FRUIT LOVE [16/20]

hyuk2_副本

FRUIT LOVE

Chaptered FF

Author : Nita Henny

Cast : Go Jung Ra (OC) – Lee Donghae – Lee Hyukjae

Kim Ryeowook – Kim Youngwoon

Genre : Romance, Family, Brothership

Rating : PG-14

Note :
FF Ini udah pernah kupublish di blogku sendiri. Dulu, udah lama. Dan sekarang aku coba kirim ke sini hehehe.
You can visit my blog === >>> https://imajinasinita.wordpress.com/

Happy reading ~~~~

============================

‘Aku memang menyuruh diriku untuk menjaga jarak darimu karena aku tahu sekarang ada garis batas yang tidak boleh kulangkahi. Tapi aku tidak tahu kalau kau akan sejauh itu dariku. Aku merasa seperti orang jahat.’

Hyukjae mengacak-acak rambutnya sambil tetap berbaring di atas sofa yang ada di ruang tengah apartemen Youngwoon. Dihelanya napas panjang sambil kembali memejamkan kedua matanya. Jam dinding sudah menunjukkan pukul lima pagi, tapi Hyukjae belum juga bisa menenggelamkan dirinya ke dalam dunia mimpi. Ya, sejak ia pulang dari tempat Donghae kemarin ia sama sekali tak bisa tidur dengan nyenyak, atau mungkin lebih tepatnya ia sama sekali tidak bisa tidur. Berulangkali ia hanya bisa menghela napas panjang, memejamkan mata, kemudian membukanya lagi. Begitu seterusnya hingga pagi menjelang seperti saat ini.

Bayangan wajah Jung Ra terus-menerus memenuhi benaknya. Tetesan air mata yang keluar dari mata indah Jung Ra masih belum bisa dilupakan Hyukjae. Dadanya semakin lama semakin sesak tiap mengingat bagaimana Jung Ra menyalahkan diri atas kepergiannya dari gedung itu. Memang benar, alasannya pergi dari gedung itu karena Jung Ra. Tapi salah besar bila ia merasa tidak nyaman dengan Jung Ra setelah gadis itu mengutarakan perasaann padanya. Salah besar bila ia merasa hidupnya terganggu karena Jung Ra. Itu sangat salah besar!

Aku hanya ingin membatasi diriku sendiri, Jung Ra-ya. Kalau aku tidak segera pergi dari gedung itu, aku takut aku kehilangan kendali dan mengingkari janjiku pada Donghae — ucap Hyukjae di dalam hati sambil memandang langit-langit apartemen Youngwoon.

“Kau belum tidur?” Youngwoon keluar dari kamar tidurnya sambil menggaruk-garuk kepalanya. Wajahnya terlihat kusut karena ia baru saja bangun tidur dan nampak terkejut ketika mendapati Hyukjae masih terjaga di ruang tengah.

“Belum,” hanya itu jawaban yang diberikan oleh Hyukjae tanpa memandang kakak sepupunya.

Youngwoon menatap sekilas jam dinding, kemudian beralih pada kaleng-kaleng bir yang berserakan di atas meja di depan sofa yang sedang ditiduri Hyukjae. Youngwoon mendesah pelan saat tahu kaleng-kaleng itu sudah kosong. Dan bila Youngwoon harus bertanya ke mana perginya isi kaleng-kaleng tersebut, sepertinya ia tak perlu kesulitan untuk mendapatkan jawabannya karena jawabannya ada di hadapannya.

Lee Hyukjae.

Ya, isi kaleng-kaleng itu sudah pasti ada di dalam perut Hyukjae.

“Lee Hyukjae…”

“Aku tidak apa-apa, Hyung. Aku tidak mabuk. Sama sekali tidak. Aku baik-baik saja,” potong Hyukjae. Tangannya bergerak mengusap wajahnya dan bangun dari tidurnya. Beberapa saat ia menggerakkan kepalanya karena ia merasakan lehernya sedikit sakit. Sepertinya berbaring terlalu lama di atas sofa memang tidak baik untuk kesehatan lehernya. Hyukjae menoleh ke arah Youngwoon yang berdiri dengan kedua tangan ada di dalam saku celana training. Kakak sepupunya itu menatapnya seakan sedang menaruh simpati padanya.

“Aku baik-baik saja, Hyung. Kau tidak perlu mencemaskanku seperti itu,” kata Hyukjae meyakinkan Youngwoon.

Youngwoon mendengus pelan sebelum berkata sinis pada Donghae,” Pagi ini aku hanya sedang mencemaskan ruang tengahku yang sudah seperti meja di tempat hiburan malam. Bisakah nanti kau bersihkan meja kesayanganku dari kaleng-kaleng bir sialan itu setelah kau selesai melamun?”

Yaa, Hyung, kau lebih memikirkan meja ruang tengahmu daripada adik sepupumu ini?” Hyukjae menegakkan tubuhnya dan cukup tercengang mendengar ucapan Youngwoon.

“Untuk saat ini, iya,” jawab Youngwoon seraya berjalan kembali ke kamarnya. Namun, ketika ia teringat sesuatu, langsung diputar tubuhnya menghadap ke arah Hyukjae lagi. “Kau bertemu dengan Donghae kemarin?”

Hyukjae menggelengkan kepalanya sambil menyandarkan tubuhnya pada punggung sofa yang empuk di belakangnya. “Aku tidak bertemu dengannya. Bahkan ponselnya tidak bisa dihubungi.”

Sesaat Youngwoon terdiam memandangi Hyukjae yang kini kembali memejamkan mata. Bila sudah melihat ekspresi seperti itu di wajah Hyukjae, sudah jelas Youngwoon tidak akan memberikan pertanyaan lagi. Hanya dengan memandang wajah Hyukjae, Youngwoon sudah tahu kalau adik sepupunya itu bertemu dengan Jung Ra, gadis yang disukainya.

“Berat, kan?” ujar Youngwoon sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

Hyukjae terpaksa menegakkan kepalanya dan membuka matanya untuk memandang heran ke arah Youngwoon.

“Bertemu lagi dengan gadis itu, rasanya berat kan?” Youngwoon memperjelas ucapannya.

Hyukjae hanya menghela napas pelan dan senyum pahit terlihat samar di bibirnya.

“Kalau aku boleh berpendapat, sebenarnya keputusanmu untuk pergi dari gedung itu adalah salah. Aah, bukan, bukan, lebih tepatnya kau sudah salah sejak kau menolak gadis itu. Seharusnya kau sudah tau konsekuensi apa yang harus kau tanggung bila ingin bertemu dengan Donghae. Kau bilang gadis itu dekat dengan Donghae. Itu artinya mereka berdua akan selalu bersama setiap waktu. Ditambah tempat tinggal mereka bersebelahan dan gadis itu bekerja di toko Donghae. Bila kau selalu merana seperti ini tiap kali tidak sengaja bertemu dengan gadis itu saat ingin bertemu Donghae, kau sama saja menyiksa dirimu sendiri. Dan mungkin saja kau juga menyiksa gadis itu secara bersamaan. Bisakah kau hentikan tindakan konyolmu itu dan berpacaran saja dengannya?” Youngwoon merasa gemas sendiri pada Hyukjae yang suka mempersulit diri sendiri hanya karena Donghae sejak delapan belas tahun lalu. Yaa… walaupun terkadang Youngwoon merasa kagum pada rasa sayang Hyukjae sebagai seorang kakak pada Donghae. Tapi, untuk urusan asmara seperti ini, apakah itu harus?

“Entahlah, Hyung.” Hyukjae lantas bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kulkas yang ada di dapur. Diambilnya sebotol air mineral dari dalam kulkas dan meneguk sebagian isinya.

“Ya sudahlah. Aku mau tidur lagi saja. Hari Minggu seperti ini bila tidak digunakan untuk istirahat seharian rasanya akan terbuang sia-sia. Oh ya, jangan lupa bersihkan ruang tengahku,” ujar Youngwoon yang akhirnya menyerah untuk memberikan ‘pencerahan’ pada Hyukjae. Tanpa mempedulikan Hyukjae yang masih berdiri di depan kulkasnya, Youngwoon pun masuk kembali ke dalam kamarnya.

Hyukjae tak beranjak dari tempatnya ketika mendengar suara pintu kamar Youngwoon tertutup. Pikirannya masih melayang memikirkan Jung Ra. Apakah ia harus menuruti kata Youngwoon untuk mengingkari janjinya sendiri sepuluh tahun lalu dan menjalin hubungan dengan Jung Ra? Ia memang mencintai Jung Ra, tapi Hyukjae juga sangat menyayangi adiknya, Donghae.

***

Yaa, Lee Donghae, tunggu aku!” teriak Jung Ra dengan napas tersengal-sengal. Kedua kakinya rasanya sudah sangat lemas untuk mengimbangi laju lari Donghae yang menurutnya sangat cepat itu.

Donghae yang berjarak beberapa meter dari Jung Ra langsung berhenti dan memutar tubuhnya ke belakang. Ia berkacak pinggang saat melihat Jung Ra memeluk salah satu pohon rindang yang ada di pinggir jalan menanjak yang masih terlihat sepi pagi ini. Sambil berdecak pelan, dihampirinya Jung Ra yang masih memeluk erat pohon tersebut.

“Go Jung Ra…”

“Tunggu sebentar… tunggu sebentar… tunggu sebentar,” ucap Jung Ra pelan sambil memejamkan mata. Berulangkali Jung Ra tersenyum lebar ketika angin pagi berhembus di bawah pohon tersebut.

“Kau sudah gila ya memeluk pohon seerat itu? Aku tidak pernah tahu efek samping dari patah hati sebegitu parahnya hingga membuat orang menjadi gila dan memiliki hobi memeluk pohon yang ada di pinggir jalan secara mendadak,” kata Donghae, menggelengkan kepalanya ketika kembali melihat Jung Ra tersenyum lebar dengan mata terpejam. Sepertinya ia menyesal telah mengajak gadis itu keluar sepagi ini.

Mendengar ucapan Donghae seketika Jung Ra menghentikan senyumannya dan membuka matanya walaupun kedua tangannya masih erat memeluk pohon yang ada di depannya itu.

“Kurasa yang gila di sini adalah dirimu. Kau sudah gila ya sampai-sampai tidak bisa membedakan antara arti jalan-jalan dan lari-lari? Bukankah kemarin kau mengajakku untuk jalan-jalan?” balas Jung Ra ketus.

“Pagi ini cerah dan udaranya sangat segar. Kupikir bila kita lari pagi seperti ini…”

“Kau memang sudah gila rupanya. Haaaah…, tubuhku lemas semua,” Jung Ra mengeluh setelah mengatai Donghae.

Sebenarnya Donghae ingin tertawa geli melihat ekspresi Jung Ra yang menurutnya terlalu berlebihan untuk ukuran orang yang sedang kelelahan. Namun, ketika tanpa sengaja ia melihat beberapa orang yang melintas di dekat mereka berbisik sambil menunjuk ke arah Jung Ra, niatnya itu ia urungkan. Tidak heran bila orang-orang tersebut mengira Jung Ra adalah gadis kurang waras, lihat saja bagaimana Jung Ra yang sudah mirip dengan koala yang sedang memeluk pohon seperti itu. Mungkin Donghae tidak akan ambil pusing kalau saja salah satu dari orang-orang tersebut tidak menunjuk-nunjuk dirinya.

“Koala-ssi, bisakah kau berhenti memeluk pohon seperti itu?” Donghae berusaha menghentikan tindakan konyol Jung Ra.

“Apa?” Jung Ra yang mendengar ada sebutan baru untuknya dari Donghae langsung melepas kedua tangannya dari pohon dan memandang tajam ke arah Donghae. “Kau menyebutku apa tadi?”

“Beberapa detik lalu aku menyebutmu Nona Koala, tapi karena sekarang kau sudah berdiri seperti manusia, sebutan itu sudah tak berlaku lagi. Kau masih bisa berlari lagi?”

Ekspresi tajam yang beberapa saat lalu menghiasi wajah Jung Ra kini berubah melunak, bahkan hampir terlihat seperti orang yang sedang memohon untuk tidak dihukum mati. Begitu menyedihkan dan bisa dipastikan bila orang lain yang melihatnya akan langsung merasa iba. Tapi untung saja yang melihat ekspresi Jung Ra seperti itu hanya Donghae, jadi tidak akan terlalu berpengaruh.

“Aku sudah tidak bisa lari lagi. Bagaimana kalau kita jalan saja, eo? Kau tidak lihat wajahku yang sudah mengerikan seperti ini? Kau tidak kasihan ya padaku? Asal kau tahu saja, ini adalah pertama kalinya dalam hidupku berlari sejauh ini dan seberat ini. Kau tidak lihat jalan menanjak ke atas itu? Kalau aku bisa, aku lebih memilih untuk menggelinding ke bawah sana daripada berlari ke atas.”

Donghae hanya memandang Jung Ra yang masih belum bisa mengatur napasnya walaupun mereka sudah berhenti lebih dari sepuluh menit. Walaupun Jung Ra mengeluh dengan kata-kata yang menurut Donghae terlalu berlebihan, tetap saja Donghae merasa tidak tega. Gadis itu memang sudah terlihat sangat kelelahan. Keringatnya saja tak berhenti mengucur, membuat wajah Jung Ra seperti habis diguyur air.

“Masih bisa jalan?” tanya Donghae setelah melihat sekilas kedua kaki Jung Ra yang gemetar.

“Kau tidak perlu menggendongku. Aku masih bisa jalan kok, yaa… walaupun kakiku masih susah untuk digerakkan,” Jung Ra menolak sambil menggerakkan kedua telapak tangannya di depan Donghae.

“Siapa yang mau menggendongmu? Ayo jalan.” Donghae meraih salah satu pergelangan tangan Jung Ra dan menggenggamnya dengan erat.

“Aku bisa jalan sendiri,” elak Jung Ra ketika Donghae menarik tangannya.

“Yakin? Kau tidak lihat kakimu yang gemetar seperti itu? Kita jalan pelan-pelan saja. Di dekat perempatan jalan yang ada di depan sana ada minimarket, kita bisa istirahat di sana sebentar,” ujar Donghae, mengajak Jung Ra berjalan bersamanya dengan pelan.

Jung Ra hanya mengangguk pelan walaupun di dalam hatinya merasa sedikit kecewa karena Donghae tak jadi menggendongnya. Bukannya apa-apa, ia hanya malas bila harus kembali menggerakkan kedua kakinya meski hanya untuk berjalan pelan seperti ini. Ia pikir dengan memancing Donghae agar tak menggendongnya bisa membuat laki-laki itu memiliki pikiran untuk menggendongnya. Sepertinya Jung Ra terlalu jauh mengartikan kebaikan Donghae akhir-akhir ini.

Laki-laki berwajah tampan ini masih saja menyebalkan! Sayang sekali ketampanannnya harus berkurang banyak hanya karena sikap menyebalkannya itu! Untung saja dia memiliki kakak yang sama tampan dengannya, jadi aku masih bisa meredam keinginanku untuk mematahkan lehernya itu! Dan untung saja aku menyukai kakaknya, bukan dia, jadi aku…,

Jung Ra yang duduk di bangku panjang yang ada di depan minimarket sederhana di pinggir jalan langsung memejamkan kedua matanya setelah sadar ia baru saja menyebut Hyukjae di dalam omelan batinnya. Lagi-lagi ia teringat Hyukjae. Dan bersamaan dengan itu ia teringat pertemuannya dengan Hyukjae kemarin malam. Ia merasa kata-kata yang ia ucapkan pada Hyukjae kemarin benar-benar keterlaluan. Rasa bersalah menggelayut di dalam hati Jung Ra saat teringat bagaimana Hyukjae terkejut mendengarnya dan memohon padanya dengan ekspresi wajah yang begitu menyedihkan.

Jung Ra tersentak dari lamunannya takkala ia merasakan sesuatu yang dingin menyentuh pipinya. Matanya terbuka dan di depannya sudah ada Donghae yang berdiri di depannya. Salah satu tangan laki-laki itu masih terulur menempelkan sebotol air mineral dingin di pipi Jung Ra.

“Pegang ini,” Donghae menyuruh Jung Ra untuk tetap menempelkan botol tersebut di pipinya. Jung Ra lagi-lagi hanya menuruti apa kata Donghae.

“Terima kasih,” ucap Jung Ra.

Donghae hanya menggelengkan kepala sambil menghenyakkan dirinya di samping Jung Ra dan mulai meneguk air mineral miliknya.

“Aaaaah… segar sekali!” ujar Jung Ra dengan wajah berbinar setelah meneguk hampir semua isi botol mineral pemberian Donghae. Karena masih merasa haus akhirnya Jung Ra kembali meminum airnya dengan kepala sedikit mendongak.

Donghae menoleh ke arah Jung Ra yang masih sibuk menghabiskan isi botol air mineralnya. Dilihatnya gadis itu hanya sesekali menyibak poninya dan menyingkirkan beberapa helai rambut yang menempel di pipi dan lehernya. Sambil berdecak pelan, Donghae merogoh saku celananya dan beberapa saat kemudian sebuah karet gelang berwarna merah sudah ada di tangannya.

“Diam dan tetap habiskan minumanmu,” kata Donghae seraya menggeser tubuhnya sedikit ke belakang. Kedua tangannya meraup rambut Jung Ra ke belakang.

Jung Ra yang sedang meneguk air mineral seketika terkejut dan hampir menyemburkan air yang ada di dalam mulutnya andai tak segera menelannya.

“A-apa yang sedang kau lakukan?!” tanya Jung Ra terkejut ketika ia merasakan rambutnya dipegang oleh Donghae.

“Mengikat rambutmu. Kau tahu aku paling risih melihat gadis yang suka menggerai rambut tanpa melihat situasi. Kalau sedang olahraga seharusnya kau mengikat rambutmu agar tidak mudah basah karena keringat.” Donghae mulai mengikat rambut Jung Ra, memastikan tidak ada sehelai rambut pun yang menempel di tengkuk gadis itu. Dalam hati Donghae bisa menghitung ini yang ketiga kalinya ia mengikat rambut Jung Ra. Benar-benar konyol.

“Terima kasih,” ucapan itu mau tidak mau dikeluarkan Jung Ra dari dalam mulutnya. Meskipun merasa sedikit aneh karena perlakuan Donghae, Jung Ra tetap merasa harus berterima kasih karena kini ia bisa merasakan hembusan angin pagi menerpa tengkuknya. Paling tidak rasa gerah yang sejak tadi menyerangnya karena berkeringat mulai berkurang.

Jung Ra menghirup udara pagi yang segar dalam-dalam sambil memejamkan matanya. Donghae yang awalnya ingin mengalihkan pandangannya ke arah lain pun terpaksa kembali menoleh ke arah Jung Ra. Cukup lama ia memandang Jung Ra dari samping seperti itu.

‘…menurutku wajah seseorang yang kupandangi dari satu sisi itu terlihat lebih indah daripada saat aku memandanginya dari depan. Aku bisa melihat garis wajah orang itu mulai dari kening, hidung, bibir dan dagu dengan jelas.’

Donghae teringat akan kata-kata Jung Ra tempo hari. Entah apakah memang benar adanya atau hanya perasaan Donghae saja, sejenak Donghae tak bisa mengalihkan matanya dari Jung Ra. Matanya perlahan menyusuri wajah Jung Ra dari bagian kening, hidung mancung, bibir mungil dan dagu Jung Ra. Kemudian mata Donghae kembali bergerak ke atas untuk memandang mata Jung Ra yang terpejam. Dengan sangat jelas Donghae bisa melihat betapa panjang dan lentiknya bulu mata Jung Ra. Tanpa sadar Donghae mengulas senyum tipis ketika memandang detail tiap lekuk wajah Jung Ra dari samping.

“Memang lebih indah kalau hanya dilihat dari satu sisi,” celetuk Donghae yang ternyata berhasil membuat Jung Ra membuka matanya dan menoleh.

“Apa?”

“Kubilang memang lebih indah kalau hanya dilihat dari satu sisi. Itu kan yang kau katakan tempo hari?” ulang Donghae.

Sesaat Jung Ra berpikir hingga akhirnya ia menyadari sesuatu.

“Kau baru saja memandangi wajahku?” selidik Jung Ra curiga.

Donghae menganggukkan kepala sebelum berkata,” Tapi jujur aku tidak suka.”

Ucapan Donghae memaksa Jung Ra untuk mengerutkan keningnya karena merasa tidak mengerti.

“Aku tidak suka bila harus melihat wajah orang hanya dari satu sisi, karena bila aku melakukannya itu berarti aku tidak bisa melihat sisi wajahnya yang lain. Dan itu terasa menyebalkan bagiku,” ujar Donghae.

“Aku tidak memaksamu untuk mempercayai kata-kataku,” timpal Jung Ra sedikit kesal.

“Aku memang tidak merasa dipaksa olehmu.”

“Lalu kenapa kau berkata demikian?”

“Karena aku merasa dengan melihat wajah orang hanya dari satu sisi, aku seperti orang bodoh. Mungkin saja sisi wajah yang kulihat itu sedang menampilkan ekspresi bahagia dan senyuman yang hangat, tapi tidak ada yang tahu bila di sisi lainnya ada sebulir air mata kepedihan yang jatuh dari pelupuk matanya.”

Jung Ra cukup tertegun mendengar Donghae berkata seperti itu. Ia merasa ada sosok Donghae lain yang keluar dari dalam diri Donghae yang sedang duduk di sampingnya itu. Ini pertama kali bagi Jung Ra melihat Donghae seperti itu.

“Aku lebih suka melihat wajah orang dari depan. Aku merasa wajah orang itu lebih indah bila dilihat secara utuh. Aku merasa tidak ada yang bisa ditutupi bila aku melihatnya dari depan seperti ini,” lanjut Donghae.

“Seperti yang kau lakukan saat ini?” tanya Jung Ra.

Donghae mengangguk membenarkan pertanyaan Jung Ra.

“Lalu bagaimana menurutmu wajahku ini? Kau bilang tadi wajahku memang lebih indah bila kau lihat dari satu sisi. Sekarang bagaimana?” Jung Ra kembali bertanya dengan nada polos.

“Biasa saja,” hanya itu jawaban yang diberikan Donghae hingga selanjutnya Jung Ra melayangkan pukulan ke arah lengannya dengan keras sebagai bentuk protes.

“Kurang ajar! Kau tidak tahu banyak orang yang berkata padaku kalau wajahku cantik dan manis? Atau jangan-jangan kau sama sekali tidak tertarik pada wanita? Kau…”

“Jangan berpikiran yang aneh-aneh, aku bukan seperti yang kau pikirkan. Aku masih normal, aku masih menyukai wanita,” gerutu Donghae.

“Aku menantangmu untuk bisa menyukaiku. Bagaimana?” canda Jung Ra yang berhasil membuat Donghae melemparkan tatapan serius ke arahnya.

“K-kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Jung Ra sedikit gugup.

“Daripada aku menerima tantanganmu, aku lebih suka membuatnya menjadi versiku sendiri,” jawab Donghae dengan nada yang dibuat seolah-olah dia tidak bercanda.

“Apa itu?”

“Aku akan membuatmu menyukai dalam waktu singkat. Bagaimana?”

“K-kenapa kau suka sekali membalikkan ucapan seseorang ke dalam versimu sendiri? Dari dulu sampai sekarang hobimu itu mengerikan,” elak Jung Ra yang tak habis pikir dengan ucapan Donghae.

“Kau meragukan ucapanku?”

“Sudahlah. Aku mau pulang, kakiku sudah pegal semua. Aku ingin tidur saja mumpung ini adalah hari Minggu.” Jung Ra seraya berdiri dan berjalan meninggalkan Donghae yang tertawa terbahak-bahak melihat wajah memerahnya.

“Sayang, bagaimana kalau kugendong saja? Kakimu pegal semua kan?” goda Donghae sambil berdiri dan berlari kecil mengejar Jung Ra.

“Hiiii…. Sebutan apa itu?!” Jung Ra langsung lari terbirit-birit sambil memasang ekspresi jijik mendengar ucapan Donghae.

***

A few weeks later…

Hari berjalan tanpa ada orang yang menyadarinya. Begitu juga Hyukjae yang kini sudah menempati apartemen baru tak jauh dari gedung kantor ayahnya. Sebenarnya ia sudah merasa nyaman tinggal bersama Youngwoon, tapi kakak sepupunya itu hampir setiap hari mencoba untuk mengusirnya dengan alasan yang tak masuk akal. Dari mulai tidak tahan dengan aroma parfumnya sampai merasa aneh bila dua orang laki-laki harus tinggal bersama dalam satu tempat. Akhirnya Hyukjae yang sudah lelah mendengar semua alasan Youngwoon memilih untuk angkat kaki dari sana dan mencari apartemen baru. Memang ada benarnya Hyukjae menempati apartemen di dekat kantor, karena dengan begitu ia tak akan terlalu jauh mengendarai mobilnya untuk sampai ke gedung tersebut.

“Hampir satu bulan ini ayahmu berada di Jepang untuk bertemu dengan koleganya. Kau tidak tahu itu?” ujar Kepala Bagian Han ketika Hyukjae menemuinya sesaat setelah rapat mingguan perusahaan selesai.

“Aku tidak tahu,” jawab Hyukjae memang tidak tahu.

“Anak macam apa kau ini sampai ayahmu sendiri sedang ada di mana kau tidak tahu,” cibir Kepala Bagian Han seraya berjalan menjauh dari depan ruang rapat.

“Kapan kira-kira Ayah akan pulang, Ahjussi?” tanya Hyukjae menyeimbangi langkah kaki Kepala Bagian Han.

“Mungkin beberapa hari lagi. Kenapa kau tiba-tiba mencarinya seperti ini? Apa kau sudah membuat ulah lagi?”

“Justru Ayah yang sudah membuat ulah,” koreksi Hyukjae yang membuat Kepala Bagian Han menghentikan langkah kakinya dan memandang Hyukjae.

“Ulah? Apa maksudmu?”

“Aku tidak bisa memberitahumu, Ahjussi. Oh ya, aku harus pergi,” tanpa menjawab pertanyaan Kepala Bagian Han, Hyukjae lantas pergi begitu saja menuju pintu utama yang ada di dekat ruang lobby.

Setelah menyalakan mesin mobilnya, Hyukjae melajukannya menjauh dari area parkir dan keluar dengan kecepatan yang lumayan kencang menuju toko Donghae. Ya, sekarang Hyukjae harus bisa bertemu dengan adiknya itu bagaimanapun caranya karena sudah berminggu-minggu ia tak bisa menemukannya. Kesabarannya sudah habis. Awalnya ia pikir sebaiknya ia bertemu dengan ayahnya dulu untuk bertanya apa tujuan datang ke toko Donghae. Tetapi setelah tahu betapa sulitnya bertemu dengan ayahnya tersebut, akhirnya Hyukjae memilih untuk mencari Donghae. Ia akan memaksa adiknya itu untuk memberitahunya apa alasan ayah mereka mencarinya.

Mobil Hyukjae berhenti di pinggir jalan tak jauh dari toko Donghae. Untuk beberapa saat Hyukjae hanya terdiam memandangi area depan toko Donghae hingga akhirnya ia memantapkan dirinya sendiri untuk keluar dari mobil. Langkahnya yang semula tergesa-gesa mendadak melambat ketika melihat sosok Donghae muncul dari arah samping. Adiknya tersebut terlihat sedang membawa sebuah kardus berukuran sedang.

“Donghae-ya!” panggil Hyukjae sambil berlari kecil menghampiri Donghae.

Donghae nampak terkejut melihat Hyukjae berlari ke arahnya. Ia tahu alasan Hyukjae mencarinya pagi ini karena hampir beberapa minggu ini ia memang sengaja tidak ingin bertemu dengannya.

“Kenapa ayah datang mencarimu?” Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Hyukjae sesaat setelah berdiri di depan Donghae. Hyukjae tak mau berbasa-basi karena ia sudah cukup khawatir memikirkan Donghae.

Donghae bisa melihat dengan jelas kecemasan khas dari raut wajah Hyukjae. Sebelum menjawab pertanyaan itu, Donghae menyuruh Hyukjae untuk masuk ke dalam toko. Tidak mungkin ia membiarkan percakapan yang mungkin akan begitu serius ini berlangsung di luar toko seperti ini.

“Kenapa ayah datang ke tokomu? Apa dia mengatakan sesuatu yang buruk padamu? Apa dia mengganggumu?” Hyukjae memberondong Donghae dengan banyak pertanyaan sesaat setelah mereka duduk dalam ruangan kecil yang ada di bagian belakang toko.

Donghae hanya tersenyum sinis sambil meletakkan dua kaleng bir ke atas meja kecil di depan Hyukjae. Setelah menghenyakkan dirinya di hadapan Hyukjae, Donghae langsung membuka salah satu kaleng tersebut dan meneguk sebagian isinya.

“Donghae-ya!” Hyukjae yang tak sabar langsung memanggil Donghae yang nampak tenang seolah tidak terjadi apa-apa.

“Aku tidak tahu kau sekhawatir itu padaku,” sahut Donghae ringan setelah meletakkan kembali kaleng birnya ke atas meja dan membalas tatapan Hyukjae.

“Aku tidak sedang bercanda, Lee Donghae. Dan tentu saja aku khawatir padamu. Kau pikir aku akan merasa tenang setelah tahu ayah datang menemuimu setelah sepuluh tahun…” Hyukjae menghentikan kata-katanya dan langsung mengambil napas dalam-dalam ketika ia tahu akan ke mana arah ucapannya itu.

Donghae hanya mengulas senyum tipis di sudut bibirnya sambil kembali mengangkat kaleng birnya, meneguk isinya sedikit kemudian memainkannya dengan kedua tangannya. Tak ada niat sedikit pun darinya untuk membuka mulut sekedar menimpali ucapan tertahan kakak tirinya tersebut karena sebenarnya ia sendiri juga sedang menahan segala gejolak yang mungkin saja bisa meledak sewaktu-waktu saat pembicaraan mereka mengarah pada kejadian sepuluh tahun lalu.

“Dia hanya datang untuk memberiku ini,” kata Donghae seraya meletakkan amplop berwarna coklat pemberian Presdir Lee beberapa waktu lalu ke atas meja tepat di depan Hyukjae.

Hyukjae mengarahkan pandangannya pada amplop tersebut.

“Di dalam amplop itu terdapat rincian sebuah ruko kosong yang baru saja dibeli ayahmu untuk diberikan padaku. Dia menyuruhku untuk memindahkan tokoku ke sana agar lebih dikenal oleh banyak orang lagi. Kuakui tokoku memang termasuk salah satu toko buah yang memiliki kualitas baik dan sepertinya memang butuh tempat yang lebih luas, tapi karena aku masih mempunyai harga diri ku pikir aku harus menolak pemberiannya,” ujar Donghae.

“Ayah memberimu ruko?”

Donghae mengedikkan kedua bahunya dan berkata, “Jangankan kau, aku saja sampai sekarang masih terkejut. Kalau aku boleh jujur, aku sama sekali tidak mengerti apa yang sebenarnya ada di dalam pikiran ayahmu. Setelah sepuluh tahun lamanya kukira kemunculannya kemarin akan terlihat begitu mengerikan atau bagaimana, tapi ternyata… entahlah.”

Ketika pikiran Hyukjae masih berkecamuk dengan isi amplop tersebut, seseorang mengetuk pintu ruangan itu dari luar. Donghae sedikit meninggikan suaranya menyuruh orang yang ada di luar untuk langsung membuka pintu tersebut.

“Donghae-ssi, ada pelanggan toko yang mencarimu.” Kepala Jung Ra menyembul masuk dari balik pintu yang sedikit terbuka.

“Baiklah,” ujar Donghae seraya berdiri dan berjalan mendekati pintu. Tangannya memegang knop pintu tersebut dan membukanya lebih lebar. Sesaat ia memandang Jung Ra sebelum pergi ke depan.

Jung Ra yang tak mengerti kenapa Donghae memandangnya seperti itu lantas menolehkan kepalanya ke arah dalam ruangan dan terkejut melihat seseorang yang sejak tadi mengobrol bersama Donghae ternyata adalah Hyukjae.

Jung Ra ingin sekali segera menggerakkan kakinya untuk pergi dari depan ruangan tersebut, tapi entah kenapa ada semacam lem yang super lengket menempelkan kedua kakinya di atas lantai hingga membuatnya sangat susah untuk bergerak. Jangankan kakinya, kedua matanya pun juga tak bisa beralih dari Hyukjae.

Jantungnya berdegup tak karuan saat Hyukjae berdiri setelah meletakkan sebuah amplop ke atas meja dan sepertinya akan berjalan ke arah pintu.

“Go Jung Ra?” Hyukjae sedikit terkejut melihat Jung Ra yang sudah berdiri di depan pintu.

Dengan canggung Jung Ra menundukkan kepalanya sebentar untuk menyapa Hyukjae. Tak ada kalimat apapun yang diucapkan Jung Ra karena Jung Ra sendiri tidak tahu apa yang harus ia ucapkan. Kemunculan Hyukjae pagi ini di toko memang mengejutkannya karena setelah hampir lebih dari dua minggu mereka tak saling bertemu.

“Bagaimana kabarmu?” Hyukjae lebih dulu mencoba membuka percakapan dengan Jung Ra yang sejak tadi diam membisu.

“Baik. Kau sendiri?”

Hyukjae mendesah pelan sambil menoleh ke arah meja yang ada di dalam ruangan itu. Sesaat setelah kembali memandang Jung Ra, ia mengulas senyum tipis seakan berkata “Aku juga baik-baik saja”.

Jung Ra hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Sesaat ia menunduk memandang kedua kakinya yang masih saja tak bisa digerakkan. Bila Jung Ra bisa, ia ingin sekali membentak kedua kakinya itu agar mau menuruti perintah otaknya. Sayangnya, apa yang ia harapkan sama sekali tak terjadi.

Sementara itu Hyukjae hanya menatap Jung Ra yang tertunduk. Ia ingin sekali memberitahu Jung Ra bahwa ia sangat merindukannya. Sangat merindukannya sampai ia sempat berpikiran untuk mengkhianati dirinya sendiri akan janji itu. Tapi mengingat ia sudah membuat gadis di depannya itu patah hati dan urusannya dengan Donghae belum selesai, mau tidak mau ia harus menyingkirkan perasaan tersebut ke sudut hatinya. Toh, mungkin saja perasaan Jung Ra padanya mulai berkurang seiring waktu. Itu benar kan?

Jung Ra tersentak ketika ponselnya tiba-tiba berdering nyaring di dalam saku celananya. Bersamaan dengan itu Donghae yang sudah selesai menangani pelanggan tokonya kembali ke belakang dan nampak heran melihat Jung Ra yang gugup sementara ponsel gadis itu masih berdering.

“Kau tidak dengar ponselmu berbunyi?” tanya Donghae sambil menunjuk celana Jung Ra.

“Oh…i-ya, a-aku…” Jung Ra buru-buru merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya. Dilihatnya nama Ryeowook terpampang pada layar. Jung Ra baru teringat kalau temannya itu tidak masuk kerja.

“Iya, Oppa?”

“…”

“Apa?” Wajah Jung Ra mendadak memucat saat mendengar alasan Ryeowook menelponnya. Tangannya yang memegang ponsel gemetar dan membuat Hyukjae dan Donghae memandangnya cemas.

“Ada apa?” tanya Donghae penasaran.

Jung Ra memandang Donghae dengan mata berkaca-kaca.

“Jung Ra-ya, apa yang terjadi?” Hyukjae yang sama-sama cemas melihat Jung Ra pun akhirnya ikut bertanya.

“H-Hyukjae-ssi, E-EommaE-Eomma masuk rumah sakit, a-aku…” Bibir Jung Ra mendadak kelu untuk menjawab Hyukjae. Kabar yang ia terima dari Ryeowook terlalu mengejutkan. Dadanya terasa sesak seketika saat mendengar ibunya dibawa ke rumah sakit karena ditemukan pingsan di dekat tangga gedung tempat tinggalnya.

“Kita ke rumah sakit sekarang.” Hyukjae dengan sigap menahan ponsel yang terlepas dari tangan gemetar Jung Ra dan membantu Jung Ra untuk berjalan menuju pintu. Sedangkan Donghae buru-buru berlari keluar untuk menemui seorang pria paruh baya bernama Kim Bo Man yang selalu membantunya menjaga toko jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

“Ibumu akan baik-baik saja,” Hyukjae berusaha menenangkan Jung Ra sambil membuka pintu mobil. Melihat Jung Ra yang begitu kalut membuat Hyukjae enggan untuk melepaskan tangannya dari lengan Jung Ra.

Donghae berlari ke arah mobil sesaat setelah Hyukjae membantu Jung Ra duduk di jok belakang. Namun, ketika Hyukjae bermaksud untuk berjalan ke arah depan mobil, Donghae menahannya.

“Mana kuncimu? Biar aku yang menyetir,” ujar Donghae seraya menengadahkan tangannya di depan Hyukjae.

“Sudahlah. Kau temani saja Jung Ra, biar aku yang menyetir,” tolak Hyukjae seraya merogoh saku celananya untuk mengambil kunci mobilnya. Tanpa Hyukjae duga Donghae menyambar kunci yang sudah ada di tangannya dan berlari kecil ke arah pintu depan mobil.

“Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu. Sebaiknya kau segera masuk agar kita bisa sampai ke rumah sakit,” ujar Donghae seraya masuk ke mobil dan menyalakan mesin mobil.

Hyukjae hanya menghela napas pelan sambil membuka pintu mobil dan duduk di sebelah Jung Ra.

.

.

At hospital …

Sesaat setelah Donghae memarkir mobilnya, Jung Ra langsung membuka pintu mobil dan keluar begitu saja. Tentu saja tindakan Jung Ra mengejutkan Donghae dan Hyukjae. Hyukjae langsung berteriak memanggil Jung Ra yang sudah berlari menjauh dari mobil.

YAA! GO JUNG RA!!” teriak Donghae seraya keluar dari mobil dan langsung mengejar Jung Ra. Ia takut sesuatu yang buruk terjadi pada Jung Ra mengingat gadis itu dalam kondisi kacau karena mendengar kabar ibunya masuk rumah sakit.

Setelah hampir menabrak pengunjung rumah sakit yang kebetulan melintas di depannya, Donghae berhasil mencekal pergelangan tangan Jung Ra dan menarik gadis itu ke arahnya. Jung Ra yang tersentak ke tubuh Donghae langsung menatapnya tajam dan sedikit memberontak.

“Aku harus segera mencari ibuku, Lee Donghae!” ujar Jung Ra geram saat Donghae menghalanginya berlari.

“Aku tahu itu! Tapi bisakah kau tidak berlari? Kau bisa jatuh kalau kau berlari seperti tadi!” bentak Donghae yang akhirnya membuat Jung Ra terdiam dengan napas yang memburu.

“Tapi Eomma masuk rumah sakit. Aku sangat khawatir akan kondisinya,” ucap Jung Ra lirih dengan sedikit isakan setelah beberapa detik terdiam memandang Donghae.

“Iya, aku juga tahu itu,” sahut Donghae dengan suara yang lebih lembut dari sebelumnya. Namun, ketika ia baru akan kembali menenangkan Jung Ra panggilan seseorang membuatnya menoleh ke arah sisi kanan tubuhnya.

Sosok Ryeowook terlihat berlari menghampiri Donghae dan Jung Ra.

Oppa!” panggil Jung Ra seraya melepaskan genggaman tangan Donghae pada pergelangan tangannya dan berlari menghampiri Ryeowook.

“Kau ini ke mana saja? Aku menunggumu sejak tadi,” ucap Ryeowook yang wajahnya tak kalah cemasnya seperti Jung Ra.

“Bagaimana keadaan Eomma? Sebenarnya apa yang terjadi dengannya sampai bisa pingsan? Apakah Eomma terjatuh atau bagaimana?” Jung Ra memberondong Ryeowook dengan banyak pertanyaan sambil mengikuti langkah Ryeowook.

“Saat ini dokter sedang melakukan operasi kecil pada Bibi karena luka yang ada di kepalanya dan…”

“O-operasi?”

Jung Ra menghentikan langkahnya secara mendadak saat mendengar ada kata ‘operasi’ yang keluar dari mulut Ryeowook. Matanya seketika membulat dan ekspresinya nampak lebih kacau lagi dibanding sebelumnya.

“Heei, jangan memasang wajah seperti itu dulu, aku bilang operasi kecil. Kata dokter, Bibi baik-baik saja, hanya saja mereka harus melakukan operasi kecil untuk mengobati luka yang ada di kepala Bibi,” Ryeowook berusaha menjelaskan ucapannya pada Jung Ra yang sudah khawatir lebih dulu hanya karena mendengar kata ‘operasi’.

“Tapi kan tetap saja mereka mengoperasi Eomma. Kalau Eomma baik-baik saja, mereka tidak akan mungkin melakukan operasi!” Jung Ra masih teguh pada kecemasannya.

Donghae yang sejak tadi mengikuti mereka dari belakang langsung menarik Jung Ra agar menghadap padanya.

“Kau ini bodoh atau bagaimana? Ibumu itu tidak apa-apa, dokter hanya melakukan operasi kecil. Operasi kecil. Kalau mereka tidak melakukan operasi itu, luka ibumu akan infeksi dan semakin parah,” Donghae ikut menjelaskan maksud ucapan Ryeowook dengan nada suara yang sedikit kesal.

Di luar perkiraan Donghae maupun Ryeowook, Jung Ra yang biasanya suka membantah apapun yang dikatakan orang bila dia sedang dalam kondisi kacau kini justru langsung mengatupkan bibirnya meskipun dari sorot matanya ia masih ingin membantah.

“Apa operasi itu sudah selesai?” Jung Ra mengalihkan pandangannya ke arah Ryeowook dan bertanya dengan nada lemah.

“Belum. Kalau begitu ikut aku sekarang.” Ryeowook lantas mengajak Jung Ra untuk segera pergi ke ruangan di mana Nyonya Im dioperasi.

Donghae berniat mengikuti Ryeowook dan Jung Ra, namun ketika ia melihat Hyukjae muncul dari arah kanan tubuhnya, ia terpaksa berhenti dan menanti Hyukjae yang menghampirinya.

“Dari mana saja kau?” tanya Donghae sambil berjalan.

“Kebetulan tadi saat aku berlari mengejarmu, ada kolega perusahaan ayah yang memanggilku. Putranya dirawat di rumah sakit ini juga,” jawab Hyukjae sambil menyeimbangkan langkahnya dengan Donghae.

Operasi kecil Nyonya Im selesai kurang dari satu jam sejak Jung Ra, Ryeowook, Donghae dan Hyukjae menunggu di depan ruang operasi. Jung Ra dan Ryeowook langsung berdiri dan menghampiri dokter yang keluar dari ruang operasi.

Dokter laki-laki bertubuh tinggi besar tersebut mengatakan bahwa kondisi Nyonya bisa kembali pulih setelah beberapa hari istirahat. Luka yang ada di kepala Nyonya Im pun juga sudah selesai dijahit. Sayangnya, bagi Jung Ra yang sudah lebih dulu memiliki kecemasan tingkat tinggi, ucapan dokter itu tak bisa memberinya pengaruh besar. Jung Ra harus melihat sendiri kondisi ibunya.

Dan hal yang membuat Jung Ra, Donghae dan Ryeowook terkejut adalah ketika Nyonya Im yang belum sadarkan diri dimasukkan ke dalam ruang rawat VIP. Bukannya apa-apa, hanya saja seingat Jung Ra, ia meminta pada pihak rumah sakit untuk memasukkan ibunya ke ruang rawat biasa saja, tapi pihak rumah sakit berkata kalau sudah ada seseorang yang menyuruh mereka untuk memasukkan ibunya ke ruang rawat VIP.

“Kalau boleh saya tahu, siapa orangnya?” tanya Jung Ra pada salah seorang perawat yang baru saja selesai menyalakan mesin penghangat ruangan di dekat tempat tidur Nyonya Im.

“Kalau saya tidak salah dengar namanya… Tuan Lee… Hyukjae. Iya, pria itu mengenakan kemeja berwarna putih, rambutnya hitam, wajahnya juga cukup tampan,” jawab perawat itu seraya menundukkan kepalanya sebentar dan keluar dari ruang rawat inap Nyonya Im.

Hembusan napas Jung Ra terdengar begitu berat saat Jung Ra memutar tubuhnya menatap ibunya yang kini terbaring belum sadarkan diri di atas tempat tidur. Hatinya entah kenapa berdesir mengetahui kenyataan bahwa orang yang memindahkan ibunya ke ruang rawat VIP adalah Lee Hyukjae.

Mungkin Jung Ra tidak akan merasa seberat ini bila pria bernama Lee Hyukjae adalah orang lain yang sama sekali tak dikenalinya. Dengan begitu ia tidak akan sampai memiliki beban berarti bila hanya untuk mengganti biaya kamar rawat inap dan perawatan ibunya walaupun Jung Ra tahu betul betapa mahalnya biaya tersebut.

Tapi ini…

Pria bernama Lee Hyukjae itu sangat dikenal oleh Jung Ra. Sangat dikenalnya hingga membuat Jung Ra tak bisa melupakannya. Jung Ra tidak tahu harus bersikap bagaimana pada Hyukjae setelah mengetahui kebaikan laki-laki itu padanya. Ia takut ia akan kembali salah paham akan kebaikan yang diberikan Hyukjae. Ia takut perasaan yang sudah coba ia hilangkan, meskipun pada kenyataannya sangat susah, akan kembali menyerang hatinya.

Donghae yang baru saja masuk ke dalam kamar berdecak pelan ketika melihat wajah muram Jung Ra. Kedua bahu gadis itu terlihat turun dan menyedihkan. Seolah sosok Jung Ra yang keras kepala dan mengerikan menghilang entah ke mana. Dan itu membuat Donghae merasa sangat tidak suka.

“Ibumu akan baik-baik saja,” ucap Donghae setelah menghampiri Jung Ra yang terduduk di samping Nyonya Im.

Terdengar tarikan napas dan helaan napas dari Jung Ra. Donghae menunduk, memandang puncak kepala Jung Ra. Walaupun Donghae tak bisa melihat wajah Jung Ra dari atas, tetap saja ia masih bisa memastikan bahwa gadis itu masih dirundung sedih.

“Kau tidak mau menangis?” Donghae mencoba mengajak bicara Jung Ra.

“Untuk apa?” akhirnya Jung Ra menanggapi pertanyaan Donghae.

“Bukankah semua gadis akan begitu bila sedang sedih melihat orang tua mereka tergolek lemah di atas tempat tidur rumah sakit? Kalau kau ingin menangis, menangis saja. Jangan ditahan seperti itu. Aku paling tidak suka melihat gadis yang sok kuat,” kata Donghae yang memandang Nyonya Im tertidur. Hatinya berdenyut melihat betapa pucatnya wajah ibu Jung Ra tersebut. Bahkan sepertinya lebih pucat dari terakhir kali ia bertemu dengannya di laundry.

“Aku tidak bisa melakukannya sekarang. Jika Eomma memergokiku menangis, dia akan memukul kepalaku dengan sangat keras hingga aku bisa merasakan sakitnya satu minggu ke depan. Eomma sangat membenci gadis yang menangis di depannya. Ia tak segan memukulnya, tak peduli bila itu anaknya sendiri. Eomma adalah wanita yang lebih suka menangis sendirian. Eomma tidak mau orang lain melihatnya menangis, karena bila sampai itu terjadi, Eomma merasa seperti wanita yang lemah. Aku tidak tahu kehidupan macam apa yang dilaluinya sewaktu muda hingga membuatnya seperti itu. Tapi yang kutahu Eomma adalah wanita terhebat yang pernah kumiliki.”

Mata Jung Ra terlihat berkaca-kaca saat mengatakan hal tersebut. Buru-buru disekanya genangan air mata yang ada di pelupuk matanya agar tak menetes. Sekali lagi ia menarik napas dan menghembuskannya pelan-pelan agar tak menangis.

Donghae tersenyum miris mendengar semua kata-kata Jung Ra tentang ibunya. Apa yang dikatakan gadis itu memang benar semua. Donghae memang membenarkan semuanya, hanya saja pada akhirnya ia sangat tidak bisa menerima kebiasaan ibu Jung Ra yang sepertinya diturunkan pada putrinya, Jung Ra. Ya, ia tak bisa menerima bahwa ungkapan wanita harus menangis sendirian agar terlihat kuat. Terakhir kali ia mempercayai ungkapan itu, satu-satunya orang yang dimiliki di dunia ini meninggalkan dirinya untuk selamanya.

Dulu Donghae memang merasa bangga pada ibunya yang memiliki ketegaran dan kekuatan untuk menghadapi semua orang. Donghae merasa ibunya begitu keren saat memilih menangis secara sembunyi-sembunyi dan terlihat tegar dengan senyuman hangat seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Donghae begitu bangga pada sikap wonder woman ibunya hingga pada akhirnya semua itu justru membuatnya sakit hati. Mengetahui ibunya depresi hingga harus dirawat di rumah sakit jelas memaksa Donghae harus membuang jauh-jauh kebanggaan yang ia pertahankan sejak kecil.

Intinya, Donghae tidak akan pernah lagi mau melihat wanita yang suka membohongi diri sendiri bahwa ia masih kuat padahal di dalamnya begitu rapuh. Terutama pada Jung Ra, Donghae lebih tidak mau lagi melihatnya sedih diam-diam.

“Dokter bilang Bibi akan siuman beberapa jam lagi. Mereka memberikan obat bius sedikit lebih banyak karena Bibi juga terlihat sangat kelelahan,” kata Ryeowook yang sudah masuk ke kamar setelah beberapa saat lalu dipanggil oleh dokter yang menangani ibu Jung Ra.

“Sangat kelelahan?”

“Iya. Kondisi Bibi saat pertama dibawa ke rumah sakit sangat lemah. Aku baru dikabari oleh tetangga yang ada di sisi kanan tempat tinggal Bibi kalau pagi tadi Bibi sempat merasa pusing saat mau membantu mencuci baju temannya yang ada di gedung samping. Bibi terpeleset saat menuruni tangga dan kepalanya terbentur salah satu anak tangga,” Ryeowook menjawab pertanyaan Jung Ra.

Kepala Jung Ra yang tertunduk semakin dalam saja. Matanya terpejam serapat mungkin agar air matanya tidak menetes. Bersamaan dengan itu Hyukjae muncul dari balik pintu dan masuk begitu saja.

“Ryeowook Oppa, bisa jaga Eomma sebentar? Aku harus ke apartemen sebentar untuk mengambil beberapa baju dan barangku. Sepertinya malam ini aku akan tidur di sini,” ujar Jung Ra sambil menegakkan kepala dan memandang Ryeowook.

“B-baiklah.”

Ryeowook baru akan menarik kursi yang baru saja dijauhi Jung Ra ketika Donghae menahan tangannya.

“Kau di sini saja menunggu ibumu. Katakan saja apa yang kau perlukan, biar aku yang mengambilnya ke sana,” cegah Donghae pada Jung Ra.

“Aku hanya sebentar, Donghae-ssi. Toh ada Ryeowook Oppa yang menjaganya. Kalau kau harus kembali ke toko, sebaiknya kau kembali saja dan…” Jung Ra menghentikan ucapannya saat matanya menangkap sosok Hyukjae berdiri tak jauh dari Donghae di belakang sana.

“Kau juga, Hyukjae-ssi, bukankah ini masih jam kerja kantormu?” tambah Jung Ra.

Hyukjae hanya bergeming mendengar kata-kata yang berunsur perintah dari Jung Ra.

“Tidak. Kau tetap di sini bersama Ryeowook menjaga ibumu. Biar aku yang mengambil barang-barang di apartemenmu,” Donghae masih bertahan dengan ucapannya.

“Lee Donghae-ssi…”

“Kau tidak perlu khawatir. Aku sama sekali tidak mempunyai niat untuk mencuri satu pun barang di tempat tinggalmu. Sudah, mana kunci apartemenmu.” Tangan Donghae menengadah meminta kunci apartemen Jung Ra.

Jung Ra terlihat tidak setuju dengan Donghae.

“Aku akan mengantar Donghae ke sana. Akan kupastikan dia hanya akan mengambil barang-barang keperluanmu dan tidak mengambil yang lain. Aku bisa menjamin itu karena aku mengenalnya,” Hyukjae nampak membantu Donghae.

Kini tatapan tidak setuju Jung Ra pun mengarah pada Hyukjae.

“Hyukjae-ssi…”

“Aku masih dalam masa cuti kantor, jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan pekerjaanku,” elak Hyukjae.

“Kau dengar sendiri kan? Bukankah kau sering bilang padaku kalau dia adalah kakakku? Kalau dia bisa bilang dia mengenalku dan menjamin barangmu akan aman itu berarti dia memang kakakku. Apalagi dia juga sedang dalam masa cuti kantor walaupun aku tahu dia bisa mengambil libur kapan saja karena dia adalah putra dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja,” Donghae yang awalnya juga ikut menimpali ucapan Hyukjae akhirnya menyelipkan sedikit sindiran yang berhasil membuat Hyukjae mengernyitkan kening.

“Saat ini aku sedang tidak peduli kalian berdua saling kenal atau pun kakak adik. Aku hanya meminta Ryeowook Oppa untuk menjaga ibuku sebentar sementara aku mengambil baju ganti dan barang lain di apartemenku,” bukan Go Jung Ra namanya kalau tidak membantah.

Wajah Donghae berubah kesal ketika mendengar bantahan Jung Ra. Ditariknya napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar sambil mendongakkan kepala untuk beberapa detik.

“Ryeowook Oppa…”

“Bisakah kau menuruti apa kataku kali ini saja?” Donghae mulai geram. Walaupun nada suaranya sedikit pelan, namun terkesan penuh penekanan hingga membuat Hyukjae tersentak dan bermaksud untuk menghentikan Donghae yang mungkin saja akan menyemburkan amarah pada Jung Ra.

“Aku…”

“Kau harus terus menjaga ibumu yang sedang sakit di rumah sakit apapun yang terjadi. Kau tidak boleh meninggalkannya barang sedetikpun. Kau tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi pada ibumu selagi kau pergi, maka dari itu jangan jauh-jauh darinya. Aku tidak ingin kau menyesal karena sudah meninggalkannya di rumah sakit. Kumohon padamu, Go Jung Ra,” potong Donghae dengan kedua tangan yang mencengkeram bahu Jung Ra. Tatapan mata Donghae begitu dalam pada Jung Ra hingga Jung Ra bisa merasakan ketakutan di mata Donghae.

Hyukjae yang mendengar kata-kata Donghae mendadak membeku. Kata-kata itu jelas bukan sekedar karena adiknya bersimpati pada Jung Ra, tapi lebih karena tidak mau lagi kejadian yang menimpanya dulu terjadi pada orang lain. Dada Hyukjae terasa sesak ketika mengingat saat-saat di mana mereka tidak bisa menemukan ibu Donghae di kamar rawat dan justu menemukannya di atap rumah sakit dan akhirnya sesuatu yang disesali mereka berdua terjadi.

“Kunci apartemenmu…, mana kunci itu? Dan apa saja yang kau butuhkan?” Donghae menegakkan tubuhnya setelah melepas cengkeraman tangannya pada bahu Jung Ra.

Jung Ra yang masih terkesiap karena ucapan Donghae perlahan memberikan kunci apartemennya pada Donghae dan mengatakan apa saja yang harus diambil Donghae.

“Ayo, antar aku ke sana,” ucap Donghae pada Hyukjae tanpa memandang Hyukjae dan keluar begitu saja.

***

Selama perjalanan, Donghae dan Hyukjae membisu. Tak ada satu pun dari mereka yang berniat untuk membahas sesuatu. Bila Donghae memilih diam karena memang tidak berselera untuk membicarakan apapun, Hyukjae memilih diam karena terlalu terkejut mendengar kata-kata adiknya pada Jung Ra beberapa saat lalu.

Hyukjae bisa merasakan trauma masa lalu masih menyelimuti pikiran Donghae. Bodoh mungkin bila Hyukjae mengira adiknya itu sudah bisa melepaskan apa yang sudah terjadi karena pada kenyataannya hal tersebut masih saja mengikuti Donghae seperti bayangan.

“Dasar Gadis Bodoh, bagaimana bisa dia menyimpan benda penting seperti ini di atas meja begitu saja?” gumam Donghae saat melihat sebuah buku tabungan tergeletak di atas meja makan setelah memasukkan beberapa pakaian ganti Jung Ra ke dalam tasnya. Setelah memasukkan buku kecil tersebut ke dalam laci di dekat tempat tidur, Donghae lantas membersihkan tempat tidur itu agar terlihat lebih rapi. Tak hanya itu saja, ternyata tangan Donghae bergerak untuk membersihkan tempat yang lain di dalam apartemen Jung Ra.

Hyukjae yang melihat Donghae berjalan ke sana-kemari di dalam apartemen Jung Ra hanya bisa tersenyum pahit. Inilah yang ada di hadapannya. Dan karena pemandangan inilah Hyukjae memantapkan hatinya untuk menghapus perasaannya terhadap Jung Ra. Perlakuan manis Donghae pada Jung Ra yang ia lihat sendiri dalam jarak yang begitu dekatlah yang bisa ia jadikan bukti.

“Baiklah, sudah selesai. Maaf kalau kau menunggu lama. Kau lihat sendiri kan keadaan apartemen gadis itu yang seperti kapal pecah, tanganku terasa gatal bila tidak segera kubersihkan. Yaaa… meskipun nantinya Gadis Otak Siput itu akan meledakkan emosinya karena tindakanku ini,” kata Donghae seraya mengajak Hyukjae keluar dari apartemen sambil menenteng tasnya.

“Kenapa kau suka sekali menyebut Jung Ra dengan Gadis Otak Siput? Bukankah itu terlalu keterlaluan?” tanya Hyukjae sambil menuruni tangga bersama Donghae.

Donghae terkekeh sambil berkata,”Kalau bagimu keterlaluan, bagiku itu masih sebutan yang normal untuknya. Kau pasti tidak pernah tahu betapa lambatnya daya ingat yang dia miliki tiap aku menyuruhnya untuk menghitung jumlah buah yang datang dari pemasok. Tidak hanya itu, otak siputnya juga membuatnya selalu lupa untuk membawa mantel atau jaket tiap akan berangkat, padahal kan kalau malam tiba angin yang berhembus cukup kencang dan dingin. Aku bahkan tak bisa lagi menghitung sudah berapa kali aku menyuruhnya untuk membawa mantel tebal atau pun jaket. Aah..iya, kurasa otaknya mungkin hanya akan secepat pesawat jet bila dia sedang bersamamu sebelum akhirnya…”

Donghae tak lagi melanjutkan kata-katanya karena merasa enggan. Ia tak mau mengungkit masalah Hyukjae dan Jung Ra mengingat beberapa minggu ini kondisi Jung Ra sudah mulai stabil dan tidak lagi melamun karena patah hati. Bukankah itu artinya Hyukjae juga sudah mulai stabil seperti Jung Ra? Donghae tidak mau merusak suasana hanya karena keceplosan.

“Donghae-ya, kau harus lebih perhatian pada Jung Ra. Jangan biarkan dia bersedih ataupun menangis. Berhentilah mengejeknya dengan sebutan-sebutan itu dan jangan terlalu kasar padanya. Kau harus tahu kalau dia adalah seorang gadis,” kata Hyukjae pada Donghae yang berjalan mendahuluinya.

Sejenak Donghae menghentikan kakinya yang bersiap menuruni lima anak tangga terakhir di lantai dasar. Perlahan ia memutar tubuhnya ke belakang dan mendongakkan kepalanya pada Hyukjae.

“Kenapa kau seolah-olah menyerahkan kewajibanmu padaku?”

“Apa?”

Donghae menarik salah satu sudut bibirnya dengan tipis dan memperjelas ucapannya, “Aku bukanlah orang yang begitu bodoh yang tak bisa membaca situasi yang ada di sekitarku, Lee Hyukjae. Kalau kau sempat menganggap diriku tidak tahu apa-apa, berarti kau salah. Kau salah besar.”

Hyukjae bergeming di tempatnya.

“Tentang wanita yang kau sebut sebagai kekasihmu itu pada Jung Ra … sebenarnya tidak pernah ada kan?”

Hyukjae bisa merasakan keringat dingin mulai menyerang tubuhnya.

“Kau membohongi Jung Ra, membuatnya menangis seperti orang gila semalaman hingga hampir menjadikannya mayat hidup berhari-hari. Kurasa kali ini yang sangat keterlaluan adalah dirimu, Lee Hyukjae.”

“Kau tidak tahu apa-apa, Lee Donghae,” bantah Hyukjae.

“Berhentilah bersikap sok dewasa seperti itu, Lee Hyukjae. Mungkin sepuluh, delapan belas tahun lalu kau bisa menutupi apapun dariku dengan berkata demikian, tapi sayang sekali sekarang kau tidak bisa.”

Tatapan Donghae semakin dingin pada Hyukjae.

“Kau juga memiliki perasaan yang sama dengan Jung Ra kan? Kau tidak akan bisa membohongiku, Lee Hyukjae. Walaupun aku tidak mau mengakuinya, tapi sepertinya aku setuju bila ada orang yang berkata kau adalah kakakku. Ya, kau memang kakakku, makanya aku sangat mengenalmu. Hanya dengan melihat saja aku sudah tahu kalau kau menyukai gadis itu. Mudah kan?”

Hyukjae yang awalnya masih bisa membalas tatapan Donghae kini perlahan menundukkan kepala. Donghae mengakuinya sebagai seorang kakak, tapi Hyukjae tidak tahu kenapa rasanya ia ingin sekali marah pada adiknya itu karena sudah berkata hal tersebut.

“Donghae-ya…”

Kening Donghae seketika berkerut saat nama panggilan itu keluar dari mulut Hyukjae. Panggilan itu seakan memberikan Donghae sesuatu yang seharusnya tidak bisa ia percayai karena hal tersebut begitu mustahil. Donghae tahu mungkin saja hal itu hanya dugaan sekilas di dalam kepalanya. Tetapi entah kenapa justru membuat amarah yang awalnya biasa-biasa saja kini mulai bergejolak di dalam sana.

“Kau sedang bertingkah konyol ya?” tebak Donghae dengan suara pelan namun masih bisa didengar Hyukjae karena kini kakaknya tersebut menegakkan kepalanya.

“Kau menolak Jung Ra dan berbohong padanya bahwa kau sudah menjalin hubungan dengan seorang wanita karena aku?”

“Aku hanya melakukan sesuatu yang menurutku benar,” Hyukjae akhirnya bisa menjawab.

Donghae tidak percaya mendengar jawaban Hyukjae. Ia merasa sesuatu memang begitu konyol sedang terjadi di antara mereka berdua dan Jung Ra.

“Apa aku semenderita itu untuk urusan asmara sampai-sampai kau harus memberikan gadis yang kau sukai padaku? Hei, Lee Hyukjae, mungkin saja aku begitu bodoh untuk masalah kita dan ayahmu, tapi…, hahahaha…, kau serius? Kau benar-benar… Asal kau tahu saja, aku bisa mendapatkan Jung Ra tanpa harus ada bantuan konyol darimu seperti itu!”

Kesabaran Donghae sudah habis. Tangannya mengepal erat di kedua sisi tubuhnya. Ingin rasanya ia menghampiri Hyukjae, menarik kerah kemejanya dan menghajar wajahnya sampai babak belur seperti dulu. Namun, ia tak bisa melakukannya. Ada bisikan di dalam kepalanya untuk tidak melakukan tindakan gila itu lagi pada Hyukjae dan entah kenapa Donghae menuruti bisikan tersebut hingga akhirnya hanya bisa menatap tajam ke arah Hyukjae.

“Sikap konyolmu yang seperti ini membuatku ingin melakukan sesuatu. Kau mau tahu apa itu? Aku akan membuat Jung Ra melupakanmu. Aku akan membuat Jung Ra menyukaiku dalam waktu singkat. Akan kubuktikan padamu aku tidak memerlukan bantuan darimu hanya untuk mendapatkan hati Jung Ra.”

Sesaat setelah berkata seperti itu, Donghae lantas menuruni sisa tangga terakhir dan berjalan begitu saja menjauh dari gedung, meninggalkan Hyukjae yang berdiri terpaku di tangga. Hati Donghae terasa panas karena sikap konyol Hyukjae. Ia tak habis pikir kakaknya itu memiliki pikiran sedangkal itu.

To be continued

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: