mendengus pelan. Tangannya terangkat, menyentil pelan kening Jung Ra agar gadis itu segera merubah raut wajahnya.

“Patah hatimu belum sembuh ya?” celetuk Donghae.

Jung Ra yang tersentak hanya menyingkirkan telunjuk Donghae dari keningnya dan segera mengubah ekspresi wajahnya agar kembali normal.

Yaa, apa… yang terjadi padamu tadi pagi sampai kau mengurung diri di dalam ruang bawah tanah dan menghancurkan isinya?” Jung Ra berusaha untuk mengganti topik pembicaraan. Namun, setelah mengeluarkan pertanyaan seperti itu, justru membuat Jung Ra membodohi dirinya sendiri karena sekarang pandangan mata Donghae terkesan kosong.

“Kau masih menyukai kakakku, Lee Hyukjae?” Donghae justru memberikan pertanyaan lain yang membuat Jung Ra kelabakan.

“K-kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu? Aku masih menyukainya atau tidak…, itu bukan urusanmu!” elak Jung Ra.

Mendengar jawaban yang diberikan Jung Ra, Donghae hanya mengulas senyum tipis dan berkata, “Kalau begitu apa pun yang terjadi padaku tadi pagi juga bukan urusanmu.”

Jung Ra hanya mendesis kesal karena merasa Donghae pintar sekali membalas semua ucapannya.

***

At Youngwoon’s Apartment…

“Aku membeli parfum itu di Milan, Lee Hyukjae,” ujar Youngwoon geram setelah menata makan malam yang baru saja dibelinya di restoran dekat gedung apartemennya.

“Kau kan bisa membelinya lagi, Hyung,” elak Hyukjae sambil membantu kakak sepupunya menata makan malam mereka di atas meja makan.

“Parfum itu limited edition pada tahun 2010 yang lalu dan harganya sangat mahal. Sekarang kau menyuruhku untuk membelinya lagi? Kau ini bodoh atau bagaimana?” desis Youngwoon kesal seraya menarik salah satu kursi di dekat meja makan dan duduk begitu saja sambil mengambil sumpitnya.

“Aku kan tidak sengaja menjatuhkannya. Aku bisa membelikanmu yang lebih mahal dari itu. Kau lupa kalau aku pernah tinggal di Perancis? Walaupun Ayah mengirimku ke sana untuk kuliah, aku masih bisa berteman dengan orang-orang yang sangat terkenal di sana, dari mulai perancang busana yang harganya selangit sampai pembuat parfum dengan harga-harga yang fantastis dan…” Hyukjae terpaksa menghentikan ucapannya karena Youngwoon memasukkan satu potong besar daging berbumbu pedas ke dalam mulutnya.

“Makan sajalah. Kau mau berpidato semalam suntuk pun parfum kesayanganku juga tidak akan kembali lagi. Toh, botolnya juga sudah menjadi penghuni tong sampah. Sebut saja hari ini aku mengalami banyak hal sial. Kau kabur dari tempat tinggalmu hanya karena seorang gadis dan tinggal di sini, parfum kesayanganku hancur, mesin pemanas air di kamar mandiku rusak, kemudian Paman yang pergi ke toko Donghae pagi tadi dan malam ini aku harus makan semeja bersama orang yang sudah menghancurkan apartemenku,” keluh Youngwoon.

Hyukjae yang baru akan kembali mengambil nasi dengan sendoknya mendadak terkejut dan menegakkan kepalanya. Sepertinya ia mendengar sesuatu yang aneh dari keluhan panjang lebar yang diucapkan Youngwoon.

“Ayah pergi ke toko Donghae?” Mata Hyukjae membulat seketika.

Wajah Youngwoon menegang saat merasa ia baru saja sadar kalau ia keceplosan mengatakan ayah Hyukjae mengunjungi toko Donghae pagi tadi. Seharusnya ia tidak mengatakan hal itu di depan Hyukjae.

“Youngwoon Hyung, benarkah Ayah datang ke toko Donghae? Kenapa kau tidak memberitahuku sejak tadi? Apa kau tahu kenapa Ayah ke sana?” Hyukjae menghujani Youngwoon dengan banyak pertanyaan.

“Itu…, itu…, aku hanya mendengarnya dari sopir Paman yang mengantarnya tadi. Kebetulan aku bertemu dengannya di kantin saat jam makan siang dan… Yaa! Hyukjae-yaa, kau mau ke mana?!” Belum selesai Youngwoon memberi alasan, Hyukjae sudah lebih beranjak dari duduknya.

Tanpa mempedulikan panggilan kakak sepupunya, Hyukjae meraih kunci mobilnya dan keluar dari apartemen tersebut. Pikirannya sudah dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang harus ia temukan jawabannya pada Donghae. Ya, ia harus pergi ke apartemen Donghae untuk memastikan adiknya itu baik-baik saja.

Khawatir? Tentu saja Hyukjae sangat khawatir dengan Donghae karena setelah sepuluh tahun berlalu, ini adalah pertama kalinya ayahnya pergi menemui Donghae. Yang tidak dimengerti oleh Hyukjae adalah apa yang membuat ayahnya tiba-tiba melakukan tindakan mengejutkan seperti itu.

Dengan kecepatan tinggi Hyukjae mengendarai mobilnya, menjauh dari gedung apartemen Youngwoon dan berbaur bersama mobil lain yang ada di jalan raya.

.

Sementara itu Donghae dan Jung Ra sudah sampai di lantai dua gedung tempat tinggal mereka. Donghae kembali berterima kasih karena Jung Ra sudah mentraktirnya makan ramen instan. Suatu sikap yang mencengangkan dari seorang Donghae yang mau mengucapkan terima kasih lebih dari satu kali pada Jung Ra. Jung Ra yang cukup tertegun hanya membalasnya dengan anggukan kepala.

“Donghae-ssi, tunggu dulu,” Jung Ra menahan Donghae yang akan membuka pintu apartemennya.

Donghae terpaksa memutar tubuhnya untuk menghadap ke arah Jung Ra. “Ada apa?”

“Ini…” Jung Ra mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Ternyata sebuah amplop yang tadi dijatuhkan Donghae di dalam ruang bawah tanah. “… ini milikmu, kan?”

Donghae memandang amplop itu untuk beberapa saat sebelum akhirnya menariknya dari tangan Jung Ra. Amplop pemberian ayahnya yang berisi rincian ruko baru di tengah kota Seoul.

“Masuklah. Kau harus istirahat. Keadaanmu lebih parah dari orang yang sedang patah hati sepertiku.” Jung Ra menggerakkan dagunya ke arah pintu yang ada di belakang Donghae.

Donghae menatap Jung Ra beberapa detik hingga sebuah ide muncul di benaknya.

“Kau mau jalan-jalan besok?”

Jung Ra terpaksa mengangkat salah satu alisnya, seolah merasa aneh saat mendengar ajakan jalan-jalan dari Donghae.

“Sepertinya kau kehilangan hampir semua akal sehatmu, Tuan Lee Donghae. Masuk sajalah.” Jung Ra mendorong Donghae agar segera membuka pintu dan masuk ke dalam.

“Aku akan menjemputmu pagi-pagi sekali,” Donghae masih bersikukuh dengan ajakannya walaupun kini tubuhnya sudah berada di ambang pintunya yang terbuka. Tenaga Jung Ra yang entah kenapa begitu besar bisa mendorongnya masuk ke dalam apartemennya. Dengan wajah menyeramkan Jung Ra memaksanya untuk menutup pintu dan segera tidur.

“Jangan keluar lagi!” ujar Jung Ra setelah memastikan Donghae mengunci pintu dari dalam. Dihelanya napas pelan sambil berjalan ke depan apartemennya sendiri. Tangannya baru akan merogoh isi tasnya untuk mengambil kunci apartemen saat terdengar suara derap langkah terburu-buru seseorang yang berasal dari tangga.

Awalnya Jung Ra hanya ingin menolehkan kepala untuk melihat siapa yang berlari-lari seperti itu di malam-malam seperti ini. Namun, setelah melihat sosok seorang pria berpakaian sweater putih yang muncul dari balik dinding dekat tangga, Jung Ra hanya bisa membeku di tempatnya.

Pria itu adalah Lee Hyukjae.

Jung Ra ingin mengalihkan pandangannya ke arah pintu dan segera masuk, tapi semua anggota tubuhnya mendadak tak bisa ia gerakkan. Ia hanya berdiri sambil memandang Hyukjae yang juga berdiri tak jauhnya.

Hyukjae yang awalnya ingin mencari Donghae terkejut saat mendapati Jung Ra sedang berdiri dan memandangnya. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain menatap gadis itu.

Merasa sudah terlalu lama berdiri seperti itu, akhirnya dengan susah payah Jung Ra bisa mengembalikan kesadarannya dan menundukkan kepalanya sebentar sebagai tanda ucapan selamat malam pada Hyukjae.

“Go Jung Ra, tunggu,” Hyukjae menahan Jung Ra yang sudah membuka pintu dan sepertinya akan masuk ke dalam.

Seharusnya Jung Ra tidak menuruti apa kata Hyukjae, tapi kedua kakinya lagi-lagi tak mau menuruti apa yang hatinya perintahkan. Ditolehkan kembali kepalanya ke arah Hyukjae yang tak beranjak dari tempatnya.

“Kau sudah pindah dari sini…, kenapa tiba-tiba sekali?” Jung Ra bertanya lebih dulu sebelum Hyukjae membuka mulutnya.

“Apa?”

“Kata Bibi Pemilik Gedung kau pergi karena urusan pekerjaan. Apa itu benar?”

Hyukjae menghembuskan napasnya pelan sambil menganggukkan kepalanya. Hyukjae berani bertaruh, saat ini ia bisa melihat dengan jelas sorot mata Jung Ra yang begitu sedih saat mengucapkan pertanyaan itu padanya.

“Tapi kenapa aku merasa alasan kau pergi dari sini adalah karena aku? Apa kau merasa tidak nyaman karena aku sudah menyatakan perasaanku padamu?”

Hyukjae terkejut saat mendengar pertanyaan Jung Ra. Hanya dengan mendengar pertanyaan itu sudah membuat dada Hyukjae seperti dihantam oleh sesuatu yang sangat besar. Gadis itu benar-benar terluka karena dirinya.

“Aku seperti seseorang yang sudah mengganggu hidupmu ya? Kalau tahu begini, seharusnya sejak awal aku tidak salah paham atas perhatian yang kau berikan padaku.” Mata Jung Ra terlihat berkaca-kaca.

“Tidak. Kau sama sekali tidak mengganggu hidupku, Go Jung Ra. Kumohon jangan biarkan pikiran seperti itu mempengaruhimu.” Hyukjae terlihat bersalah saat melihat Jung Ra akan menangis.

“Tapi kenyataannya memang begitu, Hyukjae-ssi. Yang ada di pikiranku hanya itu. Aku tidak bisa menganggap kepergianmu karena urusan pekerjaan. Aku merasa kau pergi karena diriku. Iya kan?” Air mata mengalir dari mata Jung Ra, namun Jung Ra dengan cepat menyekanya.

“Go Jung Ra…”

“Aku memang menyuruh diriku untuk menjaga jarak darimu karena aku tahu sekarang ada garis batas yang tidak boleh kulangkahi. Tapi aku tidak tahu kalau kau akan sejauh itu dariku. Aku merasa seperti orang jahat,” potong Jung Ra dengan terisak.

Seketika Hyukjae merasa kedua kakinya lemas, seakan sudah tak kuat untuk menopang berat tubuhnya. Tapi entah kekuatan dari mana yang masih bisa membuat Hyukjae berdiri. Bahkan ketika Jung Ra kembali mengucapkan selamat malam padanya dan menghilang setelah pintu itu tertutup, Hyukjae hanya bisa terdiam membisu. Niat awalnya untuk menemui Donghae hilang begitu saja dan tergantikan dengan perasaan yang hancur saat melihat Jung Ra menangis di depannya. Dan perasaannya lebih hancur lagi saat tahu gadis itu menangis karena dirinya.

To be continued

 

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: