Between Us [1/?]

between us 6

Between Us (Part 1)

 

Author                        : Yaqazhan

Cast                 : Han Young Ra, Cho Kyu Hyun, Han Young Na, Choi Siwon

Other cast       : Lee Hyukjae, Lee Donghae, Hwang Yoo Shin

Genre              : Romance, angst, family, brothership, sad.

Length             : Chapter

Disclaimer       : Aku ucapin terima kasih banyak buat admin blog ini karena udah mau publish FF gak jelas ini. Fanfic ini murni buatanku sendiri, so kalau mau baca di persilahkan tapi ingat, jangan copast tanpa ijin, jangan plagiat, jangan ngaku-ngaku, dan lain-lain yang berkaitan dengan penjeplakan tanpa ijin, Arrachi? Just read, like, and coment. Happy reading all!!

 

Young Ra memutar bola matanya kesal, sudah setengah jam lebih gadis itu menunggu di depan lobi Bandara Internasional Incheon, tapi orang yang di tunggunya belum juga datang. Ia menghentakkan kakinya keras-keras seraya terus mengumpat, tak mempedulikan tatapan tanya orang-orang yang mengarah padanya. Hampir saja ia mencegat sebuah taksi, jika saja seorang gadis tidak cepat-cepat menghampirinya. Young Ra menatap gadis itu dengan tajam.

“Kenapa lama sekali? Kau sengaja membuatku menunggu kan?!” bentaknya.

“Mian (maaf informal), jalanan sedang macet. Ayo aku bantu bawakan koper-mu.” Jawab gadis itu—tersenyum membalas tatapan judes yang diberikan Young Ra padanya.

“Tidak perlu! Biar aku saja.” Sahut Young Ra ketus. Gadis itu tersenyum lagi, menggelengkan kepalanya perlahan, kemudian mengikuti Young Ra yang sudah berjalan lebih dulu di depannya.

Ia adalah Han Young Na, gadis yang sangat cantik dan feminim. Usianya tidak terpaut terlalu jauh dengan Young Ra. Mereka berdua adalah kakak-beradik yang memiliki sifat sangat bertolak belakang. Han Young Ra adalah gadis yang tidak feminim dan juga tidak tomboy, ia memiliki sifat yang sangat tidak sabaran, pemarah, dan keras kepala. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Young Na, kakaknya, yang selalu berpenampilan feminim. Selain cantik, Young Na juga sangat pandai dalam bergaul dan membawa diri. Pribadinya yang menyenangkan, membuat banyak orang menyukainya. Ia juga gadis yang lembut dan ramah terhadap setiap orang yang dijumpainya. Maka, tidak heran jika Young Na lebih memiliki banyak teman dibandingkan Young Ra.

***

Selama tiga tahun ia meninggalkan kota ini untuk tinggal dan melanjutkan pendidikkannya di negeri Paman Sam, ternyata tidak banyak yang berubah setelah ia kembali. Hanya beberapa bangunan baru yang memenuhi lahan yang semula kosong menjadi satu-satunya hal yang terlihat berbeda, selebihnya masih tetap sama seperti tiga tahun yang lalu. Young Ra sama sekali tak mengalihkan pandangannya dari jendela mobil sejak mereka meninggalkan bandara. Sedikit banyak, ia merindukan kota ini. Ya, kota ini. Bukan keluarganya. Tiba-tiba rasa sesak di dadanya ia rasakan kembali tatkala mengingat keluarganya. Kalau boleh jujur, sebenarnya Young Ra sama sekali tak ada niat untuk pulang ke negaranya; Korea Selatan. Ia lebih senang tinggal di Amerika, karena di sana ia bisa hidup bebas, ia bisa menjadi lebih mandiri, dan yang terpenting ia jauh dari keluarganya. Tapi karena desakan dari seorang wanita yang telah ia anggap seperti ibu kandungnya sendiri, akhirnya ia putuskan untuk meninggalkan New York dan kembali ke Seoul.

“Kenapa kau kembali ke Seoul secara tiba-tiba Young Ra~ya?” tanya Young Na tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.

Young Ra melirik sinis kakaknya. “Wae (kenapa)? Kau tidak senang aku kembali?”

“Tentu saja aku senang! Akhirnya kau mau pulang ke Seoul setelah tiga tahun sejak kau memutuskan untuk tinggal di New York. Aku merindukanmu.”

“Cih, omong kosong.” Young Ra mendengus seraya tersenyum mengejek. Tapi, seolah sudah terbiasa, Young Na hanya menanggapinya dengan kekehan kecil yang keluar dari bibirnya.

Mobil yang dikemudikan Young Na perlahan memasuki halaman sebuah rumah yang terdapat di kawasan Cheongdamdong dan berhenti tepat di sebelah mobil mewah yang juga terparkir di halaman tersebut. Young Ra sama sekali tak bergeming di tempatnya. Ia memandangi bangunan mewah yang berdiri kokoh di hadapannya dengan tatapan nanar. Haruskah ia kembali ke rumah itu? Rumah yang memberikan banyak kenangan menyakitkan baginya. Ia mencengkram tali ranselnya kuat-kuat. Pikirannya menolak untuk ke sana, namun hatinya mengatakan bahwa ia harus masuk.

Ya! Kenapa diam saja? Kajja! (Ayo!)”

Young Ra menghembuskan napas pelan. Apapun yang terjadi, ia harus tetap masuk. Ia langsung mengambil alih kopernya dari tangan Young Na begitu keluar dari mobil, kemudian mengikuti langkah kakaknya dari belakang.

***

Rumah ini masih sama seperti tiga tahun lalu. Interior dan semua barang yang berada di dalamnya tidak ada yang berubah ataupun berpindah tempat. Samar-samar ia mendengar suara televise yang berasal dari ruang tengah dan mendapati ibunya sedang duduk di sana—membelakanginya dengan sebuah cangkir teh di tangan kanannya dan kaki yang saling mengait.

Eomma (ibu), Young Ra sudah pulang!” seru Young Na riang.

“Hm…” hanya gumaman itu yang keluar sebagai jawaban, tanpa menatapnya apalagi menyapanya, dan Young Ra sama sekali tak berniat untuk membalas atau menyapa ibunya. Gadis itu membalikkan badannya lalu berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dua dengan wajah tanpa ekspresi. Sedangkan Young Na hanya bisa menatap sedih ke arah ibu dan adiknya secara bergantian tanpa berkata apa-apa. “Sampai kapan hal seperti ini akan terus berlangsung?”

***

Siang ini setelah menyelesaikan urusannya di Universitas barunya, Young Ra memutuskan untuk berjalan-jalan di salah satu kawasan pusat perbelanjaan di Seoul; Apgujeong-dong. Seperti biasa kawasan ini tak pernah sepi oleh pengunjung, baik itu dari pengunjung lokal atau pengunjung yang berasal dari luar negeri. Kebanyakan setiap orang yang berkunjung ke tempat ini adalah untuk berpuas diri, tapi tak sedikit juga yang datang hanya untuk berjalan-jalan atau menghabiskan waktu mereka di beberapa café. Young Ra melangkahkan kakinya tak tentu arah. Pemandangan musim semi di Seoul adalah hal yang selalu di sukainya. Alasannya, karena ia bisa menyaksikan secara langsung bunga Sakura bermekaran dan daun-daun Maple yang kembali tumbuh memenuhi pohonnya, dimana hal itu tak dapat ia saksikan di New York. Mungkin sebaiknya ia pergi ke daerah Jinhae untuk menyaksikan festival bunga Sakura yang setiap tahun selalu diadakan di daerah itu dan memuaskan dirinya dengan ratusan pohon Sakura di sana. Kecintaanya dengan bunga itu memang tidak pernah bisa di hilangkan.

Ia menghentikan langkahnya di depan sebuah café benuansa Paris, menatap semua orang yang ada di dalam café itu melalui kaca jendelanya yang besar dan menghadap ke jalan. Menimbang-nimbang apakah ia akan melamar di café itu sebagai pekerja paruh waktu atau tidak. Yah, hitung-hitung untuk mengisi waktu luangnya.

Cukup lama ia berdiri di depan café itu, hingga seorang pria yang tidak terlalu tinggi ikut berdiri di sebelahnya. Young Ra menyadari kehadiran pria itu namun tak menghiraukannya. Ia terlalu sibuk dengan pengamatannya.

“Tidak ingin masuk?”

Young Ra mengalihkan pandangannya dan menatap wajah pria itu—yang sedang tersenyum lebar menampilkan deretan gigi putihnya melalui kaca jendela di hadapan mereka. Seketika ia langsung membalikkan tubuhnya saat mengetahui siapa pria itu.

Oppa!” serunya terkejut.

“Hay, cantik!”

***

Secangkir Cappucino dan segelas Banana Milkshake menghuni meja yang mereka tempati. Setelah melakukan pengamatan dari luar selama hampir setengah jam, kini Young Ra dapat mengamati café ini dari dalam. Sedari tadi tidak ada yang berbicara di antara mereka. Young Ra yang sibuk dengan keadaan di sekitarnya, dan pria di hadapannya sibuk menatap wajahnya tanpa henti.

“Kapan kau kembali?” tanya pria itu.

Young Ra menoleh, jari telunjuknya mengitari bibir cangkir Cappucino-nya yang hampir kosong. “Hm… tiga hari yang lalu.” jawabnya.

“Tiga hari yang lalu?! Kenapa kau tidak menemuiku?” balas Hyukjae dengan mimik wajahnya yang lucu, membuat Young Ra hampir tidak bisa menahan tawanya.

“Kau berlebihan Oppa.”

Hyukjae berdecak, melipat kedua tangannya di depan dada, menatap ekspresi datar gadis itu, kemudian mengulurkan tangan kanannya—mengacak-acak rambut Young Ra.

“Aku merindukanmu, kau tahu?” Young Ra tersenyum, kemudian mengambil sebelah tangan Hyukjae yang masih berada di atas kepalanya dan menggenggamnya.

“Aku juga merindukanmu.”

Keduanya tersenyum, Hyukjae menarik tangannya dari genggaman Young Ra, menyeruput Banana Milkshake-nya lalu menatap tajam gadis itu.

“Jadi, kenapa kau tidak pernah menghubungiku satu kali-pun selama kau di New York?”

“Aku tidak ada alasan untuk itu, karena aku tidak pernah menghubungi siapa pun bahkan keluargaku sendiri.”

Pria itu menghela napas, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling café. Gadis di hadapannya ini, terkadang membuat kepalanya pusing dengan segala sikap dan tingkah lakunya. Ia mengenal gadis ini sudah sangat lama. Sejak ia masih duduk di bangku kelas satu SMA dan Young Ra yang saat itu masih di sekolah dasar. Baginya Young Ra bukan hanya sekedar teman atau sahabat, tapi juga adik kecilnya. Ia tahu seperti apa kehidupan gadis itu, serta bagaimana hubungannya dengan keluarganya. Mengapa sifatnya sangat berbeda dengan kakaknya meskipun mereka memiliki wajah yang sama. Maka, tidak heran jika ia menjadi satu-satunya orang yang betah berada di samping gadis itu seperti apapun sifat yang ditunjukkan gadis itu padanya, ia juga menjadi satu-satunya orang yang dapat mengenalinya tanpa tertukar dengan Young Na walau hanya melihatnya dari belakang.

Tatapannya kembali mengarah pada Young Ra yang saat ini sedang memandang keluar jendela. Entah apa yang tengah gadis itu pikirkan, raut wajahnya terlihat begitu sendu. Dan ini bukan pertama kali baginya. Yang ia tahu, hanya saat bersamanya gadis itu akan mengeluarkan ekspresi seperti itu. Dan ia tahu pasti apa penyebabnya tanpa perlu di tanyakan.

Oppa, apa kau senang aku kembali ke Seoul?” tanya gadis itu tanpa mengalihkan pandangannya.

“Tentu saja aku senang! Pertanyaanmu itu aneh-aneh saja!”

Young Ra menoleh, menatap kedua bola mata berwarna coklat milik Hyukjae. Lalu tatapannya beralih pada rambut blonde pria itu.

Oppa… ish, kenapa aku baru sadar? Kau mengganti warna rambutmu? Aku menyukainya! Kau terlihat semakin tampan saja.”

Hyukjae melirik rambutnya sekilas, lalu menaik-turunkan alisnya seraya tersenyum menggoda. Young Ra memutar bola matanya malas melihat kelakuan pria itu yang kembali pada sifat narsisnya.

“Itu sudah pasti! Apa dengan penampilanku sekarang kau akan jatuh cinta padaku?”

“Mengkhayal saja kau yang tinggi!”

“Ahahaha.” Hyukjae tak bisa menahan tawanya mendengar cibiran Young Ra. Menggoda gadis ini adalah salah satu hobinya. Tiba-tiba saja, ia teringat sesuatu dan menghentikan tawanya.

“Ah ya, Young Ra~ya, apa yang kau lakukan tadi? Berdiri di depan café ini tanpa melakukan apapun? Orang-orang bahkan sampai melihatmu dengan tatapan curiga.”

“Itu… aku sedang berfikir.” Jawabnya, kembali mengedarkan pandangannya ke sekitar, menatap pengunjung lainnya.

“Berfikir? Apa?”

Young Ra mengembalikan pandangannya pada Hyukjae.

Oppa, kau bisa membantuku tidak?”

“Yak! Kau belum menjawab pertanyaanku!”

“Ish… aku sedang mencari pekerjaan! Kau bisa bantu aku tidak?”

Kedua alis Hyukjae mengerut, ia menatap bingung gadis itu.

“Pekerjaan? Untuk siapa?”

“Tentu saja untukku.” Hyukjae menyipitkan matanya, tubuhnya sedikit ia condongkan kedepan. Ini aneh, seorang Han Young Ra mencari pekerjaan untuk dirinya sendiri. Wajar saja jika ia merasa aneh. Pasalnya, gadis itu adalah anak dari dua orang yang terbilang cukup sukses. Ayahnya adalah seorang pengusaha Garmen terkenal di beberapa negara di Asia dan juga Amerika, dan ibunya adalah pemilik butik yang terkenal se-kota Seoul, tapi kenapa anak mereka justru ingin bekerja sendiri?

“Kau? Untuk apa kau bekerja? Apa uang yang diberikan orang tuamu masih kurang?”

Young Ra menggeleng. “Tidak. Mereka memberiku uang lebih dari cukup. Ini hanya untuk mengisi waktu luangku. Aku juga melakukan hal yang sama saat tinggal di New York.”

Hyukjae menganggukkan kepalanya berulang, ia menatap takjub gadis itu, jarang-jarang ada putri dari dua orang pengusaha sukses mau bekerja hanya untuk mengisi waktu luang. Kakaknya saja tidak pernah melakukannya.

“Begitu… sungguh kau ingin bekerja?”

Nde (iya).”

Geurae, besok lusa datang ke tempat ini, aku akan mengadakan acara launching café baruku, dan kebetulan aku kekurangan satu pegawai lagi. Kau mau?”

Nde!” Young Ra mengambil sebuah kartu berisikan alamat yang di maksud Hyukjae dari tangan pria itu. “Namdaemun?” tanyanya.

“Hm…” Hyukjae melirik jam di pergelangan tangannya. “Aku harus pergi, apa kau mau ku antar pulang?” lanjutnya..

“Tidak perlu Oppa, aku masih ingin jalan-jalan.”

“Baiklah, sampai jumpa besok lusa. Annyeong saengi!” Ia bangkit dari duduknya, mengusap puncak kepala Young Ra sejenak, kemudian berjalan menuju pintu keluar.

Setelah memastikan pria itu sudah pergi, ia bangkit dari duduknya lalu berjalan ke kasir, membayar pesanan mereka. Ia memutuskan untuk kembali berjalan-jalan di kawasan ini. Siapa tahu saja, ada toko yang membuatnya tertarik dan membeli beberapa barang dari toko itu. Sayangnya hingga di ujung kawasan tak ada yang menarik perhatiannya. Young Ra berjalan ke sebuah taman yang letaknya tak jauh dari Apgujeong-dong, lalu duduk di salah satu bangku yang ada di taman itu. Taman itu sangat ramai, banyak keluarga yang menghabiskan waktu mereka dengan berpiknik dan juga pasangan kekasih yang berkencan di sana. Ia melihat ke sebelah kirinya, ada sebuah keluarga yang terlihat begitu harmonis, wanita yang sepertinya ibu di keluarga itu sedang menyiapkan makan siang di bantu oleh suaminya, dan anak-anak mereka bermain di bak pasir tak jauh dari mereka. Ada perasaan senang sekaligus iri melihat kebahagiaan yang di rasakan oleh keluarga itu. Senang karena mereka terlihat begitu saling melengkapi dan iri karena semasa hidupnya, ia tak pernah merasakan hal seperti itu.

Young Ra mengalihkan pandangannya dari keluarga itu, kemudian tatapannya terpusat kepada sepasang kekasih yang sedang bergandengan tangan di depan sebuah café. Ia mengenali mereka. Tidak salah lagi, gadis itu adalah Young Na dan pria itu… Young Ra mengepalkan kedua tangannya erat hingga buku-buku jarinya memutih, sorot matanya berubah penuh kebencian. Ia tak melepaskan pandangannya dari kedua orang itu, giginya bergemeletuk menahan rasa marah dan sakit di dadanya ketika ia melihat pria itu hendak mencium Young Na, cepat-cepat ia memalingkan wajahnya lalu beranjak dari tempat itu dengan langkah cepat. Kedua tangannya masih terkepal erat.

 

 

TBC

 

 

 

7 Comments (+add yours?)

  1. yuni
    Jan 13, 2016 @ 06:41:18

    Aaaa sukaaa sukaaa…author pny blog pribadi gk???

    Reply

  2. lieyabunda
    Jan 14, 2016 @ 03:25:21

    seru nih ceritanya,, bikin penasaran….

    Reply

  3. arni07
    Jan 14, 2016 @ 05:55:12

    young ra sama ibunya kok kayak gak akur,kenapa ya??jangan2 yong ra mengenal pria yg sedang jalan dgn kakaknya,siapa pria itu??

    Reply

  4. astr
    Jan 14, 2016 @ 20:17:28

    ff yang menarik…
    Sebenarnya ada masalah apa yah antara young ra dengan keluarganya…
    Ahh… Penasaran.

    Reply

  5. anggunrania
    Jan 17, 2016 @ 10:15:23

    suka, suka…. pnasaran laki-laki yg diliat young ra itu siapa kok sampai benci gtu, trus knapa hub ibu sama young ra ga akur kaya gtu??? weh.. aku pnasaran

    Reply

  6. anianiya
    Jan 18, 2016 @ 19:24:36

    Kenapa youngra sama ibunya musuhan gitu ya, dan juga kenapa rumahnya sendiri dia bilang banyak kenangan menyakitkan disitu?

    Reply

  7. Deborah sally
    Mar 28, 2016 @ 06:15:01

    Kasihan

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: