I’m Sorry I Love You

kyu

Nama : Anissa Anggina Putri

Judul Cerita : I’m Sorry I Love You

Tag (tokoh/cast) :

Cho Kyuhyun

Jihyun

Lee Donghae

Cameo:

Changmin

Kwanghee

Kim Eunji

Genre : Romance, Fantasy

Rating : 15+

Length : One shot

Catatan Author (bila perlu):

 

“Kyuhyun-ah, mari kita dengar cerita dongeng eomma sekarang…” Kyuhyun masih berusia tujuh tahun, butuh alunan suara seorang ibu untuk masuk dunia mimpi. Berbaring di atas selimut bergambar pemandangan angkasa dengan tatapan antisipasi. “Eomma mau ceritain aku apa?” “Tentang seorang putri dan pangeran…” “Yeiii!” Kyuhyun paling suka sosok pangeran, pemberani dan pembela kebenaran. Didengarnya bagaimana dia berhasil membunuh naga jahat.

Eomma…” “Apa?” “Dimana appa? Di TK, semua pada punya appa. Masa cuma aku yang tidak punya?” Ekspresi ibu Kyuhyun berubah total, berhenti melanjutkan cerita dongeng favorit anaknya. Ditatapinya Kyuhyun yang heran keberadaan sang ayah. “Jangan-jangan… appa tidak sayang aku?” “Bukan begitu, Kyuhyun-ah. Appa juga sayang kamu, tapi…” “Tapi apa, eomma?” “Appa ada di suatu tempat yang… amat sangat jauh… eomma saja tidak bisa ke sana.”

 

Kyuhyun terdiam, tidak tertarik lagi di dengarkan cerita dongeng dan membetulkan posisi bantal. “Dimana?” “Di sana…” Ibu Kyuhyun menunjuk jarinya ke sudut atas ruangan. Senyum sedih seraya membohongi anaknya sendiri tergambar jelas di bibir. “Di surga… walau tidak bisa ketemu, eomma yakin appa juga sayang kamu.” “Jeongmal? Eomma tidak bohong kan?” “Ehem…” Walau responnya menggantung, Kyuhyun tetap percaya. Dicintai kedua orang tuanya.

 

***

 

Namun takdir berkata lain, ibu Kyuhyun mati akibat kecelakaan tidak lama setelah hari baca cerita dongeng. Polisi sudah tangkap pelaku tidak bertanggung jawab itu dan menjalani hukuman lima tahun. Semua sudah selesai kecuali Kyuhyun yang terus menangis. Ia meraung-raung minta mohon agar bisa tinggal di ruangan kamar mayat. Para suster berusaha menyeretnya dan diantar ke rumah. Kosong melompong.

 

Annyeong!” Terkejut, Kyuhyun mendongak kepala dan mendapati seorang ibu peri cantik berdiri. Cewek itu tersenyum keibuan seperti yang selalu ada buat Kyuhyun. “Sayang sekali kau ditinggal secepat ini. Kupelukin, sini sayang!” Kyuhyun yang butuh kehangatan, bergegas lari ke ibu peri dan menanamkan kepala ke dadanya. Diusap rambutnya sebagai sikap simpati. “Mulai hari ini, aku temani ya! Jadi teman kamu, nee?”

 

“Ha? Tahu dari mana aku sudah tidak punya eomma dan appa? Dan… siapa kamu?” “Aku bidadari yang bertugas rawat anak-anak yang ditinggal mati. Dan kau salah satunya! Ajaib kan?” “Bidadari?! Hebat… apa aku bermimpi?” “Tentu saja tidak, dan tidak pakai asal pilih saja loh. Harus anak yang baik. Kami benci banget pada anak-anak jahat. Maka aku pilih kamu.” “Jadi… noona tidak bakal ninggalin aku?” “Nee…”

 

Lega secara batin, Kyuhyun akhirnya bisa tenang setelah kematian ibunya. Mulai berkehidupan normal meski harus pindah ke panti asuhan dan bergabung dengan anak-anak malang lainnya. Dibuang, ditinggal mati di usia dini menjadi alasan mayoritas. Mereka sudah lupa kesedihan tersebut, terutama Kyuhyun yang diawasi bidadari. Secara nyata, ia kehilangan semuanya. Tapi tidak senyumnya.

 

***

 

“Sakit!” Jatuh ke tanah, seorang cewek dibawa ibu asuh ke ruang pengobatan. Lututnya terluka parah dan harus diberi obat betadine. Kyuhyun yang berniat main bola sama teman-temannya berhenti di depan ruangan perihal tidak sengaja melihat cewek itu meringis kesakitan. Didekatinya dia sambil duduk di pinggir kasur. “Kenapa? Jatuh ya?” “I-iya! Sakit banget! Perih!”

 

Tidak tega dia menangis, Kyuhyun menggerakkan jari-jarinya di depan lutut cewek itu bagai sihir. Ingat bagaimana ibunya suka begini tiap kali ia terluka. Selalu hilang rasa sakitnya. “Ngapain kamu?” “Kasih kamu sihir. Eomma sering lakuin ini padaku. Pasti tidak sakit lagi.” Beberapa detik kemudian, lutut cewek itu tidak berdarah. Hilang titik-titik cairan merah di kulitnya.

 

“Hebat! Kok bisa?! Eommonim saja perlu obat! Ajari aku dong!” “Ra-ha-sia.” Seru Kyuhyun sebelum keluar ke halaman. “Kyuhyun-ah!” “Jihyun-ah, kenapa kamu?” “Itu cowok siapa, emmonim? Dia hebat banget.” “Oh, itu… itu anak baru. Namanya Cho Kyuhyun-ssi. Ibunya baru ninggal karena kecelakaan.” “Oh…” “Jihyun-ah, mau jadi teman dia?” “Mau!” “Kalo begitu pergi ke halaman. Pada mau main bola tuh.”

 

Berlari kencang tanpa terasa nyerih, Jihyun menyelusuri lorong ke halaman depan dimana banyak anak-anak asyik pada permainan sendiri. Termasuk para cowok yang tengah mengejar bola plastik. Dari balik pintu, Jihyun bisa melihat sosok Kyuhyun di sana. Di matanya, dia bagaikan pangeran berkekuatan sihir. Percaya begitu saja dengan gerakan tangan yang sangat magis. “Jihyun-ah! Awas!” Dan gara-gara lamunannya, kepala Jihyun kena tendangan bola.

 

***

 

Akhirnya, Kyuhyun dan Jihyun masuk sekolah SMP. Pihak panti asuhan punya cukup uang untuk memasukkan mereka ke sana. Jika beruntung, keduanya bisa naik ke bagian SMA dan mulai hidup mandiri. Termasuk Kyuhyun yang sampai sekarang masih diawasi ibu bidadari. “Annyeong, ada cewek manis nih.” Habis sekolah untuk daftar administrasi, Jihyun kedatangan dua-tiga pria preman. Wajahnya langsung pucat.

 

Tanpa senggang-senggang, ia berlari kencang tanpa tentu arah. “Yaaa! Berhenti kamu!” Bukkkkk! Sebuah tong sampah besi melayang terjun ke arah kepala bagian belakang preman.

Ditemukannya Kyuhyun tersenyum sinis ala Shinichi Kudo, karakter komik favoritnya “Jauhi dia. Atau nyawamu jadi taruhan.” “Yaaa, bocah! Tidak usah ikut campur! Nanti rasain akibatnya!” Desisan Kyuhyun langsung memancing emosi dua preman ini. Siap membuat kepalanya bonyot.

 

Namun calon murid SMP ini menendang tong sampah satunya lagi ke arah mereka. “Rasain dulu nih baunya!” “Sialan kamu! Bakal kubalas!” Lihat mereka kabur, Kyuhyun bergegas mengejar Jihyun. Ketemu dia di sebuah lorong antara dua gedung. “Jihyun-ah, gwaenchanha?” Tangan Kyuhyun merangkul leher Jihyun untuk menghiburnya. Tahu cewek ini ketakutan. “Mereka sudah pergi, kau aman sekarang.”

 

“Beneran? Kalo muncul lagi, otoke?” “Kulemparin kantong sampah ke mereka.” Jihyun tertawa nyaring. Bisa saja Kyuhyun buat dirinya lupa hampir ditangkap. Berdiri dibantu sambil menyapu debu dari rok seragamnya. “Jangan bilang ke eommonim ya. Aku tidak mau dia cemas.” “Arra…” Sahut Kyuhyun acuh tidak acuh. “Pokoknya tidak boleh jauh-jauh dariku. Nanti aku yang kena marah.” “Janji!”

 

***

 

Di sekolah, terdapat rumor-rumor yang sedikit mengganggu Kyuhyun. Kini, Jihyun tengah dekat dengan Donghae, teman sekelasnya sekaligus cowok populer. Sebagai cowok yang cuek, Kyuhyun tidak peduli. Merasa hubungan Jihyun dan Donghae bukan perkara penting. Walaupun sering diejek teman-teman, ia tetap pada pendiriannya. Jihyun hanya teman di panti asuhan, tidak lebih. “Ih! Ada yang cemburuan nih!”

 

Changmin, salah satu teman sekelas Kyuhyun, tersenyum berseri-seri seraya melihat ekspresinya. Paling tahu perasaan dia yang tersembunyi terhadap Jihyun. “Apaan sih? Toh, dia berhak punya banyak teman, terutama kayak cowok itu.” “Nanti nyesal kalo tahu-tahu mereka jadian. Bikin banjir air mata.” Kesal, Kyuhyun menginjak sepatu Changmin keras-keras sehingga temannya menjerit nyaring. Ditertawai penyebabnya juga murid-murid.

 

Mianh, ibu bidadari. Soalnya, dia menyebalkan! “Yaaa! Nanti pelajaran olahraga, bego! Ada tes lagi!” “Salah sendiri nyinggung aku soal Jihyun-ah. Deritamu sendiri!” “Sialan kamu!” Dua cowok yang berteman dekat ini main kejar-kejaran ala anak kecil. Tertawa-tawa seolah hanya ada mereka berdua di kelas ini. Lelah dan tidak sudi kalah Dari Changmin, Kyuhyun diam-diam menggerakkan jari telunjuknya. Penghapus papan tulis yang di meja guru terbang bebas ke arah Changmin dan mengotori wajahnya.

 

“Aduh! Siapa yang lemparin penghapus ini?! Jujur!” “Bu-bukan kami kok! Sumpah!” Wajah Changmin langsung pucat, berusaha mengelak ada hantu berkeliaran di siang bolong. Tapi, jika tidak ada yang mengaku, siapa?! Kyuhyun yang diam-diam kabur, tertawa menggelitik sampai jongkok. Walau sudah dibilang ibu bidadari untuk tidak digunakan buat iseng-iseng, tapi sesekali tidak apa-apa kan?

 

***

 

“Jihyun unnie, kenapa pulang malah senyam-senyum begitu?” Jihyun yang sudah kelas tiga SMP dan menghadapi ujian terakhir, baru saja diajak Donghae untuk berdansa di prom night. Buru-buru lari ke kamar biar tidak perlu jawab pertanyaan anak-anak. Rasanya ingin berteriak sekencang mungkin atas keberhasilan bisa menari sama cowok itu. Ia mengikuti saran Kyuhyun, yaitu bertingkah diri sendiri. Alhasil, Jihyun bisa berteman dekat dengan Donghae.

 

Loncat ke kasur, kepalanya ia pendam dalam-dalam ke bantal dan bolak-balik ke kanan-kiri. “Ngapain begitu? Kayak orang gila kamu!” Mood Jihyun langsung rusak dengar sindirian Kyuhyun dari luar pintu kamar. Tidak peduli, Jihyun berdiri dan terjun memeluknya. Sahabatnya sejak kecil sempat tidak bisa bernafas, sekaligus merah merona di pipi. Gugup dan tegang bersentuhan dengannya.

 

“Kyuhyun-ah! Aku senang banget hari ini! Mau tahu tidak?!” “Apa?” “Aku habis diajak berdansa di prom night! Sama Donghae-ah!” Glek! Jantung Kyuhyun terasa hampir copot bersamaan dengan matanya melebar. Tidak disangka cowok itu berhasil memikat Jihyun. Selangkah lagi, dia pasti bisa menjadikan Jihyun pacarnya. Perlahan-lahan, hati Kyuhyun dibakar api cemburu. Haruskah ia mendukungnya atau memilih keegoisan diri sendiri?

 

“Kudengar kau masih belum punya pasangan buat nanti? Aigoo… cepetan! Biar tidak jadi cowok menyedihkan.” “Apaan sih cowok menyedihkan? Kayak bakalan jadi jomblo seumur hidup!” “Cuma peringatan doang! Tidak usah kesal begitu ah!” Senyum Jihyun kini menyakiti hati Kyuhyun. Jika begini terus… senyum itu bukan miliknya lagi. “Kyuhyun-ah, makan yuk! Kali ini kutraktirin!” Dan Kyuhyun tidak ingin makan bersamanya.

 

***

 

“Ibu bidadari… aku harus gimana?” Sudah lama Kyuhyun tidak menyebut wanita kedua paling cantik selain ibunya. Terakhir kali itu ketika baru masuk panti asuhan dan suka menyendiri. Ia mengalami kegalauan karena Jihyun. Cewek itu akan selalu dekat sama Donghae, bahkan membayangkan mereka berdansa di pesta sudah naik darah. Ia cemburu… cemburu berat sampai ingin mempermalukan cowok itu dengan sihirnya.

 

“Ada apa sayang? Omo! Kau sudah besar, Kyuhyun-ah! Sudah kelas berapa kamu?!” “Ssst, jangan berisik. Nanti, anak-anak pada bangun!” “Omo, mianhe…” Terlihat jelas kini wajah Kyuhyun sedang kusut. Semalam terbawa perasaan melihat Jihyun menjadi ‘putri’ Donghae sehingga pulang cepat. Tidak jawab kenapa sahabatnya belum pulang. “Lagi jatuh cinta ya?” “Ja-jatuh cinta?” “Begini-begini, aku sudah punya suami, anak, juga cucu. Jadi tahu.”

 

“Terus aku harus gimana? Aku tidak mau kehilangan Jihyun-ah, tapi aku juga mau dia bahagia.” Gerutu Kyuhyun dengan bibir manyun. “Bingung aku…” “Kalo mau miliki cewek itu, kenapa tidak tembak saja?” “Te-tembak?!” “Nee, daripada nyesal…” “Ibu bidadari kayak Changmin-ah saja.” “Ini demi kebaikanmu!” Lama merenung, akhirnya Kyuhyun akan bilang ke Jihyun. Ia tidak ingin kehilangan dia, seperti ditinggal mati ibunya.

 

***

 

“Ha? Bicara?” “Nee, habis sekolah. Penting banget.” Lihat keseriusan Kyuhyun, Jihyun mengangguk dan minta Eunji menemaninya ke kantin. Buru-buru karena tadi pagi belum sarapan. Tidak tahu cowok ini punya kejutan. Selesai semua pelajaran, seluruh murid bergegas pulang dengan riang. Tinggal Kyuhyun yang berdiri di luar gerbang. Lama banget… ngapain dia? Pikirnya sambil balik ke halaman dan perlahan melayang ke udara. Menuju jendela kelas Jihyun.

 

Matanya terbelalak. Kok sama si cowok itu?! “Cepetan, lagi ditungguin Kyuhyun-ah. Kasihan dia.” “Iya, gugup aku…” Kenapa kini perasaan Kyuhyun tidak karuan? Kenapa ekspresi dia sama persis dengannya barusan? Salah tingkah seolah bisa dengar detak jantungnya sendiri?! “Sebenarnya… aku itu…” Andwe! Andwe! Jerit Kyuhyun dengan batin tersiksa. Tidak sudi dugaannya senada dan tepat sasaran.

 

“Suka banget sama kamu, tapi bukan sebagai teman.” “Hee…?” Gumam Jihyun dengan mata membelalak. Hatinya berdebar tidak karuan. Bingung kenapa Donghae bisa salting begini. “Tapi sebagai cewek dan aku… suka banget sama kamu…” Pipi Jihyun memerah, tidak pernah sekalipun terlintas olehnya akan ditembak. Kelihatan jawabannya karena habis itu, Donghae tertawa geli. Menurutnya, Jihyun berbeda dari cewek-cewek lain.

 

“Lugu banget sih si kamu… ketahuan banget kamu juga suka sama aku.” Pelukan sejenak antar Donghae dan Jihyun buat Kyuhyun patah hati. Terurung niatnya menyatakan perasaan dan membuat Jihyun lebih dari sekedar teman masa kecil. Buru-buru, ia mendarat di halaman samping dan berlari kencang ke luar gerbang. Tidak peduli nanti Jihyun marah atau dimarahi cewek itu. Saat ini, ia ingin menyendiri.

 

***

 

Sudah tiga tahun Donghae menjalani hubungan romantis dengan Jihyun. Tidak malu bermain sama anak-anak kecil di rumah panti asuhan Jihyun. Lihat perilaku pacarnya, Jihyun yakin Donghae tipe cowok sempurna. Meski berasal dari keluarga kaya, dia tidak pernah sombong. Bahkan pernah sekali beri banyak hadiah pada anak-anak panti. Pokoknya sweet sekali. “Jangan senyam-senyum begitu, nanti kayak cewek bego loh.” Jihyun yang habis mengantar Donghae ke mobilnya mendengus. Bingung kenapa cowok ini paling tidak suka dirinya senang.

 

“Nasib cowok jomblo tuh, cemberut lihat sahabatnya mesra-mesraan.” Lebih tepatnya cemburu kelas berat, batin Kyuhyun dengan rasa tertekan. Apa ini bayaran melihat cewek yang disukainya bahagia dan tertawa bersama cowok lain? Apalagi itu pujaannya? “Makanya cari pacar! Changmin-ah dan Kwanghee-ah mau jodohin kamu! Kata mereka kasihan kamu!” Sialan, memangnya dia sudah bujangan selama tiga puluh tahun lebih? Sampai harus dicarikan cewek untuknya?!

 

“Tidak punya kerjaan apa?” “Cobalah, demi aku.” “Demi aku? Buat apa?” “Agar aku tidak cemas kamu ditinggal sendirian.” Alis mata Kyuhyun terangkat sebelah, tidak paham arah pembicaraan ini. “Sebenarnya, aku sudah ketemu orang tua Donghae-ah dan mereka tidak masalah aku jadi pacarnya. Juga…” Tanpa disadari, nafas Kyuhyun tercekat. “Nanti habis lulus, aku sama Donghae-ah, bakal tunangan, juga… mau niat pindah ke Amerika buat kuliah. Semacam persiapan buat… pernikahan.”

 

Kyuhyun tidak dengar apa-apa, baginya pernikahan Jihyun dan Donghae sudah cukup bagai mimpi buruk kepanjangan. Tapi pindah ke Amerika?! Sama saja ia harus LDR secara sepihak! “Kyuhyun-ah, kau dukung aku kan?” Lihat Jihyun dengan senyumnya yang sangat manis, keegoisan Kyuhyun langsung sirna. Diproritaskannya kebahagiaan seorang sahabat kecil dari panti asuhan. Pupus sudah kesempatan memiliki dia. “Asal cowok itu tidak brengsek…”

 

***

 

Tiba sudah hari kelulusan Jihyun dan Kyuhyun. Berpakaian wisuda dengan medali di leher sambil berbaris. Mata mereka merah habis menangis diam karena terharu. ‘Mereka’ itu Jihyun dan Eunji. Sibuk mengusap air mata di lorong belakang. “Ya ampun, Jihyun-ah, selamat ya! Sekalian buat calon tunangan! Kita pisah deh!” “Jangan ah, Eunji-ah. Kita masih bisa ketemu kok! Janji bakal balik ke Korea lagi!” “Keren banget tinggal di New York! Oleh-olehnya cowok bule ya!”

 

Jauh dari keramaian, Kyuhyun dan Changmin sibuk makan cemilan. Keduanya masuk universitas Korea Nasional dengan jurusan kedokteran. Sudah tahu rencana Jihyun yang membebani hati Kyuhyun dan Changmin sadar betul temannya berusaha untuk rela. “Tenang saja, bakalan ada jutaan cewek di sana yang bisa gantiin Jihyun-ah. Cinta harus dibalas dengan cinta baru kan?” Tapi rasanya ingin mengerjai Donghae dengan kekuatan sihirnya! Bahkan dilarang ibu bidadari sekalipun!

 

“Donghae-ah! Yeeei!” Menengok sesaat, Kyuhyun melihat dari puluhan murid yang tengah bergembira, terdapat sosok pacar Jihyun yang asyik memutar badan ceweknya dengan senyum lebar. Ketahuan mereka sedang di dunia mereka sendiri. Tidak peduli seberapa sakit yang Kyuhyun rasakan saat ini. “Kyuhyun-ah!” Teriakan Changmin tidak digubriskan Kyuhyun yang berjalan menuju toilet. Bersembunyi di balik pintu dengan mata mengarah ke Jihyun dan Donghae. Ekspresinya semakin geram.

 

Dengan segala gerakan jari-jarinya, Kyuhyun mengerjai Donghae habis-habisan dan sepenuh hati. Lemparan-lemparan piring kaca ke kepala, bikin dia terjatuh beberapa kali, dan paling parah, melayangkan makanan ke wajahnya! Apa saja yang penting buat hati plong! “Mianh, ibu bidadari. Aku tahu tidak boleh gunain kekuatanku buat pribadi, tapi hatiku perih banget!” Gerutunya dalam hati. Tahu kelakuannya tidak akan mampu memuaskan hati.

 

***

 

Seminggu setelah kelulusan, Donghae dan Jihyun bertunangan di sebuah gereja. Diakhiri lewat pelepasan dua burung merpati ke udara. Juga ditangisi wanita pemilik panti asuhan yang sudah Jihyun anggap ibu kandung sendiri. Semua bahagia kecuali satu, yaitu Cho Kyuhyun. Dirinya yang diundang sebagai ‘sahabat kecil’ begitu menyakitkan. Hanya bisa melihat Jihyun diberi cincin pertunangan begitu berjalan sama Donghae. Senyum cewek itu begitu menyiksanya.

 

Selesai upacara, pandangan Jihyun tidak sengaja beradu dengan Kyuhyun. Entah kenapa, mata cowok itu sedih sekali di saat acara berlangsung. Dibuat dirinya harus berpisah ke beda negara. “Akhirnya sendirian kamu. Sudah kubilang kan? Cari pacar dong…” Rengekan Jihyun buat Kyuhyun geli. Mata dia berkaca-kaca dengan gaun putih cantiknya. Semasa bersama Jihyun sejak di panti asuhan, inilah pakaiannya paling indah yang ia kenakan.

 

Dan sayangnya, ia tidak akan melihat dia lagi. “Hei…” Tiba-tiba muncul Donghae yang sangat tampan dengan tuksedo hitamnya. Ekspresi Jihyun langsung ceria dan tersenyum. “Bicara apa kalian? Tanpa aku?” Tanya Donghae sambil mencium dahi tunangannya. Berkobar-kobar hati Kyuhyun yang melihatnya. “Cuma rengekan biasa, dia soloist. Alias jomblo seumur hidup.” “Jeongmal? Parah kamu, Kyuhyun-ah! Kukenalin teman-teman cewekku. Ote?”

 

Kyuhyun menolak halus. “Aku tidak suka tipe kencan ala perjodohan.” “Sok keren kamu.” Gerutu Jihyun dengan gaya lucu. “Biarin, daripada kamu, minat banget nikah muda.” Balas Kyuhyun sebelum mendongak kepala ke arah Donghae. Dicobanya mengirai selebar mungkin pada calon suami Jihyun. “Kutitipin tukang repot ini ke kamu ya, Donghae-ssi. Jagain dia baik-baik.” “Pasti.” Aura percaya diri Donghae terpancar lebar. “Bakal kucintai dia sampai mati.”

 

***

 

Lima tahun kemudian…

 

Selesai kuliah tiga setengah tahun, Kyuhyun bekerja di sebuah klinik anak-anak. Lebih santai dan ceria suasananya agar tidak terlalu bersedih pasca perpindahan Jihyun ke Amerika. Diam-diam, ia menggunakan ‘sihir’-nya bagi mereka yang kena patah tulang. Kalo ditanya caranya, bilang saja ia dikirim dari Tuhan dengan bertugas memenuhi perintah-Nya. Pakai imajinasi anak-anak, hehehe… “Kyuhyun-ssi, giliranmu sudah selesai. Istirahat dulu, pasti kecapekan.”

 

Disuguhkan kopi susu panas, Kyuhyun duduk sambil sandaran di kursi kerja. “Kau jadi idola anak-anak.” Hampir semprot minuman, Kyuhyun bertemu dengan ibu bidadari. Bedanya, dia berpakaian ala dokter seksi. Kalo ketahuan, bisa bersuasana pesta! “Meski sebenarnya… hatimu kosong.” Kesedihan terpampang jelas di wajah Kyuhyun. Berapa lama ia tidak dengar kabar Jihyun? “Rela juga bentuk cinta, Kyuhyun-ah. Cara kamu sayang sama dia.”

 

“Tetap saja… dia tidak tahu perasaanku.” Lima tahun berlalu… apa Jihyun sudah lulus kuliah? Mungkin punya anak? Seolah dibisik oleh Tuhan, Hp Kyuhyun berdering. Kwanghee? Tumben dia telepon, pasti ada maunya. “Apaan?” “Ke Amerika sekarang, Changmin-ah sudah bayar biaya tiketnya!” “Mwo?” “Jihyun-ah! Aku dapat kabar dia lagi koma!” Deggg! Jantung Kyuhyun langsung tertembak. Matinya rasanya… “Kyuhyun-ah, kenapa kamu?” “Astaga, Jihyun-ah…”

 

***

 

Perjalanan melelahkan kurang-lebih dua belas jam… tidak mampu menyurutkan kegelisahan Kyuhyun. Penjelasan Kwanghee sebelum naik pesawat buat dirinya marah sama Donghae. Cowok itu harusnya bisa menjaga Jihyun! “Jihyun-ah hamil anak pertama dan di rumah sakit, dokter anjurin dia lakuin operasi ceasar tapi tahu kan sifat keras kepalanya? Dia ngotot lahirin anaknya pakai cara normal! Pas berhasil, tiba-tiba kondisinya drop banget!”

 

Kuhabiskan kamu! “Kyuhyun-ah, jangan! Jangan sampai emosimu ambil alih hati nurani kamu!” “Tapi dia suaminya!” “Ini takdir Tuhan, Kyuhyun-ah! Ini pilihannya!” “Tetap saja…!” “Kyuhyun-ssi…” Panggilan lemah dari depan menahan Kyuhyun menjerit tanpa siapa-siapa di sampingnya. Dilihatnya Donghae dengan pakaian kantor yang berantakan. Sadar bukan hanya dirinya yang terpukul. Tapi pria yang sudah berjanji akan menjaga Jihyun seumur hidup.

 

 

Mianh, sudah tidak bisa jaga sahabatmu…” Tangan kanan Kyuhyun merangkul punggung Donghae yang tengah menangis terisak-isak. Cowok ini pasti lelah dan tidak ada yang bisa diadu. Beruntung Kyuhyun masih ada Changmin yang setia dengar keluh-kesahnya tiap kali rindu Jihyun. “Kondisi sekarang?” “Stabil tapi otaknya belum bereaksi. Mungkin.. kamu sebagai teman kecilnya bisa bikin dia… bangun.” Bukan, bukan sahabatnya… tapi cowok yang dibuat patah hati karena dia…

 

“Baiklah, aku ketemu dia sekarang.” Masuk ruangan, Kyuhyun melihat kondisi Jihyun yang begitu mengenaskan. Baik mulut dan lengannya ditutupi alat bantuan pernafasan. Menurut dokter sekilas, sudah keajaiban pasien ini bertahan. “Kyuhyun-ah…” Ibu bidadari yang di belakang, hanya bisa menganga lebar. Yakin hati Kyuhyun saat ini pasti sangat perih. Berpikir menemukan cara untuk menyelamatkannys. “Kyuhyun-ah.” “Hmm?” “Cuma satu cara agar dia bisa terbangun.”

 

***

 

Sebuah cahaya terik menyinari mata Jihyun saat dibuka perlahan. Baru ingat ia habis melahirkan dan tenaganya terkuras. Badannya lemas dan tidak bisa bergerak. Bahkan suaranya parau. Dan kebetulan, Donghae datang masuk ke ruangan. Syok mendapati istrinya tersadar lemah. “Jihyun-ah…” “Donghae-ah… dimana?” “Lagi di ruangan, sehat dan kuat.” Mata Donghae berkaca-kaca seraya mendekati Jihyun ke pinggir kasur. Rasa takut akan kehilangan dia sirna sudah. “Kayak ibunya…”

 

Lama berlalu, Donghae teringat sesuatu dan memberi selembar kertas ke Jihyun. Langsung dibuat bingung meski pikirannya lagi kosong. “Dari Kyuhyun-ssi…” Donghae mulai ingin menangis. Yakin Jihyun akan sedih sekali membacanya. Keluar dari kamar seraya tidak tahan lihat dia meneteskan air matanya. “Donghae-ssi, begitu Jihyun-ah bangun, tolong jagain dia benar-benar. Karena habis itu, aku tidak bisa nolongin dia lagi. Mungkin… aku sudah pergi… ke atas sana.”

 

***

 

“Mianh, sudah jadi cowok tidak berkelas…” Tanpa bersuara, Kyuhyun masuk ke ruangan dan mendekati pinggir kasur Jihyun. Dibukanya telapak tangan untuk menyentuh dahi dia. Oh Tuhan, tolong selamatin Jihyun-ah… “Bukan cuma sihir kamu saja yang hilang tapi juga nyawamu. Yakin mau lakuin itu?” Tapi, sampai kapan dia bisa bangun? Setahun, dua tahun, bahkan bertahun-tahun? Ia tidak bisa menunggu selama itu. Kalo setelah itu dia meninggal, ia bisa tersiksa begitu lama.

 

“Sejak masuk panti asuhan, kita bersahabat hingga dewasa. Kerjaanku lindungi kamu juga beresin masalah yang kau bikin. Ingat kan hampir kena preman-preman itu?” Dan Jihyun tertawa bahak-bahak melihat aksi Kyuhyun menendang tong sampah ke mereka. Menurutnya, itu kocak sekali! “Kupikir aku harus begitu seumur hidup. Sampai kau ketemu pangeran kamu. Jujur… aku kesepian tanpa kamu.” Konsentrasi, Kyuhyun memberi sihirnya ke Jihyun. Perlahan-lahan, ia mulai mengalami rasa pusing.

 

“Aku berusaha untuk bahagia saat lihat kamu bahagia bersama cowok lain, tapi aku tersiksa. Apalagi pas dengar rencana kamu mau pindah ke Amerika dan nikah di sana…” Tenaga Kyuhyun mulai terkuras, tangan kanannya juga bergetar. “Hatiku… hancur… tapi…” Kajja, sedikit lagi! “Aku lebih sedih dengar kamu tidak berdaya dan lihat suamimu nangis di bahuku. Kau kembali bikin repot kamu dan…” Kesadaran Kyuhyun mulai memudar. “Aku harus taruhan nyawa buat nyelamatin kamu.”

 

***

 

Tiga tahun kemudian…

 

“Kyuhyun-ah!” Seorang bocah yang tengah asyik main bola menoleh ke Jihyun yang melambaikan tangan ke arahnya. Bergegas ke arahnya dan memeluk dia. “Eomma! Kenapa eomma panggil aku? Padahal masih asyik main.” “Ganti baju kamu. Kita mau pergi nanti.” “Kemana?” “Ke tempat sahabat eomma, sahabat eomma sejak kecil. Mau?” “Mau!” “Ke kamar sana!” Ditinggal, Jihyun senyam-senyum sendiri. Kyuhyun-ah, dia sudah besar…

 

Berkat kamu, aku bisa lihat dia tumbuh besar… “Aku pulang…” Tiba-tiba, tangan Donghae muncul melingkari lengannya. Pertanda suaminya sudah pulang habis mengurusi perusahaan. “sebentar lagi…” Syukurlah dia baik-baik saja, hari ini setiap tahun Donghae cemas ketemu Jihyun. Takut istrinya teringat luka pahit. Tidak bisa apa-apa selain menangis dan meremas kertas surat di tangannya. Beruntung, Jihyun masih punya dirinya.

 

***

 

Tiga tahun lalu…

 

“Jihyun-ah…” Selesai berjabatan tangan dengan ibu panti asuhan, anak-anak, juga Changmin dan Kwangheee, Donghae duduk di teras bersebelahsn dengan Jihyun yang bermata hampa. Berpakaian kimono hitam yang biasa dipakai untuk ke tempat makam. Kenapa harus sahabatnya? “Aku tidak tahu gimana tiba-tiba dia bisa… ninggalin kita semua tapi… kayaknya buat nyelamatin kamu.” “Ha?” “Sini…” Lengan kiri Donghae merangkul pundak Jihyun. Dia butuh hiburan.

 

“Dia nitipin kamu ke aku, jadi tidak boleh sedih lama-lama. Aku bakal lakuin semua yang kau mau.” “Jinja?” “Hmm…” Beberapa detik diam, Jihyun mulai bersuara. “Bisa kita tinggal di sini?” “Ha?” “Dan aku mau namain anak kita Kyuhyun. Boleh?” Lihat suaminya ragu untuk setuju, Jihyun mengangkat kepala. “Aku mau miliki kenanganku bersama Kyuhyun-ah dan tidak bakal mati. Bukan karena aku punya perasaan apa… dia… sahabatku.”

 

***

 

Mwo? Kok sama nama kita?” Gerutu Kyuhyun kecil mengamati nama papan nisan. Bedanya, nama keluarga tertulis Cho sedangkan ia Lee. Lee Kyuhyun. “Kalo bukan dia, mungkin eomma tidak bakal ketemu appa loh.” Gerutu Jihyun. “Mungkin juga kau tidak bakalan ada!” “Terus, kalo kita berdua tidak ketemu, siapa yang bakal kau nikahi?” Pandangan Jihyun tertuju ke arah papan nisan sahabatnya. Dibuatnya Donghae cemburu dengan bibir manyun.

 

“Dia? Kuyakin aku suka kamu duluan.” “Berhenti, atau tidak kukasih kamu uang bulanan.” “Kayak aku anakmu saja.” “Eomma, sahabat eomma kayak apa sih?!” Tangan Jihyun menaruh kelopak-kelopak bunga di atas tanah. Berharap Kyuhyun di surga sana… bahagia… “Waktu eomma masih kecil, dia suka sembuhin luka eomma. Anehnya, tidak dikasih obat dan cuma tangan, bisa hilang total. Pernah kutanyain terus tapi tidak dijawab. Jadi nyerah deh.”

 

“Kayak begini?” Di pangkuan Kyuhyun, seekor kucing terluka di bagian perutnya. Dielus pelan-pelan lalu dilepas. Hilang bekas goresannya! “Be-benar! Bisa?!” “Berarti aku nenek sihir dong?!” Jihyun dan Donghae geli mendengar gurauan si bocah ini. Suasana tidak terlalu suram berkat anak mereka. Kayaknya anakku ini bakal lanjutin bakat kamu, Kyuhyun-ah! Serunya memandangi awan putih di langit. Berterima kasih pada seorang sahabat yang telah mempertaruhkan nyawa untuknya.

 

-THE END-

1 Comment (+add yours?)

  1. v
    Jan 22, 2016 @ 18:16:58

    Hey thor. Is this your first fanfiction or nah? Just wanna give you some advice

    Saya rasa dalam ff ini terlalu banyak kata tidak formal yang membuat gaya bahasanya kurang berkenan dan sedikit tidak rapi dalam penulisan dialog antar tokoh (cth pada paragraf menuju akhir: “Dia? Kuyakin aku suka kamu duluan.” “Berhenti, atau tidak kukasih kamu uang bulanan.” yaa, lebih baik di beri enter/aktivitas yg dikerjakan)

    Atau mungkin gaya bahasa diatas (perpaduan antara formal dan tidak formal) adalah style author? Kalau bisa, jika ada kata serapan.. di italic hehe

    Oke thor, semoga ini bisa menjadi kritik yg membangun yaa

    But overall, nice ff. Keep writing! Dont give up

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: