Between Us [4/?]

between us 6

Between Us (Part 4)

Author                        : Yaqazhan

Cast                 : Han Young Ra, Cho Kyu Hyun, Han Young Na, Choi Siwon

Other cast       : Lee Hyukjae, Lee Donghae, Hwang Yoo Shin

Genre              : Romance, angst, family, brothership, sad.

Length             : Chapter

Rate                 : PG 15+

Disclaimer       : Fanfic ini murni buatanku sendiri, so kalau mau baca di persilahkan tapi ingat, jangan copast tanpa ijin, jangan plagiat, jangan ngaku-ngaku, dan lain-lain yang berkaitan dengan penjeplakan tanpa ijin, Arrachi? Cho Kyuhyun milik keluarganya, Super Junior, SM Ent, ELF, dan Sparkyu. Dan Han Young Ra adalah milik imajinasi saya seorang. Just read, like, and coment. Happy reading all!!

 

Tidak pernah ada yang tahu bagaimana isi hati seseorang. Apa yang mereka rasakan dan apa yang mereka pikirkan. Seperti seorang pria paruh baya yang sedang duduk termenung memandangi sebuah foto yang berisikan dua orang gadis kecil berlatarkan sebuah taman bermain dengan senyum cerah yang menghiasi masing-masing wajah mereka. Senyum tulus tampak di wajahnya yang mulai berkeriput namun segera di gantikan sorot kebencian secepat hilangnya senyum tulus tersebut. Benar, tidak pernah ada yang tahu bagaimana isi hati seseorang, karena setelah sorot kebencian itu hilang, raut sedih segera menggantikannya. Ia menghembuskan napas getir; masih menatap foto tersebut. Mengusap gambar kedua wajah gadis kecil itu secara bergantian.

 

Ia menyayangi mereka—secara adil, namun sayangnya rasa bencinya terhadap salah satu dari kedua gadis itu lebih mendominasi. Seandainya, gadis itu tak pernah ada. Seandainya, gadis itu tak pernah menjadi penyebab kejadian itu. Seandainya gadis kesayangannya tak pernah mengalah. Seandainya, seandainya, seandainya, terlalu banyak kata seandainya dalam pikirannya. Tapi semua seandainya itu tak pernah terjadi, justru sebaliknya.

Kini gadis itu telah berubah. Bukan gadis periang seperti dulu saat mereka masih kanak-kanak. Gadis itu menjadi pendiam, pemarah, dan tak pernah mau berbicara dengan siapapun di rumah besarnya yang selalu sunyi, kecuali wanita setengah abad yang telah lama mengabdi padanya. Salahnya kah? Salahnya jika gadis itu berubah? Tidak! Hatinya membantah. Apapun yang terjadi pada gadis itu bukan salahnya. Dari dulu ia tidak pernah menginginkan gadis itu ada. Ia hanya butuh satu gadis untuk menjadi pewaris sahnya, tapi gadis itu justru hadir, dan membuat segalanya menjadi kacau.

 

Ia mengusap wajahnya dengan kasar, berusaha tak memikirkan hal itu lagi, lalu bangkit dari duduknya dan berjalan ke luar dari ruangan pribadinya. Menyusuri anak tangga secara perlahan yang tiba-tiba saja terhenti di tengah-tengah. Pandangannya tertuju pada seorang gadis yang baru saja melangkah masuk dari pintu depan. Gadis itu. Mereka sempat bertatapan sejenak, sebelum gadis itu menghilang di sudut ruangan lain tanpa sepatah kata, begitupun dengannya.

 

 

 

***

 

 

 

Han Young Ra. Gadis itu berjalan menyusuri jembatan Yeojwa Stream dengan perasaan yang tak menentu. Tempat ini di penuhi oleh pohon Sakura yang bunganya sedang bermekaran dengan indah, namun terbalik dengan suasana hatinya. Ia pikir, jika berjalan-jalan sebentar di tempat ini dapat membuat perasaannya yang sedang tidak jelas itu menghilang, ternyata salah. Bahkan pemandangan bunga Sakura bermekaran yang selalu menjadi favoritnya tak mampu menghilangkan perasaan itu. Ia menghentikan langkahnya di ujung jembatan, menengadahkan wajahnya ke atas, menatap bunga-bunga itu.

 

Suara alarm yang berasal dari ponselnya menginterupsinya, ia menatap jam di pergelangan tangannya, pukul 12 siang, waktunya untuk ke café, memulai hari pertamanya sebagai pekerja paruh waktu.

 

 

 

***

 

 

 

Suasana di ruangan ini begitu sunyi, yang terdengar hanya suara kertas-kertas yang di bulak-balik oleh gadis yang tengah menopang sebelah kepalanya dengan tangan kirinya. Young Na mendesah keras, merasakan punggungnya yang mulai panas dan pinggangnya yang pegal karena terlalu lama duduk di ruangan ini seorang diri dengan setumpuk tugas perusahaan yang harus ia selesaikan hari ini juga. Ia mengangkat cangkir kopinya yang terasa ringan, lalu kembali mendesah karena ternyata kopinya telah habis.

 

Young Na bangkit, berniat membuat secangkir kopi lagi ketika pintu ruangannya terbuka, menampilkan sesosok pria yang tersenyum padanya, memperlihatkan celah kecil di kedua pipinya yang mulus. Young Na ikut tersenyum, meletakkan kembali cangkirnya di atas meja.

“Oppa.” Sapanya seraya berjalan mendekat. Siwon langsung meraih tubuh Young Na dan memeluknya erat, menyalurkan rasa rindu yang tak bisa di tampung lagi.

“Apa kau sibuk? Aku ingin makan siang denganmu.” Tanyanya seraya melepaskan pelukan mereka.

“Yah, lumayan, aku harus menyelesaikan semua berkas itu hari ini juga.” ujarnya, mengedikkan bahu ke arah tumpukan kertas dan dokumen yang menggunung di mejanya. Siwon mendesah kecewa. Ia harus menyelinap diam-diam dari manajer-nya untuk bisa ke sini, tapi gadis ini justru sedang di sibukkan dengan pekerjaannya yang—harus ia akui membuatnya sedikit mual.

“Tinggalkan saja, kita keluar sebentar, aku sangat rindu padamu.” Ujarnya memelas dengan sedikit menundukkan kepala agar bisa menatap wajah Young Na yang lebih pendek darinya.

“Tapi Oppa—“

“Ayolaaah~~~.”

Young Na mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Jika Siwon sudah mengeluarkan nada seperti itu, ia memang tidak bisa menolak lagi.

“Baiklah-baiklah.” Siwon tersenyum sumringah, ia langsung menggandeng tangan kekasihnya itu dan menariknya ke luar ruangan.

 

Mereka tiba di sebuah café yang terletak tidak begitu jauh dari kantor Young Na, dan memilih tempat duduk di samping jendela; tempat favorit Young Na. Seorang pelayan menghampiri mereka.

“Aku ingin Spagetti Carbonara dan kopi Americano, kau ingin apa Oppa?” Siwon tampak bingung ingin memilih menu apa, ia masih membulak-balikkan buku di menu di tangannya, seraya mengelus dagu, pose berpikir.

“Sama kan saja denganmu, dan kopi Espresso.”

“Baiklah, 2 Spagetti Carbonara, 1 kopi Americano dan 1 kopi Espresso.” Ujarnya seraya mendongak dan terkejut kala mendapati Han Young Ra berdiri di sampingnya dengan mengenakan seragam waitress dan celemek coklat serta memegang sebuah note kecil dan bolpoin.

“Young Ra~ya.” Panggilnya tidak percaya, namun Young Ra tidak menyahut, ia hanya menyebutkan menu yang mereka pesan sekali lagi sebelum melenggang pergi. Sementara Siwon menatap Young Na dengan bingung kemudian memutar kepalanya menatap Young Ra di belakangnya dengan tatapan sama.

“Apa yang dia lakukan disini?” tanyanya pada Young Na. Young Na menggelengkan kepalanya perlahan, masih menatap sosok adiknya yang berada di dapur melalui kaca yang terdapat di belakang kasir.

 

Tak sampai 15 menit Young Ra kembali mengantarkan pesanan mereka, dan meletakkannya diatas meja tanpa berkata apapun. Ia hendak melangkah pergi ketika tiba-tiba sebelah tangannya di tahan oleh Young Na.

“Apa yang kau lakukan disini? Kau bekerja disini?” Tanya Young Na masih menahan pergelangan tangan adiknya.Young Ra menatap tajam pergelangan tangannya dan wajah kakaknya bergantian.

“Bukan urusanmu.” Sahutnya datar.

“Kau gila?! Bagaimana jika Appa dan Eomma tahu?”

Young Ra menghentakan tangannya hingga pegangan Young Na terlepas lalu menatap gadis itu dengan sinis.

“Mereka tidak akan tahu, jika kau tidak memberitahu mereka.” Ujarnya dingin seraya berbalik dan melangkah meninggalkan Young Na yang menatapnya dengan wajah sedih. Siwon menyentuh punggung tangan Young Na dan mengelusnya perlahan, menyadarkan gadis itu dari lamunannya. Ia menatap gadis itu dengan raut khawatir.

“Gwaenchana?” Young Na mengangguk, kemudian meraih garpu dan mulai memakan Spagetti-nya dalam diam. Ia tidak mengerti, mengapa adiknya melakukan hal ini. Pekerja paruh waktu? Apa yang sebenarnya gadis itu pikirkan? Bagaimana jika ayah dan ibu mereka mengetahui hal ini? Young Ra pasti akan di marahi habis-habisan. Mengingat bagaimana sikap kedua orang tua mereka terhadap gadis itu. Sungguh, ia tak ingin melihat keadaan seperti itu terus berlangsung. Ia sudah lelah. Ia ingin keluarganya utuh. Ia ingin memiliki keluarga seperti teman-temannya dan orang lain yang harmonis, selalu di penuhi dengan canda tawa, dan mendukung satu sama lain.

Bukan seperti keluarganya saat ini, saling mendiamkan, saling menatap tajam dan sinis, saling berkata dingin. Kemana senyum manis adiknya itu yang dulu selalu menghiasi hari-hari mereka. Kemana sifat ceria adiknya itu yang kini menghilang dan sekarang di gantikan oleh sifat acuh, dan pemarah. Sungguh ia merindukan semua itu.

 

Air matanya hampir tumpah ketika Siwon kembali menyentuh punggung tangannya di atas meja. Ia segera menyeka air matanya secepat mungkin sebelum Siwon menyadarinya, kemudian mendongak dan tersenyum pada pria itu.

“Jeongmal Gwaenchanayo?”

“Nde, nan gwaenchantago.” Jawabnya tersenyum semanis mungkin. Siwon mengangguk, kembali menyantap Spagetti-nya tanpa mengatakan apapun lagi. Young Na mengalihkan pandangannya ke arah Young Ra yang sedang melayani pengunjung lain di sudut ruangan.

 

 

 

***

 

 

 

Ia menyandarkan punggungnya pada pintu loker-nya, kemudian memukul-mukul ringan kedua lengannya yang terasa pegal. Ini adalah hari yang cukup melelahkan baginya, meskipun hal seperti ini sudah pernah ia lakukan ketika ia tinggal di New York selama tiga tahun; menjadi pegawai paruh waktu di café, tapi tetap saja rasa lelah itu tak bisa ia hindari. Young Ra menatap langit-langit ruangan kecil tempatnya berada kini. Ingatannya kembali ke kejadian saat waktu makan siang tadi, ketika ia melayani kakaknya dan Choi Siwon. Rasa nyeri kembali kembali menyerang dadanya ketika ia mengingat kemesraan antara Young Na dan Siwon, juga rasa marah karena perkataan gadis itu mengenai pekerjaannya dan orang tua mereka.

 

Ia tidak peduli meskipun nantinya orang tuanya mengetahui hal ini. Toh, ia tidak melakukan hal yang salah. Ia hanya ingin menjadi gadis yang mandiri. Lagi pula ia sangsi jika orang tuanya akan peduli dan marah padanya karena kegiatan yang ia lakukan ini. Adalah hal bagus jika mereka peduli dan marah. Setidaknya, ia tidak benar-benar di anggap orang asing yang menumpang di rumah besar mereka.

 

Young Ra sedikit tersentak kala suara sebuah pesan masuk di terima ponselnya. Ia merogoh kantung jaket-nya, kemudian membuka pesan masuk tersebut setelah ponselnya berpindah ke tangannya.

 

From : Cho Kyuhyun

Temui aku di depan kantor Marc Group sekarang!

 

“Cih, dia pikir dia siapa.” Cibirnya seraya kembali memasukkan ponselnya ke dalam kantung jaket lalu bangkit berdiri. Sudah tidak ada pegawai di dalam café karena sudah lewat 1 jam dari jam pulang. Ia melewati dapur yang telah bersih dan bercahaya remang-remang, kemudian ruang utama café. Gerakannya terhenti karena suara seseorang memanggilnya dari belakang.

“Young Ra~ya.”

Young Ra membalikkan tubuhnya dan mendapati Donghae sedang berdiri di depan pintu café owner.

“Sedang apa kau di situ Oppa? Aku kira kau sudah pulang.” Katanya tanpa beranjak dari tempatnya se-centi pun. Donghae berjalan menghampirinya, kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celana hitamnya.

 

“Aku sedang menghitung jumlah pemasukan hari ini. Tentu saja aku belum pulang, jika sudah kau pasti tidak bisa keluar karena café sudah di kunci.” Jawabnya seraya menunjuk pintu café di belakang Young Ra. Young Ra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan wajah datar.

Hyukjae Oppa eodisseo?”

“Sudah pulang, hari ini giliranku pulang paling terakhir. Kau mau pulang? Mau ku antar?” tawarnya, Young Ra menggeleng pelan.

“Ani, gomawoyo. Aku masih harus pergi ke suatu tempat.

“Baiklah, hati-hati di jalan.”

Young Ra mengangguk, kemudian berbalik dan berjalan keluar dari café. Donghae masih menatapnya sejenak sebelum kembali ke ruangannya dan berkutat dengan table dan angka-angka yang tertera di layar laptopnya.

 

 

 

***

 

 

 

Young Ra berjalan dengan kedua tangan yang di masukkan ke dalam saku jaket dan kepala menunduk. Malam ini udara cukup dingin, mungkin karena pengaruh global warming yang mengakibatkan udara yang seharusnya cukup hangat bisa terasa dingin. Padahal musim dingin telah lama berlalu. Udara di Korea memang berbeda dengan di New York.

Ia sedikit mempercepat langkahnya ketika gedung Marc Group mulai terlihat. Ia bisa melihat Cho Kyuhyun masih dengan setelan kantornya yang terlihat begitu tampan meskipun penampilannya sudah tidak rapi lagi sedang bersandar pada mobil sport hitam keluaran terbaru, menatapnya sambil bersedekap. Entah mengapa Young Ra merasa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia menggeleng, mungkin ia lelah karena berjalan kaki dari café hingga ke tempat ini yang jaraknya lumayan jauh.

 

Kyuhyun melirik jam tangannya sekilas kemudian kembali menatap Young Ra dengan tatapan mengintimidasi andalannya.

“30 menit.”

Young Ra memutar bola matanya, membalas tatapan Kyuhyun dengan tatapan menantang. Ia tidak takut dengan tatapan intimidasi pria itu. Mereka terus bertatapan seperti itu cukup lama, hingga akhirnya Kyuhyun mengalah. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain.

“Cepat katakan, ada apa?” Tanya Young Ra tanpa basa-basi terlebih dahulu.

“Besok siang Siwon Hyung akan ada pemotretan di gedung majalah Marc lantai 9, datanglah dan berikan makan siang untuknya, dan perbaiki sikapmu padanya.” Kata Kyuhyun tanpa menatapnya. Young Ra mengerutkan kening.

“Untuk apa aku melakukan hal seperti itu?”

Kyuhyun berdecak, ia menatap Young Ra dengan enggan; takut reaksi jantungnya kembali seperti tadi.

“Langkah awal untuk memisahkan mereka, setidaknya bersikap baiklah padanya agar ia bisa berpaling padamu.”

 

Young Ra mengepalkan kedua tangannya, raut wajahnya kembali datar. Ia mendongak menatap pria di hadapannya yang berdiri tak begitu jauh darinya dengan dingin. Sedangkan Kyuhyun hanya menatapnya dengan pandangan datar. Ia tahu, ia telah membuat emosi gadis itu kembali naik. Terlihat dari pandangan gadis itu dan kedua tangannya yang terkepal erat di samping tubuhnya. Ini pasti akan jadi menarik, jika tebakannya benar. Bahwa gadis ini menyukai sepupunya Choi Siwon.

“Sudah ku katakan itu bukan urusanmu.”

Kyuhyun tersenyum miring, mengejek lebih tepatnya. Gadis dengan gengsinya.

“Terserah kau saja.”

Secara tiba-tiba Kyuhyun berbalik, kemudian melangkah ke seberang dan membuka pintu mobilnya di sebelah kanan.

“Cepat masuk.” Young Ra tak bergeming, ia masih diam di tempatnya dengan wajah datar membosankan itu.

 

Kyuhyun masih menunggunya di seberang tanpa mengatakan apapun, Young Ra akhirnya mengalah, ia berjalan menghampiri Kyuhyun, masuk ke dalam mobil dan mendudukkan dirinya di kursi penumpang. Setelah menutup pintu dan kembali berjalan memutar, Kyuhyun memposisikan dirinya di belakang kemudi.

Selama di perjalanan tidak ada yang berusaha untuk memulai percakapan, mereka hanya terdiam dengan pikiran masing-masing yang melayang entah kemana. Kyuhyun sangat fokus dengan kemudi dan jalanan di depannya yang masih terbilang cukup ramai. Sementara Young Ra memandang ke arah jalanan melalui jendela mobil di sampingnya, menatap toko-toko yang sebagian besar mulai tutup karena hari semakin malam.

 

Mobil yang di kemudikan Kyuhyun mulai memasuki kawasan elit di Cheongdamdong. Young Ra mengernyitkan dahinya. Ia belum memberitahu Kyuhyun dimana rumahnya, tapi pria itu bahkan sudah memberhentikan mobilnya di depan sebuah rumah mewah; rumah orang tuanya.

Young Ra tersenyum sinis. “Heh orang kaya dan kekuasaannya.”

Kyuhyun menoleh, menatap bingung gadis di sebelahnya.

“Apa maksudmu?” tanyanya dengan nada kesal yang memang tidak ia sembunyikan. Young Ra hanya mengedikkan bahu, lalu membuka pintu mobil di sampingnya.

“Tidak ada.”

Kyuhyun tidak melepaskan pandangannya dari Young Ra yang berjalan menuju pintu gerbang, kemudian menghilang di balik pintu besi tersebut. Ia hanya menghela napas, dan kembali melajukan mobilnya.

 

 

 

***

 

 

 

Young Ra menutup pelan pintu besar di belakangnya, kemudian berbalik, hendak melangkah menuju kamarnya di lantai 2 yang belum sempat ia lakukan karena kehadiran seorang pria paruh baya yang sedang duduk di sofa ruang tamu dalam keremangan cahaya. Pria itu menatapnya dengan tajam, dan Young Ra hanya bisa menunduk kepala tanpa berani mengatakan apapun. Ia melangkah perlahan ke arah ruang keluarga dan segera naik ke lantai atas.

Meletakkan tas ranselnya ke atas meja dan melepaskan jaketnya. Ia merebahkan tubuhnya ke kasur empuknya tanpa berniat membersihkan diri terlebih dahulu, menatap langit-langit kamarnya yang di penuhi oleh gambar-gambar daun Maple dan bunga Sakura. Ia masih ingat, dulu ia yang menggambar semua itu bersama kakaknya ketika ia berusia 9 tahun. Mereka melewati seharian penuh dengan menggambar langit-langit kamarnya dan bernyanyi, kadang tawa gembira keluar dari bibir keduanya kala sang kakak menceritakan sebuah cerita lucu padanya.

 

Senyum manis sempat muncul di wajah cantiknya sebelum ia segera tersadar dan senyum itu menghilang. Ia terduduk, pandangannya beralih pada pintu balkon yang belum tertutup, membuat kain gorden berwarna putih itu berkibar pelan tertiup angin malam yang menerobos masuk. Young Ra bangkit, berniat menutup pintu itu sebelum dirinya merasa kedinginan lagi.

Ia melangkah keluar sebentar, menatap langit malam yang mendung dan memutuskan untuk kembali masuk dan menutup pintu, namun gerakannya terhenti karena tanpa sengaja matanya menangkap sebuah mobil sport hitam teronggok manis di depan rumah, dengan seorang pria yang tengah bersandar di pintu mobil. Young Ra menyipitkan kedua matanya, memastikan jika penglihatannya sedang tidak bermasalah. Benar. Itu Cho Kyuhyun. Apa yang di lakukan pria itu disana? Mengamatinya?

 

Young Ra menggeleng. Tidak, bukan mengamatinya, pasti gadis itu. Tapi pandangan pria itu mengarah padanya. Young Ra kembali menggeleng. Peduli apa. Ia meneruskan langkahnya, kemudian menutup pintu setelah melirik ke arah Kyuhyun sekali lagi.

 

 

 

***

 

 

 

Ia pasti sudah gila. Apa yang ada di pikirannya saat ini? Bukannya meneruskan perjalanan menuju apartemennya di Myeongdong, Kyuhyun justru memutar kembali mobilnya ke arah Cheongdamdong, dan berhenti di depan rumah gadis itu. Cukup lama ia terdiam di balik kemudi seraya menatap rumah besar itu, hingga akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari mobil dan berdiri bersandar pada pintu mobil. Ada yang aneh dengan dirinya. Entah mengapa, hati dan pikirannya saat ini sedang tidak bisa berkompromi. ia dengan sendirinya mengikuti kata hatinya yang menyuruhnya untuk kembali kesini dan mengabaikan pikirannya yang mengajaknya untuk segera pulang, berisitirahat dengan bantal bulu angsa dan kasur empuknya.

 

Ia menatap keatas, ke sebuah ruangan yang lampunya masih menyala. Tak berapa lama kemudian, seorang gadis keluar dari ruangan itu, mengenakan kaus hitam. Pandangannya terpaku pada gadis itu yang hendak kembali masuk tapi urung dan kembali berbalik, menatapnya. Mereka saling bertatapan sejenak sebelum gadis itu benar-benar berbalik, melangkah ke dalam dan menutup pintu, di susul lampunya yang di padamkan.

Kyuhyun tertegun. Apa yang terjadi dengannya? Mengapa ia seperti ini? Ada perasaan tidak rela ketika gadis itu pergi. Ia menyentuh dada sebelah kirinya, jantungnya kembali berdegup kencang. Ada apa ini?

 

 

 

TBC

 

 

7 Comments (+add yours?)

  1. arni07
    Jan 15, 2016 @ 20:10:14

    semoga young ra gak jd memisahkan siwon dgn kakaknya trus semoga kyuhyun jatuh cinta sama young ra,keren sekali ceritanya kak

    Reply

  2. dewievkyu8
    Jan 15, 2016 @ 20:27:27

    OMG!! Kyuhyun oppa mulai jstuh cinta ana young ra…. wah smoga aja kyu ama yeong ra, dan menjadi sndaran saat young ra bersedih…wah pasti sooooo swetttttttt

    Reply

  3. meynininx90
    Jan 15, 2016 @ 20:47:24

    Haizzz……mke trmhek” nich…..so sweat dech………….

    Reply

  4. lieyabunda
    Jan 17, 2016 @ 04:15:10

    apa kyu jatuh cinta ama young ra,,,,, main seru…

    Reply

  5. anggunrania
    Jan 17, 2016 @ 11:50:43

    wah tak terkira getaran2 cinta udah mulai tumbuh diantara young ra sama kyuhyun kekekekke

    Reply

  6. anianiya
    Jan 18, 2016 @ 20:15:08

    Apa mereka udah mulai suka satu sama lian ya?

    Reply

  7. Deborah sally
    Mar 28, 2016 @ 07:05:15

    Mereka udah salhmgmg jatuh cinta. Tapi belum sadar. Btw orang tua nya kagak sayang pada Youngra? Apa mereka menunggu Youngra sekarat berjuang antara hidup dan mati dulu baru akan menyayangi Youngra? Miris banget

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: