Between Us [5/?]

between us 6

Between Us (Part 5)

Author                        : Yaqazhan

Cast                 : Han Young Ra, Cho Kyu Hyun, Han Young Na, Choi Siwon

Other cast       : Lee Hyukjae, Lee Donghae, Hwang Yoo Shin

Genre              : Romance, family, angst, hurt, brothership, sad.

Length             : Chapter

Rate                 : PG 15+

Disclaimer       : Fanfic ini murni buatanku sendiri, so kalau mau baca di persilahkan tapi ingat, jangan copast tanpa ijin, jangan plagiat, jangan ngaku-ngaku, dan lain-lain yang berkaitan dengan penjeplakan tanpa ijin, Arrachi? Cho Kyuhyun milik keluarganya, Super Junior, SM Ent, ELF, dan Sparkyu. Dan Han Young Ra adalah milik imajinasi saya seorang. Just read, like, and coment. Happy reading all!!

 

Semua orang yang berada di ruangan ini terlihat sibuk. Ada yang sedang menata peralatan yang di jadikan property untuk pemotretan hari ini, menyiapkan wardrobe, dan merias para artis yang akan menjadi modelnya. Seorang gadis terlihat berjalan ke ruangan tersebut dengan sekotak bekal makanan yang di bawanya. Wajah cantiknya yang berekspresi datar membuat orang-orang yang berpapasan dengannya tidak berani menyapa ataupun tersenyum padanya dan hanya bisa mengagumi kecantikannya saja.

Pandangannya tertuju pada seorang pria yang sedang duduk di sudut ruangan bersama beberapa model dan managernya. Ia melanjutkan langkahnya ke arah pria itu ketika seseorang memanggilnya dari belakang. Ia menghentikan langkahnya dan berbalik, menatap heran seorang gadis asing yang tengah tersenyum—senyum palsu lebih tepatnya—semanis mungkin padanya.

“Nona Han? Anda kembali lagi? Apa ada barang yang tertinggal atau ingin menitipkan sesuatu?” tanya gadis itu. Seketika raut wajahnya berubah dingin, tanpa berkata apa-apa, ia berbalik meninggalkan gadis asing di belakangnya yang menatapnya dengan wajah bingung.

Young Ra melangkah dengan tergesa dan berkali-kali menabrak beberapa karyawan yang berada di kantor ini tanpa mengucapkan kata maaf. Kemarahan sedang menguasainya saat ini karena merasa di permainkan. Ia menerobos sebuah pintu jati di hadapannya tanpa mengetuknya terlebih dahulu dan memberikan salam atau bertanya pada sekertaris yang berada di depan ruangan ini. Tidak peduli dengan semua tata krama, saat ini tujuannya hanya ingin bertemu pria itu.

 

Ia meletakkan kotak bekal yang sedari tadi di bawanya dengan sentakan kasar ke atas meja hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras dan membuat seorang pria yang tengah berkutat dengan beberapa dokumen itu terkejut dan hampir terjungkal ke belakang. Pria itu menatap gadis di hadapannya dengan bengis, merasa tidak terima dengan perlakuan Young Ra padanya.

“Apa kau tidak bisa bersikap lebih sopan Nona Han Young Ra?” desisnya tajam. Young Ra membalas tatapannya tak kalah bengis, napasnya memburu akibat berjalan dengan tergesa dari gedung majalah Marc yang bersebelahan dengan gedung ini.

“Persetan dengan kesopanan dan segala tata krama itu! Apa kau ingin mempermainkanku?!” teriaknya tanpa bisa mengendalikan emosi yang sudah mencapai level maksimum. Kyuhyun mengerutkan dahi bingung, tidak mengerti dengan perkataan gadis ini. Ia menutup semua dokumen yang tadi di kerjakannya kemudian memusatkan perhatian pada Young Ra yang masih menatapnya dengan tajam.

“Apa maksudmu Young Ra~ssi?”

Young Ra mendengus, kedua tangannya terkepal erat berusaha untuk menahan emosinya yang siap meledak lagi. Di liriknya enggan kotak bekal yang menjadi alasan kemarahannya karena merasa di permalukan, tapi pria di hadapannya ini justru memasang wajah seolah tidak tahu apa-apa, membuat Young Ra semakin muak dan ingin meninju wajah tampan itu.

“Aku tidak akan lagi menuruti perkataanmu jika hanya untuk mempermalukanku!”

Kerutan di dahi Kyuhyun semakin jelas, ia mengalihkan pandangannya pada kotak bekal yang masih berada di atas meja, kemudian mulai paham dengan apa yang terjadi pada Young Ra hingga menyebabkan gadis itu mengamuk. Ia berdeham, kembali menatap Young Ra. Merilekskan dirinya dengan bersandar pada kepala kursi seraya bersedekap, tatapannya berubah lunak.

“Apa Young Na juga berada di sana?” Young Ra mengalihkan wajahnya agar Kyuhyun tidak dapat melihat sorot terluka yang di pancarkan matanya kala pria itu menyebut nama kakaknya. “Tidak.” Jawabnya singkat, “Lalu?” Young Ra terdiam, enggan menjawab pertanyaan Kyuhyun dan sekali lagi, tanpa mengatakan apapun ia berbalik, meninggalkan Kyuhyun yang hanya bisa menghela napas panjang. Kali ini langkahnya terkesan gontai, mengabaikan tatapan tanya para karyawan yang di layangkan padanya.

 

Sementara Kyuhyun terus melirik kotak bekal di hadapannya. Ia penasaran dengan isi di dalam kotak tersebut, dan tertarik untuk melihatnya. Tanpa berpikir panjang lagi, ia membuka tutupnya, harum Bibimbap dan Osam Bulgogi langsung memenuhi indera penciumannya. Kebetulan saat ini sedang jam makan siang. Tidak apa-apa kan jika aku memakannya? Gadis itu juga meninggalkannya di sini.

 

 

 

***

 

 

 

Cahaya matahari sedang tinggi saat ini, dan Donghae tidak memiliki pekerjaan lagi selain melamun di ruangannya, menatap pemandangan di luar yang padat dengan pedestrian melalui jendela. Pandangannya tertuju pada seorang gadis yang sedang melayani beberapa pelanggan di luar café. Senyum manis terbit di wajahnya, ketika melihat ekspresi yang di tunjukkan gadis itu, wajah gadis itu yang datar tetap terlihat manis dan cantik, apalagi jika sedang tersenyum. Sayangnya, ia tak pernah mendapat kesempatan untuk melihat senyum itu. Donghae menghela napas panjang.

“Kau melamun?” Donghae tersentak ketika pertanyaan dari Hyukjae menyadarkannya. Ia menoleh ke belakang dan mendapati pria ber-gummy smile itu tengah bersandar pada pintu seraya bersedekap, ia hanya tersenyum menanggapi pertanyaan sahabatnya.

 

Donghae kembali menatap ke luar jendela. Gadis itu masih disana. Ia bisa mendengar langkah Hyukjae yang mendekat ke arahnya lalu ikut melihat keluar jendela dan mengangguk-angguk paham.

“Sampai kapan kau hanya akan memandanginya seperti itu?” Donghae mengangkat bahu, “Entahlah. Hanya memandanginya seperti ini pun sudah membuat hatiku senang. Aku tak berniat mengatakan apapun padanya.”

Hyukjae menghela napas, ia menatap gadis yang saat ini tengah mereka bicarakan sedang berjalan masuk ke dalam café, kemudian menghadapkan tubuhnya pada Donghae.

“Jangan seperti itu, kau harus mengatakannya. Aku tahu bagaimana rasanya, setidaknya jangan seperti diriku yang hanya bisa memandangi gadis yang ku cintai tanpa mengatakan apapun dan akhirnya menyesal.” Donghae menggeleng, ia menatap Hyukjae yang juga sedang menatapnya. “Dari awal aku memang tidak bisa meraihnya, dan tidak akan pernah bisa. Ia terlalu jauh dan sulit untuk ku raih. Lagi pula, sepertinya ada sesuatu di antara Young Ra dan Kyuhyun.”

 

Hyukjae mengerutkan dahinya, tidak mengerti dengan perkataan sahabatnya ini, ia menggaruk dahinya yang tidak gatal. “Maksudmu?” Donghae kembali menghla napas, ia berjalan menuju meja kerjanya dan duduk di atasnya, sementara Hyukjae tidak berpindah posisi, pria itu hanya memandangi temannya masih dengan kening mengkerut.

“Kau ingat, bagaimana pertama kali aku bertemu dengan Young Ra?” Hyukjae mengangguk sebagai jawaban, Donghae melanjutkan, “Saat itu bagaimana reaksi Young Ra ketika aku mendekatinya? Acuh dan dingin kan?” lagi-lagi Hyukjae hanya mengangguk.

“Berkali-kali aku mencoba mendekatinya tapi ia selalu berjalan lebih jauh dariku, saat itu aku sadar aku tak mungkin mendapatkannya. Dan kau ingat saat acara launching café ini Young Ra tiba-tiba saja mendekati Kyuhyun? Entah apa yang mereka bicarakan, tapi yang jelas ada sesuatu yang lebih dari yang kau pikirkan ketika melihat hal itu.” Hyukjae mengaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan wajah bingung, sungguh ia tidak mengerti ke mana arah pembicaraan mereka kali ini. “Lalu?” Donghae berdecak, ia turun dari mejanya dan menghampiri Hyukjae.

“Kau mengerti tidak sih?” Hyukjae bergumam seraya menggelengkan kepala, membuat Donghae menghembuskan napas kasar. Sahabatnya ini, jika penyakit bodohnya sedang kumat benar-benar membuat jengkel, panjang lebar ia berbicara tapi Hyukjae malah tidak mengerti dengan apa yang ia bicarakan.

 

“Intinya Lee Hyukjae, Young Ra tidak pernah mengajak pria asing berbicara terlebih dahulu; itu yang aku tahu, dan kini yang terjadi justru sebaliknya. Menurutmu apakah tidak ada sesuatu? Bisa saja mereka sudah lebih dulu kenal, tapi berpura-pura tidak saling mengenal di hadapan kita. Apa sekarang kau mengerti?” Hyukjae tersenyum konyol memamerkan gusi pink-nya dan mengangguk semangat, ia mengerti sekarang apa maksud Donghae. Seraya mengelus dagu—berpose layaknya seorang jenius—ia berjalan kesana kemari, membuat Donghae memutar bola matanya malas.

“Ya, itu mungkin saja. Tapi bagaimana kau bisa seyakin itu. Kau kan baru melihat mereka berbicara satu kali, bisa saja Young Ra hanya ingin berkenalan. 3 tahun tinggal di Amerika sedikit membuatnya berubah.”

“Tidak, tidak. Kemarin malam, aku sengaja mengikuti Young Ra ketika ia akan pulang untuk memastikan dia sampai ke rumah dengan selamat. Aku kira dia akan langsung pulang, tapi ternyata dia bertemu dengan Kyuhyun di depan kantor Marc Group. Kau ini kan lebih lama mengenalnya dari pada aku, masa kau tidak tahu Young Ra gadis yang seperti apa? Dasar payah!” hatinya terasa seperti tersayat, tatkala Donghae kembali mengingat kejadian tadi malam, ia yang sudah bertahun-tahun mengenal Young Ra bahkan belum pernah mengantarkan gadis itu pulang, sedangkan Kyuhyun yang baru di kenal gadis itu sudah bisa mengantarnya pulang hingga di depan rumahnya. Membuatnya sedikit geram, namun juga tidak bisa berbuat apa-apa.

 

 

 

***

 

 

 

Ketegangan tampak melingkupi ruangan ini ketika seorang pria paruh baya yang saat ini menjabat sebagai Presiden Direktur perusahaan HanGang Corporation menatap tajam wanita yang usianya tidak jauh di atasnya. Semua orang yang berada di ruangan ini tidak ada yang berani bersuara sedikit pun jika Presdir mereka sudah marah seperti ini.

Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar, lalu membalikkan kursi putar yang di dudukinya membelakangi wanita yang telah membuatnya marah. Benar-benar!

Rencananya, agenda rapat mereka siang ini adalah untuk membahas mengenai produk baru mereka yang akan segera di luncurkan kepasaran, namun yang terjadi justru hal seperti ini. Wanita itu; yang menjabat sebagai Komisaris tiba-tiba muncul di tengah-tengah rapat, dan membahas hal yang sangat tidak ingin ia bahas. Hal yang selalu di hindarinya.

 

Kalian tahu apa? Seorang pewaris perusahaan!

Ia sadar, umurnya tak muda lagi, tapi tidak bisa kah wanita sialan itu tidak membahasnya di saat seperti ini? Ia sudah memikirkan hal ini lebih dari 2 tahun dan selalu mendapatkan jawaban yang membuat kepalanya pusing.

“Kau tidak bisa terus menghindar seperti ini Presdir Han! Sudah saatnya pewaris HanGang di tetapkan!”

“Sialan! Tidak bisakah kau diam Komisaris Kim?! Saat ini kami sedang rapat, kau bisa membicarakan masalah ini di ruanganku!” wajah Komisaris Kim merah padam karena amarahnya yang memuncak, bisa-bisanya pria ini mengatakan sialan padanya di hadapan seluruh karyawan, benar-benar membuatnya malu!

“Kalau begitu rapat di bubarkan.” Ujarnya tegas dan dingin, namun segera di bantah oleh Presdir Han.

“Tidak! Rapat tetap di lanjutkan!” mereka kembali melemparkan tatapan tajam, sementara semua orang hanya bisa saling memandang. Sekertaris Nam menggelengkan kepala, jika ia hanya berdiam diri, keadaan seperti ini akan terus berlangsung, dan tentunya ia tidak ingin masalah mengenai pewaris HanGang menjadi bahan gosip para karyawan. Sebaiknya semua ini ku hentikan sekarang.

 

Jeosonghamnida Komisaris Kim, saat ini kami sedang rapat, mohon Anda menghentikan semuanya sebelum menjadi bahan pembicaraan para karyawan, Anda tidak mau citra Anda rusak di mata mereka kan?” bisik Sekertaris Nam yang langsung membuat Komisaris Kim yang hendak membalas perkataan Presdir Han bungkam, ia menatap sinis ke arah Presdir Han dan Sekertaris Nam secara bergantian, kemudian bangkit berdiri dengan sentakan yang cukup keras hingga hampir membuat kursi yang di dudukinya terbalik lalu pergi meninggalkan ruangan tanpa berkata apapun. Presdir Han menghembuskan napas lega, ia menatap Sekertaris Nam dengan tatapan terima kasih, yang di balas dengan anggukan oleh pria berusia empat puluhan tersebut.

“Kapan pun Anda butuhkan Presdir.”

 

Rapat tersebut berakhir 3 jam kemudian, Presdir Han berjalan santai menuju ruangannya di lantai 19 di ikuti Sekertaris Nam di belakangnya. “Presdir, Komisaris Kim saat ini sedang menunggu Anda di ruangan Anda.” Ucapan Sekertaris Nam membuat Presdir Han menghentikan langkahnya, dan berbalik menatap Sekertaris Nam yang juga menatapnya dengan tatapan tanya.

“Dia masih menungguku? Ck, wanita tua itu memang menyebalkan, kenapa tidak diturunkan saja dia dari posisinya, supaya tidak merecoki-ku terus dengan pertanyaan yang itu-itu saja?” Sekertaris Nam tersenyum kecil mendengar keluhan atasannya itu, “Kalau pun beliau di turunkan, saya yakin pertanyaan yang sama akan tetap di ajukan oleh Komisaris berikutnya.”

“Haah, ya kau benar. Benar-benar membuat sakit kepala.” Jawab Presdir Han seraya memijit kepalanya yang berdenyut-denyut. Mereka meneruskan langkah menuju ruangan Presdir Han, tatapan sinis dan tajam langsung menyambut kedatangan Presdir dari perusahaan Garmen tersebut. Presdir Han mendudukkan dirinya di kursi kebesarannya, kemudian memeriksa beberapa laporan yang baru saja di letakkan Sekertaris Nam ke mejanya tanpa menghiraukan keberadaan Komisaris Kim yang saat ini wajahnya sudah merah padam karena merasa di acuhkan.

 

“Kita perlu bicara Presdir Han.” Kata Komisaris Kim terdengar tegas, Presdir Han menghela napas kasar, kemudian mengalihkan pandangannya dari laporan-laporan yang sedang di periksanya, ia melirik Sekertaris Nam yang masih berdiri di sampingnya.

“Kau boleh pergi Sekertaris Nam.” Sekertaris Nam mengangguk, setelah membungkuk kepada Presdir Han dan Komisaris Kim, ia berjalan keluar dengan langkah tanpa suara.

“Masalah kita tetap sama.” Ujar Komisaris Kim setelah pintu ruangan ini tertutup rapat. “Kau harus segera memutuskan siapa yang akan jadi penerusmu untuk memimpin perusahaan ini.” Lanjut wanita tersebut.

“Aku sudah memutuskan siapa yang akan jadi penerusku Komisaris Kim.” Jawab Presdir Han tanpa beranjak dari kursinya.

“Jika yang kau maksud adalah Han Young Na aku tidak setuju.”

“Kenapa?”

“Kau tahu alasannya, aku lebih menyarankan agar Han Young Ra yang menjadi penerusmu.”

Seketika raut wajah Presdir Han berubah, rahangnya mengeras ketika mendengar nama gadis tu di sebut, sirat kebencian seolah memenuhi seluruh wajahnya.

“Jika kau ingin gadis itu yang menjadi penerusku, itu hanya akan terjadi dalam mimpimu! Untuk apa kau memberiku pilihan jika gadis itu yang kau ajukan untuk menjadi penerusku?!” seru Presdir Han marah, Komisaris Kim tampak tidak terkejut dengan hal tersebut, ia seolah sudah bisa menebak jawaban yang akan di berikan oleh keponakannya ini, wajahnya yang semula tenang kini kembali merah padam karena kekesalannya kembali meluap.

 

“Lalu kau tetap ingin menjadikan Han Young Na sebagai Presdir selanjutnya? Lalu bagaimana dengan penerus selanjutnya jika gadis itu mati? Gadis itu tidak memiliki rahim! Dia tidak bisa memberikan pewaris setelahnya nanti! Kau ingin perusahaan ini di ambil alih oleh orang lain?!” Presdir Han terdiam mendengar pertanyaan yang di ajukan Komisaris Kim, napasnya memburu karena luapan emosi yang siap meledak. Tiba-tiba ingatan tentang masa lalu yang selalu di kutuknya itu muncul dalam benaknya.

 

Flashback

Terlihat dua orang gadis kecil tengah bermain kejar-kejaran di sebuah ruangan yang terdapat di lantai dua di sebuah rumah besar milik Han Bon Sung, salah satu dari kedua gadis itu tampak tertawa senang karena berhasil menghindar dari gadis satunya, ia terus berlari mengitari meja kaca besar yang terdapat sebuah guci antik di atasnya. Karena merasa kelelahan gadis yang tak lain adalah Han Young Na itu berhenti seraya menumpukan setengah tubuhnya pada lutut dengan menggunakan kedua tangannya, napas gadis itu terengah-engah, keringat bercucuran membasahi wajah dan bajunya.

“Young Ra~ya aku lelah, kita beristirahat dulu ya?” kata gadis itu kepada adiknya yang masih saja berlari seolah tak kenal lelah.

“Yaahh, Eonni payah, masa begitu saja kalah. Ayo kejar aku lagi Eonni.” Kata Young Ra kecil kembali berlari, kali ini gadis itu tidak lagi berlari mengitari meja, melainkan berlari ke arah balkon yang pintunya terbuka lebar. Young Na membelalakkan matanya ketika melihat kemana arah adiknya berlari, ia segera menegakkan tubuhnya dan ikut berlari mengejar Young Ra yang masih terus berlari kesana kemari sambil tertawa riang. Tetapi entah mengapa Young Ra berhenti secara tiba-tiba, gadis itu terlihat memandangi sesuatu yang terbang di depan wajahnya,

Eonni lihat! Kupu-kupu itu cantik sekali.” Ujar Young Ra kecil seraya menunjuk kupu-kupu berwarna putih yang terbang ke arah bunga yang tergantung di langit-langit balkon.

Ne, kupu-kupu itu cantik, tapi cepat kemari Young Ra~ya, nanti kau bisa jatuh, jangan berdiri di situ.” Kata Young Na, Young Ra kecil menggeleng, ia semakin melangkahkan kakinya mendekati kupu-kupu itu, sebelah kakinya berpijak pada salah satu besi pagar balkon, dan tangan kirinya bertumpu pada besi pagar di bagian teratas, sementara tangan lainnya berusaha menggapai-gapai pot bunga yang tergantung di atasnya.

 

“Young Ra~ya cepat turun, nanti kau jatuh!” kata Young Na lagi, namun seolah tak mendengarnya, Young Ra justru menaiki satu besi lagi karena ia tidak bisa menggapai pot tersebut yang ternyata belum tergapai, ia menaiki satu besi lagi, namun tiba-tiba saja kaki kirinya terpeleset hingga tubuh Young Ra kehilangan keseimbangannya, dan hampir terjatuh, untungnya kedua tangan Young Ra berhasil menggapai salah satu besi pagar balkon, tubuhnya bergelantungan. Gadis itu menangis ketakutan dan berteriak minta tolong. Young Na menjerit ketika melihat adiknya yang terjatuh dan segera berlari, karena terlalu kencang berlari, Young Na sampai menabrak pagar balkon tepat di bagian rahimnya, dan jeritannya semakin keras karena rasa sakit dan ketakutan, ia segera meraih tangan Young Ra yang berpegangan pada pagar balkon, menariknya sekuat tenaga.

“Dorong tubuhmu ke atas Young Ra~ya.” Perintah Young Na dengan suara yang tersendat karena merasakan sakit yang amat sangat pada perutnya. Young Ra yang tidak sengaja melihat ke arah kaki Young Na kembali menjerit, “Eonni kakimu berdarah!.”

“Tidak usah pedulikan itu, cepat dorong tubuhmu ke atas!” Young Ra mendorong tubuhnya ke atas, dan Young Na menariknya dengan sekuat tenaga hingga berhasil membawa adiknya ke pangkuannya, mereka terjatuh dan menangis bersama, Young Ra berkali-kali meminta maaf pada kakaknya, hingga suara seseorang yang tak asing di telinga keduanya bergema dari dalam ruangan.

 

Han Bon Sung berjalan dengan langkah lebar dan cepat menghampiri keduanya, ia menatap terkejut darah yang mengalir di kaki Young Na, Young Ra tampak ketakutan, tubuhnya gemetaran di belakang Young Na.

A-appa.” Gagap gadis itu, Tuan Han terlihat marah dan begitu menyeramkan, “Apa yang—“ ucapannya terhenti ketika tiba-tiba saja, tubuh Young Na yang terduduk di lantai ambruk tak sadarkan diri. “Han Young Na.” panggilnya, dengan sigap mengangkat tubuh gadis itu ke dalam gendongannya dan berlari mengabaikan Young Ra yang menangis ketakutan dan sedih di belakangnya.

 

Tuan Han membawa Young Na ke rumah sakit dan segera di tangani oleh dokter Ahn, selama setengah jam ia menunggu dengan gelisah, akhirnya dokter Ahn keluar dari ruang UGD, raut wajahnya tak terbaca. Tuan Han segera bangkit berdiri dan menghampiri dokter Ahn, menanyakan keadaan putrinya.

“Bagaimana dokter? Apa putriku baik-baik saja?” dokter Ahn menggeleng, wajahnya murung dan Tuan Han merasakan perasaannya mendadak tidak enak.

“Ada apa dokter?”

“Putrimu tidak baik-baik saja, rahimnya rusak, dan mengalami pendarahan yang cukup hebat dan kemungkinan tidak akan bisa berfungsi lagi, kami harus mengangkatnya agar menghindari kemungkinan yang lebih buruk lagi.”

“Apa tidak ada cara lain dokter?” dokter Ahn kembali menggeleng.

“Sayangnya tidak ada, dan kalau rahim itu tetap di pertahankan bisa berakibat buruk pada putrimu. Jadi kami harus segera melaksanakan operasi pengangkatan rahim putrimu secepatnya. Apa kau setuju?”

“Apa?!” teriak seorang wanita di ujung lorong yang tak lain adalah Nyonya Lee Eun Ha, Tuan Han dan dokter Ahn menoleh dan mendapati wanita itu tengah menatap wajah dokter Ahn dan Tuan Han dengan syok, ia melangkah mendekat.

 

“Operasi pengangkatan rahim? Putriku tidak akan bisa punya anak jika rahimnya di angkat. Kau setuju dengan operasi ini suamiku?” Tanya Nyonya Lee dengan air mata yang mengalir karena merasa khawatir dan sedih dengan keadaan putrinya, Tuan Han mendekap istrinya yang menangis dan mengelus punggungnya secara perlahan.

“Tidak ada pilihan lain agar Young Na tetap selamat selain operasi itu istriku.” Katanya. Nyonya Lee melepaskan pelukan Tuan Han lalu berjalan ke arah jendela dan melihat Young Na yang masih tak sadarkan diri terbaring di sebuah ranjang dalam ruangan tersebut.

“Bagaimana Nyonya? Waktu kita sedikit.” Tanya dokter Ahn.

“Baiklah, lakukan operasi itu dokter.” Jawab Nyonya Lee tanpa melepaskan pandangannya dari Young Na.

Flashback end

 

Presdir Han tersadar dari ingatan masa lalunya setelah dehaman yang ketiga kalinya dari Komisaris Kim, pria setengah baya itu menatap Komisaris Kim yang juga sedang menatapnya dengan sebelah alis terangkat.

“Sudah ku putuskan, Presiden Direktur HanGang Corporation selanjutnya adalah Han Young Na.” Komisaris Kim hanya bisa menggeleng dengan sifat keras kepala Presdir Han, ia bangkit dari duduknya kemudian berbalik, berjalan keluar, namun sebelum mencapai pintu ia menghentikan langkahnya.

“Terserah kau Han Bon Sung, tapi jangan menyesal dengan konsekuensi yang akan kau terima nantinya.”

 

 

 

***

 

 

 

Gadis itu melangkahkan kakinya dengan gerakan anggun, membuat setiap mata yang melihatnya berdecak kagum dengan kecantikan yang di milikinya, belum lagi segala hal yang di kenakannya, dress keluaran terbaru dari Prada, tas Gucci yang harganya selangit dan high heels putih setinggi 11 cm keluaran Louis Vuitton mempercantik kaki jenjangnya yang membuat gadis-gadis di sekitarnya bukan hanya kagum tapi juga iri. Ia mendorong pintu kaca semitransparan di hadapannya lalu mencari tempat duduk yang strategis, kalau bisa di dekat jendela—tempat favoritnya—senyum manis terbit di bibir tipisnya kala mendapati sebuah meja yang masih kosong, tepat di sebelah jendela café di sudut ruangan.

 

Ia mendudukkan dirinya dengan gerakan anggun lalu mengangkat sebelah tangannya memanggil seorang pelayan yang baru selesai menyajikan pesanan seorang pelanggan di meja barisan depan. Pelayan tersebut menghampirinya dan memberikan senyum ramah yang terkesan di paksakan. Gadis itu melepaskan kacamata hitam yang di kenakannya lalu memperhatikan pelayan tersebut dengan tatapan menilai dan menyelidik, seketika mata bulatnya yang berwarna coklat keabu-abuan itu terbelalak ketika menyadari siapa gadis yang menjadi pelayan di hadapannya ini.

“Han Young Ra?” Tanya gadis itu dengan nada terkejut, Young Ra mengernyitkan dahinya karena gadis di sampingnya ini mengenalnya, ia mengamati wajah gadis itu yang tampak tak asing, lalu menampakkan wajah datarnya kembali ketika mengetahui siapa gadis itu.

“Hwang Yoo Shin?” tanyanya yang terdengar tidak seperti pertanyaan. Gadis yang bernama Hwang Yoo Shin itu tersenyum lebar ketika Young Ra mengenalinya, ia segera bangkit dari tempat duduknya lalu menghambur memeluk Young Ra yang terkejut mendapat perlakuan seperti itu. “Jeongmal bogoshipeoyeo Young Ra~ya.” Kata gadis itu seraya mengeratkan pelukannya, Young Ra mencengkeram kedua lengan sahabat lamanya itu dengan kuat berusaha melepaskan pelukan yang membuatnya sesak napas namun tidak berhasil.

 

Ne, ne, tapi lepaskan dulu, aku tidak bisa bernapas Yoo Shin~ah.”

“Mwo?”

“Le-pas-kan, aku ti-dak bisa ber-napas bo-doh.” Yoo Shin segera melepaskan pelukannya ketika mendengar ucapan Young Ra yang terputus-putus karena sesak napas, gadis itu hanya mampu menunjukkan cengiran tanpa dosanya.

 

 

 

TBC

 

 

 

10 Comments (+add yours?)

  1. arni07
    Jan 16, 2016 @ 12:47:38

    oalah jd orang tua mereka bertingkah laku seperti itu pada young ra gara2 insiden young na to,tp young na tahu gak ya tentang pengangkatan rahimnya?

    Reply

  2. meynininx90
    Jan 16, 2016 @ 18:04:06

    Hah………..ksian bgt young ra….msa g3 gtu ae kq ortuny mlh kyk gtu sich

    Reply

  3. astr
    Jan 16, 2016 @ 19:58:22

    loh kog udah tbc aja…
    Oh… Karena itu yah young ra diperlakukan tdak adil sama ortunya.

    Reply

  4. anggunrania
    Jan 17, 2016 @ 12:08:54

    yah penempatan tbc krg sesuai nih…

    Reply

  5. lieyabunda
    Jan 18, 2016 @ 03:51:33

    gara2 kecelakaan itu young ra jadi dibenci ama ortunya sendiri,,, kasian…
    lanjut

    Reply

  6. anianiya
    Jan 18, 2016 @ 20:32:05

    Jadi karena itu orang tua young ra benci sama dia, secara dia yang buat young na nggak bisa punya anak..
    Apa young na tau ya kalau dia nggak bakalan bisa punya anak?

    Reply

  7. rahmi_n
    Jan 18, 2016 @ 22:54:27

    Ooh ternyata young ra yang dibenci sama ortunya..
    Lanjut thor, penasaran sama kelanjutan ceritanya ^.^

    Reply

  8. ayu diyah
    Jan 22, 2016 @ 21:28:39

    bagus ceritanya,,, ternyata gtu kejadiaannya sampe tuan han benci sama yong ra
    ditunggu klanjutan, author-nim

    Reply

  9. christin
    Feb 12, 2016 @ 20:20:16

    huwaaa…. gk sabar nunggu klanjutannya…. eunhyuk awalnya suka sama yong na ya???

    Reply

  10. Deborah sally
    Mar 28, 2016 @ 07:25:04

    Ini belum end kah?

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: