Missing Kyu

Kyuhyun-new-album-740x357

Author                    : Oreous

Tittle                        : Missing Kyu

Genre                      : Romance, Angst

Main Cast              :

  • Cho Kyu Hyun
  • Han Na Ra

Deslaimer             : The casts belong to God. But this story’s mine.

P.S                             : Huruf dalam cetakan italic merupakan flashback tokoh utama dalam cerita. Maaf atas judulnya yang agak dangdut, meski ceritanya mungkin mainstream yang penting judulnya beda😛

Dan cerita mainstream saya lainnya bisa ditemui di https://ryweiirawan.wordpress.com/ *promosi*

 

***

 

Rindu … itu seperti apa bentuknya?

 

Aku mengeratkan syal merah marun yang melingkari leher. Hawa penghujung musim gugur kian menggigit menembus mantel sewarna lumutku. Sesekali mengedarkan pandangan, terlihatlah betapa botaknya dahan-dahan. Oh my God, berapa lama aku tak menginjak Seoul? Pantai dan barisan pohon kelapa lebih akrab denganku lima tahun belakangan.

 

Menyuntikan udara baru terhadap paru-paru, aku lantas mendaratkan mataku pada sebuah bangku panjang berlengan besi. Nampak daun-daun maple memenuhi permukaannya, beberapa malah telah sukses menempatkan diri sebagai alasnya. Sesaat aku tertegun, merasakan angin berhembus terlalu kencang guna menerbangkan helaian-helaian itu. Tidak! Kenapa ini jadi seperti ….

 

***

 

“Kau … bilang apa barusan?” aku menemukan suaraku tercekat di beberapa kata. Oh mana mungkin, lelaki tersebut mustahil ‘kan mengatakan hal semacam itu? Bukan ‘kah kami teman? Dia bahkan mungkin menganggapku adik–

 

                  “Saranghae,” Cho Kyu Hyun berkata singkat, padat dan membuatku mau mati. Astaga cinta? Apa persoalan seperti itu nyata dalam ikatan persahabatan? Hei, kami berhubungan akrab bagai keluarga sedari TK. Dia sendiri yang mewanti-wanti supaya berhati-hati agar tidak terjebak dalam urusan asmara dan tetek bengeknya. Friend zone itu idiot, menurutnya. Lalu sekarang? Apa tidak mirip menjilat ludah sendiri?

 

                  “Kenapa?” Yah, mengapa ia jadi begini? Kenapa dia mengingkari omongannya? Kenapa dia mencintaiku?

 

                  “Aku tidak cantik.” Benar, di suatu hari ketika kami duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama ia terang-terangan mengejekku bahwa aku itu chubby, berponi rata bak horden, pendek, dan tentu sama sekali bukan tipe idamannya.

 

                  “Aku tidak pintar,” ujarku mencoba menyadarkannya. Oh ayolah, mungkin saja ‘kan ia tengah khilaf? Atau justru ini tak lain hanyalah pengaruh hormon pubernya yang sedang on fire sesaat? Pokoknya dia yang mencintaiku itu tidak sinkron.

 

                  “Aku tidak populer.” Tunggu! Ah, jangan-jangan ia menjadikanku bahan taruhan? Ia sering kedapatan bergabung dengan gerombolan Lee Hyuk Jae juga Choi Si Won di kantin sekolah. Sangsi sekali perkumpulan biang onar itu tak mencekoki keburukan terhadap Cho Kyu Hyun-ku. Eh? Intinya pasti ada yang tidak beres.

 

                  “Kau … kau membuat kesepakatan bersama seseorang?” tebakku yang kemungkinan besar tak meleset.

 

                  “Tidak perlu cantik toh di masa depan menertawakan keriput di masing-masing wajah mungkin akan cukup menyenangkan. Kita hidup maju kedepan, seberapa pun memesonanya kau saat sekarang, di waktu nanti itu cuma semu.”

 

                  “Bohong! Semua lelaki menyukai gadis yang cantik.”

 

                  “Jangan menyela, aku sedang berbicara,” titahnya tak sudi di bantah. Aku tahu, bola matanya berkilat mewaspadai dan itu membuatku menciut sekaligus terpana. Oh, dari segala aspek pendukung hidup miliknya, aku paling tidak mampu berpaling dari kedua mata tajam cokelat gelapnya itu. Sangat membunuh!

 

                  “Lalu, yah kau bodoh. Saking bodoh dan idiotnya kau sampai tak menyadari potensi pribadimu. Hei, Han Na Ra kau itu bodoh bodoh bodoh sekali. Kujamin tidak ada warga Korea yang sanggup seidiot dirimu,” aku mematung, merasa cukup nyeri akan tudingannya. Yah, aku tidak secerdas dia, tetapi perlu ‘kah ia mengataiku sampai sebegitunya?

 

                  “Dan kau memang kelas bawah di sekolah, hingga lulus pun aku ragu kau bisa terkenal. Sudah be–”

 

                  “Cinta itu, begitu ‘kah artinya buatmu?” aku memotong ujarannya sudah terlampau tak tahan mendengar semua penuturannya yang terkesan meremehkanku. Aku tahu kesenjangan di antara kami langsung melebar tat kala memasuki SMA, namun kami ini tetap teman, apa saling hina itu wajar?

 

                  “Serendah itu ‘kah definisimu soal cinta?” aku berteriak, seratus persen mengabaikan angin menderu yang menyibak gudukan-gundukan maple kering di tanah lapang taman kota. Pemuda ini, kenapa ia tumbuh semakin menyebalkan?

 

                  Berdiri saling hadap, aku mendongak memandang Kyu Hyun yang belasan senti lebih tinggi. “Aku … tidak tahu jika kau sangat … sangat … jahat.”

 

                  Mestinya aku berbalik, lari dan pergi menjauh. Tapi tidak kuasa. Mataku membelalak terkejut. Ini mustahil ….

 

                  Mana bisa bibir yang kerap bertutur kasar itu terasa begitu lembut. Memang tak sehalus permen kapas atau semanis es krim. Namun, entah bagaimana efek ringan langsung melingkupiku. Kyu Hyun tidak menuntut, tidak terburu. Ia seolah menuntunku perlahan, sabar dan ini menyenangkan.

 

                  Tanpa mampu kucegah tanganku sudah mengalungi leher kokohnya. Apa aku gila? Oh, kami teman. Lantas, entah berapa waktu terlalui dalam posisi itu. Yang kusadari, kening kami sudah saling bertumpu. Aroma menenangkan terkuarkan dari mulutnya yang begitu dempet dengan punyaku.

 

                 “Aku menang,” katanya bersama bibir yang bergesekan dengan permukaan mulutku. Hah, dasar Na Ra bodoh, kau tertipu! Tsk, ia tentu serasa di atas angin. Berhasil merebut ciuman pertamaku, hadiah apa yang hendak ia terima dari Hyuk Jae dan Si Won? Bagaimana aku bisa terjebak dalam permainanya? Sial!

 

                  “Jadilah gadisku.”

 

                  “Apa?” Ia … apa belum puas? Masih ingin menyakitiku dengan aksi taruhannya. Dia keterlaluan.

 

                  “Aku mencintaimu, aku mendapatkan first kiss-mu lalu, akhirnya tentu saja kau harus jadi pacarku.” Brengsek! Seenteng itu ‘kah kalimatnya setelah merenggut hal-hal berhargaku? Selama ini teman macam apa sesungguhnya yang kumiliki?

 

                  “Sudahlah Kyu Hyun-a. Memang imbalan apa sih yang Hyuk Jae tawarkan?” ucapku lirih, menunduk, ternyata hatiku sakit di perlakukan begitu.

 

                  “Apa, bila kau berhasil menempatkanku sebagai kekasihmu, kau boleh menjadi anggota utama genk mereka? Apa kau juga akan mendapatkan sebagian dari iuran yang mereka pungut? Apa kau di janjikan akan di bantu untuk berhasil mengencani Yeul Mi?” aku semakin dalam merunduk, menyembunyikan genangan di pelupuk mata yang kian mendesak. Ya Tuhan, harusnya tak sesakit ini ‘kan?

 

                  “Aku senang jika kau bahagia tetapi tolong, tolong sekali saja pertimbangkan perasaanku. Di jadikan bahan taruhan, tanpa kau tahu apa salahmu. Itu cukup lara.” Aku ingin pergi, langkah awalku pun terayun, sebelum tiba-tiba hadirlah sebuah lengan merengkuhku erat dari arah belakang.

 

                  Hangat. Dada terbungkus blazer hitam khas Sedai High School Kyu Hyun sungguh mengudarakan getar melindungi. Sebagai teman, kami memang acap kali berpelukan tetapi di dekap dengan cara seperti ini, baru pertama kualami.

 

                  “Aku menang. Aku menjuarai pertaruhan dengan hatiku. Aku mencintaimu, aku benar-benar suka, sayang dan menginginkan kau membalas persis seperti apa yang kurasakan.”

 

                  “Han Na Ra, aku mencintaimu. Tanpa peduli kau di mata orang, paling penting bagi kedua penglihatanku kau luar biasa,” aku diam. Yah, wajib bungkam sebab aku ingin paham kelanjutannya.

 

                  “Aku bersyukur kau bodoh. Karena jika kau jenius, aku pasti kewalahan mengahadapi para lelaki yang jelas-jelas minta perang. Untung kau tak peka hingga mereka tak bisa lagi menaruh harapan padamu.” Apa? Maksudnya itu apa? Lelaki, tidak ada yang menyukaiku kok.

 

                  “Gomawo sudah berusaha untuk tidak mencolok. Kau tahu, aku khawatir kalau sedikit saja kau jadi pusat perhatian. Aku takut, aku cemas ada yang mampu menyadarkanmu lalu, merampasmu yang polos dari jangkauanku.” Kyu Hyun, dia bisa berbicara sepanjang ini? Sekekanakan ini?

 

                  Aku merasakan Kyu Hyun menguraikan dekapan yang amat kusesali sebenarnya. Bak de javu, aku kembali bersitatap dalam jarak minim dengannya. “Han Na Ra, aku jujur. Jadi, mau ‘kah kau berusaha keluar dari zona pertemanan ini? Bersediakah kau berupaya untuk menganggapku selayaknya lelaki? Mau ‘kah kau–”

 

                  “Iya. Iya. Iya aku mau. Aku … mungkin juga mencintaimu.” Saat itu benar dan salah masih kabur dalam pengertianku. Gelora muda kadang berbahaya. Terlalu menggebu. Walau begitu musim gugurku di usia enam belas tetaplah yang paling berkesan. Aku menjajal dua ciuman hari itu.

 

***

 

Aku menggulirkan bola cokelatku demi menghalau kabut di dalamnya. Oh jangan menangis. Aku sudah janji tak akan lagi meneteskan air mata. Aku telah mati-matian meyakinkan diri bahwa Seoul bukanlah momok mengerikan. Aku pun mempersiapkan hati, lima tahun kukira lebih dari cukup ‘kan?

 

Melaju ke arah bangku. Aku menyapu maple berbunyi khas tersebut. Ya Tuhan, rasa yang mengambang dalam hatiku, sungguh ‘kah ia rindu?

 

***

 

“Hei, Na Ra-ya, aku ingin punya anak tiga.”

 

                  “Yah?” aku tersentak. Kyu Hyun minta apa tadi? A-anak? Kami bahkan baru memasuki semester lima. Kenapa ia sudah berpikir sejauh itu?

 

Lelaki berseragam yang masih betah merebahkan kepala di pahaku, bergerak menyesuaikan tubuh dengan bangku taman yang sempit. Aku percaya, kakinya sakit apabila di tekuk lama macam begitu. “Hyuk Jae memberitahuku ia dan istrinya kelak akan memeroduksi sebelas anak. Ia menantangku untuk membagun tim sepak bola yang beranggotakan anak-anak kami. Tapi aku menolak. Dibanding membentuk kelompok sepak bola, aku lebih ingin memiliki tiga anak yang cantik juga tampan. Aku akan mendidik mereka supaya mengasihimu, mengutamakanmu serta menomorsatukanmu. Hanya kau kepentinganku.” Semenjak berpacaran Kyu Hyun sungguh jadi mahir menggombal. Dasar! Tapi tanpa sanggup tertutupi, aku gembira, damai, tentram dan diam-diam juga berharap.

 

                  “Siapa pula yang mau menikah denganmu?” kataku menggodanya.

 

Dia yang asik meremas-remas daun maple renyah lantas menengadah–memandangku intens. “Siapa juga yang bersedia melamarmu jika bukan aku? Gadis sembrono, urakan dan bodoh. Cuma Cho Kyu Hyun calon suamimu.”

 

                  Hari itu aku tertawa bebas, keras, dan lengkap. Bersamanya adalah jenis kehidupan yang amat kusyukuri hadirnya. Cho Kyu Hyun aku membutuhkanmu, selalu.

 

***

 

“Cho-Kyu-Hyun,” aku mengeja namanya yang familiar di lidah.

 

“Cho-Kyu-Hyun,” detakan jantung sang pengiring sebetuan tersebut masih sama keras dan menggilanya. Aku, bukan ‘kah pernah kuutarakan jika aku membutuhkanmu?

 

Dengan tangan gemetar menahan isakan, aku meraih selembar daun bintang. Warnanya oranye-kecokelatan, mungil, kasar ketika kuraba dasarnya. Dan aku tidak bisa untuk pura-pura kuat. Tegar bukanlah gayaku. Harusnya dia tahu aku lemah.

 

Kuhancurkan daun itu sekuat tenaga dalam genggaman. Cho Kyu Hyun, mestinya kau mengerti aku tak kuasa tanpa dirimu. Lalu kenapa kau tega? Kenapa kau perlakukan aku demikian?

 

***

 

“Tidak. Na Ra dengar dulu penjelasanku,” Kyu Hyun berlari mengejarku, sesekali ia tersandung langkahnya sendiri yang belum sempurna berpakaian.

 

                  “Han Na Ra semuanya tak seperti yang kau pikirkan.” Hampir utuh. Ia menjiplak perkataan ala-ala drama. Oh bagus. Lelaki yang tertangkap basah tengah bersalah tidak pernah lupa mengudarakan pembelaan tersebut. Dasar bajingan! Seperti mereka paham saja apa yang kami lintaskan dalam otak.

 

                  “HAN NA RA BERHENTI DI SANA. KAU HARUS MENDENGARKANKU!” aku mendadak mematung padahal dua langkah tersisa guna mencapai lif. Kenapa aku malah diam?

 

                  “Na Ra ….”

 

                  Aku berbalik, memandangnya nyalang. Astaga, kami baru tak bertemu dua bulan itu pun karena aku di padatkan dengan jadwal kuliah yang mencekik di Busan. Awal semester empat ini, ia jarang mengunjungiku dengan dalih Seoul University juga sama ketatnya soal jadwal. Dan yah, aku maklum.

 

                  “Cho Kyu Hyun.” Dia sudah dua puluh tahun. Bukan lagi pemuda tanggung sok berani juga percaya diri, si pencetus statment ingin jadi satu-satunya calon suamiku.

 

                  Aku mencium segudang perbedaan merambat muncul. Rambutnya kini kecokelatan, semrawut dan tambah berantakan akibat aktivitas yang mungkin habis di gelutinya tadi. Rahangnya semakin tegas, wajahnya … dia tak pernah lupa untuk tampan. Yah, dia lelaki yang menakjubkan, mestinya aku sadar. Dengan segala aspek menyilaukan itu, bermodalkan jentikan jari pun ia sanggup memilih seabrek gadis yang ia sukai.

 

                  “Ayo jelaskan,” tuntutku. Sebenarnya tanpa susah-susah menerima keterangannya pun toh aku telah mengerti apa yang terjadi. Hubungan jarak jauh tidak pernah mudah.

 

                  “Aku minta maaf. Semalam temanku mengadakan pesta. Kami terlalu suntuk dua minggu ini menghadapi ujian. Jadi, kami pikir minum sedikit tidak masalah.” Tidak apa-apa katanya? Mabuk dan berefek menghancurkanku, ia berspekulasi tak jadi persoalan? Lantas, empat tahun itu hanya angin lalu? Hubungan kami ia anggap apa?

 

                  “Aku minta maaf, Na Ra-ya. Yeul Mi ada di sana, aku tidak tahu bagaimana bisa kami melakukan–”

 

                  “Bukan ‘kah dulu kau pernah menyukainya? Bercinta dengan gadis yang kau sukai, kau merasa puas?” aku tak mengerti dari mana mendapatkan keberanian menyela tuturannya. Yang jelas, telingaku sakit dan akan lipatan kali lebih perih bila di paksa mendengar pengakuannya tentang malam panas itu.

 

                  “Na Ra-ya ….”

 

                  “Karena tak bisa mendapatkannya dariku, kau jadi minta makan pada gadis lain?” tuduhku kejam. Masa bodoh, toh dia lebih jahanam.

 

                  “Aku tidak seperti itu. Percayalah, sampai kapanpun hanya kau yang menempati hatiku. Yang kulakukan tidak sengaja, aku bersumpah, tidak akan terjerumus dalam dosa macam begitu di lain waktu. Na Ra-ya, tolong maafkan aku.” Dia memelukku kuat, menenggelamkanku di dada lebarnya. Ya Tuhan, ini tempat favoritku. Kukira cuma aku wanita beruntung yang akan menikmati kehangatan ini sampai mati. Namun faktanya, baru saja ada wanita lain yang menguasainya. Memiliki Kyu Hyun secara utuh.

 

                  Meloloskan tangis tak terbatasku, aku menghela napas sukar. “Bagaimana kalau tak ada lain waktu?”

 

Kyu Hyun menegang. Oh, dia membaca maksudku rupanya. Jangan-jangan benar dugaanku. “Bagaimana jika kau menghamili anak orang?”

 

Dia mengeratkan rengkuhannya di tubuhku. Dia takut, dia takut aku benar ‘kan?

 

                  “Sekali tak akan membuat hamil. Yah, tidak mungkin. Temanku ada yang melakukannya beberapa kali dan tidak ada yang terjadi. Aku mencintaimu, kita akan menikah suatu hari nanti. Pasti.”

 

Dan aku kembali menangis. Nada bicaranya sudah berubah. Bagimana aku bisa yakin? Dia saja sudah meragu, apa memang yang pantas kuharapkan?

 

Cinta dia bilang tak mengandung unsur menyakiti. Lalu kenapa para hati yang terlibat mampu seretak ini?

 

***

 

“Ri-a … hati-hati, nanti tersandung.”

 

Aku terbelalak. Suara bariton ini? Ya Tuhan, haus rasanya untuk kembali menjaringnya.

 

“Hei, hei, kalau jatuh nanti pakaian Ri-a kotor loh. Bisa-bisa eomma marah. Sini sini, appa gendong.”

 

Aku mengeratkan cengkeramanku pada lingkaran syal. Sebisa mungkin menyembunyikan diri di balik bangku. Oh, hatiku perih sekali.

 

“Appa beli es klim yah …. ”

 

Suara seorang gadis kecil. Halus, dia tak berdosa tapi entah mengapa aku iri terhadapnya.

 

“Oke, tapi jangan bilang-bilang eomma ne, ini rahasia antara appa dan anak.”

 

Tahu kah kau? Aku kadang bermimpi bila lima tahun lalu, kau berdiri di depan altar untuk menantiku bukan Song Yeul Mi.

 

Kyu Hyun-a, ingat ‘kah kau pernah menginginkan tiga anak dariku? Andai ‘kan hari itu mungkin terulang, aku tak peduli berapa kali pun harus meregang nyawa demi buah cinta kita. Asal kau tetap di sisiku, maka segalanya akan kulakukan.

 

“Li-a cayang appa ….”

 

“Nado.”

 

Aku mengangkat tubuh begitu suara mereka samar-samar jauh. Siluet seorang lelaki bermantel hitam melaju di ujung sana dengan sesosok kecil dalam gendongan punggungnya.

 

Ada yang bilang padaku bahwa hati bisa berganti seiring waktu. Aku memohon agar daging kecil urat perasaku pun akan menempuh proses tersebut. Lima tahun berlalu, Kyu Hyun nampaknya sudah membenahi diri. Selanjutnya, apa yang kutunggu dari masa lalu? Toh ia tetap pergi.

 

Rindu, ini yang terakhir. Jika isinya selalu sakit, jangan kirim deru ini lagi padaku, Tuhan. Sebab merindukan objek milik orang lain, aku merasa berdosa. Maka, hapuskan lah dia yang mustahil untuk kurengkuh lagi.

 

 

***

 

-THE END-

 

Rindu itu kadang membebani apalagi kalau faktor yang menjadi bahan kerinduan tersebut bukan lah milik kita. Halo, saya newbie. Walau ini bukan ff pertama saya tapi ini yang pertama di 2015. Yey, terima kasih udah buang waktu buat baca karya saya. Mind to give me some review? Salam blester!

 

 

 

 

 

 

 

12 Comments (+add yours?)

  1. navyCho21
    Jan 26, 2016 @ 19:38:32

    Squel pleasee?

    Reply

  2. samshinfiction
    Jan 26, 2016 @ 23:44:17

    kyuhyun tega banget ._.

    Reply

  3. NuRulKyu
    Jan 27, 2016 @ 12:14:00

    Kyuhyun hidup bhagia, tanpa rasa bersalah….
    Sedngkan Na Ra msih sndiri, dan blum bangkit bwt masa dpanny…
    AAAA….
    Kyuhyun jhat bangett…

    Reply

  4. meivhw88
    Jan 27, 2016 @ 15:01:06

    Sequel dong thor haha

    Reply

  5. Monika sbr
    Jan 28, 2016 @ 07:33:02

    Ternyata janjinya kyuhyun pada nara semuanya hanya omong kosong, dia bisa hidup bahagia tanpa nara. Sedangkan nara msh butuh waktu utk semuanya.
    Semoga msh ada sequelnya deh. Bikin kyuhyun menderita aja thor…..

    Reply

  6. dewievkyu8
    Jan 31, 2016 @ 05:04:34

    ahh!! syokk bnget saat tau kyu udah pnya anak dr yeulmi…ah kebayang ad d posisi nara pasti sakit pake bnget itu, Omg! ini sunguh menyesakkan di hatiiii….ada squelnya kak autor???

    Reply

  7. kyunnie28
    Feb 01, 2016 @ 20:48:21

    Astagaaa,,ga tau knp feelny kena bgt.berasa ngalami sdri.pengen nangis deehh sist…mgkn krn efek ga bs memiliki chokyu #plak,abaikan
    Ga akan minta sequel,,ga sanggup nanggung derita & sakitny #halah

    Gut job sist…

    Reply

  8. anashella
    Feb 06, 2016 @ 23:50:16

    Bazengan Kyuhyun kampret minta di slepet

    Reply

  9. alkyblast
    Feb 10, 2016 @ 20:40:32

    Ngga ada squel nih?

    Reply

  10. Asri Marwati
    Feb 19, 2016 @ 21:33:27

    Jadi setelah janji janji tong kosobg gitu, si kyuhyunnya malah sama yeul mi, omg sequel pliss thor buat si kyuhyunnya menderita biar dia juga ngerasain penderitaan nara bhaqk jahat yak wkwkwk 👿👿

    Reply

  11. farhizkassya
    Feb 19, 2016 @ 22:57:50

    YaAllahhhh bener2 banget ah kyuhyun ah elah ngeselin emang:( Bullshittttttttt

    Reply

  12. myesung30
    Mar 26, 2016 @ 18:26:10

    Suka banget sama kalimat terakhirnya, sampe aku screenshoot loh.
    Hehe😀

    Btw, bang epil, semoga engkau mendapat balasan atas apa yang telah kau perbuat.
    Haha #ketawaepil

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: