It Called Love [1/2]

141212-news-kyuhyun1

Title      : It Called Love [1/2]

Author : Cho Meli

Cast     : Cho Kyuhyun – Goo Jaena (OC) – Henry Lau

Genre  : Romance

Length : Twoshoot

Rating  : PG-15

PS        : FF ini murni hasil imajinasiku. Entahlah, waktu itu lagi stuck ngelanjutin ff lain dan akhirnya ff gaje ini tercipta~ kkkk. Semoga gak buruk-buruk banget yaa >< Maaf kalau alur kecepetan, uda gemes banget pengen cepetan nyelesaiin. Gaje gini tetap gaboleh dicopas sembarangan lho, ya😀 Say no to plagiarism! Hehehe. Komentar yang membangun ditunggu, readers~ kkkk.

Satu lagi, cerita yang aku bawain kali ini agak berbeda dari biasanya. Yang jelas, buat readers yang pernah ngalamin perbedaan usia sebagai penghalang hubungan, mungkin ini bisa memberi sedikit inspirasi. Tapi mian kalau ternyata uda klise >_<

Sudah pernah dipost di blog pribadiku https://chomeli0304.wordpress.com

 

Happy Reading! ^^

***

 

Sudah bulat tekadku. Ketika aku melangkahkan kaki keluar dari neraka ini, itu berarti aku bersumpah tidak akan kembali ke dalam sana. Aku.. Aku tidak ingin masa mudaku sia-sia dengan menghibur mereka yang tak tahu diri dan hanya mencari kesenangan untuk memuaskan nafsu mereka saja.

Aku, Goo Jaena, gadis tujuh belas tahun biasa yang berusaha menghidupi kebutuhan hidupnya sendiri. Jangan samakan aku dengan wanita jalang di dalam sana. Aku hanya menari untuk menghibur mereka yang datang. Sesungguhnya pekerjaan ini memang menguntungkan mengingat kegemaranku adalah menari. Namun, semuanya berbalik menjadi sebuah bencana karena tempatnya tidak sesuai.

Aku bukanlah seorang penari profesional, setidaknya suatu saat aku ingin menjadi seorang yang profesional. Aku adalah seorang pole dancer. Ani, aku menguasai beberapa jenis tarian. Di Night Club, pole dance lah yang kutarikan setiap harinya. Dimana aku harus menggunakan pakaian serba ketat dari ujung kepala sampai ujung kaki. Cenderung terbuka sampai dapat mengekspos jelas kaki jenjangku. Bentuk tubuhku yang sama sekali tidak buruk menjadikanku terlihat seperti wanita penghibur dalam artian.. Well, pemuas hasrat pria. Tak jarang kaum adam yang mendatangiku dan berbuat hal yang tidak menyenangkan. Bahkan sebagian dari mereka mencela dan merendahkanku, mereka menganggap aku tak lain dengan wanita nakal.

Aku bertahan cukup lama, sekitar lima bulan. Hanya dengan menari aku bisa mendapatkan uang. Ya, gadis yatim piatu sepertiku ini tidak mampu melakukan hal lain dengan baik selain menari. Pendidikan sekolah? Aku sudah berhenti sejak aku kabur dari panti asuhan. Goo Jaena yang malang, tidak ada yang menyayangimu dengan tulus. Bahkan appa dan eomma saja meninggalkanmu. Kau harus terima nasibmu.

Jadilah seperti sekarang ini. Berjalan dengan arah dan tujuan yang tidak jelas dengan menggunakan mini black dress dan stiletto dua belas senti. Rambut yang terurai, tatanan yang berantakan, wajah penuh kosmetik. Aku tak lebih dari seorang gadis gila yang berkeliaran saat tengah malam. Menghalau angin yang menusuk kulit putihku yang tidak terlindungi kain apa pun. Aku sudah benar-benar hancur. Goo Jaena sudah tidak memiliki harapan barang sebutir beras pun. Mungkin hidupku akan berakhir seperti ini.

Seberkas cahaya, ah tidak cahaya yang sangat terang menghunus retinaku sampai aku tidak bisa mengerti keadaan sekitarku lagi. “AAAAHHHH!”

Hal terakhir yang kuingat adalah ketika seorang pria tampan mendatangiku yang sudah terkulai tak berdaya di pinggir jalan dan menanyakan keadaanku. Setelah itu semuanya menjadi gelap.

 

***

 

Goo Jaena mengerjap perlahan sampai akhirnya mata hazelnya terbuka sempurna. Dahinya mengernyit ketika sakit menyerang kepalanya. Tangannya meraba pelipisnya sendiri yang sudah diperban dengan kasa.

Hal terakhir yang diingat olehnya adalah ketika berjalan tak tentu arah dan pikiran kosong, ia terserempet oleh sebuah mobil putih. Kepalanya membentur pembatas jalan. Goo Jaena lantas menyadari ada seseorang yang sedang menyandarkan kepala pada sisi ranjang tempat gadis itu tertidur.

Gerakan tiba-tiba Jaena membuat orang itu tersadar dan segera memeriksa keadaan gadis di hadapannya. Bibirnya membentuk sebuah senyum simpul.

“Annyeong! Aku senang kau sudah sadar. Bagaimana dengan kepalamu? Apa masih terasa sakit? Atau bagian lain tubuhmu ada yang sakit? Kau merasa pusing atau mual? Oh, lalu apa kau bisa bernapas dengan baik?” Cecar pria tampan itu dengan raut khawatir terpatri di wajah tampannya.

Goo Jaena mengerjap beberapa kali sebelum menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan oleh sang pria. “Aku masih merasa sedikit pusing di kepalaku, namun aku baik-baik saja.”

Pria di depannya nampak khawatir mendengar keluhan Jaena. “Astaga, kalau begitu akan kupanggil dokter kemari.” Pria itu hendak menekan tombol darurat ketika tangan Jaena terangkat menahannya.

Pria bermata hitam pekat itu segera menolehkan kepalanya ke arah Goo Jaena seraya bertanya, “Waeyo? Ada lagi yang sakit?” Goo Jaena menggeleng sekilas.

“Aniyo, naneun gwaenchana. Aku hanya bingung, tuan ini siapa? Apa tuan yang membawa saya ke rumah sakit?” Senyum di wajah pria itu memudar seketika, matanya menyiratkan rasa bersalah yang mendalam.

“Joesonghabnida, aku terlambat memperkenalkan diri. Cho Kyuhyun imnida. Aku tadi tidak sengaja menabrakmu, saat itu pikiranku sedang kacau sampai tidak melihat ada seseorang dari arah sebaliknya. Untunglah kata dokter tadi kau tertidur karena kelelahan. Oleh karena itu aku menunggu sampai kau sadar dan ingin memohon maaf secara langsung. Ini semua karena kesalahanku. Aku akan bertanggung jawab sampai akhir, tenang saja,” ujar pria bernama Cho Kyuhyun itu sambil menunduk.

“Gwaenchanayo. Gomapseubnida sudah membawa saya ke sini. Ini bukan hanya kesalahan anda, saya tadi juga sempat melamun sampai tidak memperhatikan kondisi jalan raya dengan baik,” balas Goo Jaena seraya tersenyum. Wajahnya nampak berkilau dengan senyum seperti itu. Gadis itu memang memiliki paras bahkan kondisi fisik yang sempurna, hanya saja nasibnya tidak sebaik fisiknya itu.

“Jeongmal? Kamsahabnida, aku senang mendengarnya, Nona. Ah, siapa namamu?” Cho Kyuhyun tersadar ia bahkan belum mengetahui nama korbannya.

“Ne, Goo Jaena imnida. Manaseo bangapseubnida, Kyuhyun-ssi,” Goo Jaena menunduk sebentar sebagai bentuk kesopanannya. Setidaknya orang tuanya sempat mengajarkannya dengan baik tata krama.

Cho Kyuhyun tersenyum dan menyebut ulang nama sang gadis beberapa kali dalam benaknya agar ia dapat mengingatnya dengan baik.

 

“Ah, senang juga bertemu denganmu, Jaena-ssi. Sebelumnya aku mohon maaf, dapatkah kau memberikan nomor telepon rumah atau keluarga? Aku melihat kau berjalan tanpa membawa apa pun termasuk kartu identitas dan aku ingin memberi kabar kepada keluargamu,” tanya Kyuhyun masih dengan senyum mempesonanya. Siapa pun yang melihat mungkin akan segera tergila-gila dengannya lain dengan Goo Jaena yang justru berwajah muram mendengar kata ‘keluarga’.

“Apa aku salah bicara? Kenapa wajahnya terlihat sedih seperti itu?” Suara tanya Kyuhyun menggema di benaknya sendiri, ia ragu mengatakannya secara langsung.

Pria itu menggaruk tengkuk untuk mengurangi rasa tegang yang tercipta begitu saja. “Goo Jaena-ssi? Waeyo? Apa.. Masih pusing?” Pertanyaan yang keluar pun sama sekali berbeda dengan apa yang dipertanyakan dalam hati tadi.

Mata Goo Jaena menyiratkan kesedihan yang mendalam, menatap kosong ke dinding putih ruangan. Bibirnya terbuka hendak mengatakan sesuatu, namun segera ditutup lagi olehnya. Hanya helaan napas berat yang terdengar. Gadis itu menatap manik Kyuhyun sambil menyunggingkan sebuah senyum getir.

“Aku sudah tidak punya siapa-siapa di dunia ini. Mereka semua sudah meninggalkanku. Rumah pun aku tak punya. Selama ini aku tinggal di tempatku bekerja, namun malam ini kuputuskan untuk berhenti bekerja di sana,” dengan senyum yang dipaksakan Goo Jaena berusaha menenangkan pria yang nampak terkejut di hadapannya sekarang.

Kyuhyun ingat pakaian yang dipakai gadis itu ketika tertabrak olehnya. Apakah dia bekerja di sebuah kelab?

“Kyuhyun-ssi, kau tak perlu khawatir. Setelah aku sembuh, kau bisa meninggalkanku. Sepertinya aku memang tidak bisa pergi dari sana..” Nada gantung dari kalimat gadis itu membuat Kyuhyun semakin merasa resah dan gelisah. Seperti ada yang mengatakan sesuatu kepadanya.

 

Setelah berpikir agak lama, suasana hening terpecahkan ketika suara berat Kyuhyun menggema di ruangan serba putih itu.

“Tidak, setelah kau sembuh, kau bisa ikut denganku, Jaena-ssi.” Mata Goo Jaena membulat seketika, ia merasa pria di depannya akan berbuat hal-hal yang selama ini sangat ia takutkan ketika bekerja di Night Club.

“M-mwo? Dengar Kyuhyun-ssi, mungkin aku hanya seorang gadis yatim piatu, namun bukan berarti kau bisa berbuat seenaknya kepadaku. Sepertinya aku telah salah menilai dirimu,” kalimat penuh penekanan dilontarkan dari bibir mungil Goo Jaena. Ia tak menyangka akan mengalami pribahasa ‘lepas dari kandang buaya, masuk ke kandang singa’.

Kyuhyun yang mendengar nada tidak suka di dalamnya langsung mengerti apa yang dimaksud oleh si gadis. Ia merutuki kebodohannya karena berkata seolah dia akan membeli gadis itu.

“Jinjja, mianhaeyo. Maksudku bukan seperti itu. Aish! Mungkin terdengar konyol, tapi aku tidak akan membiarkanmu menjadi penghibur di tempat tinggalmu sebelumnya. Oleh karena itu aku mengajakmu ikut tinggal bersamaku untuk membantuku mengurus rumah tangga. Setidaknya.. Pekerjaan itu lebih baik dari pada menjadi wanita penghibur. Aku akan memberi gaji tinggi kepadamu! Ya, aku akan membayarmu sesuai dengan pekerjaan yang kau kerjakan. Bagaimana?” Goo Jaena masih menatap Kyuhyun penuh selidik. Setidaknya ia tidak melihat adanya kebohongan sampai saat ini. Sepertinya bekerja dengan pria itu bukan tawaran yang buruk.

 

Sekali lagi tatapan tajam Goo Jaena seolah menguliti wajah pucat Kyuhyun yang sedang menunggu jawaban. “Kau, tidak akan berbuat macam-macam, kan?”

“Tidak mungkin! Aku bukan seorang ahjussi mesum, kau tenang saja.”

“Apakah istrimu akan marah?” Jaena tidak ingin dianggap sebagai perusak rumah tangga seseorang.

“Aniyo, aku tidak punya istri.”

“Kalau begitu pacarmu?”

“Aku sudah melajang sejak tiga tahun yang lalu.”

“Bagaimana dengan orang tuamu?”

“Mereka..” Pikiran Kyuhyun menerawang, sampai akhirnya ia mendelik kesal ke arah Jaena yang menjadi cerewet seketika. “Aish! Kau ini banyak bertanya! Jadi mau bekerja di rumahku atau tidak?”

“Ish, aku perlu memastikan bahwa kau tidak akan berbuat hal-hal aneh kepadaku. Lalu kau tinggal bersama siapa?”

“Sebelum noona menikah, kami tinggal bersama.”

“Jadi, kau hanya sendirian??” pekik Goo Jaena tak percaya. Sekarang ia menjadi semakin ragu mengingat orang asing di depannya ini tinggal seorang diri. Kepada siapa ia harus meminta perlindungan kalau Cho Kyuhyun berbuat hal buruk kepadanya?

“Karena itu aku butuh seorang asisten rumah tangga. Setidaknya kau gadis muda, mengerjakan pekerjaan rumah bukan suatu hal yang sulit, kan?” Jaena membenarkan perkataan Kyuhyun barusan. Menurutnya penawaran ini lebih baik ketimbang pikirannya yang akan kembali ke neraka itu.

“Arraseo. Aku menerima tawaranmu. Pastikan kau tidak berbuat sesuatu hal yang.. Aish, tak perlu kujelaskan sepertinya kau tahu.”

“Jinjjaro! Aku tak berminat dengan anak kecil kau tahu?”

Ingin rasanya membalas perkataan pria itu, namun Goo Jaena tahu kalau pria yang akan menjadi atasannya ini memang tidak tertarik dengan anak kecil sepertinya. Ah, sebenarnya tujuh belas tahun sudah bisa bisa dibilang kecil, tapi itu jauh lebih baik untuk keamanannya sendiri.

“Cih, dasar ahjussi. Ne, ne, arraseo! Paman sepertimu tak mungkin melirik anak ingusan sepertiku!” Goo Jaena mencibir sambil mengalihkan pandangan. Diam-diam Kyuhyun tersenyum melihat aksi boikot remaja di depannya. Dari keseluruhan ia yakin gadis itu belum menyentuh usia dua puluh.

“Aish! Karena cepat atau lambat kita akan sering bertemu, panggil aku oppa! Usiaku belum setua itu, babo!” Begitu dicela, Jaena langsung mendelik tak percaya menatap Kyuhyun. Lima belas menit yang lalu, pria itu menunduk sedih karena merasa bersalah kepadaku. Kini sikap pria itu berbanding terbalik dengan sebelumnya, aura setan muncul di sekitarnya. Mulutnya tajam, wajahnya datar, nadanya sengit! Sepertinya pilihan bekerja bersama Cho Kyuhyun tidak dapat dilalui semudah itu olehnya nanti..

 

***

 

Seorang pria membukakan pintu penumpang untuk seorang gadis yang kepalanya masih diperban. Setelah menutup pintu, pria tinggi itu memutari mobil dan masuk ke tempat duduk supir. Ya, hari ini Goo Jaena sudah diizinkan untuk pulang dari rumah sakit dan sesuai perjanjian, gadis itu pulang ke rumah Cho Kyuhyun untuk bekerja di sana.

“Ahjussi, gomawoyo.. Aku akan membayar semua kebaikanmu dengan cara bekerja keras di rumahmu nanti.” Cho Kyuhyun menoleh ke samping, tempat Jaena duduk. Gadis itu tidak menatapnya.

“Aish, sudah kubilang jangan panggil aku ahjussi! Aku baru dua puluh tujuh tahun dan kau tega memanggilku seperti itu?” Cho Kyuhyun merengut dan mengacak rambutnya frustasi. Baru kali ini ada yang memanggilnya ahjussi.

“Yak! Kau harus terima kenyataannya. Aku ini gadis tujuh belas tahun, itu berarti kita terpaut usia sepuluh tahun. Bukankah ahjussi adalah sebutan yang paling pantas?” Kali ini Goo Jaena ikut menatap sebal pria di sampingnya.

“Andwae! Pokoknya kau panggil aku ‘oppa’ saja. Awas saja kalau aku mendengar kau memanggilku ahjussi sekali lagi, akan kutendang kau dari rumahku,” ancam Kyuhyun sambil tertawa. Tentu saja ia tak pernah bermaksud seperti itu, tapi kelihatannya gadis muda di sebelahnya menganggap serius ucapannya.

Goo Jaena menunduk sambil berkata dengan suara lirih, “Jebal, jangan lakukan itu. Aku tak mau kembali ke neraka itu. Arraseo, aku akan memanggilmu Kyuhyun oppa, benar begitu, kan? Aku tidak memanggilmu dengan sebutan itu karena hanya merasa canggung saja. Selama ini tidak ada saudara yang bisa kupanggil seakrab itu..” Mata pria itu menerawang ke depan berusaha fokus saat menyetir. Hatinya merasa iba kepada gadis di sebelahnya. Bagaimana pun ia juga dapat merasakannya.

“Mianhaeyo, aku tadi tidak serius dengan perkataanku. Hmm.. Kalau tidak keberatan, kau mau menceritakan masalahmu kepadaku?” Goo Jaena melirik pria tampan yang masih fokus menyetir itu, berusaha meyakinkan diri bahwa ia akan baik-baik saja bersama orang asing itu.

“Eung.. Appa dan eomma meninggal akibat kecelakaan pesawat ketika aku berusia sepuluh tahun. Aku anak tunggal dan tidak punya seseorang untuk meminta pertolongan. Dinas sosial akhirnya yang membawaku ke sebuah panti orang-orang terlantar. Selama lima tahun di sana aku menjalani hidup dengan kekosongan yang luar biasa. Di sana tak ada yang memperhatikanku. Di sana orang-orang berjuang untuk dirinya sendiri. Akhirnya kuputuskan untuk kabur dari tempat mengerikan itu..” Goo Jaena menghela napas berat. Di sisi lain, ia bersyukur karena sudah ditabrak oleh Cho Kyuhyun yang sepertinya adalah pria baik-baik.

“Lalu.. Kau pergi ke mana setelah itu?” tanya Kyuhyun dengan hati-hati.

“Ah, aku pergi ke neraka sepertinya. Night Club, aku bekerja sebagai seorang penari di sana. Tetapi sepertinya mereka menganggapku tak lebih dari seorang jalang,” geram gadis itu. Ekspresinya menunjukkan rasa benci dan tak suka.

Kyuhyun sedikit tersentak. Ia ingat, sebelumnya ia memang bertujuan pergi ke kelab itu. Tapi karena tidak sengaja menabrak Jaena, niatnya terlupakan begitu saja. Sekarang pria itu tahu seberapa dalam kebenciannya kepada laki-laki dewasa. Pertanyaan mendetil yang diberikan kepadanya sewaktu di rumah sakit semata-mata untuk melindungi diri gadis itu sendiri. Sulit dipercaya, ada seorang remaja yang melewati masa sesulit itu. Pilihannya membawa gadis itu ke rumah adalah benar. Ia sudah menolong orang yang patut diberi pertolongan. Saat itu juga, pria bernama Cho Kyuhyun itu berjanji pada dirinya sendiri untuk melindungi Goo Jaena.

“Nae, arraseo. Tanya-jawab cukup sampai disini dulu. Kau baru sembuh, aku tidak mau kepalamu pusing lagi. Apakah kau lapar?” Kyuhyun mengalihkan pembicaraan dengan alasan yang tak masuk akal. Goo Jaena bukan penderita amnesia yang akan pusing ketika mengingat masa lalunya, kan? Entahlah, yang jelas pria itu takut akan menorehkan luka lebih dalam. Hal seperti itu tidak patut dirasakan oleh seorang remaja.

“Ne, Kyuhyun-ssi. Ani, maksudku Kyuhyun oppa,” ralat Jaena dengan kikuk sampai membuat pria yang sedang menyetir itu terkekeh mendengarnya. Menurut Kyuhyun, Goo Jaena adalah seorang gadis muda yang cantik dan sopan. Ia senang akhirnya dapat merawat seorang adik yang sudah diidamkannya dari dulu.

“Kkkk, kau ini lucu sekali. Kajja, kita makan di restoran itu,” ajak Kyuhyun sambil membelokkan setir ke kiri memasukki sebuah restoran western.

 

***

 

Goo Jaena tak henti-hentinya mengerjapkan mata hazelnya ke sekeliling ruangan bernuansa minimalis. Ya, sekarang ini gadis itu sudah menginjakkan kakinya di kediaman Cho Kyuhyun. Sebuah apartemen mewah dengan perabotan yang disusun serapih mungkin. Dilihat sekilas, apartemen ini sangat terawat. Sejenak gadis itu jadi ragu akan apa yang harus dikerjakan olehnya nanti bila ruangan ini bahkan tak terlihat berantakan sedikit pun.

“Jaena-ya, mulai hari ini kau akan bekerja di sini. Apakah ini terlalu besar untuk kau kerjakan sendirian?” Kyuhyun sudah lebih dulu masuk dan mengambil air minum dari kulkas, sedangkan Goo Jaena masih berdiri di pintu masuk dengan ekspresi kagum yang terlalu mencolok. Benar, apartemen ini sangat besar dan nyaman.

“Wah..” Jaena masih belum bisa mengatupkan bibirnya yang sedikit terbuka. Matanya masih memandang kagum design interior apartemen Kyuhyun.

“Setidaknya masuk dan duduklah dulu. Tidak pegal berdiri di sana?” sindir Kyuhyun dengan menyisipkan nada bercanda di dalamnya. Goo Jaena bukan orang pertama yang kagum akan apartemennya yang luar biasa hebat. Gadis itu segera sadar dan menunduk malu lalu akhirnya menyusul Kyuhyun yang saat ini sudah duduk di sofa kebesarannya.

Goo Jaena ikut duduk di sofa, berhadapan dengan calon majikannya. Tangannya bergerak merapihkan mini dress yang dikenakannya sebelum kecelakaan. Pahanya yang cukup terekspos membuat gadis itu kurang nyaman meskipun hanya duduk di sofa.

Kyuhyun paham ketika melihat Jaena sedang gelisah membenarkan posisi duduknya dan langsung melempar jas hitam yang dikenakannya tadi kepada gadis itu. Pria itu semakin takjub melihat kesopanan sang gadis.

“Ah, kamsahabnida,” ucap Goo Jaena tulus seraya menutupi kaki jenjangnya dengan jas yang dilempar pria itu tadi.

Kyuhyun mengalihkan pandangannya ke gelas di atas meja. “Memangnya apa yang kulakukan? Aku minta tolong cucikan itu nanti,” ujar pria itu sedikit canggung seperti habis dipergokki membuang sampah sembarangan.

Goo Jaena mengulum senyum. Ia tahu bahwa maksud Kyuhyun bukan itu, hanya saja pria itu malu mengutarakannya. Bagaimana pun Cho Kyuhyun adalah seorang pria dewasa.

“Ne, aku akan mencucinya nanti. Aku berterima kasih karena kau sudah memberiku sebuah pekerjaan,” balas Jaena ikut mengalihkan pembicaraan.

Pria itu berdiri dari sofa dan menatap lurus Goo Jaena. “Baiklah, kau pakai kamar di sebelah sana. Kamarku ada di sebelah, jadi jangan buat kegaduhan karena aku bisa dengan jelas mendengarnya. Kamar itu dipakai noona sebelum menikah dan ikut dengan suaminya. Kau bisa menggunakannya sekarang,” jelas Kyuhyun panjang lebar. Gadis itu mengangguk semangat.

“Dan ini,” Kyuhyun mengulurkan beberapa lembar uang kepada Goo Jaena yang menatap bingung ke arahnya.

“Pakai uang ini untuk membeli seluruh keperluanmu. Aku lihat kau tidak bawa apa pun selain baju yang kau kenakan. Aku memang punya banyak pakaian yang tak terpakai, namun kau tahu pasti bahwa itu pakaian lelaki.”

Goo Jaena menggelengkan kepala, membuat Kyuhyun mengernyit. “Aku tidak bisa menerima uang itu tanpa melakukan sesuatu.”

Pria itu segeram mengerti maksud Jaena langsung berkata dengan tidak sabar, “Kau bisa anggap ini hutang, aku akan memotongnya bertahap dari gaji bulananmu nantinya. Jadi sekarang kau hanya meminjamnya saja kepadaku.”

Seketika Goo Jaena menyunggingkan senyum selebar-lebarnya membuat Kyuhyun sedikit terpana melihat senyum gadis di hadapannya sekarang.

“Baik, aku akan menerimanya. Kamsahabnida!” Jaena berdiri dan mengambil uang yang jumlahnya tak sedikit itu kemudia membungkuk dalam-dalam. Gadis itu merasa seperti baru dipertemukan dengan malaikat penyelamatnya.

“Tak perlu seforrmal itu, Jaena-ya. Ne, cheonma. Baiklah sekarang aku istirahat dulu. Di sini tidak ada ruangan rahasia selain kamarku. Kau bisa mengenalinya sendiri pelan-pelan. Selamat malam.” Cho Kyuhyun melangkah meninggalkan ruang televisi menuju kamar utama di mana ia tidur. Goo Jaena mengiringi kepergian Cho Kyuhyun dengan tatapan kagum sekaligus terharu.

“Appa, eomma.. Apakah orang ini yang kalian utus untukku?” Senyumnya merekah. Gadis itu memulai dengan mencuci baju dengan mesin cuci yang tersedia sebagai awal pekerjaannya.

 

***

 

Jaena’s POV

 

Aku berharap ini semua bukan mimpi. Aku bisa tidur di kamar yang besar dan sejuk di atas kasur empuk dan nyaman dengan tenang. Seberkas cahaya menelusup ke kamar melalui celah di tirai jendela menusuk kelopak mataku yang masih tertutup. Jujur saja, aku sangat takut membuka mataku sekarang. Aku takut kalau ini benar-benar hanya sekedar mimpi. Sungguh, aku takut apabila ketika kubuka mata ini, aku kembali ke dunia nyata yang sungguh mengerikan.

Kubuka mataku perlahan. Bed cover yang masih menutupi sekujur tubuhku meninggalkan rasa hangat di kulit. Kupandang sekeliling kamar, ah, ternyata ini bukan mimpi. Jadi aku sungguh-sungguh bekerja dengan Cho Kyuhyun yang baik. Aku juga merasa aman dan tidak perlu takut diperlakukan yang tidak-tidak karena sampai saat ini aku masih utuh tidak ‘tersentuh’ apapun.

Sebentar aku meregangkan otot-ototku lalu segera keluar kamar hendak menyiapkan sarapan untuk.. Astaga! Ini jam berapa? Apakah Kyuhyun oppa sudah berangkat kerja? Heol, aku telat bangun karena terlalu menikmati kamar baruku yang ribuan kali lebih nyaman dari sebelumnya. Buru-buru aku mencari sosok tampan itu — harus kuakui, Cho Kyuhyun pria tampan dan mempesona. Sayang, umurnya terlalu jauh denganku. Aku yakin dia tak mungkin melirikku yang sudah seperti usia adiknya itu — kalau dia punya adik. Aku tak lain hanya seorang gadis remaja yang perlu diberi pertolongan saja. Ya, Goo Jaena, kau harus ingat posisimu itu!

Kosong. Apartemen ini sepi sekali. Kutengok di seluruh tempat yang ada di sini, namun tidak ada pria itu. Aku menghela napas kecewa, merasa tidak enak dengannya. Mataku bertemu dengan sebuah kertas kuning yang tertempel di pintu kamarku, tidak, mungkin ini ditempel oleh Kyuhyun oppa. Karena terburu-buru tadi aku sampai tidak menyadarinya. Alisku bertaut saat membacanya dengan suara lantang.

 

“Jaena-ya, aku berangkat bekerja dulu. Kalau ingin sarapan, buatlah dengan bahan yang tersedia di kulkas. Kalau kau tidak bisa memasak, pergi beli di supermarket di bawah apartemen ini. Ah, kau bisa pergi membeli keperluanmu setelah menyelesaikan urusan rumah. Aku akan kembali pukul tujuh malam. Kode rahasia apartemen ini: 020304

Jaga rumah baik-baik, ya! Gomawo~”

 

-Cho Kyuhyun-

 

Ah, benar. Pria baik ini bukan pengangguran. Haha, Goo Jaena, seharusnya kau menggunakan otak standarmu itu untuk berpikir. Baru sehari masuk di kehidupannya, aku sudah merasa seperti telah mengenalnya selama bertahun-tahun. Aku terus mengingatkan diri sendiri untuk tidak melibatkan diri terlalu jauh dalam kehidupan Cho Kyuhyun yang telah bermurah hati mau memberi pertolongan kepadaku. Oh, ayolah. Siapa yang tidak takut memikirkan kemungkinan itu? Maksudku, pria itu tampan, baik, dermawan, dan dewasa.. Kurasa setiap gadis normal mengidam-idamkan sesosok pria yang seperti itu.

Aku menepuk pipiku sendiri dengan keras. Benar, aku tidak boleh terlibat lebih jauh lagi. Yang harus kulakukan adalah mengumpulkan uang dan segera mencari tempat tinggal baru. Sejujurnya aku tak keberatan bila diizinkan untuk tinggal lama di sini, di apartemen Cho Kyuhyun. Tapi, aku tidak mau bergantung dengan seseorang untuk kesekian kalinya. Goo Jaena adalah gadis yang mandiri dan pekerja keras, bukan gadis manja.

Dengan yakin, aku memulai pekerjaanku yang seharusnya. Apartemen ini cukup rapih menurutku, mencari vacuum cleaner dan alat pel saja tidak susah. Ini semua harus menjadi awal yang baik.

 

***

 

Cho Kyuhyun’s POV

 

“Kyuhyun-ah, nanti malam aku ke tempatmu, ya.” Mataku beralih dari tumpukkan kertas yang sedang kubaca ke arah bocah tengik di hadapan meja kerjaku saat ini.

“Yak, mau apa kau ke apartemenku? Cukup sekali kau menghancurkan tempatku, Henry Lau yang terhormat,” sindirku lalu kembali fokus kepada kertas-kertas yang sempat kuabaikan tadi.

“Aigoo, kau masih mempermasalahkan itu? Aish, waktu itu aku sedang mabuk, Kyu-ah. Memangnya kau tak pernah muntah ketika terlalu banyak minum?” Tanpa mengalihkan tatapanku sedikitpun, dengan santai aku menjawab bocah peralihan itu.

“Kalau pun pernah, aku tak mungkin muntah di tempat tinggal orang lain. Lagipula siapa suruh kau minum terlalu banyak saat itu? Kau tahu sendiri bahwa dirimu bukan peminum yang baik.” Meskipun tak melihat ekspresinya, aku tahu kalau bocah setengah monster itu pasti sedang kesal mendengar ‘kebenaran’ yang baru saja kukatakan dengan lugas.

“Hyung, kenapa kau begitu kejam? Aku kesepian karena di rumah tidak ada orang. Ayolah, biarkan aku menginap di tempatmu. Eotte?” Kalau saja bocah itu menginap sebelum Goo Jaena tinggal di apartemenku, sudah pasti aku menerimanya. Tapi aku terlalu malas mendengar ocehan Henry saat mengetahui Goo Jaena bekerja di rumah, ani, maksudku tinggal di tempatku.

“Shireo. Pintuku tertutup untukmu. Sudah, sana kembali bekerja, masih banyak berkas yang harus kuperiksa,” usirku dengan menggunakan isyarat tangan yang dikibaskan.

Henry berdecak sebal lalu berjalan menuju pintu ruangan. “Lihat saja, aku akan datang nanti.” Ucapannya kuhiraukan.

“Terserah kau saja, aku tak akan membukakan pintu untukmu.”

 

***

 

Author’s POV

 

Goo Jaena sedang memandang datar ke arah cermin yang menampakkan seluruh badannya. Ia sudah membersihkan apartemen dan berbelanja di supermarket. Ia juga sudah membeli beberapa helai pakaian dan pakaian dalam wanita serta beberapa keperluan perempuan.

“Okay, sekarang waktunya aku memasang,” gumam gadis remaja itu ketika melihat jarum pendek jam menunjuk angka enam. Kyuhyun memang sering pulang pukul tujuh. Goo Jaena mengantisipasinya dengan membuat makan malam untuk mereka berdua.

Gadis ini mungkin masih terbilang sangat belia, namun kemampuan memasaknya tidak dapat diremehkan. Semasa dirinya tinggal di panti sosial, gadis itu sering mendapat giliran piket memasak. Kini ilmunya berguna disaat-saat seperti ini. Tak terasa empat puluh lima menit Jaena berkutat di dapur. Sudah tak terdengar lagi suara denting sendok maupun pisau di sana. Semua sudah tertata kembali dengan rapih. Untuk seorang gadis berusia tujuh belas tahun, Goo Jaena tergolong rajin.

Setelah menata mangkuk dan sumpit pada tempatnya, Jaena memilih untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Ia memilih makan malam bersama Kyuhyun sepulang pria itu bekerja.

 

***

 

Cho Kyuhyun’s POV

 

Aku menekan bel beberapa kali, namun tak kunjung mendapat jawaban dari dalam. “Apakah gadis itu sedang keluar?” Akhirnya kumasukkan sendiri kata sandi apartemenku ini. Memang perbuatanku ini sangat konyol. Untuk apa aku menekan bel apartemenku sendiri? Padahal jelas-jelas aku tahu kata sandinya. Apa karena kehadian gadis itu? Hahaha, Kyuhyun babo! Kau pria konyol.

Ceklek. Pintu terbuka lebar dan aroma jjangmyeon langsung menghampiri hidungku. Aku memejamkan mata menikmati aroma masakan yang nikmat ini.

“Rupanya gadis itu pandai memasak.” Senyumku merekah begitu saja.

Ketika kuhampiri dapur, di sana terlihat tidak ada tanda-tanda kehadiran seseorang. Meja makan sudah tertata rapih, jjangmyeon tersaji dengan sajian yang menarik membuat perutku meronta minta segera diisi. Namun ke mana perginya gadis itu?

“Oppa, kau sudah pulang?” Suara nyaringnya terdengar dari belakangku.

“Ne, barusan saja.” Mataku tak berkedip melihat pemandangan di depanku ini. Tenggorokanku ikut tercekat karena Goo Jaena sepertinya baru selesai mandi. Tubuh gadis itu dibalut dengan kaus putih longgar lengan panjang dipadu celana pendek hitam sehingga menampakkan jelas kedua tungkai kaki jenjangnya dan rambut yang sedang dikeringan menggunakan sehelai handuk membuat gadis itu nampak… Bagaimana aku mengatakannya… Gadis itu terlihat indah.

“Oppa?” Begitu kesadaranku kembali, aku paham maksud gadis itu yang sedang mengulurkan tangannya untuk meminta tas kerjaku. Aku mengerjapkan mata salah tingkah karena kedapatan memandanginya terlalu intens seperti tadi.

“Eoh? Kau sudah melakukan tugasmu dengan baik.” Tidak boleh. Kyuhyun, Goo Jaena adalah adikmu. Ingat, dia adikmu.

Gadis itu nampak senang mendengar pujianku. “Gomawo, oppa. Seharusnya aku yang merasa tidak enak karena merepotkanmu. Semoga apa yang kulakukan ini bisa menjadi balasan atas apa yang telah oppa berikan kepadaku.” Entah mengapa aku merasa sesuatu yang aneh menjalar dalam diriku.

“Baiklah, aku akan pergi mandi. Kalau kau lapar, kau bisa makan duluan.” Dengan tegas Goo Jaena menggeleng.

“Aniyo, aku akan makan bersama dengan oppa.” Jangan lakukan itu, Jaena. Jangan tersenyum seperti itu.

“Oh, geurom. Aku duluan.” Secepatnya aku harus mandi dan menyegarkan segala pikiranku ini. Tidak bisa, Jaena lebih pantas menjadi seorang adik bagimu, Cho Kyuhyun.

 

***

 

Author’s POV

 

Cho Kyuhyun tak henti memandang Goo Jaena yang sedang sibuk membuat makanan ringan di dapur untuk mereka malam ini. Pria itu duduk di meja makan menghadap dapur dengan mata yang tak pernah lepas dari segala aktivitas gadis itu. Mulai dari memotong buah-buahan, membuat campuran dari saus mayonaise dan susu kental manis vanilla, sampai saat menatanya ke dalam sebuah mangkuk besar. Kyuhyun takjub melihat kecekatan tangan gadis itu.

“Oppa, kau suka salad buah, kan?” tanya Jaena dari dapur sana. Oops, sepertinya Kyuhyun tertangkap basah sedang memperhatikan gadis itu.

“Eh? Hmm.. Iya, tentu saja aku suka,” jawab Kyuhyun sedikit terbata-bata.

“Syukurlah, tunggu sebentar,” sahut gadis itu ringan lalu kembali melanjutkan aktivitasnya yang terhenti sejenak.

Klik! Ceklek. Pintu apartemen terbuka lebar. Seorang laki-laki masuk ke dalam mengendap-endap agar tak diketahui oleh si pemilik apartemen.

“Surprise!” Henry melompat ke ruang televisi sambil merentangkan tangannya lebar-lebar. Sontak kedua orang di dalam sana terkejut dengan kehadiran seseorang yang tak diundang.

“Henry! Mau apa kau ke sini? Bukankah aku sudah melarangmu datang?” Habis sudah Kyuhyun. Dengan segala cara pria itu menjauhkan bocah peralihan dari dapur, tempat Jaena berada sekarang.

“Hyung, aku sudah di sini. Lagipula aku bosan di rumah sendirian.. Aku juga sudah bilang sebelumnya, kan?” Henry memelas sambil menahan tubuhnya yang didorong paksa oleh Cho Kyuhyun.

“Andwae, sana kau keluar dari tempatku!” tukas Kyuhyun masih sambil mendorong paksa tubuh ramping Henry.

“Wae? Biasanya juga tak apa aku main ke sini..” Henry belum menyerah merayu Kyuhyun.

“Tidak untuk hari ini. Karena aku.. Aku..” Ketika Cho Kyuhyun sibuk mencari alasan palsu, terdengar suara nyaring Goo Jaena dari dalam.

“Kyuhyun oppa! Neo eodisseoyo? Saladnya sudah jadi. Mari makan bersama!” Glek. Kyuhyun menelan susah payah salivanya. Henry langsung berbalik menghadap Kyuhyun begitu mendengar suara perempuan dari dalam apartemen Kyuhyun.

“Aigoo! Kenapa kau tidak bilang bahwa kau membawa seorang wanita ke apartemenmu? Aish, hyung, kau tega sekali. Bersenang-senang hanya sendirian dan melupakan adikmu ini..”

Pletak! Sebuah jitakan ‘kasih sayang’ Kyuhyun mendarat mulus di kepala Henry Lau.

“Yak! Kenapa kau memukulku? Harusnya kau yang kupukul karena tidak mengajakku berpesta..”

“Ssttt! Kecilkan suaramu! Gadis itu adalah gadis baik-baik. Bukan seperti yang kau pikirkan. Sudah sana pergi!” Dengan kejam Kyuhyun mengusir Henry yang masih bersikukuh tidak mau pergi.

“Oh, ya? Seorang gadis? Apa dia pacar barumu? Woaah! Chukhahae, hyung! Aku harus melihat gadis mana yang berhasil meluluhkan hati seorang workaholic semacam dirimu.” Henry merapihkan pakaiannya lalu berjalan santai menuju sumber suara. Cho Kyuhyun hanya dapat memijit pelipisnya yang berdenyut. Pria itu berjanji suatu saat nanti akan melempar Henry Lau ke dasar samudra pasifik.

Goo Jaena bersiul selagi meletakkan mangkuk-mangkuk berisi salad buah di atas meja ruang televisi. Gadis itu mencoba untuk memberi service terbaik kepada Kyuhyun sebagai asisten rumah tangga baru. Ketika mendengar suara langkah kaki seseorang, tanpa melihat siapa pemilik suara langkah tersebut gadis itu langsung berkata, “Oppa dari mana saja? Cepat makan salad buahnya selagi masih dingin.”

“Kau pacar baru hyung, ya?” Gadis itu terlonjak dari tempatnya berpijak sampai mundur beberapa langkah. Tidak langsung menjawab, Jaena melirik kiri-kanan mencari keberadaan Kyuhyun.

“Hey, hey. Santai saja.. Aku ini teman Cho Kyuhyun. Jadi benar kau adalah pacar barunya?” Goo Jaena masih menutup rapat bibirnya. Matanya mengerjap bingung beberapa kali.

“Aish, ya sudah. Kenalkan, namaku Henry Lau. Siapa namamu gadis cantik?” Meskipun masih enggan menjawab, akhirnya Goo Jaena mengeluarkan suaranya.

“Goo Jaena imnida. Saya asisten rumah tangga Cho Kyuhyun oppa.” Masih dengan ekspresi orang kebingungan, Jaena membalas uluran tangan Henry.

“Mwo? Maid? Hyung! Apa yang terjadi? Katakan sesuatu padaku..” Henry sama sekali tak menyangka gadis cantik di hadapannya saat ini adalah seorang maid di apartemen Cho Kyuhyun. Ribuan anak panah dari bola mata Henry dihunuskan ke arah Kyuhyun ketika pria itu menghampiri Jaena dan tamu tak diundang.

“Bukankah sudah jelas? Aku mengangkatnya sebagai asisten rumah tangga. Sudah, sana keluar dari apartemenku!” Serang Kyuhyun dengan tatapan yang tak kalah mematikan. Kalau tadi Henry hanya ribuan anak panah, mata Kyuhyun mengeluarkan jutaan bilah pisau yang siap menusuk siapa saja yang melihatnya.

Goo Jaena hanya memandangi kedua pria dewasa di depannya dengan tatapan bodoh. “Mau salad?”

 

 

To be continue…

***

PS: Sorry for typo(s)😀

3 Comments (+add yours?)

  1. Monita elfkry
    Jan 17, 2016 @ 19:15:57

    Ceritanya bagus.
    17 thun, apa umur author 17 thn ?
    Next thor🙂

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: