FRUIT LOVE [17/20]

hyuk2_副本

FRUIT LOVE

Chaptered FF

Author : Nita Henny

Cast : Go Jung Ra (OC) – Lee Donghae – Lee Hyukjae

Kim Ryeowook – Kim Youngwoon

Genre : Romance, Family, Brothership

Rating : PG-14

Note :
FF Ini udah pernah kupublish di blogku sendiri. Dulu, udah lama. Dan sekarang aku coba kirim ke sini hehehe.
You can visit my blog === >>> https://imajinasinita.wordpress.com/

Happy reading ~~~~

============================

At Hospital – 10.00 p.m KST

Donghae memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket hitam yang ia kenakan ketika masuk ke dalam rumah sakit. Sesekali kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri melihat beberapa perawat dan dokter yang berjalan keluar masuk ke kamar-kamar pasien. Di jam-jam malam yang bisa dikatakan larut itu masih nampak pengunjung rumah sakit yang terlihat di beberapa tempat tapi tidak sebanyak pagi tadi saat ia dan Hyukjae mengantar Jung Ra kemari.

Tangan Donghae terulur menekan tombol angka lima yang ada di dekat pintu lift ketika ia masuk ke dalam salah satu lift yang akan membawanya naik. Pintu lift tertutup secara otomatis, dan bersamaan dengan itu Donghae menyandarkan tubuhnya pada dinding lift. Dibenturkannya kepalanya beberapa kali pada dinding lift, kedua matanya terpejam. Andai Donghae lupa sedang berada di mana dirinya sekarang, mungkin saja apapun yang ada di dekatnya akan menjadi sasaran tinjunya. Dadanya bergemuruh karena sejak pagi tadi ia mencoba untuk menahannya.

Jangan tanya siapa yang sudah membuatnya marah seperti itu karena Donghae sendiri berusaha untuk tidak mempedulikannya. Tetapi, setiap ia mencoba untuk mengalihkan pikirannya pada hal lain, tetap saja bayangan orang itu memaksanya untuk kembali meladeni amarah yang sudah seperti api besar yang begitu membara di dalam dadanya.

Orang itu, siapa lagi kalau bukan Lee Hyukjae. Untuk yang kesekian kalinya kakak tirinya itu menciptakan kesalahan pada dirinya. Mungkin bila kesalahan itu ada kaitannya dengan masa lalu mereka, Donghae tidak akan ambil pusing dan justru akan membuangnya jauh-jauh karena ia sudah tak mau terlarut dalam hal tersebut. Tapi ini…, Donghae tak habis pikir kali ini Go Jung Ra-lah yang menjadi korban tindakan konyol Hyukjae. Padahal gadis itu tak memiliki salah apa-apa pada kakaknya itu. Dan yang paling membuat amarah Donghae semakin kesal pada Hyukjae adalah itu semua karena dirinya. Alasan macam itu?

Kalau Donghae harus jujur, sebenarnya ia sudah mulai bisa menerima kehadiran Hyukjae, kakaknya itu ke dalam kehidupannya lagi meskipun kadang-kadang rasa sakit hatinya masih bisa muncul ke permukaan. Sifat Hyukjae yang pantang menyerah bila sedang melakukan sesuatu walaupun terkesan mustahil harus diakui oleh Donghae. Keteguhan hati kakaknya itu untuk terus –menerus berada di sekitarnya mau tidak mau memaksa Donghae untuk menyerah pada kemarahan yang selama ini mengikutinya.

Katakan saja… Donghae sempat memiliki keinginan untuk memperbaiki hubungan kakak-adik antara dirinya dan Hyukjae yang terputus karena kejadian sepuluh tahun lalu setelah ia bisa melihat usaha keras Hyukjae untuk kembali mendapatkan status seorang kakak di matanya.

Tetapi, keinginan itu hancur seketika setelah ia menyadari apa yang sudah Hyukjae lakukan pada Jung Ra. Lepas dari Jung Ra adalah seorang gadis yang ternyata memiliki perasaan yang begitu sensitif untuk urusan hati, apa yang sudah dilakukan Hyukjae memang benar-benar keterlaluan di matanya. Mungkin hingga kini ia masih belum bisa mengerti sepenuhnya mengapa Hyukjae melepas Jung Ra yang sudah jelas-jelas disukainya demi dirinya. Apakah ia kelihatan seperti sedang mendekati Jung Ra di depan Hyukjae? Dan Hyukjae mengira ia juga menyukai Jung Ra kemudian dengan bodohnya Hyukjae memberikan gadis itu padanya? Pemikiran macam apa itu?!

Donghae memegang erat knop pintu kamar rawat ibu Jung Ra yang ada di depannya. Napasnya memburu ketika amarah itu mulai menguasainya lagi. Dengan gerakan cepat, ia membuka pintu tersebut dan masuk ke dalam kamar. Namun, ia dibuat terkesiap saat melihat Jung Ra tertidur dengan posisi duduk di samping tempat tidur Nyonya Im. Kepala gadis itu tergeletak di dekat lengan ibunya dan tangannya menggenggam erat jemari ibunya yang ada di dekatnya.

Perlahan Donghae mendekati tempat tidur Nyonya Im, Dilihatnya Nyonya Im masih tidur karena pengaruh obat, kemudian dialihkan pandangannya pada Jung Ra yang tertidur pulas. Karena khawatir terjadi apa-apa pada leher Jung Ra, akhirnya Donghae memutuskan untuk mencoba membangunkannya agar mau tidur di atas sofa di sudut kamar. Dengan pelan ia menggoyang-goyangkan bahu Jung Ra sambil berbisik memanggilnya. Namun, sayang sekali, gadis itu hanya mengerang pelan sambil menggerakkan kepalanya sesaat.

“Go Jung Ra, bangunlah,” Donghae membangunkan Jung Ra sekali lagi. Kali ini ia juga berusaha menegakkan tubuh Jung Ra, siapa tahu dengan begitu Jung Ra bisa bangun.

Eung…, ada apa?” tanya Jung Ra yang kesadarannya belum pulih sepenuhnya. Matanya bahkan tak bisa ia buka dengan lebar untuk melihat siapa yang berhasil menegakkan tubuhnya itu.

“Tidurlah di sofa, kalau kau tidur di sini badanmu akan sakit semua,” ucap Donghae pelan.

Dengan masih dikuasai rasa kantuk yang hebat akhirnya Jung Ra menuruti apa kata Donghae. Dengan susah payah ia berdiri dan hampir tersungkur ke lantai kalau saja tidak ditahan Donghae saat berjalan ke arah sofa panjang di sudut ruangan.

“Aku mengantuk sekali,” gumam Jung Ra setelah merebahkan dirinya di atas sofa dan langsung kembali terlelap begitu saja tanpa sempat menaikkan satu kakinya yang masih menggantung di atas lantai.

Donghae mendesah pelan sambil mengangkat kaki Jung Ra ke atas sofa dan mengambil mantel coklat tebal yang tadi pagi ia ambil dari apartemen Jung Ra. Dengan hati-hati diselimuti tubuh gadis berambut coklat itu dan meletakkan sebuah bantal di bawah kepalanya.

Jung Ra bergerak sedikit untuk menyamankan posisi tidurnya ke arah Donghae. Di saat itulah Donghae yang akan beranjak dari tempatnya terpaksa membeku. Ucapannya pada Hyukjae pagi tadi kembali terdengar nyaring di dalam kepalanya. Amarah yang sempat mengasap ketika melihat Jung Ra yang tidur dengan wajah polos akhirnya kembali lagi padanya, memenuhi tiap ruang yang ada di dalam hatinya hingga ia bisa merasakan betapa panasnya deru napasnya sendiri.

Membuatmu menyukaiku bukanlah hal yang sulit, Go Jung Ra. Bersiaplah mulai besok~

Donghae memejamkan matanya untuk beberapa detik setelah bergumam dalam hati. Ditariknya napas dalam-dalam dan dihembuskannya secara perlahan sambil membuka mata. Tangannya terulur menyingkirkan beberapa helai poni yang ada di kening Jung Ra sebelum ia beranjak dari tempatnya.

***

Next day…

Jung Ra menatap cermin yang ada di dalam toilet kamar rawat ibunya. Setengah jam yang lalu ia sudah selesai mandi dan berganti pakaian. Untuk beberapa menit ia memang mematung di depan cermin tersebut, memandangi pantulan dirinya yang sudah terlihat segar, tapi sedetik kemudian tangannya langsung menyambar sikat gigi yang dibawakan oleh Donghae kemarin pagi dari apartemennya. Pandangannya terlihat kosong di depan cermin ketika ia mulai menggosok giginya.

‘Kalau saya tidak salah dengar namanya… Tuan Lee… Hyukjae. Iya, pria itu mengenakan kemeja berwarna putih, rambutnya hitam, wajahnya juga cukup tampan.’

Ucapan perawat kemarin masih terngiang di benaknya. Sebenarnya ketika perawat itu menyebutkan nama Lee Hyukjae, Jung Ra sudah tahu siapa orangnya tanpa perlu disebutkan bagaimana ciri-cirinya. Terutama pada bagian ‘wajahnya juga cukup tampan’ itu. Tanpa harus berpikir dua kali pun Jung Ra akan sangat mengakui wajah Hyukjae tampan. Itu menurut kedua matanya yang sudah terbiasa melihat wajah Hyukjae.

Tetapi sekarang ini yang dipikirkan Jung Ra bukanlah ketampanan Hyukjae, melainkan apa yang sudah laki-laki itu lakukan padanya kemarin. Memindahkan ibunya ke kamar rawat inap kelas VIP jelas sudah membuat Jung Ra sakit kepala.

“Aakh…!” Jung Ra langsung mengeluarkan sikat gigi dari dalam mulutnya dan langsung membekap mulutnya dengan telapak tangannya ketika rasa sakit itu menjalar di seluruh rongga mulutnya. Ya, karena menggosok gigi sambil melamun, tanpa sengaja Jung Ra membenturkan kepala sikat giginya pada sudut rahangnya dengan cukup keras hingga ia bisa merasakan bagian dalam mulutnya itu berdenyut nyeri. Buru-buru ia berkumur-kumur dan mengusap pelan pipinya, berharap rasa sakit itu segera hilang.

Pagi ini aku sial sekali, keluh Jung Ra dalam hati sambil berjalan keluar dari toilet sambil memegang pipi kanannya yang berdenyut.

“Kau bisa membantuku menghabiskan makananku ini? Kurasa pencernaanku tidak cocok dengan makanan rumah sakit,” ujar Nyonya Im yang sudah sadar beberapa jam lalu dan kini terlihat sedang menikmati sarapan yang diberikan oleh perawat dengan wajah yang tidak nyaman.

“Habiskan saja makanannya, itu demi kesembuhan Eomma,” kata Jung Ra dengan suara yang tidak jelas.

Nyonya Im yang merasa ada yang tidak beres dengan putrinya langsung menegakkan kepalanya memandang heran.

“Ada apa denganmu?” tanya Nyonya Im sambil meletakkan sendok bubur ke atas meja kecil yang ada di pahanya.

“Aku tidak sengaja melukai bagian dalam mulutku dengan sikat gigi tadi. Sudahlah, Eomma makan saja lagi.” Jung Ra berusaha menjelaskan keadaannya sambil mengibaskan tangannya, menyuruh ibunya untuk kembali makan.

Sambil tetap mengusap pelan pipinya, Jung Ra duduk di tepi tempat tidur ibunya, memandang ibunya yang kini kembali menyantap makanan yang diberikan oleh rumah sakit. Tanpa sepengetahuan ibunya, lagi-lagi Jung Ra mengernyitkan keningnya, mencoba menahan air mata yang sudah menggenangi pelupuk matanya. Andaikan ia tak segera menyekanya dengan cepat saat tiba-tiba ibunya menegakkan kepala untuk berbicara padanya, mungkin saja Jung Ra sudah dimarahi.

“Kau tidak makan?” tanya Nyonya.

“Sebentar lagi aku akan makan,” jawab Jung Ra seraya bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah nakas di samping tempat tidur ibunya untuk mengambil kotak tisu. Untuk beberapa detik Jung Ra terdiam di depan nakas dengan mata terpejam. Sebenarnya tadi Jung Ra ingin sekali mengajak ibunya bicara sebelum ibunya memukul kepalanya dengan sendok.

Tak banyak hal yang ingin ia bicarakan. Hanya dua. Ya, hanya dua hal yang ingin Jung Ra bicarakan pada ibunya. Pertama, Jung Ra ingin ibunya berhenti bekerja di laundry umum. Tidak, sepertinya kata harus lebih tepat untuk situasi saat ini dibanding kata ingin. Dan yang kedua, Jung Ra ingin ibunya mau pindah ke tempat tinggalnya agar ia bisa menjaganya dan menghabiskan waktu lebih banyak dengannya. Dua hal itu… bisa disebut sebagai permintaan yang biasa kan untuk seorang anak pada ibunya? Jung Ra hanya tidak ingin lagi mendengar kabar ibunya masuk rumah sakit karena sakit atau terjatuh. Bila Jung Ra harus mendapat kabar seperti itu sekali lagi suatu hari nanti, satu-satunya orang yang akan ia salahkan adalah dirinya sendiri.

Eomma, bagaimana kalau…” Jung Ra yang akhirnya memutuskan untuk mengatakan keinginannya itu pada Nyonya Im terpaksa mengalihkan pandangannya ke arah pintu kamar yang dibuka oleh seseorang dari luar.

“Anak Muda Bertopi Hitam?!” Nyonya Im cukup terkejut saat melihat sosok Donghae masuk ke dalam kamar sambil membawa dua buah kantong berukuran sedang. Wajah Nyonya Im nampak senang dengan kedatangan Donghae

Donghae langsung mendekat ke arah tempat tidur dan memberi salam pada Nyonya Im. Sesaat matanya memandang ke arah Jung Ra yang berdiri mematung di depan nakas sebelum membalas senyuman Nyonya Im.

“Bagaimana kabar Bibi? Apa sudah baikan? Oh ya, ini aku bawakan beberapa buah, semoga Bibi menyukainya,” ujar Donghae pada Nyonya Im dengan sopan.

Aigoo, kau memang selalu baik seperti biasa. Terima kasih atas buahnya,” kata Nyonya Im setelah menerima kantong berisi buah-buahan dari Donghae dan meletakkannya di atas tempat tidur.

Jung Ra mendekat ke arah tempat tidur dan mengambil kantong tersebut agar bisa ia letakkan di atas nakas. Untuk beberapa menit ia dan Donghae terlibat obrolan ringan, walaupun tepatnya hanya Donghae yang berbicara dan Jung Ra hanya menanggapinya dengan anggukan dan gelengan kepala.

“Kalian sudah saling kenal?” tanya Nyonya Im yang bisa melihat keakraban Donghae dan putrinya.

Eo… itu… kami memang saling kenal, Eomma,” jawab Jung Ra dengan bibir yang hampir tidak ia gerakkan karena rasa sakit itu belum hilang.

Donghae yang menyadari ada keanehan pada diri Jung Ra langsung menolehkan kepalanya ke arah Jung Ra.

“Ada apa dengan suaramu?” Donghae mengernyitkan keningnya.

“Dia tadi tidak sengaja melukai bagian dalam mulutnya dengan sikat gigi, makanya sekarang ia sulit untuk bicara dengan baik,” Nyonya Im berusaha menjelaskan kondisi Jung Ra pada Donghae.

Untuk beberapa detik Donghae hanya menatap Jung Ra sebelum berkata,” Ceroboh sekali. Apa sudah kau periksakan ke Dokter?”

Jung Ra baru akan menjawab pertanyaan Donghae ketika ibunya menyelanya.

“Apa dia laki-laki yang kau maksud dulu?”

Jung Ra spontan memasang tanda tanya besar di wajahnya ketika ibunya bertanya seperti itu.

“A-apa?”

“Jadi dia laki-laki yang bernama Hyukjae, laki-laki yang kau sukai itu? Laki-laki yang sudah menciummu?” Nyonya Im menunjuk Donghae.

“Hah?” Jujur Jung Ra tak tahu harus menjawab dengan kata-kata apa karena ia sendiri masih belum percaya pertanyaan itu akan ditanyakan oleh ibunya. Ditambah dengan ekspresi Donghae yang ada di sampingnya itu yang sulit ia artikan, benar-benar membuat Jung Ra mati kutu.

Di saat Jung Ra masih berusaha mencari kata-kata tepat untuk ia gunakan sebagai jawaban agar ibunya tak salah paham, tiba-tiba sebuah tangan menarik bahunya hingga ia merasakan tubuhnya membentur Donghae. Laki-laki itu kini sedang merangkul bahu mungilnya sambil tersenyum. Jika dilihat dari senyum aneh Donghae, Jung Ra bisa merasakan akan ada hal gila yang terjadi beberapa saat lagi di kamar ini.

“Jadi kalian berkencan?” Nada suara Nyonya Im terkesan begitu mantap dan bersemangat.

“Iya, Bibi,” Donghae menjawab dengan ringan.

Jung Ra seketika membelalakkan kedua matanya ke arah Donghae. Percayalah, saat ini Jung Ra tak hanya terkejut bukan main mendengar jawaban Donghae, tapi ia juga ingin sekali menonjok wajah mulus laki-laki itu dengan sangat keras.

“Tapi nama saya bukan Hyukjae, Bibi. Nama saya Donghae,” kata Donghae lagi sambil tersenyum ke arah Jung Ra yang sudah menyalakan api di kedua matanya.

Aigoo… aku tidak peduli dengan nama, yang penting setelah kutahu putriku berkencan denganmu, aku sudah sangat senang. Aku tidak perlu terlalu khawatir karena aku tahu laki-laki seperti apa dirimu itu.” Wajah Nyonya Im yang masih pucat terlihat begitu sumringah.

Yaa, Lee Donghae-ssi, kau…. aaakkkhh….,” protes Jung Ra terkesan sia-sia karena rasa perih itu kembali menyerang bagian dalam mulutnya. Jung Ra langsung membekap mulutnya dengan telapak tangannya sambil memejamkan matanya rapat-rapat menahan rasa sakit tersebut.

“Ck…, sudah tahu sakit jangan dibuat untuk berteriak. Kau tidak apa-apa?” Donghae terpaksa menundukkan kepalanya untuk melihat Jung Ra. Seringai tipis terlihat di sudut bibirnya ketika menyadari Jung Ra sedang meluncurkan lirikan tajam ke arahnya.

“Donghae-ssi, bisa kita bicara sebentar di luar?” desis Jung Ra dengan penuh penekanan.

“Baiklah.” Donghae menuruti perkataan Jung Ra dan mengajaknya keluar dari kamar.

Sesaat setelah Donghae menutup pintu kamar yang ada di belakangnya, Jung Ra langsung mendaratkan pukulan ke lengan Donghae.

“Kau ini gila atau bodoh, hah?” ujar Jung Ra dengan pelan dan bersungut-sungut. Sekesal-kesalnya dirinya pada laki-laki yang kini berdiri di depannya, Jung Ra lebih memilih untuk tidak menyakiti bagian mulutnya dengan berteriak-teriak. Semoga saja hanya dengan sorot mata tajam yang ia luncurkan bisa membuat Donghae menyadari kekesalannya yang sudah begitu besar.

“Gila atau bodoh? Kurasa aku tidak dua-duanya,” jawab Donghae ringan sambil duduk di bangku panjang yang ada di sampingnya.

“Lalu tadi apa?” Jung Ra menghentakkan kakinya dan berdiri tepat di depan Donghae dengan berkacak pinggang.

Donghae hanya mendongakkan kepalanya untuk memandang Jung Ra yang sudah terlihat begitu marah padanya. Ia hanya tersenyum sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

“Aku sedang serius, Lee Donghae. Jangan tersenyum seakan kau tidak melakukan kesalahan apapun,” gertak Jung Ra.

“Kau pikir aku tidak serius? Aku juga sedang serius, hanya saja aku tidak berlebihan sepertimu,” balas Donghae dengan nada suara yang dibuat seserius mungkin.

“Kenapa kau tadi mengatakan pada ibuku kalau kita berkencan? Kau kan bisa bilang kalau kau adalah temanku, atau kau juga bilang kalau adalah bos di tempatku bekerja. Kau ini benar-benar…” Jung Ra menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan cepat. Ia berusaha untuk tidak mengeluarkan suara kencangnya karena ia cukup sadar sedang berada di mana mereka sekarang, ditambah dengan perih di dalam mulutnya tak juga mereda.

“Kau tidak lihat wajah senang ibumu tadi? Apa kau tega membuat ibumu bersedih hanya karena apa yang dia harapkan ternyata tidak benar? Ingat, Go Jung Ra, ibumu masih sakit dan butuh perawatan. Aku hanya membantu penyembuhan ibumu secara psikologis. Kau ini jadi anaknya kenapa tidak peka sama sekali sih?”

Tangan Jung Ra yang sejak tadi bertengger di pinggang langsung ditarik Donghae hingga Jung Ra terpaksa mendaratkan tubuhnya di samping Donghae.

“Aku hanya berkata kita sedang berkencan di depan ibumu, jadi kau tidak perlu seheboh itu. Apa… kau memang berharap kita berkencan?” Donghae memicingkan kedua matanya dan mendekat pada Jung Ra.

Untuk yang kesekian kalinya mata Jung Ra terbelalak karena mendengar perkataan tak terduga yang keluar dari mulut Donghae pagi ini. Sebenarnya apa yang ada di dalam pikiran Donghae pagi ini hingga membuat Jung Ra berkali-kali menahan napas karena terkejut? Percayalah, pertanyaan itulah yang kini memenuhi kepala Jung Ra ketika melihat Donghae.

“K-kau sudah gila rupanya! Aaakhh…” Jung Ra kembali mengernyitkan keningnya sambil membekap mulutnya dengan tangan ketika rasa sakit itu menyerangnya lagi. Sebenarnya saat ini adalah waktu yang tepat baginya untuk menyerang Donghae, tapi ada satu bagian tubuhnya yang tak bisa ia ajak kerja sama. Katakan saja… selain Donghae, Jung Ra juga sedang berambisi untuk mengibarkan bendera perang pada bagian dalam mulutnya sendiri yang berdenyut nyeri itu.

“Sudah kubilang jangan dibuat untuk berteriak dulu. Bagaimana kalau periksakan lukamu itu ke dokter dulu?”

Jung Ra menggelengkan kepalanya sambil menghembuskan napas pelan-pelan. Dan mendadak Jung Ra membeku ketika Donghae tiba-tiba mendekat ke arahnya. Jangan bilang otak Donghae sudah benar-benar tidak bisa disembuhkan setelah tadi dengan konyol memberitahu ibunya bahwa ia sedang berkencan dengannya!

Jung Ra tak bisa berbuat apa-apa ketika ia merasakan jari tangan Donghae menyentuh sudut bibirnya. Hangat dan lembut, itulah yang dirasakan sudut bibir Jung Ra. Harus Jung Ra akui, untuk ukuran seorang pemilik toko buah yang kesehariannya pasti harus memegang bermacam-macam bentuk buah, jemari Donghae sangatlah lembut dan hangat. Seingat Jung Ra, teori yang mengatakan bahwa hampir semua pria di dunia ini memiliki tangan yang kasar, tak terkecuali dengan pria pemilik toko buah seperti Lee Donghae ini, memang benar adanya. Tetapi, setelah ia bisa merasakan sentuhan jari tangan Donghae di wajahnya, sepertinya Jung Ra harus kembali berpikir ratusan kali untuk membenarkan teori tersebut.

Tunggu, apa tadi Jung Ra baru saja memuji Donghae?

“Kau ini jorok sekali. Apa kau tadi tidak berkumur dengan benar setelah menyikat gigimu?” ejek Donghae setelah menyeka bekas pasta gigi di sudut bibir Jung Ra.

Jung Ra sedikit tersentak mendengar ejekan Donghae. Dengan cepat ia menyeka kembali sudut bibirnya. Kepercayaan dirinya berkurang beberapa persen hanya ketahuan tidak berkumur dengan benar di depan Donghae. Ia hanya bisa menghembuskan napas dengan pelan dan berat. Entah sudah kesialan ke berapa yang menimpa dirinya pagi ini. Benar-benar memalukan!

“Kau sudah sarapan?” tanya Donghae sambil mengambil satu kantong lagi yang sejak tadi masih ia bawa.

“Belum. Mungkin setelah ini aku… Apa ini?” Jung Ra terpaksa memandang heran ke arah Donghae ketika laki-laki itu tiba-tiba menyodorkan sebuah kantong yang berisi sesuatu padanya.

“Makanan untukmu. Kau juga harus makan tepat waktu agar tidak sakit. Kan tidak keren kalau kau juga ikut terbaring di atas tempat tidur rumah sakit hanya karena telat makan. Kalau kau ikut sakit, siapa yang akan merawat ibumu sampai sembuh?”

Jung Ra menerima kantong tersebut sambil tersenyum dan berterima kasih pada Donghae. Jika melihat sikap Donghae yang seperti ini, setidaknya bisa membuat Jung Ra untuk tidak terlalu menumpahkan semua kekesalan padanya walaupun sebenarnya ia kurang setuju dengan ‘kencan dadakan’ yang diucapkan Donghae pada ibunya.

***

Selama tiga hari Donghae selalu menjenguk Nyonya Im di rumah sakit. Kadang bersama dengan Ryeowook pada pagi hari sebelum membuka toko, dan kadang ia datang sendirian. Setiap kali ia datang sendiri, ia selalu membawakan makanan untuk Nyonya Im dan Jung Ra. Dan tentunya ia juga harus terlihat perhatian pada Jung Ra di depan Nyonya Im. Mengusap puncak kepala Jung Ra, tersenyum hangat pada Jung Ra, menyuruh Jung Ra untuk segera tidur saat malam sudah larut, merapikan poni rambut Jung Ra ketika ia sedang berbincang-bincang di dekat tempat tidur Nyonya Im, mungkin hal-hal tersebut adalah sebagian dari perhatian yang Donghae berikan pada Jung Ra di hadapan Nyonya Im.

Lalu bagaimana dengan Jung Ra? Jangan tanya bagaimana reaksi Jung Ra saat tiap kali Donghae mengulurkan tangan ke arahnya secara tiba-tiba. Berulang kali Jung Ra harus memelototi Donghae setiap laki-laki itu mendekap bahunya atau berusaha untuk mendekatkan wajah ke arahnya. Jung Ra merasa Donghae benar-benar memanfaatkan kesempatan ini untuk melakukan hal-hal gila seperti itu. Oh, jangan lupakan bagaimana Jung Ra menendang tulang kering Donghae sesaat setelah mereka keluar dari kamar rawat ibunya karena tiba-tiba Donghae memeluk pinggangnya di depan ibunya.

Bagi Jung Ra, Donghae yang ini harus ia waspadai. Namun, lepas dari ‘kewaspadaannya’ itu, mau tidak mau Jung Ra harus merasa nyaman dengan perlakuan Donghae. Tak bisa Jung Ra pungkiri, ia merasa senang ketika Donghae begitu perhatian pada ibunya. Sikap Donghae begitu manis pada ibunya. Dan diam-diam Jung Ra pun merasa bersalah pada Donghae yang sudah tak mempunyai ibu. Bagaimanapun juga dirinya lebih beruntung dari Donghae meskipun ia hanya mempunyai ibu angkat seperti ibunya. Mungkin saja Donghae bisa menemukan kenyamanan tiap bersama ibunya. Oleh karena itu, untuk satu hal itu, Jung Ra tidak bisa merasa kesal pada Donghae. Ia justru harus berterima kasih pada ibunya karena kini ia bisa melihat senyum asli seorang Lee Donghae yang ternyata begitu manis dan hangat. Ia bisa melihat sosok sebenarnya seorang Lee Donghae yang begitu ramah, sopan dan mirip dengan anak kecil yang polos tiap berada di dekat ibunya.

“Bibi harus lebih banyak istirahat dulu agar bisa benar-benar sembuh. Lebih baik jangan bekerja dulu ya?” pinta Donghae setelah membantu Nyonya Im berbaring di atas tempat tidur di tempat tinggal Nyonya Im.

Ya, hari ini dokter sudah memperbolehkan Nyonya Im pulang karena kondisinya sudah membaik. Donghae dan Ryeowook membantu Jung Ra membawa Nyonya Im pulang ke rumahnya. Namun, ketika mereka sampai di atas, Ryeowook mendapat telepon dari pelanggan toko agar segera datang ke toko sore ini karena pelanggan tersebut akan membeli beberapa buah. Dan pada akhirnya kini hanya ada Jung Ra dan Donghae yang menemani Nyonya Im.

“Kau sudah mulai mirip dengan Jung Ra rupanya. Menyuruhku ini dan itu,” bantah Nyonya Im.

Donghae hanya tersenyum tipis sambil menggenggam jemari Nyonya Im dan berkata,” Aku hanya ingin Bibi sehat dan terus menemani Jung Ra sampai Jung Ra menikah dan memiliki banyak anak nanti. Aku ingin Bibi bisa melihat cucu-cucu Bibi tumbuh besar. Itu adalah harapan dari semua anak di dunia ini untuk orang tua mereka, Bibi.”

“Ibumu pasti sangat bangga di sana. Ia pasti sangat bangga sudah melahirkan anak sebaik dirimu, Donghae-ya. Kau pasti sangat merindukan ibumu. Iya kan? Anggaplah aku sebagai ibumu. Kalau kau rindu pada ibumu, datanglah kemari. Aku akan memasakkan masakan kesukaanmu dan kita bisa makan bersama.” Nyonya Im yang sudah ibu Donghae sudah meninggal langsung mengusap lembut lengan Donghae.

Donghae baru akan membalas ucapan Nyonya Im ketika Jung Ra masuk ke dalam tempat tinggal ibunya setelah beberapa saat lalu pergi untuk membeli beberapa roti.

Eomma, aku membelikan roti untukmu. Kuletakkan di sini ya,” ujar Jung Ra seraya meletakkan bungkusan berisi roti ke atas meja di dekat tempat tidur ibunya.

Nyonya Im memberi isyarat Donghae agar segera membawa Jung Ra pergi dari sini. Donghae hanya menganggukkan kepala dan beranjak dari tempatnya.

“Ayo kita pulang,” ajak Donghae.

“Aku ingin di sini menemani Eomma. Kalau kau mau pulang, pulan saja dulu. Mungkin aku akan pulang…. Auuwww! Eomma, ini sakit!” pekik Jung Ra ketika ibunya tiba-tiba bangun dari tidurnya dan memukul lengannya.

“Donghae-ya ajak pulang kekasihmu ini dari sini. Dan paksa dia untuk segera istirahat,” suruh Nyonya Im dengan tegas di depan Donghae dan Jung Ra.

Kalau sudah begitu Jung Ra tidak bisa membantah perintah ibunya. Buru-buru ia meraih tasnya dan keluar setelah pamit pada ibunya. Sedangkan Donghae yang ditarik tangannya oleh Jung Ra hanya menolehkan kepalanya sesaat ke arah Nyonya Im yang menggerakkan bibirnya seakan berkata ‘fighting’ padanya.

 

“Ibumu ternyata menyeramkan juga ya?” ujar Donghae saat mereka sudah menjauh dari gedung kumuh tempat tinggal ibu Jung Ra.

“Kau baru saja mengataiku ibuku?” Jung Ra melirik ketus ke arah Donghae.

“Tidak. Aku hanya berkata yang sebenarnya kok. Ibumu memang menyeramkan, tapi Beliau juga sangat tegas dan hangat. Aku menyukainya,” jawab Donghae sambil memasukkan kedua tangannya pada saku jaket hitamnya.

Jung Ra menolehkan kepalanya dengan cepat ke arah Donghae ketika ia menyadari sesuatu yang aneh.

“Kau… menyukai ibuku? Yaa, Lee Donghae, kau….”

“Pikiranmu pasti aneh lagi kan? Eish…, Go Jung Ra, sudah kubilang berhentilah berpikiran yang aneh-aneh. Kau akan sulit mendapatkan pacar kalau kau terus-menerus seperti itu.” Donghae menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memandang Jung Ra dengan heran. Ia tidak menyangka jalan pikir gadis itu begitu aneh dan terkesan menggelikan.

“Aku hanya waspada padamu. Akhir-akhir ini kan sikapmu mencurigakan dan membahayakan.”

“Apa maksudmu?”

“Kau sengaja kan menyentuh pinggangku di depan ibuku? Tapi anehnya ibuku justru tidak marah-marah melihat putrinya disentuh oleh pria gila di hadapannya. Ya Tuhan, dunia yang kutinggali sudah benar-benar kacau,” gerutu Jung Ra dengan memasang wajah masam.

Donghae yang tak mempedulikan omelan Jung Ra mendadak menghentikan langkahnya ketika melihat minimarket. Sebuah ide muncul di benaknya dan ia langsung menarik pergelangan tangan Jung Ra hingga Jung Ra hampir tersungkur kalau saja tidak menjaga keseimbangan tubuhnya.

“Mau bertanding denganku?” Donghae meletakkan delapan kaleng cola ke atas bangku panjang di samping Jung Ra.

Mendengar ajakan Donghae, Jung Ra hanya memandang bingung ke arah kaleng-kaleng tersebut dan Donghae secara bergantian. Apa laki-laki yang sudah duduk di sampingnya itu sedang mengajaknya bertanding untuk memukul satu sama lain dengan menggunakan kaleng tersebut. Kalau memang begitu, dengan senang hati Jung Ra akan langsung melemparkan kaleng-kaleng tersebut ke wajah Donghae.

“Aku menantangmu untuk meminum empat cola dan tidak bersendawa sebelum isi dari empat kaleng ini habis. Bagaimana?” ajak Donghae sambil mengangkat salah satu kaleng cola dan memberikannya pada Jung Ra.

Awalnya Jung Ra hanya memandang Donghae tidak percaya. Tidak percaya? Tentu saja ia tidak percaya Donghae yang sudah berusia dua puluh delapan tahun menantangnya minum cola layaknya anak sekolah. Meskipun begitu, Jung Ra tetap menerima tantangan Donghae. Toh, sore ini ia memang haus dan ingin minum yang dingin-dingin seperti cola.

“Kita mulai!” kata Donghae seraya memasang stopwatch pada ponselnya dan langsung membuka salah satu kaleng cola-nya.

Jung Ra pun ikut membuka kaleng cola-nya dan meminum isinya. Tubuhnya sedikit bergidik merasakan sensasi soda dingin yang menyiram rongga di dalam tubuhnya. Kelelahan yang ia rasakan hilang dan diganti oleh kesegaran hingga tanpa sadar ia menghela napas lega dengan kencang.

“Tidak boleh sendawa. Kau bahkan belum menghabiskan cola pertamamu,” Donghae memperingatkan Jung Ra sembari menikmati minumannya.

“Lalu aku harus menutup mulutku saat ingin bersendawa? Itu kan konyol!” protes Jung Ra tidak terima. Kau bisa bayangkan bagaimana rasanya saat kau ingin bersendawa setelah minum cola, kau justru harus menutup mulutmu rapat-rapat? Mungkin saja telinga, hidung dan otakmu akan meledak.

“Kalau sampai kau bersendawa kau akan kuhukum,” ancam Donghae sambil menikmati cola ke-duanya.

“Tantangan macam apa ini?! Memangnya seumur hidupmu kau tidak pernah bersendawa setelah meminum cola?!”

“Tidak. Bukannya kau menyetujui syarat tantangan ini tadi, jadi kau harus mengikutinya,” Donghae menjawab santai sambil mendongakkan kepalanya untuk menghabiskan isi kaleng ke-duanya tersebut.

Jung Ra memandang ngeri ke arah Donghae. Tidak pernah sendawa setiap kali habis minum cola? Sebenarnya dia manusia atau bukan?

“Apa hukumannya?” Jung Ra iseng bertanya setelah menghabiskan satu kaleng cola dan akan mengambil kaleng kedua.

“Kucium,” jawaban itu keluar begitu saja dari mulut Donghae, ditambah ekspresi wajah Donghae yang begitu menyebalkan di hadapan Jung Ra.

Baiklah, untuk saat ini Jung Ra lebih memilih untuk meledakkan otak, hidung dan telinganya sendiri daripada harus dicium oleh Donghae. Buru-buru ia memfokuskan diri pada cola yang ada di tangannya dan yang ada di atas bangku panjang. Sambil berdoa di dalam hati agar tidak bersendawa, Jung Ra menghabiskan minumannya satu per satu.

Beberapa kali Jung Ra harus memejamkan matanya erat-erat dan menutup mulutnya rapat-rapat saat sensasi itu datang. Ia tidak bisa bila harus bersendawa. Kalau biasanya ia tak suka bersendawa di tempat umum karena hal tersebut sangat tidak sopan, kali ini ia tidak suka karena hukuman yang akan ia terima akan menjadi mimpi buruknya. Koreksi, mungkin tidak terlalu buruk karena bagaimanapun juga dicium oleh pria tampan bukanlah sesuatu yang harus disesali olehnya. Tapi dari sekian banyak pria tampan yang menyebalkan di dunia ini, apa harus Lee Donghae?

Donghae yang melihat ekspresi menyedihkan Jung Ra hanya bisa menahan tawa. Entah kenapa tiap kali melihat wajah Jung Ra yang ditekuk dan mendenga protes-protes kecil yang keluar dari bibir mungil gadis itu, membuat Donghae merasa lega.

“Sudah habis!” pekik Jung Ra setelah berhasil menghabiskan empat kaleng cola meskipun ia masih belum bisa menghilangkan ekspresi lelah karena menahan sendawa-sendawanya.

Donghae hanya mendengus pelan sambil menarik salah satu sudut bibirnya melihat wajah senang Jung Ra.

“Jadi sekarang tantangan itu berakhir?” tanya Jung Ra yang sesaat kemudian diangguki oleh Donghae.

Jung Ra menghela napas lega. Namun, sedetik kemudian tiba-tiba ia bersendawa dengan cukup keras hingga dirinya sendiri terkejut. Oh, jangankan dirinya, Donghae saja cukup tersentak mendengarnya.

Omo!” pekik Jung Ra sambil membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangannya. Matanya terbelakak pada Donghae.

“Apa tadi?” Donghae semakin membuat Jung Ra malu dengan bertanya seperti itu sambil memasang ekspresi tidak percaya.

“Aku bersendawa?” Bukannya menjawab, Jung Ra justru bertanya pada Donghae.

Hampir sepuluh detik mereka saling memandang satu sama lain hingga akhirnya mereka berdua sama-sama tertawa. Menertawakan hal yang baru saja mereka lakukan. Donghae perlahan menghentikan tawanya ketika melihat Jung Ra tertawa begitu lepas. Jujur, ini adalah tawa lepas Jung Ra pertama setelah sekian lama gadis itu selalu memasang wajah sendu karena patah hati. Donghae mengulas senyum tipis sementara Jung Ra masih terpingkal-pingkal karena perasaannya yang campur aduk antara lucu, malu dan bodoh.

“Haaaah…. sore ini begitu cerah,” ujar Jung Ra sesaat setelah berhasil menghentikan tawanya sendiri. Kepalanya mendongak ke atas, memandang matahari yang sudah berada di sisi barat terhalang oleh beberapa pohon rindang yang tinggi di seberang jalan. Dihelanya napas dengan pelan ketika ia merasakan ada sebuah beban yang terangkat dari bahunya setelah tertawa cukup lama tadi.

Donghae menoleh ke arah Jung Ra. Gadis itu sedang tersenyum manis. Cukup lama Donghae memandang wajah Jung Ra yang hanya terlihat satu sisi itu. Ya, hanya memandangnya, tak ada hal lain yang dilakukan Donghae. Ia memperhatikan bagaimana Jung Ra mengerjapkan matanya dengan pelan, bagaimana Jung Ra menarik sudut bibirnya ke atas dengan begitu manisnya.

Indah. Lagi-lagi Donghae harus mengakui satu kenyataan itu meskipun ia tidak suka bila harus melihat wajah orang dari satu sisi saja.

“Oh ya, Donghae-ssi, aku mau…”

Chu~

Jung Ra yang awalnya berniat menggerakkan kepalanya untuk menoleh pada Donghae mendadak tak bisa apa-apa saat ia merasakan sesuatu yang dingin dan beraroma cola mendarat lembut pada pipinya untuk beberapa detik. Napasnya seolah berhenti begitu saja ketika ia menyadari ia tak bisa mengerjapkan kedua matanya. Otaknya dengan susah payah memberitahunya bahwa seseorang baru saja mencium pipinya.

“Kau kenapa?” Donghae memiringkan kepalanya untuk melihat Jung Ra yang menegang di tempatnya.

“Tidak… aku … tidak… apa-apa…,” jawab Jung Ra gugup tanpa menyadari Donghaelah yang bertanya padanya. Ia masih sibuk mencerna masalah benda lembut yang sepertinya melandas darurat di pipinya beberapa detik yang lalu. Baru setelah kesadarannya pulih secara perlahan-lahan Jung Ra langsung menoleh ke arah Donghae dan memandangnya tidak percaya.

“Apa kau menciumku barusan?” tanya Jung Ra sambil memegang pipinya yang baru saja dicium tadi.

Donghae mengangguk ringan.

“Bukankah tadi kau bilang kau aku lolos dari tantanganmu?! Kenapa kau menciumku?!” Jung Ra harus tetap melayangkan protes pada Donghae walaupun jantungnya belum berhenti berdebar-debar karena merasakan sensasi aneh yang lebih menyeramkan dibanding menahan sendawa setelah meminum cola.

“Aku hanya mencium pipimu, Nona Go. Apa kau berharap aku mencium bibirmu?” goda Donghae.

Jung Ra terpaksa menjauhkan dirinya dari Donghae dengan menggeser duduknya ke arah yang berlawanan. Namun, sepertinya ia terlalu kencang menggeser tubuhnya sendiri hingga ia kehilangan keseimbangan dan mungkin saja ia akan terjatuh dari atas bangku kalau saja Donghae tidak menarik pinggangnya ke arahnya.

Omo! Aku hampir terjatuh! Aigoo~ ! Yaa, lepaskan tanganmu!” Jung Ra menepis tangan Donghae dari pinggangnya. Namun, yang ada Donghae justru mengeratkan pegangan tangannya pada pinggang ramping Jung Ra hingga membuat Jung Ra mau tidak mau harus menempel pada Donghae. Yang bisa Jung Ra lakukan adalah mencoba menjauhkan wajahnya dari Donghae karena hanya kepalanya saja yang bisa ia gerakkan. Kekuatan tangan Donghae yang memeluk pinggangnya terlalu kuat untuk ia lawan.

“Kau mau tahu kenapa aku mencium pipimu tadi? Itu karena Hyukjae sudah menciummu. Aku hanya tidak suka pacarku dicium oleh pria lain,” ujar Donghae pelan.

Spontan Jung Ra mendorong wajah Donghae dengan kasar dan melepas tangan Donghae dari pinggangnya dengan paksa.

“Pria lain? Yaa, Lee Donghae, dia itu…”

“Kakakku. Aku tahu itu,” potong Donghae dengan cepat seakan tahu apa yang akan diucapkan Jung Ra. Dengan kesal ia membuang wajahnya ke arah lain.

Melihat Donghae menekuk wajahnya, Jung Ra hanya berdecak pelan dan membiarkannya begitu saja.

“Seharusnya tadi aku mencium bibirmu, bukan pipimu,” celetuk Donghae kemudian.

“Apa?”

Jung Ra yang berniat tidak akan peduli dengan kata-kata aneh yang mungkin saja akan keluar lagi dari mulut Donghae terpaksa mengurungkan niatnya itu ketika apa yang ia duga benar-benar terjadi. Jung Ra harap apa yang ditangkap oleh telinganya salah.

“Hyukjae mencium bibirmu kan? Seharusnya aku sebagai pacarmu mencium bibirmu yang sudah dicium oleh bibirnya tadi, bukannya mencium pipimu. Dengan begitu aku bisa menghapus bekas bibirnya dari bibirmu dan membuat bekas bibirku sendiri di bibirmu, kemudian….AAAUUWW!!”

“Siapa yang kau sebut pacarmu itu, hah?! Bukankah kita sudah sepakat hanya bersikap seperti pasangan di depan ibuku? Dan kau juga terlalu banyak menyebut kata bibir, Tuan Lee Donghae. Itu terdengar menjijikkan sekali di telingaku,” ucap Jung Ra geram sambil menarik daun telinga Donghae dan tak mempedulikan teriakan kesakitan Donghae.

***

A few days later…

Hyungnim, kau tidak memotong gajiku? Bukankah kemarin aku meminjam uang toko 20.000 Won?” Ryeowook terlihat heran sekaligus senang saat melihat jumlah gajinya tak berkurang.

“Sudahlah. Anggap saja aku tidak tahu kalau kau meminjam uang tokoku kemarin,” jawab Donghae sambil tetap memusatkan pandangannya pada buku Laporan Keuangan tokonya. Sesaat kemudian ia memanggil Jung Ra yang baru saja kembali dari ruang bawah tanah.

“Ini gajimu bulan ini.” Donghae menyodorkan amplop putih yang terlihat cukup tebal pada Jung Ra.

Jung Ra hanya berterima kasih dan langsung meletakkan amplop tersebut ke atas sofa di dekat tas coklatnya begitu saja dan kembali mengangkat keranjang yang tadi ia bawa dari ruang bawah tanah.

Hyungnim, apa aku boleh pulang sekarang?” tanya Ryeowook pada Donghae setelah mendekati meja kerja bosnya itu.

“Kau mau makan malam dengan temanmu lagi?”

Ryeowook mengangguk dengan semangat dan hanya direspon Donghae dengan kibasan tangan tanda ia mengiyakan pertanyaan Ryeowook. Dengan senyum lebar, Ryeowook membungkukkan badannya pada Donghae sambil berterima kasih beberapa kali kemudian ketika ia melihat Jung Ra berjalan ke arah depan, tangannya masih bisa mengacak sebentar poni Jung Ra hingga membuat Jung Ra memekik kesal.

“Dia pasti menghabiskan uangnya untuk makan malam bersama teman-temannya lagi,” gumam Jung Ra setelah Ryeowook berjalan keluar dari toko. Ia baru teringat ia juga mendapatkan gajinya bulan ini. Setelah meletakkan kain bersih yang ia gunakan untuk mengeringkan tangannya tadi, Jung Ra berjalan ke arah sofa dan mengambil amplop pemberian Donghae.

“Hah?” Jung Ra terpaksa mengernyitkan keningnya setelah menghitung jumlah uang gaji yang ia terima dari Donghae. Sambil menghenyakkan diri di atas sofa usang tersebut, ia kembali menghitung jumlah lembaran uangnya. Namun, tiga kali ia menghitung uang tersebut, tetap saja ia merasa ada yang salah. Dengan tetap memasang wajah tidak percaya, ia mendekati meja kerja Donghae dan berdiri di dekat Donghae.

“Sebenarnya apa yang terjadi padamu hari ini?” tanya Jung Ra.

“Memangnya ada apa lagi?” Tak hanya pada Ryeowook, kini Donghae juga menanggapi Jung Ra tanpa menolehkan wajahnya dari buku laporannya.

“Ini.” Jung Ra langsung meletakkan amplop berisi uang gajinya tepat di atas buku Donghae.

Seakan mengerti apa maksud Jung Ra, Donghae hanya meletakkan bolpoinnya ke dekat buku dan mendongakkan kepalanya untuk memandang Jung Ra.

“Memangnya ada yang salah pada gajimu? Apa itu kurang?”

“Kurang bagaimana, itu bahkan terlalu banyak, Donghae-ssi. Jangankan lembur, bahkan aku saja tidak masuk kerja lebih dari satu minggu kemarin. Bukankah seharusnya kau memotong gajiku?”

Donghae hanya memiringkan wajahnya untuk menanti protes apa lagi yang akan diungkapkan Jung Ra padanya. Namun, sepertinya sikap Donghae yang seperti itu justru membuat Jung Ra salah tingkah.

“J-jangan menatapku seperti itu,” Jung Ra mencoba menghentikan Donghae yang tak juga mengalihkan pandangannya darinya.

“Kau ini aneh sekali ya. Dulu aku memotong gajimu, kau marah-marah. Sekarang aku menambah gajimu, kau juga marah-marah. Sebenarnya apa maumu?” Donghae melipat kedua tangannya di depan dada sambil tetap mendongakkan kepalanya pada Jung Ra.

“I-tu… hanya… hanya… bukan gayamu sama sekali. Asal kau tahu saja, sikapmu akhir-akhir ini sedikit mengerikan, ah… bukan, bukan, maksudku sangat mengerikan. Yaaa… meskipun begitu aku juga merasa senang karena kau begitu baik. Tapi rasanya kau yang sekarang bukan seperti Lee Donghae yang kukenal.”

“Kalai begitu mulai sekarang kau harus bisa membiasakan dirimu dengan Lee Donghae yang baru,” kata Donghae seraya berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah toilet toko.

Jung Ra menatap amplop berisi uang gajinya untuk beberapa saat dan ketika ia teringat akan sesuatu kepalanya menoleh ke arah Donghae yang baru menyentuh knop pintu toilet.

“Donghae-ssi, apa aku boleh meminjam ponselmu? Aku harus menghubungi ibuku sebentar. Sepertinya ponselku mengalami gangguan,” ujar Jung Ra.

“Ambil saja di laci meja!” Donghae menjawab sambil masuk ke dalam toilet dan tak lama kemudian terdengar suara pintu toilet yang ditutup.

Jung Ra membuka laci meja dan ponsel Donghae memang ada di dalam sana. Ada kebimbangan di benak Jung Ra antara harus mengambil ponsel itu atau tidak karena sebenarnya ia memerlukan ponsel itu tidak untuk menghubungi ibunya melainkan untuk hal lain.

Hal lain.

Jung Ra merasa geli pada dirinya sendiri ketika kata hal lain ia pilih untuk menjelaskan niat asli ia meminjam ponsel Donghae karena pada kenyataannya hal lain tersebut bisa dikatakan sebagai sesuatu yang tidak pernah Jung Ra lakukan seumur hidup.

Bagaimana ya bila harus disebutkan dalam bahasa yang lebih kasar…

Mencuri nomor ponsel dari ponsel orang tanpa meminta ijin dari pemilik ponsel tersebut? Ya, untuk saat ini sepertinya bahasa kasar itu yang lebih cocok. Jung Ra harus mendapatkan nomor ponsel seseorang dari ponsel Donghae bagaimanapun caranya, meskipun ia harus berbohong pada Donghae.

Jung Ra mencari sebuah nama dari daftar kontak yang ada pada ponsel Donghae dan beberapa saat kemudian ia menemukannya. Dengan cepat dan tetap waspada bila sewaktu-waktu Donghae keluar dari toilet, Jung Ra menyalin nomor ponsel tersebut ke dalam ponselnya. Sambil meminta maaf yang sebanyak-banyaknya pada Donghae di dalam hati, Jung Ra memasukkan kembali ponsel Donghae ke dalam laci meja. Tak lupa ia menuliskan sebuah pesan di memo kecil untuk Donghae dan ia letakkan di atas meja. Setelah menyambar tas coklatnya dan memasukkan amplop berisi uang gajinya ke dalam tas, Jung Ra lantas berjalan keluar toko.

.

.

Youngwoon dan Hyukjae terlihat keluar dari sebuah kedai bir. Mereka berdua terlibat obrolan ringan tentang masalah perusahaan sambil sesekali bercanda. Ketika mereka sampai di tempat parkir, Youngwoon yang baru akan membuka pintu mobilnya terpaksa berhenti karena ponselnya bergetar. Dilihatnya ada sederet nomor ponsel tak dikenal yang menghubunginya.

“Siapa, Hyung?” tanya Hyukjae yang berdiri di depan mobilnya yang ada di samping mobil Youngwoon.

“Tidak tahu. Mungkin orang kantor. Sebentar. Yeoboseo?” jawab Youngwoon seraya memberi isyarat pada Hyukjae untuk diam sambil menerima telepon tersebut.

Hyukjae menuruti apa kata Youngwoon dengan menganggukkan kepala. Diambilnya ponselnya sendiri dari dalam saku celana kantornya dan mengeceknya siapa tahu ada email atau pesan yang masuk yang tidak dia ketahui.

Youngwoon yang sedang berbincang dengan seseorang di telepon itu nampak memandang Hyukjae dengan ekspresi yang sulit diartikan untuk beberapa detik sebelum kembali berbicara pada orang tersebut.

Hyukjae menoleh ke arah Youngwoon. Dilihatnya kakak sepupunya itu menampilkan raut wajah yang begitu serius. Hyukjae hanya menganggukkan kepalanya pelan, berpikir mungkin saja kakak sepupunya itu memang sedang membahas sesuatu yang serius tentang perusahaan karena ia tahu sendiri akhir-akhir ini hampir semua karyawan perusahaan terlihat lebih sibuk dari biasanya, tak terkecuali kakak sepupunya yang merupakan kaki tangan ayahnya untuk urusan kantor di sana.

“Ya, baiklah. Aku mengerti,” tutup Youngwoon sebelum mengakhiri pembicaraan di ponselnya.

“Apa terjadi sesuatu?” tanya Hyukjae kemudian.

“Sedikit masalah di kantor,” hanya itu jawaban dari Youngwoon untuk Hyukjae.

“Butuh pertolonganku?”

Youngwoon mendengus pelan dan berkata,” Huh, apa yang bisa kuharapkan dari Manager Bagian Keuangan sepertimu? Masuk kerja saja tidak bisa setiap hari, sekalinya masuk tiba-tiba menghilang di jam makan siang dan tidak kembali lagi.”

“Kau sedang menyindirku?” Raut wajah Hyukjae berubah kesal.

“Bagus kalau kau bisa menyadarinya secepat itu. Sudahlah, cepat pulang sana. Apartemen barumu yang semahal itu sangat disayangkan bila kau tinggalkan lama-lama. Bahkan kalau otakku sudah tidak normal lagi, aku ingin bertukar apartemen denganmu,” ujar Youngwoon seraya masuk ke dalam mobil.

Hyukjae hanya terkekeh sambil membuka pintu mobilnya dan masuk. Tak lama kemudian mesin mobilnya sudah menyala dan perlahan kaca mobil yang ada di sampingnya turun.

Hyung, aku pulang dulu. Terima kasih traktirannya!”

“Asal kau tahu saja aku tidak ikhlas mentraktirmu tadi!” balas Youngwoon yang kemudian ditanggapi Hyukjae dengan lambaian tangan.

Youngwoon mengamati mobil adik sepupunya yang bergerak mundur dengan perlahan dan ia hanya menghela napas pelan ketika mobil tersebut sudah meninggalkan area parkir kedai. Tangannya mengambil kembali ponselnya yang ada di atas dashboard. Dilihatnya nomor ponsel yang tadi menghubunginya.

“Dasar Bodoh,” gumamnya.

.

.

Meanwhile…

Jung Ra hampir tertidur di dalam bus yang mengantarnya ke tengah kora Seoul. Andai saja ia tidak sengaja membenturkan kepalanya pada kaca bus saat ia tidak bisa menahan kantuknya, mungkin saja sopir bus tersebut sudah membawanya ke tempat lain. Dengan buru-buru Jung Ra turun dari bus dan sedikit meregangkan otot tubuhnya di halte bus yang begitu sepi. Lehernya sedikit terasa sakit karena terlalu lama memiringkan kepalanya ke arah kaca bus. Sesaat ia melihat layar ponselnya yang menunjukkan pukul dua belas malam. Menyadari sekarang sudah tengah malam membuat Jung Ra mengernyitkan keningnya. Yang harus Jumh Ra tanyakan pada dirinya sendiri adalah apakah ia tadi membutuhkan waktu lebih dari tiga jam hanya untuk sampai di tengah kota seperti ini, padahal seingatnya ia masih tinggal di Seoul meskipun daerah tempat tinggalnya termasuk pinggiran kota?

“Haaah, pasti tadi karena aku tertidur di dalam bus,” keluhnya sambil menggaruk tengkuknya sebelum menolehkan kepalanya ke sisi kanan tubuhnya. Matanya terbelalak ketika tempat yang ia tuju sangat jauh dari bayangannya.

“Ini benar-benar gila,” gumamnya. Kakinya melangkah pelan mendekati area halaman sebuah gedung apartemen mewah. Kepalanya masih saja mendongak ke atas, memandang takjub tinggi gedung yang sebelumnya hanya bisa ia lihat dari drama-drama yang ada di televisi saja. Namun, sedetik kemudian ia buru-buru menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memejamkan mata. Ia harus menyingkirkan rasa kagum akan gedung mewah itu untuk sementara waktu karena tujuannya kemari bukanlah itu.

Setelah bertanya pada petugas yang ada di ruang lobby di lantai dasar, Jung Ra berjalan ke arah lift yang akan membawanya ke lantai sepuluh. Matanya masih tertuju pada sebuah memo kecil berisi tulisan nomor apartemen seseorang yang ia tulis sendiri tadi sebelum ia berangkat ke tengah kota.

Tidak sampai lima menit Jung Ra sudah sampai di lantai sepuluh gedung apartemen mewah tersebut. Sambil sesekali melihat nomor yang ada di memonya, Jung Ra melangkah ke arah kiri dan mencari apartemen bernomor sama dengan yang ada di memonya tersebut. Dan mendadak ia berhenti saat tempat yang cari sudah ada di depannya. Sempat ada keraguan di benaknya ketika ia melihat bel di dekat pintu berwarna silver tersebut apakah ia harus menekannya atau tidak. Sebut saja Jung Ra bertingkah seperti orang tidak tahu sopan santun yang sedang bertamu di rumah orang tengah malam begini.

Setelah menghela napas untuk memastikan bahwa keputusannya untuk menekan bel adalah benar, Jung Ra segera menekan bel tersebut. Lima belas detik berlalu dan tak ada respon dari pemilik apartemen tersebut. Jung Ra mengulanginya sekali lagi dan bila masih tetap tidak ada pergerakan dari pintu yang ada di depannya, Jung Ra akan kembali pulang.

Nuguseyo?” Suara seseorang terdengar dari intercom yang ada di dekat bel tersebut. Suara tersebut terdengar parau dan berat. Jung Ra yang mendengarnya hanya bisa menundukkan kepala, membodohi dirinya karena ternyata ia baru saja membangunkan pemilik apartemen tersebut dari tidurnya. Kau sungguh bodoh, Go Jung Ra!

“I-ini aku. Bisakah…” Jung Ra tersentak karena pintu yang ada di depannya dibuka dengan tiba-tiba sebelum ia menyelesaikan kata-katanya.

“Jung Ra-ya?” Hyukjae, pemilik apartemen itu cukup terkejut mengetahui orang yang datang ke apartemennya tengah malam seperti ini adalah Jung Ra. Sebelumnya ia sudah terlelap di atas tempat tidurnya setelah satu jam lalu ditraktir minum bir oleh Youngwoon, kemudian terbangun karena mendengar suara bel dari arah pintu apartemennya.

“Hyukjae-ssi…”

“Kenapa datang kemari malam-malam begini? Apa kau datang sendirian? Kau naik apa tadi, bus atau taksi? Kenapa tidak menghubungiku dulu agar aku saja yang datang ke tempatmu kalau kau mencariku?” Hyukjae sudah lebih dulu merasa cemas saat melihat Jung Ra dan memberondongnya dengan banyak pertanyaan. Bukan tanpa alasan Hyukjae panik seperti itu karena ia tahu jarak antara tempat tinggal Jung Ra dengan apartemennya sangat jauh, ditambah sekarang sudah tengah malam. Dan jangan lupakan Go Jung Ra adalah seorang gadis.

“Apa kita bisa bicara sebentar?” Jung Ra yang sebelumnya mendapatkan alamat apartemen Hyukjae dari Youngwoon beberapa menit setelah ia mendapatkan nomor ponselnya dari ponsel Donghae lansung mengutarakan niatnya menemui Hyukjae. Sebenarnya mendengar rentetan pertanyaan yang dilontarkan Hyukjae dan wajah yan begitu panik dari Hyukjae sempat membuat Jung Ra masih bisa merasakan desiran di dalam hatinya.

“Masuklah.” Hyukjae langsung menarik Jung Ra masuk ke dalam apartemennya dan menutup pintu yang ada di belakangnya.

Jung Ra, lagi-lagi ia harus meladeni dirinya yang merasa kagum dengan interior apartemen yang ditinggali oleh Hyukjae ini. Keadaan di dalam sangat jauh berbeda dengan apartemennya di pinggir kota Seoul. Semua perabot yang ada di apartemen Hyukjae terkesan begitu mahal dan tertata begitu rapi dan cantik. Bahkan luas apartemen ini mungkin puluhan kali lipat lebih luas dari apartemen sederhana Jung Ra.

Tubuh Jung Ra menghangat ketika ia merasakan mesin penghangat ruangan mulai menembus pakaian yang melekat pada tubuhnya. Baru ia sadari sejak keluar dari toko Donghae, menunggu bus di halte, ketiduran di dalam bus hingga berdiri di depan apartemen Hyukjae, ia lupa untuk mengenakan mantelnya dan bodohnya lagi mantel tersebut tertinggal di toko. Kedinginan? Tentu saja Jung Ra seharusnya merasa kedinginan, hanya saja pikirannya yang melayang-layang tak karuan membuatnya lupa bahwa ia kedinginan di luar sana.

“Minumlah ini dulu.” Hyukjae muncul dari dapur sambil membawa mug yang berisi teh hangat. Diletakkannya mug tersebut di atas meja kaca yang ada di depan Jung Ra.

Jung Ra hanya menganggukkan kepalanya, tangannya terulur mengambil mug berisi teh tersebut dan menyesapnya sedikit.

“Oh ya, bagaimana kabar ibumu? Apa Beliau sudah sembuh? Maaf, aku tidak sempat untuk menjenguk karena mendadak pekerjaan kantorku menumpuk,” Hyukjae memulai perbincangan setelah duduk di sofa yang ada di dekat Jung Ra.

Eomma sudah mulai membaik,” jawab Jung Ra singkat.

Sesaat setelah Jung Ra menjawab pertanyaan Hyukjae suasana di dalam apartemen itu berubah hening. Jung Ra memegang erat tasnya yang ada di pangkuannya sambil berusaha memantapkan hatinya untuk segera menuntaskan apa yang menjadi tujuan utamanya datang kemari. Ya, Jung Ra harus menyelesaikannya sekarang juga.

Dibukanya tasnya itu dan mengambil amplop berisi uang gaji pemberian Donghae dan meletakkannya di atas meja.

“Sebenarnya aku ingin mengganti semuanya sekaligus, tapi setelah kulihat jumlahnya begitu besar, kurasa aku hanya bisa mengangsurnya. Mungkin untuk saat ini aku hanya bisa mengembalikan sedikit, tapi aku bisa pastikan, hutangku akan kulunasi semua,” ujar Jung Ra sambil memandang Hyukjae.

Mendengar perkataan Jung Ra, Hyukjae terpaksa mengernyitkan keningnya tanda tak mengerti. Matanya memandang amplop tersebut dan Jung Ra secara bergantian.

“Apa maksudmu?”

“Biaya rumah sakit Eomma. Perawat memberitahuku bahwa kau yang memindahkan Eomma ke kamar VIP dan menanggung semua biaya operasi dan perawatannya. Aku hanya merasa tidak enak padamu karena sudah repot-repot melakukan hal itu.”

Tak pelak Hyukjae terkejut mendengar jawaban Jung Ra. Jadi gadis itu jauh-jauh datang kemari, tak peduli tubuhnya kedinginan karena angin malam hanya untuk mengembalikan uang yang sudah Hyukjae gunakan untuk menanggung semua biaya perawatan ibunya? Entah kenapa hati Hyukjae seperti disayat ketika melihat wajah serius Jung Ra. Apakah ia terlihat seperti orang yang tega meminta ganti rugi hanya karena sudah menanggung biaya rumah sakit ibu dari gadis yang dicintainya?

“Kau tidak perlu melakukan ini, Go Jung Ra.”

Jung Ra menggelengkan kepalanya sambil berkata,” Kali ini aku tidak mau salah paham lagi pada kebaikanmu, Hyukjae-ssi. Bukankah aku pernah bilang padamu kalau aku tidak akan pernah melangkahi garis batas yang ada di antara kita? Mengembalikan sebagian uangmu mungkin bisa kusebut sebagai salah satu caraku untuk tidak melangkahi garis itu.”

Dada Hyukjae berdenyut. Kata ‘garis’ yang keluar dari mulut Jung Ra terdengar menyakitkan bagi telinganya. Apalagi saat ia tahu Jung Ra tidak mau lagi merasa salah paham pada kebaikannya, rasanya Hyukjae sudah benar-benar seperti manusia jahat di dunia ini.

“Kalau aku menganggap kebaikan yang kuberikan padamu adalah perhatian pada sesama teman, apa kau mau menarik kembali uangmu ini? Kau tahu, Go Jung Ra, aku sama sekali tidak memiliki niat untuk memintamu mengembalikan uangku. Aku hanya ingin membantumu,” Hyukjae berusaha menjelaskan maksudnya pada Jung Ra.

“Tapi kebaikan yang sebut sebagai perhatian pada sesama teman itu terlihat berbeda di mataku, Hyukjae-ssi. Aku merasa terbebani bila orang yang sudah membiayai perawatan rumah sakit ibuku adalah dirimu.”

“Terbebani?” Suara Hyukjae melemah seketika.

“Aku tidak tahu apakah itu benar atau tidak, tapi aku merasa beban di kedua bahuku lebih berat dari biasanya ketika aku mengetahui kaulah orangnya. Kumohon, Hyukjae-ssi, bantulah aku untuk mengurangi beban ini dengan menerima uang ini. Jika kau tidak menerimanya, tiap detik aku akan terus merasa bersalah padamu.”

Jung Ra menatap Hyukjae dengan wajah seolah berharap Hyukjae mau mengabulkan permintaannya itu. Hyukjae hanya mendesah pelan sambil memejamkan matanya untuk beberapa detik. Inilah yang tidak bisa dihindari Hyukjae. Ekspresi wajah Jung Ra seperti inilah yang mau tidak mau harus membuat Hyukjae menurutinya.

“Baiklah, aku akan menerimanya,” jawab Hyukjae pada akhirnya.

Jung Ra tersenyum lega mendengar jawaban Hyukjae. Beban di bahu yang tadi ia sebutkan kini memang terasa lebih ringan setelah Hyukjae mau menerima uangnya. Lepas dari perasaannya pada Hyukjae yang masih campur aduk sejak ia tahu laki-laki itu tak menyukainya, Jung Ra tetap harus berterima kasih pada Hyukjae.

“Kalau begitu aku harus pulang. Terima kasih karena sudah meluangkan waktumu untuk berbicara denganku. Dan maaf sudah membangunkanmu tadi.” Jung Ra beranjak dari duduknya.

“Akan kuantar,” ujar Hyukjae seraya berdiri dan berjalan ke arah rak penyekat ruangan untuk mengambil kunci mobilnya. Namun, dengan cepat Jung Ra menolaknya.

“Kalau begitu akan kupanggilkan taksi,” kata Hyukjae kemudian sambil merogoh saku celana trainingnya untuk mengambil ponsel.

“Aku bisa naik bus. Di dekat gedung ini ada halte bus,” tolak Jung Ra lagi.

“Go Jung Ra…”

“Aku akan naik bus,” Jung Ra mempertegas penolakannya.

Hyukjae memberi Jung Ra isyarat untuk diam sebentar karena ia sedang berbicara dengan seseorang di ponselnya. Setelah mengakhiri pembicaraannya di ponsel, Hyukjae lantas meraih jaket kulit tebalnya yang menggantung di ruang tengah. Jung Ra nampak terkejut karena tiba-tiba Hyukjae mengenakan jaket tersebut pada dirinya.

“Aku lebih merasa tenang kalau kau naik taksi daripada naik bus. Ini sudah tengah malam, akan sangat berbahaya bila kau sendirian di jalan. Aku hanya tidak ingin terjadi apa-apa padamu. Kali ini beban yang ada di kedua bahuku akan terasa lebih berat ratusan kali lipat bila kau menolaknya. Aku akan benar-benar merasa cemas,” pinta Hyukjae sungguh-sungguh.

Jung Ra mendengus pelan sambil tersenyum tipis. Kepalanya mengangguk kecil menerima permintaan Hyukjae. Bahkan ia bersedia diantar Hyukjae sampai lantai dasar. Tak hanya itu saja, Jung Ra pun sedikit merasa canggung ketika Hyukjae mau menemaninya menunggu taksi di depan pintu utama gedung. Dan saat taksi itu akhirnya datang, Jung Ra seolah tak bisa membuka mulutnya untuk sekedar memberikan penolakan ketika Hyukjae membukakan pintu taksi untuknya dan meminta sopir taksi untuk mengantarnya sampai depan gedung apartemen sederhananya.

“Kalau sudah pulang cepat tidur. Ini sudah benar-benar lewat tengah malam,” ujar Hyukjae sebelum menyuruh Jung Ra untuk menaikkan kaca mobil yang ada di sampingnya.

Jung Ra hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan sambil menaikkan kaca mobil sesuai ucapan Hyukjae. Bahkan konyolnya lagi, ia sampai tak bisa mengontrol gerakan tangannya yang melambai kecil ke arah Hyukjae. Ia baru tersadar kalau apa yang sudah dilakukannya beberapa detik lalu adalah hal gila setelah melihat Hyukjae membalas lambaian tangannya sambil tersenyum hangat.

***

Jung Ra berjalan pelan ke arah area halaman gedung apartemen sederhananya setelah beberapa menit lalu dengan susah payah menyuruh sopir taksi untuk menurunkannya di pinggir jalan raya dekat gedung. Jung Ra tidak tahu doktrin apa yang sudah diberikan Hyukjae pada sopir tersebut hingga ia harus mengeluarkan wajah polos dan rayuan-rayuan aneh untuk menghilangkan ekspresi ketakutan sopir tersebut. Sambil memasukkan jaket milik Hyukjae ke dalam tasnya, Jung Ra mendekati lantai dasar gedung dan nampak sedikit terkejut saat melihat sosok seseorang sedang duduk di salah satu anak tangga yang ada di lantai dasar.

Orang itu ternyata Lee Donghae.

“Lee Donghae-ssi, apa yang kau lakukan tengah malam begini di sini?” tanya Jung Ra setelah berdiri di bawah tangga.

Donghae yang sejak tadi menyumbat kedua daun telinganya dengan earphone yang ia sambungkan pada ponselnya hanya menegakkan kepalanya ketika mendengar suara seseorang.

“Go Jung Ra? Dari mana kau?” Donghae justru bertanya balik karena terkejut melihat Jung Ra yang sepertinya baru kembali dari suatu tempat. Ia pikir gadis itu sudah meringkuk seperti kucing di atas tempat tidur. Dilepasnya kedua earphone tersebut dan mematikan lagu yang sejak tadi diputar di ponselnya.

“Aku… aku dari tempat ibuku tadi. Apa kau baru pulang dari toko?” Jung Ra memilih untuk duduk di samping Donghae.

“Tempat ibumu?” Donghae kali ini harus memandang tidak percaya pada Jung Ra. Gadis itu jelas sedang berbohong padanya karena ia tidak melihat kehadiran Jung Ra di tempat tinggal Nyonya Im tadi. Ya, wajar bila Donghae tidak percaya karena sejak ia mengetahui Jung Ra pulang lebih dulu darinya, ia langsung pergi mengunjungi Nyonya Im setelah menutup toko karena ia teringat pada ibu Jung Ra itu. Dan sekarang saja ia baru sampai di gedung apartemen dan memilih untuk duduk sebentar di tangga sambil mendengarkan lagu kesukaannya. Tapi Donghae juga tidak mungkin bertanya pada Jung Ra karena mungkin saja Jung Ra berbohong karena harus menyelesaikan masalah pribadinya yang tidak diketahui oleh Donghae. Tapi lucunya, kenapa alasan yang dipakai gadis itu adalah ibunya?

“Kiroro, ya?” tanya Jung Ra menunjuk ponsel Donghae.

“Apa?” Donghae terpaksa menepis pikirannya tentang kebohongan Jung Ra ketika gadis itu menunjuk ponselnya.

“Lagu yang sering kau putar saat kau sendiri adalah milik Kiroro kan? judulnya Mirai-e. Aku benar kan?”

Donghae mengangguk kecil sambil memasang salah satu earphone ke lubang telinganya. Beberapa saat kemudian satu earphone-nya yang lain ia angkat tepat di depan wajah Jung Ra.

“Mau mendengarkan bersama?”

Jung Ra melirik ke arah Donghae dan mengangguk. Belum sempat ia mengerakkan tangannya untuk mengambil earphone tersebut, Donghae sudah lebih dulu memasangkan benda itu untuknya. Perlahan suara denting piano dan suara merdu khas penyanyinya mengalun lembut di telinga Donghae dan Jung Ra. Membuat mereka larut dalam lagu tersebut. Terlebih pada Donghae yang selalu merasa sendu tiap ia mendengarkan lagu itu sejak dulu.

Jung Ra menoleh ke arah Donghae. Memandang wajah Donghae yang hanya bisa ia lihat dari satu sisi. Jung Ra bukannya tidak tahu apa arti lagu tersebut, hanya saja ia tidak tahu harus bersikap bagaimana untuk menghibur Donghae. Ya, lagu itu menceritakan tentang bagaimana seorang ibu yang begitu menyayanginya, tapi sang anak baru menyadari besarnya kasih sayang ibunya ketika ibunya itu meninggalkannya. Jung Ra berpikir, tidak mungkin dulunya Donghae menyia-nyiakan ibunya karena Jung Ra tahu laki-laki yang duduk di sampingnya itu sangat menyayangi mendiang ibunya. Hubungan Donghae dengan mendiang ibunya pasti sangatlah dekat. Dan Jung Ra bisa melihat dengan jelas bagaimana Donghae bersikap begitu lepas dan menjadi dirinya sendiri ketika ia sedang menjenguk ibunya di rumah sakit.

“Donghae-ssi, apa aku boleh mengatakan sesuatu?” tanya Jung Ra kemudian.

Donghae terpaksa mengecilkan volume lagunya dan menoleh pada Jung Ra.

“Katakan saja.”

“Terima kasih karena sudah membantuku menjaga ibuku di rumah sakit. Terima kasih karena sudah mau merawat ibuku. Selain itu… terima kasih karena sudah menghiburku saat aku benar-benar membutuhkan seseorang yang bisa kugunakan sebagai sandaran,” Jung Ra berkata dengan menatap kedua mata Donghae yang begitu bening, mirip dengan mata mendiang ibu Donghae yang ia lihat pada foto yang ada di apartemen laki-laki itu.

Donghae hanya mendengus pelan sambil tersenyum tipis. Mendengar Jung Ra berterima kasih seperti itu membuat tengkuk Donghae merinding tanpa sebab. Ia bisa melihat ketulusan di mata besar Jung Ra saat mengucapkan kata-kata itu.

“Aku hanya melakukan yang seharusnya kulakukan, Go Jung Ra,” balas Donghae pelan tanpa mengalihkan matanya dari Jung Ra.

Sambil tersenyum penuh arti, Jung Ra pun berkata,” Maka dari itu aku ingin mengucapkan terima kasih padamu. Aku tidak tahu bagaimana harus membalas semua kebaikanmu itu.”

Donghae menganggukkan kepalanya sambil membalas senyuman Jung Ra.

“Terima kasih untuk segalanya…, Donghae………… Oppa.”

Seketika Donghae terhenyak mendengar Jung Ra memanggilnya dengan sebutan Oppa. Matanya mengerjap-ngerjap bingung pada Jung Ra.

“K-kenapa tiba-tiba memanggilku… seperti itu?” Mendadak Donghae dibuat gugup karena ucapan Jung Ra tadi.

“Bukankah kau sudah memegang kata-kataku dulu? Aku pernah bilang pada Ryeowook Oppa bahwa aku akan bersedia memanggilmu dengan sebutan Oppa kalau kau sudah bisa bersikap layaknya pria sejati dan membantuku di saat aku kesulitan,” jawab Jung Ra dengan polos.

Donghae membuang wajahnya ke arah lain. Ia tidak mau Jung Ra melihat wajahnya yang memerah karena… bagaimana ya menyebutnya? Tersipu? Apakah kata itu sudah tepat untuk menggambarkan wajah memerah seorang Lee Donghae?

Ya, sepertinya hanya kata itu yang tepat.

“Bukankah kau bilang kau hanya bercanda?” Donghae masih berusaha mengelak.

“Sebenarnya iya… tidak…, eh, iya,” kini justru Jung Ra yang dibuat bingung dengan ucapannya sendiri.

“Yang benar yang mana?!” tanpa Donghae sadari suaranya naik satu oktaf.

“Begini…, sebenarnya saat itu aku memang setengah serius dan setengah bercanda, tapi setelah aku tahu sendiri… kurasa aku tidak bercanda.”

“Jawaban macam apa itu? Aneh sekali.”

“Walaupun aneh mulai sekarang aku akan memanggilmu Donghae Oppa,” Jung Ra tetap bersikukuh pada ucapannya.

“Tidak usahlah. Kedengarannya aneh sekali. Apalagi aku kan bosmu, apa kata pelanggan tokoku kalau sampai tahu karyawanku memanggilku dengan sebutan itu. Mengerikan sekali,” bila Jung Ra tetap akan memanggilnya dengan sebutan Oppa, Donghae justru tetap berusaha membantahnya.

“Kalau begitu kalau toko sudah tutup, apa aku bisa memanggilmu Oppa?” Jung Ra mendekat pada Donghae hingga membuat sedikit menjauh, namun sayangnya tindakannya untuk menjauh hanya sampai pada dindin pembatas tangga yang ada di belakangnya. Lewat tengah malam seperti ini, bagi Donghae, Jung Ra terlihat menyeramkan seperti hantu.

Mendadak sebuah seringai tipis terlihat di sudut bibir Donghae ketika ia teringat sesuatu. Tangannya langsung menahan pinggang Jung Ra. Tak pelak hal tersebut membuat Jung Ra terkejut dan membodohi dirinya yang begitu konyolnya menggeser tubuhnya ke arah Donghae.

“Kau masih ingat kan kalau aku pernah berkata padamu bahwa aku akan membuatmu menyukaiku dalam waktu singkat? Apa sekarang kau sudah mulai menyukaiku, hm?”

Blush~

Jung Ra gagal menyembunyikan rona merah di kedua pipinya ketika Donghae bertanya seperti itu tepat di depan wajahnya. Jantungnya mendadak berdegup tak karuan. Sebut saja itu adalah ungkapan dari diri Jung Ra yang merasakan serangan bertubi-tubi di tubuhnya saat ini. Tangan Donghae yang memeluk pinggangnya begitu erat, deru napas hangat dan teratur milik Donghae terasa di wajahnya dan wajah tampan Donghae yang sejak dulu tak pernah berkurang meskipun berulangkali Jung Ra harus menguranginya sendiri.

“B-bukankah dulu kau hanya bercanda?”

“Sebenarnya iya…. tidak, eh… iya,” Donghae menirukan ucapan Jung Ra.

“Yang benar yang mana?!” dan tanpa Jung Ra sadari percakapannya kali ini sama persis yang diucapkan Donghae beberapa saat lalu, walaupun sekarang posisi mereka berubah.

“Begini, sebenarnya……… aku tidak pernah bercanda untuk membuatmu menyukaiku. Jadi, sampai sekarang pun aku tidak pernah bercanda untuk hal tersebut. Kau boleh memanggilku Oppa, tidak, tidak,… kau harus memanggilku dengan sebutan itu di luar jam kerja, walaupun aku masih risih mendengarnya.”

“K-kenapa akhir-akhir ini kau berambisi sekali untuk membuatku menyukaiku?” Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Jung Ra.

Seringai di bibir Donghae memudar, diganti dengan wajah dingin untuk beberapa detik ketika mendengar pertanyaan Jung Ra. Karena tidak mungkin menjawabnya dengan suara lantang, akhirnya Donghae menjawabnya di dalam hati.

Karena Lee Hyukjae, Go Jung Ra. Karena laki-laki brengsek itu secara tidak langsung memaksaku untuk melakukan hal jahat ini padamu.

To be continued

==================

 

Jung Ra membenturkan kepala sikat giginya pada bagian dalam mulutnya dan menderita selama beberapa hari??? Well, sebenarnya Jung Ra nggak harus ngalami hal tersebut, guys karena aslinya aku sendiri yang mengalaminya *Nita ngaku* Bayangin aja deh gimana sakitnya setelah sikat gigi kena bagian dalam mulut pas kita lagi enak2nya gosok gigi. Nggak bisa ngomong jelas, buat ketawa susah, mara juga susah. Sakitnya tuh di sini *tunjuk mulut *nangis ala Masha di pelukan Zhoumi

Dan akhirnya saya yang nggak terima kalau harus nanggung rasa sakit ini sendirian *ok ini lebay* memutuskan untuk bikin Jung Ra ngerasain hal yang sama *evil mode on
*jangan ditiru ya

Oh ya, mulai sekarang, selain coment, kasih vote-nya yach! *edisi maksa

 

Dan satu lagi… nggak tau ini benar atau ngga… Kalau salah ya berarti belum rejeki saya.

Buat temen adekku yang bernama Nita (moga aja bener) yg sekelas sama adikku, makasih juga ya mau baca FF2 di blogku ^^. Jadi pengen ngadain meet n greet ama dia *jduak *Nita udah kelewat PD. Kalau Tuhan mengijinkan, novel pertamaku gratis deh buat kamu, dek 😀

 

Sekian dari “Mamacita’-nya Zhoumi hehehehe. PS ( Lagunya Kiroro yg Mirai-e bagus lho, coba cari deh.. lagu lama sih… tapi beneran bagus. 🙂 )

 

 

 

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: