FRUIT LOVE [20 B- END]

hyuk2_副本

FRUIT LOVE
[THE ENDING 2/2]

Chaptered FF

Author : Nita Henny

Cast : Go Jung Ra (OC) – Lee Donghae – Lee Hyukjae

Kim Ryeowook – Kim Youngwoon

Genre : Romance, Family, Brothership

Rating : PG-14

Note :
FF Ini udah pernah kupublish di blogku sendiri. Dulu, udah lama. Dan sekarang aku coba kirim ke sini hehehe.
You can visit my blog === >>> https://imajinasinita.wordpress.com/

Happy reading ~~~~

 

============================

Yaa, Jung Ra-ya, buka pintunya! Apa kau mau membiarkanku di luar seperti ini sampai malam?” Nyonya Im berusaha memanggil Jung Ra yang mengunci diri di dalam apartemennya sendiri.

Ya, wajar bila Nyonya Im seperti itu lima belas menit yang lalu ia dibuat terkejut dengan kedatangan Jung Ra yang menangis kencang layaknya anak perempuan berusia sepuluh tahun yang baru saja terjatuh di jalanan beraspal. Dan parahnya lagi sambil sesenggukan putrinya itu justru mengeluarkannya dari dalam rumahnya, menyuruhnya untuk menginap di tempat tetangganya sebelum mengunci diri di dalam sana. Bahkan sampai sekarang Nyonya Im masih bisa mendengar suara tangisan putrinya dari depan pintu apartemennya.

“Go Jung Ra, berhentilah menangis seperti anak kecil!” Nyonya Im yakin Jung Ra pasti mendengarnya karena ia tahu putrinya itu menangis tepat di balik pintu. Meskipun Nyonya Im khawatir melihat Jung Ra menangis seperti orang gila di dalam sana, tetap saja ia merasa percuma bila terus-menerus meminta Jung Ra agar mau membukakan pintu.

Nyonya Im baru akan kembali mengetuk pintu apartemen sederhananya ketika mendengar derap langkah seseorang yang terkesan terburu-buru dari arah tangga. Kepalanya menoleh dan melihat seorang laki-laki muda yang mengenakan celana hitam dan kemeja putih yang nampak sedikit kusut, peluh menghiasi keningnya hingga membuat rambut bagian depan laki-laki itu terlihat basah, wajahnya nampak cemas dan sesaat kemudian laki-laki tersebut sedikit terkejut ketika mendapati sosok Nyonya Im berdiri tak jauh darinya.

Hyukjae segera membungkukkan badannya sebentar untuk menyapa Nyonya Im. Nyonya Im pun membalasnya dengan anggukan kepala canggung.

“Kau mencari Jung Ra?”

Pertanyaan Nyonya Im sedikit mengejutkan Hyukjae. Memang benar ia sedang mencari Jung Ra dan berniat untuk bertanya pada Nyonya Im, tapi ia tak menduga ibu Jung Ra akan bertanya untuk hal yang sama.

“I-ya, Eomonim. Apa Jung Ra kemari?” Hyukjae berjalan menghampiri Nyonya Im.

“Kau tidak dengar suara tangisan ini?” Nyonya Im menunjuk daun pintu yang ada di sampingnya di mana di balik pintu tersebut masih terdengar suara tangis Jung Ra yang menderu.

Hyukjae nampak terhenyak mendengar tangisan Jung Ra.

“Hampir lima belas menit anak itu menangis seperti orang gila di dalam sana dan membiarkan ibunya berdiri seperti ini di luar, bahkan ia juga menyuruhku untuk menginap di tempat tetanggaku hanya karena ia ingin membanjiri rumahku dengan air matanya…” Nyonya Im menghentikan kata-katanya ketika memandang Hyukjae. “Apa kau Lee Hyukjae?”

“Iya, Eomonim,” Hyukjae menjawab dengan nada yang sedikit ketakutan. Apakah Jung Ra sudah memberitahu ibunya bahwa ia sudah membohonginya dan membuatnya menangis kencang seperti itu?

“Jung Ra bilang padaku bila ada seseorang bernama Lee Hyukjae mencarinya kemari aku harus berpura-pura tidak tahu. Tapi sayang sekali putriku itu lupa kalau ibunya bukan orang yang suka berbohong pada orang lain,” ujar Nyonya Im yang sedikit terperanjat saat mendengar tangisan Jung Ra kembali kencang setelah sebelumnya sempat mereda. “Aigoo, anak ini… Yaa! Kau bisa mendatangkan banyak orang kemari kalau kau menangis sekencang itu!”

Eomonim, apa saya bisa bicara dengan Jung Ra sebentar? Ada yang harus saya jelaskan padanya karena tadi ada sedikit salah paham,” pinta Hyukjae.

Nyonya Im menghela napas panjang kemudian mengusap lengan Hyukjae sesaat. “Aku tahu kalian pasti sedang ada masalah dan nampaknya Jung Ra menanggapinya terlalu berlebihan seperti ini. Aku memang tidak tahu dan tidak mau tahu masalah apa yang terjadi antara kalian berdua, tapi kuharap masalah kalian cepat selesai.”

“Terima kasih, Eomonim.” Kini Hyukjae bisa bernapas lega karena ia pikir ibu Jung Ra akan memarahinya habis-habisan. Nyonya Im seraya menyingkir dari depan pintu dan berjalan meninggalkan Hyukjae.

“Oh ya, kalau dia bicara kasar padamu, jangan diambil hati ya? Anak itu memang suka kehilangan akal sehatnya bila sedang dalam keadaan seperti itu,” ujar Nyonya Im saat menolehkan kepalanya kembali pada Hyukjae.

“Iya, Eomonim. Terima kasih,” Hyukjae kembali berterima kasih pada Nyonya Im. Nyonya Im hanya melambaikan tangannya sesaat sebelum menuruni anak tanga menuju tempat tinggal temannya.

Sejenak Hyukjae hanya menatap daun pintu yang tertutup sempurna di hadapannya. Ia masih mendengar suara tangisan Jung Ra. Dihelanya napasnya dengan berat. Mungkin bila orang lain yang mendengar, suara tangis Jung Ra memang mirip anak kecil. Tapi bagi Hyukjae, suara tangisan Jung Ra terdengar memilukan dan membuat dadanya sesak.

Jung Ra yang terduduk di belakang pintu apartemen ibunya sama sekali tak menyadari bahwa Hyukjae sudah berdiri di luar sana. Ia masih belum bisa menghentikan tangisannya yang menderu itu. Entahlah. Sebenarnya Jung Ra sendiri tidak tahu kenapa ia bisa menangis hebat seperti ini. Rasanya ada ratusan liter air mata yang mendesak ingin keluar dari matanya dan Jung Ra tak berdaya untuk menahannya hingga akhirnya ia hanya bisa menangis meraung-raung.

‘Kau membohonginya, Hyukjae-ya. Kau berbohong padanya ada wanita lain yang sudah menjadi kekasihmu untuk menolak perasaannya. Dari sekian banyak kebohongan yang mungkin saja bisa kau pilih untuk menolak gadis itu, apakah harus kebohongan semacam itu, hah? Aku tidak tahu apakah sekarang dia masih memiliki perasaan yang sama padamu atau justru sudah ada pria lain di hatinya, tapi aku tetap saja merasa kasihan padanya.’

Ucapan Youngwoon masih saja terngiang-ngiang olehnya. Dan setiap detik sejak ia berlari dari toko hingga kini ia ada di dalam apartemen sederhana milik ibunya, hatinya semakin lama semakin terasa perih tiap mengingat deretan kata-kata tersebut. Awalnya Jung Ra ingin merasa tidak percaya dan menganggapnya hanya lelucon antara dua orang laki-laki meskipun baginya lelucon semacam itu benar-benar keterlaluan.

Tetapi saat ia melihat tatapan mata Hyukjae dan kebisuan laki-laki itu saat ia bertanya padanya, seolah membuat Jung Ra mendapatkan jawaban sebenarnya. Dan sepertinya memang benar. Dirinya memang bodoh hingga bisa dibohongi seperti itu.

“Apa salahku?” keluh Jung Ra lirih sambil membenamkan wajahnya pada kedua telapak tangannya.

Jung Ra baru akan kembali menumpahkan air mata untuk yang kesekian kalinya ketika terdengar suara ketukan pintu dan suara seseorang yang begitu samar. Jung Ra menegakkan kepalanya. Ketukan ini jelas berbeda dari yang sebelumnya ia dengar beberapa menit lalu.

Dan suara itu… Suara itu jelas bukan milik ibunya.

Suara seorang laki-laki. Parahnya lagi Jung Ra merasa tidak asing dengan suara tersebut.

“Jung Ra-ya.”

Suara itu kembali terdengar. Dan bersamaan dengan itu dada Jung Ra terasa berdenyut. Ia bisa saja berdiri dan membuka pintu yang ada di belakangnya kemudian menemui pemilik suara tersebut. Namun, ada sesuatu yang menahan diri Jung Ra untuk tidak melakukannya.

Ya. Sesuatu itu adalah perasaan sakit hati yang harus Jung Ra rasakan untuk yang kedua kalinya. Mungkin akan terdengar jahat bila Jung Ra hanya membiarkan Hyukjae di luar sana, terus mengetuk pintu dan mencoba memanggilnya sementara dirinya hanya terduduk di belakang pintu menunggu Hyukjae merasa lelah dan akhirnya pergi dari situ. Tapi apa yang bisa Jung Ra lakukan lagi? Ia sudah tak punya tenaga. Jangankan untuk membuka pintu dan menemui Hyukjae, kedua kakinya yang sejak tadi ia tekuk sudah terasa sangat lemas.

Maka dari itu Jung Ra memilih terdiam di tempatnya sambil menyandarkan kepalanya pada pintu dan meluruskan kedua kakinya di atas lantai. Ditariknya napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan. Kedua matanya terpejam.

.

.

Hyukjae menghela napas dengan berat. Kepalanya yang sejak tadi tertunduk kini menegak dan menyadari hari sudah gelap. Dilihatnya jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul enam petang. Dan hingga saat itu ia masih belum berhasil membuat Jung Ra keluar dari dalam tempat tinggal ibunya.

Tidak. Hyukjae tidak akan menyerah untuk bertemu dengan gadis itu. Meskipun ia harus berada di luar seperti ini hingga tengah malam datang, ia akan tetap pada pendiriannya untuk bertemu dengan Jung Ra hingga Jung Ra mau keluar.

Kakinya melangkah menuju tangga yang tak jauh dari tempat tinggal Nyonya Im dan menghenyakkan diri di anak tangga yang paling atas. Mungkin dengan duduk di sana ia bisa sekalian untuk mengistirahatkan tubuhnya yang sudah terasa pegal karena lebih dari tiga jam berdiri di depan pintu. Toh, bila akhirnya Jung Ra keluar, ia masih bisa melihatnya karena jalan satu-satunya yang akan dilalui oleh Jung Ra adalah tangga ini.

Sesekali Hyukjae mendongakkan kepalanya saat terdengar suara langkah seseorang yang mendekati tangga. Selanjutnya ia akan melengos ketika menyadari orang itu bukan Jung Ra melainkan salah satu penghuni gedung kumuh tersebut yang akan turun. Dalam hati Hyukjae menertawakan dirinya sendiri yang sedang melakukan hal aneh seperti ini. Jujur saja, duduk di anak tangga seperti ini dan selama ini hanya demi seorang gadis adalah hal yang pertama kali ia lakukan seumur hidupnya.

Gila? Tentu saja Hyukjae merasa otaknya sudah tidak waras lagi. Ia tertawa pelan sambil menundukkan kepalanya. Diusap-usapnya tengkuknya untuk beberapa detik sambil menghela napas.

Satu jam berlalu…

Dua jam berlalu…

Pintu apartemen Nyonya Im belum juga dibuka dari dalam. Hyukjae kembali menatap anak tangga yang ada di bawahnya setelah sebelumnya menoleh ke belakang untuk melihat pintu tempat tinggal ibu Jung Ra. Helaan napasnya sudah mulai terasa lebih berat dari sebelumnya. Kalau Hyukjae masih bisa mengeluh, mungkin ia akan mengeluhkan tubuhnya yang sudah benar-benar lelah. Sejak pagi ia sudah disibukkan dengan pekerjaan kantornya dan rapat yang tiada hentinya, kemudian membantu Donghae memindahkan semua isi toko buahnya ke ruko baru pemberian mendiang ayah mereka, lalu berlari mengejar Jung Ra yang entah kenapa laju lari gadis itu benar-benar tak masuk akal, dan kini ia berakhir di tangga berjam-jam tanpa melakukan apa-apa untuk menunggu Jung Ra keluar.

Andaikan ia bisa menghubungi Jung Ra, ia sudah melakukannya sejak tadi. Tapi ponsel Jung Ra yang memang susah untuk ia hubungi menjadi kendala terbesarnya. Mungkin hal paling parah yang bisa Hyukjae lakukan adalah mendobrak pintu tersebut agar ia bisa menarik Jung Ra keluar. Tapi apakah ia harus melakukannya mengingat tindakan seperti itu termasuk tindakan yang menyeramkan? Ia akan menggemparkan seluruh gedung dan mungkin saja ia bisa ditendang dari tempat ini, atau yang lebih mengerikan lagi, ia bisa dibawa ke kantor polisi dengan tuduhan membuat keonaran di tempat orang lain. Tidak keren sama sekali.

Hyukjae memijat keningnya. Kepalanya terasa pusing dengan sendirinya meskipun ia tak melakukan apa berjam-jam di situ. Tak berapa lama terdengar lagi suara pintu yang dibuka atau oleh seseorang. Hyukjae sudah tak tertarik lagi untuk menolehkan kepalanya ke belakang karena bisa saja orang itu adalah salah satu penghuni gedung yang berniat keluar untuk pergi ke suatu tempat.

Tuk!

Sebuah benda… atau tepatnya sebuah gelas plastik baru saja mendarat di belakang kepalanya dengan cukup keras hingga mengejutkannya. Dengan cepat ia menoleh ke belakang. Ia terhenyak mendapati sosok Jung Ra sudah berdiri tak jauh darinya. Ekspresi wajah Jung Ra sangat sulit ia artikan. Meskipun begitu, keadaan gadis itu sama berantakannya dengan dirinya saat ini. Hanya saja matanya tidak membengkak seperti milik Jung Ra.

Hyukjae menghela napas lega cukup panjang. Bahkan desahan napasnya terdengar. Tak ada yang melegakan selain bisa melihat Jung Ra setelah berjam-jam lamanya ia menunggu gadis itu keluar.

Perlahan Hyukjae bangkit dari tempatnya dan berjalan menghampiri Jung Ra yang sama sekali tak melepaskan pandangannya darinya. Ketika ia sudah berada di hadapan Jung Ra, tangannya terulur merapikan rambut Jung Ra yang berantakan dengan pelan. Bahkan ia nampak seolah tak merasa risih dengan tatapan mata Jung Ra yang begitu tajam padanya. Kini jemarinya bergerak menyeka sisa air mata yang masih menghiasi wajah Jung Ra dengan lembut.

Tanpa Hyukjae duga, tangan Jung Ra terangkat dan mendarat keras ke kepalanya. Baiklah, ini sudah ketiga kalinya gadis itu memukul kepalanya. Rasa sakit memang menjalar di kepalanya, tapi apakah ia harus mengeluh kesakitan?

Jung Ra kembali memukul kepala Hyukjae di bagian yang sama. Hyukjae hanya menanggapinya dengan senyuman tipis. Dan hal itu membuat Jung Ra mengulangi tindakannya. Bahkan kini kedua mata Jung Ra kembali terlihat sembab. Gadis itu menggigit bibirnya agar tak keluar suara isak tangis yang mungkin saja akan segera terdengar.

“Kau tidak mau memarahiku?” Akhirnya Hyukjae mengeluarkan suara.

Jung Ra menggeleng dengan kencang sambil terus menggigit bibir bawahnya. Tangannya masih saja memukul kepala Hyukjae untuk yang kesekian kalinya. Mungkin saja bila ia terus melakukannya hingga satu menit ke depan, laki-laki yang ada di hadapannya itu bisa jatuh pingsan. Tapi sayangnya kekuatan yang ada di tangannya berkurang dan semakin berkurang hingga akhirnya ia hanya bisa menjatuhkan tangannya ke tempatnya, di sisi kanan tubuhnya.

Jung Ra menyeka dengan cepat air mata yang baru saja jatuh di pipinya. Ia ingin sekali berteriak pada Hyukjae, memakinya panjang lebar karena sudah membuat dirinya terluka seperti ini. Ia ingin menunjukkan bahwa dirinya benar-benar kecewa pada kakak Donghae tersebut. Ia ingin menumpahkan semua kekesalannya dan rasa sakit hati yang tersimpan di dalam hatinya.Tapi… semua itu entah kenapa tidak bisa ia keluarkan. Ada semacam benteng kokoh yang menghalanginya hingga membuat semua teriakan dan makian hanya terdengar di dalam kepalanya saja.

“Kau tidak marah padaku?” tanya Hyukjae lagi.

“Aku ingin tapi aku tidak bisa,” Jung Ra menjawab dengan suara tercekat.

“Mau memukul kepalaku lagi?”

Jung Ra kembali menggelengkan kepalanya lagi.” Aku tidak ingin sampai membunuh seseorang hanya karena harus melampiaskan kekesalanku dengan cara memukuli kepalanya.”

Hyukjae terkekeh mendengar jawaban polos Jung Ra. Namun, sedetik kemudian, tawa pelannya menghilang. Hyukjae kembali menatap sendu ke arah Jung Ra. Dihelanya napas dengan pelan.

“Aku minta maaf,” ujar Hyukjae kemudian.

Jung Ra mendongakkan wajahnya untuk memandang Hyukjae.

“Aku tidak seharusnya berbohong padamu dengan cara seperti itu. Ani…, seharusnya aku tidak berbohong padamu dengan cara apapun. Seharusnya saat itu aku tidak berkata bahwa aku sudah memiliki kekasih,” lanjut Hyukjae.

“Kau tahu, saat itu aku menganggap diriku seperti orang jahat yang hampir saja merusak hubungan orang lain,” keluh Jung Ra lirih.

“Iya aku tahu.” Hyukjae mengangguk.

“Saat itu aku seperti orang yang sangat egois. Bahkan untuk pertama kalinya aku merasakan patah hati karena kau berkata seperti itu.”

“Iya aku tahu.”

“Aku sudah lama tidak menangis seperti orang gila. Tapi karena malam itu…, aku… aku mengeluarkan air mata yang sangat banyak hanya karena patah hati, Hyukjae-ssi.” Air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk mata Jung Ra kini jatuh.

“Iya. Aku juga tahu.” Hyukjae kembali menyeka air mata tersebut dengan tangannya.

“Aku seperti orang yang sudah kehilangan semangat untuk melakukan apapun yang seharusnya menjadi rutinitasku hingga membuat Donghae terus-menerus memarahiku karena tidak konsentrasi bekerja.”

Hyukjae mengangguk pelan.

“Adikmu itu galak sekali, tahu tidak?”

Hyukjae kembali tertawa pelan mendengarnya.

“Seharusnya aku merasa sangat sakit hati. Sangat, Hyukjae-ssi. Kau tahu kenapa, karena aku merasa sudah dipermainkan olehmu. Aku yang tidak tahu apa-apa dan hanya memiliki perasaan khusus padamu harus mendapatkan kebohongan seperti itu, rasanya benar-benar mengerikan. Kalau pun aku mau, aku bisa saja memarahimu sekarang juga, tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa melakukannya.”

“Iya… aku juga tahu itu.” Hyukjae semakin mendekat pada Jung Ra. Jemarinya menyelipkan rambut Jung Ra ke belakang daun telinga gadis itu. Disekanya air mata yang kembali menitik dari kedua mata besar gadis itu.

“Aku ingin menyukaimu seperti dulu lagi, tapi entah kenapa sekarang aku tidak bisa. Aku ingin marah pada diriku sendiri karena sudah berani membiarkan perasaan itu hilang. Aku ingin mengembalikannya, tapi aku tidak bisa, Hyukjae-ssi.”

Kini Hyukjae tercenung. Sepenuhnya tercenung.

“Aku… aku seharusnya tetap menjaga perasaan itu karena—“

“Tidak. Kau tidak harus melakukannya,” Hyukjae memotong ucapan Jung Ra. Kedua matanya menatap Jung Ra dalam-dalam hingga ia bisa menemukan kata maaf di dalam tatapan mata Jung Ra.

“Bukan salahmu kalau kau tidak lagi memiliki perasaan itu,” Hyukjae melanjutkan kata-katanya.

“Maafkan aku, Hyukjae-ssi,” Nada suara Jung Ra benar-benar menyiratkan sebuah penyesalan yang amat sangat dalam, seolah hilangnya perasaan itu untuk Hyukjae menjadi sebuah dosa besar baginya. Jung Ra berani bersumpah, ia memang ingin sekali tetap memiliki perasaan itu pada Hyukjae seperti dulu. Ia ingin tetap menyukai Hyukjae, tapi ia tidak bisa. Entahlah, kini perasaan itu terasa hambar.

Hyukjae merengkuh tubuh Jung Ra dan memeluknya. Mencoba mengisyaratkan bahwa gadis itu tak perlu meminta maaf karena sudah membiarkan perasaan itu hilang karena sebenarnya kesalahan itu sepenuhnya milik Hyukjae.

“Kalau begitu bagaimana kalau kita menjadi teman, hm?” ucap Hyukjae setelah beberapa saat membiarkan suasana di antara mereka berdua sunyi.

Jung Ra yang ada di dalam pelukan Hyukjae membuka kedua matanya dan mengerjap pelan. “Bukanlah selama ini kita memang sudah berteman hingga akhirnya aku merusaknya dengan menyatakan perasaanku padamu?” tanya Jung Ra lirih.

Hyukjae tersenyum pahit. Lagi-lagi gadis yang ada di pelukannya itu menyalahkan diri. Kepalanya bergerak, menjatuhkan dagunya pada puncak kepala Jung Ra. “Mau sampai kapan kau akan menyalahkan dirimu sendiri, hm? Aku yang salah di sini. Kau memiliki perasaan yang sama dengan yang kurasakan saat itu, tapi dengan seenaknya aku melarangmu untuk melangkah lebih jauh, membiarkanmu menangis seperti orang gila dan membiarkanmu melewati hari demi hari dengan kesedihan hingga akhirnya kau kehilangan perasaan itu.”

Jung Ra menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Hyukjae yang terhalang kemeja putih. Pelukan hangat laki-laki inilah yang selalu dirindukannya. Tapi sayang sekali, seperti kata Hyukjae beberapa detik lalu, ia sudah kehilangan perasaan yang seharusnya masih ada pada dirinya. Andaikan perasaan itu masih ada—atau paling tidak masih tersisa meskipun sedikit— mungkin pelukan ini akan terasa jauh lebih manis dan sanggup membuat jantungnya kembali berdebar-debar.

“Kalau kau memang berniat muncul di kehidupan Donghae untuk menepati janji-janjimu dulu, seharusnya kau tidak perlu membuat dirimu bertemu denganku. Dengan begitu aku tidak akan merasa patah hati seperti ini,” keluh Jung Ra lirih.

Hyukjae terkekeh sambil membelai lembut belakang kepala Jung Ra.

“Aku akui kau memang seorang kakak yang hebat. Donghae seharusnya merasa bangga karena memiliki kakak sepertimu yang sanggup melakukan apa saja demi dirinya. Tapi di sisi lain, kau adalah laki-laki bodoh yang melarang seorang gadis menyukaimu hanya karena adikmu.”

“Jadi apakah usahaku selama ini membuahkan hasil?”

Pertanyaan Hyukjae membuat Jung Ra menjauhkan wajahnya dari dada Hyukjae. Kini ia memandang Hyukjae dengan ekspresi heran. “Apa maksudmu?”

“Donghae. Apa kau menyukainya?”

Seketika wajah Jung Ra memerah. Entahlah, tiba-tiba saja rasa panas itu menjalar ke seluruh wajah Jung Ra tanpa sebab yang jelas.

“Mungkin saat itu aku salah mengira Donghae memiliki perasaan khusus padamu karena kenyataan yang ada saat itu Donghae sama sekali tak memiliki perasaan apapun padamu. Tapi sekarang, aku berani bersumpah atas namaku sendiri, Donghae memiliki perasaan yang berbeda padamu,” jawab Hyukjae.

“Jangan coba-coba menjodohkanku dengan adikmu. Sejak dulu hingga sekarang usahamu selalu gagal, Hyukjae-ssi. Aku tidak mau patah hati untuk yang kedua kalinya,” kata Jung Ra yang kini sudah melepaskan diri dari pelukan Hyukjae.

Hyukjae mengulas senyum tipis sambil memasukkan kedua tangannya pada saku celananya. Untuk beberapa saat ia hanya berdiri sambil memandang Jung Ra. Satu fakta yang harus ia terima sekarang adalah gadis yang ada di hadapannya ini sudah tak lagi menyukainya.

***

Donghae berdiri di dekat meja kasir sambil memandang beberapa orang yang sedang memilih-milih buah sambil mendorong troli kecil sebagai tempat buah yang akan mereka beli. Suasana toko barunya pagi ini cukup ramai karena satu jam yang lalu baru saja diadakan Grand Opening. Di luar perkiraan Donghae, orang-orang yang tertarik untuk datang ke tokonya ternyata lumayan banyak. Padahal Donghae sebelumnya memperkirakan tidak akan banyak orang yang mau datang ke acara Grand Opening tadi.

Bila dulu di tokonya yang lama, pembeli harus membawa keranjang buah ke sana kemari, kini mereka tinggal mengambil troli kecil yang sudah disiapkan dan tinggal mendorongnya menyusuri tempat-tempat buah yang akan dibeli. Meskipun begitu Donghae masih menyediakan keranjang buah untuk beberapa orang yang lebih suka menggunakan benda itu daripada troli.

Hyungnim, apa yang kau lamunkan?”

Suara Ryeowook membuyarkan lamunan Donghae. Ditolehkan kepalanya ke arah Ryeowook yang baru saja selesai melayani pembeli di meja kasir.

“Aku tidak melamun,” sanggah Donghae seraya menarik napas dan menghembuskannya secara perlahan.

Ryeowook tersenyum sambil memasukkan uang ke dalam mesin kas. “Hyungnim, aku ingin berterima kasih padamu.”

“Hah?”

“Iya, aku ingin berterima kasih Hyungnim pada karena Hyungnim masih mau membawaku ke tokomu yang baru ini. Kukira Hyungnim akan meninggalkanku di sana. Lihat saja toko ini. Kalau aku boleh berpendapat, sebenarnya tempat ini terlalu luas, terlalu besar dan terlalu mewah untuk ukuran toko buah,” ujar Ryeowook.

Donghae hanya terkekeh sambil menepuk lengan Ryeowook, menyuruhnya untuk kembali bekerja. Diayunkannya kakinya ke arah pintu masuk yang baru saja ditutup oleh beberapa pembeli. Namun, langkahnya mendadak berhenti ketika melihat sebuah mobil berwarna putih berhenti di depan toko.

Mobil itu milik Hyukjae, hanya saja seseorang yang pertama keluar dari mobil tersebut bukanlah sosok Hyukjae, melainkan Jung Ra. Beberapa saat kemudian Hyukjae muncul dari sisi mobil yang lain. Mereka berdua nampak berbincang-bincang sebelum berjalan beriringan ke arah toko.

Donghae yang melihat pemandangan seperti itu hanya mendengus pelan. Ia memutar tubuh, menjauh dari pintu masuk dan melangkahkan kakinya menuju tangga yang akan membawanya ke lantai dua. Bahkan panggilan Ryeowook sama sekali tak diindahkannya.

Diusapnya wajahnya dengan kasar sambil menghempaskan tubuhnya sendiri ke atas sofa empuk yang ada di lantai dua. Kedua matanya terpejam, sepasang alisnya hampir menyatu saat mengingat wajah Hyukjae dan Jung Ra yang begitu tenang, seolah tidak terjadi apa-apa kemarin.

Ayolah, Donghae tidak bodoh. Ia tahu apa yang sebenarnya terjadi kemarin sore saat semua orang sibuk menata toko barunya. Dengan mata kepalanya sendiri ia melihat Jung Ra berteriak ke arah Hyukjae sambil berlinang air mata. Kalau pun Donghae mau, sore itu juga ia akan meninggalkan pekerjaannya dan ikut mengejar Jung Ra. Lepas dari masalah yang terjadi antara Hyukjae dan Jung Ra yang memang tidak harus ia campuri, Donghae merasa khawatir pada Jung Ra. Ia tahu bila Jung Ra dalam kondisi seperti itu, gadis itu tidak akan bisa berpikir secara jernih, seolah akal sehatnya menghilang entah ke mana.

Apakah dia baik-baik saja? Apakah Hyukjae berhasil mengejarnya? Mungkin pertanyaan-pertanyaan itu mewakili ratusan pertanyaan yang memenuhi kepala Donghae. Tetapi, pemandangan yang dilihatnya dari balik pintu kaca toko beberapa saat yang lalu sepertinya menjadi jawaban yang sudah pasti untuknya. Jung Ra, gadis itu nampak baik-baik saja. Bahkan kelewat baik-baik saja untuk ukuran seorang gadis patah hati yang baru saja mengetahui bahwa dirinya ternyata dibohongi oleh laki-laki yang disukainya. Bukankah seharusnya pagi ini kedua mata gadis itu terlihat bengkak seperti habis dihajar preman malam?

“Kau di sini rupanya.”

Donghae membuka kedua matanya saat terdengar suara yang tidak asing di telinganya. Kepalanya menunduk memandang Hyukjae yang berdiri di dekat tangga. Donghae kembali membaringkan kepalanya sambil memijat pelan keningnya.

“Pembeli yang datang cukup banyak untuk toko buah yang baru buka,” lanjut Hyukjae seraya menghampiri Donghae yang masih berbaring di atas sofa. Dilihatnya wajah adiknya itu tidak sedang baik-baik saja. “Kau sakit?”

Donghae menggelengkan kepalanya. Kakinya bergerak menendang pantat Hyukjae yang berniat untuk menghenyakkan diri di sofa yang sedang digunakannya untuk berbaring.

“Di sini masih ada tiga sofa panjang yang bisa kau duduki,” sergah Donghae seraya kembali meluruskan kakinya.

Hyukjae hanya berdecak pelan sambil memilih sofa yang ada di depan Donghae untuk diduduki. “Apa lagi sekarang? Bukankah seharusnya kau senang sekarang tokomu yang baru sama ramainya dengan tokomu yang lama?” tanya Hyukjae seraya menyilangkan kaki kanannya ke atas kaki kirinya. Tangannya mengambil ponsel yang ada di dalam jas dan mulai mengecek beberapa pesan dari kantor.

Bukannya menjawab Donghae justru menarik salah satu bantal sofa yang ada di dekat kepalanya dan menutupi wajahnya dengan bantal tersebut. Entahlah, rasanya ia ingin marah bila ia mencoba membuka mulutnya untuk berbicara.

“Kemarin… kenapa kau tidak ikut mengejar Jung Ra?” tanya Hyukjae sesaat setelah membiarkan suasana di antara dirinya dan Donghae sunyi. Ia bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya.

Donghae yang hampir tidak bisa bernapas dengan benar di balik bantal langsung membuka matanya. Disingkirkannya bantal tersebut dari wajahnya dan seketika menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya dengan cukup keras hingga akhirnya berhasil membuat Hyukjae menggerakkan kedua mata ke arahnya.

“Ada apa denganmu? Aku hanya bertanya apakah—“

“Aku tidak bisa bernapas,” potong Donghae tiba-tiba sambil memandang langit-langit ruangan di lantai dua tersebut.

Hyukjae sesaat melirik bantal yang tadi disingkirkan oleh adiknya, kemudian mendengus pelan sambil kembali menatap layar ponselnya. “Tentu saja kau tidak bisa bernapas. Siapa yang menyuruhmu menutupi wajahmu dengan bantal?” cibir Hyukjae.

Bukan. Donghae tidak bisa bernapas bukan karena ia menutupi wajahnya dengan bantal tersebut, melainkan karena ia mendengar nama Jung Ra. Ini berbeda, padahal sebelumnya setiap kali telinganya mendengar nama gadis itu, tidak akan ada reaksi seaneh ini.

Yaa, kau belum menjawab pertanyaanku,” ujar Hyukjae, sekilas memandang Donghae.

“Pertanyaan apa?” Kini Donghae bangun dari tidurnya dan memilih mendudukkan dirinya dengan malas.

“Kenapa kau tidak keluar mengejar Jung Ra?” Hyukjae mengulangi pertanyaannya. Pandangannya sepenuhnya tertuju pada Donghae yang sudah duduk di hadapannya.

“Apa untuk mengejar seorang gadis yang sedang patah hati harus sampai membuat dua orang laki-laki berlarian seperti orang gila di jalanan?” Donghae bertanya balik.

“Kau tidak khawatir padanya?” tanya Hyukjae sambil meletakkan ponselnya di samping tubuhnya.

Donghae hanya berdecak sambil memutar kedua bola matanya jengah. Apakah ia harus menjawab pertanyaan kakaknya tersebut? Toh, kalaupun ia harus khawatir, rasanya akan sia-sia saja karena ia sudah melihat keadaan Jung Ra yang baik-baik saja.

“Tadinya. Ah, sudahlah. Bisa tidak kau mengganti topik pembicaraan yang lain?” gerutu Donghae, melempar tatapan kesal ke arah Hyukjae.

“Kau mau kuberitahu sesuatu?”

“Sekali lagi kau mengajakku berbincang-bincang untuk membahas masalah Jung Ra, aku bisa pastikan salah satu sepatuku akan melayang dan mengenai wajahmu,” ancam Donghae yang memang sedang tidak ingin mendengar nama Jung Ra disebut-sebut. Katakan saja…, untuk saat ini nama Jung Ra seolah menjadi penyakit yang menular meskipun hanya menyebutnya.

Seolah sama sekali tak takut dengan ancaman Donghae yang entah kenapa terkesan lucu di mata Hyukjae, Hyukjae pun tetap melanjutkan kata-katanya.

“Kemarin Jung Ra mengunci dirinya di dalam tempat tinggal ibunya dan menangis meraung-raung—“ Hyukjae mendadak berhenti bicara dan menggerakkan tubuh dan kepalanya ke sisi kanan karena sebuah sepatu melayang ke arahnya dan hampir saja mengenai wajahnya. Sepertinya ancaman Donghae tidak main-main. Untung saja tadi ia bisa menghindar dengan cepat, kalau terlambat satu detik saja mungkin wajahnya akan berhias luka lebam.

“Lebih dari tiga jam ia mengunci diri di dalam sana. Sebenarnya aku ingin membiarkan dia begitu saja, tapi aku tahu—“

Untuk yang kedua kalinya Hyukjae kembali menghindar dari terjangan sepatu Donghae yang lain.

“Jangan memaksaku melempar sofa yang sedang kududuki ini hanya karena kau meremehkanku, Lee Hyukjae,” desis Donghae di mana kekesalannya sudah mencapai puncak kepalanya. Apakah kakaknya itu tidak tahu hari ini perasaannya terlalu sensitif bila harus mengingat Jung Ra?

Hyukjae menghela napas kemudian menatap Donghae.

“Tidak ada apa-apa di antara kami. Kalau kau bertingkah menyebalkan seperti ini karena kau mengira kami sedang menjalin hubungan, berarti otakmu sudah tidak beres.”

Donghae yang berniat menarik bantal sofa di dekatnya untuk ia lemparkan pada Hyukjae terpaksa berhenti. Ia tertegun sepenuhnya. Apa lagi sekarang?

“Katakan saja… usahamu untuk membuatnya melupakanku ternyata berhasil,” tambah Hyukjae.

Donghae lantas berdehem dan membuang pandangannya ke arah lain. Jujur, apa yang baru saja didengarnya seperti sesuatu yang sangat mengejutkan, tapi tetap saja tidak menimbulkan reaksi yang berarti baginya. Mungkin kata-kata Hyukjae sangat mudah dimengerti bila orang lain yang mendengarnya, tapi bagi Donghae yang seolah daya pikirnya tiba-tiba melemah setiap detiknya harus benar-benar mencerna kata-kata tersebut.

Tidak ada apa-apa di antara kami, itu artinya Hyukjae dan Jung Ra sama sekali tidak berpacaran. Tapi… bisa saja kan berarti kemarin sore tidak terjadi apa-apa antara Hyukjae dan Jung Ra, mereka berdua tidak bertengkar layaknya dua orang yang sedang berselisih, kemudian berakhir damai, dengan kata lain… hubungan mereka berdua membaik dan memutuskan untuk mencoba menjadi sepasang kekasih.

Katakan saja… usahamu untuk membuatnya melupakanku ternyata berhasil. Bagian inilah yang membingungkan Donghae. Kalau Hyukjae dan Jung Ra sudah tidak bertengkar lagi kemudian menjadi sepasang kekasih, kenapa Hyukjae harus berkata demikian? Baiklah, mungkin Donghae tidak akan pernah lupa apa yang pernah ia ucapkan pada Hyukjae ketika ia tahu Hyukjae menolak Jung Ra karena kakaknya itu lebih mementingkannya. Meskipun ia memang benar-benar berusaha membuat Jung Ra melupakan Hyukjae, tapi ia tidak berharap usahanya akan berhasil. Entah kenapa kata berhasil yang keluar dari mulut Hyukjae terdengar menggelikan.

“Kalau kau menyukainya, katakan saja padanya,” celetuk Hyukjae yang akhirnya menghentikan pikiran Donghae yang mengembara ke mana-mana.

“Apa maksudmu?”

“Kau juga pernah bilang padaku bahwa selain akan membuatnya melupakanku, kau juga akan membuatnya menyukaimu dalam waktu singkat. Tapi kulihat, justru kau duluan yang menyukai Jung Ra. Apa kau termakan ucapanmu sendiri?” ejek Hyukjae.

Entah terlihat atau tidak, wajah Donghae memanas dan memerah. Kalau pun terlihat, mungkin sekarang Hyukjae sudah menertawakannya, tapi nampaknya tidak. Susah payah Donghae menelan ludah karena ia tidak tahu harus menanggapi Hyukjae dengan kata-kata apa. Ia salah tingkah sendiri di hadapan kakaknya.

Ya…, jauh di dalam hatinya ada jutaan sensasi menyenangkan yang meletup-letup di sana saat tahu Jung Ra tak memiliki perasaan lagi pada Hyukjae, tapi Donghae tidak tahu harus mengekspresikannya dengan cara yang bagaimana. Di satu sisi ada Hyukjae yang belum ia tahu bagaimana perasaannya. Apakah Hyukjae masih menyimpan perasaan yang sama pada Jung Ra atau tidak. Di sisi lain ia tidak tahu apakah Jung Ra juga memiliki perasaan yang sama seperti yang dirasakannya. Donghae yang sekarang terlihat sangat bodoh.

“Kau…,” Donghae tak melanjutkan kata-katanya. Jari telunjuknya mengarah pada Hyukjae.

Hyukjae yang seolah mengerti ke mana arah ucapan Donghae langsung memungut sepatu yang hampir saja mengenai wajahnya tersebut dan melemparnya tepat di wajah adiknya. Donghae yang tak sempat menghindar hanya bisa merintih kesakitan. Belum habis rasa sakitnya itu menghilang, satu sepatu lagi mendarat cukup keras di wajah bagian kiri. Kini di setiap sisi wajahnya nampak luka lecet tak lebih dari 3 cm dan berwarna merah hasil lemparan sepatu yang dilakukan Hyukjae.

YAA! Kenapa kau melempar sepatuku ke wajahku?!” pekik Donghae yang merasakan hampir seluruh wajahnya berkedut nyeri.

“Aku akan bahagia kalau kau bahagia. Toh, di dunia ini masih banyak wanita lain yang bisa dengan mudah kudapatkan. Kau lupa kalau sejak dulu aku selalu terkenal di kalangan wanita? Jadi, kau tidak perlu mencurigaiku. Terima atau tidak, mau di dunia, kewajiban seorang kakak selalu sama, yaitu melakukan apapun demi kebahagiaan adiknya.”

Donghae mendengus sambil tetap memegang wajahnya yang sakit. “Terima atau tidak, aku tidak percaya. Ada beberapa orang yang mementingkan kebahagiannya dulu, baru memikirkan adiknya. Kalau aku, aku sependapat dengan mereka.”

“Tapi sayangnya kakakmu bukan termasuk orang-orang yang seperti itu,” ujar Hyukjae sambil tersenyum. Ia lantas bangkit dari duduknya, merapikan jas hitamnya dan memasukkan ponselnya ke dalam jas. “Turunlah dan bantu mereka berdua. Sepertinya orang-orang yang datang semakin banyak. Aku pergi dulu. Ada rapat yang harus kupimpin.”

Donghae berdecak pelan melihat Hyukjae menuruni tangga dan menghilang dari pandangannya. Beberapa saat kemudian ia pun turun ke lantai dasar. Apa yang dikatakan Hyukjae benar adanya. Pembeli yang datang cukup banyak, Ryeowook dan Jung Ra juga nampak sedikit kewalahan untuk melayani mereka. Tanpa menghiraukan wajahnya yang masih berkedut, Donghae pun berniat untuk membantu.

“Ada apa dengan wajahmu?” Jung Ra yang menoleh ke arah Donghae yang menghampirinya sedikit terkejut melihat ada luka di wajah Donghae.

“Bukan apa-apa. Aku hanya… Hei, kau mau ke mana?” Donghae dibuat heran dengan Jung Ra yang tiba-tiba meninggalkannya. Dilihatnya gadis yang pagi ini mengenakan kemeja kotak-kotak berwarna pink menghampiri Ryeowook dan berbicara padanya untuk beberapa saat. Ryeowook nampak mengangguk mengiyakan entah apa yang dikatakan Jung Ra. Jung Ra kembali ke tempat Donghae dengan wajah menyeramkan. Tanpa Donghae duga, gadis itu menyeretnya ke arah belakang, tepatnya di belakang almari besar di mana di sana sofa usang milik Donghae diletakkan.

“Kau tadi berkelahi dengan kakakmu lagi?” tanya Jung Ra ketus sambil mengambil sesuatu di atas almari. Karena tubuhnya yang tidak terlalu tinggi, akhirnya Jung Ra hanya bisa melonjak-lonjak tak jelas dengan tangan terulur ke atas untuk menggapai sebuah kotak yang ada di atas sana.

Donghae yang melihat Jung Ra seperti itu, hanya bisa mendesah pelan, ia kemudian berjalan menghampiri Jung Ra dan meraih kotak yang sejak tadi tidak bisa Jung Ra ambil.

“Kau mau mengambil ini?” Donghae menyodorkan kotak tersebut tepat di depan wajah Jung Ra. Jung Ra merebutnya dari tangan Donghae dengan sedikit kasar, mengaduk-aduk isi kotak tersebut dan sesaat kemudian dua buah plester sudah ada di tangannya.

“Kau belum menjawab pertanyaanku,” desis Jung Ra kesal setelah menghempaskan Donghae ke atas sofa usang. Ia sendiri lantas duduk di atas sofa, menghadap ke arah Donghae. Tangannya sibuk membuka bungkus plester tersebut. Entah karena kekesalannya pada Donghae yang tiba-tiba muncul dengan wajah seperti itu, atau karena hal lain, Jung Ra berkali-kali gagal membuka bungkus plester hingga akhirnya ia hanya bisa berdecak kesal.

“Pertanyaan yang mana?” Donghae merebut plester itu dari tangan Jung Ra dan membukakannya, kemudian memberikannya kembali pada Jung Ra.

“Jangan berlagak tuli di depanku!” bentak Jung Ra sambil membuka plesternya. Dengan kasar ia menempelkan plester tersebut tepat di luka Donghae, membuat Donghae mendesis kesakitan.

“Aku sudah pernah berkata padamu, jangan berkelahi dengan Hyukjae. Dia itu kakakmu. Kau ini keras kepala sekali sih? Aku paling benci bila harus melihat dua orang yang bersaudara berkelahi. Asal tahu saja, alasan yang kau berikan padaku dulu sama sekali tidak bisa kuterima, bahkan sampai sekarang. Berkelahi adalah hal yang wajar bagi kaum laki-laki? Cih,” omel Jung Ra. Kini ia mulai menempelkan satu plester lagi ke luka Donghae yang lain.

“Dia melempar sepatuku ke wajahku. Tidak hanya satu, tapi sepasang sepatuku. Seharusnya dia yang kau omeli, bukan aku,” gerutu Donghae setelah Jung Ra menjauhkan diri darinya.

“Apa? Bagaimana bisa? Maksudku, bagaimana bisa sepatumu ada di tangannya?” Jung Ra memandang heran ke arah Donghae.

“Aku yang melepasnya dan bermaksud untuk melemparnya ke wajah Hyukjae, tapi sayangnya dia bisa menghindar. Maka dari itu—“

“Kau melempar sepatumu ke wajah Hyukjae? Kau melempar sepatumu ke wajah kakakmu sendiri? Astaga, apa kau tidak bisa melakukan hal yang sedikit lebih dewasa?” Jung Ra semakin dibuat tidak percaya dengan penjelasan Donghae. Benarkah dua orang laki-laki yang dikenalnya ini berusia di atas dua puluh lima tahun?

“Berhentilah memarahiku! Kau tidak lihat luka yang kudapat?” Donghae menunjuk luka-lukanya yang sudah tertutup plester.

“Paling tidak kau mendapatkan ganjarannya,” ujar Jung Ra malas seraya bangkit dari duduknya dan meninggalkan Donghae.

***

Hari beranjak malam. Toko Donghae pun sudah tutup. Ryeowook malam ini memilih untuk menginap di lantai dua ruko karena ia malas naik bus semalam ini. Awalnya Donghae ingin menyeret Ryeowook yang sudah terlelap di atas sofa favoritnya, tapi karena tidak tega akhirnya ia mengurungkan niatnya.

Ponselnya bergetar saat ia baru akan menuruni tangga. Dilihatnya nama ibu Jung Ra tertera di layar ponsel.

Yeoboseo? Eomonim…”

.

.

“Makan yang banyak, Kau kelihatan kurus sekarang? Apa kau tidak makan secara teratur? Meskipun kau pindah ke toko yang baru dan kesibukanmu bertambah, seharusnya kau tidak lupa untuk makan tepat waktu,” kata Nyonya Im setelah meletakkan irisan daging di atas nasi yang akan dimakan Donghae.

Donghae hanya mengangguk dan tersenyum sambil melahap nasi berhias irisan daging pemberian ibu Jung Ra. Ya, tadi ibu Jung Ra menelponnya karena mengajaknya makan bersama di sebuah kedai terbuka yang letaknya tak jauh dari tempat tinggalnya.

“Kenapa anak itu lama sekali? Padahal aku menyuruhnya untuk segera datang setelah aku menghubunginya,” gumam Nyonya Im seraya memakan makanannya.

Donghae menegakkan kepalanya dan bermaksud menanyakan siapa yang dimaksud anak itu oleh Nyonya Im.

“Jung Ra. Siapa lagi? Aku memang menyuruhnya datang kemari. Dia memang tidak tahu kalau aku menyuruhmu juga,” Nyonya Im berkata sebelum Donghae sempat membuka mulutnya untuk bertanya.

Donghae lantas hanya kembali mengulas senyum dan mengunyah nasi yang baru saja ia masukkan ke dalam mulutnya.

“Nah, itu dia!” pekik Nyonya Im tiba-tiba.

Donghae terpaksa menoleh ke belakang dan mendapati sosok Jung Ra berjalan dan setengah berlari ke arah kedai. Rambut coklat gadis itu diikat ke atas dan hanya menyisakan beberapa helai rambut yang masih menjuntai bebas dimainkan angin malam.

“Kenapa kau ada di sini?” Jung Ra yang sudah berdiri di dekat meja langsung menunjuk ke arah Donghae.

“Aku …”

“Aku yang menelponnya untuk makan bersama. Sekarang duduklah di sampingnya dan segera makan makananmu,” Nyonya Im memotong ucapan Donghae sambil menggerakkan tangannya pada Jung Ra agar segera duduk.

Jung Ra hanya mengangguk pelan sambil berjalan di belakang Donghae dan duduk di bangku yang ada di samping Donghae. Kedua alisnya masih saja hampir menyatu karena sejak dua puluh detik yang lalu ia memandangi Donghae. Donghae yang awalnya mengabaikan tatapan Jung Ra pun akhirnya menoleh.

“Jangan memandangku seperti itu. Aku kemari memang benar-benar karena ditelpon Eomonim. Kalau kau tidak percaya, aku bisa menunjukkan ponselku. Di sana ada panggilan masuk terakhir dari Eomomonim,” Donghae mencoba membela diri saat ia merasa pandangan mata Jung Ra terkesan sedang menghakiminya.

“Memangnya apa salahnya bila aku mengajak dia makan bersama denganmu? Aku sengaja mengajak kalian makan bersama karena sekarang berbeda dengan dulu. Dulu kalian bisa sering datang ke rumah untuk makan bersama, sedangkan sekarang sejak Donghae pindah ke tengah kota, kalian jadi jarang bertemu,” Nyonya Im ikut membela Donghae.

“Aku bertemu dengannya setiap hari, Eomma. Empat belas jam dari dua puluh empat jam aku habiskan untuk berada di dekatnya dalam radius kurang dari lima meter,” sanggah Jung Ra setelah menelan nasi yang tadi dikunyahnya.

“Maksudku kalian sekarang sudah tidak pernah pergi berdua lagi. Apa sekarang sedang trend berpacaran tanpa pergi kencan? Kalau tidak pergi kencan, bagaimana dua orang yang sedang menjalin hubungan bisa tahu satu sama lain?” Nyonya Im tetap pada pendiriannya yang berhasil membuat Jung Ra menyerah untuk membalasnya.

Donghae baru akan angkat bicara saat Nyonya Im berdiri dari duduknya. Ibu Jung Ra tersebut ingin pergi ke toilet sebentar untuk buang air kecil karena sejak tadi ia suda menghabiskan tiga gelas kecil bir. Donghae menolehkan wajahnya ke arah Jung Ra setelah sosok Nyonya Im menghilang dari balik dinding. Dilihatnya Jung Ra terlihat begitu fokus dengan irisan daging yang sedang dipanggang. Malam ini gadis yang duduk di sampingnya nampak begitu diam.

“Kau masih marah padaku?” tanya Donghae pelan setelah berhasil mencomot daging yang akan diambil Jung Ra.

“Tadinya. Tapi kau baru saja membuatku marah,” desis Jung Ra sambil menunjuk daging yang ada di ujung sumpit Donghae.

“Buka mulutmu.”

Tak diduga Jung Ra, laki-laki berambut gelap itu justru menyodorkan daging tersebut ke arahnya. Ia pikir adik Hyukjae tersebut akan memakan daging itu dan membiarkannya mendengus kesal karena merasa makanannya dicuri.

“Ini sebagai permintaan maafku karena sudah membuatmu kesal pagi tadi. Mungkin lain kali aku dan Hyukjae akan melakukan hal yang lebih dewasa seperti berkelahi dengan saling melempar meja.” Donghae memasukkan daging ke dalam mulut Jung Ra.

“Aku tidak pernah menyuruh kalian berkelahi seperti itu!” bentak Jung Ra sambil memukul lengan Donghae.

“Tapi tadi kau bilang saling melempar sepatu bukan hal yang dewasa, dan…,” Donghae menghentikan ucapannya kemudian tertawa melihat Jung Ra memberengut. Entah kenapa malam ini gadis bermata besar itu terlihat manis saat menampilkan ekspresi seperti itu.

“Aku hanya bercanda,” ucap Donghae kemudian.

.

.

Jam tangan Donghae menunjukkan pukul dua belas malam. Sepuluh menit yang lalu ia dan Jung Ra baru saja mengantar Nyonya Im ke gedung tempat tinggalnya. Sepanjang perjalanan menuju gedung apartemen sederhana yang masih ditempati Jung Ra, Donghae hanya mengatupkan bibirnya hingga membuat Jung Ra bingung harus membuat topik pembicaraan apa yang bisa mereka gunakan.

“Kata Hyukjae, usahaku berhasil,” akhirnya suara Donghae terdengar meskipun sempat mengejutkan Jung Ra yang sudah mulai terbiasa dengan keadaan sunyi di antara mereka.

“Maksudmu?”

“Kau bisa melupakan Hyukjae, kau bisa menghapus perasaanmu yang dulu padanya. Itu karena usahaku selama ini yang ingin membuatmu benar-benar melupakannya,” jawab Donghae sambil terus melangkahkan kakinya.

“Sepertinya kau terlalu percaya diri,” sergah Jung Ra.

“Sejak dulu aku memang orang yang percaya diri,” timpal Donghae dengan kekehan pelan. Jung Ra hanya berdecak pelan dan bermaksud untuk mendahului Donghae, tapi Donghae lebih dulu menarik tudung hoodie Jung Ra hingga Jung Ra terpaksa tersentak ke belakang.

“Aku tidak menyuruhmu untuk mendahuluiku, Nona Go,” Donghae berkata seolah ia sedang memerintah Jung Ra.

“Itu memang murni kemauanku. Aku hanya ingin mendahuluimu. Itu saja,” bantah Jung Ra sambil berusaha menepis tangan Donghae yang menggenggam erat ujung tudung hoodie-nya.

“Dengar, aku masih atasanmu. Apapun yang keluar dari bibirku adalah perintah. Kalau kau melanggarnya—“

“Kalau aku melanggarnya, kau akan memotong gajiku sebanyak 50%? Astaga, Donghae Oppa, ancamanmu sama sekali tidak berkembang. Apakah kau tidak punya ancaman lain selain itu? menggelikan sekali,” cibir Jung Ra. Sesaat setelah berhasil melepaskan tangan Donghae dari tudung hoodie-nya, Jung Ra bergerak menjauh. Tapi, lagi-lagi ia tak bisa bergerak karena tangan Donghae menarik pinggangnya. Mau tidak mau ia tersentak ke arah Donghae. Terkejut? Tentu saja. Ini adalah kesekian kalinya ia berada sedekat ini dengan Donghae. Ingatannya berlari pada malam itu di mana Donghae mengurungnya di depan pintu apartemen kemudian ciuman itu terjadi. Jantungnya kembali berdegup tak karuan.

“K-kau mau apa?”

“Aku memang tidak menyuruhmu untuk mendahuluiku, tapi tadi aku menyuruhmu untuk berjalan bersamaku. Jangan berjalan mendahuluiku atau pun berjalan di belakangku. Aku menyuruhmu untuk berjalan di sampingku.”

“T-tapi aku tidak mau k-karena kau menyebalkan,” elak Jung Ra.

“Meskipun aku menyebalkan, kau tetap menyukaiku, kan? Hm? Ayolah, jangan membohongi dirimu sendiri. Hyukjae saja berani bersumpah atas namanya sendiri bahwa perasaanku padamu sekarang berbeda, dengan kata lain aku menyukaimu.”

Sedetik setelah berbicara, tubuh Donghae menegang. Sepertinya ada yang salah. Sepertinya ia baru saja melakukan kesalahan fatal karena kini justru Jung Ra yang terkejut memandangnya.

Oh, tidak! Kata-kata ‘Hyukjae saja berani bersumpah atas namanya sendiri bahwa perasaanku padamu sekarang berbeda, dengan kata lain aku menyukaimu’ seharusnya tidak pernah keluar dari bibirnya. Harusnya kata-kata ‘Hyukjae saja berani bersumpah atas namanya sendiri bahwa perasaanmu padaku sekarang berbeda, dengan kata lain kau menyukaiku’ yang ia keluarkan. Hanya berbeda –ku dan –mu saja artinya sudah berbanding seratus delapan puluh derajat.

“Sial…,” umpat Donghae lirih sambil melepas tangannya dari pinggang Jung Ra. Gadis itu masih saja memandanginya dengan ekspresi wajah yang kini susah ia artikan.

“Jangan memandangku seperti itu! Baiklah, aku menyukaimu, puas? Aku termakan ucapanku sendiri. Jadi, bisakah kau tidak mengerjap-ngerjap seperti kucing begitu? Menyebalkan sekali,” gerutu Donghae salah tingkah. Donghae membodohi dirinya sendiri di dalam hati.

“Kau… menyukaiku?”

Bagus, kini Jung Ra justru bertanya dengan deretan kata tersebut. Donghae seketika tersentak di tempatnya. Kalau pun ia bisa, mungkin ia ingin segera berlari menjauh dari hadapan Jung Ra, dan memutar otaknya selama berjam-jam untuk mencari jawaban apa yang tepat. Tapi nyatanya ia tidak bisa. Kedua kakinya seolah terpaku di trotoar, sama sekali tak bisa ia gerakkan.

Jujur, ini di luar kendali Donghae. Harus Donghae akui, ia memang lihai bila sedang menggoda Jung Ra dengan berbagai macam cara, tapi bila ia dihadapkan dengan masalah…., tunggu, ini bukan masalah, melainkan sebuah keadaan. Ya, sebuah keadaan. Donghae akan langsung mati gaya bila ia dihadapkan dengan keadaan seperti ini. Katakan saja, kepercayaan diri Donghae mendadak menghilang begitu saja.

Akhirnya dengan susah payah, Donghae berhasil mengendalikan dirinya yang sejak tadi sibuk menjinakkan berbagai macam pikiran yang berperang di dalam kepalanya. Ditariknya napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan.

“Ya, dan kau harus menuruti apa yang kuperintahkan!” Nada suara Donghae terdengar terlalu tinggi tanpa sebab.

“Perintah?”

“Perintah untuk menjadi kekasihku. Kau harus mau, kalau tidak—“

“Kembali memotong gajiku?”

“Tidak, tapi ini.” Donghae kembali menarik pinggang Jung Ra, dan menyapu bibir Jung Ra dan melumatnya dengan lembut.

Mendadak, ada sebuah sengatan listrik yang menjalar di sekujur tubuh Jung Ra. Ia ingin mendorong tubuh Donghae, tapi ia tak bisa melakukannya. Ada bagian lain dari dirinya yang memang menginginkan hal ini kembali terjadi. Tanpa Jung Ra sadari sebulir air mata jatuh dari pelupuk matanya. Semakin lama semakin deras air mata yang mengalir hingga membuat Donghae melepaskan bibirnya dari Jung Ra.

“Kenapa kau menangis?” tanya Donghae yang terkejut melihat linangan air mata Jung Ra.

Jung Ra hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, kedua tangannya menggenggam erat bagian depan jaket Donghae dengan kepala tertunduk.

“Apa aku tadi menyakitimu?”

Sekali lagi Jung Ra menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Lalu kenapa kau menangis seperti itu? Hei, lihat aku.” Donghae mencoba menegakkan wajah Jung Ra agar ia bisa memandangnya.

“Aku takut kalau aku kembali patah hati, Oppa. Aku takut. Memang benar aku sudah bisa melupakan Huykjae karena kau seperti cicak yang suka menempel di mana pun aku berada dan melakukan hal-hal manis yang menurutku sangat aneh itu. Bahkan beberapa kali aku merasa sepertinya aku benar-benar jatuh hati padamu karena semua yang kau lakukan padaku, tapi aku berusaha tidak menghiraukannya karena aku takut kalau kau hanya mempermainkanku. Kau tahu sendiri, kan kalau kau adalah laki-laki menyeramkan yang pernah kukenal? Asal kau tahu saja, Hyukjae yang sudah membuatku patah hati untuk pertama kalinya dalam hidupku saja tidak bisa kumarahi, bagaimana nantinya kalau ada orang lain yang kembali membuatku patah hati? Apalagi orang itu adalah dirimu,” ujar Jung Ra di tengah isak tangisnya.

Donghae tertawa mendengar jawaban Jung Ra yang panjang lebar. Seperti cicak yang suka menempel di mana pun gadis itu berada, dan melakukan hal-hal manis yang menurutnya sangat aneh? Dirinya adalah laki-laki menyeramkan yang pernah Jung Ra kenal? Bagi Donghae, tidak ada kata-kata yang lebih menggelikan dari itu semua saat ini. Rasanya ia bisa tertawa hingga pagi datang andai ia tak segera mengontrol dirinya. Donghae tidak tahu, ternyata selain kelewat jujur, Jung Ra juga kelewat polos.

“Kalau aku sampai membuatmu patah hati, kau harus memarahiku, mengerti? Jangan diam dan menangisi nasibmu yang malang seperti saat kau patah hati karena kakakku. Kau harus mencariku, memarahiku habis-habisan, atau kalau kau mau, kau bisa melempar dua sepatumu ke arah wajahku agar aku tahu di mana letak kesalahanku yang sudah membuatmu patah hati. Kau harus janji padaku,” ucap Donghae sambil menyeka lembut air mata Jung Ra.

Jung Ra hanya mengangguk lemah.

“Mau kupeluk? Biasanya gadis suka dipeluk bila sedang menangis.” Donghae sudah merentangkan kedua tangannya, menunggu Jung Ra berhambur ke pelukannya. Senyumnya merekah saat gadis itu akhirnya menerima pelukannya.

“Jadi sekarang kita resmi menjadi sepasang kekasih?” canda Donghae seraya mengeratkan pelukannya pada tubuh Jung Ra. Dirasakannya kepala Jung Ra mengangguk di dadanya.

“Kalau begitu kau boleh memanggilku Oppa setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik, sebanyak yang kau mau. Oh, tunggu, kau harus. Iya, kau harus melakukannya sebanyak yang kau bisa. Ini perintah. Jadi kau harus mematuhinya.”

Sekali lagi kepala Jung Ra mengangguk.

“Biasanya gadis suka dicium bibirnya bila sudah dipeluk seperti ini,” celetuk Donghae sesaat setelah terdiam.

“Aku pulang saja.” Jung Ra melepas kedua tangannya yang sejak tadi memeluk pinggang Donghae. Rasa kesalnya kembali muncul seolah Donghae baru saja merusak suasana hatinya.

“Aku hanya bercanda.” Donghae menarik Jung Ra dan kembali memeluknya.

“Candaanmu keterlaluan, tahu tidak,” desis Jung Ra.

“Sebenarnya tidak juga. Wajar kan kalau sepasang kekasih berciuman dan—“

“Aku pulang saja.” Jung Ra kembali berusaha melepaskan diri dari pelukan Donghae.

“Hehehe…, aku hanya bercanda, Nona Go.”

———— oOo ————

IF YOU BELIEVE… YOU CAN FIND ANOTHER HAPPINESS IN YOUR LIFE ~

“Iya, aku tahu. Kau urus saja semuanya, nanti aku yang akan datang ke sana untuk mengeceknya,” Hyukjae berbicara dengan Youngwoon melalui ponselnya. Ia mematikan mesin mobilnya dan melepaskan sabuk pengamannya.

Memangnya kau ada di mana sekarang?” Suara Youngwoon terdengar kesal.

“Aku sedang ingin jalan-jalan. Kututup, Hyung.” Hyukjae menghela napas setelah mematikan ponselnya. Ia menoleh ke sisi kanan tubuhnya di mana tak jauh darinya pemandangan indah sudah memanjakan kedua matanya.

Suara debur ombak di sore hari terdengar begitu nyaring. Angin sore yang kencang membuat pohon-pohon pinus di sana bergoyang-goyang. Pasir putih yang ada di tepi pantai terlihat berwarna coklat terang karena tertimpa sinar matahari yang mulai tenggelam. Hawa sejuk khas pantai menyerang kedua lubang hidung Hyukjae. perlahan ia berjalan ke arah pantai dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya. Rambut gelapnya bergerak ke sana-kemari karena angin.

Pantai Eurwangni. Ya, sore ini ia memilih untuk pergi ke tempat ini karena dekat dengan Seoul. Tanpa ada orang yang tahu, tempat ini sudah menjadi favoritnya sejak kecil karena mendiang ibunya sering mengajaknya kemari. Tiap kali suasana hatinya buruk, bila ia menatap matahari tenggelam di sini, rasanya hatinya kembali tenang, tapi bukan berarti hari ini hatinya sedang dalam suasana buruk. Ia hanya ingin mengunjungi pantai ini karena sudah lama ia tak kemari.

Matanya beredar memandang laut yang begitu panjang dan luas di hadapannya. Warna matahari yang akan tenggelam itu terlihat begitu indah hingga tak sadar Hyukjae menarik kedua sudut bibirnya, tersenyum tipis ke arah matahari.

“Hyukjae Oppa?”

Suara seseorang memaksa Hyukjae mengalihkan pandangannya ke sisi kiri tubuhnya. Tak jauh darinya sudah berdiri seorang wanita yang mengenakan blus tipis berwarna putih dengan rok panjang berwarna senada dan sebuah cardigan biru yang melekat di tubuh bagian atasnya. Rambut panjangnya yan berwarna coklat berayun lemas, kedua matanya yang tidak bisa dibilang besar tapi tidak terlalu sipit terlihat begitu jernih, senyumnya lebar dan manis. Cukup menarik bagi Hyukjae, hanya saja yang membuat Hyukjae bingung adalah darimana gadis itu mengetahui namanya.

“Maaf, apa kita pernah bertemu?”

Gadis itu mengangguk kecil sambil berjalan mendekat ke arah Hyukjae. “Iya, kalau tidak salah… dua puluh satu tahun yang lalu. Aku tidak tahu kau masih ingat atau tidak, tapi yang jelas aku masih mengingat wajahmu,” ujarnya.

Hyukjae bukannya termasuk orang yang mudah lupa, tapi ini masalahnya dua puluh satu tahun yang lalu. Ada kalanya seseorang tidak bisa mengingat sesuatu atau seseorang di masa lalunya karena terlalu banyak hal yang harus dipikirkan.

“Kau tidak mengingatku? Aku Kim Hye Young, gadis kecil berusia enam tahun yang sempat bermain denganmu di bawah pohon pinus dengan ibumu. Ya…, memang sih, pertemuan kita tak lebih dari dua jam. Kau dulu berjanji akan menjadi teman baruku,” gadis bernama Hye Young itu mencoba membuka memori Hyukjae.

“Teman baru?”

Hye Young mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kecilnya. Ternyata sebuah foto. Ia menyodorkan foto tersebut pada Hyukjae.

“Itu fotoku saat aku usia enam tahun,” ujar Hye Young.

Hyukjae sedikit lebih lama melihat foto seorang anak perempuan manis berambut panjang yang tersenyum. Perlahan ia mengingatnya. Saat usianya delapan tahun, ia memang diajak ke pantai ini oleh mendiang ibunya. Tanpa sengaja ia bertemu dengan gadis kecil di foto ini dan bermain bersama untuk beberapa saat sebelum akhirnya gadis kecil itu terpaksa meninggalkannya karena harus bertemu ayahnya.

“Kau… dia?” Hyukjae menegakkan wajahnya untuk menatap gadis bertubuh cukup tinggi tersebut.

Hye Young mengangguk sambil tersenyum.”Jadi kau sudah ingat?”

Hyukjae menghela napas dan tertawa. “Maafkan aku, Hye Young-ssi. Aku benar-benar tidak mengingatmu.”

“Tidak apa-apa. Jadi, setelah sekian lama, kau datang lagi kemari?”

“Iya. Kau sendiri? Apakah kau masih datang kemari karena merindukan mendiang ibumu? Seingatku ini belum bulan Januari, berarti tidak mungkin kau kemari untuk merayakan ulang tahunmu dan ulang tahun kedua orang tuamu yang sama-sama jatuh di tanggal 17 Januari.”

Hye Young tersenyum manis. “Aku kemari karena merindukan mereka berdua. Kini ada Appa sudah bersama dengan Eomma.”

Seketika senyum Hyukjae menghilang. Ia merasa bersalah karena sudah bertanya pada Hye Young. “Maaf, Hye Young-ssi. Aku kira—“

“Tidak apa-apa. Aku hanya senang kini Appa tidak perlu menangis sendirian karena merindukan Eomma.”

“Kau… mau makan bersama? Kebetulan aku belum makan siang?” ajak Hyukjae

==== THE END ====

 

 

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: