FRUIT LOVE [18/20]

hyuk2_副本

FRUIT LOVE

Chaptered FF

Author : Nita Henny

Cast : Go Jung Ra (OC) – Lee Donghae – Lee Hyukjae

Kim Ryeowook – Kim Youngwoon

Genre : Romance, Family, Brothership

Rating : PG-14

Note :
FF Ini udah pernah kupublish di blogku sendiri. Dulu, udah lama. Dan sekarang aku coba kirim ke sini hehehe.
You can visit my blog === >>> https://imajinasinita.wordpress.com/

Happy reading ~~~~

============================

Hyukjae menyandarkan punggung dan kepalanya pada punggung kursi kerjanya yang empuk dan nyaman sambil memejamkan kedua matanya yang sudah sangat lelah memandangi kertas-kertas laporan dan isi dokumen sejak empat jam yang lalu. Bahkan gara-gara dokumen dan kertas-kertas itu ia harus melewatkan jam makan siangnya. Kesal? Tentu saja Hyukjae kesal. Bukankah manusia juga butuh makan untuk hidup? Mungkin saja Hyukjae tidak akan mempemasalahkan jam makan siangnya yang terlewat kalau saja ia sempat untuk sarapan pagi tadi.

Tok…, tok…, tok…!

Terdengar suara pintu ruangannya yang diketuk oleh seseorang dari luar. Hyukjae mempersilahkan siapapun itu masuk. Tak berapa lama Kepala Bagian Han yang ternyata mengetuk pintu ruangan Hyukjae muncul dari balik pintu tersebut.

Ahjussi? Ada apa?” tanya Hyukjae seraya menegakkan punggungnya dan kembali mendekatkan kursinya ke meja agar ia bisa kembali meraih dokumen-dokumen menyebalkan yang sejak tadi belum selesai ia kerjakan.

“Aku tidak melihatmu di kafetaria sejak tadi. Apa kau makan siang di luar lagi?” Kepala Bagian Han berjalan ke arah meja Hyukjae dan menarik kursi yang ada di depannya.

Hyukjae hanya mendesah pelan sambil kembali menyandarkan tubuhnya di punggung kursi. Kepala Bagian Han yang seolah mengerti arti desahan Hyukjae hanya mendengus pelan sembari menghenyakkan dirinya di kursi yang ada di depan meja Hyukjae. Sebenarnya ia cukup kasihan melihat anak dari atasannya yang sebenarnya sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri itu berkutat dengan tumpukan dokumen dan puluhan lembar kertas laporan. Ia bisa melihat dengan sangat jelas lingkar hitam di bawah mata Hyukjae yang menandakan laki-laki muda di hadapannya itu kurang istirahat. Ditambah hari ini bertepatan dengan ulang tahunnya. Benar-benar menyedihkan.

“Istirahatlah dulu. Jangan terlalu memaksakan dirimu sendiri untuk bekerja siang malam. Apalagi hari ini kan hari ulang…”

“Ini masih siang, Ahjussi. Ah, tidak, maksudku mau menjelang sore,” bantah Hyukjae.

Mendengar bantahan Hyukjae, Kepala Bagian langsung berdecak keras dan mengomelinya.

“Anak ini benar-benar… Yaa, jangan berpura-pura tidak tahu apa yang kukatakan tadi. Kau sudah satu minggu ini seperti manusia yang mengencani meja kerjanya sendiri, lengkap dengan komputer, bolpoin dan tumpukan dokumen. Kau tidak lihat kondisi tubuhmu yang mengerikan itu? Pulanglah dan istirahatlah dulu. Atau kalau kau tidak mau pulang, rebahkan tubuhmu untuk beberapa menit di atas sofamu itu.”

Hyukjae hanya menghela napas pelan mendengar Kepala Bagian Han mengomelinya. Ia bukannya tidak mau menuruti apa kata Kepala Bagian Han barusan, hanya saja kalau Hyukjae harus menghitung, Kepala Bagian Han adalah orang kedua yang mengomelinya. Orang pertama adalah kakak sepupunya, Kim Youngwoon. Pria bertubuh tinggi besar seperti preman itu sudah puluhan kali menyuruhnya untuk memutuskan hubungan ‘asmara’-nya dengan meja kerja tercintanya. Risih, memang. Tapi mau bagaimana lagi? Tidak mungkin ia membantah terang-terangan kata-kata Youngwoon. Hyukjae masih cukup sadar untuk tidak melakukan hal tersebut karena ia masih menyayangi kepalanya sendiri yang mungkin saja akan menjadi landasan telapak tangan Youngwoon yang begitu besar dan keras.

Dan kalau Hyukjae harus menambahkan alasan keduanya untuk sedikit tidak mempedulikan bujukan dari kedua orang terdekatnya itu adalah karena ia memang harus mengerjakan semua pekerjaannya itu. Ia sudah memutuskan untuk lebih memfokuskan dirinya pada pekerjaannya yang sempat terbengkalai karena masalahnya dengan Jung Ra.

Sebut saja…, ia memang sedang mengalami masalah asmara, tapi ia tidak mungkin membiarkan pekerjaannya tak karuan, kan?

“Oh ya, apa kau sudah bertemu dengan ayahmu? Bukankah tempo hari kau mencarinya?” tanya Kepala Bagian Han setelah beberapa saat membiarkan suasana ruangan Hyukjae sunyi.

Spontan Hyukjae menegakkan kepalanya dan memandang Kepala Bagian Han. “Apa? Ayah? Apa Ayah sudah pulang dari Jepang? Kapan?”

“Ayahmu tiba di Korea kemarin sore. Dan hari ini dia baru saja selesai rapat dengan…”

Belum selesai Kepala Bagian Han menjawab, tiba-tiba Hyukjae berdiri dan menyambar jas hitamnya di dekat meja.

“Eish…! Kenapa Ahjussi baru memberitahu kepulangan Ayah padaku sekarang?!” gerutu Hyukjae sambil mengenakan jasnya dengan tergesa-gesa dan meninggalkan Kepala Bagian Han sendirian di ruangannya.

Sambil berusaha mengancingkan kancing jas hitamnya, Hyukjae berjalan cepat ke arah lift yang terlihat akan tertutup. Buru-buru ia berlari masuk ke dalam lift hingga membuat beberapa karyawan yang melihat kemunculanya nampak kelabakan untuk menyapanya. Hyukjae hanya menganggukkan kepalanya sebentar untuk membalas sapaan bawahannya. Detik berikutnya ia dibuat tak sabar hanya karena lift yang membawanya tak juga kunjung berhenti.

Tanpa mempedulikan bawahannya yang mungkin saja aka mengajaknya bicara kembali, Hyukjae langsung keluar begitu saja setelah pintu lift terbuka di lantai tempat ruangan ayahnya berada. Dengan langkah kaki yang semakin cepat, Hyukjae berjalan ke arah ruangan ayahnya yang sudah terlihat tak jauh darinya.

“Ayah, apa kita bisa bicara sebentar? Aku….”

Hyukjae yang langsung membuka pintu ruangan Presdir Lee nampak terkejut bukan main ketika mendapati di ruangan itu ada beberapa kolega perusahaan ayahnya dan sepertinya mereka sedang terlibat dalam perbincangan yang serius. Kalau Hyukjae tidak salah menebak, salah satu dari orang-orang tersebut yang mengenakan jas berwarna putih adalah pengacara perusahaan. Hyukjae sempat menduga-duga apa yang dilakukan pengacara tersebut di sini setelah sekian lama tidak pernah muncul sebelum pada akhirnya ia harus segera meminta maaf pada mereka.

Presdir Lee yang duduk di salah satu sofa yang ada di ruangan itu mengarahkan pandangannya pada Hyukjae yang membungkukkan badannya sebentar sambil meminta maaf karena sudah lancang masuk begitu saja.

“Aku akan membicarakan masalah ini lagi denganmu nanti,” ucap Presdir Lee pada salah satu pengacara perusahaan yang mengenakan jas putih.

Pria berjas putih tersebut hanya mengangukkan kepalanya sambil mengemasi dokumen-dokumen yang ada di atas meja. Beberapa orang lainnya nampak berjabat tangan dengan Presdir Lee.

“Terima kasih atas kedatangan kalian,” ujar Presdir Lee pada kolega-kolega perusahaannya sambil mengantar mereka ke arah pintu.

Hyukjae hanya membalas sapaan mereka dengan membungkukkan badanya sebentar. Dalam hati ia membodohi dirinya yang dengan tololnya menerobos masuk ke ruangan ayahnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

“Maafkan saya, Pak. Seharusnya saya mengetuk pintu dulu,” Hyukjae meminta maaf pada Presdir Lee secara formal sebagai seorang Manager Keuangan pada atasannya.

Presdir Lee yang sebelumnya sudah menutup pintu kembali dan berjalan ke arah meja kerjanya hanya tersenyum tipis sambil menyuruh Hyukjae untuk duduk di kursi yang ada di depan mejanya.

“Apa yang ingin kau bicarakan padaku sampai-sampai kau lupa caranya mengetuk pintu?” tanya Presdir Lee setelah menghenyakkan dirinya di atas kursi yang ada di belakang meja kerjanya.

Sesaat Hyukjae terdiam memandang ayahnya. Ada keraguan yang menyelimuti benaknya ketika ia tahu pertanyaan ayahnya itu harus ia jawab. Dihelanya napas sejenak ketika pada akhirnya ia memutuskan untuk memberanikan diri.

“Apa yang Ayah lakukan di toko Donghae?”

Tak ada tanda-tanda terkejut yang terlihat di wajah Presdir Lee. Pria berjas biru tua itu hanya memainkan bolpoin yang ada di tangannya. Sikap yang ditunjukkan Presdir Lee membuar Hyukjae semakin merasa tidak sabar.

“Ayah…”

“Hanya mengunjungi tokonya,” potong Presdir Lee.

Hyukjae terpaksa mengernyitkan keningnya. Tidak percaya? Tentu saja Hyukjae tidak percaya. Jawaban ayahnya terkesan begitu ambigu di telinganya. Dan tentu saja Hyukjae menginginkan alasan yang masuk akal karena ia tahu apa yang terjadi pada ayahnya dan Donghae sepuluh tahun lalu bukanlah sesuatu yang tidak penting dan tidak memiliki pengaruh apa-apa pada pertemuan mereka.

“Apakah Ayah sadar apa yang sudah Ayah lakukan kemarin adalah sesuatu yang tidak masuk akal?” Hyukjae berusaha memberitahu sebuah fakta konyol yang ada di hadapannya pada Presdir Lee.

Kini Presdir Lee menegakkan kepalanya, memandang Hyukjae sepenuhnya.

“Apa maksudmu?”

“Tidak mau memandang wajahnya setelah peringatan kematian Hyuk Shin ketiga, menuduhnya telah membunuh ibunya sendiri, kemudian mengusirnya dari rumah. Ayah, aku tidak pernah bisa melupakan kejadian itu tiap detiknya. Dan sekarang…,” Hyukjae menarik napas dalam-dalam, berusaha untuk tidak terbawa emosi dan berteriak di depan ayahnya. Ia tahu ia tidak akan bisa menahan emosinya sendiri ketika mulai membahas masalah Donghae dengan ayahnya.

“Sepuluh tahun sudah berlalu, Hyukjae-ya,” ucap Presdir Lee pelan seraya mengalihkan pandangannya pada dokumen perusahaan yang ada di hadapannya. Tangannya bergerak untuk membuka dokumen tersebut.

“Apakah kata-kata tersebut juga Ayah ucapkan pada Donghae? Apa Ayah pikir bila sepuluh tahun sudah berlalu maka kami akan melupakan kejadian itu begitu saja?” Hyukjae semakin dibuat bingung dengan ayahnya sendiri. Hatinya terasa sakit ketika mendengar nada suara ayahnya yang begitu tenang, seolah semua terlihat baik-baik saja. Kedua tangannya mengepal dengan erat di kedua sisi tubuhnya.

“Aku sedang tidak ingin berdebat untuk hal yang sama denganmu, Hyukjae-ya. Kalau sudah tidak ada yang ingin kau bicarakan, kau bisa keluar dari ruanganku,” kata Presdir Lee dingin.

“Sebenarnya aku juga tidak ingin berdebat denganmu tentang masalah Donghae karena aku tahu aku akan selalu kalah darimu, Ayah!” Hyukjae kehilangan kendalinya. Napasnya menderu, darahnya mendidih di dalam sana.

Tangan Presdir Lee yang akan kembali membuka lembaran kertas dokumen di depannya mendadak membeku. Matanya yang tertuju pada tulisan-tulisan yang ada di kertas tersebut berhenti mengerjap.

“Aku sudah lelah, Ayah. Sepuluh tahun ini… selama sepuluh tahun ini aku berusaha untuk menang darimu, tapi kenyataannya aku selalu kalah. Setiap kali aku berusaha untuk membuatmu membuka mata dan melihat sendiri bagaimana menderitanya Donghae setelah kau tuduh dan kau usir dari rumah, aku selalu gagal. Aku selalu tidak bisa membuatmu kembali menyayanginya seperti dulu.”

Air mata menggenang di pelupuk mata Hyukjae. Namun, dengan susah payah Hyukjae berusaha untuk tidak menumpahkannya di hadapan ayahnya. Ia merasa air matanya sudah tidak akan pernah berpengaruh lagi untuk ayahnya.

“Berapa kali lagi aku harus meyakinkanmu bahwa Donghae sama sekali tidak bersalah atas kematian Eomonim? Aku yang mengajaknya ke sekolah sore itu. Aku yang memaksanya untuk meninggalkan rumah sakit. Seharusnya Ayah menyalahkanku, bukan Donghae. Anak itu tidak tahu apa-apa, Ayah. Adikku itu tidak tahu apa-apa…,” Suara itu Hyukjae melemah bersamaan dengan tetesan air mata yang menghiasi wajahnya saat kata ‘adik’ terucap dari bibirnya. Ia masih bisa mengingat bagaimana kalutnya Donghae yang berusaha menarik ibunya dari atap gedung rumah sakit saat itu, berteriak memanggilnya di sela deru tangisnya yang terdengar memilukan agar mau membantunya untuk menarik tangan ibunya. Namun, apa yang bisa Hyukjae lakukan saat itu? Ia hanya terlihat seperti seorang kakak yang pengecut yang tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa berusaha menenangkan Donghae ketika dokter menyatakan ibu mereka telah meninggal.

“Aku sudah mewujudkan apa yang menjadi keinginanmu sejak dulu. Aku sudah meluangkan waktuku untuk menemuinya setelah sepuluh tahun berlalu. Aku sudah berbicara dengannya. Lalu kenapa sekarang kau mengungkit-ungkit masa lalu lagi?” Presdir Lee terlihat tidak setuju dengan Hyukjae.

“Karena apa yang Ayah lakukan terkesan tiba-tiba dan itu membuat Donghae dan aku bingung. Mungkin aku tidak akan merasa sebingung ini bila tujuan Ayah datang ke sana hanya untuk memaki-makinya karena aku yakin aku pasti akan lebih merasa benci pada Ayah dari yang sebelumnya kurasakan. Dan juga… ruko kosong di tengah kota yang Ayah berikan pada Donghae, aku sama sekali tidak…” Hyukjae mengatur napasnya sambil menyeka air matanya dengan kasar. “Sebenarnya apa yang Ayah inginkan dari kami berdua?”

Presdir Lee hanya bergeming menanggapi pertanyaan Hyukjae.

Hyukjae menghirup napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Ia ingin segera keluar dari ruangan itu sebelum tatapan Presdir Lee semakin menjadi-jadi padanya. Inilah yang menjadi kelemahan Hyukjae. Tatapan tajam ayahnya yang sering kali mengintimidasinya.

“Kalau begitu saya keluar dulu. Terima kasih.”

Hyukjae seraya membungkukkan badannya sebentar dan memutar tubuhnya berjalan ke arah pintu. Namun, ketika tangannya sudah menyentuh pegangan pintu tersebut, suara Presdir Lee menghentikannya.

“Nanti malam datanglah ke Royal Family Restaurant. Aku ingin merayakan ulang tahunmu yang ke dua puluh sembilan dengan makan malam bersama. Dan juga… ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu.

Mata Hyukjae menatap pegangan pintu yang ada di hadapannya. Ulang tahun? Hyukjae lupa sepenuhnya akan hari ulang tahunnya yang jatuh pada hari ini. Tidak, lebih tepatnya sejak sepuluh tahun lalu hingga sekarang ia melupakan hari ulang tahunnya sendiri.

“Saya tidak akan datang, Pak. Permisi.”

Sesaat setelah menolak ajakan ayahnya dengan formal, Hyukjae langsung keluar dari ruangan itu dan melangkahkan kakinya dengan sangat berat menuju lift. Ketika ia sudah berada di dalam lift sendirian dan pintu lift yang ada di depannya tertutup dengan sempurna, Hyukjae langsung menyeka sisa air mata yang masih menggumpal di pelupuk matanya. Hyukjae membodohi dirinya yang untuk kedua kalinya tidak bisa menahan diri untuk tidak berteriak di depan ayahnya. Seharusnya ia lebih mengontrol emosinya tadi.

***

Meanwhile…

Donghae masuk ke dalam toko setelah sebelumnya membeli beberapa makanan untuk dirinya, Jung Ra dan Ryeowook. Sekilas ia melihat Jung Ra sedang sibuk menghitung jumlah buah apel pesanan pembeli di dekat meja panjang yang berisi tumpukan buah jeruk. Sesaat ia berpikir apakah ia harus mengerjai gadis itu sore ini atau hanya membiarkannya berkutat dengan buah-buah itu. Rasanya sayang sekali kalau tidak membuat gadis itu berteriak kesal padanya.

Oppa, apa kau sudah mengambil tiga puluh apel merah dari ruang bawah tanah?”

Donghae sedikit tersentak mendengar Jung Ra bertanya dari balik punggungnya. Oppa? Berani sekali gadis itu memanggilnya dengan sebutan Oppa, padahal jam kerja toko belum selesai. Donghae baru akan mendekati Jung Ra dan bermaksud untuk menegurnya ketika sosok Ryeowook muncul dari sisi kiri tubuhnya.

“Apa masih kurang? Seingatku jumlahnya sudah kulebihkan beberapa buah tadi. Kau pasti salah menghitung,” ujar Ryeowook sambil merebut kantong berisi buah apel yang ada di tangan Jung Ra.

Yaa, Oppa, kau pikir aku sebodoh itu sampai tidak bisa menghitung buah yang jumlahnya kurang dari lima puluh?” protes Jung Ra, melempar tatapan kesal ke arah Ryeowook.

Ryeowook hanya terkekeh sambil mengacak poni Jung Ra.

“Kalau begitu kita hitung bersama-sama,” Ryeowook berusaha menghilangkan wajah kesal Jung Ra dengan mengajaknya menghitung buah bersama-sama.

Donghae mendengus pelan ketika menyadari sebutan Oppa yang ia dengar tadi bukanlah untuk dirinya, melainkan untuk Ryeowook. Dan sekarang juga Donghae harus menyebut dirinya adalah orang bodoh karena sempat merasa senang ketika ia mengira sebutan Oppa ditujukan padanya.

Benar-benar konyol.

“Istirahatlah sebentar dan makan ini.” Donghae akhirnya berjalan menghampiri mereka berdua. Ryeowook menoleh ke belakang dan nampak antusias ketika melihat sebuah kantong di tangan Donghae.

“Apa ini, Hyungnim?” tanya Ryeowook seraya merebut kantong tersebut dari tangan Donghae.

Tteokbokkie. Tadi aku sekalian membelinya saat keluar. Hei, Gadis Paprika, berhentilah dulu dan makan.” Tangan Donghae terangkat , mendorong belakang kepala Jung Ra hingga ia bisa mendengarkan desisan kesal gadis yang berdiri memunggunginya itu.

“Terima kasih, Hyungnim. Kau tahu saja kalau aku suka yang pedas,” ujar Ryeowook seraya menjauh dan memilih untuk duduk di sofa usang yang ada di belakang meja kerja Donghae kemudian mulai menyantap Tteokbokkie-nya.

Yaa, Go Jung Ra…”

“Jangan menggangguku! Kau tidak tahu aku sedang menghitung buah, hah?!” bentak Jung Ra yang merasa terganggu dengan Donghae. Apa laki-laki yang kini berdiri di sampingnya itu tidak tahu kalau ia sedang konsentrasi menghitung jumlah buah apel pesanan pembeli?

“Aku hanya memintamu untuk berhenti sebentar dan makan ini. Bukankah kau tadi hanya makan nasi sedikit? Aku tidak mau melihatmu sakit.”

Jung Ra yang awalnya sudah bersiap untuk kembali membentak Donghae terpaksa merasa bersalah ketika Donghae menyuruhnya berhenti sebentar untuk makan dengan suara yang begitu lembut. Seharusnya laki-laki itu membalas bentakannya lebih keras lagi agar kekesalannya tidak terbuang sia-sia seperti ini.

Haaah…, Jung Ra tidak bisa lagi menghitung sudah berapa kali Donghae bersikap lembut seperti itu padanya. Sejak ibunya masuk rumah sakit hingga sekarang perubahan sikap Donghae benar-benar membuatnya sakit kepala. Andai saja ada obat dari dokter yang bisa menghilangkan sakit kepalanya itu, mungkin Jung Ra akan membelinya dalam jumlah banyak. Tapi ini… tak ada satu jenis obat pun yang bisa menyembuhkannya. Dari hari ke hari Jung Ra bisa merasakan bahwa dirinya sudah mulai gila hanya karena Donghae yang bertingkah aneh padanya.

Apa laki-laki berwajah tampan tapi menyebalkan itu benar-benar berniat untuk membuatku menyukainya?

“Ini. Makanlah dulu.” Donghae menyodorkan Tteokbokkie pada Jung Ra setelah sebelumnya membuka penutupnya dan memasukkan garpu plastik berukuran kecil.

Ucapan terima kasih yang seharusnya diucapkan oleh Jung Ra mendadak tertahan di tenggorokan ketika mendapati bentuk Tteokbokkie yang kini ada di tangannya berbeda dari yang biasa ia beli. Jari telunjuknya terulur ke dalam wadah Tteokbokkie dan mencolek sedikit saus merah yang menyelimuti makanan tersebut.

“Kok tidak pedas?” protes Jung Ra setelah lidahnya tak menemukan sensasi pedas yang seharusnya ada di jajanan itu melainkan rasa manis seperti saus tomat biasa. “Kenapa rasanya manis?”

“Karena memang tidak pedas,” jawab Donghae ringan sambil duduk di tepi meja panjang yang ada di depan Jung Ra. Sepasang tangannya terlipat di depan dada sambil menatap Jung Ra yang masih mengernyitkan kening ke arahnya.

“Mana ada Tteokbokkie rasanya manis seperti ini?” Jung Ra menunjukkan satu potong tteokbokkie yang menancap di atas garpu kecil ke arah Donghae. Tanpa Jung Ra duga tiba-tiba Donghae memajukan wajahnya dan langsung meraup makanan tersebut dari garpunya.

“Rasanya tetap enak,” ucap Donghae sambil mengunyah kudapan kenyal tersebut.

“Aku serius!” Jung Ra terpaksa menghentakkan kakinya ke atas lantai dengan kesal seperti anak kecil karena protesnya sama sekali tak ditanggapi dengan serius oleh Donghae. Aneh sih, hanya karena rasa tteokbokkie yang dibelikan Donghae untuknya sama sekali tidak pedas, ia harus merasa sekesal ini.

Donghae menghela napas sambil memandang Jung Ra yang memberengut padanya. Tangannya terulur, merebut garpu kecil yang ada di tangan Jung Ra dan menancapkannya pada salah satu potongan tteokbokkie di dalam wadah kecil di tangan Jung Ra yang lain.

“Buka mulutmu.” Donghae mendekatkan garpu berhias kudapan kenyal itu pada Jung Ra.

Tanpa Jung Ra sadari, bibirnya yang terkatup terbuka dan sedetik kemudian ttteokbokkie manis sudah ada di dalam mulutnya. Rasanya sedikit aneh — tidak, tidak, tidak, bukannya sedikit aneh, tapi sangat aneh— ketika rasa manis itu menyebar ke seluruh isi mulutnya. Asal tahu saja, ini adalah pertama kali bagi Jung Ra memakan tteokbokkie manis seperti ini.

“Masih enak, kan?” tanya Donghae setelah mengembalikan garpu kecil ke dalam wadahnya.

“Enak darimana, aneh iya,” meskipun nada suaranya terdengar tidak setuju, Jung Ra tetap mengunyah makanan tersebut.

Donghae berdecak pelan sambil menggelengkan kepalanya. “Aku sengaja membelikanmu yang tidak pedas karena aku takut nanti ususmu bermasalah lagi seperti dulu. Kau tidak tahu kan bagaimana khawatirnya aku saat mendapat kabar kau pingsan dan dibawa ke rumah sakit hanya karena terlalu banyak makan makanan yang pedas?”

Mendadak Jung Ra menghentikan rahangnya yang bergerak otomatis mengikuti gerak giginya mengunyah tteokbokkie saat menangkap kata ‘takut’ di dalam ucapan Donghae. Satu lagi, kalau Jung Ra tidak salah dengar, Donghae juga menyebut kata ‘khawatir’ padanya.

Mata Jung Ra mengerjap-ngerjap pelan. Tangannya bergerak menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak merasa gatal. Inilah yang ditakutkan Jung Ra. Kata-kata manis yang keluar dari mulut Donghae terdengar begitu mengerikan di telinganya. Bulu kuduknya selalu berdiri seperti sedang didekati oleh makhluk halus setiap kali Donghae bertingkah aneh.

“Aku tidak ingin kau sakit lagi, Go Jung Ra. Melihatmu pucat seperti hari itu benar-benar membuatku takut,” Donghae mengakhiri kata-katanya dengan suara yang pelan dan terdengar sungguh-sungguh. Tidak, Donghae memang sungguh-sungguh. Dia memang takut bila terjadi apa-apa pada Jung Ra seperti saat itu. Kata-katanya sama sekali tidak ada hubungannya dengan apa yang sedang ia lakukan terhadap Jung Ra demi membalas kekesalannya pada Hyukjae.

Ini murni dari dalam hatinya sendiri.

“B-baiklah, baiklah. Aku akan menghabiskannya. Kau tidak perlu memasang wajah seperti itu.” Jung Ra langsung mengambil garpu plastiknya dan mulai melahap tteokbokkie-nya sambil berdiri.

“Duduk sini.” Donghae menunjuk tepi meja yang ada di sampingnya dan menarik Jung Ra agar duduk. “Seorang gadis akan terlihat aneh bila makan sambil berdiri.”

Dengan penuh rasa canggung, Jung Ra hanya menuruti apa kata Donghae. Kepalanya tertunduk menatap tteokbokkie-nya yang berwarna merah sambil memasukkan satu per satu makanan tersebut ke dalam mulutnya dengan cepat hingga akhirnya ia tersedak.

“Kau ini benar-benar…. Ryeowook-ah, ambilkan air minum!”

Ryeowook yang sejak tadi duduk di sofa sambil menahan senyum melihat bosnya dan sahabatnya bertingkah seperti sepasang kekasih langsung bangkit dan berlari ke belakang untuk mengambil air minum.

“Kau tidak apa-apa?” Donghae menundukkan kepalanya, mencoba melihat Jung Ra yang masih terbatuk-batuk. Dengan pelan-pelan ia menepuk-nepuk punggung gadis itu.

Dengan susah payah Jung Ra berusaha menjawab pertanyaan Donghae, namun Donghae langsung melarangnya untuk bicara agar batuknya tidak semakin parah. Tak berapa lama Ryeowook kembali dengan membawa segelas air putih.

“Ini, Hyungnim.” Ryeowook menyodorkan gelas tersebut pada Donghae. Namun, entah karena Donghae yang tidak tepat menerima atau permukaan gelas yang licin, tiba-tiba gelas yang sudah ada di tangan Donghae terlepas begitu saja dan meluncur ke bawah, membentur lantai toko hingga pecah berkeping-keping. Tentu saja hal tersebut mengejutkan Jung Ra, Ryeowook dan Donghae sendiri yang berada di dalam toko karena suara gelas yang pecah terdengar begitu nyaring di telinga mereka.

Untuk beberapa saat Donghae membeku menatap pecahan gelas yang ada di dekat kakinya hingga tak mendengar pekikan dan derap langkah Ryeowook yang berlari ke belakang untuk mengambil sapu. Jantungnya berdegup kencang seolah sedang merasakan ketakutan yang begitu hebat.

“Donghae-ssi, kau tidak apa-apa? Kenapa wajahmu pucat begitu?” Jung Ra menggoyang-goyang pelan lengan Donghae karena merasa bingung dengan sikap diam Donghae yang begitu mendadak.

Eo… aku tidak apa-apa. Kau… kau di sini saja dulu biar Ryeowook membersihkan pecahan kacanya. Aku ke toilet sebentar,” jawab Donghae tanpa memandang Jung Ra dan langsung melesat ke toilet begitu saja, meninggalkan Jung Ra yang masih menyisakan tanda tanya pada wajahnya.

Donghae menghela napas sesaat setelah menutup pintu toilet yang ada di belakangnya. Perlahan didekatinya cermin yang menempel di dinding toilet dan memandang pantulan dirinya sebelum menundukkan kepala dan memutar kran air. Suara gemericik air yang keluar dari lubang kran seakan mengembalikan diri Donghae yang lagi-lagi hampir tenggelam ke dalam rasa takut tersebut. Dibasuhnya wajahnya beberapa kali hingga ia merasakan sensasi dingin menyegarkan menerpa setiap sisi wajahnya.

Apa ini? — keluh Donghae dalam hati setelah mematikan kran airnya. Untuk beberapa saat ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan berulang kali hingga akhirnya perasaannya kembali tenang.

“Mungkin saja ini karena efek tidak makan siang tadi. Ya, mungkin karena itu. Aigoo…, Lee Donghae, makanlah dengan teratur,” ujar Donghae pada pantulan dirinya di cermin.

***

At Hyukjae’s Apartment, 09.00 pm KST

“Maaf, aku tidak bisa datang. Kalian keluar sendiri saja,” kata Hyukjae pada temannya di seberang telepon sana. Ini sudah yang kelima kalinya ia menolak ajakan teman-temannya keluar makan dan minum bersama untuk merayakan ulang tahunnya. Memang terkesan jahat dan kurang sopan bila ia harus menolak seperti itu.

Katakan saja, Hyukjae sudah kehilangan selera untuk merayakan hari ulang tahunnya sejak sepuluh tahun lalu.

Setelah meletakkan tas hitamnya ke atas kursi di ruang makan, Hyukjae lantas membuka kulkas dan mengambil satu kaleng bir dingin. Sambil meneguk sedikit demi sedikit bir dingin tersebut, Hyukjae melangkah ke ruang tengah dan menghenyakkan tubuhnya di salah satu sofa untuk mengurangi rasa lelah yang mendera seluruh tubuhnya karena pekerjaannya seharian ini.

Sepertinya apa yang dikatakan Kepala Bagian Han ada benarnya juga. Ia memang benar-benar harus istirahat setelah beberapa hari terakhir terlihat begitu gila pada pekerjaannya sendiri hingga melewatkan jam makan siang beberapa kali dan pulang larut malam.

Sambil mendesah pelan, Hyukjae bangkit dari atas sofa dan bermaksud untuk membuang kaleng birnya ke dalam tong sampah dan membuat sedikit makanan untuk ia makan sebelum berangkat tidur. Namun, belum sampai ia melempar kaleng birnya ke dalam tong sampah, ponselnya yang ia letakkan di atas meja kaca berdering, ada telepon masuk. Dan telepon itu berasal dari nomor ponsel ayahnya. Sesaat Hyukjae hanya terdiam terpaku di tempatnya sambil memandang ponselnya yang masih berdering.

‘Nanti malam datanglah ke Royal Family Restaurant. Aku ingin merayakan ulang tahunmu yang ke dua puluh sembilan dengan makan malam bersama. Dan juga… ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu.’

Hyukjae mendengus pelan ketika menyadari apa maksud ayahnya menghubunginya. Acara makan malam itu kan? Kalau memang benar alasan ayahnya menghubunginya karena itu, sudah bisa dipastikan Hyukjae akan menolak untuk datang. Tanpa menghiraukan ponselnya yang masih saja berdering, Hyukjae membuat mie ramen instan di dapurnya. Bahkan ketika ponselnya kembali berdering setelah sempat berhenti, Hyukjae tetap tak mau beranjak dari tempatnya hingga akhirnya ponselnya tersebut berhenti berdering sepenuhnya.

Setelah mengaduk-aduk mie ramennya yang sudah siap di dalam mangkuk agar bercampur dengan bumbunya, Hyukjae lantas melahapnya dengan pelan. Sangat pelan seolah ia menikmati tiap bagian dari mie ramen tersebut yang sayang bila ia lewatkan.

Lagi-lagi ponselnya berdering. Awalnya Hyukjae masih bertahan untuk tidak menghiraukan dering ponselnya tersebut dengan terus menyantap mie ramennya yang tinggal setengah mangkuk. Tetapi, setelah lima menit berlalu dan ponselnya itu masih terus berdering berulang-ulang, akhirnya Hyukjae menyerah. Setelah membanting sumpitnya sendiri ke dalam mangkuk mi ramen, Hyukjae bangkit dari kursinya dan berjalan menuju ruang tengah. Kekesalannya mengasap begitu saja ketika melihat nama Youngwoon tertera di layar ponselnya. Dengan perasaan menyesal karena telah membiarkan kakak sepupunya itu mencoba menghubunginya beberapa kali akhirnya Hyukjae mengangkatnya.

Yeoboseo? Hyung, maaf aku tadi…”

Permintaan maaf Hyukjae tertahan begitu saja saat mendengar suara Youngwoon. Mendadak jantungnya seolah berhenti berdetak dan wajahnya terlihat sangat terkejut. Tanpa menghiraukan suara Youngwoon yang memanggil-manggilnya di telepon, Hyukjae langsung menyambar kunci mobilnya yang juga ada di atas meja ruang tengah dan berlari keluar dari apartemennya tanpa memiliki pikiran untuk berganti pakaian lebih dulu.

.

.

at Fresh Fruit…

“Ke mana Ryeowook Oppa?” tanya Jung Ra pada Donghae sesaat setelah masuk ke dalam toko dan menyadari sosok Ryeowook lagi-lagi menghilang lebih dulu dari mereka berdua saat toko akan tutup.

“Sudah pulang,” jawab Donghae tanpa memandang Jung Ra dan memilih untuk memfokuskan kedua matanya pada ponselnya. Sebuah catatan yang selalu ia buat setiap satu tahun sekali itu menampilkan tanggal di mana tanggal tersebut adalah tanggal ulang tahun Hyukjae yang jatuh pada hari ini.

Oppa.”

“Dia sudah pulang, jadi kau tidak perlu mencarinya lagi. Entah kenapa penyakit Hyungnim, aku harus pulang dulu karena aku diajak makan malam bersama teman-temanku-nya itu semakin parah saja dari hari ke hari,” Donghae berusaha menjelaskan kata-katanya pada Jung Ra yang mungkin saja kurang mengerti.

Oppa.”

Yaa, Go Jung Ra, aku sudah bilang…” Donghae yang merasa risih karena Jung Ra masih saja memanggil-manggil Ryeowook akhirnya menegakkan kepalanya dan bermaksud untuk memprotesnya. Namun, protesannya itu tak bisa ia selesaikan saat menyadari apa arti di balik kata Oppa yang diucapkan oleh gadis itu dua kali.

Tanpa harus menolehkan kepalanya ke belakang untuk melihat jam dinding, Donghae sudah tahu kalau sekarang sudah tidak masuk dalam jam kerja lagi. Dan itu artinya, gadis yang kini berdiri di dekat meja kerjanya bisa memanggilnya dengan sebutan Oppa.

Ya, asal tahu saja, sejak Jung Ra memutuskan untuk memanggilnya Oppa malam itu, sampai sekarang Donghae masih belum bisa menyuruh telinganya untuk segera beradaptasi. Suasana selalu saja berubah aneh tiap kali sebutan itu keluar dari mulut Jung Ra. Tepatnya, hanya dirinyalah yang merasakan perubahan suasana tersebut, sedangkan Jung Ra terlihat biasa saja.

Bukankah itu aneh?

“Apa? Kau mau mengatakan sesuatu? Kau mau kabur juga seperti temanmu itu tanpa mau membantuku membersihkan toko dulu?” tanya Donghae setelah berhasil menghilangkan kecanggungan yang menyergap dirinya.

“Siapa yang mau kabur? Aku hanya ingin bertanya apakah kau lapar. Kau tidak bisa ya berperasangka baik sedikit saja padaku? Sebenarnya aku tadi sempat ingin mentraktirmu makan malam setelah toko tutup, tapi karena ucapanmu yang menyebalkan itu, aku jadi tidak berselera lagi,” Jung Ra menjawab dengan ketus kemudian memutar tubuhnya untuk menjauh dari dekat Donghae.

Donghae terkekeh melihat Jung Ra memberengut seperti itu. Setelah meletakkan bolpoin yang sejak tadi ia pegang ke atas meja, Donghae lantas menghampiri Jung Ra berdiri memunggunginya di depan meja panjang yang berisi tumpukan buah apel hijau.

Jung Ra yang tidak sadar Donghae sudah berdiri tepat di belakangnya bermaksud untuk beralih pada meja yang lain karena ia sudah selesai menata ulang tumpukan apel hijau yang sore tadi dibuat berantakan oleh beberapa anak kecil. Namun, ia langsung memekik pelan saat memutar tubuhnya ke belakang karena terkejut melihat Donghae. Tanpa sengaja ia menabrakkan dirinya pada dada bidang Donghae hingga membuatnya terhuyung ke arah meja yang ada di belakangnya.

Omo! Kau mengagetkanku saja!”

Donghae hanya menarik kedua sudut bibirnya sambil melangkah lebih dekat ke arah Jung Ra.

“K-kau mau apa?” tanya Jung Ra gugup ketika menyadari laki-laki yang ada di depannya ini mulai mendekat padanya. Dengan susah payah Jung Ra yang terduduk di tepi meja menjauhkan tubuhnya ke belakang agar tidak terlalu dekat pada Donghae. Tetapi, sedetik kemudian Jung Ra dibuat tersentak di tempat duduknya ketika kedua tangan Donghae bertumpu di tepi meja yang ada di kedua sisi tubuhnya. Merasa terancam karena sudah dikurung Donghae seperti ini, Jung Ra berusaha untuk menstabilkan semua kerja otak dan tubuhnya agar bisa bereaksi cepat bila sewaktu-waktu Donghae melakukan hal gila.

Hal gila yang terlintas di benak Jung Ra adalah… sebuah ciuman. Ciuman? Yang benar saja? Dari sekian banyak hal gila yang ada di dunia ini, kenapa harus ciuman? Go Jung Ra, imajinasimu terlalu liar!

“Benar kau tadi bermaksud untuk bertanya apakah aku lapar atau tidak dan ingin mentraktirku makan malam?” tanya Donghae dengan lembut.

“Tadinya. Kubilang, tadinya! Sekarang tidak!” jawab Jung Ra dengan nada yang terlalu tegas untuk ukuran dua orang yang sedang berjarak cukup dekat seperti ini.

“Kenapa sekarang tidak, hm?” Donghae mencondongkan wajahnya lebih dekat lagi pada Jung Ra dan mengulas senyum manis.

“Karena… karena… karena… Ya ampun, Donghae Oppa, bisakah kau tidak begini?” keluh Jung Ra yang mulai merasakan jantungnya berdegup tak normal karena menyadari jarak di antara dirinya dan Donghae semakin dekat saja.

Mendapat pemandangan pria tampan gratis dengan jarak cukup dekat seperti ini harusnya menjadi anugerah tersendiri bagi Jung Ra. Tapi pada kenyataannya anugerah itu bercampur dengan rasa ngeri dan perasaan aneh di dalam hatinya hingga Jung Ra sendiri tak bisa lagi memilih ungkapan apa yang pas untuk menjabarkan hal tersebut. Ayolah, bukankah Donghe tidak sekali dua kali melakukan tindakan seperti ini padanya? Sejak laki-laki menyebalkan ini dengan percaya diri mengatakan bahwa ia bisa membuat dirinya menyukainya dalam waktu singkat, Jung Ra selalu dibuat was-was dengan segala sesuatu yang berhubungan dengannya. Ada kalanya ia merasa bahwa apa yang dikatakan Donghae benar-benar terjadi. Katakan saja ia beberapa kali harus meyakinkan dirinya bahwa perasaannya pada Donghae berbeda dari biasanya. Perlakuan manis yang Donghae berikan padanya terlalu deras seperti air hujan hingga membuatnya mau tidak mau merasa berbunga-bunga. Tetapi terkadang ia harus membuang perasaan samarnya itu jauh-jauh ketika ia teringat akan Hyukjae. Bayangan kakak Donghae itu ternyata masih memiliki kekuatan untuk mengusik dirinya.

Oppa? Hei, Go Jung Ra, kurasa aku mulai menyukai panggilanmu itu padaku. Terdengar aneh sih, tapi lama-lama manis juga,” ujar Donghae yang tak mau merubah posisinya.

“I-itu… itu… Yaa, bisakah kau tidak begini? Ini terlalu berlebihan,” suara Jung Ra melemah seketika di bagian akhir karena tak bisa lagi memaksa dirinya untuk terus menatap kedua mata Donghae.

“Kau lupa kalau ini adalah tokoku? Apalagi posisiku di sini adalah sebagai pemilik toko dan bosmu, jadi aku bisa melakukan apa saja yang kuinginkan.”

Belum sempat Donghae bergerak maju untuk lebih mendekatkan dirinya pada Jung Ra, perhatiannya teralihkan pada suara deru mobil yang berhenti mendadak tepat di depan tokonya. Dengan terpaksa ia menoleh ke arah pintu kaca tokonya tanpa berniat untuk menjauhkan diri dari Jung Ra. Seseorang keluar dari mobil berwarna hitam tersebut dan nampak berlari kecil ke arah toko. Baru Donghae sadari orang berjas hitam tersebut ternyata adalah Youngwoon. Dan wajah kakak sepupunya itu terlihat tegang. Apa sedang terjadi sesuatu?

“Donghae-ya!” Youngwoon menyeruak masuk ke dalam toko dan sedikit terkejut melihat Donghae dan Jung Ra.

Jung Ra yang menyadari keterkejutan Youngwoon buru-buru mendorong dada Donghae agar menjauh darinya. Dengan cepat ia menegakkan tubuhnya dan langsung menyapa Youngwoon.

Hyung, tidak biasanya kau datang malam-malam begini. Apa ada yang ingin kau bicarakan denganku?” tanya Donghae sesaat setelah Jung Ra menyapa Youngwoon.

“Kau bisa ke rumah sakit denganku sekarang?” ajak Youngwoon tanpa berniat untuk berbasa-basi seperti yang biasa ia lakukan ketika bertemu dengan adik sepupunya itu.

“Rumah sakit?” Donghae terpaksa mengernyitkan keningnya mendengar ajakan Youngwoon untuk pergi bersama ke rumah sakit.

“Paman mengalami kecelakaan mobil. Aku juga belum melihat sendiri bagaimana kondisinya karena aku langsung kemari mencarimu setelah mendengar kabar itu dari Kepala Bagian Han. Aku juga sudah mengabari Hyukjae dan sepertinya dia sudah ke sana,” Youngwoon menjelaskan maksudnya datang mencari Donghae.

Reaksi normal ditunjukkan oleh Jung Ra yang sebenarnya tidak tahu apa-apa. Gadis itu memekik pelan karena terkejut mendengar kabar tersebut. Tapi bagi Youngwoon reaksi seperti itu sangat ia nantikan dari seorang Lee Donghae yang masih berdiri dengan tegap di hadapannya. Namun, sepertinya apa yang diinginkan Youngwoon tidak akan terjadi karena Donghae tak menunjukkan ekspresi terkejut sama sekali. Adik sepupunya itu hanya memandangnya dengan wajah datar seolah ia baru saja mengatakan sesuatu yang tidak penting.

“Kalau begitu kau harus segera ke rumah sakit,” kata Donghae ringan sambil berjalan ke arah meja kerjanya.

Mwo? Yaa, Lee Donghae, ayahmu kecelakaan!” Nada suara Youngwoon seketika meninggi hingga membuat Jung Ra yang sejak tadi membisu di tempatnya terperanjat karena terkejut.

“Aku sedang sibuk. Toh, anak kandungnya juga sudah ke sana,” bantah Donghae tanpa mengalihkan pandanganya dari buku stok buah yang sedang ia baca.

“Anak ini benar-benar… Kau keterlaluan, Lee Donghae!” seru Youngwoon.

“Kalau begitu aku akan menjenguknya bila aku sudah mempunyai waktu luang. Yang jelas malam ini aku tidak bisa ke sana karena aku harus menyelesaikan…”

Belum sempat Donghae menyelesaikan kata-katanya tiba-tiba sebuah tangan mencengkeram kerah kemeja biru polosnya.

“Apa kini kau sudah berubah menjadi monster yang sama sekali tak memiliki hati sedikit pun , HAH?!” Youngwoon berteriak tepat di depan wajah Donghae. Sorot matanya begitu tajam, cengkeraman tangannya begitu kencang pada kaus Donghae. Ia bisa saja langsung melayangkan pukulan ke arah wajah Donghae, tapi akal sehatnya masih bisa menguasai dirinya.

Jung Ra yang bingung melihat dua orang laki-laki sedang bersitegang di hadapannya hanya bisa menarik napas berkali-kali karena ketakutan. Ia tidak tahu harus bagaimana apabila Donghae dan Youngwoon sampai tak bisa menahan emosi dan berkelahi.

Dari sudut matanya, Donghae bisa melihat Jung Ra yang berdiri tak jauh darinya nampak begitu ketakutan. Karena itu ia berusaha melepas cengkeraman tangan Youngwoon sambil berkata pelan,”Jangan membuat karyawanku takut, Hyung.”

Dengan kasar Youngwoon melepaskan tangannya dari kerah kemeja Donghae dan mengatur napasnya sendiri yang menderu.

“Kalau sudah tidak ada yang ingin kau katakan, kau bisa pergi dari sini. Masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan. Maaf, Hyung. Go Jung Ra, cepat selesaikan pekerjaanmu.” Donghae menatap Jung Ra untuk beberapa detik sebelum berjalan menuju ruangan yang ada di dekat sofa usang, kemudian menghilang setelah pintu ruangan tersebut tertutup.

Jung Ra yang ditinggal sendirian bersama Youngwoon masih tak bisa menggerakkan kedua kakinya untuk menuruti apa perintah Donghae. Ditambah kedua matanya tiba-tiba bertemu dengan mata Youngwoon yang ternyata sedang memandangnya entah sejak kapan. Langsung ditundukkan wajahnya karena ia tidak punya cukup keberanian untuk membalas tatapan Youngwoon.

“Maaf, aku tadi tidak bermaksud untuk membuatmu takut, hanya saja…” Youngwoon menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya sendiri yang sempat tersulut amarah karena Donghae. “Maafkan aku, Jung Ra-ssi.”

Perlahan Jung Ra menganggukkan kepala ragu. Ia tak yakin laki-laki bertubuh tinggi besar yang baru saja meminta maaf padanya itu sudah bisa mengendalikan emosinya. Bagaimana kalau dirinya menjadi tempat pelampiasan amarah yang ternyata masih tersisa?

“Jung Ra-ssi, apa aku bisa berbicara padamu sebentar saja?”

N-ne?”

————————————

‘Paman mengalami kecelakaan mobil.’

Donghae melempar bolpoin yang sejak tadi ia pegang ke atas meja yang ada di ruangan kecil itu ketika ucapan Youngwoon kembali terngiang di benaknya. Dengan lemas ia menyandarkan punggung dan kepalanya pada punggung sofa kecil yang sedang ia duduki. Matanya menerawang jauh untuk beberapa detik hingga akhirnya sebuah hembusan napas berat terdengar di dalam ruangan itu.

Tak berapa lama pintu yang ada di dekat Donghae terbuka dari luar dan sosok Jung Ra muncul dari balik pintu tersebut.

“Donghae Oppa…”

“Kau sudah menyelesaikan pekerjaanmu? Kalau sudah kita pulang sekarang,” potong Donghae sambil beranjak dari duduknya setelah merapikan buku laporan stok buah yang sejak tadi ia coba kerjakan.

“Bagaimana kalau kita ke rumah sakit?”

Ajakan Jung Ra yang begitu tiba-tiba membuat Donghae yang baru akan melangkah ke arah pintu langsung berhenti.

“Apa?”

“Bagaimana kalau kita ke rumah sakit dan melihat kondisi ayahmu? Aku khawatir kalau terjadi apa-apa pada…”

“Dia bukan ayahmu, jadi kau tidak perlu khawatir,” potong Donghae dingin seraya membuka pintu yang ada di dekat Jung Ra dengan lebar dan lewat begitu saja.

“Tapi dia kan ayahmu,” Jung Ra yang sebelumnya dimintai tolong Youngwoon untuk membujuk Donghae langsung mengekor di belakang Donghae. Namun, ia dibuat terkejut ketika Donghae tiba-tiba memutar tubuh ke arahnya.

“Dia bukan ayahku. Dan kumohon jangan memaksaku untuk marah padamu hanya karena kau mencoba untuk ikut campur dalam masalah yang sama sekali tidak kau ketahui,” Donghae mencoba memperingatkan Jung Ra agar tidak memancing amarahnya yang mungkin saja bisa meledak karena sejak Youngwoon berteriak padanya beberapa saat lalu ia sudah mencoba untuk menahan emosi yang mulai menguasai dirinya.

Jung Ra hanya menghela napas. Sepertinya apa yang dikatakan Youngwoon memang benar. Sifat keras kepala Donghae memang terkenal susah untuk ditandingi. Memang terdengar aneh sih saat Youngwoon justru memintanya untuk membujuk Donghae. Apa yang bisa ia lakukan agar Donghae mau pergi ke rumah sakit? Menyeretnya ke sana atau memohon-mohon seperti pembantu rumah tangga yang gajinya minta dinaikkan? Atau yang lebih parah lagi, apa ia harus membenturkan kepala Donghae sekeras mungkin ke dinding toko agar isi kepalanya bisa kembali normal dan bersikap seperti manusia pada umumnya? Apakah ketiga cara itu menjamin Donghae mau pergi ke rumah sakit? Jung Ra mungkin tidak akan terlalu ambil pusing bila tadi Youngwoon tidak memasang wajah memohon padanya.

“Aku…”

“Kau tidak pernah merasakan bagaimana bingungnya aku saat aku menyadari orang yang kau sebut sebagai ayahku itu menjauhiku dan tidak mau lagi menatap wajahku setelah peringatan kematian anak bungsunya. Kau tidak pernah merasakan bagaimana kalutnya aku saat orang itu menuduhku telah membunuh ibuku sendiri hanya karena aku tidak bisa menarik tangan ibuku dari atap rumah sakit. Kau tidak ada di sana, Go Jung Ra. Kau tidak ada di sana,” suara Donghae begitu parau namun masih terdengar dingin.

Jung Ra membeku di tempatnya. Matanya tak bisa beralih dari mata Donghae yang Jung Ra yakini terlihat berkaca-kaca meskipun tatapannya begitu tajam. Hanya dengan mendengar rangkaian kata tersebut, Jung Ra seolah bisa melihat gambaran samar masa lalu Donghae. Dan bersamaan dengan itu pula Jung Ra juga mulai bisa memahami alasan penyebab renggangnya hubungan kakak adik antara Donghae dengan Hyukjae, meskipun hanya sedikit.

Perlahan Jung Ra menyentuh tangan Donghae dan menggenggamnya dengan lembut.

“Kita ke rumah sakit ya?” ajak Jung Ra pelan.

Donghae menggelengkan kepalanya. “Aku tidak mau. Orang itu sudah membuatku sakit hati. Orang itu sudah membuatku merasa menyesal karena pernah menyayangi dan menghormatinya seperti ayahku sendiri. Aku tidak mau.”

“Kita… ke rumah sakit, ya?” Jung Ra mengulangi ajakannya dengan suara yang lebih lembut dari sebelumnya.

Seketika Donghae menundukkan kepalanya sambil memejamkan kedua matanya. Diusapnya wajahnya dengan gusar dan membalas tatapan Jung Ra yang seolah memohon agar ia mau pergi ke rumah sakit.

***

At Hospital…

Jung Ra berlari kecil sambil menarik tangan Donghae setelah sebelumnya bertanya pada petugas rumah sakit di mana pasien rumah sakit korban kecelaan mobil yang bernama Lee Byun Sik dirawat. Menurut petugas tersebut, pria yang bernama Lee Byun Sik masih ada di ruang ICU sejak satu jam yang lalu.

“ICU…. ICU….ICU…,” Jung Ra bergumam pelan sambil terus melangkahkan kakinya dengan cepat dari lorong ke lorong untuk mencapai ruang ICU yang dimaksud oleh petugas rumah sakit tadi. Ia sama sekali tak melepaskan genggaman tangannya pada tangan Donghae karena ia tak mau laki-laki yang akhirnya bisa ia bujuk dengan susah payah agar mau ke rumah sakit itu kabur begitu saja.

Eo! Itu di sana!” pekik Jung Ra pelan seraya mempercepat laju larinya, namun mendadak ia hampir terhuyung ke lantai saat seorang pria paruh baya yang tanpa sengaja menjatuhkan plastik bungkus obat di dekatnya dan membuatnya tergelincir. Untung saja Donghae dengan sigap menarik Jung Ra ke arahnya meskipun dagunya harus berdenyut lantaran berbenturan dengan kepala Jung Ra.

“Kubilang hati-hati!” bentak Donghae, pelan tapi penuh dengan penekanan di tiap kata-katanya.

Jung Ra tak menghiraukan peringatan Donghae. Ia masih tetap berlari kecil sambil menarik Donghae ke lorong panjang yang ada di sisi kiri tubuhnya yang akan membawanya ke ruang ICU.

Donghae hanya mendengus pelan dan terus mengikuti ke mana gadis itu berlari kecil hingga akhirnya papan bertuliskan ICU terlihat tak jauh dari mereka berdua. Tetapi, saat akan berbelok ke sisi kanan di mana di sana terdapat ruang ICU, Donghae tiba-tiba berhenti dan menarik Jung Ra ke belakang tubuhnya. Di sana, di depan ruang ICU seorang laki-laki berambut gelap sedang duduk di atas bangku panjang. Kepalanya tertunduk, kedua sikunya bertumpu pada pahanya, berusaha menopang tubuh bagian atasnya yang terlihat begitu lemas. Kemeja putih yang ia kenakan terlihat begitu kusut, menandakan bahwa ia belum sempat berganti pakaian sejak ia pulang kerja. Sesaat kemudian kepalanya terangkat, tangannya bergerak mengusap wajahnya dengan pelan dan memegang kepalanya frustasi.

Lee Hyukjae terlihat begitu gelisah menunggu salah satu dokter yang sedang menangani ayahnya di dalam sana keluar.

Dada Donghae berdenyut melihat Hyukjae yang nampak begitu lemah tak berdaya, sangat berbanding jauh dengan sosok Lee Hyukjae, kakaknya yang dulu begitu keras dan kejam saat menyuruhnya untuk tetap menjadi seseorang yang kuat dalam menghadapi masalah apapun.

Kedua mata Donghae bergerak memandang lampu berbentuk bulat yang menempel di atas pintu ruang ICU yang masih menyala merah, kemudian kembali pada sosok Hyukjae. Telinganya menangkap suara napas tertahan dari sisi tubuhnya, dan baru ia sadari di sana ada Jung Ra. Dilihatnya gadis itu memandang Hyukjae dengan penuh rasa tidak tega.

“Temani dia dulu. Sepertinya dia membutuhkan seseorang untuk menemaninya. Aku akan membelikannya minuman sekalian mencari keberadaan Youngwoon Hyung.” Donghae menepuk pelan punggung Jung Ra.

“Biar aku saja yang membeli minuman, kau…”

“Jangan membantah apapun perintah bosmu kalau kau tidak mau gajimu dipotong 50%,” ucap Donghae pelan sebelum meninggalkan Jung Ra untuk membeli beberapa minuman hangat di kantin rumah sakit.

Awalnya Jung Ra hanya berdiri di dekat dinding tanpa berniat untuk menghampiri Hyukjae yang duduk sendirian di depan ruang ICU. Namun, ketika melihat Hyukjae berulangkali menghembuskan napas berat sambil melihat pintu ICU dengan gelisah, mau tidak mau Jung Ra harus menuruti apa kata hati kecilnya untuk menghampiri laki-laki yang sudah membuatnya patah hati itu.

Hanya dengan melihat kepala Hyukjae yang tertunduk dan punggung yang lemas seperti itu saja sudah berhasil mencampur adukkan perasaan Jung Ra lagi. Rindu? Meskipun perasaan rindu itu terkadang hinggap di dalam hatinya tiap kali ia sendirian, tetap saja Jung Ra harus berusaha menepisnya karena hanya akan terasa sia-sia bila ia membiarkan rasa rindu itu menguasai dirinya.

Tidak. saat ini Hyukjae memang benar-benar sedang membutuhkan seseorang yang bisa menyemangatinya.

Hyukjae tersentak ketika merasakan sebuah usapan lembut pada bahunya. Kepalanya terangkat dan terkesiap mendapati sosok Jung Ra sudah duduk di sampingnya. Tanpa harus bertanya pun, Hyukjae sudah tahu kenapa gadis itu berada di rumah sakit ini.

“Aku baik-baik saja,” ungkap Hyukjae lirih, seolah bisa membaca raut wajah Jung Ra yang sedang mengkhawatirkan dirinya. Ia berusaha mengulas senyum tipis untuk meyakinkan Jung Ra bahwa ia baik-baik saja. Tetapi ketika menyadari mata Jung Ra berkaca-kaca, senyum di wajah Hyukjae perlahan memudar. Dihelanya napas dengan pelan.

“Ayah mengalami kecelakaan mobil saat perjalanan pulang dari Royal Family Restaurant pukul setengah sepuluh malam tadi. Mobil mereka bertabrakan dengan mobil yang dikendarai seorang pria yang tengah mabuk. Sopir yang bisa mengantar Ayah dengan menggunakan mobil itu hanya mengalami luka ringan. Ayah yang duduk di jok belakang seharusnya selamat tanpa mengalami luka serius andai ia mengenakan sabuk pengaman. Tapi saat itu… Ayah tidak mengenakannya karena ia sibuk dengan hadiah ulang tahun yang harusnya sudah ia berikan padaku di restoran itu. Ada pendarahan pada organ bagian dalam karena hantaman badan mobil yang mengenai tubuh Ayah. Kata Dokter, kemungkinan Ayah juga mengalami serangan jantung karena terkejut. Dan sekarang aku belum menerima kabar terbaru lagi.”

Jung Ra mengepalkan tangannya yang ada di dekat pahanya ketika melihat Hyukjae dengan begitu tenangnya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi padanya. Jung Ra bisa saja melayangkan pukulan keras ke kepala atau lengan Hyukjae, tapi saat ia menyadari tatapan mata Hyukjae yang begitu kosong, tenaganya menguar begitu saja. Dadanya terasa perih seperti disayat oleh ratusan pisau tajam. Laki-laki yang sedang duduk di sampingnya ini benar-benar seperti orang lain. Seperti orang yang sudah kehilangan selera untuk menjalani hidup.

“Hyukjae-ssi…”

“Harusnya aku menuruti apa katanya, Jung Ra-ya. Seharusnya pukul sembilan malam tadi aku datang ke restoran itu dan merayakan ulang tahunku bersamanya meskipun akan sangat menyakitkan untukku. Aku tidak datang bukan karena aku membencinya, aku hanya tidak mau menyakiti perasaan seseorang yang sudah kusakiti sepuluh tahun lalu,” Hyukjae masih berbicara dengan tatapan mata yang kosong.

Greb~

Jung Ra menarik Hyukjae dan memeluknya. Mendengar racauan Hyukajae benar-benar menyakitkan baginya. Ia tak suka melihat seseorang menyerah pada apa yang sedang ia hadapi. Jung Ra sangat tidak suka itu. Dan untuk saat ini orang itu adalah Hyukjae.

“Semua akan baik-baik saja. Ayahmu akan baik-baik saja,” ucap Jung Ra lirih sambil memeluk Hyukjae dengan erat.

Hyukjae memejamkan kedua matanya, merasakan hangatnya pelukan Jung Ra yang mulai menyebar ke seluruh tubuhnya. Ada sejumput ketenangan ketika ia merasakan usapan lembut pada punggungnya. Ia berharap apa yang dikatakan Jung Ra menjadi kenyataan. Ia ingin mempercayai kata-kata gadis itu karena dirinya sendiri sudah tak bisa lagi mempercayai apapun yang hatinya katakan padanya. Perasaan menyesal yang begitu mendalam sudah lebih dulu merebut seluruh akal sehatnya hingga ia tak bisa lagi berpikiran secara positif. Hyukjae memang membenci ayahnya karena perlakuan yang diberikan ayahnya pada Donghae dulu. Ia sudah muak harus merasa kalah tiap kali memperdebatkan masalah Donghae. Tapi kecelakaan ini… Ia sama sekali tak berharap agar ayahnya mengalami hal seperti ini karena walau bagaimanapun ayahnya tetaplah ayahnya. Orang yang selalu ia hormati dan ia takuti sejak kecil. Ini benar-benar di luar kendalinya.

“Ayahmu akan baik-baik saja.”

Suara lirih Jung Ra kembali terdengar. Gadis itu merasa begitu enggan melepas kedua tangannya yang memeluk Hyukjae. Ia ingin memberikan dukungan pada Hyukjae karena hanya itu yang bisa ia berikan.

Dan tanpa Hyukjae dan Jung Ra sadari, sosok Donghae sudah berdiri sejak tadi di balik dinding tak jauh dari mereka. Dadanya terasa sesak ketika mendengar bagaimana kronologis kecelakaan yang menimpa ayah mereka hingga tanpa sadar ada sesuatu yang menggenang di pelupuk matanya. Ia mendengar semua yang dikatakan Hyukjae. Semuanya.

Bila Donghae bisa, ia pun juga ingin melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Jung Ra saat ini, memberi dukungan Hyukjae. Kenyataan bahwa kini ia sudah mulai bisa menerima kembali kehadiran Hyukjae sebagai kakaknyalah yang mendorong Donghae memiliki niat seperti itu.

Tetapi…

Sebuah api besar menyala begitu saja di dalam dadanya ketika menyadari betapa eratnya pelukan Jung Ra pada Hyukjae. Ia bisa merasakan api yang ada di dalam sana bisa keluar dan membakar apapun yang ada di dekatnya dalam waktu singkat. Ada perasaan tidak suka ketika kedua tangan Jung Ra tak kunjung lepas dari tubuh Hyukjae. Ia ingin sekali menghampiri mereka dan menarik Jung Ra dari Hyukjae kemudian berteriak pada Hyukjae bahwa gadis itu adalah miliknya.

Miliknya?

Di saat-saat genting seperti ini, apakah Donghae baru saja menyebut Jung Ra sebagai miliknya? Buru-buru Donghae menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menghapus perasaan itu. Bukankah ini bukan waktu yang tepat untuk meladeni perasaan seperti itu? Wajar kan bila Jung Ra memeluk Hyukjae karena gadis itu ingin memberikan dukungan pada Hyukjae. Apalagi tadi Donghae juga mendengar Jung Ra meyakinkan Hyukjae bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Ya, apa yang dilihatnya hanyalah penggambaran dari dua manusia yang sedang berinteraksi karena rasa simpati. Tidak lebih dari itu.

To be continued

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: