FRUIT LOVE [19/20]

hyuk2_副本

FRUIT LOVE

Chaptered FF

Author : Nita Henny

Cast : Go Jung Ra (OC) – Lee Donghae – Lee Hyukjae

Kim Ryeowook – Kim Youngwoon

Genre : Romance, Family, Brothership

Rating : PG-14

Note :
FF Ini udah pernah kupublish di blogku sendiri. Dulu, udah lama. Dan sekarang aku coba kirim ke sini hehehe.
You can visit my blog === >>> https://imajinasinita.wordpress.com/

Happy reading ~~~~

============================

Hyung, antar Jung Ra sampai depan gedung apartemen dan pastikan dia masuk ke dalam apartemennya,” pinta Hyukjae yang sedikit membungkukkan badannya di dekat pintu mobil Youngwoon bagian belakang yang terbuka.

Youngwoon hanya menolehkan kepalanya ke arah belakang sesaat, melihat adik sepupunya itu sedang sibuk mengenakan sabuk pengaman pada Jung Ra. Dalam hati Youngwoon hanya mendengus melihat perlakuan manis Hyukjae pada Jung Ra. Kalau Youngwoon harus mengamati Jung Ra, sebenarnya gadis itu tidak tergolong gadis bodoh yang tidak tahu bagaimana caranya mengenakan sabuk pengaman. Mungkin bagi orang lain yang melihat tindakan Hyukjae, mereka pasti akan mengira adik sepupunya itu sedang melakukan hal romantis pada kekasihnya, tapi bagi Youngwoon… ingin rasanya ia melepas sepatu yang ia pakai dan melemparkannya tepat di wajah Hyukjae sambil berteriak, “Gadis yang sudah kau buat patah hati itu bukan lagi anak usia lima tahun yang harus kau bantu mengenakan sabuk pengaman!”

“Kau harus pulang sekarang,” ucap Hyukjae yang tidak menyadari tatapan mengerikan Youngwoon sambil memastikan sabuk pengaman Jung Ra sudah terpasang dengan benar.

“Tapi ayahmu…”

“Bukankah tadi kau bilang ayahku akan baik-baik saja? Aku mempercayai kata-katamu, ayahku akan baik-baik saja,” potong Hyukjae seraya menegakkan tubuhnya dan menutup pintu mobil bagian belakang.

Sesaat kaca mobil yang ada di depannya turun, kepala Jung Ra menyembul dari dalam, memandang Hyukjae seolah berkata bahwa ia enggan meninggalkan Hyukjae sendirian di rumah sakit. Tidak, tidak. Jung Ra tidak hanya mengkhawatirkan Hyukjae, ia juga mengkhawatirkan Donghae yang ia yakini masih ada di dalam gedung rumah sakit meskipun sejak adik Hyukjae tersebut meninggalkannya untuk membeli minuman, ia belum melihat sosoknya lagi hingga sekarang.

“Donghae ada di sini. Aku yakin dia belum pulang,” Jung Ra mencoba memberitahu Hyukjae bahwa Donghae datang ke rumah sakit juga meskipun belum menampakkan batang hidungnya di depan Hyukjae.

“Iya. Aku sudah bertemu dengannya tadi di toilet,” Hyukjae berbohong pada Jung Ra. Ia tak ingin gadis itu semakin mencemaskan dirinya karena sampai tengah malam seperti ini dokter belum juga selesai menangani ayahnya di ruang operasi. Sebenarnya ia cukup terkejut saat Jung Ra memberitahu keberadaan Donghae di rumah sakit ini padanya. Ia pikir Youngwoon pasti gagal membujuk adiknya itu dan hanya bisa membawa Jung Ra kemari.

“Pulang dan istirahatlah,” ujar Hyukjae setelah meyakinkan Jung Ra bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Ia sedikit mundur beberapa langkah ketika mobil Youngwoon melaju pelan dan mulai menjauh dari pandangannya. Dihelanya napas dengan pelan saat mobil hitam tersebut tak lagi berada dalam jangkauan matanya. Sambil memijat tengkuknya yang terasa pegal, Hyukjae lantas masuk kembali ke dalam rumah sakit.

Beberapa kali ia menguap sambil menutup mulutnya dengan salah satu tangannya. Tak bisa Hyukjae pungkiri rasa kantuk menyerang dirinya dengan hebat. Namun, meskipun begitu ia memaksakan diri untuk tetap terjaga karena belum ada kabar dari ayahnya yang ada di ruang operasi. Tidak mungkin ia membiarkan kantuk tersebut berkuasa hingga membuatnya terlelap sementara ayahnya masih harus berjuang di ruangan yang menyeramkan itu.

Hyukjae menundukkan kepalanya sesaat untuk membalas sapaan salah seorang perawat yang melintas di dekatnya. Namun, mendadak langkahnya terhenti. Kedua matanya yang sudah memerah dengan sangat jelas melihat seseorang sedang duduk di bangku panjang yang ada di depan ruang operasi. Butuh beberapa detik bagi Hyukjae untuk meyakinkan dirinya bahwa orang itu adalah orang yang memang sangat ia nantikan kedatangannya di rumah sakit sejak ia mendengar kabar ayahnya mengalami kecelakaan.

Lee Donghae.

Ya, apa yang sedang dilihat oleh kedua mata Hyukjae memang tidak salah. Dan apa yang dikatakan Jung Ra memang benar adanya. Donghae memang datang ke rumah sakit dan belum pulang. Tak ada yang lebih membuat Hyukjae bisa bernapas lega untuk saat ini selain akhirnya bisa melihat sosok adiknya yang ternyata mau datang untuk melihat kondisi ayah mereka. Mungkin perasaan Hyukjae masih kalut karena belum tahu bagaimana kondisi ayah mereka, tapi dengan adanya Donghae yang juga ada di sini, di rumah sakit ini, Hyukjae masih bisa merasakan kedua kakinya berdiri tegak.

“Kapan kau datang?” tanya Hyukjae setelah menghenyakkan diri di samping Donghae yang duduk sambil menyandarkan punggungnya pada dinding rumah sakit yang ada di belakangnya.

“Sejak tadi,” jawab Donghae singkat. Kedua matanya sama sekali tak beralih dari lampu bulat yang menyala merah di atas pintu ruang operasi.

Dua menit…

Empat menit…

Enam menit…

Delapan menit berlalu dan selama itu pula tak ada lagi suara yang keluar dari mulut Hyukjae maupun Donghae. Mereka berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing. Tidak, apa yang sedang mereka pikirkkan tidaklah berbeda. Mungkin saja mereka berdua tidak tahu kalau apa yang melintas di benak mereka hingga membuat mereka terhanyut adalah hal yang sama.

Hal itu adalah… kejadian sepuluh tahun yang lalu. Di sini, di depan ruang operasi ini, di atas bangku panjang ini mereka berdua menunggu dengan kecemasan tinggi saat Nyonya Lee, ibu Donghae dimasukkan ke dalam ruang operasi sesaat setelah jatuh dari atap rumah sakit. Donghae sudah sangat kalut dan tak bisa berhenti menangis menunggu ibunya yang sedang diberi pertolongan oleh para dokter dan Hyukjae saat itu mau tidak mau harus bersikap tenang untuk menenangkan Donghae meskipun pada kenyataannya keadaannya sendiri juga sama seperti Donghae, kalut. Dan pada akhirnya berita yang mereka dengar dari dokter yang keluar dari ruang operasi sangatlah mengejutkan. Nyawa Nyonya Lee tak dapat tertolong.

Hal itu tidak akan pernah bisa hilang dari ingatan mereka berdua. Dan malam ini, mereka seolah mengalami hal serupa. Hanya saja yang membuatnya berbeda adalah siapa yang berada di dalam ruang operasi dan siapa yang dilanda kecemasan paling besar dibanding orang lain. Bila dulu Donghae-lah yang mengalami kekalutan, kini Hyukjae yang merasakannya. Bila dulu Donghae terang-terangan menunjukkan rasa takutnya akan kemungkinan kehilangan ibunya, kini Hyukjae terlihat lebih tenang seolah ia bisa mengendalikan dirinya. Tapi kita tidak bisa sepenuhnya yakin akan ketenangan yang ditampilkan oleh Hyukjae karena jujur saja… Hyukjae sendiri menyadari pikirannya sempat kosong beberapa kali tadi.

“Apa dia akan baik-baik saja?” Suara Donghae memecah kesunyian di lorong tersebut.

Pertanyaan Donghae seolah meruntuhkan keyakinan Hyukjae yang berharap kondisi ayah mereka akan baik-baik saja.

“Entahlah. Pendarahan yang ada di dalam tubuhnya cukup parah, ditambah dengan serangan jantung yang juga —“

“Dia akan baik-baik saja,” tiba-tiba Donghae memotong ucapan Hyukjae tanpa mengalihkan matanya dari lampu di atas pintu ruang operasi.

Hyukjae tertegun mendengar nada suara Donghae yang terkesan begitu yakin kondisi ayah mereka akan baik-baik saja. Ditolehkan kepalanya dan dipandanginya adiknya itu. ekspresi wajah Donghae begitu datar untuk ukuran orang yang begitu optimis.

“Dia akan baik-baik saja. Ani…, dia harus baik-baik saja. Kalau sampai dia mati, maka kebencian yang aku rasakan selama ini akan sia-sia. Bukankah bila kita membenci orang yang sudah mati, kita sama saja dengan melakukan sesuatu yang tidak berguna?” ujar Donghae.

Hyukjae tercenung. Mungkin alasan Donghae berharap seperti itu bukanlah sesuatu yang patut untuk dibenarkan. Tapi bagi Hyukjae yang sudah tak bisa lagi meyakinkan dirinya sendiri untuk tetap optimis dan berpikiran positif akan kondisi ayahnya, harapan Donghae seolah menjadi tumpuannya agar tetap yakin bahwa ayah mereka bisa sembuh.

Perlahan Hyukjae mengalihkan wajahnya dan menatap pintu ruang operasi hingga akhirnya suasana sunyi kembali terasa. Ia nampak sedikit terkejut ketika tiba-tiba Donghae menyodorkan sebuah cup berisi kopi padanya.

“Aku membelinya beberapa jam yang lalu. Mungkin sudah dingin, tapi paling tidak khasiatnya untuk menghilangkan kantuk masih tetap ada.”

Hyukjae hanya tersenyum tipis sambil menerima kopi yang sudah tak panas lagi itu dari tangan Donghae dan menyesapnya sedikit.

“Dia orang penting kan? Kenapa sejak tadi aku tidak melihat satu pun orang yang datang kemari untuk melihatnya?” tanya Donghae setelah menghabiskan sisa kopinya dan membuangnya ke dalam tong sampah kecil yang ada di sampingnya.

“Kepala Bagian Han sudah pulang sebelum kau datang. Mungkin yang lain baru akan datang besok.”

Donghae hanya mendengus pelan menanggapi jawaban Hyukjae. Selanjutnya ia hanya melipat kedua tangannya ke depan dada dan mengatupkan bibirnya.

“Donghae-ya,” panggil Hyukjae pelan.

“Kalau kau ingin mengatakan sesuatu padaku, katakan saja. Tidak perlu memanggilku dengan panggilan seperti itu. Kau lupa ya, kalau aku tidak suka panggilan itu?” kata Donghae sambil melirik ketus ke arah Hyukjae.

“Aku ingin meminta maaf untuk kesalahanku sepuluh tahun lalu,” ujar Hyukjae sungguh-sungguh, tak menghiraukan kata-kata ketus adiknya itu.

“Apa kita harus membahasnya sekarang?” Donghae menolehkan kepalanya sambil mengernyitkan keningnya. Walaupun ia memang menunggu kata-kata itu keluar dari mulut Hyukjae, tapi Donghae merasa sekarang adalah waktu yang kurang tepat.

“Aku tidak bisa membelamu karena aku merasa sangat takut. Saat itu adalah pertama kalinya bagiku melihat Ayah semarah itu. Sebelumnya aku belum pernah mendengar Ayah berteriak di depanku, aku belum pernah melihat sorot mata tajam Ayah yang begitu menakutkan. Kuakui aku benar-benar kakak yang pengecut karena tidak bisa membantumu padahal kau sudah meminta tolong padaku. Saat itu aku benar-benar ketakutan, Donghae-ya. Bahkan aku tidak berani untuk mencegah Ayah saat mengusirmu dari rumah,” Hyukjae menjabarkan alasannya bungkam selama ini dengan panjang lebar.

Donghae mendengus pelan. “Maka dari itu sekarang aku menyesal sudah begitu mengandalkan sosok kakak sepertimu dulu. Apa susahnya menunjukkan dirimu yang sebenarnya lemah, hah? Apa karena posisimu sebagai anak tertua jadi kau harus menjadi seseorang yang kuat setiap saat? Apa dulu kau juga melakukan hal yang sama pada Hyuk Shin? Walaupun aku tidak ingin mengatakan ini, tapi kurasa adik kecilmu itu memiliki kakak yang sakit jiwa. Bahkan sampai dia meninggal pun, di matanya hanya ada sosok palsu kakaknya yang sok keren. Benar-benar menyedihkan.”

Hyukjae kembali menyandarkan kepalanya pada dinding sambil tertawa pelan. Apa yang diucapkan oleh Donghae memang benar.

“Mungkin kau bisa membodohi diriku dan adik kecilmu dulu, tapi bila kau berusaha melakukan hal yang sama padaku sekarang, sepertinya kau harus berpikir ratusan kali,” tukas Donghae.

Hyukjae hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan sambil tersenyum tipis. Meskipun nada suara adiknya itu terdengar ketus, tapi Hyukjae bisa merasakan bahwa permintaan maafnya diterima. Entahlah, Hyukjae tidak terlalu yakin akan hal itu, namun hati kecilnya berkata begitu.

“Terima kasih sudah mau datang untuk melihat Ayah,” ucap Hyukjae.

“Berterima kasihlah pada Jung Ra yang sudah menyeretku seperti anjing peliharaannya kemari. Andai Youngwoon Hyung ada di sini, aku bisa langsung memukul wajahnya karena dia sudah berani menyebutku monster yang tak punya hati,” timpal Donghae dengan geram. Hyukjae menanggapinya dengan kekehan pelan.

Mendadak mereka berdua dibuat terkejut saat pintu ruang operasi yang ada di depan mereka terbuka. Dari balik pintu tersebut muncul seorang dokter bertubuh tinggi—bahkan tingginya melebihi Donghae dan Hyukjae— pakaian serba hijaunya yang nampak berhias beberapa bercak darah terhalang oleh jas putih panjang yang ia kenakan, sebuah ID card berukuran kecil yang bertuliskan nama “Zhoumi” menggantung di dada bagian kiri.

“Bagaimana kondisinya?” tanya Hyukaje panik.

“Apa Anda berdua kerabat dari pasien?” tanya dokter berambut gelap bernama Zhoumi tersebut sambil melepaskan masker hijau yang beberapa saat lalu menutupi mulut dan hidungya.

“Ya, kami berdua adalah anaknya. Jadi bagaimana kondisi Ayah kami?” Donghae lebih dulu menyahut pertanyaan dokter tersebut sebelum Hyukjae kembali membuka mulutnya. Tentu saja hal ini membuat Hyukjae tercengang dan menoleh ke arah Donghae sebelum kembali memandang dokter itu.

“Kami sudah berhasil menghentikan pendarahan di dekat paru-parunya. Tapi sampai sekarang kondisi pasien masih sangat kritis akibat serangan jantung yang lumayan hebat saat benturan terjadi. Tekanan darahnya juga masih tinggi. Jadi kondisi pasien harus benar-benar diawasi agar bila terjadi sesuatu bisa ditangani dengan cepat,” Dokter itu menjelaskan keadaan Presdir Lee.

Kedua kaki Hyukjae melemas seketika, tapi masih memiliki sedikit kekuatan hingga ia masih bisa berdiri tegak dan tidak limbung ke belakang. Kondisi ayahnya sangat kritis. Kabar ini sama saja memberinya harapan yang semu. Kenapa harus ada kata kritis di sana? Apakah kecelakaan itu benar-benar parah hingga harus membuat ayahnya kritis?

***

Next day…

Jung Ra keluar dari apartemennya dan menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Pagi ini ia harus pergi ke rumah sakit untuk mengetahui bagaimana kabar ayah Donghae dan Hyukjae karena sejak Youngwoon mengantarnya pulang ia sudah tak bisa lagi menghubungi dua laki-laki bermarga sama itu. Semalaman ia hanya memutar-mutar tubuhnya tidak menentu di atas tempat tidur tiap kali gagal menghubungi ponsel Donghae dan Hyukjae.

Sambil berjalan ke arah halte bus, Jung Ra kembali mencoba menghubungi ponsel Hyukjae. Lagi-lagi tidak aktif. Kemudian ia beralih pada nomor ponsel Donghae. Sambil mendekatkan ponsel pada daun telinganya, menunggu adanya tanda-tanda tersambung, Jung Ra menyusun makian-makian yang akan ia lontarkan pada kedua laki-laki bersaudara itu bila ponsel Donghae juga tidak bisa dihubungi.

Tapi, tunggu dulu!

Nadanya tersambung! Itu artinya ponsel Donghae aktif. Jung Ra tidak bisa menutupi rasa leganya karena akhirnya ada salah satu dari dua laki-laki menyebalkan itu yang mengaktifkan ponselnya. Apa mereka tidak tahu kalau ia benar-benar khawatir dengan kondisi ayah mereka? Lebih dari itu, ia juga mengkhawatirkan kondisi mereka berdua.

Yeoboseo?” Suara Donghae akhirnya terdengar.

“Kenapa ponselmu susah sekali kuhubungi, hah?! Aku mencoba menghubungimu semalaman!” bentak Jung Ra.

Kau ini bodoh atau tolol? Mana ada rumah sakit yang memperbolehkan pengunjung menyalakan ponsel di dekat ruangan yang penuh dengan peralatan medis? Kau tidak pernah membaca peraturan seperti itu?

Jung Ra hanya mengerjap-ngerjapkan kedua matanya saat Donghae-lah yang justru mengomelinya. Kekesalan Jung Ra seolah mengasap begitu saja setelah membenarkan apa yang diucapkan Donghae.

“Aku kan khawatir,” Jung Ra berusaha membela diri. sambil terus berjalan.

Lain kali kalau sedang khawatir, jangan buang akal sehatmu.

Jung Ra hanya berdecak, menghentakkan kakinya pelan sebagai bentuk protes karena lagi-lagi Donghae mengeluarkan kata-kata menyebalkan padanya. Andai saja Jung Ra lupa kalau ponsel yang sedang ia pakai adalah miliknya, mungkin saja ia sudah melempar benda canggih itu ke trotoar dan menginjaknya dengan geram.

Hei, siapa yang menyuruhmu berjalan ke arah itu? bukankah seharusnya kau berjalan ke arah timur

Jung Ra menghentikan langkah kakinya. “Apa?”

Jalan yang kau lalui bukan menuju ke arah toko, kan?

Jung Ra menolehkan kepalanya ke belakang dan menatap trotoar panjang yang ada di sana. Ia memang tidak sedang berjalan ke arah toko.

“Aku —“

Berbalik,” nada suara Donghae terdengar sedang memerintah.

“Hah?”

Kubilang berbalik.

Mau tidak mau Jung Ra pun menuruti apa kata Donghae. Diputarnya tubuhnya ke belakang dan menunggu apa yang akan diucapkan Donghae lagi.

Sekarang berjalan lurus ke depan sampai perempatan, kemudian belok ke kanan dan hati-hati dengan area depan penjual ikan segar di dekat jembatan layang. Setelah itu jalan terus lewat belakang halte bus dan…

“Itu akan arah jalan menuju toko!” potong Jung Ra. Dalam hati ia merasa heran, bagaimana laki-laki itu bisa tahu kalau ia memang tidak akan pergi ke toko, melainkan ke rumah sakit.

Memang iya. Kau pikir aku menyuruhmu ke mana? Ke rumah sakit? Jangan harap, Nona Go. Pagi ini kau harus menjaga toko bersama Ryeowook.

“Tapi kan —“

Aku sedang tidak berselera untuk mendengar bantahan seseorang. Jadi sekarang cepat ke toko.”

Jung Ra mendesis kesal sambil melangkahkan kakinya ke depan. Keinginannya untuk datang ke rumah sakit akhirnya terkendala karena perintah konyol Donghae. Ia baru akan menjauhkan ponselnya ketika ia teringat sesuatu.

“Oh ya, Donghae Oppa.”

Yaa, ini masih jam kerja. Bagaimana bisa kau memanggilku dengan sebutan itu?” Meskipun terkesan tidak setuju, namun suara Donghae yang terdengar sama sekali tak menunjukkan bahwa ia sedang kesal karena Jung Ra memanggilnya Oppa. Suara Donghae terdengar begitu lembut.

“Tapi kan kau tidak ada di toko dan kau juga tidak masuk kerja,” protes Jung Ra.

Terdengar suara kekehan tawa Donghae,“Baiklah. Apa lagi?”

“Apa di sana baik-baik saja?” tanya Jung Ra. Beberapa detik Donghae tak mengeluarkan suara hingga membuat Jung Ra merasa was-was.

Kondisinya masih kritis dan belum sadarkan diri, tapi pendarahan yang ada di organ dalam tubuhnya berhasil dihentikan. Jadi, kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun.

Jung Ra menggigit bibir bawahnya. Bila kondisi seseorang masih kritis dan belum sadarkan diri, itu artinya kemungkinan buruk masih bisa terjadi. Tidak mungkin Jung Ra menuruti kata Donghae agar tidak lagi khawatir.

“Kau… baik-baik saja?” Akhirnya Jung Ra menanyakan keadaan Donghae dengan pelan.

Aku baik-baik saja.”

“Kau sudah makan? Kemarin pagi kau belum sarapan dan siangnya juga tidak makan, sore kemarin kau hanya memakan dua potong tteokbokkie-ku. Semalaman kau juga pasti tidak bisa makan, kan?”

Kau juga mencemaskanku, hah? Apa kau benar-benar sudah menyukaiku?

Seketika Jung Ra menjauhkan ponselnya dan menatap layarnya untuk beberapa saat. Apa ia harus menjawab pertanyaan aneh seperti itu lagi? Astaga, laki-laki tampan menyebalkan ini benar-benar!

“Aku sedang tidak berselera untuk membicarakan topik seperti itu. Ah…. Iya, aku hampir lupa. Donghae Oppa, bagaimana keadaan Hyukjae di sana? Apa dia baik-baik saja? Apa kau menemaninya? Kau tidak meninggalkannya sendirian di rumah sakit kan? Apa dia juga sudah makan?” Jung Ra teringat akan Hyukjae yang juga pasti masih ada di rumah sakit bersama Donghae.

Beberapa detik tak ada suara yang terdengar dari lubang speaker ponsel Jung Ra hingga Jung Ra harus memastikan Donghae belum memutuskan teleponnya.

“Donghae Oppa?” Jung Ra mencoba memanggil Donghae.

Kalau ingin tahu bagaimana keadaan Lee Hyukjae, kenapa harus menghubungi ponselku?! Kenapa harus repot-repot menanyakan keadaanku segala?! Hubungi sendiri saja ponselnya!

Tut… tut… tut…

Tak pelak tindakan Donghae yang mematikan ponsel setelah berteriak tepat di depan telinga Jung Ra, membuat Jung Ra langsung memandang ponselnya sendiri dengan wajah tak percaya. Otaknya berusaha meyakinkan dirinya bahwa apa yang didengarnya memang benar-benar suara milik Donghae, seseorang yang beberapa detik sebelumnya berbicara dengan nada suara yang begitu lembut dan manis padanya.

“Dia kenapa sih? Kenapa tiba-tiba berteriak seperti itu padaku? Dasar Laki-laki Aneh, kalau aku bisa menghubungi ponsel Hyukjae, tidak mungkin aku bertanya padanya…”

Jung Ra terus mengomel tanpa henti sambil melangkahkan kakinya dengan cepat menuju toko. Ia sama sekali tak mempedulikan beberapa orang yang melintas di dekatnya memandangnya dengan heran karena ia menggerutu sepanjang jalan.

***

“Kalau ingin tahu bagaimana keadaan Lee Hyukjae, kenapa harus menghubungi ponselku?! Kenapa harus repot-repot menanyakan keadaanku segala?! Hubungi sendiri saja ponselnya!”

PIP~

Setelah berteriak pada ponselnya, atau tepatnya pada Jung Ra yang sedang menelponnya, Donghae langsung mematikan ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku celana dengan geram. Kekesalannya tiba-tiba muncul begitu saja ketika Jung Ra menanyakan keadaan Hyukjae padanya. Padahal awalnya ia sudah merasa cukup senang Jung Ra mengkhwatirkan keadaannya dan bertanya padanya apakah dia sudah makan atau belum.

Donghae baru akan kembali mengumpat saat ia menyadari dirinya sedang ada di dalam kantin rumah sakit. Dilemparkannya pandangannya pada beberapa pengunjung rumah sakit yang sedang memberikan tatapan kurang bersahabat padanya. Tidak hanya pengunjung rumah sakit, sepertinya petugas penjaga kantin yang ada di hadapannya pun memberikan tatapan yang seolah berkata “Apa otakmu sudah bermasalah sampai kau lupa kalau kau baru saja berteriak di dalam kantin rumah sakit?”

Setelah membayarkan sejumlah uang untuk empat kopi panas dan dua bungkus kimbab yang ia beli dari petugas penjaga kantin tersebut, Donghae langsung melesat keluar dari tempat itu sambil membodohi dirinya dalam hati.

Ini semua karena gadis itu. Ini semua karena Go Jung Ra yang sudah lancang menanyakan keadaan Hyukjae padanya. Mungkin terkesan konyol bila Donghae harus semarah itu hanya karena Jung Ra mencoba menanyakan keadaan Hyukjae padanya, hanya saja…

Donghae masih terus memberengut hingga ia sampai di depan pintu kamar yang tertutup dengan sempurna. Tangannya bergerak memegang pegangan pintu tersebut dan menggesernya perlahan agar terbuka. Di dalam kamar berukuran cukup luas tersebut, ayahnya yang masih belum sadarkan diri terbaring lemah di atas tempat tidur dengan seorang perawat yang berdiri di dekat tempat tidur sedang memeriksanya. Beberapa alat medis yang tidak dikenal Donghae menghiasi tubuh ayah tirinya tersebut. Menyadari kondisi ayahnya yang belum berubah sejak semalam membuat Donghae hanya bisa mendesah pelan. Presdir Lee masih belum bisa melewati masa kritisnya.

Untuk kedua kalinya Donghae harus mendesah pelan ketika melihat Hyukjae yang ternyata tertidur di atas sofa panjang yang ada di sudut kamar. Padahal sebelum Donghae pergi ke kantin untuk membeli minuman hangat, Hyukjae masih terjaga meskipun kedua matanya sudah benar-benar merah. Kakinya melangkah mendekati Hyukjae setelah meletakkan kopi dan makanan yang ia beli ke atas meja yang ada di dekat sofa. Tangannya meraih selimut tebal rumah sakit yang ada di dekat kaki Hyukjae. Sepertinya perawat yang beberapa kali memeriksa kondisi Presdir Lee semalam sengaja meletakkan selimut di sana.

Dengan sangat hati-hati Donghae menyelimuti tubuh Hyukjae dengan selimut tersebut. Wajah Hyukjae menyiratkan kelelahan yang cukup hebat. Dan itu sudah cukup bagi Donghae untuk tidak membiarkan dirinya terlarut dalam kekesalan yang ia jatuhkan pada Hyukjae hanya karena Jung Ra menanyakan keadaan Hyukjae padanya beberapa saat yang lalu melalui telepon.

Jangankan Jung Ra, ia sendiri pun sejak semalam juga mengkhawatirkan Hyukjae. Kakaknya itu sama sekali tak beranjak dari kursi yang ia duduki di samping tempat tidur Presdir Lee. Memang tidak ada yang dilakukan oleh Hyukjae. Hanya terdiam dengan kedua mata yang menatap lurus ke arah Presdir Lee. Sedangkan Donghae, semalam ia hanya terduduk membisu di atas sofa yang sekarang digunakan Hyukjae untuk tidur, tanpa berniat mengajak Hyukjae bicara dan selanjutnya tanpa Donghae sadari ia sudah terbangun pagi-pagi sekali. Bahkan hingga sekarang ia masih menyalahkan dirinya karena dengan bodohnya tertidur begitu saja dan membiarkan Hyukjae menjaga ayah mereka sendirian.

Donghae menoleh ke arah pintu ketika pintu tersebut digeser oleh seseorang. Ternyata Kepala Bagian Han. Bila Donghae sama sekali tak menunjukkan reaksi apapun, Kepala Bagian Han justru nampak terkejut melihat sosok Donghae setelah sepuluh tahun lamanya tak bertemu. Donghae berdiri dan membungkukkan badannya sebentar untuk menyapa Kepala Bagian Han.

“Kakakmu… maksudku, Hyukjae, anak itu baru saja tidur?” tanya Kepala Bagian Han pelan sambil menunjuk Hyukjae yang terlelap di atas sofa. Donghae menolehkan kepalanya ke belakang untuk melihat Hyukjae, kemudian kembali memandang Kepala Bagian Han sambil mengangguk.

“Baguslah kalau dia tidur. Lalu, bagaimana keadaan ayahmu… maksudku Presdir Lee? Apa sudah ada perkembangan?” Kepala Bagian Han berjalan mendekati tempat tidur Presdir Lee.

“Belum ada. Sejak semalam kondisinya belum menunjukkan tanda-tanda ia bisa melewati masa kritis. Bahkan kata dokter beberapa menit yang lalu, tekanan darahnya masih tinggi,” jawab Donghae.

Beberapa saat Kepala Bagian Han hanya memandang Donghae hingga akhirnya ia mengajak Donghae untuk keluar sebentar dari kamar tersebut. Donghae menuruti ajakan Kepala Bagian Han sambil membawa dua cup kopi panas.

“Sudah lama aku tidak melihatmu. Kau sudah sebesar ini rupanya,” ujar Kepala Bagian Han setelah menghenyakkan diri di atas bangku panjang di samping kamar Presdir Lee. Disesapnya sedikit kopi pemberian Donghae.

“Iya, Ahjussi.” Donghae ikut duduk di samping Kepala Bagian Han.

Kepala Bagian Han tertawa pelan sambil memandang Donghae. “Panggilan itu… Aigoo, aku benar-benar merindukannya, Donghae-ya.”

Donghae hanya tersenyum tipis menanggapi Kepala Bagian Han.

“Bagaimana kabarmu? Kudengar kau mempunyai usaha toko buah yang cukup terkenal,” Kepala Bagian Han mencoba membuka percakapan dengan Donghae.

Donghae mendengus pelan. Pasti Kepala Bagian Han diberitahu oleh Hyukjae.

“Asal kau tahu saja, bukan Hyukjae yang memberitahuku. Kalau kau mengira kakakmu yang melakukannya, berarti kau salah,” Kepala Bagian Han yang seolah bisa mengartikan dengusan Donghae langsung meluruskan apa yang baru saja ia katakan tadi.

Donghae terhenyak. Matanya mengerjap-ngerjap pelan. Kalau bukan Hyukjae, lalu siapa yang memberitahu Kepala Bagian Han? Bukankah pria tambun ini adalah orang yang paling dekat dengan Hyukjae dan dirinya dulu? Hyukjae juga sering meminta pendapat padanya tiap kali mengalami masalah di sekolah dulu.

“Youngwoon yang memberitahuku,” tambah Kepala Bagian Han.

Seketika Donghae mengerti segalanya. Kakak sepupunya itu, mulutnya sudah seperti wadah air yang bocor. Cairan apapun yang dimasukkan ke sana pasti akan keluar melalui lubang-lubang yang ada di wadah tersebut. Tidak heran bila jabatan Youngwoon di perusahaan ayahnya adalah sebagai Juru Bicara. Sebentar, apa hubungannya mulut Youngwoon yang suka ceplas-ceplos dengan jabatannya di perusahaan?

“Sepertinya orang itu sudah bosan hidup,” gumam Donghae yang ternyata didengar oleh Kepala Bagian Han. Kepala Bagian Han langsung terkekeh hingga kedua bahunya bergerak naik turun.

Sesaat setelah kekehan itu berhenti, Kepala Bagian kembali memandang Donghae hingga perlahan tangannya terangkat, menyentuh kepala Donghae dan mengusap lembut rambut gelap Donghae. Ditepuk-tepuknya tengkuk Donghae dengan pelan sambil tersenyum lega.

“Terima kasih kau sudah mau datang kemari dan mau menjaga Presdir Lee bersama-sama dengan Hyukjae. Dia —“ Belum selesai Kepala Bagian Han berbicara, seseorang dari ujung lorong berlari kecil memanggilnya.

Ahjussi, beberapa kolega Paman ada di depan rumah sakit. Mereka ingin melihat kondisi Paman dan—“

“Tidak boleh ada yang menjenguknya sebelum dia benar-benar membaik,” Donghae memotong ucapan Youngwoon sambil bangkit dari duduknya.

Kepala Bagian Han dan Youngwoon nampak cukup terkejut mendengar kata-kata Donghae.

“Tapi…”

“Dokter bilang dia membutuhkan suasana yang tenang. Jadi itu artinya orang-orang yang kau maksud tadi tidak boleh menjenguknya sebelum ia bisa melewati masa kritis,” lagi-lagi Donghae mengganggu Youngwoon.

Kepala Bagian Han langsung berdiri dan mencoba untuk tidak membuat Donghae naik pitam hanya karena masalah sepele.

“Baiklah, baiklah. Tidak akan ada orang yang menjenguk Presdir Lee sebelum kondisinya membaik. Aku bisa pastikan itu. Jadi, sekarang biar aku saja yang menemui mereka.” Kepala Bagian Han melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa untuk menemui beberapa kolega Presdir Lee yang datang untuk menjenguk.

Youngwoon yang masih berdiri di tempatnya hanya bisa berkacak pinggang sambil memandang Donghae. Sebenarnya ia merasa cukup senang ketika Donghae mencoba mencegah siapapun yang ingin menjenguk Presdir Lee.

“Jangan memandangku seperti itu,” erang Donghae kesal seraya kembali menghenyakkan diri di atas bangku.

Youngwoon terkekeh sambil mendekati Donghae dan duduk di sampingnya. “Jadi benar kondisi Paman masih kritis?”

“Iya,” jawab Donghae singkat.

“Lalu di mana Hyukjae sekarang? Apa dia pulang? Atau…”

Hyung, aku masih marah padamu. Bisakah kau diam saja daripada aku kehilangan kendali dan menghajarmu?” cela Donghae dengan tatapan yang sama sekali tak bersahat pada Youngwoon.

Bukannya menanggapi dengan serius, Youngwoon justru tertawa sembari memukul belakang kepala Donghae dengan pelan, “Aigoo, bocah ini. Yaa, bukankah wajar bila kemarin aku berteriak padamu? Sebenarnya sampai sekarang aku masih belum bisa percaya kau mau datang ke rumah sakit. Ternyata gadis itu lumayan juga. Kemarin aku sangat pesimis dia bisa membawamu kemari karena aku tahu bagaimana sifat keras kepalamu yang susah untuk dilawan.”

Donghae hanya memutar kedua bola matanya jengah. Ia sendiri pun sepertinya juga tidak bisa percaya bisa menuruti ajakan Jung Ra. Padahal sebelumnya tak satu pun orang yang bisa membuatnya “jinak” seperti itu.

Youngwoon baru akan kembali mengejek Donghae ketika tiba-tiba pintu kamar ICU dibuka dari dalam. Hyukjae keluar dengan wajah yang begitu panik. Youngwoon dan Donghae yang belum sempat bertaanya pada Hyukjae, terdengar derap langkah cepat dari arah ujung lorong. Dokter berpostur tubuh tinggi bernama Zhoumi yang menangani Presdir Lee dengan beberapa perawat nampak berlari ke arah mereka. Perawat yang sejak tadi ada di samping tempat tidur Presdir Lee pun ikut keluar untuk menjemput dokter tersebut.

“Apa yang terjadi?” tanya dokter Zhoumi pada perawat sambil menyeruak masuk ke dalam kamar.

“Tekanan darah pasien sempat turun, tapi kurang dari lima detik tekanannya naik drastis. Denyut nadinya juga tiba-tiba melemah. Pasien juga sempat mengalami kejang untuk beberapa detik tadi, Dok,” jawab perawat tersebut sebelum menutup pintu kamar ICU. Membiarkan Hyukjae, Donghae dan Youngwoon termangu di depan pintu.

“Apa tadi? Kenapa perawat tadi berkata seperti itu? Apa terjadi sesuatu padanya? Kenapa dia harus kejang-kejang, hah? Hyukjae-ya, jawab aku,” Donghae memberondong Hyukjae dengan banyak pertanyaan.

Hyukjae yang sebelumnya terbangun karena mendengar pekikan pelan perawat yang sedang memeriksa kondisi ayahnya masih terlihat syok. Jantungnya masih berdegup kencang, matanya mengerjap-ngerjap bingung. Ia tidak ingin terlalu cepat memikirkan sesuatu yang lebih buruk dari ini. Tidak. Ia tidak boleh.

“Aku tidak tahu. Tadi kulihat alat pendeteksi jantung Ayah menunjukkan grafik yang lebih rumit dari kemarin. Perawat menyuruhku keluar dan —“

“Paman akan baik-baik saja. Kalian jangan khawatir, hm? Paman akan baik-baik saja,” Youngwoon mencela ucapan Hyukjae. Ia mencoba menenangkan kedua adik sepupunya yang sudah terlihat panik.

Mereka bertiga dibuat terkejut saat seorang perawat membuka pintu kamar ICU dari dalam dan berlari dengan cepat tanpa menutup pintu tersebut. Hyukjae mendekati pintu tersebut dan melihat ke dalam. Dadanya seperti dihantam batu raksasa ketika melihat dokter sedang menekan dada ayahnya dengan kedua tangannya beberapa kali sambil menyuruh beberapa perawat untuk melakukan beberapa hal di dalam sana. Bahkan dokter tersebut juga nampak memanggil-manggil nama ayahnya agar tetap bertahan.

Donghae akhirnya melakukan hal yang sama seperti Hyukjae. Dari balik punggung Hyukjae, Donghae mencoba melihat apa yang terjadi. Dan tanpa diduga, reaksi yang sama juga ditunjukkan oleh Donghae. Napasnya terasa begitu sesak saat menyaksikan pemandangan yang begitu mengerikan di dalam sana. Kedua matanya bergerak memandang grafik yang begitu rumit muncul di layar alat pendeteksi detak jantung di atas tempat tidur ayahnya sementara dokter dan beberapa perawat di sana sibuk melakukan berbagai hal untuk mencoba menyelamatkan ayahnya yang semakin kritis.

“Maaf, permisi.” Perawat yang tadi keluar kini telah kembali dan sedikit menjauhkan Donghae dan Hyukjae dari depan pintu. Sesaat setelah perawat itu masuk, pintu pun langsung tertutup. Membuat Hyukjae seketika tersadar dari lamunannya yang sejak tadi menguasainya. Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan.

“Dia… dia baik-baik saja, kan?” suara lemah Donghae terdengar dari belakang tubuhnya. Hyukjae pun memutar tubuhnya ke belakang dan mendapati Donghae memandangnya dengan wajah yang sangat cemas.

Hyukjae ingin meyakinkan Donghae bahwa ayah mereka akan baik-baik saja, tapi kekuatan yang sebelumnya masih ada di dalam dirinya mendadak menghilang setelah melihat sendiri apa yang terjadi di dalam kamar ICU.

“Aku tidak tahu. Aku tidak tahu,” Hyukjae pun menjawabnya dengan lirih seraya menepuk bahu Donghae dan terduduk lemas di bangku panjang.

Hyung, dia akan baik-baik saja, kan? Iya, kan?” Kini Donghae mencoba mencari jawaban pada Youngwoon yang sejak tadi hanya berdiam membisu di depan dinding dekat pintu kamar ICU.

Berbeda dengan Hyukjae, Youngwoon lebih bisa menguasai diri agar tidak terlarut dalam kepanikan. Ia menganguk sambil mengusap belakang kepala Donghae, mencoba menenangkan Donghae yang sepertinya sangat khawatir. Hanya dengan melihatnya seperti itu, Youngwoon pun sangat yakin adik sepupunya itu tidak sepenuhnya membenci ayahnya.

Donghae mengusap wajahnya gusar. Ia tidak tega melihat Hyukjae yang duduk dengan kepala tertunduk seperti itu. Ia ingin melakukan sesuatu, tapi ia sendiri juga sudah panik. Sejak pintu kamar ICU tersebut tertutup, ia tidak akan bisa lagi mengetahui apa yang terjadi di dalam sebelum salah satu dari orang-orang yang di dalam sana membukanya.

Lebih baik bila seseorang yang nantinya membuka pintu tersebut memberitahu kalau ayahnya sudah melewati masa kritis daripada harus mengatakan bahwa ayahnya sudah…. Tidak. Donghae tidak bisa membayangkan hal buruk seperti itu atau yang lainnya. Ia belum siap. Sama sekali belum siap.

“Dia akan baik-baik saja,” ucap Donghae lirih pada Hyukjae setelah menghenyakkan diri di samping Hyukjae. Tangannya bergerak dari belakang punggung Hyukjae dan merangkulnya, mencoba memberi ketenangan pada Hyukjae. Melakukan hal yang sama seperti yang pernah Hyukjae lakukan pada dirinya sepuluh tahun lalu.

Hyukjae memang mendengar apa yang baru saja dikatakan Donghae, tapi saat ini kata-kata seperti rasanya begitu mustahil karena perasaannya sudah lebih dulu terasa tidak enak. Dan suasana semakin tegang saat pintu yang sejak tadi mereka tunggu akhirnya terbuka juga dari dalam. Dokter tinggi bernama Zhoumi muncul dari balik pintu dengan wajah yang sulit untuk mereka artikan. Donghae yang lebih dulu berdiri dan mendekati dokter tersebut.

“Bagaimana kondisinya? Apa dia baik-baik saja?” tanya Donghae dengan cepat.

Dokter Zhoumi menghela napas sambil menepuk bahu Donghae. “Maaf, kami sudah…”

Belum selesai dokter berambut hitam itu menjawab pertanyaan Donghae, Donghae sudah lebih dulu mencelanya, “Apa maksud Dokter dengan kata maaf? Dia baik-baik saja, kan?”

“Kami sudah melakukan berbagai cara, tapi pasien tidak bisa bertahan lebih lama lagi.”

“Apa maksudmu tidak bisa bertahan lagi, hah? Ayahku tidak sakit parah! Ayahku orang yang kuat dan tidak pernah sakit! Bagaimana bisa kau bilang kalau dia tidak bisa bertahan!” seru Donghae sambil berusaha mencengkeram jas bagian depan dokter tersebut. Dengan cepat Youngwoon menahannya.

“Donghae-ya, tenanglah. Tenanglah,” Youngwoon yang sudah berkaca-kaca menahan tubuh Donghae yang berusaha menyerang dokter tersebut.

Hyukjae yang sejak tadi tertunduk kini berdiri dan berjalan pelan ke dalam kamar. Melihat ayahnya yang sudah terbujur kaku tak bernyawa, sementara perawat melepaskan satu per satu alat medis yang menghiasi tubuhnya. Kepalanya Hyukjae kembali tertunduk saat ia berdiri di depan tempat tidur ayahnya. Ia berusaha untuk tidak meladeni perasaan emosionalnya yang sudah mulai menyerangnya secara perlahan. Tapi pertahanan yang ia buat tak cukup kuat untuk menahan terjangan tersebut hingga akhirnya ia menyerah dan membiarkan air mata-air mata itu jatuh dari pelupuk matanya. Semakin lama ia semakin tak bisa mengendalikannya. Salah satu tangannya bertumpu pada tepi tempat tidur, dan tangannya yang lain menutup kedua matanya agar tak lagi mengeluarkan air matanya yang begitu deras mengalir. Kedua bahunya berguncang menahan isakan tangisnya yang semakin menjadi-jadi.

Ayahnya telah pergi sebelum sempat memberikan hadiah ulang tahun padanya. Jujur… ini terlalu berat baginya. Tidak. Ini tidak hanya terlalu berat, tapi juga terlalu mendadak baginya. Firasat buruk yang sejak kemarin menghantui dirinya akhirnya terjadi hari ini. Dan Hyukjae, sangat tidak menyukai hal tersebut. Seharusnya ia lebih kuat lagi untuk mempertahankan rasa optimisnya, bukannya membiarkan perasaan tersebut menguasainya.

“Dia masih ada di sini, kan? Hyukjae-ya, jawab aku,” Suara parau Donghae terdengar, memaksa Hyukjae melepaskan tangan yang sejak tadi menutupi kedua matanya dan menoleh ke sisi kanan tubuhnya.

“Dokter itu bercanda, kan? Dan… dan… semua alat-alat yang sudah diambil dari tubuhnya…. Itu artinya dia tidak perlu menggunakannya lagi karena sudah sembuh. Iya, kan?” Donghae menggoyang-goyang pelan Hyukjae.

Hyukjae yang sudah berlinang air mata hanya bisa menatap Donghae. Donghae yang sedang berdiri di hadapannya ini… begitu mirip dengan sosok Donghae kecil yang baru bertemu dengannya di restoran malam itu bersama kedua orang tua mereka. Donghae, adiknya itu sedang menunggu jawaban darinya. Jawaban yang tidak bisa Hyukjae yakini bisa ia keluarkan dari tenggorokannya.

Hyung, Ayah tidak pergi, kan?”

Jantung Hyukjae seperti ditusuk pisau tajam ketika sebutan itu keluar dari bibir Donghae. Hyung, panggilan yang sudah sejak dulu ingin ia dengar dari Donghae akhirnya terdengar. Tapi, kenapa rasanya sesakit ini saat harusnya ia merasa senang akhirnya Donghae mau memanggilnya dengan sebutan Hyung?

“Aku hanya membencinya. Aku tidak memintanya untuk mati, lalu kenapa dia harus mati, hah? Kenapa dia selalu saja egois? Aku tidak…” Pada akhirnya Donghae pun kehilangan kata-katanya karena tak sanggup menahan kesedihan. Air matanya luruh begitu saja ketika melihat tubuh Presdir Lee di atas tempat tidur.

Tanpa mengucap sepatah kata pun Hyukjae menarik Donghae dalam pelukannya. Ia berusaha untuk tak menangis lagi karena saat ini ada satu orang yang sedang menangis, yaitu adiknya. Jika ia ikut menangis lagi, maka salah satu dari dirinya dan Donghae tidak akan yang menjadi tumpuan.

Youngwoon yang melihat kedua kakak beradik itu berpelukan sambil menangisi kematian ayahnya, hanya bisa berurai air mata dalam diam di ambang pintu kamar ICU.

***

Beberapa orang masuk ke sebuah ruangan yang cukup luas. Di bagian luar ruangan tersebut berjejer banyak karangan bunga tanda turut berduka cita dari kolega-kolega L Group Company. Berita meninggalnya Presiden Direktur dari perusahaan ternama di Seoul cukup mengejutkan banyak orang. Tak heran, bila orang yang datang untuk memberi penghormatan pada Persemayaman terakhir Presdir Lee yang dilakukan di Rumah Sakit tempat Presdir Lee dirawat sangat banyak.

Mereka semua datang dengan berpakaian serba hitam, memberi penghormatan beberapa detik pada Presdir Lee dan mengucapkan bela sungkawa pada Hyukjae dan Donghae yang sejak tadi berdiri tak jauh dari peti ayah mereka.

Hyukjae yang masih dilanda kesedihan cukup hebat terlihat lebih bisa mengendalikan diri karena dia harus membalas ucapan bela sungkawa dari rekan-rekan ayahnya. Ia berusaha untuk tersenyum menyambut mereka meskipun senyum itu terasa begitu berat.

Sedangkan Donghae…., ia tak bisa bila harus bersikap seperti itu. Jangankan untuk tersenyum, mengalihkan matanya dari lantai kayu yang ada di dekat kakinya saja ia enggan untuk melakukannya. Air mata yang beberapa jam lalu mengalir dengan derasnya kini memang sudah tak nampak lagi. Itu bukan karena ia sudah bisa menenangkan dirinya, melainkan karena ia berusaha menahannya.

“Hyukjae-ya, berikan penghormatan pada ayahmu sebelum diberangkatkan,” Kepala Bagian Han mendorong tubuh Hyukjae agar berdiri di depan foto ayahnya yang tersenyum hangat.

Sesaat setelah memberikan penghormatan terakhir pada ayahnya, Hyukjae seolah tak bisa berdiri lagi. Kedua lututnya terasa begitu lemas. Namun, dengan sisa tenaga yang ternyata masih ia miliki, Hyukjae berusaha berdiri dan berjalan kembali ke tempatnya.

“Donghae-ya, giliranmu,” ujar Hyukjae pelan pada Donghae.

Donghae menegakkan kepalanya dan berjalan ke tempat yang sebelumnya digunakan Hyukjae untuk memberikan penghormatan terakhir pada ayah mereka. Setelah melakukan hal yang sama seperti Hyukjae, Donghae berniat untuk segera berdiri, tapi ketika ia melihat foto ayahnya, air matanya kembali menetes. Dengan cepat ia menyekanya dan langsung berdiri. Ini jelas bukanlah sesuatu yang ia harapkan.

Beberapa jam kemudian tiba saatnya untuk membawa jasad Presdir Lee ke pemakaman. Hyukjae memegang salah satu pegangan peti yang ada di sisi kiri dan bersiap untuk berjalan. Namun, ketika ia dan beberapa orang yang membawa peti tersebut akan berjalan, ia baru menyadari bahwa laki-laki yang sudah berdiri di sisi kanan peti adalah Donghae. Hyukjae tak berkata apa-apa, ia hanya tersenyum tipis sambil melangkahkan kakinya.

Di luar rumah sakit, tak jauh dari barisan mobil mewah yang akan mengiringi mobil yang membawa peti Presdir Lee nampak Jung Ra yang berdiri di balik pohon. Pakaian gadis itu memang sudah serba hitam seperti yang lainnya, tapi sejak satu jam lalu ia sama sekali tak beranjak dari tempatnya. Ia sama sekali tak punya keberanian untuk masuk ke dalam sana meskipun ia sangat khawatir pada Donghae dan Hyukjae. Dan ketika melihat banyak orang yang keluar dari pintu besar dan menangkap sosok Donghae dan Hyukjae yang ikut membawa peti mati, Jung Ra langsung membekap mulutnya sendiri dengan kedua telapak tangannya. Dengan sangat jelas ia bisa melihat kedua mata Donghae yang membengkak dan merah, tatapan laki-laki itu juga terkesan kosong walaupun bisa berjalan dengan benar. Berbeda dengan Donghae, Hyukjae terlihat lebih tegar walaupun wajahnya terlihat sangat sedih.

Jung Ra tak bisa menyaksikan hal tersebut. Ini terlalu menyakitkan untuknya. Bisa Jung Ra pastikan, bila ia lebih lama berdiri di sana dan melihat banyak orang yang memasang wajah sedih seperti itu, ia tak akan bisa mengendalikan diri dan menangis. Maka dari itu, akhirnya Jung Ra memilih untuk meninggalkan tempat itu.

Yang memberitahu kabar meninggalnya Presdir Lee adalah Youngwoon. Dan sejak saat itu hati Jung Ra tidak tenang. Berbagai macam pikiran bercampur menjadi satu di dalam benaknya. Apakah Hyukjae baik-baik saja? Apakah Donghae baik-baik saja? Pertanyaan itu terus-menerus terdengar di telinganya. Namun, saat ia memutuskan untuk datang ke rumah sakit, ia justru tidak bisa melangkahkan kakinya ke sana. Ada semacam ketakutan yang melanda dirinya karena ia teringat akan kematian kedua orang tua kandungnya karena badai.

Ketika sampai di lantai dasar gedung apartemennya Jung Ra tak lantas naik ke lantai dua. Ia memilih untuk menghenyakkan diri pada salah satu anak tangga yang ada di lantai dasar tersebut. Beberapa saat ia terdiam di sana. Tak ada yang dia lakukan. Hanya diam. Berulangkali ia hanya menghela napas berat. Kedua matanya memandang anak tangga yang ada di dekat kakinya.

.

.

Hari beranjak malam. Hembusan angin yang selalu saja terasa dingin tak membuat Donghae yang memilih untuk pulang ke apaetemen setelah upacara pemakaman ayahnya selesai beberapa jam lalu mempercepat langkah kakinya. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana hitam yang ia kenakan. Dasi hitam yang sebelumnya terlihat begitu rapi kini sudah melonggar di lehernya. Rambut gelapnya yang terkena terpaan angin terlihat berayun lemas.

Kepala Donghae yang terus tertunduk sejak turun dari bus kini menegak ketika memasuki area depan gedung apartemen sederhananya. Niatnya untuk segera naik ke lantai dua terhenti saat mendapati seseorang sedang duduk di salah satu anak tangga dengan kepala yang tersandar di dinding pembatas dan mata yang terpejam. Donghae terkesiap saat menyadari seseorang itu adalah Jung Ra. Pakaian gadis itu serba hitam dengan pita kecil berwarna putih di dada kirinya.

“Jung Ra?” panggil Donghae dari bawah tangga.

Jung Ra yang ketiduran nampak sedikit tersentak mendengar seseorang memanggilnya.

“Lee Donghae?” Jung Ra langsung menegakkan kepalanya.

“Apa yang kau lakukan di sini? Kau tadi tidur, hm?” Donghae menaiki anak tangga hingga mencapai tempat Jung Ra duduk dan menghenyakkan dirinya di samping Jung Ra.

Jung Ra tak menjawab. Ia hanya menatap Donghae dengan tatapan sedih. Entahlah, rangkaian pertanyaan yang seharusnya Jung Ra ungkapkan pada Donghae seolah tak bisa dikeluarkan. Donghae yang seolah mengerti arti tatapan Jung Ra hanya bisa membuang wajahnya ke arah lain.

“Jangan menangis. Di sana aku sudah kenyang melihat puluhan orang yang meneteskan air mata tiap menitnya,” ujar Donghae tanpa memandang Jung Ra yang memang sudah terlihat akan menangis.

“Kau tidak apa-apa?” Akhirnya dengan susah payah Jung Ra bisa menanyakan apa yang ingin ia tanyakan pada laki-laki yang duduk di sampingnya.

Donghae tak menjawab. Ia hanya terus memandang ke arah depan meskipun tak ada yang bisa ia lihat di sana. Jawaban Aku tidak apa-apa pasti akan terdengar bodoh karena pada kenyataannya ia sama sekali tak seperti orang yang sedang baik-baik saja walaupun ia berusaha untuk tidak memperlihatkannya.

“Donghae Oppa…”

“Kau pasti tidak akan percaya kalau aku menjawab aku tidak apa-apa, kan?” Donghae melirik ke arah Jung Ra sekilas.

Jung Ra menitikkan air mata.

“Padahal masih ada satu orang lagi yang keadaannya jauh lebih menyedihkan dariku di sana. Seharusnya kau lebih mengkhawatirkan dirinya daripada diriku,” ujar Donghae sambil tertawa pelan.

Tangan Jung Ra terangkat dan langsung memukul kepala Donghae.

“Aku memang mengkhawatirkan dirinya, tapi yang ada di hadapanku sekarang adalah kau! Apakah kau menyuruhku untuk berpura-pura tidak peduli padamu?! Kau ini jahat sekali!” teriakan Jung Ra tenggelam dalam tangisannya. Ia tak percaya Donghae berpikiran seperti itu tentangnya. Laki-laki itu benar-benar bodoh!

“Aku sengaja menunggumu di sana sejak siang tadi hingga sekarang. Aku tidak peduli udara malam yang cukup dingin seperti ini, asalkan aku bisa melihatmu pulang kemari agar aku bisa menanyakan keadaanmu apakah kau baik-baik saja atau tidak. Aku bisa saja pergi mencarinya sejak tadi karena aku juga tahu kesedihannya pasti lebih besar darimu karena yang meninggal adalah ayah kandungnya. Tapi aku tidak berani. Aku tidak berani melakukannya karena aku tahu dia pasti sangat sibuk di sana. Dan kenapa aku justru menunggumu, itu karena aku tahu jiwamu benar-benar terguncang karena ayah yang kau benci ternyata sudah pergi untuk selama-lamanya. Asal kau tahu saja, Lee Donghae, mungkin kau bisa berkata pada orang lain kalau kau membenci ayahmu itu, tapi apa yang kulihat, kebencian yang kau rasakan itu hanyalah sebagai benteng kesedihanmu selama ini. Kau sangat menyayangi ayahmu meskipun ia sudah menyakiti hatimu. Aku tahu kau tidak pernah membencinya,” Jung Ra menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar setelah mengeluarkan semua yang ingin ia ucapkan pada Donghae. Disekanya air mata yang menetes dengan kasar. Ia baru akan kembali mengomeli Donghae ketika tiaba-tiba Donghae mendekat ke arahnya dan beberapa saat kemudian sesuatu yang hangat menyelimuti punggungnya.

Sebuah jas hitam. Jas hitam milik Donghae. Bahkan Jung Ra harus bertanya-tanya dalam hati sejak kapan laki-laki itu melepas jas yang dikenakannya?

“Sudah selesai? Apa ada lagi yang ingin kau katakan padaku, hm? Bukankah aku sudah pernah bilang padamu, kalau kau sedang mengkhawatirkan seseorang, jangan membuang akal sehatmu. Memangnya kau pikir dengan duduk di sini dari siang sampai malam seperti ini, bisa menjamin kamu tidak akan terkena demam? Apa kau lupa kalau aku melarangmu sakit? Dasar Gadis Otak Siput,” Donghae mencoba menasihati Jung Ra dengan lembut, seolah tak terpancing dengan omelan Jung Ra yang begitu menggebu-gebu padanya.

“Berhentilah menyebutku seperti itu. Aku sedang mengkhawatirkan kalian berdua. Kau dan Hyukjae pasti sedang dalam masa yang sulit. Iya, kan?” keluh Jung Ra lirih.

Donghae berdecak pelan sambil membenarkan letaka jasnya pada tubuh Jung Ra, kemudian berkata, “Kami memang dalam masa sulit, tapi aku pribadi tidak ingin menunjukkan hal itu di depanmu. Kalau Hyukjae, aku tidak tahu. Tapi aku yakin, dia juga akan bersikap sama sepertiku.”

“Kenapa?”

“Karena kau pasti akan berubah menjadi gadis bodoh yang suka mengomel bla bla bla sambil mencoba menghabiskan stok air matamu. Dan ternyata dugaanku tidak meleset, kan? Sekarang lihat dirimu. Ck… aku jadi bingung sebenarnya siapa yang sedang berduka, aku atau dirimu,” jawab Donghae yang ditanggapi Jung Ra dengan pukulan pelan di lengannya.

Donghae hanya terkekeh pelan sambil bangkit dari duduknya dan mengajak Jung Ra untuk naik ke lantai dua. Tangannya terulur di depan Jung Ra, menanti tangan Jung Ra untuk menyambutnya.

“Ini sudah malam. Kau juga harus istirahat. Kau pasti sangat lelah meskipun hanya duduk di sini seharian. Aku bahkan masih heran, bagaimana bisa kau duduk berjam-jam di sini. Kau tidak merasa ingin kencing atau yang lainnya?” kata Donghae yang beberapa saat kemudian Jung Ra hanya menerima uluran tangan Donghae dan berdiri tanpa menanggapi kata-katanya.

Mereka berdua diam membisu saat sudah sampai di lantai dua. Jung Ra memang tidak ingin berkata apa-apa lagi karena takut apapun yang ingin ia katakan mungkin saja akan membuat Donghae kembali merasa sedih. Melihat Donghae yang masih bisa bercanda saja sudah cukup melegakan baginya, meskipun sebenarnya ia tahu hati Donghae sedang sedih. Dan jauh di dalam hatinya, ia juga sangat mengkhawatirkan Hyukjae. Sampai saat ini ia belum menghubunginya untuk menanyakan keadaannya. Hati Hyukjae pasti yang paling terguncang sekarang. Ia memang berkata Donghae bahwa ia yakin Hyukjae pasti baik-baik saja, tapi sebenarnya ia tahu kenyataannya berbanding terbalik. Ia masih bisa mengingat bagaimana ekspresi wajah Hyukjae saat membawa peti masuk ke dalam mobil. Kesedihan yang tersirat di sana sangatlah jelas hingga membuat hati Jung Ra berdenyut nyeri.

Donghae menundukkan kepalanya sedikit untuk melihat Jung Ra walaupun hanya bisa melihat puncak kepala gadis itu. Kemudian matanya beralih pada tangan Jung Ra yang ada pada genggamannya. Telapak tangan gadis itu terasa sedikit kasar karena hampir setiap hari harus berkutat dengan keranjang-keranjang kayu ke mana-mana. Sebuah senyum samar yang beberapa detik lalu sempat terukir di bibirnya kini perlahan mulai memudar. Ada sejumput rasa sakit saat mengetahui gadis ini mengkhawatirkan dirinya dan Hyukjae. Donghae memang tidak ingin mengakui ini, tapi semakin lama rasanya semakin menyesakkan di dalam sana. Apalagi setiap kali ia harus menyadarkan dirinya bahwa perasaan Jung Ra terhadap Hyukjae bisa saja masih tersisa. Ayolah, Donghae tidak bodoh akan hal tersebut.

Senjata makan tuan. Mungkin itu adalah ungkapan yang tepat baginya karena apa yang sudah ia lakukan pada Jung Ra selama ini berbalik menyerang dirinya sendiri. Kau tidak akan lupa apa yang pernah dan selalu Donghae ucapkan pada Jung Ra, kan? Iya, benar sekali. Donghae dengan percaya diri berkata pada Jung Ra bahwa ia bisa membuat gadis itu menyukainya dalam waktu singkat. Mungkin Donghae tidak menyadari Jung Ra terkadang jatuh dalam setiap perlakuan dan kata-kata manisnya hingga membuat Jung Ra merasa gila sendiri. Tetapi, Donghae sangat menyadari apa yang dirasakan hatinya sendiri pada Jung Ra. Niat awalnya mendekati Jung Ra hanya untuk membuktikan pada Hyukjae bahwa ia bisa mendapatkan Jung Ra dengan usaha sendiri, kini justru membuahkan sebuah perasaan spesial di hatinya pada gadis itu seiring berjalannya waktu. Sebut saja Donghae sangat bodoh sudah membiarkan perasaan semacam itu menguasai dirinya.

“Selamat malam,” ucap Jung Ra pada Donghae saat mereka melewati depan pintu apartemen Donghae. Jung Ra berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Donghae. Namun, tanpa ia duga tangan Donghae justru menggenggamnya lebih erat dari yang sebelumnya.

“Ada apa? Apa kau ingin mengatakan sesuatu lagi?” tanya Jung Ra sambil menoleh ke belakang.

Donghae perlahan menegakkan kepalanya dan memandang Jung Ra. “Bisakah kau hanya khawatir padaku saja?”

permintaan yang terdengar sangat pelan itu hampir membuat Jung Ra mengernyitkan keningnya karena tidak bisa mendengarnya dengan cukup jelas.

“Apa?”

“Bisakah… kau hanya khawatir padaku saja, Go Jung Ra?” Donghae mengulanginya.

“Apa maksudmu? Bagaimana bisa aku hanya mengkhawatirkanmu sementara kakakmu—“

Belum sempat Jung Ra menyelesaikan kata-katanya, Donghae sudah menarik tangannya hingga membuatnya tersentak ke arah Donghae. Bahkan ia tak bisa berbuat apa-apa karena terkejut ketika Donghae memeluk pinggangnya dan mendorongnya ke pintu apartemen yang ada di belakangnya. Suara benturan kecil terdengar saat tubuhnya menabrak pintu yang tertutup sempurna itu.

“D-Donghae Oppa…”

“Bisakah kau hanya khawatir padaku saja, hm?” Donghae kembali mengulangi permintaannya dengan sungguh-sungguh. Tatapan matanya pada Jung Ra pun begitu dalam. Entah, Donghae sendiri pun juga tidak tahu kenapa ia bisa bertingkah seperti ini.

Jung Ra membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Donghae. Tapi, mendadak semua huruf yang sudah ia susun sedemikian rupa di dalam otaknya bersembunyi di suatu tempat yang jauh dari jangkauannya. Hasilnya, Jung Ra hanya bisa mengerjap-ngerjapkan kedua matanya dengan pelan dalam diam, membalas tatapan mata Donghae yang terlihat begitu sendu malam ini. Apakah adik Hyukjae itu masih dilanda kesedihan?

“Aku mencoba untuk tidak menghiraukannya, Go Jung Ra. Tapi lama-lama aku tidak bisa menahannya,” ucap Donghae lirih, seolah ia sudah lelah akan sesuatu.

“A-apa maksudmu? Yaa, Donghae Oppa, sepertinya kau—“

Gagal. Jung Ra kembali gagal menyelesaikan kata-katanya karena tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang dingin dan lembut mengunci bibirnya. Jantunganya spontan berdegup kencang dan hampir lepas dari tempatnya.

Donghae…. Donghae menciumku? Mencium bibirku? Sekarang? Malam-malam seperti ini?

Di saat pertanyaan-pertanyaan itu datang silih berganti di kepalanya, tanpa Jung Ra sadari tangan Donghae yang sejak tadi memeluk pinggangnya kini naik dan memegang tengkuk dan wajahnya. Usapan lembut tangan Donghae pada tengkuknya, membuat Jung Ra lama-lama terhanyut akan keadaan yang sedang terjadi di antara mereka. Jung Ra memejamkan kedua matanya dengan perlahan, tangannya mencengkeram erat kemeja bagian depan Donghae.

Drrrt… drrrt… drrrt…

Dan akhirnya bunyi getar ponsel yang ada di saku Donghae mengakhiri segalanya. Donghae yang baru akan memperdalam ciumannya seketika menjauhkan wajahnya dari Jung Ra. Sedangkan Jung Ra yang nampak terkejut setengah mati karena tidak percaya apa yang baru saja mereka lakukan hanya bisa membelalakkan kedua matanya. Ia kembali merasakan degup jantungnya yang cepat padahal beberapa detik lalu ia sama sekali tak merasakannya.

“Masuklah. Ini sudah malam,” perintah Donghae sambil menyandarkan tangannya pada pintu apartemennya.

Jung Ra yang masih belum mengumpulkan semua kesadarannya hanya bisa mengangguk dan berjalan cepat ke arah apartemennya sendiri. Bahkan saat ia mencoba memasukkan kunci ke dalam lubang kunci yang ada di pintu pun, tangannya nampak gemetar. Namun, dengan cepat Jung Ra terus berusaha membuka pintunya hingga akhirnya pintu tersebut terbuka. Tanpa berkata apa-apa, Jung Ra langsung melesat masuk ke dalam apartemen dan menutup pintu dengan sedikit kencang.

Donghae yang melihatnya dari depan apartemennya sendiri hanya bisa menundukkan kepala dan menghela napas berat sambil masuk ke dalam. Dihempaskannya tubuhnya ke atas tempat tidur dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Ada perasaan menyesal yang menggelayutinya saat ia sadar apa yang sudah ia lakukan pada Jung Ra adalah sesuatu yang seharusnya tidak ia lakukan.

Seharusnya ia tidak membiarkan gejolak di hatinya menguasai dirinya hingga harus mencium Jung Ra. Donghae tertawa sambil membenamkan wajahnya pada bantal yang ada di dekatnya. Ia menertawakan kesalahan yang baru saja ia perbuat di saat seharusnya ia masih dalam suasana berkabung karena kematian ayahnya, Presdir Lee. Kalau sudah begini, bagaimana ia harus bertatap muka dengan Jung Ra besok? Apakah gadis itu akan marah besar padanya karena sudah kurang ajar menciumnya?

Drrt… drrrt….

Ponselnya kembali bergetar. Dengan sedikit menggerutu Donghae merogoh saku celananya untuk mengambil ponelnya. Dilihatnya ada dua pesan yang isinya sama.

[Besok pulanglah ke rumah. Ada sesuatu yang harus dibicarakan denganmu dan Hyukjae. Aku sudah menghubungi Hyukjae dan dia bilang dia akan datang bila kau juga datang. Jadi, besok kau harus datang]

Pesan dari Kepala Bagian Han itu hanya dipandangi Donghae beberapa saat sebelum pada akhirnya ia mencari nama Hyukjae di daftar kontak yang ada di ponselnya. Ia harus menghubungi Hyukjae.

Ada apa?” Suara Hyukjae terdengar tenang seperti biasa. “Apa kau baik-baik saja?

Donghae mendengus pelan kemudian berkata,” Kita tidak sedang baik-baik saja, Hyukjae-ya. Kematian Ayah benar-benar membuat kita tidak baik-baik saja.”

Aku senang akhirnya kau mau memanggilnya dengan sebutan itu.”

“Tapi aku tidak senang karena aku harus memanggilnya dengan sebutan itu saat dia sudah pergi. Konyol sekali, kan?” Kesedihan itu muncul kembali pada diri Donghae

Donghae-ya…”

“Kalau sudah begini, siapa lagi yang harus kubenci, hah? Satu-satunya orang yang kubenci selama sepuluh tahun ini adalah Ayah, Hyukjae-ya. Dan sekarang dia sudah tidak ada lagi. Kalau aku masih harus membencinya, itu sama saja aku membuang tenagaku untuk melakukan hal yang sia-sia,” Suara Donghae tercekat. Ada sesuatu yang mendesak ingin keluar, namun Donghae langsung memejamkan matanya.

Kau ada di mana?” Hyukjae terdengar khawatir.

“Sudahlah. Sebaiknya kau istirahat saja. Kau pasti sangat lelah bertemu dengan orang-orang sebanyak itu,” jawab Donghae.

Yaa, Donghae-ya…”

“Aku ada di apartemenku. Aku tidak mabuk. Jangan berpikiran untuk datang kemari karena bisa kupastikan aku tidak akan membukakan pintu untukmu. Sudahlah, aku juga ingin tidur,” bantah Donghae yang berniat akan mengakhiri pembicaraan mereka. Namun saat ia teringat sesuatu, buru-buru ia memanggil Hyukjae lagi.

“Hyukjae-ya, kau masih di sana?”

Tak ada respon apapun dari Hyukjae.

Hyung, kau masih di sana?” Tanpa sadar Donghae memanggil Hyukjae dengan sebutan Hyung untuk yang kedua kalinya.

Kini terdengar tawa pelan di seberang telepon sana,” Aku sebenarnya masih sedih dengan kematian Ayah, tapi aku senang karena akhirnya kau mau memanggilku Hyung.”

“Kau… besok pulang ke rumah?” Donghae mengutarakan tujuannya menghubungi Hyukjae.

Kalau kau datang, aku juga akan datang,” jawab Hyukjae.

“Apa mereka akan mengumumkan surat wasiat yang dibuat Ayah? Apa itu tidak terlalu terburu-buru? Bahkan Ayah baru saja dimakamkan siang tadi.”

Entahlah. Mungkin ada sesuatu yang harus kita ketahui karena kudengar nada suara Kepala Bagian Han benar-benar serius. Jadi kau akan pulang?

“Iya. Sebenarnya aku tidak mau, tapi karena penasaran, aku akan pulang,” jawab Donghae.

Baiklah. Kalau begitu kita pulang ke rumah bersama. Kita pulang ke rumah, Donghae-ya.

To be continued

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: