FRUIT LOVE [20A/20B]

hyuk2_副本

FRUIT LOVE
[THE ENDING 1/2]

Chaptered FF

Author : Nita Henny

Cast : Go Jung Ra (OC) – Lee Donghae – Lee Hyukjae

Kim Ryeowook – Kim Youngwoon

Genre : Romance, Family, Brothership

Rating : PG-14

Note :
FF Ini udah pernah kupublish di blogku sendiri. Dulu, udah lama. Dan sekarang aku coba kirim ke sini hehehe.
You can visit my blog === >>> https://imajinasinita.wordpress.com/

Happy reading ~~~~

============================

Hampir sepuluh menit Donghae dan Hyukjae terdiam di dalam mobil. Tidak, bukan mereka berdua, melainkan hanya Donghae saja yang sama sekali tak memiliki niat untuk beranjak dari tempatnya. Kedua matanya memandang lurus ke arah rumah yang besar dan mewah yang ada di depan mobil Hyukjae.

Sepuluh tahun berlalu sudah. Segala sesuatu yang ada pasti akan berubah, tak akan sama seperti dulu. Namun, bagi Donghae, rumah yang dulu pernah ia tinggali bersama dengan mendiang ibunya, Hyukjae dan Presdir Lee, ayah tirinya yang kini juga pergi untuk selamanya nampak tak memiliki perubahan sedikit pun. Ia masih bisa melihat sosok dirinya yang berseragam sekolah berlari mengejar Hyukjae yang lebih dulu darinya masuk ke dalam rumah, kemudian mendiang ibunya yang menyiram pot-pot bunga yang ada di dekat kolam ikan dan mendiang Presdir Lee yang selalu pulang tiap malam dengan wajah lelah.

Semua itu adalah sebagian kenangan indah yang tersimpan begitu rapi di benak Donghae sebelum semuanya hancur sepuluh tahun lalu. Bila sekarang Donghae harus mengingatnya, diam-diam hatinya akan terasa lebih sakit lagi karena orang yang seharusnya bertanggung jawab atas kebencian yang ia pertahankan selama sepuluh tahun ini sudah pergi jauh dan tak akan kembali lagi.

“Apa aku harus masuk ke sana?” gumam Donghae lirih.

“Kau harus masuk ke sana karena itu adalah rumahmu. Ayo.” Hyukjae akhirnya membuka pintu mobil yang ada di sampingnya dan keluar. Ketika ia berjalan beberapa langkah, ia terpaksa berhenti karena menyadari adiknya itu masih belum keluar dari mobil. Ditolehkan kepalanya ke belakang, memandang Donghae dari balik kaca mobil bagian depan. Perlahan ia menganggukkan kepalanya, mencoba meyakinkan Donghae untuk segera keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah bersama-sama.

Donghae menghembuskan napas dengan berat saat ia merasa kalah dengan tatapan mata Hyukjae di luar sana. Kali ini ia akan mempercayai Hyukjae. Setelah melepaskan sabuk pengamannya, Donghae lantas keluar dari mobil dan menghampiri Hyukjae.

Hyukjae hanya menepuk pelan bahu Donghae sebelum mengajaknya masuk ke dalam rumah. Sesaat setelah mereka berdua berada di dalam, Donghae disuguhkan oleh rekaman memori masa lalunya yang kembali terputar di hadapannya.

Tak jauh dari tempatnya berdiri terdapat sebuah peti mati berwarna coklat yang mana di atasnya terdapat bingkai foto mendiang ibunya yang tersenyum hangat. Sosok dirinya yang sedang terduduk lemas di dekat peti nampak menangis sesenggukan dengan kepala tertunduk.

Memori itu… sangat menyakitkan baginya. Terlebih saat ia melihat ayahnya yang sudah turun dari tangga dan berteriak melarangnya untuk tidak mendekati peti mati ibunya. Bahkan dadanya kembali merasa sesak meliht ayahnya menampar sosok dirinya yang masih berusia delapan belas tahun di hadapan semua orang, menuduhnya telah membunuh ibunya sendiri dan mengusirnya.

Donghae menggerakkan kedua matanya mengikuti sosok dirinya yang berjalan melintas di depannya menuju pintu utama yang terbuka lebar. Ia juga bisa melihat Hyukjae yang hanya membisu di dekat pintu tanpa melakukan apa-apa untuk menolongnya. Raut wajah Hyukjae saat itu benar-benar ketakutan.

“Donghae-ya?”

Panggilan Hyukjae menyentakkan Donghae dari lamunannya. Bayangan memori masa lalunya menghilang begitu saja. Tak ada peti mati mendiang ibunya, tak ada sosok dirinya yang menangis, tak ada ayahnya yang begitu mengerikan, tak ada Hyukjae yang sama sekali tak bisa menolongnya, tak ada orang-orang yang memandangnya sambil berbisik-bisik ke arahnya. Semua itu hilang, menyisakan ruangan luas yang sunyi dan hanya terdengar suara dentang jarum jam dinding bergaya kuno yang baru saja menunjukkan pukul sebelas siang.

“Kau tidak apa-apa?”tanya Hyukjae yang nampak cemas melihat Donghae terdiam di tengah-tengah ruangan dengan wajah sedih.

Donghae hanya membuang napas pelan sambil menundukkan kepalanya. Donghae tak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa tempat ini menyimpan banyak kenangan indah dan pahit secara bersamaan. Dan itu sangat berpengaruh pada dirinya saat ini.

“Kau masih bisa menyebut ini adalah rumahku?” ucap Donghae pelan sambil memandang Hyukjae.

Untuk beberapa detik Hyukjae hanya menatap Donghae hingga akhirnya ia mengangguk.

“Ini adalah rumahmu. Dari dulu hingga sekarang rumah ini adalah rumahmu.”

Donghae hanya mendengus pelan sambil melangkahkan kakinya ke arah lain, melihat-lihat tiap sudut di dalam rumahnya hingga mendadak kakinya berhenti ketika ia melihat sebuah pintu geser berwarna coklat yang tak jauh darinya.

Pintu itu… adalah pintu dari ruang kerja ayahnya. Sebuah ruangan yang sejak kecil selalu membuat Donghae penasaran karena Hyukjae pernah berkata padanya bahwa ruangan itu adalah ruangan rahasia ayah mereka. Donghae baru akan menoleh ke belakang untuk bertanya pada Hyukjae tentang ruang kerja ayahnya tersebut ketika ia tak mendapati sosok kakaknya sudah tak ada di belakangnya lagi. Kepalanya mendongak ke atas saat mendengar derap langkah seseorang yang menaiki tangga ke lantai dua.

Donghae menghela napas ketika menyadari suara langkah di tangga itu adalah suara sepatu milik Hyukjae. Tanpa memiliki niat untuk menyusul Hyukjae ke atas, Donghae memilih untuk mendekati ruang kerja ayahnya. Ada keraguan yang menyerang dengan tiba-tiba saat tangannya sudah menyentuh pegangan pintu dan siap untuk membukanya.

Apakah ia harus membukanya? Apakah ia harus masuk ke dalam sana dan melihat-lihat? Sebenarnya Donghae tak ingin melakukannya, tapi bagian lain dari dirinya memaksanya untuk masuk ke dalam hingga akhirnya Donghae memutuskan untuk membuka pintu tersebut.

Gelap. Dingin. Ya, dua kata itu mungkin adalah penggambaran yang tepat untuk menjelaskan bagaimana keadaan isi ruang kerja mendiang ayahnya. Semua korden yang berwarna merah bata menutupi seluruh jendela kaca berukuran besar yang hampir mengelilingi ruangan itu. Meskipun begitu masih ada sedikit cahaya matahari siang yang berhasil menyeruak di balik korden-korden tersebut.

Donghae melangkah masuk. Dan bersamaan dengan itu aroma bunga lavender menusuk kedua lubang hidungnya. Aroma ini… aroma favorit mendiang ibunya. Aroma yang bisa membuat orang merasa tenang. Memang benar apa kata ibunya, saat ini Donghae terpaksa merasa tenang karena aroma bunga lavender itu ada di setiap sudut ruangan.

Tangan Donghae menyibak salah satu korden besar yang ada di belakang meja kerja ayahnya. Seketika sinar matahari menyeruak masuk hingga membuat Donghae terpaksa mengangkat tangannya untuk menutupi kedua matanya yang tertimpa sinar matahari. Kepalanya menoleh ke belakang, melemparkan pandangannya ke semua sudut ruangan yang kini bisa ia lihat dengan jelas.

Tak ada yang berubah. Semua yang sering ia lihat sejak kecil sama sekali tak ada yang berubah. Kesukaan ayahnya akan segala sesuatu yang harus detail dan rapi tertuang di dalam ruangan ini. Tatanan setiap benda yang ada di ruangan ini begitu rapi hingga siapapun yang melihatnya pasti akan berdecak kagum.

Begitu juga dengan meja kerja yang ada di dekat Donghae. Meja itu terlihat begitu bersih, mungkin pembantu yang ada di rumah ini selalu membersihkannya tiap pagi dan sore. Jemari Donghae menelusuri tepi meja tersebut hingga kedua matanya tanpa sengaja melihat laci yang ada di bawah meja. Laci-laci tersebut berjumlah tiga di mana dua diantaranya sudah pernah dibuka olehnya saat ia berusia lima belas tahun. Di dalam laci-laci tersebut hanya berisi dokumen-dokumen kantor yang sama sekali tak ia kenal.

Donghae menarik kursi yang ada di belakang meja dan menghenyakkan dirinya di sana. Tubuhnya sedikit membungkuk untuk membuka laci yang paling atas. Tak ada yang istimewa di dalam laci tersebut. Seperti dugaannya, hanya ada kertas-kertas bergambar grafik tidak jelas. Kemudian ia beralih pada laci kedua di mana lagi-lagi isinya hanya berupa map-map kosong dan beberapa surat keputusan mengenai laporan perusahaan.

Donghae terpaksa membungkukkan tubuhnya lebih ke bawah lagi karena tangannya sedikit kesulitan untuk menggapai laci yang paling bawah. Tak dapat dibuka. Laci tersebut satu-satunya laci yang tak bisa ia buka karena terkunci. Kening Donghae berkerut. Ia baru ingat hanya laci ini yang sejak dulu tak bisa ia buka.

Donghae baru akan menegakkan kepalanya untuk mencari kuncia laci tersebut ketika ia melihat sebuah paku kecil di bawah meja di mana di paku tersebut terdapat sebuah kunci kecil yang menggantung.

Sebuah kunci?

Apakah kunci berwarna kuning tersebut adalah kunci dari laci yang tak bisa ia buka? Tanpa membiarkan rasa penasarannya terbuang sia-sia akhirnya Donghae mengambil kunci tersebut dan memasukkannya ke dalam lubang kunci yang ada di laci.

Klek~

Perlahan Donghae menarik pegangan laci tersebut hingga terbuka hampir setengah bagian, memperlihatkan isinya yang membuat Donghae tercengang seketika. Donghae membeku di tempatnya. Kedua matanya tak berkedip memandang isi dari laci tersebut yang ternyata berisi benda-benda yang sama sekali tak asing baginya.

Kantong plastik bermotif lucu yang berisi sebuah sapu tangan, sepasang kaus kaki untuk musim panas, sebuah sarung tangan tebal berwarna coklat, sebuah dasi berwarna abu-abu bermotif kotak-kotak, sebuah kotak berukuran kecil yang berisi pena berwarna kuning keemasan, dan beberapa benda lain yang Donghae yakini semua itu adalah miliknya.

Tidak. Semua itu bukan miliknya, tapi lebih tepatnya milik ayah kandungnya yang ia berikan pada Presdir Lee sebagai hadiah ulang tahun di tiap tahunnya. Ya, benda-benda itu adalah hadiah ulang tahun pemberiannya yang ia pikir tidak akan pernah disimpan oleh ayah tirinya itu.

Tapi…. sekarang… Apa ini? Apa yang sedang didapatinya ini? Kenapa benda-benda ini masih ada? Bukankah sejak usianya menginjak tiga belas tahun, ayahnya itu sudah tak mau lagi melihatnya? Bukankah sejak saat itu hadiah ulang tahun yang coba ia letakkan di atas meja pada tengah malam selalu lenyap di pagi harinya?

Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi kepala Donghae.

“Ya, memang benar. Ayahmu menyimpan semua hadiah ulang tahun yang kau berikan padanya dulu.”

Donghae tersentak mendengar suara seseorang dari arah pintu ruang kerja ayahnya. Dilihatnya di ambang pintu sudah berdiri Kepala Bagian Han yang memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Tentu saja ucapan Kepala Bagian Han membingungkan Donghae. Apa maksudnya?

Kepala Bagian Han yang menyadari arti raut wajah Donghae hanya berjalan mendekat ke arah meja. Tidak. Pria berjas hitam itu tidak menghentikan langkah kakinya di dekat meja. Ia nampak menghampiri jendela kaca besar yang ada di belakang meja dan berdiri di sana. Ada sejumput rasa menyesal di wajahnya ketika keadaan yang terjadi saat ini sama sekali tidak ia duga.

“Dia… ternyata adalah orang yang benar-benar keras kepala,” ungkap Kepala Bagian Han setelah sejenak terdiam memandang taman yang terlihat dari balik kaca. Taman yang dulu dibuat untuk memenuhi keinginan ibu Donghae yang memiliki hobi merawat bunga.

“Aku sama sekali tidak mengerti apa maksud Ahjussi berkata seperti itu. Kenapa seolah aku melewatkan sesuatu yang terjadi di belakangku dulu? Dan ini… Kenapa semua ini masih ada di rumah ini?” Donghae memandang benda-benda yang sudah menjadi penghuni laci meja kerja ayahnya selama lebih dari sepuluh tahun itu. Tanda tanya besar menghiasi wajah dan pikirannya saat ini.

Kepala Bagian Han tersenyum miris. Dia bisa saja menjawab pertanyaan Donghae dengan mudah andai Presdir Lee masih hidup. Tetapi… ini berbeda. Rasanya ada beban yang sangat berat sedang menimpa kedua bahunya saat ini.

Ahjussi?” Donghae bangkit dari duduknya dan menghampiri Kepala Bagian Han yang kembali membisu. Dilihatnya bawahan mendiang ayahnya itu begitu sendu menatap taman di balik kaca jendela yang ada di hadapannya.

“Ayahmu… sangat menyayangimu, Donghae-ya. Dia sangat menyayangimu,” ucap Kepala Bagian Han lirih tanpa menoleh ke arah Donghae.

“Apa maksud Ahjussi? Kalau dia menyayangiku seharusnya…”

“Seharusnya dia tidak mengusirmu dari rumah, itu kan? Seharusnya dia tidak menuduhmu telah membunuh ibumu sendiri, itu kan?” Kini Kepala Bagian Han memandang Donghae.

“Tidak. Bukan itu,” bantah Donghae dengan nada suara yang begitu dingin, membuat dahi Kepala Bagian Han berkerut.

“Kalau dia menyayangiku seharusnya dia tetap mau memandang wajahku dan menganggapku ada di rumah ini setelah peringatan kematian Hyuk Shin. Asal Ahjussi tahu saja, bahkan sampai sekarang pun aku masih belum mengerti kenapa Ayah tidak mau memandang wajahku,” tambah Donghae.

“Itu karena kedua matamu yang begitu mirip dengan Hyuk Shin. Tidak hanya kedua matamu, tapi juga sosok dirimu yang begitu mirip dengan Hyuk Shin. Presdir Lee sangat menyayangi putra bungsunya itu. Bahkan ia rela pulang ke rumah di tengah-tengah rapat yang harus ia pimpin hanya karena mendengar kabar Hyuk Shin terjatuh dari sepeda. Kasih sayang yang diberikan olehnya pada Hyuk Shin sangatlah besar, Donghae-ya. Dan kenyataan yang harus dia terima bahwa Hyuk Shin meninggal dalam dekapannya ketika dokter tak bisa menyelamatkan nyawa anak itu, benar-benar membuatnya terpukul. Kematian ibu Hyuk Shin saja belum bisa diterima olehnya dan saat itu ia harus kehilangan putra bungsunya itu.”

Mata Kepala Bagian Han menerawang jauh, menembus diri Donghae yang ada di sampingnya.

“Lalu kenapa aku yang dijadikan pelampiasan, Ahjussi?” Suara Donghe tercekat. Apa yang baru saja didengarnya seolah menyentakkan hatinya hingga secara tidak langsung ia bisa merasakan kesedihan mendalam yang dirasakan ayah tirinya. Namun, sakit hati yang dideritanya selama sepuluh tahun ini seolah memiliki volume yang lebih besar dibanding rasa simpati itu.

“Kenapa aku yang tidak tahu apa-apa harus menerima perlakuan menyakitkan itu hanya karena ada sosok Hyuk Shin di dalam diriku? Dia boleh saja tidak bisa melepas kepergian Hyuk Shin, tapi kenapa harus membuatku merasa seolah aku yang bersalah?” lanjut Donghae.

Kepala Bagian Han membuang napas dengan berat dan menundukkan kepala sesaat sebelum kembali menegakkannya untuk memandang taman.

“Dia tidak bermaksud untuk menjadikanmu pelampiasan, Nak. Dia hanya tidak tahu harus bersikap bagaimana padamu. Di satu sisi dia selalu merasa rindu pada Hyuk Shin tiap kali melihatmu dan hal itu membuatnya semakin sulit untuk melepaskan kepergian Hyuk Shin. Tetapi di sisi lain dia juga merasa bersalah karena selalu membuatmu sedih.”

“Kemudian dia menganggap caranya menghindariku dan mendiamkanku tiap kami berada di rumah adalah hal yang benar, begitu? Ahjussi, setiap hari aku selalu bertanya pada diriku sendiri, apakah aku sudah melakukan kesalahan hingga dia enggan untuk melihatku.”

Donghae bisa merasakan ada emosi di setiap tarikan napasnya.

“Tapi lepas dari semua itu, dia sangat menyayangimu sebagai seorang Lee Donghae bukan karena ada sosok Hyuk Shin di dalam dirimu,” ujar Kepala Bagian Han sambil menyentuh bahu Donghae.

“Tapi bagiku itu tetap saja salah, Ahjussi!” Nada suara Donghae mendadak meninggi bersamaan dengan satu titik air mata jatuh dari matanya.

“Apakah di sebegitu bodohnya hingga tidak bisa membedakan diriku dan Hyuk Shin, hah? Aku dan Hyuk Shin bukanlah anak yang sama seperti yang ada di pikirannya! Dan juga apa Ahjussi bilang tadi? Sebenarnya dia menyayangiku? Dengan menuduhku sebagai pembunuh Eomma dan mengusirku dari sini, apakah itu caranya memberikan kasih sayang padaku? Sebenarnya siapa yang gila di sini?”

Kepala Bagian Han tertawa pahit sambil kembali membuang pandangannya ke arah taman. “Ya… yang gila adalah ayahmu, Nak. Dia yang gila. Dia mencintai dua orang dalam waktu yang sama saat itu. Kau dan ibumu. Dan kematian ibumu yang mendadak itu kembali membuat hidupnya hancur.”

“Lalu dia kembali menjadikanku pelampiasan perasaannya yang hancur karena kematian Eomma, begitu? Apa dia tidak memikirkan perasaanku sedikit saja?! Yang meninggal itu bukan saja istrinya, tapi juga ibuku, Ahjussi! Aku yang melihatnya berdiri di tepi atap gedung malam itu! Aku yang melihatnya menangis tersedu-sedu di sana! Aku yang mencoba menarik tangannya saat ia berusaha melompat dari atap! Aku juga yang melihat sendiri bagaimana tubuh Eomma terhempas ke bawah sana! Bukan dia, Ahjussi. Bukan dia.”

Tangan Donghae bergerak menyeka air matanya yang kembali jatuh dengan kasar.

Kepala Bagian Han berjalan ke arah kursi yang ada di belakang meja kerja Presdir Lee dan menghenyakkan diri di sana. Disandarkannya punggung dan kepalanya pada punggung kursi sambil menghela napas berat.

“Rasa penyesalan itu selalu datang di akhir cerita, Nak. Ayahmu baru merasakan penyesalan itu setelah ia sadar ia sudah melakukan kesalahan dengan menuduhmu dan mengusirmu dari sini. Sehari setelah ibumu dikremasi, ayahmu mengunci dirinya di sini, menghabiskan banyak minuman alkohol dan membodohi dirinya sendiri karena telah membuatmu pergi. Andai saja Hyukjae tidak membuka paksa pintu itu…” Kepala Bagian Han menatap pintu geser ruang kerja Presdir Lee yang sedikit terbuka. Ingatannya berlari pada kejadian sepuluh tahun lalu di saat ia dan Hyukjae menemukan Presdir Lee terkapar di atas lantai dengan gelas kaca yang ada di genggaman tangannya dan beberapa botol minuman beralkohol yang sudah kandas isinya.

Setelah menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan, Kepala Bagian Han kembali melanjutkan kata-katanya yang sempat terhenti, “Dia tahu kau pasti merasa sangat marah padanya. Bahkan dia tahu kau pasti akan membencinya untuk waktu yang cukup lama. Maka dari itu ia menyuruh Youngwoon untuk terus menjagamu dan mengikutimu ke mana pun kau ingin pergi sepuluh tahun ini. Dia terus memberikan uang pada Youngwoon untuk memenuhi semua keperluan hidupmu. Bahkan ketika kau meminta Youngwoon untuk mencarikanmu tempat tinggal, ayahmulah yang menyuruh Youngwoon untuk memilihkan apartemen sederhana yang dekat dengan kedai ramyun karena dia tahu kau sangat menyukai makanan itu.”

Donghae membeku di tempatnya. Kebenaran apa lagi ini? Jadi selama ini uang yang ia terima dari Youngwoon adalah pemberian ayahnya?

“Pembeli yang selalu datang ke toko buahku… apa dia juga yang…” Donghae tak melanjutkan kata-katanya setelah melihat Kepala Bagian Han menganggukkan kepalanya dengan pelan. Sebenarnya pertanyaan itu muncul begitu saja di benak Donghae karena ia pikir tidak mungkin ayahnya sampai melakukan hal seperti itu padanya. Namun ketika Kepala Bagian Han menganggukkan kepala, seolah Donghae merasakan dadanya dihantam oleh batu yang sangat besar. Ia menemukan jawabannya. Dan itu terasa sangat menyakitkan untuknya.

“Kenapa dia melakukan semua itu? Kenapa, Ahjussi? Kenapa dia harus melakukan semua itu padaku?” Suara Donghae kini terdengar begitu lemah.

“Karena dia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Kebencian yang kau berikan padanya seolah ia jadikan hukuman yang harus ia terima. Mungkin semua yang sudah ia lakukan secara diam-diam untukmu itu adalah sebagai bentuk permintaan maafnya meskipun ia tahu kau tidak akan bisa memaafkannya.”

Kepala Donghae menunduk seketika. Kedua tangannya mengepal di kedua sisi tubuhnya. Sesuatu mendesak ingin keluar dari matanya, dan Donghae tak mau lagi menahannya. Dibiarkannya titik-titik air mata menetes menghiasi kedua pipinya hingga akhirnya air mata bening itu mengalir dengan deras di sana.

Apa yang dikatakan Kepala Bagian Han memang benar. Ia memang tidak akan pernah bisa memaafkan kesalahan yang sudah dilakukan ayahnya padanya dulu. Namun setelah mengetahui perhatian diam-diam yang diberikan ayahnya selama sepuluh tahun ini seolah membuat Donghae semakin sulit untuk memberikan kata maaf.

Tidak. Ia bukannya semakin sulit untuk memberikan kata maaf, melainkan hatinya sudah terlanjur perih kali ini. Kebaikan-kebaikan yang sudah diberikan ayahnya seakan terasa hambar karena kini sosok ayahnya itu telah tiada. Ia tak bisa berteriak sendiri di depan ayahnya, bertanya kenapa harus begini, kenapa tidak langsung meminta maaf saja padanya dan menyuruhnya untuk pulang. Ia tidak bisa meluapkan semua emosi yang menumpuk di dalam kepalanya.

“Aku hanya menyesal melihat ayahmu memilih jalan yang salah untuk membuktikan rasa sayangnya pada kalian berdua. Di sini aku menyadari, bukan hanya anak-anak yang melakukan kesalahan, orang tua seperti ayah kalian pun bisa melakukan kesalahan. Tapi sayangnya, kematian membuatnya tidak sempat untuk memperbaiki kesalahannya itu dengan benar,” tukas Kepala Bagian Han.

Tanpa disadari Kepala Bagian Han dan Donghae, Hyukjae ternyata sudah berdiri di balik pintu ruang kerja Presdir Lee sejak beberapa saat yang lalu. Ia mendengar semuanya. Semua yang dikatakan oleh Kepala Bagian Han pada Donghae. Jangankan Donghae, ia sendiri pun juga sangat terkejut mendengar kebenaran itu.

Disekanya air mata yang kembali menitik. Bibirnya terkatup dengan sangat rapat hingga ia merasa tak akan bisa lagi menggerakkan bibirnya untuk berbicara.

 

Dalam diam Donghae dan Hyukjae duduk berdampingan di salah satu sofa besar yang ada di ruang tengah. Youngwoon juga hadir di dalam ruangan yang cukup luas tersebut bersama Kepala Bagian Han dan beberapa kerabat keluarga yang tidak terlalu dikenal oleh Donghae dan Hyukjae. Beberapa orang berpakaian formal nampak membicarakan sesuatu dengan suara yang hampir tak bisa didengar di depan Donghae dan Hyukjae. Bila Hyukjae harus mengingat siapa saja mereka, mungkin hanya ada satu orang yang ia kenal. Pria berjas putih gading itu. Terakhir kali ia melihatnya adalah di kantor, di ruangan ayahnya. Dia adalah pengacara perusahaan bernama Hwang Sung Gyeol.

Tak berapa lama pengacara tersebut memulai pembicaraan dengan kata-kata formal yang sudah biasa ia lakukan hingga akhirnya ia mengeluarkan secarik kertas dari dalam kopornya. Sambil membenarkan letak kacamatanya, ia mulai membaca tulisan yang ada di kertas tersebut.

Sebuah surat wasiat.

“Apakah ini tidak terlalu terburu-buru untuk membacakan surat seperti itu saat ini?” cela Hyukjae yang mendapat tatapan kurang bersahabat dari Kepala Bagian Han.

“Mendiang Presdir Lee memintaku untuk segera membacakannya di depan kalian sehari setelah ia meninggal. Sebenarnya aku tidak mengharapkan beliau pergi secepat ini,” jawab Pengacara Hwang.

“Apakah dia mendapat firasat bahwa dia akan segera meninggal?” Donghae mengeluarkan suaranya meskipun sejak tadi kedua matanya hanya memandang meja kaca yang ada di hadapannya.

Hyukjae tak bisa menjawab karena dugaan itu juga ada di benaknya. Ia memang curiga dengan kedatangan Pengacara Hwang di kantor saat itu, tapi ia tak sampai memiliki pikiran bahwa ayahnya sedang membahas masalah surat waisat dengan orang tersebut.

“Bisa kulanjutkan?” tanya Pengacara Hwang. Kepala Bagian Han mengangguk padanya.

Setelah memandang Donghae dan Hyukjae untuk beberapa detik, Pengacara Hwang kembali melanjutkan membaca surat yang dibuat oleh mendiang Presdir Lee, “… Saham terbesar di L Group Company sebanyak 80% yang merupakan milikku akan kuberikan pada kedua putraku, Lee Hyukjae dan Lee Donghae sama rata. Aset harta yang selama ini kumiliki juga akan kubagi sama rata pada kedua putraku.Posisi Presiden Direktur akan dipegang oleh Hyukjae sementara waktu hingga Rapat Utama digelar. Royal Family Restaurant, aku akan mempercayakan tempat itu untuk dikelola oleh Hyukjae karena dia sudah berpengalaman dalam bidang keuangan dan bisnis.

Hyukjae memejamkan matanya dan menundukkan kepalanya. Rasannya ia ingin sekali menangis mendengar ada kata kedua putraku, Lee Hyukjae dan Lee Donghae di dalam surat wasiat itu. Jujur saja, kata-kata itu lebih berarti dibandingkan dengan sebagian harta kekayaan ayahnya yang kini akan menjadi miliknya.

Kemudian untuk putraku, Lee Donghae…”

Donghae sedikit terhenyak saat mendengar kata putraku, Lee Donghae.

“… Selain setengah dari saham perusahaan milikku dan setengah dari aset kekayaanku akan menjadi miliknya, seperti yang dimiliki oleh Hyukjae, gedung apartemen sederhana berlantai tiga yang kini sebagai tempat tinggalnya akan menjadi miliknya. Aku akan mempercayakan gedung apartemen itu padanya. Segala sesuatu untuk memperbaiki gedung tersebut agar menjadi lebih baik sudah kusiapkan sejak lama. Dan juga ruko kosong yang ada di pusat kota sudah menjadi miliknya. Pasokan berbagai jenis buah berkualitas tinggi sudah kusiapkan untuknya bila sewaktu-waktu dia memindahkan tokonya ke sana. Youngwoon akan membantunya mempersiapkan segalanya di sana.

Tanpa Donghae sadari air mata yang sebenarnya sudah menghilang dari matanya kini kembali menetes. Ingatannya berlari kembali pada saat pertemuannya dengan ayahnya di café yang ada di dekat tokonya. Di sana ayahnya itu memberikan amplop besar berisi rincian sebuah ruko kosong yang ada di pusat kota Seoul padanya. Ini semakin menguatkan dugaan Donghae bahwa ayahnya sengaja memberikan ruko tersebut karena mendapat firasat bahwa umurnya tak akan panjang lagi.

‘Karena Ayah tahu kata maaf mungkin tidak akan pernah cukup.’

Ucapan ayahya kembali terngiang di telinganya. Dan itu semakin membuat Donghae merasa sedih karena tak bisa memberikan kata maaf secara langsung pada ayahnya.

Sisa tulisan terakhir dari surat wasiat mendiang ayahnya sama sekali tak menarik perhatian Donghae dan Hyukjae karena mereka berdua nampak hanyut dalam pikiran mereka masing-masing. Harta kekayaan, perusahaan dan segalanya, jelas bukan itu yang mereka inginkan saat ini. Kehadiran Presdir Lee-lah yang mereka inginkan meskipun kenyataannya hal tersebut sangat mustahil akan terwujud karena ayah mereka sudah pergi untuk selamanya.

***

Jung Ra menatap langit sore dari balik jendela kaca toko. Wajahnya nampak sendu. Tangannya sejak tadi hanya memainkan buah apel merah yang ada di atas pangkuannya hingga akhirnya kegiatan itu ia hentikan takkala kembali mendengar isak tangis seseorang yang berasal dari sofa usang di belakang meja kerja Donghae. kepalanya menoleh ke arah sofa dan mendapati Ryeowook kembali menangis setelah beberapa menit yang lalu sempat berhenti menangis.

Oppa, berhentilah menangis,” suruh Jung Ra dengan pelan.

“Bagaimana aku bisa berhenti menangis sementara Hyungnim-ku berduka seperti itu? Seharusnya aku juga ikut menemaninya kemarin, tapi mau bagaimana lagi, ibuku menyuruhku pulang karena beliau juga sedang sakit. Ponselku pun tiba-tiba mati begitu saja di sana dan…” Ryeowook kembali tenggelam dalam tangisannya.

Jung Ra hanya menghela napas dengan berat sambil membuang wajahnya ke arah lain. Ia juga memiliki perasaan yang sama seperti yang dirasakan Ryeowook saat ini. Ia juga ingin sekali menangis, tapi ia sadar tangisannya mungkin saja tidak akan menolong apa-apa untuk Donghae. Ia juga tidak bisa melakukan apa-apa untuk menghibur Donghae. Ditambah dengan ciuman yang mereka lakukan semalam masih belum bisa ia lupakan semakin membuatnya susah untuk berpikir secara jernih. Bila Jung Ra harus memikirkan masalah ciuman itu lebih jauh, ia merasa ciuman yang diberikan Donghae dan Hyukjae adalah ciuman yang terjadi di waktu yang tidak tepat dan berakhir dengan suasana yang tidak menyenangkan.

Tetapi, apakah ia harus memikirkan ciuman itu sementara kedua orang yang sudah mencium bibirnya sedang dalam keadaan berkabung?

Di saat Jung Ra larut dalam lamunannya, tiba-tiba ponselnya yang ada di saku celana jeansnya bergetar. Jung Ra tersentak ketika merasakan getaran tersebut. Buru-buru diambilnya ponsel tersebut dan melihat siapa yang sedang mencoba menghubunginya.

Lee Donghae.

Yeoboseo?” ujar Jung Ra.

Beberapa detik tak ada suara yang terdengar dari seberang sana hingga membuat Jung Ra mengulangi ucapannya.

Bisakah kau menemuiku sebentar saja?” suara Donghae terdengar sangat lirih.

“Apa?”

Di taman dekat sekolah taman kanak-kanak yang ada di…

Belum selesai Donghae berbicara Jung Ra sudah lebih dulu beranjak dari tempatnya dan berlari keluar dari toko. Bahkan panggilan Ryeowook pun sama sekali tak ia hiraukan. Jung Ra terus berlari dan berlari menuju taman yang dimaksud oleh Donghae hingga ia merasa sudah kehabisan napas. Namun rasa khawatirnya lebih besar dibanding rasa lelah yang mendera kedua lutut dan napasnya sendiri. Mendengar suara lirih Donghae membuat Jung Ra berpikiran yang tidak-tidak. Segala macam dugaan buruk bermunculan di benaknya.

Dengan sisa tenaga yang masih ada Jung Ra berlari memasuki taman yang sore ini cukup ramai dikunjungi oleh beberapa orang yang tinggal tak jauh dari taman tersebut. Kepalanya menoleh ke sana kemari untuk mencari keberadaan Donghae. Dan Jung Ra baru akan melangkahkan kakinya ke arah lain ketika matanya menangkap sosok Donghae yang sedang duduk di bawah pohon rindang. Buru-buru Jung Ra berlari menghampirinya.

“Donghae Oppa, aku sudah datang,” kata Jung Ra di sela-sela napasnya yang terengah-engah. Ia membungkuk memegang kedua lututnya yang serasa hampir lepas.

Donghae yang sejak tadi memejamkan mata nampak terkejut mendengar suara Jung Ra. ia membuka mata dan sedikit terhenyak melihat wajah Jung Ra yang berhias peluh.

“Bagaimana kau bisa kemari?” tanya Donghae heran.

“Bukankah kau menyuruhku kemari tadi?” Jung Ra balik bertanya sambil menegakkan tubuhnya.

“Maksudku…,” Donghae berhenti sejenak saat sesuatu melintas di benaknya. “ Apa kau berlari tadi?”

Jung Ra menganggukkan kepalanya sambil berusaha mengatur napasnya.

Donghae mendesis kesal seraya menarik tangan Jung Ra agar duduk di atas rumput sepertinya.

“Bagaimana bisa kau berlari dari toko kemari, hah? Apa kau tidak pernah menghitung berapa jarak antara toko hingga taman ini? Itu jauh, Nona. Jauh. Apakah menunggu bus di halte itu hal yang berat, hah? Atau kalau kau merasa keberatan untuk naik bus, kau kan bisa naik taksi kemari. Kalau kau tidak bisa bayar, biar aku yang membayarnya,” omel Donghae sambil memandang kesal ke arah Jung Ra.

“Aku kan khawatir padamu. Aku juga tidak pernah menghitung jarak antara toko dan taman ini karena kurasa itu adalah hal konyol,” protes Jung Ra yang merasa apa yang sudah dilakukannya adalah sesautu yang tidak salah.

Donghae berdecak kesal. Tangannya meraih jaket hitam yang ia letakkan di dekat kakinya dan tanganya yang lain menarik tengkuk Jung Ra hingga membuat wajah gadis itu mendekat ke arahnya. Tak pelak tindakan Donghae mengejutkan Jung Ra.

“Tutup matamu,” suruh Donghae sambil berusaha mencari keberadaan tudung jaket hitamnya yang bertekstur lemas dibanding bahan jaketnya. Karena Jung Ra tak juga memejamkan mata akhirnya Donghae terpaksa melakukan apa yang ingin ia lakukan tanpa merasa risih melihat kedua mata Jung Ra terbuka

Diusapnya kening gadis itu dengan lembut menggunakan tudung jaketnya untuk menghilangkan keringat yang ada di sana. Disibaknya poni Jung Ra ke samping agar ia bisa menyeka keringat di bagian wajahnya yang lain. Setelah dirasa keringat-keringat itu tak lagi menghiasi wajah Jung Ra, Donghae tak lantas melepaskan tangannya dari tengkuk Jung Ra karena kini tangannya yang lain merogoh saku celananya untuk mengambil karet gelang berwarna merah.

“A-aku bisa mengikat rambutku sendiri, jadi…,” Jung Ra kehilangan kata-katanya karena tiba-tiba Donghae membawanya ke dalam pelukannya. Jantung Jung Ra berdegup sangat kencang. Perasaan ini sama seperti saat Donghae tiba-tiba menariknya dan mengurungnya di depan pintu apartemen pada malam itu hingga tanpa ia duga ciuman itu terjadi.

“Sudah kubilang kalau sedang khawatir jangan membuang akal sehatmu. Memangnya kau pikir berlari dari sana kemari bukan sesuatu yang melelahkan, hah? Kau ini bodoh sekali,” gumam Donghae sambil berusaha mengikat rambut Jung Ra.

Jung Ra hanya terdiam di bahu Donghae. Tubuhnya sendiri menegang takkala tangan Donghae sesekali menyentuh kulit di tengkuknya. Untung saja kali ini ia sudah bisa mengontrol detak jantungnya agar tidak terlalu berdegup kencang seperti sebelumnya meskipun ia tak tahu bisa bertahan sampai kapan.

Donghae yang sudah selesai mengikat rambut Jung Ra merasa enggan untuk melepaskan gadis itu dari pelukannya. Ya, secara tidak langsung posisi mereka kini memang seperti dua orang yang sedang berpelukan. Perlahan Donghae meletakkan kepalanya pada bahu mungil Jung Ra. Wajahnya kembali terlihat sendu setelah sebelumnya sempat sedikit kesal karena ulah Jung Ra.

Jung Ra yang bisa merasakan kepala Donghae bersandar pada bahunya hanya bisa tercenung. Deru napas berat Donghae terasa di kulit bahunya yang terhalang kemeja tipis berwarna ungu. Deru napas berat itu seolah memberikan tanda pada Jung Ra bahwa laki-laki yang sedang memeluknya ini sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.

“Apa terjadi sesuatu?” tanya Jung Ra kemudian sambil berusaha menepuk punggung Donghae dengan pelan. Sesaat kemudian ia merasakan kepala Donghae mengangguk di bahunya.

“Sesuatu memang terjadi sampai-sampai aku tidak bisa menampung semuanya di dalam kepalaku,” Donghae menjawab pertanyaan Jung Ra dengan lirih.

“Kau mau cerita padaku?”

“Kurasa tidak. Bercerita pada gadis berotak lambat dan bervolume tak lebih dari otak katak sepertimu nampaknya akan terasa sedikit sulit dan menyebalkan.”

Jawaban yang diberikan Donghae membuat Jung Ra spontan menarik rambut belakang Donghae dengan keras hingga Donghae terpaksa melepaskan pelukannya.

“Kalau begitu kenapa kau menyuruhku kemari?!” Jung Ra kesal dan berniat bangkit dari duduknya, namun tangan Donghae lebih dulu menahannya. Jung Ra pun terpaksa terhempas kembali ke atas rerumputan.

“Aku hanya bercanda,” ujar Donghae pelan sambil menyandarkan punggungnya di pohon yang ada di belakangnya.

“Bercandamu keterlaluan, tahu tidak?” desis Jung Ra kesal yang pada akhirnya ikut bersandar seperti Donghae.

Untuk beberapa saat mereka berdua terdiam. Donghae menerawang jauh ke depan. Pikirannya berlari kembali pada kata-kata Kepala Bagian Han dan isi surat wasiat yang dibuat oleh ayahnya. Bagi Donghae sebuah kebenaran akan kesalahan fatal yang dilakukan mendiang ayahnya dan isi surat wasiat di mana namanya masih tercantum di sana adalah sesuatu yang belum bisa ia terima. Perasaannya masih belum mampu menampung semua rasa perih dan sedih yang menerjangnya secara bersamaan dan begitu mendadak itu.

“Go Jung Ra…,” Donghae memanggil pelan Jung Ra yang sejak tadi juga ikut terdiam di sisinya. Gadis itu menoleh ke arahnya.

“Apa aku boleh melakukan sesuatu yang tidak pernah kutunjukkan di depanmu?” tanya Donghae tanpa mengalihkan kedua matanya dari rerumputan yang ada di depannya.

Jung Ra hanya mengerjap-ngerjapkan matanya tanda tak mengerti dengan yang baru saja ditanyakan oleh Donghae. Sesuatu yang tidak pernah dia tunjukkan di depanku?— pikir Jung Ra.

“Apa maksudmu?”

“Jangan bertanya, cukup pilih dua kata antara boleh atau tidak saja.” Donghae membalas tatapan Jung Ra.

Baiklah, sepertinya tidak ada gunanya lagi bagi Jung Ra untuk kembali melontarkan pertanyaan meskipun ia diliputi rasa penasaran dengan maksud Donghae. Toh, selama itu adalah sesuatu yang baik dan tidak merugikan dirinya, Jung Ra bisa saja memperbolehkan Donghae untuk melakukan apa yang dia inginkan. Oh, dan jangan lupakan dengan sesuatu yang tidak memalukan di depan orang. Mengingat dirinya dan Donghae sedang ada di tempat umum seperti ini dan kondisi Donghae yang sepertinya sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja, kemungkinan itu bisa saja terjadi.

“Kalau begitu… boleh,” jawab Jung Ra kemudian.

Donghae kembali membuang wajahnya ke depan dan membuang napas panjang.

“Yang kau perlu kau lakukan hanyalah diam. Jangan bertanya atau pun bicara. Kau bisa kan?” tanya Donghae lirih yang sedetik kemudian kembali menerawang jauh di depan sana.

“Baiklah,” Jung Ra mau tidak mau ikut melirihkan suaranya.

Donghae menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya. Perlahan-lahan sesuatu mulai menggenang di pelupuk matanya. Semakin lama semakin banyak hingga membuat pandangan Donghae mengabur. Dan tak lama kemudian setitik air mata jatuh.

Jung Ra seketika terkesiap melihat pemandangan itu. Ia tak pernah menduga akan ada air mata yang keluar dari mata bening Donghae. Apakah ini yang dimaksud Donghae dengan sesuatu yang ingin dilakukannya? Dan yang membuat Jung Ra semakin membeku di tempatnya adalah ketika air mata itu tak kunjung berhenti mengalir. Kenapa begini? apa yang sebenarnya sedang dirasakan laki-laki ini?

Donghae menggigit bibir bawahnya ketika ia merasa sudah cukup untuk memperlihatkan kesedihan yang melanda dirinya pada Jung Ra. Tapi nyatanya apa yang ia lakukan tak berhasil. Air mata itu tak bisa ia kendalikan. Kepalanya tertunduk dan bersamaan dengan itu tetesan air matanya jatuh di atas celana jeansnya. Di saat seperti inilah persamaan antara Donghae dan Hyukjae terlihat ketika Donghae menutup kedua matanya dengan salah satu telapak tangannya dengan erat, berharap tak ada lagi aliran air mata yang mendesak ingin keluar. Bahunya berguncang pelan dan suara isak tangis pun terdengar.

Jung Ra terkejut melihat Donghae menangis seperti itu. Meskipun ia tahu apa yang sebenarnya melanda diri Donghae, ia tetap tak mau mengatakan sesuatu. Dengan alami tangannya terulur menarik Donghae ke arahnya dan memeluknya.

“Akan lebih baik kalau dia mati tanpa melakukan semua hal itu padaku, Go Jung Ra. Akan lebih baik kalau dia mati dengan tetap membenciku seperti aku membencinya. Akan lebih baik kalau dia mati tanpa memberitahu Kepala Bagian Han bahwa sebenarnya selama ini dia tetap menyayangiku seperti anaknya sendiri. Kenapa ayahku itu bodoh sekali, Go Jung Ra?” keluh Donghae lirih dengan suara parau.

Jung Ra hanya tersenyum tipis. Ia mengerti. Sangat mengerti sekarang. Dan seperti yang sudah diperintahkan Donghae beberapa menit lalu, Jung Ra hanya diam sambil menepuk-nepuk pelan punggung Donghae.

Kedua matanya terpejam. Mencoba memahami lebih dalam tentang dua orang laki-laki bersaudara yang entah takdir apa yang sudah membuatnya bertemu dengan mereka hingga akhirnya ia merasa seperti seseorang yang dijadikan sandaran oleh dua bersaudara itu.

Masalah antara Donghae dan Hyukjae yang sebelumnya benar-benar ingin Jung Ra hindari karena ia merasa ia bukanlah siapa-siapa bagi mereka — tak lebih dari sekedar teman — kini seolah menjadi satu dari masalah yang ada di dalam kepala Jung Ra. Jung Ra tak akan bisa lagi mencoba untuk tidak menghiraukannya karena tanpa Jung Ra sadari, Donghae dan Hyukjae sama-sama memiliki tempat di dalam hatinya.

Mereka pernah sama-sama tinggal di gedung apartemen yang sama. Menghabiskan waktu dengan masih-masing dari mereka meskipun denga suasana yang berbeda. Hingga akhirnya ia memiliki perasaan khusus pada salah satu dari mereka meskipun kini perasaan itu tersakiti, tetap saja Jung Ra tak bisa menyesali pertemuannya dengan mereka.

Ia sudah terlanjur mengenal mereka lebih dalam, bahkan ia sudah meminjamkan bahunya untuk mereka sandari di saat mereka bersedih seperti ini. Mungkin akan terkesan sangat jahat bila Jung Ra meninggalkan mereka, membiarkan mereka menangis sendirian seperti seorang perempuan. Toh, bagi Jung Ra, seorang laki-laki yang meneteskan air mata tidak bisa dikatakan sebagai laki-laki yang lemah. Bukankah laki-laki dan perempuan adalah manusia? Ada kalanya manusia membutuhkan air mata untuk mengeskpresikan atau mengurangi kesedihan yang melanda dirinya tanpa membiarkan dirinya terlihat lemah di mata orang lain.

***

A few months later…

“Apa buah-buahan yang di ruang bawah tanah sudah dimasukkan ke dalam truk?” tanya Donghae pada Ryeowook yang muncul dari samping toko. Ryeowook hanya menganggukkan kepala sambil menunjuk sebuah truk berukuran sedang yang dipesan Donghae khusus untuk mengangkut buah-buahan segar dari ruang bawah tanah tokonya.

“Kalau begitu keluarkan semua barang-barang yang ada di ruang bawah tanah. Pastikan jangan ada yang tertinggal,” suruh Donghae sambil memasukkan semua buku-buku tokonya ke dalam kardus kecil.

Ryeowook kembali berlari ke arah samping sambil menarik seorang anak laki-laki yang dimintai tolong olehnya untuk membantu membereskan semua barang-barang di ruang bawah tanah. Bersamaan dengan Ryeowook yang menghilang dari depan toko, sebuah mobil berwarna putih berhenti di depan toko. Tak lama kemudian pintu mobil itu terbuka dan seseorang yang mengenakan pakaian formal lengkap muncul dari dalam mobil. Beberapa saat ia menoleh ke arah truk pengangkut buah sebelum melangkah masuk ke dalam toko.

“Maaf, kami akan pindah ke pusat kota Seoul hari ini. Kalau Anda ingin membeli buah, lebih baik Anda membeli di tempat lain dulu,” ujar Donghae ketika mendengar langkah seseorang masuk ke tokonya.

Orang itu hanya mendengus pelan sambil membuka kancing jas hitamnya. Donghae yang mendengar dengusan orang itu lantas menegakkan kepalanya untuk melihat siapa dia. Dan ketika mengenali siapa orang itu, Donghae pun ikut mendengus pelan.

“Kau kehilangan jam tangan ya? Sudah jam berapa ini?” desis Donghae kesal sambil menutup kardus yang ia isi semua buku-buku tokonya.

“Tadi ada rapat mendadak. Kukira akan selesai sebelum makan siang, ternyata…”

“Aah, sudahlah. Sebaiknya kau bawa tumpukan keranjang itu ke truk yang berwarna hitam untuk membayar keterlambatanmu,” potong Donghae.

Hyukjae hanya berdecak pelan setelah meletakkan jas hitamnya di atas sofa usang. Setelah menggulung lengan kemejanya hingga ke siku tangan, Hyukjae lantas mengangkat tumpukan keranjang yang dimaksud Donghae dan membawanya ke truk berwarna hitam yang ada di depan toko.

Eo, Hyungnim! Kau datang?” Ryeowook nampak terkejut dengan kehadiran Hyukjae di toko.

“Iya. Apa kau membutuhkan bantuanku? Sepertinya kau kesulitan membawa rak-rak itu?” tanya Hyukjae setelah kembali dari berhenti sejenak saat melihat Ryeowook membawa sebuah rak kayu bersama seorang anak laki-laki berusia delapan belas tahunan dari arah samping toko.

“Tidak perlu, Hyungnim. Lebih baik Hyungnim membantu Donghae Hyungnim di dalam. Sepertinya sejak tadi yang dia lakukan hanya mengomel seperti Ahjumma datang bulan.”

Hyukjae lantas tertawa mendengar kata-kata Ryeowook. Sambil membersihkan kemeja bagian depannya yang kotor terkena debu keranjang, Hyukjae kembali ke dalam toko. Ia terpaksa menepi saat baru saja masuk ke dalam toko karena beberapa orang nampak keluar dengan membawa meja-meja panjang, meja kerja Donghae dan beberapa almari kaca.

“Sudah semua, kan?” tanya Hyukjae.

“Semua bagaimana? Kau tidak lihat ini?” Donghae menunjuk sofa usang yang merupakan satu-satunya barang yang masih ada di dalam toko.

“Sofa yang sudah jelek itu?”

“Apa kau bilang? Sofa jelek? Yaa, Hyung, sofa ini sudah menemaniku selama sepuluh tahun di sini dan…”

Arrasseo, arrasseo. Ayo, cepat bantu aku mengangkatnya,” potong Hyukjae.

Donghae hanya mendengus sambil membantu Hyukjae membawa keluar sofa usang tersebut.

“Sebenarnya aku tidak mau kau tetap menyimpan sofa usang ini karena aku bisa menggantinya dengan yang baru. Tapi karena tadi aku mendengarmu memanggilku dengan sebutan hyung, aku memperbolehkanmu membawa sofa ini ke sana,” celetuk Hyukjae ketika mereka sudah hampir melewati ambang pintu toko.

Mendadak Donghae melepaskan tangannya dari sofa hingga membuat Hyukjae terkejut karena sofa yang ia bawa tiba-tiba jatuh kembali ke atas lantai.

“Kau bawa saja sendiri sofa itu ke dalam truk!” dengus Donghae kesal seraya mengayunkan kakinya dengan kesal menuju mobil Hyukjae dan memilih diam di dalam sana.Hyukjae hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah kekanak-kanakan Donghae.

Tak lama kemudian semua isi toko dan ruang bawah tanah sudah masuk ke dalam truk-truk yang ada di depan toko. Ryeowook sudah mengunci semua pintu dan menurunkan papan bertuliskan nama toko buah mereka dari atas pintu toko. Setelah memberikan kunci toko pada Donghae yang ada di dalam mobil Hyukjae, Ryeowook lantas berlari ke salah satu truk dan masuk ke dalamnya. Satu per satu truk tersebut melaju pelan meninggalkan area depan toko hingga akhirnya mobil Hyukjae yang tersisa di sana.

Donghae menatap tokonya dari dalam mobil Hyukjae untuk beberapa saat. Rasanya ia enggan untuk memindahkan tokonya dari tempat itu karena baginya tempat itu adalah saksi bisu perjalanan kehidupannya selama sepuluh tahun ini. Tetapi ia juga tidak mungkin menolak perintah mendiang ayahnya untuk pindah ke tempat yang lebih baik. Toh, sepertinya apa yang dikatakan ayahnya dulu memang ada benarnya. Ryeowook yang merupakan karyawan toko setianya, yang sudah ikut dengannya lebih dari delapan tahun memang sudah saatnya mendapatkan kesejahteraan yang lebih baik dan layak. Ditambah dengan Jung Ra juga. Tidak mungkin ia membiarkan gadis itu terlalu berat bekerja dengan gaji yang pas-pasan.

“Kita bisa berangkat sekarang?” tanya Hyukjae yang baru saja masuk ke dalam mobil dan bersiap untuk mengenakan sabuk pengaman.

“Ya,” hanya itu yang diucapkan Donghae.

“Keputusanmu untuk pindah dari sini adalah benar, Donghae-ya. Kau tidak perlu merasa menyesal untuk ke depannya,” Hyukjae mencoba menasihati Donghae yang nampak sedikit merasa sedih harus meninggalkan tempat itu.

“Apa aku harus melemparmu ke jok belakang agar aku bisa mengemudikan mobil ini sendiri?” Donghae kesal.

Hyukjae hanya terkekeh sambil menyalakan mesin mobilnya. Sesaat kemudian mobil berwarna putih itu melaju pelan menuju jalan raya.

Kurang dari setengah jam mobil Hyukjae sudah memasuki kawasan pusat kota yang penuh dengan gedung-gedung tinggi. Banyak warga Seoul yang berlalu lalang di trotoar. Tak sedikit pula orang-orang yang menyeberang di zebra cross. Mobil-mobil dan bus masih memadati jalan raya karena saat ini menjelang sore hari di mana bertepatan dengan jam pulang pegawai perusahaan.

Hyukjae menawari Donghae untuk berhenti sebentar di sebuah café yang akan mereka lewati karena ia ingin membelikan beberapa minuman dan makanan untuk orang-orang yang sedang menyiapkan toko baru. Donghae hanya mengiyakan tawaran Hyukjae dan ikut turun dari mobil. Mereka berdua memesan beberapa ice coffee, jus buah segar dan beberapa kue di café tersebut.

“Kau yakin ini cukup?” Hyukjae menunjuk minuman dan makanan yang baru saja mereka beli pada Donghae.

“Itu sudah lebih dari cukup. Jangan terlalu memanjakan pekerja seperti mereka hanya karena mereka mau membantu menata toko baru. Banyak dari mereka selalu meminta lebih tiap kita berbaik hati,” jawab Donghae ringan yang kemudian masuk ke dalam mobil setelah merebut kantong tersebut dari tangan Hyukjae.

.

.

“Kita sudah sampai,” ucap Hyukjae setelah menghentikan mobilnya di depan sebuah ruko yang berukuran cukup besar dan luas. Di depan ruko dihiasi beberapa pot bunga yang indah. Beberapa barang yang dibawa dari toko Donghae yang lama masih terlihat di sudut luar toko. Bagian dalam toko bisa dilihat secara langsung karena bagian depan toko terbuat dari kaca. Orang-orang yang lewat bisa melihat apa yang sedang dikerjakan di dalam sana.

Donghae keluar dari dalam mobil bersama dengan Hyukjae. Cukup lama ia memandang ruko tersebut.

‘Di dalam amplop itu ada rincian lengkap tentang ruko yang ada di pusat kota yang baru saja dijual oleh pemiliknya. Kalau kau ada waktu luang, pergilah ke sana dan coba lihat tempat itu. Kalau kau suka, kau bisa pindahkan tokomu ke sana. Aku memang belum melihat secara langsung tempat itu, tapi kudengar tempat itu sangat luas dan besar, sistem keamanannya cukup lengkap. Letaknya juga sangat strategis.’

Kata-kata ayahnya saat itu…, ia masih belum menyangka saja permintaan ayahnya untuk memindahkan tokonya ke tempat ini adalah sebagai permintaan terakhir.

“Sayang sekali, Ayah belum sempat melihat tempat ini,” ujar Donghae pelan tanpa mengalihkan matanya dari ruko. Wajahnya berubah sendu.

“Paling tidak dia akan senang kau mau memindahkan tokomu ke tempat ini. Ayo.” Hyukjae menepuk bahu Donghae sebelum masuk ke dalam ruko dan menyapa pekerja-pekerja yang sedang sibuk menata isi toko.

Apakah yang diucapkan Hyukjae padanya tadi benar? Apakah ayahnya sudah merasa senang ia mau menggunakan tempat ini untuk toko barunya? Kalau benar begitu, Donghae bisa bernapas lega.

Yaa, yang itu jangan diletakkan di situ. Kesannya akan sedikit aneh bila ada yang melihatnya!” Youngwoon nampak menegur salah satu pekerja yang akan meletakkan tumpukan keranjang buah di dekat pintu kaca.

Hyukjae yang melihat kakak sepupunya ikut membantu menata isi toko hanya tersenyum sambil memberikan minuman ke para pekerja lainnya. Dan lagi-lagi ia dibuat berdecak heran ketika mendengar nada suara yang sama berasal dari Donghae. Dilihatnya adiknya itu kini sedang mengomeli seorang pekerja yang tidak sengaja menjatuhkan tumpukan buah apel yang sudah tertata rapi. Dan yang bisa ia lakukan hanya tertawa pelan saat menyadari Donghae sudah mulai menjadi seorang pemilik toko buah FRESH FRUIT lagi. Berulangkali Donghae memanggil Ryeowook untuk melakukan ini itu, menyuruh ini itu, menata buah ini dan buah itu. Untung saja Ryeowook bisa bekerja dengan cekatan untuk memenuhi perintah bosnya, coba kalau tidak. Hyukjae bisa memastikan toko ini akan menjadi kapal pecah karena amukan Donghae yang tidak suka dengan cara kerja orang-orang itu.

Hyukjae baru akan membantu pekerja yang ada di dekatnya untuk menggeser meja panjang ketika melihat sosok Jung Ra turun dari lantai dua dengan tergesa-gesa. Blus putih yang dikenakan gadis itu nampak sedikit kotor.

“Kalau sedang marah-marah jangan buang akal sehatmu donk! Kau menghalangi jalanku, tahu tidak?!” Jung Ra membentak Donghae yang berdiri di tengah jalan ketika sedang menegur salah seorang pekerja.

“Jangan menjiplak dialog-ku!” balas Donghae tak mau kalah.

“Aku hanya mengubah kata-katanya sedikit. Minggir sana!” Jung Ra mendorong tubuh Donghae agar menjauh darinya.

Awalnya Donghae berniat untuk kembali membalas Jung Ra, tapi saat ia menyadari Ryeowook salah menata buah akhirnya perhatiannya teralihkan. Kini ia sibuk dengan kegiatannya sendiri tanpa menghiraukan Jung Ra yang masih menggumam kesal padanya.

“Jung Ra-ya!” Hyukjae memanggil Jung Ra yang melintas di dekatnya. Sepertinya Jung Ra tak menyadari keberadaannya di dalam ruko karena gadis itu nampak sedikit terkejut saat melihatnya.

“Hyukjae-ssi? Sejak kapan kau datang?” tanya Jung Ra.

“Aku datang bersama Donghae tadi. Kau mau ke mana?”

“Paman-paman yang ada di lantai dua minta air putih. Kukira gallon air mineral sudah dipasang, ternyata belum. Daripada mereka menunggu terlalu lama, lebih baik kubelikan beberapa botol air mineral dingin dulu saja,” jawab Jung Ra.

“Kalau begitu biar kuantar.” Hyukjae yang baru akan menghampiri Jung Ra untuk menemaninya membeli minuman terpaksa berhenti karena Jung Ra menolak dengan halus.

“Tidak perlu, Hyukjae-ssi. Aku bisa pergi sendiri. Letak minimarketnya juga tidak terlalu jauh dari sini. Kau mau titip apa, biar sekalian kubelikan?”

Hyukjae menggelengkan kepalanya dan berkata, “Tidak. Kalau begitu hati-hati di jalan.”

“Terima kasih. Aku keluar sebentar dulu ya.” Jung Ra melempar sedikit senyuman pada Hyukjae sebelum keluar dari toko dan berjalan sedikit cepat menuju minimarket.

Hyukjae hanya menghela napas ketika menyadari sosok Jung R sudah menghilang dari depan toko. Sejenak ia terdiam hingga akhirnya sebuah senyum tipis terukir di sudut bibirnya. Keadaan gadis itu jauh lebih baik dari yang dia bayangkan. Dan nampaknya keputusan yang ia ambil dengan tidak membiarkan gadis itu jatuh padanya terlalu jauh adalah tepat karena kini satu per satu janji yang ia buat sepuluh tahun lalu bisa ia tepati semua.

“Lain kali kalau kau ingin membeli kopi jangan di tempat itu.” Youngwoon menghampiri Hyukjae yang duduk di atas meja tak jauh dari pintu masuk.

“Memangnya kenapa?” tanya Hyukjae yang heran dengan perkataan Youngwoon.

“Rasa kopinya seperti muntahan bayi,” jawab Youngwoon ringan tanpa memiliki niat sedikit pun untuk membuang kopi yang baru saja ia protes rasanya tersebut. Hyukjae hanya mendengus pelan sambil menyingkirkan kain pembersih meja yang ada di sampingnya karena Youngwoon nampak akan menempati ruang kosong yang ada di sampingnya itu.

“Aku tidak tahu kau juga akan datang kemari. Kukira kau akan menemani Kepala Bagian Han pergi ke China,” Hyukjae mencoba membuka percakapan dengan kakak sepupunya tersebut.

“Cih, kenapa aku harus datang ke sana dengannya? Asal kau tahu saja, pagi ini saja rombongan yang ikut dengannya sudah seperti puluhan penjaga kerajaan yang akan siap melayaninya selama perjalanan. Dan kau menyuruhku untuk menemaninya? Yang benar saja.” Youngwoon menyandarkan tubuhnya pada tepi meja panjang sambil sesekali menyeruput es kopinya.

Sebuah tawa pelan lolos dari bibir Hyukjae mendengar jawaban Youngwoon. Kata-kata yang baru saja ia dengar sangat Kim Youngwoon sekali.

“Hei, kau senang sekarang?” Youngwoon meninju pelan lengan Hyukjae.

“Maksudmu?”

Youngwoon menggerakkan dagunya, menunjuk ke arah Donghae yang sekarang ikut membantu Ryeowook dan pekerja lainnya menggeser almari kaca yang akan digunakan untuk menyimpan keranjang-keranjang buah.

“Janji-janji konyol yang kau buat untuk dirimu sendiri… sekarang sudah terwujud semua. Kau senang kan? Sebenarnya aku kurang setuju dengan tindakan gilamu itu, tapi setelah aku melihat ini semua…” Youngwoon menghela napas sejenak. “Kau memang kakak yang baik,” lanjut Youngwoon.

Hyukjae mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis. Jangankan Youngwoon, ia sendiri pun juga sempat merasa tidak yakin dengan apa yang ia lakukan karena ia pikir tidak akan pernah bisa berhasil.

“Aku sudah berhasil mencantumkan nama Donghae di Daftar Nama Pemilik Saham Perusahaan. Aku sudah berhasil membawa anak itu pulang ke rumah. Dan juga… sebuah kenyataan bahwa Ayah ternyata masih menyayanginya bahkan hingga Ayah meninggal, benar-benar membuatku merasa sangat bahagia.”

“Jangan lupa kalau sebulan yang lalu dia memberikan semua bagian sahamnya padamu. Kan aku sudah pernah bilang kalau anak itu sama sekali tidak tertarik dengan saham atau pun hal-hal yang berkaitan dengan perusahaan ayah kalian,” cela Youngwoon.

“Aku tahu itu, Hyung. Paling tidak dia mau menerima pemberian terakhir Ayah, aku sudah senang,” timpal Hyukjae.

“Tapi… aku masih belum bisa setuju dengan apa yang sudah kau lakukan pada gadis itu,” ujar Youngwoon setelah beberapa saat terdiam mengamati pekerja yang keluar masuk toko.

“Apa?”

“Go Jung Ra, Lee Hyukjae. Aku sedang membahas gadis itu. Go Jung Ra,” Youngwoon sedikit kesal dengan sikap Hyukjae yang selalu mengelak seperti itu tiap mereka mulai membahas masalah Jung Ra.

“Sudahlah, Hyung.” Seperti dugaan Youngwoon, Hyukjae pun mengelak.

“Kau membohonginya, Hyukjae-ya. Kau berbohong padanya ada wanita lain yang sudah menjadi kekasihmu untuk menolak perasaannya. Dari sekian banyak kebohongan yang mungkin saja bisa kau pilih untuk menolak gadis itu, apakah harus kebohongan semacam itu, hah? Aku tidak tahu apakah sekarang dia masih memiliki perasaan yang sama padamu atau justru sudah ada pria lain di hatinya, tapi aku tetap saja merasa kasihan padanya.”

Hyukja membuang napas pelan kemudian berkata, “Semua sudah membaik dan kembali ke tempatnya masing-masing. Apa kau mau membuatku merasa sedih lagi?”

Youngwoon berdecak pelan melihat Hyukjae yang begitu keras kepala. “Yaa, Lee Hyukjae—“

TUK!

Belum sempat Youngwoon kembali memarahi Hyukjae, tiba-tiba ia dibuat terkejut takkala mendengar suara benda padat yang mengenai kepala Hyukjae dengan cukup keras hingga membuat adik sepupunya itu terhuyung ke arahnya. Dan keterkejutannya itu bertambah saat melihat sosok seorang gadis yang sudah berlinang air mata di ambang pintu masuk toko.

Gadis itu…

“Jung Ra-ssi?” gumam Youngwoon yang ternyata didengar oleh Hyukjae yang mengusap-usap kepalanya yang berkedut.

Dengan cepat Hyukjae memutar tubuhnya ke arah pintu masuk dan nampak terkejut melihat di sana memang sudah ada Jung Ra. Sejak kapan gadis itu ada di sana? Kenapa harus ada air mata di sana? Apa dia…

“Apakah aku sebodoh itu hingga kau harus berbohong padaku?” Suara Jung Ra bergetar. Kedua tangannya menggenggam erat botol air dingin dan kantong berisi beberapa botol air minum yang baru saja dibelinya.

“APA AKU SEBODOH ITU?!!”teriak Jung Ra, kembali melempar botol air minum yang ada di tangannya ke arah Hyukjae. Ia sama sekali tak peduli bila dada Hyukjae akan terasa sakit akibat lemparan botolnya.

Donghae dan Ryeowook yang sejak tadi sibuk mengeluarkan kardus berisi buah apel terpaksa menegakkan tubuhnya dan menoleh ke arah pintu masuk ketika mendengar sebuah teriakan. Perhatian Donghae sepenuhnya teralihkan saat menyadari Jung Ra yang ada di sana. Diletakkannya kain bersih yang sejak tadi ia bawa ke atas meja dan bermaksud menghampiri Jung Ra. Namun, langkahnya yang kurang beberapa meter lagi dari tempat Hyukjae berdiri terpaksa berhenti. Ia menyadari apa yang sedang terjadi. Tatapan mata Jung Ra yang begitu tajam namun penuh dengan kesedihan itu tertuju pada Hyukjae yang membeku di tempatnya. Tanpa harus berpikir lama pun Donghae tahu kalau akhirnya gadis itu tahu Hyukjae sudah membohonginya.

Inilah yang tidak ia suka bila Jung Ra harus tahu bahwa Hyukjae berbohong sudah memiliki kekasih untuk menolaknya. Ia takut Jung Ra akan merasa sangat sedih dan terpukul. Dan ketakutanya itu nampaknya benar-benar terjadi.

Kata-kata yang ingin Jung Ra ucapkan tercekat di tenggorokannya. Dihempaskannya kantong berisi botol air minum tersebut ke lantai toko dan berlari keluar.

“Go Jung Ra!” Hyukjae mencoba memanggilnya sambil berusaha mengejar Jung Ra yang berlari cukup kencang.

Mengejar seorang gadis yang berlari seharusnya hal mudah yang dilakukan Hyukjae karena dia adalah seorang laki-laki. Tapi ini entah kenapa kedua kakinya terasa begitu berat untuk ia ayunkan hingga membuatnya harus mengerahkan semua tenaga yang ia punya untuk mengejar Jung Ra. Jika ia memutuskan untuk membiarkan Jung Ra berlari dan menghilang dari jangkauannya, maka ia akan menyalahkan dirinya sendiri bila sampai terjadi sesautu pada gadis itu.

Tidak. Ia harus mengejar Jung Ra. Ia harus mengejarnya sampai ia berhasil meraih tangan Jung Ra.

Jung Ra yang terus berlari dan berlari dengan air mata yang mengalir deras sama sekali tak menyadari ada seseorang yang mengejarnya. Bahkan ia tak peduli dengan orang-orang yang memandang heran ke arahnya karena berlari sambil menangis seperti orang gila. Pikirannya sudah berkecamuk tak karuan untuk berpikir secara jernih. Semua percakapan Youngwoon dan Hyukjae yang ia dengar terlalu menyakitkan. Ia sama sekali tak menyangka Hyukjae akan berbohong padanya. Padahal selama ini ia sudah beranggapan bahwa ia adalah gadis yang jahat karena hampir saja menghancurkan perasaan wanita lain, wanita yang menjadi kekasih Hyukjae. Tapi apa yang didengarnya hari ini?

To be continued

 

 

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: