It Called Love [2-END]

141212-news-kyuhyun1

Title      : It Called Love [2/END]

Author : Cho Meli

Cast     : Cho Kyuhyun – Goo Jaena (OC) – Henry Lau

Genre  : Romance

Length : Twoshoot

Rating  : PG-15

PS        : FF ini murni hasil imajinasiku. Entahlah, waktu itu lagi stuck ngelanjutin ff lain dan akhirnya ff gaje ini tercipta~ kkkk. Semoga gak buruk-buruk banget yaa >< Maaf kalau alur kecepetan, uda gemes banget pengen cepetan nyelesaiin. Gaje gini tetap gaboleh dicopas sembarangan lho, ya😀 Say no to plagiarism! Hehehe. Komentar yang membangun ditunggu, readers~ kkkk.

Satu lagi, cerita yang aku bawain kali ini agak berbeda dari biasanya. Yang jelas, buat readers yang pernah ngalamin perbedaan usia sebagai penghalang hubungan, mungkin ini bisa memberi sedikit inspirasi. Tapi mian kalau ternyata uda klise >_<

Sudah pernah dipost di blog pribadiku https://chomeli0304.wordpress.com

 

Happy Reading! ^^

 

***

 

Jaena’s POV

 

Mulanya aku pikir Kyuhyun oppa ingin menjualku atau semacamnya.. Astaga! Aku benar-benar merasa bersalah sekarang..

Sebelum aku mencerna keadaan, kupikir selama ini Kyuhyun oppa berbaik hati menampungku karena ingin memanfaatkanku saja, ternyata aku salah. Kehadiran Henry oppa di sini menjelaskan semuanya. Masa pria itu bertanya apakah aku pacar baru Kyuhyun oppa? Pertanyaan konyol, tapi pertanyaan itu membuatku mengerti satu hal.. Cho Kyuhyun belum mempunyai kekasih! Aigoo, pria baik dan tampan seperti dia bahkan belum mempunyai tambatan hati? Padahal aku sangat yakin kalau ada banyak yeoja di luar sana yang menggilai Kyuhyun oppa. Secara fisik saja sudah sempurna ditambah dengan kebaikan hatinya itu. Oops, apa aku juga salah satu dari para yeoja di luar sana?

“Ohh, begitu. Kenapa kau tidak menjelaskannya padaku, hyung?” Henry oppa baru saja selesai mendengar penjelasan dari Kyuhyun oppa mengenai awal pertemuan kami. Ya, ya. Kecelakaan itu.

 

“Lalu, di mana keluargamu sekarang? Apa mereka tidak tahu soal kecelakaanmu?” Aku tersenyum miris menanggapi pertanyaannya. Kalau saja Kyuhyun oppa tidak membantuku dalam menjawab pertanyaan ini, mungkin aku akan menangis sekarang.

“Kau ini banyak bertanya, Henry-ah. Sudah, aku telah menjelaskan semuanya kepadamu. Sekarang kau mau apa lagi?” Aku menatap Kyuhyun oppa dengan tatapan terima kasih. Pria itu bahkan tahu letak sensitifku.

“Arraseo, arraseo. Hmm, Jaena-ssi, sebelum bekerja pada Kyuhyun, kau bekerja di mana memangnya?” Sepertinya pria ini adalah teman baik Kyuhyun oppa, tak ada salahnya aku berbuat baik padanya juga.

“Aku seorang penari,” jawabku rendah hati. Aku tak tahu apa profesi itu layak dibanggakan atau tidak sebenarnya.

“Oh, ya? Daebak! Bisakah kau menari untuk kami? Hyung, kau pasti ingin menyaksikannya juga, kan?” Kupandangi kedua pria dewasa itu secara bergantian. Wajah Henry Lau nampak berseri-seri sedangkan Cho Kyuhyun hanya mengangkat bahu saja.

“Terserah kau saja, Jaena-ya. Kau tak perlu memenuhi permintaan si bodoh ini kalau kau memang tak ingin melakukannya.” Dengan bijak, Kyuhyun oppa memberi pilihan kepadaku. Kurasa tak ada salahnya aku menari sekarang, toh sejak kecelakaan itu aku belum menggerakkan tubuhku lagi — dalam kasus ini maksudku adalah menari.

“Gwaenchana, aku akan menari untuk kalian.”

“Yoshaa! Kupilihkan lagunya, eoh?” Henry oppa langsung mencari lagu di ponselnya, sedangkan Kyuhyun oppa kini menatapkan dengan tatapan yang tak kumengerti..

“Okay, bagaimana dengan Bubble Pop dari Hyuna 4minute?” Duk! Kyuhyun oppa menimpuk kepala sahabatnya itu dengan bantal sofa.

“Appo! Waeyo? Tak ada salahnya, kan? Penari pasti bisa menari lagu ini!” Memang tidak ada salahnya sih, aku bisa saja menari lagu itu untuk mereka. Kenapa Kyuhyun oppa marah?

“Andwae! Cari lagu lain atau Jaena tak akan menari?” Aku tertawa kecil menanggapi ancaman Kyuhyun oppa itu. Aku saja tidak protes..

“Yak, hyung! Jaena-ssi saja tidak masalah, kenapa kau yang marah?! Baiklah, kalau lagu dari SNSD boleh, kan? You Think sepertinya menarik.” Aku langsung mengangguk semangat, I like this song so much! Segera kulirik pria itu, hmm, Kyuhyun oppa seperti setuju juga.

“Kenapa menatapku seperti itu?! Yang menari kan Jaena, bukan aku!” Ditoyornya kepala Henry oppa dengan jari telunjuk Kyuhyun oppa. Aku terkikik geli melihat tingkah mereka.

Henry oppa seperti tak terima dengan perlakuan yang baru saja diterimanya langsung melancarkan aksi protes. “Yak! Bukankah tadi kau yang melarang-larang Jaena? Kenapa sekarang kau bersikap seperti tidak ada masalah sama sekali?!” Kyuhyun oppa hanya mengangkat bahu acuh tak acuh.

“Sudah, sudah. Sekarang bisa putarkan lagunya untukku?”

 

Author’s POV

 

Henry Lau langsung berubah drastis begitu ingat tujuan awalnya. Dengan sigap ia mengeluarkan iPod hitamnya dan memutar lagu terbaru SNSD yang berjudul You Think.

Ketika instrumen awal sudah terdengar, Jaena bergerak kecil seperti memikirkan koreografi yang pas dengan lagu ini.

Begitu lagu benar-benar mulai, seluruh tubuh Goo Jaena bergerak mengikuti alunan musik yang berdentum. Kedua pria di sofa menatap gadis itu tanpa berkedip sama sekali. Setiap lekuk tubuh terlihat begitu jelas ketika gadis itu mulai menari. Oh yeah, Goo Jaena adalah gadis remaja yang sudah beranjak dewasa. Tentu saja bagian-bagian tubuhnya juga sudah tumbuh dengan sempurna.

Henry mengerjapkan matanya sambil menggelengkan kepala penuh kagum pada Jaena. Cho Kyuhyun sendiri mendapati jantungnya berdebar aneh saat melihat tarian gadis yang ditampung di apartemennya sekarang.

Lagu telah memasukki refrain dan kedua lelaki ini masih betah menikmati pemandangan di depannya. Goo Jaena sendiri enjoy dengan gerakan yang diciptakannya secara spontan barusan. Gadis itu sengaja tidak mengikuti gerakan SNSD karena ingin mencoba gerakannya sendiri.

Kyuhyun terkejut saat mendengar tepuk tangan meriah dari pria di sebelahnya. Ia baru sadar tak terdengar lagi suara lagu yang artinya Goo Jaena telah selesai menarikan sebuah lagu untuk kedua pria tersebut.

“Wohoo! Jaena-ssi, neo jeongmalyo daebak! Aku tak menyangka bisa menonton konser gratis di apartemen yang dulunya seperti kuburan ini. Aww!” Kyuhyun mendaratkan sebuah pukulan tepat di kepala Henry yang kini mengaduh kesakitan.

Entah kenapa Kyuhyun sekarang merasa sedikit aneh ketika menatap Goo Jaena. Darahnya tak berhenti berdesir saat membayangkan bagaimana eloknya gadis itu menari.

“Itu memang sudah menjadi kebiasaannya, tentu saja hebat. Sudahlah, aku mau istirahata. Lebih baik kau pulang sekarang, Henry-ah! Aku ingin istirahatku tenang.”

Pria yang lebih pendek sedikit dari Kyuhyun itu bangkit dari sofa. “Arraseo, sepertinya Jaena-ssi juga membutuhkan banyak istirahat. Kalau begitu, aku pulang dulu. Aku pastikan akan sering-sering mengunjungimu, hyung, Jaena-ssi.”

Kyuhyun memutar bola matanya malas lalu ikut berdiri dan mendorong tubuh Henry menjauh dari Goo Jaena. Gadis itu merasa kedua pria itu terlihat seperti musuh yang saling menyayangi.

“Jaena-ya, lain kali kau tak perlu menuruti kemauan bocah itu. Abaikan saja dia,” sahut Kyuhyun begitu pria itu kembali ke ruangan.

“Tak masalah oppa, toh menari adalah kegemaranku. Sebenarnya tadi aku juga tak merasa keberatan bila diminta meniru gerakan Hyuna 4minute di Bubble Pop. Lagu itu asyik sekali untuk peregangan otot-ototku pasca kecelakaan,” balas gadis itu sambil membereskan mangkuk-mangkuk kosong di atas meja.

 

Kyuhyun menghela napas lelah. “Mungkin tak akan menjadi masalah bagimu, tapi sudah pasti akan menjadi masalah bagiku setelah kau selesai menari lagu itu. Oh tidak, Kyuhyun, kau harus lebih berhati-hati.”

“Aku hanya tidak ingin temanku itu merepotkanmu, itu saja. Kadang-kadang kemauannya membuatku naik darah,” dalih Kyuhyun sambil memijat pelipisnya yang berdenyut sejak tadi.

“Ani, kalau untuk orang yang sudah berbaik hati menolongku, aku takkan merasa direpotkan sama sekali,” balas Jaena merendah lalu meninggalkan pria itu sendirian di ruang televisi.

 

***

 

Kyuhyun’s POV

 

Aku baru saja membersihkan diri ketika mencium aroma masakan lezat dari arah dapur. Pagi-pagi seperti ini, siapa yang memasak? Apa noona datang untuk memasak?

Dari jauh terlihat seorang perempuan sibuk dengan sutil dan wajan di tangannya. Rambut panjang yang dijepit asal membuat leher putih pemiliknya terekspos. Aish, aku baru ingat bahwa sekarang aku tinggal dengan seorang gadis.

“Oppa sudah bangun?” Aku terkejut begitu orang yang kuperhatikan sejak tadi menyadari kehadiranku. Dengan senyum kikuk, aku mengangguk dan menghampirinya di dapur.

“Apa yang kau masak hari ini?” tanyaku seraya melirik bahan-bahan makanan yang tersebar di seluruh meja dapur.

“Sup kimchi pedas, apa oppa suka?” Aku mengangguk sambil tersenyum. Sebenarnya aku tak menyangka bahwa gadis semuda dia selain pandai menari juga pandai memasak. Makanan yang dimasak dengan tangannya sendiri selalu terasa enak di lidahku. Kalau orang-orang tak bertanya, kuyakin mereka semua mengira Goo Jaena adalah seorang ibu rumah tangga. Fisik dan penampilannya sangat menunjang. Kyu, memangnya apa yang kau harapkan dari seorang gadis berusia tujuh belas tahun? Sedewasa apapun penampilan Jaena, perbedaan usia diantara kami terlalu jauh. Sekeras apapun aku mencoba untuk menyangkal, nyatanya di mataku gadis ini bukanlah gadis biasa.

“Cha, sudah siap,” gadis itu mengangkat sebuah panci berukuran sedang dari atas kompor dan meletakkannya di meja makan kemudian menatapku sambil tersenyum. “Kajja kita makan selagi masih panas!” Tak ada kata yang keluar dari mulutku, lagi-lagi kepalaku mengangguk tanpa dikomando. Apakah aku terlalu terpesona dengannya?

Aku mengambil posisi tepat dihadapannya. Aroma sup buatannya dapat menggugah selera makan siapa saja yang menghirupnya. Benar-benar gadis luar biasa. Dengan sigap gadis itu menuangkan sup ke dalam mangkuk yang kupegang, lalu memberiku sendok dan sumpit setelahnya.

“Coba dulu, oppa. Aku penasaran apa sup ini enak atau tidak,” matanya menatapku berseri-seri layaknya orang penasaran. Aku menjadi geli melihat ekspresi kekanakkannya itu. Mungkin dengan ekspresi seperti itu orang-orang baru percaya bahwa usia gadis ini bahkan belum menyentuh kepala dua.

“Ne, oppa cicipi dulu,” kataku sembari menyendok kuah berwarna kemerahan itu ke dalam mulutku. Matanya yang bulat membuatku ingin menjahilinya.

Iseng, aku mengerutkan dahi sambil menggelengkan kepala beberapa kali tanda tak suka. Wajah imutnya berubah menjadi kecewa. Gadis itu menghela napas panjang lalu berdiri, tangannya mengangkat panci yang isinya baru berkurang seperempat. Oops, sepertinya dia salah tangkap. Cepat-cepat aku menahan tangannya.

“Mau kau apakan?” tanyaku penasaran.

“Tentu saja aku ingin membuat yang baru. Bukankah oppa bilang tidak enak?” Nada lirihnya membuatku tak tega meneruskan ‘drama’ ini. Aku menatap tanganku yang masih berada di atas tangannya sambil tersenyum. “Aku tidak pernah bilang kalau masakanmu tidak enak.”

“Tapi tadi oppa menggeleng.” Kali ini aku menatap manik matanya. “Oppa hanya bercanda, masakanmu selalu luar biasa rasanya. Luar biasa enak tentunya.. Jangan dibuang, oppa suka sekali,” kulihat senyum Jaena mengembang. Panci yang semula diangkat, diletakkan lagi pada tempat sebelumnya.

“Syukurlah, kupikir oppa tidak suka dengan masakanku.” Aku menepuk telapak tangannya beberapa kali sebelum melanjutkan makanku sendiri. Entah apa yang membuatku senang ketika menyentuhnya tadi. Rasanya sangat nyaman..

 

***

 

Goo Jaena’s POV

 

Aku mengulum senyum ketika menyentuh satu persatu foto Kyuhyun oppa yang terdapat pada sebuah album foto berwarna biru laut di kamarnya. Sungguh, pada awalnya aku sama sekali tidak berniat menyentuh barang-barang di sana.. Hanya saja ketika melihat album itu, rasa penasaranku bangkit begitu saja. Oh ya baiklah, aku hanya senang ketika memandang foto-foto di sana. Jaena, sekarang waktunya kau melanjutkan pekerjaanmu. Ketika aku hendak menutup album biru itu, sebuah foto terjatuh ke lantai kamar. Cepat-cepat aku mengambil lembaran itu dan mengembalikannya ke tempat asal.

Semuanya menjadi lebih rumit saat mataku beradu dengan dua orang yang terdapat di dalam foto tersebut, aku sangat mengenal salah satunya. Kyuhyun oppa dengan seorang wanita yang terlihat lebih dewasa sedang bergandengan mesra berlatar matahari terbenam di Sungai Han — sepertinya.

Pertanyaan muncul begitu saja dipikiranku. Apa wanita ini kekasih Kyuhyun oppa? Tidak, Kyuhyun oppa adalah pria lajang. Aku sudah pernah bertanya sebelumnya.

 

Pintu kamar terbuka lebar ketika aku masih hanyut dalam pikiranku sendiri. Sontak aku melihat siapa gerangan yang masuk. Oh tidak, pemilik kamar datang. Buru-buru aku menutup album dan mengembalikannya ke atas meja — tempat aku menemukan album biru itu.

“Apa yang sedang kau lakukan di kamarku?” Suara dingin itu menusuk gendang telingaku. Nada datarnya terdengar seperti sebuah petir yang menyambar bagiku karena ini adalah pertama kalinya aku mendengar pria itu berbicara amat dingin.

Dengan kikuk aku berdiri sambil menunduk. “Mianhae, oppa. Tadinya aku hanya ingin membersihkan kamarmu saja. Aku tidak bermaksud lancang menyentuh barang-barangmu, tapi saat aku menata meja, ada album itu. Aku hanya..”

Wajah Kyuhyun oppa berubah menjadi menakutkan. Matanya menatapku tajam. Pria itu berjalan menuju meja dan menyimpan album itu di dalam laci meja.

“Bukankah sudah pernah kukatakan bahwa kau tak perlu membersihkan kamarku? Aku tak suka bila ada orang lain masuk ke dalam kamarku.” Belum selesai aku menjelaskan, Kyuhyun oppa sudah lebih dulu memotongnya. Meskipun aku menunduk, aku bisa merasakan tatapan tajamnya seperti mengulitiku. Aku benar-benar tamat..

Foto yang terjatuh tadi belum sempat kukembalikkan ke dalam album masih berada dalam genggaman tangan kananku yang kusembunyikan di balik punggung. Tanganku mulai berkeringat karena aku menggenggamnya terlalu erat. Pikiranku bercampur aduk.

“Nan jeongmal mianhaeyo, oppa,” kataku lirih lalu bergegas menuju pintu. Tanpa dikomando setetes air mata jatuh membasahi pipiku dan cepat-cepat kuusap. Kupercepat langkahku, saat melewati Kyuhyun oppa, pria itu menarik tanganku hingga foto itu terlepas dari genggamanku. Karena sudah tidak tahu harus bagaimana, aku membiarkan foto tersebut tergeletak di lantai dan bergegas keluar dari kamar Kyuhyun oppa menuju kamarku sendiri.

Aku masih bisa bertahan sampai aku menutup pintu kamar dan berlari ke kasur. Di situ aku menangis sejadi-jadinya. Merasa bodoh karena telah berbuat lancang. Merasa tidak tahu diri karena telah membuat orang yang menolongku kecewa. Merasa hancur karena ternyata pria itu masih mencintai wanita lain. Dan terakhir, sadar karena aku bukanlah siapa-siapa di tempat ini. Aku terlalu percaya diri dengan menganggap diriku berarti di mata Cho Kyuhyun, seorang pria dewasa dan mapan dengan wajah tampan dan hati yang baik.

 

Cho Kyuhyun’s POV

 

Mataku terpaku pada goresan tinta hitam di balik lembar foto.

I will always love you, Victoria noona!

Tulisan itu sedikit memudar, namun siapa saja pasti masih dapat membacanya dengan jelas.

Aku benar-benar merasa bersalah ketika mengingat wajah gadis itu begitu pucat saat aku menegurnya. Aku yakin gadis itu terus menunduk untuk menyembunyikan air matanya. Meskipun Jaena memang salah, aku rasa dia menangis bukan hanya karena aku menegurnya. Gadis itu sangat kuat. Apa karena tulisan ini? Entah benar atau tidak, perasaanku menyuruhku untuk menjelaskan masalah ini. Setelah mengambil foto itu, aku bergegas menghampirinya yang saat ini pasti sedang berada di kamar.

Setelah mengetuk beberapa kali, aku langsung masuk tanpa dipersilahkan. Benar saja, Jaena terlihat sungguh menyedihkan. Wajahnya memucat dengan air mata di pipi putihnya. Isak tangis terdengar pilu di telingaku. Aku memejamkan mata sejenak dan mengatur perasaanku yang bercampur aduk. Gadis itu terus menunduk menatap kosong pada lantai.

Aku menghela napas kuat-kuat sebelum akhirnya menghampirinya dengan duduk di sebelah gadis itu.

“Mianhae,” ucapku tulus. Meski aku tahu kalau aku tak perlu meminta maaf darinya, aku hanya merasa perlu melakukannya.

“Aku yang salah, oppa tak perlu minta maaf,” jawabnya lirih. Isak tangisnya sudah tak terdengar lagi, hanya air matanya masih terus meleleh.

“Ulijima, Jaena-ya..” Gadis itu menyeka air matanya dengan sebelah punggung tangannya.

“Eung.. Wanita yang kau lihat dalam foto itu adalah Victoria Song, wanita yang kucintai.” Aku bingung harus memulai dari mana dan semua mengalir begitu saja dari mulutku.

Topik kali ini berhasil membuat pandangannya teralih kepadaku. Gadis itu menatapku dengan tatapan yang sulit untuk kuartikan.

“Kami sudah tidak berhubungan lagi sejak tiga tahun terakhir,” sambungku dengan suara pelan. Aku berusaha untuk tiba hanyut dalam perasaan ketika menceritakan hal ini kepada Jaena.

“Kenapa hubungan kalian berakhir kalau oppa begitu mencintainya?” Aku senang karena akhirnya Jaena membuka suaranya. Aku tersenyum sekilas ke arahnya sebelum akhirnya memilih untuk menatap dinding kamar gadis itu.

“Aku tidak dapat mempertahankan sebuah hubungan jika seseorang yang ingin kupertahankan tidak mengharapkannya. Mencintai wanita yang lebih dewasa dariku cukup rumit,” ujarku sambil terkekeh pelan. Aku tahu suaraku tidak seperti biasanya. Membuka sebuah luka yang sudah kering memang perih rasanya.

“Bukankah usia bukanlah faktor utama dalam sebuah gagalnya hubungan?” Goo Jaena memang seorang gadis remaja yang memiliki pikiran jauh lebih dewasa dari remaja kebanyakkan. Keadaanlah yang membuat Jaena seperti itu. Namun menurutku remaja tetaplah remaja. Mereka cenderung memikirkan perasaannya saja tanpa mempertimbangkan hal-hal penting lainnya.

“Kau memang benar, usia bukan patokan utama. Hanya saja usia mempengaruhi kedewasaan seseorang. Aku tahu mungkin teori ini tidak berlaku untuk semua orang, tapi mayoritas hubungan seorang pria tidak akan berhasil dengan seorang wanita yang usianya lebih banyak dari pria itu. Seperti aku.” Aku dapat maklum kalau Jaena berkata seperti itu, gadis itu masih terlalu muda untuk mengerti masalah ini.

“Menurutku itu bukan sebuah masalah besar. Usia bukanlah sebuah penghalang kedua orang yang saling mencintai. Kalau kalian saling mencintai harusnya kalian tidak berpisah,” ujarnya dengan nada seperti menceramahiku. Aku terkekeh lalu mengacak rambutnya tanpa menoleh ke arahnya. Mengapa bisa-bisanya aku merasa harus memberi penjelasan kepada gadis tujuh belas tahun? Memang tahu apa mereka mengenai cinta?

“Arraseo, aku sudah menjelaskan semuanya kepadamu. Jangan menangis lagi, eoh?” Meski aku tidak melihatnya, aku dapat merasakan kalau gadis itu mengangguk. Syukurlah, aku merasa sangat lega. Tapi, aku masih bingung.. Kenapa aku tidak mau ada kesalah-pahaman dengan Jaena? Padahal gadis itu bukan siapa-siapa atau mungkin sekarang gadis itu punya makna tersendiri bagiku? Kalau pun ada, pasti itu naluri seorang oppa kepada yeo-dongsaeng saja. Aku kan tidak mempunyai seorang adik perempuan.

 

***

 

Author’s POV

 

Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Tak terasa hari ini sudah bulan ketiga Goo Jaena tinggal dan bekerja di apartemen Kyuhyun. Hubungan mereka pun semakin lama semakin dekat. Henry yang sesekali mengunjungi mereka sering menggoda Kyuhyun dan Jaena sebagai pasangan kekasih. Keduanya selalu menyangkal, namun lama-lama mereka terbiasa dengan sebutan itu. Tidak heran semua orang mengatakan mereka seperti sepasang kekasih. Secara fisik, mereka sangat serasi. Belum lagi Goo Jaena sangat telaten dalam mengurus ‘rumah tangga’ Kyuhyun, termasuk dalam merawat pria itu. Kyuhyun sendiri kini bisa dibilang lebih terurus dari pada saat pria itu hidup sendiri tiga bulan yang lalu.

Di hari Minggu seperti ini, baik Kyuhyun mau pun Jaena sama-sama tidak memiliki rencana untuk keluar. Gadis belia itu selalu mengikuti ke mana pun Kyuhyun pergi, kecuali ketika pria itu bekerja.

“Oppa, mau mencoba panekuk buatanku?” Jaena menawarkan diri untuk membuat camilan mereka agar hari libur Kyuhyun tidak membosankan.

“Apa beracun?” goda Kyuhyun tanpa mengalihkan matanya dari layar PSP kesayangannya. Pria itu akan bermain video games jika mendapat luang.

“Ish, coba saja nanti. Kalau kau mati berarti aku membubuhkan racun di sana,” balas Jaena dengan sedikit kesal.

Kyuhyun menghentikan permainannya sebentar lalu menatap Jaena dengan gemas. “Kkkk, bercanda.. Oppa ingin sekali mencicipi panekuk buatanmu. Cha, buatkan yang manis,” kata Kyuhyun seraya mengacak rambut gadis yang duduk di sebelahnya. Jaena tersenyum sekilas lalu meninggalkan Kyuhyun sendirian di ruang televisi. Pria itu kembali melanjutkan permainan yang sempat ditundanya.

Tak lama setelah itu Goo Jaena kembali ke ruang televisi dengan sebuah nampan di kedua tangannya. Kyuhyun yang asyik dengan PSP hitamnya sampai tak menyadari kedatangan Jaena. Tepat ketika gadis itu hendak meletakkan nampan di atas meja, bunyi bel dari intercom terdengar nyaring.

“Ah, biar kubukakan saja,” sambar Jaena ketika melihat Kyuhyun tengah bersiap-siap berdiri dari sofa.

“Ne, tolong ya,” jawab Kyuhyun sambil tersenyum. Baru saja melangkah sedikit, dengan ceroboh Jaena tersandung kaki meja yang dapat mengakibatkan kepala gadis itu menghantam meja kalau tidak segera ditahan tubuhnya oleh Kyuhyun.

Secepat kilat keadaan berubah, kini tubuh Jaena berada dalam rengkuhan Kyuhyun. Lengan kekar pria itu menahan bobot tubuh ramping Jaena selama beberapa saat. Dalam jarak sedekat ini, dimana keduanya nyaris berpelukan membuat jantung mereka bertalu seirama.

Goo Jaena yang pertama kali sadar dengan situasi canggung tersebut buru-buru menegakkan tubuhnya.

“Gwaenchana, oppa. Gomawo, biar kubukakan pintunya,” sahut Jaena canggung yang hanya dibalas dengan anggukkan kepala dari Kyuhyun. Keduanya menjadi salah tingkah.

“Nuguseyo?” Jaena bertanya melalui intercom. Debaran aneh yang ia rasakan membuat dirinya salah tingkah. Entah apa yang membuatnya seperti ini. Menurutnya, sentuhan Kyuhyun tadilah yang membuatnya merasa ling-lung seperti saat ini.

“Mwo? Neo eommoni! Apa kau sedang membawa seorang gadis?” Baik Jaena maupun Kyuhyun yang mendengarnya dari dalam sama-sama tidak bisa menutupi rasa terkejutnya. Keduanya sukses menganga lebar.

 

***

 

Cho Kyuhyun’s POV

 

Mwo?! Kenapa eomma datang tanpa memberitahuku sebelumnya? Aish! Bagaimana caraku menjelaskan tentang Goo Jaena? Bahkan gadis itu sekarang diam seribu bahasa dan hanya menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh eomma. Ini benar-benar di luar dugaanku!

“Jadi, sudah berapa lama kau tinggal di sini, Jaena-ssi?” Eomma memulai aksi interogasinya.

“Eomma, ada yang perlu kubicarakan sebelum—”

“Ah, kalian sudah lama berpacaran, ya? Kenapa kau tak pernah membawanya ke rumah, Kyu? Appa pasti juga penasaran. Apa noona-mu sudah tahu soal ini?” Aish! Belum selesai aku menjawab, eomma sudah lebih dulu memotongku.

Kulirik gadis itu hanya bisa meringis dan menatapku penuh tanda tanya. Aku yakin gadis itu tidak tahu apa yang harus dikatakan kepada eomma.

“Jaena-ssi, apa kau bekerja? Di mana? Apa kau lulusan dari..” Aku menggeram kesal lalu akhirnya memotong kalimat eomma, sama seperti beliau yang tak mendengar penjelasanku.

“Eomma! Chakkaman. Jaena-ya, bisa buatkan panekuk juga untuk eomma? Aku yakin eomma akan menyukainya, kita akan makan bersama,” sahutku dengan tatapan penuh makna ke arah Jaena. Gadis itu sepertinya mengerti maksudku lalu segera pamit untuk membuat satu porsi panekuk lagi di dapur.

 

Eomma menghela napas dalam. “Jadi kapan kalian mulai menjalin hubungan?”

Akhirnya mau tak mau aku menjelaskan secara detail masalah ini kepada eomma. Beliau menatapku aneh sebelum akhirnya menghela napas sekali lagi.

“Jadi, kau membayarnya untuk mengurus apartemenmu?” Aku mengangguk pasti, meskipun ada rasa aneh yang langsung menjalar di sekujur tubuhku.

“Kau yakin hanya itu?” Kali ini aku mengangguk ragu. Karena sejujurnya aku sendiri tidak tahu alasan apa aku mempekerjakan Goo Jaena di sini.

“Kyu,” eomma duduk mendekat lalu mengelus kepalaku, “eomma hanya ingin tahu, apa kau benar-benar tidak memiliki tujuan lain dari gadis itu?”

“Mollaseo,” akuku jujur. Sungguh, pertanyaan eomma ini membuat kekhawatiranku semakin beralasan.

“Gadis itu berusia sepuluh tahun lebih muda darimu. Memang apa yang bisa diharapkan dari seorang gadis remaja sepertinya? Kau ini pria dewasa, Cho Kyuhyun. Aku hanya tak ingin kau menjadi seorang pria yang senang bermain-main dengan perasaan, terlebih dengan seorang remaja. Appa dan eomma tak pernah mendidikmu seperti itu,” lanjutnya. Aku merenungi setiap kata yang diucapkan oleh eomma. Pikiranku kembali melayang ke beberapa saat yang lalu ketika aku menangkap tubuh Jaena. Aku jadi mengerti perasaan aneh apa itu. Bukankah aku seorang pria dewasa? Hasratku sebagai seorang lelaki pasti akan menyala ketika bersentuhan dengan lawan jenis, terlebih gadis itu mempunyai fisik yang matang menurutku. Meski masih muda, fisiknya sudah seperti seorang wanita dewasa.

“Kyu, pastikan sekali lagi. Eomma tidak mau terjadi hal yang tak diinginkan. Gadis itu masih di bawah umur. Masih banyak wanita di luar sana yang sudah pantas untuk disandingkan denganmu. Eomma akan mendukung hubunganmu dengan Goo Jaena kalau saja usia gadis itu sudah cukup. Sayangnya, gadis itu masih terlalu muda. Eomma iba dengannya kalau ia harus mengorbankan masa mudanya dengan menikah denganmu,” sambung eomma dengan sangat lembut. Baiklah, aku mengerti sekarang. Ternyata keputusan untuk menampung Goo Jaena bukanlah hal yang baik. Aku sendiri tidak ingin menyakiti gadis itu.

“Apa yang eomma katakan? Sampai menyinggung masalah pernikahan segala. Tenang saja, ini hanya sementara. Eomma tak perlu khawatir. Gomawo karena sudah peduli denganku,” aku memeluk eomma dengan sangat erat.

Tepat diakhir pembicaraan itu, Jaena kembali dengan panekuk di nampannya. Kemudian kami bertiga bercengkrama layaknya teman lama yang bertemu kembali setelah terpisah sekian lama. Goo Jaena akhirnya dapat menyesuaikan diri dengan eomma. Selama berbincang, otakku terus berpikir mengenai tindakan apa yang harus kulakukan selanjutnya. Aku tak ingin salah mengambil jalan..

 

***

 

Author’s POV

 

Meski keduanya tak pernah saling mengungkapkan, seluruh perasaan mereka terlihat cukup jelas melalui perhatian-perhatian kecil yang diberikan satu sama lain. Misalnya, ketika Goo Jaena kesusahan membawa barang-barang belanjaan untuk dapur, Kyuhyun dengan sigap membantu. Atau ketika Kyuhyun pulang bekerja, gadis belia itu menghampirinya di pintu dan membawakan tas kerja Kyuhyun. Persis seperti pasangan suami-istri, bukan?

Namun hari ini adalah puncaknya. Kyuhyun benar-benar frustasi menghadapi kenyataan yang ada. Semua misteri terungkap jelas ketika pria itu mengobrol dengan Henry Lau di kantor tadi siang.

 

“Hyung, bagaimana dengan keadaan Jaena?” Henry bertanya selagi Kyuhyun menyantap makan siang buatan Goo Jaena.

“Untuk apa kau menanyakannya?” Terselip nada tidak suka ketika Henry bertanya seperti itu. Henry segera menganggap bahwa Kyuhyun sedang cemburu.

“Aww, uri Kyuhyunnie sedang cemburu, kkkk. Mianhae, aku tak bermaksud ingin merebutnya,” pancing Henry. Pria itu sengaja ingin memancing Kyuhyun untuk membantu pria itu menyadari perasaannya sendiri.

“Aniya! Aku tidak cemburu! Aish, terserah apa kata kau sajalah,” tandas Kyuhyun dengan wajah memerah menahan emosi. Pria itu juga bingung apa yang membuatnya terpancing seperti tadi. Bukankah itu membuatnya terlihat seperti menyetujui perkataan bocah tengil yang sudah dianggap seperti adiknya sendiri?

“Kyu, aku serius,” kata Henry dan suasana menegang seketika. Henry Lau memang tidak pernah serius dalam menjalani hidupnya, namun kalau sekalinya serius, pria itu benar-benar terlihat seperti pria sejati.

“Memang apa yang kau harapkan dari seorang bocah tujuh belas tahun? Kalau kalian bersama, aku yakin tujuan kalian berpacaran pasti tidak sama. Gadis itu mungkin masih bermain-main saja, sedangkan kau? Kau berusia dua puluh tujuh tahun, kalian terpaut sepuluh tahun! Tentu saja tujuan kalian berbeda,” lanjut Henry dengan nada meninggi membuat Kyuhyun menutup bibirnya rapat.

“Cho Kyuhyun, aku tak melarangmu jika ternyata kau memang jatuh cinta kepada Jaena. Tetapi, kalau itu belum terjadi, lebih baik kau segera menyelesaikan semuanya. Pria dewasa tinggal bersama seorang gadis? Aku tidak yakin kalau tidak akan terjadi apa-apa nantinya. Entah kau atau dia duluan yang mempunyai perasaan terhadap satu sama lain. Kau pasti pernah mendengar pepatah mengatakan perasaan akan timbul seiring dengan berjalannya waktu, ditambah kau tinggal satu atap dengannya,” lagi-lagi Henry melanjutkan ceramahnya. Pria itu seperti baru saja melemparkan sebuah besi ke kepala Kyuhyun. Sampai akhir, tak sepatah kata pun Kyuhyun bersuara. Henry tahu bahwa sahabat sekaligus kakaknya itu mendengar dan sedang merenungkan perkataannya.

 

Oppa, kau minum?” Goo Jaena nampak terkejut ketika melihat Cho Kyuhyun sedang meneguk cairan berwarna merah yang ia yakini adalah anggur.

“Seorang pria dewasa pasti melakukannya,” suara parau Kyuhyun membuat gadis itu sedikit merasa khawatir. Bekerja beberapa bulan di kelab membuatnya mengerti tanda-tanda orang mulai mabuk dan Kyuhyun sudah masuk pada tahap itu.

Penampilan pria itu sangat berantakan. Dua kancing atas kemejanya terbuka dengan dasi yang sudah dilonggarkan masih mengalung pada leher putihnya. Rambut coklatnya sangat jauh dari kata rapih. Hal itu membuat Goo Jaena duduk persis di samping Kyuhyun guna menemani pria itu.

“Oppa sudah terlalu banyak minum, lebih baik jangan dilanjut,” kata Jaena lembut sembari menepuk ringan lengan Kyuhyun.

Pria itu menoleh dan menatap Goo Jaena penuh arti. Tatapan bingung, gelisah, kecewa, sekaligus sedih. Meski hanya sebentar, Kyuhyun tetap melanjutkan kegiatannya yang sudah menghabiskan dua botol besar sejauh ini. Ketika pria itu hendak membuka botol selanjutnya, tangan Jaena menghentikannya.

“Oppa! Sudah terlalu banyak, jangan dilanjut!” Kali ini Jaena menaikkan nada bicaranya, bermaksud membuat Kyuhyun sadar. Di luar dugaan, pria itu menghempaskan tangan Jaena dengan kasar lalu menatap marah kepada gadis itu. Untuk pertama kalinya Kyuhyun berkata dengan nada kasar, “Memangnya apa yang kau mengerti?! Kau hanya seorang remaja yang tak tahu apa-apa! Lebih baik jangan campuri urusanku! Lagipula minuman ini hanya boleh untuk orang dewasa.” Perkataan Kyuhyun yang semakin melantur membuat Goo Jaena kesal. Gadis itu dengan berani merebut botol yang masih tersegel lalu membukanya. Ia mengambil gelas milik Kyuhyun dan mengisinya dengan anggur sampai penuh.

“Apa oppa pikir aku tidak cukup dewasa untuk ini?” Kyuhyun terdiam ketika Jaena mengacung-acungkan gelas berisi anggur ke dekat wajahnya.

Mata Kyuhyun melebar saat Jaena memejamkan mata lalu menuangkan isi gelas itu ke dalam mulut gadis itu sendiri, menghabiskan isinya dalam beberapa tegukan saja. Tidak hanya sampai disitu, Goo Jaena mengisinya kembali lalu menghabiskannya dalam sekali minum. Hal itu berulang sampai botol besar itu menyisakan anggur kurang dari setengah botol itu. Ketika gadis itu ingin mengulanginya sekali lagi, Kyuhyun lebih dulu menahannya.

“Hentikan! Kau belum cukup umur untuk ini!” Pria itu tidak bermaksud untuk membahas soal usia, hanya sebagai alasan saja. Jaena mendengus dengan sinis.

“Lihat? Aku ini sudah dewasa! Bahkan aku kuat menghabiskan setengah botol ini, jadi biarkan aku membuktikannya sampai isi botolnya habis! Potong gajiku sebagai gantinya,” suara datar Jaena dengan tatapan dingin gadis itu membuat Kyuhyun terusik hatinya.

“Cukup, ini bukan sebuah lelucon, Jaena. Kau harus terima kenyataannya bahwa kita memang tak sama. Aku terlalu dewasa untukmu, kita tidak bisa berteman!” Secara tidak sadar Kyuhyun mulai mengeluarkan ganjalan hatinya. Jaena yang pikirannya sudah sulit dikendalikan akhirnya ikut menanggapi dengan jawaban yang mengejutkan.

“Kalau kita tidak bisa berteman, berarti posisi kita saat ini adalah lebih dari itu,” tukas Jaena. Ternyata waktu membuatnya sadar akan hal ini, bahwa ia tak menganggap Kyuhyun sekedar kakak saja. Gadis itu sadar bahwa ia telah jatuh dalam pesona Cho Kyuhyun.

“Apa maksudmu? Aku menganggapmu sebagai adikku sendiri, tak lebih,” sahut Kyuhyun dengan keraguan tersirat di dalamnya. Pria itu sadar bahwa ucapannya sama sekali tak benar. Perasaannya mengatakan bahwa Jaena dianggap lebih dari sekedar adik perempuan. Sangat sulit menyangkalnya.

“Oppa yakin dengan perasaan itu? Apakah oppa melihatku hanya sebagai adik dan tak lebih dari itu?” Mata Jaena mulai berkaca-kaca, gadis itu terlihat jujur dengan penuturannya barusan.

“Ne, aku menganggapmu sebagai adikku saja,” jawab Kyuhyun tanpa menatap mata gadis yang kini berlinang air mata. Kyuhyun sendiri merutuki dirinya karena telah membuat gadis yang mengisi pikirannya belakangan ini menangis, terlebih karena bualannya.

 

Sudah sering dikatakan bahwa Goo Jaena adalah seorang gadis yang kuat. Menangis sama sekali bukan gayanya. Terlambat sepuluh tahun untuk menangisi kehidupannya yang keras. Jaena menyeka air matanya dan menata perasaannya. Tangannya mengambil gelas yang lebih dulu dituang anggur sebelumnya dan meneguk habis isinya langsung.

“Aku hanya tak habis pikir. Memang apa pentingnya sebuah usia? Usia tak lebih dari sebuah angka belaka. Apakah perasaan manusia harus dihapuskan hanya karena sebuah angka? Sama seperti sebelumnya, oppa hanya tidak berani mengambil langkah selanjutnya. Bersama dengan seseorang yang dicintai meskipun rintangan menghadang. Usia bukan penghalang besar, oppa. Aku tidak terima jika oppa berkata seperti itu hanya karena aku masih sangat muda. Apa seorang belia sepertiku tidak boleh merasakan cinta? Apa kalian — orang-orang dewasa — pikir, cinta hanya dapat dipercaya dari seseorang yang sudah dewasa sedangkan perasaanku dianggap sebuah lelucon?” Serentet kalimat seolah memukul halus hati Kyuhyun. Kalau pria itu tidak salah menangkap makna lain dari kalimat Jaena, gadis itu mempunyai perasaan lebih terhadapnya. Apa itu benar? Apa itu berarti ucapan Henry benar-benar terjadi? Kyuhyun merasa malu karena mendapat jawaban atas cerita masa lalunya dengan Victoria Song. Jawaban atas dirinya yang terlalu pengecut untuk memperjuangkan cintanya..

“Oppa,” panggil Jaena lembut. Kyuhyun akhirnya memberanikan diri untuk menatap gadis di sampingnya itu tepat di manik matanya. Matanya menelisik untuk mencari kebenaran ucapan Jaena.

“Mungkin ini terdengar seperti lelucon bagimu, tapi aku bersungguh-sungguh mengatakannya. Kau boleh tidak percaya karena kita baru saling mengenal beberapa bulan terakhir, aku tidak memaksamu untuk percaya dengan kata-kataku. Seperti kata oppa, aku yakin orang dewasa bisa menilainya sendiri,” Jaena mengambil jedah sebentar untuk mengambil napas dalam-dalam sebelum melanjutkan kalimatnya.

“Aku mungkin mempunyai perasaan lebih terhadapmu, oppa. Selama ini, setelah kedua orang tuaku telah tiada, belum pernah aku merasa diperhatikan dengan tulus oleh orang lain yang bahkan tak pernah kukenal. Aku menghindari banyak orang yang hanya ingin memanfaatkanku, entah untuk diapakan. Aku sudah terbiasa dengan hal itu. Namun semua berbeda ketika aku bertemu dengan oppa. Bahkan oppa menolongku dan mengizinkan aku untuk bekerja di sini. Selama tiga bulan ini aku dapat menyimpulkan bahwa oppa tulus menolongku. Itulah yang menyebabkan aku merasa nyaman ketika berada disamping oppa,” lanjutnya panjang lebar. Kyuhyun senang mendengar ucapan gadis itu, hanya saja dirinya masih belum yakin dengan perasaannya sendiri. Pria itu takut kalau perasaan yang dirasakannya saat ini hanya sesaat, tahu sendiri apa yang ada dipikiran lelaki dewasa normal saat tinggal bersama dengan seorang gadis muda? Kyuhyun akan mengutuk dirinya sendiri kalau sampai itu terjadi.

“Jaena-ya, apa kau sudah memikirkannya masak-masak sebelum mengatakannya kepadaku? Kau masih sangat muda, mungkin perasaan tertarik dengan lawan jenis itu muncul karena perkembangan hormonmu sedang pesat-pesatnya. Mungkin saja itu muncul karena kau merindukan sosok pelindung pengganti ayahmu?” Kyuhyun mencoba untuk meyakinkan Jaena secara dewasa dan bijaksana. Setidaknya hanya hal itu yang bisa ia lakukan dan terlintas dipikirannya.

“Kyuhyun oppa,” pangil Jaena sekali lagi entah untuk apa, pasalnya pria itu masih terus menatap Jaena.

“Mungkin ada benarnya dari yang oppa katakan barusan. Aku sudah lama merindukan sosok pelindung karena aku telah ditinggal appa sejak lama. Kalau begitu berikan aku satu kesempatan untuk menentukan perasaanku sendiri,” ujar Jaena pelan.

Detik selanjutnya Jaena mendekatkan wajahnya dan menyentuh material lembut Kyuhyun dengan miliknya sendiri. Pria itu tetap membelalakkan matanya sementara mata Jaena terpejam. Gerakan tiba-tiba itu membuat Kyuhyun kehilangan akal dan membalas ciuman dari Goo Jaena. Tak dapat dipungkiri jantung Kyuhyun berdetak sangat kencang, sama seperti milik gadis pemberani itu.

Kyuhyun tahu membiarkan momen ini adalah tidak benar, tetapi hatinya menolak untuk mengakhirinya. Dari situ Kyuhyun yakin bahwa perasaannya kepada Goo Jaena sudah sedalam itu.

Goo Jaena sendiri merasakan sensasi yang luar biasa. Ini adalah pertama kalinya bagi dia dan rasanya sungguh menakjubkan. Ia tak pernah merasa sebahagia ini, bahkan ia lupa kapan terakhir ia merasakan bahagia dalam hidupnya. Tindakan ini dapat meyakinkan dirinya bahwa perasaannya kepada Cho Kyuhyun bukan perasaan rindu akan sosok pelindung semata. Goo Jaena bahagia karena akhirnya menemukan lelaki yang dicintainya dan juga mencintainya.

Gadis itu mengakhiri ‘aksi pembuktiannya’. Tak dapat disangkal, Kyuhyun mendesah kecewa karena berakhir secepat itu disaat ia mulai menikmatinya. Sekali lagi, mungkin ini tidak dapat dibenarkan jika mengingat perbedaan usia diantara keduanya sangat jauh. Tetapi, cinta bukan tentang usia, kan?

 

Pipi Jaena bersemu merah, sedangkan Kyuhyun masih berasa salah tingkah karena lebih dulu ‘diserang’ oleh gadis yang usianya sepuluh tahun lebih muda darinya.

“Jadi? Apa oppa sudah bisa menentukan arti dari perasaan itu?” Jaena bertanya malu-malu sambil menundukkan kepalanya. Kyuhyun tersenyum kecil melihat tingkah Jaena. Setidaknya remaja tetaplah seorang remaja.

Tangan pria itu terangkat untuk mengacak rambut Jaena dengan gemas. “Aku sudah mengerti. Gomawo karena telah menyadarkanku. Jadi, bagaimana denganmu?”

Jaena menggeleng kuat. “Aku tetap pada pernyataan pertamaku. Selama ini aku memandang oppa sebagai laki-laki, bukan sebagai kakak. Naneun johahaeyo, oppa,” ujar Jaena dengan senyum manis yang sejak awal sangat disukai oleh Kyuhyun.

“Arrayo, kalau begitu, mulai besok aku harus mencarikan tempat tinggal baru untukmu.”

“EHH?!”

 

 

END

 

***

PS: Sorry for typo(s)😀

ANNYEONG! Gaje ya? Mianhaeee, author lagi coba alur yang agak beda dari biasanya ^^ jadi maaf kalo agak aneh.. Hihihi. Harusnya ini jadi oneshoot, tapi karena kepanjangan jadi harus dibagi menjadi dua :’)

Tadinya pengen kasih konflik lebih banyak lagi, tapi author gak pernah tega kasih masalah yang berat-berat buat Kyuhyun oppa :” kasian kalau Kyuppa patah hati :’)

Ada sedikit penawaran.. Kalau ‘It Called Love’ mendapat respon positif dari kalian, author akan kasih sequel :3 Kalau ternyata peminatnya sedikit, author gak janji😦

Thanks for reading! Need your comment~

Saranghaeyoo :*

 

13 Comments (+add yours?)

  1. mayank
    Jan 18, 2016 @ 21:08:40

    Thor bikin squelnya yah, plis plis plis 😂

    Reply

  2. risyana kholifah
    Jan 18, 2016 @ 22:37:50

    Min…sequelnya donk….penasaran gimna klnjutan huhungan kyuhyun ma jaena nih….plisss di lanjut z..zz

    Reply

  3. Yutika
    Jan 20, 2016 @ 09:47:48

    Wahh… belum juga jd istri kyuhyun udh mau cariin tempat tinggal sndri buat jaena…(?) Enak bener yaaa😄

    Lanjuta squel nya ya autor… ♡

    Reply

  4. kyunnie28
    Jan 22, 2016 @ 12:18:56

    Rumah baru buat Jaena,,psti biar Jaena-ny aman dr serangan Kyu…Bahaya klo dkt2 sama ahjussi satu it dlm radius krg dr 5m…😀

    Sequel deehh sist,,biar ga gantung di atap ceritany. Heheheee….

    Reply

  5. Monita elfkry
    Jan 22, 2016 @ 16:49:01

    Wah nyentuh banget waktu mereka menyatakan perasaan masing2.
    Pasti sulit banget.
    Kisah cinta pria Dewasa dan Wanita remaja.
    Next thor🙂

    Reply

  6. Deborah sally
    Mar 22, 2016 @ 20:50:01

    Emak Kyuhyun apa kabar?

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: